Anda di halaman 1dari 29

Lembaga Pembiayaan Syariah

(Analisis Terhadap Perusahaan PT FIF Syariah)

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen
Keuangan Islam yang bimbing oleh:

Dikdik Tandika SE. MSc

Disusun Oleh :

Kelompok 5

Andre Yasir (10090316304)

Annisa Firdhaus K (10090316290)

Tantan Hardiansyah (100903162__)

Dheana Setiaputi (100903162__)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah yang berisikan tentang materi “Lembaga Pembiayaan Syariah” ini telah kami
susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah berkontibusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikiran.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima
segala kritik dan saran dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Lembaga Pembiayaan Syariah”
ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca.

Bandung, Oktober 2018

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAGIAN I : PENDAHULUAN

BAGIAN II : KAJIAN TEORITIS

BAGIAN III : PERMASALAHAN

3.1 PRESFEKTIF

3.2 PERMASALAHAN

BAGIAN IV : ANALISIS PEMBAHASAN

4.1 PRESFEKTIF

4.2 PERMASALAHAN

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

3
ABSTRAK

Salah satu permasalahan utama dalam mengembangkan usaha adalah lemahnya


permodalan. Pemerintah telah berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan meluncurkan
beberapa kredit program. Kredit program yang memakai sistem bunga menunjukkan hasil yang
kurang memuaskan, bahkan menimbulkan permasalahan baru seperti membengkaknya hutang
serta kredit macet. Berdasarkan hal tersebut perlu dicari model pembiayaan alternatif, salah
satu di antaranya adalah dengan skim syariah. Berbeda dengan model kredit, pembiayaan
syariah ini bebas bunga, pembagian keuntungan didasarkan atas bagi hasil yang dilakukan
setelah periode transaksi berakhir. Tulisan ini bertujuan untuk mengenalkan model pembiayaan
syariah serta prospek implementasinya . Hasil kajian menunjukkan bahwa pembiayaan syariah
cukup prospektif untuk memperkuat permodalan. Untuk mendukung implementasinya
diperlukan keberpihakan para pembuat kebijakan serta sosialisasi yang intensif mengenai
prinsip-prinsip pembiayaan syariah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia cukup pesat, hal itu ditandai dengan
meningkatnya jumlah bank syariah dan lembaga keuangan non bank.Ekonomi Islam bukan
hanya sekedar membahas tentang perbankan Islam, tetapi semua hal yang berkaitan dengan
kehidupan ekonomi manusia, diantaranya Perusahaan Pembiayaan. Pengaturan lembaga
keuangan dalam syariah islam dilandasi pada kaidah dalam ushul fiqih yang menyatakan
bahwa “maa laa yatimm al-wajib illa bihi fa huwa wajib”, yakni sesuatu yang harus ada untuk
menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Mencari nafkah (yakni melakukan
kegiatan ekonomi) adalah wajib diadakan untuk itu, pada zaman modern ini kegiatan
perekonomian tidak akan sempurna tanpa adanya lembaga keuangan, maka lembaga keuangan

4
ini pun wajib untuk diadakan5 Disini terlihat pentingnya eksistensi lembaga keuangan dalam
hal pembiayaaan. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 tentang
perusahaan pembiayaan bahwa, perusahaan pembiayaan adalah badan usaha di luar Bank dan
Lembaga Keuangan Bukan Bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang
termasuk dalam bidang usaha lembaga pembiayaan. Kehadiran perusahaan pembiayaan,
menambah deretan berkembangnya industri jasa pembiayaan di Indonesia.Perusahaan
pembiayaan seperti ini memberikan kemudahaan kepada masyarakat untuk memenuhi
kebutuhannya, baik dalam bentuk investasi, modal kerja, atau semata-mata untuk barang yang
akan dipakai sendiri (konsumsi).

Perusahaan pembiayaan merupakan salah satu aspek yang diatur dalam syariah islam, yakni
bagian muamalah sebagai bagian yang mengatur hubungan sesama manusia

Dalam kaitan pembahasan tentang perusahaan pembiayaan syariah, kami tertarik


mengangkat salah satu perusahaan pembiayaan yang berbasis syariah dan sedang mengemuka
pada saat ini yaitu perusahaan FIF Syariah, anak cabang perusahaan PT Astra International.
Kami akan memberikan tinjauan analisis terhadap seluk beluk dan mekanisme kerja FIF
Syariah, termasuk perbedaannya dengan FIF Konvensional.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana praktek pembiayaan syariah pada perusahaan FIF Syariah?

1.3 Tujuan Penilisan

Menambah dan memperkaya pengetahuan khususnya tentang teori dan praktek


perusahaan pembiayaan yang berbasis syariah. Penulis bertujuan melakukan eksplorasi lebih
jauh tentang perkembangan praktik bisnis Islami di Indonesia model perusahaan pembiayaan
FIF Syariah yang menangkap peluang maraknya permintaan kredit motor yang menawarkan
kemudahan dan waktu yang singkat, pemohon dapat langsung memiliki kebutuhan motor yang
diinginkannya, tapi sudah dapat memilikinya dengan cara syariah.

5
BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar Lembaga Pembiayaan Syariah

1. Pengertian Lembaga Pembiayaan Syariah

Lembaga atau perusahaan pembiayaan adalah lembaga/perusahaan yang memiliki


kegiatan dalam memberikan pinjaman kepada pelaku ekonomi atau bisnis (Muda, 2003).
Dengan demikian kelembagaan pembiayaan syariah adalah lembaga pembiayaan yang dalam
menjalankan usahanya didasarkan atas hukum-hukum syariah (Islam).

Secara teoritis, ada tiga hal yang menjadi penciri pembiayaan syariah, yaitu (1) bebas
bunga (interest free), (2) berprinsip bagi hasil dan risiko (profit loss sharing), dan (3)
perhitungan bagi hasil dilakukan pada saat transaksi berakhir. Hal ini berarti pembagian hasil
dilakukan setelah ada keuntungan riil, bukan berdasar pada asumsi bahwa besarnya keuntungan
usaha yang akan diperoleh di atas bunga kredit.

Jadi lembaga pembiayaan syariah adalah badan usaha di luar bank dan lembaga
keuangan bukan bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam
bidang usaha lembaga pembiayaan. Kegiatan usaha lembaga pembiayaan adalah:

1. Sewa guna usaha (leasing)

2. Anjak piutang (factoring)

3. Usaha kartu kredit (credit card)

4. Pembiayaan konsumen (consumer finance)

Dari pengertian tersebut di atas terdapat beberapa unsur-unsur:

a. Badan usaha, yaitu perusahaan pembiayaan yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan
yang termasuk dalam bidang usaha lembaga pembiayaan.

6
b. Kegiatan pembiayaan, yaitu melakukan kegiatan atau aktivitas dengan cara membiayai pada
pihak-pihak atau sektor usaha yang membutuhkan.

c. Penyediaan dana, yaitu perbuatan menyediakan dana untuk suatu keperluan.

d. Barang modal, yaitu barang yang dipakai untuk menghasilkan sesuatu.

e. Tidak menarik dana secara langsung.

f. Masyarakat, yaitu sejumlah orang yang hidup bersama di suatu tempat.

Menurut sifatnya pembiayaan dapat diabagi dua hal berikut :


1. Pembiayaan Produktif, yaitu pembiayaan yang ditunjukkan untuk memenuhi
kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk meningkatkan usaha, baik usaha
produksi, perdagangan, maupun investasi.
2. Pembiayaan Konsumtif, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

2. Jenis-jenis Pembiayaan Syariah

Dengan karakteristik seperti diuraikan sebelumnya, lembaga keuangan syariah berpeluang


besar untuk diterapkan pada sektor pertanian. Usaha pertanian yang penuh risiko membutuhkan
pembiayaan yang lebih fleksibel terutama dalam pembagian keuntungan atau kerugian dalam
berusaha. Selain sistem bagi hasil lembaga keuangan syariah juga menawarkan produk dengan
sistem jual beli, sewa maupun gadai. Produk pembiayaan syariah yang dapat diterapkan pada
usaha agribisnis antara lain: mudharabah, musyarakah, muzara’ah, musaqoh, bai’ murabahah,
bai’ istishna, bai’ as-salam, dan gadai (rahn).

Mudharabah

Mudharabah (Trust Financing/Trust Invesment) merupakan akad kerjasama antara dua


pihak, dimana pihak pertama (pemilik modal) sebagai penyedia modal (100%), sedangkan
pihak lain sebagai pengelola modal. Keuntungan yang diperoleh dalam kerjasama ini dibagi
menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Risiko kerugian ditanggung sepenuhnya
oleh pemilik modal, kecuali kerugian yang ditimbulkan akibat kelalaian pengelola seperti

7
penyelewengan, penyalahgunaan atau bentuk kecurangan lainnya. Jenis usaha yang dapat
dibiayai dengan mudharabah meliputi perdagangan, industri, modal kerja atau investasi
termasuk di bidang agribisnis.

Implementasi mudharabah di sektor pertanian dapat dilakukan melalui kemitraan usaha.


Pola kemitraan yang dekat dengan mudharabah adalah model contract farming yang telah
dikembangkan dalam bentuk Perusahaan Inti Rakyat (PIR) serta Kerjasama Operasional
Agribisnis (Deptan, 1997). Berdasarkan jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis, mudharabah
dibagi menjadi dua jenis, yaitu mudharabah mutlaqoh dan mudharabah muqoyyadah. Pada
mudharabah mutlaqoh, pihak pengelola diberi keleluasaan untuk menentukan jenis usahanya,
waktu pelaksanaan, serta wilayah bisnisnya. Adapun pada mudharabah muqoyyadah ketiga hal
tersebut sudah ditentukan oleh pemilik modal.

Musyarakah

Musyarakah (Partnership/Project Financing Participation) merupakan kerjasama


perkongsian dua pihak atau lebih untuk melakukan kegiatan usaha. Masing-masing pihak
memberikan kontribusi tertentu dengan kesepakatan keuntungan dan risiko ditanggung
bersama sesuai kesepakatan. Musyarakah ini meliputi jenis-jenis transaksi yang sangat luas.
Menurut Karim (2001) secara garis besar musyarakah terdiri atas empat jenis, yaitu: syarikat
keuangan (amwal), syarikat operasional (a’mal), syarikat good will (wujuh) dan syarikat
mudharabah.

Banyak jenis usaha yang yang dapat dibiayai dengan musyarakah, antara lain
perdagangan, industri, usaha atas dasar kontrak dan lain-lain. Beberapa kegiatan usaha dalam
bentuk perkongsian, yang mirip dengan jenis pembiayaan musyarakah adalah PT, CV, dan
koperasi. Kegiatan agribisnis dengan jenis usaha yang luas sangat memungkinkan memakai
skim musyarakah ini.

Muzara’ah

Skim muzara’ah (harvest-yield profit sharing) adalah khusus diterapkan di bidang


pertanian. Muzara’ah merupakan kerjasama pengelolaan pertanian antara pemilik lahan dan
penggarap, dimana pemilik lahan menyerahkan lahannya untuk dikelola si penggarap dengan

8
imbalan bagian tertentu (persentase) dari hasil panen. Dalam muzara’ah ini benih bberasal dari
pemilik lahan, sedangkan jika benih dari penggarap disebut mukhabarah (Antonio, 2001).

Skim muzara’ah ini sudah sangat populer di kalangan petani dengan istilah sakap-menyakap.
Hasil kajian Saptana et al (2003) menunjukkan bahwa sistem sakap menyakap masih banyak
dijumpai baik di pedesaan Jawa maupun Luar Jawa. Sistem sakap yang berlaku di Jawa
umumnya maro (1/2) dimana hasil dan biaya saprodi dibagi dua. Pada kasus lain biaya saprodi
ditanggung oleh penggarap. Di samping sistem maro, juga ditemukan mertelu (1/3) dan
merempat (1/4) di Jawa Tengah, tetapi sistem ini mulai jarang ditemukan. Pada sistem maro di
Luar Jawa, hasil dibagi dua dan biaya saprodi menjadi tanggungan pemilik lahan. Pada kasus
lain, saprodi menjadi tanggungan bersama pemilik dan penggarap. Di tempat lain juga
ditemukan sistem 2/3 dan 3/5, tetapi juga mulai jarang ditemukan.

Bervariasinya sistem bagi hasil di pedesaan, baik di Jawa maupun luar Jawa
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) Kelas lahan, yang menunjukkan jarak lahan
terhadap jalan utama. Semakin dekat dengan jalan utama, bagian yang diterima pemilik lahan
semakin besar dan demikian sebaliknya; (2) Kesuburan lahan, yang biasanya direfleksikan oleh
tipe irigasi; semakin subur lahan atau semakin baik sistem irigasinya, maka bagian pemilik
lahan semakin besar; (3) Tingkat ketersediaan/kelangkaan lahan; semakin melimpah lahan,
maka bagian yang diterima pemilik lahan makin kecil; (4) Tingkat ketersediaan tenaga kerja;
ketersediaan tenaga kerja yang relatif melimpah akan semakin mengurangi bagian penggarap;
dan (5) Hubungan antara pasar lahan dan tenaga kerja berpengaruh terhadap sistem sakap
menyakap.

Bai’ Murabahah

Bai’ Al murabahah (differed payment sale) adalah jual beli barang pada harga asal
dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Lembaga pembiayaan akan membelikan suatu
barang yang dibutuhkan nasabah, kemudian nasabah menerima tersebut dan membayar sesuai
dengan kemampuan (besarnya berdasarkan kesepakatan). Produk ini dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan usaha (modal kerja dan investasi seperti pengadaan barang modal:
mesin, peralatan pertanian, dll) maupun kebutuhan perseorangan. Dalam sektor pertanian,
bai’ murabahah ini dapat dimanfaatkan untuk pembelian alat dan mesin pertanian, seperti
hand tractor, pompa air, power thresher, rice milling unit dan sebagainya.

9
Murābahah mempunya syarat-syarat khusus yang mesti harus dipenuhi, jika tidak maka
akad murābahah tersebut menjadi batil. Adapun syarat-syarat tersebut:

a. Harga atau modal awal (‫( رأسالمال‬harus diketahui oleh pembeli, jika tidak diketahui maka
akad tersebut tidak sah.

b. Keuntungan (‫( الربح‬harus diketahui oleh pembeli, karena keuntungan merupakan bagian dari
harga jual.

c. Ra’sul māl harus benda berwujud.

d. Harga pada awal akad bukanlah pertukaran dari amwāl ar-ribā, karena tambahan pada
pertukaran amwāl ar-ribā adalah riba bukan keuntungan.

e. Akad pertamanya harus lah sah, jika akad tersebut fasid maka tidak bisa dilanjutkan bai’ al-
murābahah.

Bai’ As-salam

Bai’ as-salam (in front payment sale) merupakan jual beli dengan ketentuan si pembeli
membayar saat ini, sedangkan barang akan diterimanya di masa mendatang. Bai’ assalam
berbeda dengan praktek ijon yang telah dikenal dan dipraktekkan masyarakat pedesaan hingga
saat ini. Dalam sistem ijon sama sekali tidak jelas kuantitas barang yang diperjualbelikan serta
sangat spekulatif. Pada bai’ as-salam disyaratkan harus jelas kuantitas, kualitas barang serta
waktu pembayaran-nya. Untuk sektor pertanian, skim bai’ as-salam bisa diaplikasikan. Sebagai
gambaran misalnya, perbankan syariah melakukan sendiri atau memberikan pinjaman kepada
nasabah untuk membeli gabah petani dengan harga yang layak. Sistem pengadaan atau
pembelian gabah, seperti yang dijalankan Bulog, dapat mengadopsi skim bai as-salam ini.

Bai’ Al-istishna

Bai’ al-istishna. (purchase by order or manufactured) disebut juga sebagai piutang


istishna, adalah fasilitas penyaluran dana untuk pengadaan barang investasi berdasarkan
pesanan. Dalam transaksi bai’ al-istishna ini ada kontrak antara pembeli dan pembuat barang,
dimana pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. Kedua belah pihak bersepakat atas

10
harga serta sistem pembayaran; apakah dilakukan dengan kontan, melalui cicilan, atau
ditangguhkan pada masa mendatang.

Ar Rahn

Ar Rahn (mortage) adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan
atas peminjaman yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut harus memiliki nilai
ekonomis, dan pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali
seluruh atau sebagian piutangnya. Menurut Sayyid Sabiq dalam Antonio (2001) rahn adalah
semacam jaminan utang atau gadai. Dalam hubungannya dengan bidang pertanian praktek
gadai/rahn sudah umum dijumpai di pedesaan.

Hasil kajian Saptana et al. (2003) memberikan informasi bahwa sistem gadai sudah
relatif lama dikenal di pedesaan. Perkembangan sistem gadai saat ini memang mulai jarang
ditemukan di pedesaan Jawa, namun masih relatif banyak ditemukan di Luar Jawa. Dari banyak
kasus dapat dikemukakan bahwa terdapat kecenderungan terjadinya pergeseran sistem gadai
ke arah sistem bagi hasil dan akhirnya ke sistem sewa lahan.

Walaupun ada beberapa jenis pembiayaan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan
syariah, pola pembiayaan mudharabah dan musyarakah menggunakan konsep ”asset and
production based” merupakan ide utama dmenjadi ”pembeda” dengan lembaga konvensional
(Beik, 2005). Ada beberapa keunggulan yang dimiliki dua pola pembiayaan ini. Pertama, kedua
pola tersebut adalah manifestasi dari prinsip risk-profit sharing yang merupakan inti utama
sistem perbankan syariah. Kedua, mudhorobah dan musyarakah merupakan model pembiayaan
investasi yang memiliki dampak nyata terhadap pengembangan sektor riil dan tingkat
produktivitas sumberdaya manusia atau umat. Ketiga, konsep mudhorobah dan musyarakah
akan menggiring perubahan perilaku ekonomi ke arah yang lebih baik dan produktif. Para
nasabah (pemilik dana) akan lebih peduli terhadap dana yang disimpannya. Berbeda dengan
nasabah bank konvensional yang kurang peduli terhadap dana depositonya karena dijanjikan
menerima suku bunga yang tetap.

2.2 Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan Syariah


1. Kegiatan Guna Usaha (Leasing) Syariah

11
Istilah leasing berdasarkan dari bahas inggris to lease yang berarti menyewakan.
Perusahaan leasing di Indonesia disebut perusahaan sewa guna usaha. Kegiatan usahanya
bergerak dibidang pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara guna usaha
tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh penyewa guna usaha (lesse) selama
jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran sesuai dengan prinsip syariah.

Hingga kini telah diberikan berbagai definisi mengenai leasing yang tercantum dalam
keputusan menteri yang pada prinsipnya meliputi elemen-elemen berikut ini:

a. Suatu pembiayaan perusahaan, yang kemudian berkembang tidak hanya untuk kegiatan
usaha.
b. Penyediaan barang modal yang dipergunakan oleh lessee untuk kepentingan bisnisnya.
c. Keterbatasan jangka waktu, yang merupakan unsur penting karena apabila tidak ada
batas waktu, maka hanya merupakan sewa-menyewa biasa.

Usaha leasing syariah dilakukan berdasarkan akad ijarah dan akad al-ijarah al-muntahiyah bi
al-tamlik.

2. Ijarah.

Akad ijarah adalah akad penyaluran dana untuk pemindahan hak guna
(manfaat)atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah),
antara perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa (mu’ajjir) dengan penyewa
(musta’jir) tanpa diikuti pengalihan kepemilikan barang itu sendiri.

3. Ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik

Ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik adalah akad penyaluran dana untuk


pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan
pembayaran sewa (ujrah), antara perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa
(mu’ajjir) dengan penyewa (musta’jir) disertai opsi pemindahan hak milik atas barang
tersebut kepada penyewa setelah selesai masa sewa.

4. Anjak Piutang Syariah

Anjak piutang (factoring) dapat didefinisikan sebagai transaksi pembelian dan atau
penagihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek klien (penjual) kepada

12
perusahaan anjak piutang, kemudian akan ditagih oleh perusahaan anjak piutang kepada
pembeli karena adanya pembayaran kepada klien oleh perusahaan anjak piutang.

Anjak piutang dilakukan berdasarkan akad wakalah bil ujrah. Wakalah bil ujrah adalah
pelimpahan kuasa oleh suatu pihak (al muwakil) kepada pihak lain (al wakil) dalam hal-hal
yang boleh diwakilkan dengan pemberian keuntungan (ujrah). Landasan hukum akad ini adalah
fatwa DSN-MUI No:10/DSM-MUI/IV/2000 tentang wakalah.[12]

5. Pembiayaan Konsumen Syariah

Pembiayaan konsumen (consumer finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk


pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran.
Pada prinsipnya pembiayaan konsumen dilakukan berdasarkan akad murabahah, salam, dan
istisna

6. Usaha Kartu Plastik Syariah

Salah satu kegiatan sistem pembayaran yang saat ini telah berkembang pesat adalah
alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK) atau disebut pula dengan kartu plastic.
Kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan APMK dalam memenuhi kegiatan ekonomi
menunjukan perkembangan yang sangat pesat dari tahun ke tahun.

Kartu plasyik dalam perkembanganya juga telah diakomodasi oleh keuangan syariah
khususnya dalam fatwa DSN-MUI No: 42/DSN-MUI/V/2004 tentang syariah charge card dan
No. 54/DSN-MUI/X/2006 tentang syariah card.

Adapun akad yang digunakan dalam penggunaan kartu tersebut adalah akad kafalah,
qaradh, dan ijarah.

2.3 Srategi Pengelolaan dan Pembangunan Perusahaan Pembiayaan Syariah di


Indonesia

Pengelolaan dan pengembangan perusahaan pembiayaan dapat dilakukan melalui beberapa


bidang, yaitu:

13
a. Pemasaran antara lain dengan membangun kerjasama dengan dealer, sinergi bisnis
dengan group/induk perusahaan, untuk membangun captive market pemilihan
konsumen sangat menentukan terhadap keberhasilan pembayaran kembali produk yang
dijual.
b. Produk antara lain menciptakan yang sederhana di mata konsumen, dan dari sisi
mitigrasi risiko masih tetap aman, produk yang dijual adalah produk yang kualitasnya
bagus, serta mudah dijual bila terjadi penarikan kembali dari konsumen.
c. Keuangan antara lainbila tak memungkinkan funding mayoritas dari bank, ada
keterbatasan untuk menambah jumlah funding yang diperoleh.
d. Permodalan antara lain secara bertahap perusahaan perlu melakukan pemupukan
modal, atau berusaha mendapatkan penambahan modal disetor para pemegang saham.
e. Sumber daya insani antara lian diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas agar
dapat melakukan marketing, menganalisis risiko, dan melakukan perbaikan jika terjadi
risiko gagal bayar dari konsumen.
1. Prinsip Transaksi Perusahaan Pembiayaan Syariah

Setiap transaksi kegiatan operasional perusahaan pembiayaan syariah harus memenuhi prinsip
syariah. Aturan mengenai transaksi perusahaan pembiayaan syariah antara lain:

a. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan syariah wajib tidak bertentangan dengan
prinsip syariah.
b. Akad-akad syariah yang telah ditandatangani oleh keduabelah pihak tidak dapat
dibatalkan secara sepihak, kecuali memenuhi kondisi:
i. Keduabelah pihak setuju untuk menghentikannya
ii. Akad bertentangan dengan prinsip syariah, atau
iii. Akad batal demi hukum, karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi
pelaksanaan atau penyelesaian akad.
c. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, setiap pihak yang
bertransaksi wajib memiliki kecakapan dan kewenangan untuk melaksanakan
perbuatan hukum menurut syariah maupun peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
d. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan berdasarkan prinsip syariah sebagaimana
diatur dalma peraturan ini, wajib dilaksanakan tanpa unsur paksaan diantara para pihak
yang berakad atau bertransaksi.

14
e. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan berdasarkan prinsip syariah sebagaimana
diatur dalam peraturan ini, yang diikuti dengan kewajiban melaksanakan asuransi atas
objek pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, maka objek yang diasuransikan wajib
diasuransikan pada perusahaan asuransi dengan prinsip syariah juga.
f. Pencatatan akuntansi untuk setiap jenis transaksi pembiayaan berdasarkan prinsip
syariah sebagaimana diatur dalam peraturan ini wajib disusun berdasarkan pernyataan
standar akuntansi keuangan yang berlaku.

2.4 Dewan Pengawas Syariah

Perusahaan pembiayaan yang melakukan kegiatan berdasarkan prinsip syariah wajib


memiliki dewan pengawas syariah yang terdiri dari paling kurang 2 orang anggota dan satu
orang ketua. Anggota dewan syariah diangkat dalam rapat umum pemegang saham
rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.

Dewan ini bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi, mengenai aspek syariah
kegiatan operasional perusahaan pembiayaan dan sebagai mediator antara perusahaan
pembiayaan dengan DSN-MUI.

2.5 Perusahaan Pembiayaan Syari’ah di Indonesia

Menurut data DSN-MUI terdapat 11 perusahaan pembiayaan syari’ah di Indonesia,


yaitu PT Federal Intenasional Finance, PT Semesta Citra Dana, PT Mandala Multi Finance,
Tbk., PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk., PT Amanah Finance, PT Fortuna Multi Finance,
Tbk., PT Trust Finance Indonesia, Tbk., PT Capitalinc Finance, PT Al-Ijarah Indonesia
Finance, PT Trimamas Finance, dan PT Nusa Surya Ciptadana.

15
BAB III

PERSPEKTIF DAN PERMASALAHAN

BAGAIMANA PRAKTEK PEMBIAYAAN SYARIAH PADA FIF SYARIAH DAN


APA PERBEDAANNYA FIF SYARIAH DENGAN KONVENSIONAL?

3.1 Praktek Perusahaan Pembiayaan Model Fif Syariah

FIF merupakan bagian dari kelompok Astra yang berdiri pada tanggal 1 Mei 1989.
Bisnis utamanya adalah pembiayaan retail sepeda motor Honda baik baru maupun bekas,
mempunyai 82 Kantor Cabang dan 166 Point of Service (POS) di seluruh Indonesia
bekerjasama dengan 650 dealer resmi sepeda motor Honda. Membiayai setiap bulannya rata-
rata 100.000 unit sepeda motor Honda dan hingga saat ini menangani 1 juta konsumen aktif.

PT Federal International Finance membuka layanan syariah yang dikenal dengan FIF
Syariah dan memiliki cabang di seluruh Indonesia. FIF Syariah didirikan berdasarkan landasan
hukum Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No. 448/KMK.017/2000 Pasal 7 ayat 1 yang
menyatakan: “Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perusahaan Pembiayaan dapat
melakukan pembiayaan berdasarkan prinsif Syariah”. Sedangkan akad yang digunakan pada
transaksi pembiayaan FIF Syariah adalah akad murabahah, sesuai dengan Fatwa Dewan
Pengawas Syariah Majelis Ulama Indonesia No. 04/DS MUI/IV/2000 yang mengatur tentang
murabahah. Dan sesuai dengan ketentuan tentang pengelolaan ekonomi syariah tentang
keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah di Indonesia, maka FIF Syariah juga memiliki
Dewan Pengawas Syariah sebagai kelengkapan operasional.

3.2 Akad Pembiayaan FIF Syariah

Adapun yang akad yang digunakan pada FIF Syariah adalah akad murabahah. Akad
murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu dimana penjual menyebutkan dengan jelas
barang yang diperjualbelikan kepada pembeli termasuk harga pembelian dan keuntungan yang
diambil.

16
Secara lengkap perjanjian akad murabahah yang diberlakukan pada FIF Syariah
tertuang dalam Surat Pernyataan Konsumen yang garis-garis besar isinya adalah sebagai
berikut:

Pihak pertama dan pihak kedua (secara bersama-sama selanjutnya disebut para pihak) tersebut
menerangkan terlebih dahulu hal-hal berikut:

o Pembiayaan murabahah adalah penyediaan pembiayaan dalam rangka penyediaan


barang secara syariah.

o Pemberi jaminan adalah orang atau badan yang memberikan jaminan pelunasan
kewajiban pihak kedua.

o Dealer adalah orang atau badan yang melakukan kegiatan di bidang penyediaan barang.

o Pembiayaan murabahah:

Pasal 1: Pihak pertama setuju untuk menyediakan pembiayaan murabahah dengan jaminan hak
milik secara fidusia atas barang jaminan kepada pihak kedua guna pengadaan barang berupa
Sepeda motor dengan spesifikasi sebagai berikut:

Merk :

No Mesin :

Tahun :

Warna :

No. BPKB :

Dan seterusnya.

Pasal 2: Margin Keuntungan dan Total Kewajiban

1. Atas permohonan pihak kedua, pihak pertama dengan ini mengadakan barang dan pihak
kedua menyatakan telah menerima barang dengan baik. Atas pengadaan barang tersebut,
perjanjian ini berlaku sebagai tanda bukti penerimaan barang yang sah.

17
2. Pihak kedua atas pembiayaan ini sepakat mengikatkan diri untuk membayar pokok
pembiayaan dan margin keuntungan dan biaya-biaya lainnya sesuai dengan kesepakatan
bersama.

18
BAB VI

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Cara Penghitungan Pembiayaan Murabahah Model Fif Syariah

Contoh penghitungan pada pembiayaan Motor Vario D Angsuran 48 bulan:

Harga OTR : Rp. 13.475.000,-

DP : Rp. 1.200.000,-

Sisa Pokok Hutang Rp.12.275.000,-

Administrasi + Asuransi : Rp. 980.000,-

Margin Keuntungan : Rp. 10.169.000,- +

Angsuran untuk 48 bulan : Rp. 23.424..000,- = Rp. 488.000,-


48

Persentasi margin : Rp. 10.169.000,- x 100 % = 82, 84 % = 20,71% = 1,73%


Rp. 12.275.000 4 th 12 bln 1bln

Uang Subsidi berasal dari PT Astra Internasional, sedangkan uang cash back berasal
dari PT. Federal Internasional Finance. Atas dasar perhitungan itulah, kemudian FIF Syariah
menetapkan daftar harga sebagai berikut:

TABEL HARGA PEMBIAYAAN MOTOR FIF SYARIAH

YOGYAKARTA[1]

Uang Muka Bulan


Type
11 23 35 47

Subsidi 600 ribu + Cash Back 200 ribu

19
2.200.000 963.000 544.000 411.000 349.000

1.750.000 1.011.000 570.000 431.000 365.000


FIT X

1.300.000 1.057.000 594.000 446.000 380.000


10.750.000

500.000

Subsidi 800 ribu + Cash Back 200 ribu


REVO D
2.200.000 1.122.000 632.000 476.000 403.000
12.200.000
1.850.000 1.159.000 653.000 492.000 416.000

1.600.000 1.196.000 673.000 507.000 429.000

500.000

Subsidi 800 ribu + Cash Back 200 ribu


REVO CW
2.200.000 1.231.000 694.000 522.000 442.000
13.200.000
1.850.000 1.268.000 715.000 537.000 455.000

1.500.000 1.306.000 736.000 553.000 468.000

500.000

2.100.000 1.260.000 719.000 548.000 466.000


VARIO D
1.650.000 1.305.000 741.000 562.000 476.000
13.475.000
1.200.000 1.352.000 767.000 582.000 493.000

2.150.000 1.354.000 769.000 583.000 494.000


VARIO CW
1.700.000 1.401.000 795.000 603.000 511.000
14.425.000

Penghitungan angsuran di atas adalah penghitungan pada FIF Syariah dengan


akad murabahah, dimana mekanisme yang dipakai adalah mekanisme jual beli. Keuntungan

20
yang diambil didasarkan pada keuntungan jual beli, yaitu selisih antara harga modal dan harga
jual. Sistem angsuran menggunakan sistem flat, dimana angsuran setiap bulannya adalah sama
atau tetap dari awal angsuran hingga akhir angsuran, tidak menaik ataupun menurun.

Jika kita bandingkan penghitungan FIF Syariah di atas dengan FIF Konvensional, maka
cara penghitungan konvensional adalah berbeda. Dimana sistem penghitungan konvensional
berdasarkan bunga, dan akad yang digunakan adalah akad pinjam meminjam. Untuk lebih jelas,
coba perhatikan contoh tabel angsuran yang ada pada FIF Konvesional berikut ini:

PT. FEDERAL INTERNASIONAL FINANCE YOGYAKARTA[2]

Jadual Angsuran

No. Memo : 40207PT00224

Tanggal : 02/02/2007

Nama Customer : Muhammad Ary Wibowo Y

No. Kontrak : 402900183506

Angs Jt Tempo Sisa Pokok Pokok Bunga Ttl Angsuran

1 28/09/2006 4.021.371 127.699 94.301 222.000

2 28/10/2006 3.893.672 130.693 91.307 222.000

3 28/11/2006 3.762.979 133.758 88.242 222.000

4 28/12/2006 3.629.221 136.895 85.105 222.000

5 28/01/2007 3.492.326 140.105 81.895 222.000

6 28/02/2007 3.352.221 143.390 78.610 222.000

7 28/03/2007 3.208.831 146.753 75.247 222.000

8 28/04/2007 3.062.078 150.194 71.806 222.000

9 28/05/2007 2.911.884 153.716 68.284 222.000

21
10 28/06/2007 2.758.168 157.321 64.679 222.000

11 28/07/2007 2.600.847 161.010 60.990 222.000

12 28/08/2007 2.439.837 164.786 57.214 222.000

13 28/09/2007 2.275.051 168.650 53.350 222.000

14 28/10/2007 2.106.401 172.605 49.395 222.000

15 28/11/2007 1.933.796 176.652 45.348 222.000

16 28/12/2007 1.757.144 180.795 41.205 222.000

17 28/01/2008 1.576.349 185.035 36.965 222.000

18 28/02/2008 1.391.314 189.374 32.626 222.000

19 28/03/2008 1.201.940 193.815 28.185 222.000

20 28/04/2008 1.008.125 198.359 23.641 222.000

21 28/05/2008 809.766 203.011 18.989 222.000

22 28/06/2008 606.755 207.772 14.228 222.000

23 28/07/2008 398.983 212.644 9.356 222.000

24 28/08/2008 186.339 186.339 11.849 198.000

4.021.371 1.282.817 5.304.188

Sumber: PT. Federal International Finance Yogyakarta

Tabel angsuran di atas dihitung berdasarkan bunga 2,345 % per bulan, dengan logika
perhitungan sebagai berikut:

22
Angs Sisa Pokok Pokok Bunga Total Angsuran

1. 4.021.371 127.699 94.301 222.000

Bunga = 94.301 . x 100 % = 2,345 %


4.021.371

1. 4.021.371 127.699 94.301 222.000

222.000-94.301

2. 3.893.672 130.693 91.307 222.000

4.021.371-127.699 222.000-91.307 2,345% x 3.893.672

Jika dibandingkan persentasi perhitungan FIF Syariah dan FIF Konvensional untuk
angsuran 24 bulan (2 tahun) sebagaimana perhitungan di atas, maka persentasi keuntungan FIF
Syariah adalah lebih kecil daripada FIF Konvensional, yaitu 1,90 % berbanding 2,345 %.
Keuntungan FIF Syariah dihitung berdasarkan margin keuntungan jual beli, sedangkan FIF
Konvensional dihitung berdasarkan bunga.

4.2 Komponen Asuransi Dalam FIF Syariah

Dalam proses pembiayaan di FIF Syariah dikenal istilah Asuransi Syariah, tepatnya
Asuransi Astra Buana Syariah. Sepeda motor yang menjadi objek jaminan pembiayaan
konsumen di PT Federal International Finance Syariah diasuransikan kepada perusahaan
asuransi Astra Buana Syariah. Para nasabah menyerahkan pengelolaan keuangan kepada
perusahan asuransi menggunakan akad bil ujroh, dengan jasa sebesar 45% dari dana premi,
sedangkan 55% sisanya dikelola dalam kumpulan dana tabarru. Premi yang dimasukkan dalam
kumpulan dana tabarru merupakan hibah dari peserta. Pengelolaan dana tabarru dilakukan
perusahaan melalui investasi melalui ivestasi secara syariah. Sebesar 50% dari hasil investasi
akan digunakan untuk menambah dana tabarru, dan 50% lainnya diberikan kepada perusahaan
asuransi sebagai jasa pengelolaan investasi.

Asuransi Astra Buana Syariah menjamin risiko kerugian atas peristiwa yang dijamin polis
asuransi kendaraan bermotor (sepeda motor) terhadap kerugian atau kerusakan keseluruhan

23
(total) jika biaya perbaikannya diperkirakan sama dengan atau lebih 75% dari harga kendaraan
pada saat terjadinya kecelakaan serta menjamin kendaraan yang hilang dicuri. Risiko-risiko
yang dijamin adalah:

1. Kerugian atau kerusakan akibat:

– Tabrakan, benturan, terbaik, tergelincir dari jalan.

– Perbuatan jahat orang lain

– Pencurian

– Kebakaran

– Sambaran petir

1. Kerugian atau kerusakan selama penyeberangan dengan ferri.

Sedangkan Resiko yang tidak dijamin:

1. Kehilangan keuntungan atau penghasilan

2. Kerusakan atau kehilangan peralatan tambahan yang tidak dipertanggungkan.

3. Akibat penggelapan,sesuai dengan KUHP pasal 3, 2 (Barangsiapa dengan sengaja dan


melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah
kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan,
diancam karena penggelapan).

4. Akibat perbuatan jahat tertanggung, dan/atau suami/isteri/anak/saudara, dan/atau orang


yang sepengetahuan/ seizin tertanggung, dan/atau orang yang bekerja pada tertanggung.

5. Akibat menarik/ mendorong keadaraan lain, perlombaan, belajar mengemudi, menarik


trailer, pawai melakukan tindak kejahatan, kelebihan muatan, kendaraan dijalankan dalam
keadaan rusak, pengemudi yang tiak memiliki SIM yang sah, dijalankan oleh seseorang
yang sedang dipengaruhi leh minuman keras, melewat jalan tertutup atau terlarang, barang
yang diangkut, reaksi atau radiasi nuklir.

6. Akibat gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan, badai banjir, genangan air atau
gejala geologi/ meteorologi,perang, teror, pengambilan kekuasaan atau huru-hara.

24
7. Kelalaian tertanggung yang menyebabkan keausan material pada kendaraan.

8. Kerugian barang pihak ketiga dalam pengawasan tertanggung, kerusakan jalan/ jembatan/
bangunan akibat getaran/ berat kendaraan/ muatannya.

9. Cidera badan atau kematian penumpang.

10. Kerugian/ kerusakan pada kendaraan bermotor yang dipertanggungkan yang


digunakan untuk perbuatan maksiat yaitu perbuatan yang bertentangan dengan
ketentuan syariah Islam, di antaranya digunakan untuk mengangkut barang haram
seperti minuman keras, babi, atau untuk melakukan perbuatan yang dilarang seperti
perjudian atau perzinahan. [3]

Dari ketentuan-ketentuan asuransi syariah di atas, dapat dilihat bahwa ketentuan No.
10 adalah ketentuan yang terkait langsung unsur ‘syariah’. Dimana perusahaan pembiayaan
tidak akan menerima klaim kerugian atau kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan-
perbuatan yang melanggar ketentuan syariat Islam, seperti akibat mengangkut barang haram
(minuman keras, babi dan lain-lain) atau dalam keadaan melakukan perjudian dan perzinahan.
Ketentuan No. 10 inilah yang mencirikan asuransi syariah terkait dengan pertanggungan
jaminan perusahaan pembiayaan pada FIF Syariah.

4.3 Finalty Management

Pembayaran finalty atau denda keterlambatan yang diprioritaskan adalah:

1. Dana sosial

– Sebesar Rp. 5000,- per angsuran terlambat

– Tidak boleh dinego atau dihapuskan

– Dibukukan sebagai dana sosial

– Dikeluarkan untuk kepentingan sosial

Ditambah dengan:

2. Ganti rugi

– Sebesar 0, 5% x total angsuran terlambat x jumlah hari

25
– Boleh dinego atau dihapuskan (waived denda)

– Dibukukan sebagai other income

Apabila terjadi kemacetan total pembayaran angsuran, maka perusahaan pembiayaan


FIF syariah dapat melakukan penjadwalan kembali utang nasabah sesuai dengah Fatwa DSN
No. 48/II/2005, tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa dan perpanjangan masa
pembayaran harus berdasarkan atas kesepakatan bersama.

Kemudian jika ternyata setelah penjadwalan ulang utang, nasabah tetap tidak mampu
bayar, maka sesuai dengan Fatwa DSN No. 47/II/2005, maka:

– Obyek jaminan lainnya dijual dengan harga pasar yang disepakati

– Nasabah melunasi sisa hutangnya dari hasil penjualan obyek jaminan.

– Apabila lebih maka sisanya akan dikembalikan kepada nasabah

– Apabila kurang, maka tetap menjadi hutang nasabah

– Apabila tak mampu membayar sisa hutangnya, maka dapat membebaskannya.[4]

4.4 Perbedaan FIF Syariah dengan FIF Konvensional

Perbedaan yang jelas secara garis besar antara FIF Syariah dengan FIF Konvensional,
dapat penulis sajikan uraiannya dalam bentuk tabel berikut ini:

No Aspek FIF Syariah FIF Konvensional

1. Kerangka hukum Mengacu kepada Mengacu kepada hukum


hukum syariah dan positif saja
hukum positif

2 Isi perjanjian Dijelaskan secara rinci Tidakdijelaskan secara rinci


biaya modal, margin,
asuransi, administrasi
dan lain-lain

3 Tingkat keuntungan Margin laba Bunga uang

26
4 Denda Menjadi dana sosial Menjadi pendapatan
perusahaan

5 Jika ada pelunasan Nasabah tidak Nasabah tetap dikenakan biaya


lebih awal dikenakan biaya administrasi
administrasi
(Administrasi Nol)

6 Jika pelunasan lewat Tidak ada istilah bunga Dikenakan bunga berjalan
jatuh tempo berjalan

7 Bentuk transaksi Murabahah dengan Pinjam meminjam obyeknya


obyeknya barang uang dengan mekanisme
sehingga merupakan bunga
transaksi jual beli

8 Discount Apabila ada discount Apabila ada discount unit,


unit, maka maka discount bisa untuk
discount menjadi milik dealer atau milik nasabah
nasabah dengan
mengurangi harga jual

9 Asuransi Memakai asuransi Asra Memakai asuransi Astra Buana


Buana Syariah Konvensional

10 Refund premi Apabila tidak ada klaim Apabila tidak ada klaim akan
tetap ada nisbah bagi menjadi pendapatan
hasil perusahaan asuransi

11 Pengawasan Dewan Penasehat Bapepam LK


Syariah dan Bapepam
LK

12 Sumber Dana Bank Syariah Bank Konvensional

Sumber : Modul Pelatihan FIF Syariah Cabang Yogyakarta, 2007

27
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Perusahaan pembiayaan FIF Syariah sebagai salah satu bentuk perusahaan pembiayaan
yang berbasis syariah bukan bank menjadi salah satu alternatif dari metode pembiayaan yang
lebih fleksibel dalam menyalurkan dana berupa pembiayaan secara syariah kepada masyarakat
di Indonesia. Praktik perusahaan pembiayaan yang berlandaskan syariah akan lebih menjadi
alternatif yang tepat dan prospektif mengingat sebagian besar umat Islam merupakan mayoritas
penduduk di Indonesia.

Dalam jangka menengah ke depan masih sangat memungkinkan pesatnya pertumbuhan


perusahaan pembiayaan syariah mengingat masih sedikitnya perusahaan yang membuka unit
syariah sebagai salah satu pilihan pembiayaan. Maka diperlukan perhatian semua pihak, agar
perusahaan pembiayaan berbasis syariah dapat berkembang dan terkendali dengan baik berada
dalam real syariah. Sekali lagi, komitmen dan peran pemerintah menjadi sebuah keniscayaan
yang menjadi pendukung utama terhadap pertumbuhan dan perkembangan perusahaan
pembiayaan syariah di Indonesia.

Saran

Diperlukan peran pemerintah secara seimbang dengan upaya menciptakan dan


membina kualitas sumber daya manusianya. Juga pemerintah sepatutnya bersikap tanggap
melakukan perlindungan hukum dan aturan-aturan yang profesional dan proporsional sehingga
dapat menjamin kepastian hukum para pihak yang terlibat.

28
DAFTAR PUSTAKA

Soemitra, Andi. 2010. Bank & Keuangan Syariah, Jakarta : Kencana

K. Harjono, Dhaniswara. 2006. Pemahaman Hukum Bisnis Bagi Pengusaha, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada

Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,2010,

Antonio, M Safei. Bank Syariah Teori dan Praktek. Jakarta.Gema Insani Press dengan
Tazkia Cendekia.2001.hal.90

Buletin Hukum Perbankan Dan Kebanksentralan Volume 3 Nomor 3, Desember 2005. Key
Legal, Documentary And Structuring Issues For Islamic Financial Product.

https://media.neliti.com/media/publications/69660-none-58693c76.pdf

29