Anda di halaman 1dari 3

KOMENTAR

TENTANG PUTUSAN ARBITRASE


NOMOR 219 B/Pdt.Sus-Arbt/2016

Putusan Arbitrase ini berisikan tentang adanya wanprestasi dalam suatu


kerjasama yang dilakukan oleh suatu pihak dan pihak lainnya merasa dirugikan
atas wanprestasi tersebut. Pihak yang melakukan kerjasama tersebut adalah PT.
Indiratex Spindo (Indonesia) dan Everseason Enterprises, Ltd., (British). Untuk
menyelesaikan sengketa tersebut kedua pihak sebelumnya memutuskan untuk
menyelesaikan sengketa melalui lembaga arbitrase dengan Putusan Nomor 219
B/Pdt.Sus-Arbt/2016.
Lembaga arbitrase yang disepakati dua pihak ini adalah The International
Cotton Association Limited (ICA), Inggris. Setelah sengketa itu diproses oleh
ICA, akhirnya ICA memutuskan bahwa pihak yang dikalahkan yaitu PT. Indiratex
Spindo harus membayar sanksi nerupa bunga sesuai dengan perjanjian atau dalam
kontrak jual beli.
Sesuai dengan prosedur arbitrase internasional biasanya, putusan lembaga
arbitrase yang dalam hal ini adalah The International Cotton Association Limited
(ICA) harus didaftarkan dalam Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar putusan itu
dapat dilaksanakan atau dieksekusi.
Ketika pihak arbiter mendaftarkan putusan tersebut pada Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat, namun putusan itu ditolak karena pihak pengadilan menyatakan
bahwa Republik Indonesia tidak memiliki hubungan baik bilateral maupun
multilateral dengan negara yang mengeluarkan putusan tersebut dan dalam hal
tersebut diatas, PT. Indiratex Spindo juga tidak puas atas putusan tersebut
sehingga ia mengajukan banding.
Upaya hokum yang dilakukan oleh PT. Indiratex Spindo juga tidak diterima
(ditolak) oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena putusan tersebut juga masih
belum di eksekusi. Pada akhirnya PT. Indiratex Spindo mengajukan permohonan
upaya hokum kepada Mahkamah Agung. Namun dalam hal ini, Mahkamah Agung
juga tidak dapat mengabulkan permohonan pemohon (PT. Indiratex Spindo)

Dan menurut saya juga apa yang dilakukan oleh PT. Indiratex Spindo itu salah
karena tidak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perjanjian. Dan
seharusnya, ICA selaku lembaga arbitrase memberi putusan secara adil, tidak
menyembunyikan dokumen-dokumen yang membenarkan salah satu pihak.
Sebelum melakukan perjanjian atau kerjasama sebaiknya mengetahui latar
belakang perusahaan yang akan di ajak kerjasama secara rinci agar tidak terjadi
tipu muslihat seperti yang terjadi pada kasus tersebut. Dan dalam melakukan
upaya hokum sebaiknya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan atau
30 hari setelah putusan.

PUTUSAN ARBITRASE

NOMOR 219 B/Pdt.Sus-Arbt/2016


Tugas Mata kuliah Penyelesaian Sengketa Alternatif

Disusun oleh:

NAMA : JULIANA

NIM : B10016048

DOSEN PENGAMPU:

UMAR HASAN, SH, MH

KABIB NAWAWI, SH.,MH

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS JAMBI

2018