Anda di halaman 1dari 13

Candi Muara Takus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Candi Muara Takus

Batu tulis dari Candi Bungsu di Muara Takus

Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak
di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia.
Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru.
Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter,
yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya
terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks
ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat
beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi sulung /tua, Candi
Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.
Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs
candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-
7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11. Namun candi ini dianggap telah ada pada
zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan
ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.[1][2]
Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah
satu Situs Warisan Dunia UNESCO.
Daftar isi
[sembunyikan]

 1Deskripsi situs
o 1.1Candi Mahligai
o 1.2Candi Tua
o 1.3Candi Bungsu
o 1.4Candi Palangka
 2Arsitektur
 3Latar belakang pendirian
 4Beberapa aspek dalam pendirian candi
 5Rujukan
 6Bibliografi
 7Lihat pula

1. Deskripsi situs
Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera, merupakan satu-
satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat
Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddhapernah berkembang di kawasan
ini.
Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dengan
candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan.
Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa
yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara
Takus. Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati
lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang
diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas
lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto
Panjang. Namun dalam Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang
dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.
Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk
menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir
kuning. Di dalam situs Candi Muara Takus ini terdapat bangunan candi yang disebut
dengan Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka. Selain bangunan
tersebut di dalam komplek candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan
sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Sementara di luar situs ini terdapat
pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat
dipastikan jenis bangunannya.
1. Candi Mahliga

Candi Mahligai atau Stupa Mahligai, merupakan bangunan candi yang dianggap
paling utuh. Bangunan ini terbagi atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Stupa
ini memiliki pondasi berdenah persegi panjang dan berukuran 9,44 m x 10,6 m,
serta memiliki 28 sisi yang mengelilingi alas candi dengan pintu masuk berada di
sebelah Selatan. Pada bagian alas tersebut terdapat ornamen lotus ganda, dan di
bagian tengahnya berdiri bangunan menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk
kelopak bunga pada bagian dasarnya. Bagian atas dari bangunan ini berbentuk
lingkaran. Menurut Snitger, dahulu pada ke-empat sudut pondasi terdapat 4 arca
singa dalam posisi duduk yang terbuat dari batu andesit. Selain itu, berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, dahulu bagian puncak menara terdapat
batu dengan lukisan daun oval dan relief-relief sekelilingnya. Bangunan ini diduga
mengalami dua tahap pembangunan. Dugaan in didasarkan pada kenyataan bahwa
di dalam kaki bangunan yang sekarang terdapat profil kaki bangunan lama sebelum
bangunan diperbesar.
2. Candi Tua[
Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan terbesar di antara bangunan
lainnya di dalam situs Candi Muara Takus. Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian,
yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbagi dua. Ukuran kaki pertama tingginya
2,37 m sedangkan yang kedua mempunyai ketinggian 1,98 m. Tangga masuk
terdapat di sisi Barat dan sisi Timur yang didekorasi dengan arca singa. Lebar
masing-masing tangga 3,08 m dan 4 m. Dilihat dari sisa bangunan bagian dasar
mempunyai bentuk lingkaran dengan garis tengah ± 7 m dan tinggi 2,50 m. Ukuran
pondasi bangunan candi ini adalah 31,65 m x 20,20 m. Pondasi candi ini memiliki 36
sisi yang mengelilingi bagian dasar. Bagian atas dari bangunan ini adalah bundaran.
Tidak ada ruang kosong sama sekali di bagian dalam Candi Sulung. Bangunan
terbuat dari susunan bata dengan tambahan batu pasir yang hanya digunakan untuk
membuat sudut-sudut bangunan, pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas
perbingkaian bawah kaki candi dengan tubuh kaki serta pembatas tubuh kaki
dengan perbingkaian atas kaki. Berdasarkan penelitian tahun 1983 diketahui bahwa
candi ini paling tidak telah mengalami dua tahap pembangunan. Indikasi mengenai
hal ini dapat dilihat dari adanya profil bangunan yang tertutup oleh dinding lain
yang bentuk profilnya berbeda.
3. Candi Bungsu

Candi Bungsu bentuknya tidak jauh beda dengan Candi Sulung. Hanya saja pada
bagian atas berbentuk segi empat. Ia berdiri di sebelah barat Candi Mahligai dengan
ukuran 13,20 x 16,20 meter. Di sebelah timur terdapat stupa-stupa kecil serta
terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu putih. Bagian pondasi bangunan
memiliki 20 sisi, dengan sebuah bidang di atasnya. Pada bidang tersebut terdapat
teratai. Penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, berhasil menemukan sebuah
lubang di pinggiran padmasana stupa yang di dalamnya terdapat tanah dan abu.
Dalam tanah tersebut didapatkan tiga keping potongan emas dan satu keping lagi
terdapat di dasar lubang, yang digores dengan gambar-gambar tricula dan tiga huruf
Nagari. Di bawah lubang, ditemukan sepotong batu persegi yang pada sisi bawahnya
ternyata digores dengan gambar tricula dan sembilan buah huruf. Bangunan ini
dibagi menjadi dua bagian menurut jenis bahan yang digunakan. Kurang lebih
separuh bangunan bagian Utara terbuat dari batu pasir, sedangkan separuh
bangunan bagian selatan terbuat dari bata. Batas antara kedua bagian tersebut
mengikuti bentuk profil bangunan yang terbuat dari batu pasir. Hal ini menunjukkan
bahwa bagian bangunan yang terbuat dari batu pasir telah selesai dibangun
kemudian ditambahkan bagian bangunan yang terbuat dari bata.
4. Candi Palangka

Bangunan candi ini terletak di sisi timur Stupa Mahligai dengan ukuran tubuh
candi 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar dua meter. Candi ini terbuat dari batu
bata, dan memiliki pintu masuk yang menghadap ke arah utara. Candi Palangka
pada masa lampau diduga digunakan sebagai altar.

2. Arsitektur
Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada
di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut merupakan bangunan
agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal,
hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup
dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru. Stupa adalah ciri khas
bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam
sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya stupa
dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

1. Stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan.


2. Stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tetapi masing-masing sebagai
bangunan lengkap.
3. Stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara.
Berdasarkan fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan di kompleks
Candi Muara Takus menduduki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri
atau berkelompok tetapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.
Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena
tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan
dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno
di Indiapada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan
kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara
Takus.
Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang
melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat atau aspek ‘terang’
yang dapat mengalahkan aspek ‘jahat’. Dalam ajaran agama Budha motif hiasan
singa dapat dihubungkan maknanya dengan sang Budha, hal ini terlihat dari julukan
yang diberikan kepada sang Budha sebagai ‘singa dari keluarga Sakya’. Serta ajaran
yang disampaikan oleh sang Budha juga diibaratkan sebagai ‘suara’ (simhanada)
yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin.
Dalam naskah Silpa Prakasa dituliskan bahwa terdapat empat tipe singa yang
dianggap baik, antara lain :

1. Udyatā: singa yang digambarkan di atas kedua kaki belakang, badannya


dalam posisi membalik dan melihat ke belakang. Sikap ini
disebut simhavalokana.
2. Jāgrata: singa yang digambarkan dengan wajah yang sangat buas
(mattarūpina). Ia bersikap duduk dengan cakarnya diangkat ke atas. Sering
disebut khummana simha.
3. Udyatā: singa yang digambarkan dalam sikap duduk dengan kaki belakang
dan biasanya ditempatkan di atas suatu tempat yang tinggi. Terkenal
dengan sebutan jhmpa-simha.
4. Gajakrānta: singa yang digambarkan duduk dengan ketiga kakinya di atas
raja gajah. Satu kaki depannya diangkat di depan dada seolah-olah siap
untuk menerkam. Singa ini disebut simha kunjara.
Di kompleks Candi Muara Takus sendiri terdapat dua candi yang memiliki
patung singa, yaitu Candi Sulung dan Candi Mahligai. Di Candi Sulung arca singa
ditemukan di depan candi atau di tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai
arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini,
berdasarkan konsep yang berasal dari kebudayaan India, dimaksudkan untuk
menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol dari
kekuatan terang atau baik.
Berdasarkan penelitian R.D.M. Verbeck dan E. Th. van Delden diduga bahwa
bangunan Candi Muara Takus dahulunya merupakan bangunan Buddhis yang terdiri
dari biara dan beberapa candi.

3. Latar belakang pendirian


Candi merupakan bangunan suci yang berkembang pada masa Hindu-Buddha.
Bangunan suci ini dibuat sebagai sarana pemujaan bagi dewa-dewi agama Hindu
maupun agama Buddha. Agama Hindu dan Buddha berasal dari India sehingga
konsep yang digunakan dalam pendirian sebuah bangunan suci sama dengan
konsep yang berkembang dan digunakan di India, yaitu konsep tentang air suci.
Bangunan suci harus berada di dekat air yang dianggap suci. Air itu nantinya
digunakan sebagai sarana dalam upacara ritual. Peran air tidak hanya digunakan
untuk upacara ritual saja, namun secara teknis juga diperlukan dalam pembangunan
maupun pemeliharaan dan kelangsungan hidup bangunan itu sendiri. Didirikannya
bangunan suci di suatu tempat memang tempat tersebut potensi untuk dianggap
suci, dan bukan bangunannya yang potensi dianggap suci. Maka dalam usaha
pendirian bangunan suci para seniman bangunan selalu memperhatikan potensi
kesucian suatu tempat dimana akan didirikan bangunan tersebut.
Agar tetap terjaga dan terpeliharanya kesucian suatu tempat, maka harus
dipelihara daerah sekitar titik pusat bangunan atau Brahmasthana serta keempat
titik mata angin dimana dewa Lokapala (penjaga mata angin) berada untuk
melindungi dan mengamankan daerah tersebut sebagai Wastupurusamandala yaitu
perpaduan alam gaib dan alam nyata. Kemudian dilakukan berbagai upacara untuk
mensucikan tanah tersebut. Dalam hal ini air sangat berperan selama upacara
berlangsung, karena air selain mensucikan juga untuk menyuburkan daerah
tersebut. Sehingga dalam upaya pendirian suatu bangunan suci, selain potensi
kesucian tanah yang perlu diperhatikan adalah keberadaan atau tersedianya air di
daerah tersebut. Hal ini sama dengan konsep kebudayaan India yang menyatakan
bahwa keberadaan gunung meru sebagai tempat tinggal para dewa dikeilingi oleh
tujuh lautan. Maka secara nalar dan umun dapat diketahui bahwa pendirian
sebagian besar bangunan suci tempatnya selalu berada di dekat air.
Keadaan geografis wilayah Sumatera yang memiliki aliran sungai yang besar
sangat mendukung konsep dari kebudayaan India tersebut. Dengan adanya aliran
sungai besar tersebut air dengan mudah didapat untuk keperluan dari upacara
ritual. Selain faktor air, faktor ekonomi juga dapat melatarbelakangi berdirinya
suatu bangunan suci. Aliran sungai di Sumatera pada masa lampau merupakan jalur
transportasi untuk perdagangan. Pada awalnya jumlah pedagang yang datang
sedikit. Namun lama kelamaan karena menunggu waktu yang tepat untuk berlayar
maka mereka bermukim di sekitar daerah tersebut. Maka diperlukanlah tempat
peribadatan untuk umat beragama, dan didirikanlah bangunan suci. Karena tidak
mungkin berdirinya suatu bangunan sakral atau candi tanpa didukung masyarakat
pendirinya demi kelangsungan hidup bangunan suci tersebut. Maka seirama dengan
tumbuh dan pesatnya perdagangan di suatu tempat pada umumnya akan muncul
pula bangunan-bangunan suci atau candi untuk digunakan sebagai tempat
menjalankan upacara ritual oleh para pelaku ekonomi tersebut yang telah mengenal
magis terhadap bangunan candi, berperan dalam fungsi perkembangan
sosial/ekonomi dan perdagangan.
Faktor kekuasaan juga berpengaruh dalam pembangunan suatu candi. Suatu
kerajaan yang berhasil menaklukkan suatu wilayah, tentunya terdapat tinggalan
yang dapat menggambarkan ciri khas suatu kerajaan tersebut. Tinggalan tersebut
dapat berupa prasasti maupun candi.

4. Beberapa aspek dalam pendirian candi


Dari suatu bangunan candi kita dapat melihat beberapa aspek kehidupan.
Pada candi Muara Takus ini aspek-aspek yang dapa kita lihat antara lain:
1. Aspek teknologi: Bahan yang digunakan adalah batu bata. Ukuran bata yang
dipakai membangun candi ini bervariasi, panjang antara 23 sampai 26 cm,
lebar 14 sampai dengan 15,5 cm dan tebalnya 3,5 cm sampai 4,5 cm. Bata
pada masa lampau memiliki kualitas yang lebih baik dari bata pada masa
sekarang. Ini dikarenakan tanah liat yang digunakan disaring sampai benar-
benar tidak ada komponen lain selain tanah liat, misalnya pasir. Selain itu,
terdapat ”isian” di dalam bata, biasanya berupa sekam. Maksud dari isian
ini, supaya bata kuat. Perekatan antar batu bata menggunakan sistem kosod.
Sistem kosod merupakan sistem perekatan bata dengan cara menggosokkan
bata dengan bata lain dimana pada bidang gosokannya tersebut diberi air.
Sistem ini juga dapat ditemukan pada situs-situs di Jawa Timur dan masih
dapat ditemukan di daerah Bali. Perekatan bata yang menggunakan sistem
kosod menyebabkan perekatan antar bata akan bertambah erat dari tahun
ke tahun.
2. Aspek sosial: Pembangunan candi ini dilakukan secara bergotong royong
dan dilakukan oleh orang ramai. Begitu juga pada saat upacara pemujaan
terdapat perbedaan status, yaitu pemimpin upacara dan pengikutnya.
3. Aspek religi: terlihat dari bentuk candi Muara Takus yang berupa stupa, yang
menunjukkan candi ini sebagai tempat pemujaan umat agama Buddha,
khususnya aliran Mahayana.

5. Rujukan

1. http://www.riaudailyphoto.com/2013/05/sejarah-candi-muara-takus.html
2. Prof. Dr. Schnitger.Ph.D, Forgotten Kingom in Sumatera
3. J.L.Moens : Srivijaya Yva en katana Tijdschrift Voor Indische Tall,Land en
Volkenkunde. Jilid LXXVII 1937
4. http://www.riaudailyphoto.com/2011/12/candi-muara-takus.html
5. J.W.Yzerman : Beschrijving Van die Boeddhistische Bouwwerken te Moeara
Takoes Padang, Desember 1989

1. ^ Forgotten Kingdoms in Sumatra, Brill Archive


2. ^ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2,
Kanisius, ISBN 979-413-290-X.

6. Bibliografi

(Indonesia) Balai Arkeologi Medan. 1998. Berkala Arkeologi SANGKHAKALA.

 (Indonesia) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Hasil Pemugaran


dan Temuan Benda Cagar Budaya PSP I. Proyek pembinaan Peninggalan Sejarah
dan Kepurbakalaan Pusat. Jakarta
 (Indonesia) Haryono, Timbul. 1986. Relief dan Patung Singa Pada Candi-Candi
Periode Jawa Tengah : Penelitian Atas Fungsi dan Pengertiannya. Laporan
Penelitian. Yogyakarta
 (Inggris) Kempers, A. J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Cambridge,
Massachusetts: Harvard University Press
 (Indonesia) Siagian, Renville. 2002. CANDI sebagai warisan seni dan budaya
Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Cempaka Kencana
 (Indonesia) Soekmono, R. 1974. Candi, Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi.
Jakarta
 (Indonesia) Suaka PSP Prov. Sumbar dan Riau. 1995. Buletin Arkeologi
AMOGHAPASA. Batusangkar

7. Lihat pula

Cerita Rakyat Asal Usul Candi Muara Takus

Alkisah zaman dahulu hiduplah masyarakat yang bekerja sebagai nelayan dan
pedagang di sepanjang Sungai Kampar yang berpusat di Minangga Kanwar (Muara
Takus). Disini dimulailah pertualangan ninik mamak yang gagah berani menelusuri
sungai Kanwar menuju Muaro Sako hingga Selat Melaka menggunakan perahu yang
menjadi alat transportasi pada saat itu.
Setelah beberapa bulan melakukan perjalanan dagang ninik mamak Datuok
nan batigo pun berniat hendak pulang ke Minangga Kanwar. Namun ditengah
perjalanan Datuok nan batigo melihat seekor burung gaudo (burung garuda/elang)
yang terbang dengan cepat sambil mencengkram seorang gadis muda yang cantik
rupanya sambil berteriak minta tolong. Datuok nan batigo pun berpikiran kalau
gadis itu akan dibawa ke sarang sang burung gaudo dan dijadikannya sebagai
santapan makan siang. Datuok nan batigo itu adalah Dt. Rajo Dibalai ( Ahli Tabib –
pengobatan ), Dt. Bandaro Tanjung ( Ahli Selam ), Dt. Sati Gunung Malelo (Ahli
Memanah ). Setelah melihat kejadian itu, Datuok nan batiga baumbik (berunding)
dan menyuruh Dt. Sati Gunung Malelo untuk mengarahkan anak panahnya ke kaki
burung gaudo tersebut. Dengan secepat kilat anak panahpun menembuh kaki
burung gaudo. Karena merasa kesakitan dan membuatnya susah terbang, langsung
saja sang burung gaudo melepaskan gadis muda dari cengkramannya. Sang
gadispun jatuh kelaut dan tenggelam, dengan cepat tanggap Dt. Bandaro Tanjung
langsung melompat kedaerah tenggelamnya gadis dan menyelam untuk mencarinya.
Dengan keahliannya dan niat tulus sang gadispun ditemukan dan dibawa langsung
ke atas kapal. Diatas kapal sang gadis dalam keadaan sekarat dan belum sadarkan
diri. Tanpa piker panjangpun Dt. Rajo Dibalai langsung menyelamatkan nyawa sang
gadis dan membrinya obat-obat kampung yang manjur. Berkat kerjasama Datuok
nan batigo, sang gadis selamat dan sehat seperti sedia kala.
Datuok nan batigo melanjutkan perjalanannya menuju kampung halaman
Minangga Kanwar. Dalam perjalanan terjadi tegur sapa Datuok nan batigo dengan
sang gadis yang hanya dijawab dengan gelengan dan sesekali tersenyum. Bahasa
yang diucapkan sang gadis tidak dimegerti oleh Datuok nan batigo dan sebaliknya.
Setelah berlayar cukup lama, sampailah Datuok nan batigo ke Minangga Kanwar dan
membawa gadis turun dari perahu. Masyarakat banyak yang bingung dan bertanya
asal keberadaan gadis. Datuok nan batigo membawanya ke balai dan menjelaskan
peristiwa yang dia alami. Masyarakatppun mengerti dn mengizinkannya tinggal
sementara disini sampai ada keluarga sanak saudaranya mencari.
Selama tinggal di daerah itu, sang gadis hanya suka bernyanyi dan
mengucapkan kata yang tidak dimengerti masyarakat dan akhirnya masyarakat pun
terbiasa. Datuok nan tigo bersama pemuka adat lainnya merunding dan member
usulan untuk menyebarkan berita melalui alat komunikasi saat itu sepeti
menghanyutkan kertas dalam wadah seperti botol agar dapat dibaca oleh orang
yang menemukan botol dan juga dengan cara menyebarkan berita kepada pelaut
dan pedagang lainnya. Walaupun dengan cara ini tetapi berita sangat efektif untuk
disampaikan hingga sampai ke negri luar sungai Kampar tersebut.
Sampailah berita ini ketelinga salah seorang Raja yang tinggal di India dimana
selama ini tengah mencari putrinya yang hilang. Tanpa pikir panjang sang Raja dan
pengikutnya pergi ke sungai Kampar dimana anaknya ditemukandenga persiapan
yang matang. Tidak susah untuk menuju sungai kampat karena dari India cukup
mengarahkan kapal kea rah timur dan sesampainya diselat malaka telusuri sungai
yang besar disumatera dan mengikuti pedagang Kampar yang ada di India. Apalagi
pada zaman itu cukup majunya teknologi pelayaran yang digunakan.
Sebelum itu sang Raja dan pasukannya dengan susah payah telah mencari putrinya
baik melalui jalur laut menggunkan kapal atau perahu maupun melalui jalur darat
menggunakan gajah di berbagai daerah. Namun setelah adanya informasi bahwa
putrinya tersebut berada di Minangga Kanwar, seluruh pasukan baik pasukan
berkendaraan gajah maupun pasukan dengan kapal laut seluruhnya dikerahkan
menuju Minangga Kanwar.
Mendengar kedatanga rombonga Kerajaan India, Datuon nan batigo berunding
atau musyawarahuntuk persiapan penyambutan. Setelah ditemukannya
kesepakatan, maka dimulailah para ninik mamak berdiam di puak puak atau balai
yang ada ditepian sungai Kampar untuk mempersiapkan penyambutan rombongan
Kerajaan India tersebut. Setelah beberapa hari berdatanagnlah rombongan kecil
menggunakan kapal laut agar dapat melakukan penyerangan dan segera
menyelamatkan putri karena mereka mengira kalau sang putri itu diculik. Tetapi
sebelum sampai di Minangga Kampar yang berada tidak jauh untuk penyerangan
melalu daratan, kapalpun disandarakan disebuah batu pada saat itu yang sekarang
dinamkan dengan daerah Batu Bersurat yang berlokasi diBukit Kincung. Menurut
masyarat disini ada seorang Datuok bergelar Dt. Simalancar berhasil berdiplomasi
dan bersiasat dengan pasukan Kerajaan India sehingga penyerangan dapat
dihentikandengan cara meletakkna daun jelatang dipinggiran sungai Kampar dan
menyampaikan bahwa disini tidak ada kerajaan, yang ada hanya adat istiadat ninik
mamak yang memiliki kesaktian masing-masing. Tetapi karena merka tidak sabar
dan ingin segera menyelamatkan sang putri tidak lama setelah pasukan yang turun
dari kapal dan menyerang melalui daratanpun kembali kekapal dengan cepat karena
badan meerka gatal-gatal dan membengkak akibat daun jelatang. Akhirnya
pimpinan rombongan kecil ini mengambil langkah untuk tidak menyerang
pemukiman di Minangga Kanwar dan kembali kekapal. Barulah ninik mamak,
pemangku adat, orang – orang tua beserta para bomo ( peselantar Bono Sungai
Kampar) dan seluruh masyarakat Minangga Kanvar menyambut dengan gembira.
Raja Kerajaan Indiapun tiba di pemukiman Sungai Kampar tanpa melakukan
pemberhentian di tepi sungai. dan terkesan atas sambutan mereka. Dalam
penyambutan putripun hadir dan menambah perasaan tyerkesan mereka karena
putri dirawat dengan baik dn dalam keadaan sehat. Malahan sekarang sang
putridenggan meninggalkan Minangga Kanwar karena putri pun terkesan dan
senang tinggal disini mala sang putri enggan untuk meninggalkan daerah Minangga
Kanwar. Disini masyarakatnya memilki sopan santun yang tinggi dengan adt istiadat
leluhurnya. Sambil menunggu kedatangan pasukan lainnya yang mempergunakan
jalan darat memakai kendaraan gajah Oleh ninik mamak, kepada rombongan yang
akan kembali ke India, dititipkanlah hasil – hasil bumi dan hutan Kampar untuk Raja
India sebagai tali hubungan persahabatan. Karena kedatangan rombongan kerajaan
India inilah terbukanya informasi ke dunia luar bahwa Negeri Kampar dan
kepulauan Sumtera yang bernama Swarnadwipa waktu itu merupakan daerah yang
subur dan memiliki beraneka ragam hasil bumi dan hutan. Kengganan sang putrid
untuk kembali dan keinginannya untuk menetap masyarakat besimpati dan sang
Rajapun akhirnya setuju dengan cara memberikan pengawalan yang ketat karena
banyaknya pedagang yang datang. Dan banyaknya juda masyarakat luar negeri yang
berdatangan dan menambahkan pengaman yang banyak lagi.

Agar suasana India ada juga disana, sang Raja inisiatif untuk membuatkan
kompleks yang didalmnya berisi candi-candi untuk putrinya yang bernama Putri
Indira Dunia untuk melakukan kegiatan keagamaan sesuai kepercayaan saat itu.
Dari komplek inilah masyarakat adanya pengaruh buadaya hindu terhadap
masyarakat Kampar. Masyarakat Kampar yang dikepalai oleh Datuk sebagai ninik
mamak beserta Bomo, Batin, Dukun dan Pawang sebagai penghubung dengan roh –
roh Nenek Moyang terdahulu. Dalam hal adat, Nenek Moyang sebagai penghulu dan
pimpinan adat, sangat dihargai oleh perwakilan kerajaan India yang berada di
Minangga Kanwar waktu itu. Ninik mamak beserta anak kemanakan hidup dengan
mengumpulkan hasil alam serta mencari ikan disepanjang tepian sungai kampar.
Ninik mamak dan masyarakatpun mulai berkembang dan berpindah keberbagai
daerah dan mendikan pemukiman disana. Maka diangkatlah bebrapa pimpinan atau
ninik mamak sesuai aturan adat yang berlaku aturan kepada masyarakat adatnya
sehubungan dengan kegiatan mengumpulkan hasil alam serta kegiatan
kemasyarakatan lainnya. Hasil alam dipertukarkan didalam komplek candi untuk
dijual dikeluar negeri. Karena Pihak kerajaan sangat menghargai tindakan ninik
mamak disana karan telah menyelamatkan sang puteri. Dan berkembanglah
Kerajaan Muara Takus dari timur barat utara selatan yang menjadikan sungai
Kampar sebagai pusat perdagangan ketika itu. Hingga sekarang bukti Keberadaan
Kerajaan Candi Muara Takus masih ada walaupun hanya sebagian kecil diaman ini
dapat dijadukan bukti bahwa Diana pernah menajdi pusat Kerajaan dan Keagamaan
yang besar sebelum mulai berpindah dan menyebarkan ke wilayah sumatera yang
lain.