Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

SUHU dan UDARA

DISUSUN

Oleh

1. Yunita Hatmayanti Hafid 2. Padliani Punding 3. Jufiyati

4. Irma Rafida 5. Muh. Ajis 6. Saiful

7. Rahmat 8. Ansar

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI KELAUTAN (STITEK)


BALIKDIWA MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat


dinamik dan sulit dikendalikan salah satunya adalah suhu/temperatur. Dalam praktek,
iklim (suhu dan cuaca ) sangat sulit untuk dimodifikasi/dikendalikan sesuai dengan
kebutuhan, ditambah lagi dengan fenomena pemanasan global akibat radiasi matahari
yang penyinarannya jatuh secara total akibat lapisan ozon yang telah menipis.
Kalaupun bisa memerlukan biaya dan teknologi yang tinggi. Iklim/cuaca sering
seakan-akan menjadi faktor pembatas produksi pertanian. Karena sifatnya yang
dinamis, beragam dan terbuka, pendekatan terhadap cuaca/iklim agar lebih berdaya
guna dalam bidang pertanian , diperlukan suatu pemahaman yang lebih akurat teradap
karakteristik iklim melalui analisis dan interpretasi data iklim. Mutu hasil analisis dan
interpretasi data iklim, selain ditentukan oleh metode analisis yang digunakan, juga
sangat ditentukan oleh jumlah dan mutu data.

Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dan kerjasama yang baik antar instasi
pengelola dan pengguna data iklim demi menunjang pembangunan pertanian secara
keseluruhan. Suhu dikatakan sebagai derajat panas atau dingin yang di ukur
berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan termometer. Pengaruh suhu terhadap
mahkluk – mahkluk hidup adalah sangat besar sehingga pertumbuhannya benar – benar
seakan –akan tergantung padanya, terutama dalam kegiatan pertanian. Kita ambil
contoh tumbuhan – tumbuhan dimana tanaman layaknya mempunyai keinginan akan
suhu tertentu, artinya tanaman itu tidak akan tumbuh dengan baik bila syaratnya tidak
terpenuhi, juga berpengaruh pada proses pematangan buah makin tinggi suhu makin
cepat proses pematangan buah. Dengan suhu yang tinggi benih – benih akan
mengadakan metabolisme lebih cepat, akibatnya apabila benih – benih di biarkan aatau
di tanam pada dataran atau tanaman tinggi maka daya kecambahnya akan turun. Jadi
pada tanaman juga ada suhu maksimum, atau suhu optimum yang di inginkannya.

Alat pengukur suhu adalah Termometer. Secara Umum Termometer terbagi


tiga, yaitu Termometer Celcius, Termometer Reamur, Termometer Kelvin dan
Termometer Fahrenheit. Untuk menentukan system skala suhu digunakan titik acuan
bawah dan titik acuan atas. Kapasitas Kalor adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk
menaikkan suhu benda satu satuan suhu. Perpindahan Kalor ada tiga macam yaitu
Konduksi, Konveksi, dan Radiasi. Konduksi (hantaran panas) adalah rambatan kalor
yang tidak di ikuti perpindahan massa. Konveksi (aliran panas) adalah rambatan kalor
yang mengikuti perpindahan partikel-partikel zat perantara. Radiasi (pancaran kalor)
adalah perpindahan kalor yang tidak memerlukan zat perantara.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa hubungan energy dan suhu?


2. Bagaimana neraca energy di permukaan?
3. Bagaimana pentingnya radio aktif di permukaan?
4. Apa perbedaan anatara daratan dan lautan?
5. Bagaimana suhu di permukaan bumi?
6. Bagaimana profil vertical atmosfer?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hubungan Energi dan Suhu


Seperti telah dikatakan sebelumnya, pada saat sebuah benda menyerap energi,
suhunya meningkat. Terdapat hubungan yang sederhana antara perubahan energi suatu
benda dengan perubahan suhu yaitu :

ΔE = ρCΔT

dalam hal ini

E = perubahan energi
ΔT = perubahan suhu dari satu unit volume persatuan unit waktu
Ρ = kerapatan
C = panas spesifik

Jika kita ingat kembali keadaan dimana hanya energi yang bersifat radiasi yang
terlibat, kita dapat membentuk sebuah analisa sederhana. Waktu benda menyerap
radiasi surya, suhu benda akan naik seperti yang digambarkan persamaan
4.1. Kenaikkan suhu tersebut akan menyebabkan kenaikan jumlah energi panas yang
dipancarkan seperti yang dijelaskan oleh hukum Stefan-Boltzman (persamaan
3.3). Dengan mengabaikan arus energi yang bersifat tidak radiatif, suhu akan naik
sampai laju penyerapan sama dengan laju pancaran. Dengan demikian perubahan netto
energi dalam benda tersebut bernilai nol, tidak terjadi lagi perubahan suhu dan benda
berada pada keseimbangan secara radiatif. Suhu yang sebenarnya pada titik ini, untuk
arus radiasi datang tertentu akan bergantung pada albedo benda yang mengatur jumlah
yang diserap dan pada emisivitasnya yang mengatur jumlah yang dipancarkan pada
suhu tertentu. Jika salah satu faktor ini berubah misalnya emisivitas atau albedo
meningkat, keseimbangan suhu akan menurun.
Kapasitas panas suatu benda tidak penting dalam menentukan suhu, tetapi
sangat penting dalam menentukan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
keseimbangan. Di atmosfir bebas, pertukaran energi yang bersifat radiatif adalah faktor
penentu terbesar dari laju pemanasan di setiap waktu. Tetapi, pemindahan energi
dalam bentuk-bentuk lain di permukaan secara lokal dapat merupakan faktor penting
juga. Di permukaan bumi perhitungan laju pemanasan atau suhu pada saat
keseimbangan tidak sesederhana yang dibayangkan karena arus energi yang bersifat
non-radiatif sama pentingnya dengan arus energi radiatif.

2.2 Neraca Energi di Permukaan


Suhu pada permukaan bumi adalah hasil tanggapan terhadap semua arus energi
yang mempengaruhi permukaan. Dengan demikian energi yang bertanggung jawab
terhadap perubahan suhu dijelaskan dalam persamaan neraca energi dimana radiasi
netto Q* adalah :
Q* = H + LE + G

Dalam hal ini H adalah arus panas terasa ke udara, LE adalah arus panas laten
ke udara dan G adalah arus panas ke dalam tanah. Energi yang terasa mengalir dari
suhu yang tinggi ke rendah terutama karena pergerakan dari udara yang dipanaskan
oleh kontak permukaan. Energi laten berhubungan dengan pergerakan molekul uap air
dan pertukarannya terjadi karena penguapan (evaporasi) dan pengembunan
(kondensasi). Arus panas ke dalam tanah adalah dengan cara konduksi, tetapi dapat
juga secara konveksi jika permukaannya adalah air. Persamaan neraca energi diatas
menunjukkan bahwa ada keseimbangan antara berbagai arus energi. Hal ini berlaku
untuk kondisi rata-rata dalam jangka waktu yang panjang, tetapi disebagian besar
waktu keadaannya tidak demikian. Arus energi memang beragam secara terus
menerus, tetapi ada kecenderungan kuat untuk mencapai keseimbangan dan hal ini
yang mengakibatkan kestabilan suhu.
Tetapi dalam kondisi atmosfir yang terus berubah keseimbangan ini jarang
tercapai. Sebaliknya ketidak seimbangan menyebabkan ada kelebihan energi yang
didapat atau yang hilang di permukaan, dengan demikian menyebabkan terjadinya
perubahan suhu. Sebagai contoh kita dapat kembali mempertimbangkan siklus energi
harian. Suhu permukaan mulai meningkat begitu radiasi netto menjadi positip. Dalam
hampir semua kejadian, permukaan selalu lebih panas daripada udara diatasnya,
sehingga terjadilah arus panas terasa. Radiasi netto juga dapat menyediakan energi
yang dibutuhkan untuk evaporasi sehingga mulailah terjadi perpindahan panas
laten. Pada waktu yang bersamaan, panas dipindahkan dari permukaan yang panas ke
lapisan tanah dibawahnya. Situasi ini dapat terus berlangsung sepanjang radiasi netto
positip. Tetapi, perubahan udara diatas permukaan dapat merusak pola yang sederhana
ini. Aliran udara yang hangat dapat membawa udara yang lebih panas dibanding udara
di permukaan dan menciptakan arus panas terasa menuju permukaan bumi.
Kalau permukaan itu terdiri dari air, arus gelombang dapat menciptakan hal
yang sama. Kalau tanah dalam keadaan kering mungkin tidak terjadi arus panas laten
ke atas. Kalau kita teruskan pola suhu harian yang ideal, begitu radiasi netto menjadi
negatip dan proses pendinginan secara radiasi mendominasi, arus dari energi non-
radiatif mulai menuju permukaan dan mengurangi kecepatan proses pendinginan. Jadi
secara umum perpindahan energi non-radiatif cenderung meminimalkan perubahan
suhu harian yang mungkin akan sangat besar jika hanya merupakan hasil pertukaran
energi yang bersifat radiatif saja.

2.3 Pentingnya Arus Non-Radiatif di Permukaan


Perpindahan energi menjauhi permukaan oleh arus panas di tanah dapat
digambarkan dengan analogi panas yang mengalir sepanjang pipa. Jika salah satu
ujungnya dipanaskan panas akan mengalir dari bagian yang lebih panas ke yang lebih
dingin. Dengan demikian pipa secara bertahap dipanaskan, dengan perubahan suhu
maksimum terjadi pada ujung yang dipanaskan, dan secara bertahap berkurang dengan
semakin jauh jaraknya dari ujung pipa. Laju dari perambatan panas bergantung
pada Difusivitas Thermal K* dari materi, atau bergantung pada Konduktivitas
Thermal K = ρCp K*. Pada setiap saat sesudah pemanasan terjadi, kedalaman
perambatan sebanding dengan √K*. Kedalaman Perambatan dapat didifenisikan
sebagai suatu titik dimana nisbah antara kenaikkan suhu di titik tersebut dan kenaikkan
suhu di permukaan yang dipanaskan bernilai kecil, misalnya 5%.
Jika kita memiliki sebuah siklus panas, bukan pemanasan satu arah, seperti
siklus harian, gelombang suhu akan menyebar ke bawah secara vertikal dengan
amplitudo (jarak antara bagian tengah dan puncak sebuah gelombang) yang makin
lemah dengan semakin jauh dari permukaan. Pada akhirnya akan dicapai suatu titik
dimana siklus harian begitu lemah sehingga dapat diabaikan. Nilai-nilai dari K* dan
kedalaman perambatan untuk berbagai jenis permukaan dan untuk atmosfir diberikan
dalam Tabel. Meskipun beragam untuk setiap jenis permukaan tanah, perbedaan yang
utama adalah antara tanah padat, air yang bergerak dan udara yang bergerak. Laju
penetrasi lebih cepat dan energi mencapai kedalaman yang jauh pada air dibanding
pada tanah, sementara penetrasi (penerusan) di udara adalah yang tertinggi dari
keduanya. Perpindahan pada padatan hanya dapat terjadi melalui interaksi molekuler
yang merupakan proses kondensasi yang sebenarnya. Akan tetapi, udara dan air dapat
memindahkan panas melalui gerakan yang bersifat mengaduk yaitu perpindahan secara
turbulen dan konveksi.
Karena benda yang berbeda memiliki laju yang berbeda dalam meneruskan
panas untuk menjauhi permukaan, suhu permukaan yang merupakan akibat dari input
energi dalam jumlah tertentu, juga berbeda. Volume dimana sebuah panas efektif
adalah sebanding dengan K*½ dan kenaikkan suhu sebanding dengan ρC
√K* disebut Kapasitas Konduktif, C*. Pada bidang temu antara dua substansi, panas
akan dibagi sebanding dengan kapasitas konduktif masing-masing. Selang suhu pada
bidang temu tersebut tentu sama untuk kedua medium dan nilainya kira-kira
meruypakan nilai kebalikan (inversi) dari jumlah kapasitas konduktifnya.
Tabel Karakteristik Thermal Udara dan
permukaan
Jenis Kapasitas Difusifitas Kondukti- Kapasitas
Panas Thermal Thermal vitas Thermal Thermal
C K* K C*
(Jm-3 K-1) (m2 s-1) (Wm-1K-1) (Jm-2K-1s½)

Es 189 106 1.2 10-6 2.27 2.1 103


Tanah
kering 1.26 106 1.3 10-7 0.16 4.5 102
Tanah 1.68 106 1.0 10-6 1.68 1.7 103
Basah
Udara 1.26 103 2.0 10-5 2.5 10-2 5.6
Tenang
Udara 1.26 103 10.0a 1.3 104 1500a

Nilai tidak ditentukan oleh karakteristik molekul karena itu tidak dapat diukur
dalam percobaan laboratorium.

2.4 Perbedaan antara Daratan dan Lautan


Tanah dan air memberikan tanggapan yang berbeda terhadap input energi yang
diberikan. Di permukaan keduanya bersentuhan dengan udara. Nilai kebalikan dari
kapasitas konduktif untuk udara dan tanah sekitar 7; untuk air dan udara mendekati
0.14. Akibatnya selang suhu tanah 50 kali lebih besar daripada air. Hal ini juga yang
menyebabkan permukaan tanah memanas dan mendingin dengan lebih cepat dan tanah
memiliki selang suhu yang lebih besar daripada permukaan air. Keadaan ini yang
dalam skala ruang yang lebih besar disebut Konsep Kontinentalitas, memainkan
peranan sangat besar dalam menetapkan distribusi suhu secara global. Kalau kita
menggunakan nilai-nilai pada Tabel 4.2 yang merupakan nilai-nilai khas untuk arus
radiasi, kita menemukan bahwa selang suhu tahunan diatas lautan biasanya hanya
beberapa derajat, sementara untuk daratan dapat mencapai puluhan derajat.
Nilai-nilai ini agak lebih tinggi daripada yang diamati. Perbedaan ini sebagian
besar disebabkan oleh pengaruh arus panas laten dan gerakan horizontal. Pendinginan
permukaan oleh pemindahan panas laten terjadi jika ada evaporasi. Gerakan horizontal
meredakan arus panas terasa karena menyebabkan perpindahan dan pencampuran
udara diatas permukaan. Semua gambaran dari sistem iklim ini adalah akibat langsung
dari unsur-unsur aliran energi global dan hal ini menolong kita menganalisa proses-
proses yang menciptakan distribusi global dari suhu permukaan

2.5 Suhu di permukaan bumi


Pemahaman sebelumnya tentang cara energi mengalir dan menghasilkan suhu
menunjukkan bahwa perubahan suhu di permukaan bumi dapat terjadi dengan cepat
baik secara horizontal maupun vertikal. Dalam pembahasan selanjutnya akan
dibicarakan distribusi global secara umum dari suhu di permukaan.
2.5.1 Pola global dari suhu rata-rata pada ketinggian permukaan laut
Untuk musim panas dan dingin. Pada bulan-bulan Desember, Januari, Februari
di atas lautan suhu tertinggi berada pada suatu jalur dekat ekuator sedangkan untuk
daratan berada di daerah-daerah bagian agak selatan ekuator. Suhu maksimum
mencapai lebih dari 30 oC terjadi diatas sebagian daratan-daratan ini. Suhu minimum
terjadi di kutub dengan nilai terendah -30oC. Terdapat perbedaan yang tajam antara
daratan dan lautan khususnya di bagian barat benua dimana pada lintang tertentu dari
Belahan Bumi Utara daratan lebih dingin daripada lautan yang berbatasan dengannya,
sementara di Belahan Bumi Selatan daratan lebih panas daripada lautan. Gejala yang
hampir sama terjadi di Belahan Bumi Utara pada bulan-bulan Juni, Juli, Agustus. Pada
musim ini, antartika adalah daerah terdingin dan daerah terpanas adalah benua-benua
yang tepat di sebelah ekuator.
Perbandingan yang lebih teliti dari kondisi di dua musim tersebut dengan jelas
menunjukkan perubahan musiman pada suhu permukaan lautan relatif lebih kecil,
tetapi di tengah-tengah benua di lintang tengah menderita karena terdapat perbedaan
suhu yang jauh lebih besar. Ketertinggalan suhu pada siang hari terutama adalah
sebagai akibat keseimbangan antara radiasi netto yang datang dan radiasi yang
pergi. Sejak matahari terbit, sejumlah besar energi radiasi dibutuhkan untuk
memanaskan tanah dan tanaman yang saat itu berada dalam kondisi terdingin. Sebelum
permukaan ini menjadi lebih hangat relatif terhadap udara di atasnya, tidak terjadi arus
panas terasa ke udara. Makin lama makin banyak energi yang digunakan untuk
memanaskan udara sesudah permukaan menjadi panas. Meskipun keseimbangan
antara radiasi netto yang datang dan radiasi yang pergi adalah faktor penentu utama,
faktor-faktor lain seperti konvensi, konduksi, adveksi dan evapotranspirasi kadang-
kadang dapat menjadi penentu penting dari ketertinggalan suhu di siang hari.

2.5.2 Pola Temperatur Harian


Pola harian suhu udara digambarkan sebagai kurva sinus dengan titik minimum
terjadi pada awal pagi hari sebelum matahari terbit dan maksimum terjadi beberapa
waktu sesudah puncak matahari dan radiasi netto tercapai. Pola suhu udara tidak harus
begitu teratur pada setiap hari terutama pada daerah yang sering
dilaluifront (pertemuan dua masa udara dengan suhu yang berbeda), daerah dengan
kondisi awan yang berubah-ubah atau daerah dengan adveksi kuat. Akan tetapi secara
rata-rata suhu udara harian, yang dihitung melalui periode yang panjang sehingga
keteraturan gelombang makin jelas, cukup tepat dan halus untuk keperluan
perkiraan/peramalan. Puncak radiasi terjadi pada tengah hari tetapi puncak suhu belum
terjadi sebelum jam 14.00. Meskipun matahari terbenam sekitar jam 18.00, suhu
terendah tidak terjadi sampai sesaat sebelum matahari terbit, seperti yang diduga dari
teori radiasi.
Gelombang tahunan dari suhu udara mengikuti pola yang sama dengan gelombang
radiasi surya. Puncak radiasi surya terjadi sekitar Juni di Lincoln, Nebraska,
USA. Puncak tertinggi suhu terlambat sekitar satu bulan di lokasi ini. Demikian juga
suhu minimum tahunan tterjadi sattu bulan sesudah radiasi surya mencapai minimum.
Alasan untuk keterlambatan tahunan adalah sama dengan yang terjadi untuk
keterlambatan harian. Sepanjang musim semi dan awal musim panas, sejumlah besar
energi surya yang datang mengalir ke dalam tanah yang pada saat itu mencapai suhu
terendah. Begitu bagian dari arus energi ke dalam tanah berkurang, karena tanah
menjadi lebih panas relatif terhadap kondisi sekitar, maka akan semakin banyak energi
diubah menjadi panas terasa.

2.6 Profil Vertikal atmosfir


Suhu memiliki profil vertikal yang agak rumit, yang dapat dibagi dalam
lapisan-lapisan yang jelas berbeda satu dengan yang lain. Untuk memahami mengapa
lapisan-lapisan ini terbentuk kita harus memperhatikan dengan rinci pengaruh energi
surya terhadap atmosfir. Radiasi surya bergerak melewati ruang hampa udara pada
kecepatan hampir 300.000 km/detik. Karena jarak rata-rata bumi - atmosfir adalah 150
juta kilometer, dibutuhkan waktu 8 menit untuk mencapai atmosfir bagian luar dari
planet kita.
Pada waktu mencapai tempat itu, gelombang radiasi sangat pendek dengan
energi tinggi mampu mengionisasi gas-gas atmosfir tertentu seperti nitrit oksida dan
atom-atom. Diatas ketinggian 80 km oksigen menyerap radiasi yang memiliki panjang
gelombang lebih pendek dari 0.2 µm. Pada ketinggian antara 20 dan 50 km, ozon
secara selektif menyerap energi surya dengan panjang gelombang antara 0.2 dan 0.3
µm. Sebagai akibatnya, menjelang radiasi surya mencapai permukaan bumi, praktis
semua panjang gelombang yang lebih pendek dari 0.3 µm telah diserap gas-gas pada
lapisan atas atmosfir. Untuk memahami bagaiman pengaruh energi yang diserap ini
terhadap suhu lapisan atas atmosfir, kita akan mempelajari struktur vertikal suhu di
atmosfir dimulai dari permukaan bumi.

2.6.1 Troposfir
Jika kita bergerak naik di atmosfir, suhu udara menurun dengan
teratur. Udara semakin dingin karena atmosfir di lapisan bawah dipanasi dari
permukaan. Hampir semua radiasi surya yang tidak diserap pada bagian atas atmosfir
menembus lapisan bawah atmosfir untuk memanaskan permukaan, lalu permukaan
memanaskan udara yang bersentuhan dengan permukaan tersebut. Udara yang
dipanaskan lalu naik (konveksi) dan membagikan panasnya kepada lapisan udara yang
lebih tebal. Karena setiap udara yang naik, mengembang dan menjadi makin dingin,
maka pada setiap ketinggian udara yang naik lebih dingin dibandingkan udara yang
berada di bawahnya. Sementara itu, bumi secara tetap memancarkan energi infra merah
yang akan diserap dan dipancarkan kembali oleh uap air dan karbondioksida. Dengan
makin tingginya tempat, konsentrasi gas-gas ini berkurang sehingga hampir semua
serapan terjadi pada lapisan dekat permukaan. Dengan demikian, atmosfir yang paling
panas adalah di permukaan dan secara bertahap menjadi dingin dengan bertambahnya
ketinggian. Kecepatan angin di ketinggian dengan tekanan 1/2 dari tekanan di
permukaan bumi atau pada ketinggian kira-kira 5.5 km, jauh lebih kuat daripada angin
di permukaan.
Di lapisan ini kita dapatkan awan-awan berwarna cerah dan gelap, beberapa
nampak tipis dan tembus pandang, yang lainnya lebih besar dan tebal. Dalam awan -
awan ini kadang-kadang kita jumpai kilatan cahaya. Pada ketinggian dekat 11 km, kita
akan menemukan "sungai" udara sempit yang mengalir yang dinamakan jet-
stream. Sedikit diatas ketinggian ini, angin menghilang dan suhu udara tiba-tiba tidak
turun lagi. Jika kita merata-ratakan perubahan suhu dari permukaan sampai pada
ketinggian 11 km, kita dapati bahwa suhu udara turun sekitar 6.5 oC untuk setiap
ketinggian 1000 m. Laju penurunan suhu udara terhadap ketinggian disebut lapse-
rate dan nilai -6.5oC adalah lapse rate rata-rata (standard). Laju ini berfluktuasi,
beragam dari hari ke hari atau musim ke musim. Bagian dari atmosfir ini mengandung
semua gejala cuaca yang kita kenal di bumi seperti kilat, petir, topan, hujan es, debu
dan lain-lain. Juga lapisan ini selalu bercampur aduk oleh karena arus udara naik dan
turun. Bagian dari udara yang bersirkulasi ini, yang meliputi permukaan bumi sampai
daerah yang suhu udaranya tidak turun lagi disebut Troposfir yang berarti lapisan
yang berubah-ubah.

2.6.2 Tropopause
Ketinggian lapisan ini mencapai 17 km dan suhu udara ternyata sama dengan
suhu pada ketinggian 11 km, karena tidak terjadi perubahan suhu terhadap
ketinggian. Dengan kata lain nilai lapse-ratenya nol. Daerah seperti ini yang suhunya
tidak berubah terhadap ketinggian disebutIsothermal. Dasar dari daerah isothermal
menandai batas atas troposfir dan merupakan awal lapisan lain yang
disebut Stratosfir. Lapisan yang memisahkan troposfir dan startosfir
disebut Tropopause.
Tropopause biasanya ditemukan pada ketinggian yang lebih tinggi di ekuator
dan ketinggian berkurang dengan semakin dekat ke kutub dan secara umum lebih tinggi
di musim panas dan lebih rendah di musim dingin pada semua lintang. Ketinggian
lapisan tropopause dapat ditentukan dengan membuat plot profil vertikal dari suhu
udara di atas permukaan bumi, titik awal dari daerah isothermal itulah yang menandai
posisi topopause.

2.6.3 Stratosfir
Lapisan ini berada pada ketinggian 20 km. Diluar dugaan, suhu malah
naik. Kenaikkan suhu dengan ketinggian disebut inversi. Inversi ini, seperti juga
lapisan isothermal dibawahnya mencegah arus vertikal dari troposfir menyebar ke
stratosfir. Inversi juga cenderung mengurangi jumlah gerakan vertikal di stratosfir itu
sendiri, karena itu lapisan ini dikenal sebagai daerah yang berlapis-lapis.
Apa yang menyebabkan inversi ?
Barangkali kita masih ingat bahwa lapisan ini mengandung ozon meskipun
sebenarnya konsentrasinya kecil, bahkan di daerah dimana ozon paling padat (kira-
kira pada ketinggian 25 km) hanya terdapat 12 molekul ozon untuk setiap juta molekul
udara. Disini, komposisi udara tetap hampir sama dengan di dekat permukaan,
terutama terdiri dari nitrogen 78% dan oksigen 21%. Meskipun konsentrasinya kecil,
ozon memainkan peranan penting dalam memanaskan udara. Ozon sangat menyerap
ultra violet pada panjang gelombang antara 0.2 dan 0.3 µm. Sebagian dari energi yang
diserap meningkatkan gerakan energi kinetik dari molekul ozon. Molekul-molekul ini
meneruskan energinya kepada molekul lain yang bertumbukan dengan molekul
tersebut. Peningkatan gerakan gas-gas menyebabkan kenaikan suhu yang menjelaskan
mengapa terjadi inversi di stratosfir. Jika tidak terdapat ozon, udara mungkin menjadi
lebih dingin dengan makin tingginya tempat seperti pada lapisan troposfir, tidak akan
terjadi inversi dan tidak ada daerah yang berlapis-lapis.
Dengan sangat menyerap radiasi ultra violet, ozon melindungi kehidupan di
permukaan dari bahaya radiasi gelombang pendek. Itulah sebabnya sangat berbahaya
kalau lapisan pelindung ini hilang oleh karena kegiatan manusia. Semakin tinggi kita
nak, suhu juga semakin tinggi. Suhu pada ketinggian 50 km jauh lebih hangat
dibandng pada daerah dengan konsentrasi ozon maksimal (pada ketinggian 25 km)
mengapa demikian ? Suhu maksimum terjadi pada daerah ini karena sebagian besar
radiasi ultra violet yang menyebabkan pemanasan diserap disini, sehingga tidak turun
sampai ke lapisan ozon.
Lagipula, udara pada ketinggian 50 km tidak sepadat pada ketinggian 25 km,
yang berarti jumlah molekul udara di lapisan ini hanya sedikit, sehingga sebagian
energi surya yang diterima di ketinggian ini akan menaikkan suhu ke derajat yang lebih
tinggi dibanding bila jumlah molekul udara lebih banyak. Karena atmosfir di lapisan
ini tipis, perpindahan enrgi ke arah bawah dengan cara tumbukan antar molekul
(konduksi) sangat lambat.

2.6.4 Mesosfir
Di atas ketinggian 50 km, kita jumpai suhu udara menjadi isothermal
kemudian turun kembali. Kita menuju ke lapisan yang disebut Mesosfir atau lapisan
tengah. Batas pada ketinggian 50 km yang memisahkan lapisan-lapisan ini
disebut Stratopause. Seperti Tropopause, ketinggiannya beragam tergantung
linttang tempat dan musim, tetapi keragamannya tidak sebesar pada Tropopause.
Tekanan udara turun secara drastis 1000 kali lebih rendah daripada di
permukaan. Kalau tekanan di permukaan 1000 mb, di lapisan ini hanya 1 mb. Ini
berarti hanya 1/1000 dari semua molekul attmosfir berada di lapisan atas, sisanya
(99.9%) berada di dekat permukaan bumi. Di lapisan ini udara sangat tipis, sehingga
meskipun matahari bersinar sangat terang, langit nampak semakin gelap. Hal ini meng-
gambarkan sedikitnya molekul di atmosfir.
Telah kita ketahui bahwa molekul udara secara selektif membaurkan panjang
gelombang yang lebih pendek dari cahaya tampak dan hal ini membuat langit nampak
biru. Dengan molekul-molekul yang sangat sedikit di lapisan ini, hanya sedikit terjadi
pembauran cahaya, itu sebabnya langit nampak semakin gelap. Semakin tinggi tempat,
udara semakin dingin. Penurunan suhu sebagian disebabkan karena hanya
sedikit ozon yang terdapat di udara untuk menyerap radiasi surya, sehingga molekul-
molekul terutama yang berada berada dekat puncak mesosfir mampu untuk
memancarkan lebih banyak energi daripada menyerapnya, ini menyebabkan terjadinya
defisit energi dan penurunan suhu. Panas dari stratosfir dibawa ke atas oleh proses
konveksi untuk menggantikan defisit energi ini, tetapi udara yang naik juga menjadi
dingin, sehingga kita jumpai gerakan vertikal di atmosfir dengan suhu yang semakin
dingin dengan ketinggian sampai pada ketinggian 85 km. Pada ketinggian ini suhu
atmosfir mencapai nilai terendah -90oC.

2.6.5 Thermosfir
Diatas ketinggian 85 km, suhu udara mula-mula isothermal lalu meningkat
dengan ketinggian. Lapisan baru ini dinamai thermosfir. Batas yang memisahkan
mesosfir yang lebih rendah dan lebih dingin dari lapisan thermosfir yang lebih hangat
disebut Mesopause. Di lapisan ini, semakin tinggi tempat udara menjadi lebih hangat,
terjadi suatu inversi lagi. Di lapisan ini radiasi ultra violet dibawah panjang gelombang
0.2 µm diserap, terutama oleh molekul oksigen. Radiasi ini menyediakan cukup energi
untuk memecahkan molekul oksigen menjadi dua atom oksigen yang terpisah pada
proses yang nampak seperti ini :

O2 + radiasi surya -----------> O + O

Energi yang tersisa sesudah pemisahan molekul meningkatkan gerakan


atom. Karena relatif hanya sedikit atom dan molekul di lapisan ini, penyerapan
sejumlah kecil radiasi menyebabkan kenaikan suhu yang tinggi sehingga terjadilah
inversi, juga karena jumlah radiasi surya yang mempengaruhi lapisan ini sangat
bergantung pada kegiatan surya. Suhu di thermosfir beragam dari hari ke hari. Waktu
matahari tenang, suhu pada ketinggian 300 km sekitar 700oC dan waktu matahari akttif
sekitar 1700oC. Pada bagian bawah thermosfir, komposisi udara berubah. Udara
menjadi begitu tipis sehingga hanya terjadi beberapa tumbukan antara atom-atom dan
molekul-molekul, dan atom-atom oksigen tidak dengan cepat bergabung kembali untuk
membentuk molekul oksigen.
Berbeda dengan konsentrasi standard gas-gas di atmosfir, yaitu nitrogen lebih
banyak daripada oksigen, di lapisan ini oksigen lebih banyak daripada
nitrogen. Meskipun demikian tidak berarti terdapat banyak Ozon karena untuk
membentuk ozon harus terjadi tumbukan antara atom-atom oksigen, molekul-molekul
oksigen dan molekul-molekul lain yang memiliki kelebihan energi yang dilepas dari
suatu reaksi. Sedangkan peluang untuk terjadi tumbukan yang demikian di lapisan
dengan kerapatan rendah seperti lapisan thermosfir ini, sangat kecil, karena itu tidak
terdapat ozon di lapisan ini.

2.6.6 Exosfir
Di lapisan yang sangat tinggi, atmosfir menjadi sangat tipis. Atmosfir dan
molekul bergerak dalam jarak yang agak jauh sebelum mereka saling bertumbukan satu
dengan yang lain. Pada ketinggian 250 km jarak-rata-rata satu atom dengan atom lain
(yang disebut rata-rata jalur bebas atom, lihat tabel 4.2) adalah 1000 m dan pada
ketinggian 500 km jaraknya 10000 m. Karena peluang untuk bertabrakan berkurang,
banyak dari molekul-molekul yang ringan dan bergerak cepat lepas dari tarikan
gravitasi bumi. Lapisan dimana atom-atom dan molekul-molekul lepas ke luar angkasa
disebut exosfir. ini adalah lapisan batas teratas dari atmosfir, kira-kira setinggi 500 km
dari permukaan bumi.
Tabel 4.2. Rata-rata jalur Bebas Atom
Ketinggian Wilayah Jalur bebas rata-rata
(Km) (m)

500 Exosfir 10,000


250 Thermosfir 1000
180 Thermosfir 100
150 Thermosfir 10
100 Thermosfir 0.1
50 Stratopause 10-4
0 Permukaan 10-7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat


dinamik dan sulit dikendalikan salah satunya adalah suhu/temperatur. Dalam praktek,
iklim (suhu dan cuaca ) sangat sulit untuk dimodifikasi/dikendalikan sesuai dengan
kebutuhan, ditambah lagi dengan fenomena pemanasan global akibat radiasi matahari
yang penyinarannya jatuh secara total akibat lapisan ozon yang telah menipis.
Kalaupun bisa memerlukan biaya dan teknologi yang tinggi. Iklim/cuaca sering
seakan-akan menjadi faktor pembatas produksi pertanian.

Karena sifatnya yang dinamis, beragam dan terbuka, pendekatan terhadap


cuaca/iklim agar lebih berdaya guna dalam bidang pertanian , diperlukan suatu
pemahaman yang lebih akurat teradap karakteristik iklim melalui analisis dan
interpretasi data iklim. Mutu hasil analisis dan interpretasi data iklim, selain ditentukan
oleh metode analisis yang digunakan, juga sangat ditentukan oleh jumlah dan mutu
data. Energi yang bersifat radiasi yang terlibat, kita dapat membentuk sebuah analisa
sederhana. Dengan mengabaikan arus energi yang bersifat tidak radiatif, suhu akan
naik sampai laju penyerapan sama dengan laju pancaran.
DAFTAR PUSTAKA

Manik Tumiar K. 2014. Klimatologi Dasar unsur iklim dan proses pembentukan
iklim. Yogyakarta : Graha Ilmu.