Anda di halaman 1dari 15

Hubungan internasional

Hubungan Internasional, adalah cabang dari ilmu politik, merupakan suatu


studi tentang persoalan-persoalan luar negeri dan isu-isu global di antara negara-
negara dalam sistem internasional, termasuk peran negara-negara, organisasi-
organisasi antarpemerintah, organisasi-organisasi nonpemerintah atau lembaga
swadaya masyarakat, dan perusahaan-perusahaan multinasional. Hubungan
Internasional adalah suatu bidang akademis dan kebijakan publik dan dapat
bersifat positif atau normatif karena Hubungan Internasional berusaha
menganalisis serta merumuskan kebijakan luar negeri negara-negara tertentu.

Selain ilmu politik, Hubungan Internasional menggunakan pelbagai bidang


ilmu seperti ekonomi, sejarah, hukum, filsafat, geografi, sosiologi, antropologi,
psikologi, studi-studi budaya dalam kajian-kajiannya. HI mencakup rentang isu
yang luas, dari globalisasi dan dampak-dampaknya terhadap masyarakat-
masyarakat dan kedaulatan negara sampai kelestrarian ekologis, proliferasi nuklir,
nasionalisme, perkembangan ekonomi, terorisme, kejahatan yang terorganisasi,
keselamatan umat manusia, dan hak-hak asasi manusia.

Sejarah
Sejarah hubungan internasional sering dianggap berawal dari [Perdamaian
Westphalia] pada [1648], ketika sistem negara modern dikembangkan.
Sebelumnya, organisasi-organisasi otoritas politik abad pertengahan [Eropa]
didasarkan pada tatanan hirarkis yang tidak jelas. Westphalia membentuk konsep
legal tentang kedaulatan, yang pada dasarnya berarti bahwa para penguasa, atau
kedaulatan-kedaulatan yang sah tidak akan mengakui pihak-pihak lain yang
memiliki kedudukan yang sama secara internal dalam batas-batas kedaulatan
wilayah yang sama. Otoritas Yunani dan Roma kuno kadang-kadang mirip dengan
sistem Westphalia, tetapi keduanya tidak memiliki gagasan kedaulatan yang
memadai.

[Westphalia] mendukung bangkitnya negara-bangsa (nation-state),


institusionalisasi terhadap diplomasi dan tentara. Sistem yang berasal dari Eropa
ini diekspor ke Amerika, Afrika, dan Asia, lewat kolonialisme, dan “standar-
standar peradaban”. Sistem internasional kontemporer akhirnya dibentuk lewat
dekolonisasi selama [Perang Dingin]. Namun, sistem ini agak terlalu
disederhanakan. Sementara sistem negara-bangsa dianggap “modern”, banyak
negara tidak masuk ke dalam sistem tersebut dan disebut sebagai “pra-modern”.
Lebih lanjut, beberapa telah melampaui sistem negara-bangsa dan dapat dianggap
“pasca-modern”. Kemampuan wacana HI untuk menjelaskan hubungan-hubungan
di antara jenis-jenis negara yang berbeda ini diperselisihkan. “Level-level analisis”
adalah cara untuk mengamati sistem internasional, yang mencakup level
individual, negara-bangsa domestik sebagai suatu unik, level internasional yang
terdiri atas persoalan-persoalan transnasional dan internasional level global.

Studi Hubungan internasional


Pada mulanya, hubungan internasional sebagai bidang studi yang tersendiri
hampir secara keseluruhan berkiblat ke Inggris. Pada 1919, Dewan Politik
internasional dibentuk di University of Wales, Aberystwyth, lewat dukungan yang
diberikan oleh David Davies, menjadi posisi akademis pertama yang didedikasikan
untuk HI. Pada awal 1920-an, jurusan Hubungan Internasional dari London School
of Economics didirikan atas perintah seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian
Phillip Noel-Baker. Pada 1927, Graduate Institute of International Studies (Institut
universitaire de hautes Ã(c)tudes internationales), didirikan di Jenewa, Swiss;
institut ini berusaha menghasilkan sekelompok personel khusus untuk Liga
Bangsa-bangsa. Program HI tertua di Amerika Serikat ada di Edmund A. Walsh
School of Foreign Service yang merupakan bagian dari Georgetown Unversity.
Sekolah tinggi pertama jurusan hubungan internasional yang menghasilkan lulusan
bergelar sarjana adalah Fletcher Schooldi Tufts. Meskipun pelbagai sekolah tinggi
yang didedikasikan untuk studi HI telah didirikan di Asia dan Amerika Selatan, HI
sebagai suatu bidang ilmu tetap terutama berpusat di Eropa dan Amerika Utara.

Teori hubungan internasional


Artikel utama: Teori hubungan internasional

Apa yang secara eksplisit diakui sebagai teori hubungan internasional tidak
dikembangkan sampai setelah Perang Dunia I, dan dibahas secara lebih rinci di
bawah ini. Namun, teori HI memiliki tradisi panjang menggunakan karya ilmu-
ilmu sosial lainnya. Penggunaan huruf besar “H” dan “I” dalam hubungan
internasional bertujuan untuk membedakan disiplin Hubungan Internasional dari
fenomena hubungan internasional. Banyak orang yang mengutip Sejarah Perang
Peloponnesia karya Thucydides sebagai inspirasi bagi teori realis, dengan
Leviathan karya Hobbes dan The Prince karya Machiavelli memberikan
pengembangan lebih lanjut. Demikian juga, liberalisme menggunakan karya Kant
dan Rousseau, dengan karya Kant sering dikutip sebagai pengembangan pertama
dari Teori Perdamaian Demokratis. Meskipun hak-hak asasi manusia kontemporer
secara signifikan berbeda dengan jenis hak-hak yang didambakan dalam hukum
alam, Francisco de Vitoria, Hugo Grotius, dan John Locke memberikan
pernyataan-pernyataan pertama tentang hak untuk mendapatkan hak-hak tertentu
berdasarkan kemanusiaan secara umum. Pada abad ke-20, selain teori-teori
kontemporer intenasionalisme liberal, Marxisme merupakan landasan hubungan
internasional.

Perkembangan fenomena hubungan internasional telah memasuki aspek-


aspek baru, dimana Hubungan Internasional tidak hanya mengkaji tentang negara,
tetapi juga mengkaji tentang peran aktor non-negara di dalam ruang lingkup politik
global. Peran non-state actor yang semakin dominan mengindikasikan bahwa non-
state actor memegang peran yang penting.

Dewasa ini, fenomena hubungan internasional telah memasuki ranah budaya


(seperti klaim tari pendet Malaysia terhadap indonesia), sehingga Hubungan
Internasional memerlukan kajian teoritis dari dispilin ilmu lainnya

Teori Epistemologi dan teori HI


Teori-teori Utama Hubungan Internasional Realisme [[Neorealisme],
Dipelopori oleh Kenneth Waltz, istilah kunci : struktur, agen, sistem internasional
Idealisme, Dipelopoeri oleh Imanuel Kant, istilah kunci : Pacific UnION
Liberalisme. Dipelopori oleh Robert Keohane, istilah kunci : complex interdepency
Neoliberalisme, Marxisme dan Neo Marxis Teori dependensi

Teori kritis dipelopori oleh Jurgen Habermas, istilah kunci : Paradigma


Komunikasi, Paradigma Kesadaran, Alienisasi, Emansipatoris.

Konstruksivisme Fungsionalisme Neofungsiionalisme Negativitas Total dari


TW Adorno, untuk memahami isu-isu lingkungan Masyarakat Konsumtif dari
Herbert Marcuse, untuk memahami hubungan antara masyarakat dengan budaya
global

Secara garis besar teori-teori HI dapat dibagi menjadi dua pandangan


epistemologis “positivis” dan “pasca-positivis”. Teori-teori positivis bertujuan
mereplikasi metode-metode ilmu-ilmu sosial dengan menganalisis dampak
kekuatan-kekuatan material. Teori-teori ini biasanya berfokus berbagai aspek
seperti interaksi negara-negara, ukuran kekuatan-kekuatan militer, keseimbangan
kekuasaaan dan lain-lain. Epistemologi pasca-positivis menolak ide bahwa dunia
sosial dapat dipelajari dengan cara yang objektif dan bebas-nilai. Epistemologi ini
menolak ide-ide sentral tentang neo-realisme/liberalisme, seperti teori pilihan
rasional, dengan alasan bahwa metode ilmiah tidak dapat diterapkan ke dalam
dunia sosial dan bahwa suatu “ilmu” HI adalah tidak mungkin.

Perbedaan kunci antara kedua pandangan tersebut adalah bahwa sementara


teori-teori positivis, seperti neo-realisme, menawarkan berbagai penjelasan yang
bersifat sebab-akibat (seperti mengapa dan bagaimana kekuasaan diterapkan), teori
pasca-positivis pasca-positivis berfokus pada pertanyaan-pertanyaan konstitutif,
sebagai contoh apa yang dimaksudkan dengan “kekuasaan”; hal-hal apa sajakah
yang membentuknya, bagaimana kekuasaan dialami dan bagaimana kekuasaan
direproduksi. Teori-teori pasca-positivs secara eksplisit sering mempromosikan
pendekatan normatif terhadap HI, dengan mempertimbangkan etika. Hal ini
merupakan sesuatu yang sering diabaikan dalam HI “tradisional” karena teori-teori
positivis membuat perbedaan antara “fakta-fakta” dan penilaian-penilaian
normatif, atau “nilai-nilai”. Selama periode akhir 1980-an/1990 perdebatan antara
para pendukung teori-teori positivis dan para pendukung teori-teori pasca-positivis
menjadi perdebatan yang dominan dan disebut sebagai “Perdebatan Terbesar”
Ketiga (Lapid 1989.)

Islam, yang hanya dipandang orang dan para akademisi hanya sebagai
agama, ternyata menyimpan pemikiran hubungan internasional. Sejarah mencatat
kekuasaan Islam atau khalifah pada sekitar abad 7M. Pada masa ini, khalifah Islam
merupakan suatu global polis atau tatanan hubungan internasional,karena menata
hubungan wilayah-wilayah yang disatukan ke dalam bentuk polis. Apabila dikaji
lebih dalam, khalifah Islam merupakan suatu order atau tatanan yang mengatur
seluruh aspek-aspek kehidupan manusia. Misalnya hukum ekonomi global
berlandaskan pada hukum ekonomi Islam, dimana hukum ekonomi Islam tidak
mengutamakan riba ( keuntungan atau jiwa-jiwa kapitalis seperti yang
diungkapkan oleh Pemikiran Marxis, tetapi suatu sistem ekonomi yang win-win
solution serta mengutamakan kesejahteraan bersama, bukan keuntungan pihak
tertentu saja. Bandingkan dengan pemikiran-pemikiran ekonomi sekarang ini,
seperti Neolib dll, dimana pemikiran telah menciptakan keterbelakangan dan
ketergantungan ( depedensi ) yang berakibat pada kesenjangan global.

Teori politik adalah salah satu kajian di dalam bidang hubungan


internasional. Teori politik pada dasarnya adalah tentang tata negara. Pemikiran
sistem politik demokrasi yang diadopsi oleh negara-negara berkembang
merupakan kajian teori politik. Islam adalah sumber teori politik, karena memuat
seluruh aspek-aspek kehidupan manusia. Sebagai contoh, sistem ekonomi Islam
merupakan teori politik yang bertujuan menjamin kesejahteraan bersama sehingga
manusia menjadi "mansalahat" atau tentram. Teori politik yang bersumber dari
pemikiran barat adalah suatu mal-praktik bagi manusia itu sendiri, karena manusia
tidak menerima esensinya sendiri, tetapi mencari esensi lain yang berakibat pada
jatuhnya manusia kepada jurang alienisasi.

Menurut Imanuel Kant, perdamaian akan tercipta apabila negara-negara


menganut sistem demokrasi. Perpertual peace adalah perdamaian yang timbul
karena negara-negara menganut sistem demokrasi. Ini adalah kesalahan besar.
Perdamaian hanya akan timbul apabila manusia menerima esensinya sebagai
manusia, dengan cara menerapkan teori politik Islam yang merupakan sumber dari
order manusia itu sendiri...

Teori-teori Positivis
• Realisme

Realisme, sebagai tanggapan terhadap liberalisme, pada intinya menyangkal


bahwa negara-negara berusaha untuk bekerja sama. Para realis awal seperti E.H.
Carr, Daniel Bernhard, dan Hans Morgenthau berargumen bahwa, untuk maksud
meningkatkan keamanan mereka, negara-negara adalah aktor-aktor rasional yang
berusaha mencari kekuasaan dan tertarik kepada kepentingan diri sendiri (self-
interested). Setiap kerja sama antara negara-nge dijelaskan sebagai benar-benar
insidental. Para realis melihat Perang Dunia II sebagai pembuktian terhadap teori
mereka. Perlu diperhatikan bahwa para penulis klasik seperti Thucydides,
Machiavelli, dan Hobbes sering disebut-sebut sebagai “bapak-bapak pendiri”
realisme oleh orang-orang yang menyebut diri mereka sendiri sebagai realis
kontemporer. Namun, meskipun karya mereka dapat mendukung doktrin realis,
ketiga orang tersebut tampaknya tidak mungkin menggolongkan diri mereka
sendiri sebagai realis (dalam pengertian yang dipakai di sini untuk istilah tersebut).

• Liberalisme/idealisme/Internasionalisme Liberal

Teori hubungan internasional liberal muncul setelah Perang Dunia I untuk


menanggapi ketidakmampuan negara-negara untuk mengontrol dan membatasi
perang dalam hubungan internasional mereka. Pendukung-pendukung awal teori
ini termasuk Woodrow Wilson dan Normal Angell, yang berargumen dengan
berbagai cara bahwa negara-negara mendapatkan keuntungan dari satu sama lain
lewat kerjasama dan bahwa perang terlalu destruktif untuk bisa dikatakan sebagai
pada dasarnya sia-sia. Liberalisme tidak diakui sebagai teori yang terpadu sampai
paham tersebut secara kolektif dan mengejek disebut sebagai idealisme oleh E.H.
Carr. Sebuah versi baru “idealisme”, yang berpusat pada hak-hak asasi manusia
sebagai dasar legitimasi hukum internasional, dikemukakan oleh Hans Kóchler

• Neorealisme

Neorealisme terutama merupakan karya Kenneh Waltz (yang sebenarnya


menyebut teorinya “realisme struktural” di dalam buku karangannya yang berjudul
Man, the State, and War). Sambil tetap mempertahankan pengamatan-pengamatan
empiris realisme, bahwa hubungan internasional dikarakterka oleh hubungan-
hubungan antarnegara yang antagonistik, para pendukung neorealisme menunjuk
struktur anarkis dalam sistem internasional sebagai penyebabnya. Mereka menolak
berbagai penjelasan yang mempertimbangkan pengaruh karakteristik-karakteristik
dalam negeri negara-negara. Negara-negara dipaksa oleh pencapaian yang relatif
(relative gains) dan keseimbangan yang menghambat konsentrasi kekuasaan. Tidak
seperti realisme, neo-realisme berusaha ilmiah dan lebih positivis. Hal lain yang
juga membedakan neo-realisme dari realisme adalah bahwa neo-realisme tidak
menyetujui penekanan realisme pada penjelasan yang bersifat perilaku dalam
hubungan internasional.

• Neoliberalisme

Neoliberalisme berusaha memperbarui liberalisme dengan menyetujui


asumsi neorealis bahwa negara-negara adalah aktor-aktor kunci dalam hubungan
internasional, tetapi tetap mempertahankan pendapat bahwa aktor-aktor bukan
negara dan organisasi-organisasi antarpemerintah adalah juga penting. Para
pendukung seperti Maria Chatta berargumen bahwa negara-negara akan bekerja
sama terlepas dari pencapaian-pencapaian relatif, dan dengan demikian menaruh
perhatian pada pencapaian-pencapaian mutlak. Meningkatnya interdependensi
selama Perang Dingin lewat institusi-institusi internasional berarti bahwa neo-
liberalisme juga disebut institusionalisme liberal. Hal ini juga berarti bahwa pada
dasarnya bangsa-bangsa bebas membuat pilihan-pilihan mereka sendiri tentang
bagaimana mereka akan menerapkan kebijakan tanpa organisasi-organisasi
internasional yang merintangi hak suatu bangsa atas kedaulatan. Neoliberalimse
juga mengandung suatu teori ekonomi yang didasarkan pada penggunaan pasar-
pasar yang terbuka dan bebas dengan hanya sedikit, jika memang ada, intervensi
pemerintah untuk mencegah terbentuknya monopoli dan bentuk-bentuk
konglomerasi yang lain. Keadaan saling tergantung satu sama lain yang terus
meningkat selama dan sesudah Perang Dingin menyebabkan neoliberalisme
didefinisikan sebagai institusionalisme, bagian baru teori ini dikemukakan oleh
Robert Keohane dan juga Joseph Nye.

• Teori Rejim

Teori rejim berasal dari tradisi liberal yang berargumen bahwa berbagai
institusi atau rejim internasional mempengaruhi perilaku negara-negara (maupun
aktor internasional yang lain). Teori ini mengasumsikan kerjasama bisa terjadi di
dalam sistem negara-negara anarki. Bila dilihat dari definisinya sendiri, rejim
adalah contoh dari kerjasama internasional. Sementara realisme memprediksikan
konflik akan menjadi norma dalam hubungan internasional, para teoritisi rejim
menyatakan kerjasama tetap ada dalam situasi anarki sekalipun. Seringkali mereka
menyebutkan kerjasama di bidang perdagangan, hak asasi manusia, dan keamanan
bersama di antara isu-isu lainnya. Contoh-contoh kerjasama tadilah yang dimaksud
dengan rejim. Definisi rejim yang paling lazim dipakai datang dari Stephen
Krasner. Krasner mendefinisikan rejim sebagai “institusi yang memiliki sejumlah
norma, aturan yang tegas, dan prosedur yang memfasilitasi sebuah pemusatan
berbagai harapan. Tapi tidak semua pendekatan teori rejim berbasis pada liberal
atau neoliberal; beberapa pendukung realis seperi Joseph Greico telah
mengembangkan sejumlah teori cangkokan yang membawa sebuah pendekatan
berbasis realis ke teori yang berdasarkan pada liberal ini. (Kerjasama menurut
kelompok realis bukannya tidak pernah terjadi, hanya saja kerjasama bukanlah
norma; kerjasama merupakan sebuah perbedaan derajat).

Teori-teori pasca-positivis/reflektivis
• Teori masyarakat internasional (Aliran pemikiran Inggris)

Teori masyarakat internasional, juga disebut Aliran Pemikiran Inggris,


berfokus pada berbagai norma dan nilai yang sama-sama dimiliki oleh negara-
negara dan bagaimana norma-norma dan nilai-nlai tersebut mengatur hubungan
internasional. Contoh norma-norma seperti itu mencakup diplomasi, tatanan,
hukum internasional. Tidak seperti neo-realisme, teori ini tidak selalu positivis.
Para teoritisi teori ini telah berfokus terutama pada intervensi kemanusiaan, dan
dibagi kembali antara para solidaris, yang cenderung lebih menyokong intervensi
kemanusiaan, dan para pluralis, yang lebih menekankan tatanan dan kedaulatan,
Nicholas Wheeler adalah seorang solidaris terkemuka, sementara Hedley Bull
mungkin merupakan pluraris yang paling dikenal.

• Konstruktivisme Sosial

Kontrukstivisme Sosial mencakup rentang luas teori yang bertujuan


menangani berbagai pertanyaan tentang ontologi, seperti perdebatan tentang
lembaga (agency) dan Struktur, serta pertanyaan-pertanyaan tentang epistemologi,
seperti perdebatan tentang “materi/ide” yang menaruh perhatian terhadap peranan
relatif kekuatan-kekuatan materi versus ide-ide. Konstruktivisme bukan merupakan
teori HI, sebagai contoh dalam hal neo-realisme, tetapi sebaliknya merupakan teori
sosial. Konstruktivisme dalam HI dapat dibagi menjadi apa yang disebut oleh Hopf
(1998) sebagai konstruktivisme “konvensional” dan “kritis”. Hal yang terdapat
dalam semua variasi konstruktivisme adalah minat terhadap peran yang dimiliki
oleh kekuatan-kekuatan ide. Pakar konstruktivisme yang paling terkenal,
Alexander Wendt menulis pada 1992 tentang Organisasi Internasional (kemudian
diikuti oleh suatu buku, Social Theory of International Politics 1999), “anarki
adalah hal yang diciptakan oleh negara-negara dari hal tersebut”. Yang
dimaksudkannya adalah bahwa struktur anarkis yang diklaim oleh para pendukung
neo-realis sebagai mengatur interaksi negara pada kenyataannya merupakan
fenomena yang secara sosial dikonstruksi dan direproduksi oleh negara-negara.
Sebagai contoh, jika sistem internasional didominasi oleh negara-negara yang
melihat anarki sebagai situasi hidup dan mati (diistilahkan oleh Wendt sebagai
anarki “Hobbesian”) maka sistem tersebut akan dikarakterkan dengan peperangan.
Jika pada pihak lain anarki dilihat sebagai dibatasi (anarki “Lockean”) maka sistem
yang lebih damai akan eksis. Anarki menurut pandangan ini dibentuk oleh
interaksi negara, bukan diterima sebagai aspek yang alami dan tidak mudah
berubah dalam kehidupan internasional seperti menurut pendapat para pakar HI
non-realis, Namun, banyak kritikus yang muncul dari kedua sisi pembagian
epistemologis tersebut. Para pendukung pasca-positivis mengatakan bahwa fokus
terhadap negara dengan mengorbankan etnisitas/ras/jender menjadikan
konstrukstivisme sosial sebagai teori positivis yang lain. Penggunaan teori pilihan
rasional secara implisit oleh Wendt juga telah menimbulkan pelbagai kritik dari
para pakar seperti Steven Smith. Para pakar positivis (neo-liberalisme/realisme)
berpendapat bahwa teori tersebut mengenyampingkan terlalu banyak asumsi
positivis untuk dapat dianggap sebagai teori positivis.

• Teori Kritis

(Artikel utama: Teori hubungan internasional kritis) Teori hubungan


internasional kritis adalah penerapan “teori kritis” dalam hubungan internasional.
Pada pendukung seperti Andrew Linklater, Robert W. Cox, dan Ken Booth
berfokus pada kebutuhan terhadap emansipansi (kebebasan) manusia dari Negara-
negara. Dengan demikian, adalah teori ini bersifat “kritis” terhadap teori-teori HI
“mainstream” yang cenderung berpusat pada negara (state-centric). Catatan: Daftar
teori ini sama sekali tidak menyebutkan seluruh teori HI yang ada. Masih ada teori-
teori lain misalnya fungsionalisme, neofungsionalisme, feminisme, dan teori
dependen.

• Marxisme

Teori Marxis dan teori Neo-Marxis dalam HI menolak pandangan


realis/liberal tentang konflik atau kerja sama negara, tetapi sebaliknya berfokus
pada aspek ekonomi dan materi. Marxisme membuat asumsi bahwa ekonomi lebih
penting daripada persoalan-persoalan yang lain; sehingga memungkinkan bagi
peningkatan kelas sebagai fokus studi. Para pendukung Marxis memandang sistem
internasional sebagai sistem kapitalis terintegrasi yang mengejar akumulasi modal
(kapital). Dengan demikian, periode kolonialisme membawa masuk pelbagai
sumber daya untuk bahan-bahan mentah dan pasar-pasar yang pasti (captive
markets) untuk ekspor, sementara dekolonisasi membawa masuk pelbagai
kesempatan baru dalam bentuk dependensi (ketergantungan). Berkaitan dengan
teori-teori Marx adalah teori dependensi yang berargumen bahwa negara-negara
maju, dalam usaha mereka untuk mencapai kekuasaan, menembus negara-negara
berkembang lewat penasihat politik, misionaris, pakar, dan perusahaan
multinasional untuk mengintegrasikan negara-negara berkembang tersebut ke
dalam sistem kapitalis terintegrasi untuk mendapatkan sumber-sumber daya alam
dan meningkatkan dependensi negara-negara berkembang terhadap negara-negara
maju. Teori-teori Marxis kurang mendapatkan perhatian di Amerika Serikat di
mana tidak ada partai sosialis yang signifikan. Teori-teori ini lebih lazim di
pelbagai bagian Eropa dan merupakan salah satu kontribusi teoritis yang paling
penting bagi dunia akademis Amerika Latin, sebagai contoh lewat teologi.
• Teori-teori pascastrukturalis

Teori-teori pascastrukturalis dalam HI berkembang pada 1980-an dari studi-


studi pascamodernis dalam ilmu politik. Pasca-strukturalisme mengeksplorasi
dekonstruksi konsep-konsep yang secara tradisional tidak problematis dalam HI,
seperti kekuasaan dan agensi dan meneliti bagaimana pengkonstruksian konsep-
konsep ini membentuk hubungan-hubungan internasional. Penelitian terhadap
“narasi” memainkan peran yang penting dalam analisis pascastrukturalis, sebagai
contoh studi pascastrukturalis feminis telah meneliti peran yang dimainkan oleh
“kaum wanita” dalam masyarakat global dan bagaimana kaum wanita dikonstruksi
dalam perang sebagai “tanpa dosa” (innocent) dan “warga sipil”. Contoh-contoh
riset pasca-positivis mencakup: Pelbagai bentuk feminisme (perang "gender" war
—“gendering” war) Pascakolonialisme (tantangan-tantangan dari sentrisme Eropa
dalam HI)

Konsep-konsep dalam hubungan internasional


• Konsep-konsep level sistemik

Hubungan internasional sering dipandang dari pelbagai level analisis,


konsep-konsep level sistemik adalah konsep-konsep luas yang mendefinisikan dan
membentuk lingkungan (milieu) internasional, yang dikarakterkan oleh Anarki.

• Kekuasaan

Konsep Kekuasaan dalam hubungan internasional dapat dideskripsikan


sebagai tingkat sumber daya, kapabilitas, dan pengaruh dalam persoalan-persoalan
internasional. Kekuasaan sering dibagi menjadi konsep-konsep kekuasaan yang
keras (hard power) dan kekuasaan yang lunak (soft power), kekuasaan yang keras
terutama berkaitan dengan kekuasaan yang bersifat memaksa, seperti penggunaan
kekuatan, dan kekuasaan yang lunak biasanya mencakup ekonomi, diplomasi, dan
pengaruh budaya. Namun, tidak ada garis pembagi yang jelas di antara dua bentuk
kekuasaan tersebut.

• Polaritas

Polaritas dalam Hubungan Internasional merujuk pada penyusunan


kekuasaan dalam sistem internasional. Konsep tersebut muncul dari bipolaritas
selama Perang Dingin, dengan sistem internasional didominasi oleh konflik antara
dua negara adikuasa dan telah diterapkan sebelumnya. Sebagai akibatnya, sistem
internasional sebelum 1945 dapat dideskripsikan sebagai terdiri dari banyak kutub
(multi-polar), dengan kekuasaan dibagi-bagi antara negara-negara besar.
Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 telah menyebabkan apa yang disebut oleh
sebagian orang sebagai unipolaritas, dengan AS sebagai satu-satunya negara
adikuasa. Beberapa teori hubungan internasional menggunakan ide polaritas
tersebut. Keseimbangan kekuasaan adalah konsep yang berkembang luas di Eropa
sebelum Perang Dunia Pertama, pemikirannya adalah bahwa dengan
menyeimbangkan blok-blok kekuasaan hal tersebut akan menciptakan stabilitas
dan mencegah perang dunia. Teori-teori keseimbangan kekuasaan kembali
mengemuka selama Perang Dingin, sebagai mekanisme sentral dalam Neorealisme
Kenneth Waltz. Di sini konsep-konsep menyeimbangkan (meningkatkan
kekuasaan untuk menandingi kekuasaan yang lain) dan bandwagoning (berpihak
dengan kekuasaan yang lain) dikembangkan. Teori stabilitas hegemonik juga
menggunakan ide Polaritas, khususnya keadaan unipolaritas. Hegemoni adalah
terkonsentrasikannya sebagian besar kekuasaan yang ada di satu kutub dalam
sistem internasional, dan teori tersebut berargumen bahwa hegemoni adalah
konfigurasi yang stabil karena adanya keuntungan yang diperoleh negara adikuasa
yang dominan dan negara-negara yang lain dari satu sama lain dalam sistem
internasional. Hal ini bertentangan dengan banyak argumen Neorealis, khususnya
yang dikemukakan oleh Kenneth Waltz, yang menyatakan bahwa berakhirnya
Perang Dingin dan keadaan unipolaritas adalah konfigurasi yang tidak stabil yang
secara tidak terelakkan akan berubah. Hal ini dapat diungkapkan dalam teori
peralihan Kekuasaan, yang menyatakan bahwa mungkin suatu negara besar akan
menantang suatu negara yang memiliki hegemoni (hegemon) setelah periode
tertentu, sehingga mengakibatkan perang besar. Teori tersebut mengemukakan
bahwa meskipun hegemoni dapat mengontrol terjadinya pelbagai perang, hal
tersebut menyebabkan terjadinya perang yang lain. Pendukung utama teori
tersebut, A.F.K. Organski, mengemukakan argumen ini berdasarkan terjadinya
perang-perang sebelumnya selama hegemoni Inggris. Portugis, dan Belanda.

• Interdependensi

Banyak orang yang menyokong bahwa sistem internasional sekarang ini


dikarakterkan oleh meningkatnya interdepedensi atau saling ketergantungan:
tanggung jawab terhadap satu sama lain dan dependensi (ketergantungan) terhadap
pihak-pihak lain. Para penyokong pendapat ini menunjuk pada meningkatnya
globalisasi, terutama dalam hal interaksi ekonomi internasional. Peran institusi-
institusi internasional, dan penerimaan yang berkembang luas terhadap sejumlah
prinsip operasional dalam sistem internasional, memperkukuh ide-ide bahwa
hubungan-hubungan dikarakterkan oleh interdependensi.

• Dependensi

Teori dependensi adalah teori yang paling lazim dikaitkan dengan


Marxisme, yang menyatakan bahwa seperangkat negara Inti mengeksploitasi
kekayaan sekelompok negara Pinggiran yang lebih lemah. Pelbagai versi teori ini
mengemukakan bahwa hal ini merupakan keadaan yang tidak terelakkan (teori
dependensi standar), atau menggunakan teori tersebut untuk menekankan
keharusan untuk berubah (Neo-Marxisme).

Perangkat-perangkat sistemik dalam hubungan internasional


Diplomasi adalah praktik komunikasi dan negosiasi antara pelbagai
perwakilan negara-negara. Pada suatu tingkat, semua perangkat hubungan
internasional yang lain dapat dianggap sebagai kegagalan diplomasi. Perlu diingat,
penggunaan alat-alat yang lain merupakan bagian dari komunikasi dan negosiasi
yang tak terpisahkan di dalam negosiasi. Pemberian sanksi, penggunaan kekuatan,
dan penyesuaian aturan perdagangan, walau bukan merupakan bagian dari
diplomasi yang biasa dipertimbangkan, merupakan perangkat-perangkat yang
berharga untuk mempermudah serta mempermulus proses negosiasi.

Pemberian sanksi biasanya merupakan tindakan pertama yang diambil


setelah gagalnya diplomasi dan merupakan salah satu perangkat utama yang
digunakan untuk menegakkan pelbagai perjanjian (treaties). Sanksi dapat
berbentuk sanksi diplomatik atau ekonomi dan pemutusan hubungan dan
penerapan batasan-batasan terhadap komunikasi atau perdagangan.

Perang, penggunaan kekuatan, sering dianggap sebagai perangkat utama


dalam hubungan internasional. Definisi perang yang diterima secara luas adalah
yang diberikan oleh Clausewitz, yaitu bahwa perang adalah “kelanjutan politik
dengan cara yang lain.” Terdapat peningkatan studi tentang “perang-perang baru”
yang melibatkan aktor-aktor selain negara. Studi tentang perang dalam Hubungan
Internasional tercakup dalam disiplin Studi Perang dan Studi Strategis.

Mobilisasi tindakan mempermalukan secara internasional juga dapat


dianggap sebagai alat dalam Hubungan Internasional. Hal ini adalah untuk
mengubah tindakan negara-negara lewat “menyebut dan mempermalukan” pada
level internasional. Penggunaan yang terkemuka dalam hal ini adalah prosedur
Komisi PBB untuk Hak-hak Asasi Manusia 1235, yang secara publik memaparkan
negara-negara yang melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Pemberian keuntungan-keuntungan ekonomi dan/atau diplomatik. Salah satu


contohnya adalah kebijakan memperbanyak keanggotaan Uni Eropa. Negara-
negara kandidat diperbolehkan menjadi anggota Uni Eropa setelah memenuhi
kriteria Copenhagen.

Konsep-konsep unit level dalam hubungan internasional


Sebagai suatu level analisis level unit sering dirujuk sebagai level negara,
karena level analisis ini menempatkan penjelasannya pada level negara, bukan
sistem internasional.

• Tipe rezim

Sering dianggap bahwa suatu tipe rezim negara dapat menentukan cara suatu
negara berinteraksi dengan negara-negara lain dalam sistem internasional. Teori
Perdamaian Demokratis adalah teori yang mengemukakan bahwa hakikat
demokrasi berarti bahwa negara-negara demokratis tidak akan saling berperang.
Justifikasi terhadap hal ini adalah bahwa negara-negara demokrasi
mengeksternalkan norma-norma mereka dan hanya berperang dengan alasan-
alasan yang benar, dan bahwa demokrasi mendorong kepercayaan dan
penghargaan terhadap satu sama lain. Sementara itu, komunisme menjustifikasikan
suatu revolusi dunia, yang juga akan menimbulkan koeksitensi (hidup
berdampingan) secara damai, berdasarkan masyarakat global yang proletar. asf

• Revisionisme/Status quo

Negara-negara dapat diklasifikasikan menurut apakah mereka menerima


status quo, atau merupakan revisionis, yaitu menginginkan perubahan. Negara-
negara revisionis berusaha untuk secara mendasar mengubah pelbagai aturan dan
praktik dalam hubungan internasional, merasa dirugikan oleh status quo (keadaan
yang ada). Mereka melihat sistem internasional sebagai untuk sebagian besar
merupakan ciptaan barat yang berfungsi mengukuhkan pelbagai realitas yang ada.
Jepang adalah contoh negara yang beralih dari negara revisionis menjadi negara
yang puas dengan status quo, karena status quo tersebut kini menguntungkan
baginya.

• Agama

Sering dianggap bahwa agama dapat memiliki pengaruh terhadap cara


negara bertindak dalam sistem internasional. Agama terlihat sebagai prinsip
pengorganisasi terutama bagi negara-negara Islam, sementara sekularisme terletak
yang ujung lainnya dari spektrum dengan pemisahan antara negara dan agama
bertanggung jawab atas tradisi Liberal.

• Konsep level sub unit atau individu

Level di bawah level unit (negara) dapat bermanfaat untuk menjelaskan


pelbagai faktor dalam Hubungan Internasional yang gagal dijelaskan oleh teori-
teori yang lain, dan untuk beranjak menjauhi pandangan yang berpusat pada negara
(negara-sentris) dalam hubungan internasional.

Faktor-faktor psikologis dalam Hubungan Internasional - Pengevaluasian


faktor-faktor psikologis dalam hubungan internasional berasal dari pemahaman
bahwa negara bukan merupakan kotak hitam seperti yang dikemukakan oleh
Realisme bahwa terdapat pengaruh-pengaruh lain terhadap keputusan-keputusan
kebijakan luar negeri. Meneliti peran pelbagai kepribadian dalam proses
pembuatan keputusan dapat memiliki suatu daya penjelas, seperti halnya peran
mispersepsi di antara pelbagai aktor. Contoh yang menonjol dalam faktor-faktor
level sub-unit dalam hubungan internasional adalah konsep pemikiran-kelompok
(Groupthink), aplikasi lain yang menonjol adalah kecenderungan para pembuat
kebijakan untuk berpikir berkaitan dengan pelbagai analogi-analogi

Politik birokrat – Mengamati peran birokrasi dalam pembuatan keputusan,


dan menganggap berbagai keputusan sebagai hasil pertarungan internal birokratis
(bureaucratic in-fighting), dan sebagai dibentuk oleh pelbagai kendala.

Kelompok-kelompok keagamaan, etnis, dan yang menarik diri —


Mengamati aspek-aspek ini dalam level sub-unit memiliki daya penjelas berkaitan
dengan konflik-konflik etnis, perang-perang keagamaan, dan aktor-aktor lain yang
tidak menganggap diri mereka cocok dengan batas-batas negara yang pasti. Hal ini
terutama bermanfaat dalam konteks dunia negara-negara lemah pra-modern.

Ilmu, Teknologi, dan Hubungan Internasional—Bagaimana ilmu dan


teknologi berdampak pada perkembangan, teknologi, lingkungan, bisnis, dan
kesehatan dunia.

Institusi-institusi dalam hubungan internasional


Institusi-institusi internasional adalah bagian yang sangat penting dalam
Hubungan Internasional kontemporer. Banyak interaksi pada level sistem diatur
oleh institusi-institusi tersebut dan mereka melarang beberapa praktik dan institusi
tradisional dalam Hubungan Internasional, seperti penggunaan perang (kecuali
dalam rangka pembelaan diri).

Ketika umat manusia memasuki tahap peradaban global, beberapa ilmuwan


dan teoritisi politik melihat hirarki institusi-institusi global yang menggantikan
sistem negara-bangsa berdaulat yang ada sebagai komunitas politik yang utama.
Mereka berargumen bahwa bangsa-bangsa adalah komunitas imajiner yang tidak
dapat mengatasi pelbagai tantangan modern seperti efek Dogville (orang-orang
asing dalam suatu komunitas homogen), status legal dan politik dari pengungsi dan
orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan, dan keharusan untuk
menghadapi pelbagai masalah dunia seperti perubahan iklim dan pandemik. Pakar
masa depan Paul Raskin telah membuat hipotesis bahwa bentuk politik Global
yang baru dan lebih absah dapat didasarkan pada pluralisme yang dibatasi
(connstrained pluralism). Prinsip ini menuntun pembentukan institusi-institusi
berdasarkan tiga karakteristik: ireduksibilitas (irreducibility), di mana beberapa isu
harus diputuskan pada level global; subsidiaritas, yang membatasi cakupan otoritas
global pada isu-isu yang benar-benar bersifat global sementara isu-isu pada skala
yang lebih kecil diatur pada level-level yang lebih rendah; dan heterogenitas, yang
memungkinkan pelbagai bentuk institusi lokal dan global yang berbeda sepanjang
institusi-institusi tersebut memenuhi kewajiban-kewajiban global.

• PBB

(Artikel Utama: PBB) PBB adalah organisasi internasional yang


mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai “himpunan global pemerintah-pemerintah
yang memfasilitasi kerjasama dalam hukum internasional, keamanan internasional,
perkembangan ekonomi, dan kesetaraan sosial”. PBB merupakan institusi
internasional yang paling terkemuka. Banyak institusi legal memiliki struktur
organisasi yang mirip dengan PBB.

Institusi Ekonomi

o Bank Pembangunan Asia

o Dana Moneter Internasional

o Organisasi Perdagangan Dunia

o Bank Dunia

Badan Hukum Internasional

Hak Asasi Manusia

o European Court of Human Rights

o Human Rights Committee

o Inter-American Court of Human Rights

o Pengadilan Kriminal Internasional

o Pengadilan Internasonal untuk Rwanda

o Pengadilan Internasional untuk Bekas Yugoslavia

o Dewan Hak Asasi Manusia PBB

Hukum

o African Court of Justice

o European Court of Justice

o Mahkamah Internasional
o Mahkamah Internasional untuk Hukum Laut

Organisasi tingkat regional

o ASEAN

o Liga Arab

o Persemakmuran Negara-negara Merdeka

o Uni Eropa

o CSCAP

o GUAM Organisasi untuk Demokrasi dan Pembangunan Ekonomi

o NATO

o Organisasi Kerjasama Shanghai

o SAARC