Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kebutuhan akan energi listrik semakin hari akan semakin meningkat
seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk. Energi listrik yang
pada awalnya hanya digunakan sebagai sumber penerangan, kini menjadi
salah satu kebutuhan primer yang menunjang segala aspek aktifitas kegiatan
manusia, khususnya masyarakat perkotaan yang membutuhkan ketersediaan
energi listrik secara terus menerus.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai satu-satunya perusahaan


yang menyediakan energi listrik di Indonesia selalu mengupayakan yang
terbaik dalam hal proses penyaluran energi listrik ke konsumen. Namun,
sebaik apapun suatu sistem dirancang akan ada suatu kondisi dimana sistem
tersebut tidak bekerja secara normal. Kondisi ini dapat disebabkan karena
adanya gangguan pada sistem baik itu gangguan yang sifatnya permanen
maupun sementara atau hendak dilakukannya perawatan pada sistem.
Sehingga apabila kondisi tersebut terjadi dan diharuskannya untuk
melakukan pemadaman maka tidak ada sumber energi listrik lain yang dapat
menjadi cadangan. Hal yang dapat dilakukan oleh konsumen untuk
mengatasi hal tersebut yaitu dengan menyediakan sumber energi listrik
mandiri. Sumber energi listrik mandiri yang umum digunakan yaitu
Generator Set (Genset).

Penggunaan genset tentu memerlukan modal besar khususnya pada


bahan bakar. Biaya bahan bakar untuk genset jauh lebih besar dibanding
harga listrik per-kWh. Oleh sebab itu, pengoperasian genset harus dilakukan
secara optimal. Optimal disini berarti genset akan bekerja ketika suplai PLN
tidak tersedia dan berhenti bekerja ketika tegangan PLN tersedia kembali
dan stabil dengan tetap memperhatikan maintenance alat itu sendiri. Sebab
perlu diingat, pengoperasian ON-OFF yang terlalu sering serta tidak adanya
waktu jeda akan mengurangi usia kerja dari genset tersebut. Untuk
menghindari pengoperasian yang tidak benar dan agar lebih praktis, maka

1
diperlukan adanya sebuah panel kontrol otomatis yang disebut Panel
ATS/AMF.

1.2. Tujuan

Dengan adanya praktik distribusi energi listrik yang dilaksanakan


pada bengkel listrik Politeknik Negeri Ujung Pandang ini, mahasiswa
diharapkan mampu:

1. Memahami arti dan fungsi ATS, AMF, dan Generator Set.


2. Mengetahui komponen-komponen utama yang terdapat pada Generator
Set dan panel ATS-AMF.
3. Menggambarkan dan memahami prinsip kerja system panel ATS-AMF
melalui diagram blok.
4. Mengoperasikan Generator Set baik secara manual maupun secara
otomatis.
5. Mengaplikasikan ilmu yang diperoleh khususnya tentang pengoperasian
Generator Set dan panel ATS-AMF dalam dunia kerja.

2
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Generator Set (Genset)


Generator set (Genset) merupakan sebuah alat yang biasanya digunakan
pada pembangkit ataupun industri lainnya untuk membangkitkan energi listrik. Di
dalam genset terdapat generator. Itulah mengapa pengertian genset lebih dikenal
sebagai generator.
Generator Set terdiri atas Mesin Engine (Motor Penggerak) dan juga
Generator / Alternator, seperti yang telah di jelaskan sebelumnya. Mesin Engine
yang satu ini menggunakan bahan bakar berupa Solar (Mesin Diesel) atau dapat
juga menggunakan Bensin, sedangkan untuk Generatornya sendiri merupakan
sebuah gulungan kawat yang di buat dari tembaga yang terdiri atas kumparan
statis atau stator dan di lengkapi pula dengan kumparan berputar atau rotor.
Dalam proses kerjanya, menurut ilmu fisika, Engine memutar Rotor
dalam sebuah Generator yang selanjutnya hal ini menimbulkan adanya Medan
Magnet pada bagian kumparan Generator. Selanjutnya Medan Magnet ini
kemudian akan melakukan interaksi dengan Rotor yang kemudian akan berputar
dan akan menghasilkan sebuah arus listrik dimana hal ini sesuai dengan hukum
Lorentz.
Pentingnya manfaat dari Mesin Generator Set ini menjadi salah satu
alasan mengapa Generator Set atau Genset ini sangat di kenal oleh masyarakat
luas, jadi apa bila Anda memiliki usaha yang membutuhkan Mesin Genset ini,
jangan sampai mengabaikan Genset ini karena Mesin Generator Set ini dapat
memperlancar usaha anda dan menjaga dari situasi yang tidak terduga.

3
2.1.1 Komponen Utama Genset

Gambar 2.1 Baian-bagian Generator Set

2.1.1.1 Mesin
Mesin adalah sumber energi input mekanis untuk generator.
Ukuran mesin berbanding lurus dengan output daya maksimum
generator dapat pasokan. Ada beberapa faktor yang Anda perlu
diingat saat menilai mesin generator Anda. Para produsen mesin
harus dikonsultasikan untuk mendapatkan spesifikasi operasi mesin
penuh dan jadwal pemeliharaan.

Gambar 2.2 Mesin genset dan komponennya

4
Mesin Generator beroperasi pada berbagai bahan bakar
seperti diesel, bensin, propana (dalam bentuk cair atau gas), atau gas
alam. Mesin yang lebih kecil biasanya beroperasi pada bensin
sementara mesin yang lebih besar berjalan pada diesel, propana cair,
gas propana, atau gas alam. Mesin tertentu juga dapat beroperasi
pada umpan ganda dari kedua solar dan gas dalam mode operasi bi-
bahan bakar.

2.1.2 Generator
Generator adalah suatu alat yang dapat mengubah tenaga
mekanis menjadi tenaga listrik melalui proses induksi
elektromagnetik. Alat ini memperoleh energi mekanis dari prime
mover. Generator arus bolak-balik (AC) dikenal dengan sebutan
alternator. Generator diharapkan dapat mensuplai tenaga listrik pada
saat terjadi gangguan, dimana suplai tersebut digunakan untuk beban
prioritas.

Gambar 2.3 Generator dan komponennya

Generator mendorong muatan listrik untuk bergerak melalui


sebuah sirkuit listrik eksternal, tapi generator tidak menciptakan
listrik yang sudah ada di dalam kabel lilitannya. Hal ini bisa
dianalogikan dengan sebuah pompa air, yang menciptakan aliran air
tapi tidak menciptakan air di dalamnya. Sumber enegi mekanik bisa

5
berupa resiprokat maupun turbin mesin uap, air yang jatuh melalui
sebuah turbin maupun kincir air, mesin pembakaran dalam, turbin
angin, engkol tangan, energi surya atau matahari, udara yang
dimampatkan, atau apa pun sumber energi mekanik yang lain.
Generator terpasang satu poros dengan motor diesel, yang
biasanya menggunakan generator sinkron (alternator) pada
pembangkitan. Generator sinkron terdiri dari dua bagian utama yaitu:
sistem medan magnet dan jangkar. Generator ini kapasitasnya besar,
medan magnetnya berputar karena terletak pada rotor.

2.1.3 Sistem Bahan Bakar


Tangki bahan bakar biasanya memiliki kapasitas yang
cukup untuk menjaga generator operasional selama 6 sampai 8 jam
pada rata-rata. Dalam kasus unit generator kecil, tangki bahan bakar
adalah bagian dari dasar skid generator atau dipasang di atas bingkai
generator.
Fitur umum dari sistem bahan bakar adalah sebagai berikut:
a. Pipa sambungan dari tangki bahan bakar untuk mesin – Garis
pasokan mengarahkan bahan bakar dari tangki ke mesin dan
jaringan balik mengarahkan bahan bakar dari mesin ke tangki.
b. Ventilasi pipa untuk tangki bahan bakar – Tangki bahan bakar
memiliki pipa ventilasi untuk mencegah penumpukan tekanan
atau vakum selama pengisian ulang dan drainase tangki. Ketika
Anda mengisi ulang tangki bahan bakar, memastikan logam-
untuk-logam kontak antara nosel pengisi dan tangki bahan bakar
untuk menghindari percikan api.
c. Overflow koneksi dari tangki bahan bakar ke pipa pembuangan –
ini diperlukan sehingga setiap meluap selama mengisi ulang
tangki tidak menyebabkan tumpahan cairan pada genset.
d. Bahan Bakar pompa – Ini bahan bakar transfer dari tangki
penyimpanan utama ke tangki hari. Pompa bahan bakar biasanya
dioperasikan secara elektrik.

6
e. Bahan Bakar Air Separator / Fuel Filter – hal ini memisahkan air
dan asing dari bahan bakar cair untuk melindungi komponen lain
dari generator dari korosi dan kontaminasi.
f. Bahan Bakar Injector – Ini atomizes bahan bakar cair dan
semprotan jumlah yang diperlukan bahan bakar ke ruang
pembakaran mesin.

Gambar 2.4 Mesin bahan bakar beserta komponennya

Keterangan :
1. Pompa penyemperot bahan bakar
2. Pompa bahan bakar
3. Pompa tangan untuk bahan bakar
4. Saringan bahar/bakar penyarinnan pendahuluan
5. Saringan bahan bakar/penyaringan akhir
6. Penutup bahan bakar otomatis
7. Injektor
8. Tanki
9. Pipa pengembalian bahan bakar
10. Pipa bahan bakar tekanan tinggi
11. Pipa peluap.

7
2.1.4 Voltage Regulator

Gambar 2.5 Voltage regulator pada generaror

Voltage regulator berfungsi mengatur tegangan keluaran,


dalam ini pada generator. Voltage regulator yang digunakan disebut
sebagai Auotomatic Voltage Regulator atau disingkat AVR.
Prinsip kerja dari AVR adalah mengatur arus penguatan
(excitacy) pada exciter. Sistem pengoperasian Unit AVR (Automatic
Voltage Regulator) berfungsi untuk menjaga agar tegangan generator
tetap konstan dengan kata lain generator akan tetap mengeluarkan
tegangan yang selalu stabil tidak terpengaruh pada perubahan beban
yang selalu berubah-ubah, dikarenakan beban sangat mempengaruhi
tegangan output generator.
Prinsip kerja dari AVR adalah mengatur arus penguatan
(excitacy) pada exciter. Apabila tegangan output generator di bawah
tegangan nominal tegangan generator, maka AVR akan
memperbesar arus penguatan (excitacy) pada exciter. Dan juga
sebaliknya apabila tegangan output Generator melebihi tegangan
nominal generator maka AVR akan mengurangi arus penguatan
(excitacy) pada exciter. Dengan demikian apabila terjadi perubahan
tegangan output Generator akan dapat distabilkan oleh AVR secara
otomatis dikarenakan dilengkapi dengan peralatan seperti alat yang
digunakan untuk pembatasan penguat minimum ataupun maximum
yang bekerja secara otomatis.

8
2.1.5 Rotor

Gambar 2.6 Rotor dan komponennya

Rotor pada generator secara langsung dihubungkan dengan


engine flywheel menggunakan coupling dan pada ujung yang lain
disupport dengan bearing. Rotor terdiri dari rotor shaft dan gabungan
dari besi plat (layer built steel disc). Lapisan steel disc yang
menyerupai cylinder dibuat sesuai dengan panjang groove. Setiap
groove dililit oleh conductor yang berfungsi sebagai field coil
disekeliling rotor. Sesuai dengan bentuknya rotor dibagi menjadi dua
type yaitu : a. Cylindrical type b. Salient type
Pada rotor ini terdapat jumlah kutub magnet yang akan
mempengaruhi banyaknya putaran per menit yang harus bekerja untuk
menimbulkan frekuensi yang diinginkan.

2.1.6 Sistem Pendingin


Hanya sebagian dari energi yang terkandung dalam bahan
bakar yang diberikan pada mesin dapat diubah menjadi tenaga
mekanik sedang sebagian lagi tersisa sebagai panas. Panas yang tersisa
tersebut akan diserap oleh bahan pendingin yang ada pada dinding-
dinding bagian tabung silinder yang membentuk ruang pembakaran,
demikian pula bagian-bagian dari kepala silinder didinginkan dengan
air. Sedangkan untuk piston didinginkan dengan minyak pelumas dan

9
panas yang diresap oleh minyak pendingin itu kemudian disalurkan
melewati alat pendingin minyak, dimana panas tersebut diresap oleh
bahan pendingin.
Pada mesin diesel dengan pemadat udara tekanan tinggi,
udara yang telah dipadatken oleh turbocharger tersebut kemudian
didinginkan oleh air didalam pendingin udara (intercooler),
Pendinginan sirkulasi dengan radiator bersirip dan kipas (pendinginan
dengan sirkuit)

Gambar 2.7 Sistem pendingin dan bagiannya

Keterangan :

1. Pompa air untuk pendingin mesin


2. Pompa air untuk pendinginan intercooler
3. Inter cooler (Alat pendingin udara yang telah dipanaskan)
4. Radiator
5. Thermostat
6. Bypass (jalan potong)
7. Saluran pengembalian lewat radiator
8. Kipas.

10
Pompa-pompa air 1 dan 2 memompa air kebagian-bagian
mesin yarg memerlukan pendinginan dan kealat pendingin udara
(intercooler) 3. Dari situ air pendingin kemudian melewati radiator
dan kembali kepada pompa-pompa 1 dan 2. Didalam radiator terjadi
pemindahan panas dari air pendingin ke udara yang melewati celah-
celah radiator oleh dorongan kipas angin. Pada saat Genset baru
dijalankan dan suhu dari bahan pendingin masih terlalu rendah, maka
oleh thermostat 5, air pendingin tersebut dipaksa melalui jalan potong
atau bypass 6 kembali kepompa. Dengan demikian maka air akan
lebih cepat mencapai suhu yang diperlukan untuk operasi. Bila suhu
tersebut telah tercapai maka air pendingin akan melalui jalan sirkulasi
yang sebenarnya secara otomatis.
2.1.7 Sistem Pelumas
Untuk mengurangi getaran antara bagian-bagian yang bergerak
dan untuk membuang panas, maka semua bearing dan dinding dalam
dari tabung-tabung silinder diberi minyak pelumas.
Minyak tersebut dihisap dari bak minyak 1 oleh pompa minyak
2 dan disalurkan dengan tekanan ke saluran-saluran pembagi setelah
terlebih dahulu melewati sistem pendingin dan saringan minyak
pelumas. Dari saluran-saluran pembagi ini, minyak pelumas tersebut
disalurkan sampai pada tempat kedudukan bearing-bearing dari poros
engkol, poros jungkat dan ayunan-ayunan. Saluran yang lain memberi
minyak pelumas kepada sprayer atau nozzle penyemperot yang
menyemprotkannya ke dinding dalam dari piston sebagai pendingin.
Minyak pelumas yang memercik dari bearing utama dan bearing ujung
besar (bearing putar) melumasi dinding dalam dari tabung- tabung
silinder. Minyak pelumas yang mengalir dari tempat-tempat
pelumasan kemudian kembali kedalam bak minyak lagi melalui
saluran kembali dan kemudian dihisap oleh pompa minyak untuk
disalurkan kembali dan begitu seterusnya.

11
Gambar 2.8 Sistem pelumas dan bagiannya

Keterangan :
1. Bak minyak
2. Pompa pelumas
3. Pompa minyak pendingin
4. Pipa hisap
5. Pendingin minyak pelumas
6. Bypass-untuk pendingin
7. Saringan minyak pelumas
8. Katup by-pass untuk saringan
9. Pipa pembagi
10. Bearing poros engkol (lager duduk)
11. Bearing ujung besar (lager putar)
12. Bearing poros-bubungan
13. Sprayer atau nozzle penyemprot untuk pendinginan piston
14. Piston
15. Pengetuk tangkai
16. Tangkai penolak
17. Ayunan
18. Pemadat udara (sistem Turbine gas)
19. Pipa ke pipa penyemprot
20. Saluran pengembalian

12
2.1.8 Battery
Fungsi awal dari generator adalah dioperasikan dengan
baterai. Pengisi daya baterai membuat baterai pembangkit dibebankan
dengan memasok dengan tegangan yang tepat ‘melayang’. Jika
tegangan mengambang sangat rendah, baterai akan tetap
undercharged. Jika tegangan mengambang sangat tinggi, akan
mempersingkat masa pakai baterai. Pengisi baterai yang biasanya
terbuat dari stainless steel untuk mencegah korosi. Mereka juga
sepenuhnya otomatis dan tidak memerlukan pengaturan yang harus
dilakukan atau pengaturan diubah. Output tegangan DC dari charger
baterai ditetapkan sebesar 2,33 Volt per sel, yang adalah tegangan
mengambang tepat untuk baterai asam timbal. Pengisi daya baterai
memiliki output tegangan DC terpencil yang tidak mengganggu fungsi
normal dari generator.

Gambar 2.9 Battery pada Generator Set

13
2.2. ATS (Automatic Transfer Switch)

ATS merupakan singkatan dari Automatic Transfer Switch. Jika


dipahami berdasarkan arti kata tersebut maka ATS adalah sebuah sakelar
pemindah yang bekerja secara otomatis. Bekerja secara otomatis disini
maksudnya apabila sumber energi listrik dari PLN terputus atau tidak
tersedia maka ATS secara otomatis akan mengalihkan beban ke sumber
energi listrik cadangan misalnya genset. Begitu pula sebaliknya, apabila
sumber energi listrik dari PLN tersedia kembali dan stabil maka ATS
otomatis akan memindahkan beban ke sumber energi listrik utama (PLN).

Pemakaian panel ATS dibedakan berdasarkan besar kecilnya


pemakaian listrik. Semakin tinggi pemakaian daya listrik, tentunya akan
semakin besar pula spesifikasi komponen-komponennya terutama breaker,
kontaktor, dan ukuran kabelnya.

Gambar 2.10 ATS (Automatic Transfer Switch)

2.3. AMF (Automatic Main Failure)

AMF merupakan singkatan dari Automatic Main Failure yang


maksudnya menjelaskan cara kerja otomatisasi terhadap sistem kelistrikan
cadangan apabila terjadi gangguan pada sumber/penyulang listrik utama
(main). Istilah ini secara umum sering dijabarkan sebagai sistem kendali
start dan stop genset yang berfungsi untuk menyalakan dan mematikan (ON
atau OFF) mesin genset sebagai sumber energi listrik alternatif/cadangan
apabila sumber utama padam dalam hal ini PLN. Asumsinya jika PLN

14
padam maka panel AMF akan menyalakan genset secara otomatis untuk
menggatikan suplai PLN ke genset sedangkan jika suplai PLN kembali
normal maka panel AMF akan mematikan mesin genset secara otomatis.

Gambar 2.11 Panel ATS-AMF 30 kV

2.4. Komponen Panel ATS/AMF

Komponen-komponen yang terdapat pada panel ATS-AMF 30 kV,


yaitu:

1. Relay

Relay adalah saklar elektronik yang dapat membuka atau


menutup rangkaian dengan menggunakan kontrol dari rangkaian
elektronik lain.

Berdasarkan pada prinsip dasar cara kerjanya, relay dapat


bekerja karena adanya medan magnet yang digunakan untuk
menggerakkan saklar. Saat kumparan diberikan tegangan sebesar
tegangan kerja relay maka akan timbul medan magnet pada kumparan
karena adanya arus yang mengalir pada lilitan kawat. Kumparan yang
bersifat sebagai elektromagnet ini kemudian akan menarik saklar dari
kontak NC ke kontak NO. Jika tegangan pada kumparan dimatikan
maka medan magnet pada kumparan akan hilang sehingga pegas akan
menarik saklar ke kontak NC.

15
Gambar 2.12 Komponen relay pada panel ATS/AMF 30 kV

2. Modul Kontroler

Dalam suatu mesin yang diinginkan bekerja secara otomatis


maka selain sensor dan aktuator dibutuhkan komponen utama yaitu
sebuah kontroler. Kontroler merupakan otak dari suatu sistem kontrol.
Programmable Logic Controller (PLC) merupakan suatu bentuk khusus
pengontrolan berbasis mikroprosesor, memanfaatan memori yang
dapat diprogram untuk menyimpan instruksi-instruksi dan untuk
mengimplementasikan fungsi-fungsi antara lainnya logika, timming,
counting, dan aritmatika guna mengontrol mesin-mesin dan prosesnya.

3. MCB

MCB (Miniature Circuit Breaker) merupakan alat pengaman


yang pada proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai
pengaman dan sebagai penghubung. MCB lebih banyak digunakan
untuk pengaman sistem kontrol maupun instalasi listrik yang
mempunyai kapasitas arus yang rendah.

Gambar 2.13 Komponen MCB pada panel ATS/AMF 30 kV

16
4. Surge Arrester

Arrester level 2 adalah pengaman jaringan daya di jaringan


listrik terhadap bahaya sambaran petir yang dengan kategori menengah
bermaterial metal oxide varistor, ketahanan dalam memindahkan arus.
Arus atas kelebihan tegangan yang melewati dari bahan ini (MOV)
cukup kuat dan tingkat sensitififtasnya yang sangat tinggi dengan
memiliki respon time sebesar 20 ns.

Gambar 2.14 Surge arrester phoenix contact valvetrab

5. Current Transformer (CT)

Current Transformer atau trafo arus adalah salah satu tipe trafo
instrumentasi yang menghasilkan arus di sisi sekunder dimana
besarnya sesuai dengan ratio dan arus primernya.

Gambar 2.15 Current Transfomer (CT)

17
6. Battery Charger

Battery charger berfungsi untuk proses pengisian battery dengan


mengubah tegangan PLN 220 Volt atau dari generator itu sendiri
menjadi 12/24 Volt menggunakan rangkaian penyearah. Battery
charger ini biasanya dilengkapi dengan pengaman hubung singkat
(short circuit) berupa sekring/fuse.

Pada saaat PLN menyala, PLN akan menyuplai energi listrik


sebesar 220 V atau 380 V, yang kemudian dikonversi ke 12 V atau 24 V
untuk selanjutnya disuplai ke battery/accu (aki), sehingga daya pada
battery/accu (aki) stabil. Komponen ini akan membantu poroses kerja
sistem AMF pada saat listrik PLN padam dan proses starting genset
berjalan baik. Pada Panel ATS-AMF, koneksi antara panel dengan aki
genset harus dalam keadaan standby on dengan kondisi daya yang
normal, oleh karena itulah komponen ini komponen penting dalam
menunjang kinerja Panel ATS- AMF.

Gambar 2.16 Battery Charger

7. Tombol Tekan (Push Button)

Tombol tekan atau disebut sakelar ON/OFF banyak digunakan


sebagai alat penghubung atau pemutus rangkaian kontrol. Memiliki dua
kontak, yaitu NC dan NO. Artinya saat sakelar tidak digunakan satu

18
kontak terhubung Normally Close, dan satu kontak lainnya Normally
Open. Ketika kontak ditekan secara manual kondisinya berbalik posisi
menjadi NO dan NC.

Gambar 2.17 Push Button

8. Selector Switch

Selector Switch merupakan alat yang di gunakan untuk memilih


posisi kerja rangkaian kontrol. Kerja dari selector switch yaitu
menyambung rangkaian sesuai dengan yang ditunjuk oleh tangkai
selektor. Banyak sekali tipe selector switch, tapi biasanya hanya dua tipe
yang sering di gunakan, yaitu 2 posisi (ON-OFF/Start-Stop/0-1) dan 3
posisi (ON-OFF-ON/Auto-Off-Manual).

Gambar 2.18 Bentuk fisik selector switch

19
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Kerja Panel ATS-AMF

Panel ATS-AMF merupakan suatu sistem yang beroperasi secara


otomatis untuk mengalihkan catu daya listrik PLN ke genset atau sebaliknya.
Selain itu, panel ATS-AMF ini juga dilengkapi dengan peralatan-peralatan
proteksi.

Dalam suatu industri atau perusahaan untuk menjaga kehandalan


sistem tenaga listriknya umumnya menyediakan sumber energi listrik
cadangan yaitu berupa genset. Agar penggunaan genset dapat optimal maka
dilengkapi dengan peralatan ATS-AMF. Apabila sumber energi listrik utama
(PLN) tiba-tiba padam atau tidak tersedia maka AMF secara otomatis akan
menyalakan mesin genset sementara ATS berfungsi untuk mengalihkan
beban dari PLN ke genset. Begitu pula sebaliknya, apabila tegangan PLN
tersedia kembali dan stabil maka ATS secara otomatis akan mengalihkan
beban dari genset dan PLN. Di samping itu, AMF juga secara otomatis akan
menghentikan pengoperasian mesin genset. Secara garis besar deskripsi kerja
dari panel ATS-AMF 30 kV digambarkan melalui diagram blok berikut.

Gambar 3.1 Diagram blok sistem ATS-AMF

20
Genset yang digunakan pada bengkel listrik ini tidak mampu melayani
seluruh beban yang ada di Politeknik Negeri Ujung Pandang maka dari itu
pada panel ATS-AMF ini digunakan selektor beban. Selektor beban ini
memiliki tiga posisi, yaitu posisi 0, 1, dan 2. Posisi 0 dalam keadaan tanpa
beban dan posisi 1 digunakan untuk melayani beban yang ada pada gedung
listrik. Sementara posisi 2 untuk menyuplai transformator step up. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada single line diagram berikut ini.

Gambar 3.2 Single line diagram panel ATS-AMF 30 kV

3.2. Prosedur Pengoperasian Genset

Pengoperasian genset dapat dilakukan secara manual maupun secara


otomatis. Adapun prosedur pengoperasiannya diuraikan sebagai berikut.
A. Secara Manual
1) Memastikan semua MCB yang ada pada panel ATS-AMF dalam
kondisi on.
2) Selector switch yang terdapat pada pintu panel ATS-AMF diputar
pada posisi manual.

Gambar 3.3 Selctor switch diputar pada posisi MAN (manual)

21
3) Switch baterai diputar pada kondisi ON.

Gambar 3.4 Switch baterai pada posisi ON

4) Pada panel kontrol genset, memutar kunci/selektor pada posisi auto.

Gambar 3.5 Memutar selctor pada posisi AUTO

5) Selanjutnya menekan tombol (start), selang 6-10 detik genset


akan beroperasi
6) Setelah genset beroperasi pastikan mengecek parameter-parameter
yang terdapat pada panel kontrol genset seperti frekuensi, tegangan,
dan lain-lain. Menyesuaikan parameter pada panel kontrol genset
dengan parameter yang terbaca pada panel ATS-AMF.

Gambar 3.6 Proses pengecekan parameter

22
7) Untuk meng-off-kan atau menghentikan operasi genset, memutar
kunci/selektor pada posisi off (O).
8) Switch baterai di posisikan kembali pada kondisi off.

Gambar 3.7 Switch baterai pada posisi off

9) Terakhir memutar selector switch kembali ke posisi off dan merubah


kondisi MCB dari posisi on ke off.

Gambar 3.8 Selctor switch diputar pada posisi OFF

B. Secara Otomatis
1) Memastikan semua MCB yang ada pada panel ATS-AMF dalam
kondisi on.
2) Switch baterai diputar pada kondisi ON.
3) Selector switch yang terdapat pada pintu panel ATS-AMF diputar
pada posisi auto, selang 6-10 detik genset akan beroperasi secara
otomatis.

Gambar 3.9 Selctor switch diputar pada posisi AUTO (Otomatis)

23
4) Untuk meng-off-kan atau menghentikan operasi genset, memutar
Selector Switch kembali pada posisi off.
5) Switch baterai diposisikan kembali pada kondisi off.

Gambar 3.10 Switch Baterry berada pada posisi OFF

6) Mengubah Switch MCB dari posisi on ke off.

3.3. Spesifikasi Genset


A. Spesifikasi Genset

Gambar 3.10 Name plate genset

Dari gambar 3.10 dapat diketahui spesifikasi genset yang


digunakan dalam sistem ATS-AMF di bengkel listrik Politeknik Negeri
Ujung Pandang sebagai berikut:
 Model : WPS20S
 Product ID : 1000020900
 Serial No. : PL4316/13
 Order No. : PL4316/13

24
 Phase :3
 Prime Power : 20 KVA
 Standby Power : 22 KVA
 Voltage : 380/220 V
 Frequency : 50 Hz
 Power Factor : 0,8 cos f
 R.P.M. : 1500
 Amb. Temp. : 45o C
 Ampere : 30 A
 Weight : 1018 Kg
 Dimension : 2,2 x 1,6 x 1,5 m
 Date : 2011/06/22

Dari spesifikasi diatas dapat kita menganalisa bagaimana nilai arus


jika dilakukan perhitungan secara manual.
S = 20 kV
V= 380 V
I ….?
𝑆 = 𝑉. 𝐼
20 𝑘𝑉𝐴 = 380 × 𝐼
20𝑘𝑉𝐴
𝐼= = 52.63 𝐴( 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 3 𝑃ℎ𝑎𝑠𝑎)
380

Untuk mendapatkan arus 1 phasanya maka di bagi dengan √3.


𝐼𝑃−𝑃 52.63
𝐼𝑃−𝑁 = = = 30.38 𝐴
√3 √3
Dapat kita lihat bahwa hasil perhitungan manual dan spesifikasi pada
nameplate hampir sama, hanya berbeda pada nilai dibelakang koma.

25
B. Spesifikasi Mesin Diesel

Adapun spesifikasi dari mesin diesel yang digunakan sebagai


prime mover, yaitu:

Gambar 3.10 Name plate mesin diesel

 Merek : Perkins
 Model : 404D-22
 Product ID : KK06-002-00211
 Daya : 20.6 kW
 Putaran : 1500 rpm
 Berat : 242 kg
 BBM : 2.216 liter
 Date : 03/2011

26
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktik bengkel yang


telah dilakukan pada bengkel listrik diantaranya:

1. ATS merupakan singkatan dari kata Automatic Transfer Swicth


adalah sakelar yang bekerja otomatis berfungsi untuk menghidupkan
dan menghubungkan sumber energi listrik cadangan (genset) ke
beban secara otomatis pada saat PLN padam. Pada saat PLN hidup
kembali, alat ini akan memindahkan sumber daya ke beban dari genset
ke PLN.
2. AMF singkatan dalam istilah kelistrikan dari Automatic Main Failure
yang maksudnya menjelaskan cara kerja otomatisasi terhadap sistem
terhadap sistem kelistrikan cadangan apabila terjadi gangguan pada
sumber/penyulang listrik utama.
3. Genset adalah sebuah perangkat yang berfungsi menghasilakan daya
listrik. Disebut sebagai generator set karena terdiri dari suatu set
peralatan gabungan dari dua perangkat berbeda yaitu mesin dan
generator atau alternator.
4.2 Saran

Adapun saran yang penulis ajukan untuk praktikum ini agar lebih
baik lagi kedepannya adalah:

1. Diharapkan instruktur selalu berada di tempat praktik agar kegiatan


praktik dapat dilakukan lebih efisien dan mencegah terjadinya
kesalahan maupun kerusakan peralatan dari job yang dikerjakan.
2. Diharapkan kepada mahasiswa agar datang tepat waktu dan
menggunakan perlengkapan K3.
3. Sebaiknya mejelaskan dan memperlihatkan prosedur kegiatan
pemeliharaan pada genset dan panel ATS-AMF pada praktikan.

27
DAFTAR PUSTAKA

 Jobsheet praktikum Bengkel Listrik Semester V

 http://www.sariling.co.id/80433.html

 Suandroikus H. dkk., 2012. “Automatic Main Failure (AMF) Berbasis

Programmable Logic Controller (PLC)”, Tugas Akhir D3, Politeknik Negeri

Ujung Pandang, Makassar.

28

Anda mungkin juga menyukai