Anda di halaman 1dari 72

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA – PROFESI (KKN-P)

“TINGKAT PARTISIPASI PETANI DALAM PELAKSANAAN DAN PELATIHAN


PEMBUKUAN USAHATANI DI DESA SANGLIAT KRAWAIN, KECAMATAN
WERTAMRIAN, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT”.

OLEH

MISCO TAMAELA
2013-81-009

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2017

[1]
LEMBARAN PENGESAHAN

Laporan akhir Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKN-P) tahun 2017 Fakultas Pertanian
Universitas Pattimura di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wer Tamrian
,Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Nama : Misco Tamaela


Nim : 2013-81-0009
Program Studi/Jurusan : Agribisnis

“TINGKAT PARTISIPASI PETANI DALAM PELAKSANAAN DAN PELATIHAN


PEMBUKUAN USAHATANI DI DESA SANGLIAT KRAWAIN, KECAMATAN
WERTAMRIAN, KEBUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT”

Ambon,04 Juli 2017

Menyetujui,
Dosen Pembimbing,

Ir.M.Pattiasina,M.,M
Nip :19560322 198403 2 002

Mengetahui,
Ketua Jurusan Agribisnis,

Prof.Dr.Ir.A.E.Pattiselanno,M.si
Nip : 19690821 199303 1 001

[2]
RINGKASAN

“Misco Tamaela, 2017. Tingkat Partisipasi Petani Dalam Pelaksanaan dan


Pelatihan Pembukuan Usahatani di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wer
Tamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat .

Dibawah bimbingan Ir.M.Pattiasiana,M.M

Menurut Mardikanto (2007), di dalam proses pembangunan pertanian, perbaikan


kualitas hidup yang dicita-citakan itu diupayakan melalui kegiatan peningkatan
produktivitas usahatani, yakni melalui semakin besarnya turut campur tangan
manusia (petani) selama proses produksi berlangsung. Dengan kata lain,
pembangunan pertanian menuntut adanya perubahan perilaku petani yang mutlak
diperlukan dalam upaya peningkatan produktivitas usahatani dan peningkatan
pendapatan demi perbaikan kualitas hidupnya sendiri dan masyarakatnya.
Petani berperan bukan hanya sebagai penggarap dalam usahataninya, tetapi juga
peran petani sebagai seorang manager yang menjalankan usahanya layaknya manager
pada umumnya yaitu berfungsi mengatur,mengelola, mengontrol setiap kegiatan
operasionalnya menyangkut dengan usahatani yang dijalankannya, untuk itu
dbutuhkan skill dan kemampuan yang baik dari seorang manager dalam hal ini petani.
Oleh karena itu penting bagi pembangunan pertanian untuk mengembangkan
kemampuan yang ada, membuat usaha taninya lebih produktif dan mampu
meningkatkan margin antara biaya dan penerimaan dari usahataninya, sehingga
penting untuk petani melakukan suatu pembukuan usahatani yang berfungsi dan
bermanfaat bagi petani untuk mengontrol sejauhmana perkembangan usahatani yang
dijalankannya.
Kegiatan pelatihan pembukuan usahatani diadakan di desa Sangliat Krawain
sebagai lokasi KKN-P, dimana kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan waktu
selama 2 hari berturut-turut dari tanggal 18/04/2017-19/04/2017 dengan berpedoman
kepada kondisi dan situasi masyarakat desa, kegiatan diawali dengan persiapan
kelompok petani yang hadir, kemudian selanjutnya melakukan penyuluhan berupa
materi yang telah dibagikan kepada masing-masing petani, dan disusul dengan

[3]
dilakukan pelatihan terhadap 37 peserta yang hadir, selanjutnya tahapan evaluasi
dengan melihat tingkat partisipasi dari 37 petani yang hadir.
Dalam kegiatan KKN-P yang melihat tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan
dan pelatihan pembukuan usahatani yang dilaksanakan adalah dengan melibatkan 3
komponen penting dalam partisipasi yaitu Kesadaran,keterlibatan, dan manfaat
dengan masing-masing indikator yang dilihat. Sehingga dihasilkan sebagai berikut
untuk indikator kesadaran sebesar 72,97%, untuk indikator keterlibatan adalah 100%
dengan skor tidak pernah mengiktui kegiatan penyuluhan pembukuan usahatani
sebelumnya, dan indikator manfaat adalah sebesar 83,79% dengan skor kegiatan
usahatani dirasa sangat bermanfaat untuk petani.
Selanjutnya dilakukan kegiatan evaluasi akhir dari kegiatan yaitu berupa tanya
jawab atau feed back dari peserta tentang pentingnya pelatihan pembukuan
uasahatani, sehingga petani menjadi tahu dan mau untuk membuat suatu contoh
pembukuan usahatani yang sederharna sehingga manfaat dari pembukuan usahatani
itu dirasakan manfaatnya oleh peserta dalam hal ini adalah petani. Peserta diberikan
kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pengalaman yang dimilikinya
sehingga petani dapat belajar banyak dari kegiatan ini.
Kegiatan evaluasi dilihat dari tingkat partisipasi petani terhadap keaktifan petani
dalam mengajukan pertanyaan dan memberikan masukan-masukan yang bermanfaat
berdasarkan tingkat pengalaman menjadi seorang petani, kegiatan pelatihan
pembukuan uasahatani yang aktif memberikan pertanyaan dan memberikan masukan
sebanyak 13,51% atau sekitar 5 orang, sedangkan yang kurang aktif terhadap
pelatihan ini adalah sebanyak 40,54 % atau sebanyak 15 orang, sedangkan jumlah
petani yang sama sekali tidak aktif adalah sebanyak 17 orang salah satu kendalanya
adalah petani kebanyakan belum bisa menulis dan menghitung dengan baik, sehingga
tingkat keaktifan mereka kurang.

[4]
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat-Nya kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan penyusunan laporan
KKN-P dengan judul “TINGKAT PARTISIPASI PETANI DALAM
PELAKSANAAN DAN PELATIHAN PEMBUKUAN USAHATANI DI DESA
SANGLIAT KRAWAIN, KECAMATAN WERTAMRIAN, KABUPATEN
MALUKU TENGGARA BARAT” Laporan ini disusun guna memenuhi tanggung
jawab Penulis di lokasi penempatan KKN-P yaitu di Desa Sangliat Krawain
Kecamatan Wertamrian Kabupaten MTB. Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk
melihat bagaimana tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan dan pelatihan
pembukuan usahatani yang dilaksanakan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai sumber, maka
penulis tidak mampu menyelesaikan laporan ini dengan baik. Untuk itu, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Pihak LPPKM Universitas Pattimura yang telah memberikan penulis
kesempatan untuk melakukan KKN-P yang bertempat di desa Sangliat
Krawain, Kecamatan Wer Tamrian Kabupaten Maluku Tanggara Barat.
2. Prof. Dr. Ir. A. E. Pattiselanno, M.Si selaku Ketua Jurusan Agribisnis dan
seluruh staf dosen Program Studi Agribisnis.
3. Ibu dosen Ir. M. Pattiasina,M.M selaku pembimbing KKN-P. yang telah
banyak memberikan masukan dalam penyusunan laporan KKN-P.
4. Bapak Aloysius Melawatan, selaku Plt Kepala Desa Sangliat Krawain, beserta
staf pemerintahan desa.
5. Kedua orang tua yang selalu memberikan support yang membangun sehingga
penulis termotivasi berkat dorongan dan nasehat kepada penulis lewat Doa.

[5]
6. Kepada seluruh rekan-rekan sahabat tercinta Agribisnis 2013 yang tetap ada
memberikan dukungan dan semangat sehingga penulis tetap maju dan kuat
sampai saat ini.
7. Seluruh Warga Desa Sangliat Krawain.
8. Dan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam penulisan laporan ini, semoga Tuhan Yesus tetap
memberkati.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan
KKN-P ini, oleh karena itu saran dan kritik dari semua pihak yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan pada mahasiswa yang akan
mengadakan KKN-P pada waktu yang akan datang.

Ambon 16, Juni 2017

Penulis

[6]
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL………………………………………………...... i
LEMBARAN PENGESAHAN………………………………………. ii
RINGKASAN…………………………………………………………. iii
KATA PENGANTAR………………………………………………... iv
DAFTAR ISI………………………………………………………...... v
DAFTAR TABEL…………………………………………………...... vi
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………. vii
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………….. viii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………. 1
I.1. Latar Belakang………………………………………………. 1
I.2. Perumusan Masalah………………………………………….. 6
I.3. Tujuan KKN-P………………………………………………. 7
I.4. Manfaat KKN-P……………………………………………... 7

BAB II. METODE PELAKSANAAN……………………………….. 9


2.1. Waktu dan Lokasi …………………………………………... 9
2.2. Metode Pelaksanaan……………………………………….... 9
2.3. Pengumpulan Data…………………………………………... 10
2.4. Analisis Data……………………………………………....... 10

BAB III. KEADAAN UMUM LOKASI……………………………. 12


3.1. Keadaan Geografis………………………………………….. 12
3.2. Kondisi Iklim………………………………………………. 13
3.3. Kondisi Areal Pertanian……………………………………. 14
3.4. Sejarah Negeri……………………………………………… 19
3.5. Keadaan Sosial Ekonomi………………………………….. 22

[7]
3.6. Keadaan Kelembagaan……………………………………... 27

BAB IV. PELAKSANAAN PROGRAM KEGIATAN…………….. 31


4.1. Umum……………………………………………………….. 31
4.2. Profesi/Khusus…………………………………………........ 36
BAB V. PENUTUP…………………………………………………… 45
5.1. Kesimpulan ………………………………………................. 45
5.2. Saran………………………………………………………… 45

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………… 47
LAMPIRAN…………………………………………………………… 48

[8]
DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1. Luasan wilayah desa Sangliat Krawain………………………... 13


2. Data produksi varietas padi ladang……………………………. 15
3. Tabel kepemilikan lahan berdasarkan luas lahan……………… 16
4. Data produksi komoditi pangan pertanian di Desa……………. 17
5. Data produksi komoditi Hortikultura di Desa…………………. 17
6. Data produksi komoditi perkebunan…………………………... 18
7. Komposisi penduduk desa berdasarkan tingkatan umur………. 22
8. Sarana pendidikan di Desa…………………………………….. 23
9. Data tingkat presentase pendidikan penduduk Desa…………... 24
10. Distribusi pendapatan keluarga di Desa……………………….. 26
11. Mata pencharian penduduk Desa……………………………… 26
12. Jenis organisasi Desa…………………………………………... 28
13. Kelompok tani Desa Sangliat Krawain………………………... 30
14. Rencana kegiatan fisik dan non fisik mahasiswa KKN-P……... 21
15. Keadaan petani berdasarkan pengalaman berusahatani……….. 39
16. Komponen partisipasi petani dalam kegiatan pelaksanaan dan
pelatihan pembukuan usahatani……………………………….. 41
17. Jumlah responden petani yang memberikan feed back setelah
kegiatan……………………………………………………….. 43

[9]
DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

1. Peta Desa Sangliat Krawain, Berdasarkan Tampilan Google Earth……. 14

2. Bentuk Kebun Penduduk Desa Sangliat Krawain……………………. 19

3. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa……………………………… 28

4. Struktur Organisasi Kelompok Tani…………………………………... 29

[10]
DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1. Daftar Catatan Mahasiswa KKN-P…………………………… 60

2. Denah Desa Sangliat Krawain………………………………... 62

3. Dokumentasi Kegiatan KKN-P………………………………. 63

4. Materi Pembukuan Usahatani………………………………… 65

5. Absen Kehadiran Kegiatan Pelatihan Pembukuan

Usahatani………………………………………........................ 66

[11]
I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Kebijakan pembangunan pertanian sesuai dengan yang tertuang dalam RPJM

Kementerian Pertanian 2015-2019 salah satunya adalah dengan meningkatkan

kapasitas produksi melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal pertanian,

dalam kerangka operasional, arah kebijakan itu didukung sembilan upaya rivitalisasi

pembangunan pertanian berkelanjutan, yang salah satunya meliputi pembiayaan

usaha pertanian dan pengembangan SDM pertanian. Pemerintah sedang giat-giatnya

melakukan pembangunan yang mengarah kepada revitalisasi pembangunan pertanian

dengan salah satu strategi adalah lebih mengarah kepada pengembangan sistem

agribisnis yang lebih mantap sehingga diperlukan kualitas sumber daya manusia yang

matang, tujuannya adalah dapat meningkatkan kesejahteraan petani di indonesia.

Penduduk di Indonesia 70% rata-rata lebih menggantungkan hidupnya sebagai

petani pada sektor pertanian yang merupakan sektor penyumbang terbesar dalam

perekonomian Indonesia, namun hampir sebagian besar petani kita hanya merupakan

petani gurem yang masih bersifat subsisten, yang dalam pengolahannya hanya sebatas

konsumsi sendiri dan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya serta memiliki posisi

tawar yang rendah dan bukan dalam skala komersil, sehingga kualitas produktifitas

petani masih sangat rendah. Untuk itu sumber daya manusia sebagai pengelolanya

diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya usahataninya untuk dapat

mendukung pembangunan ekonomi.

[12]
Petani berperan bukan hanya sebagai penggarap dalam usahataninya, tetapi juga

peran petani sebagai seorang manager yang menjalankan usahanya layaknya manager

pada umumnya yaitu berfungsi mengatur,mengelola, mengontrol setiap kegiatan

operasionalnya menyangkut dengan usahatani yang dijalankannya, untuk itu

dbutuhkan skill dan kemampuan yang baik dari seorang manager dalam hal ini petani.

Oleh karena itu penting bagi pembangunan pertanian untuk mengembangkan

kemampuan yang ada, membuat usaha taninya lebih produktif dan mampu

meningkatkan margin antara biaya dan penerimaan dari usahataninya, sehingga

penting untuk petani melakukan suatu pembukuan usahatani yang berfungsi dan

bermanfaat bagi petani untuk mengontrol sejauhmana perkembangan usahatani yang

dijalankannya. Dengan begitu petani dapat mengetahui bentuk pengeluaran dan

pemasukan dalam jangka waktu tertentu, dan sebagai bahan untuk membuat suatu

perencanaan usahatani pada musim tanam berikut, dan sebagai bahan evaluasi

kegiatan usahatani dalam satu tahun sehingga berdampak juga terhadap pendapatan

dan produktifitas petani itu sendiri. (Laetemia, 2012)

Pembukuan usahatani penting untuk dilakukan sebagai salah satu strategi untuk

dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam hal ini adalah petani

sebagai menager, namun sangat disayangkan bahwa petani sangat jarang bahkan

belum sepenuhnya mengetahui bagaimana dan cara dalam melakukan pembukuan

usahatani yang baik dan benar, petani hanya mengingat-ingat biaya-biaya ril dan

menerka penghasilan yang didapatkan dari kegiatan usahatani yang dilakukannya,

dan bahkan petani lebih sering menggambungkan pengeluaran dari kegiatan

operasional usahataninya bersamaan dengan pengeluaran diluar kegiatan

[13]
usahataninya dari penghasilan yang didapatkan dalam suatu periode tertentu,

sehingga hal itu berpengaruh terhadap untung atau ruginya dari usahatani yang

dijalankannya, dan dapat berpengaruh juga terhadap pendapatan yang didapatkannya

serta berdampak pada kondisi perekonomian keluarga. Serta masih kurangnya bahkan

belum adanya program penyuluhan yang belum menyentuh petani sepenuhnya

tentang pembukuan usahatani.

Strategi pembukuan usahatani diharapkan dapat membantu menjawab persoalan

yang dihadapi petani untuk memperbaiki kualitas hidup yang lebih baik lewat

peningkatan produktifitas, sehingga diperlukan campur tangan dari berbagai pihak-

pihak tertentu sebagai jembatan informasi atau information clearinghouse yaitu salah

satunya melalui peranan penyuluh. Penyuluh adalah mereka yang mau ikut

merasakan apa yang dialami oleh kelompok sasaran, Penyuluh pertanian adalah orang

yang mengemban tugas memberikan dorongan kepada petani agar mau mengubah

cara befikir, cara kerja dan cara hidup yang lebih sesuai dengan perkembangan

jaman, perkembangan inovasi pertanian yang lebih maju, penyuluh adalah mereka

yang mengetahui informasi dan bersedia dengan senang hati untuk membagikannya

kepada kelompok sasaran. (Koampa, 2015)

Desa Sangliat Krawain adalah sebuah desa yang terletak di Kepulauan

Tanimbar,Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan jarak

dari pusat kota pemerintahan Saumlaki adalah 25 km, yang dimana hampir semua

penduduk desa bekerja di sektor pertanian, jenis tanaman yang biasa dibudidayakan

adalah tanaman pangan dan tanaman hortikultura.

[14]
BPS, Kecamatan Wertamrian dalam angka, 2016 menunjukan bahwa komoditi

unggulan adalah berasal dari tanaman pangan dan perkebunan. Dengan jenis komoditi

tanaman pangan yang terbanyak adalah padi ladang dengan jumlah produktifitas 324

kw/ha, dengan luas lahan adalah 123 ha, disusul dengan jagung yaitu sebanyak 141

kw/ha, dengan luas lahan adalah 41 ha, kemudian diikuti dengan tanaman ubi-ubian

dan kacang-kacangan. Dengan hasil produksi yang sedikit biasanya dimanfaatkan

petani untuk dikonsumsi keluarga dan sebagian untuk dijual memenuhi kebutuhan

keluarganya. Kemudian untuk tanaman perkebunan seperti kelapa lebih banyak

dibudidayakan sebagai tanaman musiman, yang hasilnya produksinya berupa kopra

yang juga banyak memberikan sumbangsi ekonomi terbesar petani di desa, dengan

produksi pada tahun 2015 adalah sebesar 4181 ton dengan luas areal 2788 ha.

Potensi pertanian desa diatas menunjukan bahwa kualitas petani terhadap

usahatani yang dijalankan lebih mangarah kepada sesuatu yang hanya bersifat

subsisten, padahal jika dikembangkan dengan baik melalui berbagai peranan, sudah

tentu akan menjadi salah satu sentra penghasil pangan Kabupaten. Untuk itu

peningkatan kualitas sumber daya manusia harus tetap dilihat sebagai sesuatu modal

utama pembangunan, namun yang menjadi pertanyaannya, apakah petani sebagai

sumber daya manusia pertanian mau untuk dituntun menjadi petani yang berkualitas

maju.

Menurut Mardikanto (2007), di dalam proses pembangunan pertanian, perbaikan

kualitas hidup yang dicita-citakan itu diupayakan melalui kegiatan peningkatan

produktivitas usahatani, yakni melalui semakin besarnya turut campur tangan

manusia (petani) selama proses produksi berlangsung. Dengan kata lain,

[15]
pembangunan pertanian menuntut adanya perubahan perilaku petani yang mutlak

diperlukan dalam upaya peningkatan produktivitas usahatani dan peningkatan

pendapatan demi perbaikan kualitas hidupnya sendiri dan masyarakatnya.

Mosher (2001) memaparkan bahwa pembangunan pertanian cenderung dipikirkan

dan dibicarakan hanya karena pembangunan itu menyediakan lebih banyak hasil

untuk manusia. Dalam kenyataannya ada terdapat suatu hasil tambahan bahkan

barangkali merupakan hasil yang lebih penting, yaitu: pembangunan pertanian

mengubah manusia-manusia yang bekerja didalamnya. Supaya pembangunan

pertanian itu terlaksana, pengetahuan dan keterampilan para petani haruslah terus

meningkat dan berubah. Karena para petani terus-menerus menerima metoda baru,

cara berpikir mereka pun berubah. Mereka mengembangkan suatu sikap baru yang

berbeda terhadap pertanian, terhadap alam sekitar mereka dan terhadap diri mereka

sendiri. Dengan demikian keinginan petani dan pemikiran petani yang luas akan tetap

ada jika adanya dorongan dari keinginan petani itu sendiri, bagaimana tingkat

partisipasi petani yang ada untuk dapat menerima inovasi-inovasi baru sebagai

keinginan untuk mau menjadi petani yang berkualitas maju dalam pembangunan

pertanian.

Partsipasi petani merupakan keinginan petani itu sendiri untuk mau, berusaha dan

dapat menjadi diri petani yang seutuhnya mau untuk terbuka terhadap berbagai

bentuk inovasi-inovasi baru pertanian yang dapat meningatkan produksi sehingga

minimal tujuan jangka pendek petani dapat terwujud. Dalam partisipasi dibutuhkan

sikap mental, pikiran, emosi sehingga keterlibatan petani didalam berbagai program

inofasi pertanian benar-benar dirasakan dan dianggap merupakan sesuatu yang sangat

[16]
penting menyangkut dengan kemajuan usahatani yang dijalankannya seperti

melakukan pembukuan usahatani yang sederharna, dengan melakukan pembukuan

usahatani yang sederhana saja, petani sudah dapat menentukan apakah usahatani yang

dijalankannya mengalami keuntungan atau kerugian, dan petani dapat

memperhitungkan resiko serta alternatif apa yang akan dilakukan pada periode

uasahatani berikutnya Dengan demikian petani sebagai seorang manager penting

untuk melihat bagaimana membuat suatu pembukuan usahatani terhadap usahatani

yang dijalankannya.

I.2. Perumusan Masalah

Partisipasi petani maupun kelompok sebagai sasaran merupakan faktor yang

sangat penting, partisipasi tersebut dapat berupa menghadiri pertemuan, mengajukan

pertanyaan dan adanya interaksi feedback baik dari petani terhadap program yang

diberikan oleh agen pambaharu, Menurut Van Den Ban dan Hawkins, ditinjau dari

segi motivasinya yaitu partisipasi masyarakat terjadi karena takut/terpaksa, ikut-

ikutan, dan partisipasi karena kesadaran yang timbul dari hati. Dengan adanya

partisipasi karena kesadaran dengan begitu petani ikut merasakan apa yang dianggap

penting terhadap keinginan untuk maju lewat kegiatan pelaksanaan dan pelatihan

pembukuan usahatani yang ditawarkan. Dengan demikian, rumusan masalah yang

dapat dilihat adalah :

1) Bagaimana tingkat partisipasi petani terhadap pelaksanaan dan pelatihan

pembukuan usahatani yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN-P di desa

Sangliat Krawain, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

[17]
I.3. Tujuan KKN-P

1. Mahasiswa dapat menerapkan teori yang telah diperoleh selama dibangku

perkuliahan kurang lebih vii semester melalui KKN-P yang dilaksanakan

selama 2 (dua) bulan.

2. Untuk mengetahui tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan dan pelatihan

pembukuan uasahatani.

I.4. Manfaat KKN-P

1. Bagi Penulis

a) Melatih penulis untuk dapat beradapatsi dan peka terhadap masyarakat

di pedesaan terutama petani dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya

penduduk setempat.

b) Sebagai bekal dan pengalaman bagi penulis untuk terjun dan

berhadapan langsung dengan masyarakat di dunia kerja.

2. Bagi masyarakat sasaran (Petani)

Penulis dapat mengaplikasikan teori yang didapatkan selama di bangku

perkuliahan kepada masyarakat sasaran, sehingga masyarakat juga turut

merasakan dampak dan manfaatnya.

3. Bagi Pemerintah Desa

Diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmu pengetahuan bagi pemerintah

desa untuk dapat memaksimalkan rancangan anggaran desa untuk

pemberdayaan petani.

[18]
4. Bagi PPL (Penyuluh Pertanian Lapang)

Manfaat ini juga diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmu pengetahuan bagi

penyuluh pertanian di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian, untuk

lebih meningkatkan penyuluhan bagi petani, terutama penyuluhan tentang

pembukuan usahatani.

5. Bagi Pembaca

Dapat dijadikan contoh dan acuan sebagai sumber referensi agar dapat

memperkaya kepustakaan bagi pihak yang membutuhkan.

[19]
II. METODE PELAKSANAAN

2.1. Waktu dan Lokasi

Pelaksanaan KKN-P ini dilakukan di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan

Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, dengan jangka waktu selama 2

bulan, yaitu dari tanggal 29 April sampai dengan 26 Mei 2017.

2.2. Metode Pelaksanaan

Kegiatan KKN-P merupakan bentuk kerja sama antara pihak panitia KKN-P

bersama Jurusan Agribisnis Pertanian UNPATTI Ambon dengan Dinas Pertanian

Kabupaten MTB, dengan metode pelaksanaan kegiatan adalah pertama Mahasiswa

melakukan bimbingan berupa pembekalan dari pihak panitia KKN, dengan

mendatangkan narasumber dan pembicara yang dapat memberikan ide dan masukan

positif ketika saatnya mahasiswa diterjunkan di lapangan. Kegiatan pembekalan

dilaksanakan selama 2 hari, yaitu dari tanggal 20 maret sampai dengan 21 maret

2017. Mahasiswa dibagi kedalam kelompok masing-masing desa yang terdiri dari 10

orang, kemudian Mahasiswa di tempatkan di desa dengan cara membaur diri bersama

dengan masyarakat desa setempat, dengan tujuan untuk melihat dan merasakan

kondisi situasi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat setempat.

Mahasiswa kemudian dituntun untuk mampu bekerja sama dengan masyarakat

setempat, membangun relasi baik serta mampu melihat dan memecahkan

permasalahan apa yang dihadapi masyarakat dari segi bidang pemberdayaan. Masalah

KKN-P diangkat berdasarkan apa yang dilihat diamati, diketahui, dan diprogramkan

[20]
selama berada dilokasi, dengan cara melakukan observasi dan kemudian

membicarakannya bersama pemerintah desa setelah disetujui program yang ada

kemudian dilakukan penyusunan agenda program bersamaan dengan waktu

pelaksanaan yang disusun secara rinci ( lihat : Lampiran kegiatan selama melakukan

KKN-P ).

2.3. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati atau Observasi dilapangan

serta menyusun agenda yang disetujui oleh pemerintah desa yang dimasukan kedalam

agenda perencanaan program mahasiswa. Kemudian program dilaksanakan dengan

menyesuaikan kondisi waktu dilokasi. Metode pengumpulan data diperoleh adalah

dengan melakukan wawancara yang terdiri dari anggota petani atau kelompok tani

yang terlibat dalam program pelaksanaan dan pelatihan pembukuan usahatani, yaitu

sebanyak 37 orang petani.

2.4. Analisi Data

Data yang diperoleh kemudian di analisis dan ditabulasi kemudian diolah dengan

cara analisis kualitatif. Untuk mengetahui tingkat partisipasi petani dalam kelompok

tani di Desa Sangliat Krawain dilakukan penilaian kepada responden dengan

memberikan skor/nilai pada responden berkisar 1-3 dengan melihat dari tingkat

kesadaran, keterlibatan petani dan manfaat yang diperoleh petani setelah mengikuti

pelatihan pembukuan usahatani yang dilaksanakan dengan menggunakan paduan

pertanyaan terstruktur. Nilai tersebut dijumlahkan kemudian dihitung nilai rata-

[21]
ratanya untuk menentukan tingkat partisipasi responden . Responden dengan nilai di

atas rata-rata menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi, sebaliknya responden

dengan nilai di bawah rata-rata menunjukkan tingkat partisipasi yang rendah dalam

kelompok tani.

[22]
III. KEADAAN UMUM LOKASI

3.1. Keadaan Geografis

Desa Sangliat Krawain terletak di Kepulauan Tanimbar tepatnya dipesisir timur

Pulau Yamdena yang adalah merupakan salah satu desa dari ke-9 desa yang tersebar

di Kecamatan Wer Tamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku

yaitu Desa Lorulun, Desa Atubul Da, Desa Atubul Dol, Desa Tumbur, Desa Amdasa,

Desa Sangliat Dol, Desa Arui Bab Dan Desa Arui Das, dengan pusat Kecamatan

adalah di Desa Lorulun. Desa Sangliat Krawain terletak diantara 4° Lintang Selatan

dan 12 ° Bujur timur, dengan batas-batas wilayah adalah sebagai berikut :

a. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan desa Sangliat Dol,

b. Sebelah uatara berbatasn langsung dengan Desa Arui Bab,

c. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Makatian, dan

d. Timur berbatasan langsung dengan Laut Arafura.

Jarak desa Sangliat Krawain dari pusat pemerintahan Kecamatan desa Lorulun

adalah 25 kilometer, jarak dari pusat pemerintahan kota adalah sekitar 40 kilometer,

sedangkan jarak dari pusat kota atau ibukota kabupaten Saumlaki adalah 45

kilometer, dan jarak dari ibukota Povinsi adalah sekitar 300 mil lepas ke tenggara ibu

kota Ambon. Luas wilayah desa Sangliat Krawain merupakan luas lahan yang ada

terbagi ke dalam beberapa peruntukan, dengan masing-masing luasan pada Tabel.1

[23]
Tabel 1.Luasan Wilayah Desa Sangliat Krawain Kecamatan Wertamrian Kabupaten
Maluku Tenggara Barat, 2017.

No Wilayah Luas (Ha) %


1. Tanah Kas Desa 6.300 0.57
2. Lahan Pertanian 150.740 13.66
3. Perkebunan 10 0.90
4. Hutan 870.950 78.95
5. Rawa 40 3.62
6. Permukiman 5,226 0.47
7. Lain-lain 20 1.82
Sumber : Data Potensi Desa Sangliat Krawain.

Desa Sangliat Krawain merupakan wilayah dengan luas wilayah terkecil kedua

setelah Sangliat Dol yaitu seluas 1103 Km2. Dengan jumlah kepadaan penduduk

adalah 8.3 %, menurut data potensi desa.

3.2. Kondisi Iklim dan Topografi Wilayah

Desa Sangliat Krawain memiliki suhu rata-rata 27,6 0Celcius, dengan suhu

minimum 22,4 0C dan maximum 33,1 0C. Desa Sangliat Krawain mengenal 2 musim

yaitu musim hujan dan musim kemarau berdasarkan peta Zona Agroklimat. Desa

Sangliat Krawain merupakan desa yang terkait dengan faktor kontur lereng dengan

ketinggian tempat dari permukaan laut 456 m dengan klas lereng 0-1 % (datar sampai

berombak) klas lereng 1-12% bergelombang sampai berbukit. (Data potensi desa

Sangliat Krawain, 2015).

[24]
Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 456 m di

atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS Kabupaten MTB tahun 2016, selama

tahun 2016 curah hujan di Desa Sangliat Krawain rata-rata mencapai (2.400) mm.

Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember-maret hingga mencapai (405,04)

mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2013-2016. (Data

potensi desa Sangliat Krawain, 2016 )

Gambar 1. Peta desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wer Tamrian Kabupaten


Maluku Tenggara Barat, nampak dari Google Earth.

3.3. Keadaan Areal Pertanian

Keadaan Areal Pertanian desa Sangliat Krawain meliputi sektor pertanian,

kehutanan, dan perkebunan. Rata-rata penduduk di desa lebih banyak

menggantungkan diri dari sumber penghasilan sebagai petani kelapa, dengan

komoditi unggulan terbesar adalah berasal dari Kopra. Selain dari kopra penduduk

desa juga banyak bertani padi ladang dengan jenis varietas padi merah, padi hitam

serta padi hitam yang rata-rata merupakan padi tadah hujan (Tabel 2. Data produksi

varietas padi ladang), kombili berbagai Jenis ,ubi, umbi-umbian,kacang-

[25]
kacangan,jagung, sayur-sayuran serta berbagai tanaman buah-buahan hortikultura

lainnya.

Tabel 2. Data Produksi varietas Padi ladang Desa Sangliat Krawain, Kecamatan
Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat,2017.

Varietas Luas Produksi Pola tanam Sistem


padi Lahan (Ton) Budidaya
(Ha)
Padi Merah 0,5-2 Ha 3 Ton/thn 1 kali setahun dengan sistem Organik
tanam bergiliran dan
serempak dalam satu areal
lahan
Padi Hitam 0,5-2 Ha 2,5 1 kali setahun dengan sistem Organik
Ton/thn tanam bergiliran dan
serempak dalam satu areal
lahan
Padi Putih 0,5-2 Ha 1 Ton/thn 1 kali setahun dengan sistem Organik
tanam bergilirandan serempak
dalam satu aeral lahan
Sumber : Data Profil Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten
Maluku Tenggara Barat.

Berdasarkan data pertanian diatas rata-rata petani di desa hampir semua bercocok

tanam padi ladang dengan jenis varietas padi yaitu padi merah, padi hitam, dan padi

putih. Padi merah dan padi hitam yang paling banyak diusahakan oleh petani

dibandingkan dengan padi putih.

Produksi padi merah yaitu sebanyak 3 ton/tahun dihitung berdasarkan jumlah

panen dalam 1 tahun, yaitu sekitar 20-100 Kg/Varietas padi untuk rata-rata rumah

tangga yang menanam padi ladang. Dengan sistem Budidaya organik, di pulau

Tanimbar petani lebih banyak mengusahakan padi lahan kering atau padi ladang

[26]
dengan banyak mengandalkan sistem tadah hujan, sehingga dalam pemeliharaan

petani lebih banyak mengandalkan alam.

Berdasarkan survei data Profil desa, data kepemilikan lahan pertanian yang ada

pada desa Sangliat merujuk kepada kriteria lahan yang ditetapkan yaitu lahan sempit

yang luasnya kurang dari 0,5 Ha, lahan sedang yaitu lahan yang luasnya 0,5 sampai

dengan 2 Ha, Lahan garapan luas yaitu lahan yang luasnya lebih dari 2 ha. Jumlah

KK yang memiliki lahan kecil yaitu < 0,5 ha adalah sebanyak 75 KK atau sekitar

42.85 %. Sedangkan jumlah KK yang memiliki lahan sedang adalah sebanyak 58 KK

atau sekitar 77.33% dari jumlah total kepala keluarga yang memiliki lahan garapan.

Sedangkan sekitar 24 % memiliki luas lahan lebih dari 2 ha, rata-rata kepala keluarga

yang memiliki lahan seluas itu hanya mncapai 5-8 ha, karena mereka memiliki

jumlah lahan yang lebih dari 1 karena sistem perladangan berpindah yang dilakukan

oleh kebanyakan petani di Tanimbar.

Tabel 3. Tabel Kepemilikan Lahan Berdasarkan Luas Lahan.

No Jumlah KK Kriteria Lahan %


1. 75 < 0,5 Ha 42.85
2. 58 0,5 Ha -2 Ha 77.33
3. 42 >2 Ha 24
Jumlah 175 100.00
Sumber : Data Primer ,Potensi Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian
Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.

Desa Sangliat komoditi terdapat banyak jenis ubi-ubian yang dibudidayakan oleh

petani, seperti kembili (Dioscorea esculenta), ubi (Dioscorea lata), dan keladi

[27]
(Xanthosoma esculentum) yang biasanya dipanen pada bulan agustus dengan hasil

adalah 100 ton/ha/thn dengan sebagian besar rumah tangga mengusahakan kebun,

baik kebun umur pendek maupun umur panjang dengan cara perladangan berpindah

(shifting cultivation) Serta berbagai sayur-sayuran.

Tabel. 4 Data Produksi Komoditi Pangan Pertanian Di Desa Sangliat Krawain,


Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
No Jenis Komoditi Jumlah Produksi
1. Padi 50 ton/ha/tahun
2. Kacang tanah 0,5 ton/ha/tahun
3. Kacang Hijau 200 ton/ha/tahun
4. Jagung 20 ton/ha/tahun
5. Singkong 100 ton/ha/tahun
6. Ubi kombili 100 ton/ha/tahun
7. Ubi jlar 80 ton/ha/tahun
Sumber : Data Potensi Desa Sangliat Krawain, 2017 Dan Rekap Profil Desa.

Tabel. 5 Data Produksi Komoditi Hortikultura Di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan


Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
No Jenis Komoditi Jumlah Produksi
1. Kangkung 2 ton/ha
2. Kol/kubis 5 ton/ha
3. Kacang panjang 4 ton/ha
4. Terong 1,5 ton/ha
5. Jeruk 2 ton/ ha
6. Pisang 3 ton/15 ha
7. Mangga 5 ton/ ha
8. Semangka 1 ton/ha
9. Labu 2 ton/ha
10. Pepaya 6 ton/3 ha
11. Bawang merah 1 ton/5 ha
Sumber : Data Potensi Desa Sangliat Krawain.

[28]
Tabel.6 Data Produksi Komoditi Perkebunan Di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan
Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
No Jenis Komoditi Jumlah Produksi (ton)
1. Kelapa 10.000 ton/250 Ha
2. Jambu mete 1 ton/1 Ha
3. Kemiri 10 ton/ 5 Ha
4. Rumbia 12 ton/5 Ha
Sumber : Data Potensi Desa Sangliat Krawain.

Berdasarkan data diatas, untuk data komoditi pangan dan hortikultura masih

banyak dibudidayakan oleh petani dengan sistem tanam campuran dalam areal lahan

usahatani (Gambar 2) terdapat tanaman hortiklultura,berupa tanaman sayur-sayuran

dan tanaman buah-buahan yang rata-rata dapat mencapai 2-6 ton/thn.

Sedangkan untuk tanaman perkebunan seperti kelapa, merupakan komoditi

terbesar di desa yang dapat mencapai 10.000/ton, dengan 3 kali panen dalam setahun,

yang produk dari kelapa adalah berupa kopra yang merupakan penghasilan terbesar

petani. Sedangkan untuk komoditas kehutanan yang banyak adalah tanaman

jati,meranti,murnis, Joar, kayu besi,rotan dan hutan bakau dan tanaman keras

lainnya., biasanya hasil kayu yang diolah dijadikan berbagai bahan perabot maupun

funiture rumah tangga.

[29]
Gambar 2.Bentuk Kebun Penduduk, Berupa Kebun Campuran Antara
Ubi Kombili Dengan Tanaman Lain.

2.4. Sejarah Negeri

Sejarah suatu Desa adalah hal yang terpenting untuk diketahui, baik tentang asal

usul suatu desa, pembentukan serta perkembangan desa yang merupakan identitas

sebuah desa atau pnue yang harus diketahui oleh semua orang terutama masyarakat

desa ataupun orang luar yang datang dan menetap baik dalam jangka waktu lama

maupun jangka waktu yang cepat.

Asal usul desa Sangliat menurut penuturan para tua adat di Desa bahwa awalnya

semua Moyang-moyang sejak dahulu dan sampai pada generasi sekarang ini

mengakui bahwa Desa Makatian adalah Desa Tertua di Kepulauan Tanimbar lebih

khusus Pulau Yamdena. Maka moyang-moyang desa Sangliat Krawain berasal dari

desa Makatian dan perjalanan dari Makatian datang kesebelah timur pulau Yamdena

lewat hutan , desa Makatian ini tedapat di sebelah barat pulau Yamdena, perjalanan

moyang-moyang melewati hutan dan ada tempat-tempat singgahan tertentu yang

menjadi tempat sejarah bahkan menjadi tempat-tempat keramat dari generasi ke

generasi hingga saat ini.

[30]
Perjalanan Moyang-moyang ini hingga tiba di atas salah satu bukit di sebelah

timur, dan mereka berkampung di situ yang disebut Pnu Medase artinya Kampung

yang tinggal di tempat tinggi mereka tinggal di Pnu Medase beberapa tahun , namun

mereka tidak puas karena Pnu Medase masih berada di Hutan dan jauh dari pantai,

lalu mereka berkompromi dan mengambil keputusan untuk keluar dari Pnu Medase

datang ke Otwampan Dalam artinya di dalam rerumputan .

Mereka berkampung di Otwampan Dalam cukup lama, dan ada salah seorang yang

badannya besar, tinggi dan kuat, namanya Sanglit, sehingga mereka memilih dan

menjadikannya Pimpinan di tempat itu, maka tempat itu disebut Sangliat yang

sekarang menjadi Desa Sangliat Dol. Selama mereka di Sangliat Datang juga

Moyang-moyang lain yang mereka ke tempat itu lewat perahu-perahu dari laut

sebelah timur Pulau Yamdena.Oleh karena sudah terlalu banyak orang ditempat itu

sehingga mereka mengambil satu keputusan untuk pindah lagi datang ke sebuah bukit

yang disebut Kabyarat Bulur karena tempat itu ada banyak pohon kabyarat yang

biasa dimakan buahnya, moyang-moyang tinggal di Kabyarat Bulur cukup lama

sehingga mereka membuat dua buah perahu batu, Perahu batu yang besar disebut

Natar Yamrene artinya : “Tempat Pertemuan Semua Kampung-Kampung

Diseluruh Pulau Yamdea”, sedangkan Perahu batu kecil disebut Natar Boboku

Yang Artinya “Tempat Pertemuan Khusus Orang Kampung Sendiri” .Mereka

diatas bukit Kabyarat Bulur dan berkebun, ambil air di bawah bukit itu, sehingga

dengan perlahan-perlahan mereka berkampung diawah bukit yang disebut Belfafan

yaitu tempat rumput menjalar yang biasa diambil buahnya untuk dibuat sayur untuk

dimakan.

[31]
Mereka tinggal di Belfafan namun mereka masih ingat sama Antua Sanglit, Maka

mereka menggantikan tempat Belfafan ini dengan Sangliat Krawain, Krawain artinya

Kraw yaitu AIR, AIN yaitu Tempat, sehingga KRAWAIN yaitu Tempat air. Maka

kampung sampai sekarang dinamakan Sangliat Krawain yang terletak di tepi Wer

Wolat Ngoran artinya Wer ; Sungai, Wolat ; depan Pintu Ngoran ; nama orang,

sehingga Wer Wolat Ngoran adalah Ngoran didepan sungai, maka perkembangan

tahun demi tahun salah seorang Bat Mafuti artinya ; Bat Perempuan, Mafuti yang

artinya Putih, sehingga sungai ini diganti dari nama Werwolat Ngoran menjadi

Werbat Myafuti yaitu sungai Bat Myafuti. Maka nama sungai ini diambil dari

perempuan putih yaitu Batmyafuti yang menjelma menjadi Buaya dan tinggal di

dalam sungai ini, dan didalam sungai ini hanya terdapat satu buaya putih sedangkan

turunannya semua buaya biasa.

Sebagai penjelasan tentang dua buah perahu batu yaitu karena tempat Belfafan ini

banyak air maka generasi belakang membongkar untuk membuat rumah tempat

tinggal sehingga tidak ada lagi bukti dari kedua perahu batu tersebut.

[32]
3.5. Keadaan Sosial Ekonomi

3.5.1. Keadaan Sosial

3.5.1.1 Distribusi penduduk Desa Sangliat Krawain.

Jumlah penduduk desa Sangliat Krawain berdasarkan data yang diperoleh dari

pemerintah desa untuk tahun 2017 adalah sebanyak 881 jiwa yang terdiri dari 434

laki-laki (49,26%) dan perempuan 447 jiwa (50,73%). Jumlah rumah tangga

sebanyak 226 KK, sehingga rata-rata jumlah jiwa dalam setiap rumah tangga

sebanyak 5 orang. Jumlah rumah yang ditempati di Desa Sangliat Krawain adalah

175 unit. Komposisi penduduk desa Sangliat Krawain berdasarkan tingkatan umur

dapat dilihat pada tabel 7 berikut :

Tabel 7. Komposisi Penduduk Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian,


Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Berdasarkan Tingkatan Umur,2017.
Kelompok Laki-laki Perempuan Presentase Presentase Total
umur (%) Penduduk (%) Penduduk
laki-laki Perempuan
0-5 42 39 9.67 8.72 81
6-10 48 57 11.05 12.75 104
11-15 50 61 11.52 13.64 111
16-20 45 48 10.36 2.38 85
21-25 40 35 9.21 7.82 75
26-30 43 34 9.90 7.60 77
31-35 29 37 6.68 8.28 66
36-40 20 25 4.60 5.60 48
41-45 25 18 5.76 4.02 53
46-50 21 16 4.83 3.57 37
51-55 17 18 3.91 4.02 35
56-60 20 25 4.60 5.59 45
>60 29 35 6.68 7.82 64
Total 434 447 100.00 100.00 881
Sumber : Data Primer yang Diolah Dari Profil Desa Sangliat Krawain.

[33]
Rata-rata usia kerja 15-65 tahun lebih banyak didominasi oleh kaum perempuan

yang sebagian bekerja pada sektor formal, usia angka harapan hidup wanita rata-rata

di desa jauh lebih lama dibandingkan dengan angka harapan hidup laki-laki yaitu

sebesar 72,32 %, itu berarti dari segi kekuatan wanita jauh lebih kuat dibandingkan

dengan laki-laki, disebabkan karena wanita memiliki jam kerja jauh lebih banyak dari

laki-laki.

3.5.1.2. Tingkat Pendidikan

Desa Sangliat Krawain memiliki 2 buah fasilitas pendidikan yaitu Sekolah SD

dan tingkat PAUD/TK,dengan konsentrasi jumlah siswa dan guru masing-masing

sebagai berikut pada tabel 8.

Tabel.8 Sarana Pendidikan Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian,


Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
Tingkat Jumlah Jumlah Jumlah Guru
Pendidikan Sekolah Murid
TK/PAUD 1 36 9
SD 1 122 11
Sumber : Data Potensi Desa Sangliat Krawain.

Tingkat pendidikan menentukan kualitas sumber daya manusia di desa, semakin

banyak fasilitas pendidikan yang tersebar di desa maka semakin besar kualitas

sumber daya manusia yang ada untuk membangun desa. Fasilitas yang tersedia hanya

berupa SD dan tingkat PAUD/TK, dengan jumlah jam belajar sebanyak 4-5 jam.

Capaian di bidang pendidikan terkait erat dengan ketersediaan fasilitas pendidikan,

sementara SLTP dan SLTA tidak tersedia pada desa, sementara SMK/SLTA

kebanyakan tersebar di pusat Kecamatan Lorulun maupun di pusat Kota Saumlaki

[34]
atau berlokasi pada pusat-pusat pemerintahan dan ekonomi dimana penduduk

terkonsentrasi.

Tabel.9 Data Tingkat Presentase Pendidikan Penduduk Desa Sangliat Krawain,


Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.

No Tingkat pendidikan Jumlah Presentase


(orang) (%)
1. Belum sekolah 98 11.12
2. Tidak tamat SD 124 14.07
3. SD 173 19.64
4. SLTP/Sederajat 151 17.14
5. SMU/Sederajat 149 16.91
6. Akademi/D3 13 1.475
7. S1 13 1.475
8. Tidak sekolah 160 18.16
Jumlah 881 100.00
Sumber : Data Potensi Desa Sangliat Krawain Rekap Profil Desa.

Berdasarkan data diatas tingkat tamatan SD masih mendominasi, yaitu

sebanyak 173 orang (19.6 %) salah satu faktor banyaknya tamatan SD adalah pola

pikir masyarakat desa yang masih sangat kolot artinya hanya sebatas tahu membaca

dan menulis. Sedangkan mereka yang lulusan Akademi atau S1 memilih untuk pergi

merantau dan bekerja di pusat-pusat perekonomian di perkotaan.

3.5.1.3. Kesehatan

Derajat kesehatan penduduk desa Sangliat Krawain diukur dari tingkat kesehatan

keluarga dan rumah tangga serta memiliki Sarana dan prasarana di bidang kesehatan

di Desa Sangliat Krawain terdapat Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) untuk

anak-anak Bawah Lima Tahun (Balita) dan ada pula yang diperuntukkan untuk

lansia. Kegiatan Posyandu hanya dilakukan selama sebulan sekali. Selain itu ada

fasilitas PUSTU (Puskesmas Pembantu).

[35]
Berdasarkan data survei ternyata derajat tingkat kesehatan penduduk di desa

Sangliat kebanyakan terganggu dari usia 50-85 tahun keatas, Penyakit yang paling

sering diderita adalah penyakit diabetes, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), sakit

kepala, malaria, dan penyakit tulang belakang,penyakit kulit,reumatik serta jenis

penyakit lainnya. Jenis-jenis penyakit yang dialami penduduk bervariasi.

Berdasarkan hasil wawancara, tersebutkan bahwa malaria merupakan penyakit

yang menonjol terdapat di desa Sangliat Krawain, di samping tuberkulosis (TB).

Selain itu masalah kesehatan juga dilihat dari sarana dan prasarana air bersih di desa,

sejalan dengan fasilitas kesehatan, ketersediaan air bersih bagi masyarakat juga

sangat penting. Banyak desa di MTB menghadapi masalah ketersediaan air, terutama

pada musim kemarau, tetapi tidak dengan desa Sangliat Krawain yang melimpah

sumber air walaupun musim kering.

3.5.2. Ekonomi

Keadaan ekonomi masyarakat desa Sangliat Krawain diukur dari tingkat aktifitas

masyarakat yang bertumpu pada sektor pertanian, dan sebagian pada sektor

Industri/jasa. Penduduk di desa memiliki alternatif usaha atau mata pencaharian

ganda yang lainnya sebagai strategi bertahan hidup.

Berdasarkan survei keluarga yang sedang berlangsung, maka pendapatan

masyarakat dari hasil pertanian rata-rata diperkirakan berkisar antara Rp100.000,-

Rp500.000,-/bulan(Rp.1.200.000,-Rp6.000.000,-/tahun) atau 84.95 % bahkan ada

yang kurang dari ini. Sedangkan pendapatan dari hasil perikanan berkisar antara

Rp.500.000-Rp.1.500.000/bulan (Rp.6.000.000 –Rp.18.000.000/tahun).

[36]
Tabel 10. Distribusi Pendapatan Keluarga Di Desa Kecamatan Wertamrian,
Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
No Jumlah KK Pendapatan/bln %
1. 192 100.000,-500.000,- 84.95
2. 34 >500.000,- 15.04
Jumlah 226 100.00
Sumber : Data Survei Potensi Desa Sangliat Krawain.

Berdasarkan data potensi desa Sangliat Krawain, penduduk dengan usia

bekerja adalah dimulai dari umur 16 tahun yang bekerja pada sektor utama pertanian,

kehutanan maupun perkebunan. Dengan jumlah KK petani adalah 226 orang dari

total jumlah KK di desa. Sebagian bekerja sebagai PNS, dan disektror industri dan

jasa lainnya Berikut adalah data mata pencharian yang tersebar di desa Sangliat

Krawain.

Tabel.11Mata Pencharian Penduduk Desa Sangliat Krawain, Kecamatan


Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
No Jenis Pekerjaan Jumlah (orang)
1. PNS 8
2. TNI/POLRI 3
3. Petani 831
4. Petani Kelapa 831
5. Wiraswasta 11
6. Buruh -
7. Tukang 28
Sumber : Data Potensi Desa Sangliat Krawain, Dan Rekapan Profil Desa.

Sebaran pekerjaan Masyarakat di desa ada yang bekerja sebagai PNS, namun

penduduk menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan dan kembali beralih kepada

petani jika keadaan cukup memungkinkan. Sebagian penduduk di desa juga terlibat

dalam industri kecil seperti berdagang, usaha kue, jasa angkut, pengrajin tenun,

pengrajin anyaman bambu dan lain-lain.

[37]
3.6. Keadaan Kelembagaan

Desa sangliat Krawain dipimpin oleh seorang Kepala desa, dengan struktur

organisasi dan uraian tugas pemerintahan yang jelas. Serta memiliki sarana layanan

publik yang tersedia. Dalam jabatan sebagai seorang kepala desa, seorang Sekertaris

desa dapat menggantikan atau menjabat tugas dari kepala desa jika berhalangan,

sesuai dengan masa kerja seorang Kepala desa. Di desa Sangliat Krawain sekarang

menjabat tugas pelaksana oleh seorang Sekertaris desa sehingga merangkap tugas

menjadi seorang Kepala Desa.

Pemerintah desa menjalankan tugas pemerintahanya dari sebuah balai desa yang

juga digunakan untuk rapat umum dengan warga, namun kondisi dari balai desa

Sangliat Krwaian masih dalam kondisi renovasi. Sehingga pemerintahan maupun

menerima tamu berlangsung dari rumah Sekertaris desa. Tata administrasi desa

terlihat jelas dari struktur, uraian tugas, aturan tugas yang jelas serta memiliki

program kerja yang jelas pula.

Dalam struktur tergambar jelas bahwa kepala desa memberikan perintah atau

komando kepada setiap staf dalam pemerintahan desa. Berikut bagan gambar dari

struktur desa.

[38]
Gambar 3.Struktur Organisasi Desa Sangkra Kecamatan Wertamrian, Kabupaten
Maluku Tenggara Barat, 2016.

Di desa Sangliat Krawain ada beberapa kelembagaan atau organisasi desa

yang dibentuk, organisasi yang dibentuk memiliki dasar hukum yang jelas, dan dalam

pelaksanaan kegiatan, semua anggota turut bekerja, sehingga pusat hirarki jelas dari

ketua sampai kepada anggota kelompok. Organisasi itu antara lain seperti pada tabel

dibawah ini :

Tabel.12 Jenis Organisasi Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian,


Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
No Nama Organisasi Jumlah
1. LKMD 1
2. RW 3
3. RT 6
4. TP PKK 1
5. Dasa Wisma PKK 14
6. Organisasi pemuda desa 1
7 Kelompok tani 4
Sumber : Pemerintahan desa Sangliat Krawain.

[39]
3.6.1.Kelembagaan kelompok tani

Kelembagaan kelompok tani penting dibentuk didesa karena upaya

meningkatkan daya saing petani salah satunya adalah dengan pengembangan

kelembagaan pertanian, pemberdayaan, pemantapan dan peningkatan kemampuan

kelompok-kelompok petani kecil, sehingga perlu untuk membentuk kelembagaan

petani didesa.

Gambar 4.Struktur Organisasi Kelompok Tani Desa Sangliat Krawain,Kecamatan


Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2016.

Sumber : Pemerintah Desa Sangliat Krawain,2016.

Di Desa Sangliat Krawain, ada 4 kelompok tani yang berkembang, dibagi kedalam

kelompok tani sayur-sayuran atau hortikultura, kelompok tani kelapa, kelompok tani

padi jagung dan umbi-umbian dengan luasan lahan yang berbeda. Kelembagaan

kelempok tani di desa Sangliat Krawain terbentuk atas 4 kelompok tani, jumlah

aggota kelompok tani terdiri atas 20-25 orang atau disesuaikan dengan kondisi

lingkungan masyarakat dan usaha taninya dan dipimpin oleh seorang ketua.

[40]
Organisasi Poktan terdiri dari Ketua, bendahara, sektertatis, seksi usahatani, seksi

usaha pengolahan, seksi usaha sarana dan prasarana produksi, seksi usaha pemasaran

yang memiliki fungsi masing-masing. Seksi dalam setiap kelompok tani berperan dan

bertanggung jawab terhadap bidang yang ditanggungnya. Misalnya seksi Pengolahan

berfungsi sebagai menyusun perencanaan kebutuhan peralatan pengolahan hasil

usaha tani petani dan poktan.

Tabel 13.Kelompok Tani Desa Sangliat Krawain. Kecamatan Wertamrian, Kabupaten


Maluku Tenggara Barat, 2017.

No Nama Luas Lahan Jenis Varietas Status Jumlah


Kelompok Tani (Ha) anggota
(orang)
1 Kelompok Lendan 5 Padi Lokal Aktif 20
2 Kelompok Kulurwatan 17 Jagung Aktif 25
Puma/Ubi jalar
3 Kelompok Watlove 1 Hortikultura Aktif 20
4 Kelompok Lendan 2 Ubi Aktif 20
Tubun
Sumber : Kelompok Tani, Desa Sangliat Krawain.

[41]
IV. PELAKSANAAN PROGRAM KEGIATAN

4.1. Kegiatan Umum di Lokasi KKN-P.

Kegiatan umum di lokasi KKN-P adalah semua kegiatan yang berlangsung dan

diprogramkan selama di lokasi KKN-P, kegiatan tersebut meliputi kegiatan Fisik dan

non fisik. Dan program yang direncanakan disusun berdasarkan persetujuan dan rapat

bersama pemerintah desa, kemudian program yang disetujui diagendakan dalam

rancangan kegiatan disesuaikan dengan kondisi dan waktu masyarakat setempat.

Tabel 14. Rencana Kegiatan Fisik dan Non fisik Mahasiswa KKN.

KEGIATAN
No. FISIK NON FISIK
1. Edukasi lingkungan kelautan lewat Pendataan Profil desa dan sejarah desa.
pembuatan Mading kelautan
2. Perbaikan sarana sekolah SD, Pelatihan dan pendampingan pembuatan
TK/PAUD pupuk bokashi.
3. Jumat sehat dan jumat bersih Penyuluhan pembukuan usahatani
4. Gotong royong pembersihan Sosialisasi program kerja
Makam umu Desa.
5. Partisipasi ikut penjemputan Arca Sosialisasi, pemeriksaan Produk BPOM.
Kristus Raja umat Ktolik di desa.
6. - Sosialisasi Pengenalan kampus.
7. - Rapat Koordinasi pemerintah desa.

[42]
4.1.1. Kegiatan Fisik

4.1.1.1. Edukasi Lingkungan kelautan lewat pembuatan mading kelautan.

Program yang berhubungan dengan lingkungan lebih mengarah kepada kegiatan

edukasi bagi siswa SD St. Naskat Yoseph Sangliat Krawain tentang pentingnya

lingkungan pantai tempat tinggal mereka melalui pembuatan mading kelautan dan

pengenalan ekosistem pantai. Kegiatan ini dirasa penting mengingat desa Sangliat

bermukim di pesisir pantai, sehingga pengenalan akan lingkungan pantai termasuk

organisme pantai juga patut untuk diketahui beserta manfaatnya bagi

keberlangsungan hidup penduduk desa.

4.1.1.2. Kerja Bakti Lingkungan

Kerja Bakti kebersihan lingkungan merupakan kegiatan Gotong-royong yang

banyak melibatkan masyarakat, yaitu kerja bakti membersihkan lingkungan desa serta

membersihkan makam atau kuburan umum desa. Kegiatan ini dilakukan dengan

tujuan untuk lebih membuat lingkungan desa menjadi bersih serta merupakan

persiapan penyambutan Arca Kristus Raja umat Katolik masuk desa.

4.1.1.3. Perbaikan sarana sekolah SD, TK/PAUD.

Salah satu program yang dijalankan mencangkup dalam bidang prasarana desa,

dimana kegiatan berupa partisipatif bersama-sama dengan warga rukun desa Sangliat

Krawain didalamnya meliputi kegiatan perawatan prasarana desa yang sudah rusak

atau perlu untuk diperbaiki kembali. Bentuk kegiatan partisipatif ini adalah

[43]
memperbaiki pagar sekolah SD dan TK/PAUD Naskat St.Yoseph Sangliat Krawain,

serta pagar-pagar warga yang sudah lapuk dan dilanjutkan dengan pengecatan pagar

dalam rangka persiapan penyambutan Arca Kristus Raja dari desa Arui Das bagi

umat Katolik

4.1.1.4. Jumat Sehat Dan Jumat Bersih.

Program kerja dalam bidang ini meliputi sebagian besar peran aktif masyarakat

desa bersama kesepuluh mahasiswa KKN yang lainnya. Dimana untuk bidang

kesehatan mahasiswa berinisiatif sendiri untuk mengadakan kegiatan yang dimaksud

yaitu melakukan senam sumba bersama ibu-ibu muda berserta anak-anak SD, para

pelajar maupun pemuda di desa setiap sorenya, agar ibu – ibu di Desa tetap sehat

dengan diadakannya senam sehat tersebut .

4.1.1.5. Partisipasi Ikut Penjemputan Arca Kristus Raja Umat Ktolik Di Desa.

Program yang dijalankan adalah partisipasi bersama masyarakat desa dalam

rangka penyambutan Arca Kristus Raja umat Katolik yang didatangkan dari desa

Arui das. Prosesi meliputi acara adat penyambutan berupa arak-arakan tarian khas

adat penyambutan oleh kelompok ibu-ibu penari bersama seorang mahasiswa wanita.

Mahasiswa KKN turut berperan dalam kegiatan yang dimaksud, dimana pria dan

wanita mahasiswa sebagai pembawa bendera dan pemikul Arca bersama masyarakat

desa lainnya.

[44]
4.1.2. Kegiatan Non fisik

4.1.2.1. Pendataan Profil Desa Dan Sejarah Desa.

Program kerja yang termasuk dalam bidang administrasi pemerintahan meliputi

kegiatan pendataan profil desa yang wajib harus dijalankan yang langsung diturunkan

oleh pihak Unpatti. Pelaksanaan program ini meliputi pendataan disetiap RT dengan

format yang diberikan oleh Instruktur sebagai bahan untuk pendataan, Format yang

diberikan diperbanyak dan dibagikan untuk setiap anggota KKN dan kemudian

dilakukan pendataan dengan metode mengunjungi setiap KK per masing-masing RT.

Format yang diberikan, juga sangat membantu pihak pemerintah desa dalam hal

pengelolahan administarsi desa. Dengan maksud format tersebut akan dipakai untuk

mengetahui komposisi kependudukan di desa Sangliat Krawain di tahun ini kemudian

dikroscek dengan data base potensi desa yang ada pada tahun sebelumnya, sehingga

diketahui tentang adanya pengurangan serta penambahan jumlah penduduk yang

belum lengkap, maupun potensi desa yang belum terdaftar.

4.1.2.2. Sosialisasi Program Kerja

Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan hadirnya Bapak Camat Wertamrian,

sekaligus merupakan rapat terbuka bersama masyarakat desa, sehingga pada

kesempatan ini masyarakat dapat mengetahui program kerja apa yang akan dilakukan

serta dampak dan manfaat apa yang akan dirasakan oleh masyarakat.

[45]
4.1.2.3. Sosialisasi, Pemeriksaan Produk BPOM.

Kemudian kegiatan dibidang kesehatan meliputi sosialisasi BPOM (Badan

Pengawasan Obat-obatan dan Makanan), kegiatan ini wajib dilakukan karena ini

merupakan bagian kerjasama antara BPOM Kota Ambon, bersama dengan

mahasiswa KKN Unpatti khususnya Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas

MIPA sehingga merupakan program wajib. Kegiatan dilakukan dengan cara

mendatangi lokasi kios para masyarakat kemudian dilakukan pendataan, sosialisasi

singkat kemudian dilanjutkan dengan pemeriksanaan produk bahan makanan dan

obat-obatan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan badan POM/BPOM.

4.1.2.4. Rapat Koordinasi Pemerintah Desa.

Kegiatan ini dilakukan untuk menindaklanjuti bentuk program kerja yang sudah

disusun oleh peserta KKN, dengan maksud agar kegiatan-kegiatan yang telah

diprogramkan dapat berjalan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat, sehingga

perlu dihadirkan oleh beberapa anggota masyarakat, ketua-ketua RT/RW/Rukun,

serta terdiri dari badan pemerintahan desa, ditambah dengan kelompok pemuda desa.

Kemudian rapat menghasilkan beberapa keputusan yang dimana menyangkut dengan

pelaksanaan kegiatan termasuk didalamnya waktu dan lokasi kegiatan yang akan

berlangsung.

[46]
4.2. Kegiatan Khusus di Lokasi KKN-P.

Kegiatan-kegiatan khusus dilokasi menyangkut dengan kegiatan apa yang

diprogramkan dan menjadi fokus studi dari profesi mahasiswa KKN-P selama

dilokasi KKN-P. Kegiatan-kegiatan tersebut terdiri dari apa yang dilihat, diketahui,

diprogramkan, dan dilksanakan menyangkut dengan persoalan apa yang dihadapi

masyarakat, sehingga dalam kegiatan ini yang menjadi titik fokus adalah tentang

bidang pemberdayaan dalam hal ini bidang pertanian yang subjeknya adalah

kelompok petani dan ataupun petani selaku individu, dengan mengambil program

yang menjadi titik fokus pelaksanaan kegiatan KKN-P adalah “Program pelatihan dan

pelaksanaan pembukuan usahatani di desa”.

Pembukuan uasahatani sangat dapat membantu petani dalam hal mengelolah

keuangan. Disitu petani dapat mengetahui berbagai bentuk penerimaan apa saja yang

diperolehnya dari hasil usahatani yang dijual pada waktu tertentu, kemudian petani

juga dapat mengetahui setiap pengeluaran-pengeluaran apa saja yang sudah

dikeluarkan untuk membiayai sarana usahatani miliknya. Jika petani sudah mampu

menerapkan sistem pembukuan usahatani sederhana, maka dengan demikian ekonomi

petani akan semakin membaik.

Pembukuan usaha tani ini dilaksanakan sebanyak 2 kali dengan lokasi yang

berbeda, dikarenakan mengingat adanya arca Kristus Raja dikampung sehingga

disesuaikan dengan waktu penjagaan rukun, jadi dihari pertama pelaksanaan

pembukuan hanya melibatkan kelompok petani dan petani di rukun 001, 002, dan

[47]
rukun 005. Kemudian dihari kedua berikutnya pelaksanaan pembukuan dilakukan

melibatkan kelompok tani dan petani di rukun 003, rukun 004 dan rukun 006.

Kegiatan ini kemudian dilakukan dengan beberapa tahapan untuk mendapatkan

hasil dan tujuan KKN-P, adapun kegiatan pelaksanaan dengan lebih rinci adalah

dengan sebagai berikut :

4.2.1. Pelaksanaan Kegiatan

4.2.1.1. Kegiatan Penyuluhan

Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada hari Selasa, 18/04/2017-Rabu,

19/04/2017. Dengan lokasi yang berbeda Sebelum dilakukan pelatihan,

persiapan diawali dengan persiapan kelompok petani, maupun petani sebagai

individu kemudian kegiatan dibuka dengan melakukan penyuluhan atau

penjelasan berupa materi pembukuan yang telah dibagikan bersamaan

dengan alat dan bahan tulis yang nantinya dimanfaatkan sebagai media

pelatihan. Kegiatan penyuluhan penting dilakukan sebagai langkah awal

untuk melakukan pelatihan berupa penjelasan-penjelasan mengapa

pembukuan usahatani penting untuk dilakukan serta manfaat dan cara

pembuatan pembukuan usahatani yang sederhana, penyuluhan dibawahkan

sekitar 3-5 menit.

[48]
4.2.1.2. Kegiatan Pelatihan

Kegiatan ini merupakan langkah berikut setelah dilakukan penyuluhan,

kemudian peserta diberikan waktu untuk membuat suatu pembukuan

usahatani yang sederhana berdasarkan materi yang telah dipelajari bersama,

kegiatan ini didampingi dan dimonitoring oleh pelaksana kegiatan. Setelah

itu petani diminta untuk membacakan hasil kerja yang telah mereka

laksanakan, dengan alasan agar kita mengetahui tingkat partisipasi petani

dalam pelaksanaan kegiatan ini.

4.2.1.3. Feed Back

Kegiatan ini merupakan langkah akhir dari kegiatan dan merupakan

proses penting, dimana langkah ini dimanfaatkan oleh pelaksana sebagai

proses untuk mengukur tingkat partisipasi dari petani. Babak tanya jawab ini

dimulai dengan pertanyaan oleh 5 orang petani tentang pembukuan usahatani

yang dijalankan. Ini merupakan bentuk kegiatan evaluasi hasil pelatihan yang

dilaksanakan.

4.2.2. Mengukur Tingkat Partisipasi petani terhadap pelaksanaan pembukuan

Usahatani.

4.2.2.1. Karateristik Petani

Petani di desa Sangliat Krawain, terdiri dari penduduk yang bermata pencharian

sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian (tabel 11) dengan demikian pertanian

[49]
merupakan kontribusi bagi ekonomi keluarga terbesar di desa yaitu sekitar 831 KK

dari sebagian jumlah penduduk.

Identitas petani responden merupakan gambaran keadaan petani yang dapat

mempengaruhi pola tindak dan pola pikir dalam mengambil suatu keputusan yang

berkaitan dengan pengelolaan usahataninya. Diantaranya adalah pengalaman

berusaha tani dan pengalaman menjadi anggota kelompok tani. Pengalaman

berusahatani merupakan lamanya petani responden menekuni kegiatan usahatani

Adapun keadaan petani responden berdasarkan pengalaman berusahatani dapat dilihat

pada Tabel 15.

Tabel 15.Keadaan Petani di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wer Tamrian,


Kabupaten Maluku Tenggara Barat Berdasarkan Pengalaman Berusahatani.

Pengalaman berusahatani Jumlah (orang) Presentase


(tahun) (%)
3-10 10 27.02
>10 27 72.98
Jumlah 37 100.00
Sumber : Data Primer ,Diolah Dari Hasil Wawancara Responden,2017.

Dari Tabel 15, diatas terlihat bahwa pengalaman berusahatani 72,98% berada

pada usia >10 tahun, hal ini menunjukkan bahwa petani responden telah menggeluti

usahatani cukup lama yang berarti bahwa petani responden telah mahir berusaha tani.

Salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan dalam berusahatani adalah

lamanya menjadi anggota kelompok. Karena dengan lamanya menjadi anggota

kelompok maka sedikit banyak pengalaman berusahatani lebih banyak berkembang.

[50]
4.2.2.2. Tingkat Partisipasi petani terhadap Pelaksanaan dan pelatihan

pembukuan Usahatani.

Partisipasi adalah peran serta atau keikutsertaan untuk mengambil bagian dalam

suatu kegiatan yang meliputi kesadaran, keterlibatan dan manfaat. Dalam wawancara

ada 3 point utama dalam melihat partisipasi petani dalam mengikuti kegiatan

pelatihan dan pembukuan uasahatani yang dijalankan. Kesadaran berupa

keikutsertanaan petani dalam kegiatan penyuluhan, sedangkan keterlibatan berupa

peran petani dalam kegiatan-kegiatan pertanian dan manfaat disini merupakan hasil

yang diperoleh setelah petani responden mengikuti pelaksanaan dan pelatihan

pembukuan uasahatani dengan masing-masing kriteria adalah sebagai berikut :

1) Kesadaran adalah keikutsertaan petani responden untuk mengikuti

pelaksanaan dan pelatihan pembukuan uasahatani di Desa Sangliat Krawain,

yang diukur dari jawaban petani dengan pernyataan/kriteria kesadaran sendiri

diberi skor 3, ajakan teman diberi skor 2, dan karena paksaan orang lain diberi

skor 1.

2) Keterlibatan adalah ikut terlibatnya petani responden dalam kegiatan-kegiatan

penyuluhan seperti pembukuan usahatani yang diukur dari jawaban petani

dengan pernyataan/kriteria sering ikut diberi skor 3, kadang-kadang ikut

diberi skor 2, dan tidak pernah ikut diberi skor 1.

3) Manfaat adalah hasil yang diperoleh setelah petani responden mengikuti

pelatihan pembukuan usahatani yang diukur dari jawaban petani dengan

pernyataan/kriteria bermanfaat diberi skor 3, kurang bermanfaat diberi skor 2,

dan tidak bermanfaat diberi skor 1.

[51]
Adapun komponen partisipasi petani dalam kegiatan pelatihan dan pembukuan

usahatani di Desa Sangliat Krawain berdasarkan hasil wawancara dapat dilihat pada

Tabel 16.

Tabel 16.Komponen Partisipasi Petani Dalam Kegiatan Pelaksanaan Dan Pelatihan


Pembukuan Usahatani Di Desa Sangliat Krawain,Kecamatan Wertamrian,
Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2017.
No Komponen partisipasi Jumlah Petani Presentase
(orang) (%)
1. Kesadaran :
Sendiri 27 72,97
Ajakan teman 5 13,51
Paksaan orang lain 5 5,40
Total 37 100,00
2. Keterlibatan :
Sering ikut - -
Kadang-kadang - -
Tdak pernah ikut 37 100,00
Total 37 100,00
3. Manfaat :
Bermanfaat 31 83,79
Kurang bermanfaat 5 13,53
Tidak bermanfaat 1 2.70
Total 37 100,00
Sumber : Data Primer, Diolah Dari Hasil Wawancara Responden.

Berdasarkan tabel diatas terhadap 37 orang petani responden di Desa Sangliat

Krawain, pelaksanaan kegiatan pelatihan pembukuan usahatani, menunjukkan pada

komponen kesadaran sebanyak 72,97 % petani responden menyatakan mengikuti

pelatihan pembukuan uasahatani atas kesadaran sendiri tanpa adanya paksaan orang

lain dengan alasan bahwa petani harus mengetahui inovasi apa yang akan didapatkan

ketika petani mengikuti pembukuan usahatani yang dapat membantunya dalam

[52]
kegiatan operasional usahataninya, sedangkan berdasarkan pada paksaan orang lain

dikarenakan adanya himbauan dari pemerintah desa setempat untuk terlibat dalam

pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan sebesar 5,40%.

Pada komponen keterlibatan, sebanyak 100 % petani responden menyatakan tidak

pernak ikut dalam kegiatan pelatihan pembukuan uasahatani seperti ini, dikarenakan

tidak ada sama sekali program dari penyuluh yang memberikan kegiatan penyuluhan

serupa. Dan kemudian petani beralasan selain memiliki banyak waktu, kegiatan yang

dilaksanakan tidak bertepatan dengan waktu istirahat petani serta dengan urusan-

urusan lain seperti urusan keluarga.

Sedangkan pada komponen manfaat, sebanyak 83,79% petani responden

menyatakan bermanfaat setelah mengikuti pelatihan pembukuan usahatani ini dengan

alasan bahwa pembukuan dirasa sangat bermanfaat agar petani mengetahui bentuk

keuntungan dan kerugian yang dirasa dari usahatani yang dijalankannya, serta dapat

membantu petani untuk berinvestasi dan sebagai bahan untuk pertimbangan dalam

kegiatan uasahatani pada musim tanam berikutnya.

Peran dan partisipasi aktif petani diharapkan dapat terus mendukung pelaksanaan

kegiatan pelaksanaan pembukuan uasahatani sehingga dapat mewujudkan tujuan

petani untuk menjadi petani sebagai seorang manager untuk dapat mengelolah

uasahatani yang dijalankannya, sehingga terwujudnya kualitas sumber daya petani

yang lebih bermutu dan berkompeten maju.

[53]
4.2.2.3. Tingkat evaluasi petani terhadap pelaksanaan dan pelatihan pembukuan

Usahatani

Dalam pelaksanaan kegiatan, tingkat evalusai adalah hal terakhir yang penting

dilakukan untuk mengukur keberhasilan kegiatan. Evaluasi dilakukan setelah

kegiatan selesai dilakukan, dengan melakukan umpan balik atau peserta diberi

kebebasan untuk bertanya. Berdasarkan apa yang dilihat dari akhir kegiatan, ternyata

beberapa petani mencoba untuk bertanya serta memberikan masukan-masukan

tentang kelanjutan dari kegiatan yang dimaksudkan.

Tabel 17.Jumlah Responden Petani Di Yang Memberikan Feed Back Setelah


Kegiatan.
No Tingkat Partisipasi Jumlah Petani %
1. Aktif 5 13.51
2. Kurang aktif 15 40.54
3. Tidak aktif 17 45.95
Jumlah 37 100.00
Sumber : Data Primer yang diolah.

Berdasarkan tabel diatas, ternyata dari keseluruhan jumlah petani yang hadir,

dan mengikuti kegiatan pelatihan pembukuan uasahatani yang aktif memberikan

pertanyaan dan memberikan masukan sebanyak 13,51% atau sekitar 5 orang,

sedangkan yang kurang aktif terhadap pelatihan ini adalah sebanyak 40,54 % atau

sebanyak 15 orang, sedangkan jumlah petani yang sama sekali tidak aktif adalah

sebanyak 17 orang salah satu kendalanya adalah petani kebanyakan belum bisa

menulis dan menghitung dengan baik, sehingga tingkat keaktifan mereka kurang.

[54]
4.2.3. Kendala terhadap pelaksanaan dan pelatihan pembukuan Usahatani.

Dalam pelaksanaan suatu kegiatan sudah tentu tidak pernah terlepas dari kendala

atau hambatan yang terjadi selama proses pelatihan pembukuan usahatani di desa,

hambatan yang ada dapat saja terjadi dari kelompok sasaran itu sendiri ataupun dari

hambatan cuaca alam serta hambatan yang lainnya yang bisa saja dapat terjadi selama

proses pelaksanaan atau sebelum pelaksanaan. Kendala-kendala yang terjadi adalah

sebagai berikut :

a) Petani kurang terlalu berpartisipasi dalam kegiatan yang dimaksudkan, dari

sekian jumlah petani di desa disebabkan karena waktu petani yang tidak bisa

melibatkan diri bersama, karena tuntutan aktifitas petani di esok hari untuk

bekerja.

b) Kebanyakan petani yang terlibat dalam kegiatan adalah petani yang tidak

memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik sehingga petani

enggan membuka diri terhadap pendampingan yang dilakukan.

c) Waktu pelaksanaan yang tidak tepat, yaitu dilakukan pada malam hari, yang

merupakan waktu untuk petani beristirahat. Sehingga aktifitas pelatihan yang

dilakukan tidak terlalu lama.

d) Jarak antara rumah petani ke rukun tempat pelaksanaan jauh, serta masih

banyak petani yang belum menghadiri kegiatan dimaksud karena kondisi

petani yang lelah sepulang dari kebun atau kegiatan bertepatan petani sedang

ke kebun, sehingga tidak menghadiri kegiatan karena pelaksanan kegiatan

yang tidak tepat waktu.

[55]
V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan KKN-P yang berlangsung selama 2 bulan di Desa

Sangliat Krawain dengan kegiatan khusus yaitu melihat tingkat partisipasi petani

terhadap kegiatan pelaksanaan dan pelatihan pembukuan uasahatani dapat diambil

kesimpulan adalah sebagai berikut :

1) Pelaksanaan kegiatan pelatihan pembukuan usahatani dilaksanakan di desa

Sangliat Krawain, dengan menyesuaikan waktu dan kondisi masyarakat

setempat dengan cara dibagi untuk 2 kegiatan berturut-turut.

2) Tingkat partisipasi petani terhadap kegiatan pelaksanaan dan pelatihan

pembukuan usahatani adalah diukur berdasarkan 3 komponen partisipasi yaitu

kesadaran, keterlibatan dan manfaat yang diperoleh, dengan kategori skor

adalah 1-3, berdasarkan hasil wawancara, ternyata tingkat partisipasi petani

terhadap kegiatan masih sangat besar yaitu untuk kesadaran sebesar 72,97%,

untuk indikator keterlibatan adalah 100% dengan skor tidak pernah mengiktui

kegiatan penyuluhan pembukuan usahatani sebelumnya, dan indikator

manfaat adalah sebesar 83,79% sangat bermanfaat untuk petani.

3) Tingkat evaluasi yang dilakukan melibatkan tingkat keaktifan partispasi dari

petani terhadap kegiatan pelatihan yang dialaksanakan tentang feed back atau

umpan balik berupa pertanyaan dan masukan-masukan yang membantu, dan

[56]
berbagai sharing pengalaman yang dimiliki petani yang berhasil dalam

menjalankan uasahatani yang dikelolahnya.

4) Dengan adanya kegiatan KKN-P mengenai pelaksanaan dan pembukuan

uasahatani yang dilakukan, petani terus dituntut untuk terus menjadi seorang

manager yang benar-benar memahami bagaimana pentingnya pembukuan

bagi keberanjutan usahatani yang diusahakannya.

5) Petani belum sama sekali mendapatkan penyuluhan dari pihak penyuluh

terkait tentang pelatihan pembukuan uasahatani, sehingga pengetahuan dan

pengalaman tentang pembuatan pembukuan oleh petani masih sangat minim.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan dari kegiatan KKN-P ini adalah :

1) Diharapkan kepada Dinas Penyuluh Kecamatan agar perlu dilakukan

penyuluhan pembukuan uasahatani kepada petani di desa Sangliat Krawain

mengingat petani belum sama sekali mendapatkan penyuluh dan pelatihan

serupa , padahal pembukuan dirasa sangat penting dilakukan dan dimiliki oleh

petani terhadap uasahatani yang dijalankannya.

2) Kepada pemerintah desa, untuk lebih meningkatkan kapasitas kelembagaan

kelompok tani. Lewat penguatan dan pendampingan kelompok tani di desa.

[57]
DAFTAR PUSTAKA

BPS Kabupaten MTB. 2016b. MTB Dalam Angka 2016. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Data Potensi Desa Sangliat Krawain 2016. Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wer
Tamrian, Kabupaten MTB, Provinsi Maluku.

Departemen Pertanian. 2007 http://www.deptan.go.id/bpsdm/RPJM 20


Lampiran%201.PDF. Diakses pada tanggal 09 juni 2017.

http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/data/RPJM Kementrian Pertanian


2015-2019 diakses pada tanggal Kamis 14/06/2017 pukul 19.00 wit.

Koampa, dkk dalam jurnal ASE – Volume 11 Nomor 3A, November 2015: 19 –
32,Minahasa. Diakses tanggal 09 juni 2017.

Laetemia dkk, dalam Jurnal community service http :///jbakti_2012_leatemia.pdf


Pelatihan Pembukuan Usahatani Di Desa Hutumuri Kecamatan Leitimur Kota
Ambon.
Mardikanto, Totok. 2009. Penyuluhan Pembangunan Pertanian.UNS Press.
Surakarta
Mosher, AT. 2001. Menggerakkan dan Membangun Pertanian: Syarat-syarat
Pokok Pembangunan dan Modernisasi Cetakan Ketigabelas. CV Yasaguna.
Van Den Ban dan Hawkins . 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Dalam jurnal Partisipasi Kelompok Tani Dalam Kegiatan Penyuluhan
Pertanian Di Desa Kanonang Lima, Kecamatan Kawangkoan Barat.

[58]
LAMPIRAN

[59]
Lampiran : 1

DAFTAR CATATAN HARIAN MAHASISWA KKN-P

No Hari/Tanggal Waktu Kegiatan Metode ,Proses Pelaksanaan dan Hasil Sasaran /Khalayak.
Pelaksanaan
1. Senin Pkl 20.00 wit Rapat Koordinasi Membicarakan tentang pelaksanaan kegiatan apa yang Mahasiswa KKN-P
17/04/2017 Pemerintah Desa akan dilakukan, diantaranya pelaksanaan kegiatan
pembukuan uasaha tani, yang akan dilaksanakan di 2
lokasi berbeda, yaitu di bapak kaur pemerintahan dan
lokasi berikut di bapak ketua RT 006.
2. Selasa, Pkl 07.30 wit-12.25 Pelaksanaan kegiatan Kegiatan Penyuluhan pembukuan usahatani dilakukan Petani dan Mahasiswa
18/04/2017 wit pelatihan pembukuan oleh mahasiswa pertanian, dengan pelaksanaan KKN-P
usahatani program dilakukan sebanyak 2 kali penyuluhan
dengan waktu 2-4 jam. Metode kegiatan dilakukan
pertama dengan cara memberikan penyuluhan berupa
materi yang telah dibagikan, setelah itu kemudian
dilakukan pelatihan terhadap petani yang hadir, dan
didampingi oleh mahasiswa yang lain. Hasil dari
penyuluhan dan pelatihan ini diharapakan agar petani
mengerti dan memahami bagaimana cara untuk
mengelolah kegiatan operasional usahatani yang
dikelolahnya, sehingga petani dapat membedakan
cost-cost apa saja yang digunakan sebagai
pengeluaran untuk kebutuhan hariannya serta cost
pengeluaran yang dikeluarkan untuk kegiatan
operasional taninya.
3. Rabu Pkl 08.00-22 wit Pelaksanaan kegiatan Metode kegiatan hampir sama dilakukan, hanya Petani dan Mahasiswa
,19/04/2017 pelatihan pembukuan berbeda waktu dan lokasi pelaksanaan, hanya saja KKN-P
uasahatani II tingkat partisipasi petani pada pelaksanaan kedua

[60]
sangat minim atau sedikit dibandingkan dengan
pelaksanaan pada hari I dengan jumlah peserta pada
hari pertama yaitu sebanyak 23 petani, sedangkan hari
berikutnya adalah 14 peserta petani.
Kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi singkat terhadap
pelaksanaan kegiatan yang berlangsung.
4. Kamis, Pkl 13.00 wit Pembuatan Kuesioner Kuesioner menyngkut dengan identitas responden dan
20/04/2017 pendataan Tingkat indikator partisipasi.
partisipasi.
4. Jumad , Pkl 10.00 wit Melakukan pendataan, Pendataan berupa pertanyaan singkat, di lengkapi Petani dan Mahasiswa
21/04/2017 tentang partisipasi dari dengan kuesioner pembantu yang didalamnya KKN-P
petani yang mengikuti menanyakan tingkat partisipasi petani terhadap
kegiatan pelatihan dan pelaksanaan kegiatan pembukuan uasahatani yang
pelaksanaan pembukuan dilaksanakan, pertanyaan terdiri dari 3 indikator
usaga tani yaitu sebanyak partisipasi yaitu, kesediaan petani, keterlibatan petani
37 peserta yang menghadiri dan manfaat yang akan diperoleh petani terhadap
kegiatan pelatihan. kegiatan yang diikuti.
Masing-masing jawaban petani dicatat dan disetiap
kuesioner.
5. Sabtu Pkl 12.00 wit-15.00 Pendataan Lanjutan. Pendataan masih dilakukan sebanyak jumlah peserta
22/04/2017 wit yang hadir yaitu sebanyak 37 orang petani
Pkl 18.00 Pengentrian data kuesioner Meliputi kegiatan menyalin jawaban berdasarkan
yang sudah dibuat pertanyaan di kuesioner.
PENYUSUNAN
LAPORAN KKN-P

PEMBIMBING KKN-P, MAHASISWA KKN-P

Ir. M.PATTIASINA,MM. MISCO TAMAELA


NIP :19650322 198403 2 002 NIM : 201381009

[61]
Gambar Denah Desa Sangliat Krawain

[62]
Lampiran : 3 DOKUMENTASI

KEGIATAN PELAKSANAAN DAN PELATIHAN PEMBUKUAN USAHA TANI

[63]
KEGIATAN PENDATAAN TINGKAT PARTISIPASI PETANI TERHADAP
PELAKSANAAN KEGIATAN PELATIHAN PEMBUKUAN UASAHATANI

[64]
Lampiran : 4

MATERI PEMBUKUAN USAHATANI

PENDAHULUAN

1) Defenisi Usahatani

Definisi Usahatani dan Ilmu Usahatani Menurut Soekartawi (1995) bahwa

ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang

mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk

memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila

petani dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki sebaik-baiknya,

dan dapat dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut mengeluarkan

output yang melebihi input.

Menurut Adiwilaga (1982), ilmu usahatani adalah ilmu yang menyelidiki

segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan orang melakukan pertanian

dan permasalahan yang ditinjau secara khusus dari kedudukan pengusahanya

sendiri atau Ilmu usahatani yaitu menyelidiki cara-cara seorang petani sebagai

pengusaha dalam menyusun, mengatur dan menjalankan perusahaan itu.

Sebaliknya menurut Mosher (1968), Usahatani merupakan pertanian rakyat

dari perkataan farm dalam bahasa Inggris. Dr. Mosher memberikan definisi farm

sebagai suatu tempat atau sebagian dari permukaan bumi di mana pertanian

diselenggarakan oleh seorang petani tertentu, apakah ia seorang pemilik,

penyakap atau manajer yang digaji. Atau usahatani adalah himpunan dari sumber-

sumber alam yang terdapat pada tempat itu yang diperlukan untuk produksi

[65]
pertanian seperti tanah dan air, perbaikan- perbaikan yang dilakukan atas tanah

itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan di atas tanah itu dan

sebagainya .

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ilmu usahatani adalah ilmu terapan yang

membahas atau mempelajari bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien

dan efektif pada suatu usaha pertanian agar diperoleh hasil maksimal. Sumber

daya itu adalah lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen.

Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, dan

mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan

sumberdaya organisasi. Dalam perkembangan jaman, manajemen mutlak

diperlukan untuk melaksanakan semua jenis usaha, tidak terkecuali suatu

usahatani dengan skala kecil sekalipun.

2) Defenisi Manajemen Usahatani

Manajemen adalah suatu seni, dimana setiap orang akan memiliki suatu hasil

yang berbeda dengan mengelola suatu usaha yang sama. Demikian pula dalam

usahatani, dengan modal dan hamparan lahan yang relatif sama dan berdekatan

serta kondisi iklim yang sama, suatu usahatani yang dikelola orang yang berbeda

akan dapat mendatangkan hasil yang berbeda. Hal ini terjadi karena pola

pemikiran seseorang dalam mengambil keputusan dan mengelola usaha tidak

pernah sama antara orang per orang. Dan dalam usahatani kemungkinan

seseorang mengembangkan kreatifitasnya dalam mengelola, adalah sangat besar.

Petani selain berperan sebagai dirinya sendiri, ia juga sebagai seorang

manager, bertanggungjawab sepenuhnya terhadap usahatani yang dijalankannya,

[66]
sebagai seorang pengelolah tentu harusnya petani sudah patutnya mengetahui

setiap konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya, yang termasuk didalamnya

adalah mengetahui bentuk pengeluaran dan penerimaan yang didapatkan dari

kegiatan operasional usahatani yang dijalankannya. Keberhasilan suatu usahatani

sangat ditentukan oleh bagaimana manajemen yang dijalankan dalam usaha

tersebut. Bagaimana pengelolaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan

modal yang dimiliki menjadi efektif dan efisien. Salah satu langkah yang dapat

dimanfaatkan adalah dengan mengajarkan petani untuk mempelajari usahatani

yang merupakan salah satu cara untuk melihat, menafsirkan, menganalisa,

memikirkan dan berbuat sesuatu (penyuluhan, penelitian, kunjungan, kebijakan

dll) untuk keluarga tani dan penduduk desa yang lain sehingga dapat

meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya. Kesulitan utama dalam

menganalisis perekonomian rumah tangga tani di negara berkembang seperti

Indonesia karena, Sifat dwifungsinya : produksi dan konsumsi yang kadang tidak

terpisahkan, serta kuatnya peranan desa sebagai unit organisasi sosial dan

perekonomian.

[67]
PEMBAHASAN

a) Pengertian Pembukuan Usahatani (Farm Recording):

Buku yang berisi tentang catatan usahatani yang menggambarkan

keadaan keuangan, keadaan inventaris yang lengkap, keadaan produksi, luas

dan jenis tanaman, jumlah dan macam alat-alat , dan jumlah makanan ternak

yang dibutuhkan/digunakan/dikeluarkan untuk kegiatan usahataninya,

sehingga petani dapat menghitung untung rugi serta efisiensi penggunaan

unsur-unsur produksi usahataninya selama musim tanam atau dalam setahun,

dan juga dugunakan untuk bantuan pinjaman modal/perkreditan dari pihak

perbankan/pemilik modal/investor.

Pembukuan usahatani pada dasarnya merupakan kegiatan pencatatan dan

dilajutkan dengan perhitungan mengenai kedudukan dari perubahan kekayaan

dan modal, penerimaan, dan pengeluaran dari operasi usahatani sebagai

satuan organisasi ekonomi yang berdiri sendiri, dengan berbagai tujuan

kegunaannya. Kegiatan ini dilakukan secara kontinyu dalam jangka waktu

tertentu (Hernanto, 1996).

b) Tujuan Pembukuan Usahatani:

Supaya petani mengetahui hasil yang sebenarnya dari operasi

usahataninya. Kegunaan pembukuan usahatani : memberikan dan sebagai

sumber informasi bagi para peneliti untuk penelitian lebih lanjut, pemerintah

dalam menentukan kebijakan pertanian dan pihak-pihak swasta/perbankan

[68]
sebagai acuan/panduan/jaminan untuk membantu petani menjadi mitra

bisnisnya.

c) Bentuk-Bentuk Pembukuan Usahatani

Menurut Abdul Rodjak (2006), Pembukuan usahatani dapat dibedakan

atas :

1. a) Pembukuan tunggal yang hanya mencatat hasil-hasil yang dijual dan

biaya-biaya yang dikeluarkan dalam waktu-waktu tertentu, dan

b) Pembukuan tunggal yang mencakup inventarissai, sarana serta

prasarana, hasil-hasil yang dijual dan biaya-biaya yang dikeluarkan yang

dicatat dalam satu buku tertentu.

2. Pembukuan majemuk, pembukuan yang mencakup catatan yang

terdapat pada pembukuan (a) dan (b) di atas ditambah catatan fisik produk

yang dihasilkan usahatani. Pembukuan ini akan memberikan informasi

yang lengkap untuk bahan analisis usahatani dalam periode usaha tertentu,

yang mencakup semua cabang usahatani yang dikelola petani yang

bersangkutan dalam jangka waktu tertentu.

Hasil pembukuan usahatani tersebut dapat digunakan untuk membuat

neraca untung rugi perusahaan atau usahatani pada akhir kegiatan usaha.

Dengan menganalisis neraca untung rugi tersebut maka akan diketahui

posisi keuangan suatu usahatani pada akhir tahun.

[69]
1. Pembukuan Tunggal

Sifat pembukuan ini sangat terbatas. Pembukuan ini dapat memberikan

informasi pendapatan usaha tani. di dalam pembukuan tunggal yang

sederhana hanya tercatat jumalah produk yang dujual dan pengeluaran-

pengeluaran dalam uang tunai. di dalam pembukuan tunggal yang lebih baik

sudah disertakan catatan-catatan mengenai semua faktor produksi yang

digunakan.

Pada daftar berikut dapat diikuti bentuk pembukuan tunggal yang sederhana.

bentuk ini hanya berisikan 2 hal pokok, yaitu penerimaan adan pengeluaran

usaha tani. karena itu catatan-catatan ini tidak memberikan cukup informasi

untuk analisa pendapatan.

Pembukuan diatas menyajikan suatu kondisi dimana dalam satu periode

musim panen tertentu, hasil panen yang dijual adalah merupakan bentuk

penerimaan yang diperoleh petani pada saa itu juga, dan disaat yang

bersamaan petani juga melakukan transaksi pembelian sarana produksi berupa

benih yang akan dimanfaatkan petani sebagai kegiatan lanjutan dalam

[70]
usahatani yang akan dijalankannya. Kemudian sisa hasil atau selisih dari

penerimaan dan pengeluaran akan dimasukan dan dicatat dikolom saldo.

2. Pembukuan Ganda/Pembukuan Majemuk.

 Bentuk pembukuan ini lebih baik daripada pembukuan tunggal. Dalam

pembukuan ini pengeluaran dipisah-pisahakan menurut jenis, cabang

usaha tani, yang diusahakan. begitu pula dengan catatan penerimaan.

Dengan demikian, dari pembukuan ini dapat diketahui pendapatan usaha

tani secara keseluruhan dan juga besarnya pendapatan dari tiap cabang

usaha tani.

 Catatan penerimaan dan pengeluaran dapat diikuti dari daftar berikut.

Macam-Macam Penerimaan

Macam –macam Pengeluaran

[71]
REFERENSI

https://www.slideshare.net/stenlymandagi/pembukuan-usaha-tani. Diakses pada


tanggal 01/04/2017.

Laetemia, E.D, Milyaniza Sari R. 2012. Pelatihan Pembukuan Usahatani Di Desa


Hutumuri Kecamatan Leitimur Kota Ambon Jurnal Bakti Volume 1
Nomor 1 Tahun 2012 ISSN : 2089-9505.

[72]