Anda di halaman 1dari 17

TAFSIR JALALAIN (MUQODDIMAH)

Sabtu, 09 Juni 20120 komentar


PENDAHULUAN
ashakimppa.blogspot.com

SEKILAS TENTANG KITAB TAFSIR JALALAIN

Kitab ini merupakan kitab yang membawa berkah dan manfaat, walaupun ukurannya yang kecil,
namun di dalamnya terkandung ilmu yang terdapat pada kitab-kitab yang berukuran besar. Para
ulama zaman dahulu sampai sekarang menerimanya dan mengambil manfaat darinya. Bahkan
tidak ada suatu majelisnya seorang ulama, melainkan kitab Bulughul Marom dijadikan sebagai
pelajaran pokoknya. Para penuntut ilmupun menghafalkannya dan mengambil manfaat darinya.
A. Pendahuluan

Al-Qur'an laksana intan permata yang setiap ujungnya memancarkan cahaya berkilauan. Ilustrasi
ini memberikan pengertian bahwa al-Qur'an merupakan mata air yang telah mengilhami
munculnya berjilid-jilid kitab tafsir. Mereka, para mufasir yang menulis kitab tafsir itu,
menggunakan beragam metode dalam menafsirkan al-Qur'an
Salah satu kitab tafsir yang sangat familier di Indonesia, terutama di kalangan pondok pesantren,
adalah kitab tafsir Jalalain. Kitab ini sangat mudah dijumpai karena sampai sekarang pengkajian
kitab ini masih dapat kita temukan di berbagai pondok di Indonesia. Dalam makalah ini akan
dikaji tentang seluk beluk yang berkaitan dengan tafsir Jalalain.

B. Pembahasan
1. Biografi Pengarang
Kitab ini dikarang oleh dua orang Imam yang agung, yakni Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin
al-Suyuthi. Jalaluddin al-Mahalli bernama lengkap Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin
Ibrahim bin Ahmad al-Imam al-Allamah Jalaluddin al-Mahalli. Lahir pada tahun 791 H/1389 M
di Kairo, Mesir. Ia lebih dikenal dengan sebutan al-Mahalli yang dinisbahkan pada kampung
kelahirannya. Lokasinya terletak di sebelah barat Kairo, tak jauh dari sungai Nil.
Sejak kecil tanda-tanda kecerdasan sudah mencorong pada diri Mahalli. Ia ulet menyadap aneka
ilmu, misalnya tafsir, ushul fikih, teologi, fikih, nahwu dan logika. Mayoritas ilmu tersebut
dipelajarinya secara otodidak, hanya sebagian kecil yang diserap dari ulama-ulama salaf pada
masanya, seperti al-Badri Muhammad bin al-Aqsari, Burhan al-Baijuri, A'la al-Bukhari dan
Syamsuddin bin al-Bisati. Al-Mahalli wafat pada awal tahun 864 H bertepatan dengan tahun
1455 M.
Sedangkan al-Suyuthi bernama lengkap Abu al-fadhl Abdurrahman bin Abi Bakr bin Muhammad
al-Suyuthi al-Syafi'i. Beliau dilahirkan pada bulan Rajab tahun 849 H dan ayahnya meninggal
saat beliau berusia lima tahun tujuh bulan. Beliau sudah hafal al-Qur'an di luar kepala pada usia
delapan tahun dan mampu menghafal banyak hadis. Beliau juga mempunyai guru yang sangat
banyak. Di mana menurut perhitungan muridnya, al-Dawudi, mencapai 51 orang. Demikian juga
karangan beliau yang mencapai 500 karangan. Beliau meninggal pada malam Jum'at 19 Jumadil
Awal 911 H di rumahnya.

2. Latar Belakang Penulisan


Riwayat hidup al-Mahalli tak terdokumentasi secara rinci. Hal ini disebabkan ia hidup pada masa
kemunduran dunia Islam. Lagi pula ia tak memiliki banyak murid, sehingga segala aktivitasnya
tidak terekam dengan jelas. Walau begitu, al-mahalli dikenal sebagai orang yang berkepribadian
mulia dan hidup sangat pas-pasan, untuk tidak dikatakan miskin. Guna memnuhi kebutuhan
sehari-hari, ia bekerja sebagai pedagang. Meski demikian kondisi tersebut tidak mengendurkan
tekadnya untuk terus mengais ilmu. Tak mengherankan jika ia mempunyai banyak karangan
yang salah satunya adalah Tafsir al-Qur'an al-'Adzim yang lebih dikenal dengan nama Tafsir
Jalalain tetapi belum sempurna.
Sedangkan al-Suyuthi-lah yang menyempurnakan "proyek" gurunnya. Pada mulanya beliau tidak
berminat menulis tafsir ini, tetapi demi memelihara diri dari apa yang telah disebutkan oleh
firman-Nya: (“dan barang siapa yang buta hatinya didunia ini, niscaya diakhirat nanti ia akan
lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar”). (Qs, al-Isra’ :72)
maka dia menulis kitab ini, kitab ini selesai ditulis pada hari Ahad, tanggal 10 Syawal 870
Hijriah, Penulisannya di mulai pada hari rabo, awal ramadhan dalam tahun yang sama, kemudian
konsep jadinya diselesaikan pada hari Rabu 8 Safar 871 Hijriah.

3. Bentuk, Metode dan Corak Tafsir Jalalain


Istilah bentuk penafsiran tidak dijumpai dalam kitab-kitab 'ulum al-Qur'an (ilmu tafsir) pada
abad-abad yang silam bahkan sampai periode modern sekalipun tidak ada ulama tafsir yang
menggunakannya. Oleh karenanya tidak aneh bila dalam kitab-kitab klasik semisal al-Burhan fi
'Ulum al-Qur'an karangan al-Zarkasyi, al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an karya al-Suyuthi, dan lain-lain
tidak dijumpai term tersebut.
Namun menurut Nashruddin Baidan, dapat disimpulkan bahwa penafsiran yang diterapkan olah
para mufasir sejak pada masa Nabi sampai dewasa ini dapat dikerucutkan menjadi dua macam,
yakni tafsir bi al-ma'tsur dan bi al-ra'y.
Tafsir Jalalain merupakan tafsir yang menggunakan bentuk bi al-ra'y. Karena dalam menafsirkan
ayat demi ayat menggunakan hasil pemikiran atau ijtihad para mufasir (meskipun tidak
menafikan riwayat). Sebagai contoh ketika al-Jalalain menafsirkan penggalan ayat berikut ini:
(‫الحرام )بالطيب( الحلل أى تأخذوه بدله كما تفعلون من أخذ الجيد من مال اليتيم وجعل الردئ من مالكم )ول تتبدلواالخبيث‬
‫مكانه‬.
Di sini kelihatan dengan jelas bahwa ketika menafsirkan penggalan ayat tersebut al-Suyuthi
murni menggunakan pemikirannya tanpa menyebut riwayat. Jika kita bandingkan dengan tafsir
Ibnu katsir berikut ini, akan lebih jelas perbedaannya.
(‫ل تعجل بالرزق الحرام قبل أن يأتيك الرزق الحلل الذى قدر )ول تتبدلواالخبيث بالطيب‬: ‫قال سفيان الثورى عن أبى صالح‬
‫لتبدلوا أموالكم الحلل وتأكلوا أموالهم‬: ‫يقول‬,‫ل تتبدلواالحرام من أموال الناس بالحلل من أموالكم‬:‫لك وقال سعيد بن جبير‬
‫ل تعط زيفا‬:‫ وقال إبراهيم والنخعى والضحاك‬.‫ول تعط مهزول ول تأخذ سمينا‬:‫وقال سعيد بن المسيب والزهرى‬.‫الحرامز‬
,‫ شاة بشاة‬:‫ ويجعل مكانها الشاة المهزولة ويقول‬,‫ كان أحدهم يأخذ الشاة السمينة من غنم اليتيم‬:‫وقال السدى‬.‫وتأخذ جيدا‬
‫ويأخذ الدرهم الجيد ويطرح مكانه الزيف ويقول درهم بدرهم‬
Di sini Ibnu Katsir menggunakan bentuk bi al-ma'tsur. Beliau ketika menafsirkan penggalan ayat
tersebut langsung merujuk riwayat dari al-Tsauri, Sa'id bin Jubair, Sa'id bin al-Musayyab dan
lain-lain. Sehingga seakan-akan beliau tidak punya pendapat sendiri tentang hal tersebut.
Hal inilah yang membedakan antara bentuk bi al-ma'tsur dengan bentuk bi al-ra'y. Tafsir yang
menggunakan bentuk bi al-ma'tsur sangat tergantung dengan riwayat. Tafsir ini akan tetap ada
selama riwayat masih ada. Berbeda dengan tafsir bi al-ra'y yang akan selalu berkembang dengan
perkembangan zaman. Adapun mengenai metode yang digunakan tafsir Jalalain menggunakan
metode Ijmali (global). Sebagaimana diungkapkan oleh al-Suyuthi bahwa beliau menafsirkan
sesuai dengan metode yang dipakai oleh al-Mahalli yakni berangkat dari qoul yang kuat, I'rab
lafadz yang dibutuhkan saja, perhatian terhadap Qiraat yang berbeda dengan ungkapan yang
simpel dan padat serta meninggalkan ungkapan-ungkapan bertele-tele dan tidak perlu. Mufasir
yang menggunakan metode ini biasanya menjelaskan ayat-ayat al-Qur'an secara ringkas dengan
bahasa populer dan mudah dimengerti. Ia akan menafsirkan al-Qur'an secara sistematis dari awal
hingga akhir. Di samping itu, penyajiannya diupayakan tidak terlalu jauh dari gaya (uslub)
bahasa al-Qur'an, sehingga penbengar dan pembacanya seakan-akan masih tetap mendengar al-
Qur'an, padahal yang didengarnya adalah tafsirnya.
Berbeda dengan metode yang digunakan oleh Ibnu Katsir sebagaimana terlihat dalam contoh.
Dari contoh tersebut Ibnu Katsir menggunakan metode Tahlili (analitis). Perbedaannya terletak
pada terget yang ingin dicapai. Jika yang diinginkan adalah hanya untuk mengetahui makna kosa
kata, tidak memerlukan uraian yang luas, maka cukup menggunakan metode Ijmali seperti Tafsir
Jalalain. Tetapi jika target yang ingin dicapai adalah suatu penafsiran yang luas tetapi tidak
menuntaskan pemahaman yang terkandung dalam ayat secara komprehensif, maka metode yang
cocok adalah metode Tahlili (analitis), sebagaimana tafsirnya Ibnu Katsir. Corak penafsiran ialah
suatu warna, arah, atau kecenderungan pemikiran atau ide tertentu yang mendominasi sebuah
karya tafsir. Jadi kata kuncinya adalah terletak pada dominan atau tidaknya sebuah pemikiran ide
tersebut. Bila sebuah kitab tafsir mengandung banyak corak (minimal tiga corak) dan
kesemuanya tidak ada yang dominan karena porsinya sama, maka inilah yang disebut corak
umum.
Adapun tafsir Jalalain karena uraiannya sangat singkat dan padat dan tidak tampak gagasan ide-
ide atau konsep-konsep yang menonjol dari mufasirnya, maka jelas sekali sulit untuk
memberikan label pemikiran tertentu terhadap coraknya. Karena itu pemakaian corak umum
baginya terasa sudah tepat kerena memang begitulah yang dijumpai dalam tafsiran yang
diberikan dalam kitab tersebut. Itu artinya bahwa dalam tafsirnya tidak didominasi oleh
pemikiran-pemikiran tertentu melainkan menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an sesuai dengan
kandungan maknanya.

4. Karakteristik Tafsir Jalalain


Kitab ini terbagi atas dua juz. Juz yang pertama berisi tafsir surat al-Baqarah sampai surat al-Isra'
yang disusun oleh Jalaluddin al-Suyuthi, sedangkan juz yang kedua berisi tafsir surat al-Kahfi
sampai surat al-Naas ditambah dengan tafsir surat al-Fatihah yang disusun oleh Jalaluddin al-
Mahalli. Untuk mengetahui karakteristik tafsir ini perlu diperbandingkan dengan tafsir lain yang
bercorak sama. Berikut disuguhkan perbandingan dengan Tafsir Marah Labid karya Nawawi al-
Bantani dan juga Tafsir al-Baidhowi karya Imam Baidhowi.
• (‫لن وبال خداعهم راجع اليهم فيفتضحون فى الدنيا باطلعا ا نبيه على ما ابطنوه ويعاقبون فى )وما يخادعون إل أنفسهم‬
‫الخرة )وما يشعرون( يعلمون أن خداعهم لنفسهم والمخادعة هنا من واحد كعاقبت اللص وذكر ا فيها تحسين وفى قرأة‬
‫وما يخدعون‬
• (‫أى يكذبون )إل أنفسهم( وهذه الجملة حال من ضمير يخادعون أى يفعلون ذلك والحال أنهم ما يضرون )وما يخدعون‬
‫بذلك ال أنفسهم فان دائرة فعلهم مقصورة عليهم وقرأ عاصم وابن عمر وحمزة والكسائ وما يخدعون بفتح الياء وسكون‬
‫الخاء وفتح الدال وقرأ الباقون بضم الياء وفتح الخاء مع المد وكسرالدال ول خلفا فى قوله يخادعون ا فالجميع قرأ بضم‬
‫الياء وفتح الخاء وباللف بعدها وكسرالدال وأما الرسم فبغير ألف فى الموضعين )وما يشعرون( أن ا يطلع نبيه على كذبهم‬
• (‫قرأة نافع وابن كثير وأبى عمر والمعنى ان دائرة الخداعا راجعة اليهم وضررها يحيق بهم أو )وما يخادعون إل أنفسهم‬
‫أنهم فى ذلك خدعوا أنفسهم لما غروها بذلك وخدعتهم أنفسهم حيث حدثتهم بالماني الفازعة وحملتهم على مخادعة من ل‬
‫يخفى عليه خافية وقرأ الباقون وما يخدعون لن المخادعة ل تتصور ال بين اثنين وقرئ ويخدعون من خدعا ويخدعون‬
‫بمعنى يختدعون ويخدعون ويخادعون على البناء للمفعول ونصب أنفسهم بنزعا الخافض والنفس ذات الشيء وحقيقة ثم قيل‬
‫للروح لن النفس الحي به وللقلب لنه محل الروح أو متعلقة وللدم لن قوامها به وللماء لفرط حاجتيا اليه وللرأى فى قولهم‬
‫فلن يؤامر نفسه لنه ينبعث عنها أو يشبه ذاتا مرة وتشير عليه والمراد بالنفس ههنا ذواتهم ويحتمل حملها على أرواحهم‬
‫وآرائهم )وما يشعرون( ل يحسون بذلك لتمادى غفلتهم جعل لحوق و بال الخداعا ورجوعا ضرره اليهم فى الظهو‬
‫وكالمحسوس الذى ل يخفى ال على مؤوفا الحواس والشعور الحساس ومشاعرالنسان حواسه وأصله الشعر ومنه الشعار‬
Salah satu sisi yang ditampilkan dari ketiga contoh di atas adalah masalah Qira'at. Tetapi jika
dilihat lebih lanjut terjadi perbedaan dalam penyajiannya. Jika dibandingkan dengan kedua tafsir
di bawahnya, pembahasan yang ada dalam Tafsir Jalalain lebih ringkas, bahkan cenderung
sepintas lalu. Rupanya Suyuthi tidak mau terjebak dalam pembicaraan yang bertele-tele, cukup
hanya dengan menunjukkan adanya perbedaan qira'at. Sebagaimana yang ia sampaikan dalam
muqaddimahnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa karakteristik Tafsir Jalalain jika
dibandingkan dengan tafsir lain yang bercorak sama adalah ungkapannya yang simpel dan padat
dengan gaya bahasa yang mudah. Tujuannya adalah agar dapat dicerna dengan mudah oleh para
pembaca tafsir. Hingga pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa antara al-Qur'an dengan
tafsirannya hampir sama. Bahkan, menurut pengarang kitab Kasyf al-Dzunun, ada sebagian
ulama Yaman yang mengatakan bahwa hitungan huruf al-Qur'an dengan tafsirannya sampai surat
al-Muzzammil adalah sama. Baru pada surat al-Muddatstsir dan seterusnya tafsir ini melebihi al-
Qur'an. Yang menarik dari kitab ini adalah penempatan tafsir Surat al-fatihah yang diletakkan
paling akhir. Kedua mufassir juga tidak berbicara tentang basmalah sebagaimana tafsir-tafsir
lainnya. Tidak ada keterangan yang menyebutkan tentang alasan tidak ditafsirkannya basmalah.

C. Penutup
Budaya tafsir-menafsir merupakan bagian dari peradaban Islam. Budaya ini yang menjadikan
intelektual Islam menjadi terangkat namanya dalam kancah internasional. Salah satu tafsir yang
populer di Indonesia adalah tafsir Jalalain. Tafsir ini begitu populernya, sehingga hukumnya
"wajib" mengkaji tafsir ini di kalangan pesantren. Kesemuanya itu tak terlepas dari isi tafsir itu
sendiri yang isinya singkat dan padat serta para mufasirnya yang begitu karismatik.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ghofur Saiful , Profil Para Mufasir al-Qur'an, Yogyakarta, Puataka Insan Madani, 2008.
Baidan, Nashruddin, Metode Penafsiran Al-Qur'an, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002.
, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005.
Al-Baidhowi, Abdullah bin 'Umar bin Muhammad , Tafsir al-Baidhowi, jilid I, Beirut, Dar
Shadir, t.th.
Al-Dimasyqy, Ibnu Katsir , Tafsir al-Qur'an al-'Adzim, juz 1, Beirut, Maktabah al-Nur al-
Ilmiah,1991.
Al-Dzahabi, Muhammad Husain , al-Tafsir wa al-Mufassirun, juz 1, Beirut, 1976.
Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli, Tafsir al-Qur'an al-'Adzim, Dar Ihya' al-Kutub
al-'Arabiyah, t.th.
Nawawi al-Jawi, Muhammad , Marah Labid, Dar Ihya al-Kutub al-'Arabiyah, t.th.
Al-Qusthunthonni, Mushtafa bin Abdillah , Kasyf al-Dzunun, juz 1, Beirut, Dar al-Kutub
al-'Ilmiyah, 1992.
FAKHR AL-DIN AL-RAZIY,

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Mnahij Al-Mufassirin

Oleh:

MUHYI ABDURROHIM (082092011)

yang dibina oleh :

Dr. KH Abdullah M.Hi.

JURUSAN DAKWAH / TAFSIR HADITS

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI

JEMBER (STAIN)

2012

BABI PENDAHULUAN
Sejak zaman Rasulullah saw, sebenarnya sudah dikenal dua cara penafsiran, yaitu
penafsiran berdasarkan petunjuk wahyu, dan penafsiran berdasarkan ijtihad atau ra'y. Rasulullah
saw sendiri sesungguhnya sudah menafsirkan al-Qur’an berdasarkan ijtihad. Akan tetapi, ijtihad
Rasullah itu tentunya ditopang oleh wahyu, yaitu akan dikoreksi oleh wahyu Allah sekiranya
ijtihad beliau tidak tepat. Oleh karena itu, tidak ada kekhawatiran bahwa penafsiran beliau yang
bersifat ra'y akan mengalami penyimpangan.
Di masa sahabat, sumber untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an, di samping ayat itu
sendiri, juga riwayat dari Nabi dan ijtihad mereka meskipun dalam ruang lingkup yang terbatas.
Akan tetapi perlu dicatat bahwa para sahabat sesungguhnya sangat hati-hati. Mereka tidak berani
menafsirkan ayat-ayat yang memang tidak mereka ketahui maknanya. Dengan kata lain, mereka
tidak berusaha untuk membuat penafsiran berdasarkan ra'y sendiri. Kehati-hatian untuk
menafsirkan al-Qur’an berdasarkan ra'y juga tetap dipraktekkan oleh para tabi'in. Mereka tetap
konsisten dengan sikap sahabat. Dengan demikian, corak penafsiran ra'y memang belum
berkembang pesat sampai pada akhir abad pertama hijriyah.
Pada abad-abad selanjutnya, usaha penafsiran berdasarkan ra'y mulai berkembang, timbul
seiring dengan perkembangan Islam di bidang politik yang ditandai dengan meluasnya wilayah-
wilayah Islam. Dalam ekspansi ini, umat Islam bertemu dengan berbagai problema yang
membutuhkan pemecahan-pemecahan berdasarkan al-Qur’an dan hadis. Di samping itu, umat
Islam bertemu pula dengan beraneka macam budaya yang tentunya turut mempengaruhi mereka
dalam memahami al-Qur’an. Karena problema-problema yang ditemui tidak selalu tersedia
jawabannya secara eksplisit dalam al-Qur’an dan hadis, maka para ulama pun melakukan ijtihad
dengan memberikan interpretasi rasional terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Dengan demikian,
penafsiran rasional terhadap ayat al-Qur’an adalah hal yang tak terhindarkan sesuai dengan
perkembangan hidup dan akal pikiran manusia.
Perkembangan ilmu-ilmu keislaman yang tumbuh sejalan dengan perkembangan dan
perluasan Islam, mempengaruhi pula perkembangan corak dan metode tafsir. Setiap mufassir
yang memiliki bidang keahlian tertentu cenderung menafsrikan al-Qur’an berdasarkan latar
belakang keahlian dan ilmu yang dimilikinya. Muncullah kemudian corak tafsir yang bermacam-
macam. Misalnya, tafsir yang bercorak fiqih, filsafat, tasawwuf, keilmuan, kebahasaan, teologis,
dan sebagainya.
Susunan dan bahasa al-Qur’an merupakan salah satu alasan tersendiri mengapa
penafsiran dan penggalian terhadap makna ayat-ayatnya justru menjadi tugas umat yang tak akan
pernah berakhir. Hal ini ditopang oleh keyakinan umat Islam bahwa al-Qur’an adalah kitab suci,
teks-teksnya sacral, yang akan berlaku abadi sepanjang masa. Oleh karena itu, ia memerlukan
interpretasi dan reinterpretasi secara kontinyu mengikuti perkembangan zaman. Jelasnya, selalu
dibutuhkan adanya reaktualisasi nilai-nilai al-Qur’an sesuai dengan dinamika al-Qur’an sendiri.
Tafsir, sebagai usaha memahami dan menerangkan maksud dan kandungan al-Qur’an,
telah mengalami perkembangan yang cukup bervariasi. Sebagai hasil karya manusia, terjadinya
keanekaragaman dalam corak penafsiran adalah hal yang tak dapat dihindarkan. Berbagai faktor
dapat menimbulkan keragaman itu : perbedaan kecenderungan, interest, dan motivasi mufassir;
perbedaan misi yang diemban; perbedaan kedalaman dan ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan
masa dan lingkungan yang mengitari; perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapi dan
sebagainya. Semua ini menimbulkan berbagai corak penarsiran yang kemudian berkembang
menjadi aliran tafsir yang bermacam-macam, lengkap dengan metodenya sendiri-sendiri.

Salah satu pemikir muslim yang ikut menyumbang khazanah tafsir al-Qur’an adalah
Fakhruddin al-Razi, seorang ilmuwan yang menguasai berbagai bidang keilmuan secara
mendalam. Salah satu karya fenomenalnya adalah Mafatih al-Ghaib, sebuah kitab tafsir dengan
gaya pembahasan yang berbeda dengan kitab-kitab tafsir sebelumnya, yang dikenal sebagai kitab
tafsir yang mempunyai cirri-ciri penafsiran bi al-ra’y. Untuk mengenal lebih jauh biografi
Fakruddin al-Razi dan karakter, kelebihan dan kekurangan kitab Mafatih al-Ghaib, kami susun
tulisan ini sebagai tugas mata kuliah “ Manahij al-Mufassiri ” dengan sistematika sebagai
berikut.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Fakruddin al-Razi
Fakruddin al-Razi adalah salah seorang ulama’ yang terkenal pada abad ke-6 H. dari
kalangan ahlu sunnah. Dia dikenal sebagai ulama’ yang banyak melontarkan ide-ide yang
dikembangkan oleh Imam Ash’ary dan berpegang pada mahdzab Imam asy-Syafi’i. Dia terkenal
di masanya dan bahkan sampai sekarang, dan juga selalu disebut-sebut namanya baik dikalangan
mutakallim (Ahli ilmu kalam) dan ahli lughah apalagi dikalangan ahli tafsir. Nama lengkapnya
adalah Abu Abdillah, Muhammad bin ‘Umar bin Husain bin Hasan bin ‘Ali, al-Tamimy, al-
Bakry, al-Tabristany, al-Razy. Gelarnya adalah Fakhr al-Din, dia juga dikenal dengan nama Ibn
al-Khatib al-Safi‘iy. dia lahir pada bulan Ramadan tahun 544 H. di kota al-Ray (Kota yang
terletak di wilayah selatan Iran dan sebelah timur laut Teheran) dan wafat pada tahun 606 H. di
al-Rayyu[1].
Sekian banyak para ulama yang terkenal dan kita kenal, mayoritas mereka itu selalu
keluar dari negerinya demi untuk menuntut ilmu, sama halnya seperti Imam al-Razi mengalami
perjalanan yang panjang dalam menuntut ilmu. Dari negerinya Al-ray berangkat ke negeri
Khurasan, yang mana di Khurasan itu banyak ulama besar. Muhammad ibn Muhammad Abu
Shahbah, dalam bukunya Israiliyyat wa al-Mawdu'at fi Kutub al-Tafsir wa al-Hadith
menuturkan, bahwa dari Khurasan atau lebih dikenal lagi dengan Bukhara, Imam al-Razi
melanjutkan perjalanannya ke Iraq, terus ke Syam. Namun lebih banyak waktunya digunakan di
Khawarzim untuk belajar memperbanyak ilmunya, kemudian beliau berangkat ke negeri kota
Hirah di daerah Afganistan sampai wafat di sana[2].
Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri Diya’ al-Din abu al-Qasim Umar al-Razi, atau
yang dikenal dengan Khatib al-Ray, ayahnya merupakan salah satu murid dari Abu Muhammad
al-Baghawy. Beliau adalah seorang tokoh, ulama’ dan pemikir yang dikagumi oleh masyarakat
al-Ray, terutama dalam bidang sastra, fiqh, ushul fiqh, haditS, teologi dan tasawuf. Selain itu
Fakhruddin al-Razi belajar ilmu kalam dari al-Majd al-Jily salah satu murid Imam Ghazaly-, ia
juga belajar dari al-Kamal al-Sam‘any dan beberapa guru lainnya. Selain sebagai seorang
intelektual yang sangat produktif, Fakhr al-Din al-Razi merupakan seorang da’i yang sangat
handal dan kondang. Ia tidak hanya mahir berdakwah dengan berbahasa Arab, tapi juga lihai
berdakwah dengan bahasa asing (persia)[3].
Fakhruddin al-Razi adalah seorang intelektual muslim yang tersohor dan menguasai
banyak disiplin keilmuan. Dia adalah pakar tafsir, fiqh, ushul fiqh, ilmu falak, ilmu alam dan
ilmu akal. Karena ketenarannya itulah, dia sering menerima berbagai kunjungan dari para ulama’
yang datang dari berbagai negara.
Dia mempelajari ilmu-ilmu diniah dan ‘aqliah sehingga sangat menguasai ilmu logika
dan filsafat serta menonjol dalam bidang ilmu kalam[4]. Mengenai ilmu-ilmu tersebut dia telah
menulis beberapa kitab, sehingga dia juga dipandang sebagai seorang filosof pada masanya. Dan
kitab-kitabnya menjadi rujukan penting bagi mereka yang menamakan dirinya sebagai filosof
Islam.
B. Karya-karya Fakhruddin al-Razi
Fakhruddin al-Razi adalah seorang ulama’ besar yang memiliki kualifikasi keilmuan yang
sangat luas. Selama hidupnya dia telah menyusun sejumlah karya, baik yang langsung ditulis
oleh Fakhruddin sendiri atau karya yang ditulis oleh muridnya, hasil dari beberapa kuliah yang
pernah disampaikannya.
Para ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah buku yang telah dikarang oleh Fakhruddin
al-Razi. Menurut Abdul Halim Mahmud, selama hidupnya, Fakhruddin al-Razi berhasil
menyusun lebih dari 200 buah karya ilmiah dalam berbagai ilmu. Sementara Abdul Aziz Madjub
menyebutkan bahwa ada 97 judul yang dapat ditemukan, baik dalam bentuk buku, maupun
masih dalam bentuk manuskrip. Dari sekian banyak tulisan imam al-Razi ada beberapa
karangannya yang banyak dipakai oleh umat dan banyak yang mengambil manfaat dari
karangannya tersebut. Diantara karangan Fakhruddin al-Razi adalah :
1. Mafatih al-Ghayb (tafsir al-Qur'an).
2. Asrar al-Tanzil wa Anwar al-Ta'wil (tafsir)
3. Ihkam al-Ahkam
4. al-Muhassal fi Usul al-Fiqh
5. al-Burhan fi Qira'ah al-Qur'an
6. Durrah al-Tanzil Wa Ghurrat al-Ta'wil fi Ayat al-Mutashabbihat
7. Sharh al-Isharat wa al-Tanbihat li Ibn Shina
8. Ibtal al-Qiyas
9. Sharh al-Qanun li Ibn Shina
10. Al-Bayan wa al-Burhan fi Raddi 'ala Ahli al-Dhaiqi wa al-Tughyan[5]
11. Ta'jiz al-Falasifah
12. Risalat al-Huduth
13. Risalat al-Jauhar
14. Muhassalu Afkar al-Mutaqaddimin wa al-Muta'akhkhirin min al-Hukama' wa al-
Mutakallimin fi 'Ilm al-Kalam
15. Sharh al-Mufassal li al-Zamakhshari
C. Mengenal Tafsir Mafatih al-Ghaib
Mafatih al-Ghaibn-ya al-Razi. Tafsir ini, punya tiga nama sekaligus, Mafatih al-Ghaib,
Tafsir al-Kabir, dan tafsir al-Fakhr al-Razi. Simpang siurnya nama tafsir ini, karena si penulis
tidak sempat menamakannya sendiri. Berbeda dengan al-Qurthubi, dan Nawawi al-Bantani yang
kebetulan sempat menyebut sendiri nama tafsirnya. Al-Qurthubi menyebut sendiri tafsirnya
dengan nama Jami’ al-Ahkam dan Nawawi al-Bantani memberi nama tafsirnya Marah Labid.
Kasus serupa ini juga terjadi pada tafsir-tafsir lainnya, seperti tafsir Ibn Katsir misalnya.
Walaupun Fakhruddin al-Razi banyak mendalami masalah-masalah filsafat dan ilmu
pengetahuan Yunani, akan tetapi hal itu tidak menghalangi dan tidak menyurutkan perhatiannya
terhadap penggalian berbagai macam ilmu pengetahuan dari al-Qur’an. Yang pada akhirnya dia
mengerahkan segala kemampuan yang ada dan mengerahkan segenap kehidupannya untuk
mempelajari dan mendalami penafsiran al-Qur’an. Dalam hal ini dia berhasil menulis kitab
Tafsir al-Kabir atau Mafatih al-Ghayb di periode akhir hidupnya[6].
Kitab ini merupakan kitab tafsir bi al-ra’yi yang sangat besar dan luas pembahasannya.
Kitab ini sudah dicetak berulang kali di berbagai Negara dan sering menjadi bahan kajian umat
islam di seluruh penjuru dan merupakan kitab tafsir yang banyak dirujuk oleh para ulama’ dalam
menafsirkan a-Qur’an, terutama di kalangan ahli ilmu pengetahuan, ketika mereka berusaha
mengungkapkan rahasia kebesaran dan keagungan Tuhan yang tersirat di seluruh alam. Kitab ini
dicetak dalam 16 jilid berukuran besar yang terdiri dari tiga puluh dua juz.
Tafsir al-Kabir ini ternyata bukan berasal dari beliau semuanya akan tetapi ada dua orang
ulama yang menyempurnakan setelah beliau wafat. Itu semua disebabkan karena sebelum tafsir
itu sempurna malaikat maut sudah mengambil nyawa beliau. Makanya beliau hanya sempat
menafsirkan al-Qur'an sampai surat al-Anbiya' dan setelah itu dilanjutkan oleh Imam Shihab al-
Din al-Hauby tahun 639 Hijriyah, di Damashkus, dan setelah itu dilanjutkan oleh Imam Najm al-
Din al-Makhzumy al-Qamuly. Pada tahun 727 Hijriyah di mesir[7].
Ibnu Qahdi Shaibah mengatakan: "Sesungguhnya Fakhruddin al-Razi tidaklah
menyempurnakan tafsirnya". Ibnu Hajar juga berkomentar tentang ini. Tafsir Imam Fakhruddin
al-Razi disempurnakan oleh Najm al-Din al-Qamuly.
Husein al-Dzahabiy mengungkapkan bahwa walaupun tafsir al-Razi disempurnakan oleh
ulama setelahnya namun tidak ditemukan perbedaan dalam menafsirkannya karena manhaj dan
jalur ketiga ulama ini sama walaupun berbeda zaman. Maka Si pembaca tidak akan bisa
membedakan mana yang asli dari Fakhruddin al-Razi dan mana yang ditambah oleh ulama yang
setelahnya itu. Bahkan dari awal hingga akhir kitab tafsir ini terpola dalam model dan metode
yang sama, sehingga sulit sekali untuk membedakan antara yang asli dan yang dilengkapi, serta
tidak gampang menentukan batas sebenarnya yang telah ditulis oleh Fakhruddin sendiri dan
batas yang ditulis oleh orang yang menyempurnakannya[8].
D. Metode dan Kecenderungan Tafsir Mafatih al-Ghaib
a. Sumber Penafsiran
Kitab tafsir Mafatih al-Ghayb tergolong tafsir bi al-ra’yi, bi al-ijtihad, bi al-Dirayah,
Atau bi al-Ma'qul, karena penafsirannya didasarkan atas sumber ijtihad dan pemikiran terhadap
tuntutan kaidah bahasa 'arab dan kesusastraan, serta teori ilmu pengetahuan. Pendapat ini benar
adanya, sebagaimana yang telah penulis telusuri dalam karya ini, Fakhruddin al-Razi banyak
mengemukakan ijtihadnya mengenai arti yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an disertai
dengan penukilan dari pendapat-pendapat ulama’ dan fuqaha’ yang lain. Dia memberikan porsi
yang teramat luas terhadap gerak pikirannya dalam Tafsir ini. Sehingga penulis dapat
mengatakan bahwa Tafsir Mafatih al-Ghayb sebagai tafsir bi al-ra’yi. Tafsir Mafatih al-Ghayb
dimasukkan dalam kategori kitab tafsir bil al-ra’yi yang terpuji (al-tafsir al-mamduh).
Dalam menafsirkan ayat demi ayat, Fakhruddin al-Razi memberikan porsi yang terbatas
untuk Hadits, bahkan ketika dia memaparkan pendapat para fuqaha’ terkait perdebatan seputar
fikih, dia memaparkannya dan mendebatnya tanpa menjadikan Hadist sebagai dasar pijak.
Ini adalah salah satu kitab tafsir bi al-ra’yi yang paling komprehensif, karena
menjelaskan seluruh ayat al-Qur’an. Sang pengarang terlihat berusaha menangkap substansi
(ruh) makna yang terkandung dalam teks al-Qur’an. Al-Razi, untuk menggapai tujuan (tafsir)-
nya, yaitu menetapkan keistimewaan akal dan ilmu di hadapan al-Qur’an, membersihkan dari
kerancuan fikiran dan kedangkalan akal, serta menegaskan kebenaran riwayat (teks) dengan
kedalaman fikiran”.Contoh penafsiran bi al-ra’yi Fakhruddin al-Razi dalam karyanya adalah
surat al-nisa’ ayat ke 3, yang berkenaan dengan poligami, Allah swt berfirman :
‫الياة‬, ‫وان خفتم ال تقسطوا في اليتمى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلثا ورباع‬
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang
yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi
: dua, tiga atau empat”.
Al-Razi menganalisa ayat diatas seluas-luasnya, menurut hemat penulis ada tujuh
pembahasan atau pokok masalah, Cuma yang menarik penulis adalah ketika Al-Razi sampai
pokok masalah keenam, pada ayat “ ‫ “ مثنبببى وثلثا وربببباع‬dalam penafsiranya Al-Razi,
menampilakan salah satu pendapat bahwa, poligami tidak terbatas pada emapt istri saja, akan
tetapi menurut analisa teks, lanjut Al-Razi adalah Sembilan bahkan delapan belas istri, meskipun
ahirnya Al-Razi sendiri yang membantah pendapat tersebut.
Para ulama fiqih menurut al-Razi, dalam memutuskan istri maksimal adalah empat itu
lemah, denga ndua alasan:
1). Ayat diatas tidak membatasi apapun karena masuk dalam katagori kalam khabar, semsntara
hadits Ghailan dan Naufal bin Mu’awiyah yang diperintah Nabi saw. poligami dibatasi pada
emapt istri saja, adalah katagori hadits Gharib, dalam qaidah ilmu Ushul Fiqih itu tidak boleh.
2). Perintah Rasulullah kepada Ghailan dan Naufal bin Mu’awiyah bisa saja disebabkan factor-
faktor lain, seperti ada ikatan kesaudaraan baik nasab atau radla’, (susuan), kesimpulanya
kemungkinan-kinan ini melemahkan hdits diatas, maka hadits itu tidak menasakh al-quran.
Ijma’ ulama’ yang memutuskan lanjut Al-Razi, istri maksimal empat, ini adalah pendapat
yang kuat, akan tetapi ada dua pertanyaan dengan Ijma’ ulama’ tersebut,
1). Ijma’ ulama’ tidak bisa menaskh nash al-Quran, kenapa Ijma’ pembatasan istri maksimal
adalah empat, kok bisa menaskh ayat diatas?
2). Sebagian kecil umat Islam ada yang memperktekkn beristri lebih dari empat, sedangkan Ijma’
dengan satu atau dua orang tidak setuju bukanlah ijma’, apakah itu masi dikatakan Ijma’ ?
Al-Razi sendiri yang membantah pendapat tersebut, dia menjelaskan: jawabn dari
pertanyaan yang pertama adalah: Ijma’ menyingkap dari hasil yang menasakh di zaman Nabi
saw. artinya dizaman Nabi saw.tidak ada satupun sahabat yang beristri lebih dari empat, sampai
pada tabi’in dan tabi’ al- tabi’in, jawabn dari pertanyaan yang kedua: Golongan yang tidak setuju
dengan ijma’ulama diatas adalah ahli bid’ah, jadi tidak ada pengaruhnya.
Meskipun tafsir al-Razi dianggap oleh sebagian besar ulama’ sebagai contoh yang
sempurna dari corak tafsir bi al-ra’yi, namun hal itu tidaklah berarti bahwa dalam tafsir ini tidak
didapatkan dasar-dasar riwayat atau manqul. sesungguhnya setiap pengamat tafsir al-Razi dapat
menemukan bahwa di dalamnya dipenuhi dengan pengungkapan riwayat-riwayat yang diambil
dari mufassir-mufassir pendahulunya. Hanya saja al-Razi tidak begitu saja menerima riwayat-
riwayat tersebut tanpa kritik.
b. Cara Penjelasan
Adapun cara penjelasannya, kitab ini bisa dikategorikan sebagai kitab tafsir muqarin,
karena Fakhruddin al-Razi dalam penafsirannya sering mengkomparasikan pendapatnya atau
pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama' lainnya. Nama beberapa ulama' selain sahabat
dan tabi'in dalam berbagai disiplin ilmu yang sering disebutkan pendapatnya dan dikomparasikan
antara lain adalah: al-Syafi‘i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hambal, al-Ash‘ari, al-Ghazali,
kelompok Mu‘tazilah dan Ash‘ariyah, Hasan al-Basri, al-Zamakhshari, al-Farra', Ibnu Katsir,
‘Ashim dan lain-lain.
Seperti ketika membahas tentang ta’awudz, al-Razi mengkomparasikan beberapa
pendapat, bahwa sebagian besar ulama’ sesungguhnya mereka sepakat membaca ta’awudh ( ‫أعوذ‬
‫ ) بببال مببن الشببيطان الرجيببم‬sebelum membaca ‫“ "الفاتحببة‬. tetapi-lanjut al-Razi, Daud al-Isfahany
mengatakan bahwa itu dibaca setelah ‫( ”"الفاتحة‬sebelum ayat lain). Demikian juga pendapat dalam
salah satu riwayat dari Ibn Sirrin. Di sini al-Razi menghadirkan riwayat dari Jabir:
‫ و سبببحان ابب وأصببيل ثلثا‬,‫ والحمد ل كببثيرا ثلثا مببرات‬,‫ ا أكبر كبيرا ثلثا مرات‬:‫م حين افتتح الصلةا قال‬.‫أن النبي ص‬
.‫ أعوذ بال من الشيطان الرجيم من همزه ونفخه ونفثه‬:‫ ثم قال‬, ‫مرات‬
Selanjutnya al-Razi memperjelas status membaca ta’awudz dengan surat an-Nahl ayat 98,
Allah swt berfirman :
)98: ‫فإذا قرأت القران فاستعذ بال من الشيطان الرحيم)النحل‬
“Apabila kamu membaca al-Qur’an, maka hendaklah kamu meminta perlindungan dari
Allah dari syetan yang terkutuk”. (Q.S An-Nahl: 98)
Kemudian Fakhruddin al-Razi juga menggunakan pendekatan dengan
mengkomparasikan ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang masalah yang sama sekalipun
redaksinya berbeda atau redaksinya mirip tetapi kandungannya berlainan.
c. Keluasan Penjelasan
Ditinjau dari segi keluasan penjelasan, tafsir Mafatih al-Ghayb bisa di kategorikan
sebagai kitab tafsir yang sangat luas penjelasannya dan mendetail dan rinci (itnaby wa tafshili).
Bahkan mungkin bisa dikatakan “terlalu luas” untuk ukuran kitab tafsir. Karena dalam kitab
tersebut terdapat berbagai pembahasan mulai kebahasaan, sastra, fikih, ilmu kalam, filsafat, ilmu
eksakta, fisika, falak dan lain-lain.
Ketika penulis mencermati kitab tafsir ini, penulis mendapatkan penafsiran yang begitu
luas, satu ayat dengan 3-7 masail dan satu surat dijelaskan dengan 8-10 fasl, sperti ayat poligami
diatas, tentulah ini cukup menggambarkan keluasan pembahasan dalam penafsiran kitab Mafatih
al-Ghayb, sehingga menurut hemat penulis sangatlah pantas kitab tafsir ini dikategorikan sebagai
kitab tafsir dengan metode itnaby wa tafsili.
d. Sasaran dan Tertib Ayat yang Ditafsirkan
Tafsir Mafatih al-Ghaib disusun oleh Fakhruddn al-Razi secara berurutan ayat demi ayat
dan surat demi surat, semuanya sesuai dengan urutan yang ada dalam mushaf, dimulai dari
penafsiran terhadap surat al-Fatihah dan al-Baqarah, dan seterusnya sampai surat al-Nas.
Karena disusun secara berurutan ayat demi ayat maka kitab tersebut dikategorikan tahlily. Dan
karena disusun berurutan surat demi surat maka kitab tersebut bisa dikategorikan mushafy.
e. Kecenderungan
Meskipun dalam tafsirnya dia membahas berbagai hal dalam berbagai bidang, ada
beberapa pembahasan yang mendapatkan porsi cukup besar jika dibandingkan dengan
pembahasan dalam masalah lain. Pembahasan yang mendapatkan porsi cukup besar tersebut
adalah pembahasan tentang filsafat, ilmu kalam, dan ilmu alam semisal astronomi geografi dan
lainnya. Hal ini menyebabkan Tafsir Mafatih al-Ghayb dikategorikan sebagai tafsir 'asri, ilmi, al-
I’tiqad dan falsafi.
Sebagai penganut ilmu kalam aliran Asy‘ari, dia sering menghadirkan perdebatan
kelompoknya dengan kelompok Mu‘tazilah, Al-Raziy menghadirkan perdebatan tersebut dengan
tujuan mengungkapkan kelemahan argumen-argumen kelompok Mu‘tazilah. dia menentang
keras dan membantahnya dengan segala kemampuan yang ada. Hanya saja, Fakhruddin al-Razi
dalam perdebatan-perdebatan tersebut, acap kali tidak memberikan bantahan yang seimbang
dengan argumen-argumen Mu‘tazilah yang dia paparkan.
Kalau kita membaca pembahasan filsafat dan ilmu kalam kitab tersebut, kita akan mampu
menangkap jati diri Fakhruddin al-Razi sebagai seorang filusuf handal dan sebagai ulama ilmu
kalam yang banyak terpengaruh oleh tokoh-tokoh besar semisal al-Ghazali, al-Juwaini dan al-
Baqillani.
Selanjutnya, dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyyah, Fakhruddin selalu berusaha
mengungkapkan kebesaran Tuhan, sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur’an sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan yang ada, karena dominannya pembahasan pada permasalahan
ini, Tafsir al-Kabir sering dipandang sebagai ensiklopedi ilmiah tentang ilmu-ilmu eksakta dan
ilmu alam. Hal ini adalah corak baru di luar kebiasaan para mufassir pada masa itu. Sehingga
sebagian ulama’ telah menyebut Fakhruddin al-Razi sebagai pelopor penafsiran bercorak ilmi.
Sedangkan ditinjau dari segi bahasa dan sastra yang ditonjolkan, Tafsir Mafatih al-Ghaib
ini dikategorikan sebagai kitab tafsir bercorak adabi atau lughawi. Jika kita membaca kitab tafsir
karya Fakhruddin al-Razi ini, pada bagian awal-awal penafsiran ayat kita akan menemukan
pemaparan penafsiran dengan kaidah dan pilihan bahasa yang tinggi. Beliau banyak
melibatkan ilmu balaghah dalam mengungkap maksud ayat-ayat yang ditafsirkannya. Hal ini
memanglah wajar, karena Imam al-Razi adalah salah satu ulama’ tafsir yang sangat dalam
ilmunya dalam balaghah dan mantiq. Beliau tidak pernah melewatkan permasalahan-
permasalahan yang berkaitan dengan gramatika dan sastra.
Misalnya ketika Fakhruddin al-Razi menafsirkan ayat pertama surat al-Fatihah ‫بسم ا‬
‫ الرحمببن الرحيببم‬, beliau menggunakan 54 halaman, dimana penafsiran tersebut tidak lepas dari
pembahasan teks dengan menggunakan kaidah-kaidah bahasa seperti ilmu nahwu, sharaf dan
balaghahnya, juga untuk pembahasan dari segi keilmuan yang lain. Untuk keseluruhan surat al-
Fatihah, al-Razi menghabiskan 199 halaman. Hal ini membuktikan betapa dalamnya ilmu
balaghah-gramatika dan sastra yang dimiliki al-Razi.
E. Keistimewaan Tafsir Mafatih al-Ghaib
Dari sekian banyak ulama yang meneliti tentang tafsirnya Al-Razi, maka ditemukanlah
beberapa keistimewaan yang terdapat dalam tafsirnya antara lain:
1) Dia sangat mengutamakan tantang munasabah (korelasi) surat dan ayat dengan keilmuan yang
berkembang. Bahkan tak jarang ia menyebutkan lebih dari satu munasabah untuk satu ayat
tertentu atau surat tertentu.
2) Dia bisa menghubungkan tafsir itu dengan ilmu riyadiyah (matematika) dan falsafah, serta
ilmu-ilmu lain yang dianggap baru di kalangan agama pada masanya.
3) Dia bisa menjelaskan tentang akidah yang yang berbeda dan bisa mencocokkan di mana
perbedaan itu.
4) Dia mengemukakan tentang balaghah al-Qu'an dan menjelaskan beberapa kaidah usul.
F. Kritik terhadap Tafsir Mafatih al-Ghayb
Kitab ini juga tidak luput dari kritik para ulama’ dari zaman dulu sampai sekarang.
Beberapa kritik tersebut antara lain:
1). Fakhruddin al-Razi terlalu banyak mengumpulkan masalah dan pembahasan dalam tafsirnya,
sampai pembahasan yang tidak bersangkut-paut dengan ayat atau surat yang ditafsirkan pun ia
sebutkan. Bahkan lebih tegas lagi, beberapa ulama’ mengatakan bahwa “di dalamnya terdapat
segala sesuatu kecuali tafsir.”
2). Dalam tafsir tesebut, dia terlalu banyak mencantumkan hal-hal yang tidak berhubungan
dengan tafsir, secara berlebihan.
3). At-Tufi (w. 716 H/1316 M.) mengatakan bahwa banyak kekurangan yang ditemukan dalam
kitab Tafsir al-Kabir.
4). Rasyid Ridha dalam tafsir al-Mannar banyak melontarkan kritikan terhadap cara penafsiran
ayat al-Qur’an yang dilakukan Fakhruddin, diantaranya Fakhruddin al-Razi adalah seorang ahli
tafsir yang sangat sedikit pengetahuannya tentang sunnah, pendapat para sahabat, tabi’in dan
pendapat tokoh-tokoh salaf. Menurut penulis sedikitnya sunnah Rasulullah saw atau pendapat
sahabat yang dipakai al-Razi bukan karena sedikit pengetahuannya, akan tetapi karena luasnya
ra’yu yang dia gunakan sehingga ada kesan sunnah yang digunakan hanya sedikit sekali.
Diantara beberapa kritikan yang menghujat metode yang dilakukan oleh al-Razi ini
sebenarnya telah diketahui oleh al-Razi sendiri ketika masih hidup. Bahkan dia pernah
mengatakan:
“Kalau engkau menghayati kandungan yang ada dalam al-Qur’an secara cermat dan
benar, maka engkau nanti akan yakin bahwa pendapat yang menghujat metode yang saya
lakukan adalah pendapat yang salah”.
Wallahu A’lam bi al-Showab.

BAB III
PENUTUP
Dari uraian-uraian yang telah dibahas di atas , maka penulis dapat menyimpulkan
beberapa hal :
1. Kitab tafsir Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razi ini adalah termasuk kitab al-tafsir bi
al-ra’yi al-mahmud/al-mamduh (yang diperkenankan) dengan ukuran yang besar dan mempunyai
ciri khas pembahasan yang luas.
2. Metode Tafsir Fakhruddin al-Razi (Mafatih al-Ghayb), bila ditinjau dari segi:
a. Sumber penafsirannya: termasuk tafsir bi al-Ra'yi/ bi al-ijtihad/bi al-Dirayah/ bi al-Ma'qul.
b. Cara penjelasannya terhadap tafsiran ayat-ayat al-Qur'an: termasuk tafsir Muqarin/ komparasi.
c. Keluasan penjelasan tafsirnya: termasuk tafsir Itnabi / tafshily.
d. Sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan: termasuk tafsir tahlily.
3. Ditinjau dari segi kecenderungan/aliran penafsiran, kitab tafsir Mafatih al-Ghayb ini termasuk
kategori kitaf tafsir ilmi/’ashri, al-I’tiqad, falsafi dan lughawi/adabi.
4. Meskipun dalam beberapa segi tafsir ini mendapatkan kritikan dari beberapa tokoh namun
tafsir Kitab tafsir Mafatih al-Ghayb karya Fakhruddin al-Razi ini adalah karya sangat bermanfaat
dan sering menjadi rujukan bagi para ilmuwan yang ingin mengkaji ilmu alam,
filsafat dan ilmu kalam.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Husein al-Dzahabiy, al-Tafsir wa al-Mufassirun Toha Putra Semarang.
Abu Shahbah, Israiliyyat wa al-Mawdu'at fi Kutub al-Tafsir wa al-Hadith, al Masdkhal, Bairut,
Lebanon.
Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Bairut, Lebanon.
Az-Zarkasyi, Al-Burhan, Bairut, Lebanon
Az-Zajjaj, Ma’ani Al-Quran Bairut, Lebanon
[1] Oleh Husein al-Dzahabiy, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, juz I hlm 206
[2] Oleh Abu Shahbah, dalam Israiliyyat wa al-Mawdu'at fi Kutub al-Tafsir wa al-Hadith, hlm.
134
[3] Oleh Husein al-Dzahabiy, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, juz I hlm 206
[4] Oleh Abu Shahbah, dalam Israiliyyat wa al-Mawdu'at fi Kutub al-Tafsir wa al-Hadith, hlm.
133
[5] Oleh Husein al-Dzahabiy, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, juz I hlm. 207
[6] Oleh al-Shraniy, dalam Kasyf al-Dzunun, juz II hlm. 299
[7] Oleh Husein al-Dzahabiy, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, juz I hlm. 208
[8] Ibid. hlm. 209