Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menyerang banyak
orang dan terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi
merupakan salah satu penyakit degeneratif yang harus diwaspadai, karena
umumnya terjadi tanpa ada tanda dan gejala atau sering disebut “silent killer” .
Jika tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi yang fatal seperti, stroke (51%)
dan penyakit jantung koroner (45%) merupakan penyebab kematian tertinggi
(Kemenkes, 2013).
Menurut American Heart Association (AHA), penduduk Amerika yang
berusia diatas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5
juta jiwa, namun hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya.
Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, dimana
1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara yang satu per tiga populasinya
menderita . Menurut data WHO, di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau
26,4% orang di seluruh dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan
meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333
juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara berkembang,
termasuk Indonesia. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan pengukuran
tekanan darah pada pasien umur ≥ 18 tahun adalah 25,8 persen, sedangkan
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan atau riwayat minum obat prevalensi
hanya sekitar 9,5 persen (Riskesdas, 2013).
Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2017 di Sulawesi Utara
Hipertensi masuk dalam 10 penyakit menonjol 2017 dengan jumlah 32.742 kasus.
Di Kabupaten Minahasa Utara, berdasarakan data penyakit tidak menular tahun
2017 hipertensi berada di urutan pertama tertinggi dengan total kasus yaitu 1431,
pada perempuan yaitu 914 kasus dan pada pria yaitu 517 kasus. Puskesmas
Mubune Likupang Barat yang merupakan tempat pelayanan kesehatan wilayah
kerja Desa Tambun dan menempati urutan tertinggi kelima dari 11 Puskesmas di
Kabupaten Minahasa Utara. Berdasarkan data Triwulan II jumlah kunjungan
penderita hipertensi di Puskesmas Mubune tahun 2018 mengalami peningkatan

1
dari jumlah pada bulan April terdapat 275 penderita dan pada bulan Juni sebanyak
290 penderita. Berdasarkan data penderita hipertensi Desa Tambun menempati
urutan kedua tertinggi setelah Desa Gangga Dua dari 20 desa yang merupakan
wilayah kerja Puskesmas Mubune dengan jumlah kunjungan masyarakat Desa
Tambun berdasarakan data Triwulan II pada bulan April terdapat 47 kasus dan
pada bulan Juni terdapat 50 kasus hipertensi (Puskesmas Mubune, 2018)
Beragam kebudayaan yang ada dapat berpengaruh terhadap dampak
kesehatan salah satunya yaitu dalam berbagai adat yang menyertakan minuman
beralkohol sebagai bagian di dalamnya dan minuman beralkohol sudah menjadi
budaya tanpa khawatir akan dampak negatifnya. Melihat situasi dan kondisi
masyarakat yang tinggal di Desa Tambun sebagaimana penduduk yang bermukim
di kawasan pesisir, maka umumnya aktifitas penduduk lebih berorientasi pada
sumberdaya yang ada di laut maupun pertanian . Maka pekerjaan yang dapat
menunjang kehidupan sehari-hari adajlah nelayan, petani, serta pekerjaan lainnya.
Era globalisasi telah merubah cara pandang penduduk dunia dan melahirkan
kebiasaan-kebiasaan baru yang tidak sesuai dengan gaya hidup sehat, salah
satunya yaitu mengkonsumsi alkohol (Maryani dan Rizki, 2010).
Konsumsi minuman alkohol secara berlebihan akan berdampak buruk
pada kesehatan jangka panjang. Salah satu akibat dari konsumsi alkohol yang
berlebihan tersebut adalah terjadinya peningkatan tekanan darah yang disebut
hipertensi. Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung
dan organ-organ lain,termasuk pembukuh darah. Kebiasaan minum alkohol
berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi (Marliani, 2007).
Berdasarkan Global status report on alcohol and health 2014, sebanyak
1.928.000 orang penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan akibat
konsumsi alkohol secara berlebihan, dan sebanyak 1.180.900 orang penduduk
Indonesia mengalami ketergantungan alkohol. Bahaya mengkonsumsi alkohol
termasuk dalam lima besar faktor resiko untuk timbulnya penyakit, kecacatan dan
kematian di seluruh dunia. Riskedas 2007 menyatakan bahwa, prevalensi
peminum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional Sulawesi Utara
mencapai 17,4% sedangkan peminum alkohol dalam 1 bulan terakhir mencapai
14,9% (Depkes, 2008).

2
Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara
konsumsi alkohol dengan kejadiaan hipertensi di Desa Pulisan kabupaten
Minahasa Utara tahun 2017 (Hamadi, 2017). Dalam penelitian berjudul Faktor-
faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi Pada Pasien di Wilayah
Kerja Puskesmas Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. Hasil penelitian ini
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok, konsumsi
alkohol dan riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi pada pasien di wilayah
kerja Puskesmas Airmadidi Kabupaten Minahasa utara (Talumewo, dkk 2012).
Berdasarkan data serta beberapa penelitian tersebut, membuat penulis
tertarik untuk mengambil penelitian tentang hubungan konsumsi alkohol dengan
kejadian hipertensi pada masyarakat yang tinggal di kepulauan. Penelitian ini
belum pernah dilakukan di Desa Tambun Pulau Talise yang merupakan daerah
kepulauan di Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah yaitu “
Apakah terdapat hubungan Konsumsi Alkohol dengan kejadian Hipertensi pada
penduduk Di Desa Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa
Utara?”

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan
antara Konsumsi Alkohol dengan kejadian Hipertensi pada penduduk Di Desa
Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui gambaran Konsumsi Alkohol pada penduduk Di Desa
Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara.
2. Untuk mengetahui gambaran kejadian Hipertensi pada penduduk Di Desa
Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara.

3
3. Untuk menganalisis hubungan antara Konsumsi Alkohol dengan kejadian
Hipertensi pada penduduk Di Desa Tambun Kecamatan Likupang Barat
Kabupaten Minahasa Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan baru
mengenai hubungan antara konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi.

1.4.2 Bagi Peneliti


Penelitian ini dapat menambah wawasan bagi peneliti mengenai hubungan antara
konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi serta mendapatkan pengalaman
dalam tugas dimasa yang akan datang.

1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya


Peneliti selanjutnya kiranya dapat menggunakan penelitian ini sebagai bahan
referensi terutama dalam kaitannya dengan hubungan antara konsumsi alkohol
dengan kejadian hipertensi.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Hipertensi
2.1.1 Tekanan Darah
Tekanan darah adalah gaya atau dorongan darah ke dinding arteri saat darah
dipompa keluar dari jantung ke seluruh tubuh. Sebagai analogi, bayangkan kran
air. Jika suplai air terganggu dan ‘tekanan air rendah’, maka aliran air di kran
menjadi lambat dan hanya berupa tetesan air. Tekanan darah berperan penting,
karena tanpanya darah tidak akan mengalir (Anna & Bryan, 2007).
Tekanan darah adalah kekuatan yang ditimbulkan oleh jantung yang
berkontraksi seperti pompa, untuk mendorong agar darah terus mengalir ke
seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Tekanan darah ini diperlukan agar darah
tetap mengalir dan mampu melawan gravitasi, serta hambatan dalam dinding
pembuluh darah. Tekanan darah dibagi menjadi dua, yaitu tekanan darah sistolik
dan diastolik. Angka lebih tinggi yang diperoleh pada saat jantung berkontraksi
disebut tekanan darah sistolik. Angka yang lebih rendah diperoleh pada saat
jantung berelaksasi disebut tekanan darah diastolik. Tekanan darah ditulis sebagai
tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik (Khasanah, 2012).

2.1.2 Definisi Hipertensi


Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah
sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg
pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu
lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung
(penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi
secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. Dimana gejala-gejalanya itu
adalah sakit kepala/rasa berat di tengkuk, mumet (vertigo), jantung berdebar-
debar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan
(Depkes, 2014).

5
2.1.3 Klasifikasi Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan:
1. Hipertensi Primer
Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan
dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan
pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi (Kemenkes, 2015).
2. Hipertensi sekunder
Merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi sekunder,
yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi
fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Faktor
pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain: penggunaan kontrasepsi
oral, coarcstation aorta, neurogenik (tumor otak, ensefalitis, gangguan
psikiatris), kehamilan, peningkatan volume intravaskuler, luka bakar, dan
stress (Wajan, 2010).
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Commite on
Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure (JNC)

Kategori Tekanan Darah Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik


(mmHg) (mmHg)

Normal < 120 Dan< 80


Pre-hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi Derajat 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi Derajat 2 ≥160 Atau ≥100

(Sumber : Joint National Commite (JNC) VIII)

6
2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Hipertensi
Menurut Elsanti (2009), faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat
atau tidak dapat dikontrol, antara lain :
a. Faktor yang tidak dapat dikontrol
1) Jenis Kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi atau tekanan darah tinggi pada pria sama
dengan wanita. Hipertensi atau tekanan darah tinggi lebih banyak terjadi pada
pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang
wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita.
Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause
(Marliani, 2007). Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh
hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor
pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek
perlindungan estrogen dianggap sebgai penjelasan adanya imunitas wanita
pada usia premenopause (Anggraini, 2009).
2) Umur
Insiden peningkatan tekanan darah meningkat seiring dengan pertambahan
umur. Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi
orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari
orang yang berusia lebih muda. Pada orang lanjut usia (usia >60 tahun)
terkadang mengalami peningkatan tekanan nadi dikarenakan arteri lebih kaku
akibat terjadinya arteriosclerosis sehingga menjadi tidak lentur (Guyton,
2008). Namun dalam perkembangannya hipertensi tidak lagi memandang usia
dimana onset hipertensi primer biasanya muncul pada usia antara 25-55 tahun,
sedangkan usia di bawah 20 tahun jarang ditemukan (Gunawan, 2001).
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hipertensi primer lebih dari
80% sebagai penyebab hipertensi pada remaja remaja usia 13-18 tahun diikuti
oleh penyakit ginjal lainnya (Saing, 2005).
3) Genetik
Faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu
mempunyai resiko menderita hipertensi atau tekanan darah juga karena hal ini

7
berhubungan dengan peningkatan kadar sodium individu dengan orang tua
dengan hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita
hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi. Jadi seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita (Marliani, 2007).
b. Faktor yang dapat dikontrol
1) Obesitas
Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi makanan yang
mengandung tinggi lemak. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi
karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang
dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini
berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi
meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri.
Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar
insulin dalam darah. Peningkatan insulin menyebabkan tubuh menahan
natrium dan air (Sugiharto, 2007).
2) Kebiasaan Konsumsi Minum - Minuman Beralkohol
Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum alkohol cenderung
hipertensi, meskipun mekanisme timbulnya hipertensi belum diketahui secara
pasti. Konsumsi alkohol harus diwaspadai karena survei menunjukkan bahwa
10 % kasus hipertensi berkaitan dengan konsumsi alkohol. Mekanisme
peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun diduga,
peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah merah serta
kekentalan darah merah berperan dalam menaikkan tekanan darah (Beevers,
2005).
3) Stres
Hubungan antara stress dan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis
peningkatan saraf dapat menaikkan tekanan darah secara intermiten (tidak
menentu). Stres yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah
yang menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti tetapi angka kejadian
masyarakat di perkotaan lebih tinggi dari pada di pedesaan. Hal ini dapat
dihubungkan dengan pengaruh stres yang dialami kelompok masyarakat yang

8
tinggal di kota (Roehandi, 2008). Stres akan meningkatkan resistensi
pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstumulasi
aktivitas saraf simpatis. Adapun stress ini dapat berhubungan dengan
pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal (Anggraini, 2009).

2.1.5 Komplikasi Hipertensi


Komplikasi akibat hipertensi menurut Anna & Bryan (2007) antara lain:
1) Jantung
Menyebabkan penyakit gagal jantung, angina, dan serangan jantung. Penyakit
hipertensi menyebabkan gangguan pada jantung sehingga tidak dapat memompa
darah ke seluruh tubuh secara efisien dan kurangnya pasokan oksigen ke dalam
pembuluh darah jantung.
2) Ginjal
Menyebabkan gagal ginjal yang mana disebabkan kemampuan ginjal yang
berkurang dalam membuang zat sisa dan kelebihan air. Jika bertambah buruk
maka akan menyebabkan gagal ginjal kronik.
3) Alat gerak
Menyebabkan penyakit arteri perifer. Timbul jika pembuluh arteri berada dalam
keadaan stress berat akibat peningkatan tekanan darah dan penyempitan arteri
tersebut menyebabkan aliran darah berkurang. Hal ini akan mengakibatkan nyeri
pada tungkai dan kaki saat berjalan.
4) Otak
Menyebabkan penyakit stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pada stroke iskemik
terjadi karena aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak terganggu.
Stroke hemoragik terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak yang
diakibatkan oleh tekanan darah tinggi yang persisten.

2.2 Konsep Konsumsi Alkohol


2.2.1 Definisi Alkohol
Alkohol adalah zat psikoaktif yang bersifat adiktif. Zat psikoaktif adalah golongan
zat yang bekerja secara seledktif, terutama pada otak, yang dapat menimbulkan
perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, serta bila dikonsumsi secara berlebihan

9
dan terus-menerus dapat merugikan dan membahayakan jasmani, rohani maupun
bagi kepentingan perilaku dan cara berfikir kejiwaan. Perilaku penggunaan
minuman keras saat ini merupakan permasalahan yang cukup berkembang dan
menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun, yang akibatnya
dirasakan dalam bentuk kenakalan - kenakalan, perkelahian, perbuatan asusila,
dan maraknya premanisme (Surya, 2011).
Alkohol adalah minuman yang bila dikonsumsi secara berlebihan dan
terus menerus dapat merugikan dan membahayakan jasmani, rohani maupun bagi
kepentingan perilaku dan cara berpikir kejiwaan, sehingga akibat lebih lanjut akan
mempengaruhi kehidupan keluarga dan hubungan masyarakat sekitarnya
(Wresniwiro, 1999). Alkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang
diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara
fermentasi dan distilasi atau fermentasi tanpa distilasi, baik dengan cara
memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau
tidak, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol
atau dengan cara pengenceran minuman yang mengandung etanol (Juliana dan
Nengah, 2013).
Alkoholisme adalah kebiasaan meminum alkohol dalam jumlah banyak;
dan gaya hidup membudayakan alkohol (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional, 2008). Kondisi penggunaa alkohol pada tahap awal yang disebabkan
rasa ingin tahu dari seseorang (remaja). Di Amerika kelompok usia tertinggi
adalah 20-30 tahun sementara terendah adalah di atas 60 tahun, dan rata-rata
memulai konsumsi alkohol di usia 15 tahun (Encarta Encyclopedia, 2006). Orang
yang mengkonsumsi alkohol dibagi 3, antara lain : Pengkonsumsi alkohol ringan,
sedang, berat. Ringan jika kadar konsumsi alkohol < 10 gram/hari, sedang jika
kadar konsumsi alkohol ≥10 dan < 30 gram/hari dan berat jika kadar konsumsi
alkohol ≥ 30 gram/hari (White, dkk, 2009).

10
Tabel 2. Konsentrasi alkohol dalam darah Blood Alcohol Concentration (BAC)
dan efek klinis pada individu.
Konsentrasi alkohol dalam darah (mg/dL) Efek
50 – 100 Cemas berlebihan, waktu reaksi lebih lambat
100 – 200 Gangguan fungsi motorik, bicara cadel, ataxia
200 – 300 Muntah, Pingsan
300 – 400 Koma
> 400 Depresi pernapasan, kematian
(Sumber : Basic & Clinical Pharmacology 12th)

2.2.2 Golongan Alkohol


Ada 3 golongan minuman beralkohol yaitu (Juliana dan Nengah, 2013):
1. Golongan A: kadar etanol 1%-5% contohnya bir
2. Golongan B: kadar etanol 5%-20% contohnya minuman anggur/wine dan
3. Golongan C: kadar etanol 20%-45% contohnya whiskey, brandy, genever,
cognac, gin, rum, vodka dan arak.

2.2.3 Dampak Minuman Beralkohol


Dampak negatif penggunaan alkohol dikategorikan menjadi 3, yaitu dampak fisik,
dampak neurologi dan psikologi, serta dampak sosial (Woteki dalam Darmawan,
2010).
1) Dampak Fisik
Beberapa penyakit yang diyakini berasosiasi dengan kebiasaan minum alkohol
antara lain serosis hati, kanker, penyakit jantung dan syaraf. Sebagian besar kasus
serosis hati (liver cirrhosis) dialami oleh peminum berat yang kronis. Sebuah studi
memperkirakan bahwa konsumsi 210 gram alkohol atau setara dengan minum
sepertiga botol minuman keras (liquor) setiap hari selama 25 tahun akan
mengakibatkan serosis hati (Darmawan, 2010).
Peminum minuman keras cenderung memiliki tekanan darah yang relatif
lebih tinggi dibandingkan non peminum (abstainer), demikian pula mereka lebih
berisiko mengalami stroke dan serangan jantung. Peminum kronis dapat pula
mengalami berbagai gangguan syaraf mulai dari dementia (gangguan kecerdasan),
bingung, kesulitan berjalan dan kehilangan memori. Diduga konsumsi alkohol

11
yang berlebihan dapat menimbulkan defisiensi thiamin, yaitu komponen vitamin
B komplek berbentuk kristal yang esensial bagi berfungsinya sistem syaraf.
Alkohol memicu terjadinya kanker melalui berbagai mekanisme. Salah satunya
alkohol mengaktifkan ensim-ensim tertentu yang mampu memproduksi senyawa
penyebab kanker. Alkohol dapat pula merusak DNA, sehingga sel akan
berlipatganda secara tak terkendali (Tarwoto dkk, 2010).
2) Dampak Psikoneurologis
Pengaruh addictive, imsonia, depresi, gangguan kejiwaaan, serta dapat merusak
jaringan otak secara permanen sehingga menimbulkan gangguan daya ingatan,
kemampuan penilaian, kemampuan belajar, dan gangguan neurosis lainnya.
(Sarwono, 2011).
3) Dampak Sosial
Dampak sosial yang berpengaruh bagi orang lain, di mana perasaan pengguna
alkohol sangat labil, mudah tersinggung, perhatian terhadap lingkungan menjadi
terganggu. Kondisi ini menekan pusat pengendalian diri sehingga pengguna
menjadi agresif, bila tidak terkontrol akan menimbulkan tindakan yang melanggar
norma bahkan memicu tindakan kriminal serta meningkatkan resiko kecelakaan.

2.2.4 Pengaruh konsumsi alkohol jangka panjang dan pendek


1) Pada jangka pendek
Mengkonsumsi alkohol akan mengalami penurunan kesadaran, mabuk, euphoria
ringan dan kematian akibat keracunan zat alkohol. Pengaruh minuman beralkohol
terhadap masing-masing individu berbeda-beda, namun terdapat hubungan antara
konsentrasi alkohol di dalam darah Blood Alkohol Concentration (BAC) dan
efeknya. Euphoria ringan dan stimulasi terhadap perilaku lebih aktif seiring
dengan meningkatnya konsentrasi alkohol di dalam darah. Resiko intoksikasi
(mabuk) merupakan gejala pemakaian alkohol yang paling umum. Penurunan
kesadaran seperti koma dapat terjadi pada keracunan alkohol yang berat demikian
juga nafas terhenti hingga kematian. Selain itu efek jangka pendek alkohol dapat
menyebabkan hilangnya produktifitas kerja (Sarwono, 2011).

12
2) Pada jangka panjang
Mengkonsumsi alkohol yang berlebihan dalam jangka panjang dapat
menyebabkan penyakit kronis seperti kerusakan jantung, tekanan darah tinggi,
stroke, kerusakan hati, kanker saluran pencernaan, gangguan pencernaan lain
(misalnya tukak lambung), impotensi dan berkurangnya kesuburan, meningkatnya
resiko terkena kanker payudara, kesulitan tidur, kerusakan otak dengan perubahan
kepribadian dan suasana perasaan, sulit dalam mengingat dan berkonsentrasi.
Pengaruh pada sistem tubuh seperti (Martono,2006) :
a. Sistem saraf pusat :
Memperlambat fungsi otak yang menontrol pernafasan dan denyut jantung
sehingga dapat menimbulkan kematian. Dapat menyebabkan hilangnya
memori (amnesia), sakit jiwa, kerusakan tetap pada otak dan sistem saraf.
b. Sistem pernafasan :
Memperlambat pernafasan dan denyut jantung, sehingga dapat menimbulkan
kematian.
c. Sistem pencernaan :
1) Dapat menyebabkan luka dan radang lembung serta hati.
2) Dapat menyebabkan kangker mulut, kerongkongan dan lambung.
3) Selera makan hilang dan kekurangan vitamin.
4) Menyebabkan peradangan dan pengerasan serosis hati.
d. Sistem jantung dan pembuluh darah :
1) Dapat menyebabkan pembengkakan dan kegagalan fungsi jantung.
2) Peningkatan tekanan darah atau hipertensi.

2.3 Hubungan Konsumsi Alkohol Dengan Kejadian Hipertensi


Peminum alkohol cenderung hipertensi karena peningkatan konsumsi alkohol
berpengaruh pada peningkatakan kadar kortisol dalam darah sehingga aktivitas
Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS) meningkat maka kenaikan tekanan
darah terjadi (Gray et al, 2005). Dalam sebuah studi di New York untuk melihat
hubungan antara pola minum alkohol dan risiko hipertensi baik pada pria maupun
wanita, konsumsi alkohol dalam 30 hari sebelumnya dan tanpa mengonsumsi

13
makanan yang beresiko kejadian hipertensi, resiko hipertensi mengalami
peningkatan kejadian hipertensi sebanyak 64 % (Klatsky, 2004).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat
antara lama, frekuensi serta jenis alkohol yang dikonsumsi dengan kejadian
hipertensi. Penelitian pada laki-laki di Desa Tompasobaru II Kecamatan
Tompasobaru Kabupaten Minahasa Selatan menyatakan ada hubungan antara
lama, frekuensi dan jenis alkohol dengan kejadian hipertensi (Komaling, 2013) .
Selain itu terdapat hubungan antara konsumsi alkohol dengan hipertensi di
wilayah puskesmas Langsot Kota Tomohon (Pontoh, dkk. 2015). Demikian juga
penelitian yang dilakukan di Desa Ongkaw Dua Kecamatan Sinonsayang
Kabupaten Minahasa Selatan juga terdapat hubungan antara konsumsi alkohol
dengan kejadian hipertensi (Ruus,2015).

14
2.4 Kerangka Teori
Faktor Yang Tidak Dapat Dikontrol :

Prevalensi terjadiya hipertensi pada pria


Jenis Kelamin
sama dengan wanita

Insiden peningkatan tekanan darah


meningkat seiring dengan pertambahan
Umur umur. Namun dalam perkembangannya
hipertensi tidak lagi memandang usia mulai
dari remaja sampai pada dewasa muda

Faktor genetik pada keluarga mempunyai


Genetik resiko hipertensi berhubungan dengan
peningkatan kadar sodium pada orang tua

Faktor Yang Tidak Dapat Dikontrol HIPERTENSI

Obesitas meningkatkan resiko terjadinya


hipertensi, volume darah yang akan beredar
Obesitas
melalui pembuluh darah menjadi meningkat
sehingga memberi tekanan lebih besar

Konsumsi alkohol mengalami peningkatan


Konsumsi kadar kortisol dan peningkatan volume sel
Alkohol darah merah serta kekentalan darah merah
berperan dalam menaikkan tekanan darah

Meningkatkan resistensi pembuuh darah


perifer dan curah jantung sehingga
Stres
menstimulasi aktifitas saraf simpatis yang
dapat menaikkan tekanan darah

Gambar 1. Kerangka Teori


Sumber : Elsanti,2009. Guyton, 2008, Anggraini, 2009. Marliani, 2007.

15
2.5 Kerangka Konsep
Variabel Bebas Variabel Terikat

Konsumsi Alkohol Hipertensi

Gambar 2. Kerangka Konsep

2.6 Hipotesis
Ada hubungan antara Konsumsi Alkohol dengan kejadian Hipertensi pada
penduduk Di Desa Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa
Utara.

16
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross-
sectional study (studi potong lintang).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


a. Tempat Penelitian
Penelitian ini di lakukan di Di Desa Tambun Pulau Talise Kecamatan Likupang
Barat Kabupaten Minahasa Utara.
b. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2018.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk Desa Tambun Kecamatan
Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara yang berusia 17-55 tahun.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari unit populasi yang jumlahnya
dihitung dengan menggunakan rumus Lemeshow (Lemeshow dkk, 1990) :
n = N.Z²1-α/2.P(1 - P)
(N-1)d² + Z²1-α/2.P(1 - P)
Ket:
n = Besar Sampel
N = 666 Jiwa (Jumlah populasi Desa Tambun tahun 2017)
Z²1-α/2 = Nilai Z pada derajat kepercayaan 95% maka Z = 1,96
P = Estimasi proporsi, ditetapkan 51,9% (0,51)
d = derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan 10% (0,1)

17
n = N.Z²1-α/2.P(1 - P)
(N-1)d² + Z²1-α/2.P(1 - P)

n = 666 (1,96²) . 0,51 (1 - 0,51)


(666-1)(0,1)²+(1,96)².0,51(1-0,51)

n = (666.3,84)(0,51.0,49)
665.0,01+3,84.0,51.0,49

n = 638.99 = 83,97
7,609
n = 84

Jadi, jumlah sampel pada penelitian ini adalah 84 responden serta teknik
pengambilan responden menggunakan Simple Random Sampling.

3.3.3 Kriteria Sampel


Dalam penelitian ini kriteria sampel yang digunakan adalah kriteria inklusi dan
ekslusi, yang menentukan dapat dan tidaknya sampel tersebut digunakan dalam
penelitian. Sampling merupakan proses menyeleksi populasi yang dapat mewakili
populasi yang ada.
1. Kriteria inklusi:
a. Terdaftar sebagai penduduk menetap di Desa Tambun Likupang Barat.
b. Penduduk yang berusia dewasa 17-55 tahun
2. Kriteria Eksklusi
a. Responden tidak ada di tempat selama penelitian.
b.Sukar berkomunikasi

3.4 Variabel Penelitian


Variabel Bebas (Independent) : Konsumsi Alkohol
Variabel Terikat (Dependent) : Kejadian Hipertensi

18
3.5 Definisi Operasional
1. Hipertensi dalam penelitian ini merupakan hasil pengukuran yang dinyatakan
apabila adanya kenaikan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan
diastolik ≥ 90 mmHg dalam dua kali pengukuran dan dirata-ratakan.
a. Cara pengukuran : Tekanan darah responden diukur dengan menggunakan
alat ukur tekanan darah dan dibantu oleh perawat yang bertugas di
polindes Desa Tambun.
b. Alat ukur : Tensimeter
c. Hasil Ukur : Menderita hipertensi apabila responden mempunyai tekanan
darah sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau diastolik ≥ 90 mmHg.
d. Skala : Nominal
2. Konsumsi Alkohol merupakan perilaku mengkonsumsi alkohol yang meliputi
jenis alkohol yang dikonsumsi, berapa jumlah alkohol yang dikonsumsi, sudah
berapa lama mengkonsumsi, dan kapan terakhir mengkonsumsi alkohol.
a. Cara pengukuran : Melalui wawancara langsung dengan responden
b. Alat ukur : Kusioner konsumsi alkohol
c. Hasil Ukur : Mengkonsumsi alkohol atau tidak mengkonsumsi alkohol,
sedangkan untuk jenis, jumlah dan berapa lama konsumsi alkohol hanya
melihat frekuensi saja.
d. Skala : Nominal

3.6 Instrumen Penelitian


Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang terbagi atas dua
bagian, yaitu kuesioner tentang perilaku konsumsi alkohol dan alat
pengukuran tekanan darah.

3.7 Sumber Data dan Metode Pengumpulan Data


Data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder.
a. Data primer adalah data tentang perilaku konsumsi alkohol dan kejadian
hipertensi penduduk Desa Tambun yang diperoleh dari pengisian
kuesioner tentang perilaku konsumsi alkohol dan alat ukur tekanan darah.

19
b. Data sekunder adalah data penduduk Desa Tambun yang diperoleh dari
Kantor Kelurahan.
3.8 Tahap Penelitian
1. Tahapan Persiapan
1) Melapor ke kantor desa Tambun bahwa akan diadakan penelitian di Desa
Tambun Pulau Talise Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa
Utara.
2) Mengambil data penduduk.
3) Menentukan penduduk yang akan menjadi responden.
4) Menyiapkan kuesioner tentang perilaku konsumsi alkohol dan alat
pengukuran tekanan darah.
2. Tahapan Pelaksanaan
1) Peneliti kembali melapor ke kantor Desa Tambun Pulau Talise Kecamatan
Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara dan meminta bantuan kepada
pemerintah yang ada untuk menunjukkan tempat tinggal masyarakat yang
akan dijadikan responden.
2) Responden mengisi kuesioner tentang perilaku konsumsi alkohol.
3) Melakukan pengukuran tekanan darah sebanyak 2 kali dalam selang waktu
5-10 menit dengan menggunakan tensimeter. Langkah-langkah
pengukuran tekanan darah adalah sebagai berikut:
a. Responden yang akan diukur tekanan darahnya berbaring atau duduk
kemudian manset tensimeter diikatkan pada lengan atas (kiri atau
kanan) sekitar 2-3 cm diatas lipatan siku.
b. Kemudian tekan tombol dan tensi digital akan otomatis menunjukan
tekanan darah responden.

3.9 Pengolahan dan Analisis Data


a. Pengolahan Data
Tahap selanjutnya yang dilakukan setelah penelitian yaitu pengolahan data, yang
tahapannya meliputi:

20
1. Editing, untuk memastikan apakah data yang terkumpul sudah benar. Editing
dilakukan ditempat pengumpulan data sehingga jika ada kekurangan data
dapat segera dikonfirmasi pada responden yang bersangkutan.
2. Coding, pemberian kode pada hasil jawaban dari setiap pertanyaan sesuai
dengan petunjuk coding.
3. Proccessing, memproses data untuk dianalisa dengan cara menginput data
hasil kuesioner ke program komputer
4. Cleaning, pengecekan kembali data-data yang sudah diinput apakah ada
kesalahan atau tidak.

b. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan/ mendeskripsikan
karakteristik masing-masing variabel yang akan diteliti yaitu konsumsi
alkohol dan hipertensi masyarakat Desa Tambun.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel
dalam penelitian ini, yaitu hubungan antara konsumsi alkohol dan kejadian
hipertensi. Uji statistik yang digunakan pada panelitian ini yaitu Chi
Square karena dilakukan pada dua variabel, dimana skala data kedua
variabel adalah nominal dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% (α
= 0,05). Jika p < 0,05 menunjukkan adanya hubuhngan antara variabel
independen dengan variabel dependen (Ho ditolak) dan jika p > 0,05
menunjukkan tidak ada hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen (Ho diterima).

21
DAFTAR PUSTAKA
Anna, P., & Bryan, W. (2007). Simple Guides tekanan darah tinggi. Jakarta:
Erlangga.
Beevers, G., 2005, Alcohol and Hypertension dalam Hypertension Principiles and
Practise, In: Battegery, Gregory, Bakris, Management and Treatment
Guideline dalam Hypertension Principiles and Practise, USA : Tailor &
Francis Grouf.
Depkes RI. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional
2007. Badan Penelitian dan Pengembangan. Jakarta
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara. 2017. Profil Kesehatan Provinsi
Sulawesi Utara, Manado.
Elsanti S. 2009. Panduan Hidup Sehat Bebas Kolestrol, Stroke, Hipertensi &
Serangan Jantung. Yogjakarta : Araska
Gray, et al. (2005). Lecture Notes Kardiologi edisi 4. Jakarta: Erlangga Medical
Series
Guyton, A.C., dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta: EGC
JNC-8. 2014. The Eight Report of the Joint National Committee. Hypertension
Guidelines: An In-Depth Guide. Am J Manag Care.
Juliana Lisa FR, Nengah Sutrisna W. 2013. Narkoba, Psikotropika dan Gangguan
Jiwa. Tinjauan Kesehatan dan Hukum. Yogyakarta: Nuha Medika.
Katzung, B.G., 2012. Basic & Clinical Pharmacology 12th ed., USA: McGraw
Hill Companies.
Khasanah, Nur (2012). Waspadai Beragam Penyakit Gegeneratif Akibat Pola
Makan. Yogyakarta: Laksana.
Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang
Kemenkes RI.
Kemenkes RI. 2015. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang
Kemenkes RI.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi penelitian kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta:
PT Rineka Cipta.

22
Lemeshow, Stanley., 1997, Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan, Gadjah
Mada University, Yogyakarta.
Marliani, L, dkk. 2007. 100 Question & Answers Hipertensi. Jakarta: PT Elex
MediaKomputindo, Gramedia.
Martono, 2006, Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba
Berbasis Sekolah, Balai Pustaka, Jakarta.
Maryani L, Rizki M. 2010. Epidemiologi Kesehatan.Yogyakarta : Graha Ilmu.
Montol, A., Pascoal, M. E., dan Pontoh L. 2015. Faktor resiko terjadinya
hipertensi pada usia produktif di wilayah kerja puskesmas Langsot kota
Tomohon.
Rohaendi. 2008. Treatment Of High Blood Pressure. Jakarta :Gramedia Pustaka
Utama.
Sarwono. S.W. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sugiharto A. 2007. Faktor-Faktor Resiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat.
Tesis. Semarang : Universitas Diponegoro.
Tarwoto dkk. 2010. Kebutuhan Dasar manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta
: Salemba Medika.
Triyanto, Endang. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi
Secara Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Udjianti, Wajan I. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika
Wresniwiro, M. 1999. Masalah Narkotika, Psikotropika, dan Obat-obat
Berbahaya. Mitra Bintibmas. Jakarta.
Anggraini, dkk. (2009). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Hipertensi pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas
Bangkinang Periode Januari Sampai Juni 2008. (Online) Diakses : 11
Juni 2018, dari :. http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/02/files-of-
drsmed-faktor-yangberhubungan-dengan-kejadian-hipertensi.pdf.
Darmawan, S. 2010. Pengertian Minuman Keras dan Dampaknya. (Online)
Diakses : 11 Juni 2018, dari : http://www.MIRASANTIKA/1.htm
Depkes, 2014. InfoDatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
(Online) Diakses : 11 Juni 2018, dari :

23
http://www.depkes.go.id/resources/download/Pusdatin/
infodatin/infodatin-hipertensi.pdf
Gauthier B, Edelmann CMJr, Barnet HL. Hypertension. Dalam: Nephrology and
Urology for the Pediatrician. Edisi pertama. Boston:Little Brown and
Company 1982. h. 21-30. (Online) Diakses : 11 Juni 2018
http://www.imedpub.com/journal-nephrology-urology/
Jeine K. Komaling. 2013. Hubungan Mengonsumsi Alkohol Dengan Kejadian
Hipertensi Pada Laki-Laki Di Desa Tompasobaru Ii Kecamatan
Tompasobaru Kabupaten Minahasa Selatan. Fakultas Kedokteran,
Universitas Sam Ratulangi Manado. (Online) Diakses : 11 Juni 2018, dari
: https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/2194/1752
Jessica J. Pinontoan . 2017. Hubungan Antara Faktor Risiko Dengan Kejadian
Hipertensi Pada Laki-Laki Di Wilayah Masyarakat Pesisir Desa
Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara Tahun
2017. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi
Manado. (Online) Diakses : 11 Juni 2018, dari :
https://ejournalhealth.com/index.php/medkes/article/viewFile/270/262
Klatsky AL. 2004. Alcohol-associated hypertension: when one drinks makes a
difference Hypertension. 2004;44:805– 806. (Online) Diakses : 11 Juni
2018 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15492132
Monica Ruus . 2016. Hubungan Antara Konsumsi Alkohol Dan Kopi Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Di Desa Ongkaw Dua Kecamatan
Sinonsayang Kabupaten Minahasa Selatan. (Online) Diakses : 11 Juni
2018, dari :
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/kesmas/article/view/12686/12284
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian RI tahun 2013. (Online). Diakses: 11 Juni 2018,
dari:http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskes
das%20 2013.pdf.
Surya. (2011). Seputaran Minuman Keras. (Online). Diakses: 11 Juni 2018, dari:
http://www.surya.com/surya-cetak/14 04/11/jabar/sema21.htm

24
Lembar Informed Consent

(Lembar Persetujuan Responden)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Umur :

Alamat :

Jenis Kelamin :

Setelah mendapat penjelasan oleh peneliti tentang penelitian Hubungan


Antara Konsumsi Alkohol Dengan Kejadian Hipertensi Pada Penduduk Di Desa
Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara, maka dengan ini
menyatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini tanpa ada
paksaan dari pihak manapun. Saya akan menjawab seluruh pertanyaan yang
diberikan oleh peneliti dengan jujur dan apa adanya.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat untuk dapat dipergunakan


sebaik-baiknya.

Manado, Juli 2018

( )

25
KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN KONSUMSI ALKOHOL DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI
PADA PENDUDUK di DESA TAMBUN LIKUPANG BARAT KABUPATEN
MINAHASA UTARA

A. Identitas Responden
1. Kelurahan …………………………………….
2. Lingkungan (Jaga) …………………………………….
3. Nama KK …………………………………….
4. Nama Responden …………………………………….
5. Umur ……………………. Tahun
6. Jenis Kelamin 1.Laki – laki 2.Perempuan
7. Tingkat Pendidikan 1.Tidak Sekolah 4.SMA
2.SD 5.Perguruan Tinggi
3.SMP
8. Status Pekerjaan 1.Bekerja 2.Tidak Bekerja
9. Status Perkawinan 1.Belum Kawin 3.Cerai Mati
2.Kawin 4.Cerai Hidup

10. Pendapatan …………………………………….


11. Nomor Telp/HP …………………………………….
12. Riwayat Penyakit Sebelumnya …………………………………….

B. Variabel Konsumsi Alkohol


NO Pertanyaan Jawaban
1. Apakah anda mengkonsumsi alkohol? 1. Ya
2. Tidak
2. Jenis minuman alkohol yang paling sering 1. Cap tikus 3. Bir
anda konsumsi ? 2. Anggur 4. Saguer
3. Berapa kali anda mengkonsumsi alkohol ? 1. Tiap hari
2. 1-4 kali per minggu
3. <1 kali per minggu

26
5. Berapa jumlah alkohol yang anda /ml
konsumsi setiap kali minum ?
6. Sudah berapa lama anda mengkonsumsi 1. 1 bln 4. 3-5 thn
alkohol ? 2. 6 bln 5. 6-10 thn
3. 1 thn 6. > 10 thn
4. 2 thn
7. Kapan terakhir mengkonsumsi alkohol?

C. Variabel Hipertensi
1. Pengukuran Pertama / mmHg
2. Apakah ada riwayat penyakit hipertensi ? 1.Ya 2. Tidak

3. Apakah anda sedang minum obat hipertensi? 1. Ya 2. Tidak

4. Pengukuran Kedua / mmHg

27