Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ILMU ALAMIAH DASAR

ILMU YANG LAHIR LAHIR


DARI PENGETAHUAN

OLEH:

NAMA : ASMAUL HUSNA


NIM : 18 081 014 002
KELAS : REG.A
DOSEN PENGAMPU : Ir. A. ABD. RAHMAN SAFAR,M.P

PROGRAM STUDI PAUD


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
TA 2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
senantiasa melimpahkan rahmat dan ridho-Nya, sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah mata kuliah ILMU ALAMIAH DASAR
yang berjudu “ILMU YANG LAHIR DARI PENGETAHUAN”.

Tak lupa, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. A. ABD.
RAHMAN SAFAR,M.P selaku pembimbing kami dalam pembelajaran mata
kuliah ILMU ALAMIAH DASAR, juga kepada semua teman-teman yang telah
memberikan dukungan kepada saya dalam menyelesaikan makalah ini.

Harapan terdalam saya, semoga penysunan makalah ini bisa bermanfaat


bagi kita semua serta menjadi tambahan informasi mengenai “ILMU YANG
LAHIR DARI PENGETAHUAN” bagi para pembaca.

Saya menyadari jika dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu dengan hati yang terbuka kritik serta saran yang
konstruktif guna kesempurnaan makalah ini. Demikian makalah ini saya susun,
apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dan banyak terdapat kekurangan,
saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga bermanfaat. Amin.

Makassar, 24 November 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................ 2


Daftar isi ....................................................................................... 3

Bab I
Pendahuluan
I.1. Latar Belakang ...................................................................... 4
I.2. Rumuan Masalah .................................................................. 5
I.3. Tujuan Penulisan ................................................................... 6

Bab II
Pembahasan
II. 1. Ilmu pengetahuan ................................................................. 7
II. 2. Sejarah lahir pengetahuan dan perkembangan ilmu
pengehuan di dunia Barat dan Islam ................................... 8
II. 3. Peranan islam dalam perkembangan
ilmu pengetahuan ............................................................... 16

Bab III
Penutup
Kesimpulan................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengetahuan lahir sejak diciptakanya manusia pertama, yaitu sejak


diciptakannya Nabi Adam as. Sebagaimana firman Allah swt “ Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para malaikat itu lalu berfirman: “ Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.
“ Mereka menjawab: “ Maha suci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui selalin
dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: Hai Adam,
beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah itu
diberitahukannya kepada mereka nama benda-benda itu, allah berfirman: “
Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa
yang kamu sembunyikan?”. (QS. Al Baqarah: 31-33)

Kemudian berlanjut sesaat setelah Qabil membunuh saudaranya yang


bernama Habil, Qabil bingung, apa yang harus dilakukan terhadap mayat
saudaranya. Sesaat, dia melihat burung gagak mengubur mayat lawannya,
maka Qabil-pun sadar apa yang harus dilakukan, hal ini digambarkan oleh
Allah swt dalam firmanya: “ Berkata Qabil: “ Aduhai, celaka aku, mengapa aku
tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan
saudaraku ini?” (QS. Al Maidah: 31).

Dari dua kejadian tersebut, merupakan lahirnya sebuah pengetahuan


yang pada gilirannya akan menjadi sebuah ilmu. Tidak semua Pengetahuan
menjadi sebuah ilmu, namun setiap ilmu merupakan sebuah proses dari
sebuah pengetahuan secara bertahap dan evolusif.

4
Dalam cerita Qabil dan Habil, sepertinya seekor burung yang
mengajarkan tentang sebuah pengetahuan, ini benar. Karena hewan juga
memiliki pengetahuan. Namun, bedanya hewan tidak memiliki ilmu. Manusia
adalah satu-satunya mahkluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara
sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun
pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.
Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil
pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi
pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu.
Sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah disusun secara
sistematis dengan menggunakan metode ilmiah.
Dunia Barat, khususnya Eropa dan Amerika Serikat, dianggap sebagai
pusat kemajuan peradaban dunia. Barat, kini telah menjadi kiblat peradaban dunia.
Tak terkecuali di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun ada hal yang
terlupakan perkembangan ilmu pengetahuan di Barat tidak terlepas dengan dunia
Islam.

Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sebuah


pengetahuan menjadi ilmu yang dimiliki manusia itu tidak luput dari keterkaitan
yang sangat erat dengan sebuah proses kelahiran dan berkembang hingga
menyebar ke seluruh dunia. Maka dari itu pembahasan tentang sejarah
kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan dari dunia barat dan Islam
sangatlah penting, agar dapat diketahui muasal ilmu pengetahuan darimana
dan siapa yang paling berperan?. Dan pemakalah tidak akan menjelasakan
pengertian “pengetahuan” dan “ ilmu”, karena hal ini sudah dibahas oleh
pemakalah sebelumnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu ilmu pengetahuan?

2. Bagaimana sejarah lahirnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya di


dunia Barat dan Islam?

3. Apa peranan umat Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan itu?

5
1.3 Tujuan Penulisan

1. Agar kita bisa mengetahui apa itu ilmu pengetahuan.

2. Agar kita mampu menjelaskan sejarah kelahiran ilmu pengetahuan dan


perkembangannya di dunia barat dan Islam.

3. Agar kita mampu menerangkan peran dan kontribusi umat Islam dalam
perkembangan ilmu pengetahuan.

6
BAB II

PEMBAHASAN

II. 1. Ilmu pengetahuan

Adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan,dan


meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam
manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.
Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan
kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Ilmu bukan
sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan
pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara
sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu
tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha
berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu
pengetahuanadalahprodukdariistemologepi.
Contoh:

a. Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke


dalam hal yang bahani (materiil saja). Ilmu-ilmu alam menjawab
pertanyaan tentang berapa jarak matahari.
b. Ilmu psikologihanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup
pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang
konkret. Ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi
perawat.

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus


tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu
dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak
terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.

1. Objektif.
Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang
sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam.
Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji
keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni
persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif;
bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.

2. Metodis
Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan
terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus
ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari
bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis

7
berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode
ilmiah.

3. Sistematis.
Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu
harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga
membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan
mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya.
Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat
merupakan syarat ilmu yang ketiga.

4. Universal.
Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat
umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º.
Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-
ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya
berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia.
Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus
tersedia konteks dan tertentu pula.

II. 2. Sejarah lahir Ilmu Pengetahuan dan Perkembangannya di Dunia


Barat dan Islam.

Sebegaimana diketahui pengetahuan lahir sejak diciptakannya manusia


pertama, yang berkembang menjadi sebuah ilmu atau ilmu pengetahuan.

Pada hakekatnya ilmu pengetahuan lahir karena hasrat ingin tahu


dalam diri manusia. hasrata ingin tahu timbul oleh banyaknya aspek kehidupan
yang masih samar atau bahkan gelap. Dalam usahanya untuk mencapai
kebenaran tersebut selalu mengadakan penelitian secara ilmiah. Penelitian
secara ilmiah dilakukan manusia untuk menyalurkan hasrat ingin tahu yang
mencapai taraf keilmuan, disertai dengan keyakinan bahwa setiap gejala dapat
ditelaah dan dicari sebab akibatnya (causalitas). Namun, pengetahuan pada
awalnya masih dikaitkan dengan metos-metos atau berbau mistik.

Sebelum memaparkan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan,


penulis harus mengungkap sekilas tentang perbedaan antara pengetahuan dan
ilmu agar tidak terjebak pada kesalahpahaman mengenai keduanya, sehingga
pembaca bisa memahami dengan mudah dan benar apa yang dimaksud
dengan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam makalah ini.

8
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan
terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Sementara itu,
pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik
mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah
informasi yang berupa pikiran sehat (common sense), sedangkan ilmu sudah
merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan
mekanisme tertentu. Jadi ilmu lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi tidak
berarti semua ilmu adalah pengetahuan.

George J. Mouly (dalam Jujun S Suriasumantri,1985:87) berkata:


Permulaan ilmu dapat disusur sampai pada permulaan manusia. Tak diragukan
lagi bahwa manusia purba telah menemukan beberapa hubungan yang bersifat
empiris yang memungkinkan mereka untuk mengerti keadaan dunia. Usaha
mula-mula di bidang keilmuan yang tercatat dalam lembaran sejarah dilakukan
oleh bangsa Mesir dimana banjir Sungai Nil terjadi tiap tahun ikut menyebabkan
berkembangnya sistem almanak, geometri dan kegiatan survey.

Kalau pengetahuan lahir sejak manusia pertama diciptakan, maka


pekerkembangannya sejak jaman purba. Secara garis besar, Amsal Bakhtiar
membagi periodeisasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan menjadi empat
periode: pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam, pada zaman renaisans
dan modern, dan pada zaman kontemporer. Berbeda dengan Amsal Bakhtiar.
George J. Mouly membagi perkembangan ilmu pada tahap animisme, ilmu
empiris dan ilmu teoritis.

Pada tahap animisme, manusia menjelaskan gejala yang ditemuinya


dalam kehidupan sebagai perbuatan dewa-dewi, hantu dan berbagai makhluk
halus. Pada tahap inilah pola pikir mitosentris masih sangat kental mewarnai
pemikiran bangsa Yunani sebelum berubah menjadi logosentris. Sebagai
contoh, gempa bumi pada saat itu tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi
Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat
diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas
dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kualitas.

9
Dari hal tersebut diketahui bahwa proses berpikir manusia menuntut
mereka untuk menemukan sebuah metode belajar dari pengalaman dan
memunculkan keinginan untuk menyusun sesuatu hal secara empiris, serta
dapat diukur. Dalam sejarah mencatat bangsa Yunanilah yang pertama diakui
oleh dunia sebagai perintis terbentuknya ilmu karena telah berhasil
menyusunnya secara sistematis. Implikasi dari hal tersebut manusia akan
mencoba merumuskan semua hal termasuk asal-muasal mitos-mitos karena
mereka menyadari bahwa hal tersebut dapat dijelaskan asal-usulnya dan
kondisi sebenarnya. Sehingga sesuatu hal yang remang-remang -yang berupa
tahu atau pengetahuan- dapat dibuktikan kebenaran sementaranya dan dapat
dipertanggungjawabkan pada saat itu. Dari sinilah awal kemenangan ilmu
pengetahuan atas mitos-mitos, dan kepercayaan tradisional yang berlaku di
masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan bermula dari tahu,
berulang-ulang menjadi sebuah pengetahuan, namun masih dipengaruhi oleh
mitos dan mistis yang masih sulit untuk dirasionalkan dan belum dapat
dipertanggungjawabkan. Dari proses berpikir bukan hanya sekedar tahu itulah
lahirnya sebuah ilmu pengetahauan.
Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan
adalah salah satu jembatan untuk mencapai kebenaran yang hakiki setelah
berkolaborasi dengan yang lain.
Pemakalah lebih tertarik dengan pembagian oleh Amsal Bakhtiar, dari
pada George J. Mouly, karena George J. Mouly terkesan menutupi sejarah dan
peradaban Islam.

a. Zaman Yunani Kuno


Yunani kuno sangat identik dengan filsafat. Ketika kata Yunani
disebutkan, maka yang terbesit di pikiran para peminat kajian keilmuan bisa
dipastikan adalah filsafat. Padahal filsafat dalam pengertian yang sederhana
sudah ada jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan
mengembangkannya. Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat
berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi

10
setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang
pengaruhnya terasa hingga sekarang.

Perkembangan ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah


berlangsung secara mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan
evolutif.

Di dalam banyak literatur menyebutkan bahwa periode Yunani


merupakan tonggak awal berkembangnnya ilmu pengetahuan dalam sejarah
peradaban umat manusia. Perkembangan ilmu ini dilatarbelakangi dengan
perubahan paradigma dan pola pikir yang berkembang saat itu. Sebelumnya
bangsa Yunani masih diselemuti oleh pola pikir mitosentris, namun pada abad
ke 6 SM di Yunani lahirlah filsafat yang dikenal dengan the greek miracle.
Dengan paradigma ini, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat karena
menjawab persoalan disekitarnya dengan rasio dan meninggalkan kepercayaan
terhadap mitologi atau tahayul yang irrasional.

Seiring dengan berkembangannya waktu, filsafat dijadikan sebagai


landasan berfikir oleh bangsa Yunani untuk menggali ilmu pengetahuan,
sehingga berkembang pada generasi-generasi setelahnya. Itu ibarat pembuka
pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga
sekarang. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri
poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia. Inilah titik awal manusia
menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan
alam jagad raya.

Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan kelimuan


bangsa Yunani, karena pada zaman ini kajian-kajian kelimuan yang muncul
adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang
sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM), yang sekaligus murid Socrates.
Plato, yang hidup di awal abad ke-4 S.M., adalah seorang filsuf earliest (paling
tua) yang tulisan-tulisannya masih menghiasi dunia akademisi hingga saat ini.
Karyanya Timaeus merupakan karya yang sangat berpengaruh di zaman
sebelumnya; dalam karya ini ia membuat garis besar suatu kosmogoni yang

11
meliputi teori musik yang ditinjau dari sudut perimbangan dan teori-teori fisika
dan fisiologi yang diterima pada saat itu.

Masa keemasan kelimuan bangsa Yunani terjadi pada masa Aristoteles


(384-322 SM). Ia adalah murid Plato, walaupun ia tidak sepakat dengan
gurunya mengenai soal-soal mendasar. Khususnya, ia menganggap
matematika sebagai suatu abstraksi dari kenyataan ilmiah. Dan ia berhasil
menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang
dipersatukannya dalam satu sistem: logika, matematika, fisika, dan metafisika.
Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme.

b. Zaman Islam.
Islam sangat menghargai ilmu, ini terlihat sejak kemunculan agama Ilam
itu sendiri yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, saat beliu menerima wahyu
pertama dengan perintah “ iqra’ bacalah”.
Dominasi para teolog pada masa itu mewarnai aktivitas ilmiah
pergerakan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari semboyan yang berlaku
bagi ilmu pada masa itu adalah ancillla theologia atau abdi agama. Atau
dengan kata lain, kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran
agama. Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan
bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati. Inilah yang
dianggap sebagai salah satu penyebab masa ini disebut dengan Abad gelap
(dark age). Usaha-usaha menghidupkan kembali keilmuan hanya sesekali
dilakukan oleh raja-raja besar seperti Alfred dan Charlemagne.
Josep Schumpeter, misalnya dalam buku magnum opus-nya
menyatakan adanya great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500
tahun, yaitu masa yang dikenal sebagai dark ages. Masa kegelapan Barat itu
sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat Muslim, suatu hal yang
berusaha ditutup-tutupi oleb Barat karena pemikiran ekonom Muslim pada
masa inilah yang kemudian banyak dicuri oleh para ekonom Barat.

Pada saat itulah di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam terjadi


perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Di saat Eropa pada zaman

12
Pertengahan lebih berkutat pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia
Islam melakukan penterjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof
Yunani, dan berbagai temuan di lapangan ilmiah lainnya.
Menurut Harun Nasution, keilmuan berkembang pada zaman Islam
klasik (650-1250 M). Keilmuan ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana
tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadis.
Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat
dan sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia
Islam Zaman Klasik, seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia
(Syiria), dan Bactra (Persia). W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci
bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad
ketujuh, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat
belajar. Terdapat sebuah sekolah terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian
dipindahkan pertama kali ke Syiria, dan kemudian –pada sekitar tahun 900 M–
ke Baghdad.
Sekitar abad ke 6-7 Masehi obor kemajuan ilmu pengetahuan berada di
pangkuan perdaban Islam. Dalam lapangan kedokteran muncul nama-nama
terkenal seperti: Al-Ḥāwī karya al-Rāzī (850-923) merupakan sebuah
ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai
masanya. Rhazas mengarang suatu Encyclopedia ilmu kedokteran dengan
judul Continens, Ibnu Sina (980-1037) menulis buku-buku kedokteran (al-
Qonun) yang menjadi standar dalam ilmu kedokteran di Eropa. Al-Khawarizmi
(Algorismus atau Alghoarismus) menyusun buku Aljabar pada tahun 825 M,
yang menjadi buku standar beberapa abad di Eropa. Ia juga menulis
perhitungan biasa (Arithmetics), yang menjadi pembuka jalan penggunaan cara
desimal di Eropa untuk menggantikan tulisan Romawi. Ibnu Rushd (1126-1198)
seorang filsuf yang menterjemahkan dan mengomentari karya-karya
Aristoteles. Al Idris (1100-1166) telah membuat 70 peta dari daerah yang
dikenal pada masa itu untuk disampaikan kepada Raja Boger II dari kerajaan
Sicilia.

13
Dalam bidang kimia ada Jābir ibn Ḥayyān (Geber) dan al-Bīrūnī (362-
442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jābir ibn Ḥayyān memaparkan metode-
metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya.
Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang
belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya.
Sementara itu, al-Bīrūnī mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat
yang mencapai ketepatan tinggi.

Selain disiplin-disiplin ilmu di atas, sebagian umat Islam juga menekuni


logika dan filsafat. Sebut saja al-Kindī, al-Fārābī (w. 950 M), Ibn Sīnā atau
Avicenna (w. 1037 M), al-Ghazālī (w. 1111 M), Ibn Bājah atau Avempace (w.
1138 M), Ibn Ṭufayl atau Abubacer (w. 1185 M), dan Ibn Rushd atau Averroes
(w. 1198 M). Menurut Felix Klein-Franke, al-Kindī berjasa membuat filsafat dan
ilmu Yunani dapat diakses dan membangun fondasi filsafat dalam Islam dari
sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang sebagian di antaranya kemudian
diteruskan dan dikembangkan oleh al-Fārābī. Al-Kindī sangat ingin
memperkenalkan filsafat dan sains Yunani kepada sesama pemakai bahasa
Arab, seperti yang sering dia tandaskan, dan menentang para teolog ortodoks
yang menolak pengetahuan asing. Menurut Betrand Russell, Ibn Rushd lebih
terkenal dalam filsafat Kristen daripada filsafat Islam. Dalam filsafat Islam dia
sudah berakhir, dalam filsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa
sangat besar, bukan hanya terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian
besar pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang menentang keabadian dan
disebut Averroists. Di Kalangan filosof profesional, para pengagumnya
pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan di Universitas Paris.
Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang mengilhami orang Barat pada abad
pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka yang sudah
terpuruk berabad-

Pada zaman itu bangsa Arab juga menjadi pemimpin di bidang Ilmu
Alam. Istilah zenith, nadir, dan azimut membuktikan hal itu. Angka yang masih
dipakai sampai sekarang, yang berasal dari India telah dimasukkan ke Eropa

14
oleh bangsa Arab. Sumbangan sarjana Islam dapat abad lamanya yang
terwujud dengan lahirnya zaman pencerahan atau renaisans.diklasifikasikan ke
dalam tiga bidang, yaitu :

1. Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskan


sedemikian rupa, sehingga dapat dikenal dunia Barat seperti sekarang ini.

2. Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan,


astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi, dan ilmu tumbuh-tumbuhan.

3. Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.

c. Masa renaisans dan modern


Michelet, sejarahwan terkenal, adalah orang pertama yang
menggunakan istilah renaisans. Para sejarahwan biasanya menggunakan
istilah ini untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya
di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Agak
sulit menentukan garis batas yang jelas antara abad pertengahan, zaman
renaisans, dan zaman modern. Sementara orang menganggap bahwa zaman
modern hanyalah perluasan dari zaman renaisans.

Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di


ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Renaisans
merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang
mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu
humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains
berkembang karena semangat dan hasil empirisisme, sementara Kristen
semakin ditinggalkan karena semangat humanisme.

Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung


sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaisance)
pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani
di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan
kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.

15
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang
sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa.
Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik
(renaisance) pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan
pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.

Mulai itulah ilmu pengetahuan semakin berkembangan dengan pesat


hingga sekarang.

II. 3. Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sebenarnya lahirnya ilmu pengetahaun di barat saat ini adalah


bersumber dari ilmuan muslim, namun karena ditutupi oleh Barat, maka seolah-
olah ilmu pengetahun itu bersumber dari Barat.

Sebagaimana dijelaskan di atas, orang yang pertama kali belajar dan


mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophist (500 – 400 SM)
adalah Socrates (469 – 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457
SM). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322
SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus
hingga munculnya Al-kindi pada tahun 801 M. Al-kindi banyak belajar dari kitab-
kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles. Oleh raja Al-Makmun dan raja
Harun Al-Rasyid pada zaman Abbasiyah, Al-kindi diperintahka n untuk menyalin
karya Plato dan Aristoteles tersebut kedalam bahasa Arab.

Sepeninggal Al-kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang terus


mengembangakan filsafat. Filosof-filosof itu diantaranya adalah: Al-farabi, Ibnu
Sina, Jamalludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan Ibnu
Rushd.

Berbeda dengan filosof-filosof Islam terdahulunya yang lahir dan besar di


Timur, Ibn Rushd dilahirkan di Barat (Spanyol). Filosof Islam lainnya yang lahir
di Barat adalah Ibnu Baja (Avempace) dan Ibnu Tufail (Abubacer).

Ibnu Baja dan Ibnu Tufail merupakan pendukung rasionalisme Aristoteles.


Akhirnya kedua orang ini bisa menjadi sahabat.

16
Sedangkan Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol
meskipun seorang dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran berjudul
Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih
dikenal sebagai seorang filosof.

Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian
dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan
yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat
terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M,
selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd
Al-Rahman (832-886 M).

Atas inisiatif Al-Hakam (961 – 976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis
diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga, Cordova dengan
perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu manyaingi Baghdad
sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh
para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan
untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.

Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu


Bakr Muhammad ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan
di Saragosa, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal karena keracunan di
Fez tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti Al-Farabi dan Ibnu
Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatalogis.
Magnum opusnya adalah tadbir al-Mutawahhid.

Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy,
sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun
1185 M. ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karya
filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam,


berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan
iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja
mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan Papal

17
Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat
ajaran Ibnu Rushd.

Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd,


ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar
di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova, Seville,
Malaga, Granada dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif
menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Pusat
penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka
mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas pertama di Eropa
adalah universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun
setelah wafatnya Ibn Rusyd. Diakhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18
buah universitas. Didalam universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh
dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti,
dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran
Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.

Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung


sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaisance)
pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani
di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan
kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.

Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang
sangat kejam, tetapi ia telah membidangi gerakan-gerakan penting di Eropa.
Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik
(renaisance) pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan
pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.

Meskipun kelahiran ilmu pengetahuan bersumber dari Yunani Kuno,


namun perkembangannya justru dimulai sejak masa keemasan dunia Islam
dalam perkembangan ilmu pengetahuan sekarang. Namun, menurut berbagai
sumber menyimpulkan bahwa terjadi distorsi terhadap fakta sejarah pada saat
dark age. Ada semacam upaya penghapusan jejak hasil peradaban dan

18
kemajuan ilmu pengetahuan ilmuan muslim yang pernah menorehkan keilmuan
yang begitu gemilang. Dalam hal ini, sejarah peradaban dan keemasan Islam
yang menjadi “korban”.

19
BAB III

KESIMPULAN

1. Pengetahuan lahir sejak diciptakannya manusia pertama, yaitu nabi


Adam as
2. Pengetahun berkembang sejak jaman purba, manun masih dipengaruhi
oleh mitos dan mistis;
3. Pengetahuan semakin berkembang dan menjadi sebuah ilmu
pengetahuan, yang mengikis paham mitos-mitos dan mistis. Dalam kata
lain ilmu pengetahuan dapat melogiskan sebuah pengetahuan;
4. Ilmu pengetahuan mulai berkembang pada zaman Yunani kuno yang
dimulai oleh Socrates seiring dengan lahir dan berkembangnya filsafat
pada abad ke 6 SM;
5. Masa keemasan ilmu pengetahuan dimulai Aristoteles dilanjutkan oleh
muridnya yaitu Plato;
6. Dalam kurun waktu antara 650-1250 M, masa perkembangan ilmu
pengetahuan di Barat (eropa) terhenti yang disebut Abad gelap (dark
age);
7. Pada saat itu mulai berkembangan ilmuan muslim, dalam kurun waktu
antara abad ke 6 sampai abad 12 M;
8. Kembalinya ilmua Barat (masa renaisance)) dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan, setelah ilmuan muslim mulai berhenti
mengembangkannya, karena ada pertentangan antar ilmuan muslim.
9. Para ilmuan sulit membedakan antara masa renisance dengan masa
modern;
10. Yang pasti ilmu pengetahuan modern tidak terlepas dari pengetruh besar
dan sumbangsih para ilmuan muslim;

20
DAFTAR PUSTAKA

Jasin, Maskoriri, Ilmu Yang Lahir Dari Petahuan, PT Raja Grafindo

Perseda,Jakarta, 2008

Mawardi,Nurhayati, Ilmu Pengetahuan, Usaha Nasional,Surabaya,2009

21