Anda di halaman 1dari 21

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

RESUME BLOK MANAJEMEN KEFARMASIAN


SKENARIO 2

OLEH :
NAMA : PRATIWI NINGSI
STAMBUK : 151 2018 0068
KELOMPOK : III

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
STEP 7
1. Mahasiswa mampu memahamai dan menjelaskan peran apoteker dalam pelayana resep di
rumah sakit

 Berdasarkan Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian Yang Baik (CPFB) Good Pharmacy
Practice (GPP)
 Skrining Resep
Pelayanan resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, pengkajian resep, penyiapan
perbekalan farmasi termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi.
Pada setiap tahap alur pelayanan resep, dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan pemberian
obat (medication error) dengan melaksanakan aktivitas sesuai standar prosedur operasional dan
melakukan dokumentasi aktivitas.
Tujuan: Untuk menganalisa adanya masalah terkait obat; bila ditemukan masalah terkait obat harus
dikonsultasikan kepada dokter penulis resep.
Kegiatan: Apoteker harus melakukan pengkajian resep sesuai persyaratan administrasi, persyaratan
farmaseutik dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
 Persyaratan administrasi meliputi :
a. Narna, umur, jenis kelamin dan berat badan serta tinggi badan pasien
b. Nama, nomor ijin praktek, alamat dan paraf dokter
c. Tanggal resep
d. Ruangan/unit asal resep
 Persyaratan farmaseutik meliputi :
 Nama obat, bentuk, dan kekuatan sediaan
 Dosis dan Jumlah obat
 Stabilitas
 Aturan, dan cara penggunaan
 Persyaratan klinis meliputi :
 Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat
 Tidak didapatkan duplikasi pengobatan
 Tidak munculnya alergi, efek samping, dan reaksi obat yang tida dikehendaki (ROTD).
 Obat yang diberikan tidak kontraindikasi
 Tidak dijumpai interaksi obat yang berisiko
 Penyerahan
Penyerahan meliputi kegiatan pengecekan kesesuian nomor resep, nama pasien, umur, alamat serta
nama, dosis, jumlah, aturan pakai, bentuk sediaan farmasi yang akan diserahkan kepada pasien atau
keluarga dengan nomor resep, nama pasien, Lrmur, alamat serta nama. dosis. jumlah. aturan pakai.
bentuk sediaan farmasi yang tertuiis di lembar resep atau kondisi gangguan pasien dan pemberian
konsultasi, informasi dan edukasi (KlE) obat kepada pasien.
 Berdasarkan jurnal Peningkatan Program Patient Safety melalui Metode Failure Mode and Effect
Analysis
Setiap kegiatan dalam merencanakan pengobatan pasien harus berorientasi untuk keselamatan
pasien. Obat obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan
terjadi kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome). Obat yang harus diwaspadai adalah obat yang terlihat mirip dan
kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip (NORUM) atau Look Alike Sound Alike (LASA)).
Unit kerja yang berhubungan dengan penanganan obat di harus benar-benar paham terhadap keamanan
obat-obat yangperlu diwaspadai (high-alert).
 Berdasarkan Efeektivitas Pelatihan Tentang Pemberian Obat Dan Prosedur Double Check
DalamMenurunkan Angka Medication Error Di Rumah Sakit Khusus Bedah Bimc Nusa Dua 2016
Dispensing Error
Kesalahan pada fase dispensing terjadi pada saat penyiapan hingga penyerahan resep oleh
petugas apotek. Salah satu kemungkinan terjadinya error adalah salah dalam mengambil obat dari rak
penyimpanan karena kemasan atau nama obat yang mirip atau dapat pula terjadi karena berdekatan
letaknya. Selain itu, salah dalam menghitung jumlah tablet yang akan diracik, ataupun salah dalam
pemberian informasi. Jenis kesalahan obat yang termasuk Dispensing errors yaitu:
Berbagai metode pendekatan organisasi untuk menurunkan kesalahan pengobatan, antara lain:
1. Memaksa fungsi dan batasan (forcing function & constraints)
2. Otomatisasi dan computer (automation & computer)
3. Standar dan protokol
4. Sistem daftar tilik dan cek ulang (check list & double check system)
5. Aturan dan kebijakan (rules & policy)
6. Pendidikan dan informasi, serta (education & information)
7. Lebih cermat dan waspada.

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang sistem penyimpanan sediaan


farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dirumah sakit.

 Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit (halaman 19-21)
 Persyaratan kefarmasian dalam penyimpanan :
a. Stabilitas dan keamanan
b. Sanitasi
c. Cahaya
d. Kelembaban
e. Ventilasi
f. Penggolongan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai.
 Komponen yang harus diperhatikan dalam penyimpanan antara lain:
a. Obat dan bahan kimia yang digunakan untuk mempersiapkan Obat diberi label yang secara jelas
terbaca memuat nama, tanggal pertama kemasan dibuka, tanggal kadaluwarsa dan peringatan
khusus.
b. Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit perawatan kecuali untuk kebutuhan klinis yang
penting.
c. Elektrolit konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien dilengkapi dengan
pengaman, harus diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted) untuk
mencegah penatalaksanaan yang kurang hati-hati.
d. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang dibawa oleh pasien harus
disimpan secara khusus dan dapat diidentifikasi.
e. Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang lainnya yang
menyebabkan kontaminasi. Instalasi Farmasi harus dapat memastikan bahwa Obat disimpan secara
benar dan diinspeksi secara periodik.
 Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang harus disimpan terpisah yaitu:
a. Bahan yang mudah terbakar, disimpan dalam ruang tahan api dan diberi tanda khusus bahan
berbahaya.
b. Gas medis disimpan dengan posisi berdiri, terikat, dan diberi penandaaan untuk menghindari
kesalahan pengambilan jenis gas medis. Penyimpanan tabung gas medis kosong terpisah dari tabung
gas medis yang ada isinya. Penyimpanan tabung gas medis di ruangan harus menggunakan tutup
demi keselamatan.
 Metode Penyimpanan
a. Kelas terapi
b. Bentuk sediaan
c. Jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
d. Disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First Out (FEFO) dan First In
First Out (FIFO) disertai sistem informasi manajemen.
e. Penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang penampilan
dan penamaan yang mirip (LASA, Look Alike Sound Alike) tidak ditempatkan berdekatan dan
harus diberi penandaan khusus untuk mencegah terjadinya kesalahan pengambilan Obat.
f. Rumah Sakit harus dapat menyediakan lokasi penyimpanan Obat emergensi untuk kondisi
kegawatdaruratan. Tempat penyimpanan harus mudah diakses dan terhindar dari penyalahgunaan
dan pencurian.
g. Pengelolaan Obat emergensi harus menjamin:
1. Jumlah dan jenis Obat sesuai dengan daftar Obat emergensi yang telah ditetapkan;
2. Tidak boleh bercampur dengan persediaan Obat untuk kebutuhan lain;
3. Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera diganti;
4. Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluwarsa; dan dilarang untuk dipinjam untuk
kebutuhan lain.
 Menurut Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit Direktorat Jenderal
Binakefarmasian Dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Bekerjasama Dengan Japan
Internasional Cooperation Agency Tahun 2010 (halaman 22 – 24)
 Tujuan penyimpanan
a. Memelihara mutu sediaan farmasi
b. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
c. Menjaga ketersediaan
d. Memudahkan pencarian dan pengawasan
 Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang bangunan gudang adalah sbb:
1. Kemudahan bergerak
Untuk kemudahan bergerak, gudang perlu ditata sebagai berikut:
a) Gudang menggunakan sistem satu lantai,jangan menggunakan sekat-sekat karena akan
membatasi pengaturan ruangan. Jika digunakan sekat, perhatikan posisi dinding dan pintu untuk
mempermudah gerakan.
b) Berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran perbekalan farmasi, ruang gudang dapat
ditata berdasarkan sistem arus garis lurus, arus U atau arus L.
2. Sirkulasi udara yang baik
Salah satu faktor penting dalam merancang bangunan gudang adalah adanya sirkulasi udara yang
cukup didalam ruangan gudang. Sirkulasi yang baik akan memaksimalkan umur hidup dari perbekalan
farmasi sekaligus bermanfaat dalam memperpanjang dan memperbaiki kondisi kerja. Idealnya dalam
gudang terdapat AC, namun biayanya akan menjadi mahal untuk ruang gudang yang luas. Alternatif lain
adalah menggunakan kipas angin, apabila kipas angin belum cukup maka perlu ventilasi melalui atap.
3. Rak dan Pallet
Penempatan rak yang tepat dan penggunaan pallet akan dapat meningkatkan sirkulasi udara dan
perputaran stok perbekalan farmasi. Keuntungan penggunaan pallet: Sirkulasi udara dari bawah dan
perlingungan terhadap banjir Peningkatan efisiensi penanganan stok Dapat menampung perbekalan
farmasi lebih banyak Pallet lebih murah dari pada rak
4. Kondisi penyimpanan khusus
Vaksin memerlukan “Cold Chain” khusus dan harus dilindungi daru keungkinan terputusnya arus
listrik. Narkotika dan bahan berbahaya harus disimpan dalam lemari khusus dan selalu terkunci. Bahan-
bahan mudah terbakar seperti alkohol dan eter harus disimpan dalam ruangan khusus, sebaiknya disimpan
di bangunan khusus terpisah dari gudang induk.
5. Pencegahan kebakaran
Perlu dihindari adanya penumpukan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti dus, karton, dan
lain-lain. Alat pemadam kebakaran harus dipasang pada tempat yang mudah dijangkau dan dalam jumlah
yang cukup.
 Penyusunan Stok Perbekalan Farmasi
Perbekalan farmasi disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis. Untuk memudahkan pengendalian stok
maka dilakukan langkah-langkah berikut:
1. Gunakan prinsip FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) dalam penyusunan
perbekalan farmasi yaitu perbekalan farmasi yang masa kadaluwarsanya lebih awal atau yang
dietrima lebih awal harus digunakan lebih awal sebab umumnya perbekalan farmasi yang datang
lebih awal biasanya juga diproduksi lebih awal dan umumnya relatif lebih tua dan masa
kadaluwarsanya lebih awal.
2. Susun perbekalan farmasi dalam kemasan besar di atas pallet secara rapi dan teratur.
3. Gunakan lemari khusus untuk penyimpanan narkotika.
4. Simpan perbekalan farmasi yang dapat dipengaruhi oleh temperatur , udara, cahaya dan
kontaminasi bakteri pada tempat yang sesuai.
5. Simpan perbekalan farmasi dalam rak dan berikan nomor kode, pisahkan perbekalan farmasi
dalam dengan perbekalan farmasi perbekalan farmasi untuk penggunaan luar.
6. Cantumkan nama masing-masing perbekalan farmasi pada rak dengan rapi.
7. Apabila persediaan perbekalan farmasi cukup banyak, maka biarkan perbekalan farmasi tetap
dalam boks masing-masing.
8. Perbekalan farmasi yang mempunyai batas waktu penggunaan perlu dilakukan rotasi stok agar
perbekalan farmasi tersebut tidak selalu berada di belakang sehingga dapat dimanfaatkan
sebelum masa kadaluwarsa habis.
9. Item perbekalan farmasi yang sama ditempatkan pada satu lokasi walaupun dari sumber
anggaran yang berbeda.
 Menurut Distribusi Obat Di Rumah Sakit Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Riset,
Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2018 (halaman 15)
 Penyimpanan obat yang perlu diwaspadai atau high alert medication
High-alert medication adalah obat yang harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi
kesalahan/kesalahan serius (sentinel event) dan obat yang berisiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang
Tidak Diinginkan (ROTD).
Kelompok obat high-alert diantaranya:
1). Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium
fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat).
Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit perawatan kecuali untuk kebutuhan klinis yang
penting. Bila ada yang disimpan pada unit perawatan pasien dilengkapi dengan pengaman, harus
diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted) untuk mencegah
penatalaksanaan yang kurang hati-hati.
2) Obat-Obat sitostatika. 3) Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa
dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/ LASA). Penyimpanan obat LASA tidak
ditempatkan berdekatan dan harus diberi penandaan khusus untuk mencegah terjadinya
kesalahan pengambilan obat.

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang sistem pendistribusian sediaan


farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dirumah sakit.

 Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit (halaman 21-22)
 Sistem Distribusi Di Unit Pelayanan Dapat Dilakukan Dengan Cara:
a) Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (floor stock)
1. Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai untuk
persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola oleh Instalasi Farmasi.
2. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang disimpan di ruang rawat
harus dalam jenis dan jumlah yang sangat dibutuhkan.
3. Dalam kondisi sementara dimana tidak ada petugas farmasi yang mengelola (di atas jam kerja)
maka pendistribusiannya didelegasikan kepada penanggung jawab ruangan.
4. Setiap hari dilakukan serah terima kembali pengelolaan obat floor stock kepada petugas farmasi
dari penanggung jawab ruangan.
5. Apoteker harus menyediakan informasi, peringatan dan kemungkinan interaksi Obat pada setiap
jenis Obat yang disediakan di floor stock.
b) Sistem Resep Perorangan
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai berdasarkan Resep
perorangan/pasien rawat jalan dan rawat inap melalui Instalasi Farmasi.
c) Sistem Unit Dosis
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai berdasarkan Resep
perorangan yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali
dosis/pasien. Sistem unit dosis ini digunakan untuk pasien rawat inap.
d) Sistem Kombinasi
Sistem pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai bagi pasien
rawat inap dengan menggunakan kombinasi a + b atau b + c atau a + c.
Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk pasien rawat inap
mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan pemberian Obat dapat diminimalkan sampai kurang
dari 5% dibandingkan dengan sistem floor stock atau Resep individu yang mencapai 18%.
Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien dengan
mempertimbangkan:
a. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
b. Metode sentralisasi atau desentralisasi
 Menurut Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit Direktorat Jenderal
Binakefarmasian Dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Bekerjasama Dengan Japan
Internasional Cooperation Agency Tahun 2010 (halaman 25 – 29)
 Defenisi dan Tujuan Distribusi
Distribusi adalah kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan
individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang pelayanan
medis. Adapun tujuan pendistribusian yaitu tersedianya perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan
secara tepat waktu, tepat jenis dan jumlah.
 Jenis Sistem Distribusi
1. Resep Perorangan
Resep perorangan adalah order/resep yang ditulis dokter untuk tiap pasien. Dalam sistem ini
perbekalan farmasi disiapkan dan didistribusikan oleh IFRS sesuai yang tertulis pada resep.
Keuntangan resep perorangan, yaitu:
 Semua resep/order dikaji langsung oleh apoteker, yang kemudian memberikan keterangan atau
informasi kepada pasien secara langsung.
 Memberikan kesempatan interaksi profesional antara apoteker, dokter, perawat, dan pasien.
 Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat.
 Mempermudah penagihan biaya perbekalan farmasi bagi pasien.
Kelemahan/Kerugian sistem resep perorangan, yaitu:
 Memerlukan waktu yang lebih lama
 Pasien membayar obat yang kemungkinan tidak digunakan
2. Sistem Distribusi Persediaan Lengkap Di Ruang
Definisi sistem distribusi persediaan lengkap di ruang adalah tatanan kegiatan pengantaran
sediaan perbekalan farmasi sesuai dengan yang ditulis dokter pada order perbekalan farmasi,
yang disiapkan dari persediaan di ruang oleh perawat dengan mengambil dosis/unit perbekalan
farmasi dari wadah persediaan yang langsung diberikan kepada pasien di ruang tersebut.
Dalam sistem persediaan lengkap di ruangan, semua perbekalan farmasi yang dibutuhkan pasien
tersedia dalam ruang penyimpanan perbekalan farmasi, kecuali perbekalan farmasi yang jarang
digunakan.
Keuntungan persediaan lengkap di ruang, yaitu:
 Pelayanan lebih cepat
 Menghindari pengembalian perbekalan farmasi yang tidak terpakai ke IFRS.
 Mengurangi penyalinan order perbekalan farmasi.
Kelemahan persediaan lengkap di ruang, yaitu:
 Kesalahan perbekalan farmasi sangat meningkat karena order perbekalan Farmasi tidak dikaji oleh
apoteker.
 Persediaan perbekalan farmasi di unit pelayanan meningkat, dengan fasilitas ruangan yang sangat
terbatas. Pengendalian persediaan dan mutu, kurang diperhatikan oleh perawat.
 Kemungkinan hilangnya perbekalan farmasi tinggi.
 Penambahan modal investasi, untuk menyediakan fasilitas penyimpanan perbekalan farmasi yang
sesuai di setiap ruangan perawatan pasien.
 Diperlukan waktu tambahan lagi bagi perawat untuk menangani perbekalan farmasi.
 Meningkatnya kerugian dan bahaya karena kerusakan perbekalan farmasi.
Sistem distribusi persediaan lengkap ini hanya digunakan untuk kebutuhan gawat darurat dan
bahan dasar habis pakai. Kerugian / kelemahan sistem distribusi perbekalan farmasi persediaan
lengkap di ruang sangat banyak. Oleh karena itu, sistem ini hendaknya tidak digunakan lagi.
Dalam sistem ini, tanggung jawab besar dibebankan kepada perawat, yaitu menginterpretasi order
dan menyiapkan perbekalan farmasi, yang sebetulnya adalah tanggung jawab apoteker.
3. Sistem Distribusi Dosis Unit (Unit Dose Dispensing =UDD)
Definisi perbekalan farmasi dosis unit adalah perbekalan farmasi yang diorder oleh dokter untuk
pasien, terdiri atas satu atau beberapa jenis perbekalan farmasiyang masing-masing dalam kemasan
dosis unit tunggal dalam jumlah persediaan yang cukup untuk suatu waktu tertentu.
Istilah “dosis unit” sebagaimana digunakan rumah sakit, berhubungan dengan jenis kemasan dan
juga sistem untuk mendistribusikan kemasan itu. Pasien membayar hanya perbekalan farmasi yang
dikonsumsi saja. Konsep kemasan dosis bukan suatu inovasi baru bagi kefarmasian dan kedokteran
karena industri farmasi telah membuat unit tunggal untuk sampel dan pada tahun terakhir telah dibuat
menjadi prosuk kemasan tunggal yang dijual ke rumah sakit, untuk melayani resep.
Sistem distribusi perbekalan farmasi dosis unit adalah tanggung jawab IFRS, hal itu tidak dapat
dilakukan di rumah sakit tanpa kerja sama dengan staf medik, perawatan pimpinan rumah sakit dan
staf administratif. Jadi, dianjurkan bahwa suatu panitia perencana perlu ditetapkan untuk
mengembangkan pendekatan penggunaan suatu sistem distribusi dosis unit. Kepemimpinan dari
panitia ini seharusnya datang dari apoteker IFRS yang menjelaskan kepada anggota lain tentang
konsep distribusi perbekalan farmasi dosis unit.
Sistem distribusi perbekalan farmasi dosis unit adalah metode dispensing dan pengendalian
perbekalan farmasi yang dikoordinasikan IFRS dalam rumah sakit. Sistem dosis unit dapat berbeda
dalam bentuk, tergantung pada kebutuhan khusus rumah sakit. Akan tetapi, unsur khusus berikut
adalah dasar dari semua sistem dosis unit, yaitu: Perbekalan farmasi dikandung dalam kemasan unit
tunggal; di-dispensing dalam bentuk siap konsumsi; dan untuk kebanyakan perbekalan farmasi tidak
lebih dari 24 jam persediaan dosis, diantarkan ke atau tersedia pada ruang perawatan pasien setiap
saat.
Sistem distribusi dosis unit dapat dioperasikan dengan salah satu daru 3 metode di bawah ini,
yang pilihannya tergantung pada kebijakan dan kondisi rumah sakit.
 Sistem distribusi dosis unit sentralisasi. Sentralisasi dilakukan oleh IFRS sentral ke semua
unit rawat inap di rumah sakit secara keseluruhan. Artinya, di rumah sakit itu mungkin hanya
satu IFRS tanpa adanya depo/satelit IFRS di beberapa unit pelayanan.
 Sistem distribusi dosis unit desentralisasi dilakukan oleh beberapa depo/satelit IFRS di
sebuah rumah sakit. Pada dasarnya sistem distribusi desentralisasi ini sama dengan sistem
distribusi obat persediaan lengkap di ruang, hanya saja sistem distribusi desentralisasi ini
dikelola seluruhnya oleh apoteker yang sama dengan pengelolaan dan pengendalian oleh
IFRS sentral.
 Dalam sistem distribusi dosis unit kombinasi sentralisasi dan desentralisasi, biasanya hanya
dosis awal dan dosis keadan darurat dilayani depo/satelit IFRS. Dosis selanjutnya dilayani
oleh IFRS sentral. Semua pekerjaan tersentralisasi yang lain, seperti pengemasan dan
pencampuran sediaan intravena juga dimulai dari IFRS sentral.
Beberapa keuntungan sistem distribusi dosis unit yang lebih rinci sebagai berikut:
 Pasien hanya membayar perbekalan farmasi yang dikonsumsinya saja.
 Semua dosis yang diperlukan pada unit perawatan telah disiapkan oleh IFRS.
 Mengurangi kesalahan pemberian perbekalan farmasi.
 Menghindari duplikasi order perbekalan farmasi yang berlebihan.
 Meningkatkan pemberdayaan petugas profesional dan non profesional yang lebih efisien.
 Mengurangi risiko kehilangan dan pemborosan perbekalan farmasi.
 Memperluas cakupan dan pengendalian IFRS di rumah sakit secara keseluruhan sejak dari dokter
menulis resep/order sampai pasien menerima dosis unit
 Sistem komunikasi pengorderan dan distribusi perbekalan farmasi bertambah baik.
 Apoteker dapat datang ke unit perawatan/ruang pasien, untuk melakukan konsultasi perbekalan
farmasi, membantu memberikan masukan kepada tim, sebagai upaya yang diperlukan untuk
perawatan psaien yang lebih baik.
 Peningkatan dan pengendalian dan pemantauan penggunaan perbekalan farmasi menyeluruh.
 Memberikan peluang yang lebih besar untuk prosedur komputerisasi.
Kelemahan sistem distribusi dosis unit yaitu :
 Meningkatnya kebutuhan tenaga farmasi
 Meningkatnya biaya operasional
4. Sistem Distribusi Kombinasi
Merupakan sistem distribusi yang menerapkan sistem distribusi resep/order individual sentralisasi, juga
menerapkan distribusi persediaan di ruangan yang terbatas. Perbekalan farmasi yang disediakan di
ruangan adalah perbekalan farmasi yang diperlukan oleh banyak penderita, setiap hari diperlukan, dan
biasanya adalah perbekalan farmasi yang harganya murah mencakup perbekalan farmasi berupa resep
atau perbekalan farmasi bebas.
Keuntungan sistem distribusi kombinasi yaitu:
 Semua resep/order perorangan dikaji langsung oleh apoteker.
 Adanya kesempatan berinteraksi dengan profesional antara apoteker dokter, perawat dan
pasien/keluarga pasien.
 Perbekalan farmasi yang diperlukan dapat segera tersedia bagi pasien.
 Rancangan Sistem Distribusi
Mendisain suatu distribusi perbekalan farmasi di rumah sakit memerlukan:
1. Analisis sitematik dari rasio manfaat-biaya dan perencanaan operasional. Setelah sistem
diterapkan, pemantauan kinerja dari evaluasi mutu pelayanan tetap diperlukan guna memastikan
bahwa sistem berfungsi sebagaimana dimaksudkan.
2. Jumlah ruangan dalam sistem, cakupan geografis dan tata ruang rumah sakit, populasi pasien.
3. Kualitas dan kuantitas staf.
 Beberapa bentuk permintaan perbekalan farmasi dari dokter kepada IFRS, yaitu:
a. Menggunakan resep yang dibuat rangkap dua, asli dikirim ke IFRS sedangkan tembusan disimpan
pada rekam medik.
b. Formulir order dari ruangan gawat inap langsung ke IFRS, contoh dari RSHS.
c. Menggunakan faksimili, dari ruangan pasien, order/resep dokter dikirim melalui faksimili. Hal ini
tentu cukup mahal, akan tetapi untuk ruangan pasien yang jauh dari IFRS, hal ini menguntungkan
terutama dalam sistem distribusi perbekalan farmasi sentralisasi.
d. Komputerisasi, dari sistem komputer, dokter memasukan order ke dalam komputer, disimpan, dan
order dicetak oleh IFRS. Untuk sistem demikian, rumah sakit harus menyediakan ketentuan
dan/atau prosedur untuk melindungi data, mencegah akses dan perubahan data oleh orang tidak
berwenang terhadap order/resep perbekalan farmasi tersebut.
 Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian Yang Baik (CPFB) Good Pharmacy Practice (GPP)Kerjasama
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Dengan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia Tahun 2011 (halaman 17)
 Sistem distribusi yang baik harus:
a. menjamin kesinambungan penyaluran/penyerahan
b. mempertahankan mutu
c. meminimalkan kehilangan, kerusakan dan kadaluarsa
d. menjaga ketelitian pencatatan
e. menggunakan metode distribusi yang efisien, dengan memperhatikan peraturan perundangan dan
ketentuan lain yang berlaku.
f. menggunakan sistem informasi manajemen.

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan peran apoteker terkait scenario



Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam
penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Berdasarkan tahap kejadiannya,
medication error dapat dibagi menjadi prescrbing error (kesalahan peresepan), transcribing error (error
terjadi pada saat pembacaan resep), dispensing error (kesalahan distribusi), administration error
(kesalahan pemberian obat), dan patient compliance error (kesalahan kepatuhan penggunaan obat oleh
pasien).
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa pada skenario hampir terjadi dispensing error (kesalahan
distribusi) obat. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap obat yang perlu diwaspadai
(high-alert medication). Kelompok obat high-alert diantaranya obat yang terlihat mirip dan kedengarannya
mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/ LASA).
Untuk mencegah terjadinya dispensing error (kesalahan distribusi) sebaiknya apoteker penanggung jawab
di IFRS membuat penyimpanan obat khusus LASA. Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan tempat
penyimpanan obat khusus LASA :
a. LASA (Look Alike Sound Alike) merupakan sebuah peringatan (warning) untuk keselamatan pasien
(patient safety): obat-obatan yang bentuk / rupanya mirip dan pengucapannya/ namanya mirip TIDAK
BOLEH diletakkan berdekatan dan harus diberi label LASA.
b. Walaupun terletak pada kelompok abjad yang sama harus diselingi dengan minimal 1 atau 2 (satu atau
dua) obat dengan kategori LASA diantara atau ditengahnya
c. Biasakan mengeja nama obat dengan kategori LASA saat memberi / menerima instruksi.
d. Untuk obat-obat yang termasuk kelompok LASA/NORUM Obat kategori Look Alike Sound Alike (LASA)
diberikan penanda dengan stiker hijau bertuliskan LASA pada tempat penyimpanan obat. Apabila obat
dikemas dalam paket untuk kebutuhan pasien, maka diberikan tanda stiker hijau LASA pada kemasan
primer obat.
DISKUSI PANEL SKENARIO 2

 Apakah perbebdaan dari sistem pendistribusian UUD dan pneumatic tube?


 Pneumatic Tube
Pneumatic Tube atau tabung pneumatik merupakan sistem transportasi untuk mendistribusikan
barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan tabung yang didorong melaui jaringan
pipa dengan udara bertekanan atau dengan sistem vakum parsial. Di Rumah Sakit, sistem tabung
pneumatik ini masih sangat bermanfaat dan telah dikembangkan menjadi teknologi yang lebih maju.
Sistem tabung pneumatik merupakan salah satu komponen vital dalam sistem penghantaran materi di
rumah sakit, keuntungan yang diperoleh dari penggunaan sistem ini adalah lebih efektif dan efisien
terutama untuk menghantarkan sample laboratorium, obat-obatan yang berukuran kecil serta kertas-
kertas dokumen dari satu area ke area lain.
 Unit Dose Dispensing =UDD
Definisi perbekalan farmasi dosis unit adalah perbekalan farmasi yang diorder oleh dokter untuk
pasien, terdiri atas satu atau beberapa jenis perbekalan farmasiyang masing-masing dalam kemasan
dosis unit tunggal dalam jumlah persediaan yang cukup untuk suatu waktu tertentu. Sistem distribusi
perbekalan farmasi dosis unit adalah tanggung jawab IFRS, hal itu tidak dapat dilakukan di rumah sakit
tanpa kerja sama dengan staf medik, perawatan pimpinan rumah sakit dan staf administratif. Jadi,
dianjurkan bahwa suatu panitia perencana perlu ditetapkan untuk mengembangkan pendekatan
penggunaan suatu sistem distribusi dosis unit. Kepemimpinan dari panitia ini seharusnya datang dari
apoteker IFRS yang menjelaskan kepada anggota lain tentang konsep distribusi perbekalan farmasi
dosis unit.
 Apakah sistem pendistribusian pneumatic tube bisa digunakan utnuk semua rumah sakit?
Pneumatic Tube atau tabung pneumatik merupakan sistem transportasi untuk mendistribusikan
barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan tabung yang didorong melaui jaringan
pipa dengan udara bertekanan atau dengan sistem vakum parsial. Di Rumah Sakit, sistem tabung
pneumatik ini masih sangat bermanfaat dan telah dikembangkan menjadi teknologi yang lebih maju.
Untuk sistem Pneumatic Tube digunakan pada rumah sakit besar yang terdiri dari belasan sampai
pulhan lantai sehingga memudahkan dalam pendistribusian dan mengefisienkan waktu.
 Apa sajakah yang harus diperhatikan untuk obat emergency?
Pengelolaan Obat emergensi harus menjamin:
A. Jumlah dan jenis Obat sesuai dengan daftar Obat emergensi yang telah ditetapkan;

B. Tidak boleh bercampur dengan persediaan Obat untuk kebutuhan lain;

C. Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera diganti;

D. Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluwarsa; dan

E. Dilarang untuk dipinjam untuk kebutuhan lain.


 Apa saja syarat produk yang masuk dalam Cold Chain?
a. Tempat penyimpanan minimal chiller untuk produk dengan
peryaratan penyimpanan suhu 2 s/d 8oC dan freezer untuk produk dengan peryaratan
penyimpanan suhu -25 s/d -15oC;
b. Tempat penyimpanan harus dilengkapi dengan alat monitoring suhu yang terkalibrasi;
c. Harus dilakukan pemantauan suhu tempat penyimpanan selama 3 (tiga) kali sehari dengan
rentang waktu yang memadai;
d. Tempat penyimpanan harus dilengkapi dengan generator otomatis atau generator manual yang
dijaga oleh personil khusus selama 24 jam; dan
e. Penyimpanan obat tidak terlalu padat sehingga sirkulasi udara dapat dijaga, jarak antara produk
sekitar 1-2 cm.
 Apa sajakah masalah yang sering timbul dalam penyimpanan obat?
 Adanya ketidak sesuaian antara jumlah obat pada gudang penyimpanan dengan kartu stock
karena kurang teliti dalam melakukan pencatatan stock.
 Terjadinya kerusakan kemasan pada sedian farmasi akibat tidak memperhatikan cara
penyimpanan obat yang benar.
 Terjadinya kerusakan sedian farmasi sebelum masa expayer date akibat kesalahan
penyimpanan dan tidak mengikuti persayaratan kestabilian masing-masing sedian farmasi.
 Disitribusi apakah yang paling sesuai untuk rawat jalan dan rawat inap?
a. Rawat Inap
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai berdasarkan Resep
perorangan yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali
dosis/pasien. Sistem unit dosis ini digunakan untuk pasien rawat inap. Sistem distribusi Unit Dose
Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk pasien rawat inap mengingat dengan sistem ini tingkat
kesalahan pemberian Obat dapat diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan dengan sistem
floor stock atau Resep individu yang mencapai 18%.
b. Rawat Jalan
Resep perorangan adalah order/resep yang ditulis dokter untuk tiap pasien. Dalam sistem ini
perbekalan farmasi disiapkan dan didistribusikan oleh IFRS sesuai yang tertulis pada resep. Sistem ini
sesuai untuk pasien rawat jalan karena memiliki beberapa keuntungan yaitu semua resep/order dikaji
langsung oleh apoteker, yang kemudian memberikan keterangan atau informasi kepada pasien
secara langsung, memberikan kesempatan interaksi profesional antara apoteker, dokter, perawat, dan
pasien, memungkinkan pengendalian yang lebih dekat dan mempermudah penagihan biaya
perbekalan farmasi bagi pasien.
 Kapan dilakukan sistem pendistribusian kombinasi?
Setiap rumah sakit pasti menggunakan sistem distribusi kombinasi karena memiliki depo/unit yang
berbeda dengan kebutuhan yang berbeda pula. Seperti unit gawat darurat harus menggunakan sistem
distribusi floor stock sedangkan unit perawatan lainnya bisa menggunakan sistem UDD. Dan setiap
sistem meiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing jadi tergantung juga dari tipe rumah sakit dan
apoteker penanggung jawab dalam menentukan sistem distribusi yang akan mereka gunakan nanti.

REFRESHIG SKENARIO 2
(PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI )
 PENYIMPANAN
 Persyaratan kefarmasian dalam penyimpanan :
g. Stabilitas dan keamanan
h. Sanitasi
i. Cahaya
j. Kelembaban
k. Ventilasi
l. Penggolongan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai.
 Metode Penyimpanan
h. Kelas terapi
i. Bentuk sediaan
j. Jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
k. Disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First Out (FEFO) dan First In
First Out (FIFO) disertai sistem informasi manajemen.
l. Penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang penampilan
dan penamaan yang mirip (LASA, Look Alike Sound Alike) tidak ditempatkan berdekatan dan
harus diberi penandaan khusus untuk mencegah terjadinya kesalahan pengambilan Obat.
m. Rumah Sakit harus dapat menyediakan lokasi penyimpanan Obat emergensi untuk kondisi
kegawatdaruratan. Tempat penyimpanan harus mudah diakses dan terhindar dari penyalahgunaan
dan pencurian.
 Penyimpanan Obat LASA
a. LASA (Look Alike Sound Alike) merupakan sebuah peringatan (warning) untuk keselamatan pasien
(patient safety): obat-obatan yang bentuk / rupanya mirip dan pengucapannya/ namanya mirip TIDAK
BOLEH diletakkan berdekatan dan harus diberi label LASA.
b. Walaupun terletak pada kelompok abjad yang sama harus diselingi dengan minimal 1 atau 2 (satu atau
dua) obat dengan kategori LASA diantara atau ditengahnya
c. Biasakan mengeja nama obat dengan kategori LASA saat memberi / menerima instruksi.
d. Untuk obat-obat yang termasuk kelompok LASA/NORUM Obat kategori Look Alike Sound Alike (LASA)
diberikan penanda dengan stiker hijau bertuliskan LASA pada tempat penyimpanan obat. Apabila obat
dikemas dalam paket untuk kebutuhan pasien, maka diberikan tanda stiker hijau LASA pada kemasan
primer obat.
 DISTRIBUSI
 Defenisi dan Tujuan Distribusi
Distribusi adalah kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan
individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang pelayanan
medis. Adapun tujuan pendistribusian yaitu tersedianya perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan
secara tepat waktu, tepat jenis dan jumlah.
 Jenis Sistem Distribusi
4. Resep Perorangan
Resep perorangan adalah order/resep yang ditulis dokter untuk tiap pasien. Dalam sistem ini
perbekalan farmasi disiapkan dan didistribusikan oleh IFRS sesuai yang tertulis pada resep.
Keuntangan resep perorangan, yaitu:
 Semua resep/order dikaji langsung oleh apoteker, yang kemudian memberikan keterangan atau
informasi kepada pasien secara langsung.
 Memberikan kesempatan interaksi profesional antara apoteker, dokter, perawat, dan pasien.
 Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat.
 Mempermudah penagihan biaya perbekalan farmasi bagi pasien.
Kelemahan/Kerugian sistem resep perorangan, yaitu:
 Memerlukan waktu yang lebih lama
 Pasien membayar obat yang kemungkinan tidak digunakan
5. Sistem Distribusi Persediaan Lengkap Di Ruang
Definisi sistem distribusi persediaan lengkap di ruang adalah tatanan kegiatan pengantaran
sediaan perbekalan farmasi sesuai dengan yang ditulis dokter pada order perbekalan farmasi,
yang disiapkan dari persediaan di ruang oleh perawat dengan mengambil dosis/unit perbekalan
farmasi dari wadah persediaan yang langsung diberikan kepada pasien di ruang tersebut.
Dalam sistem persediaan lengkap di ruangan, semua perbekalan farmasi yang dibutuhkan pasien
tersedia dalam ruang penyimpanan perbekalan farmasi, kecuali perbekalan farmasi yang jarang
digunakan.
Keuntungan persediaan lengkap di ruang, yaitu:
 Pelayanan lebih cepat
 Menghindari pengembalian perbekalan farmasi yang tidak terpakai ke IFRS.
 Mengurangi penyalinan order perbekalan farmasi.
Kelemahan persediaan lengkap di ruang, yaitu:
 Kesalahan perbekalan farmasi sangat meningkat karena order perbekalan Farmasi tidak dikaji oleh
apoteker.
 Persediaan perbekalan farmasi di unit pelayanan meningkat, dengan fasilitas ruangan yang sangat
terbatas. Pengendalian persediaan dan mutu, kurang diperhatikan oleh perawat.
 Kemungkinan hilangnya perbekalan farmasi tinggi.
 Penambahan modal investasi, untuk menyediakan fasilitas penyimpanan perbekalan farmasi yang
sesuai di setiap ruangan perawatan pasien.
 Diperlukan waktu tambahan lagi bagi perawat untuk menangani perbekalan farmasi.
 Meningkatnya kerugian dan bahaya karena kerusakan perbekalan farmasi.
Sistem distribusi persediaan lengkap ini hanya digunakan untuk kebutuhan gawat darurat dan
bahan dasar habis pakai. Kerugian / kelemahan sistem distribusi perbekalan farmasi persediaan
lengkap di ruang sangat banyak. Oleh karena itu, sistem ini hendaknya tidak digunakan lagi.
Dalam sistem ini, tanggung jawab besar dibebankan kepada perawat, yaitu menginterpretasi order
dan menyiapkan perbekalan farmasi, yang sebetulnya adalah tanggung jawab apoteker.
6. Sistem Distribusi Dosis Unit (Unit Dose Dispensing =UDD)
Definisi perbekalan farmasi dosis unit adalah perbekalan farmasi yang diorder oleh dokter untuk
pasien, terdiri atas satu atau beberapa jenis perbekalan farmasiyang masing-masing dalam kemasan
dosis unit tunggal dalam jumlah persediaan yang cukup untuk suatu waktu tertentu.
Beberapa keuntungan sistem distribusi dosis unit yang lebih rinci sebagai berikut:
 Pasien hanya membayar perbekalan farmasi yang dikonsumsinya saja.
 Semua dosis yang diperlukan pada unit perawatan telah disiapkan oleh IFRS.
 Mengurangi kesalahan pemberian perbekalan farmasi.
 Menghindari duplikasi order perbekalan farmasi yang berlebihan.
 Meningkatkan pemberdayaan petugas profesional dan non profesional yang lebih efisien.
 Mengurangi risiko kehilangan dan pemborosan perbekalan farmasi.
 Memperluas cakupan dan pengendalian IFRS di rumah sakit secara keseluruhan sejak dari dokter
menulis resep/order sampai pasien menerima dosis unit
 Sistem komunikasi pengorderan dan distribusi perbekalan farmasi bertambah baik.
 Apoteker dapat datang ke unit perawatan/ruang pasien, untuk melakukan konsultasi perbekalan
farmasi, membantu memberikan masukan kepada tim, sebagai upaya yang diperlukan untuk
perawatan psaien yang lebih baik.
 Peningkatan dan pengendalian dan pemantauan penggunaan perbekalan farmasi menyeluruh.
 Memberikan peluang yang lebih besar untuk prosedur komputerisasi.
Kelemahan sistem distribusi dosis unit yaitu :
 Meningkatnya kebutuhan tenaga farmasi
 Meningkatnya biaya operasional
4. Sistem Distribusi Kombinasi
Merupakan sistem distribusi yang menerapkan sistem distribusi resep/order individual sentralisasi, juga
menerapkan distribusi persediaan di ruangan yang terbatas. Perbekalan farmasi yang disediakan di
ruangan adalah perbekalan farmasi yang diperlukan oleh banyak penderita, setiap hari diperlukan, dan
biasanya adalah perbekalan farmasi yang harganya murah mencakup perbekalan farmasi berupa resep
atau perbekalan farmasi bebas.
Keuntungan sistem distribusi kombinasi yaitu:
 Semua resep/order perorangan dikaji langsung oleh apoteker.
 Adanya kesempatan berinteraksi dengan profesional antara apoteker dokter, perawat dan
pasien/keluarga pasien.
 Perbekalan farmasi yang diperlukan dapat segera tersedia bagi pasien.
 Rancangan Sistem Distribusi
Mendisain suatu distribusi perbekalan farmasi di rumah sakit memerlukan:
5. Analisis sitematik dari rasio manfaat-biaya dan perencanaan operasional. Setelah sistem
diterapkan, pemantauan kinerja dari evaluasi mutu pelayanan tetap diperlukan guna memastikan
bahwa sistem berfungsi sebagaimana dimaksudkan.
6. Jumlah ruangan dalam sistem, cakupan geografis dan tata ruang rumah sakit, populasi pasien.
7. Kualitas dan kuantitas staf.
 Beberapa bentuk permintaan perbekalan farmasi dari dokter kepada IFRS, yaitu:
e. Menggunakan resep yang dibuat rangkap dua, asli dikirim ke IFRS sedangkan tembusan disimpan
pada rekam medik.
f. Formulir order dari ruangan gawat inap langsung ke IFRS, contoh dari RSHS.
g. Menggunakan faksimili, dari ruangan pasien, order/resep dokter dikirim melalui faksimili. Hal ini
tentu cukup mahal, akan tetapi untuk ruangan pasien yang jauh dari IFRS, hal ini menguntungkan
terutama dalam sistem distribusi perbekalan farmasi sentralisasi.
h. Komputerisasi, dari sistem komputer, dokter memasukan order ke dalam komputer, disimpan, dan
order dicetak oleh IFRS. Untuk sistem demikian, rumah sakit harus menyediakan ketentuan
dan/atau prosedur untuk melindungi data, mencegah akses dan perubahan data oleh orang tidak
berwenang terhadap order/resep perbekalan farmasi tersebut.