Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyebaran HIV/AIDS menjadi masalah yang kini dihadapi oleh dunia, dan tidak
hanya menjadi permasalahan milik beberapa Negara saja. Di Indonesia, peningkatan jumlah
individu yang terpapar HIV/AIDS (lebih sering disebut ODHA) juga tergolong
mencengangkan dan memprihatinkan. Indonesia juga disebut sebagai Negara yang
mengalami peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS tertinggi di ASEAN sejak 2001
hingga sekarang. (kebijakan AIDS Indonesia, 2015). Keadaan ini tentu memaksa pemerintah
dan banyak institusi yang berkepentingan bekerja keras untuk menekan laju pertumbuhan
pengidap HIV/AIDS di Indonesia.
Direktur Remaja dan perlindungan Hak-hak Reproduksi Keluarga Berencana
Nasional (BKKN) M Masri Muadz menyatakan, berdasarkan hasil survey perusahaan
kondom pada 2005 di hampir semua kota besar di Indonesia dari sabang hingga merauke,
tercatat sekitar 40%-50% remaja antara 14-24 tahun menyatakan secara terbuka bahwa
mereka telah berhubungan seks pra nikah.
AIDS di Indonesia sampai dengan tahun 2010 mencapai 24,131 orang. Berdasarkan data
tersebut, sebagian besar kasus ditemukan berasal dari kelompok heteroseksual (52,70%),
selebihnya adalah pengguna NAPZA jarum suntik (38,30%). Homoseksual (3%),, ibu kepada
bayi (2,6%),, transfuse darah (0,20%) serta kasus lain yang tidak diketahui (3,20%).
Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa kasus HIV/AIDS dari kelompok heteroseksual
mengalami peningkata besar, dan Napza yang terbilang tinggi setelah perilaku sex bebas.
Penasun adalah pengguna NAPZA suntik yang dikarenakan ketergantungan atau
adiksinya akan sangat sulit untuk bisa berhenti dan beresiko tinggi menukarkan HIV/AIDS.
Menurut lembaga penelitian dan pengabdian Kepala Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya
(2010) pengguna napza suntik (penasun) memainkan peranan yang penting dalam penyebaran
HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki resiko tinggi terinfeksi karena perilaku
berbagai jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti
pasangan dan tidak mengggunakan kondom.
Tingkat penggunaan kondom masih sangat rendah, bahkan kerika melakukan seks
beresiko tinggi dengan pekerja seks komersial,dan waria, . Hal ini terjadi karena banyak
yang menadang rendah perilaku seks aman (lewis, lift, cronce, blayne, & Gilmore, 2014).
Pada titik ini, tentu menjadi penting artinya untuk memahami perilaku seks beresiko yang
mungkin masih dilakukan oleh banyak orang dengan HIV/AIDS.

Dari data diatas maka, kelompok akan membahas tentang perilaku sex bebas dan NAPZA
yang merupakan penyebab terbesar penularan HIV/AIDS.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Perilaku seks beresiko dalam penulran HIV/AIDS ?


2. Bagaimana NAPZA menjadi penularan HIV/AIDS.?

C. Tujuan Umum

Megetahui perilaku seks bebas dan NAPZA yang menjadi penularan HIV/AIDS.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Seks Bebas


Seks bebas adalah sebuah perilaku beresiko yang merupakan sebuah hasil
akumulatif dan kombinasi sejumlah faktor yang mampu menerabas norma-norma
tersebut kita pelajari sejak kecil dan kita yakin seks bebas itu sebuah hal yang
dilarang.Seks bebas merupakan perilaku tidak terpuji yang melanggar nilai-nilai
spiritual semua ajaran agama mengajarkan nilai dan norma dalam bergaul dan
tentunya semua agama tidak setuju adanya seks bebas.Seks bebas tidak menjunjung
nilai yang berlaku. Seks bebas merupakan tingkah laku yang di dorong oleh hasrat
seksual yang ditunjukan dalam bentuk tingkah laku.

Hubungan seksual, baik secara vaginal, oral, maupun anal dengan seorang
pengidap. Ini adalah cara paling umum terjadi., meliputi 80-90% dari total kasus
sedubia. Penularan mudah terjadi apabila terdapat lesi penyakit kelamin dengan ulkus
atau peradangan jaringan dengan seperti herpes genetalis, sifilis gonorea,klamidia,
kankroid, dan trikomoniasis. Resiko pada seks anal lebi besar dibandingkan dengan
seks vagina, dan risiko lebih besar insentif daripada reseptif (soekidjo
Notoatmodjo,2007:315 dalam kumalasari,2013)

B. Faktor Yang Mendorong Seks Bebas

Seks bebas pada umumnya dilakukan oleh para remaja. Faktor-faktor yang
mendorong remaja melakukan hubungan seks di luar nikah, adalah :

1. Karena mispersepsi terhadap makna pacaran yang menganggap bahwa hubungan


seks adalah bentuk penyaluran kasih sayang.
2. Karena kehidupan iman yang rapuh. Kehidupan beragama yang baik dan benar
ditandai dengan pengertian, pemahaman dan ketaatan dalam menjalankan ajaran-
ajaran agama dengan baik tanpa dipengaruhi oleh situasi kondisi apapun.
3. Kematangan biologis yang tida disertai dengan kemampuan mengendalikan diri
cenderung berakibat Negatif, yakni terjadi hubungan seksual pranikah dimasa
pacaran. Sebaliknya kematangan biologis yang disertai dengan kemampuan
mengendalikan diri akan membawa kebahagian remaja dimasa depannya sebab ia
tidak akan melakukan hubungan seksual pranikah.

Faktor lain yang menyebabkan orang melakukan seks bebas adalah sebagai berikut.

1. Kurangnya pemahaman individu akan ajaran agamanya secara benar dan


mendalam
2. kurangnya perhatian orangtua
3. merasa bukan anak gaul, dengan pernah melakukan seks dianggap ”Gaul”
4. cueknya masyarakat akan situasi linkungan
5. taraf pendidikan sex bagi remaja yang belum tertata secara benar
6. terlupakannya intisari adat budaya luhur bangsa sebagai katalisator dalam
pergaulan akibat pengaruh globalisasi.

C. Dampak dan Bahayanya Seks Bebas


Seks bebas banyak sekali dampak negative yang di timbulkan terutama bagi individu
yang melakukannya dan lingkungannya. Dampak tersebut diantaranya :
1. Beberapa penyakit yang siap mendatangi seperti, herpes, HIV Aids, Raja singa, dan
penyakit lainnya.
2. Hamil di luar pernikahan akan menimbulkan permasalahan baru, apabila anda masih
kuliah atau sekolah tentu saja orang tua anda akan sangat kesal kepada anda. Dan
anda pun takut untuk jujur kepada orang tua anda dan pasangan anda, akhirnya anda
memutuskan untuk melakukan dosa baru yaitu aborsi.
3. Apabila anda menikah di usia muda, permasalahan yang belum siap anda hadapi
akan datang, seperti masalah keungan, masalah kebiasaan, masalah anak.
4. Nama baik keluarga akan tercoreng oleh sikap anda. Keluarga anda akan
menghadapi masalah yang anda buat apabila anda mendapatkan efek buruk dari seks
bebas ini.
5. Apabila anda hamil dan pasangan anda tidak mau bertanggung jawab, apa yang
akan anda lakukan?. Akan banyak pikiran buruk yang akan mengganggu anda. Seperti
ingin bunuh diri, berpikir tidak rasional yang mengakibatkan gangguan mental atau
gila.

D. Penyakit Menular yang ditimbulkan Seks Bebas


1. Gonorrhea
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae
yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan atau
bagian putih mata (konjungtiva). Infeksi ini dimulai beberapa hari sampai beberapa
minggu setelah berhubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini. Gonore
bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan
persendian.
Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam
panggul sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi yang bisa
menyebabkan kemandulan apabila tidak segera diobati. Sedangkan pada pria penyakit
ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria dan buang air kecil terasa sakit.

2. Herpes
Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti gerombolan vesikel
unilateral, sesuai dengan dermatomanya (persyarafannya). Herpes zoster adalah sutau
infeksi yang dialami oleh seseorang yang tidak mempunyai kekebalan terhadap
varicella (misalnya seseorang yang sebelumnya tidak terinfeksi oleh varicella dalam
bentuk cacar air). Herpes ini dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan. Gejala
timbul antara 3 sampai 10 hari setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit
ini. Gejala awal muncul seperti lecet yang kemudian terbuka menjadi lubang kecil dan
berair. Dalam 5 sampai 10 hari gejala hilang. Virus menetap dalam tubuh dan dapat
timbul lagi sesuatu saat, dan kadang-kadang sering. Wanita kerap kali tidak sadar
bahwa ia menderita herpes karena lecet terjadi di dalam vagina.
3. Infeksi Jamur
Disebabkan oleh jamur yang dapat menyebabkan kegatalan berwarna merah di bawah
kulit pria yang tidak disunat. Pada wanita akan ke luar cairan putih kental yang
menyebabkan rasa gatal.
4. Syphilis
Syphilis adalah penyakit infeksi yang serius oleh bakteri Treponema pallidum dengan
perjalanan penyakit yang kronis, adanya remisi dan dapat menyerang organ dalam
tubuh terutama system kardiovaskular, otak dan susunan saraf. Penyakit syphilis
disebut juga Mal de naples, morbus gallicus, lues venereal (Prat), disease of the isle of
espanole (Dias), Spanish of French disease, Italian or Neopolitan disease atau raja
singa. Penderita penyakit ini, luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang
lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit dan luka akan hilang setelah beberapa
minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa
lecet-lecet pada seluruh tubuh Lecet-lecet ini akan hilang juga, dan virus akan
menyerang bagian tubuh lain.
5. Vaginistis
Infeksi pada vagina yang biasanya menyebabkan keluarnya. cairan dari vagina yang
berbau dan menimbulkan ketidak nyaman. Disebabkan oleh berbagai jenis bakteri
(bakteri gonorrhea atau jamur dan Juga dapat disebabkan oleh berbagai bakteri tidak
berbahaya yang memang menetap pada vagina. Dapat diselidiki dengan meneliti
cairan vagina tersebut dengan mikroskop.
6. Bisul Alat Kelamin
Dapat disebabkan oleh virus (Virus Human Papilloma atau HPV). Muncul berupa satu
atau banyak bisul atau benjolan antara sebulan sampai setahun setelah berhubungan
intim dengan penderita penyakit tersebut. Pada umumnya tidak dapat terlihat pada
wanita karena terletak di dalam vagina, atau pada pria karena terlalu kecil. Dapat diuji
dengan lapisan cuka. Dapat berakibat serius pada wanita karena dapat menyebabkan
kanker cervix.
7. Kutu Kelamin
Sangat kecil (lebih kecil atau sama dengan 1/8 inch), berwana kelabu kecoklatan,
menetap pada rambut kemaluan.
8. Kutu di Bawah Kulit
Mirip dengan kutu kelamin, tetapi ukurannya lebih kecil dan menetap di bawah kulit.
Menyebabkan luka-luka kecil dan gatal di seluruh tubuh. Diobati dengan obat cair
yang diusapkan ke seluruh tubuh. Pakaian, seprei dan handuk harus dicuci setelah
pengobatan, karena kutu dapat menetap pada kain-kain terebut.
9. HIV/AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang
menyebabkan timbulnya AIDS. Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama
pada darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Penyakit akibat hubungan
intim yang paling serius, menyebabkan tidak bekerjanya sistim kekebalan tubuh.
Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah. Dapat menyebabkan kematian
setelah sepuluh tahun setelah terinfeksi virus HIV, tetapi pengobatan telah ditemukan
walaupun sifatnya hanya memperlambat penyebaran virusnya. Disebarkan melalui
hubungan intim seperti berciuman mulut dan melakukan seks dan hubungan dengan
lendir penderita dan pemakaian jarum suntik secara bersamaan. Janganlah
menjerumuskan diri sendiri kedalam lembah yang sangat merugikan diri kita,
gunakanlah masa hidupmu dengan baik, isilah dengan kegiatan yang positif dan bisa
berguna bagi orang lain tentu ini sangat membanggakan diri kita sendiri.
10. Klamidia
Kondisi ini mempunyai gejala mirip gonore, walaupun bisa juga muncul tanpa
gejala. Penyakit Klamidia dapat menyebabkan artritis parah dan kemandulan pada
pria. 4 juta orang Amerika terinfeksi Kmidia setiap tahun.
11. Jengger Ayam (Genital wart)
disebabkan oleh sejenis virus papiloma, yang terkait dengan kanker penis serta anus.
12. Hepatitis B
Penyakit ini dapat berlanjut ke sirosis hati atau kanker hati. Setiap tahun kasus yang
dilaporkan penderita Hepatitis B mencapai 200.000.
13. Kanker Prostat
Pria yang sering melakukan seks dengan banyak wanita berisiko 2 kali lipat terkena
kanker prostat.
14. Kanker Serviks (leher rahim)
95 persen kanker serviks disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). 33 persen
wanita dilaporkan punya virus HPV, yang menyebabkan adanya sakit di leher rahim.
Virus ini bisa menular lewat hubungan seksual, dan laki-laki pun bisa tertular oleh
virus ini.
15. Trichomoniasis
Penyakit ini bisa menyebabkan bayi terlahir prematur jika sang ibu menderita
penyakit ini saat hamil. Trichomoniasis Bisa menyebabkan daerah di sekitar vagina
menjadi berbuih atau berbusa. oral seks dan penggunaan alat bantu seks seperti
vibrator juga berisiko menularkan virus Trichomoniasis.

D. Ciri-ciri Kecanduan Seks

Lalu, seperti apakah tanda-tanda dari mereka yang menderita kecanduan seks? Dr Patrick
Carnes salah seorang terapis profesional masalah seks mengisyaratkan adanya 10
kemungkinan tanda yang perlu diwaspadai:
1. Merasakan bahwa perilaku seks Anda tidak terkendali.
2. Sadar bisa muncul akibat yang parah bila Anda terus berlanjut dengan perilaku itu.
3. Merasa tak sanggup menghentikan perilaku Anda meski sadar akan akibatnya.
4. Tetap memburu kegiatan seks yang destruktif dan/atau berisiko tinggi itu.

5. Terus berharap akan menghentikan atau mengendalikan apa yang Anda lakukan dan
bertindak aktif untuk membatasi kegiatan berbahaya yang Anda lakukan.
6. Menggunakan fantasi-fantasi seksual sebagai cara untuk mengatasi perasaan atau
situasi sulit.
7. Butuh nge-seks terus-menerus agar selalu merasa nikmat.
8. Menderita akibat perasaan yang terus bergejolak di seputar kegiatan seks.
9. Menghabiskan banyak waktu guna merencanakan, melakukan, atau menyesali dan
melakukan lagi kegiatan seksual.
10. Mengabaikan kegiatan sosial, kegiatan kantoran, dan kegiatan rekreasional yang
penting demi seks.

E. Pencegahan Terjadinya Seks Bebas

Untuk orang tua


a. Cobalah berempati
Cobalah ‘menjadi’ mereka.Empati seperti itulah saran yang paling Dianjurkan oleh para
ahli dalam menjembatani komunikasi orang tua dan anak dalam menangani perilaku seks
bebas di kalangan remaja.Baik dalam memberikan informasi-informsi dini tentang
pergaulan, menjaga kesehatan reproduksi maupun dalan penanganan kasus yang sudah
berlanjut.
Hampir semua orang tua mengaku bermasalah dengan anak remajanya yang sedang
pubertas semua orang tua juga mengaku ada gap (jarak) pada saat harus membicarakan
tentang seks.
Jarak tersebut dapat berupa jomplangnya pengetahuan seks dan reproduksi orang tua di
bandingkan dengan anak maupun pendekatan orang tua terhadap anak pada saat akan
membicarakan masalah tersebut pasalnya sering kali pengetahuan anak tentang seks lebih
jauh dari pada oramg tua.
Hal itu terjadi karena begitu banyak sumber informasi yang diperoleh anak.Melalui
internet,tayangan televisi,buku-buku,film dan masih banyak lagi.Informasi itu juga sangat
cepat berubah sehingga tidak dapat diikuti oleh orang tua,akibatnya dengan pengetahuan
orang tua yang terbatas anak-anak pada umumnya melesat sendirian.Padahal,secara
psikologis dorongan seksual usia remaja juga sangat tinggi.Akibatnya manakala ada
dorongan dari teman-temannya untuk melakukan perilaku seks yang tidak
semestinya,remaja itupun akhirnya bereksperimen (coba-coba).
Jika anak sudah berperilaku di luar batas kewajaran ataupun masih dalam mencari tahu
apa itu perilaku seksual.jalan terbaik bagi para orang tua adalah mencoba menjadi
mereka,menyelami apa yang di rasakan mereka.
Caranya, cobalah bergaul dengan teman-temannya, kenali lingkungannya, dekatilah
dengan guru dan sekolah tempat anak tersebut bersekolah sehingga orang tua tahu dan
memahami apa yang sedang terjadi pada anak.Kendati demikian tidak semestinya orang
tua seakan-akan menjadi mata-mata bagi seluruh kegiatan anaknya.Jika hal itu terjadi
orang tua akan berlaku over protective.
Padahal cara-cara yang mengarah pada otoritas sangat tidak disukai remaja karena
otoritas merupakan sumber dari kekuasaan.Jika hal itu diterapkan remaja akan merasa
sebagai ’Yang dikuasai’.
Seorang remaja akan sangat terbuka bila mereka diperlakukan sebagai teman atau
sahabat.Langkah ini memang tidak mudah.
Syarat utama orang tua harus dekat dengan anak.. “ Bila kedekatan sudah terbentuk
berbicara apapun akan mudah anak dan orang tua akan saling berbagi dalam segala hal.
Semua orang tua pasti akan sedih dan kecewa manakala mendapatkan anaknya terlanjur
masuk pada pergaulan bebas.Jika itu terjadi,Jangan pernah ‘mendakwa’ mereka akan
tetapi terimlah mereka apa adanya.Lalu berintrofeksilah,Apa akar masalah yang
menyebabkan remaja melakukan hal itu?? Orang tua jangan merasa benar sendiri,gois,toh
anak remajanya menyimpang pasti ada apa-apanya
b. Memberikan pendidikan agama sejak dini
c. Memberikan perhatian dan pengertian terhadap anak remaja
d. Menjadi teman yang baik terhadap ank remaja

Untuk ‘Remaja’
a. Mengikuti kegiatan-kegiatan positif
b. (pengajian,organisasi sekolah / sosial)
c. Memilih teman dan lingkungan pergaulan
d. Hindari ikut-ikutan pada gank-gank an
e. Hindari nongkrong-nongkrong yang tidak jelas
f. Hindari nonton film-film porno
g. Berfikir panjang

2. NAPZA

Napza adalah singkatan untuk narkotika, alcohol, psikotropika, dan zat adiktif
lain. Narkotika menurut farmakologi adalah zat yang dapat menghilangkan rasa nyeri
dan membius (opiot). Narkotika menurut UU RI no. 22 tahun 1997 adalah opiate,
ganja dan kokain. Zat adiktif adalah zat yang bila digunakan secara teratur, sering
dalam jumlah yang cukup banyak, dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi).
Adiksi adalah suatu keadaan ketika seseorang yang bila mengurangi atau
menghentikan penggunaan NAPZA tertentu secara teratur, sering dan cukup banyak,
ia akan mengalami sejumlah gejala fisik maupun mental,sesuai dengan jenis NAPZA
yang biasa digunakannya. Sekarang, pengertian adiksi hanya dimaksudakan sebagai
ketergantungan fisik saja.
a. Narkotika menurut undang-undang RI No.2 tahun 1997 adalah zat atau obat yang
berasal dari tanaman atau bukan makanan baik sintesis maupun semi sintesis yang
dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeridan dapat menimbulkan
ketergantungan.
b. Psikotropika menurut Undang-undang RI No. 5 tahun 1997 adalah zat atau obat
baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktifitas mental dan perilaku.
c. Zat adiktif lainnya adalah bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang
disebut narkotika dan psikotropika, yang meliputi :alcohol, inhalansia, tembakau
dan kafein.
d. Penyalahgunaan Napza adalah penggunaan NAPZA yang bersifat patologis paling
sedikit setelah berlangsung satu bulan lamanya sehingga menimbulkan gangguan
dalam pekerjaan dan fungsi social. Sebetulnya NAPZA banyak dipakai untuk
kepentingan pengobatan, misalnya menenangkan klien atau mengurangi rasa sakit.
Tetapi karena efeknya ‘enak’ bagi pemakai, maka NAPZA kemudian dipakai
secara salah, yaitu bukan untuk pengobatan tetapi untuk mendapat rasa nikmat.
Para pengguna NAPZA terutama yang sedang tren pada masa sekarang ini adalah
dengan penggunaan opiate atau biasa disebut putauw. Penggunaan putau dapat dihirup (drag)
da nada yang disuntikan melalui intravena. Mereka yang mengkonsumsi putauw dengan
suntikan intravena kebanyakan dari mereka tidak mengganti jarum suntik, bahkan mereka
memakai jarum suntik secara bergantian. Dengan demikian mereka secara toidak sadar telah
memasukkan virus kedalam darah mereka.
Penggunaan jarum suntik secara bergantian adalah resiko tinggi dari penyakit fisik
yang menular melalui darah. Penyakit yang menular melalui darah diantaranya HIV/AIDS,
hepatitis B dan Hepatitis C. Dimana Hepatitis B dan Hepatitis C dapat berdiri sendiri atau
penyakit penyerta dari HIV/AIDS. Penyakit yang ditularkan melalui virus ini sulit sekali
untuk sembuh bahkan tidak dapat disembuhkan.
3. AIDS
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit
yang disebabkan oleh human immunodeficiency Virus (HIV). Virus HIV ditemukan dalam
cairan tubuh terutama pada darah, cairan vagina, cairan sperma, dan air susu ibu. Virus
tersebut merusak sel-sel kekebalan tubuh (sel CD4) sehingga tubuh lebih mudah terjangkit
penyakit. Pada tahun 1987 kasus HIV/AIDS ditemukan pertama kali di Indonesia yaitu di
bali. Penyebaran HIV di Indonesia meningkat setelah tahun 1995. Pada tahun 2000 terjadi
peningkatan penyebaran HIV secara nyata pada pekerja seks.

Sejak tahun 1999 terjadi fenomena baru penyebaran HIV/AIDS yaitu ada para pengguna
narkotika suntikan (IDU/Injecting Drug User). Penularannya terjadi karena penggunaan
jarum suntik bersama. Berdasarkan data RSKO Jakarta (1999), hanya 18% klien terinjeksi
HIV tetapi pada tahun 2000 menjadi 40% dan pada tahun 2001 menjadi lebih dari 80%.

4. HIV

Pengertian HIV Human immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu retrovirus yang
termasuk family lentivirus memiliki kemmapuan untuk menggunakan RNAnya dan DNA sel
induk untuk membuat DNA virus baru dan terkenal pula karena masa inkubasi yang lama.
HIV menggunakan DNA limposit CD4+ untuk bereplikasi. Proses ini menyebabkan
hancurnya limposit CD4+.

System imun normal terdiri atas organ-organ dan jaringan limposit, termasuk sumsum
tulang, kelenjar timus, kelenjar getah bening, limpa, tonsil, adenoid,apendiks,pembuluh darah
dan limfe. Limposit T&B di produksi oleh sel induk di sum-sum tulang. Dalam Timus
Limposit T bertambah banyak dan berdiferensiasi.

Fungsi utama dari limfosit B adalah sebagai imunitas suatu antibody humoval. Sel B
mampu mensekresi antibody spesifik. Antibody merupakan molekul protein semu yang
sangat khusus, terbagi dalam 5 kelas IgG, IgA, IgM,IgE, dan IgD. Limfosit B akan
bekerjasama dengan makrotek atau system komplemen untuk menghancurkan antigen.
Limfosit T memiliki penanda permukaan, seperti CD4+,CD8+, dan CD3+. Sel CD4+
merpakan sel pembantu yang mengaktifasi sel B, killer sel adalah makrofag saat ada antigen
spesifik. Sel T mampu memproduksi slitokinin seperti in-terfero.
Human immonudeficiency Virus (HIV) dibentuk oleh sebuah pusat atau inti silindris yang
dikelilingi amplop lopid yang berbentuk bulat. Intinya bagian tengah dari sultamini terdiri
atas dua rangkaian asamribloket (RNA)

1. Siklus Hidup HIV


Sel induk yang terinfeksi HIV mempunyai masa hidup yang amat pendek, karenanya HIV
terus-menerus menggunakan sel ini untuk bereplikasi sebanyak 10 juta virium akan di
produksi setiap harinya. Sel-sel terinfeksi HIV akan menuju kelenjar getah bening dan ke
daerah perifer dala waktu 5 hari setelah pajanan. Siklus hidup HIV dibagi menjadi 5 fase :
binding and entry, reverse transcription, replikasi, budding, dan maturasi.

SKEMATIS PATOFISIOLOGI

Perilaku penggunaan jarum suntik bergantian di kalangan IDU

Transmisi virus HIV dari IDU dengan HIV/AIDS kepada IDU lain non HIV

IDU lain tersebut menjadi penderita HIV baru

Virus HIV masuk kedalam tubuh penderita baru

Sel-sel terinfeksi

Kelenjar getah bening

Binding & entry


Reverse Transcription

Replikasi

Budding

Maturasi

Merusak CD4+