Anda di halaman 1dari 48

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Ny. S.

DENGAN MASALAH KEPERAWATAN “ISOLASI SOSIAL” DI RUANGDELIMA


DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH DUREN SAWIT

OLEH :
KELO MPOK IV

1. EFDI UMASUGI 6. OTNIE L NOKH WARSOY


2. JOAN JEGLIE N FRANS 7. MARIANA SALAM A
3. MUHAMMAD MULY AWAN 8. NE LI SUSANT I SANGKALABU
4. FIENLY SUP USEP A 9. JENNIFER T ANIA KAKONDO
5. EUNIKE SEIDY MOGONT A 10. SESKA R.K NUR LAT U

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan akhir Jiwa
“Isolasi sosial Pada Ny. S. K di Ruang Utari” di RSKD Duren SawitJakarta Timur.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih banyak
kekurangan yang jauh dari sempurna maka penyusun sangat mengharapkan adanya kritikan
dan saran yang membangun demi kesempurnaannya laporan kasus ini.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang terkait
yaitu :
1. Direktur RSKD Duren Sawit Jakarta Timur, yang telah memberikan izin kami
praktek stase jiwa.
2. Direktur STIKIM, yang telah memberi kami kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu
yang telah diperoleh salam perkuliahan.
3. Pembimbing klinik yang telah membimbing kami selama praktek jiwa.
4. Pembimbing klinik institusipendidikan yang telah membimbing kami selama praktek
jiwa.
5. Kepala ruangan dan perawat ruangan Delima yang bekerja sama dalam aplikasi
asuhan keperawatan jiwa.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan konstribusi selama proses
penyusunan laporan ini, sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik. Akhir kata
penyusun berharap semoga laporan ini dapat berguna bagi yang membaca dan dapat
memberikan pengetahuan yang lebih terhadap keperawatan jiwa.

Jakarta, November2017
Penyusun

Kelompok II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Krisis multidimensi telah mengakibatkan tekanan yang berat terhadap
sebagian besar masyarakat dunia umumnya dan indonesia khususnya. Masyarakat
yang mengalami krisis ekonomi tidak saja akan mengalami gangguan kesehatan fisik
berupa gangguan gizi, terserang berbagai jenis penyakit infeksi, tetapi juga dapat
mengalami gangguan kesehatan mental psiaktri (Damaiyanti & Iskandar, 2012)
Fenomena gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat
signifikan, dan setiap tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan
jiwa bertambah. Berdasarkan data dari World Health Organisasi (WHO) dalam Direja
(2011) , ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa. WHO
menyatakan setidaknya ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah
mental, dan masalah gangguan kesehatan jiwa yang ada di seluruh dunia sudah
menjadi masalah yang sangat serius. Berdasarkan hasil penelitian dari Rudi Maslim
dalam Direja (2011 ) prevalensi masalah kesehatan jiwa di Indonesia sebesar 6,55%.
Angka tersebut tergolong sedang dibandingkan dengan negara lainnya. Data dari 33
Rumah Sakit Jiwa ( RSJ ) yang ada di seluruh Indonesia menyebutkan hingga kini
jumlah penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta orang. Penderita gangguan
jiwa berat dengan usia di atas 15 tahun di Indonesia mencapai 0,46%. Hal ini berarti
terdapat lebih dari 1 juta jiwa di 2 Indonesia yang menderita gangguan jiwa berat.
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa 11,6% penduduk Indonesia mengalami
masalah gangguan mental emosional (Riset kesehatan dasar, 2007). Sedangkan pada
tahun 2013 jumlah penderita gangguan jiwa mencapai 1,7 juta (Riskesdas, 2013 )
Di dalam hidup di masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan
melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun
lingkungan sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering mengalami hambatan
bahkan kegagalan yang menyebabkan individu tersebut sulit mempertahankan
kestabilan dan identitas diri, sehingga konsep diri menjadi negatif. Jika individu
sering mengalami kegagalan maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah
gangguan konsep diri misal harga diri rendah. Bila individu tidak dapat beradaptasi
terhadap perubahan yang terjadi, maka akan menimbulkan gangguan kesehatan
diberbagai bidang, seperti mengamuk, sulit berinteraksi, malu akan keadaan dirinya
mondar-mandir tanpa tujuan dan merusak barang.
Faktor psikososial merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam
kehidupan seseorang (anak, remaja, dan dewasa). Yang mana akan menyebabkan
perubahan dalam kehidupan sehingga memaksakan untuk mengikuti dan mengadakan
adaptasi untuk menanggulangi stressor yang timbul. Ketidakmampuan
menanggulangi stressor itulah yang akan memunculkan gangguan kejiwaan.
Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri
rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal
mencapai keinginan (Keliat, 2009). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini
tidak segera ditanggulangi, sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih
berat. Beberapa tanda-tanda harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri
sendiri, merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan
sosial seperti menarik diri, percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri
(Townsend, 2007).Peristiwa traumatic, seperti kehilangan pekerjaan, harta benda, dan
orang yang dicintai dapat meninggalkan dampak yang serius. Dampak kehilangan
tersebut sangat mempengaruhi persepsi individu akan kemampuan dirinya sehingga
mengganggu harga diri seseorang.
Banyak dari individu-individu yang setelah mengalami suatu kejadian yang
buruk dalam hidupnya, lalu akan berlanjut mengalami kehilangan kepercayaan
dirinya. Dia merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan apa-apa lagi, semua yang
telah dikerjakannya salah, merasa dirinya tidak berguna, dan masih banyak
prasangka-prasangka negative seorang individu kepada dirinya sendiri. Untuk itu,
dibutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak agar rasa percaya diri dalam
individu itu dapat muncul kembali. Termasuk bantuan dari seorang perawat. Perawat
harus dapat menangani pasien yang mengalami diagnosis keperawatan isolasi sosial,
baik menggunakan pendekatan secara individual maupun kelompok.
Karakteristik masalah keperawatan di ruang Delima RSKD Duren Sawit
adalah Halusinasi, Harga diri rendah, Resiko Perilaku Kekerasan, Defisit Perawatan
Diri, Isolasi Sosial,Waham,dan Resiko Bunuh Diri.
Berdasarkan uraian diatas, maka kelompok tertarik untuk mengangkat
masalah keperawatan utama Isolasi Sosial, dengan judul makalah : “ Asuhan
Keperawatan Jiwa Pada Ny. S Dengan MasalahIsolasi Sosial Di Ruang Delima
RSKD Duren Sawit Jakarta Timur.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Diperoleh secara nyata pengalaman, informasi dan gambaran pelaksanaan asuhan
keperawatan pada klien dengan Isolasi Sosial di ruang Delima RSKDDuren Sawit
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan Isolasi sosial
b. Mampu merumuskan masalah keperawatan pada klien dengan Isolasi sosial
c. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Isolasi Sosial
d. Mampu melakukan evaluasi pada klien dengan Isolasi Sosial
e. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara kasus dan teori
pada klien dengan Isolasi Sosial
f. Mampu mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat, serta dapat mencari
solusinya
g. Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk
narasi.

C. Proses Pembuatan makalah


Kelompok praktek di Ruang Delima RSKD Duren Sawitselama 2 minggu dari
tanggal 6 November sampai 17 November 2017 dengan jumlah 1 kelompok 10 orang.
Mahasiswa bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan semua klien yang dirawat
di ruang tersebut dengan cara membagi pasien yang ada di ruang Delima saat
mahasiswa peraktek. Jumlah klien sebanyak 12 orang, sehingga masing-masing
mahasiswa merawat 2 pasien yaitu 1 pasien kelolaan dan 1 pasien resume selama 2
minggu mahasiswa berdinas di Ruang Delima RSKD Duren Sawit.
Mahasiswa melakukan interaksi dan intervensi keperawatan pada masing-masing
pasien, berdasarkan kesepakatan kelompok setelah mengobservasi semua pasien,
akhirnya kelompok tertarik dan sepakat untuk memilih kasus kelolaan kelompok pada
Ny. S dengan masalah Isolasi Sosial.Dengan meningkatnya angka gangguan jiwa di
Indonesia pada umumnya maka perlunya dilakukan perawatan yang lebih intensif pada
klien dengan Isolasi Sosial secara menyeluruh meliputi Bio – Psiko – Sosio – Spiritual,
dimana penanganan klien dengan Isolasi Sosial pada kuhususnya dan gangguan jiwa
pada umumnya, menekankan ke arah profesionalisme profesi keperawatan oleh sebab
itu kelompok tertarik untuk mengangkat Asuhan Keperawatan pada klien dengan
Isolasi Sosial.Berdasarkan faktor – faktor tersebut di atas, sehingga perawatan masalah
dengan Isolasi Sosial sangat memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh, karena
seseorang yang mengalami gangguan jiwa dengan isolasi sosial pasti akan menarik diri,
menghindar dari orang lain, mudah marah, mudah tersinggung yang mana hal ini dapat
memicu seseorang mengalami stress. Selain itu Ny. SJuga tidak cukup kooperatif.
Ketika perawat mengajak bicara, membina hubungan saling percaya klien tidak
langsung terbuka menceritakan masalahnya.
Asuhan keperawatan pada Ny. S di awali oleh satu orang mahasiswa yang
melakukan pendekatan secara intensif sebagai klien kelolaan. Selanjutnya kelompok
mengadakan interaksi secara bergantian dengan pasien untuk membina hubungan saling
percaya. Strategi yang dilakukan kelompok pada tahap kerja di lakukan oleh 1 anggota
kelompok melakukan implamentasi sesuai dengan masalah yang ditemukan pada
pasien. Pada tahap evaluasi mahasiswa melakukan koordinasi antar mahasiswa
terutama dalam rencana yang akan datang sehingga ada kesinambungan antara anggota
kelompok satu dengan yang lain.Kolaborasi terhadap intervensi yang dilakukan oleh
mahasiswa juga melibatkan perawat ruang Delima, mahasiswa melakukan
pendokumentasian dan mengkonsultasikan dengan pembimbing klinik maupun
pembimbing akademik tentang implamentasi yang dilakukan, selain itu juga dengan
setudi literature yang ada.
BAB II
GAMBARAN KASUS
A. PENGKAJIAN
IDENTITAS PASIEN
Inisial : Ny. S [Perempuan]
Tanggal Pengkajian : 6 November 2017
Umur : 54 tahun
RM No. : 145249
Informan : klien dan perawat
ALASAN MASUK
Pasien diantar ke rumah sakit jiwa oleh petugas panti cingkareng, klien diantar ke
rumah sakit Duren Sawit karena bicara sendiri, ngomong ngelantur, tertawa sendiri,
sulit tidur, kurang mampu merawat dirinya, dan suka mengamuk di panti, klien
pernah memukul temannya di panti selang beberapa hari sebelum masuk rumah sakit
duren sawit. berdasarkan hasil interaksi dengan klien, klien mengatakan lebih
nayaman sendiri, klien mengatakan tidak nyaman ketika berteman dengan teman
yang lain, dan juga mengatakan lebih suka menyendiri karena menurut klien lebih
tenang.berdasarkan hasil observasi kelompok klien tampak menyendiri, kontak mata
(-), ketika diajak untuk berinterkasi klien tampak sering menundukan kepalanya,
ketika di tanya klien menjawab singkat-singkat, klien tidak mau berinteraksi dengan
pasien lain diruang delima, klien tidak dapat memulai pembicaraan.
B. MASALAH KEPERAWATAN
Data Masalah
Subyektif
1. Klien mengatakan suka mendengar suara suara Gangguan sensori
bisikan yang menyuruhnya untuk berbahasa presepsi halusinasi
tionghoa dan meyuruhnya untuk berdiam diri serta penglihatan dan
klien suka melihat bayangan berwarna hijau dan pendengaran
hitam pada malam hari

Obyektif
1. Klien sering berbicara sendiri
2. Klien tampak tertaa sndiri
3. Klien tampak gelisah
Subyektif
1. Klien mengatakan ia telah nyaman ketika Isolasi Sosial
menyendiri
2. Klien mengatakan malas berkenalan
3. Klien mengatakan tidak suka memulai
pembicaraan

Obyektif
1. Klien tampak sering menyendiri
2. Tidak ada kontak mata saat berbicara
3. Klien tampak suka menunduk
4. Klien tampak mengalihkan pandangan ketika
berinteraksi
Subyektif
1. Klien mengatakan perasaanya kesal trauma dan Resiko Perilaku
ingin marah ketika mengingat pada saat dia masih Kekerasan
hidup bersama suaminya

Obyektif:
1. Klien tampak mengeluarkan ekspresi yang tidak
senang ketika ditanya tentang suaminya.
Subjektif
1. Klien mengatakan merasa malu pada kulitnya Harga Diri Rendah
yang kusam dan sudah mulai keriput dan
rambutnya yang pendek dan berwarna putih
2. Klien mengatakan dirinya merasa tidak
berguna lagi.

Objektif
1. Klien tampak sering menyendiri
2. Tidak ada kontak mata saat berbicara
3. Klien tampak mengalihkan pandangan dan
tidak focus pada perawat.

C. POHON MASALAH DAN DIAGNOSIS KEPERAWA


Resiko Perilaku Kekerasan

GSP: Halusinasi

Isolasi Sosial Core Problem

Harga Diri Rendah


DAFTAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN:
1. Isolasi Sosial
2. Harga Diri Rendah.
3. Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan
4. Resiko Perilaku Kekerasan
BAB III
LANDASAN TEORI Commented [S1]: Landasan Teori jangan memindahkan (Copy
Paste) dari Laporan Pendahuluan. (Lihat di buku Pedoman)

Uraikan tentang terjadinya masalah keperawatan


yang telah ditetapkan pada pohon masalah.
1. Masalah Utama Hal yang perlu diuraikan adalah pengertian
masalah, faktor predisposisi dan presipitasi terjadinya
Isolasi sosial : Menarik diri masalah, perilaku maladaptif, akibat dari masalah
secara teoritis.
Kemudian dikaitkan dengan kondisi nyata pasien
saat ini. Umumnya uraian dimulai dari masalah
2. Proses Terjadinya Masalah utama [“core problem”] diikuti oleh masalah yang
menjadi penyebab maupun masalah yang menjadi
a. Pengertian akibat, sampai semua masalah uang ada pada
pohon masalah menjadi jelas.
Perilaku isolasi sosial menraik diri merupakan suatu gangguan hubungan
Commented [S2]: Pengertian
interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang
Commented [S3]: Faktor Predisposisi
menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam
hubungan sosial (Depkes RI, 2009)
b. Faktor Predisposisi
1. Faktor Tumbuh Kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang
harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan social. Bila tugas
– tugas dalam perembangan ini tidak terpenuhi maka akan menghambat fase
perkembangan social nantinya akan dapat menimbulkan masalah.
2. Faktor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan factor pendukung
terjadinya gangguan dalam hubungan social. Dalam teori ini yangtermasuk
masalah dalam berkomunikasi sehingga enimbulkan menimbulkan
ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga
menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau
ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk
berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.
3. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan social merupakan suatu
faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan social. Hal ini
disebabkan oleh norma – norna yang salah dianut oleh keluarga, dimana
setiap anggota kelurga yang tidak produktif seperti lansia, berpenyakit kronis,
dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
4. Faktor Biologis
Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan social
adalah otak, misalnya pada klien skizoprenia yang mengalami masalah dalam
hubungan social memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi
otak, serta perubahan ukuran dan bentuk sel – sel dalam limbic dan daerah
kortikal (Depkes RI, 2017)
c. Faktor presipitasi

1. Faktor eksternal : stressor social budaya, yaitu stress yang ditimbulkan


oleh factor sosial budaya seperti keluarga.
2. Faktor internal : stressor psikologik, yaitu stress terjadi akibat ansietas
yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan
kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi
akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak
terpenuhinya kebutuhan individu
(Depkes RI, 2017).
3. Rentang Respon Isolasi Sosial
Keterangan:

1. Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma sosial dan
dudaya secara umum dan berlaku di masyarakat umum dan individu dalam
menyelesaikan masalahnya dalam batas normal.
a. Menyendiri (solitude)
Adalah respon yang dibutuhkan untuk merenumgkan apa yang telah dilakukan
dilingkungan sosialnya.
b. Otonomi
Adalah respon yang dibutuhkan individu untuk menentukan dan menyampaikan
ide, pikiran dan perasaan dalam hubungan sosial.
c. Kebersamaan
Adalah suatu kondisi hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu
untuk saling member dan menerima.
d. Interdependen
Adalah saling ketergantungan antar individu dengan orang lain dalam membina
hubungan interpersonal.
2. Respon antara adaptif adan maladaptif
a. Kesepian
Adalah individu sulit untuk melakukan hubungan interpersonal dan sulit
membicarakannya dengan orang lain dan dapat menimbulkan kecemasan pada
orang lain.
b. Menarik diri
Adalah individu sangat tergantung dengan orang lain dan rasa percaya diri
kurang dalam mengebangkan kemampuannnya.
3. Respon Maladaptif
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalahnya yang
menyimpang dari norma – norma dan budaya suatu tempat.
a. Manipulasi
Dimana orang lain diperlakukan sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah
pengendalian individu berorientasi pada diri sendiri atau pada tujuan bukan
orang lain.
b. Impulsive
Klien tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari
pengalaman yang buruk dan tidak dapat diandalkan.
c. Narkisisme
Dimana harga dirinya rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan
penghargaan dan pujian, bersikap ego maladaptive.
4. Mekanisme Koping
a. Rasional
Suatu usaha mengatasi konflik pikiran dan implus – implus yang tidak
menyenagkan dalam memberikan alas an yang rasional.
b. Supresi
Menekan konflik, impuls – impuls yang tidak dapat diterima dengan secara
sadar.
c. Represi
Konflik pikiran impuls – impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan
ditekan kedalam penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyengkan.
d. Menarik diri
Mekanisme tingkah laku yang apabila menghadapi konflik frustasi ia menarik
diri dalam pergaulan dilingkungan.
5. Kondisi Nyata pasien saat ini
Klien lebih suka duduk sendiri, tidak mau bergabung bercerita bersama
teman- teman yang lain yang ada di dalam ruangan,klien mengatakan ada
hambatan ketika berhubungan dengan teman –temanya yang lain karena ketika
berbicara tidak naymbung, klien tampak lebih sering menyendiri, klien tampak
berbicara lambat dan klien tidak dapat memulai pembicaraan klien harus ditanya
terlebih dahulu leh peraat dan klien baru menjawab lalu klien menjawab dengan
suara yang kecil dan lamabat serta klien harus dibimbing ketika sedang bicara.
Klien tampak lesu ketika berkomunikasi dengamn perawat klien tampak
menjawab malas-malasan lalu ketika klien berjalan atau melakukan aktifitas
diruangan tidak bersemangat, klien lebih bayak menyendiri diberbagai aktu
tertentu.
4. Pohon masalah:

Resiko perubahan persepsi sensori:


halusinasi

Isolasi sosial: Menarik diri Core Problem

Gangguan konsep diri: Harga diri rendah

5. Masalah yang menjadi penyebab


 HARGA DIRI RENDAH
a) Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri
dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal
diri. Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan
yang negatif terhadap dirinya sendiri, termasuk hilangnya percaya
diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Budi Ana
Keliat, 2013).
b) Factor Predisposisi
Menurut sundeen (2016) yang mempengaruhi konsep diri
seseorang ada beberapa factor. Factor ini dapat dibagi menjadi
sebagai berikut :
- Factor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan
orang tua, harapan orang tua tidak realistic, kegagalan
yang berulang kali dan ideal diri yang tidak realistic.
- Factor yang mempengaruhi penampilan peran adalah
stereotipik peran seks, tuntutan peran kerja, dan harapan
peran kultural.
- Factor yang mempengaruhi identitas personal meliputi
ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya,
dan perubahan dalam struktur social.
c) Faktor Presipitasi
Factor pencetus dapat ditimbulkan dari sumber internal dan
eksternal, yaitu :
- Trauma, seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan kegiatan yang mengancam kehidupan.
- Ketegangan peran berhubungan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai frustasi.
Ada tiga jenis transisi peran, yaitu transisi peran
perkembangan, transisi peran situasi dan tarnsisi peran
sehat sakit.
- Penilaian Stresor
Apapun masalah dalam konsep diri dicetuskan oleh stressor
psikologis, sosiologis atau fisiologis, elemen yang penting
adalah persepsi pasien tentang ancaman.
- Sumber koping
Semua orang, tanpa memperhatikan gangguan perilakunya,
mempunyai beberapa bidang kelebihan personal
d) Rentang respon konsep diri

 GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI


a. Pengertian
Halusinasi adalah gangguan penyerapan, atau persepsi panca indera tanpa
adanya rangsang dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan
dimana terjadi pada saat individu itu penuh dan baik. Dengan kata lain
klien berespon terhadap rangsang yang tidak nyata dan hanya dirasakan
oleh klien dan tidak dapat ditentukan oleh orang lain (Wilson, 2015)
b. Faktor predisposisi
Pada pasien dengan halisunasi (stuart and lumala ,2016) adalah factor
perkembangan yaitu jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan
hubungan interpersonal yang terganggu maka individu mengalami stres
dan kecemasan. Kedua, yaitu factor sosio kultural yaitu berbagai faktor di
masyarakat seperti kemiskinan, ketidakharmonisan, sosial budaya, hidup
terisolasi dan stress yang menumpuk. Ketiga, yaitu factor biokimia yaitu
terhadap respon stres menyebabkan pelepasan zat-zat halusinogen
(bupatin dan simotil transerase) yang menyebabkan terjadinya gangguan
dalam proses informasi dan penurunan kemampuan menanggapi
rangsangan. Keempat, yaitu harmonis , pola asuh yang tidak akurat ,
konflik perkawinan, koping dalam menghadapi stres. Faktor genetic yamg
meliputi kesehatan identik monozigot sebagai 95% dan salah satu orang
tua sebanyak 15%.Diketahui factor keluarga menunjukkan hubungan
yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
c. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi halusinasi menurut Stuart and Sundeen, 2016 adalah
stressor sosial dimana stress dan kecemasan akan meningkat bila
terjadinya penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dari orang sangat
penting atau diasingkan oleh kelompok masyarakat. Faktor biokimia
dapat disebabkan karena partisipasi klien berinteraksi dengan kelompok
kurang, suasana terisolasi (sepi) sehingga dapat meningkatkan stress dan
kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat-zat halusinogenik.
Masalah keperawatan yang menjadi penyebab munculnya halusinasi
antara lain adalah harga diri rendah dan isolasi sosial. Akibat kurangnya
ketrampilan berhubungan sosial.Klien menjadi menarik diri dari
lingkungan. Dampak selanjutnya klien akan lebih terfokus pada dirinya
sendiri. Stimulus eksternal menjadi lebih dominan dibandingkan dengan
stimulus eksternal.
d. Rentang respon
Rentang respon neurobiological

Adaptif respon - - Ilusi Mal adaptif


- - Pemikiran logis - -Reaksiemosional - Kelainan pikiran
- - Persepsi akurat - berkurang atau lebih - Halusinasi
- - Emosi konsisten - - Perilakunya ganjil - Ketidakmampuan
dengan pengalaman - - Menarik diri emosi
- - Prilakunya sesuai - Ketidakteraturan
- - Hubungan social - Isolasi Sosial
6. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
a. Masalah keperawatan:
 Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi
 Isolasi sosial: menarik diri
 Gangguan konsep diri: harga diri rendah
b. Data yang perlu dikaji
Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi
Data Subjektif:
 Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan
stimulus nyata.
 Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata.
 Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus.
 Klien merasa makan sesuatu.
 Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya.
 Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar.
 Klien ingin memukul/melempar barang-barang.
Data Objektif:
 Klien berbicara dan tertawa sendiri.
 Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu.
 Klien berhebti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu.
 Disorientasi
Isolasi Sosial : menarik diri
Data Subyektif:
 Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data Obyektif:
 Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Data subyektif:
 Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
 Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri atau ingin mengakhiri hidup.
7. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
 Isolasi sosial: menarik diri
 Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

8. Rencana Tindakan Keperawatan Commented [S4]: Diuraikan tujuan khusus tiap masalah
keperawatan disertai tindakan keperawatan untuk tiap tujuan khusus
Terlampir [rinci dan lengkap]
RENCANA KEPERAWATAN HARGA DIRI RENDAH

Nama Klien : Ny. S Ruangan : Delima


No. CM : 14 – 52 – 49 DX Medis : Schizofrenia paranoid
Perencanaan
Tgl No Dx Dx Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
1 Harga diri rendah TUM:
Klien memiliki
konsep diri yang
positif
Tuk : 1. Setelah 2 x interaksi 1. Bina hubungan saling percaya
1. Klien dapat klien menunjukkan dengan menggunakan prinsip
membina ekspresi wajah komunikasi terapeutik :
hubungan saling bersahabat,  Sapa klien dengan ramah
percaya dengan menunjukkan rasa baik verbal maupun non
perawat senang, ada kontak verbal
mata, mau manjabat  Perkenalkan diri dengan
tangan, mau sopan
menyebutkan nama,  Tanyakan nama lengkap
mau menjawab salam, dan nama panggilan yang
klien mau duduk disukai klien
berdampingan dengan  Jelaskan tujuan pertemuan
perawat, mau  jujur dan menepati janji
mengutarakan masalah  Tunjukkan sikap empati dan
yang dihadapi. menerima apa adanya
 Beri perhatian dan
perhatikan kebutuhan dasar
klien

2. Klien dapat 2. Setelah….x interaksi 2.1. Diskusikan dengan klien


mengidentifikasi klien menyebutkan : tentang :
aspek positif dan o Aspek positif dan  Aspek positif yang dimiliki
kemampuan yang kemampuan yang klien, keluarga, lingkungan
dimiliki. dimiliki klien  Kemampuan yang dimiliki
o Aspek positif klien
keluarga
o Aspek positif 2.2.Bersama klien buat daftar
lingkungan klien tentang :
 Aspek positif klien,
keluarga, lingkungan
 Kemampuan yang dimiliki
klien

2.3.Beri pujian yang realistis,


hindarkan memberi penilaian
negative

3. Klien dapat menilai 3. Setelah…x interaksi 3.1. Diskusikan dengan klien


kemampuan yang klien menyebutkan kemampuan yang dapat
dimiliki untuk kemampuan yang dapat dilaksanakan
dilaksanakan dilaksanakan 3.2. Diskusikan kemampuan yang
dapat dilanjutkan
pelaksanaannya
4. Klien dapat 4. Setelah…x interaksi 4.1.Rencanakan bersama klien
merencanakan klien membuat rencana aktivitas yang dapat dilakukan
kegiatan sesuai kegiatan harian setiap hari sesuai kemampuan
dengan klien :
kemampuan yang  Kegiatan mandiri
dimiliki  Kegiatan dengan bantuan
4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai
kondisi klien
4.3. Beri contoh cara pelaksanaan
kegiatan yang dapat klien
lakukan
5. Klien dapat 5. Setelah…x interaksi 5.1. Ajurkan klien untuk
melakukan klien melakukan melaksanakan kegiatan yang
kegiatan sesuai kegiatan sesuai jadwal telah direncanakan
rencana yang yang dibuat 5.2. pantau kegiatan yang
dibuat dilaksanakan klien
5.3. Beri pujian atas usaha yang
dilakukan klien
5.4. Diskusikan kemungkinan
pelaksanaan kegiatan setelah
pulang.
6. Klien dapat 6.1.Setelah…x interaksi 6.1. Beri pendidikan kesehatan
memanfaatkan klien memanfaatkan pada keluarga tentang cara
system pendukung system pendukung merawat klien dengan harga
yang ada yang ada di keluarga diri rendah
6.2.Bantu keluarga memberikan
dukungan selama klien di
rawat
6.3. Bantu keluarga menyiapkan
lingkungan di rumah
RENCANA KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL

Nama Klien :Ny. S Ruangan : Delima


No. CM : 14 – 52 – 49 DX Medis : Schizofrenia
paranoid
Dx Perencanaan
Tgl No Dx
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Isolasi Sosial TUM:
Klien dapat berinteraksi
dengan orang lain.
Tuk :
1. Klien dapat membina 1. Setelah….x interaksi klien 1.1. Bina hubungan saling
hubungan saling menunjukkan tanda-tanda percaya dengan :
percaya percaya kepeda perawat :  Beri salam setiap
 Wajah cerah, tersenyum berinteraksi
 Mau berkenalan  Perkenalkan nama, nama
 Ada kontak mata panggilan dan tujuan
 Bersedia mencritakan perawat berkenalan
perasaan  Tanyakan dan panggil
 Bersedia nama kesukaan klien
mengungkapkan  Tunjukkan sikap jujur
masalahnya dan menepati janji setiap
kali interaksi
 Tanyakan perasaan klien
dan masalah yang
dihadapi klien
 Buat kontrak interaksi
yang jelas
 Dengarkan dengan penuh
perhatian ekspresi
perasaan klien
2. Klien mampu 2. Setelah….x interaksi klien 2.1. Tanyakan pada klien tentang
nyebutkan penyebab menyebutkan minimal satu :
menarik diri penyebab menarik diri dari :  Orang yang tinggal
o Diri sendiri serumah/teman sekamar
o Orang lain klien
o lingkungan  Orang yang paling dekat
dengan klien
dirumah/diruang
perawatan
 Apa yang membuat klien
dekat dengan orang
tersebut
 Orang yang tidak dekat
dengan klien
dirumah/diruang
perawatan
 Apa yang membuat klien
tidak dekat dengan orang
tersebut
 Upaya yang sudah
dilakukan agar dekat
dengan orang lain
2.2.Diskusikan dengan klien
penyebab menarik diri atau
tidak mau bergau dengan
orang lain
2.3.Beri pujian terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya
3. Klien mampu 3. Setelah…x interaksi dengan 3.1. Tanyakan pada klien
menyebutkan klien dapat menyebutkan tentang :
keuntungan keuntungan berhubungan  Manfaat hubungan social
berhubungan social social, misalnya :  Kerugian menarik diri
dan kerugian o Banyak teman 3.2. Diskusikan bersama klien
menarik diri o Tidak kesepian tentang manfaat
o Bisa diskusi berhubungan social dan
o Saling menolong kerugian menarik diri
Dan kerugian menarik diri, 3.3. Beri pujian terhadap
misalnya: kemampuan klien
o Sendiri mengungkapkan
o Kesepian perasaannya
o Tidak bisa diskusi

4. Klien dapat 4. Setelah…x interaksi klien 4.1.Observasi perilaku klien saat


melaksanakan dapat melaksanakan berhubungan sosial
hubungan social hubungan social secara 4.2.Beri motivasi dan bantu
secara bertahap bertahap dengan : klien untuk
o Perawat berkenalan/berkomunikasi
o Perawat lain dengan :
o Klien lain o Perawat lain
o Kelompok o Klien lain
o Kelompok
4.3. Libatkan klien dengan
Terapi Aktivitas Kelompok
Sosialisasi
4.4. Diskusikan jadwal harian
yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan
klien bersosialisasi
4.5. Beri motivasi klien untuk
melakukan kegiatan sesuai
dengan jadwal yang telah
dibuat
4.6. Beri pujian terhadap
kemampuan klein
memperluas pergaulannya
melalui aktivitas yang
dilaksanakan
5. Klien mampu 5. Setelah…x interaksi klien 5.1. Diskusikan dengan klien
menjelaskan dapat menjelaskan tentang perasaannya
perasaannya setelah perasaannya setelah berhubungan social dengan
berhubungan sosial berhubungan social dengan : :
o Orang lain  Orang lain
o Kelompok  Kelompok
5.2.Beri pujian terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya
6. Klien dapat 6.1.Setelah…x pertemuan 6.1. Diskusikan pentingnya
dukungam keluarga keluarga dapat menjelaskan peran serta keluarga sebagai
dalam memperluas tentang : pendukung untuk mengatasi
hubungan sosial o Pengertian menarik diri perilaku menarik diri
o Tanda dan gejala 6.2. Diskusikan potensi keluarga
menarik diri untuk membantu klien
o Penyebab dan akibat mengatasi perilaku menarik
menarik diri diri
o Cara merawat klien 6.3. Jelaskan pada keluarga
menarik diri tentang :
6.2. Setelah…pertemuan  Pengertian menarik diri
keluarga dapat  Tanda dan gejala
mempraktekan cara menarik diri
merawat klien menarik diri  Penyebab dan akibat
menarik diri
 Cara merawat klien
menarik diri
6.4. Latih keluarga cara
merawat klien menarik diri
6.5. Tanyakan perasaan
keluarga setelah mencoba
cara yang dilakukan
6.6. Beri motivasi keluaraga
agar membantu klien untuk
bersosialisasi
6.7. Beri pujian kepada keluarga
atas keterlibatannya
merawat klien di rumah
sakit

7. Klien dapat 7.1.Setelah…x interaksi klien 7.1. Diskusikan dengan klien


memanfaatkan obat menyebutkan : tentang manfaat dan
dengan baik  Manfaat minum obat kerugian tidak minum obat,
 Kerugian tidak munum warna, dosis, cara, efek
obat terapi dan efek samping
 Nama, warna, dosis, efek penggunaan obat.
terapi dan efek samping 7.2. Pantau klien saat
obat penggunaan obat.
7.2.Setelah…x interaksi klien 7.3. Beri pujian jika klien
mendemonstrasikan menggunakan obat dengan
penggunaan obat dengan benar.
benar 7.4. Diskusikan akibat berhenti
7.3.Setelah…x interaksi klien minum obat tanpa
menyebutkan akibat konsultasi dengan dokter.
berhenti minum obat tanpa 7.5. Ajurkan klien untuk
konsultasi dokter. konsultasi kepada
dokter/perawat jika terjadi
hal-hal yang tidak
diinginkan.
RENCANA KEPERAWATAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI :
HALUSINASI

Nama Klien :Ny. S Ruangan : Delima


No. CM : 14 – 52 – 49 DX Medis :
Schizofrenia paranoid

Tgl No Dx Perencanaan
Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi intervensi Rasion
Gangguan TUM: Klien
sensori dapat
persepsi: mengontrol
halusinasi halusinasi
(lihat/dengar/ yang
penghidu/ dialaminya
raba/kecap) Tuk 1 : 1. Setelah….x interaksi klien 1. Bina hubungan saling percaya dengan Bila sudah terbin
Klien dapat menunjukkan tanda-tanda menggunakan prinsip komunikasi saling percaya di
membina percaya kepeda perawat : terapeutik : dapat kooperatif,
hubungan  Ekspresi wajah bersahabat  Sapa klien dengan ramah baik pelaksanaan asuh
saling percaya  Menunjujkkan rasa senang verbal maupun non verbal dapat berjalan de
 Ada kontak mata  Perkenalkan nama, nama panggilan
 Mau berjabat tangan dan tujuan perawat berkenalan
 Mau menyebutkan nama  Tanyakan nama lengkap dan nama
 Mau menjawab salam panggilan yang disukai klien
 Mau duduk berdampingan  Buat kontrak yang jelas
dengan perawat  Tunjukkan sikap jujur dan menepati
 Bersedia mengungkapkan janji setiap kali interaksi
masalah yang dihadapi  Tunjukkan sikap empati dan
menerima apa adanya
 Beri perhatian kepada klien dan
perhatikan kebutuhan dasar klien
 Tanyakan perasaan klien dan
masalah yang dihadapi klien
 Dengarkan dengan penuh perhatian
ekspresi perasaan klien

Tuk 2 : 2. Setelah….x interaksi klien 2.1. Adakan kontak sering dan singkat  Kontak serin
Klien dapat menyebutkan: secara bertahap selain upaya
mengenal o Jenis 2.2. Observasi tingkah laku klien terkait hubungan sa
halusinasinya o Isi dengan halusinasinya (* juga dapat m
o Waktu dengar/lihat/penghidu/raba/kecap), halusinasi.
o Frekuensi jika menemukan klien yang sedang  Mengenal p
o Perasaan halusinasi : halusinasi ti
o Situasi dan kondisi yang  Tanyakan apakah klien mengalami memudahka
menimbulkan halusinasi sesuatu (halusinasi melakukan i
o Respons dengar/lihat/penghidu/raba/kecap)  Mengenal h
 Jika klien menjawab ya, tanyakan memungkin
apa yang sedang dialaminya menghindar
 Katakana bahwa perawat percaya pencetus tim
klien mengalami hal tersebut, halusinasiny
namun perawat sendiri tidak  Dengan men
mengalaminya (dengan nada waktu, isi da
bersahabat tanpa menuduh atau munculnya h
menghakimi) mempermud
 Katakan bahwa ada klien lain yang keperawatan
mengalami hal yang sama dilakukan pe
 Katakan perawat akan membantu  Untuk meng
klien pengaruh ha
Jika klien tidak sedang berhalusinasi
klarifikasi tentang adanya pengalaman
halusinasi, diskusikan dengan klien :
 Isi, waktu dan frekuensi
terjadinya halusinasi (pagi,
siang, sore, malam atau sering
dan kadang-kadang)
 Situasi dan kondisi yang
menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasi
2. Setelah…x interaksi klien 2.3.Diskusikan dengan klien apa yang  Untuk meng
menyatakan perasaan dan dirasakan jika terjadi halusinasi dan yang diguna
responnya saat mengalami beri kesempatan untuk  Agar klien m
halusinasi : mengungkapkan perasaannya. dari menikm
 Marah 2.4.Diskusikan dengan klien apa yang sehingga kli
 Takut dilakukan untuk mengatasi perasaan halusinasiny
 Sedih tersebut.
 Senang 2.5.Diskusikan tentang dampak yang akan
 Cemas dialamunya bila klien menikmati
 Jengkel halusinasinya.
Tuk 3 : 3.1. Setelah…x interaksi klien 3.1.Identifikasi bersama klien cara atau  Upaya untuk
Klien dapat menyebutkan tindakan yang tindakan yang dilakukan jika terjadi siklus halusi
mengontrol biasanya dilakukan untuk halusinasi (tidur,marah,menyibukkan halusinasi ti
halusinasinya mengendalikan halusinasinya. diri dll)  Reinforceme
3.2. Setelah…x interaksi klien 3.2. Diskusikan vara yang digunakan klien, meningkatka
menyebutkan cara baru  Jika cara yang digunakan adaptif klien.
mengontrol halusinasi. beri pujian  Memberikan
3.3.Setelah…x interaksi klien dapat  Jika cara yang digunakan pilihan bagi
memilih dan memperagakan maladaptive diskusikan kerugian mengontrol
cara mengatasi halusinasi cara tersebut
(dengar/lihat/penghidu/raba/kec 3.3. Diskusikan cara baru untuk
ap) memutus/mengontrol timbulnya
3.4.Setelah…x interaksi klien halusinasi :
melaksanakan cara yang telah  Katakan pada diri sendiri bahwa ini
dipilih untuk mengendalikan tidak nyata (“saya tidak mau
halusinasinya. dengar/lihat/penghidu/raba/kecap
3.5.Setelah…x pertemuan klien pada saat halusinasi terjadi)
mengikuti terapi aktivitas  Menemui orang lain  Memotivasi
kelompok. (perawat/teman/anggota keluarga) kegiatan klie
untuk menceritakan tentang mencoba me
halusinasinya. cara mengen
 Membuat dan melaksanakan jadwal halusinasi d
kegiatan sehari-hari yang telah meningkatka
disusun. klien.
 Meminta keluarga/teman/perawat  Member kes
menyapa jika sedang berhalusinasi. klien untuk
3.4. Bantu klien memilih cara yang sudah yang sudah
diajurkan dan latih untuk mencobanya.  Stimulasi pe
3.5. Beri kesempatan untuk melakukan mengurangi
cara yang dipilih dan dilatih. interpretasi r
3.6. Pantau pelaksanaan yang telah dipilih akibat halus
dan dilatih, jika berhasil beri pujian.
3.7. Anjurkan klien mengikuti terapi
aktifitas kelompok, orientasi realita,
stimulasi persepsi.
Tuk 4 : 4.1.Setelah…x pertemuan keluarga, 4.1.Buat kontrak dengan keluarga untuk Untuk mendapat
Klien dapat keluarga menyatakan setuju pertemuan (waktu, tempat dan topic) keluarga mengon
dukungan dari untuk mengikuti pertemuan 4.2. Diskusikan dengan keluarga (pada
keluarga dengan perawat. saat pertemuan keluarga kunjungan Untuk mengetah
dalam 4.2.Setelah…x interaksi keluarga rumah) keluarga dan men
mengontrol menyebutkan pengertian, tanda  Pengertian halusinasi kemampuan peng
halusinasinya dan gejala, proses terjadinya  Tanda dan gejala halusinasi halusinasi.
halusinasi dan tindakan untuk  Proses terjadinya halusinasi
mengendalikan halusinasi.  Cara yang dapat dilakukan klien Agar keluarga da
dan keluarga untuk memutus klien atau anggot
halusinasi : yang berhalusina
 Obat-obatan halusinasi
 Cara merawat anggota keluarga yag Keluarga klien m
halusinasi di rumah (beri kegiatan, mencari bantuan
jangan biarkan sendiri, makan tidak dapat diata
bersama, berpergian bersama,
memantau obat-obatan dan cara
pemberiannya untuk mengatasi
halusinasi)
 Beri informasi waktu control
kerumah sakit dan bagaimana cara
mencari bantuan jika halusinasi
tidak dapat diatasi di rumah.
Tuk 5: 5.1.Setelah…x interaksi klien 5.1. Diskusikan dengan klien tentang  Dengan men
Klien dapat menyebutkan ; manfaat dan kerugian tidak minum frekuensi da
memanfaatka  Manfaat minum obat obat, warna, dosis, cara, efek terapi diharapkan k
n obat dengan  Kerugian tidak munum obat dan efek samping penggunaan obat. melaksanaka
baik  Nama, warna, dosis, efek 5.2. Pantau klien saat penggunaan obat. pengobatan.
terapi dan efek samping obat 5.3. Beri pujian jika klien menggunakan  Menilai kem
5.2.Setelah…x interaksi klien obat dengan benar. dalam pengo
mendemonstrasikan penggunaan 5.4. Diskusikan akibat berhenti minum sendiri.
obat dengan benar obat tanpa konsultasi dengan dokter.  Program pen
5.3.Setelah…x interaksi klien 5.5. Ajurkan klien untuk konsultasi kepada berjalan sesu
menyebutkan akibat berhenti dokter/perawat jika terjadi hal-hal  Dengan men
minum obat tanpa konsultasi yang tidak diinginkan. penggunaan
dokter. kemandirian
pengobatan
ditingkatkan
Keterangan :
 Halusinasi Dengar : Bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang
ke kanan/kekiri/kedepan seola-olah ada teman bicara
 Halusinasi Lihat : Menyatakan melihat sesuatu, terlihat ketakutan
 Halusinasi Penghidu : Mencium sesuatu, terlihat mengendus
 Halusinasi Raba : Menyatakan merasakan sesuatu berjalan di kulitnya,
menggosok-gosok tangan/kaki/wajah dll
 Halusinasi Kecap : Menyatakan terasa sesuatu dilidahnya, sering
mengulum lidah
BAB IV
PELAKSANAAN TINDAKAN

Bab ini membahas mengenai pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah dilakukan
pada Klien Ny. S kelompok melakukan intervensi pada tigadiagnosa keperawatan yakni
:Isolasi Sosial, Harga Diri Rendah, Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengan&
Penglihatan. Kelompok membahas tiga diagnosa keperawatan yakni : Isolasi
Sosial,Harga diri rendah danGangguanSensori Persepsi: Halusinasi yang dilakukan
intervensi dari tanggal 6 November 2017 sampai 11 November 2017.
A. Isolasi Sosial
Diagnosa keperawatan tentang isolasi social telah dilakukan implementasi
keperawatan SP. I dengan tujuan umum klien dapat berinteraksi dengan orang lain
yang biasa dilakukannya dalam 2 kali interaksi (pertemuan) dimana setiap interaksi
hubungan saling percaya dapat dipertahankan.
Pertemuan Pertama: SP.I dilaksanakan yakni hari Selasa, 07 November 2017
pukul 08:00-08:15 WIB. Implementasi yang dilakukan meliputi : Membina
hubungan saling percaya, mampu menyebutkan penyebab menarik diri, klien
mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri,
klien dapat melaksanakan hubungan social secara bertahap, klien mampu
menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial, menganjurkan pasien
masukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan
harian.
Evaluasi dari diagnosa isolasi sosial adalah :
Subjektif :Klien mengatakan lebih suka untuk menyendiri, malas untuk memualai
pembicaraan dan malas untuk berkenalan
Objektf : Klien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata saat berbicara,
klien tampak sering menundukan kepala ketika di ajak berinteraksi.
Analisa : Masalah keperawatan isolasi sosial teratasi meliputi klien mampu
membina hubungan saling percaya.
Pertemuan kedua: SP.I dilaksanakan yakni hari Rabu, 08 November 2017 pukul
08:00-08:15 WIB. Implementasi yang dilakukan meliputi : klien mampu
menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat melaksanakan hubungan
social secara bertahap, klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan
sosial, menganjurkan pasien masukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan
orang lain ke dalam kegiatan harian.
Evaluasi dari diagnosa isolasi sosial adalah :
Subjektif :Klien mengatakan lebih suka untuk menyendiri, malas untuk memulai
pembicaraan dan malas untuk berkenalan,
Objektf : Klien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata saat berbicara,
klien tampak sering menundukan kepala ketika di ajak berinteraksi,
Analisa : Masalah keperawatan isolasi sosial teratasi meliputi klien mampu
membina hubungan saling percaya.
klienmampu menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan
keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat
melaksanakan hubungan sosial secara bertahap, klien mampu menjelaskan
perasaannya setelah berhubungan sosial, dukungam keluarga dalam memperluas
hubungan sosial.
Pertemuan ketiga: SP.I dilaksanakan yakni hari Rabu, 09 November 2017 pukul
08:00-08:15 WIB. Implementasi yang dilakukan meliputi : klien mampu
menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat melaksanakan hubungan
social secara bertahap, klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan
sosial, klien mampu mempraktekan cara berkenalan dengan 1 orang namun klien
belum dapat mengaplikasikannya secara mandiri.anjurkan pasien masukan kegiatan
latihan berbincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan harian.
Evaluasi dari diagnosa isolasi sosial adalah :
Subjektif :Klien mengatakan lebih suka untuk menyendiri, malas untuk memulai
pembicaraan dan malas untuk berkenalan, karena klien mengatakan lebih nyaman
jika sendiri
Objektf : Klien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata saat berbicara,
klien tampak sering menundukan kepala ketika di ajak berinteraksi,
Analisa : Masalah keperawatan isolasi sosial belum teratasi meliputi klien belum
mampu memulai pembicaraan, klien belum mampu mempraktekan cara berkenalan
dengan teman.
klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan
keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat
melaksanakan hubungan sosial secara bertahap, klien mampu menjelaskan
perasaannya setelah berhubungan sosial, dukungam keluarga dalam memperluas
hubungan social namun klien belum mampu memulai pembicaraan dengan teman
dan belum mampu mempraktekan cara berkenalan dengan teman.
Pertemuan keempat: SP.I dilaksanakan yakni hari Rabu, 10 November 2017
pukul 08:00-08:15 WIB. Implementasi yang dilakukan meliputi : mengidentifikasi
penyebab klien menarik diri, klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan
sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat melaksanakan hubungan social secara
bertahap, klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial, klien
mampu mempraktekan cara berkenalan dengan 1 orang namun klien belum dapat
mengaplikasikannya secara mandiri. anjurkan pasien masukan kegiatan latihan
berbincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan harian.
Evaluasi dari diagnosa isolasi sosial adalah :
Subjektif :Klien mengatakan lebih suka untuk menyendiri, malas untuk memualai
pembicaraan dan malas untuk berkenalan, karena klien mengatakan lebih nyaman
jika sendiri
Objektf : Klien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata saat berbicara,
klien tampak sering menundukan kepala ketika di ajak berinteraksi,
Analisa : Masalah keperawatan isolasi sosial belum teratasi meliputi klien belum
mampu memulai pembicaraan, klien belum mampu mempraktekan cara berkenalan
dengan teman.
klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan
keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat
melaksanakan hubungan sosial secara bertahap, klien mampu menjelaskan
perasaannya setelah berhubungan sosial, dukungam keluarga dalam memperluas
hubungan social namun klien belum mampu memulai pembicaraan dengan teman
dan belum mampu mempraktekan cara berkenalan dengan teman
Pertemuan kelima: SP.I dilaksanakan yakni hari Rabu, 11 November 2017 pukul
08:00-08:15 WIB. Implementasi yang dilakukan meliputi : klien mampu
menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat melaksanakan hubungan
social secara bertahap, klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan
sosial, klien mampu mempraktekan cara berkenalan dengan 1 orang namun klien
belum dapat mengaplikasikannya secara mandiri. anjurkan pasien masukan
kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan harian.
Evaluasi dari diagnosa isolasi sosial adalah :
Subjektif :Klien mengatakan lebih suka untuk menyendiri, malas untuk memualai
pembicaraan dan malas untuk berkenalan, karena klien mengatakan lebih nyaman
jika sendiri
Objektf : Klien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata saat berbicara,
klien tampak sering menundukan kepala ketika di ajak berinteraksi,
Analisa : Masalah keperawatan isolasi sosial belum teratasi meliputi klien belum
mampu memulai pembicaraan, klien belum mampu mempraktekan cara berkenalan
dengan teman.
klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan
keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien dapat
melaksanakan hubungan sosial secara bertahap, klien mampu menjelaskan
perasaannya setelah berhubungan sosial, dukungan keluarga dalam memperluas
hubungan social namun klien belum mampu memulai pembicaraan dengan teman
dan belum mampu mempraktekan cara berkenalan dengan teman
B. Harga Diri Rendah
Implementasi dari diagnosa keperawatan harga diri rendah dilaksanakan SP.1.
Tujuan umum klien memiliki konsep diri yang positif. Implementasi dilakukan
dalam dua kali pertemuan.
Pertemuan Pertama SP.I dilaksanakan yakni hari Selasa, 07 November 2017
pukul 08:30-08:45 WIB. Implementasi yang dilakukan meliputi : memperhatikan
hubungan saling percaya, mengidentifikasi aspek positif yang dimiliki, menilai
kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan, membantu klien memilih kegiatan
yang akan dilatih sesuai kemampuan, Evaluasi dari pertemuan ke satu diagnosa
HDR adalah :
Subjektif :Klien mengatakan masih ingat dengan nama suster, klien mengatakan
merasa malu pada kulitnya yang kusam dan sudah mulai keriput dan rambutnya
yang pendek dan berwarna putih, klien mengatakan dirinya merasa tidak berguna
lagi.
Objektif : Klien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata saat berbicara
dan klien tampak mengalihkan pandangan dan tidak focus pada perawat.
Analisa : Masalah keperawatan harga diri rendah sudah teratasi. Klien mampu
membina hubungan saling percaya, klien mampu mengidentifikasi kemampuan
dan aspek positif yang dimiliki klien, klien mampu menilai kemampuan klien
yang masih dapat digunakan, klien mampu memilih kegiatan yang akan dilatih
sesuai dengan kemampuan yang dipilih, dan klien mampu memasukkan ke dalam
jadwal kegiatan harian.
Rencana Tindakan lanjut, untuk perawat: mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien, melatih kemampuan ke dua, dan menganjurkan klien memasukkan ke
dalam jadwal kegiatan harian, sedangkan Untuk klien : Evaluasi jadwal kegiatan
harian klien, bantu klien latihan kemampuan ke dua, dan anjurkan klien
memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian.
C. Gangguan Sensori persepsi: HalusinasiPendengaran
Diagnosa keperawatan tentang Gangguan sensori persepsi: halusinasi telah
dilakukan implementasi keperawatan SP Idengan tujuan umum klien dapat
membina hubungan saling percaya, klien dapat mengenal halusiansi dan klien
dapat mengontrol halusinasi dengan cara menhardik dalam 3 kali interaksi
(pertemuan) dimana setiap interaksi hubungan saling percaya dapat
dipertahankan.
Pertemuan pertama dilakukan pada hari selasa,07 November pukul 09:00-
09:15WIB, Pertemuan ini dilakukan SP.I Gangguan sensori persepsi: Halusinasi
meliputi : membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu halusisnasi, frekwensi halusianasi, respon klien saat halusinasi
dan membantu klien untuk mengatasi halusinasi dengan cara menghardik ketikia
klien berhalusinasi, dan menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan
harian.
Subjektif : Klien mampu meyebutkan namanya, klien mengatakan dirinya
mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk berdiam diri dan berbahasa
tionghoa dan suara-suara itu datang saat klien mau tidur malam, suara-suara itu
datang sekitar 5-10 menit. Ketika suara-suara itu datang klien mengatakan hanya
diam saja dan kadang merasa takut. Serta klien juga mengatakan suka melihat
bayangan bewarna hijau yang munculnya jam 7 malam lamanya sekitar 4 menit
dank lien merasa takut.
Objektif :Klien tampak tenang dan kooperatif dengan perawat, klien tampak
mampu membina hubungan saling percaya.klien tampak mampu mengidentifikasi
isi dan durasi halusinasi
Analisa SP.I : Masalah keperawatan gangguan sensori persepsi : halusinasi
pendengaran dan penglihatan belum teratasi meliputi kien mampu membina
hubungan saling percaya, klien mampu mengidentifikasi jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu halusisnasi, frekwensi halusianasi, respon klien saat
halusinasidan klien mampu memasukan kedalam jadwal kegiatan hariannamun
klien belum mampu memperagakan cara mengontrol halusinasi dengan cara
menghardik.
Rencana tindak lanjut : Untuk perawat: mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien, Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara menghardik, dan
menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian, sedangkan untuk
klien adalah: evaluasi jadwal harian klien, bantu klien melatih mengendalikan
halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, dan anjurkan klien memasukkan
dalam jawdal kegiatan harian.
Pertemuan kedua dilakukan pada hari rabu,08 November 2017 pukul 09.00-
09.15 WIB, Pertemuan ini dilakukan SP.I Gangguan sensori persepsi: Halusinasi
meliputi : membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu halusisnasi, frekwensi halusianasi, respon klien saat halusinasi
dan membantu klien untuk mengatasi halusinasi dengan cara menghardik ketikia
klien berhalusinasi, dan menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan
harian.
Subjektif : Klien mampu meyebutkan namanya, klien mengatakan dirinya
mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk berdiam diri dan berbahasa
tionghoa dan suara-suara itu datang saat klien mau tidur malam, suara-suara itu
datang sekitar 5-10 menit. Ketika suara-suara itu datang klien mengatakan hanya
diam saja dan kadang merasa takut. Serta klien juga mengatakan suka melihat
bayangan bewarna hijau yang munculnya jam 7 malam lamanya sekitar 4 menit
dank lien merasa takut.
Objektif :Klien tampak tenang dan kooperatif dengan perawat, klien tampak
mampu membina hubungan saling percaya.klien tampak mampu mengidentifikasi
isi dan durasi halusinasi
Analisa SP.I : Masalah keperawatan gangguan sensori persepsi : halusinasi
pendengaran dan penglihatan belum teratasi meliputi kien mampu membina
hubungan saling percaya, klien mampu mengidentifikasi jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu halusisnasi, frekwensi halusianasi, respon klien saat halusinasi
dan klien mampu memasukan kedalam jadwal kegiatan hariannamun klien belum
mampu memperagakan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.
Rencana tindak lanjut : Untuk perawat: mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien, Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara menghardik, dan
menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian, sedangkan untuk
klien adalah: evaluasi jadwal harian klien, bantu klien melatih mengendalikan
halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, dan anjurkan klien memasukkan
dalam jawdal kegiatan harian
Pertemuan ketiga dilakukan pada hari Kamis, 09 November 2017 pukul 09.00-
09.15 WIB, Pertemuan ini dilakukan SP.I Gangguan sensori persepsi: Halusinasi
meliputi : membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu halusisnasi, frekwensi halusianasi, respon klien saat halusinasi
dan membantu klien untuk mengatasi halusinasi dengan cara menghardik ketikia
klien berhalusinasi, dan menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan
harian.
Subjektif : Klien mampu meyebutkan namanya, klien mengatakan dirinya
mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk berdiam diri dan berbahasa
tionghoa dan suara-suara itu datang saat klien mau tidur malam, suara-suara itu
datang sekitar 5-10 menit. Ketika suara-suara itu datang klien mengatakan hanya
diam saja dan kadang merasa takut. Serta klien juga mengatakan suka melihat
bayangan bewarna hijau yang munculnya jam 7 malam lamanya sekitar 4 menit
dank lien merasa takut.
Objektif :Klien tampak tenang dan kooperatif dengan perawat, klien tampak
mampu membina hubungan saling percaya.klien tampak mampu mengidentifikasi
isi dan durasi halusinasi
Analisa SP.I : Masalah keperawatan gangguan sensori persepsi : halusinasi
pendengaran dan penglihatan belum teratasi meliputi kien mampu membina
hubungan saling percaya, klien mampu mengidentifikasi jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu halusisnasi, frekwensi halusianasi, respon klien saat halusinasi
dan klien mampu memasukan kedalam jadwal kegiatan hariannamun klien belum
mampu memperagakan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.
Rencana tindak lanjut : Untuk perawat: mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien, Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara menghardik, dan
menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian, sedangkan untuk
klien adalah: evaluasi jadwal harian klien, bantu klien melatih mengendalikan
halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, dan anjurkan klien memasukkan
dalam jawdal kegiatan harian.
BAB V
PEMBAHASAN

Kesesuain Antara Teori dan Kasus pada bab ini kelompok akan membahas
tentang keberhasilan tindakan yang telah dilakukan dan hambatan yang ditemukan
selama berinteraksi dengan klien dan pemecahan masalah yang telah dilakukan serta
membandingkan antara teori dan kasus yang ditemukan serta menganalisa sejauh mana
faktor penghambat, dan altrenatif, dalam memberikan asuhan keperawatan pada Ny. S
dengan isolasi social dari tanggal 06 – 11 November 2017.
Menurut teori ada 3 diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan
gangguan isolasi sosial, sementara berdasarkan data yang ditemukan saat pengkajian
pada Ny. S maka ditemukan 4 masalah keperawatan yaitu isolasi sosial, harga diri
rendah, gangguan sensori persepsi: halusiansi pendengaran & Penglihatan, dan resiko
perilaku kekerasan. Dari 4 masalah yang kami dapatkan saat pengkajian hanya 3
masalah keperawatan yang kami lakukan tindakan keperawatan yaitu Isolasi sosial,
harga diri rendah dan gangguan sensori halusinasi: pendengaran dan penglihatan,
sementara masalah resiko perilaku kekerasan tidak kami bahas dikarenakan data yang
kami dapatkan saat pengkajian pada Ny. S adalah riwayat masalalu klien dan data
tersebut tidak muncul lagi pada saat kami melakukan tindakan keperawatan.
Dalam pembahasan ini kami tidak menemukan kesenjangan yang signifikan
antara teori dengan keadaan klien yang sebenarnya, justru kami mendapatkan bahwa
tidak semua data teoritis terdapat atau dialami oleh klien dengan diagnosa Isolasi sosial,
Harga diri rendah maupun Halusinasi. Untuk lebih jelasnya dapat kami bahas dan kami
uraikan sebagai berikut:
1. Isolasi Sosial
Menurut Damaiyanti & Iskandar (2012) bahwa klien dengan diagnosa
keperawatan isolasi sosial, secara umum terdapat data sebagai berikut: Data
subjektif : Perasaan tidak mampu, pandangan hidup yang perimis, perasaan lemah
dan takut, penolakkan terhadap kemampuan diri sendiri, pengurungan diri/
menjelekan diri sendiri, hidup yang bipolarisasi, ketidakmampuan menentukan
tujuan, mengungkapkan kegagalan pribadi, dan merasionalkan penolakan. Data
Objektif : produktif menurun, perilaku destruktif pada diri sendiri dan orang lain,
penyalahgunaan zat, manarik diri dari hubungan social, ekspresi wajah malu dan
rasa bersalah, menunjukkan tanda depresi (sukar tidur dan sukar makan), dan
tampak mudah tersinggung/ mudah marah.
Sedangkan data yang didapat saat pengkajian pada Ny. S dengan masalah
isolasi sosial ialah: Data subjektif : Klien mengatakan lebih suka untuk menyendiri,
malas untuk memulai pembicaraan dan malas untuk berkenalan. Data Objektif :
Klien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata saat berbicara, klien
tampak sering menundukan kepala ketika di ajak berinteraksi.
Menurut Depkes RI (2017) bahwa Faktor Predisposisi pada klien dengan
masalah isolasi sosial adalah sebagai beriku: 1) Faktor Tumbuh Kembang, 2)
Faktor komunikasi dalam keluarga, 3) Faktor Sosial Budaya dan 4) Faktor Biologis
dan Ekonomi. Sementara Faktor presipitasi adalah: 1) Faktor eksternal :
stressor social budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh factor sosial budaya
seperti keluarga, 2) Faktor internal : stressor psikologik, yaitu stress terjadi akibat
ansietas yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan
kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan
untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.
Sementara pada Ny. S Faktor Predisposisi dan Presipitasi yang kami dapatkan
adalah sebagai berikut : Faktor Predisposisi. klien kehilangan peran sebagai
seorang ibu dikarenakan klien tidak dapat merawat keluarganya dan sekarang klien
tinggal dipanti cengkareng. selain itu faktor ekonomi turut mempengaruhi dimana
klien tidak memiliki pekerjaan sehingga membuat klien dan suaminya bertengkar
sehingga klien memutuskan untuk berangkat dari medan dan berangkat ke jakarta.
Sementara Faktor Presipitasi, klien cemas karena tidak dapat membiayai
keluarganya mulai dari sandan dan pandang. Sehingga menyebabkan klien stres.
Berdasarkan teori rencana tindakan keperawatan, strategi pelaksanaan atau
tindakan keperawatan yang harus dilakukan kepada pasien isolasi sosial ada 3 SP
pasien dan 4 SP keluarga, SP I pasien yaitu mengidentifikasi penyebab isolasi
sosial pasien, diskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dan tidak
berinteraksi dengan oang lain. SP II yaitu memberikan dan SP III pasien yaitu
memberikan kesempatan kepada pasien cara berkenalan dengan dua orang atau
lebih. Pada SP keluarga, SP I yaitu mendiskusikan masalah yang dirasakan
keluarga dalam merawat klien, menjelaskan tentang isolasi sosial yang dialami
klien, dan menjelaskan cara merawat klien dengan isolasi sosial. Pada SP II
keluarga yaitu melatih keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan isolasi
sosial. SP III yaitu melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada
klien isolasi sosial dan SP IV yaitu membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di
rumah termasuk minum obat. kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara
berkenalan dengan satu orang
Pada Ny. S sudah dilakukan SP I pasien dengan 5 kali pertemuan, sementara
SP II, SP III dan SP keluarga belum dilakukan karena selama kelompok praktek di
ruangan klien belum mampu melanjutkan ke SP selanjutnya dikarenakan klien
belum bisa memulai pembicaraan, klien belum mampu mempraktekan cara
berkenalan dengan teman. dan juga kelompok belum pernah bertemu dengan
keluarga klien. Setelah dilakukan tindakan keperawatan SP 1 pasien hasil yang
didapat yaitu klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri, klien mampu
menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, klien
dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap, klien mampu menjelaskan
perasaannya setelah berhubungan sosial, dukungan keluarga dalam memperluas
hubungan social namun klien belum mampu memulai pembicaraan dengan teman
dan belum mampu mempraktekan cara berkenalan dengan teman
Hambatan yang ditemukan selama interaksi adalah klien tidak komunikatif,
kontak mata kurang, klien selalu menunduk saat bicara, dan tidak ada inisiatif untuk
berhubungan dengan orang lain, serta tidak adanya pertemuan dengan pihak
keluarga untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Hal ini perawat atasi dengan
lebih sering bertemu dan berinteraksi dengan klien, serta memotivasi klien bahwa
dirinya adalah orang yang berguna. Faktor pendukung adalah klien kooperatif,
bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi, daya tilik diri masih baik,
mengakui bahwa dia punya masalah dan dirawat di Rumah Sakit Jiwa serta klien
mampu menjawab pertanyaan yang diajukan.
2. Harga diri rendah
Menurut Damaiyanti & Iskandar (2012) bahwa pada klien dengan diagnosa
keperawatan harga diri rendah, secara umum terdapat data sebagai berikut: Data
subjektif : Perasaan tidak mampu, pandangan hidup yang perimis, perasaan lemah
dan takut, penolakkan terhadap kemampuan diri sendiri, pengurungan diri/
menjelek diri sendiri, hidup yang bipolarisasi, ketidakmampuan menentukan tujuan,
mengungkapkan kegagalan pribadi, dan merasionalkan penolakan. Data Objektif :
produktif menurun, perilaku destruktif pada diri sendiri dan orang lain,
penyalahgunaan zat, manarik diri dari hubungan social, ekspresiwajah malu dan
rasa bersalah, menunjukkan tanda depresi (sukar tidur dan sukar makan), dan
tampak mudah tersinggung/ mudah marah.
Sedangkan data yang didapat saat pengkajian pada Ny. S dengan masalah
harga diri rendah ialah: Data subjektif : Klien mengatakan masih ingat dengan
nama suster, klien mengatakan merasa malu pada kulitnya yang kusam dan sudah
mulai keriput dan rambutnya yang pendek dan berwarna putih, klien mengatakan
dirinya merasa tidak berguna lagi. Data Objektif : Klien tampak sering menyendiri,
tidak ada kontak mata saat berbicara dan klien tampak mengalihkan pandangan dan
tidak focus pada perawat.
Berdasarkan teori rencana keperawatan pada klien dengan masalah harga diri
rendah maka strategi pelaksanaan atau tindakan keperawatan yang harus dilakukan
kepada pasien harga diri rendah ada 2 SP pasien dan 4 SP keluarga, SP I pasien
yaitu mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien dan SP II
yaitu melatih kemampuan yang dimiliki klien. Pada SP keluarga, SP I yaitu
mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien, menjelaskan
tentang harga diri rendah yang dialami klien, dan menjelaskan cara merawat klien
dengan harga diri rendah. Pada SP II keluarga yaitu melatih keluarga
mempraktekkan cara merawat klien dengan harga diri rendah. SP III yaitu melatih
keluarga melakukan cara merawat langsung kepada klien harga diri rendah dan SP
IV yaitu membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum
obat.
Pada Ny. S sudah dilakukan SP I pasien dengan 2 kali pertemuan. Sementara
SP II dan SP keluarga belum dilakukan karena selama kelompok praktek di ruangan
Delima klien belum bisa melanjutkan ke SP selanjutnya sehingga masih dalam
evaluasi SP 1 pasien dan juga belum pernah bertemu dengan keluarga klien. Setelah
dilakukan tindakan keperawatan, Klien mampu membina hubungan saling percaya,
klien mampu mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien,
klien mampu menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan, klien mampu
memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan yang dipilih, dan
klien mampu memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian.
Hambatan yang ditemukan selama interaksi adalah klien pada saat di ajak
berbicara masih kurang fokus dan masih menundukkan kepala, untuk
mengumpulkan data tidak cukup dengan satu kali pertemuan, tidak ada pertemuan
dengan keluarga klien, dan tidak melihat status pasien di ruangan. Hal ini perawat
atasi dengan melakukan komunikasi yang terapeutik dengan mengadakan interaksi
sering dan singkat secara bertahap dengan pertanyaan yang terbuka, memulai
pembicaraan dengan topik yang disukai klien dan memperhatikan serta memenuhi
kebutuhan dasar klien. Faktor pendukung yang kelompok temukan adalah klien
kooperatif, lingkungan kondusif, klien tidak mengalami disorientasi sehingga klien
mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dan bersedia mengungkapkan
perasaan serta masalah yang dihadapi.
3. Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan
Menurut Ade (2011) bahwa pada klien dengan diagnosa Gangguan Sensori
Persepsi: Halusinasi Pendengaran, secara umum terdapat data sebagai berikut: data
subjektif : klien mengatakan sering mendengar suara bisikan di telinga. Data
objektif: klien tampak ketakutan, klien tampak bicara sendiri, klien tampak marah
tanpa sebab, klien kadang tertawa sendiri, klien sering menyendiri, dan klien
tampak mondar-mandir.
Sedangkan data yang didapat saat pengkajian pada Ny. S dengan masalah
gangguan sensori persepsi: halusinasi pengdengaran dan penglihatan ialah: Data
Subjektif : Klien mampu meyebutkan namanya, klien mengatakan dirinya
mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk berdiam diri dan berbahasa tiong
hoa dan suara-suara itu dating saat klien mau tidur malam, suara-suara itu dating
sekitar 5-10 menit. Ketika suara-suara itu dating klien mengatakan hanya diam saja
dan kadang merasa takut. Serta klien juga mengatakan suka melihat bayangan
bewarna hijau yang munculnya jam 7 malam lamanya sekitar 4 menit dan klien
merasa takut. Data Objektif : Klien tampak tenang dan kooperatif dengan perawat,
klien tampak mampu membina hubungan saling percaya. Klien tampak mampu
mengidentifikasi isi dan durasi halusinasi.
Berdasarkan teori, strategi pelaksanaan atau tindakan keperawatan yang harus
dilakukan kepada pasien halusinasi ada 4 SP pasien dan 4 SP keluarga, SP I pasien
yaitu berdiskusi dengan pasien untuk mengenal halusinasi yang klien alami dan
mengontrol halusinasi dengan menghardik. SP II yaitu memberikan pendidikan
kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur. SP III pasien yaitu mengontrol
halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain. dan SP IV yaitu mengontrol
halusinasi dengan melakukan kegiatan. Pada SP keluarga, SP I yaitu mendiskusikan
masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien, menjelaskan tentang
halusinasi yang dialami klien, dan menjelaskan cara merawat klien dengan
halusinasi. Pada SP II keluarga yaitu melatih keluarga mempraktekkan cara
merawat klien dengan halusinasi. SP III yaitu melatih keluarga melakukan cara
merawat langsung kepada klien halusinasi dan SP IV yaitu membantu keluarga
membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat.
Pada Ny. S sudah dilakukan SP I pasien dengan 2 kali pertemuan, sementara
SP II, SP III, dan SP IV pasien belum dilakukan karena pasien dipindahkan ke
ruangan Berry. SP keluarga belum dilakukan karena selama kelompok praktek di
ruangan belum pernah bertemu dengan keluarga klien. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan SP 1 pasien hasil evaluasi yang dipeoleh adalah kien mampu membina
hubungan saling percaya, klien mampu mengidentifikasi jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu halusisnasi, frekwensi halusianasi, respon klien saat halusinasi
dan klien mampu memasukan kedalam jadwal kegiatan hariannamun klien belum
mampu memperagakan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.
Hambatan yang ditemukan selama interaksi adalah saat berinteraksi klien
tampak kesal jika disinggung tentang halusinasinya. Hal ini diatasi dengan
bekerjasama dengan perawat di ruangan dengan lebih sering bertanya tentang
keadaan klien. Faktor pendukung adalah klien cukup kooperatif dalam
menceritakan halusinasi yang dialaminya, perawat di ruangan mau bekerjasama,
adanya bimbingan dari pembimbing akademik dan lapangan.
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut Depkes RI(2009) perilaku isolasi social menarik diri merupakan suatu
gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang
tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi
seseorang dalam hubungan social.
Menurut Budi Ana Keliat(2013) harga diri rendah adalah penilaian individu
tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan
ideal diri.Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadap dirinya sendiri, termasukhilangnya percaya diri dan harga diri, merasa
gagal mencapai keinginan.
Menurut Wilson(2015), halusinasi adalah gangguan penyerapan, atau persepsi
panca indera tanpa adanya rangsang dari luar yang dapat terjadi pada sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat individu itu penuh dan baik. Dengan kata
lain klien berespon terhadap rangsang yang tidak nyata dan hanya dirasakan oleh
klien dan tidak dapat ditentukan oleh orang lain.
Menurut teori ada 3 diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan
gangguan isolasi sosial, namun data yang ditemukan saat pengkajian pada Ny.
ditemukan 4 masalah keperawatan yaitu isolasi sosial, harga diri rendah, gangguan
sensori persepsi: halusiansi pendengaran & Penglihatan, dan resiko perilaku
kekerasan. Dari 4 masalah yang kami dapatkan saat pengkajian hanya 3 masalah
keperawatan yang kami lakukan tindakan keperawatan yaitu isolasi sosial, harga
diri rendah dan gangguan sensori persepsi halusinasi: pendengaran dan penglihatan,
sementara masalah resiko perilaku kekerasan tidak kami bahas dikarenakan data
yang kami dapatkan saat pengkajian pada Ny. S adalah riwayat masalalu klien dan
data tersebut tidak muncul lagi pada saat kami melakukan tindakan keperawatan.
Dalam pembahasan ini kami tidak menemukan kesenjangan yang signifikan
antara teori dengan keadaan klien yang sebenarnya, justru kami mendapatkan
bahwa tidak semua data teoritis terdapat atau dialami oleh klien dengan diagnosa
Isolasi sosial, Harga diri rendah maupun Halusinasi.
Pada masalah Isolasi sosial : menarik diri, Ny. S hanya dilakukan SP 1 pasien
selama 5 kali pertemuan ini di karenakan klien belum bisa memulai pembicaraan
dan klien belum mampu mempraktekkan cara berkenalan dengan teman. Pada
masalah harga diri rendah, Ny. S hanya dilakukan SP 1 pasien selama 2 kali
pertemuan ini di karenakan pasien masih di evaluasi SP 1 pasien. Pada masalah
gangguan sensori persepsi halusinasi dengar dan penglihatan, Ny. S hanya di
lakukan tindakan keperawatan SP 1 pasien selama 2 kali pertemuan ini di
karenakan pasien pindah ke ruangan Berry. Sedangkan pada SP keluarga baik
masalah Isolasi soasial menarik diri, harga diri rendah dan gangguang sensori
persepsi halusinasi dengar dan penglihatan tidak dapat di lakukan karena selama
praktek dan pengkajian klien tidak pernah di jenguk keluarganya.

B. Saran

Saran kami bagi perawat baik itu mahasiswa atau perawat ruangan untuk harus
lebih sabar dan telaten dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa agar
meningkatkan proses penyembuhan klien.