Anda di halaman 1dari 24

FENOMENA PERCERAIAN BAWAH TANGAN PADA MASYARAKAT DI

KABUPATEN LINGGA KEPULAUAN RIAU

Risma Anastasiya
Mahasiswa Magister Hukum Islam
Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta

A. Pendahuluan

Sesungguhnya manusia diciptakan ke muka bumi ini berpasang-pasangan,


begitulah yangdisebutkan dalam teks suci umat Islam. Allah menciptakan manusia
di muka bumi ini dengan beraneka ragam suku bangsa, bahasa, dan bentuk fisik.
Maksud dari keberagaman itu bukan untuk menegaskan kelebihan yang satu
dengan yang lainnya, melainkan dengan adanya hal demikian itulah agar di antara
setiap kelompok atau jenis dapat menjalin kesatuan dan saling bekerjasama sebagai
hamba-Nya.Segala sesuatu yang diciptakan berpasang-pasangan ini adalah seperti
adanya laki-laki dan perempuan. Diciptakannya kita berpasang-pasangan karena
sesungguhnya di dunia ini kita tidak bias hidup sendiri tanpa adanya orang lain,
maka dari itu kita diperintahkan untuk selalu menjalin hubungan yang baik antar
sesama manusia.

Laki-laki dan perempuan diciptakan yang mana suatu saat akan hidup
bersama dengan adanya ikatan yang disebut “pernikahan”. Pernikahan atau
perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.1 Untuk sampai pada
ikatan tersebut, seorang pria dan wanita haruslah terikat dalam hubungan yang sah,
sesuai dengan aturan agamanya dan negara.

Dalam Islam perkawinan disebut dengan pernikahan, yakni suatu akad


yang yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah. Tujuan dari perkawinan itu sendiri adalah

1
Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

1
untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa
rahmah. Pernikahan yang sah adalah pernikahan yang dilakukan menurut hukum
masing-masing agama dan keprcayaannya, dan harus dicatat menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Untuk mewujudkan kehidupan berumah tangga yang sakinah, mawaddah,


warahmah tidaklah mudah. Kunci utama untuk mencapai keluarga sakinah,
mawaddah, wa rahmah adalah meluruskan niat kita berkeluarga karenaa ingin
mendapat ridho Allah Swt. Jika penikahan dilaksanakan atas dasar mengikuti
perintah agama dan mengikuti sunnah Rasul, maka sakinah, mawaddah, wa
rahmah yang telah Allah ciptakan untuk manusia dapat dinikmati oleh pasangan
suami istri. Selain itu suami maupun istri harus mempunyai bekal ilmu
pengetahuan yang cukup tentang nilai, norma dan moral yang benar, dan haruslah
saling melengkapi, hal yang paling mendasar adalah suami-istri harus saling
memenuhi hak dan kewajiban satu sama lain.

Membina sebuah rumah tangga tidaklah mudah, pasangan suami istri harus
siap mental untuk menghadapi segala hambatan dan tantangan serta cobaan rumah
tangga. Tidak sedikit pasangan suami istri yang merasa siap dan memiliki bekal,
namun di tengah perjalanan mereka goyah dan gagal mencapai tujuan yang dicita-
citakan, rumah tangga yang harmonis, bahagia, dan sejahtera. Karena goyahnya
rumah tangga tersebut kasih sayang yang harmonis kabur dan menghilang,
ketentraman dan kebahagiaan yang didambakan berubah menjadi pertikaian dan
pertengkaran.2 Akibat dari keretakan sebuah keluarga tersebut, suami istri
kebanyakan memilih jalan untuk berpisah, dan perceraian pun tidak dapat dihindari
lagi.

Islam memang mengizinkan perceraian, tetapi Allah membenci perceraian


itu.3 Islam mengizinkan bukan berarti membuka jalan selebar-lebarnya untuk
melakukan perceraian, dan itu juga bukan berarti Islam membolehkan umatnya

2
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1990), hlm.
169.
“Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah MAha
3

Mendengar, Maha Mengetahui.” Q.S. Al-Baqaroh: 228

2
melakukan perceraian semaunya, melainkan Islam memberikan batasan-batasan
tertentu kapan suami istri dibolehkan melakukan perceraian. Batasa-batasan itu di
antaranya ialah perceraian harus didasarkan atas alasan-alasan yang kuat dan
merupakan jalan terakhir untuk ditempuh oleh suami istri ketika jalan lain tidak
mampu memulihkan keutuhan kehidupan rumah tangga tersebut.4

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa perkawinan sah jika


sudah dilakukan berdasarkan prosedur yang ada sesuai aturan Negara yakni
dicatatkan. Begitu pula dengan perceraian, perceraian akan dianggap sah jika
sudah dilakukan berdasarkan prosedur yang tercatat dalam Undang-undang
Perkawinan. Dalam Islam perceraian bisa terjadi dengan kata talak (kita bercerai).
Karena Indonesia adalah Negara hukum, maka perceraian harus dilakukan secara
hukum, sebagaimana Undang-undang Peradilan Agama bahwa umat Islam tidak
hanya berpedoman pada Undang-undang Perkawinan saja tetapi juga didukung
oleh Kompilasi Hukum Islam (KHI). Maka sudah jelas bahwa perceraian hanya
dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama
tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.5

Walaupun sudah jelas bahwa perceraian sah jika dilakukan di depan sidang
Pengadilan Agama, tetapi nyatanya di masyarakat masih banyak yang tidak
melaksanakan aturan tersebut, entah karena mereka tidak sadar hukum atau tidak
taat hukum. Ada beberapa daerah di Indonesia yang mana masyarakatnya tidak
melakukan perceraian di depan sidang Pengadilan, seperti di Kabupaten Lingga
Kepulauan Riau. Rumusan masalah dari tulisan ini ialah: kenapa perceraian
dilakukan di depan sidang pengadilan menjadi penting ? dan apa faktor penyebab
terjadinya perceraian bawah tangan ?

4
Soemiati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan (Yogyakarta: Liberty,
1989), hlm. 104.
5
Lihat: Pasal 39 Undang-undang Perkawinan dan Pasal 115 Kompilasi Hukum Islam.

3
B. Perceraian Dalam Hukum Islam

Perceraian dalam istilah ahli fiqh disebut talak atau furqah. Talak berarti
membuka ikatan, “membatalkan perjanjian”. Furqah berarti bercerai lawan dari
usyrah yang berarti berkumpul. Kemudian kedua perkataan ini dijadikan istilah
oleh ahli fiqh yang berarti perceraian antara suami istri.6 Menurut Sayyid Sabiq
kata talak dari kata “itlāq” yang berarti melepaskan atau meninggalkan. Jadi talak
diartikan dengan melepaskan ikatan perkawinan atau bubarnya hubungan
perkawinan.7 Dalam buku Ensiklopedi Hukum Islam dijelaskan bahwa talak dalam
bahasa arab artinya melepaskan dan meninggalkan suatu ikatan. Dalam istilah
talak adalah perceraian antara suami istri atas kehendak suami.8

Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali talak ialah pelepasan ikatan


perkawinan secara langsung atau pelepasan ikatan perkawinan di masa yang akan
datang. Secara langsung maksudnya adalah tanpa terkait dengan sesuatu dan
hukumnya langsung berlaku ketika ucapan talak tersebut dinyatakan oleh suami.
Sedangkan di masa yang akan datang maksudnya adalah berlakunya hukum talak
tersebut tertunda oleh suatu hal. Kemungkinan talak seperti itu adalah talak yang
dijatuhkan dengan syarat. Menurut mazhab Maliki talak ialah suatu sifat hukum
yang yang menyebabkan gugurnya kehalalan hubungan suami istri. 9 Menurut
mazhab Syafi’i talak ialah pelepasan akad nikah dengan lafal talak atau yang
semakna dengan lafal itu.10

Talak menurut arti yang umum ialah segala macam bentuk perceraian
baik yang dijatuhkan oleh suami, yang ditetapkan oleh hakim, maupun perceraian
yang jatuh dengan sendirinya atau perceraian karena meninggalnya seorang suami,
atau talak dalam arti khusus ialah perceraian yang dijatuhkan oleh pihak suami.11
Dari definisi tersebut, jelas bahwa talak merupakan sebuah institusi yang

6
Kamal Muktar, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan (Jakarta: Bulan Bintang, 1974
), hlm.156
7
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, terj. M.Thalib, Jilid viii (Bandung: Al-maarif, 1999), hlm. 7
8
Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid V ((Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), hlm. 1779
9
Ibid, hlm. 1995
10
Wahbah Az-Zuhaili, Al-fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Jilid VII, alih bahasa; Muhammad
Afifi dan Abdul Hanafi, (Jakarta: Almahira, 2001), hlm. 579
11
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam……….. hlm. 103

4
digunakan untuk melepaskan sebuah ikatan perkawinan. Dengan demikian ikatan
perkawinan sebenarnya dapat putus dan tata caranya telah diatur baik dalam fiqh
maupun di dalam Undang-undang Perkawinan.

Perceraian karena talak adalah seorang suami yang menceraikan isterinya


dengan menggunakan kata-kata cerai atau talak atau kalimat lain yang
mengandung arti dan maksud menceraikan isterinya, apakah talak yang diucapkan
itu talak satu, dua atau tiga dan apakah ucapan talak itu diucapkan talak dua atau
tiga sekaligus pada satu kejadian atau peristiwa, waktu dan tempat yang berbeda.
Para ahli hukum Islam (fuqaha) berpendapat bahwa bila seseorang mengucapkan
kata-kata talak atau semisalnya terhadap isterinya maka talaknya dianggap sah dan
haram hukumnya bagi keduanya melakukan hubungan biologis sebelum
melakukan rujuk atau ketentuan hukum lain yang membolehkan mereka bersatu
sebagai suami isteri.Para fukaha berbeda pendapat tentang kata-kata talak atau
semisalnya yang diucapkan oleh suami kepada isteri dalam kondisi sadar atau tidak
misalnya suami dalam kondisi mabuk, atau karena suami dalam kondisi tidak
tenang atau ketika dalam kondisi marah yang dipicu adanya pertengkaran yang
dapat menghilangkan keseimbangan jiwa suami atau karena dalam kondisi
dipaksa.

Beberapa ulama berpendapat bahwa lafadz talak harus di ikuti oleh niat.
Tidak sah bila adanya lafadz tanpa niat dan niat tanpa lafadz dalam talak. Lafadz
talak dibagi menjadi 2, yaitu: Talak Sharih (nyata atau jelas) dan Talak Kina’ah
(lafadz secara tidak langsung).

Contoh lafadz yang sharih, seperti: “aku ceraikan kau dengan talak satu,
aku telah melepaskan (menjatuhkan) talak untuk engkau, hari ini aku ceraikan
kau”, jika seorang suami melafadzkan talak dengan menggunakan lafadz yang
sharih maka telah berlaku walaupun tanpa niatt dan saksi.

Contoh lafadz kina’ah, seperti: “pergilah engkau dari sini ke mana


engkau suka, kita berdua sudah tiada apa-apa hubungan lagi, aku tak mau kau lagi
kau boleh pulang ke rumah orang tuamu”, Jika seoarang suami melafadzkan talak
tersebut dengan niat untuk menceraikan istrinya maka jatuhlah talak tersebut

5
keatas istrinya, sebaliknya jika ia melafadzkan talak tersebuat tanpa niat, maka
talak tidak jatuh.

Ibnu al-Mundzir rahimahullah berkata, “Para ulama dari yang saya


ketahui berijma’ (sepakat) bahwa talak yang diucapkan serius maupun bercanda
adalah sama saja (tetap jatuh talak)”. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang
yang mentalak dalam keadaan rida, marah, serius maupun bercanda, talaknya
teranggap”. Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah menyebutkan bahwa talak
dengan ucapan tegas tidak diperlukan adanya niat. Bahkan talak tersebut jatuh
walau tanpa disertai niat. Tidak ada beda pendapat dalam masalah ini. Karena yang
teranggap di sini adalah ucapan dan itu sudah cukup walau tak ada niat sedikit pun
selama lafazh talaknya tegas (sharih) seperti dalam jual beli, baik ucapan tadi
hanyalah gurauan atau serius.12

Menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah


pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di
dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika
seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak dan semacamnya bisa
teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya. Sebagian
ulama ada yang berpendapat tidak teranggapnya talak dari orang yang bercanda.
Pendapat ini lebih akan mengantarkan seseorang untuk bermain-main dengan ayat-
ayat Allah.13

C. Perceraian Menurut Hukum Yang Berlaku

Menurut pokok-pokok hukum perdata bahwa perceraian adalah


penghapusan perkawinan dengan putusan Hakim atau tuntutan salah satu pihak
dalam perkawinan.14 Perceraian adalah berakhirnya perkawinan yang telah dibina
oleh pasangan suami istri disebabkan oleh beberapa hal seperti kematian dan atas
keputusan keadilan. Perceraian juga merupakan cerai hidup antara suami sebagai

12
Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Al-Mugni Jilid X, tahqiq: ‘Abdullah bin Abdil Muhsin At-Turki
dan “Abdul Fatah Muhammad Al Halwu, “Alam Al Kutub, cet 3, 2006, hlm 373
13
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al “Utsaimin, Syahrul Mumthi ‘ala Zaadil Mustaqni’, Dar
Ibnul Jauzi Jilid 13, Cet 1, 20017, hlm. 64
14
Subketi, Pokok-pokok Hukum Perdata (Jakarta: PT Inter Masa, 1987), hlm. 42

6
akibat dari kegagalan mereka menjalankan peran masing-masing. Dalam hal ini
perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana
pasangan suami istri kemudian hidup terpisah secara resmi diakui oleh hukum
yang berlaku. Perceraian merupakan terputusnya keluarga karena salah satu atau
kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka
berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri.

Istilah perceraian terdapat dalam Pasal 38 Undang-undang Perkawinan


yang memuat tentang ketentuan fakultatif bahwa “perkawinan dapat putus karena:
a. Kematian, b. Perceraian, c. Atas putusan pengadilan”. Jadi, istilah “perceraian”
secara yuridis berarti putusnya perkawinan yang mengakibatkan putusnya
hubungan sebagai suami istri atau berhenti berlaki bini.15

Putusnya perkawinan karena kematian disebut dengan “cerai mati”,


sedangkan putusnya perkawinan karena perceraian ada dua istilah, yaitu: cerai
gugat dan cerai talak. Putusnya perkawinan karena putusnya pengadilan disebut
dengan istilah “cerai batal”.16 Putusnya perkawinan dengan istilah-istilah tersebut
terdapat beberapa alasan, yaitu:

1. Penyebutan istilah “cerai mati dan cerai batal” tidak menunjukkan kesan
adanya perselisihan antara suami istri
2. Penyebutan istilah “cerai gugat” dan cerai talak” menunjukkan kesan adanya
perselisihan antara suami istri
3. Putusnya perkawinan karena putusan pengadilan maupun perceraian harus
berdasarkan putusan pengadilan.

Pengertian perceraian dapat dijelaskan dari berbagai perspektif hukum,


sebagai berikut:17

1. Perceraian menurut hukum Islam yang telah diposotifkan dalam Pasal 38 dan
39 Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang telah dijabarkan

15
Muhammad Syaifuddin, dkk, Hukum Perceraian (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hlm. 15
16
Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010),
hlm. 108
17
Muhammad Syaifuddin, dkk, Hukum Perceraian (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hlm 20

7
dalam Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1975 tentang Implementasi Hukum
Perkawinan Nasional, mencakup:
a. Perceraian dalam pengertian cerai Talaq, yaitu perceraian yang diajukan
permohonan cerainya oleh dan atas inisiatif suami kepada Pengadilan
agama, yang dianggap terjadi dan berlaku berserta segala akibat hukumnya
sejak saat perceraian itu dinyatakan (diikrarkan) di depan sidang
Pengadilan Agama (Pasal 14-18 PP No. 9 tahun 1975).
b. Perceraian dalam pengertian cerai gugat, yaitu perceraian yang diajukan
gugatan cerainya oleh dan atas inisiatif istri kepada Pengadilan Agama,
yang dianggap terjadi dan berlaku beserta segala akibat hukumnya sejak
jatuhnya putusan pengadilan agama yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap (Pasal 20-36).
2. Perceraian menurut agama selain hukum Islam, yang telah dipositifkan dalam
Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan dijabarkan dalam
Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1975 tentang Implementasi Hukum
Perkawinan Nasional, yaitu perceraian yang gugatan cerainya diajukan oleh
dan atas inisiatif suami atau istri kepada pengadilan negri, yang dianggap
terjadi beserta segala akibat hukumnya terhitung sejak saat pendaftarannya
pada pencatatan oleh pegawai pencatat nikah di kantor catatan sipil (Pasal 20-
34 ayat (2) PP No 9 tahun 1975).

Perceraian adalah putusnya ikatan perkawinan antara suami istri dengan


keputusan pengadilan dan ada cukup alasan bahwa diantara suami istri tidak dapat
hidup rukun lagi sebagai suami istri.18 Dalam Undang-undang No 1 tahun 1974
tentang perkawinan tidak memberikan defenisi mengenai perceraian secara
khusus, dalam pasal 39 menyatakan bahwa perceraian dapat dilakukan apabila
sesuai dengan alasan-alasan yang telah ditentukan. Alasan-alasan yang dibenarkan
oleh undang-undang dan menjadi landasan terjadinya perceraian baik melalui cerai
talak maupun cerai gugat tertuang dalam Pasal 39 ayat (2) Undang-undang
Perkawinan dan Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam.

18
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan (Undang-undang
No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan) (Yogyakarta: Liberty, 1982), hlm. 12

8
Lebih lanjut mengenai alasan-alasan perceraian ditentukan dalam Pasal 19
Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang No 1
tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa perceraian dapat terjadi karena
alasan-alasan sebagai berikut:

1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain
sebagainya yang sukar disembuhkan;
2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain semala 2 (dua) tahun berturut-turut
tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar
kemampuuannya;
3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang
lebih brat setelah perkawinan berlangsung;
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang
membahayakan pihak lain;
5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat
menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri;
6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi pertengkaran dan perselisihan dan
tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
7. Suami melanggar taklik talak;
8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan
dalam rumah tangga.

Maksud dari alasan hukum perceraian yaitu alasan atau dasar bukti
(keterangan) yang digunakan untuk menguatkan tuduhan dan atau gugatan atau
permohonan dalam suatu sengketa atau perkara perceraian yang telah ditetapkan
dalam hukum national yaitu Undang-undang No 1 tahun 1974 yang kemudian
dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1975, hukum Islam yang
kemudian telah dipositifisasi dalam Kompilasi Hukum Islam dan Hukum Adat.
Alasan perceraian merupakan dasar alasan seorang pasangan suami istri
mengajukan permohonan percenan perceraian kepada Pengadilan Agama
setempat. Alasan-alasan perceraian dapat mengalami perkembangan sesuai dengan

9
perkembangan masyarakat. Salah satu alasan perceraian yang terjadi di tengah
masyarakat yaitu masalah ekonomi. 19

Pasal 39 Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan memuat


ketentuan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan didepan pengadilan, setelah
pengadilan yang bersangkutan berusaha mendamaikan kedua belah pihak,
sehubungan dengan pasal tersebut. Walaupun perceraian adalah urusan pribadi,
baik itu berdasarkan kehendak satu di antara kedua belah pihak yang seharusnya
tidak perlu campur tangan pihak ketiga, dalam hal ini pemerintah, tetapi demi
menghindari tindakan sewenang-wenang, terutama dari pihak suami (karena pada
umumnya pihak yang superior dalam keluarga adalah suami) dan juga untuk
kepastian hukum, maka percerian harus melalui sauran lembaga peradilan.20

Sehubungan dengan adanya ketentuan bahwa perceraian harus dilakukan


di depan sidang Pengadilan, maka ketentuan ini berlaku juga bagi mereka yang
beragama Islam. Walaupun pada dasarnya hukum Islam tidak menentukan bahwa
perceraian itu harus dilakukan di depan sidang Pengadilan namun karena ketentuan
ini lebih baik mendatangkan kebaikan bagi kedua belah pihak maka sudah
sepantasnya apabila orang Islam wajib mengikuti ketentuan ini.21

Perceraian yang tidak melalui saluran peradilan merupakan perceraian


yang tidak sah atau tidak diakui oleh Negara dan agama. Perceraian melalui saluran
peradilan sejatinya lebih melindungi hak-hak hukum perempuan dan menciptakan
kepastian hukum bagi pelaku perceraian.

Negara sudah mengatur sedemikian rupa tentang hukum keluarga


termasuk di dalamnya tentang perceraian. Undang-undang Perkawinan dalam
pasal 39 ayat (1) menyatakan bahwa “Perceraian hanya dapat dilakukan di depan
Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak
berhasil mendamaikan kedua belah pihak”. Oleh Kompilasi Hukum Islam (KHI)

19
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat dengan Adat Istiadat dan Upacara Adatnya
(Bandung: Cipta Aditya Bakti, 2003), hlm. 170.
20
Muhammad Syaifuddin, dkk, Hukum Perceraian (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hlm. 19.
21
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan (Undang-undang
No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan) (Yogyakarta: Liberty, 1982), hlm. 128

10
bunyi pasal 39 ayat (1) Undang-undang Perkawinan itu disalin persis bunyinya
dalam pasal 115. Perceraian, baik atas kehendak suami atau atas kehendak isteri
harus dilaksanakan di depan sidang Pengadilan Agama. Tidak ada perceraian di
luar sidang Pengadilan Agama. Jadi kalau permohonannya ditolak oleh Pengadilan
Agama, maka suami tidak bisa menjatuhkan talaknya.

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam yang termaktub diatas maka yang


dimaksud dengan perceraian perspektif Kompilasi Hukum Islam adalah proses
pengucapan ikrar talak yang harus dilakukan di depan persidangan dan disaksikan
oleh para hakim Pengadilan Agama. Apabila pengucapak ikrar talak itu dilakukan
diluar persidangan maka talak tersebut merupakan talak liar yang dianggap tidak
sah dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat.

Kalaulah terjadi sebagaimana diuraikan diatas, bahwa dalam suatu


perselisihan dan pertengkaran antara suami isteri kemudian suami mengucapkan
talak terhadap isterinya, misalnya ku talak engkau, maka menurut fikih, talaknya
sudah jatuh, tetapi kalau menurut fikih Indonesia, talaknya tidak jatuh. Dalam
mengikuti aturan agama, secara berurutan, kita wajib taat kepada Allah (al-
Qur’an), taat kepada Rasulullah (as-Sunnah) dan taat kepada Pemerintah
(Peraturan perundang-undangan). Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman
Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah
dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”.

Ketaatan kepada Pemerintah oleh Allah disejajarkan dengan ketaatan


kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah. Oleh karena itu sangat penting bagi
warga negara, disamping taat kepada Allah dan RasulNya, juga taat kepada aturan
Negara. Salah satu aturan Negara yang berlaku bagi ummat Islam adalah Undang-
undang Perkawinan yang dalam salah satu aturannya mengatur tentang perceraian,
yang harus dilakukan di depan sidang PA. Dalam hal ini talak tidak boleh
dijatuhkan disembarang tempat, tetapi harus dijatuhkan di depan persidangan PA.
Kalau diucapkan di luar persidangan Pengadilan Aagama, berarti tidak jatuh.

Apakah pendapat semacam ini tidak bertentangan dengan fikih. Tentu saja
jawabnya tidak bertentangan. Sebab para Ulama dan Kyai yang tergabung dalam

11
DPR sewaktu merumuskan Undang-undang Perkawinan telah berijtihad
sedemikian rupa, sehingga Undang-undang Perkawinan, bagi ummat Islam tidak
bertentangan dengan hukum Islam. Para ulama dan Kyai telah memasukkan
hukum Islam dalam bidang perkawinan untuk ummat Islam Indonesia ke hukum
yang bersifat qadha’i (yuridis) dalam kontek perundang-undangan di negara
Indonesia. Dengan adanya ketentuan yang mengatur bahwa talak harus diucapkaan
di depan sidang Pengadilan Agama, maka talak yang diucapkan oleh suami di luar
sidang adalah tidak jatuh.

Dengan berlakunya ketentuan Undang-undang Perkawinan tersebut


seharusnya tidak ada lagi pertentangan di tengah-tengah ummat Islam bahwa talak
diluar sidang Pengadilan Agama adalah tidak jatuh. Keberlakuan pendapat ini
adalah didasarkan pada kaidah fikih yang berbunyi: “hukmul hakim ilzamun wa
yarfa’ul khilaf”, peraturan perudang-undangan yang dibuat Negara bersifat
mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Dengan demikian karena
sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan bahwa talak harus diucapkan
di depan sidang Pengadilan Agama, maka perbedaan pendapat di tengah
masyarakat tentang jatuh tidaknya talak di luar sidang harus berakhir. Bahwa talak
yang diucapkan di luar sidang Pengadilan Agama tidaklah jatuh.22

D. Pentingnya Perceraian Dilakukan di Depan Sidang Pengadilan

Kenapa perceraian dilakukan di depan sidang pengadilan itu menjadi


penting, karena ketika suami istri memutuskan untuk bercerai maka akan ada
akibat dari perceraian tersebut yang harus di tanggung bersama. Dalam Undang-
undang Perkawinan, akibat-akibat dari putusnya perkawinan diatur dalam Pasal 41
yang berbunyi: akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-
anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada
perselisihan mengenai penguasaan anak-anak pengadilan memberi
keputusannya;

22
Drs. H. Nur Mujib, MH (Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan) http://www.pa-
jakartaselatan.go.id/artikel/236-ketika-suami-mengucapkan-talak-diluar-sidang-pengadilan. Diakses
tanggal 29 Oktober 2018

12
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan
yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tak dapat
memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut
memikul biaya tersebut;
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya-
biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.

Dari ketentuan tersebut diatas, meskipun perkawinan telah bubar, baik


ayah maupun ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anak mereka,
semata-mata untuk kepentingan anak, meskipun de facto pelaksanaannya hanya
dijalankan oleh salah satu pihak dari mereka. Ini berarti salah seorang dari ayah
atau ibu bertindak sebagai wali dari anak-anaknya, sepanjang anak-anak tersebut
belum mencapaii usia 18 tahun (pasal 50 ayat 1). Dalam hal salah seorang dari
kedua orang tua menjalankan perwalian, ia dituntut untuk tidak melalaikan
kewajibannya dan harus berkelakuan baik. Jika tidak demikian, maka kekuasaan
perwalian dapat dicabut dan disamping itu masih tetap harus memberikan biaya
pemeliharaan terhadap anak-anak itu.23 Dari uraian tersebut, nyatalah bahwa
kepentingan anaklah yang menjadi pusat perhatian. Jika akibat-akibat dari
perceraian tersebut tidak terpenuhi, maka akan berdampak kepada suami dan istri
itu sendiri terutama dalam masalah hak asuh anak dan biaya pemeliharaannya.

Apabila perceraian tidak dilakukan di depan sidang, maka akibat-akibat


dari perceraian tersebut yang seharusnya dilaksanakan oleh kedua belah pihak
suami atau istri bisa menjadi tidak terpenuhi, yang penting adalah masalah
perwalian terhadap anak. Hak asuh anak jatuh kepada salah satu dari kedua
orangtua berdasarkan pada putusan Pengadilan dalam sidang perceraian. Apabila
ternyata salah satu pihak suami/istri tidak menjalankan kewajibannya sebagai wali
dengan baik, maka suami/istri dapat mengajukan gugatan hak asuh anak kepada
Pengadilan. Jika hal tersebut terjadi dan ternyata perceraiannya tidak dilakukan di

23
Soetojo Prawirohamidjojo, Pluralisme Dalam Perundang-undangan Perkawinan di
Indonesia (Surabaya: Airlangga University Press, 1988), hlm. 147

13
depan sidang, maka hak-hak anak menjadi tidak terpenuhi dengan baik, dan hal ini
akan memberi dampak negatif kepada anak tersebut.

Begitu pula dengan cerai talak yang dilakukan oleh suami. Dalam fiqh
klasik, jumhur Ulama berpendapat bahwa hak mutlak untuk menjatuhkan talak ada
pada suami. Karena itu, kapan saja dan dimana saja seorang suami ingin
menjatuhkan talak terhadap istrinya, baik ada saksi atau tidak, baik ada alasan atau
tidak, talak yang dijatuhkan itu hukumnya sah.24 Dalam Kompilasi Hukum Islam
talak adalah ikrar suami dihadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah
satu sebab putusnya perkawinan (pasal 117 KHI). Jika talak tidak dilakukan di
depan sidang pengadilan, maka akan berdampak negatif pada istri. Istri yang
seharusnya mendapatkan nafkah masa iddah jika di talak oleh suaminya, menjadi
tidak memperoleh nafkah masa iddahnya karena mungkin sudah pisah rumah
dengan sang suami, dan suami pun menjadi lepas tangan. Jika talak dilakukan
didepan sidang pengadilan agama, ketika sang suami tidak memenuhi nafkah masa
iddah, istri bisa melaporkan ke Pengadilan Agama untuk menuntut hak nafkah
masa iddahnya.

Perceraian yang dilakukan tidak didepan sidang pengadilan akan


berpengaruh dan mempunyai dampak negatif terhadap suami dan istri, karena
perceraian yang dilakukan di luar sidang pengadilan tidak memiliki surat cerai
yang mempunyai kekuatan hukum, sehingga si suami dan istri jika ingin menikah
lagi dengan pasangan yang baru akan mendapatkan kesulitan dengan pihak Kantor
Urusan Agama. Karena setiap duda atau janda yang hendak menikah lagi harus
memiliki akte cerai dari Pengadilan, sehingga jika hendak menikah lagi melalui
pihak KUA tidak mengizinkan sampai ada surat sah dari pengadilan. Selanjutnya
jika perceraian dilakukan diluar pengadilan, si istri tidak akan mendapatkan
haknya setelah bercerai, seperti nafkah selama masa iddah tempat untuk tinggal,
dan juga akan terjadi perebutan harta gono-gini.

Pada dasarnya dalam Islam membenarkan seorang suami yang akan


menceraikan suaminya hanya cukup diucapkan di depan istrinya atau orang lain

24
Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid V (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), hlm. 1779

14
maka jatuhlah talaq, akan tetapi dalam hidup bernegara harus taat kepada peraturan
pemerintah, selama tidak bertentangan dengan hukum Islam itu sendiri, karena taat
kepada pemerintah merupakan bagian dari kewajiban sebagai umat Muslim.
Pemerintah membentuk suatu peraturan tentang perceraian bertujuan agar tertib
administrasi seperti halnya masalah pencatatan perkawinan, kelahiran anak serta
mempersulit perceraian. Hal ini pada dasarnya sesuai dengan prinsip hukum Islam
mengenai perceraian yaitu mempersulit terjadinya perceraian.

E. Fenomena Perceraian Bawah Tangan di Masyarakat

Perceraian sering terjadi akibat dekadensi moral manusia sudah menurun


dan tidak lagi memperhatikan nilai ajaran agama serta tidak meningkatkan norma
dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat. Untuk itulah sangat diperlukan
pemahaman terhadap ajaran agama dan norma yang hidup dalam masyarakat,
sehingga cita-cita hidup berumah tangga sebagaimana yang digariskan dalam Pasal
1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.
Idealnya, suatu perkawinan itu haruslah memiliki hubungan yang harmonis di
dalamnya. Antara suami dan istri haruslah saling melindungi, saling menyayangi
satu sama lain, dan selalu bersama baik dalam suka maupun duka. Akan tetapi
harapan manusia tidak selamanya dapat terkabul seperti dicita-citakan.

Seringkali harapan itu hanyalah tinggal harapan belaka tanpa dapat


diwujudkan menjadi kenyataan. Demikian pula halnya dengan perkawinan yang
semula diharapkan akan berlangsung selamanya, namun di antara kedua belah
pihak yaitu suami dan istri sering terjadi pertengkaran percekcokan, ataupun hal-
hal yang menimbulkan ketidakserasian dan keretakan di dalam perkawinan yang
mereka bina, bahkan terkadang terjadi penganiayaan terhadap istri oleh suami,
sehingga hal ini akan mengakibatkan suatu kesengsaraan dan penderitaan, baik
secara lahir maupun batin bagi pihak istri. Apabila keretakan di dalam suatu
perkawinan sudah sedemikian buruk keadaannya bahkan dibarengi dengan tindak
penganiayaan dan tidak ada kemungkinan untuk diperbaiki, maka jalan yang
paling memungkinkan mengatasinya adalah memutuskan ikatan perkawinan
tersebut dengan perceraian. Namun bagaimanapun juga perceraian ini hanyalah

15
dimungkinkan oleh Undang-undang sebagai pengecualian dari suatu perkawinan
yang sudah tidak mungkin untuk dipertahankan lagi.

Undang-undang Perkawinan telah menetapkan bahwa perceraian hanya


dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan, namun ketentuan tersebut tidak
begitu berpengaruh bagi sebagian masyarakat, yang sudah terbiasa dengan
melakukan perceraian di luar prosedur pengadilan, padahal perceraian tersebut
dapat menimbulkan dampak negatif terhadap suatu perceraian. Ada beberapa
daerah di Indonesia yang masyarakatnya masih melakukan perceraian bawah
tangan, seperti di Kabupaten Lingga Kepulauan Riau.. Hal yang menjadi faktor
terjadinya perceraian bawah tangan adalah, faktor ekonomi, jarak ke Pengadilan,
waktu, dan kurangnya kesadaran hukum.

1. Faktor ekonomi
Biaya persidangan yang begitu besar memicu terjadinya perceraian
diluar pengadilan. ini bisa dirasakan oleh masyarakat yang ekonominya pas-
pasan, sehingga mereka tidak sanggup membayar biaya persidangam. Salah
satu yang memberatkan masyarakat melakukan perceraian di luar pengadilan
karena mereka terbebani masalah biaya pengadilan, karena memang biaya
pengadilan lumayang besar khususnya bagi mereka yang berada di pulau-pulau
yang jauh dari pusat kota.

2. Jarak ke Pengadilan
Kabupaten Lingga merupakan daerah yang sebagain besar
wilayahnya adalah perairan. Karena wilayah Kabupaten Lingga merupakan
wilayah kepulauan, sehingga jarak untuk menuju Pengadilan Agama sangat
jauh sehingga terjadilah perceraian bawah tangan. Mereka yang berada di
pulau-pulau harus menunggu jadwal keberangkatan kapal yang satu hari hanya
ada 1 jadwal keberangkatan.

3. Masalah waktu
Selain masalah biaya dan jarak, persidangan juga ada faktor penting
yang mengakibatkan mereka melakukan perceraian di luar pengadilan, yaitu

16
proses persidangan yang begitu lama sedangkan mereka ingin masalah
perceraian itu cepat selesai.

Biaya persidangan yang tidak sedidkit menjadi penyebab terjadinya


perceraian di luar pengadilan, ini bisa dirasakan oleh masyarakat yang ekonominya
rendah, sehingga mereka tidak sanggup membayar persidangan. Bagi masyarakat
di Kabupaten Lingga yang berada di pulau-pulau, mereka tidak hanya terbebani
masalah biaya pengadilan tetapi juga biaya transportasi yang cukup besar untuk
pergi ke Pengadilan. Masalah proses persidangan yang begitu lama juga menjadi
salah satu faktor. Perceraian lewat pengadilan membutuhkan waktu yang lama
bahkan bisa berbulan-bulan. Pasangan yang ingin bercerai harus menunggu waktu
sidang yang ditentukan, dan waktu dari sidang pertama hingga putusan pengadilan
itu sangat lama dan mengharuskan berkali-kali ke Pengadilan. Hal inilah yang
membuat masyarakat yang berada dipulau tidak melakukan perceraian di depan
sidang pengadilan.

4. Kurangnya kesadaran hukum

Berangkat dari masalah ekonomi, jarak dan waktu yang menjadi


alasan bercerai tidak melalui sidang pengadilan, bukan berarti mereka tidak
sadar hukum. Mereka yang melakukan perceraian di luar pengadilan agama
bisa dikatakan tidak taat hukum, dan kurang sadar terhadap peraturan yang
berlaku mengenai masalah perceraian. Bahwa sebenarnya seseorang itu
mengetahui kalau bercerai itu harus ke Pengadilan Agama, namun masih tetap
melakukan perceraian tidak melalui sidang pengadilan. Pada dasarnya sedikit
banyak masyarakat tahu tentang peraturan Perundang-undangan mengenai
perkawinan yang di dalamnya juga mengatur masalah perceraian hanya dapat
dilakukan di depan sidang pengadilan.

17
F. Analisis Kesadaran dan Kepatuhan Hukum Terhadap Perceraian Bawah
Tangan

Hukum sebagai lembaga yang bekerja di dalam masyarakat minimal


memiliki 3 (tiga) perspektif dari fungsi hukum, yaitu:25 Pertama, sebagai control
sosial dari hukum yang merupakan salah satu dari konsep-konsep yang biasanya
paling banyak digunakan dalam studi-studi kemasyarakatan. Kedua, sebagai social
engenering yang merupakan tinjauan yang paling banyak dipergunakan oleh
pejabat (the official perspective of law) untuk menggali sumber-sumber kekuasaan
apa yang dapat dimobilisasikan dengan menggunakan hukum sebagai
mekanismenya. Ketiga, perspektif emansipasi masyarakat terhadap hukum.
Perspektif ini merupakaan tinjauan dari bawah terhadap hukum, hukum dalam
perspektif ini meliputi obyek studi seperti misalnya kemampuan hukum, kesadaran
hukum, dan penegakan hukum.26

Sebagai warga Negara Indonesia sudah sepatutnya masyarakat patuh


terhadap hukum yang berlaku, karena hukum dibuat untuk menjadikan kehidupan
sosial yang lebih baik. Namun masih banyak sebagian dari masyarakat Indonesia
yang tingkat kesadaran hukumnya rendah, sehingga menjadikan mereka tidak taat
hukum.

Soerjono Sukanto mengatakan bahwa orang yang sadar hukum belum


tentu taat hukum, adapun faktor yang mempengaruhinya adalah:27
1. Pengetahuan tentang kesadaran hukum,
2. Pengakuan terhadap ketentuan-ketentuan hukum,
3. Penghargaan terhadap ketentuan-ketentuan hukum,
4. Kepatuhan masyarakat terhadap ketentuan-ketentuan hukum,
5. Ketaatan masyarakat terhadap hukum.

25
A.G. Peters,
26
Satjipto Raharjo, Pemanfaatan Ilmu Sosial Bagi Pembangunan Ilmu Hukum (Bandung: Alumni,
1977), hlm. 66
27
Soerjono Sukanto, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum (Jakarta: Rajawali Pers, 1982),
hlm. 123-124.

18
Berbicara mengenai masalah kesadaran hukum, berarti
memperbincangkan masalah penilaian terhadap hukum yang ada dan hukum yang
dikehendaki. Oleh karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang religious, maka
pengalaman keagamaan merupakan tolak ukur utama dalam penilaian terhadap
hukum khususnya terhadap suatu peraturan perundang-undangan. Dengan adanya
penilaian tersebut berarti tumbuhnya kesadaran hukum terlepas dari masalah tinggi
rendahnya kesadaran hukum itu.

Tinggi rendahnya derajat kepatuhan tehadap hukum positif tertulis,


antara lain ditentukan oleh taraf kesadaran hukum yang didasarkan pada faktor-
faktor sebagai berikut: pengetahuan tentang peraturan, pengetahuan tentang isi
peraturan, sikap terhadap peraturan, dan perilaku yang sesuai dengan peraturan.
Taraf pengetahuan terhadap peraturan tidak berpengaruh terhadap tinggi-
rendahnya kesadaran hukum, akan tetapi taraf pengetahuan yang tinggi tentang
peraturan akan lebih menyempurnakan taraf kesadaran hukum. 28 Sering orang
mencampuradukkan antara kesadaran hukum dan ketaatan hukum, padahal kedua
hal itu meskipun sangat erat hubungannya, namun tetap tidak sama persis. Kedua
unsur itu sangat menentukan efektif atau tidaknya pelaksanaan huku dan
perundang-undangan di dalam masyarakat.

Pada umumnya orang berpendapat, bahwa kesadaran hukum yang tinggi


mengakibatkan para warga masyarakat mematuhi ketentuan-ketentuan hukum
yang berlaku. Sebaliknya, apabila kesadaran hukum sangat rendah, maka derajat
kepatuhan hukum juga rendah. Dengan demikian, pendapat tersebut berkaitan
dengan berfungsinya hukum dalam masyarakat atau effektivitas dari ketentuan-
ketentuan hukum di dalam pelaksanaannya. Dengan kata lain, kesadaran hukum
menyangkut masalah apakah ketentuan hukum tertentu benar-brnar berfungsi atau
tidak dala masyarakat. 29

Dengan demikian, maka masalah kesadaran hukum pada masyarakat


menyangkut faktor-faktor apakah suatu ketentuan hukum tertentu diketahui,

28
Ibid, 468
29
Soerjono Sukanto, Sosiologi Hukum Dalam Masyarakat (Jakarta: Rajawali, 1980), hlm. 215

19
diakui, dihargai dan ditaati. Apabila warga masyarakat hanya mengetahui adanya
suatu ketentuan hukum, maka taraf kesadaran hukumnya lebih rendah daripada
apabila mereka mengakuinya. Sebab dengan diketahuinya suatu ketentuan hukum,
belum entu mereka juga akan mengakuinya, apalagi menghargai dan mentaatinya.
Hal inilah yang lazimnya dalam kalangan sosiologi hukum dinamakan “legal
consciousness” atau “knowledge and opinion about law” (KOL).30

Dalam maasalah kesadaran hukum masyarakat dalam pelaksanaan


Undang-undang Perkawinan, ada beberapa hal yang penting yang paling banyak
mendapat sorotan dalam prakteknya, ialah: menyangkut asas bahwa calon suami
istri harus telah masa jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan secara
baik tanpa berakhir dengan perceraian dan mendapattkan keturunan yang baik dan
sehat; masalah monogamy dan poligami; masalah perceraian dan ketentuan
pidana.31 Dari masalah-masalah tersebut, masalah yang menjadi fokus penulis
adalah masalah perceraian.

Permasalahan yang timbul sehubungan dengan ketentuan Pasal 39


Undang-undang Perkawinan ialah seringnya terjadi pelanggaran terhadap ayat (1)
tegasnya ‘talak liar’, yaitu talak yang tidak dilakukan di depan sidang Pengadilan.
Hal ini bisa terjadi karena rendahnya tingkat kesadaran hukum si pelanggar. Dan
bila masalahnya sampai kepada hakim, umumnya Pengadilan Agama cenderung
untuk mengesahkan talak tersebut, karena memang secara yuridis dalam hukum
perkawinan Islam talak tersebut sah dan keyakinan hukum sang hakim sendiri juga
begitu adanya.

Jika masyarakat sadar hukum, maka ada dua hal kemungkinan yang
terjadi; taat pada hukum atau tidak taat hukum. Jika masyarakat tidak sadar hukum,
berarti masyarakat memang tidak mengetahui akan hukum yang berlaku. Dalam
fenomena perceraian bawah tangan, dapat disimpulkan bahwa masyarakat di
Kabupaten lingga sadar dan mengakui ketentuan-ketentuan hukum, tetapi

30
Ibid, hlm. 216
31
Djuher, Hukum Perkawinan Islam dan Relevansinya Dengan KEsadaran Hukum
Masyarakat (Jakarta: Dewaruci Press, 1983), hlm. 80

20
masyarakat kurang menghargai ketentuan hukum dan menjadikan mereka tidak
patuh dan taat terhadap hukum yang berlaku.

Pada fenomena perceraian bawah tangan yang terjadi pada masyarakat di


Kabupaten Lingga khususnya yang berada di pulau-pulau mereka sadar akan
hukum yang berlaku, tetapi faktor ekonomi, waktu dan jarak ke Pengadilan
membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, hal tersebutlah
yang membuat masyarakat menjadi tidak taat hukum.

Para pejabat daerah khususnya yang berada di Pengadilan Agama dan


KUA mengetahui bahwa kasus tersebut terjadi pada mereka yang berada di pulau-
pulau yang jauh dari pusat kota Kabupaten Lingga, untuk mengurangi terjadi
perceraian bawah tangan, Pengadilan Agama memberikan bantuan hukum yakni
melakukan sidang keliling ke beberapa pulau. Prosedurnya, pasangan yang ingin
bercerai harus mengajukan perceraian terlebih dahulu ke Pengadilan Agama,
setelah itu Pengadilan mengumpulkan daerah mana yang banyak mengajukan
perceraian, barulah Pengadilan Agama melakukan sidang keliling.

G. Penutup

Dalam Islam (fiqh) perceraian disebut dengan talak, hak mutlak untuk
menjatuhkan talak ada pada suami. Kapan saja dan dimana saja seorang suamu
ungin menjatuhkan talak terhadap istrinya, baik ada saksi atau tidak, talak yang
dijatuhkan itu sah, jika niat dari suami benar-benar ingin berpisah dengan istrinya.
Dalam Undang-undang Perkawinan pasal 39 ayat (1) menyatakan bahwa
perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan
yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Bunyi pasal tersebut selaras dengan bunyi dalam Pasal 115 Kompilasi Hukum
Islam.

Dalam Kompilasi Hukum Islam talak adalah ikrar suami dihadapan


sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan
(pasal 117 KHI). Jika talak tidak dilakukan di depan sidang pengadilan, maka akan
berdampak negatif pada istri. Istri yang seharusnya mendapatkan nafkah masa
iddah jika di talak oleh suaminya, menjadi tidak memperoleh nafkah masa

21
iddahnya karena mungkin sudah pisah rumah dengan sang suami, dan suami pun
menjadi lepas tangan. Jika talak dilakukan didepan sidang pengadilan agama,
ketika sang suami tidak memenuhi nafkah masa iddah, istri bisa melaporkan ke
Pengadilan Agama untuk menuntut hak nafkah masa iddahnya. Perceraian yang
dilakukan tidak didepan sidang pengadilan akan berpengaruh dan mempunyai
dampak negarif terhadap suami dan istri, karena perceraian yang dilakukan di luar
sidang pengadilan tidak memiliki surat cerai yang mempunyai kekuatan hukum,
sehingga si suami dan istri jika ingin menikah lagi dengan pasangan yang baru
akan mendapatkan kesulitan dengan pihak Kantor Urusan Agama. Karena setiap
duda atau janda yang hendak menikah lagi harus memiliki akte cerai dari
Pengadilan, sehingga jika hendak menikah lagi melalui pihak KUA tidak akan
mengizinkan sampai ada surat sah dari pengadilan.

Faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian bawah tangan di


masyarakat ialah, faktor ekonomi, jarak ke Pengadilan, waktu, dan kurangnya
kesadaran hukum. Perceraian hanya dilakukan secara kekeluargaan. Masalah
biaya, jarak ke pengadilan, dan lamanya proses perceraian menjadi faktor utama
masyarakat tidak melakukan perceraian di depan sidang pengadilan. Mereka yang
melakukan perceraian di luar pengadilan bisa dikatakan tidak taat hukum, karena
pada dasarnya sedikit banyak masyarakat tahu tentang peraturan Perundang-
undangan mengenai perkawinan khususnya masalah perceraian.

Untuk mencegah suatu perceraian di luar pengadilan hendaknya perlu


disosialisasikan lagi terhadap ketentuan perceraian melalui pengadilan, kebiasaan
masyarakat perlu dirubah dan kesadaran hukum harus ditingkatkan lagi.
Hendaknya para pihak yang melakukan perceraian mematuhi ketentuan yang
berlaku agar perceraian yang dilakukan tidak merugikan para pihak dan pihak lain
secara hukum. Peran pejabat di daerah sangatlah penting untuk mendorong
masyarakat agar patuh terhadap hukum yang berla

22
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir Muhammad, 2010, Hukum Perdata Indonesia, Bandung: Citra Aditya
Bakti

Az-Zuhaili, Wahbah, 2001, Al-fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Jilid VII, alih bahasa; Muhammad
Afifi dan Abdul Hanafi, Jakarta: Almahira

Drs. H. Nur Mujib, MH (Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan) http://www.pa-


jakartaselatan.go.id/artikel/236-ketika-suami-mengucapkan-talak-diluar-
sidang-pengadilan. Diakses tanggal 29 Oktober 2018

Djuher, 1983, Suatu Studi Mengenai UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan:
Hukum Perkawinan Islam dan Relevansinya Dengan Kesadaran Hukum
Masyarakat, Jakarta: Dewaruci Press, 1983

Ensiklopedi Hukum Islam, 1994, Jilid V Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve

Hadikusuma, Hilman, 2003, Hukum Perkawinan Adat dengan Adat Istiadat dan
Upacara Adatnya, Bandung: Cipta Aditya Bakti

Ibnu Qudamah al-Maqdisi, 2006, Al-Mugni Jilid X, tahqiq: ‘Abdullah bin Abdil
Muhsin At-Turki dan “Abdul Fatah Muhammad Al Halwu, ‘Alam Al Kutub

Muktar, Kamal, 1974, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: Bulan
Bintang

Prawirohamidjojo, Soetojo, 1988, Pluralisme Dalam Perundang-undangan


Perkawinan di Indonesia, Surabaya: Airlangga University Press

Raharjo, Satjipto, 1997, Pemanfaatan Ilmu Sosial Bagi Pembangunan Ilmu Hukum,
Bandung: Alumni

Sabiq, Sayyid, 1999, Fiqh Sunnah, terj. M.Thalib, Jilid viii, Bandung: Al-maarif

Soemiyati, 1989, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan,


Yogyakarta: Liberty

Subketi, 1987, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT Inter Masa

23
Sukanto, Soerjono, 1982, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, Jakarta:
Rajawali Pers

________________, 1980, Sosiologi Hukum Dalam Masyarakat, Jakarta: Rajawali

Syaifuddin, Muhammad, dkk, 2014, Hukum Perceraian, Jakarta: Sinar Grafika

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al “Utsaimin, Syahrul Mumthi ‘ala Zaadil Mustaqni’,
Dar Ibnul Jauzi Jilid 13, Cet 1, 2017

24