Anda di halaman 1dari 10

BAB 2

Fisiologi dan Anatomi

Sistem respirasi berperan penting untuk mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke
dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranspor karbondioksida (C02) yang dihasilkan sel-sel tubuh
kembali ke atmosfer (Sloane,2004). Sistem respirasi mencakup saluran napas yang menuju
paru,paru itu sendiri, dan struktur-struktur thoraks (dada) yang berperan menyebabkan aliran
udara masuk dan keluar paru melalui saluran napas. Saluran napas adalah tabung atau pipa yang
mengangkut udara antara atmosfer dan kantung udara (alveolus), alveolus merupakan satu
satunya tempat pertukaran gas antara udara dan darah.Saluran udara pernapasan dibagi menjadi
dua yaitu :

1) Saluran udara pernapasan bagian atas (upper respiratory tract )


Jalan napas yang terdiri dari hidung, faring dan laring
2) Saluran udara pernapasan bagian bawah (lower respiratory tract)
Dimulai dari ujung trakea (pinggir bawah kartilago krikoidea) sampai bronkiolus
terminalis (buku hijau)

Saluran napas berawal dari saluran nasal (hidung). Saluran hidung membuka
kedalam faring (tenggoroka), yang berfungsi sebagai saluran bersama untuk system pernapsan
dan pencernaan.Terdaat dua saluran yang berasal dari faring-trakea, yang dilalui oleh udara
untuk menuju paru, dan esophagus , yang dilalui oleh makanan untuk menuju lambung. Udara
dalam keadaan normal masuk ke faring melalui hidung,tetapi udara juga dapat masuk melalui
mulut ketika saluran hidung tersumbat ; yaitu, anda dapat bernapas melalui mulut ketika anda
pilek.Karena faring berfungsi sebagai saluran bersama untuk udara dan makanan maka sewaktu
menelan terjadi mekanisme reflex yang menutup trakea agar makanan masuk ke esophagus dan
bukan kealuran napas.

Laring, atau voice box, terletak di pintu masuk trakea. Tonjolan anterior faring
laring membentuk jakun (“ Adam’s apple’’). Pita suara, dua pita jaringan elastic yang melintang
di pintu masuk laring, dapat diregangkan dan diposisikan dalam berbagai bentuk oleh otot
laring.Sewaktu udara dilewatkan melalui pita suara yang kencang, lipatan tersebut bergetar
untuk menghasilkan berbagai suara bicara.Bibir,lidah,dan palatum mole memodifikasi suara
menjadi suara yang dapat dikenali. Sewaktu,menelan pita suara melaksanakan fungsi yamg tidak
berkaitan dengan bicara; keduanya saling mendekat untuk menutup pintu masuk ke trakea.

Di belakang laring, trakea terbagi menjadi dua cabang uatama, bronkus kanan dan
kiri, yang masing-masing masuk ke paru kanan dan kiri. Didalam masing-masing paru, bronkus
terus bercabang-cabang menajdi saluran napas yang yang semakin sempit,pendek, dan banyak
seperti percabangan pohon.Cabng-cang yang lebih kecil dikenal dengan bronkiolus. Di ujung
bronkiolus terminal berkelompok alveolus, kantung-kantung udara halus tenpat pertikaran gas
dan udara dan darah. ( Sherwood,2012)

Mekanika Ventilasi Paru

Paru-paru dapat dikembangkankempiskan melalui dua acara :

1) Dengan gerakan naik turunnya diafragma untuk memperbesar atau memperkecil rongga
dada
2) Dengan depresi dan elevasi tulang iga utnuk memperbesar atau memperkecil diameter
anterior-posterior rongga dada.

Pernapasan normal dan tenang dapat dicapai dengan hamper sempurna melalui metode
pertama, yaitu melalui gerakan diafragma.Selama inspirasi, kontraksi diafragma menarik
permukaan bawah paru kearah bawah. Kemudian, selama ekspirasi, fragma menarik
permukaan bawah paru kearah bawah. Kemudian ekspirasi, diafragma mengadakan relaksasi,
dan sifat elastis daya lenting paru (elastic recoil), dinding dada, dan struktur abdomen akan
menekan paru paru dan mengeluarkan udara. Namun, selama bernapas kuat, daya elastis
tidak cukup kuat untuk menghasikan ekspirasi cepat untuk menghasilkan ekspirasi cepat
yang diperlukan , sehingga diperlukan tenaga ekstra yang terutama diperoleh dari kontraksi
otot-otot abdomen , yang mendorong isi abdomen ke atas melawan dasar diafragma ,
sehingga mengkonpresi paru.
Metode kedua untuk mengemvangkan paru adalah dengan mengangkat rangka
iga.Pengembangan paru ini dapat terjadi karena posisi istirahat,iga miring kebawah,dengan
demikian sternum turun kearah kolumna vertebralis. Tibs

Volume dan kapasitas paru

Volume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan
ekspirasi dapay diukur melalui spirometry. Nilai volume paru memperlihatkan suhu tubuh
standard an tekanan ambien serta diukur dalam milliliter udara

1.Volume Paru

Ada empat volume paru yang bila dijumlahkan sama dengan volume maksimal paru yang
mengembang (Syaifuddin, 2009).

1. Volume Tidal (VT) : merupakan volume udara yang diinspirasikan dan diekspirasikan disetiap
pernapasan normal, jumlahnya ±500 ml.

2. Volume Cadangan Inspirasi : merupakan volume tambahan udara yang dapat diinspirasikan di
atas volume tidl normal, jumlahnya ±3000 ml.

3. Volume Cadangan Ekspirasi : merupakan jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan
ekspirasi tidal yang jumlah normalnya ±1100 ml.

4. Volume Sisa : volume udara yang masih tersisa di dalam paru-paru setelah ekspirasi kuat,
volume ini ±1200 ml.

2. Kapasitas Paru

Dalam peristiwa siklus paru-paru diperlukan menyatukan dua volume atau lebih kombinasi
seperti ini disebut kapasitas paru-paru. Jenis kapasitas paru-paru ada empat yaitu kapasitas
inspirsi, kapasitas fungsional, kapasitas vital dan kapasitas total paru

Syaifuddin, 2009).

1. Kapasitas Inspirasi : merupakan jumlah udara yang dapat dihirup oleh seseorang mulai pada
tingkat normal dan mengembangkan paru-parunya sampai jumlah maksimum.
2. Kapasitas Fungsional : merupakan jumlah udara yang tersisa didalam paru-paru pada akhir
ekspirasi normal ±2300 ml.

3. Kapasitas Vital : merupakan jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan dari paru-paru
setelah mengisi sampai batas maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya
±4600 ml.

4. Kapasitas Total Paru : volume maksimum pengembangn paru-paru dengan usaha inspirasi
yang sebesar-besarnya ±5800 ml.

(Sloane,2004)

1.Pabrik Tilam

Kapas termasuk Noksa yang dapat merusak struktur anatomis organ atau tubuh
dan sekaligus menimbulkan perubahan fungsi.Dalam lingkungan kerja,para pekerja terpapar dan
menghirup noksa yang dapat berasal dari bahan baku, hasil produksi,produk sampingan,atau
dari limbah. Secara umum noksa dilingkungan kerja dapar digolongkan sebagai berikut menurut
Winariani (2010):

1) Debu organic : nabati,hewani


2) Debu inorganic : pertambangan,industry logam, keramik
3) Gas Iritan : industry petrokimia,farmasi
Debu merupakan salah satu bahan yang disebut sebagai partikel yang melayang di
udara (Suspended Particulate Matter/SPM) dengan ukuran 1 mikron sampai dengan 500
mikron.Dalam kasus pencemaran udara baik dalam maupun luar gedung, debu sering
dijadikan salah satu indicator pencemaran yang digunakan untuk menunjukkan tingkat
bahaya baik terhadap lingkungan maupun terhadap kesehatan dan keselamatan kerja.
Debu (dust) merupakan partikel yang terbentuk secara mekanis yang berkaitan erat
dengan proses respirasi (pernapasan) dan berbahaya bagi paru-paru. Macam – macam
debu ditempat kerja adalah menurut Ikhsan (2009) :
a. Debu organic, yaitu debu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Umumnya
ditemukan pada tempat penggergajian kayu, pad ataman bunga yang banyak serbuk
sari beterbangan, dan lain-lain.
b. Debu mineral, yaitu debu yang terbentuk dari mineral – mineral yang terlepas dari
induknya, misalmya silica bebas, asbes , dan batubara (bagian grsfitnys yang
mengandung silica bebas). Umumnya ditemukan ditempat pembakaran kapur,pada
pengerasan jalan dengan mennggunakan kapur, pada pembangunanyang
memanfaatkan asbes sebagai atap dan lain-lain.
c. Debu metal, yaitu debu yang berasal dari logam. Umumnya ditemukan pada perajin
perak dan emas, tukang las, bengkel mobil atau sepeda motor.
Debu yang mudah dihirup adalah debu yang berukuran 0,1- 10µ. Partikel sekitar
10µ tertahan di saluran napas bagian atas. Partikel 3-5µ tertahan dan tertimbun di
saluran napas bagian tengah. Partikel 1-3µ, ini yang paling berbahya (debu respirable)
karena tertahan dan tertimbun di saluran nafas kecil yaitu bronkiolus terminalis
hingga alveoli. Partikel lebih kecil dari 1µ, tidak mudah mengendap dalam paru,
bahkan 80% partake ukuran 0,4-0,5µ dapat dihembuskan kembali keluar pada saat
ekspirasi (Winariani,2010)

Penyakit paru kerja


Penyakit paru kerja adalah penyakit atau kelainan paru yang timbul sehubungan
dengan pekerjaan.Berbagai bahan berupa debu, serat dan gas dapat timbul pada
proses industry. Tergantung pada jenis bahan tersebut maka penyakit yang
ditimbulkannya pun bermacam-macam. Iksan (2009) Penyakit paru pekerjaan
mungkin bersifat akut.( Stark dkk,1990).Ukuran partikel merupakan penentu yang
penting dari pengaruh lingkungan pada system pernapsan.(wudowati,2013)
Manifestasi klinis penyakit paru kerja mirip dengan penyakit paru lain yang tidak
berhubungan dengan pekerjaan. Pada table 1 dapat dilihat klasifikasi penyakit paru
kerja dihubungkan dengan etiologinya menurut Iksan (2009) :

Tabel 1.Klasifikasi penyakit paru kerja

Kategori besar penyakit Bahan penyebab


Iritasi jalan napas atas Gas iritan, uap, debu
Berat molekul rendah Diisosianat, anhidra, debu kayu
Allergen dari binatang, lateks
Bisinosis
Debu kapas
Efek debu biji-bujian Gas iritan, asap
Biji-bijian, debu, batu bara, uap
Bronchitis kronik/ PPOK
Pneumotis toksik Gas iritan, logam
Demam uap logam Oksida logam, seng, tembaga
Demam uap plomer Plastik
Inhalasi asap Produk pembakaran
Pneumonitis hipersensitif Bakteri, jamur, parotein binatang
Penyakit infeksi Tuberculosis, virus, bakteri
Pneumokinosis Asbes, silica, batu-bara, beryllium,kobalt
Kanker sinonasal Debu kayu
Kanker paru Asbes, radon
Mesotelioma Asbes

Pencegahan
Pencegahan paru akibat kerja tergantung kerjasama anatar pemerintah, manajemen
industry dan pekerja. Ada dua factor memgapa penyakit paru mudah dicegah :
1.Bahan penyebab penyakir dapat didentifikasi, diukur dan dikontrol
2. Populasi yang beresiko mudah didatangi, dapat diawasi secara teratur dan diobati
Perubahan-perubahan awal seringkali dapat pulih dengan penatalaksaan yang
tepat, dengan demikian deteksi dini penyakit samgat penting dalam prakterk kerja dan
lingkungan.. Dengan mengetahui bahan berbahay ditempat kerja serta monitor
pekerja secara tepat, kelainan dini dapat dideteksi dan pengobatan dapat dimulai dan
terutaama menghindari pajanan lebih lanjut.(ikhsan ,2013)

2.3 Arus Puncak Ekspirasi

Pemeriksaan faal paru bertujuan untuk mengukur kemampuan paru dalam tiga
tahap respirasi meliputi pemeriksaan ventilasi, difusi, dan perfusi. Hasil pemeriksaan itu
digunakan untuk menilai status kesehatan atau fungsi paru individu yang diperiksa (Yunus dkk,
2003). Pada pemeriksaan penunjang faal paru, spirometer merupakan pemeriksaan gold standar.
Bila spirometer tidak tersedia dapat digunakan APE (Daniel, 2004).
Peak expiratory flow rate (PEFR) atau arus puncak ekspirasi (APE) merupakan
salah satu pemeriksaan penunjang berupa tes ekspirasi paksa yang dilakukan setelah pasien
melakukan inspirasi maksimal. Hasil APE dapat memantau adanya perubahan yang bersifat
obstruktif pada sistem pernapasan. (Kresnanda,2014)
Arus Puncak Ekspirasi (APE) atau Peak Expiratory Flow atau ada juga yang
menyebut Peak Expiratory Flow Rate (PEFR) adalah kecepatan ekspirasi maksimal yang bisa
dicapai oleh seseorang, dinyatakan dalam liter per menit (L/menit) atau liter per detik (L/detik).
( Walburga, 2014).
Pemeriksaan Arus Puncak Ekspirasi dapat dilakukan dengan menggunakan peak
flow meter atau spirometer. Tujuan pemeriksaan ini adalah mengukur secara objektif arus udara
pada saluran napas besar.Peak flow meter merupakan sebuah instrument kecil,portable, dan
mudah digunakan sebagai sumber altrnatif untuk mrngukur puncak ekspirasi (Siregar, 2007)
Harga normal nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) untuk laki-laki adalah 500-700
L/menit, sedangkan untuk perempuan 380-500 L/menit. (Firdahana,2014)

2.3.1 Prinsip kerja mini wright peak flow meter


Salah satu cara untuk menilai faal paru adalah dengan Peak Flow Meter (PFM).
Alat ini hanya dapat mengukur APE, tetapi sudah memadai untuk melakukan pemantauan
penyakit paru obstruktif seperti asma atau untuk melakukan uji tapis massal.Pengukuran dapat
dilakukan penderita sendiri atau dengan bantua orang tua dirumah. Sampai saat ini, alat baku
yang dipakai untuk mengukur APE adalah Wright Peak Flow Meter yang dirancang oleh BM
Wright dan CB Mckerrow (1959). Mini Wright Flow Meter adalah penyederhaan dan modifikasi
Wright PFM.Cara kerja alat ini berdasarkan azas mekanika,dimana deras arus udara diukur
dengan gerakan piston yang terjauh. Nilai APE dibaca pada titik tunjuk jarum penunjuk
tersebut.(siregar 2007)
(buat gambar)
2.3.2 Pengukuran APE dengan peak flow meter
Arus Puncak Ekpirasi adalah nilai kecepatan maksimum arus yang dihasilkan saat
ekspirasi, biasanya terjadi pada 150 milidetik pertama dari maneuver ekspirasi paksa. Arus
puncak ekspirasi yang diuukur dengan satuan liter/menit dapat memberi peringatan dini adanya
penurunan fungsi paru dan menggambarkan adanya penyempitan atau sumbatan saluran
napas.Tekanan akibat ekspirasi paksa menyebabkan diafragma bergerak dan membuka orifisium
lebih luas. Nilai APE dipengaruhi oleh beberapa ratus milliliter udara yang dimulai dari inflasi
penuh dari paru dan oleh kekuatan oto dada dan perut. (Siregar, 2007)

2.3.3Macam- macam Nilai APE, Yaitu :


1) APE sesaat
Nilai ini didapatkan dari nilai tiupan pada waktu yang tidak tertentu dan kapan saja.Nilai Ape
ini berguna untuk mengetahui adanya obstruksi saat itu juga dan mengetahui derajat
onstruksi bila diketahui standar normalnya.

2) APE tertinggi
Nilai didapat dari hasil tiupan APE tertinggi setelah melakukan evaluasi tiupan sehari 2
kali, pagi dan sore hari pukul 06.00 dan 20.00 selama 2 minggu pada keadaan asma
stabil. Nilai APE tertinggi digunakan sebagai standar nilai Ape seseorang.
3) APE varian harian
Nilai didapatkan dari hasil tiupan APE selama 2 minggu. Variasi mingguan berguna
untuk mengetahui nilai tertinggi standar nasional seseorang ( Arindha 2012)

Pengkuran Arus Puncak Ekspirasi (APE) dengan peak flow meter merupakan
pemeriksaan yang sangat sederhana, yang dapat memberikan peringatan dini adanya penurunan
fungsi paru. Agar pemeriksaan dapat dikerjakan dengan baik dan benar maka pemeriksa
memberikan contoh terlebih dahulu,selanjutnya penderita disuruh melakukan ekspirasi sekuat
tenaga melalui alat tersebut.(Arifa,2010).

Dalam setiap pemeriksaan APE sebaiknya dillakukan 3 kali tiupan, kemudian


diambil angka tertinggi.Tiupan dilakukan setelah inspirasi dalam, dilanjutkan tiupan dengan
cepat dan kuat.Nilai yang dianggap repodusibel ialah jika perbedaan antara 2 nilai yang didapat
<10% untuk 3 kali maneuver atau <15% untuk 4 kali maneuver dihitung dari niali APE tertinggi
(Firdahana,2010)
Manuver pemeriksaan APE dengan ekspirasi paksa membutuhkan koperasi
penderita dan instruksi yang jelas. (Hudoyo,2014)

2.3.4 Langkah-langkah menjelaskan Peak Flow Meter

1.Mengintruksi pasien meletakkan peak flow meter dengan tegak

2.Geser penanda pada peak flow meter ke posisi paling bawah (0)

3.Berdiri.Ambil napas dalam-dalam dan hembuskan hingga udara.Jika pasien tidak


dimungkinkan karena cacat fisik,ia harus duduk tegak.

4.Pegang mouthpiece didepan mulut. Ambil napas dalam sebanyak mungkin dengan
mulut terbuka

5.Tempat mouthpiece di mulut dan tutup bibir di sekitar peak flow meter agar
tersegel.Jauhkan jari dari penanda.Tiup sekali keras dan cepat.(Menginstruksikan agar
pasien tidak untuk tidak mengibaskan kepala ke bawah, karena hal ini akan membuat
hasil pembaca lebih tinggi)

6.Jangan menyentuh penanda dan tuliskan nomor yang anda dapatkan

7.Ulangi dua kali lagi,selalu ulang penanda k enol setiap kali akan melakukannya.Catat
setiap nomor setiap kali setelah penggunaan.Angka peak flow adalah yang tertinggi dari
pengkuran

8. Hitung perbandingan nilai terbaik yang pernah dicapai dengan angka yang tertera pada
alat tiap kali pengukuran.

Hubungan Pekerja Pabrik dengan Pernapasan

Pencemaran udara oleh partikel dapat disebabkan oleh peristiwa alamiah. Perilaku
manusia, kegiatan industry dan teknologi . Partikel yang mencemari udara banyak jenisnya
tergantug kegiatan industry dan teknologi yang ada . Secara umum partikel yang mencemari
udara dapat merusak lingkungan, tananaman, newan dan manusia. Peatikel-pertikel tersebut
sangat merugikan kesehatan manusia. Udara yang telah tercemar oleh partikel dapat
menimbulkan berbagai macam penyakit saluran napas diantaranya pneumoconiosis.
Terdapat banyak zat kimia berbahaya di lingkungan dan digunakan sekarang ini.
Zat ini dapat masuk melalui inhalasi udara dalam serat, zat berbau atau bentuk debu. Individu
yang tinggal di perkotaan menghirup lebih dari 2 mg debu setiap hari dan pekerja ynag bekerja
pada industi yang mengandukng debu dapat menghirup debu 100 kali lebih banyak daripada
manusia yang tinggal di perkotaan. Perkembangan penyakit paru akibat kerja twrgantung dari
efek toksikm zat yang terinhalasi ,intensity, lama pajanan, factor fisiologi dan kerentanan biologi
pejamu. Bentuk fisik zat terinhalasi, sifat kelarutan dan sifat dimensi aerrodynamiczat zat akan
menunjukkan tempat awal aktiviti peyakit. Reaksi akut atau kronik terjadi pada partikel yang
masuk ke saluran napas bawah. Reaksi akut biasanya ditandai oleh reaksi inflamasi dan edema
sedangkan proses kronik ditandai oelh pembentukan jaringan fibrosis dan pembentukan jaringan
granuloma. Zat-zat yang terdapat di berbagai sector industry dan pertambangan dapat
menimbulkan kelaianan saluran napas dan paru pada pekerja tempat itu. Kelainan yang timbul
tergantung jenis zat, debu, gas atau asap yang mereka hirup.

Penyakit yang timbul karena inhalasi zat tersebut dinamakan penyakit paru
kerja.Salah datu penyskit akibat kerja adalah beriliosis. Pada saat orang menarik napas udara yag
mengandung partikel akan terhirup kedalam paru.Ukuran partikel debu yang msuk kedalam paru
akan menentukan letak penempelan atau pengendapan partikel tersebut. Partikel yang berukuran
kurang dari 5 mikron atau tertahan di saluran napas bagian atas, sedangkan partikel berukuran 3
sampai micron akan tertahan pada saluran pernapasan bagian tengah. Partikelyang berukuran
kecil, 1 sampai 3 mikron , akan masukke dalam alveoli, menempel pada alveoli. Partikel yang
lebih kecil yaitu kurang dari 1 mikron, akan ikut keluar saat napas dihembuskan .(ihksan
dkk,2009)