Anda di halaman 1dari 13

58

BAB IV AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI

4.1

Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kebijakan, mekanisme, media dan pertanggungjawaban dan periodisasi pertanggungjawaban program, kegiatan dan keuangan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Akuntabilitas terdiri dari Akuntabilitas Program, Akuntabilitas Kegiatan, dan Akuntabilitas Keuangan, Akuntabilitas Kinerja Pelayanan Publik, Akuntabilitas Biaya Pelayanan Publik, dan Akuntabilitas Laporan Pengelolaan Keuangan.

4.1.1 Akuntabilitas Program Akuntabilitas program dibuat untuk setiap tahapan, mulai dari tahap :

1. Perencanaan Perencanaan program dilakukan dengan usulan program dan kegiatan yang berasal dari masing-masing unit di RSUD Sambilegi. Rapat bersama membahas dan menetapkan program-program yang akan diprioritaskan untuk dilaksanakan. Hasil keputusan rapat kemudian dituangkan dalam dokumen perencanaan yaitu Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) disertai dengan target capaian program dan indikator program/outcome.

2. Pelaksanaan Pelaksanaan program-program di RSUD Sambilegi mengacu pada RBA dan DIPA. Pelaksanaan program dilakukan dengan menunjuk penanggung jawab program.

3. Pengukuran Pengukuran pelaksanaan program-program dilakukan berdasarkan realisasi capaian program dibandingkan dengan targetnya oleh masing-masing unit.

4. Pelaporan a. Pelaporan pelaksanaan program dilakukan oleh penanggung jawab program secara periodik, yaitu bulanan, triwulanan, semesteran dan tahunan. Pelaporan pelaksanaan program di pusat dan dari unit-unit pelaksana ditujukan ke Bagian Perencanaan Umum dan Keuangan untuk

59

dikompilasikan dan dilaporkan menjadi Laporan Akuntabilitas dan Kinerja RSUD Sambilegi.

b. Laporan Akuntabilitas dan Kinerja RSUD Sambilegi memuat capaian realisasi program dibandingkan dengan targetnya dan disertai dengan faktor-faktor penyebab keberhasilan pencapaian program dan/atau tidak tercapainya target.

c. Laporan Akuntabilitas dan Kinerja RSUD Sambilegi disampaikan tiap semester dalam satu tahun anggaran dan disusun mengacu pada PP 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

5. Pemantauan dan pengawasan Pemantauan dilakukan secara teratur dan berkesinambungan yang dilaksanakan secara bulanan, triwulanan, semesteran dan tahunan. Pemantauan dilakukan oleh penanggung jawab program masing-masing unit pelaksana kepada atasan/pimpinan. Pelaksanaan pemantauan juga melibatkan pihak-pihak terkait baik dari unsur pelaksana maupun fungsi pengawasan internal/SPI. Hasil pemantauan sebagai evaluasi dan pengukuran kinerja pelaksanaan program dan/atau sebagai rekomendasi yang disampaikan kepada direktur RSUD untuk mendapatkan perhatian dan tindak lanjut terhadap hal-hal yang memerlukan tindak lanjut.

4.1.2 Akuntabilitas Kegiatan Akuntabilitas kegiatan dibuat untuk setiap tahapan, mulai dari tahap :

1. Perencanaan Perencanaan program dilakukan dengan usulan program dan kegiatan yang berasal dari masing-masing unit di RSUD Sambilegi. Rapat bersama membahas dan menetapkan program-program yang akan diprioritaskan untuk dilaksanakan. Hasil keputusan rapat kemudian dituangkan dalam dokumen perencanaan yaitu Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) disertai dengan target capaian program dan indikator program/outcome.

60

2.

Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan-kegiatan di RSUD Sambilegi mengacu pada RBA dan DPA. Kegiatan dilaksanakan oleh unit yang mengajukan proposal, dan telah disesuaikan dengan RBA dan DPA yang telah disahkan.

3.

Pengukuran Setiap kegiatan yang telah dilaksanakan harus diukur kinerjanya baik input, proses, dan output sebagaimana telah tercantum dalam perencanaan. Proses pengukuran pelaksanaan kegiatan/kinerja ini dilakukan dengan membandingkan realisasi capaian kegiatan dengan target output-nya oleh masing-masing unit. Setiap gap/variance harus dapat dijelaskan mengapa terjadi, sehingga perbaikan kinerja dapat dilakukan secara terus-menerus.

4.

Pelaporan

a. Pelaporan pelaksanaan program dilakukan oleh penanggung jawab program secara periodik, yaitu bulanan, triwulanan, semesteran dan tahunan. Pelaporan pelaksanaan program di pusat dan dari unit-unit pelaksana ditujukan ke Bagian Perencanaan Umum dan Keuangan untuk dikompilasikan dan dilaporkan menjadi Laporan Akuntabilitas dan Kinerja RSUD Sambilegi.

b. Laporan Akuntabilitas dan Kinerja RSUD Sambilegi memuat capaian realisasi program dibandingkan dengan targetnya dan disertai dengan faktor-faktor penyebab keberhasilan pencapaian program dan/atau tidak tercapainya target.

c. Laporan Akuntabilitas dan Kinerja RSUD Sambilegi disampaikan tiap semester dalam satu tahun anggaran dan disusun mengacu pada PP 8

Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

d.

Pemantauan dan Pengawasan Pemantauan dilakukan secara teratur dan berkesinambungan yang dilaksanakan secara bulanan, triwulanan, semesteran dan tahunan. Pemantauan dilakukan oleh penanggung jawab program masing-masing unit pelaksana kepada atasan/pimpinan. Pelaksanaan pemantauan juga

61

melibatkan pihak-pihak terkait baik dari unsur pelaksana maupun fungsi pengawasan internal/SPI. Hasil pemantauan sebagai evaluasi dan pengukuran kinerja pelaksanaan program dan/atau sebagai rekomendasi yang disampaikan kepada direktur RSUD untuk mendapatkan perhatian dan tindak lanjut terhadap hal-hal yang memerlukan tindak lanjut.

4.1.3 Akuntabilitas Keuangan Akuntabilitas keuangan dibuat untuk setiap tahapan, mulai dari tahap :

1.

Perencanaan

a. Perencanaan keuangan dilakukan berdasarkan kebijakan umum anggaran yang ditetapkan dalam rapat pimpinan dan rapat pembahasan mengenai anggaran per program/kegiatan, unit-unit pelaksana di lingkungan RSUD Sambilegi mengajukan anggaran mengacu pada rencana-rencana kegiatan yang telah dituangkan dalam RBA dan pelaksanaan/realisasi keuangan berdasarkan pada kegiatan yang telah dilaksanakan (Pagu Ideal).

b. Pembahasan anggaran dilakukan secara berjenjang yang bertujuan agar anggaran benar-benar ditujukan untuk mencapai visi dan misi RSUD. Setiap anggaran yang disusun oleh unit/instalasi, juga harus mencantumkan indikator input, proses, dan output, sehingga setiap rupiah yang nantinya akan dibelanjakan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

c. Setiap anggaran harus tercantum dalam RBA yang disampaikan, kemudian akan ditetapkan sebagai pagu sementara. RKA yang dilampiri dengan RBA RSUD Sambilegi disampaikan DPRD. Hasil keputusan berupa pagu definitif.

d. Setelah mendapat persetujuan DPRD, Kementerian Keuangan menerbitkan rincian Satuan Anggaran Per Satuan Kerja (SAPSK) dan menjadi acuan dalam menyesuaikan anggaran di RKA. RBA yang telah dilakukan penyesuaian tersebut ditandatangani oleh Pimpinan BLUD sebagai RBA Definitif. Pengesahan dengan mengacu pada RBA hasil pembahasan.

2.

62

Pelaksanaan Pelaksanaan keuangan di RSUD Sambilegi mengacu pada RBA dan DPA.

a) Pelaksanaan keuangan yang bersumber dari dana APBN Rupiah Murni mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 66 Tahun 2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dengan berpedoman pada peraturan ini, mekanisme pelaksanaan keuangan dilakukan dengan mengacu pada prosedur penggunaan DPA BLUD. Pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) beserta dokumen pendukungnya kepada Kepala Biro Perencanaan Umum dan Keuangan. Setelah melakukan pengujian secara substansi, kelengkapan berkas dan kelayakan SPP, Kepala Biro perencanaan Umum dan Keuangan menyampaikan SPP kepada Kepala RSUD untuk memperoleh persetujuan penerbitan Surat Perintah Membayar (SPM). SPM yang telah disetujui dan ditandatangani oleh Kepala RSUD Sambilegi sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) disampaikan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). KPPN menguji SPM tersebut baik secara substansi maupun formal, hasil pengujian tersebut menjadi dasar bagi KPPN untuk menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). SP2D yang telah diterbitkan oleh KPPN di sampaikan ke Bank Operasional mitra kerja RSUD untuk SPM Belanja Pegawai, sedangkan SPM Non belanja Pegawai dicairkan oleh

rekanan berdasarkan prestasi kerja ke banknya masing-masing.

b) Pelaksanaan keuangan yang bersumber dana APBN-PNBP berpedoman pada SPO Kegiatan Keuangan Internal yang telah diketahui dan disetujui oleh Kepala RSUD, antara lain :

(1) Pendapatan dari jasa layanan yang diberikan oleh RSUD Sambilegi, hibah yang diterima langsung, dan pendapatan dari hasil kerja sama dengan pihak lain

63

disetorkan kepada Bendahara Penerimaan dengan disertai bukti transaksi. (2) Kegiatan yang telah dilaksanakan dan anggaran yang disediakan untuk melaksanakan kegiatan tersebut diajukan kepada Bagian Perencanaan Umum dan Keuangan. Di Bagian Perencanaan Umum dan Keuangan dilakukan pengujian substantif dan formal kemudian melalui Bendahara Pengeluaran dimintakan persetujuan kepada Kepala RSUD sebagai KPA. Apabila KPA setuju untuk melakukan pengeluaran maka atas kegiatan tersebut pembayaran dapat dilakukan. Terhadap belanja barang yang menunjang kegiatan utamanya dapat dimintakan Uang Persediaan (UP) yang sifatnya dapat diisi kembali sesuai dengan usulan kegiatan yang dapat didanai dengan UP. (3) Setiap triwulan, Kepala RSUD melakukan pengesahan pendapatan yang telah diterima dan belanja yang telah dikeluarkan selama triwulan tersebut ke Daerah, yaitu dengan mengajukan SPM Pengesahan dan oleh Daerah akan diterbitkan SP2D Pengesahan.

3. Pengukuran Proses pengukuran pelaksanaan kegiatan/kinerja keuangan ini dilakukan dengan membandingkan realisasi capaian keuangan dengan anggaran. Setiap pengeluaran memperhatikan prinsip efisiensi dan penganggaran berbasis kinerja. Setiap gap/variance harus dapat dijelaskan mengapa terjadi, sehingga perbaikan kinerja dapat dilakukan secara terus-menerus.

4. Pelaporan Pelaporan Keuangan di RSUD mengacu pada PP 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan,

64

a) Pelaporan keuangan RSUD Sambilegi setelah ditetapkan sebagai

RSUD PK BLUD mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan yang

diterbitkan oleh Asosiasi Profesi Akuntansi Indonesia.

b) RSUD Sambilegi menyusun Laporan Keuangan yang terdiri dari:

(1) Laporan Realisasi Anggaran (LRA) yang berisi Laporan Realisasi

Pendapatan dan Pengeluaran RSUD.

(2) Laporan Arus Kas adalah Laporan Pendapatan dan Pengeluaran

c) Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas disampaikan setiap

bulan.

d) Laporan Neraca dan CaLK disampaikan setiap semester dan akhir tahun

anggaran.

5. Pemantauan dan Pengawasan

a. Pemantauan dan pengawasan.

b. Pemantauan dilakukan secara teratur dan berkesinambungan yang

dilaksanakan setiap bulan, semester dan akhir tahun.

c. Pemantauan dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan masing-

masing unit pelaksana. Pelaksanaan pemantauan juga melibatkan

pihak-pihak terkait seperti fungsi pengawasan internal.

d. Hasil pemantauan disampaikan kepada direktur RSUD Sambilegi

oleh fungsi pengawasan internal, sebagai evaluasi dan pengukuran

kinerja pelaksanaan keuangan dari masing-masing unit/instalasi

pelaksana.

e. Pengawasan keuangan RSUD Sambilegi secara menyeluruh

dilaksanakan oleh Dewas dan Inspektorat Jenderal dan hasil

pengawasan tersebut beserta rekomendasinya

disampaikan kepada pimpinan.

f. Pengawasan eksternal dilakukan oleh Auditor Eksternal dan hasil.

4.1.4 Akuntabilitas Kinerja Pelayanan Publik

1.

Akuntabilitas

kinerja

pelayanan

dimaksudkan

untuk

mempertanggung

jawabkan:

a) Tingkat keakurasian pelayanan.

65

b) Profesionalisme petugas pelayanan.

c) Kelengkapan sarana dan prasarana pelayanan, dan

d) Kejelasan aturan.

2. Akuntabilitas kinerja pelayanan publik harus dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, dan penyimpangan terhadap akuntabilitas kinerja pelayanan publik harus diberikan kompensasi terhadap penerima pelayanan. Masyarakat juga diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap kinerja pelayanan sesuai mekanisme yang berlaku.

3. Sebagai bentuk akuntabilitas kinerja pelayanan publik, RSUD Sambilegi membuat suatu laporan kinerja pelayanan secara berkala (bulanan/triwulanan/semesteran/tahunan). Selain itu RSUD Sambilegi juga membuat Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang dapat digunakan untuk membandingkan antara Kinerja Aktual dengan Kinerja Standar.

4.1.5 Akuntabilitas Biaya Pelayanan Publik Akuntabilitas ini dimaksudkan untuk menilai kelayakan biaya pelayanan yang dikeluarkan oleh RSUD Sambilegi sebagai dasar penilaian mengacu pada standar analisis biaya.

4.1.6 Akuntabilitas Laporan Pengelolaan Keuangan

1. Pengelolaan keuangan BLUD dipertanggungjawabkan secara periodik

kepada para stakeholder baik internal dan eksternal.

4.2

2. Periodisasi pertangungjawaban keuangan

Transparansi Transparasi mengungkapkan aspek transparasi yang dimiliki dan/atau akan dikembangkan serta mekanisme pengendalian internal untuk menciptakan transparansi. Juga diungkapkan ketersediaan informasi kepada publik misalnya informasi dan media apa saja yang dapat diakses dengan mudah oleh publik. Transparansi pelayanan publik meliputi :

1. Manajemen dan Penyelenggaraan Publik Manajemen dan penyelenggaraan publik meliputi kebijakan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan oleh masyarakat.

66

2. Prosedur Pelayanan Rangkaian proses atau tata kerja yang berkaitan satu sama lain, sehingga menunjukkan adanya tahapan secara jelas dan pasti serta cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka penyelesaian suatu pelayanan. Prosedur pelayanan publik harus sederhana, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan. Secara umum bagan alur mempunyai fungsi sebagai berikut :

1)

Petunjuk kerja bagi pemberi pelayanan.

2)

Informasi bagi penerima pelayanan.

3)

Media publikasi secara terbuka pada semua unit pelayanan.

4)

Pendorong terwujudnya sistem dan mekanisme kerja yang efektif dan efisien.

5)

Pengendali atau kontrol dan acuan bagi masyarakat maupun aparat dalam

penilaian terhadap konsistensi pelaksanaan kerja.

Dalam pembuatan bagan alir perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1) Bagan alir harus mampu menggambarkan proses pelayanan, petugas yang

bertanggungjawab untuk setiap tahap pelayanan, unit kerja terkait, waktu dan dokumen yang diperlukan selama proses pelayanan, dan biaya yang harus ditanggung oleh penerima pelayanan, bila ada. Bagan alir harus dibuat sesuai dengan kebutuhan unit kerja masing-masing.

3) Ukuran dan penempatan bagan alir harus mudah dilihat dan dibaca oleh penerima pelayanan.

2)

3. Persyaratan Teknis dan Administrasi Pelayanan Persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang akan memperoleh pelayanan. Persyaratan tersebut harus diinformasikan secara jelas kepada penerima pelayanan.

4. Perincian Biaya Pelayanan Segala biaya pelayanan dan rinciannya sebagai imbalan atas pemberian pelayanan harus ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Biaya tersebut harus diinformasikan secara jelas kepada penerima pelayanan.

67

BLUD-RSUD perlu didukung dengan sistem pembiayaan yang memadai dan menunjang sistem penetapan tarif yang otonom sebagai sistem terpadu dalam pembiayaan RSUD.

Pengertian tarif adalah sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan kegiatan pelayanan di RSUD, yang dibebankan kepada pasien sebagai imbalan atas jasa pelayanan yang diterima. 1) Biaya penyelenggaraan RSUD dipikul bersama oleh masyarakat (pasien) dan pemerintah daerah dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan keadaan sosial ekonomi masyarakat.

2) Tarif RSUD dihitung atas dasar unit cost dari setiap jenis pelayanan dan kelas perawatan dengan memperhatikan kemampuan ekonomi masyarakat dan tarif RSUD lain.

3) Penetapan unit cost didasarkan pada perhitungan fixed cost dan variable cost atas pelayanan dan pemakaian sarana dengan memperhatikan standar akuntansi biaya RSUD.

a) Fixed cost terdiri dari :

(1)

Biaya jasa pelayanan.

(2)

Biaya sarana prasarana.

b) Variabel cost terdiri dari :

(1)

Biaya tenaga kerja langsung.

(2)

Biaya bahan habis pakai.

(3)

Biaya makan dan minum pasien.

(4)

Biaya bahan dan reagen pemeriksaan penunjang medic.

(5)

Biaya bahan penunjang lainnya.

Besaran tarif untuk semua jenis pelayanan selain kelas III ditetapkan oleh

direktur RSUD setelah mendapat persetujuan dari dewan pengawas. 1)Tarif pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi :

a) Pelayanan Rawat Jalan.

(1)

Unit Gawat Darurat.

68

(2) Poliklinik.

b) Pelayanan Rawat Inap.

2) Tarif pelayanan berdasarakan jenisnya meliputi :

a) Pelayanan Medik.

b) Pelayanan Penunjang Medik.

c) Pelayanan Non Medik.

5. Waktu Penyelesaian Pelayanan Kepastian dan kurun waktu penyelesaian pelayanan harus diinformasikan secara jelas kepada penerima pelayanan. Pemberian pelayanan hendaknya dilakukan dengan asas first come first served, yaitu yang pertama datang adalah yang pertama kali dilayani.

6. Pejabat yang berwenang dan Bertanggung Jawab Pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab memberikan pelayanan harus jelas (mudah diketahui/memakai tanda pengenal) serta harus dapat menciptakan citra positif terhadap penerima pelayanan.

7. Lokasi pelayanan Tempat dan lokasi pelayanan harus jelas, tetap (tidak berpindah-pindah), mudah dijangkau, dan dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai atau bila memungkinkan dibentuk Unit Pelayanan Terpadu (UPT).

8. Janji pelayanan Janji pelayanan merupakan komitmen tertulis unit kerja instansi pemerintah dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat.

9. Standar Pelayanan Publik Standar Pelayanan Publik merupakan ukuran kualitas kinerja yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati oleh pemberi dan/atau penerima. Standar pelayanan publik hendaknya realistis, jelas dan mudah dimengerti.

69

Setiap instansi pemerintah harus melakukan publikasi dan/atau sosialisasi kepada masyarakat mengenai prosedur, persyaratan, biaya, waktu, standar, janji pelayanan/motto, lokasi, dan petugas yang bertanggung jawab. Hal yang sangat penting bagi stakeholder adalah kemudahan mendapatkan informasi mulai dari program, kegiatan, pelaksanaan pelayanan sampai dengan pertanggungjawaban. Media yang akan digunakan dalam rangka transparansi tersebut adalah dengan media cetak serta media IT yaitu melalui website dan email …………… Untuk program rintisan pelayanan medik dan pelayanan kesehatan juga akan dibuatkan sistem informasi manajemen yang mencakup informasi secara detil pelayanan, keuangan, kepegawaian dan informasi lainnya.

4.3 Kebijakan Pengelolaan Lingkungan dan Limbah

1. Tujuan pengelolaan lingkungan limbah Terciptanya cara kerja, lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan pegawai RSUD Sambilegi.

2. Manfaat pengelolaan lingkungan limbah

a. Melindungi pegawai dari Penyakit Akibat Kerja (PAK),

b. Mencegah terjadinya Kecelakaan Akibat Kerja (KAK),

c. Meningkatkan standar kualitas dalam menjalankan pelayanan kesehatan,

d. Mempertahankan kelangsungan operasional RSUD,

e. Kepuasaan pasien dan pengunjung,

f. Meningkatkan citra RSUD.

3. Organisasi Pelaksana K3 Pelaksana K3 merupakan unit organisasi fungsional yang dipimpin oleh ketua yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur RSUD Sambilegi.

4. Kegiatan Pengelolaan Lingkungan dan Limbah

a. Identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian faktor risiko. Identifikasi sumber bahaya dengan mempertimbangkan kondisi dan kejadian yang akan menimbulkan potensi bahaya dan jenis kecelakaan dan PAK yang mungkin dapat terjadi. Sumber bahaya yang ada di RSUD diidentifikasi dan dinilai untuk menentukan tingkat risiko yang merupakan tolak ukur

70

kemungkinan terjadinya kecelakaan dan PAK. Pengendalian faktor resiko dilakukan dengan sarana/peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah/tidak ada, administrasi dan alat pelindung pribadi. b. Pengelolaan lingkungan dan limbah RSUD diwujudkan dalam SPO sesuai dengan peraturan, yang bersifat dinamis sehingga memungkinkan dilakukan evaluasi, diperbaharui dan dikomunikasikan kepada semua pegawai RSUD dan stakeholders.

5. Pemantauan/Evaluasi K3. Unit Pelaksana K3 melakukan pemantauan/evaluasi secara berkala untuk menilai keadaan K3 RSUD sehingga kejadian PAK dan KAK dapat dicegah. Laporan beserta rekomendasi hasil pemantauan/evaluasi K3 disampaikan kepada Direktur. Pemantauan dan evaluasi dilakukan dengan tujuan :

a. Menilai potensi bahaya, gangguan kesehatan dan keselamatan. b. Memastikan dan menilai pengelolaan K3 telah dilaksanakan sesuai ketentuan. c. Menentukan langkah untuk mengendalikan bahaya potensial serta pengembangan mutu.