Anda di halaman 1dari 70

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Kimia Anorganik II tentang Besi dan Baja ini.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Dan penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada dosen Kimia Anorganik II Drs.Abu Bakar, M.Pd yang telah
membimbing dan memberikan kesempatan kepada kami sehingga kami dapat
menyusun makalah ini dengan baik.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Kimia Anorganik tentang Besi
dan Baja ini bermanfaat untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Jambi, 28 Februari 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Besi adalah logam dunia, yang paling umum digunakan adalah baja.Dimana
bijih besi adalah bahan utama, yang mewakili hampir 95% dari logam semua
digunakan per tahun.Hal ini digunakan terutama dalam aplikasi teknik struktural
dan dalam tujuan maritim, mobil, danumum aplikasi industri (mesin).
Besi merupakan logam yang paling banyak terdapat dialam. Besi juga
diketahui sebagai unsur yang paling banyak membentuk bumi, yaitu kira-kira 4,7
- 5 % pada kerak bumi. Besi adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi dan
jarang dijumpai dalam keadaan bebas, kebanyakan besi terdapat dalam batuan dan
tanah sebagai oksida besi, seperti oksida besi magnetit ( Fe3O4) mengandung besi
65 %, hematite ( Fe2O3 ) mengandung 60 – 75 % besi, limonet ( Fe2O3 .H2O )
mengandung besi 20 % dan siderit (Fe2CO3). Dalam kehidupan, besi merupakan
logam paling biasa digunakan dari pada logam-logam yang lain. Hal ini
disebabkan karena harga yang murah dan kekuatannya yang baik serta
penggunaannya yang luas.
Bijih besi yang dapat diolah harus mengandung senyawa besi yang besar.
Bijih besi adalah suatu zat mineral yang mengandung cukup kadar besi untuk
dileburkan kira-kira 20 %. Komposisi dan bentuk bijih besi berbeda-beda, jika
besi dipanaskan bersama-sama karbon pada suhu 1420oK – 1470oK maka akan
terbentuk suatu alloy. Baja adalah campuran karbon dan besi namun demikian
perlu diingat masih banyak unsur lain yang terdapat didalamnya.
Seiring dengan perkembangan zaman banyak teknologi baru yang
bermunculan untuk menghasilkan besi dan baja.Salah satu sebabnya adalah
karena besi dan baja memiliki kegunaan yang sangat banyak dan terlebih lagi
karena bijih besi yang relatif melimpah dipenjuru dunia.
Dunia produksi rata-rata dua miliar ton metrik bijih mentah per
tahun.Produsen terbesar di dunia bijih besi adalah penambangan perusahaan Vale
Brasil, diikuti oleh Anglo-Australia BHP Billiton dan perusahaan RioTinto
Group.Sebuah pemasok Australia lebih lanjut, Fortescue Metals Group Ltd telah
membantu membawa produksi Australia untuk kedua di dunia. Perdagangan yg
berlayar di laut dalam bijih besi, yaitu, bijih besi untuk dikirim ke negara-negara
lain, 849m ton pada tahun 2004. Australia dan Brasil mendominasi perdagangan
yg berlayar di laut, dengan 72% dari pasar.BHP, Rio dan Vale kontrol 66% dari
pasar ini di antara mereka.
Baja diproduksi didalam dapur pengolahan baja dari besi kasar baik padat
maupuncair, besi bekas ( Skrap ) dan beberapa paduan logam. Baja merupakan
produk utama industri besi-baja.Baja tahan terhadap pengaruh lingkungan mudah
dibentuk dan ditempa, memiliki kekerasan yang baik, mengandung 0.02%-1.5%
karbon.
Oleh karena itu penting untuk kita mempelajari lebih lanjut mengenai besi
dan baja tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun beberapa masalah penting yang akan dibahas dalam makalah ini
antara lain :
1.2.1 Bagaimana sejarah besi dan baja?
1.2.2 Bagaimana ekstraksi besi dan baja?
1.2.3 Bagaimana sifat dari besi dan baja?
1.2.4 Apa saja Kegunaan atau aplikasi dari besi dan baja?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuaatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Dapat mengetahui sejarah besi dan baja?
1.3.2 Dapat mengetahui ekstraksi besi dan baja?
1.3.3 Dapat mengetahui sifat dari besi dan baja?
1.3.4 Dapat mengetahui Kegunaan atau aplikasi dari besi dan baja?
BAB II
PEMBAHASAN

Besi dan baja merupakan logam yang banyak digunakan dalam teknik; dan
meliputi 95% dari seluruh produksi logam dunia.untuk penggunaan tertentu, besi
dan baja merupakan satu-satunya logam yang memenuhi persyaratan teknis
maupun ekonomis, namun di beberapa bidang lainnya logam ini mulai mendapat
persaingan dari logam bukan besi dan bahan bukan logam. Baja dan Besi sampai
saat ini menduduki peringkat pertama logam yang paling banyak penggunaanya,
besi dan baja mempunyai kandungan unsur utama yang sama yaitu Fe, hanya
kadar karbon lah yang membedakan besi dan baja, penggunaan besi dan baja
dewasa ini sangat luas mulai dari perlatan yang sepeleseperti jarum, peniti sampai
dengan alat – alat dan mesin berat.
2.1 BESI
2.1.1 Pengertian Besi
Besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan logam
transisi yang berada pada golongan VIII B dan periode 4. Besi adalah logam
paling melimpah nomor dua setelah alumunium. Besi adalah logam yang
dihasilkan dari bijih besi, dan jarang dijumpai dalam keadaan unsur bebas.

Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak
digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari. Besi juga mempunyai nilai
ekonomis yang tinggi. Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam
penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:

http://qboyciidreamer.blogspot.com/2012/03/artikel-tentang-besi.html

Besi merupakan unsur yang ditemukan berlimpah di alam. Besi adalah


logam yang kedua melimpahnya, sesudah Al dan unsur keempat yang paling
melimpah dalam kulit bumi. Teras bumi dianggap terutama terdiri atas Fe dan
Ni. Bijih yang utama adalah hematite Fe2O3, magnetite Fe3O4, limonite FeO(OH),
dan siderite FeCO3. Besi murni cukup reaktif, dalam udara lembab cepat
teroksidasi memberikan besi (III) oksida hidrat (karat) yang tidak sanggup
melindungi, karena zat ini hancur dan membiarkan permukaan logam yang baru ,
terbuka. Besi yang halus bersifat pirofor (Cotton dan Wilkinson, 2009: 462).
Juga ditemukan dalam matahari dan bintang lainnya dalam jumlah yang
seadanya.Inti bumi diyakini mayoritas unsur penyusunnya adalah besi dan nikel.
Besi juga diketahui sebagai unsur yang paling banyak membentuk bumi, yaitu
kira-kira 4,7 - 5 % pada kerak bumi.

Besi yaitu unsur logam dalam kelompok VIIIB Susunan Berkala Unsur
dengan nomor atom26, berlambang Fe, berat atom 55,847, bersifat magnet dan
lunak. Ferum terdapat di alam dalam bentuk oksida seperti hematit, magnetit dan
limonit dalam bentuk karbonat seperti siderit dan dalam bentuk sulfidanya seperti
pirit. Nama lainnya dalah besi ( Basri, 1997 :44)

Kebanyakan besi terdapat dalam batuan dan tanah sebagai oksida besi,
seperti oksida besi magnetit (Fe3O4) mengandung besi 65 %, hematite (Fe2O3)
mengandung 60 – 75 % besi, limonet (Fe2O3 . H2O) mengandung besi 20 % dan
siderit (Fe2CO3). Dalam kehidupan, besi merupakan logam paling biasa
digunakan dari pada logam-logam yanglain. Hal ini disebabkan karena harga yang
murah dan kekuatannya yang baik serta penggunaannya yang luas. Bijih besi
yang umum adalah hematit, yang sering terlihat sebagai pasir hitam sepanjang
pantai dan muara aliran.
Besi merupakan campuran dari 4 isotop stabil yaitu 54Fe, 56Fe, 57Fe and
58Fe. Kelimpahan semua isotop-isotop Fe di alam adalah 54Fe (5.8%), 56Fe
(91.7%), 57Fe (2.2%) dan 58Fe (0.3%). 60Fe adalah radioaktif yang mempunyai
waktu paruh yang panjang (1.5 juta tahun). Ada pula sepuluh isotop lainnya yang
tidak stabil.
Besi (Fe) merupakan salah satu logam yang mempunyai peranan yang
sangat besar dalam kehidupan manusia, terlebih-lebih di zaman modern seperti
sekarang.Kelimpahannya juga sangat besar, 50.000 ppm atau 5% dan merupakan
jenis logam terbanyak kedua di kulit bumi.Karena kelimpahannya yang sangat
besar itulah maka besi banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan
industri konstruksi. Besi berada dalam bentuk senyawanya, terutama sebagai bijih
besi, yang mengandung Fe2O3 (hematite), Fe2O3.H2O (limonit), Fe3O4
(magnetic), FeCO3(siderite), dan FeS2 (pirit).
(http://www.scribd.com/doc/3024023/besi)
Besi merupakan unsur yang paling penting dalam kehidupan umat manusia
sejak zaman Mesopotamia purba sampai era modern saat ini. Tidak ada logam
lain yang jumlah pemakaiannya melebihi besi. Sangat wajar jika produksi logam
besi diseluruh dunia mencapai 1 miliyar ton/tahun.
Bijih besi yang utama adalah Hematite (Fe2O3).Bijih lainnya adalah
magnetit, pirit, dan siderite.Tempat penambangan bijih di Indonesia ada di
Cilacap, Jawa Tengah dan di beberapa tempat di Jawa Timur, sedang peleburan
bijih besi dan industri baja terdapat di Cilegon, Jawa Barat.
Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya.
Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
 Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar
 Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
 Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Besi)
Besi adalah logam yang paling murah di antara logam-logam yang
dikenal manusia. Senyawa besi terdapat dalam kebanyakan batuan dan
tanah.bijih besi yang dapat diolah harus mengandung prosentase senyawa besi
yang besar. Bijih besi yang digunakan untuk produksi besi dan baja bergantung
dari kadar fosfor yang dikandungnya. Oleh karena itu bijih besi dapat
dikelompokkan menjadi :
a) Bijih berkadar fosfor rendah : hematit merah (Fe2O3), magnetit (Fe3O4)
b) Bijih berladar fosfor tinggi : hematit coklat, siderit (FeCO3)
Pirit besi (FeS2) tidak digunakan sebagai sumber besi, tetapi sebagai sumber
belerang (Achmad, 1992 : 144).

2.1.2 SEJARAH BESI


Besi telah digunakan sejak zaman nenek moyang.Genesis menyebutkan
bahwa Tubal-Cain, generas Adam ke tujuh, merupakan “guru dari setiap
kecerdasan pembuatan kuningan dan besi”.
Pembuatan pilar besi yang luar biasa, tercatat sekitar 400 SM, masih berdiri
saat ini di Delhi, India. Merupakan batang besi tempaan dengan tinggi 7,25 meter
dan berdiameter 40 cm. Korosi pada pilar tersebut sangat sedikit meski telah
terpapar dengan cuaca sejak ia dibuat.
http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/besi/

Besi adalah unsure yang sangat stabil dan merupakan unsure yang paling
banyak di Jagat Raya setelah silikon.Pada lapisan kulit Bumi, besi merupakan
unsur logam terbanyak ketiga setelah silikon dan aluminium.Hampir lebih dari 70
abad lalu-5.000 tahun sebelum Masehi-dari peninggalan di Mesopotania, Iran, dan
Mesir diketahui bahwa manusia telah menguasai teknologi pembuatan peralatan
dari besi baja untuk berburu. Suku Hatti dan Hittite- 2.500-1.500 tahun sebelum
Masehi-di daerah Anatria dan Armenia telah berhasil membuat pedang besi
berukuran besar dan baju besi dengan proses semi-lebur.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pengertian-baja/
Besi merupakan logam transisi yang sangat berguna karena relatif cukup
banyak dan sangat mudah diekstraksi dari bijih besi. Dalam kedadaan murni,
besi tidak terlalu keras, tetapi jika ditambahakan sedikit karbon dan logam
lainnya maka terbentuk alloy baja yang kuat. Besi merupakan logam yang sangat
reaktif. Logam ini membentuk senyawa dengan dua bilangan oksidasi +2 dan +3.
Pada umumnya senyawa besi (II) midah dioksidasi menghasilkan senyawa besi
(III) yang berikatan. Oksida besi ada tiga bentuk, yaitu FeO, Fe2O3, dan Fe3O4.
Besi (II) oksida sukar dibuat dan akan mengalami disproporsionasi menjadi Fe
dan Fe2O3 ketika dipanaskan.
3FeO(s) → Fe(s) + Fe2O3(s)
Besi (III) oksida merupakan komponen yang penting dalam bijih besi dan
apabila besi berkarat maka terbenuk hidratnya. OksidaFe3O4, yang dikenal
dengan nama magnetit mengandung besi dalam bentuk dua bilangan oksidasi
yang dapat diformulasi menjadi FeII Fe2IIIO4 (bilangan Romawi dipakai untuk
menunjukkan bilangan oksida atom besi). Sama seperti namanya, magnetit dalah
suatu magnet. Zat ini merupakan magnet yang kuat yang dapat dengan mudah
dipisahkan dari batu-batuan yang tidak berguna dan bijih ini karena kaya dengan
besi (Brady,1990 : 367-367).
Menurut sumber yang berbeda :
1 Besi ditemukan digunakan pertama kali sekitar 1500 SM
2 Tahun 1100 SM, bangsa hittitets yang merahasiakan pembuatan tersebut
selama 400 tahun dikuasai oleh bangsa Asia Barat. Pada tahun tersebut proses
peleburan besi mulai diketahui secara luas.
3 Tahun 1100 SM, bangsa Yunani, Mesir, Jews, Roma, Carhaginians dan Asiria
juga mempelajari peleburan dan menggunakan besi dalam kehidupannya.
4 Tahun 800 SM, India berhasil membuat besi setelah diinvasi oleh bangsa Arya
5 Tahun 800 SM, Cina belajar membuat besi.
Teknik peleburan logam telah ada sejak zaman Mesir kuno pada tahun 3000
SM. Bahkan pembuatan perhiasan dari besi telah ada pada zaman sebelumnya.
Proses pengerasan pada besi dengan heat treatment mulai diperkenalkan untuk
pembuatan senjata pada zaman Yunani 1000 SM. Proses pemaduan yang dibuat
mulai ada sejak abad 14 yang diklasifikasikan sebagai besi tempa. Proses ini
dilakukan dengan pemanasan sejumlah besar bijih besi dan charchoal dalam
tungku atau furnance. Dengan proses ini bijih besi mengalami reduksi menjadi
besi sponge metalik yang terisi oleh slag yang merupakan campuran dari pengotor
metalik dan abu charcoal. Spone iron ini dipindahkan dari furnance pada saat
masih bercahaya dan diselimuti oleh slag yang tebal lalu slagnya dihilangkan
untuk memperkuat besi. Pembuatan besi meggunakan metode ini menghasilkan
kandingan slag sekiar 3 persen dan 0,1 persen pengotor lain. Kadang kala hasil
produksi dengan metode ini menghasilkan baja bukannya besi tempa.
Parapembuat besi belajar untuk membuat baja dengan memanaskan besi tempa
dan charcoal pada boks yang terbuat dar tanah liat selama beberapa hari. Dengan
proses ini besi akan menyerap cukup karbon untuk menjadi baja sebenarnya.
Setelah abad ke 14 tungku atau furnance yang digunakan mulai mengalami
peningkatan ukuran dan draft yang digunakan untuk pembakaran gas melewati
“charge,” pada pencampuran material mentah. Pada tungku yang lebih besar ini,
bijih besi pada bagian bagian atas furnance akan direduksi pertama kali direduksi
menjadi besi metalik dan menghasilkan banyak karbon sebagai hasil dari serangan
gas yang dilewatinya. Hasil dari furnance ini adalah pig iron, yaitu paduan yang
meleleh pada temperatur rendah. Pig iron akan dproses lebih lanjut untuk
membuat baja.
Pembuatan baja modern menggunakan blast furnance yang juga digunakan
untuk memurniakan besi oleh pembuat besi yang lamapu. Proses pemurnian besi
cair dengan peledakan udara diakui oleh penemu Inggris Sir Henry Bessemer
yang mengembangkan Bessemer furnance, atau pengkonversi, pada tahun 1855.
Sejak tahun 1960 telah diproduksi baja dari besi bekas secara kecil-kecilan pada
furnance elektrik, sehingga dinamakan mini mills. Mini mills adalah komponen
yang sangat sangat penting bagi produksi baja Amerika. Mills yang lebih besar
digunakan pada produksi baja dari bijih besi .
(http://sonyaza.blogspot.com/2010/12/perbedaan-besidanbaja.html)

2.1.3 SIFAT –SIFAT BESI


2.1.3.1 Sifat fisika
Lambang Fe
Nomor atom 26
Nomor atom relative 55,847
Konfigurasi electron 3d6 4s2
Jari-jari atom (nm) 0,116
Jari-jari ion M3+ (nm) 0,064
Keelektronegatifan 1,7
Energi ionisasi pertama (kj mol-1) 759
Kerapatan (g cm-3) 7,87
Massa atom 55,845(2) g/mol
Penampilan metalik mengkilap
keabu-abuan

Titik leleh (oC) 1536


Titik didih (oC) 3000
Bilangan oksidasi 2, 3, 6

Fase padat
Massa jenis (sekitar suhu kamar) 7,86 g/cm³
Massa jenis cair pada titik lebur 6,98 g/cm³
Kalor peleburan 13,81 kJ/mol
Kalor penguapan 340 kJ/mol
Kapasitas kalor (25°C) 25,10J/(mol·K)
Potensial electron (V)
M2+(aq) + 2e M(s) -0,44
M3+(aq) + e M2+(aq) +0,74

 Pada suhu kamar berwujud padat, mengkilap dan berwarna keabuabuan.


 Merupakan logam feromagnetik karena memiliki empat electron tidak
berpasangan pada orbital d.
 Penghantar panas yang baik
 Kation logam besi Fe berwarna hijau (Fe2+) dan jingga (Fe3+). Hal ini
disebabkan oleh adanya elektron tidak berpasangan dan tingkat energi orbital
tidak berbeda jauh. Akibatnya, elektron mudah tereksitasi ke tingkat energi
lebih tinggi menimbulkan warna tertentu. Jika senyawa transisi baik padat
maupun larutannya tersinari cahaya maka senyawa transisi akan menyerap
cahaya pada frekuensi tertentu, sedangkan frekuensi lainnya diteruskan.
Cahaya yang diserap akan mengeksitasi elektron ke tingkat energi lebih tinggi
dan cahaya yang diteruskan menunjukkan warna senyawa transisi pada
keadaan tereksitasi.
 Besi merupakan unsur transisi yang mempunyai sifat logam sebagaimana
semua unsur transisi lainnya. Sifat logam ini dipengaruhi oleh kemudahan
unsur tersebut untuk melepas elektron valensi. Selain itu, keberadaan electron
pada blok d yang belum penuh menyebabkan unsur Fe memiliki banyak
elektron tidak berpasangan. Elektron- elektron tidak berpasangan tersebut
akan bergerak bebas pada kisi kristalnya sehingga membentuk ikatan logam
yang lebih kuat dibandingkan dengan unsur golongan utama. Adanya ikatan
logam ini menyebabkan titik leleh dan titik didih serta densitas unsur Fe
cukup besar sehingga bersifat keras dan kuat.
 Pergerakan elektron- elektron yang tidak berpasangan pada kisi kristal juga
menyebabkan logam besi bersifat konduktor atau penghantar panas yang
baik. Apabila logam besi diberikan kalor atau panas, energy kinetik elektron
akan meningkat. Dengan demikian, elektron memindahkan energinya ke
elektron yang lain sehingga panas merambat ke seluruh bagian logam besi
tersebut.
 Tekanan uap
P/Pa 1 10 100 1k 10k 100k
Pada T/K 1728 1890 2091 2346 2679 3132

 Ciri-ciri atom
Struktur kristal kubus pusat badan

2, 3, 4, 6
Bilangan oksidasi
(oksida amfoter)

Elektronegativitas 1,83 (skala Pauling)

Energi ionisasi pertama: 762,5 kJ/mol

ke-2: 1561,9 kJ/mol

ke-3: 2957 kJ/mol

Jari-jari atom 140pm

Jari-jari atom (terhitung) 156pm

Jari-jari kovalen 125pm

Sifat magnetik feromagnetik

Resistivitas listrik (20 °C) 96,1 nΩ·m

Konduktivitas termal (300 K) 80,4 W/(m·K)

Ekspansi termal (25 °C) 11,8 µm/(m·K)

Kecepatan suara (suhu kamar) (elektrolitik)


(pada wujud kawat) 5120 m/s

Modulus Young 211 Gpa

Modulus geser 82 Gpa


Modulus ruah 170 Gpa

Nisbah Poisson 0,29

Skala kekerasan Mohs 4,0

Kekerasan Vickers 608 Mpa

Kekerasan Brinell 490A

 isotop
Iso NA Waktu paruh DM DE DP
(MeV)
54
Fe 5,8 % > 3,1E22 tahun Penangkapan 2ε ? 54
Cr
55
Fe Syn 2,73 tahun Penangkapan ε 0,231 55
Mn
56
Fe 91,72 % Fe stabil dengan 30
neutron
57
Fe 2,2 % Fe stabil dengan 31
neutron
58
Fe 0,28% Fe stabil dengan 32
neutron
59
Fe Syn 44,503 hari Β 1,565 59
Co
60
Fe Syn 1,5E6 tahun β- 3,978 60
Co

2.1.3.2 sifat kimia


Reaksi-reaksi pada besi antara lain:
 Besi bereaksi dengan uap air pada suhu tinggi
3 Fe (s) + 4 H2O (g)Fe2O4 (s) + H2 (g) + 2 H2O (l)
 Besi bereaksi dengan asam klorida dan asam sulfat encer
Fe (s) + 2 H3O+(aq) Fe2+ (aq) + H2 (g) + 2 H2O (l)
 Besi (II) dan besi (III) dapat membentuk kompleks heksaaqua dalam larutan air
[Fe (H2O)6]2+ Fe2+ (aq) + H2 (g) + 2 H2O (l)
 Dalam larutan asam, kompleks heksaaqua besi (II) relative stabil tetapi dalam
larutan netral atau basa, oleh idara dioksidasi menjadi heksaaqua besi (III).
Larutan kompleks heksaaqua besi (III) bersifat asam sebab mengalami
hidrolisis.
[Fe (H2O)6]3+(aq) [Fe2+(H2O)5(OH)]2+ (aq) + H3O+ (aq)
 Besi(III) klorida bereaksi dengan garam klorida lainnya membentuk
iontetrahedral FeCl4− yang berwarna kuning. Garam-garam dari FeCl4− dalam
asam klorida dapat diekstraksikan ke dietil eter.
 Dipanaskan bersama besi(III) oksida pada temperatur 350 °C, besi (III) klorida
membentuk besi oksiklorida, sebuah padatan berlapis.

FeCl3 + Fe2O3 → 3 FeOCl

 Dalam suasana basa, alkoksida dari logam alkali bereaksi membentuk


kompleks dimer
FeCl3 + 6 C2H5OH + 6 NH3 → (Fe(OC2H5)3)2 + 6 NH4Cl
 Unsur besi bersifat elektropositif (mudah melepaskan elektron) sehingga
bilangan oksidasinya bertanda positif.
 Fe dapat memiliki biloks 2, 3, 4, dan 6. Hal ini disebabkan karena perbedaan
energy elektron pada subkulit 4s dan 3d cukup kecil, sehingga elektron pada
subkulit 3d juga terlepas ketika terjadi ionisasi selain electron pada subkulit 4s
 Logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah terkorosi,
khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat peningkatan suhu.
 Memiliki bentuk allotroik ferit, yakni alfa, beta, gamma dan omega dengan
suhu transisi 700, 928, dan 1530oC. Bentuk alfa bersifat magnetik, tapi ketika
berubah menjadi beta, sifat magnetnya menghilang meski pola geometris
molekul tidak berubah.
 Mudah bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti halogen, sulfur, pospor,
boron, karbon dan silikon.
 Larut dalam asam- asam mineral encer
 Oksidanya bersifat amfoter

2.1.4 Reaksi – reaksi Besi


 Reaksi ion besi dalam larutan
Ion-ion yang paling sederhana dalam larutan adalah:
 Ion heksaaquobesi(II) – [Fe(H2O)6]2+.
 Ion heksaaquobesi(III) – [Fe(H2O)6]3+.
Kedua-duanya bersifat asam, tetapi ion besi(III) lebih kuat sifat asamnya.
 Reaksi ion besi dengan ion hidroksida
Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan natrium hidroksida) dapat
menghilangkan ion hidrogen dari ligan air dan kemudian melekat pada ion
besi.Setelah ion hidrogen dihilangkan, diperoleh kompleks tidak muatan –
kompleks netral. Kompleks netral ini tidak larut dalam air dan terbentuk
endapan.Pada kasus besi(II):

Pada kasus besi(III):

Besi sangat mudah di oksidasi pada kondisi yang bersifat basa. Oksigen di
udara mengoksidasi endapan besi(II) hidroksida menjadi besi(III) hidroksida
terutama pada bagian atas tabung reaksi. Warna endapan yang menjadi gelap
berasal dari efek yang sama.

 Reaksi ion besi dengan larutan amonia


Amonia dapat berperan sebagai basa atau ligan. Pada kasus ini, amonia
berperan sebagai basa – menghilangkan ion hidrogen dari kompleks aquo.
Pada kasus besi(II):

Kejadian yang sama terjadi ketika kamu menambahkan larutan natrium


hidroksida. Endapan kembali berubah warna yang menunjukkan kompleks
besi(II) hidroksida teroksidasi oleh udara menjadi besi(III) hidroksida.

Pada kasus besi(III):


Reaksi yang sama ketika ditambahkan larutan natrium hidroksida.

 Reaksi-reaksi ion besi dengan ion karbonat

Berikut ini merupakan perbedaan yang penting antara sifat ion besi(II) dan ion
besi(III).

Ion besi(II) dan ion karbonat


Dapat diperoleh dengan mudah endapan besi(II) karbonat sesuai dengan yang
diinginkan.

Ion besi(III) dan ion karbonat


Ion heksaaquobesi(III) cukup asam untuk bereaksi dengan ion karbonat
yang bersifat basa lemah.Jika ditambahkan larutan natrium karbonat ke larutan
yang mengandung ion heksaaquobesi(III), dengan pasti akan diperoleh endapan
seperti jika ditambahkan larutan natrium hidroksida atau larutan amonia. Saat ini,
ion karbonat yang menghilangkan ion hidrogen dari ion heksaaquo dan
menghasilkan kompleks netral.Berdasarkan pada perbandingan ion karbonat
dengan ion heksaaquo, akan diperoleh ion hidrogen karbonat maupun gas karbon
dioksida dari reaksi antara ion hidrogen dengan ion karbonat. Persamaan reaksi
menunjukkan pembentukan karbon dioksida.

2.1.5 Pengujian untuk ion besi(III) dengan ion tiosianat

Pengujian ini merupakan tes yang sangat sensitif untuk ion besi(III) dalam
larutan.Jika ditambahkan ion tiosianat, SCN-, (dari, katakanlah, larutan natrium
atau kalium atau amonium tiosianat) ke dalam larutan yang mengandung ion
besi(II), akan diperoleh larutan berwarna merah darah kuat yang mengandung ion
[Fe(SCN)(H2O)5]2+.

2.1.6 Penentuan konsentrasi ion besi(II) dalam larutan dengan cara titrasi
Dapat ditentukan konsentrasi ion besi(II) dalam larutan melalui cara titrasi
dengan menggunakan larutan kalium manganat(VII) atau larutan kalium
dikromat(VI). Reaksi berlangsung dengan adanya asam sulfat encer.Pada kasus
yang lain,dapat dipipet larutan yang mengandung ion besi(II) yang sudah
diketahui volumenya ke dalam labu, dan kemudian ditambahkan asam sulfat encer
secukupnya. Apa yang akan terjadi kemudian tergantung pada penggunaan larutan
kalium manganat(VII) atau larutan kalium dikromat(VI).

Menggunakan larutan kalium manganat(VII)


Larutan kalium manganat(VII) diteteskan melalui buret. Pada awalnya,
larutan tersebut menjadi tidak berwarna yang menunjukkan larutan tersebut
bereaksi. Pada titik akhir titrasi warna merah muda permanen dalam larutan
menunjukkan ion manganat(VII) sedikit berlebih.Ion manganat(VII)
mengoksidasi ion besi(II) menjadi ion besi(III). Dua persamaan setengah-
reaksinya adalah:

Penggabungan keduanya memberikan persamaaan ion untuk reaksi:

Persamaan yang lengkap menunjukkan bahwa 1 mol ion manganat(VII)


bereaksi dengan 5 mol ion besi(II). Melalui informasi tersebut, perhitungan titrasi
sama seperti yang lainnya.

Menggunakan larutan kalium dikromat(VI)


Larutan kalium dikromat(VI) berubah menjadi hijau menunjukkan larutan
tersebut bereaksi dengan ion besi(II), dan tidak akan bisa dideteksi perubahan
warna ketika diteteskan larutan jingga berlebih ke dalam larutan berwarna hijau
kuat.Dengan larutan kalium dikromat(VI) kamu harus menggunakan indikator
tertentu, dikenal dengan indikator redoks. Perubahan warna menunjukkan
keberadaan agen pengoksidasi.Berikut adalah beberapa indikator – seperti
difenilamin sulfonat. Indikator ini memberikan warna ungu-biru yang
menandakan adanya kelebihan larutan kalium dikromat(VI).Dua persamaan
setengah-reaksinya adalah:

Penggabungan keduanya memberikan:

Dapat dilihat bahwa perbandingan reaksi antara 1 mol ion dikromat(VI) dengan 6
mol ion besi(II).

2.1.7 Reaksi redoks pada pengaratan besi

Korosi merupakan proses alamiah. Seperti air mengalir ke permukaan yang


lebih rendah, seluruh proses alamiah akan bergerak ke arah energi yang lebih
rendah. Jadi besi dan baja memiliki kecenderungan untuk bergabung dengan
elemen kimia lainnya untuk bergerak ke energi yang lebih rendah. Besi dan baja
akan sering berikatan dengan oksigen, membentuk iron oxide atau karat memiliki
susunan kimia yang sama dengan iron ore. Logam dan paduan lain ketika dalam
kondisi energi yang tinggi mereka dalam bentuk logam resistan terhadap korosi
yang terbentuk lapisan pasif (biasanya oksida) pada permukaan. Lapisan tersebut
terbentuk melalui proses alami yang menyerupai korosi dan biasanya tidak
terlihat dengan menggunakan mata telanjang.
(budhi, dkk. 2013, Vol. 11, No. 2, 117 – 242)
Kebanyakan logam mempunyai sifat mudah teroksidasi oleh oksigen dari
udara.Peristiwa tersebut disebut korosi atau pengaratan.Pengaratan akan terjadi
jika ada air dan oksigen.Selain itu,bakteri juga dapat menghasilkan enzim
oksidase yang dapat mempercepat terjadinya karat.

Ketika air yang mengandung sedikit oksigen bercampur dengan logam


besi,besi akan mengalami oksidasi.Elektron yang dihasilkan besi, kemudian
ditangkap oleh ion hydrogen & molekul oksigen membentuk air.Dengan kata
lain,Elektron pada besi berpindah ke molekul oksigen.Kemudian,Ion oksigen
yang bermujatan negative akan masuk ke permukaan besi.Reaksi besi dan oksigen
akan menghasilkan Besi Oksida sehingga besi akan keropos.Proses pengkaratan
besi yang berlangsung dapat dituliskan dalam bentuk persamaan reaksi sbb :
4Fe (s) + 3O2 (aq) + 6H2O (l) -->2Fe2O3 . 3 H2O (l)
Pada reaksi tsb bilangan oksidasi Fe sebagai pereaksi adalah nol,sedangkan
bilangan oksidasi Fe pada Fe2O3. 3 H2O adalah +3.Berati,Fe mengalami oksidasi
karena biloksnya bertambah.Adapun bilangan oksidasi O pada O2 adalah
0,sedangkan bilangan oksidasi O pada Fe2O3 adalah -2.Berati,biloks atom O
berkurang (dari 0 menjadi -2) atau mengalami reaksi reduksi.Bilangan oksidasi H
pada H2O tidak berubah,baik sebagai pereaksi maupun hasil reaksi,karena H2O,
H nya terikat sebagai air kristal pada Fe2O3 .
2.1.8 SIFAT MAGNETIK BESI
Berdasarkan perilakunya dalam medan magnet zat-zat diklasifikasikan
sebagai diamagnetic apabila zat itu sedikit ditolak keluar medan,paramagnetic jika
zat tersebut sedikit ditarik ke dalam medan dan feromagnetik apabila ditarik
sangat kuat kedalam medan magnet.unsur transisi period eke empat dan senyawa-
senyawanya umumnya bersifat paramagnetic.Namun demikian feromagnetisme
hanya diperlihatkan oleh beberapa logam. Yaitu besi,kobalt,dan nikel serta logam
campuran tertentu.
Sifat magnet zat berkaitan dengan konfigurasi elektronnya.zat yang
memiliki sifat paramagnetik setidaknya mempunyai satu electron tidak
berpasangan.Selain itu arah rotasi electron yang dinyatakan oleh bilangan
kuantum spin yaitu s=1/2 dan s=-1/2 oleh karema itu electron mengemban muatan
listrik,gerak rotasinya akan menghasilkan medan magnet.namun jika semua
electron berpasangan maka medan magnet yang ditimbulkan akan saling
meniadakan. Hanya atom yang memiliki electron yang tidak berpasangan yang
akan memiliki sifat magnet.semakin banyak electron tak berpasangan akan
semakin besar pula sifat magnetnya.
Besi merupakan unsur transisi. Setiap unsur transisi mempunyai sifat
magnetik. Sifat magnetik secara garis besar dibedakan menjadi dua, yakni
paramagnetik dan diamagnetik. Sifat paramagnetik ialah sifat yang dimiliki oleh
unsur apabila ia tertarik oleh medan magnet, sedangkan sifat diamagnetik ialah
sifat dimiliki oleh unsur apabila ia ditolak oleh medan magnet. Sifat
paramagnetik terjadi bila di dalam atom suatu unsur terdapat elektron yang
belum berpasangan. Semakin banyak elektron yang belum berpasangan, maka
semakin kuat sifat paramagnetiknya.
26Fe memiliki konfigurasi elektron: (Ar) 3d6 4s2
(http://rekahawan.blogspot.co.id/2016/12/sifat-magnetik-besi-tembaga-
sifat.html)
2.1.9 SIFAT KATALIK BESI
Logam transisi dan senyawanya dapat berfungsi sebagai katalis karma
memiliki kemampuan merubah bilangan oksidasi atau pada kasus logam dapat
meng adsorb substansi yang lain pada permukaan logam dan mengaktivasi
substansi tersebut selama proses berlangsung.

2.1.10 JENIS – JENIS BESI


1. Besi tuang (Cast iron), mengandungi 2% – 3.5% karbon dan sejumlah
kecilmangan. Bendasing yang terdapat di dalam besi mentah yang dapat
memberikan kesan buruk kepada sifat bahan, seperti belerang dan fosforus,
telah dikurangkan kepada tahap boleh diterima. Ia mempunyai takat lebur pada
julat 1420–1470 K, yang lebih rendah berbanding dua komponen utamanya,
dan menjadikannya hasil pertama yang melebur apabila karbon dan besi
dipanaskan serentak. Sifat mekanikalnya berubah-ubah, bergantung kepada
bentuk karbon yang diterap ke dalam aloi. Besi tuang 'putih' mengandungi
karbon dalam bentuk cementite, atau besi karbida.
2. Besi karbon mengandung antara 0.5% dan 1.5% karbon, dengan sejumlah
kecil mangan, belerang, fosforus, dan silikon.
3. Besi tempa (Wrought iron) mengandung kurang daripada 0.5% karbon. Ia
keras, mudah lentur, dan tidak mudah dilakurkan berbanding dengan besi
mentah. Ia mempunyai sejumlah kecil karbon, beberapa persepuluh peratus.
Jika ditajamkan menjadi tirus, ia cepat kehilangan ketajamannya.
4. Besi aloi (Alloy steel) mengandungi kandungan karbon yang berubah-ubah
dan juga logam-logam lain, seperti kromium, vanadium, molibdenum,
nikel, tungsten dsb.
5. Besi oksida (III) digunakan dalam penghasilan storan magnetik dalam
komputer. Ia sering dicampurkan dengan bahan lain, dan mengekalkan ciri-ciri
mereka dalam larutan.

(http://adysusilobayunglencir.blogspot.com/2012/10/pengertian-jenis-jenis-
besi.html)
a. Hegamite – Fe2O3 – 70% besi
b. Magnetite – Fe3O4 – 72% besi
c. Limonite – Fe2O3 – H2O – 50%-66% besi
d. Siderite – FeCO3 – 48% besi
 Unsur – unsur yang terdapat dalam besi
Bijih besi Idealnya hanya berisi besi dan oksigen. Pada kenyataannya hal
ini jarang terjadi. Biasanya, bijih besi mengandung sejumlah unsur yang sering
tidak diinginkan dalam baja modern.
1. Silikon. Silika (SiO2) hampir selalu hadir dalam bijih besi. Sebagian besar
adalah slagged off selama proses peleburan. Pada suhu di atas 1300 ° C
beberapa akan berkurang dan membentuk paduan dengan besi.
2. Fosfor. Fosfor (P) memiliki empat efek besar pada besi: peningkatan
kekerasan dan kekuatan, temperatur solidus rendah, fluiditas meningkat, dan
sesak dingin. Tergantung pada tujuan penggunaan untuk besi, efek ini baik atau
buruk.
3. Aluminium. Sejumlah kecil aluminium (Al) yang dalam banyak bijih (sering
sebagai tanah liat) dan beberapa batu gamping.
4. Belerang. Sulfur (S) adalah kontaminan yang sering dalam batubara. Hal ini
juga hadir dalam jumlah kecil dalam bijih banyak, tetapi dapat dihilangkan
dengan cara kalsinasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bijih_besi

2.1.11 EKSTRAKSI DARI BESI


Pada zaman dahulu, manusia telah berhasil mengekstraksi besi dari bijihnya.
Campuran gilingan bijih besi dan arang dibiarkan di atas bara sehingga meleleh,
kemudian besi itu ditampung.
Sebagai perkembangan dari proses ini, campuran besi dan arang diletakkan di
atas tanur kecil dan dihembuskan udara dari dasar tanur. Akan tetapi suhu yang
di capai dengan cara ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tanur
hembus modern yang dikenal masa kini.

a) Prinsip Pengolahan Besi


Besi dihasilkan dari oksida besi (Fe2O3), melalui reaksi reduksi dengan
karbon monoksida pada suhu relatif tinggi (>15000C). Reduksi berlangsung
beberapa tahap, dan reaksi yang terlibat bersifat reversible, di mana
kesetimbangan bergantung pada tekanan relatif dari CO dan CO2 dalam tanur
tinggi.
Bahan baku yang digunakan dalam proses pengolahan besi pada tanur tinggi
adalah:
1. Biji besi yang digunakan terutama dalam bentuk hematite, geotit, dan magnetic.

2. Kokas sebagai zat pereduksi. Kokas sebagai sumber karbon berkadar tinggi,
dibuat dari pemanasan batu bara didalam oven kedap udara. Hasil sampingan
pembuatan kokas ini adalah gas bakar yang dapat digunakan kembali sebagai
bahan bakar untuk pemanasan oven dan pemanasan awal tanur tinggi. Hasil
samping lainnya adalah benzen, tar, toluen, naftalen, dan ammonium sulfat.
3. Batu kapur. Batu kapur (CaCO3 ), digunakan sebagai bahan untuk mengikat
silika pada reaksi dalam tanur tinggi. Hasilnya adalah kalsium silikat (CaSiO3
), yang menjadi ampas buangan kerak tanur tinggi.
4. Udara. Udara dipanaskan, ditiupkan dari bagian bawah tanur tinggi untuk
membakar karbon menjadi gas CO2 yang selanjutnya bereaksi lagi dengan
karbon membentuk gas CO, yang nantinya akan mereduksi oksida besi. Rata-
rata untuk menghasilkan 1 ton besi, diperlukan bahan baku 2 ton biji besi, 1 ton
kokas, 0.3 ton kapur, dan 4 ton udara.

b) Pengolahan Besi Dari Bijihnya


Memisahkan bijih besi dari oksigen dan pengotor yang mengikatnya. Proses
penghilangan oksigen dan pengotor bijih besi disebut proses reduksi bijih besi.
Proses reduksi bijih besi secara umum terbagi atas dua metode yaitu reduksi
langsung (direct reduction) dan reduksi tidak langsung (indirect reduction).
Proses Reduksi Tidak Langsung (Indirect Reduction)
Proses reduksi bijih besi secara tidak langsung dilakukan dalam blast
furnace denganreduktor berupa kokas, batu bara atau char dengan temperatur di
atas titik lebur besidengan produk berupa lelehan logam Fe yang selanjutnya
diumpankan kedalam BOF(Basic Oxygen Furnace) dan sebagian kecil akan
dicetak menjadi pig iron.Proses reduksiini kurang efektif karena belum mampu
mengolah bijih besi dengan kandungan besi (Fe)di bawah 60 %, di samping itu
membutuhkan konstruksi alat yang cukup rumit danketerbatasan arang kayu
sebagai reduktor serta efesiensi bahan bakar/reduktor yang masihrendah ±1,1 ton
arang kayu/ton pig iron (Jamali, A & Amin, M. Vol.1, No.2 :87).
Proses Reduksi Langsung (Direct Reduction)
Proses reduksi langsung merupakan prosespemisahan Fe dar ioksigen
dengan reduktor berupa padatan seperti batu bara atau gas alam (CH) Proses
reduksi langsungdilakukan di bawah titik lebur dalam tungku reduksi sehingga
produk yang dihasilkandalam bentuk padatan (besi spons) (Sun,1997). Proses
reduksi ini lebih efisien karenasudah mampu mengolah langsung bijih besi
dengan kandungan besi (Fe) di bawah 60%.
https://dokumen.tips/documents/makalah-industri-besi-dan-baja.html

1. Tanur hembus/ Tanur tiup/ Tanur tinggi


Pengolahan bijih besi untuk menghasilkan logam besi dilakukan melalui
tanur tiup (tanur tinggi). Disebut dengan istilah tanur tinggi karena proses ini
digunakan cerobong yang berukuran besar dan tinggi. Bahan baku utama yang
digunakan dalam proses ini adalah bijih besi, sedangkan pereduksi yang
digunakan yaitu sebagai berikut :
- Karbon atau kokas (C) yang berfungsi sebagai reduktor
- Kapur (CaCO3) yang berfungsi mengikat pengotor, seperti SiO2, fosfor dan
belerang. Kapur juga dikatakan berfungsi sebagai fluks, yaitu bahan yang akan
bereaksi dengan pengotor dalam bijih besi dan memisahkan pengotor itu dalam
bentuk cairan kental yang disebut terak (slag).
Bijih besi mengandung pengotor, baik yang bersifat asam, seperti SiO2
(pasir), Al2O3 dan P2O5, maupun pengotor yang bersifat basa, seperti CaO, MgO,
dan MnO. Akan tetapi, biasanya pengotor yang bersifat asam lebih banyak,
sehingga perlu ditambah fluks yang bersifat basa, yaitu CaCO3.
Rangkaian proses dan reaksi yang terjadi, yaitu sebagai berikut :
a. Campuran bijih besi, kokas, dan kapur dimasukkan ke puncak tanur melalui
hopper (alat untuk menampung dan memasukkan bahan).
b. Dari dasar tanur, dihembuskan udara panas, sehingga kokas terbakar menurut
reaksi :
C (s) + O2 (g) CO2 (g)
c. Gas CO2 dari dasar tanur akan naik dan bereaksi dengan karbon menghasilkan
gas CO dan sejumlah kalor. Suhu pada daerah ini mencapai 1500°C - 2000°C.
reaksi yang terjadi, yaitu sebagai berikut :
CO2(g) + C (s) 2 CO (g)
d. Dari bagian tengah sampai bagian atas tanur, CO akan mereduksi bijih besi
pada suhu 200°C - 700°C. reaksinya berlangsung sebagai berikut :
3 Fe2O3 (s) + CO (g) 2 Fe3O4 (s) + CO2 (g)
Fe3O4 (s) + CO (g) 3 FeO (s) + CO2 (g)
Oksidasi besi (FeO) akan turun ke bagian tengah tanur pada suhu 700°C -
1200°C, sehingga terjadi reaksi :
FeO (s) + CO (g) Fe (l) + CO2 (g)
Kemudian, besi yang terbentuk akan turun pada daerah suhu 1200°C - 1500°C
besi mulai meleleh dan turun ke dasar tanur (2000°C) dalam bentuk besi cair.
Reaksi seluruhnya dapat dituliskan :
Fe2O3 (s) + 3 CO (g) 2 Fe (l) + 3 CO2 (g)
e. Di bagian tengah tanur, batu kapur akan terurai karena terkena panas.
CaCO3 (s) CaO (s) + CO2 (g)
f. Kemudian, CaO di dasar tanur akan bereaksi dengan pengotor membentuk
terak yang berupa cairan kental.
CaO (s) + SiO2 (s) CaSiO3 (l)
3 CaO (s) + P2O5 (g) Ca3(PO4)2 (l)
g. Besi cair akan turun ke dasar tanur, sedangkan terak yang memiliki massa jenis
lebih ringan dari pada besi cair akan mengapung di permukaan dan keluar
melalui saluran sendiri. Terak dapat digunakan sebagai bahan baku dalam
pembuatan beton atau jalan raya.
h. Besi cair yang keluar dari dasar tanur disebut besi kasar (pig iron). Jika pig iron
dibuat menjadi bentuk cetakan, disebut besi tuang atau besi cor (cast iron). Besi
kasar memiliki kadar besi sekitar 95%, artinya masih mengandung pengotor,
seperti karbon (sekitar 4%), fosfor, silikon, belerang, dan mangan.
Dibutuhkan 8 jam sejak bijih besi dimasukkan ke puncak tanur sampai besi
mencapai di dasar tanur. Gas yang keluar dari cerobong yang bersuhu 200oC,
terutama mengandung nitrogen dan kira-kira 25% karbon monoksida, sedikit
karbon dioksida dan gas lainnya. Jika gas ini dibakar suhu akan mencapai 800oC
sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan uap air yang dapat menggerakkan
turbin untuk menghasilkan listrik. Dengan demikian dengan hasil samping ini
dapat menghemat energi dan mengurangi biaya produksi. Suatu tanur akan dapat
menghasilkan 3000 ton besi sehari dan beroperasi terus menerus samapai
beberapa tahun sebelum tanur itu dibersihkan (Achmad, 1992: 147).

3Fe2O3 + CO → 2Fe3O4 + CO2


2Fe3O4 + CO → 3FeO + CO2
FeO + CO ↔ Fe+CO2
Fe + CO2 → FeO + CO
CaCO3 → CaO +CO2
CaO +SiO2 → CaSiO3
C + CO2 → 2CO
C + O2 → CO2
Tanur beroperasi dengan kontinu. Campuran bahan yang bereaksi
diumpamakan ke puncak pada selang waktu yang teratur, untuk memulai
perjalanannya ke tingkat bawah yang panas keputihan. Tanur harus disadap setiap
enam jam, untuk mengalirkan keluar besi meleleh.
Untuk setiap ton besi tanur tiup atau besi cor kasar (pig iron) yang
diproduksi, diperlukan kira-kira 2 ton bijih besi, 1 ton kokas, 0,3 ton batu kapur,
dan 4 ton udara. Produk sampingan yang utama adalah 0,6 ton terak dan 5,7 ton
gas cerobong buangan, yang terutama berupa nitrogen dan karbon dioksida, tetapi
mengandung kira-kira 12 persen CO dan 1 persen H2.
c) Pemanggangan
Biji hematite (Fe2O3), mula-mula dicuci dengan air sampai bersih dari tanah
yang melekat. Setelah kering hematite tersebut lalu dipanggang. Sejumlah
karbonat atau sulfida ditambahkan yang hasil penguraiannya dapat bersenyawa
dengan silika sebagai pengotor membentuk kerak.
d) Reaksi – reaksi yang terjadi
a. Reaksi dengan gas pada suhu tinggi
Ketika udara panas yang telah bebas dari uap air dan sebelumnya
dipanaskan pada suhu 5000-7000 C, ditiupkan kedalam layer, gas tersebut akan
bereaksi dengan karbon membentuk gas karbondioksida.
C + O2 CO2 ΔH = -96.96 kkal
Reaksi berlangsung eksoterm, panas yang dibebaskan menyebabkan
temperatur yang sangat tinggi (>15000C), dibagian bawah tanur. Gas ini terdiri
dari gas CO2 yang akan bereaksi dengan karbon dan direduksi menjadi gas
karbon monoksida (CO).
CO2 + C 2CO ΔH = -38.96 kkal
Ketika reaksi berlangsung endoterm atau menyerap panas, temperature gas
menurun sehingga pada bagian ini temperatur mencapai 12000-13000C. Bagian
tanur ini disebut penyerap panas karena pada saat gas naik, reaksi gas CO2
dengan karbon pada setiap tahap selalu menyerap panas, maka temperatur bagian
dalam tanur makin ke atas makin berkurang, sehingga saat mendekati saluran
pembuangan temperature mencapai 3000C. Jika ada uap air dalam udara yang
ditiupkan, temperatur menjadi sangat rendah. Dengan persamaan reaksi :
H2O + C CO + H2 ΔH = + x kkal
Reaksi ini berlangsung endoterm sehingga menyebabkan pemborosan bahan
bakar. Untuk menghindari hal ini udara yang dipanaskan dilewatkan pada silika
gel.
b. Reaksi dengan gas pada suhu rendah
Ketika campuran yang terdiri dari hematite, batu kapur, dan karbon
dijatuhkan ke dalam tanur tinggi, reaksi pertama yang terjadi adalah ferro oksida
direduksi menjadi oksida magnetic (feroso feri oksida) oleh karbon monoksida
pada temperatur 3000-5000 oC.
3Fe2O3 + CO ↔ 2Fe3O4 + CO2 (3000-5000C) ΔH = 8.80 kkal
Pada daerah feroso ferioksida direduksi menjadi ferioksida dan kemudian
menjadi besi.
Fe3O4 + CO ↔ 3FeO + CO2 (5000-7000C) ΔH = 8.80 kkal
FeO + CO ↔ Fe + CO2 (7000-9000C) ΔH = -3.84 kkal
Sehingga reaksi ferioksida menjadi besi oleh karbon monoksida
berlangsung sempurna sebelum pada daerah penyerapan panas. Jika titik leleh
besi lebih besar dari 10000C reaksi besi diperoleh dibagian spon. Hanya pada
bagian atas penyerapan panas, pada temperature 10000-12000C batu kapur terurai
menjadi kapur (CaO) dan CO2.
CaCO3CaO + CO2
Kapur CaO bereaksi dengan silika membentuk cairan kalsium silikat yang
disebut kerak.
CaO + SiO2 CaSiO3
Pada saat CaSiO3 memasuki dasar tanur, cairan tersebut menutupi cairan
besi dan senya
e) Hasil Pengolahan Besi
Berdasarkan kadar karbon dan unsur-unsur lain yang terdapat didalamnya,
besi dapat dibedakan menjadi:
1. Besi Tuang
Yaitu besi yang dihasilkan dari tanur tinggi. Sifat besi tuang antara lain:
a. Mengandung 3%-6% karbon serta sejumlah kecil silicon, mangan , fosfor, dan
belerang.
Besi yang dihasilkan tanur tembus masih mengandung zat pengotor seperti
karbon, silikon, belerang dan fosfor. Zat-zat pengotor ini penyebabkan besi ini
lebih getas. Komposisi besi tuang bervariasi bergantung pada sumbernya.

Unsur %
C 2,5 - 4,0
Si 0,6 - 3,5
S 0,04 - 0,1
P 0,04 - 2,5
(Achmad, 1992: 149).
b. Sangat keras tetapi rapuh.
c. Tidak dapat ditempa
d. Titik leleh rendah.
Berdasarkan sifat ini, besi tuang mudah digunakan pada alat-alat yang
dibuat dengan cetakan, seperti kaki mesin jahit, setrika, lumpang besi , dan
sebagainya. Karena titik lelehnya rendah maka mudah dicairkan dan dituangkan
ke dalam cetakan.
2. Besi Baja
Sifat besi baja antara lain:
a. mengandung 0.02%-1.5% karbon.
b. keras tetapi dapat ditempa
c. tahan korosi
jenis besi baja akan lebih dijelaskan pada pembahasan tentang baja.
3. Besi tempa
Sifat besi tempa, antara lain:
a. mengandung kurang dari 0.5% karbon.
b. kurang keras dan mudah ditempa.
Jenis besi ini banyak digunakan sebagai bahan baku untuk produk paku, kawat,
besi beton, dan sebagainya.
http://www.besi_baja.pdf
1. Besi Kasar (pig iron) atau Besi Gubal
Besi cair yang keluar dari dasar tanur disebut dengan besi kasar (pig iron).
Besi kasar mengandung 95% besi, 3-4% karbon, sisanya berupa fosfor, silikon
dan mangan.
Besi yang diperoleh dari tungku sembur disebut besi gubal (pig iron). Besi
cor dapat diperoleh dengan menuangkan besi gubal langsung ke cetakan dengan
bentuk yang diinginkan. Besi cor sangat keras dan rapuh dan hanya digunakan
jika tidak akan mengalami kejutan mekanik atau kejutan termal, seperti dalam
blok mesin, tromol rem, dan rumah komping dalam mesin mobil.
Reaksi yang terjadi dalam tungku sembur sangat rumit. Gambaran yang
sangat disederhanakan dan reaksi besi bijih menjadi besi tak murni ialah:
Fe2O3(s) + 3 CO (g) → 2 Fe (l) + 3 CO2 (g)
(Petrucci, Hardword dan Herring, 2011:192)
2. Besi Tuang (cast iron) atau Besi Cor
Jika pig iron dibuat menjadi bentuk cetakan maka disebut besi tuang atau
besi cor.
3. Besi Tempa (wrought iron)
Besi tempam mengandung kadar karbon yang cukup rendah (0,05 – 0,2%).
Besi tempa ini cukup lunak untuk dijadikan berbagai perlatan seperti sepatu kuda,
roda besi, baut, mur, golok, cangkul dan lain sebagainya
http://yunianggraeni.blogspot.com/2010/02/makalah-besi.html

f. Dalam industri, besi dihasilkan dari bijih, kebanyakan hematit (Fe2O3),


melalui reduksi oleh karbon pada suhu 20000C.

2 C + O2 → 2 CO
3 CO + Fe2O3 → 2 Fe + 3 CO2

Besi yang dihasilkan dapat digunakan dalam sintesis senyawa-senyawa yang


mengandung Fe.

g. Melalui proses Pirometalurgi Besi


Sejumlah besar proses metalurgi menggunakan suhu tinggi untuk
mengubah bijih logam menjadi logam bebas dengan cara reduksi. Penggunaan
kalor untuk proses reduksi disebut pirometalurgi. Pirometalurgi diterapkan
dalam pengolahan bijih besi. Reduksi besi oksida dilakukan dalam tanur sembur
(blast furnace), yang merupakan reaktor kimia dan beroperasi secara terus-
menerus. Campuran material (bijih besi, kokas, dan kapur) dimasukkan ke dalam
tanur melalui puncak tanur. Kokas berperan sebagai bahan bakar dan sebagai
reduktor. Batu kapur berfungsi sebagai sumber oksida untuk mengikat pengotor
yang bersifat asam. Udara panas yang mengandung oksigen disemburkan ke
dalam tanur dari bagian bawah untuk membakar kokas. Di dalam tanur, oksigen
bereaksi dengan kokas membentuk gas CO.
2C(s) + O2(g) → 2CO(g) ΔH = –221 kJ

2.1.13 SENYAWA SENYAWA BESI


a. Besi (II) klorida, FeCl2
Senyawa ini lembab-cair kuning kehijauan. Mempunyai kerapatan 3,16 gr
cm-3 dan titik leleh 670°C. Senyawa ini juga ada dalam bentuk hidrat : FeCl 2 . 2
H2O. Besi (II) klorida dapat dibuang dengan melewatkan seberkas hydrogen
klorida kering di atas logam yang dipanaskan, sedangkan bentuk hidrat dapat
dibuat dengan menggunakan HCl encer atau dengan mengkristalisasinya dengan
air.
Besi(II) klorida anhidrat, FeCl2 dapat dibuat dengan mengalirkan gas HCl
kering pada logam besi panas. Karena gas H2 yang dihasilkan bersifat reduktor,
maka oksidasi lanjut Fe(II) menjadi besi(III) dapat dicegah:
Fe (s) + 2 HCl (g) → FeCl2 (s) + H2 (g)
Besi(II) klorida anhidrat tak berwarna demikian juga tetrahidratnya,
tetapi heksahidratnya menjadi agak kehijauan. Baik besi(II) klorida anhidrat
maupun terhidrat, keduanya adalah ionik. Hal ini dapat diasosiasikan dengan
rendahnya densitas muatan besi(II) ( ∼ 98 C mm-3) yang jauh berbeda dengan
besi(III) (∼ 232 C mm-3). Semua garam besi(II) terhidrat mengandung ion
[Fe(H2O)6] 2+ yang berwarna pucat kehijauan , jika sebagian teroksidasi menjadi
besi(III) warna menjadi kuning kecoklatan. Kristal garam besi(II) sulfat
heptahidrat, FeSo4.7H2O, cendrung kehilangan beberapa molekul air (
efloresense). Dalam fase padat, garam rangkap amonium besi(II) sulfat
heksahidrat, [(NH4)2Fe(SO4)2.6H2O, atau lebih tepatnya amonium
heksaakuuobesi(II) sulfat, [(NH4)2Fe(H2O)6. [SO4] 2, atau disebut juga garam
Mohr, menunjukkan stabilitas kisi yang paling tinggi. Garam ini di udara terbuka
tidak mengalami efluoresense dan juga tidak teroksidasi, sehingga sering dipakai
sebagai larutan standar khususnya pada titrasi redoks, misalnya untuk
standarisasi larutan kalium permanganat. Garam tris (1,2-diaminoetana)besi(II)
sulfat, [Fe(en)3][SO4], juga dapat dipakai sebagai standar redoks.
Kehadiran nitrogen monoksida, NO, dapat menggantikan salah satu
molekul air dalam ion heksaaquobesi(II) menjadi pentaquonitrosilbesi(II) yang
berwarna coklat tua dan sering muncul sebagai “cincin coklat” pada uji ion
nitrat dalam tabung uji:
NO (aq) + [Fe(H2O)6] 2+ (aq) → [Fe(H2O)5(NO)] 2+ (aq) + H2O (l)
Cincin coklat
Penambahan ion hidroksida ke dalam larutan ion besi(II) pada awalnya
menghasilkan endapan gelatin hijau besi(II) hidrksida. Tetapi, hadirnya oksidator
misalnya dari udara, mengakibatkan terjadi perubahan warna menjadi kuning
coklat dari besi(III) oksida terhidrat menurut persamaan reaksi:
Fe2+ (aq) + 2 OH- (aq) → Fe(OH)2 (s)
Sama seperti ion besi(III) yang dapat diidentifikasi dengan ion
heksasianoferat(II), [Fe(CN)6] 4-, ion besi(II) juga dapat dideteksi dengan ion
heksasianoferat(III), [Fe(CN)6] 3-, dengan menghasilkan produk yang sama
dengan biru prusian (yang pada mulanya disebut biru Turnbull ketika diduga
merupakan produk berbeda):
3 Fe2+ (aq) + 4 [Fe(CN)6] 3- (aq) → Fe4[Fe(CN)6]3 (s) + 6 CN- (aq)
Harga potensial oksidasi besi(II) menjadi besi(III) sangat bergantung
pada ligannya. Sebagai contoh, ion heksasianoferat(II), [Fe(CN)6] 4-, jauh lebih
mudah teroksidasi daripada ion heksaquobesi(II), [Fe(H2O)6] 2+ :
[Fe(CN)6] 4- (aq) → [Fe(CN)6] 3- (aq) + e EO = -0,36 V
[Fe(H2O)6] 2+ (aq) → [Fe(H2O)6] 2+ (aq) +e EO= -0,77 V
Perbedaan potensial reduksi tersebut terutama berkaitan dengan muatan
ion, dan sifat spin ion besinya yang disebabkan oleh perbedaan kuat medan ligan
yang bersangkutan. Pada dasarnya ion logam bermuatan rendah lebih stabil
daripada ion bermuatan tinggi. Untuk ion komplek pertama, bola koordinasi
ligan menghasilkan muatan negatif yang terlalu besar (6CN-) di seputar ion pusat
besi(II) dan muatan total ion yang terlalu tinggi (-4) sehingga mengurangi
stabilitas muatan ion pusat. Tetapi, ligan siano menghasilkan medan ligan kuat,
sehingga ion komplek bersifat low-spin dengan energi penstabilan medan ligan
yang lebih besar dan konfigurasi elektronik yang relatif lebih simetri pada
[Fe(CN)6] 4- - d6 dibandingkan dengan kedua aspek tersebut pada pada
[Fe(CN)6] 3- d6. Dengan demikian, kompensasi kedua aspek ini kurang saling
mendukung untuk kestabilan kedua tingkat oksidasi dan akibatnya nilai potensial
reduksi ion kompleks ini agak rendah.
Hal ini berbeda dengan kompleks [Fe(H2O)6] 2+, pada kompleks ini bola
koordinasi ligan ini bersifat netral sehingga tidak mengganggu stabilitas muatan
ion pusat besi(II). Tambahan pula, bola koordinasi ligan air menghasilkan medan
ligan lemah sehingga ion kompleks bersifat hight-spin dengan energi penstabilan
medan ligan yang lebih besar pada [Fe(H2O)6]2+ - d6 dibandingkan dengan
energi tersebut pada [Fe(H2O)6] 3+ - d6. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
dalam kompleks ini, stabilitas besi(II) lebih tinggi secara signifikan dibandingkan
dengan besi(III) dan akibatnya mempunyai nilai potensial reduksi yang cukup
tinggi (Kristian,. H dan Retno, 2010: 284-286).

b. Besi (III) klorida, FeCl3


Berupa padatan coklat hitam yang mempunyai kerapatan 2,9 gr cm-3 dan
titik leleh 306°C. Senyawa ini dibuat dengan melewatkan klorin kering di atas
besi kawat atau baja wol. Pada awal reaksi, terjadi pijaran, kemudian menyublim
sebagai kerak hitam. Senyawa ini cepat terhidrolisis dalam udara lembab. Dalam
larutan, senyawa ini sebagian terhidrolisis, hidrolisis dapat dilekan dengan
menambahkan HCl. Senyawa ini larut dalam banyak pelarut organik, membentuk
larutan dengan daya hantar listrik yang rendah.
Ion besi(III) berukuran relatif kecil dengan rapatan muatan 349 C mm -3
untuk low-spin dan 232 C mm-3 untuk hight-spin, sehingga mempunyai daya
mempolarisasi yang cukup untuk menghasilkan ikatan berkarakter kovalen.
Sebagai contoh, besi(III) klorida berwarna merah–hitam, berupa padatan dengan
struktur jaringan kovalen. Pada pemanasan hingga fase gas terbentuk spesies
dimerik, Fe2Cl6. Besi(III) klorida dapat dibuat dari pemanasan langsung besi
dengan klorin menurut persamaan reaksi:
2 Fe (s) + 3 Cl2 (g ) → 3 FeCl (s)
Besi(III) klorida anhidrat bereaksi dengan air menghasilkan gas HCl
karena reaksinya bersifat eksotermik, kontras dengan padatan kuning keemasan
garam heksahidrat, FeCl3.6H2O, yang larut begitu saja dalam air menghasilkan
ion heksahidrat, [Fe(H2O)6] 3+:
FeCl (s) + 3 H2O (l) → Fe(OH)3 (s) + 3 HCl (g) + kalor
Ion heksaakuobesi(III), [Fe(H2O)6] 3+, berwarna agak ungu pucat, seperti
halnya warna besi(III) nitrat nanohidrat. Warna kekuningan untuk senyawa
kloridanya dapat dikaitkan dengan terjadinya trasfer muatan Fe 3+ ̅ Cl- → Fe 2+ ̅
Cl0 dalam ion [Fe(H2O)5Cl] 2+.
Semua garam besi(III) larut dalam air menghasilkan larutan asam. Rapatan
muatan kation yang relatif tinggi (232 C mm-3) mampu mempolarisasikan
molekul air ligan dengan cukup kuat, sehingga molekul air pelarut dapat
berfungsi sebagai basa dan memisahkan proton dari air ligan tersebut menurut
persamaan reaksi:
[Fe(H2O)6] 3+ (aq) + H2O (l) ↔ H3O+ (aq) + [Fe(H2O)5(OH)] 2+ (aq)
[Fe(H2O)5(OH)] 2+ (aq) + H2O (l) ↔ H3O+ (aq) + [Fe(H2O)4(OH)2] 2+ (aq)
Keseimbangn reaksi tersebut sangat bergantung pada Ph. Penambahan ion
hidronium tentu akan menggeser keseimbangan ke kiri, menghasilkan ion
[Fe(H2O)6] 3+ yang hampir tak berwarna . sebaliknya, penambahan ion
hidroksida akan menggeser keseimbangan ke kanan, menghasilkan larutan
kuning dan lebih lanjut endapan gelatin besi(III) oksida hidroksida, Fe(OH) yang
berwarna karat.
Walaupun biasanya spesies besi(III) mengadopsi geometri oktahedron,
tetapi ligan ion klorida dapat menghasilkan geometri tetrahedron ion
tetrakloroferat(III), [FeCl4)-. Ion kompleks ini berwarna kuning dan dapat
diisolasi dengan penambahan HCl pekat ke dalam larutan ion heksaakuobesi(III)
menurut persamaan reaksi:
[Fe(H2O)6] 3+ (aq) + 4 Cl- (aq) ↔ [FeCl4] - (aq) + 6 H2O (l)
Uji terhdap adanya ion besi(III) dapat dilakukan dengan penambahan
larutan ion heksasianoferat(II), [Fe(CN)6] 4-, yang menyebabkan terjadinya
endapan biru prusian besi(III) heksasianoferat(II), Fe4[Fe(CN)6] 3.
4 Fe 3+ (aq) + [Fe(CN)6] 4- (aq) → Fe4[Fe(CN)6] 3 (s)
Warna biru senyawa ini sering dimanfaatkan untuk pembuatan tinta, cat,
termasuk pigment cetak biru. Selain itu, uji paling sensitif adanya ion besi(III)
adalah dengan menambahkan larutan ion tiosianat ke dalam larutan Fe(III),
terjadinya warna merah darah oleh karena terbentuk ion
pentaaquotiosianatobesi(III), sebagai indikasi adanya ion Fe3+ dalam larutan.
[Fe(H2O)6] 3+ (aq) + SCN- (aq) → [Fe(H2O)5(SCN)] 2- (aq) + H2O (l)
Warna ini sangat khas dan mudah dikenali, sehingga hadirnya sekelumit
pengotor ion besi(III) dapat terdeteksi dengan ion tiosianat ini.
Reaksi ion besi(III) lainnya yang cukup unik adalah dengan larutan ion
tiosulfat dalam keadaan dingin (pada suhu es), menghasilkan warna violet gelap
ion bis(tiosulfato)feratIII):
[Fe(H2O)6] 3+ (aq) + 2 [S2O3] 2- (aq) → [Fe(S2O3)2] - (aq) + 6 H2O (l)
Jika larutan ini dihangatkan hingga temperatur kamar terjadi reaksi redoks:
Fe 3+ (aq) + [Fe(S2O3)2]- (aq) → 2 Fe 3+ (aq) + [S4O6] 2- (aq)
Ion heksasianoferat(III), [Fe(CN)6] 3-, berwarna agak kemerahan dan dapat
dibuat dari oksidasi heksasianoferat(II), [Fe(CN)6]4-, misalnya dengan Cl2.
(Kristian H.Sugiarto dan Retno D.Suryani, 2010: 281-283).
c. Besi (II) oksidasi, FeO
Berupa padatan hitam yang mempunyai kerapatan 5,7 gr cm-3 dan titik leleh
369°C. Senyawa ini dapat diperoleh dengan memanaskan besi (II) oksalat,
kemudian CO yang terbentuk menghasilkan lingkungan yang mencegahnya
teroksidasi menjadi besi (III) oksidasi. Senyawa ini mudah larut dalam asam
encer.
Oksidanya FeO bisa diperoleh sebagai serbuk hitam bersifat pirofor
dengan menyalakan FeII oksalat: biasanya nonstoikiometri Fe0,95O, berarti bahwa
ada beberapa FeIII . penambahan OH- kepada larutan ferri memberikan massa
gelatin coklat merah, umumnya disebut ferrihidroksida, tetapi diberikan sebagai
oksida hidrat Fe2O3.nH2O. Zat ini mempunyai beberapa bentuk , salah satu
FeO(OH) terdapat dalam mineral lepidocrocite, dan dapat dibuat dengan
hidrolisis ferriklorida pada suhu tinggi. Pemanasan pada suhu 200oC oksida
hidrat membentuk α-Fe2O3 coklat merah, yang terdapat sebagai mineral hematite
(Cotton dan Wilkinson, 2009: 462).
d. Besi (III) oksidasi, Fe2O3
Berupa padatan tak larut berwarna coklat merah sampai hitam. Mempunyai
kerapatan 5,24 gr cm-3 dan titik leleh 1565°C. Senyawa ini terdapat secara alami
sebagai hematite dan dapat dibuat dengan memanaskan besi (III) hidroksida atau
besi (III) sulfat. Senyawa ini mudah direduksi jika dipanaskan dengan karbonatau
dalam berkas CO, hydrogen atau gas batu bara.
Besi(III) oksida atau hematit terdapat dalam deposit yang besar di bawah
tanah dan deposit besi(III) oksida tertua diduga berumur dua bilion tahun. Oleh
karena besi(III) oksida hanya dapat terbentuk dalam oksigen atmosfer, maka
atmosfer planet bumi tertentu sangat kaya akan oksigen pada waktu itu. Besarnya
jumlah dioksigen menyarankan bahwa fotosentesis, dan dengan demikian
kehidupan itu sendiri, telah tersebar luas di bumi dua bilion tahun lalu.
Besi(III) oksida dapat dibuat dilaboratorium yaitu dengan memanaskan
(∼ 200o C) besi(III) oksida hidroksida, yang diperoleh dari penambahan ion
hidroksida pada ion Fe3+. Hasil yang diperoleh dengan cara in adalah α-Fe2O3
yang mempunyai struktur korundum seperti V2O3 dan Cr2O3, dengan tataan
kemas rapat heksagonal (hcp) ion-ion O2- dengan ion-ion Fe3+ menempati
duapertiga rongga oktahedron. Bentuk struktural yang lain adalah γ- Fe2O3, yang
dapat diperoleh dari oksidasi Fe3O4. Oksida ini mengadopsi tataan kemas rapat
kubus (ccp) ion-ion O2- dengan ion-ion Fe3+ terdistribusi secara random dalam
rongga-rongga tetrahedron dan oktahedron. Barangkali, senyawa kimia yang
paling mewarnai kehidupan modern dewasa ini adalah γ- Fe2O3. Senyawa ini
tepat memenuhi karakteristika magnetik yang diperlukan untuk bahan pita-pita
audio-video dan untuk permukaan hard disc dan floppy disc pada komputer.
Namun, untuk keperluan rekaman magnetik dibutuhksn keadaan yang ultra murni
dengan rentang ukuran partikel yang tepat
(Kristian H.Sugiarto dan Retno D.Suryani, 2010: 281-283).
e. Besi (III) sulfat, Fe2(SO4)3
Senyawa higroskopis berwarna kuning yang mempunyai kerapatan 3,097 gr
cm-3 dan mengurai di atas 480°C. Senyawa ini diperoleh dengan memanaskan
larutan berair Besi (II) sulfat yang diasamkan dengan hydrogen peroksida.
FeSO4 + H2SO4 + H2O2 Fe2(SO4)3 + 2 H2O

f. Tingkat oksidasi < 2

Umumnya membentuk senyawa-senyawa dengan ligan-ligan :


Berinteraksi dengan hidrogen dengan ikatan M-HContoh : H2Fe(PF3)4

g. T i n g k a t O k s i d a s i 2
Biasanya membentuk senyawaan biner dengan sifat :
 Biasanya bersifat ionik
 Oksidanya (contoh : FeO), bersifat basa
 Mampu membentuk kompleks Aquo, dengan jalan mereaksikan
logam,oksida, karbonat dalam larutan asam dan melalui reduksi katalitik.
Kompleks aquo dari logam besi biasanya memberikan warnayang khas.
 Garam-garam terhidrat dengan anion biasanya mengandung [M(H2O)6]2-,
contoh FeF2.8H2O.
h. Tingkat Oksidasi 3
Contoh senyawa klorida, bromida, iodida dari besi yang bersifat kovalen,
sedangkan senyawa oksidanya, seperti Fe2O3 bersifat ionic.
i. Tingkat Oksidasi 4
umumnya dikenal sebagai komplek fluoro, dananion okso.
j. Tingkat Oksidasi ≥5
Dikenal dalamkompleks flouro, amin okso, misalnya : CrF5, dan
K2FeO4yang semuanya merupakan zat pengoksidasi yang kuat.
 Besi sebagai katalis pada Proses Haber
Proses Haber menggabungkan nitrogen dan hidrogen ke dalam amonia.
Nitrogen berasal dari udara dan hidrogen sebagian besar diperoleh dari gas alam
(metan). Besi digunakan sebagai katalis.

 Ion besi sebagai katalis pada reaksi antara ion persulfat dan ion iodide
Reaksi antara ion persulfat (ion peroxodisulfat), S2O82-, dan ion iodida
dalam larutan dapat dikatalisis dengan ion besi(II) maupun ion besi(III).
Persamaan keseluruhan untuk reaksinya adalah:

Untuk penjelasannya, kita akan mengunakan katalis besi(II). Reaksi terjadi


dalam dua tahap.

Jika kamu menggunakan ion besi(III), reaksi kedua yang terjadi diatas akan
menjadi reaksi yang pertama.Besi merupakan sebuah contoh yang baik dalam hal
penggunaan senyawa logam transisi sebagai katalis karena kemampuan senyawa
logam transisi tersebut untuk mengubah tingkat oksidasi.

2.1.14 KOROSI
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi
menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang
atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat
dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan
tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi atau perkaratan sangat lazim terjadi pada besi. Besi merupakan
logam yang mudah berkarat. Karat besi merupakan zat yang dihasilkan pada
peristiwa korosi, yaitu berupa zat padat berwarna coklat kemerahan yang bersifat
rapuh serta berpori. Rumus kimia dari karat besi adalah Fe2O3.xH2O. Bila
dibiarkan, lama kelamaan besi akan habis menjadi karat.
Mekanisme korosi yang terjadi pada logam besi (Fe) dituliskan sebagai
berikut :
Fe (s) + H2O (l) + ½ O2 (g) → Fe(OH)2 (s) ...(1)
Fero hidroksida [Fe(OH)2] yang terjadi merupakan hasil sementara yang dapat
teroksidasi secara alami oleh air dan udara d menjadi feri hidroksida [Fe(OH)3],
sehingga mekanisme reaksi selanjutnya adalah :
4 Fe(OH)2 (s) + O2 (g) + 2 H2O (l) → 4 Fe(OH)3 (s) ..(2)
Ferri hidroksida yang terbentuk akan berubah menjadi Fe2O3 yang berwarna
merah kecoklatan yang biasakita sebut karat. Reaksinya adalah:
2 Fe(OH)3 → Fe2O3 + 3 H2O ...(3)
Korosi terjadi akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungannya. Salah satu
kondisi lingkungan yang sering menyebabkan terjadinya korosi pada besi adalah
air laut. Karena air laut merupakan larutan yang mengandung berbagai macam
garam. Jumlah garam dapat dinyatakan dengan salinitas yaitu jumlah bahan-
bahan padat yang terlarut dalam 1 kg air laut.
Karena banyaknya bahan-bahan padat yang terdapat dalam air laut maka akan
mempengaruhi laju korosi suatu bahan logam (Haryono, 2010. ISSN 1693 – 4393
:1-2).
Dampak dari peristiwa korosi bersifat sangat merugikan. Contoh nyata
adalah keroposnya jembatan, bodi mobil, ataupun berbagai konstruksi dari besi
lainnya.Siapa di antara kita tidak kecewa bila bodi mobil kesayangannya tahu-
tahu sudah keropos karena korosi. Pasti tidak ada. Karena itu, sangat penting bila
kita sedikit tahu tentang apa korosi itu, sehingga bisa diambil langkah-langkah
antisipasi.
Peristiwa korosi sendiri merupakan proses elektrokimia, yaitu proses
(perubahan / reaksi kimia) yang melibatkan adanya aliran listrik. Bagian tertentu
dari besi berlaku sebagai kutub negatif (elektroda negatif, anoda), sementara
bagian yang lain sebagai kutub positif (elektroda positif, katoda). Elektron
mengalir dari anoda ke katoda, sehingga terjadilah peristiwa korosi.
Ion besi (II)yang terbentuk pada anoda selanjutnya teroksidasi menjadi ion
besi (III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi (karat besi),
Fe2O3.xH2O.
Proses korosi logam dalam lingkungan basah (aqueous) berlangsung
secara elektrokimia, sehingga pada permukaan logam yang terkorosi terbentuk
daerah daerah yang bersifat anodik dan katodik. Sebagai contoh untuk logam
besi yang terkorosi dalam larutan air pada pH netral dan teraerasi reaksiselnya
sebagai berikut :
Anodik : Fe → Fe2+ + 2e (oksidasi)
Katodik : ½ 02 + H2O + 2 e → 2 OH- (reduksi )
Reaksi sel : Fe + ½ 02 + H2O → Fe2+ +2 OH-
Reaksi sel elektrokimia di atas mencakup semuaphenomena perpindahan
elektron pada antar muka logam - larutan elektrolit yang disebabkan oleh reaksi
oksidasi - reduksi, karenanya laju korosi dapat dinyatakan sebagai arus( elektron
/satuan waktu, coulomb/detik= ampere ) (Utami,. I, 2009. Vol.3, No.2 :241).
Dari reaksi terlihat bahwa korosi melibatkan adanya gas oksigen dan air.
Karena itu, besi yang disimpan dalam udara yang kering akan lebih awet bila
dibandingkan ditempat yang lembab. Korosi pada besi ternyata dipercepat oleh
beberapa faktor, seperti tingkat keasaman, kontak dengan elektrolit, kontak
dengan pengotor, kontak dengan logam lain yang kurang aktif (logam nikel,
timah, tembaga), serta keadaan logam besi itu sendiri (kerapatan atau kasar
halusnya permukaan).
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya
Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi. Cara-cara pencegahan
korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.
1. Pengecatan. Jembatan, pagar, dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan
kontak dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink (seng)
akan lebih baik, karena keduanya melindungi besi terhadap korosi.
2. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai
perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air.
3. Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan
keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan
udara dan air.
4. Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari
besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang
disebut tin plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi,
lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat).
Apabila lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru
mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi
besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan
timah akan membentuk suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode.
Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan tetapi hal ini justru
yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan Zink). Pipa besi, tiang telepon dan berbagai
barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat
melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal ini terjadi
karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh karena
potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak
dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode.
Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi
(berkarat). Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah digalvanisasi,
sehingga tahan karat.
6. Cromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat
dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap,
misalnya untuk bumper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan
elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan
sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.
7. Sacrificial Protection (pengorbanan anode). Magnesium adalah logam yang
jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam
magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat
tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam
dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus
diganti. http://kimia123sma.wordpress.com/2010/04/20/korosi-dan-cara-
pencegahannya/
8. Penambahan inhibitor
Inhibitor Anodik - adalah inhibitor yang menurunkan laju reaksi di anodik

dengan cara meningkatkan polarisasi anoda melalui reaksi dengan ion-ion

logam untuk menghasilkan selaput-selaput pasif tipis berupa lapisan-lapisan

garam yang kemudian menyelimuti permukaan logam. Inhibitor Katodik -

adalah inhibitor yang berpengaruh terhadap reaksi di katoda. Pembentukan

hidrogen di katoda akan dikendalikan melalui peningkatan polarisasi sistem.

Garam-garam logam seperti arsen, bismut, dan antimon ditambahkan dalam

kebutuhan ini, untuk membentuk selaput tipis hidrogen yang teradsorpsi pada

permukaan katoda (Bahri,.

2.1.15 KEGUNAAN BESI


Besi adalah yang paling banyak penggunaannya, yaitu sekitar 14 kali total
penggunaan semua logam lain. Hal ini didasarkan oleh :
2.1 Bijih relatif melimpah dan tersebar di beberapa tempat di penjuru dunia
2.2 Pengolahan besi relative mudah dan murah
2.3 Sifat-sifat mudah dimodifikasi
Kegunaan utama besi adalah untuk membuat baja yang biasa digunakan
untuk membuat mainan anak, perkakas dapur, industri kendaraan, konstruksi
bangunan, jembatan, maupun rel kereta api.
Besi merupakan logam paling biasa digunakan di antara semua logam, yaitu
merangkumi sebanyak 95 peratus daripada semua tan logam yang dihasilkan di
seluruh dunia. Gabungan harganya yang murah dengan kekuatannya menjadikan
ia amat diperlukan, terutamanya dalam penggunaan seperti kereta, badan
kapal bagikapal besar, dan komponen struktur bagi bangunan. Besi waja
merupakan aloi besi paling dikenali, dan sebahagian dari bentuk yang dibentuk
oleh besi termasuk:
 Besi mentah atau Pig iron yang mengandungi 4% – 5% karbon dengan
sejumlah bendasing seperti belerang, silikon dan fosforus. Kepentingannya
adalah ia merupakan perantaraan daripada bijih besi kepada besi tuang dan besi
waja.
 Besi tuang (Cast iron) mengandungi 2% – 3.5% karbon dan sejumlah
kecilmangan. Bendasing yang terdapat di dalam besi mentah yang dapat
memberikan kesan buruk kepada sifat bahan, seperti belerang dan fosforus,
telah dikurangkan kepada tahap boleh diterima. Ia mempunyai takat lebur pada
julat 1420–1470 K, yang lebih rendah berbanding dua komponen utamanya,
dan menjadikannya hasil pertama yang melebur apabila karbon dan besi
dipanaskan serentak. Sifat mekanikalnya berubah-ubah, bergantung kepada
bentuk karbon yang diterap ke dalam aloi. Besi tuang 'putih' mengandungi
karbon dalam bentuk cementite, atau besi karbida.
 Besi karbon mengandung antara 0.5% dan 1.5% karbon, dengan sejumlah kecil
mangan, belerang, fosforus, dan silikon.
 Besi tempa (Wrought iron) mengandung kurang daripada 0.5% karbon. Ia
keras, mudah lentur, dan tidak mudah dilakurkan berbanding dengan besi
mentah. Ia mempunyai sejumlah kecil karbon, beberapa persepuluh peratus.
Jika ditajamkan menjadi tirus, ia cepat kehilangan ketajamannya.
 Besi aloi (Alloy steel) mengandungi kandungan karbon yang berubah-ubah dan
juga logam-logam lain, seperti kromium, vanadium, molibdenum, nikel,
tungsten dsb.
 Besi oksida (III) digunakan dalam penghasilan storan magnetik dalam
komputer. Ia sering dicampurkan dengan bahan lain, dan mengekalkan ciri-ciri
mereka dalam larutan.
Manfaat besi ternyata sangat luar biasa banyaknya.Tidak terbatas sebagai
bahan pembuatan perlengkapan yang sangat membantu kehidupan manusia belaka
tetapi besi juga memainkan peranan yang istimewa dalam daur kehidupan
organisme hidup.
Besi merupakan salah satu mikronutrien penting bagi makhluk hidup.Besi
amat penting bagi semua organisme, kecuali bagi sebagian kecil golongan
bakteri.besi sebagian besar terikat dengan stabil dalam logam protein
(metalloprotein), karena besi dalam keadaan bebas dapat menyebabkan
terbentuknya radikal bebas yang bersifat toksik pada sel.
Tempe yang berbahan dasar kedele memungkinkan sebagai alternatif
makanan untuk difortifikasi dengan besi. Hal ini karena untuk pembentukan
kadar hemoglobin (merupakan penanda anemia defisiensi besi) tidak hanya
diperlukan zat besi saja tetapi juga protein. Tempe merupakan sumber protein
karena kandungan protein tempe cukup tinggi. Selain itu, protein tempe juga
tergolong mudah dicerna sehingga protein dapat dipergunakan untuk membentuk
hemoglobin bersama dengan besi atau senyawa lain (Astuti, M, 1996). Proses
pembentukan hemoglobin dalam sumsum tulang belakang juga memerlukan
vitamin B12, asam folat, protein, zat besi, Cu dan Zn semuanya terdapat dalam
tempe (Adnan M, Sudarmadji, 1997). Tempe merupakan sumber protein yang
banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia terutama di pedesaan sebagai
makanan sehari-hari untuk lauk (Astuti, dkk. 2012:104).
Zat besi (Fe) merupakan jenis mineral mikro esensial yang mempunyai
fungsi penting di dalam tubuh. Dibutuhkan dengan jumlah konsumsi sekitar 1.5-
2.2 mg per- harinya, zat besi mempunyai fungsi penting di dalam tubuh antara
lain sebagai media transportasi bagi oksigen dari paru-paru ke berbagai jaringan
tubuh serta juga akan berfungsi sebagai katalis dalam proses penpindahan energi
di dalam sel.
(http://massaidi.blogspot.com/2011/07/manfaat-zat-besi-bagitubuh.html)

2.2 BAJA
2.2.1 Pengertian Baja
Baja adalah logam paduan dengan besi sebagai unsur dasar dan karbon
sebagai unsur paduan utamanya. Kandungan karbon dalam baja berkisar antara
0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya.Fungsi karbon dalam baja adalah
sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal
(crystal lattice) atom besi. Unsur paduan lain yang biasa ditambahkan selain
karbon adalah mangan (manganese), krom (chromium), vanadium, dan tungsten.
Dengan memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai
jenis kualitas baja bisa didapatkan. Penambahan kandungan karbon pada baja
dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile
strength), namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta
menurunkan keuletannya (ductility).
Secara umum baja mempunyai komposisi lebih dari 90% adalah besi.
Semua baja mengandung suatu unsur kedua yaitu karbon. Banyak unsur-unsur
lain yangsengaja ditambahkan sebagai paduan dalam baja untuk mendapatkan
sifat yangbaru, tetapi karbon satu-satunya unsuryang ada dalam semua baja yang
takpernah tertinggalkan. Prosentase karbondidalam baja berkisar 0 – 2 %
tetapidipasaran kebanyakan baja mempunyaiantara 0,15–1 % C.
Baja salah satu material yangpenggunaannya paling luas, hal inimengingat baja
mempunyai kekuatantinggi, mampu dimesin dengan baik,mudah dibentuk, mudah
diperolehdipasaran dan harganya lebih murahdibandingkan material lain
yangmempunyai sifat fisis serupa. Sifat bajatergangtung dengan unsur yang
adadialamnya, disamping itu pula beberapabaja jenis tertentu sifatnya dapat
diubahmelalui proses perlakuan panas (Karmin, 2009. Vol,.1 No.2).
Unsur paduan lain yang biasa ditambahkan selain karbon adalah (titanium),
krom (chromium), nikel, vanadium, cobalt dan tungsten (wolfram). Dengan
memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis
kualitas baja bisa didapatkan. Penambahan kandungan karbon pada baja dapat
meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength),
namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan
keuletannya (ductility).
http://yefrichan.wordpress.com/2011/04/16/jenis-jenis-baja/

Baja adalah paduan logam yang tersusun dari besi sebagai unsur utama dan
karbon sebagai unsur penguat. Unsur karbon inilah yang banyak berperan dalam
peningkatan performan. Perlakuan panas dapat mengubah sifat baja dari lunak
seperti kawat menjadi keras seperti pisau. Penyebabnya adalah perlakuan panas
mengubah struktur mikro besi yang berubah-ubah dari susunan kristal berbentuk
kubik berpusat ruang menjadi kubik berpusat sisi atau heksagonal.
Bijih besi bertebaran hampir di seluruh permukaan Bumi dalam bentuk
oksida besi. Meskipun inti Bumi tersusun dari logam besi dan nikel, oksida besi
yang ada di permukaan Bumi tidak berasal darinya, melainkan dari meteor yang
jatuh ke Bumi.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pengertian-baja/

2.2.2 SEJARAH BAJA


Teknik peleburan logam telah ada sejak zaman Mesir kuno pada tahun 3000
SM. Bahkan pembuatan perhiasan dari besi telah ada pada zaman sebelumnya.
Proses pengerasan pada besi dengan heat treatment mulai diperkenalkan untuk
pembuatan senjata pada zaman Yunani 1000 SM.
Proses pemaduan yang dibuat mulai ada sejak abad 14 yang diklasifikasikan
sebagai besi tempa. Proses ini dilakkan dengan pemanasan sejumlah besar bijih
besi dan charchoal dalam tungku atau furnance. Dengan proses ini bijih besi
mengalami reduksi menjadi besi sponge metalik yang terisi oleh slag yang
merupakan campuran dari pengotor metalik dan abu charcoal. Spone iron ini
dipindahkan dari furnance pada saat masih bercahaya dan diselimuti oleh slag
yang tebal lalu slagnya dihilangkan untuk memperkuat besi. Pembuatan besi
meggunakan metode ini menghasilkan kandingan slag sekiar 3 persen dan 0,1
persen pengotor lain. Kadang kala hasil produksi dengan metode ini menghasilkan
baja bukannya besi tempa. Parapembuat besi belajar untuk membuat baja dengan
memanaskan besi tempa dan charcoal pada boks yang terbuat dar tanah liat
selama beberapa hari. Dengan proses ini besi akan menyerap cukup karbon untuk
menjadi baja sebenarnya.
Setelah abad ke 14 tungku atau furnance yang digunakan mulai mengalami
peningkatan ukuran dan draft yang digunakan untuk pembakaran gas melewati
“charge,” pada pencampuran material mentah. Pada tungku yang lebih besar ini,
bijih besi pada bagian bagian atas furnance akan direduksi pertama kali direduksi
menjadi besi metalik dan menghasilkan banyak karbon sebagai hasil dari serangan
gas yang dilewatinya. Hasil dari furnance ini adalah pig iron, yaitu paduan yang
meleleh pada temperatur rendah. Pig iron akan dproses lebih lanjut untuk
membuat baja.
Pembuatan baja modern menggunakan blast furnance yang juga digunakan
untuk memurniakan besi oleh pembuat besi yang lamapu. Proses pemurnian besi
cair dengan peledakan udara diakui oleh penemu Inggris Sir Henry Bessemer
yang mengembangkan Bessemer furnance, atau pengkonversi, pada tahun 1855.
Sejak tahun 1960 telah diproduksi baja dari besi bekas secara kecil-kecilan pada
furnance elektrik, sehingga dinamakan mini mills. Mini mills adalah komponen
yang sangat sangat penting bagi produksi baja Amerika. Mills yang lebih besar
digunakan pada produksi baja dari bijih besi.
http://shinqueena.wordpress.com/2009/06/07/baja-dan-proses-pembuatannya/
Sejarah penemuan baja diawali dengan penemuan besi pada tahun
sebelumnya. Dengan menggunakan kecerdasannya mereka membuat baja secara
sederhana.
 Tahun 400-500 SM, baja sudah ditemukan penggunaannya di Eropa
 Tahun 250 SM bangsa Indian menentukan cara membuat baja
 Tahun 1000 SM, baja dengan campuran unsure lain ditemukan pertama
kali pada 1000 SM pada kekaisaran Fatim yang disebut dengan baja
Damaskus
 1300 SM, rahasia pembuatan baja Damaskus hilang
 1700 M, baja kembali diteliti penggunaan dan pembuatannya di Eropa.
bijih besi antara lain :
•Hematite (Fe2O3)
- 70 % iron
•Magnetite ( Fe3O4)
- 72 % iron
•Limonite (Fe2O3 + H2O)
- 50 % to 66 % iron
•Siderite ( FeCO3)
- 48 % iron
http://www.scribd.com/doc/3024023/Sejarah-baja
2.2.3 SIFAT-SIFAT BAJA
A. Sifat Mekanik Baja
Sifat mekanik suatu bahan adalah kemampuan bahan untuk menahan
beban-beban yang dikenakan padanya. Beban-beban tersebut dapat berupa
beban tarik, tekan, bengkok, geser, puntir, atau beban kombinasi. Sifat-sifat
mekanik yang terpenting antara lain :
3. Kekuatan (strength) menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan
tanpa menyebabkan bahan tersebut menjadi patah. Kekuatan ini ada beberapa
macam, dan ini tergantung pada beban yang bekerja antara lain dapat dilihat
dari kekuatan tarik, kekuatan geser, kekuatan tekan, kekuatan puntir, dan
kekuatan bengkok.
4. Kekerasan (hardness) dapat didefenisikan sebagai kemampuan bahan untuk
bertahan terhadap goresen, pengikisan (abrasi), penetrasi. Sifat ini berkaitan
erat dengan sifat keausan (wear resistance). Dimana kekerasan ini juga
mempunyai korelasi dengan kekuatan.
5. Kekenyalan (elasticity) menyatakan kemampuan bahan untuk menerima
tegangan tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen
setelah tegangan dihilangkan. Kekenyalan juga menyatakan seberapa banyak
perubahan bentuk yang permanen mulai terjadi, dengan kata lain kekenyalan
menyatakan kemampuan bahan untuk kembali ke bentuk dan ukuran semula
setelah menerima beban yang menimbulkan deformasi.
6. Kekakuan (stiffness) menyatakan kemampuan bahan untuk menerima
tegangan/beban tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk
(deformasi) atau defleksi. Dalam beberapa hal kekakuan ini lebih penting
daripada kekuatan.
7. Plastisitas (plasticity) menyatakan kemampuan bahan untuk mengalami
sejumlah deformasi plastis yang permanen tanpa mengakibatkan terjadinya
kerusakan. Sifat ini sangat diperlukan bagi bahan yang akan diproses dengan
berbagai proses pembentukan seperti, forging, rolling, extruding dan
sebagainya. Sifat ini sering juga disebut sebagai keuletan/kekenyalan
(ductility).
8. Ketangguhan (toughness) menyatakan kemampuan bahan untuk menyerap
sejumlah energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga dapat
dikatakan sebagai ukuran banyaknya energiyang diperlukan untuk
mematahkan suatu benda kerja, pada suatu kondisi tertentu. Sifat ini
dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini sulit untuk diukur.
9. Kelelahan (fatigue) merupakan kecenderungan dari logam untuk patah apabila
menerima tegangan berulang-ulang (cyclic stress) yang besarnya masih jauh
dibawah batas kekuatan elastisitasnya. Sebagian besar dari kerusakan yang
terjadi pada komponen mesin disebabkan oleh kelelahan. Karenanya kelelahan
merupakan sifat yang sangat penting tetapi sifat ini juga sulit diukur karena
sangat banyak faktor yang mempengaruhinya.
10. Keretakan (creep) merupakan kecenderungan suatu logam mengalami
deformasi plastis yang besarnya merupakan fungsi waktu, pada saat bahan
tersebut menerima beban yang besarnya relatif tetap (Murtiono,. A, 2002.
Vol,.2 No2 :58).

2.2.4 KLASIFIKASI BAJA


a. Menurut Komposisi Kimianya
 Baja karbon (carbon steel)
Baja Karbon adalah paduan antara Fe dan C dengan kadar C sampai
2,14%. Sifat-sifat mekanik baja karbon tergantung dari kadar C yang
dikandungnya. Setiap baja termasuk baja karbon sebenarnya adalah paduan
multi komponen yang disamping Fe selalu mengandung unsur lain seperti Mn, Si,
P, N, H yang dapat mempengaruhi sifat-sifatnya. Baja merupakan logam yang
paling banyak digunakan dalam bidang teknik. Baja dalam pencetakannya
biasanya berbentuk plat, lembaran, batangan, pipa dan sebagainya. Baja Karbon
dapat diklasifikasikan berdasarkan kandungan karbonnya. Baja karbon terdiri
atas tiga macam yaitu, baja karbon rendah, sedang, dan tinggi (Ali,
dkk,.2014.Vol.20 No.1:30).

o Baja karbon rendah (low carbon steel)


- Kandungan karbon kurang dari 0,3 persen, yaitu 0,05 - 0,30 % C.
- Sifatnya mudah ditempa dan mudah di mesin.
- Dibuat dengan cold working, perendaman dalam larutan asam
Penggunaannya:
- 0,05 - 0,20 % C : automobile bodies, buildings, pipes, chains, rivets, screws,
nails.
- 0,20 - 0,30 % C : gears, shafts, bolts, forgings, bridges, buildings.
Baja karbon ringan adalah baja dengan kadarkarbon kurang dari 0,25%.
Dengan jumlah kadar karbonyang sedikit inilah baja ini disebut dengan baja
karbonringan. Baja ini sangat penting kaitannya dengankonstruksi bangunan,
sebab sebagian besar konstruksibangunan menggunakan baja karbon ringan
(mildsteel/low carbon steel). Dalam penggunaannya di bidangkontruksi baja ini
digunakan sebagai tulangan betonkhususnya pada begel atau pengikatnya (Bayu
Permadi, L. 2014.Vol,.2 No 2: 49).

o Baja karbon menengah


- Kekuatan lebih tinggi daripada baja karbon rendah.
- Kandungan karbon 0,3 – 0,6 %
- Prosesnya dengan heat treatmnent
- Sifatnya sulit untuk dibengkokkan, dilas, dipotong.
Penggunaan:
- 0,30 - 0,40 % C : connecting rods, crank pins, axles.
- 0,40 - 0,50 % C : car axles, crankshafts, rails, boilers, auger bits, screwdrivers.
- 0,50 - 0,60 % C : hammers dan sledges.

o Baja paduan tinggi (tool steel)


- Kandungan karbon 0,6 – 1,5 %
- Proses pembuatannya dengan giling panas.
- Sifatnya sulit dibengkokkan, dilas dan dipotong.
- Penggunaan pada mesin berat yang kuat, pelas, pegas dll

Berdasarkan tinggi rendahnya presentase karbon di dalam baja, baja


karbon diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Baja Karbon Rendah (Low Carbon Steel), mengandung karbon antara 0,10 s/d
0,30 %. Baja karbon ini dalam perdagangan dibuat dalam plat baja, baja strip
dan baja batangan atau profil.
2. Baja Karbon Menengah (Medium Carbon Steel), mengandung karbon antara
0,30% - 0,60% C. Baja karbon menengah ini banyak digunakan untuk
keperluan alatalat perkakas bagian mesin juga dapat digunakan untuk
berbagai keperluan seperti untuk keperluan industri kendaraan, roda gigi,
pegas dan sebagainya.
3. Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel) mengandung kadar karbon antara
0,60% - 1,7% C. Baja ini mempunyai tegangan tarik paling tinggi dan banyak
digunakan untuk material tools. Salah satu aplikasi dari baja ini adalah dalam
pembuatan kawat baja dan kabel baja. Berdasarkan jumlah karbon yang
terkandung didalam baja maka baja karbon ini banyak digunakan dalam
pembuatan pegas, alat-alat perkakas seperti: palu, gergaji atau pahat potong
(Murtiono,. A, 2002. Vol,.2 No2 :58).

 Baja Paduan (Alloy Steel)


Tujuan dilakukan penambahan unsur, yaitu :
- Untuk menaikkan sifat mekanik baja (kekerasan, keliatan, kekuatan tarik dan
sebagainya)
- Untuk menaikkan sifat mekanik pada temperatur rendah
- Untuk meningkatkan daya tahan terhadap reaksi kimia (oksidasi dan reduksi)
- Untuk membuat sifat-sifat spesial
- Baja paduan yang diklasifikasi menurut kadar karbonnya dibagi menjadi :
 Low allot steel, jika elemen paduannya 2,5%
 Medium alloy steel, jika elemen paduannya 2,5-10%
 High alloy steel, jika elemen paduannya >10%
Baja amutit termasuk pada baja paduan, yang mempunyai unsur-unsur
sebagai berikut: Carbon (C) 0,95 %, Mangan (Mn) 1,1%, Chrom (Cr) 0,5%,
Vanadium (V) 0,12%, Wolfram(W) 0,55%, Silikon (Si) 0,3% .Baja amutit ini
digunakan antara lain untuk:
1. Alat potong
2. Blanking
3. Punches
4. Milling Cutter
5. Die part
6. Roller die
7. Check plug
8. Gauge Blok
9. Angle Blok Plastick Moulding
10. Twist drill
11. Tap
12. Centre bits
13. Pins
14. Ejecting Mandrels
Karena termasuk kedalam baja paduan maka sifatnya sama dengan baja
paduan, secara umum yaitu:
1. Keuletan yang tinggi tanpa pengurangan kekuatan tarik
2. Kemampuan kekerasan sewaktu pencelupan dalam minyak atau udara dan
dengan demikian kemungkinan retak atau distorsinya kurang.
3. Tahan terhadap korosi dan kekerasan tergantung padajenis paduan
4. Tahan terhadap perubahan suhu, ini berarti sifat fisisnya tidak banyak berubah
5.Memiliki kelebihan dalam sifat metalurgi seperti butirnya yang halus
(Effendi,S,.2009. Vol,.1.No 1: 40).

b. Berdasarkan jumlah komponennya:


o Baja tiga komponen
Terdiri satu unsur pemadu dalam penambahan Fe dan C.
o Baja empat komponen atau lebih
Terdiri dua unsur atau lebih pemadu dalam penambahan Fe dan C. Sebagai
contoh baja paduan yang terdiri: 0,35% C, 1% Cr,3% Ni dan 1% Mo.
c. Berdasarkan strukturnya:
o Baja pearlit (sorbit dan troostit)
Unsur-unsur paduan relatif kecil maximum 5% Baja ini mampu dimesin,
sifat mekaniknya meningkat oleh heat treatment (hardening &tempering)
o Baja martensit
Unsur pemadunya lebih dari 5 %, sangat keras dan sukar dimesin
o Baja austenit
Terdiri dari 10 – 30% unsur pemadu tertentu (Ni, Mn atau CO) Misalnya :
Baja tahan karat (Stainless steel), nonmagnetic dan baja tahan panas (heat
resistant steel).
o Baja ferrit
Terdiri dari sejumlah besar unsur pemadu (Cr, W atau Si) tetapi karbonnya
rendah. Tidak dapat dikeraskan.
o Karbid atau ledeburit
Terdiri sejumlah karbon dan unsur-unsur pembentuk karbid (Cr, W, Mn, Ti,
Zr).
d. Menurut Penggunaannya
o Baja konstruksi (structural steel)
Dibedakan lagi menjadi tiga golongan tergantung persentase unsur
pemadunya, yaitu baja paduan rendah (maksimum 2 %), baja paduan menengah
(2- 5 %), baja paduan tinggi (lebih dari 5 %). Sesudah di-heat treatment baja jenis
ini sifat-sifat mekaniknya lebih baik dari pada baja karbon biasa.
o Baja perkakas (tool steel)
Dipakai untuk alat-alat potong, komposisinya tergantung bahan dan tebal
benda yang dipotong/disayat,kecepatan potong, suhu kerja. Baja paduan jenis ini
dibedakan lagi menjadi dua golongan, yaitu baja perkakas paduan rendah
(kekerasannya tak berubah hingga pada suhu 250 °C) dan baja perkakas paduan
tinggi (kekerasannya tak berubah hingga pada suhu 600°C). Biasanya terdiri dari
0,8% C, 18% W, 4% Cr, dan 1% V, atau terdiri dari 0,9% C, 9 W, 4% Cr dan 2-
2,5% .
e. Menurut Sifat Fisik dan Kimia Khusus
 Baja tahan garam (acid-resisting steel) mengandung 0,1-0,45% C dan 12-14%
Cr.
 Baja tahan panas (heat resistant steel) mengandung 12-14% Cr tahan hingga
suhu 750-800oC, sementara yang mengandung 15-17% Cr tahan hingga suhu
850-1000oC.
 Baja tanpa sisik (non scaling steel)
 Electric steel
 Magnetic steel
 Non magnetic steel
 Baja tahan pakai (wear resisting steel)
 Baja tahan karat/korosi
Dengan mengkombinasikan dua klasifikasi baja menurut kegunaan dan
komposisi kimia maka diperoleh lima kelompok baja yaitu :
1. Baja karbon konstruksi (carbon structural steel)
2. Baja karbon perkakas (carbon tool steel) Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh
baja perkakas adalah tahan pakai, tajam atau mudah diasah, tahan panas,
kuat dan ulet
3. Baju paduan konstruksi (alloyed structural steel)
4. Baju paduan perkakas (alloyed tool steel)
5. Baja konstruksi paduan tinggi (highly alloy structural steel)

Selain itu baja juga diklasifikasikan menurut kualitas :


o Baja kualitas biasa
o Baja kualitas baik
o Baja kualitas tinggi

2.2.4 EKSTRAKSI BAJA


Pembuatan baja
Pembuatan Tahapan proses adalah sebagai berikut.
1. Sekitar 70% lelehan besi gubal dari tanur tiup dan 30% besi/baja bekas
dimasukkan ke dalam tungku, bersama dengan batu kapur (CaCO3).
2. Selanjutnya, O2 murni dilewatkan melalui campuran lelehan logam. O2 akan
bereaksi dengan karbon (C) di dalam besi dan juga zat pengotor lainnya
seperti Si dan P, dan membentuk senyawa-senyawa oksida. Senyawa-senyawa
oksida ini kemudian direaksikan dengan CaO, yang berasal dari peruraian batu
kapur (CaCO3), membentuk terak, seperti CaSiO3 dan Ca3(PO4)2.

Kandungan C pada baja yang dihasilkan bervariasi dari ~0,2% sampai 1,5%.
Berdasarkan kadar C ini, kita mengenal tiga macam baja seperti yang
ditunjukkan tabel berikut.
Pembuatan Baja dari Besi Kasar
Besi kasar sebagai hasil dari dapur tinggi masih banyak mengandung unsure
unsur yang tidak cocok untuk bahan konstruksi, misalnya zat arang (karbon) yang
terlalu tinggi, fosfor, belerang, silisium dan sebagainya. Unsur-unsur ini harus
serendah mungkin dengan berbagai cara.
(http://industri06.blogspot.com/2009/11/macam-macam-pengolahan-besi-
dan logam.html )
Baja diproduksi di dalam dapur pengolahan baja dari besi kasar baik padat
maupun cair, besi bekas (skrap) dan beberapa paduan logam. Ada beberapa proses
pembuatan baja antara lain :
a. Proses konvertor
Terdiri dari satu tabung yang berbentuk bulat lonjong dengan menghadap ke
samping.
Sistem Kerja
 Dipanaskan dengan kokas sampai ± 1500°C
 Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja (± 1/8 dari volume
konvertor)
 Kembali ditegakkan
 Udara dengan tekanan 1,5 – 2 atm dihembuskan dari kompresor
 Setelah 20-25 menit konvertor dijungkirkan untuk mengeluarkan hasilnya
1. Proses Bassemer (asam)
Konvertor Bessemer adalah sebuah bejana baja dengan lapisan
batu tahan api yang bersifat asam. Dibagian atasnya terbuka sedangkan
pada bagian bawahnya terdapat sejumlah lubang-lubang untuk saluran
udara. Bejana ini dapat diguling-gulingkan.
Lapisan bagian dalam terbuat dari batu tahan api yang mengandung kwarsa
asam atau aksid asam (SiO2). Bahan yang diolah besi kasar kelabu cair, CaO tidak
ditambahkan sebab dapat bereaksi dengan SiO2.
SiO2 + CaO CaSiO3
Korvertor Bessemer diisi dengan besi kasar kelabu yang banyak
mengandung silisium. Silisium dan mangan terbakar pertama kali,
setelah itu baru zat arang yang terbakar. Pada saat udara mengalir
melalui besi kasar udara membakar zat arang dan campuran tambahan
sehingga isi dapur masih tetap dalam keadaan encer.
Setelah lebih kurang 20 menit, semua zat arang telah terbakar dan
terak yang terjadi dikeluarkan. Mengingat baja membutuhkan karbo
sebesar 0,0 sampai 1,7 %, maka pada waktu proses terlalu banyak yang
hilang terbakar, kekurangan itu harus ditambahy dalam bentuk besi
yang banyak mengandung karbon.
Dengan jalan ini kadar karbon ditingkatkan lagi. dari oksidasi besi
yang terbentuk dan mengandung zat asam dapat dikurangi dengan besi
yang mengandung m angan.
Udara masih dihembuskan ke dalam bejana tadi dengan maksud
untuk mendapatkan campuran yang baik. Kemudian terak dibuang lagi
dan selanjutnya muatan dituangkan ke dalam panci penuang. Pada
proses Bessemer menggunakan besi kasar dengan kandungan fosfor dan
belerang yang rendah tetapi kandungan fosfor dan belerang masih tetap
agak tinggi karena dalam prosesnya kedua unsur tersebut tidak terbakar
sama sekali.
Hasil dari konvertor Bessemer disebut baja Bessemer yang banyak
digunakan untuk bahan konstruksi. Proses Bessemer juga diseb ut proses
asam karena muatannya bersifat asam dan batu tahan apinya juga
bersifat asam. Apabila digunakan muatan yang bersifat basa lapisan
batu itu akan rusak akibat reaksi penggaraman.

2. Proses Thomas (basa)


Konvertor Thomas juga disebut konvertor basa dan prosesnya
adalah proses basa, sebab batu tahan apinya bersifat basa serta digunakan
untuk mengolah besi kasar yang bersifat basa. Muatan konvertor Thomas
adalah besi kasar putih yang banyak mengandung fosfor .
Lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bias atau dolomite
[kalsium karbonat dan magnesium (CaCO3 + MgCO3)]. Besi yang diolah besi
kasar putih yang mengandung p antara 1,7 – 2%, Mn 1 – 2% dan Si 0,6 – 0,8%.
Setelah unsure Mn dan Si terbakar, P membentuk oksida phosphor (P2O5), untuk
mengeluarkan besi cair ditambahkan zat kapur (CaO).
3 CaO + P2O5 Ca3(PO4)2 (Terak cair)
Proses pembakaran sama dengan proses pada konvertor Bessemer,
hanya saja pada proses Thomas fosfor terbakar setelah zat arangnya
terbakar. Pengaliran udara tidak terus -menerus dilakukan karena
besinya sendiri akan terbakar. Pencegahan pembakaran itu dilaku kan
dengan menganggap selesai prosesnya walaupun kandungan fosfor
masih tetap tinggi.
Guna mengikat fosfor yang terbentuk pada proses ini maka diberi
bahan tambahan batu kapur agar menjadi terak. Terak yang bersifat
basa ini dapat dimanfaatkan menjadi pup uk buatan yang dikenal dengan
nama pupuk fosfat. Hasil proses yang keluar dari konvertor Thomas
disebut baja Thomas yang biasa digunakan sebagai bah an konstruksi
dan pelat ketel.

b. Proses Siemens Martin


Menggunakan system regenerator (± 3000°C). Fungsi dari regenerator
adalah :
1. Memanaskan gas dan udara atau menambah temperature dapur
2. Sebagai fundamen / landasan dapur
3. Menghemat pemakaian tempat
Bisa digunakan baik besi kelabu maupun putih
 Besi kelabu dinding dalamnya dilapisi batu silica (SiO2)
 Besi putih dilapisi dengan batu dolomite (40% Mg CO3 + 60% CaCO3)
Dapur ini terdiri atas satu tungku untuk bahan yang dicairkan dan
biasanya menggunakan empat ruangan sebagai pemanas gas dan udara.
Pada proses ini digunakan muatan besi bekas yang dicampur dengan
besi kasar sehingga dapat menghasilkan baja dengan kualitas yang lebih
baik jika dibandingkan dengan baja Bessemer maupun Thomas.
Gas yang akan dibakar dengan udara untuk pembakaran dialirkan
ke dalam ruangan-ruangan melalui batu tahan api yang sudah
dipanaskan dengan temperatur 600 sampai 9000 C. dengan demikian
nyala apinya mempunyai suhu yang tinggi, kira -kira 18000 C. gas
pembakaran yang bergerak ke luar masih memberikan panas kedalam
ruang yang kedua, dengan menggunakan keran pengatur maka gas panas
dan udara pembakaran masuk ke dalam ruangan tersebut secara
bergantian dipanaskan dan didinginkan.
Bahan bakar yang digunakan adalah gas dapur tinggi, minyak yang
digaskan (stookolie) dan juga gas generator. Pada pembakaran zat arang
terjadi gas CO dan CO2 yang naik ke atas dan mengakibatkan cairannya
bergolak, dengan demikian akan terjadi hubungann yang erat antara api
dengan bahan muatan yang dimasukkan ke dapur tinggi. Bahan
tambahan akan bersenyawa dengan zat asam membentuk terak yang
menutup cairan tersebut sehingga melindungi cairan itu dari oksida
lebih lanjut.
Setelah proses berjalan selama 6 jam, terak dikeluarkan dengan
memiringkan dapur tersebut dan kemudian baja cair dapat dicerat. Hasil
akhir dari proses Martin disebut baja Martin. Baja ini bermut u baik
karena komposisinya dapat diatur dan ditentukan dengan teliti pada
proses yang berlangsung agak lama.
Lapisan dapur pada proses Martin dapat bersifat asam atau basa
tergantung dari besi kasarnya mengandung fosfor sedikit atau banyak.
Proses Martin asam teradi apabila mengolah besi kasar yang bersifat
asam atau mengandung fosfor rendah dan sebaliknya dikatakan proses
Martin basa apabila muatannya bersifat basa dan mengandung fosfor
yang tinggi.
c. Proses Basic Oxygen Furnace
 Logam cair dimasukkan ke ruang baker (dimiringkan lalu ditegakkan)
 Oksigen (± 1000) ditiupkan lewat oxygen lance ke ruang baker dengan
kecepatan tinggi [55m3 (99,5% O2) tiap satu ton muatan] dengan tekanan
1400 kN/m2
 Ditambahkan bubuk kapur (CaO) untuk menurunkan kadar P dan S
Keuntungan dari BOF adalah :
 BOF menggunakan O2 murni tanpa Nitrogen
 Proses hanya lebih kurang 50 menit
 Tidak perlu tuyer di bagian bawah
 Phosphor dan sulfur dapat terusir dulu dari pada karbon
 Biaya operasi murah

d. Proses Dapur Listrik


Temperature tinggi dengan menggunakan busur cahaya elektroda dan
induksi listrik
Keuntungan :
 Mudah mencapai temperature tinggi dalam waktu singkat
 Temperature dapat diatur
 Efisiensi termis dapur tinggi
 Cairan besi terlindungi dari kotoran dan pengaruh lingkungan sehingga
kualitasnya baik
 Kerugian akibat penguapan sangat kecil

e. Proses Dapur Kopel


Mengolah besi kasar kelabu dan besi bekas menjadi baja atau besi tuang.
 Pemanasan pendahuluan agar bebas dari uap air
 Bahan bakar (arang kayu dan kokas) dinyalakan selama ± 15 jam
 Kokas dan udara dihembuskan dengan kecepatan rendah hingga kokas
mencapai 700 – 800 mm dari dasar tungku
 Besi kasar dan baja bekas kira-kira 10 -15% ton/jam dimasukkan
 15 menit baja cair dikeluarkan dari lubang pengeluaran
Untuk membentuk terak dan menurunkan kadar P dan S ditambahkan batu kapur
(CaCO3) akan terurai menjadi :
CaCO3CaO + CO2
CO2 akan bereaksi dengan karbon
CO2 + C 2 CO
Gas CO yang dikeluarkan melalui cerobong, panasnya dapat dimanfaatkan untuk
pembangkit mesin-mesin lain.
f. Proses Dapur Cawan
 Proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan
besi kasar dalam cawan
 Kemudian dapur ditutup rapat
 Kemudian dimasukkan gas-gas panas yang memanaskan sekeliling
cawan dan muatan dalam cawan akan mencair
 Baja cair tersebut siap dituang untuk dijadikan baja-baja istimewa dengan
menambahkan unsure-unsur paduan yang diperlukan

Pembuatan baja
- Tahap pertama adalah bijih besi (iron ore) dan kokas (coke) dicampur dan
dipanaskan hingga menghasilkan sinter.
- Lalu sinter dan batu kapur (limestone) dicampur dan dimasukan ke blast
furnace dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai menghasilkan besi cair.
- Besi cair diatas lalu dicampur dengan besi dan baja bekas dan dilelehkan di
dalam electric Arc Furnace (EAF).
- Bahan – bahan non-logam yang tidak diinginkan ditekan kandungannya
dengan menambahkan bahan – bahan khusus.
- Reaksi kimia antara bahan khusus tersebut dengan unsur non-logam,
mengakibatkan keduanya melekat dan terangkat ke permukaan yang akhirnya
dibuang dinamakan mill scale.
- Setelah itu, besi cair dicampur dengan deoxidant untuk mengendalikan gas –
gas yang terlarut.
- Lalu dari furnace dituang ke ladle, untuk selanjutnya dituang kecetakan –
cetakan produk setengah jadi (slab, bloom, beam blank, dll).

Logam baja dihasilkan dari pengolahan lanjut besi kasar pada dapur
konventer, SiemensMartin atau dapur listrik, dimana hasil pengolahan dari
dapur tersebut menghasilkan bajakarbon. Pelat baja karbon tergantung pada
kadar karbon yang dikandungnya dapatdiklasifikasikan menjadi tiga golongan
yaitu baja karbon rendah (< 0,3% C), Baja karbonsedang kandungan karbon
0,30-0,59%, dan baja karbon tinggi (0,6-0,99%).Penggunaan baja dalam
perkembangan teknologi dan industri sebagai salah satu materialpenunjang
sangat besar peranannya. Salah satu contohnya yaitu penggunaan baja
padaindustri kapal, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak faktor yang
menyebabkandaya guna baja ini menurun. Salah satu penyebab hal tersebut
adalah terjadinya korosi padabaja

(http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/4363/8.20ASIS20dan
20P.zul20master.pdf?sequence=1)

Casting dan Forging


Pembuatan baja dengan system cetak langsung (casting) biasanya
dilakukan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, maksimal 30 – 50
ton.Penggunaan pun dalam praktiknya tidak banyak, hanya untuk penggunaan
khusus seperti untuk aksesoris dan peralatan M/E.Forging adalah pembuatan
material baja dengan menggunakan bloom atau billet sebagai bahan baku yang
dipanaskan sampai dalam kondisi austenite dan dibentuk dengan system tekanan
(press) mekanik sampai menjadi bentuk yang diinginkan. Contoh hasil forging ini
adalah pipa seamless.

Rolling
Dalam praktiknya rolling sangat luas digunakan, contohnya adalah dalam
produksi pelat yang terbuat dari bahan baku slab.Beam blank dan billet biasanya
digunakan untuk pembuatan profil – profil standar seperti siku, IWF, dan lain –
lain. Produk – produk setengah jadi biasanya di rolling pada kondisi austenite.
2.2.4 KOMPONEN- KOMPONEN BAJA
Berbagai alloy yang terutama terdiri dari besi dengan campuran karbon
sampai 1,7% dan dalam beberapa hal, sedikit unsure lain (baja alloy) seperti
mangan, silicon, kromium, molybdenum, dan nikel. Baja yang mengandung lebih
dari 11-12% kromium dikenal dengan nama “baja nikarat”.
Baja karbon ada dalam tiga fase kristalin mantap, yakni ferit (memiliki
kristal kubus pusat badan), austenit (mempunyai kristal kubus pusat muka), dan
sementit (mempunyai kristal ortorombus0. Pearlit adalah campuran ferit dengan
sementit yang tersusun dalam bidang-bidang sejajar. Diagram fase menunjukkan
bagaimana fase terbentuk pada suhu dan komposisi yang berbeda.

2.2.5 STRUKTUR BAJA


 Struktur Rangka
Kebanyakan konstruksi bangunan tipikal termasuk dalam kategori ini.
Bangunan berlantai banyak biasanya terdiri dari balok dan kolom yang
terhubungkan secara rigid atau hanya terhubung sederhana dengan penopang
diagonal untuk menjaga stabilitas. Meskipun suatu bangunan berlantai banyak
bersifat tiga dimensional, namun biasanya banguan tersebut didesain sedemikian
rupa sehingga lebih kaku pada salah satu arah ketimbang arah lainnya. Dengan
semikian, bangunan tersebut dapat diperlakukan sebagai serangkaian rangka
(frame) bidang. Meskipun demikian, bila perangkaan sedemikian rupa sehingga
perilaku batang-batangnya pada salah satu bidan cukup mempengaruhi perilaku
pada bidang lainnya. Rangka tersebut harus diperlakukan sebagai rangka ruang
tiga dimensi.
Bangunan-bangunan industrial dan bangunan-bangunan suatu lantai
tertentu, seperti gereja, sekolah, dan gelanggang, pada umumnya menggunakan
struktur rangka baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian saja. Khususnya
system atap yang mungkin terdiri dari serangkaian kerangka datar, kerangka
ruang, sebuah kubah atau mungkin pula bagian dari suatu rangka datar atau
rangka kaku satu lantai dengan pelana. Jembatan pun kebanyakan merupakan
struktur rangka, seperti balok dan gelagar pelat atau kerangka biasanya menerus.

 Struktur Tipe Cangkang


Dalam tipe struktur ini, selain melayani fungsi bangunan, kubah juga
bertindak sebagai penahan beban. Salah satu tipe yang umum di mana tegangan
utamanya berupa tarikan adalah bejana yang digunakan untuk menyimpan cairan
(baik untuk temperature tinggi maupun rendah), diantaranya yang paling terkenal
adalah tanki air. Bejana penyimpanan, tanki dan badan kapal merupakan contoh-
contoh lainnya. Pada banyak struktur dengan tipe cangkang, dapat digunakan pula
suatu struktur rangka yang dikombinasikan dengan cangkang.
Pada dinding-dinding dan atap datar, sementara berfungsi bersama dengan
sebuah kerangka kerja, elemen-elemen “kulit”nya dapat bersifat tekan. Contoh
pada badan pesawat terbang. Struktur tipe cangkang baisanya didesain oleh
seorang spesialis.

 Struktur Tipe Suspensi


Pada struktur dengan tipe suspensi, kabel tarik merupakan elemen-elemen
utama. Biasanya subsistem dari struktur ini terdiri dari struktur kerangka, seperti
rangka pengaku jembatan gantung. Karena elemen tarik ini terbukti paling efisien
dalam menahan beban, struktur dengan konsep ini semakin banyak dipergunakan.
Telah dibangun pula banyak struktur khusus dengan berbagai kombinasi
dari tipe rangka, cangkang, dan suspensi. Meskipun demikian, seorang desainer
spesialis dalam tipe cangkang ini pun pada dasarnya harus juga memahami desain
dan perilaku struktur rangka.

2.2.5 KEGUNAAN BAJA


Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya keberadaan baja diabaikan karena
banyak dilapisi bahan lain. Orang baru menyadarinya ketika menyentuh benda
dingin dan keras seperti lemari es, meja belajar, kursi dan tiang listrik. Data
menunjukkan contoh produk baja dalam berbagai bidang.
Pada bidang kontruksi dan tata kota, kekuatan baja yang dapat menyangga
beban berat digunakan untuk kerangka bangunan pencakar langit sampai
ketinggian 430 meter, seperti Petronas Twin Towers di Malaysia. Baja juga tahan
terhadap perpatahan sehingga dapat melindungi dari gangguan gempa.
Ratusan ton baja digunakan untuk pembangunan jembatan antarpulau
sampai berjarak lebih dari satu kilometer, seperti jembatan Kanmonbashi di
Jepang.
Jadi, baja telah menyatu dalam kehidupan manusia dan jadipenopang utama
seluruh aktifitas dalam proses produksi sehingga tidak dapat dipisahkan dari
masyarakat industri. Suatu bangsa tidak akan dapat membangun kekuatan industri
tanpa memiliki industri baja dan teknologinya. Penggunaan Baja Karbon Dalam
Teknik Pertanian

1. Baja karbon rendah/ low carbon steel/ mild stell :


 Kandungan C = 0.1 – 0.2%
Penggunaan untuk bahan konstruksi, seperti :
 Besi plat
 Besi strip
 Besi siku
 Besi beton, dll
 Kandungan C = 0.2 -0.3%
Digunakan untuk bahan pembuatan :
 Mur
 Baut
 Paku keling
 Baja tempa, dll
2. Baja karbon sedang/ medium steel :
 Kandungan C = 0.3 – 0.5%
Digunakan untuk bahan pembuatan :
 Pipa
 Kawat
 Baja tempa, dll
 Kandungan C = 0.5 – 0.7%
Digunakan untuk bahan pembuatan :
 Per (pegas)
 Tambang baja
 Kepala martil, dll
3. Baja karbon tinggi/ high carbon steel :
 Kandungan C = 0.7 – 0.9%
Digunakan untuk bahan pembuatan :
 Per (pegas)
 Mata pahat kayu
 Mata gergaji kayu
 Mata serutan kayu, dll
 Kandungan C = 0.9 – 1.1%
Digunakan untuk bahan pembuatan :
 Mata pahat besi
 Pelubang (pumcher)
 Tap
 Snei
 Bahan pembuat poros, dll
 Kandungan C = 1.1 – 1.4%
Digunakan untuk bahan pembuatan :
 Silet
 Gergaji besi

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Adapun simpulan yang didapat dari pembahasan diatas yaitu :
 Besi dan Baja sudah ditemukan dan digunakan ratusan tahun SM
 Pengolahan bijih besi untuk menghasilkan logam besi dilakukan melalui
tanur tiup (tanur tinggi). Disebut dengan istilah tanur tinggi karena proses
ini digunakan cerobong yang berukuran besar dan tinggi. Bahan baku utama
yang digunakan dalam proses ini adalah bijih besi
 Baja diproduksi di dalam dapur pengolahan baja dari besi kasar baik padat
maupun cair, besi bekas (skrap) dan beberapa paduan logam
 Kegunaan utama besi adalah untuk membuat baja yang biasa digunakan
untuk membuat mainan anak, perkakas dapur, industri kendaraan,
konstruksi bangunan, jembatan, maupun rel kereta api.
 Baja telah menyatu dalam kehidupan manusia dan jadi penopang utama
seluruh aktifitas dalam proses produksi sehingga tidak dapat dipisahkan dari
masyarakat industri. Suatu bangsa tidak akan dapat membangun kekuatan
industri tanpa memiliki industri baja dan teknologinya

B. Saran
Kami sebagai penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para
pembaca. Kami juga menyadari masih banyak kekurangan di dalam makalah yang
kami buat. Untuk itu kami mohon maaf apabila terjadi kesalahan maupun
kekurangan di dalam makalah ini. Sebagai bahan perbaikan kami meminta kritik
maupun saran kepada para pembaca agar menjadi pertimbangan dalam penulisan
makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar. Bandung : ITB.

Surdia, Tata & Shindroku Saito. 1999. Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta :
PT. Pradnya Paramita.

Syuaib, M. Faiz. 2006. Kuliah Perbengkelan Modul Penuntun. Bogor: IPB

staff.ui.ac.id/.../proses_pembuatan_besi_dan_baja.pdf

http://img.alibaba.com/photo/233416762/High_strength
[26 November 2009 ; 19.05 WIB]

http://id.wikipedia.org/wiki/Besi(III)_klorida

http://industri06.blogspot.com/2009/11/macam-macam-pengolahan-besi-

danlogam.html

http://metaltransition.wordpress.com/2009/11/30/proses-ekstraksi-besi-dan-

pembuatan-baja/

http://sariyusriati.wordpress.com/2008/10/27/pembuatan-besi/

http://sonyaza.blogspot.com/2010/12/perbedaan-besi-dan-baja.html

http://www.gurumuda.com/pemuaian

http://www.migasindonesia.com/index.php?module=article&sub=art

icle&act=view&id=4702

http://www.scribd.com/doc/9668091/Proses -Pembuatan-Besi-Dan-

Baja

http://www.steelindonesia.com/article/01komposisi_kimia_baja.htm

http://qboyciidreamer.blogspot.com/2012/03/artikel-tentang-besi.html