Anda di halaman 1dari 6

NAMA: NUR INAYAH BAKRI

NIM: 70600116025

MIKROBIOLOGI

1. Jelaskan patogenitas E.coli berdasarkan 5 grup nya!

Jawab :

a. ETEC (Enterotoxigenic Escherichia coli)

ETEC merupakan sebagian kecil dari spesies E. coli, yang sesuai dengan asal katanya,
menyebabkan sakit diare yang diderita oleh orang dari segala umur dari berbagai lokasi di dunia.
Organisme ini sering menyebabkan diare pada bayi di negara-negara kurang berkembang dan
pada para pengunjung dari negara-negara maju. Penyebab penyakit yang mirip dengan kolera ini
telah dikenali selama sekitar 20 tahun.

Gastroenteritis merupakan nama umum dari penyakit yang disebabkan oleh ETEC, walaupun
penyakit ini sering juga dijuluki travelers’ diarrhoea (diare pada orang yang melakukan
perjalanan).

Gejala klinis yang paling sering terjadi dalam kasus infeksi ETEC antara lain diare berair, kram
perut, demam ringan, mual, dan rasa tidak enak badan.

Dosis infektif—Penelitian pada sukarelawan mengindikasikan bahwa diperlukan dosis ETEC


yang relatif besar (100 juta hinggal 10 milyar bakteri) sehingga bakteri ini dapat membentuk
koloni di dalam usus halus, dapat berkembang biak dan dapat menghasilkan racun. Racun yang
dihasilkan bakteri ini merangsang sekresi cairan. Dengan dosis infektif yang tinggi, diare dapat
terjadi dalam 24 jam setelah infeksi. Untuk bayi, dosis infektif organisme ini mungkin lebih
sedikit

b. EPEC (Enteropathogenic Escherichia coli)

EPEC didefinisikan sebagai E. coli yang termasuk serogroup yang secara epidemiologi
merupakan patogen, tetapi mekanisme virulensinya (cara bakteri ini menimbulkan penyakit)
tidak terkait dengan ekskresi/dihasilkannya enterotoxin E. coli yang khas. Diare bayi ( Infantile
diarrhoea ) merupakan nama penyakit yang biasanya disebabkan oleh EPEC.

EPEC menyebabkan diare berair atau berdarah. Diare berair umumnya disebabkan oleh
perlekatan bakteri dan perubahan integritas usus secara fisik. Diare berdarah disebabkan oleh
perlekatan bakteri dan proses perusakan jaringan yang akut, mungkin disebabkan oleh racun
yang mirip dengan racun Shigella dysenteriae,yang disebut juga verotoxin. Dalam kebanyakan
strain-strain ini, racun yang mirip dengan racun Shigella tersebut lebih berkaitan dengan
keberadaan sel daripada ekskresi dari sel.
Dosis infektif — EPEC sangat mudah menginfeksi bayi dan dosis infektifnya diduga sangat
rendah. Dalam beberapa kasus penyakit pada orang dewasa, dosis infektifnya diduga mirip
dengan penghuni usus besar (colonizer) yang lain (total dosis lebih dari 106 ).

c. EIEC (Enteroinvasive Escherichia coli)

Tidak diketahui makanan apa saja yang mungkin menjadi sumber jenis-jenis EIEC
patogenik yang menyebabkan penyakit disentri (bacillary dysentery). Enteroinvasive E. coli
(EIEC)/ E. coli penyerang saluran pencernaan dapat menyebabkan penyakit yang dikenal
sebagai bacillary dysentery (disentri yang disebabkan oleh bakteri berbentuk batang). Jenis-jenis
EIEC yang menyebabkan penyakit ini berhubungan dekat dengan Shigella spp.

Setelah masuk ke dalam saluran pencernaan, organisme EIEC menyerang sel epithel (sel-sel
pada permukaan dinding usus bagian dalam), dan menimbulkan gejala disentri ringan, yang
sering salah didiagnosa sebagai disentri yang disebabkan oleh jenis Shigella . Penyakit ini
ditandai adanya lendir dan darah dalam kotoran individu yang terinfeksi. Dosis infektif – Dosis
infektif EIEC diduga hanya sekitar 10 organisme (sama dengan Shigella ).

d. EHEC (Enterohemorrhagic Escherichia coli)

EHEC berkaitan dengan konsumsi daging, buah, sayuran yang tercemar, khususnya di
negara berkembang. Pangan asal hewan yang sering terkait dengan wabah EHEC di Amerika
Serikat, Eropa, dan Kanada adalah daging sapi giling (ground beef). Selain itu, daging babi,
daging ayam, daging domba, dan susu segar (mentah).

Serotipe utama yang berkaitan dengan EHEC adalah E. coli O157:H7, yang pertama kali
dilaporkan sebagai penyebab wabah foodborne disease pada tahun 1982-1983. EHEC ini
menghasilkan Shiga-like toxins sehingga disebut pula sebagai Shiga Toxin Producing E. coli
(STEC). Shiga toxin ini mematikan sel vero, sehingga disebut pula Verotoxin-Producing E. coli
(VTEC). Bakteri ini umumnya tinggal di usus hewan, khususnya sapi, tanpa menimbulkan gejala
penyakit. Bakteri ini juga dapat diisolasi dari feses ayam, kambing, domba, babi, anjing, kucing,
dan sea gulls.

Infeksi EHEC sering menimbulkan diare berdarah yang parah dan kram bagian perut, namun
kadang tidak menimbulkan diare berdarah atau tanpa gejala sama sekali. Pada anak di bawah
umur 5 tahun dan orang tua sering menimbulkan komplikasi yang disebut Hemolytic Uremic
Syndrome (HUS), yang ditandai dengan rusaknya sel darah merah dan kegagalan ginjal. Kira-
kira 2-7% infeksi EHEC mengarah ke HUS. Di Amerika Serikat, anak-anak yang mengalami
kegagalan ginjal akut banyak disebabkan oleh HUS akibat EHEC. Infeksi EHEC ini dapat juga
menimbulkan kematian, khususnya pada anak-anak dan orang tua, berkaitan dengan timbulnya
Hemorrhagic Colitis (HC), HUS, dan thrombotic thrombocytopenic purpura.

e. EAEC (Enteroaggregative Escherichia coli)

EAEC telah ditemukan di beberapa negara di dunia ini. Transmisinya dapat food-borne
maupun water-borne. Patogenitas EAEC terjadi karena kuman melekat rapat-rapat pada bagian
mukosa intestinal sehingga menimbulkan gangguan. Mekanisme terjadinya diare yang
disebabkan oleh EAEC belum jelas diketahui, tetapi diperkirakan menghasilkan sitotoksin yang
menyebabkan terjadinya diare. Beberapa strain EAEC memiliki serotipe seperti EPEC. EAEC
menyebabkan diare berair pada anak-anak dan dapat berlanjut menjadi diare persisten. Masa
inkubasi diperkirakan kurang lebih 20 – 48 jam.

Sumber:
1a.http://download.portalgaruda.org/article.php?article=154633&val=3946&title=IDENTIFIKASI
%20Escherichia%20coli%20O157:H7%20DARI%20FESES%20AYAM%20DAN%20UJI%20PROFIL%2
0HEMOLISISNYA%20PADA%20MEDIA%20AGAR%20DARAH
1b. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico/article/view/18605/17685
1c. http://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/view/1917/613

2. Jelaskan secara lengkap pemeriksaan uji biokimia identifikasi bakteri sal monella (disertai gambar)!

Jawab :
a. Purple Broth base dengan 0,5% Dulcitol
Pindahkan 1 ose dari TSI ke dalam media dulcitol Broth. Kendurkan tutupnya dan
inkubasi selama 48 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C, tetapi amati setelah 24
jam. Pada umumnya Salmonella memberikan hasil positif, ditandai dengan
pembentukan gas dalam tabung durham dan pH asam (kuning) pada media.
Reaksi negatif ditandai dengan tidak terbentuknya gas pada tabung durham dan
warna ungu (bromocresol purple sebagai indikator) pada seluruh media.

b. Tryptone Broth (TB)

Pindahkan 1 ose dari TSI ke dalam media Tryptone Broth. Inkubasi selama 24 jam
pada suhu 35°C ± 1°C dan selanjutnya ikuti prosedur di bawah ini:

 Potasium Cyanida (KCN) Broth


Pindahkan 1 ose dari TB 24 jam kedalam media KCN Broth. Tutup tabung rapat-rapat
dan lapisi dengan kertas parafilm. Inkubasikan selama 48 jam ± 2 jam pada suhu
35°C ± 1°C tetapi amati setelah 24 jam. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya
pertumbuhan (ditandai dengan adanya kekeruhan). Umumnya Salmonella tidak
tumbuh pada media ini yang ditandai dengan tidak terjadinya kekeruhan.
 Malonate Broth
Pindahkan 1 ose dari TB 24 jam kedalam media Malonate Broth. Inkubasikan selama
48 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C, tetapi amati setelah 24 jam. Kadang-kadang
tabung Malonate Broth yang tidak diinokulasi berubah menjadi biru. Oleh karena itu
gunakan Malonate Broth sebagai kontrol. Reaksi positif ditandai dengan perubahan
warna menjadi biru. Umumnya Salmonella memberikan reaksi negatif (hijau atau
tidak ada perubahan warna) pada Broth ini.

 Uji Indol
Pindahkan 5 ml TB 24 jam kedalam tabung kosong dan tambahkan 0,2 ml – 0,3 ml
Reagent kovacs’. Kemudian Amati setelah penambahan Reagen. Reaksi positif ditandai
dengan terbentuknya cincin merah pada permukaan media. Umumnya Salmonella
memberikan reaksi negatif atau tidak terbentuk cincin merah .
Sumber:
2a. http://repository.unpad.ac.id/9775/

2b. http://www.rp2u.unsyiah.ac.id/index.php/welcome/9820/4

2c.
http://download.portalgaruda.org?article.php?article=393057&val=8608&titile=IDENTIFIKASI%2
0BAKTERI%20SALMONELLA%20SP%20DAN%20JUMLAH%20TOTAL%20KONTAMINAN%20BAKTE
RI%20COLIFORM%20PADA%20IKAN%20KEMBUNG%20%20(SCOMBER%20sp)%20YANG%20DIJU
AL%20DI%20PASAR%20INPRES%20DAN%20OEBA

3. jelaskan patogenitas infeksi jamur pada system GEH!

Jawab :
Jamur C. albicans adalah mikroorganisme endogen pada rongga mulut, traktus
gastrointestinal, traktus genitalia wanita dan terdapat juga pada kulit. Secara mikroskopis ciri-ciri
C. albicans adalah yeast dimorfik yang dapat tmbuh sebagai sel yeast, sel hifa atau
pseudohyphae. C. albicans dapat ditemukan 40- 80 % pada manusia normal, yang dapat sebagai
mikroorganisme komensal atau patogen. Infeksi C. albicans pada umumnya merupakan infeksi
opportunistik, dimana penyebab infeksinya dari flora normal host atau dari mikroorganisme
penghuni sementara ketika host mengalami kondisi immunocompromised. Dua faktor penting
pada infeksi opportunistik adalah adanya paparan agent penyebab dan kesempatan terjadinya
infeksi. Faktor predisposisi meliputi penurunan imunitas yang diperantarai oleh sel, perubahan
membran mukosa dan kulit serta adanya benda asing. Selain host mengalami kondisi
immunocompromised, C. albicans juga mengandung faktor virulensi yang dapat berkontribusi
terhadap kemampuannya untuk menyebabkan infeksi. Faktor virulensi utama meliputi;
permukaan molekul yang memungkinkan adheren organisme pada permukaan sel host, asam
protease dan fosfolipase yang terlibat dalam penetrasi dan kerusakan dinding sel, serta
kemampuan untuk berubah bentuk antara sel yeast dengan sel hifa. Infeksi Candida dapat
dikelompokkan menjadi tiga meliputi: candidiasis superfisial, candidiasis mukokutan dan
candidiasis sistemik. Infeksi candidiasis superfisial dapat mengenai mukosa, kulit dan kuku.
Candidiasis mukokutan melibatkan kulit dan mukosa rongga mulut atau mukosa vagina. Pada
candidiasis sistemik dapat melibatkan traktus respirasi bawah dan traktus urinary dengan
menyebabkan candidaemia. Lokasi yang sering pada endokardium, meninges, tulang, ginjal dan
mata. Penyebaran penyakit yang tidak diterapi dapat berakibat fatal.
Phenotypic switching merupakan bagian yang sangat penting pada jamur untuk
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan selama invasi pada host. Kemampuan untuk
menginfeksi beberapa jaringan sangat penting dalam keberhasilan invasi dan penyebaran pada
host. Kadangkadang beberapa subpopulasi sel C. Albicans dapat berubah secara morfologi, sifat
permukaan sel, gambaran koloni, sifat biokimia dan metabolisme untuk menjadi lebih virulen
dan lebih efektif selama infeksi. Koloni-koloni dapat berubah fenotif meliputi; halus, kasar,
berkerut, berumbai atau berbintik dengan frekuensi yang tinggi yaitu sekitar satu koloni berubah
per 10-10 koloni. Proses phenotypic switching secara molekuler, masih belum jelas,
kemungkinan karena rearrangement kromosom dan regulasi gen SIR2 (Silent Information
Regulator) dalam proses ini. Contoh yang paling umum pada perubahan koloni adalah koloni
berwarna putih berubah menjadi kusam. Koloni berwarna putih, berbentuk oval dan halus juga
dapat berubah menjadi koloni yang berwarna abu-abu dan kasar. Sel-sel yang berwarna kusam
menghasilkan SAP1 (Secrete Aspartyl Proteinase) dan SAP3 dan bersifat kurang virulen,
sedangkan sel- sel yang berwarna putih menghasilkan SAP2 dan lebih bersifat virulen selama
infeksi sistemik. Phenotypic switching kemungkinan besar merupakan sinyal proses perubahan
beberapa sifat molekuler dan biokimia pada patogen, yang berguna untuk pertahananan hidup
jamur dalam organisme host.
Kemampuan untuk berubah bentuk antara sel yeast uniseluler dengan sel berbentuk
filamen yang disebut hifa dan pseudohifa dikenal sebagai dimorfisme morfologi. Transisi
diantara bentuk morfologi yang berbeda ini merupakan respon terhadap rangsangan yang
beragam dan sangat penting bagi patogenisitas jamur.12 Morfologi dapat berubah mengikuti
berbagai kondisi lingkungan, termasuk respon terhadap suhu fisiologis 37 °C, pH sama atau
lebih tinggi dari 7, konsentrasi CO2 5,5 %, adanya serum atau sumber karbon yang merangsang
pertumbuhan hifa. Produksi bentuk uniseluler dirangsang oleh suhu yang lebih rendah dan pH
yang lebih asam, dan tidak adanya serum dan konsentrasi glukosa tidak tinggi. Sel yeast
dianggap bertanggung jawab untuk penyebaran ke dalam lingkungan dan menemukan host baru,
sedangkan hifa diperlukan untuk merusak jaringan dan invasi. Proses molekuler pada dimorfisme
morfologi C. albicans masih kurang jelas. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor
transkripsi Cph1p dan Efg1p diperlukan untuk membentuk hifa selama infeksi.
Perlekatan pada sel host dan jaringan sangat penting untuk C. Albicans dalam memulai
invasi, kemudian melakukan penyebaran ke dalam organisme host. Pada permukaan dinding sel
C. albicans terdapat reseptor yang bertanggung jawab untuk adhesi pada sel epitel dan endotel,
protein serum dan protein matriks ekstraseluler. Adhesi dan pembentukan biofilm saat ini
menjadi masalah serius dalam pengobatan, karena sering terjadi resistensi terhadap agen
antijamur dan peningkatan patogenisitas diantara sub-populasi dari sel-sel yang membentuk
biofilm. Selama pembentukan biofilm sekresi SAP lebih tinggi. Sel C. albicans membentuk
biofilm selalu terkait dengan matriks polisakarida yang mengandung residu mannosa dan
glukosa. Produksi matriks biofilm berperan sangat penting dalam resistensi obat pada biofilm C.
albicans, tetapi perkembangan resistensi dapat multifaktorial. Kemampuan Candida untuk
menginvasi pada lingkungan yang berbeda dalam organisme host merupakan hasil adaptasi
jamur. Selain itu karena adanya adhesin yang memfasilitasi perlekatan dengan permukaan sel
host, yang penting pada tahap pertama infeksi. Adhesin ini meliputi familia protein dan reseptor
permukaan sel lainnya yang kurang dikenal. Semua reseptor yang telah dikenal berhubungan
dengan dinding sel jamur.

sumber:

3a. https://jurnal.unej.ac.id/index.php/STOMA/article/download/2064/1670

3b. http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/jkss/article/download/8777/7584

3c. http://jurnal.ugm.ac.id/mkgi/article/download/15418/10333