Anda di halaman 1dari 14

4. Persamaan Maxwell Berubah Waktu dan Persamaan Gelombang

“I cannot give any clearer or briefer answer than the following: Maxwell’s theory is the system of Maxwell’s equations” -Heinrich Rudolph Hertz (1857-94)

4.1 Persamaan Maxwell Berubah Waktu

Bentuk umum dari persamaan Maxwell dalam bentuk differensial dapat

dinyatakan sebagai berikut

× E =

B

(1.a)

t

D

× =+

H

J

t

(1.b)

∇⋅ D

= ρ

(1.c)

∇⋅ B = 0

(1.d)

Jadi, persamaan Maxwell terdiri dari dua buah pusaran dan dua buah

divergensi medan. Pertama-tama akan diperjelas lagi pengertian operasi

pusaran dan divergensi ini. Gambar 1 berikut ini menggambarkan analogi

operasi pusaran dengan pengukuran rotasi aliran sungai.

4. Persamaan Maxwell Berubah Waktu dan Persamaan Gelombang “I cannot give any clearer or briefer answer
4. Persamaan Maxwell Berubah Waktu dan Persamaan Gelombang “I cannot give any clearer or briefer answer

Gambar 1. Pengukuran aliran sungai dengan sebuah curl-meter

Ditengah-tengah sungai, air mengalir berkecepatan maksimum. Kemudian kita

letakkan

curl meter” didalam sungai dan kita amati yang terjadi. Saat curl-

meter berada tepat ditengah-tengah sungai, maka tidak akan berputar karena

arus di sisi kiri dan di sisi kanan meter seimbang. Saat diletakkan di sisi

sebelah kiri, arus di sisi kanan meter lebih besar dari ayng di sebelah kiri

sehingga meter berputar berlawanan arah dengan jarum jam. Demikian pula,

jika meter diletakkan di sisi kana, meter akan berputar ke arah sebaliknya,

yakni searah putaran jarum jam.

Dari pengamatan ini bisa dilihat bahwa curl-meter mengindikasikan adanya

rotasi saat medan vektor tidak seragam. Kuantitas dari rotasi akan sebanding

dengan derajat ketidakhomogenan. Medan aliran. Adanya arah putaran

menunjukkan bahwa rotasi tidak cukup digambarkan dengan magnitudonya

saja, tetapi arah juga harus dinyatakan. Karena itu, rotasi adalah suatu besaran

vektor. Dengan demikian curl menggambarkan variasi medan. Tafsiran ini

hanya berkaitan dng satu komponen saja. Untuk medan EM, kita harus

membayangkan konsep ini pada 3-dimensi.

Disamping keempat buah persamaan Maxwell tersebut diatas, ada beberapa

relasi fundamental dalam EM yang harus dipahami, yakni:

Hukum Ohm:

Persm. Kontinyuita:

Hubungan konstitutif:

J = σ E

∇⋅ =−

J

ρ

t

D

=

ε

B

=

μ

E

H

(2)

(3)

(4)

Disini

ε = ε ε

0

r

(permitivitas),

ε

0

=

8.854

×

10

12

F/m

(permitivitas

(permeabilitas ruang hampa).

μ = μ μ

0

r

,

(permeabilitas)

dimana

ruang

hampa),

dan

μ

0

=

4π

×

10

7

H/m

Selanjutnya kita tinjau divergensi yang terdapat dalam dua persamaan terakhir

dari Maxwell. Divergensi menggambarkan rapat fluks dalam suatu elemen

volume, seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Untuk medan listrik, sumber

dapat ditafsirkan sebagai muatan listrik positif, sedangkan pembenam adalah

muatan listrik negatif. Dalam teori EM klasik, tidak ada sumber maupun

pembenam (monopol) magnetik. Keduanya selalu hadir berpasang-pasangan.

muatan listrik negatif. Dalam teori EM klasik, tidak ada sumber maupun pembenam (monopol) magnetik. Keduanya selalu

Gambar 2. Divergensi berkaitan dengan rapat fluks masuk/keluar dalam elemen volume

Semua fenomena elektromagnetik (pada skala makroskopik) dapat dijelaskan

dng persamaan Maxwell, persm. kontinyuitas dan persamaan gaya Lorentz. Kita

hanya menampilkan persamaan Maxwell dalam dalam bentuk differensial.

Sebenarnya terdapat bentuk integralnya pula, dan bentuknya akan menjadi:

∇⋅ D = ρ

D ds = Q

S

B

B

× = −⇒

E

t

E

C

d

t

=

S

ds

∇⋅ B =

0

B ds =

S

0

× H =+ J

D

S

J

D

C

H

d

t

t

=

+

ds

(5)

(6)

(7)

(8)

Persamaan Maxwell sebenarnya tidak saling bebas. Kedua buah persamaan

divergensi dapat diturunkan dari persamaan curl. Misalnya persamaan pusaran

medan listrik sbb:

× E =

B

t

[

∇⋅∇ ×== E0 − ∇⋅

t

B]

yang implikasinya adalah , yaitu persamaan divergensi dari fluks

∇⋅ B = 0

magnetik. Selanjutnya dengan menggunakan identitas vektor

∇⋅∇ × A 0

,

divergensi dari persamaan pusaran medan magnetic akan menjadi

[

∇⋅∇ × H = ∇⋅ J + ∇⋅

t

D

]

karena 0

=

ρ

+ ρ , maka implikasinya adalah D = ρ .

t

t

4.2 Persamaan Gelombang

Untuk setiap permasalahan dengan medan E, D, B, H maka akan ada 12 tak

diketahui. Dengan demikian pemecahannya akan memerlukan 12 persamaan

skalar. Persamaan Maxwell memberikan masing-masing 3 untuk kedua

persamaan curl dan 3 pula untuk persamaan konstitutif, dan ini suatu

pekerjaan yg tidak mudah. Jika kita bisa menentukan persamaan gelombang,

permasalahan ini bisa diselesaikan secara langsung.

Mula-mula klita ambil curl dari persamaan Maxwell yg pertama:

× × = × + ×

HJ

t

(

ε

E

)

= × +

J

ε

t

(

×

E

)

= × J +

∂∂ ⎛ ⎞

H

= × J

 

2

H

ε

μ

∂∂

t

t

⎟⎟

με

t

2

Dengan menggunakan aturan “bac-cab” untuk dua pusaran, maka di sisi kiri

kita dapatkan

∇×∇× H ≡∇ ∇⋅ H −∇ H

(

)

2

dan hasilnya akan berbentuk

2

H

2

H

με

t

2

= −∇ × J

(9)

Dengan cara yang sama, dari persamaan Maxwell yang kedua akan diperoleh

∇ −

E

2

με

2

E

μ

J

t

2

t

ε

=

+

ρ

(10)

Perhatikan bahwa kita mendapatkan persamaan gelombang (PDE orde 2) untuk

E dan H di sisi kiri dan sumber di sisi kanan. Kedua persamaan gelombang ini

ekivalen dengan persamaan Maxwell.

Kita tinjau kasus yang lebih sederhana, yakni daerah di dalam ruang hampa (σ

= 0), tanpa sumber (J = 0). Persamaan gelombang akan berubah menjadi bentuk

homogen:

2

∇ − με

E

2

E

t

2

2

∇ − με

H

2

H

t

2

= 0

(11)

= 0

(12)

Dalam bentuk komponen akan ada 6 buah persamaan, kita tinjau salah satunya,

misalnya komponen medan listrik pada arah sumbu-x E x (z,t), yakni

2

E

x

2 1 ∂ E x 22 vt ∂
2
1
E
x
22
vt

1

z

2

μ ε

0

0

−=

0

dimana

v

2

=

= c

  • 2 (13)

Persamaan gelombang mempunyai solusi berbentuk f(z-vt). Misalkan kita ambil

sin[β(z-vt)]. Diferensiasi dua kali dan substitusi balik ke persamaan gelombang

bentuk skalar menunjukkan solusi ini memenuhi syarat.

Solusi ini menyatakan gelombang berjalan ke arah +z, dengan kecepatan c. Dng

cara sama, f(z+vt) juga merupakan solusi. Ini adalah gelombang berjalan kearah

z. Jadi secara umum dapt dituliskan

E x
E
x

(

z t

,

)

x

f

(

vt

)(

y

)(

±±

vt

z

vt

)

(14)

Dalam prakteknya, kita pecahkan salah satu E atau H, lalu medan lain dicari

dengan persamaan curl.

Dalam prakteknya, kita pecahkan salah sa tu E atau H, lalu medan lain dicari dengan persamaan

Gambar 3. Gelombang merambat berbentuk f(z-vt) sebagai solusi persamaan gelombang

4.3 Syarat Batas

Persamaan Maxwell dalam bentuk diferensial memerlukan syarat batas untuk

menghasilkan solusi yang unik. Syarat batas ini (B/C-boundary conditions)

dapat diturunkan dengan meninjau bentuk integral persamaan Maxwell. Kita

berurusan dengan antarmuka dielektrik secara umum dan dua kasus khusus.

Pertama-tama tinjau kasus umum. Agar menjadi sederhana, tinjau batas

medium yang datar.

Dalam prakteknya, kita pecahkan salah sa tu E atau H, lalu medan lain dicari dengan persamaan

Gambar 4. Ilustrasi daerah di perbatasan untuk analisis B/C

Untuk kasus umum pada perbatasan yang datar, diperlukan kondisi-kondisi

berikut ini untuk B maupun E

Gambar 5. Syarat batas berupa kontinyuitas medan E dan medan B di perbatasan dan ekspresi matematikanya

Gambar 5. Syarat batas berupa kontinyuitas medan E dan medan B di perbatasan dan ekspresi matematikanya

Selanjutnya, ada dua kasus berbeda berkaitan dengan sifat rugi-rugi medium.

Yang pertama adalah medium dielektrik tanpa rugi-rugi sedangkan yang kedua

adalah medium dengan rugi-rugi. Kasus yang pertama dapat dilukiskan sebagai

berikut

Gambar 5. Syarat batas berupa kontinyuitas medan E dan medan B di perbatasan dan ekspresi matematikanya

Gambar 6. Syarat batas pada medium dielektrik tanpa rugi-rugi

Sehingga diperoleh syarat-syarat sebagai berikut

o

E t1 = E t2

: medan E tangensial kontinyu

o

H t1 = H t2

: medan H tangensial kontinyu (tanpa arus)

o

D

n1 =D n2

: medan D normal kontinyu (tanpa muatan)

o

BB n1 =B n2

: medan B normal kontinyu

dimana subscript n berarti komponen normal atau tegak lurus, sedangkan t

adalah komponen tangensial. Indeks 1 dan 2 menandakan medium ke-1 atau

medium ke-2.

Untuk konduktor sempurna, syarat batas akan berubah seperti pada gambar

berikut ini

Untuk konduktor sempurna, syarat batas akan berubah seperti pada gambar berikut ini Gambar 7. Syarat batas

Gambar 7. Syarat batas pada konduktor sempurna

Dan diperoleh kondisi berikut ini

o

E t1 = 0

: Medan listrik tangensial pd konduktor = nol.

o

n × H 1 =J 1

: Medan H tak-kontinyu karena arus permukaan

o

n . D 1 = ρ

: Medan D(E) normal tak kontnyu krn muatan pmkaan

o

B n1 = 0

: Medan B(H) normal nol pada konduktor.

4.4 Fungsi Potensial

Permasalahan didalam medan EM dapat terbantuk dengan diperkenalkannya

fungsi potensial. Namun demikian ada beberapa keuntungan dan kerugian

dalam penggunaan fungsi ini. Keuntunganya adalah, potensial dapat men-

decouple kedua persamaan Maxwell, lebih mudah menangani masalah sumber

secara intuitif dan memudahkan konstruksi solusi gelombang TE/TM. Adapun

kerugiannya adalah akana da dua kuantitas EM yang harus ditangani, ketidak-

unikan potensial dan hanya dianggap sebagai kuantitas matematik bukannya

kuantitas fisik. Namun demikian, pernyataan terakhir ini belakangan telah

dibantah oleh eksperimen-eksperimen Akira Tonomura dari RIKEN Jepang.

Hubungan sumber, medan dan potensial dapat digambarkan kedalam diagram

pada Gambar 8.

Gambar 8. Hubungan potensial dengan sumber, medan dan operasi diferensial/integralnya Persamaan Maxwell dapat diformulasikan kedalam potensial.

Gambar 8. Hubungan potensial dengan sumber, medan dan operasi diferensial/integralnya

Persamaan Maxwell dapat diformulasikan kedalam potensial. Pertama-tama

kita tinjau divergensi fluks magnetik:

r ∇⋅ B = 0

atau

r ∇⋅ H = 0

karena

∇⋅ ∇× A = 0

(

r

)

maka kita bisa menuliskan

r r B = ∇ × A

. Maka dpersamaan

Maxwell pusaran medan listrik akan menjdai

B

× E = =

t

(

∂ ∇ ×

A

)

t

(15)

Dari persamaan ini bisa ditafsirkan bahwa

r

∇ ×+

E

r

A

t

= 0

. Akan tetapi, jika

dipakai × φ = 0 yang juga bisa dituliskan sebagai ×(−∇φ ) = 0 , maka akan

diperoleh

r

E

r

A

+ = −∇

t

φ

, atau

r

E

φ

= −∇ −

r

A

t

(16)

Hasil elektrostatika akan diperoleh jika suku keduanya sama dengan nol.

Untuk medan berubah-waktu, E bergantung pd A dan φ, tetapi untuk frekuensi

rendah bisa dicoba hasil kuasi-statik, yaitu:

 

φ =

1

4

πε

0

V

ρ

(

r

R

)

dV

dan

(17)

 

 

=

μ

0

4

π

V

J

(

r

)

 

A

R

dV

 

(18)

dengan

Rrr

=

  • .

 

Solusi

ini

mengabaikan

efek

retardasi-waktu

akibat

perambatan gelombang.

Selanjutnya kita menentukan persamaan yang dipenuhi oleh A dan φ. Ktia

mulai dari hubungan medan dengan potensial yang telah kita ketahui

B

= ×

A

E = −∇ φ

⎩ ⎪

A

t

(19)

Selanjutnya, dari persamaan Maxwell pusaran medan magnet

D

× H =+ J

t

kita substitusikan potensial dan diperoleh

1

A

μ

t

t

× ×=+ ε

A

J

⎜−∇

φ

dengan identitas vektor (aturan “bac-cab”) didapatkan

(

)

2

φ

2

A

∇ ∇⋅ −∇ = −∇ −

A

AJ

μ

με

t

t

2

με

∇ −

A

2

με

2

A

φ

t

2

⎟⎟

∂ ⎠

t

= + ∇ ∇⋅ +

μ

JA

με

(20)

Menyamakan suku kedua ruas kanan persamaan terakhir dengan nol akan

menghasilkan persamaan gelombang untuk A. Kita ingat bahwa Lorentz

menghubungkan potensial skalar dan vektor dan juga persamaan penghubung.

Artinya kita hanya perlu menentukan salah satu solusi untuk A atau φ saja,

tidak perlu keduanya. Dengan menggunakan Lorentz gauge

∇⋅ +

A

με

φ

t

=

0

(Lorentz)

(21)

akan diperoleh persamaan gelombang tak homogen dalam A

∇ −

A

2

2

A

με

t

2

=

μ

J

(22)

Persamaan gelombang dalam φ dapat diperoleh dengan substitusi potensial φ

kedalam persamaan Maxwell bagian divergensi fluks listrik

∇⋅ D = ρ

ε

⎜−∇

φ

A

t

= ρ ∇⋅∇ φ +

∂ ∇⋅ A

(

)

ρ

=

t

ε

dengan Lorentz gauge diperoleh persamaan gelombang takhomogen dalam φ

∇ −

2

φ με

2

φ

= ρ

t

2

ε

4.5 Medan Harmonik Waktu

(23)

Untuk gelombang sinusoid berbentuk exp{jωt}, yaitu bentuk fasor, kita dapat

Artinya kita hanya perlu menentukan salah satu solusi untuk A atau φ saja, tidak perlu keduanya.

melakukan substitusi t j ω , seperti telah dijelaskan dalam pembahasan

r

Artinya kita hanya perlu menentukan salah satu solusi untuk A atau φ saja, tidak perlu keduanya.

sebelumnya. Jadi, suku berbentuk H t

akan berubah menjadi

r

j

He

ω

j

t

ω

. Bagian

exp{jωt} dihapus dan implisit di dalam persamaan. Bentuk sesaat waktu dapat

diperoleh kembali dng menyisipkan eksponensial waktu-kompleks tsb. Dengan

demikian, persamaan Maxwell bentuk harmonik akan berbentuk

(24.a)

× E = jωμ H

(24.b)

×=+

H

J

jE

ωε

∇⋅ E = ρ ε

∇⋅ E = ρ ε

(24.c)

H = 0

(24.d)

Perlu diingat bahwa kita sedang menangani frekuensi tunggal. Dikatakan

bahwa konvensi

waktunya adalah exp{jωt}. Dari bentuk ini dapat diperoleh persamaan

gelombang, atau persamaan Helmholtz berikut ini

⎧ 2 2 ⎪∇ φφρ + k = − ⎪⎪ ⎨ ε (25) ⎪ 2 2
2
2
⎪∇ φφρ
+
k
= −
⎪⎪
ε
(25)
2
2
A
+
kA
= − μ
J
⎪⎩
dimana
k = ω με = ω v
adalah bilangan gelombang dengan v p kecepatan fasa.
p

Gambar 9. Geometri solusi persamaan Helmholtz

Persamaan Helmholtz tersebut memiliki solusi bentuk potensial berikut

φ

(

r

)

=

1

4

πε

V

ρ

(

r

)

e

jkR

R

dV

(

A r

) =

μ

4

π

V

J

(

r

)

e

jkR

R

dV

(26.a)

(26.b)

Dengan geometri seperti dilikiskan pada Gambar 9. Bagi bentuk potensial,

permasalahannya dinyatakan sebagai: “diberikan ρ atau J, tentukan φ atau A”.

Lalu kita gunakan

r

H

r

1

r

r

A

= ∇ ×

μ

t

AE

dan

= −∇ −

φ

untuk mencari E dan H.

Biasanya kita bekerja dng A (arus), alih-alih φ (muatan). Gunakan Lorentz utk

menyatakan E dalam A saja.

 

∇⋅ A +

E

=

j

με ωφ

j

=

0

A

ω +

1

j

ωμε

∇∇⋅

A

φ

=

−∇⋅

A

j

ωμε

Untuk medium tanpa rugi-rugi dan tanpa arus bebas, kita memiliki

×=

H

jEJ

ωε +

(27)

pada ruas kanan, suku pertama menunjukkan arus perpindahan sedangkan

suku kedua menunjukkan arus bebas yang pada dielektrik sempurna bernilai

nol. Tetapi jika mediumnya menghantar, σ ≠0, sehingga arus sebesar J=σE akan

mengalir sehingga

rr

σ

r

r

∇× =

H

dimana

(

+

j

σ ωε

)

Ej

=

ω ε

+

j

ω

Ej

=

ωε

c

E

(28)

ε

c

ε j σ

= −

 

(29)

 

ω

adalah suatu tetapan dielektrik kompleks.

 

Kita telah tafsirkan rugi-rugi menurut konduktivitas. Sebenarnya kita juga

bisamenuliskan-nya juga sbg rugi-rugi dielektrik. Dalam pengukuran, kita tdk

bisa membedakan antara rugi-rugi konduksi dng rugi-rugi dielektrik. Jadi ada

sudut pandang lain bahwa

 

εε = ′ − jε ′′

c

 

(30)

Untuk rugi-rugi dielektrik, biasanya kita definisikan rugi-rugi tangen (tan δ)

tan

δ

ε ′′

ε

(loss tangent)

(31)

Kedua bagian imajiner bisa kita hubungkan (menyatakan rugi-rugi) dengan

konduktivitas ekivalen σ ω

= ε ′′

. Perhatikan pula bahwa gelombang merambat

melalui medium (dng rugi-rugi) haruslah memiliki bilangan gelombang bernilai

kompleks. Impedansi karakteristiknya tentu kompleks juga

k = ω με = ω μ ε ′ − jε ′′

c
c
( )
(
)

(32)

Demikian pula, rugi-rugi magnetik bisa dinyatakan kedalam μ yang bernilai

kompleks.