Anda di halaman 1dari 30

Laboratorium Satuan Operasi 2

Semester V 2018/2019

LAPORAN PRAKTIKUM

Pembimbing : Ir. Hatamin Murdiningsih, M.T


Kelompok : II (Dua)
Tanggal Praktikum : 10 September 2018

Nama Anggota Kelompok :


1. Ahmad Mujahid (331 16 003)
2. Nur Hikma (331 15 008)
3. Zulfahmi (331 16 013)
4. Jihan Nur Salsabila (331 15 014)
5. Masyitha (331 14 0)

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2018
I. TUJUAN PERCOBAAN
 Memisahkan komponen-komponen dari campuran etanol-air
 Menghitung komposisi umpan, residu, dan destilat

II. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
 Alat destilasi Single (system batch)
 Piknometer
 Labu semprot
 Gelas kimia 100 ml, 600 ml, dan 1000 ml
 Gelas ukur plastic 2000 ml
 Gelas ukur
 Erlenmeyer 50 ml
 Pipet ukur 25 ml
 Bola isap
 Timbangan analitik
 Baskom

B. Bahan :
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
 Etanol
 Aquadest
III. DASAR TEORI
A. Sejarah
Destilasi pertama kali dikemukakan oleh kimiawan Yunani sekitar abad
pertama masehi yang akhirnya perkembangan dipicu terutama oleh tingginya
permintaan akan spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan
rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil
menggambarkan secara akurat tentang proses destilasi pada sekitar abad ke-4.
Bentuk modern distilasi pertama kali dikemukakan oleh ahli-ahli kimia islam pada
masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alcohol
menjadi senyawa yang relative murni melalui alat alembic, bahkan desain ini
menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro,
The Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan oleh Abu Jabur Ibnu Hayyan (721-
815) yang leb ih dikenak dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang
dapat terbakar.

B. Pengertian Destilasi

Destilasi adalah unit operasi yang sudah ratusan tahun diaplikasikan secara
luas. Di sperempat abad pertama dari abad ke-20 ini, aplikasi unit distilasi
berkembang pesat dari yang hanya terbatas pada upaya pemekatan alcohol kepada
berbagai aplikasi di hampir seluruh industri kimia. Distilasi pada dasarnya adalah
proses pemisahan suatu campuran menjadi dua atau lebih produk lewat eksploitasi
perbedaan kemampuan menguap komponen-komponen dalam campuran. Operasi
ini biasanya dilaksanakan dalam suatu klom baki (tray column) atau kolom dengan
isian (packing column) untuk mendapatkan kontak antar fasa seintim mungkin
sehingga diperoleh unjuk kerja pemisahan yang lebih baik.
Salah satu modus operasi distilasi adalah distilasi curah (batc distillation). Pada
operasi ini, umpan dimasukkan hanya pada awal operasi, sedangkan produknya
dikeluarkan secara kontinu. Operasi ini memiliki beberapa keuntungan:
1. Kapasitas operasi terlalu kecil jika dilaksanakan secara kontinu. Beberapa
peralatan pendukung seperti pompa, tungku/boiler, perapian atau instrumentasi
biasanya memiliki kapasitas atau ukuran minimum agar dapat digunakan pada
skala industrial. Di bawah batas minimum tersebut, harga peralatan akan lebih
mahal dan tingkat kesulitan operasinya akan semakin tinggi.
2. Karakteristik umpan maupun laju operasi berfluktuasi sehingga jika
dilaksanakan secara kontinu akan membutuhkan fasilitas pendukung yang
mampu menangani fluktuasi tersebut. Fasilitas ini tentunya sulit diperoleh dan
mahal harganya. Peralatan distilasi curah dapat dipandang memiliki fleksibilitas
operasi dibandingkan peralatan distilasi kontinu. Hal ini merupakan salah satu
alasan mengapa peralatan distilasi curah sangat cocok digunakan sebagai alat
serbaguna untuk memperoleh kembali pelarut maupun digunakan pada pabrik
skala pilot.

Perangkat praktikum distilasi batch membawa para pengguna untuk


mempelajari prinsip-prinsip dasar pemisahan dengan operasi distilasi, seperti
kesetimbangan uap cair dan pemisahan lewat multi tahap kesetimbangan. Perangkat
ini dapat juga dimanfaatkan untuk mempelajari dasar-dasar penilaian untuk kerja
kolom distilasi pacing dan mempelajari perpindahan massa dalam kolom distilasi
packing.
Distilasi merupakan metode operasi pemisahan suatu campuran homogen
(cairancairan saling melarutkan), berdasarkan perbedaan titik didih atau perbedaan
tekanan uap murni (masing-masing komponen yang terdapat dalam campuran)
dengan menggunakan sejumlah panas sebagai tenaga pemisah atau Energy
Separating Agent (ESA). Distilasi termasuk proses pemisahan menurut dasar
operasi difusi. Secara difusi, proses pemisahan terjadi karena adanya perpindahan
massa secara lawan arah, dari fasa uap ke fasa cairan atau sebaliknya, sebagai
akibat adanya beda potensial diantara dua fasa yang saling kontak, sehingga pada
suatu saat pada suhu dari tekanan tertentu system berada dalam keseimbangan.
Kolom distilasi adalah sarana melaksanakan operasi pemisahan komponen-
komponen dari campuran fasa cair, khususnya yang mempunyai perbedaan titik
didih dan tekanan uap yang cukup besar. Perbedaan tekanan uap tersebut akan
menyebabkan fasa uap yang ada dalam kesetimbangan dengan fasa cairnya
mempunyai komposisi yang perbedaannya cukup signifikan. Fasa uap mengandung
lebih banyak komponen yang memiliki tekanan uap rendah, sedangkan fasa cair
lebih benyak menggandung komponen yang memiliki tekanan uap tinggi.
Kolom distilasi dapat berfungsi sebagai sarana pemisahan karena sistem
perangkat sebuah kolom distilasi memiliki bagaian-bagian proses yang memiliki
fungsi-fungsi:
1. Menguapkan campuran fasa cair (terjadi di reboiler)
2. Mempertemukan fasa cair dan fasa uap yang berbeda komposisinya (terjadi di
kolom distilasi)
3. Mengondensasikan fasa uap (terjadi di kondensor)
Secara sederhana, proses distilasi dapat digambarkan sesuai dengan skema
berikut ini:

Gambar.1 langkah proses pemisahan secara distiliasi

Dalam bentuk lain, pengertian distilasi dinyatakan sebagai berikut: [XA]D>


[XA]W dan [XB]D< [XB]w
Dimana :
XA, XB = Komposisi Komponen A, B
A, B = Komponen yang mempunyai tekanan uap tinggi, rendah
D = Hasil puncak (distilat)
W = Hasil bawah (residu)
Diagram sederhana gambar 1 menunjukkan bahwa operasi distilasi terdiri dari
tiga langkah dasar, yaitu:
1. Penambahan sejumlah panas (ESA) kepada larutan yang akan dipisahkan.
2. Pembentukan fasa uap yang bisa jadi diikuti dengan terjadinya keseimbangan.
3. Langkah pemisahan.
Pada operasi pemisahan secara distilasi, fasa uap akan segera terbentuk setelah
campuran dipanaskan. Uap dan sisa cairannya dibiarkan saling kontak sedemikian
hingga pada suatu saat semua komponen terjadi dalam campuran akan terdistilasi
dalam kedua fasa membentuk keseimbangan. Setelah keseimbangan tercapai, uap
segera dipisaahkan dari cairannya, kemudian dikondensasikan membentuk distilat.
Dalam keadaan seimbang, komposisi distilat tidak sama dengan komposisi
residunya:
1. Komponen dengan tekanan uap murni tinggi lebih banyak terdapat dalam
distilat.
2. Komponen dengan tekanan uap murni rendah sebagian besar terdapat dalam
residu.

C. Kesetimbangan Uap-Cair
Seperti telah disampaikan terdahulu, operasi distilasi mengekspoitasi
perbedaan kemampuan menguap (volatillitas) komponen-komponen dalam
campuran untuk melaksanakan proses pemisahan. Berkaitan dengan hal ini, dasar-
dasar keseimbangan uap-cair perlu dipahami terlebih dahulu. Berikut akan diulas
secara singkat pokok-pokok penting tentang kesetimbangan uap-cair guna
melandasi pemahaman tentang operasi distilasi.

Harga-K dan Volatillitas Relatif


Harga-K (K-Value) adalah ukuran tendensi suatu komponen untuk menguap.
Jika harga-K suatu komponen tinggi, maka komponen tersebut cenderung untuk
terkonsentrasi di fasa uap, sebaliknya jika harganya rendah, maka komponen
cenderung untuk terkonsentrasi di fasa cair. Persamaan (1) di bawah ini
menampilkan cara menyatakan harga-K.
𝑦
𝐾𝑖 = 𝑥𝑖 ….(1)
𝑖

Dengan yi adalah fraksi mol komponen i di fasa uap dan xi adalah fraksi mol
komponen i di fasa cair.
Harga-K adalah fungsi dari temperatur, tekanan, dan komposisi. Dalam
kesetimbangan, jika dua di antara variable-variabel tersebut telah ditetapkan, maka
variable ketiga akan tertentu harganya. Dengan demikian, harga-K dapat
ditampilkan sebagai fungsi dari tekanan dan komposisi, temperature dan komposisi,
atau tekanan dan temperatur.
Volatillitas relative (relative volatility) antara komponen i dan j didefinisikan
sebagai:
K
α𝑖,𝑓 = K 𝑖 ….(2)
𝑗

Dengan Ki adalah harga-K untuk komponen i dan Kj adalah harga-K untuk


komponen j. Volatillitas relatif ini adalah ukuran kemudahan terpisahkan lewat
eksploitasi perbedaan volatillitas. Menurut konsensus, volatillitas relative ditulis
sebagai perbandingan harga-K dari komponen lebih mudah menguap (MVC =
more-volatile component) terhadap harga-K komponen yang lebih sulit menguap.
Dengan demikian, harga α mendekati satu atau bahkan satu, maka kedua komponen
sangat sulit bahkan tidak mungkin dipisahkan lewat operasi distilasi.
Sebagai contoh untuk system biner, misalkan suatu cairan yang dapat menguap
terdiri dari dua komponen, A dan B. Cairan ini dididihkan sehingga terbentuk fasa
uap dan fasa cair, maka fasa uap akan kaya dengan komponen yang lebih mudah
menguap, misalkan A, sedangkan fasa cair akan diperkaya oleh komponen yang
lebih sukar menguap, misalkan B. Berdasarkan persamaan (1) dan (2), volatillitas
relative, αAB, dapat dinyatakan sebagai :
𝑦 ⁄𝑥
𝛼𝐴𝐵 = 𝑦𝐴⁄𝑥𝐴 ….(3)
𝐵 𝐵

Atau dapat dikembangkan menjadi:


𝑥 𝛼𝐴𝐵
𝑦𝐴 = 1+(𝛼𝐴 ….(4)
𝐴𝐵 −1)𝑥𝐴
Jika persamaan (4) tersebut dialurkan terhadap sumbu x-y, maka akan
diperoleh kurva kesetimbangan yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen
yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang mudah menguap di fasa
cair dan fasa uap yang dikenal sebagai diagram x-y. perhatikan gambar 2. Garis
bersudut 45° yang dapat diartikan semakin banyaknya komponen A di fasa uap
pada saat kesetimbangan. Ini menandakan bahwa semakin besar harga αAB, semakin
mudah A dan B dipisahkan lewat distilasi.

Gambar 2. Diagram x-y sistem biner A-B

Sistem Ideal dan Tak Ideal


Uraian terdahulu berlaku dengan baik untuk campuran-campuran yang mirip
dengan campuran ideal. Yang dimaksud dengan campuran ideal adalah campuran
yang perilaku fasa uapnya mematuhi Hukum Dalton dan perilaku fasa cairnya
mengikuti Hukum Raoult. Hokum Dalton untuk gas ideal, seperti diperlihatkan
pada persamaan (5), menyatakan bahwa tekanan parsial komponen dalam campuran
(pi) sama dengan fraksi mol komponen tersebut (yi) dikalikan tekanan parsial
komponen, sama dengan fraksi mol komponen di fasa cair (Pis) persamaan (6)
menampilkan pernyataan ini.
𝑝𝑖 = 𝑦𝑖 . 𝑃 ….(5)

𝑝𝑖 = 𝑥𝑖 . 𝑃𝑖𝑠 ….(6)
Dari persamaan (5) dan (6), harga-K untuk system ideal dapat dinyatakan
sebagai berikut :
𝑦 𝑃𝑖𝑠
𝐾𝑖 = 𝑥𝑖 = ….(7)
𝑖 𝑃

Pernyataan harga-K untuk system tak ideal tidak seringkas pernyataan untuk
system ideal. Data kesetimbangan uap-cair umumnya diperoleh dari serangkaian
hasil percobaan. Walaupun tidak mudah, upaya penegakan persamaan-persamaan
untuk mengevaluasi system tak ideal telah banyak dikembangkan dan bahkan telah
diaplikasikan. Pustaka seperti Walas (1984) dan Smith-van Ness (1987) dapat
dipelajari untuk mendalami topik tersebut.

Diagram T-x-y
Proses-proses distilasi industrial seringkali diselenggarakan pada tekanan yang
relative konstan. Untuk keperluan ini diagram fasa isobar (pada tekanan tertentu)
paling baik untuk ditampilkan. Diagram yang menempatkan temperatur dan
komposisi dalam ordinat dan absis ini dinamai diagram T-x-y. Bentuk umum
diagram ini diperlihatkan dalam gambar 2 yang mewakili campuran dengan dua
komponen A dan B berada dalam kesetimbangan uap-cairnya. Kurva ABC adalah
titik-titik komposisi cairan jenuh, sedangkan kurva AEC adalah titik-titik komposisi
untuk uap jenuh. Titik C mewakili titik didih komponen A murni dan Titik A
mewakili titik didih komponen B murni.
Gambar.3 Tipikal diagram T vs x-y

Bayangkan suatu campuran berfasa cair titik G, bertemperatur To dan


komposisinya xo, dipanaskan hingga mencapai temperatur T1 di kurva ABC yang
berarti campuran berada pada temperatur jenuhnya sedemikian hingga pemanasan
lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya penguapan T1 dapat dianggap sebagai
temperatur terbentuknya uap pertama kali atau dinamai titik didih (bubble point)
campuran cair dengan komposisi xo. Perhatikan bahwa uap yang terbentuk
memiliki komposisi tidak sama dengan xo tetapi yo (diperoleh dari penarikan garis
horizontal dari T1).
Pemanasan lebih lanjut mengakibatkan semakin banyak uap terbentuk dan
sebagai konsekuensinya adalah perubahan komposisi terus menerus di fasa cair
sampai tercapainya titik E. Pada temperatur ini, semua fasa cair telah berubah
menjadi uap. Karena tidak ada massa hilang untuk keseluruhan system, komposisi
uap yang diperoleh akan sama dengan komposisi cairan awal. Penyuplaian panas
berikutnya menghasilkan uap lewat jenuh seperti diwakili oleh titik F.
Sekarang operasi dibalik. Mula-mula campuran fasa uap di titik F didinginkan
dari temperatur T2 hingga mencapai titik E di kurva AEC. Di titik ini, uap berada
dalam keadaan jenuh dan cairan mulai terbentuk. Titik ini kemudian dinamai titik
embun (dew point). Pendinginan lebih lanjut menyebabkan fasa cair makin banyak
terbentuk sampai tercapainya titik H yang mewakili titik jenuh fasa cair. Diagram
T-x-y dengan demikian dapat dibagi menjadi tiga daerah :
1. Daerah di bawah kurva ABC yang mewakili subcooled liquid mixtures
(cairan lewat jenuh),
2. Daerah di atas kurva AEC yang mewakili superheated vapor (uap lewat
jenuh),
3. Daerah yang dibatasi kedua kurva tersebut yang mewakili system dua fasa
dalam kesetimbangan.

Operasi distilasi bekerja di daerah tempat terwujudnya kesetimbangan dua


fasa, uap dan cair.

Azeotrop dan Larutan Tak Campur


Apa yang ditampilkan oleh gambar 3 adalah tipikal untuk sistem normal.
Jika interaksi fisik dan kimiawi yang terjadi di dalam sistem sangat signifikan
maka bentukan kurva T-x-y dan x-y akan mengalami penyimpangan yang
berarti. Perhatikan gambar 4. Berbagai modifikasi, seperti distilasi ekstraktif,
distilasi kukus, dan sebagainya, perlu dilakukan untuk memisahkan komponen-
komponen dari system yang tak ideal ini. Gambar 4a dan 4b mewakili sistem
azeotrop yaitu sistem yang memiliki perilaku seperti zat murni di suatu
komposisi tertentu. Lihat titik a dengan komposisi xa. Pada titik ini perubahan
temperature saat penguapan terjadi tidak menyebabkan perbedaan komposisi di
fasa uap dan cair. Gambar.4a mewakili sistem maximum boiling azeotrope,
sedangkan Gambar. 4b mewakili sistem minimum boiling azeotrop.
Gambar 4. Diagram T-x-y untuk sistem tak ideal

Interaksi antar komponen yang sangat kuat memungkinkan terbentuknya


dua fasa cairan yang ditunjukkan oleh daerah tak saling larut (immiscible region)
dalam diagram fasa seperti tampak dalam gambar.4c. Diagram x-y untuk sistem-
sistem ini dapat dilihat pada Gambar.5.

Gambar 5 diagram x-y untuk sistem tak ideal

D. Persamaan Rayleigh (Distilasi Diferensial)


Kasus distilasi batch (partaian) yang paling sederhana adalah operasi yang
menggunakan peralatan seperti pada Gambar.6
Gambar.6 alat distilasi sederhana

Keterangan :
D = laju alir distilat, mol/jam
yD = komposisi distilat, fraksimol
V = jumlah uap dalam labu
W = jumlah cairan dalam labu

Pada alat ini, cairan dalam labu dipanaskan sehingga sebagian cairan akan
menguap dengan komposisi uap yD yang dianggap berada dalam kesetimbangan
dengan komposisi cairan yang ada di labu, xw. uap keluar labu menuju kondenser
dan diembunkan secara total. Cairan yang keluar dari condenser memiliki
komposisi xD yang besarnya sama dengan yD. Dalam hal ini, distilasi berlangsung
satu tahap.
Uap yang keluar dari labu kaya akan komponen yang lebih sukar menguap (A),
sedangkan cairan yang tertinggal kaya akan komponen yang lebih sukar menguap
(B). Apabila hal ini berlangsung terus, maka komposisi di dalam cairan akan
berubah; komponen A akan semakin sedikit dan komponen B akan semakin
banyak. Hal ini juga berdampak pada komposisi uap yang dihasilkan. Jika
komposisi komponen A di dalam cairan menurun, maka komposisi komponen A di
dalam uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan tadi juga akan
menurun. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa komposisi dalam
operasi ini berubah terhadap waktu. Neraca massa proses distilasi diferensial dapat
dinyatakan sbb :
𝑑(𝑊𝑥𝑤 ) 𝑑𝑥𝑤 𝑑𝑊
− = (−𝑊 − 𝑥𝑤 ) = −𝐷𝑦𝐷 ….(8)
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡

Bentuk integrasi persamaan di atas adalah sebagai berikut :


𝑥 𝑑𝑥𝑤 𝑊 𝑑𝑊
∫0 = ∫𝑊 ….(9)
(𝑦𝐷 −𝑥𝑤 ) 𝑜 𝑊

Dimana x0 dan W0 masing-masing adalah komposisi dan berat cairan di dalam


labu mula-mula. Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Rayleigh.
Jika operasi dilaksanakan pada tekanan tetap, perubahan temperatur cairan
dalam labu tidak terlalu besar, dan konstanta kesetimbangan uap-cair dapat
dinyatakan sebagai : y = Kx, sehingga persamaan (9) dapat dengan mudah
diselesaikan menjadi:
𝑊 1 𝑥
𝑙𝑛 ( 𝑊𝑜 ) = 𝐾−1 𝑙𝑛 ( 𝑥𝑜 ) ….(10)

Untuk campuran biner, hubungan kesetimbangan dapat dinyatakan dengan


koefisien volatillitas relative (α). Jika koefisien volatillitas relatif ini
dapat dianggap tetap selama operasi, maka integrasi persamaan adalah :
𝑊 1 𝑥 1−𝑥
𝑙𝑛 ( 𝑊𝑜 ) = 𝛼−1 [𝑙𝑛 ( 𝑥𝑜 ) + 𝛼 ln (1−𝑥 )] ….(11)
𝐷

E. Aplikasi Industri
Distilasi batch lebih dari sekedar proses dalam laboratorium. Distilasi batch
digunakan secara luas pada industri-industri kimia dan farmasi.
Distilasi batch dipakai saat:
a. Kapasitas operasi suatu proses terlalu kecil untuk memungkinkan pengoprsian
secara kontinu yang ekonomis. Pemompaan, pemipaan, instrumentasi dan
peralatan tambahan lainnya biasanya memiliki kapasitas operasi minimum.
Unit-unit skala kecil akan mahal untuk dibuat atau dioperasi.
b. Jumlah ataupun komposis umpan suatu proses sangat berfluasi. Pengoperasian
peralatan batch biasanya lebih fleksibel dari pada peralatan kontinu.
c. Umpan mengandung padatan tersuspensi atau bahan yang korosif. Peralatan
batch biasanya lebih mudah untuk dibersihkan dan dirawat dari pada kolom
distilasi kontinu.

Alasan (1) menjelaskan penggunaan yang luas dari peralatan batch dalam
pabrik-pabrik kecil, sementara alas an (2) dan (3) menjelaskan kenapa proses batch
juga digunakan dalam pabrik-pabrik dengan kapasitas operasi besar, sedangkan
keunggulan peralatan batch dalam proses pengambilan solven multi guna atau
dalam pabrik uji coba (pilot plant) karena fleksibelnya dan pertimbangan biaya.
Di dalam industri dari suatu distilasi batch sering diambil dalam bentuk fraksi-
fraksi terpisah atau cuts sehingga ketel distilasi atau condenser total sering kali
dilengkapi dengan lebih dari satu tangki pengumpul distilat. Steam yang mengalir
melalui coil dalam ketel atau lewat jaket yang menyelubungi ketel memberikan
suplai panas yang dibutuhkan untuk menguapkan isi ketel. Pada instalasi-instalasi
yang sudah lama atau yang berskala kecil, pemindahan arus distilat dari satu
penampung ke penampung yang lain dilakukan secara manual dan sebuah
kacapenglihat digunakan untuk mengetahui kapan pemindahan harus dilakukan.
Dewasa ini unit-unit distilasi batch menggunakan suhu atau indeks bias sebagai
indicator pemindahan dari tangki penampung satu ke yang lain.
IV. PROSEDUR KERJA

A. Membuat Kurva Kalibrasi


 Membuat campuran larutan dengan kosntrasi berbeda yaitu:
Etanol (ml) 0 50 40 30 20 10

Aquadest 50 40 30 20 10 0
(ml)

 Menghitung densitas masing-masing larutan dengan menggunakan


piknometer.

B. Destilasi
 Membuat campuran etanol-air sebanyak 5000 mL yaitu 3000 ml air dan
2000 ml etanol.
 Mengukur densitas umpan dengan menggunakan piknometer lalu
memasukkan ke dalam labu destilasi.
 Melakukan destilasi dengan alat destilasi secara satu tahap.
 Menyalakan pengaduk, pemanas, dan refluks air pendingin.
 Pada saat tebentuk destilat, mencatat suhu secara periodik.
 Menampung produk destilat hingga volume mencapai 100 mL dan menjaga
suhunya.
 Menghitung volume dan densitas destilat serta residu yang diperoleh dari
hasil destilasi.
V. DATA PENGAMATAN

A. Kalibrasi Campuran Etanol

No Volume Volume Berat piknometer


etanol aquades + campuran (g)
(ml) (ml)
1 0 50 -
2 10 40 41,3768
3 20 30 40,6237
4 30 20 39,6634
5 40 10 38,4701
6 50 0 -

B. Destilat

Suhu Volume destilat


No
(℃) (ml)
1 75 0
2 80 100
3 81 200
4 81 300
5 81 400
6 82 500
7 83 600
8 83 700
9 84 800
10 85 900
11 85 1000
 Berat piknometer kosong = 47,9053 g
 Berat piknometer + aquades = 22,9244 g
 Berat piknometer + feed = 44,9240 g
 Berat piknometer + destilat = 45,3494 g
 Berat piknometer + residu = 45,6103 g
 Volume feed = 5100 ml
 Volume destilat = 1080 ml
 Volume residu = 3280 ml
 Berat Jenis Aquadest suhu 300C = 0,99565 g/ml
 BM Etanol = 46,07 g/mol
 BM Air = 18 g/mol

VI. PERHITUNGAN

A. Pembuatan Kurva Kalibrasi

Volume Piknometer

(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜+𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠 )−(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 )


Volume piknometer =
𝐵𝑗 𝑎𝑖𝑟 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑢ℎ𝑢 30 ℃

( 42,1318 − 16,7976)𝑔
=
0,99565 𝑔/𝑚𝑙

= 25,4449 ml

Menentukan densitas
Untuk volume 10 ml etanol dan 40 ml air

(𝐵.𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔+𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛)−(𝐵.𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 )


𝜌 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜

41,3768 g − 16,7976 g
=
25,4449 ml
= 0,96597 g/ml

Dengan menggunakan perhitungan diatas, dapat diperoleh data sampel kalibrasi


lainnya:

No Volume etanol Volume aquades Densitas


(ml) (ml) (g/ml)
1 0 50 0,99565
2 10 40 0,96597
3 20 30 0,93638
4 30 20 0,89864
5 40 10 0,85174
6 50 0 0,79

Menentukan % Volume
Untuk volume 10 ml etanol dan 40 ml air

 % Volume Etanol
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
% volume = x 100 %
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙+𝑎𝑖𝑟

10 𝑚𝑙
= x 100 %
10+40 𝑚𝑙

= 20 %

 % Volume Air

% Volume Air = 100% - % Volume Etanol

= 100% - 20%

= 80%

Menentukan % mol
untuk Untuk volume 10 ml etanol dan 40 ml air

 Mol Etanol

𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙 𝑥 𝜌 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙


mol etanol =
𝐵𝑀 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙

10 𝑚𝑙 𝑥 0,79 𝑔/𝑚𝑙
=
46,07 𝑔/𝑚𝑜𝑙
= 0,1715 mol

 Mol air

𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝜌 𝑎𝑖𝑟


Mol air =
𝐵𝑀 𝑎𝑖𝑟

40 𝑚𝑙 𝑥 0,99565 𝑔/𝑚𝑙
=
18 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 2,2126 mol

 % Mol Etanol

𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
% mol etanol = x 100%
𝑚𝑜𝑙 𝑎𝑖𝑟+𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙

0,1715 𝑚𝑜𝑙
= x 100%
2,2126 + 0,1715 𝑚𝑜𝑙

= 7,1935 %

 % mol Air

%mol Air = 100% - % mol etanol

= 100% - 7,1935%

= 92, 8065 %

Dengan menggunakan perhitungan diatas, dapat diperoleh data sampel kalibrasi lainnya

No Vol. Vol. air % volume % volume Mol Mol % mol % mol


etanol (ml) etanol Air etanol air etanol Air
(ml)
1 0 50 0 100 0 2,7657 0 100
2 10 40 20 80 0,1715 2,2126 7,1928 92,8072
3 20 30 40 60 0,3430 1,6594 17,1275 82,8725
4 30 20 60 40 0,5144 1,1063 31,7413 68,2587
5 40 10 80 20 0,6859 0,5532 55,3579 44,6421
6 50 0 50 0 0,8573 0 100 0
B. UMPAN

 Densitas umpan

(𝐵. 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔+𝑓𝑒𝑒𝑑)−(𝐵. 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)


𝜌𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜

(40,6358−16,7976)𝑔
=
25,4449 𝑚𝑙

= 0,93686 g/ml

Berdasarkan pada grafik densitas vs % volume etanol diperoleh


% volume etanol feed = 40 %
% volume air = 100% - 40 %
= 60%
Berdasarkan pada grafik densitas vs % mol etanol
% mol etanol feed = 18 %
% mol air = 100 % - 18 %
= 94 %

 Mol umpan

% 𝑣0𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
( ) ×𝑉𝑜𝑙 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 × 𝜌 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
100
Mol etanol =
𝐵𝑀 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙

40
( )×5100 𝑚𝑙 × 0,790 𝑔/𝑚𝑙
100
=
46,07 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 34,9815 mol

 Mol air

% 𝑣0𝑙 𝑎𝑖𝑟
( ) ×𝑉𝑜𝑙 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 × 𝜌 𝑎𝑖𝑟
100
Mol air =
𝐵𝑀 𝑎𝑖𝑟
60
( )×5100 𝑚𝑙 × 0,99565 𝑔/𝑚𝑙
100
=
18 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 169,261 mol

 Mol total = mol etanol + mol air


= (34,9815 + 169,261) mol
= 204,242 mol

 Fraksi mol umpan


𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
Xf =
𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙+𝑚𝑜𝑙 𝑎𝑖𝑟

34,9815
Xf =
204,242

Xf = 0,1713

C. Destilat

 Densitas destilat

(𝐵. 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔+𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡)−(𝐵. 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)


𝜌𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜

(38,5990−16,7976)𝑔
=
25,4449 𝑚𝑙

= 0,8568 g/ml
Berdasarkan pada grafik densitas vs % volume etanol diperoleh
% volume etanol feed = 78 %
% volume air = 100% - 78 %
= 22 %
Berdasarkan pada grafik densitas vs % mol etanol
% mol etanol feed = 52 %
% mol air = 100 % - 52 %
= 48 %

 Mol destilat
% 𝑣0𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
( ) ×𝑉𝑜𝑙 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 × 𝜌 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
100
Mol etanol =
𝐵𝑀 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙

78
( )×1080 𝑚𝑙 × 0,790 𝑔/𝑚𝑙
100
=
46,07 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 14,4453 mol

 Mol air

% 𝑣0𝑙 𝑎𝑖𝑟
( ) ×𝑉𝑜𝑙 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 × 𝜌 𝑎𝑖𝑟
100
Mol air =
𝐵𝑀 𝑎𝑖𝑟

48
( )×1080 𝑚𝑙 × 0,99565 𝑔/𝑚𝑙
100
=
18 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 28,6747 mol

 Mol total = mol etanol + mol air


= (14,4453 + 28,6467) mol
= 43,12 mol

 Fraksi mol destilat


𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
Xs (yD) =
𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙 + 𝑚𝑜𝑙 𝑎𝑖𝑟

14,4453 𝑚𝑜𝑙
Xs (yD) =
43,12 𝑚𝑜𝑙

Xs (yD) = 0,335
D. Residu

 Densitas residu

(𝐵. 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔+𝑤𝑎𝑠𝑡𝑒)−(𝐵. 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)


𝜌𝑤𝑎𝑠𝑡𝑒 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜

(41,2757−16,7976)𝑔
=
25,4449 𝑚𝑙

= 0,9620 g/ml

Berdasarkan pada grafik densitas vs % volume etanol diperoleh


% volume etanol feed = 22 %
% volume air = 100% - 22 %
= 78 %

Berdasarkan pada grafik densitas vs % mol etanol


% mol etanol feed =8%
% mol air = 100 % - 8 %
= 92 %

 Mol residu

% 𝑣0𝑙 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
( ) ×𝑉𝑜𝑙 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 × 𝜌 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
100
Mol etanol =
𝐵𝑀 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙

22
( )×3280 𝑚𝑙 × 0,790 𝑔/𝑚𝑙
100
=
46,07 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 12,3739 mol

 Mol air

% 𝑣0𝑙 𝑎𝑖𝑟
( ) ×𝑉𝑜𝑙 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 × 𝜌 𝑎𝑖𝑟
100
Mol air =
𝐵𝑀 𝑎𝑖𝑟
78
( )×3280 𝑚𝑙 × 0,99565 𝑔/𝑚𝑙
100
=
18 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 141,5150 mol

 Mol total = mol etanol + mol air


= (12,3739 + 141,5150) mol
= 153,8889 mol

Neraca Komponen

F =D+W

F. XF = D . yD + W . Xw

𝐹.𝑋𝐹 −𝐷. 𝑦𝐷
Xw =
𝑊

(204,2420 𝑚𝑜𝑙 𝑥 0,1713) −(43,12 𝑚𝑜𝑙 𝑥 0,3350)


=
153,8890 𝑚𝑜𝑙

= 0,13344
E. Perhitungan Secara Praktek
Persamaan Reyieigh
𝐹 𝑋 𝑑𝑥
ln = ∫𝑋 𝐹
𝑊 𝑊 𝑦𝐷 −𝑋

Misalkan : u = yD – x
-du = dx

𝐹 𝑋 𝑑𝑥
ln = ∫𝑋 𝐹
𝑊 𝑊 𝑦𝐷 −𝑋

𝐹 𝑋𝐹
ln 𝑊 = - (ln u)
𝑋𝑊

𝐹 𝑋𝐹
ln 𝑊 = - (ln yD – x)
𝑋𝑊
𝐹
ln 𝑊 = -((ln (yD – xF)) – (ln (yD – xw)))

𝐹
ln 𝑊 - ((ln (yD – xw)) – (ln (yD – xF))

𝐹 (𝑦 − 𝑋 )
ln 𝑊 = ln (𝑦 𝐷− 𝑋 𝐹)
𝐷 𝐹

𝐹 (𝑦 − 𝑋 )
= ln (𝑦 𝐷− 𝑋 𝑊)
𝑊 𝐷 𝐹

𝐹 ( 𝑦𝐷 − 𝑋𝐹 )
yD – xw = 𝑊

𝐹 (𝑦𝐷 − 𝑋𝐹 )
xw = yD – ( )
𝑊

204,2420 𝑚𝑜𝑙 𝑥 (0,3350−0,1713)


xw = 0,3350 - ( )
153,8890 𝑚𝑜𝑙

xw = 0,1177
Kurva Kalibrasi Hubungan Densitas Vs %Volume Etanol

Densitas VS % Volume Etanol


1.05

0.95
Densitas (g/ml)

0.9

0.85

0.8

0.75

0.7
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110

% volume Etanol
Kurva Kalibrasi Hubungan Densitas Vs %Volume Etanol

Densitas VS % Mol Etanol


1.05

0.95
Densitas (g/ml)

0.9

0.85

0.8

0.75
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
% Mol Etanol
F. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
 Untuk memisahkan etanol dalam campuran etanol-air dilakukan pada proses
distilasi sederhana dengan menjaga suhu sekitar 78 ºC.
 Komposisi etanol pada:
a) Feed (umpan)
 Volume = 5280 mL
 Densitas = 0,93686 g/mL
 Fraksi mol etanol = 0,1713
b) Destilat :
 Volume = 1080 mL
 Densitas = 0,8568 g/mL
 Fraksi mol etanol = 0,3350
c) Residu/Bottom :
 Volume = 3280 mL
 Densitas = 0,9620 g/mL
 Fraksi mol etanol = 0,13344 (Teori)
= 0,1177 (Praktek)
G. DAFTAR PUSTAKA

Buku penuntun praktikum laboratorium Satuan Operasi II

Arman, Hasnindar dan dkk. 2016. LAPORAN PRAKTIKUM DESTILASI


SEDERHANA (BATCH). Makassar: Politeknik Negeri Ujung Pandang.
https://www.academia.edu/11566141/Destilasi_Batch. Diakses tanggal 18
September 2018

Amelia, Wa Ode. 2013. LAPORAN PRAKTIKUM DESTILASI SEDERHANA.


Kendari: Universitas Haluoleo. https://www.
Slideshare.net/mobile/wd_amaliah/laporan-destilasi-sederhana. Diakses
tanggal 18 September 2018
LAMPIRAN

Gambar : Rangkaian alat destilasi sederhana