Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1.Gambaran Lokasi Penelitian

Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo berdiri sejak tahun

1981 yang merupakan unit Pelaksana Teknis Daerah Departemen Sosial Sulawesi

Utara sampai tahun 2000, kemudian tahun 2001 sampai dengan sekarang menjadi

UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo yang berada dibawah

manajemen Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Gorontalo yang

melaksanakan pelayanan kesejahteraan sosial kepada para lanjut usia terlantar.

Panti ini memilki kapasitas daya tamping berjumlah 160 orang klien tetapi

saat ini sementara hanya tersedia untuk 35 orang klien. Di dalam konsepsi

pembangunan kesejahteraan sosial pelayanan lanjut usia terlantar di dalam panti

merupakan alternative terakhir. Alternative utama adalah pelayanan dalam

lingkungan keluarga. Dorongan terhadap pentingnya pelayanan lanjut usia dalam

lingkungan keluarga lebih diutamakan karena para lanjut usia adalah orang yang

patut dihargai dan dihormati. Adapun sasaran pelayanan dalam PSTW Ilomata Kota

Gorontalo meliputi lanjut usia berumur 60 tahun keatas, lanjut usia terlantar, dan

lanjut usia penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Untuk memberikan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia terlantar yang telah

menjadi klien PSTW Ilomata Kota Gorontalo, kepada mereka diberikan berbagai

pelayanan dan penyantunan berupa tempat tinggal klien di PSTW berjumlah 6

wisma, dimana dari wisma tersebut dihuni atau ditempati oleh 6 orang lanjut usia,

masing – masing terdiri dari 5 kamar dan setiap kamar ada yang mempunyai 2

48
tempat tidur untuk 2 orang klien. Tiap wisma memiliki 1 ruang tamu, meja dan

kursi tamu, meja makan, televise dan 3 kamar mandi serta beberapa fasilitas

penunjang lainnya. Kebutuhan pangan klien berupa makan 3 kali sehari dan menu

makanan diatur oleh petugas PSTW Ilomata Gorontalo. Pelayanan kesehatan

dilakukan tiap dua minggu sekali.

4.1.2.Analisis Univariat

Hasil univariat digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan

presentase dari karakteristik responden serta profil kadar asam urat pada lansia

sebelum dan sesudah melakukan senam ergonomis.

a) Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini responden yang terpilih sebanyak 16 responden yang

memenuhi kriteria inklusi. Dari sejumlah responden yang ada, diperoleh gambaran

karakteristik yang meliputi usia dan jenis kelamin yang disajikan dalam bentuk

tabel sebagai berikut :

1) Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik responden berdasarkan umur

di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo dapat dilihat pada tabel

sebagai berikut.

Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Umur Jumlah Persentase (%)


Lanjut Usia (60-74 Tahun) 13 81,3 %
Lanjut Usia Tua (75-90 Tahun) 3 18,7 %
Total 16 100 %
Sumber : Data Primer, 2018

49
Dari Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 16 responden yang diteliti

didapatkan untuk kelompok umur lanjut usia 60 – 74 tahun sebanyak 13

responden (81,3%), dan lanjut usia tua 75 – 90 tahun sebanyak 3 responden

(18,7%). Jadi distribusi tertinggi terdapat pada kelompok umur lanjut usia 60 –

74 tahun yaitu sebesar 81,3% dan distribusi terendah pada kelompok umur

lanjut usia tua 75 – 90 tahun yaitu sebesar 18,7%.

2) Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian, distribusi responden berdasarkan jenis

kelamin di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo dapat dilihat

pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


Laki – laki 4 25 %
Perempuan 12 75 %
Total 16 100 %
Sumber: Data Primer, 2018

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.2 menunjukkan sebagian besar

responden berjenis kelamin perempuan yaitu 12 responden (75%), sedangkan

jumlah responden laki – laki yaitu 4 responden (25%).

b) Profil Kadar Asam Urat pada Lansia Sebelum dan Sesudah diberikan

Senam Ergonomis

Berdasarkan hasil penelitian, profil kadar asam urat pada lansia sebelum dan

sesudah diberikan senam ergonomis di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota

Gorontalo dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

50
Tabel 4.3 Profil Kadar Asam Urat Sebelum dan Sesudah Senam Ergonimis

Kadar Asam Urat Sebelum Kadar Asam Urat Setelah


No Responden
Senam Ergonomis Senam Ergonomis
1 7,7 mg/dl 6,6 mg/dl
2 6,2 mg/dl 6,1 mg/dl
3 7,7 mg/dl 4,9 mg/dl
4 4,4 mg/dl 4,4 mg/dl
5 7,1 mg/dl 6,0 mg/dl
6 8,2 mg/dl 7,5 mg/dl
7 7,1 mg/dl 7,0 mg/dl
8 5,0 mg/dl 4,0 mg/dl
9 5,0 mg/dl 5,1 mg/dl
10 5,2 mg/dl 5,3 mg/dl
11 4,4 mg/dl 5,1 mg/dl
12 5,0 mg/dl 4,4 mg/dl
13 5,3 mg/dl 6,1 mg/dl
14 5,8 mg/dl 4,4 mg/dl
15 7,1 mg/dl 5,5 mg/dl
16 7,6 mg/dl 6,0 mg/dl
Mean 6,238 5,525
Minimum 4,4 4,0
Maksimum 8,2 7,5
Sumber : Data Primer, 2018

Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa rata – rata kadar asam

urat lansia sebelum melakukan senam ergonomis dari 16 responden adalah 6,238

mg/d, dengan nilai kadar asam urat tertinggi adalah 8,2 mg/dL dan nilai kadar asam

urat terendah adalah 4,4 mg/dL. Sedangkan rata – rata kadar asam urat lansia setelah

dilakukan senam ergonomis dari 16 responden adalah 5,525 mg/dL, dengan nilai

kadar asam urat tertinggi adalah 7,5 mg/dL, dan nilai kadar asam urat terendah

adalah 4,0 mg/dL.

4.1.3.Analisa Bivariat

a. Pengaruh Senam Ergonomis terhadap Kadar Asam Urat pada Lansia di

Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo

51
Hasil analisa bivariat dalam penelitian ini adalah pengaruh senam

ergonomis terhadap kadar asam urat sebelum dan sesudah senam

ergonomis pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota

Gorontalo. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t

berpasangan . salah satu syarat dalam menggunakan uji t berpasangan

adalah data yang harus terdistribusi normal. Setelah dilakukan uji

normalitas, dalam penelitian ini didapatkan hasil pada uji Shapiro-Wilk,

karena responden dalam penelitian ini <50 responden yakni 16 responden.

Maka hasil SPSS yang dilihat adalah nilai uji Shapiro-Wilk dengan nilai

signifikan pre-test adalah 0,087 α(>0,05), dan nilai signifikan post-test

adalah 0,680 α(>0,05), yang artinya data yang didapatkan terdistribusi

normal karena data yang diperoleh lebih besar dari α(0,05), sehingga uji

statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t berpasangan

sebagai berikut :

Tabel 4.4 Pengaruh Senam Ergonomis terhadap Kadar Asam Urat pada
Lansia
Variabel N Mean Standar P-Value
Deviasi
Pre-test 16 6,238 1,2393
0,008
Post-test 16 5,525 1,0090
Sumber : Data Primer, 2018
Ket : *Uji t berpasangan

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa terdapat perubahan pada kadar

asam urat setelah dilakukan intervensi berupa senam ergonomis,

ditunjukkan dengan hasil dari uji t berpasangan didapatkan p-value sebesar

0,008 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terhadap

52
kadar asam urat pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota

Gorontalo.

4.2.Pembahasan

4.2.1.Analisis Kadar Asam Urat pada Lansia sebelum Melakukan Senam

Ergonomis di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.3 bahwa terdapat 16 responden

yang memiliki kadar asam urat yang berbeda – beda. Rata – rata kadar asam urat

sebelum melakukan senam ergonomis adalah 6,238 mg/dL. Nilai kadar asam urat

tertinggi adalah 8,2 mg/dL dan nilai terendah adalah 4,4 mg/dL. Sebelum

melakukan senam ergonomis, peneliti melakukan pemeriksaan kadar asam urat

pada 16 responden. 8 responden memiliki kadar asam urat tidak normal yaitu pada

no responden 1, 2, 3, 5, 6, 7, 15, 16. Sedangkan 8 responden lainnya memiliki kadar

asam urat normal.

Menurut peneliti, tingginya kadar asam urat pada 8 responden karena

faktor usia. Dimana dengan bertambahnya usia kondisi dan fungsi tubuh mengalami

penurunan seperti pada ginjal. Hasil penenitian ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Wahyuningsih (2016) dimana menurunnya fungsi ginjal

menyebabkan penurunan ekskresi asam urat didalam tubulus ginjal dalam bentuk

urin. Selain itu akibat proses penuaan terjadi penurunan produksi enzim urikinase

sehingga pembuangan asam urat jadi terhambat. Namun saat ini peningkatan kadar

asam urat tidak hanya dialami oleh lanjut usia. Menurut penelitian yang dilakukan

oleh Thayibah (2018), dimana remaja dengan pola konsumsi makanan yang tinggi

purin seperti jeroan, pola konsumsi makanan purin sedang yakni tahu dan tempe

53
serta minuman yang mengandung alkohol dapat menyebabkan kadar asam urat

meningkat dalam darah.

Selain faktor usia, peningkatan kadar asam urat dipengaruhi juga oleh

jenis kelamin. Hal ini didukung oleh Ode (2012) dimana pada umumnya pria lebih

banyak terserang asam urat, dan kadar asam urat pria cenderung meningkat sejalan

dengan peningkatan usia. Sedangkan pada wanita presentasinya lebih kecil, dimana

peningkatannya cenderung terjadi setelah mengalami menopause. Ini karena wanita

mempunyai hormone estrogen yang ikut membantu pembuangan asam urat melalui

urine.

4.2.2.Analisis Kadar Asam Urat pada Lansia setelah Melakukan Senam

Ergonomis di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo

Berdasarkan tabel 4.3 diperoleh data bahwa hasil post-test yang dilakukan

memiliki nilai rata – rata 5,525 mg/dL. Nilai kadar asam urat tertinggi adalah 7,5

mg/dL dan nilai kadar asam urat terendah adalah 4,0 mg/dL. Hal ini menunjukkan

bahwa terjadi penurunan kadar asam urat pada 12 responden setelah melakukan

senam ergonomis. 4 responden lainnya mengalami peningkatan kadar asam urat

setelah melakukan senam ergonomis. Tetapi peningkatan kadar asam urat pada ke

4 responden tersebut masih berada dalam kategori kadar asam urat normal.

Penurunan kadar asam urat tersebut dikarenakan senam ergonomis yang dilakukan

sebanyak 6 kali dengan 6 gerakan.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Wahyuningsih (2016) dimana 16 responden mengalami penurunan kadar asam urat

setelah melakukan senam ergonomis dengan rata – rata 6,5 mg/dl yang sebelumnya

54
didapatkan hasil rata – rata kadar asam urat sebesar 8,2 mg/dl. Hal ini dikarenakan

melalui senam ergonomis lansia dilatih untuk melakukan olah nafas, untuk

melancarkan peredaran darah dan stimulasi saraf, serta merangsang penurunan

ketiga hormone (endorphin), senam ergonomis menstimulasi pengeluaran hormone

endorphin. Endorphin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat

releks/tenang. Hormone ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang

melahirkan rasa nyaman dan pengatur emosi sehingga dapat menghilangkan stress.

Akibat proses penuaan atau stress, mengakibatkan enzim urikinase terganggu,

sehingga terjadi hambatan pembuangan asam urat yang mengakibatkan kadar asam

urat meningkat dalam darah. Di dalam usus, terdapat enzim urikinase untuk

mengoksidasi asam urat akan dipecah menjadi Co2 dan amonia (NH3) dan

kemudian dikeluarkan dalam bentuk feses.

4.2.3.Pengaruh Kadar Asam Urat pada Lansia setelah Melakukan Senam

Ergonomis di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo

Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji t berpasangan penelitian

pada tabel 4.4, maka didapatkan nilai signifikan p-value yaitu 0,008. Karena nilai

p-value < α (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh senam ergonomis

terhadap kadar asam urat pada lansia di Panti Sosial Tresna Werda Ilomata Kota

Gorontalo.

Setelah melakukan senam ergonomis, terdapat penurunan kadar asam urat

pada 12 responden dan peningkatan asam urat pada 4 responden. Penurunan kadar

asam urat pada 12 responden karena senam ergonomis merupakan olahraga yang

dapat memberikan efek manghangatkan tubuh sehingga mampu mencegah

55
pengendapan asam urat pada ujung – ujung tubuh yang dingin yang kurang

mendapatkan pasokan darah. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan

oleh Wahyuningsih (2016) dimana senam ergonomis merupakan kombinasi

gerakan otot dan teknik pernapasan. Teknik pernapasan tersebut mampu

memberikan pijatan pada jantung akibat dari naik turunnya diafragma, membuka

sumbatan – sumbatan dan memperlancar aliran darah ke jantung dan aliran darah

ke seluruh tubuh. Sehingga memperlancar pengangkutan sisa pembakaran seperti

asam urat oleh plasma darah dari sel ke ginjal dan usus besar untuk dikeluarkan

dalam bentuk urin dan feses.

Menurut Wratsongko (2014), tiap gerakan senam ergonomis yang

dikombinasikan dengan teknik pernafasan memiliki manfaat yakni, gerakan

pertama berdiri sempurna memiliki manfaat membuat punggung lurus, jantung dan

paru - paru bekerja normal. Gerakan kedua lapang dada memiliki manfaat

mengoptimalkan fungsi organ paru, jantung, hati, ginjal, lambung dan usus

sehingga metabolism optimal. Gerakan ketiga tinduk syukur memiliki manfaat

dapat menguatkan struktur anatomi fungsional otot, ligament dan tulang belakang.

Gerakan keempat duduk perkasa yakni dengan lima jari kaki ditekuk dapat

menstimulasi fungsi organ tubuh. Ibu jari dengan fungsi energy tubuh, jari telunjuk

terkait dengan fungsi pemikiran, jari tengah terkait dengan fungsi pernapasan, jari

manis terkait dengan fungsi metabolism serta detoksifikasi dalam tubuh dan jari

kelingking terkait dengan fungsi hati serta sistem kekebalan tubuh. Gerakan kelima

duduk permbakaran dengan menengadahkan kepala sambil menarik nafas dapat

meningkatkan suplai oksigen ke otak. Dan gerakan ke enam berbaring pasrah dapat

56
menyebabkan regangan atau tarikan pada serabut saraf tulang belakang sehingga

dapat merilekskan tulang belakang.

Menurut peneliti, 4 responden yang mengalami peningkatan kadar asam

urat disebabkan oleh tidak efektifnya gerakan senam yang dilakukan dan pola

konsumsi minuman seperti kopi. Berdasarkan hasil wawancara, responden no 13

mengatakan bahwa setiap hari mengkonsumsi kopi di pagi hari. Menurut Sustrani

(2007) dan Fitriana (2015) mengkonsumsi kopi atau minuman lainnya yang

mengandung senyawa kafein dapat menyebabkan asam urat. Tetapi peningkatan

kadar asam urat ke 4 responden tersebut masih dalam kategori normal.

Berdasarkan teori dan hasil penelitian diatas, peneliti berasumsi bahwa

penurunan kadar asam urat disebabkan oleh efektifnya gerakan senam yang

dilakukan yang dikombinasikan dengan teknik pernafasan dapat memperlancar

aliran darah ke jantung sehingga memperlancar pengangkutan sisa pembakaran

seperti asam urat.

4.3.Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini masih ada keterbatasan, yakni sebagai berikut :

a) Peneliti tidak dapat melakukan pengawasan secara intensif terhadap faktor

yang dapat menurunkan serta yang dapat meningkatkan kadar asam urat

seperti makanan dan obat – obatan.

b) Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jumlah sampel

yang menimal, waktu dan frekuensi pemberian senam juja minimal karena

adanya keterbatasan waktu penelitian.

57
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 16 lansia di panti sosial Tresna

Werdha Ilomata Kota Gorontalo, maka peneliti mengambil kesimpulan sebagai

berikut :

Ada pengaruh senam ergonomis terhadap kadar asam urat pada lansia di

panti sosial tresna werdha ilomata Kota Gorontalo dengan hasil uji statistik t

berpasangan didapatkan p-value 0,015. Nilai p-value < α = 0,05 menujukkan

bahwa ada pengaruh senam ergonomis terhadap kadar asam urat pada lansia di Panti

Sosial Tresna Werdha Ilomata Kota Gorontalo.

5.2.Saran

a) Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan agar dapat memberikan manfaat khususnya dalam

memperbanyak referensi tentang senam ergonomis dan sebagai acuan bagi

peneliti selanjutnya.

b) Bagi Tenaga Medis

Diharapkan senam ergonomis ini dapat menjadi salah satu intervensi

keperawatan untuk mengurangi kadar asam urat.

c) Bagi Peneliti Selanjutnya

Karena masih adanya keterbatasan dalam penelitian ini, maka diharapkan

kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan pengawasan terhadap faktor –

faktor yang dapat mempengaruhi meningkatnya atau menurunnya kadar

asam urat seperti makanan dan obat – obatan.

58