Anda di halaman 1dari 12

DAMPAK BENCANA KEKERINGAN

TERHADAP PELUANG KESEJAHTERAAN PENDUDUK

Y. B. Widodo1

Abstract
Natural disasters that happened lately in many parts of the world, especially drought and big
flood in Indonesia, are accumulative effects of climate change due to global warming that need
to be addressed seriously. However, the most important issue in Indonesia nowadays is natural
disaster that happens in conjuction with mass-impoverishment effected by unleashed human
greed. If this excessive lifestyle cannot be restrained, the country of Indonesia will face an
incurable ecological destruction. This article tries to address natural disasters from socio-
economic and socio-demographical aspects.

Keywords: natural disasters, climate change, welfare


navigasi udara. Dampak bencana meletusnya
Pendahuluan Krakatau adalah Selat Sunda yang terletak di
Bencana alam paling dahsyat yang antara Jawa dan Sumatera yang sebelumnya
pertama kali terjadi di Indonesia adalah tidak dikenal menjadi pusat perhatian dunia.
meletusnya gunung Krakatau. Simon Para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia
Winchester (2003) melukiskan Krakatau berusaha mempelajari tempat tersebut
sebagai sebuah gunung berapi yang memiliki sehingga kepedulian mereka menjadi bagian
sifat menakjubkan, indah sekaligus dari sebuah persaudaraan pengetahuan yang
berbahaya, sulit diramalkan, dan tidak bisa baru. Bencana tersebut mewariskan dimensi
dilupakan. Gunung yang terletak di antara praktis yang amat lengkap dalam tataran
Pulau Jawa dan Pulau Sumatera tersebut disiplin ilmu, di antaranya dimensi politik,
meletus pada Senin, 27 Agustus 1883, pukul religius, sosial, ekonomi, psikologi, dan ilmu
sepuluh pagi. Ledakannya sangat dahsyat eksak lainnya. Peristiwa Krakatau dapat
sehingga dapat meluluhlantakkan alam menimbulkan perubahan sangat besar. Dari
sekitarnya dan menewaskan 36.000 orang. peristiwa itu, ramalan atas realita geologi,
Meletusnya gunung Krakatau berdampak seismik, dan tektonik telah memastikan
pada iklim, terutama karena dalam sekejap kejadian di tahun 1883 itu akan terjadi lagi di
telah menurunkan suhu udara, menyebabkan masa mendatang dengan cara yang persis
gelombang tsunami sampai ribuan kilometer sama walaupun bentuk kejadian alam
hingga mencapai Bombay, Brisbane, dan tersebut bisa berbeda.
Boston-Amerika Serikat, serta mematikan

1 Peneliti Senior pada Pusat Penelitian Kependudukan – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPK-LIPI).

Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262 95


Y. B. Widodo

Satu abad kemudian, yaitu pada awal penduduk kota di Asia berisiko terlanda banjir
abad 21 ini musibah bencana alam kembali dan rob, sedangkan di benua Eropa dan
melanda Indonesia pada 26 Desember 2004 Amerika akan terjadi kepunahan spesies.
terjadi gempa bumi dahsyat di Samudera Ilmuan NASA bernama James Hansen
Hindia, sebelah barat Provinsi Daerah pada Juni 1988 mengumumkan “pemanasan
Istimewa Aceh dengan kekuatan 9,3 Skala global sudah mulai” yang kemudian
Richter yang menimbulkan gelombang menimbulkan kecemasan publik (Brown,
tsunami ketinggian 9 meter dengan
1990). Memanasnya bumi merupakan
kecepatan 250 km per jam yang menewaskan
malapetaka lingkungan dalam skala baru
kurang lebih 250 ribu jiwa. Gempa bumi
karena dengan iklim yang sedikit saja
tektonik terjadi dua tahun kemudian di
bergeser, dunia kemungkinan menghadapi
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan
perubahan yang sangat cepat, terutama
Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 dengan
dalam dasawarsa yang akan datang. Namun
kekuatan 6,3 Skala Richter dengan korban
kejadian ini ternyata sudah terjadi pada saat
tewas 5.778 jiwa dan 137.889 jiwa luka-luka,
ini, lebih cepat dari perkiraan.
serta sejumlah besar rumah rusak, termasuk
Gelombang panas yang terjadi bertahan
prasarana dan sarana pendidikan, sosial, dan
lama sehingga menciptakan kekeringan alam,
kesehatan (Muda Saputra, 2006; Abdur Rofi,
hujan lebat, kebakaran hutan, dan penyakit.
2006). Peristiwa bencana alam tersebut
Kekeringan alam mengakibatkan menurunnya
sangat berpengaruh terhadap tingginya
kualitas dan kadar air yang pada gilirannya
angka kematian penduduk. Hal ini karena titik
menurunkan produktifitas tanaman. Sekjen
pusat gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta
PBB, Ban Ki Moon, menantang pemerintah
dan Jawa Tengah berdekatan dengan
negara-negara di dunia untuk melakukan aksi
permukiman penduduk. Demikian pula
nyata mengatasi ancaman global dengan
tingginya gelombang laut akibat tsunami di
merespons temuan hasil konferensi
wilayah Aceh dan Tapanuli merupakan faktor
perubahan iklim di Bali, Desember 2007.
penting yang menyebabkan tingginya angka
kematian penduduk di daerah tersebut. Tulisan ini merupakan refleksi terhadap
kecenderungan yang terjadi saat ini, yaitu di
Selain kejadian alam, pada saat ini perhatian
tengah-tengah perkembangan ilmu dan
utama dunia terfokus pada masalah pemanasan
teknologi yang cepat, musibah gempa bumi,
global, yaitu bencana yang diakibatkan ulah dan
baik vulkanik maupun tektonik, tidak bisa
perilaku manusia selama puluhan, bahkan
dihindari dan akan tetap terjadi. Di samping
ratusan tahun yang dampaknya terasa pada
itu, terdapat bencana yang mengancam
saat ini. Pada tiga dekade terakhir, emisi gas
ribuan, bahkan jutaan penduduk dunia akibat
rumah kaca pada tahun 1970 hingga 2004
perubahan iklim dan perilaku manusia yang
meningkat 70 persen (www.kompas.co.id, 17-
merusak alam sehingga menyebabkan
11-2007). Apabila kondisi ini tidak dapat diatasi,
kekeringan lahan pertanian dan banjir yang
maka pada tahun 2020, sebanyak 70 juta dari
menyebabkan bahaya kelaparan. Analisis
250 juta penduduk Afrika akan mengalami
masalah bencana alam juga dilakukan pada
kekurangan sumber air,
tulisan ini, khususnya dari aspek sosial

96 Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262


Dampak Bencana Kekeringan terhadap Peluang Kesejahteraan Penduduk

demografi dan sosial ekonomi serta alam terhadap ulah manusia. Alam mempunyai
membahas kebijakan yang dilakukan dalam tingkat kepatuhan yang hampir sempurna
menghadapi bencana tersebut. Siklus gempa terhadap hukum-hukumnya. Manusia
besar yang terjadi satu abad silam tengah mempunyai kebebasan untuk memanfaatkan
kembali terjadi, seperti gempa bumi tektonik jasa alam disertai dengan bekal pengetahuan
yang disertai gelombang tsunami, letusan tentang hukum yang melekat pada alam yang
gunung api, angin puting beliung, banjir, diajarkan Sang pencipta.
tanah longsor, dan pemanasan global. Selama manusia (masyarakat) tidak
mampu melakukan pembebasan dari
Bencana Alam dan Kekeringan belenggu keserakahannya, selama itu pula
Penduduk terus bertumbuh secara ancaman balasan dari kekuatan alam hingga
eksponensial, yang tetap harus dipenuhi pada tingkat pemusnahan bersama (collective
dengan penyediaan bahan pangan yang disaster) akan terus menghantuinya. Krisis air
cukup dan hal itu sangat tergantung pada dan bencana alam yang mengiringi terjadinya
lahan yang dapat ditanami dan ketersediaan kemiskinan massal adalah rangkaian akibat
air yang cukup (Ehrlich, 1982). Sementara itu, dari budaya keserakahan dan pelanggaran
sebagian besar tanah pertanian beralih fungsi terhadap keteraturan alam. Memuaskan diri
untuk keperluan industri, perluasan kota, dan berlandaskan keserakahan akan
sarana transportasi. Di lain pihak, tanah mengundang dan menghendaki terjadinya
semakin tidak dapat dikelola secara produktif peristiwa Sodom dan Gommora di Indonesia.
dan kesuburannya semakin menurun akibat Masalah kekeringan yang mengakibatkan
erosi. Hal semacam ini, dalam studi The Limit
bencana kelaparan telah dikupas satu abad
to Growth, merupakan awal krisis tanah
silam melalui pendekatan ekonomi neoklasik
pertanian (Prisma, 1973). Penyebaran polusi
dan salah satu pelakunya adalah Malthus.
sangat bertalian langsung dengan
Pada tahun 1780, Malthus (dalam Penny,
pertambahan jumlah penduduk dan kegiatan
1990) menyatakan daya reproduksi manusia
pertanian. Oleh sebab itu, meningkatnya GNP
dan keterbatasan alam telah menyebabkan
per kapita berakibat pula terhadap beban
bencana kelaparan secara periodik, terutama
polusi secara keseluruhan terhadap alam
di kawasan negara-negara Afrika dan Asia,
lingkungan, yang paling sedikit mencapai 10
seperti Etiopia dan Bangladesh. Pandangan
kali lipat dengan peningkatan besarnya GNP.
Malthus, tentang hukum kenaikan hasil yang
Timbul suatu perumpamaan berikut: “andai makin berkurang dalam memproduksi bahan
kata alam dapat dikendalikan melalui suap, tentu pangan yang akan berlaku dalam jangka
saja bahaya krisis air, kekeringan, dan bencana panjang, masih dianggap sangat relevan
alam akan sangat mudah kita atasi” (Pranadji, hingga saat ini.
2006). Akan tetapi, alam tidak mengenal Pada saat ini, petani cenderung semakin
keserakahan. Perilaku alam dalam bentuk
bergantung pada lahan-lahan irigasi untuk
terjadinya krisis air dan bencana alam lainnya
bercocok tanam. Di sisi lain, berkurangnya
(banjir dan kekeringan) merupakan refleksi atau
sumber air tawar akan mengancam persediaan
konsekuensi logis dan respons
bahan makan. Oleh sebab itu, musibah

Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262 97


Y. B. Widodo

kekeringan merupakan batu ujian terberat bagi Pada periode 1986–1997, setelah
pertumbuhan ekonomi, terutama karena swasembada pangan tercapai hingga saat
pemenuhan kebutuhan pangan masih krisis ekonomi terjadi, sektor pertanian
bergantung pada pertanian tradisional yang mengalami kontraksi. Menurut Bustanul Arifin
masih mengandalkan iklim dan curah hujan. (2004), hal ini terjadi karena beberapa sebab.
Kekeringan merupakan faktor eksternal yang Pertama, adanya ketidakpedulian (ignorance)
sulit dikendalikan, demikian pula dengan faktor di kalangan perumus kebijakan. Kedua,
internal, seperti rendahnya modal usaha dan munculnya kebijakan teknokratik
kinerja sumber daya manusia di sektor tersebut pembangunan ekonomi yang mengarah
yang secara umum juga masih lemah. Apabila pada strategi industrialisasi secara
kekeringan yang bakal terjadi dikaitkan dengan besar-besaran dan tidak didasarkan
persediaan pangan tentu saja akan sangat pada basis pertanian yang kuat.
memengaruhi kestabilan sektor lain dan Ketidakpedulian tersebut merupakan efek
sekaligus berpengaruh pula terhadap laju dari persepsi dan pandangan yang salah
pertumbuhan ekonomi. bahwa keberhasilan swasembada pangan
Pada masa Orde Baru dengan konsep merupakan dampak pembangunan pertanian
pembangunan lima tahun atau disingkat yang akan terus bergulir dengan sendirinya.
dengan Pelita, pemerintah telah melakukan Padahal kenyataan menunjukkan swasembada
pembangunan di sektor pertanian, khususnya pangan tidak dapat bertahan hingga saat ini.
tanaman pangan. Pada Pelita I (1969 -1974), Faktor penyebab lainya adalah diberlakukannya
tepatnya 35 tahun yang lalu, Pemerintahan kebijakan perdagangan bebas (WTO) tahun
Orde Baru telah berusaha mengatasi bahaya 1995. Penurunan subsidi dan proteksi terhadap
kekeringan dengan membuat sejumlah mega petani sebagai salah satu implikasi kesepakatan
proyek berupa sarana infrastruktur yang tidak WTO secara otomatis sangat memberatkan
sedikit biayanya. Beberapa waduk atau sebagian negara berkembang (termasuk
bendungan sungai di Jawa, Sumatera, dan Indonesia) yang belum memiliki basis ekonomi
pulau lainnya di Indonesia dibangun untuk kuat dan tenaga kerja yang tangguh.
dapat mengairi tanah kering dan sawah tadah
hujan. Sepuluh tahun kemudian tepatnya Walaupun Indonesia mempunyai luas
tahun 1984, usaha mega proyek tersebut daratan dan hutan tropis ketiga terluas di dunia
menuai hasil berupa pencapaian Indonesia setelah Brasilia dan Zaire, dengan potensi untuk
sebagai negara swasembada pangan, devisa dan kegiatan konservasi, adanya
bahkan dapat mengekspor beras dan kegiatan konservasi tersebut, selain mengurangi
mengirim bantuan beras ke negara di Afrika, kawasan hijau, juga telah menciptakan
seperti Nigeria. Pada saat itu, laju ekonomi terjadinya polusi udara. Menurut protokol Kyoto,
tumbuh pesat hingga mencapai 7 persen pada tahun 2010 negara industri maju (G-8)
yang dibarengi dengan bonansa minyak yang diwajibkan menurunkan emisi gas buang yang
sangat fantastik, yaitu berupa tingginya harga menimbulkan efek rumah kaca sebesar 5 persen
minyak yang merupakan sumber devisa lebih kecil dibandingkan dengan tahun 1990
utama bagi Indonesia. (Kompas, 23

98 Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262


Dampak Bencana Kekeringan terhadap Peluang Kesejahteraan Penduduk

Juni 2007). Emisi gas rumah kaca tersebut maupun sosial ekonomi agar dapat
membentuk selubung yang semakin tebal memberikan penjelasan yang memadai
dan menyebabkan temperatur bumi untuk dapat mengatasi musibah tersebut.
meningkat sekitar 1-3 derajat celsius pada
abad ini. Hal itu berpotensi mengubah pola Transisi Demografi dan
cuaca secara ekstrem. Peluang Kesejahteraan
Terjadi perluasan pemanasan air Awal abad 21 ini telah terjadi tanda-tanda
samudera, sedangkan pemanasan di kutub perubahan iklim secara global. Aturan alam
akan mencairkan bagian gletser dan gunung yang selama ini kita anggap mapan telah
es. Hasil kajian menyimpulkan kenaikan suhu berubah. Musibah kekeringan yang biasanya
dari 3 derajat celsius menjelang tahun 2005 terjadi di belahan benua Afrika kini sudah
akan menaikkan permukaan laut sampai 50- merambah benua lain, seperti Eropa, Australia,
100 sentimeter (Brown, 1990). Menjelang Amerika, dan Asia. Di Indonesia, tanaman
akhir abad berikutnya, yaitu akhir abad 21, pangan terutama padi masih tergantung pada
permukaan laut (rob) mungkin naik sebanyak alam atau pertanian tradisional yang
dua meter. Bagi Indonesia, hal itu akan terasa mengandalkan pada iklim dan curah hujan.
berat karena Indonesia adalah negara Apabila kekeringan terus berlangsung,
kepulauan yang dikelilingi lautan lepas kelaparan akan menjadi bencana ikutan dengan
sehingga perubahan iklim merupakan asumsi lama yang dikemukakan Malthus bahwa
ancaman besar bagi negara ini. Sementara penduduk akan terus bertambah karena tidak
itu, masalah kemiskinan yang belum dapat dapat mengendalikan aktivitas reproduksinya.
diatasi akan semakin diperburuk oleh dampak Laju kematian akibat kelaparan merupakan satu-
perubahan iklim tersebut, yang menyebabkan satunya mekanisme utama memelihara
penurunan curah hujan di kawasan bumi keseimbangan alami antara jumlah penduduk
bagian selatan katulistiwa. Penurunan curah dengan persediaan bahan pangan. Oleh sebab
hujan berakibat rusaknya siklus tanam, krisis itu, menurut Penny (1990), teori transisi
air bersih, dan rusaknya sarana infrastruktur demografi yang dapat memberikan angin segar
listrik tenaga air. adalah laju kelahiran akan menurun hanya
Apabila kekeringan yang panjang terjadi di sesudah adanya peningkatan pendapatan. Teori
Indonesia, maka musibah tersebut akan ini merupakan satu-satunya model penting yang
berpengaruh langsung terhadap pemenuhan dapat memperbaiki model pemikiran Malthus.
kebutuhan pangan. Kekeringan dapat
menyebabkan terjadinya kematian akibat Pada saat ini Indonesia merupakan salah
kelaparan, baik dalam proporsi yang kritis satu negara yang sedang mengalami transisi
maupun dalam jangka waktu yang singkat demografi. Artinya suatu keadaan ketika
karena kondisi tersebut dapat menciptakan angka fertilitas dan mortalitas mengalami
bencana kelaparan. Gejala kelaparan massal penurunan dengan cepat yang menyebabkan
akibat faktor alam tersebut dapat berlanjut terus terjadinya perubahan struktur umur penduduk
di kemudian hari. Hal ini merupakan tantangan (Moertiningsih, 2005). Perubahan struktur
besar bagi ilmu-ilmu sosial kependudukan umur penduduk dapat menciptakan bonus

Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262 99


Y. B. Widodo

demografi, yaitu angka dependency ratio Atas dasar tersebut, diperkirakan pada tahun
antara jumlah usia muda (0-14 tahun) 2020-2030 dependency ratio atau rasio
ditambah usia lansia (64th+) dibagi usia ketergantungan akan mencapai titik terendah,
produktif semakin rendah. Akan tetapi, ini yaitu 44 per 100 apabila syarat-syarat dipenuhi
perlu diimbangi dengan produktivitas dan tidak ada faktor lain yang berpengaruh hal
angkatan kerja yang dapat memanfaatkan itu dapat terjadi. Artinya, setiap 100 penduduk
kesempatan tersebut (the window of usia kerja menanggung 44 anak berusia di
opportunity) sehingga dapat lebih bawah 15 tahun ditambah jumlah penduduk usia
meningkatkan kesejahteraan penduduk. 64 tahun ke atas. Setelah tahun 2030,

Proyeksi PBB 2002 menunjukkan di tahun dependency ratio akan naik menjadi lebih dari

2005-2009 laju pertumbuhan penduduk di 50 per 100 akibat meningkatnya penduduk usia

Indonesia per tahun diperkirakan sebesar 1,26 lanjut. Perubahan struktur umur penduduk dan

persen dan pada tahun 2015-2020 akan turun menurunnya age dependency ratio memberikan

menjadi sebesar 0,99 persen. Faktor utamanya peluang akan tercapainya tingkat kesejahteraan

adalah akibat dari TFR (Total Fertility Rate) atau atau disebut bonus demografi atau demographic

tingkat kelahiran yang semula sebesar 2,3 dividend. Oleh sebab itu, rendahnya rasio

(2005-2009) turun menjadi 2,1 (2015-2020), ketergantungan penduduk akan menciptakan

demikian pula tingkat kematian bayi yang the window of opportunity atau sering disebut

semula sebesar 41,6 (2005-2009) turun pula jendela kesempatan yang dapat dimanfaatkan

menjadi 29,2 (2015-2020) (Gambar 1). Hal ini untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat.

menciptakan angka harapan hidup sebesar 66,8 Kesempatan tersebut hanya terjadi satu kali saja

tahun 2005-2009 menjadi 69,9 tahun 2015-2020 dalam seluruh perjalanan kehidupan penduduk

(Moertiningsih, 2005).

Dependency Ratio 0-14, 65+, Total

90
Total
80
Bonus Demografi
70 Muda
w indow of opportunity
60

50
Persen

40

30

20
Lansia
10

0
1950 1960 1970 1980 1990 2000 2010 2020 2030 2040 2050
Tahun
Sumber: Murtiningsih, 2005

100 Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262


Dampak Bencana Kekeringan terhadap Peluang Kesejahteraan Penduduk

sehingga kualitas penduduk usia produktif Ada beberapa faktor yang menyebabkan
dapat ditingkatkan agar dapat menanggung rendahnya angka IPM di Indonesia. Pertama

penduduk usia nonproduktif. adalah angka pendapatan per kapita yang masih
rendah, yaitu baru sebesar Rp620.000,00 atau
Fertilitas di Indonesia telah menurun lebih
setara dengan US$ 2 per hari (garis kemiskinan
dari separuh dalam kurun tiga puluh tahun
yang ditetapkan World Bank). Kedua, rata-rata
terakhir. Menurut Saputro (2007), hasil
lama sekolah baru mencapai 7 tahun (BPS,
analisis data sensus penduduk menunjukkan
Indeks Pembangunan Manusia 2004-2005).
fertilitas tersebut telah menurun dari TFR 5,6
Gambaran tersebut menunjukkan mayoritas
anak per ibu (Sensus Penduduk 1971)
kondisi penduduk di Indonesia masih sangat
menjadi TFR 2,6 anak per ibu (SDKI
rentan. Ketiga, terdapat jenis penyakit massal
2002/2003). Berdasarkan proyeksi Bappenas
yang belum bisa tertangani secara menyeluruh,
dan UNFPA, pada periode tahun 2020-2025
seperti malaria, deman berdarah, TB, dan
angka fertilitas diharapkan dapat menurun
busung lapar, di beberapa daerah akibat
lagi menjadi 2,07. Akan tetapi, beberapa
masalah kekeringan yang disebabkan oleh
faktor, seperti bencana alam, kerusakan
bencana alam dan kerusakan lingkungan. Oleh
lingkungan, dan bencana kekeringan, yang
karena itu, diperlukan perencanaan
menciptakan kemiskinan dapat mengganggu
pembangunan yang menangani esensi
laju penurunan fertilitas dan mengganggu
persoalan dan berpihak kepada kesejahteraan
terciptanya bonus demografi. Oleh karena itu,
penduduk. Mengiringi bonus demografi tersebut
peluang untuk mencapai kesempatan
di atas, target Millennium Development Goals
kesejahteraan ekonomi akan terlewatkan dan
(MDG) tahun 2015 menjadi tantangan besar
justru akan menuju kehancuran.
bagi Indonesia. Bangsa Indonesia harus
Berdasarkan laporan tahunan tentang
menghadapi kompetisi dalam tatanan global,
Human Development Index (HDI) atau Indeks
terutama di bidang ekonomi dan perdagangan
Pembangunan Manusia (IPM) yang dilakukan
dunia.
oleh United Nation Development Programme
(UNDP), SDM Indonesia berada pada posisi
Pembangunan Ekonomi
rendah dibandingkan dengan negara-negara
dan Kesejahteraan
lain, termasuk di ASEAN. Pada tahun 1997 IPM
Pemerintahan era reformasi bisa mengatasi
Indonesia berada pada peringkat 99 dari 175
masalah ekonomi makro dengan menekan laju
negara di dunia dan menurun pada peringkat
inflasi tahun 2006–2007 menjadi sebesar 7
112 pada tahun 2003. Posisi Indonesia hanya
persen. Pada tahun 2005 laju inflasi jauh lebih
berada di atas negara-negara seperti Myanmar
tinggi, yaitu sebesar 17 persen karena pengaruh
(urutan ke-131) dan Kamboja (urutan ke-130) di
cost-push inflation, seperti tingginya harga
ASEAN. Pada tahun 2004, IPM Indonesia
minyak (BPS, Laporan Perekonomian Indonesia,
berada pada peringkat 111 dari 175 negara,
2006) sehingga pertumbuhan ekonomi pada
satu tingkat di atas Vietnam (Word Bank, 2005).
tahun 2006 - 2007 dapat mencapai target
Angka harapan hidup di Indonesia relatif
sebesar 5,8 persen. Akan tetapi, apabila
sudah cukup tinggi, yaitu berkisar 68 tahun dan
bencana kekeringan dikaitkan
angka melek huruf sudah mencapai 90 persen.

Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262 101


Y. B. Widodo

dengan persediaan pangan, hal itu akan Amerika dan Cina dalam emisi gas buangan
sangat memengaruhi kestabilan sektor lain, (CO2) atau sekitar 1.700 juta ton CO2 per
yang dapat menciptakan terjadinya demand tahun atau hampir seperempat emisi global
pull inflation sekaligus berpengaruh terhadap gas rumah kaca yang dibuat negara maju.
laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan kata lain, komunitas masyarakat
Selama ini pertumbuhan ekonomi yang yang tinggal di kawasan hutan akan terancam
tinggi dapat dicapai dalam waktu yang singkat mendapatkan sumber penghidupan. Padahal
dengan mengabaikan kondisi alam dan yang menyebabkan kerusakan tersebut
lingkungan, yaitu melakukan tindakan negatif, adalah kegiatan ekonomi yang berbasis hutan
seperti pencemaran lingkungan dan berskala besar yang didukung kebijakan
pengrusakan sumber daya alam (hutan, pemerintah. Inilah seperti yang disebut:
pertambangan, dan kelautan). Dampak bencana ‘bencana alam yang mengiringi terjadinya
alam yang jauh lebih berat adalah yang kemiskinan massal adalah rangkaian akibat
disebabkan oleh perbuatan manusia. Hal ini dari budaya keserakahan dan pelanggaran
merupakan konsekuensi pembangunan sendiri. terhadap keteraturan alam’.
Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh
pabrik yang mengeluarkan limbah industri,
Pertanian dan Ketahanan Pangan
seperti luapan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Pertumbuhan penduduk terjadi secara
Timur, merupakan akibat eksploitasi industri eksponensial dan hal ini tetap harus dipenuhi
tambang di daerah tersebut. Oleh sebab itu, dengan penyediaan bahan pangan yang
untuk mengembalikan lingkungan hidup agar memadai. Lahan pangan yang dapat ditanami
udara, air, dan tanah menjadi bersih kembali perlu ketersediaan air. Pada saat ini sarana
membutuhkan biaya. Dengan demikian, berapa infrastruktur, seperti waduk sungai, sudah
pun tingginya pertumbuhan ekonomi yang kurang berfungsi karena endapan lumpur
memperbesar pendapatan nasional pada tahun bendungan sungai menumpuk sepanjang
tertentu tidak akan meningkatkan pendapatan tahun sehingga debit air mulai rendah. Pada
nasional apabila biaya rehabilitasi akibat akhirnya pasokan air menjadi berkurang.
kerusakan lingkungan masuk dalam perhitungan Sementara itu, negara lain seperti Republik
ekonomi. Rakyat Cina sedang melakukan pengelolaan
Menurut laporan Intergovernmental Panel on dan menangani air yang berlimpah dengan
Climate Change (IPCC), Indonesia akan membangun sebuah proyek raksasa:
mengalami penurunan curah hujan di kawasan membendung sungai Yangtze untuk kebutuhan
selatan, sebaliknya terjadi peningkatan curah air Kota Beijing. Proyek ini dapat digunakan
hujan di utara (Kompas, 23 Juni 2007). sebagai pembangkit tenaga listrik untuk
Ancaman kekeringan akibat gejala El-Nino keperluan industri dan pariwisata di samping
menjadi faktor pendorong kebakaran hutan. pengairan tanaman pangan (Barlow dan Clark,
Pada tahun 1997/1998 kebakaran hutan terjadi 2005). Dampak sosial dalam membuat
menyebabkan rusaknya hutan seluas 9,7 juta bendungan tersebut adalah jutaan orang terusir
hektar sehingga mengakibatkan penggundulan dari tempat tinggalnya. Ilustrasi lain, negara-
hutan. Indonesia pada posisi ketiga setelah negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi,

102 Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262


Dampak Bencana Kekeringan terhadap Peluang Kesejahteraan Penduduk

Dubai, Israel, dapat mengatasi masalah air sementara tanaman kacang-kacangan


dengan membangun bendungan bawah tanah yang bersifat memperbaiki kualitas ladang
dengan menggunakan air resapan dan air laut tembakau dan ladang jagung karena
yang diolah terlebih dahulu. Israel, bahkan telah kemampuannya mengikat nitrogen (pupuk
membangun bank air bawah tanah untuk hijau) juga dibudidayakan. Di lain pihak,
mengatasi kekeringan dengan menggunakan ternak sapi dan kambing menghasilkan
peralatan komputer yang sangat canggih pupuk yang dapat digunakan untuk
mengatur pergiliran air bagi tanaman pangan. memupuk tanaman (Widodo, 2005).
Di balik itu semua, pertanian di Indonesia Pola kegiatan pertanian yang merupakan
masih mengandalkan pada pengelolaan kombinasi pertanian tanaman pangan dan
pertanian tradisional yang sebagian besar tanaman perdagangan dilengkapi dengan
dilakukan oleh petani dengan kemampuan yang peternakan di beberapa daerah terbukti
masih terbatas. Slamet (2006) menyebutkan berhasil. Kombinasi ketiga kegiatan tersebut
salah satu harapan di masa mendatang dalam menjadi identitas petani di perdesaan yang
pengembangan pertanian tanaman pangan mempunyai ciri ketahanan pangan dan hidup
adalah melalui teknologi modern, tetapi perlu selaras dengan alam. Usaha tani terpadu
mendapatkan perhatian yang serius. semacam ini secara optimal memanfaatkan
Perkembangan ilmu pemuliaan tanaman dapat sumber daya manusia dan sumber dana
dilakukan melalui pemahaman sistem biologi dengan tujuan utama meningkatkan
yang lebih dikenal dengan pemuliaan transgenik kesejahteraan penduduk.
melalui rekayasa genetika tanaman. Hal ini Salah satu kunci daya tahan petani dapat
masih mendapat tanggapan pro dan kontra di bertahan hidup adalah melakukan pola
Indonesia. Tanaman transgenik akan memberi nafkah ganda atau mengusahakan
manfaat yang jelas, antara lain ketahanan diversifikasi sumber pendapatan. Makin
terhadap hama dan penyakit, ketahanan rendah tingkat upah atau pendapatannya,
terhadap kekeringan, dan tanah marginal makin beraneka ragam sumber nafkahnya.
lainnya. Demikian pula semakin kecil luas lahannya,
Di lain pihak, pola tanam tradisional yang semakin besar persentase pendapatan
sebenarnya sudah ratusan tahun dilakukan di keluarga yang berasal dari sumber-sumber di
Indonesia terutama Jawa masih bisa luar sektor pertanian, seperti bekerja di
dipertahankan. Pola tanam itu adalah sistem pabrik, sektor perdagangan dan jasa, atau
penanaman secara tumpang sari atau bahkan meninggalkan desa untuk mencari
kombinasi tanaman pangan padi atau jagung tambahan nafkah di kota. Pengembangan
dengan tanaman perdagangan tembakau usaha kecil, baik secara formal maupun tidak
seperti yang dilakukan oleh petani-petani di formal, yang telah tumbuh terutama di
perdesaan. Selain itu, petani juga memelihara perdesaan Jawa merupakan manifestasi
sapi dan kambing. Kombinasi tersebut tumbuhnya wirausaha di daerah perdesaan.
merupakan kegiatan yang berkelanjutan: Perkembangan sektor formal (modern)
jagung ditanam untuk pangan dan sebagian akan memberi dampak positif terhadap
daunnya digunakan untuk makanan ternak, keterkaitan antara sektor ekonomi jasa dan

Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262 103


Y. B. Widodo

sektor tradisional sehingga perkembangan kesehatan, sarana transportasi, dan sarana


ekonomi perdesaan dapat dirasakan penerangan. Akan tetapi, apabila masalah
manfaatnya oleh sebagian besar masyarakat bencana kekeringan yang sedang dan
setempat yang kreatif berusaha. Munculnya akan terjadi di Indonesia tidak segera
usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan ditanggulangi, kemungkinan besar negara
salah satu contoh keterkaitan antara ini akan masuk dalam kategori kemiskinan
beberapa industri di perkotaan dengan sektor ekstrem seperti yang dialami oleh sebagian
tradisional di perdesaan (Widodo, 2007). besar penduduk benua Afrika tersebut.
Pekerjaan di luar sektor pertanian dianggap Bencana kekeringan akan dapat menunda
sebagai pekerjaan sambilan yang dilakukan bonus demografi yang seharusnya dicapai
untuk menambah pendapatan rumah tangga tahun 2020 dan telah mengkhawatirkan
karena sebagian besar penduduk perdesaan banyak pihak yang berpandangan jauh ke
adalah petani. Akan tetapi, pendapatan depan. Kemajuan manusia yang dinyatakan
sambilan tersebut biasanya lebih besar daripada dalam keberhasilan menguasai alam telah
bila mereka melakukan pekerjaan sebagai dihadapkan pada kenyataan baru: kegagalan
petani. Pekerjaan sambilan yang mereka menggunakan kemampuan untuk kelangsungan
lakukan misalnya adalah sebagai pengrajin atau hidupnya di masa depan dan hal itu telah
buruh di sektor jasa perhotelan di kota dengan terbukti benar. Untuk ini, diperlukan suatu
status tempat tinggal tetap di desa. Dapat bentuk kelompok yang memprakarsai pemulihan
dikatakan bahwa industri pengolahan hasil kelestarian alam dan mengingatkan kembali
pertanian, sektor perdagangan, hotel dan akibat buruk kerusakan alam tersebut, seperti
restoran, serta sektor jasa lainnya mempunyai yang dilakukan forum The Club of Roma pada
keterkaitan. Tentu saja ini didukung oleh tenaga tahun 1968 yang membahas kehidupan manusia
kerja yang terserap pada sektor tersebut. pada masa sekarang dan masa yang akan
Keterkaitan antarsektor tersebut telah datang. Yang paling penting adalah
menyebabkan sistem ketahanan ekonomi menciptakan pemahaman bahwa komponen
masyarakat perdesaan. sosial budaya, ekonomi, politik, dan alam yang
berbeda akan tetap saling tergantung satu sama
Penutup lain.
Jeffrey Sachs (2005) menyatakan walaupun Pada kenyataannya bencana kelaparan
banyak penduduk Indonesia yang masih masih tetap terjadi meskipun tersedia bahan
termasuk dalam kategori miskin, secara relatif pangan dan uang. Salah satu sebab adalah
mereka tidak termasuk dalam kategori bencana datang secara tiba-tiba dan tidak bisa
kemiskinan ekstrem seperti yang dialami oleh diramalkan, sementara yang bisa dilakukan
sebagian besar penduduk benua Afrika dengan adalah berusaha membangun bagi kepentingan
pendapatan kurang dari US$ 2 per hari. Kategori bersama dan menciptakan kebersamaan dalam
kemiskinan esktrem menunjukkan sebagian masyarakat. Di samping itu, tiap individu
besar penduduk tidak memiliki makanan untuk diharapkan mampu melakukan tindakan yang
dimakan hari ini, tidak memiliki akses terhadap diperlukan untuk memecahkan masalah secara
air bersih, pelayanan mandiri. Namun masalah akan

104 Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262


Dampak Bencana Kekeringan terhadap Peluang Kesejahteraan Penduduk

menjadi lebih berat apabila sebagian besar Dari sana hasil penemuan para pakar
penduduk belum memiliki kesadaran persoalan atas sistem dunia baru yang organik dan
lingkungan kependudukan. Fakta tersebut didukung oleh para pembuat keputusan
menunjukkan kemiskinan merupakan masalah atas penemuan mereka disertai oleh
yang kompleks dan rumit. Masyarakat kebijakan yang adil dapat terwujud.
memerlukan dorongan dan bantuan agar
mampu mengubah orientasi mereka daripada Daftar Pustaka
sekadar hidup mengandalkan iklim dan curah “Batas Akhir Pertumbuhan Dunia: Hasil
hujan ke perilaku yang lebih maju mengikuti penelitian Global”. 1973. Prisma,
perkembangan zaman. disponsori oleh Club of Rome. Edisi
Potensi alam daerah bencana yang perlu No. Ekstra Akhir Tahun. hlm. 47-58.
mendapat prioritas utama adalah di sektor
“Benarkah Indonesia sedang
pertanian karena sebagian besar penduduk
memasuki periode bencana alam?”.
hidup dari sektor pertanian, sementara sektor
2007. Koran Tempo, 21 Mei.
industri dapat terus dikembangkan, terutama
jenis industri pengolahan kekayaan alam,
Arifin, Bustanul. 2004. Analisa
Ekonomi Pertanian Indonesia.
khususnya gas dan pengolahan hasil-hasil
Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
pertanian. Untuk menunjang kedua sektor
tersebut, perkembangan sektor perhubungan Badan Pusat Statistik. 2006. Indeks
dan listrik perlu ditingkatkan. Berbagai kegiatan Pembangunan Manusia 2004-
pembangunan prasarana telah dilaksanakan, 2005. Jakarta.
seperti pembangunan prasarana perhubungan, ———————. 2007. Statistik
irigasi, dan sarana sosial. Akan tetapi, masalah Indonesia 2006. Jakarta.
yang belum dapat terpecahkan adalah masalah
Barlow, M. dan Tony Clarke. 2005.
pemerataan pembangunan desa dan kota,
Blue Gold: Perampasan dan
seperti tersedianya berbagai sarana dan
Komersialisasi Sumber Daya Air.
prasarana ekonomi relatif yang lebih baik. Hal ini
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
khususnya bagi daerah yang belum berkembang
dan tertinggal misalnya daerah wilayah
Brown, Lester R. dkk. 1990. Dunia di
pedalaman yang baru saja digoncang bencana
Tepi Jurang Kebinasaan. Jakarta:
kekeringan, seperti yang terjadi di NTT, baik di
Yayasan Obor Indonesia.
tingkat perdesaan maupun pegunungan. ———————. 1977. Dengan Sesuap Nasi.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Prakarsa Bali 2007 yang membahas Ehrlich, Paul R. 1982. Ledakan Penduduk.
masalah perubahan iklim yang kini Jakarta: Gramedia.
mengancam dunia merupakan titik temu yang Jolis, Alan. 2003. Banker to the Poor:
sangat berarti bagi kesejahteraan penduduk Muhammad Yunus, Founder of The
dunia dewasa ini. Oleh sebab itu, masalah
Gramen Bank. New York: Public Affairs.
perubahan iklim yang berakibat bencana
kekeringan tidak bisa dipandang remeh lagi.

Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262 105


Y. B. Widodo

Murtiningsih, S. Adi Utomo. 2006. “Transisi Stiglistz, Joseph E. 2006. Dekade


demografi dan pembangunan sumber daya Keserakahan: Era 90-an dan Awal Mula
manusia”, presentasi pada Pendidikan dan Petaka Ekonomi Dunia. (Seri terjemahan).
Latihan Tenaga Kerja. Pusat Penelitian Jakarta: Cipta Lintas Wacana.
Kependudukan, Lembaga Ilmu Tjiptoherianto, Prijono. 1999. Keseimbangan
Pengetahuan Indonesia. Penduduk, Manajemen Sumber Daya
Partadiredja, Ace. 1980. Perhitungan Manusia dan Pembangunan Daerah.
Pendapatan Nasional. Jakarta: Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
LP3ES. Wichester, Simon. 2004. Krakatao. The
Penny D. H. 1990. Kemiskinan: Peranan Day The World Exploded August 27,
Sistem Pasar. Jakarta: UI Press. 1883. London: Penguin Books.
Pranadji, T. dan Effendi Pasandaran. 2006. Widodo, Y. B. 2005. “Dinamika
“Keserakahan, krisis air dan bencana pengembangan pedesaan: masalah
alam”, Analisis Kebijakan Pertanian, 4(3). petani gurem dan buruh tani di pedesaan
Jawa”, Masyarakat Indonesia: Majalah
Rofi, Abdur. 2006. “Kematian terkait
Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, 31(2): 99-113.
gempa bumi 27 Mei 2006 di
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah”, ———————. 2007. “Peralihan yang
Populasi, Buletin Kependudukan menentukan”, Kompas, 23 Juni.
dan Kebijakan, 17(2): 191-200. ———————. 2007. “Urban rural disparities
Sachs, Jeffrey. 2005. The End of Poverty: and the regeneration of rural livelihoods in
How We Can Make It Happen In Our Java –Indonesia”. Paper Presented at The
Lifetime. London: Penguin Books. Asian Rural Sociological Association

Saputra, Muda. 2006. “Kondisi penduduk dan (ARSA) 3rd International Confrence on:
Globalization, Competitiveness and
kependudukan di Kabupaten Nias dan Nias
Human Insecurity in Rural Asia, August 8-
Selatan pasca tsunami 2004 dan gempa
10th, Bejing, China.
bumi 2005”, Warta Demografi, 36(2): 7-19.
Widodo, Y. B., dkk. 2002. Kualitas Petani
Saputra, Muda. 2007. “Kebijakan
Kopi dalam Perspektif Kependudukan,
kependudukan dan keluarga berencana
Sosial Budaya, dan Ekonomi di
dalam jendela kesempatan”, Warta
Kabupaten Kediri-Jawa Timur. Laporan
Demografi, 37(1). Hasil Penelitian. Jakarta: PPK-LIPI.
Word Bank. 2005. National Development
Slamet–Loedin, Inez. 2006 “Pengembangan
Report 2005. Jakarta: UNDP/Bappenas.
varietas tanaman: dari mendel ke
pendekatan genomik”. Revitalisasi
Pertanian dan Dialog Peradaban. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas.

106 Populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853 - 0262