Anda di halaman 1dari 29

PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN TUGAS PRAKTIKUM

OPERASI TEKNIK KIMIA I

“PROSES PELARUTAN PADAT CAIR”

GRUP D:

ANNISA NUR RAHMI (1631010110)

SAUFI HAMZAH (1631010121)

Tanggal Percobaan: 20 Februari 2018

Telah diperiksa dan disetujui oleh:

Kepala Laboratorium

Operasi Teknik Kimia I Dosen Pembimbing

Ir. Caecilia Pujiastuti, MT. Ir. Caecilia Pujiastuti, MT.

NIP. 19630305 198803 2 001 NIP. 19630305 198803 2 001

1
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkat
dan rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Resmi Operasi
Teknik Kimia 1 ini dengan judul “Proses Pelarutan Padat Cair”.

Laporan resmi ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Operasi Teknik
Kimia I yang diberikan pada semester IV. Laporan ini disusun berdasarkan
percobaan yang telah kami lakukan, dengan melakukan pengamatan hingga
perhitungan dan dilengkapi dengan teori dan literatur serta petunjuk dari asisten
pembimbing yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2018 di Laboratorium
Operasi Teknik Kimia.

Laporan hasil praktikum ini tidak dapat tersusun sedemikian rupa tanpa
bantuan baik dari sarana, prasarana, kritik dan saran. Oleh karena itu, tidak lupa
kami ucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Ir. C. Pujiastuti, MT selaku Kepala Laboratorium Operasi Teknik Kimia


sekaligus selaku Dosen Pembimbing
2. Seluruh asisten dosen yang membantu dalam pelaksanaan praktikum.
3. Rekan-rekan mahasiswa yang membantu dalam memberikan masukan-
masukan dalam praktikum.

Penyusun sangat menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih


banyak kekurangan. Maka penyusun selalu mengharapkan kritik dan saran, seluruh
asisten dosen yang turut membantu dalam praktikum yang kami lakukan. Tentunya
penyusun sangat berharap laporan yang telah di susun ini dapat bermanfaat bagi
mahasiswa Fakultas Teknik khususnya Jurusan Teknik Kimia.

Surabaya, 21 Februari 2018

Penyusun

2
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .......................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................... 1

KATA PENGANTAR ........................................................................... 2

DAFTAR ISI ......................................................................................... 3

INTISARI .............................................................................................. 5

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang ............................................................................. 6

I.2. Tujuan ......................................................................................... 6

I.3 Manfaat ....................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Secara Umum .............................................................................. 8

II.2. Sifat Bahan ................................................................................ 13

II.3. Hipotesa .................................................................................... 13

II.4. Diagram Alir ............................................................................. 15

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1. Bahan ....................................................................................... 16

III.2. Alat .......................................................................................... 16

III.3. Gambar Alat ............................................................................. 16

III.4. Rangkaian Alat ......................................................................... 17

III.5. Prosedur ....................................................................................17

3
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Pengamatan .............................................................................. 18

IV.2. Perhitungan .............................................................................. 18

IV.3. Grafik ...................................................................................... 20

IV.4. Pembahasan ............................................................................. 21

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan ............................................................................... 23

V.2. Saran ......................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 24

APPENDIX ......................................................................................... 25

4
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

INTISARI

Pelarutan adalah interaksi molekul pelarut dan molekul zat terlarut atau ion
untuk membentuk agregat yang partikelnya terikat secara longgar. Pelarutan tidak
terbatas pada senyawa ionik. Zat terlarut kovalen polar dapat berinteraksi dengan
pelarut polar. Kelarutan dapat didefinisikan sebagai properti suatu zat (zat terlarut)
untuk larut dalam pelarut tertentu. Dalam percobaan ini bertujuan untuk
menghitung kadar zat padat terlarut dalam pelarut serta untuk menentukan persen
kelarutan dari suatu zat terlarut.

Prosedur percobaan pelarutan padat-cair terdiri dari beberapa tahap.


Timbang CaO sesuai variabel yang ditentukan yaitu sebesar 1.5 gram. Kedua,
mengukur solvent (air) dengan sesuai variabel yang ditentukan (150 ml, 200 ml,
250 ml, 300 ml, dan 350 ml) Ketiga, campurkan solute dan solvent dalam beaker
glass. Kemudian melakukan operasi pelarutan menggunakan magnetic stirrer
dengan variabel waktu selama 15 menit. Lalu, pisahkan antara residu dan filtrat.
Kemudian dikeringkan seluruh residu, ditimbang dan dicatat berat keringnya.

Dari hasil percobaan dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa


perocaban telah berjalan sesuai dengan teori kelarutan bahwa semakin banyak
volume pelarut yang digunakan, maka akan semakin banyak zat terlarut yang ikut
terlarut. Meskipun terdapat satu atau dua data yang tidak sesuai karena kurang
maksimal dalam melakukan proses pengeringan. Kelarutan CaO berdasarkan
padatan tersisa pada 150 ml, 200 ml, 250 ml, 300 ml, dan 350 ml pelarut berturut-
turut sebesar 0.0303; 0.0458; 0.0528; 0.0827; 0.0812. Sedangkan kelarutan CaO
berdasarkan densitas pada 150 ml, 200 ml, 250 ml, 300 ml, dan 350 ml pelarut
berturut-turut sebesar 0.5090; 0.5860; 0.6470; 0.6940; 0.7470.

5
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat
yang jumlahnya lebih sedikit didalam lautan di sebut zat terlarut atau solute,
sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak dari zat lain didalam larutan
disebut pelarut atau solvent. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan
dinyatakan dalam konsentrasi larutan. Sedangkan proses pencampuran zat
terlarut dan pelarut membentuk larutan di sebut pelarutan atau solvasi. Pada
proses pelarutan, tarikan antara partikel kompone murni terpisah dan
tergantikan dengan zat terlarut. Terutaman jika pelarut dan zat terlarut sama-
sama polar, akan terbentuk suatu struktur zat pelarut mengelilingj zat terlarut
dan pelarut tetap stabil. Kelarutan merupakan massa 1gram terlarut dalam satu
liter pelarut atau dapat juga larutan diartikan sebagai kemampuan suatu zat
kimia tertentu (solute) untuk larut dalam suatu pelarut (solvent).
Prosedur percobaan pelarutan padat-cair terdiri dari beberapa tahap.
Timbang solute sesuai variable yang di tentukan. Kedua, buat solvent dengan
konsentrasi yang di tentukan. Ketiga campurkan solute dan solvent dalam
beaker glass. Keempat, lakukan operasi pelarutan menggunakan magnetic
stirrer dengan variable waktu yang di tentukan. Kelima pisahkan antar residu
dan filtrate. Kemudian keringkan residu, timbang dan catat berat keringnya.
Pada proses pelarutan padat cair ini terdapat beberapa tujuan, diantaranya
yaitu untuk menghitung kadar zat padat yang terlarut dalam suatu pelarut.
Untuk menentukan hubungan antara waktu dengan kadar zat padat yang terlarut
dalam suatu pelaratan dalam pelarut. Selain itu untuk menentukan pengaruh
berat solute yang akan dilarutkan terhadapt konsentrasi larutan.

I.2. Tujuan
1. Untuk menghitung kadar zat padat terlarut dalam pelarut.

6
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

2. Untuk mmbuat kurva hubungan antara waktu dengan konsentrasi zat padat
dalam suatu pelarut.
3. Untuk menentukan pengaruh berat solute yang terlarut terhadap konsntrasi
larutan.

I.3. Manfaat
1. Agar praktikan dapat mengetahui kegunaan proses pelarutan padat cair
dalam perencanaan peralatan pelarutan padat cair.
2. Agar praktikan dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam
proses pelarutan padat cair
3. Agar praktikan dapat mengetahui kemampuan kelarutan suatu zat padat
yang akan larut dalam suatu pelarut.

7
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Secara Umum


II.1.1. Pelarutan
Pelarutan adalah interaksi molekul pelarut dan molekul zat terlarut atau ion
untuk membentuk agregat yang partikelnya terikat secara longgar. Bila air di
gunakan sebagai pelarut, prosesnya juga disebut hidrasi. Banyak senyawa
kovalen yang terdiri dari molekul polar. Air adalah contoh familiar. Ketika
Kristal kecil dari suatu zat ionik seperti natrium klorida di tempatkan didalam
air, molekul polar mengarahkan dari mereka sendiri ke permukaan Kristal.
Kekuatan menarik antara molekul air dan ion permukaan cukup besar sehingga
ion-ion meninggalkan posisi tetap di Kristal dan bergerak ke posisi diantara
molekul air.
Pelarutan tidak terbatas pada senyawa ionik. Zat terlarut kovalen polar dapat
berinteraksi dengan pelarut polar. Glukosa adalah senyawa kovalen dengan
gugus polar yang larut dalam air karena pelarutan. Masing-masing gugus
hidroksil mewakili aerah dimana oksigen relative negatif dan hidrogen relatif
positif. Ketika kristal kecil gula di tempatkan di dalam air, molekul air
cenderung mengarahkan diri mereka sendiri sekitar permukaan molekul gula
sehingga bagian positif negatif maupun positif dari molekul air diarahkan ke
bagian molekul gula yang bereplikasi. Molekul gula meninggalkan permukaan
kristal dan masuk kedalam larutan sebagai molekul akuatik.
(Keenan, 1996).

II.1.2. Kelarutan
Larutan adalah campuran homogen dari satu atau lebih zat terlarut dalam
pelarut. Kubus gula yang ditambahkan ke secangkir kopi adalah contoh umum
untuk larutan. Property yang membantu molekul gula untuk larut dikenal
sebagai kelarutan. Oleh karena itu, istilah kelarutan dapat didefinisikan sebagai
properti suatu zat (zat terlarut) untuk larut dalam pelarut tertentu.

8
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

Telah diamati bahwa kelarutan zat padat tergantung pada sifat zat terlarut
dan juga pelarutnya. Kita sering melihat zat seperti gula, garam biasa (NaCl),
dll mudah larut dalam air sementara zat sepeti naftalena tidak dapat larut dalam
air. Dari berbagai pengamatan dan hasil eksperimen, telah terlihat bahwa hanya
zat terlarut polar yang cenderung larut dalam pelarut polar dan pelarut nonpolar
hanya melarutkan zat terlarut nonpolar. Ole karena itu, sifat pelarut dapat lihat
sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi kelarutan.
Keadaan setimbang dinamik terbentuk antara dua proses ini dan pada titik
ini, jumlah molekul zat terlarut yang memasuki larutan menjadi sama dengan
jumah partikel yang meninggalkan larutan. Akibatnya konsentrasi zat terlarut
dalam larutan akan tetep konstan pada temperature dan tekanan yang di berikan.
Larutan diamana tidak ada lagi zat terlarut yang dapat larut dalam pelarut pada
suhu dan tekanan yang diberikan dikatakan sebagai larutan jenuh karena larutan
tersebut mengandung jumlah zat terlarut maksimum. Konsentrasi zat terlarut
dalam larutan semacam itu disebut kelarutannya pada temperatur dan tekanan
tersebut. Jika lebih banyak zat terlarut dapat di tambahkan ke larutan maka
larutan tersebut di sebut larutan tek jenuh.
Terlepas dari sifat zat terlarut dan pelarut, temperatur juga mempengaruhi
kelarutan padatan. Jika proses pelarutannya bersifat endotermik maka
kelarutannya harus meningkat dengan naiknya temperatur sesuai dengan prinsip
Le Chateliers. Jika proses pelarutan eksotermik, kelarutan zat padat harus
menurun. Kelarutan zat padat hampir tidak terpengaruh oleh perubahan
tekanan.
(Byjus’s, 2017)

II.1.3. Koefisien Perpindahan Massa


Menurut Teori Nernst tentang kecepatan kelarutan padatan pada cairan
yang di aduk, terdapat suatu lapisan film yang tidak bergerak pada bidang batas
antara fase padat dan cairannya. Karena itu, padatan di pindahkan dari fase
padat ke fase cair hanya dengan cara difusi molekuler. Perpindahan massa pada
system padat cair, tebal lapisan filem efektif didefinisikan dengan persamaan
berikut;

9
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

𝐷
𝑥𝑚 = … … … … … … … … … … … … … … … … … … (1)
𝑘
Keterangan:
Xm = tebal lapisan filem efektif (cm)
D = koefisien difusitas (cm2/detik)
K = koefisien perpinadahan massa (cm/detik)
Rumus atau persamaan untuk kecepatan pelarutan partikel padatan dalam
zat cair yang di aduk telah di formulasikan oleh Hixon dan Crowell (1931).
Persamaan dasarnya disajikan dalam bentuk persamaan diferensial berikut .
𝑑𝑊
= -ka (Cs-C)……………………………………(2)
𝑑𝑡

Dengan 𝑎 adalah luas permukaan partikel pdatan. Nilai 𝑎 pada setiap waktu di
tuliskan dengan persamaan berikut.

𝑎 = 𝑊 Sw……………………………………………………………….(3)

Pada penelitian ini, massa partikel yang tidak terlarut pada setiap saat di
anggap berbanding lurus dengan diameternya berpangkat 3 dan dituliskan W ∞
dp3. Anggapan lainnya adalah bahwa partikel yang di gunakan berbentuk bola
dengan ukuran yang seragam, sehingga jika di tinjau satu satuan berat partikel
padatan maka dari S wo ∞ dpo2 dan Sw ∞ dp2 didapat
𝑑𝑝 2
Sw=Swo(d𝑝 ) ………………………………………………………(4)
𝑜

Kemudian, dari Wo = pp (π / 6) dpo2 dan W = pp(π / 6) dp3 di peroleh :


1
𝑑𝑝 𝑊 3
= (𝑊 ) ………………………………….....(5)
𝑑𝑝𝑜 𝑜

Substitusi persamaan (5) ke persamaan (4), lalu substitusikan S w ke persamaan


(3) di hasilkan
2
𝑊 3
𝑎 = 𝑊𝑆𝑤 = 𝑆𝑊𝑜 ( ) … … … … … … … … … … … (6)
𝑊𝑜

Massa padatan yang tidak terlarut (W) dihitung dari neraca massa solute dalam
tangka
W = Wo – VC……………………………………(7)

10
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

Substitusi persamaan (7) pada persamaan (2) di peroleh :


𝑑(𝑉𝐶)
= 𝑘𝑎 (𝐶𝑠 − 𝐶) ………………………………(8)
𝑑𝑡

Kemudian di substitusikan persamaan (6) ke persamaan (8) dan volume diangap


tetap, maka di peroleh persamaan :
2
𝑑𝐶 𝑊 3
𝑉= = 𝑘𝑆𝑊𝑜 𝑊 (𝑊 ) (𝐶𝑠 − 𝐶 )……………………..(9)
𝑑𝑡 𝑜

Dari persamaan (9), nilai k dapat di tentukan sebagai berikut :


𝑉
𝑘= 2 … … … … … … … … … … … … . . (10)
𝑊 3
𝑆𝑊𝑜 𝑊 (𝑊 ) (𝐶𝑠 − 𝐶 )

Keterangan:
𝑎 = luas permukaan partikel padatan (cm)
C = konsentrasi (gr/cm3)
Cs = konsentrasi jenuh (gr/cm3)
Dp= diameter partikel padatan (cm)
k = koefisien perpindahan massa (cm/detik)
hubungan antara koefisien perpindahan massa (k) dengan pegubah-ubahnya
yang mempegaruhi lalu dinyatakan dalam bentuk persamaan bilangan tak
berdimensi sebagai berikut;
𝛼
𝑘. 𝑑𝑝 Ɛ. 𝑑𝑝4 𝑉 𝛽
= 𝐾 ( 3 ) ( ) … … … … … … … … … … … … (11)
𝐷 µ 𝐷
Pada tangka berpengaduk, Ɛ pada persamaan (11) dirummuskan seperti
persamaan (12)
𝑁𝑝 .𝐷𝑖 5.𝑁3
Ɛ= ……………………………………(12)
𝑉

Nilai Np pada persamaan (12) ditntukan dari grafik hubungan antara N p dengan
Re untuk jenis pengaduk yang sesuai. Persamaan (11) kemudian di
sederhanakan menjadi:
𝑆ℎ = 𝑘. 𝑅𝑒 𝛼 𝑆𝑐 𝛽 …………………………………..(13)
Keterangan:
Di = diameter pengaduk (cm)
dp = diameter partikel padatan (cm)

11
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

K = tetapan
k = koefisien perpindahan massa (cm/detik)
N = kecepatan putaran pengaduk (ppm)
Np = Power number (_)
D = koefisien difusivitas (cm2/detik)
Sc = bilangan Schmidt. (µ /D) (_)
Sh = bilangan Sherwood. (k.dp/D).(_)
Ɛ = kecepatan supply energy per satuan massa cairan (cm2/s).
Re = bilangan Reynold (Ɛ.dp4/µ3). (_)
V = Volume larutan (cm3)
α, β = tetapan
µ = Viskositas kinematic (cm3/detik)
Dari hasil berbagai penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa nilai β
pada persamaan (13) adalah 1/3
(Mulyono, 2004)

12
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

II.2. Sifat Bahan


1. Kalsium Oksida
a. Rumus molekul : CaO
b. Berat molekul : 56,08 gr/mol
c. Densitas : 3,33 gr/cm3
d. Sifat korosif :-
e. Fase : padatan
f. Bau : tidak berbau
g. Warna : putih
h. Fungsi : sebagai zat terlarut
i. Penanganan jika terpapar :
- Kulit: segerea di bilas dengan air yang banyak setidaknya selama 15
menit sekaligus melepas baju dan sepatu yang terkontaminasi.
- Pernafasan: jika terhirup, Maka segera keluar untuk menghirup udara
segar.
(MSDS, 2013. “Calcium Oxide”).
2. Air
a. Rumus molekul : H2O
b. Berat molekul : 18,02 gr/mol
c. Densitas : 1 gr/cm3
d. Sifat korosif :-
e. Fase : cairan
f. Bau : tidak berbau
g. Warna : tidak berwarna
h. Fungsi : sebagai pelarut
i. Penanganan jika terpapar :-
(MSDS, 2013. “Water”).

II.3. Hipotesa
Pada proses pelarutan padat-cair, semakin lama waktu pelarutan maka zat
padat yang terlarut akan semakin banyak. Semakin polar zat padat yang di

13
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

larutkan maka kelarutannya akan semakin besar pada pelarut polar seperti H 2O.
apabila suatu zat padat di tambahkan terus-menerus kedalam zat pelarut maka
kelarutan zat padat tersebut akan mencapai kondisi dimana zat padat tersebut
tidak dapat larut lagi.

14
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

II.4. Diagram Alir

Timbang Berat Solute sesuai variabel yang


di tentukan

Buat solvent dengan konsentrasi yang di


tentukan

Campur solute dan solvent dalam beaker


glass

Lakukan operasi pelarutan dengan


magnetic stirrer dengan variabel waktu
yang di tentukan

Pisahkan residu dan filtrat

Keringkan residu

Timbang berat residu dan catat berat


keringnya

15
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1. Bahan
1. CaO
2. Aquadest

III.2. Alat
1. Beaker glass
2. Stopwatch
3. Kaca arloji
4. Neraca analitik
5. pengaduk
6. Magnetic stirrer
7. Corong kaca
8. Kertas saring
9. Oven
10. Piknometer

III.3. Gambar Alat

Beaker glass kaca arloji stopwatch pengaduk corong kaca

Magnetic stirrer oven neraca analitik kertas saring

16
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

Piknometer

III.4. Rangkaian Alat

III.5. Prosedur
1. Timbang CaO sebanyak 1.5 gram
2. Ambil aquadest sebagai pelarut sebanyak 150 ml, 200 ml, 250 ml, 300 ml,
350 ml, dan ukur densitasnya
3. Campur solute dan solvent didalam beaker gelas
4. Lakukan operasi pelarutan menggunakan magnetic stirrer selama 15 menit
5. Pisahkan antara residu dan filtrat dan ukur densitas filtrat
6. Keringkan residu, timbang dan catat berat keringnya

17
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan
CaO Awal Volume Air Berat Kertas Berat CaO yang Tidak Densitas Awal Densitas Akhir
(gr) (ml) Saring (gr) Kering (gr) Larut (gr) (gr/ml) (gr/ml)
1.5 150 0.8478 2.3023 1.4545 0.9709 0.97602
1.5 200 1.0327 2.4412 1.4085 0.9709 0.97679
1.5 250 1.0833 2.4514 1.3681 0.9709 0.97740
1.5 300 1.0563 2.3083 1.2520 0.9709 0.97787
1.5 350 1.1023 2.3182 1.2159 0.9709 0.97840

Praktikum Operasi Teknik Kimia I 18


UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

IV.2. Perhitungan
Tabel 2. Kelarutan Berdasarkan Padatan Tersisa
CaO Awal (gr) CaO yang Tidak Larut (gr) CaO yang Larut (gr) Kelarutan
1.5 1.4545 0.0455 0.0303
1.5 1.4085 0.0915 0.0458
1.5 1.3681 0.1319 0.0528
1.5 1.2520 0.2480 0.0827
1.5 1.2159 0.2841 0.0812

Tabel 3. Kelarutan Berdasarkan Densitas


Volume Air CaO Awal Densitas Awal Densitas Akhir CaO yang Kelarutan
(ml) (gr) (gr/ml) (gr/ml) Larut (gr)
150 1.5 0.9709 0.97602 0.7680 0.5120
200 1.5 0.9709 0.97679 1.1780 0.5890
250 1.5 0.9709 0.97740 1.6250 0.6500
300 1.5 0.9709 0.97787 2.0910 0.6970
350 1.5 0.9709 0.97840 2.6250 0.7500

Praktikum Operasi Teknik Kimia I 19


UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

IV.3. Grafik
3
2.6145
2.5
CaO Terlarut (gram) 2.0820
2 1.6175
1.1720
1.5 Berdasarkan Padatan
Tersisa
1 Berdasarkan Densitas
0.7635 0.1319
0.5 0.2480
0.0455 0.0915 0.2841
0
0 100 200 300 400
Volume Pelarut (ml)

Grafik 1. Hubungan CaO yang Larut terhadap Volume Pelarut


Pada grafik di atas terlihat bahwa semakin banyak volume air yang
ditambahkan untuk melarutkan padatan CaO, maka akan semakin banyak padatan
CaO yang akan ikut terlarut. Baik padatan CaO yang larut berdasarkan padatan
tersisa maupun berdasarkan densitas. Dapat dilihat dari berat CaO yang terlarut
berdasarkan padatan tersisa, pada 150 ml air terdapat 0.7635 gr CaO, pada 200 ml
air terdapat 1.1720 gr CaO, pada 250 ml air terdapat 1.6175 gr CaO, pada 300 ml
air terdapat 2.0820 gr CaO, dan pada 300 ml air terdapat 2.6145 gr CaO. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa grafik di atas telah berbanding lurus dengan teori
hubungan antara massa zat terlarut dan volume pelarut.

20
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

0.8000 0.6970
0.7500

Kelarutan (gr/100 gr pelarut)


0.7000 0.6500
0.5890
0.6000
0.5000
0.4000 Berdasarkan Padatan
0.5120 Tersisa
0.3000
0.0827 Berdasarkan Densitas
0.2000 0.0458
0.0528
0.1000 0.0303 0.0812
0.0000
0 100 200 300 400
Volume Pelarut (ml)

Grafik 2. Hubungan Kelarutan CaO tiap 100 gram Pelarut terhadap Volume
Pelarut
Pada grafik di atas terlihat bahwa kelarutan CaO tiap 100 gram pelarut
berdasarkan padatan tersisa maupun densitas terhadap volume pelarut, nilai
kelarutannya akan semakin menaik. Dapat diambil data dari berdasarkan densitas
bahwa pada volume pelarut 150 ml, 200 ml, 250 ml, 300 ml, dan 350 ml berturut-
turut sebesar 0.5120; 0.5890; 0.6500; 0.6970; 0.7500. Namun, jika dilihat
berdasarkan padatan tersisa, pada volume 350ml, terlihat bahwa kelarutannya
menurun. Hal ini terjadi karena kemungkinan kurang maksimalnya proses
pengeringan pada variabel tersebut, sehingga masih ada kandungan air pada residu
dan kertas saring.
IV.4. Pembahasan
Pelarutan adalah interaksi molekul pelarut dan molekul zat terlarut atau ion
untuk membentuk agregat yang partikelnya terikat secara longgar. Pelarutan tidak
terbatas pada senyawa ionik. Zat terlarut kovalen polar dapat berinteraksi dengan
pelarut polar. Kelarutan dapat didefinisikan sebagai properti suatu zat (zat terlarut)
untuk larut dalam pelarut tertentu.
Setelah dilakukan percobaan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan,
didapatkan bahwa kelarutan CaO berdasarkan padatan tersisa pada 150 ml, 200 ml,
250 ml, 300 ml, dan 350 ml pelarut berturut-turut sebesar 0.0303; 0.0458; 0.0528;
0.0827; 0.0812. Sedangkan kelarutan CaO berdasarkan densitas pada 150 ml, 200

21
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

ml, 250 ml, 300 ml, dan 350 ml pelarut berturut-turut sebesar 0.5090; 0.5860;
0.6470; 0.6940; 0.7470.
Jika kita bandingkan dengan teori yang ada, dari data-data hasil percobaan
telah menunjukkan bahwa hasil tersebut telah sesuai dengan teori volume pelarut
dan teori bentuk padatan solute itu sendiri. Dimana semakin banyak volume pelarut
maka akan semakin banyak zat terlarut yang larut dalam pelarut tersebut. Selain itu
juga telah sejalan dengan teori densitas dimana semakin banyak zat terlarut yang
ada di dalam suatu larutan, maka akan semakin besar pula nilai densitas dari larutan
tersebut.

22
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan
1. Kelarutan CaO berdasarkan padatan tersisa pada 150 ml, 200 ml, 250 ml,
300 ml, dan 350 ml pelarut berturut-turut sebesar 0.0303; 0.0458; 0.0528;
0.0827; 0.0812.
2. Kelarutan CaO berdasarkan densitas pada 150 ml, 200 ml, 250 ml, 300 ml,
dan 350 ml pelarut berturut-turut sebesar 0.5120; 0.5890; 0.6500; 0.6970;
0.7500.
3. Semakin besar volume pelarut yang digunakan dalam melarutkan suatu
padatan, maka akan semakin besar padatan solute yang akan terlarut
didalamnya.
4. Semakin kecil ukuran padatan zat terlarut maka akan semakin mudah untuk
ikut terlarut.

V.2. Saran
1. Lebih teliti lagi dalam melakukan penimbangan suatu bahan dengan
menggunakan neraca analitik
2. Pastikan ukuran padatan yang ingin dilarutkan dikecilkan terlebih dahulu
agar memudahkan proses pelarutan
3. Lebih teliti lagi dalam menetapkan ukuran volume cairan di dalam beaker
glass

23
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

DAFTAR PUSTAKA

Byju’s. 2017. “Solubility And The Factor Affecting Solubility”.


(http://byjus.com/che-mistry/solubility/). Diakses pada Jumat 16 Februari
2018 pukul 10.07 WIB.

Keenan, Charles.1996. “General collage Chemistry: Third Edition”. New York :


Harper and Row, Publisher, Inc.

MSDS. 2013. “Calcium Oside”. (https://sciencelac.com/msds.php). Diakses pada

Rabu 14 Februari 2018 pukul 19.03 WIB.


MSDS. 2013. “Water”. (http://sciencelab.com/msds.php). Diakses pada Rabu 14
Februari 2018 pukul 19.00 WIB
Mulyono, Panut. 2004. “Koefisien Perpindahan Massa Pelarutan Padatan Tangki
Berpengaduk dan Berpenghalang”. (http://i-libugm.ac.id/jurnal/down-
load.php?dataid=3921). Diakses pada Rabu 14 Februari 2018 pukul 18.42
WIB

24
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

APPENDIX

A.Menghitung Berat Residu CaO

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒓𝒆𝒔𝒊𝒅𝒖 𝑪𝒂𝑶 = (𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒓𝒕𝒂𝒔 + 𝑪𝒂𝑶) − 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒓𝒕𝒂𝒔 𝒔𝒂𝒓𝒊𝒎𝒈

1. Pada volume pelarut 150 ml.

Berat Residu CaO = 2,3023 gr – 0,8478 gr =1.4545 gr

2. Pada volume pelarut 200 ml.

Berat Residu CaO = 2.4412 gr – 1.0327 gr = 1.4085 gr

3. Pada volume pelarut 250 ml.

Berat Residu CaO = 2.4514 gr – 1.0833 gr = 1.3681 gr

4. Pada volume pelarut 300 ml.

Berat Residu CaO = 2.3083 gr – 1.0563 gr = 1.252 gr

5. Pada volume pelarut 350 ml.

Berat Residu CaO = 2.3182 gr – 1.1023 gr = 1.2159 gr

B. Menghitung densitas

(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑖𝑠𝑖 ) − (𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)


𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜

1. Densitas awal air


22.1853 𝑔𝑟 − 12.4760 𝑔𝑟
𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 = = 0.97093 𝑔𝑟/𝑚𝑙
10 𝑚𝑙

2. Densitas filtrat CaO 150 ml

22.2362 𝑔𝑟 − 12.4760 𝑔𝑟
𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 = = 0.97602 𝑔𝑟/𝑚𝑙
10 𝑚𝑙

25
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

3. Densitas filtrat CaO 200 ml

22.2439 𝑔𝑟 − 12.4760 𝑔𝑟
𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 = = 0.97679 𝑔𝑟/𝑚𝑙
10 𝑚𝑙

4. Densitas filtrat CaO 250 ml

22.2500 𝑔𝑟 − 12.4760 𝑔𝑟
𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 = = 0.97740 𝑔𝑟/𝑚𝑙
10 𝑚𝑙

5. Densitas filtrat CaO 300 ml

22.2597 𝑔𝑟 − 12.4760 𝑔𝑟
𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 = = 0.97787𝑔𝑟/𝑚𝑙
10 𝑚𝑙

6. Densitas filtrat CaO 350 ml

22.2600 𝑔𝑟 − 12.4760 𝑔𝑟
𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 = = 0.97840 𝑔𝑟/𝑚𝑙
10 𝑚𝑙

C. Berat CaO Larut Berdasarkan Padatan Tersisa

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑪𝒂𝑶 𝑳𝒂𝒓𝒖𝒕 = 𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑪𝒂𝑶 𝒂𝒘𝒂𝒍 − 𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑪𝒂𝑶 𝒕𝒂𝒌 𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕

1. Berat CaO larut pada pelarut 150 ml

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = 1.5 𝑔𝑟 − 1.4545 𝑔𝑟 = 0.0455 𝑔𝑟

2. Berat CaO larut pada pelarut 200 ml

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = 1.5 𝑔𝑟 − 1.4085 𝑔𝑟 = 0.0915 𝑔𝑟

3. Berat CaO larut pada pelarut 250 ml

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = 1.5 𝑔𝑟 − 1.3681 𝑔𝑟 = 0.1319 𝑔𝑟

4. Berat CaO larut pada pelarut 300 ml

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = 1.5 𝑔𝑟 − 1. 252𝑔𝑟 = 0.2480 𝑔𝑟

26
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

5. Berat CaO larut pada pelarut 350 ml

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = 1.5 𝑔𝑟 − 1.2159 𝑔𝑟 = 0.2841 𝑔𝑟

D. Berat Larut CaO Berdasarkan Massa Jenis Filtrat CaO

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑪𝒂𝑶 𝑳𝒂𝒓𝒖𝒕


= (𝑴𝒂𝒔𝒔𝒂 𝒋𝒆𝒏𝒊𝒔 𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓
− 𝒎𝒂𝒔𝒔𝒂 𝒋𝒆𝒏𝒊𝒔 𝒂𝒘𝒂𝒍) 𝒙 𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕

1. Berat larut CaO pada volume 150 ml

𝑔𝑟 𝑔𝑟
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = (0.97602 − 0.9709 ) 𝑥 150𝑚𝑙 = 0.7680 𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝑚𝑙 𝑚𝑙

2. Berat larut CaO pada volume 200 ml

𝑔𝑟 𝑔𝑟 𝑔𝑟
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = (0.97679 − 0.9709 ) 𝑥 200𝑚𝑙 = 1.1780
𝑚𝑙 𝑚𝑙 𝑚𝑙

3. Berat larut CaO pada volume 250 ml

𝑔𝑟 𝑔𝑟
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = (0.97740 − 0.9709 ) 𝑥 250𝑚𝑙 = 1.6250 𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝑚𝑙 𝑚𝑙

4. Berat larut CaO pada Volume 300 ml

𝑔𝑟 𝑔𝑟
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = (0.97787 − 0.9709 ) 𝑥 300𝑚𝑙 = 2.0910 𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝑚𝑙 𝑚𝑙

5. Berat larut CaO pada volume 350 ml

𝑔𝑟 𝑔𝑟
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑎𝑂 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡 = (0.97840 − 0.9709 ) 𝑥 350𝑚𝑙 = 2.6250 𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝑚𝑙 𝑚𝑙

E. Kelarutan Berdasarkan Padatan Tersisa

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑪𝒂𝑶 𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒂𝒔𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒔𝒂


𝑲𝒆𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕𝒂𝒏 =
𝟏𝟎𝟎 𝒈𝒓 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕

27
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

1. Kelarutan pada volume 150 ml (ρair = 1, sehingga 150 ml = 150 gr pelarut)

0.0455 𝑔𝑟 0.0303 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
150 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

2.Kelarutan pada volume 200 ml (ρair = 1, sehingga 200 ml = 200 gr pelarut)

0.0915 𝑔𝑟 0.0458 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
200 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

3.Kelarutan pada volume 250 ml (ρair = 1, sehingga 250 ml = 250 gr pelarut)

0.1319 𝑔𝑟 0.0528 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
250 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

4. Kelarutan pada volume 300 ml (ρair = 1, sehingga 300 ml = 300 gr pelarut)

0.2480 𝑔𝑟 0.0827 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
300 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

5. Kelarutan pada volume 350 ml (ρair = 1, sehingga 350 ml = 350 gr pelarut)

0.2841 𝑔𝑟 0.0812 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
350 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

F. Kelarutan Berdasarkan Massa Jenis Filtrat CaO

𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑪𝒂𝑶 𝑳𝒂𝒓𝒖𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒂𝒔𝒂𝒓 𝒎𝒂𝒔𝒔𝒂 𝒋𝒆𝒏𝒊𝒔


𝑲𝒆𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕𝒂𝒏 =
𝟏𝟎𝟎 𝒈𝒓 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕

1. Kelarutan pada volume 150 ml (ρair = 1, sehingga 150 ml = 150 gr pelarut)

0.7680 𝑔𝑟 0.5120 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
150 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

2.Kelarutan pada volume 200 ml (ρair = 1, sehingga 200 ml = 200 gr pelarut)

1.1780 𝑔𝑟 0.5890 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
200 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

28
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur
PROSES PELARUTAN PADAT CAIR

3. Kelarutan pada volume 250 ml (ρair = 1, sehingga 250 ml = 250 gr pelarut)

1.6250 𝑔𝑟 0.6500 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
250 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

4. Kelarutan pada volume 300 ml (ρair = 1, sehingga 300 ml = 300 gr pelarut)

2.0910 𝑔𝑟 0.6970 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
300 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

5. Kelarutan pada volume 350 ml (ρair = 1, sehingga 350 ml = 350 gr pelarut)

2.6250 𝑔𝑟 0.7500 𝑔𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 = =
350 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 100 𝑔𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

29
Praktikum Operasi Teknik Kimia I
UPN “Veteran” Jawa Timur