Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN

Disusun Oleh:

Nama : Astried Pascafitri Harenda

NIM : K4316014

Kelas :B

Kelompok :9

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2018
Laporan Resmi Praktikum

Fisiologi Hewan

I. Judul : Pengamatan Ektensibilitas dan Elastisitas Otot


II. Tujuan :
1. Mengamati adanya sifat ektensibilitas dan elastisitas pada otot polos
2. Mengamati adanya sifat ekstensibilitas dan elastisitas pada otot lurik

III. Alat dan Bahan :

Alat : Bahan :
a. Papan Seksi a. Katak (Rana sp.)
b. Gelas Arloji b. Beban (plastisin)
c. Tiang Penggantung c. Eter
d. Benang Besar d. Larutan Ringer

IV. Dasar Teori


Makhluk hidup memiliki kemampuan untuk bergerak. Otot adalah bagian tubuh
yang digunakan untuk alat gerak makhluk hidup. Otot merupakan alat gerak aktif
karena kemampuannya berkontraksi ketika dirangsang. Rangsangan pada otot dapat
berupa rangsangan mekanik seperti pijatan, rangsangan karena suhu panas atau
dingin, dan rangsangan kimia seperti asam dan basa. Otot memendek jika sedang
berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi. Kontraksi terjadi jika otot sedang
melakukan kegiatan, sedangkan relaksasi terjadi jika otot sedang beristirahat. (Sarifin,
2010)

Kontraksi otot terjadi setelah otot menerima rangsangan pada saraf motoris
atau rangsangan langsung pada otot tersebut. Pada keadaan fisiologis rangsangan
melalui saraf motoris yang berasal dari susunan saraf pusat atau sum-sum tulang
belakang melalui saraf eferen. Impuls tersebut dipindahkan dari saraf ke saraf lain
yang akhirnya mencapai neuromuscular junction yang akhirnya mengeluarkan
neurontransmitter yaitu acetylcholin. Acetylcholin akan meningkatkan elastisitas
membran muscle fiber (Sulistyo, 2010).

Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu :

1. Filamen aktin (tipis)


2. Filamen miosin (tebal)

Kedua filamen ini menyusun myofibril. Miofibril merupakan penyusun serabut


otot dan serabut-serabut otot ini menyusun otot. Serabut otot disebut juga dengan sel-
sel otot. Dalam praktikum kali ini akan dilakukan pengamatan sifar ekstensibilitas dan
elastisitas otot pada katak. Ekstensibilitas adalah kemampuan sel-sel otot untuk
memanjang hingga mencapai batas tertentu apabila diberikan gaya berupa beban atau
tarikan. Elastisitas merupakan kemampuan sel-sel otot untuk kembali kepada posisi
normal atau semula apabila beban yang telah diberikan, dihilangkan (Campbell,
2002).
Otot lurik bekerja dibawah sadar atau volunteer. Jalur miofibril otot lurik
melintang gelap dan terang, memiliki susunan berseling, susunan selnya mempunyai
bentuk silindris dan terdapat banyak inti ditepi. Serabut sel menyatu membentuk
fasikel. Kontraksi otot lurik cepat, tetapi mudah lelah. Otot polos bekerja tidak
dibawah sadar atau involunteer dan tidak melekat pada rangka makhluk hidup. sel
pada otot polos sangat halus dengan inti di tengah. Otot polos biasa ditemui pada
saluran pernafasan, pencernaan, pembuluh darah, saluran reproduksi dan saluran
ekskresi. (Isnaeni, 2006)

V. Data Pengamatan
a. Otot Polos

EKTENSIBILITAS ELASTISITAS
No. Kode Panjang Kode Panjang
Perlakuan Perlakuan
(cm) (cm)

Sebelum
+10
1. (P01) diberi 3 cm (P100) 4,9 cm
Plastisin
plastisin

Diberi 1
2. (P10) 3,5 cm (P80) +8 Plastisin 4,6 cm
Plastisin

Diberi 2
3. (P20) 3,8 cm (P60) +6 Plastisin 4,4 cm
Plastisin

Diberi 4
4. (P40) 4,2 cm (P40) +4 Plastisin 4,2 cm
Plastisin

Diberi 6
5. (P60) 4,4 cm (P20) +2 Plastisin 4 cm
Plastisin

Diberi 8
6. (P80) 4,6 cm (P10) +1 Plastisin 4 cm
Plastisin

Diberi 10 Tanpa
7. (P100) 4,9 cm (P02) 3,5 cm
Plastisin Plastisin

b. Otot Rangka
EKTENSIBILITAS Elastisitas
No. Kode Panjan Kode Panjang
Perlakuan Perlakuan
g (cm) (cm)
Sebelum
+10
1. (P01) diberi 3 cm (P100) 3,2 cm
Plastisin
plastisin

Diberi 1
2. (P10) 3,3 cm (P80) +8 Plastisin 3,2 cm
Plastisin

Diberi 2
3. (P20) 3,7 cm (P60) +6 Plastisin 3,2 cm
Plastisin

Diberi 4
4. (P40) 3,7 cm (P40) +4 Plastisin 3,2 cm
Plastisin

Diberi 6
5. (P60) 3,8 cm (P20) +2 Plastisin 3,2 cm
Plastisin

Diberi 8
6. (P80) 3,8 cm (P10) +1 Plastisin 3,1 cm
Plastisin

Diberi 10 Tanpa
7. (P100) 3,9 cm (P02) 3 cm
Plastisin Plastisin

VI. Analisa Hasil Pembahasan


a) Analisa Kuantitatif
- Ekstensibilitas
1. Otot Polos
 Penambahan 1 plastisin

 Penambahan 2 plastisin

 Penambahan 4 plastisin

 Penambahan 6 plastisin

 Penambahan 8 plastisin
 Penambahan 10 plastisin

2. Otot Lurik
 Penambahan 1 plastisin

 Penambahan 2 plastisin

 Penambahan 4 plastisin

 Penambahan 6 plastisin

 Penambahan 8 plastisin

 Penambahan 10 plastisin

- Elastisitas
a. Otot Polos
 Saat beban 10 plastisin dilepas

 Saat beban plastisin dilepas


 Saat beban 6 plastisin dilepas

 Saat beban 4 plastisin dilepas

 Saat beban 2 plastisin dilepas

 Saat beban 1 plastisin dilepas

b. Otot Lurik
 Saat beban 10 plastisin dilepas

 Saat beban 8 plastisin dilepas

 Saat beban 6 plastisin dilepas

 Saat beban 4 plastisin dilepas

 Saat beban 2 plastisin dilepas

 Saat beban 1 plastisin dilepas


b) Analisa Kualitatif
1) Ekstensibilitas dan Elastisitas Otot
Ekstensibilitas adalah kemampuan bertambahnya atau meningkatnya
pemanjangan otot Sifat ekstensibilitas umumnya terdapat pada beberapa
jaringan biologis, seperti pada otot lurik dan otot polos normal (Rahmatullah.,
dan Lesmana, 2005). Elastisitas otot merupakan kemampuan otot untuk
kembali pada bentuk dan ukuran semula apabila gaya atau beban yang
diberikan kepada otot dihilangkan (Suratun., Heryati., 2008).

2) Jenis Otot
Otot merupakan suatu jaringan terbesar dalam tubuh yang dapat dieksitas
dimana kegiatannya berupa kontraksi. Secara fisiologi otot dibagi ke dalam
tiga jenis yaitu otot ragka, otot polos, dan otot jantung.

1. Otot rangka, merupakan otot yang melekat pada tulang dan berfungsi
untuk menggerakan bagian-bagian skeleteon. Disebut otot rangka, karena
otot rangka bercorak (striated) yang memperlihatkan adanya garis atau pita
gelap terang bergantian. Jaringan otot rangka bersifat volunter karena
berkontraksi dan relaksasi dibawah kontrol kesaran. Adanya garis gelap
terang disebabkan adanya miofibril. Setiap miofibril tersusun atas satuan
kontraktil yang disebut sarkomer. Sarkomer mengandung dua jenis filamen
protein tebal disebut miosin dan filamen protein tipis yang disebut aktin,
yang letaknya saling bertumpang tindih. (Rahmatullah &Lesmana, 2005)
2. Otot jantung, merupakan otot bercorak yang bersifat involunteer dimana
kontraksi yang terjadi tidak dibawah kontrol kesadaran (Wangko, 2014).
Otot jantung terbentuk dari serabut- serabut otot yang bersifat khusus dan
dilengkapi jaringan saraf yang secara teratur dan otomatis memberikan
rangsangan berdenyut bagi otot jantung, dengan denyutan ini jantung
memompa darah yang kaya dengan oksigen dan zat makanan ke seluruh
tubuh termasuk arteri coroner, serta memompa darah yang miskin oksigen
ke paru- paru (Wahyudi, 2017). Kebanyakan saraf- saraf jantung
mempunyai kemampuan perangsangan sendiri, yang merupakan suatu
proses yang dapat menyebabkan lepasan dan kontraksi ritmis otomatis.
Bagian sistem yang memperlihatkan rangsangan sendiri secara luas adalah
nodus sinus (Anwar, 2009).
3. Otot polos, merupakan otot yang memiliki beragam cara dalam
mencetuskan kontraksi atau relaksasi sebagai respon terhadap hormon,
nontransmitter, dan substansi lain yang berbeda (Kristanti, 2014). Otot
polos berkontraksi lebih lambat bila dibandingkan otot rangka dan bersifat
involunteer yang bertanggungjawab atas aktivitas tubuh tidak sada. Otot
polos ditemukan pada dinding saluran pencernaan, kandung kemih, arteri,
dan organ internal lainnya (Campbell, 2004).

3) Perbedaan Karakteristik Otot Polos dan Otot Lurik

Faktor Pembeda Otot Polos Otot Lurik


Lokasi Dalam dinding saluran Melekat pada rangka.
pencernaan, kandung
kemih, arteri, dan prgan
internal lainnya.
Sifat Involunteer (tidak Volunteer (sadar);
sadar); bertanggung bertanggung jawab atas
jawab atas pergerakan pergerakan tubuh secara
tubuh tidak sadar. sadar.
Jumlah inti Satu ditengah Inti banyak di tepi
Retikulum Tidak berkembang Berkembang dengan
sarkoplasma dengan baik, sehingga baik, ion kalsium
ion kalsium sedikit, banyak, tidak tergantung
tergantung pada ion pada ion kalsium
kalsium eksternal. eksternal.
Protein kontraktil Actin, miosin, Actin, miosin, troponin,
calmodulin, dan dan tropomiosin.
tropomiosin.
Mekanisme Mekanisme kontraksi- Mekanisme kontraksi-
relaksasi berbasis relaksasi berbasis
aktivitas enzim. aktivitas saraf.

Batas antar sel Berupa gap junction Berupa tight junction


sehingga kontraksi dapat sehingga kontraksi tidak
menyebar ke otot dapat menyebar ke otot
lainnya. lainnya.
4) Faktor yang Mempengaruhi Kontraksi Otot
Kontraksi otot terjadi karena interaksi antar miosin dan aktin, dimana
filamen-filamen disorongkan satu terhadap yang lain. Secara umum, faktor
yang mempengaruhi kontraksi otot adalah :
a. Treppe (staircase effect), keadaan peningkatan kekuatan kontraksi yang
terjadi berulang di serabut otot karena adanya stimulus yang berurutan
dan hanya selang beberapa detik. Pengaruh ini dikarenakan
peningkatan konsentrasi ion Ca++ pada serabut otot sehingga membuat
aktibasi miofibril meningkat.
b. Summasi, terdiri dari 2 kontraksi jalan, summasi unit motor berganda
dan summasi gelombang, summasi unit berganda terjadi jika banyak
motoris yang mendapat rangsangan untuk kontrakasi pada otot. Hal ini
menyebabkan banyak dari serabut dan berkas otot melakukan
kontrasksi sehingga dihasilkan kontraksi yang lebih besar pada otot.
Summasi bergelombang karena frekuensi stimulus ditingkatnya.
c. Tetanis, terjadi bila summasi gelombag menjadi sangat cepat sehingga
tidak ada peningkatan frekuensi lebih jauh lagi yang akan
meningkatkan tegangan kontraksi, tenaga terbesar yang dapat dicapai
oleh otot telah tercapai.
d. Fatigue merupakan menurunnya kapasitas bekerja yang disebabkan
oleh pekerjaan itu sendiri (ATP total yang tersedia jumlahnya menurun,
tenaga untuk kontraksi menurun juga dan otot akan semakin melemah).
Muscle fatigue(kelelahan otot) menurunnya kekuatan kontraksi setelah
berlangsungnya stimulasi yang berkepanjangan. Ischemia, kontraksi
otot menekan pembuluh darah di dalam otot dan oleh karenanya
menurunkan suplai atau aliran darah apabila terjadi kontraksi yang
berkepanjangan. Cramp otot, yaitu ischemia disertai menumpuknya
asam laktat.
e. Rigor dan Rigor Mortis
Rigor kelelahan yang berlebihan , hal ini terjadi apabila sebagian
terbesar ATP dari dalam otot setelah dihabiskan, kalsium tidak lagi
dapat dikembalikan ke dalam reticulum sarkoplasma melalui
mekanisme pemompaankalsium. Oleh karena itu, relaksasi tidak bisa
terjadi karena filamen aktin dan myosin terikat dalam suatu ikatan
yang erat. Rigor mortis pada dasarnya sama dengan rigor, kecuali
terjadi beberapa jam setelah kematian. ATP tidak lagi tersedia, otot
kehilangan tonus, dan kalsium sedikit demi sedikit dilepaskan dari
reticulum sarkoplasma. Tonus yaitu tegangan ditunjukkan oleh semua
otot pada saat istirahat. (Frandson, 1992)

Kontraksi pada otot terjadi apabila ada rangsangan dari ATP dan kalsium
(Suratun., Heryati., 2008). Faktor yang mempengaruhi yaitu :

a. Otot polos
Stimulus atau faktor yang memicu sebagian besar otot polos
berkontraksi adalah adanya peningkatan ion kalsium intra sel. Otot polos
mempunyai beragam cara dalam mencetuskan kontraksi atau relaksasi
sebagai respon terhadap hormon, neurotransmitter, dan substansi lain yang
berbeda. Suatu hormon dapat memicu kontraksi otot polos bila membran
sel otot mengandung reseptor perangsang bergerbang hormon untuk
hormon tertentu. Sebaliknya, hormon akan menimbulkan inhibisi jika
membran mengandung reseptor pengambat untuk hormon tersebut
daripada mengandung reseptor perangsang, salah satu contoh hormon yang
mempengaruhi kontraksi otot polos adalah hormon oksitosin (Kristanti,
2014).
b. Otot lurik
Faktor yang mempengaruhi otot lurik dalam berkontraksi adalah
aktivitas saraf. Akibat adanya impuls saraf yang bersifat elektrik, dihantar
ke sel- sel otot secara kimiawi dan hal ini dilakukan oleh sambungan otot
saraf yang mengandung gelembung- gelembung kecil asetilkolin
menempel pada sel otot, akan menyebabkan terjadinya depolarisasi dan
aktivitas listrik yang menyebar ke seluruh sel otot sehingga timbul
kontraksi. Untuk bisa berkntraksi, serabut otot memerlukan energi yang
berasal dari oksidasi makanan terutama karbohidrat. (Lesmana, 2013)

5) Perbandingan Ekstensibilitas dan Elastisitas Otot Polos dan Otot Lurik


Berdasarkan hasil praktikum ekstensibilitas dan elastisitas otot yang
dilakukan terhadap otot polos (usus) dan otot lurik (otot rektus abdominis)
pada katak yang diberi beban 1,2,4,6,8 dan 10 bulatan plastisin diperoleh data
yaitu ekstensibilitas pada perlakuan tidak diberi beban atau perlakuan panjang
otot polos dan otot lurik masing-masing 3 cm. Hasil pengamatan
ekstensibilitas pada otot polos (usus) dengan pemberian beban 1 plastisin yaitu
mengalami pertambahan panjang menjadi 3,5 cm sedangkan panjang otot lurik
(otot rektus abdominis) 3,3 cm. Pada pemberian beban 2 plastisin panjang otot
polos (usus) 3,8 cm sedangkan otot lurik 3,7 cm. Pada pemberian beban 4
plastisin panjang otot polos 3,8 cm sedangkan otot lurik 3,7 cm. Pada
pemberian beban 6 plastisin panjang otot polos 4,4 cm sedangkan otot lurik
panjangnya tetap 3,7 cm. Pada pemberian beban 6 plastisin panjang otot polos
4,6 cm sedangkan pada otot lurik 3,8 cm. Pada pemberian beban 10 plastisin
panjang otot polos 4,9 cm sedangkan otot lurik 3,9 cm.
Hasil pengamatan elastisitas pada saat pemberian beban 10 plastisin,
panjang otot polos adalah 4,9 cm dan otot lurik 3,2 cm. Kemudian beban
plastisin diambil 2 sehingga panjang otot polos berubah menjadi 4,6 cm dan
otot lurik 3,2 cm. Beban diambil 2 lagi, sehingga masih terdapat 6 plastisin,
panjang otot polos 4,4 cm sedangkan otot lurik 3,2 cm. Setelah plastisin
diambil 2 lagi, sehingga tersisa 4 plastisin panjang otot polos 4,2 dan otot lurik
3,2 cm. Kemudian plastisin diambil 2 lagi, sehingga tersisa 2 plastisin panjang
otot polos 4 cm dan otot lurik adalah 3,2 cm. Setelah tersisa 1 plastisin,
panjang otot polos 4 cm dan otot lurik adalah 3,1 cm. Setelah semua beban
dihilangkan, panjang otot polos adalah 3 cm dan panjang otot lurik adalah 3,5
cm.
Dapat diketahui bahwa nilai ekstensibilitas baik otot polos (usus) dan
otot lurik (otot rektus abdominis) tidak konstan meskipun pemberian beban
yang ditambahkan sama yaitu 10 gram. Setelah penghitungan dengan rumus,
jika kita membandingkan nilai ekstensibilitas dari otot polos dan otot lurik
maka dapat dikatakan bahwa ekstensibilitas otot polos lebih besar dari otot
lurik. Penambahan 1 beban nilai ekstensibilitas otot polos 16,67% sedangkan
otot lurik 10%, ditambah 2 beban nilai ekstensibilitas otot polos 26,67%
sedangkan otot lurik 23,33%, 4 beban nilai ekstensibilitas otot polos 40% dan
otot lurik 23,33%, 6 beban nilai ekstensibilitas otot polos 46,67% dan otot
lurik 26,67%, 10 beban nilai ekstensibilitas otot polos 63,33% sedangkan otot
lurik 30%.
Nilai elastisitas dari otot lurik adalah 100 %. Hal ini menunjukkan
bahwa kemampuan otot akan kembali pada bentuk dan ukuran semula apabila
gaya atau beban yang diberikan kepada otot semakin berkurang dan tingkat
elastisitas pada otot lurik ini cukup baik yang mencapai nilai 100%.
Sedangkan pada otot polos belum cukup baik karena tidak mencapai 100%.

Tabel Perbandingan

Ekstensibilitas Elastisitas

Otot Polos Otot Lurik Otot Polos Otot Lurik

Struktur otot Struktur otot lurik Struktur otot Struktur otot lurik
polos (usus) (otot rektus polos (usus) (otot rektus
katak yaitu abdominis) katak yaitu abdominis) katak
panjang dan mempunyai luas panjang dengan yaitu luas
memiliki luas penampang luas penampang penampangnya
penampang yang yanglebar, yang sempit, lebar sehingga
sempit, sehingga sehingga ketika sehingga ketika ketika pemberian
ketika diberi diberi beban pemberian beban beban dikurangi
beban cenderung cenderung dikurangi akan menjadi
akan memanjang. melebar. memendek. mengkerut.

VII. Kesimpulan
1. Ekstensibilitas adalah kemampuan otot untuk memanjang hingga mencapai batas
tertentu apabila diberikan gaya berupa beban atau tarikan. Elastisitas merupakan
kemampuan otot untuk kembali kepada posisi normal atau semula apabila beban
yang telah diberikan dihilangkan. Kemampuan ekstensibilitas dan elastisitas
dipengaruhi oleh beratnya beban, semakin berat beban yang diberikan maka
kemampuan untuk meregang dan kembali ke bentuk semula juga semakin besar.
2. Setelah dilakukan percobaan ekstensibilitas dan elastisitas pada otot polos dan
otot lurik maka diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Ekstensibilitas otot polos lebih besar dibandingkan dengan otot lurik.
b. Elastisitas otot lurik lebih besar dibandingkan dengan otot polos. Elastisitas
otot lurik cukup baik mampu mencapai 100%.
VIII. Daftar Pustaka

Anwar, S. (2009). Rancang Bangun Elektrokardiograph Berbasiskan Personal Computer


(PC). Elektron, 1(1)
Campbell, N. A. (2004). Biologi Jilid 3 (5th ed.). Jakarta: Erlangga.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Isnaeni, W. (2006). Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Kristanti, R. (2014). Pengaruh Oksitosin terhadap Kontraksi Otot Polos Uterus. Jurnal El-
Hayah, 5(1), 17–22
Lesmana, S. I. (2013). Perbedaan Pengaruh Metode Latihan Terhadap Kekuatan dan Daya
Tahan Otot Biceps Brachialis Ditinjau dari Perbedaan Gender. Jurnal Fisioterapi
Indonusa, 2(1).
Rahmatullah., dan Lesmana, S. I. (2005). Perbedaan Pengaruh Pemberian Strenghthening
Exercise Jenis Kontraksi Concentric dengan Eccentric terhadap Peningkatan Kekuatan
Otot Biceps Brachii. Jurnal Fisioterapi Indonusa, 2(20).
Sarifin. 2010. Kontraksi Otot dan Kelelahan. Jurnal ILARA. I(2) : 58-60
Sulistyo, W. (2010). Pengaruh Latihan Half Squat dan Latihan Quarter Squat pada
Kecepatan Tendangan dan Daya Ledak Otot Tungkai. Surakarta: UNS Press
Suratun., Heryati., M. (2008). Klien Gangguan Sistem Muskoloskeletal. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Wahyudi, E. dan H. (2017). Case- Based Reasoning untuk Diagnosis Penyakit Jantung.
IJCCS, 11(1), 1–10.
Wangko, S. (2014). Jaringan Otot Rangka Sistem membran dan struktur halus unit
kontraktil Sunny. Jurnal Biomedik, 6(3), S27-32.

IX. Lampiran
1 Lembar Laporan Sementara
1 Lembar Lampiran Gambar

X. Pengesahan

Surakarta, 7 November 2018

Asisten Praktikum Praktikan


( Marina Ruzyati ) (Astried Pascafitri H )
NIM. K4315034 NIM. K4316014

LAMPIRAN GAMBAR