Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH BIOFARMASI

“ Perjalanan Obat GRDDS Di Dalam Tubuh yang Diberikan Secara Oral


dari GRDDS Mukoadhesif”

DOSEN PEMBIMBING : Prof. Dr. Teti Indrawati, MS. Apt

DISUSUN OLEH :
1. 13334064 Pamela Khristi
2. 15334045 Siti Kodariah

PROGRAM STUDI P2K FAKULTAS FMIPA


INSTITUT SAIN DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, karunia, serta taufik
dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah Biofarmasi yang berjudul
“Perjalanan Obat GRDDS Di Dalam Tubuh yang Diberikan Secara Oral dari GRDDS
Mukoadhesif”

Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Biofarmasi di Institut Sains dan Teknologi Nasional
Jakarta. Kami juga berterima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Teti Indrawati, MS. Apt. selaku
Dosen matakuliah Biofarmasi dan penggerak mulayang telah memberikan tugas ini kepada
kami.
Kami sangat berharap mekalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai obat gastroretentif mukoadhesif yang baikdalam formulasi
pembuatan, pemakaian obat, mekanisme kerja obat dan terapi yang dihasilkan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itukritik
dan saran usulan dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan, demi
kesempurnaan makalah ini, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah kami susun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai
segala usaha kita. Amin.

Jakarta, 11 Desember 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………… i


DAFTAR ISI ……………………………………………………………………ii
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………...
DAFTAR VIDEO ……………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….
1.1 Latar Belakang ……………………………………………………..
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………….....
1.3 Tujuan ………………………………………………………………
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR VIDEO
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Efektifitas sediaan oral sangat tergantung dari berbagai faktor seperti waktu
pengosongan lambung, lamanya tinggal sediaan di lambung, pelepasan obat dari
sediaan dan lokasi absopsi obat. Sebagian besar bentuk sediaan oral memiliki beberapa
keterbatasan fisiologis seperti berubah-ubahnya waktu transit di lambung menjadikan
tidak seragamnya profil absorpsi, tidak sempurnanya pelepasan obat dari sediaan, dan
singkatnya waktu tinggal sediaan di lambung.

Modifikasi sistem penghantaran obat dengan memperpanjang waktu tinggal


dilambung cocok untuk obat-obat yang memiliki kriteria : untuk aksi lokal dilambung,
absorbsi baik dilambung, tidak stabil dan terdegradasi didalam saluran intestinal/ kolon,
kelarutannya rendah pada pH tinggi, dapat diabsorbsi secara cepat dilambung, dan
memiliki rentang absorbsi yang sempit (Rocca et al., 2003)

Drug Delivery system (DDS) didefinisikan sebagai formulasi atau alat yang
dapat menghantarkan agent terapeutik ke dalam tubuh dan meningkatkan efikasi dan
keamanannya dengan mengkontrol pelepasan, waktu, dan tempat lepas obat dalam
badan. Proses penghantaranmeliputi cara penggunaan produk terapi, pelepasan zat aktif
dari produk, dan transport yang terlibat dalam menghantarkan zat aktif untuk
menembus membran biologi menuju tempat aksi.

Banyak metode yang dapat digunakan untuk membuat sediaan lepas terkendali,
salah satunya adalah sediaan yang dirancang untuk tetap tinggal dilambung. Bentuk
sediaan yang dapat dipertahankan di dalam lambung disebut Gastroretentive Drug
Delivery System (GRDDS). GRDDS dapat memperbaiki pengontrolan penghantaran
obat yang memiliki jendela terapeutik sempit, dan absorbsinya baik di lambung.
Keuntungan GRDDS diantaranya adalah mampu meningkatkan
bioavailabilitas, mengurangi obat yang terbuang dengan sia-sia, meningkatkan
kelarutan obat-obatan yang kurang larut pada lingkungan pH yang tinggi. Hal-hal yang
dapat meningkatkan waktu tinggal dilambung meliputi: sistem penghantaran
bioadhesieve yang melekat pada permukaan mukosa, sistem penghantaran yang dapat
meningkatkan ukuran obat sehingga tertahan karena tidak dapat melewati pylorus dan
sistem penghantaran dengan mengontrol densitas termasuk floating system dalam
cairan lambung (Gohel et al., 2004).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pelepasan obat dan sediaan GRDDS sistem mukoadhesif?
2. Faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi pelepasan GRDDS mukoadhesif?
3. Faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi bioavaibilitas GRDDS mukoadhesif?
4. Bagaimana perjalanan obat GRDDS mukoadhesif di dalam tubuh ?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana pelepasan obat dari sediaan GRDDS mukoadhesif.
2. Untuk mengetahui faktor faktor apa saja yang mempengaruhi absorpsi dari sediaan
GRDDS sistem mukoadhesif.
3. Untuk mengetahui faktor faktor apa saja yang mempengaruhi bioavailbilitas dari
sediaan GRDDS sistem mukoadhesif.
4. Untuk mengetahui bagaimana perjalanan obat GRDDS didalam tubuh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fisiologi Pencernaan

Gambar 2.1. Anatomi lambung

Lambung merupakan organ yang berbentuk kantong seperti huruf ‘J’, dengan
volume 1200-1500 ml pada saat berdilatasi. Pada bagian superior, lambung berbatasan
dengan bagian distal esofagus, sedangkan pada bagian inferior berbatasan dengan
duodenum. Lambung terletak pada daerah epigastrium dan meluas ke hipokhondrium
kiri. Kecembungan lambung yang meluas ke gastroesofageal junction disebut kurvatura
mayor. Kelengkungan lambung bagian kanan disebut kurvatura minor, dengan ukuran
¼ dari panjang kurvatura mayor. Seluruh organ lambung terdapat di dalam rongga
peritoneum dan ditutupi oleh omentum.
Secara anatomik, lambung terbagi atas 5 daerah yaitu:
 Kardia, daerah yang kecil terdapat pada bagian superior di dekat gastroesofageal
junction,
 Fundus, bagian berbentuk kubah yang berlokasi pada bagian kiri dari kardia dan
meluas ke superior melebihi tinggi gastroesofageal junction,
 Korpus, merupakan 2/3 bagian dari lambung dan berada di bawah fundus sampai
ke bagian paling bawah yang melengkung ke kanan membentuk huruf ‘J’,
 Antrum pilori, adalah bagian 1/3 bagian distal dari lambung. Keberadaannya secara
horizontal meluas dari korpus hingga ke sphincter pilori; dan
 Sphincter pilori, merupakan bagian tubulus yang paling distal dari lambung.
Bagian ini secara kelesulurhan dikelilingi oleh lapisan otot yang tebal dan berfungsi
untuk mengontrol lewatnya makanan ke duodenum.

Dinding lambung terdiri dari empat lapisan yaitu lapisan mukosa, sub-mukosa,
muskularis eksterna (propria) dan serosa. Permukaan mukosa dilapisi oleh sel epitel
kolumnar penghasil mukus dan meluas ke sebagian foveolar atau pit. Lapisan mukosa
terbagi atas dua lapisan yaitu lamina propria dan lapisan muskularis mukosa.
Pada lapisan muskularis mukosa, terdapat lapisan otot sirkuler pada bagian dalam
dan lapisan otot longitudinal pada bagian luarnya. Otot-otot ini berkelanjutan
membentukan kelompokan kecil (fascicle) otot polos yang tipis menuju ke bagian
dalam lamina propria hingga ke permukaan epitel. Pada lapisan sub-mukosa,
jaringannya longgar dan mengandung sejumlah jaringan ikat elastik, terdapat pleksus
arteri, vena, pembuluh limfe dan pleksus nervus Meissner. Muskularis eksterna terdiri
dari tiga lapisan yaitu longitudinal luar (outer longitudinal), sirkuler dalam (inner
sirkuler) dan oblik yang paling dalam (innermost oblique). Lapisan sirkuler sphincter
pilorik pada gastroesofageal junction. Pleksus Auerbach (myenteric) berlokasi pada
daerah di antara lapisan sirkular dan longitudinal dari muskularis eksterna.
Semua kelenjar lambung mempunyai dua komponen yaitu bagian foveola (kripta,
pit) dan bagian sekresi (kelenjar). Mukosa lambung secara histologi terbagi atas 3 jenis
yaitu kardiak, fundus dan pilorik (antral), dengan daerah peralihan di antaranya.
Perbedaan berbagai jenis mukosa lambung tergantung pada perbandingan relatif antara
bagian foveolar dengan bagian sekresi, serta komposisinya secara mikroskopik.
Kelenjar kardiak dan pilorik mempunyai kemiripan yaitu perbandingan antara foveola
terhadap kelenjar yang mensekresi mukus adalah satu berbanding satu. Yang
membedakan keduanya adalah jarak antar kelenjar di daerah kardiak berjauhan, kadang
dijumpai lumen kelenjar yang berdilatasi kistik. Sedangkan kelenjar pada daerah pilorik
mempunyai pelapis epitel dengan sitoplasma sel yang ‘bubly’, bervakuola, bergranul
dan ‘glassy’. Sub-nukleus vakuolisasi sel mukus kadang-kadang dapat ditemukan,
keadaan ini kadang-kadang salah diinterpretasi sebagai metaplasia. Sedangkan
sitoplasma sel pada daerah pilorik yang ‘glassy’ dan berkelompok dapat salah
diinterpretasi sebagai adenokarsinoma ‘signet ring cell’. Sel bersilia yang kadang-
kadang dijumpai pada daerah pilorik, dan lebih sering dijumpai pada orang Jepang,
keadaan ini kadang kala dianggap sebagai suatu metaplasia. Kelenjar fundik (oxyntic,
acidopeptic) ditandai dengan bagian foveolar hanya ¼ dari ketebalan mukosa,
kelenjarnya cendrung lebih lurus dan terdiri dari sebaran sel chief, sel parietal
(penghasil asam), sel endokrin dan sel mukosa leher.

B. Tahap Pengosongan Lambung


Pengosongan lambung terjadi baik pada orang yang puasa maupun yang tidak
puasa, namun memiliki pola berbeda. Pada orang yang berpuasa interdigestive terjadi
melalui lambung dan usus kecil setiap 2-3 jam. Aktivitas listrik ini disebut sebagai
siklus myoelectric interdigestive atau migrating myoelectric complex (MMC) yang
dibagi menjadi empat tahap, yaitu
 Tahap I : Ini adalah periode diam dengan kontraksi yang jarang berlangsung 40-
60 menit.
 Tahap II : Ini berlangsung selama 20-40 menit dan terdiri dari potensial aksi
intermiten dan kontraksi yang secara bertahap meningkatkan intensitas dan
frekuensi sebagai fase berlangsung.
 Tahap III : Fase ini relatif pendek dan intens, kontraksi teratur selama 4-6 menit.
Ini adalah fase III yang mendapatkan siklus istilah " housekeeper " gelombang,
karena memungkinkan untuk menyapu bersih semua bahan yang tercena dari
perut dan turun ke usus kecil. Telah diamati bahwa fase III dari satu siklus
mencapai akhirusus kecil, fase III dari siklus berikutnya dimulai pada duodenum.
 Tahap IV : Ini berlangsung selama 0-5 menit. Ini terjadi antara fase III dan tahap
I dari dua siklus berturut-turut.
C. Pengertian Gastro Retentive DDS
Gastro Retentive DDS merupakan sistem penghantaran obat yang memiliki
kemampuan menahan obat di dalam saluran pencernaan khususnya di lambung untuk
memperpanjang periode waktu. Setelah obat lepas selama periode waktu yang
disyaratkan, bentuk sediaan harus terdegradasi tanpa menyebabkan gangguan
pencernaan.
Pada sistem penghantaran lepas terkendali tertahan di lambung, zat aktif yang
cocok digunakan adalah obat yang memiliki lokasi absorpsi utama di lambung atau usus
bagian atas, tidak stabil pada lingkungan usus halus atau kolon dan memiliki kelarutan
yang rendah pada pH yang tinggi. Bentuk sediaan tertahan di lambung dapat mengatur
pelepasan obat yang memiliki indeks terapeutik yang sempit dan absorpsiyang baik di
lambung.
Secara umum, sistem pelepasan obat yang tertahan di lambung terdiri dari
beberapa sistem, yaitu sistem mengembang (swelling system), sistem mengapung
(floating system) dan sistem bioadhesif (bioadhesive system).

D. Kelebihan dan Kekurangan Gastro Retentive DDS


Kelebihan dari Gastro Retentive DDS :
 Mampu meningkatkan bioavailabilitas.
 Meningkatkan kelarutan obat-obatan yang kurang larut pada lingkungan pH yang
tinggi.
 Meningkatkan absorpsi obat, karena meningkatkan GRT dan meningkatkan waktu
kontak bentuk sediaan pada tempat absorpsinya.
 Obat dihantarkan secara terkontrol.
 Penghantaran obat untuk aksi lokal di lambung.
 Meminimalkan iritasi mukosa oleh obat, dengan melepaskan obat secara lambat
pada laju yang terkontrol
Kekurangan dari Gastro Retentive DDS :

 Sistem floating tidak cocok untuk obat-obatan yang memiliki masalah kelarutan
atau stabilitas dalam cairan gastrik/lambung.
 Obat-obatan yang diabsorbsi secara baik sepanjang saluran pencernaan dan yang
menjalani first-pass metabolisme signifikan mungkin kurang pas untuk GRDDS
karena pengosongan lambung yang lambat dapat menyebabkan penurunan
bioavailabilitas sistemik.
 Obat-obatan yang iritan terhadap mukosa lambung tidak cocok untuk GRDDS.

E. Faktor yang Mempengaruhi Sistem Gastro Retentif


 Pemberiaan obat yang bersamaan
Pemberian bersama obat seperti atropine dan kodein mempengaruhi waktu
mengambang.
 Umur
Orang tua terutama diatas 70 tahun memiliki GRT lebih lama.
 Postur
GRT dapat bervariasi antara posisi pasien tegak dan terlentang.
 Jenis kelamin
GRT pada laki-laki lebih kecil dibandingkan dengan wanita, terlepas dari berat
badan, tinggi badan dan tubuh permukaan.
 Kalori
GRT dapat ditingkatkan 4 sampai 10 jam dengan makanan yang tinggi protein
dan lemak.
 Frekuensi Makan
GRT dapat meningkat lebih dari 400 menit ketika mngkonsumsi makanan secara
terus-menerus.
 Ukuran
Dosis diameter lebih dari 7,5 mm memiliki peningkatan GRT dibandingkan
dengan diameter 9,9 mm.

F. Sistem mucoadhesive
Sistem penghantaran mucoadhesive adalah suatu sistem penghantaran obat
bersama-sama polimer mucoadhesive yang didesain untuk dapat berkontak lebih lama
dengan membran mukosa dalam saluran pencernaan. Sistem penghantaran
mucoadhesive ini bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi obat di dalam saluran
pencernaan sehingga memberikan keuntungan farmakokinetik dan farmakodinamik
obat (Suryani dkk., 2009).
Sistem mucoadhesive merupakan suatu sistem yang menyebabkan tablet dapat
terikat pada permukaan sel epitel lambung atau mucin (Chawla dkk., 2003). Mekanisme
perlekatan mucoadhesive pada mucin diawali dengan adanya kontak antara sediaan dan
mukus, dilanjutkan dengan adanya interpenetrasi polimer ke dalam mukus. Mukus
adalah sekret jernih dan kental yang melekat di dalam lambung. Tebal mukus antara
50-450 um dengan komposisi yang bervariasi tergantung spesies dan lokasi, anatomi
dan keadaan normal dan patologi organisme. Adanya ikatan kimia yang terjadi pada
bioadhesive, yaitu pertama ikatan kovalen, ikatan ini tidak diinginkan pada bioadhesive
karena sangat kuat kekuatannya, yang kedua adalah ikatan yang disebabkan karena
gaya tarik menarik antara gugus molekul yang berbeda, seperti gaya elektrostatik, gaya
van der waals, ikatan hidrogen dan hidrofob (Indrawati dkk., 2005).

G. Sistem Penghantar Obat Mukoadhesif

Salah satu cara untuk mendapatkan sistem penghantar obat dengan pelepasan
obat dimodifikasi di saluran pencernaan adalah dengan membuat sediaan bioadhesif.
Bioadhesi adalah suatu senyawa yang mampu berinteraksi dengan bahan biologis dan
saling terikat selama periode waktu yang lama. Apabila adhesive terikat pada mucus
disebut mukoadhesi. Leung dan robinson mendefinisikan mukoadhesi sebagai interaksi
antara permukaan musin dengan polimer sintesis atau alam.

Kekuatan bioadhesi sutu polimer atau seri polimer ditentukan oleh asal polimer,
media lingkungan dan variable fisiologi. Faktor polimer mencakup bobot molekul,
konsentrasi polimer aktif, fleksibilitas rantai polimer dan konformasi ruang. Faktor
lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan bioadhesi meliputi pH, waktu kontak
awal, seleksi model permukaan substrat dan pengembangan. Adapula variable
fisiologis mencangkup pertukaran mucus dan tingkat penyakit.

Membran mucus manusia relative permeable dan dapat dilewati oleh obat.
Mucus merupakan sekresi jernih dan kental yang merekat membentuk lapisan tipis gel
kontinu menutupi dan beradhesi pada epitel mukosa. Mucus disekresi oleh sel goblet
sepanjang epitel atau kelenjar eksokrin dengan acini sel mucus. Pada manusia , tebal
lapisan ini brvariasi antara 50-450um. Secara umum komposisi mukus adalah air 95%,
glikoprotein dan lemak 0,5-5% garam mineral 1% dan protein bebas 0,5-1 %.
Glikoprotein mukus merupakan protein berbobot molekul tinggi, memiliki unit
oligosakarida yang terikat padanya. Unit ini rata-rata terdiri dari 8-10 monosakarida
dari 5 tipe yang berbeda, yaitu L-fukosa, D-galaktosa, N-asetil-D-glukosamin, N-asetil-
D-galaktosamin dan asam sialat. Asam N-asetilneuramat merupakan asam sialat
penting pada manusia, pada hewan ada asam sialat lain, seperti asam N-glikoneuramat
dan turunannya. Asam amino utama adalah serin,treonin dan prolin.

Pada hakekatnya semua tempat mukus dapat digunakan untuk pemberian dan
absorpsi obat , seperti mukus di saluran cerna, nasal, ocular, vaginal, rectal, oral dan
periodontal. Oleh kareana itu sediaan oral dapat dibuat dalam bentuk mukoadhesif.
Konsep bioadhesi sejak tahun 1980 telah digunakan untuk sistem penghantaran obat.
Sistem ini dibuat dengan memasukkan bahan yang memiliki sifat adhesi ke dalam
formula sediaan, sehingga dapat tinggal di tempat yang dekat dengan jaringan tempat
terjadinya absorpsi obat, pelepasan obat dekat dengan tempat kerja , untuk
meningkatkan bioavailabilitasnya dan meningkatkan aksi local atau efek sistemik.

Potensi yang digunakan pada pembawa (carrier) sediaan mukoadhesif terletak


pada kemampuan berkontak secara intensif dengan barrier epitel sehingga
memperpanjang waktu tinggalnya di tempat terjadinya absorpsi, efektifitas obat pada
penggunaan mukoadhesif oral dapat dicapai dengan baik melalui peningkatan lama
waktu tinggal obat di saluran cerna. Walaupun demikian ada beberapa masalah yang
membatasi penggunaan sistem pemberian ini. Permasalahannya adalah absorpsi obat di
saluran cerna dipengaruhi oleh factor. Fisiologis lambung dan usus, faktor sifat
fisikokimia lingkungan usus kecil serta luas permukaan lokasi terjadinya absorpsi.

Masalah fisiologis yang dihadapi pada sistem penghantaran mukoadhesif di


lambung adalah :

1. Mobilitas lambung yang kuat pada fase III, akan menjadi satu gaya yang dapat
melepaskan adhesive.
2. Kecepatan penggantian musim merupakan hal yang penting, baik pada keadan
lambung kosong maupun penuh. Adhesive akan merekat pada mukus selama mukus
ada dan jika mukus lepas dari membrane , polimer tidak mungkin nempel jika tempat
terikatnya tertutup.
3. Ph lambung normal 1,5-3 tidak sesuai untuk bioadhesi.
Walaupun demikian semua permasalahan dapat diatasi dengan menggunakan
polimer yang sesuai atau dengan menggabungkan bahan-bahan tertentu pada bentuk
sediaan. Polimer bioadhesif yang terikat pada musin lambung atau permukaan sel
epitel, digunakan dalam sistem penghantaranobat untuk tujuanmenahan bentuk sediaan
disaluran cerna serta meningkatkan intiminasi dan durasi kontak obat dengan
membrane lokasi absorpsi. Polimer yang ideal untuk sistem penghantaran mukoadhesif
di lambung mempunyai karakteristik yang sama dengan criteria polimer bioadhesif.

Faktor polimer yang mempengaruhi mukoadhesi meliputi ikatan adhesi antara


system bioadhesi dan gel musin dapat diteliti dari bobot molekul, fleksibilitas rantai
polimer, konformasi ruang. Bobot molekul optimum untuk terjadinya mukoadhesi
tergantung pada tipe polimer dan jaringannya. Interpenetrasi molekul polimer dengan
bobot molekul rendah lebih baik mengingat belitan dari pada polimer dengan bobot
molekul tinggi. Gumy, dkk(1984) mengemukakan bahwa gaya bioadhesi meningkat
seiring dengan meningkatnya bobot molekul polimer sampai 100.000 dan diatas level
tersebut tidak banyak efeknya.

Fleksibilitas dan belitan rantai polimer diperlukan untuk interpenetrasi. Pada


polimer yang larut air akan terjadinya ikatan sambung silang, sehingga mobilitas rantai
dapat mempengaruhi kedalaman interpenetrasi. Jika digunakan tekanan tinggi pada
periode waktu yang sesui, maka polimer menjadi mukoadhesif walaupun tidak tertarik
musin.

Waktu kontak awalantara lapisan mukus dengan mukoadhesif menentukan


adanya pengembangan dan interpenetrasi rantai polimer. Penggunaan tekanan awal
pada waktu kontak awal dapat mempengaruhi penampilan kekuatan sistem.

Perubahan fisik dan biologi dapat terjadi pada gel mukus yang ada di atas
jaringan pada kondisi percobaan, sehingga memerlukan penyesuaian sebelum
dilakukan uji in vitro menggunakan jaringan. Jika suatu polimer mengembang, maka
pengembangannya tergntung pada konsentrasi polimer dan adanya air. Polimer yang
mengembang terlalu besar, maka kekuatan bioadhesinya akan menurun. Oleh karena
itu fenomena ini tidak boleh terjadi terlalu awal agar terjadi proses bioadhesi yang baik.
Sifat fisikokimia mukus berubah selama kondisi sakit seperti flu, gastric ulcer,
ulcerative colitis, cystic fibrosis, infeksi bakteri dan jamur pada wanita reproduktif dan
pada kondisi sakit mata. Jika mukoadhesif digunakan pada orang dengan kondisi sakit
seperti tersebut maka perlu dilakukan pembuatanmukoadhesive khusus yang dievaluasi
pada kondisi seperti tersebut.

Pembaharuan (turn over) molekul musim pada lapisan mukus sangat penting.
Pembaharuan musin diharapkan berlangsung pada batas waktu terjadinya penahanan
mukoadhesif di lapisan mucus. Kecepatan pembaharuan dapat berbeda dengan adanya
mukoadhesif. Pembaharuan musin menghasilkan sejumlah molekul musin yang larut.
Molekul ini berinteraksi dengan mukoadhesif sebelumnya. Lehr,dkk 1991
mengemukakan bahwa pembaharuan musin terjadi setiap 47-270 menit. Sel cilia dalam
caviry mentransport mucus ke kerongkongan dengan kecepatan 5 mm/menit,
pembersihan mucuciliary di trachea antara 4-10 mm/menit.

H. Mekanisme mukoadhesi

Bioadhesi merupakan fenomena yang tergantung pada sifat bioadhesive. Tahap


pertama melibatkan kontak yang rapat antara bioadhesif dan membran, baik dari
permukaan bioadhesif yang memiliki pembasahan bagus, maupun dari pengembangan
bioadhesif. Pada tahap kedua, setelah diadakan kontak, penetrasi bioadheshif ke dalam
celah-celah permukaan jaringan atau antarrantai dari bioadhesive dengan mukus yang
terjadi. Pada tingkat molekuler, mukoadhesi dapat dijelaskan berdasarkan interaksi
molekul. Interaksi antara dua molekul terdiri dari daya tarik dan daya tolak. Interaksi
daya tarik muncul dari gaya Van der Walls, daya tarik elektrostatik, ikatan hidrogen,
dan interaksi hidrofobik. Interaksi daya tolak terjadi karena tolakan elektrostatik dan
tolakan steric.Untuk terjadi mukoadhesi, interaksi daya tarik harus lebih besar daripada
tolakan non-spesifik.

3 kategori utama aplikasi sediaan mukoadhesif dalam system penghantaran obat adalah:

1. Memperlama waktu tinggal (kontak). Kemungkinan ini telah diteliti secara


intensif untuk system penghantaran/pelepasan obat terkendali yang diberikan
secara oral dan rute pemberian okuler.
2. Kontak intensif dengan membrane pengabsorpsi. Tablet mukoadhesif atau
laminat menunjukkan sifat pelepasan obat yang menguntungkan jika digunakan
melalui rute bukal.Sediaan dalam bentuk partikel mikro (micro particles) sudah
berhasil digunakan pada aplikasi obat melalui nasal. Selain itu, terbuka juga
peluang untuk memberikan obat secara rectal dan vaginal.
3. Lokalisasi system penghantaran obat. Dalam beberapa kasus, obat secara
preferensial diabsorpsi pada daerah tertentu (spesifik) dari saluran cerna yang
juga dinamakan jendela absorpsi (absorption window).

Salah satu cara untuk memperbaiki ketersediaan hayati obat yang sukar larut,
mudah terurai pada pH alkali serta memiliki lokasi absorpsi di lambung dan usus bagian
atas adalah dengan menggunakan sediaan mukoadhesif yang menempel di lambung.
Bentuk sediaan mukoadhesif dapat berupa granul, pellet, tablet matriks, kapsul dan
mikrokapsul. Sediaan ini ditahan dilambung menurut mekanisme pelekatan pada
permukaan sel epitel atau pada mukus dalam jangka waktu yang lama.
Mukus merupakan sekret jernih dan kental serta melekat, membentuk lapisan tipis,
berbentuk gel kontinyu yang menutupi dan beradhesi pada permukaan epitel mukosa.
Tebal mukus bervariasi antara 50-450 um dengan komposisi sangat bervariasi
tergantung spesies dan lokasi, anatomi dan keadaan normal/patologi organisme.

Ada 7 Teori mukoadhesi


 Teori elektronik
Adanya perpindahan elektron diantara permukaan karena adanya perbedaan struktur elektrik
yang dihasilkan antara kedua lapisan elektrik sehingga menimbulkan gaya tarik.

 Teori Adsoprsi

Setelah kontak awal bahan adheren ke permukaan karena kekuatan aksi anatara atom di kedua
permukaan lapisan, menghasilkan pembentukan ikatan yang terkait dengan keberadaan
kekuatan intermolekuler, seperti ikatan hidrogen dan van der waals untuk interaksi perlekatan
antara substrat permukaan.

 Teori Pembasahan

 Digunakan pada sistem cairan dimana terdapat afinitas pada permukaan untuk
menyebar.
 Afinitas ini dapat diukur dengan menggunakan berbagai cara seperti sudut kontak.
 Menurunkan sudut kontak dapat meningkatkan afinitas.

 Teori Difusi

 Penetrasi antara Polimer dan Mucus.


 Menghasilkan ikatan adhesif semipermanen.
 Kekuatan adhesi meningkat dengan meningkatnya penetrasi.
 Tergantung dari koefisien difusi 0,2-0,5 micro meter.

 Teori Dehidrasi

Pada teori dehidrasi, bahan yang bersifat gel pada saat berada di lingkungan cair, ketika
kontak dengan mukus akan menyebabkan dehidrasi dari mukus karena adanya
perbedaan tekanan osmotik.Perbedaan gradien konsentrasi antara cairan dengan
formulasi akan terjadi hingga tercapai keseimbangan osmotik.Proses tersebut
meningkatkan waktu kontak formulasi dengan membran mukus.
 Teori Mekanik

Menjelaskan tentang difusi cairan adhesif ke dalam mikro-cracks dan ketidakteraturan


pada permukaan substrat dengan demikian pembentukan struktur yang saling
menyambung dapat meningkatkan sifat adhesinya.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pelepasan obat dan sediaan GDDRS sistem mukoadhesif
1. Delayed Dissolution
Polimer bekerja dengan menunda disolusi obat sehingga memperlambat kontak
obat dengan lingkungan berair. Mekanisme ini diperoleh dengan menggunakan polimer
penyalut atau matrix yang terlarut pada laju yang lebih rendah dari pada obat

2. Diffusion Controlled
Difusi molekul obat di dalam larutan air dihambat oleh matriks polimer tidak larut
(insoluble polymer matrix).Mekanisme ini terjadi pada sistem yang menggunakan
polimer sambung-silang (crosslinked) hidrogel sebagai penghalang difusi. Penghalang
difusi menurun dengan mengembangnya hidrogel terbentuk kekosongan dalam struktur
gel. Hidrogel ini memiliki keuntungan bioadhesive dalam sal.cerna pada periode
tertentu.

3. Drug Solution Flow Control


Perangkat pada sistem ini dimana pengendalian aliran larutan obat menggunakan
potensial osmotik gradien yang melewati suatu polimer penghalang yang bersifat
semipermeable yang membangkitkan tekanan. Tekanan diperoleh dari aliran larutan
obat keluar dari perangkat sistem.Kecepatan aliran dikendalikan dengan adanya pori-
pori dalam skala mikrometer.

B. Faktor - faktor yang mempengaruhi pelepasan GDDRS mukoadhesif


Proses mukoadhesi ditentukan oleh berbagai faktor , baik dari formulasi sistem
mukoadhesif , yaitu polimer yang digunakan , maupun dari lingkungan tempat aplikasi
sistem mukoadhesif tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Polimer
a) Konsentrasi polimer :semakin tinggi konsentrasi polimer , maka daya
adhesi akan semakin kuat.
b) Konformasi polimer : gaya adhesi juga tergantung pada konformasi
polimer,contohnya heliks atau linier. Bentuk heliks dapat
menyembunyikan gugus-gugus aktif polimer sehingga mengurangi
kekuatan adhesi polimer.
c) Bobot molekul polimer : untuk polimer linear , semakin besar bobot
molekul polimer maka kemampuan mukoadhesi akan meningkat.
d) Fleksibilitas rantai polimer : fleksibilitas rantai polimer penting untuk
intepenetrasi dan pembelitan rantai polimer dengan rantai musin.
Apabila penetrasi rantai polimer ke mukosa berkurang , maka kekuatan
mukoadhesif juga akan berkurang.
e) Derajat hidrasi : hidrasi yang berlebihan dapat menyebabkan
berkurangnya kemampuan mukoadhesif akibat pembentukan mucilage
yang licin
f) Ph : ph akan mempengaruhi muatan pada permukaan mukosa dan
polimer sehingga adhesi juga akan dipengaruhi.
g) Waktu kontak awal : waktu kontak awal antara sistem mukoadhesif dan
lapisan mukosa menentukan tingkat pengembangan dan interpretasi
polimer . kekuatan mukoadhesif akan meningkat jika waktu kontak awal
meningkat.
2. Variasi fisiologis: kondisi fisiologis yang dapat mempengaruhi mukoadhesi
antara lain ketebalan mucus dan kondisi penyakit.

C. Faktor - faktor yang mempengaruhi absorpsi GDDRS mukoadhesif


a. Bentuk Sediaan

Terutama berpengaruh terhadap kecepatan absorbsi obat, yang secara


tidak langsung dapat mempengaruhi intensitas respon biologis obat. Dalam
bentuk sediaan yang berbeda, maka proses absorpsi obat memerlukan waktu
yang berbeda-beda dan jumlah ketersediaan hayati kemungkinan juga
berlainan.

b. Sifat Kimia dan Fisika Obat

Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat
mempengaruhi kekuatan dan proses absorpsi obat. Selain itu bentuk kristal atau
polimorfi, kelarutan dalam lemak atau air, dan derajat ionisasi juga
mempengaruhi proses absorpsi [2]. Absorpsi lebih mudah terjadi bila obat
dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.

c. Faktor Biologis

Antara lain adalah pH saluran cerna, kondisi mucus diantaranya sekresi


cairan lambung, gerakan saluran cerna, waktu pengosongan lambung dan waktu
transit dalam usus, serta banyaknya pembuluh darah pada tempat absorpsi.

d. Faktor Lain-lain
Antara lain umur, makanan, adanya interaksi obat dengan senyawa lain
dan adanya penyakit tertentu.
D. Perjalanan obat GRDDS mukoadhesif di dalam tubuh

secara umum pelepasan obat didalam tubuh terbagi menjadi tiga fase, yaitu fase
biofarmasi yang meliputi yang meliputi waktu mulai penggunaan obat melalui mulut
sampai pelepasan zat aktifnya kedalam cairan tubuh. (fase ini berhubungan dengan
ketersediaan farmasi dari zat aktifnya dimana obat siap diabsorbsi.
Setelah obat masuk kedalam tubuh terjadi fase farmakokinetik yaitu fase ini
meliputi waktu selama obat diangkut ke organ yang ditentukan, setelah obat dilepas
dari bentuk sediaan. Obat harus di absorbsi ke dalam darah, yang akan segera di
distribusikan melalui tiap-tiap jaringan dalam tubuh. Dalam darah obat dapat mengikat
protein darah dan mengalami metabolisme, terutama dalam melintasi hepar (hati).
Meskipun obat akan didistribusikan melalui badan, tetapi hanya sedikit yang tersedia
untuk diikat pada struktur yang telah ditentukan.
Tahap akhir adalah fase farmakodinamik yaitu fase dimana obat telah
berinteraksi dengan sisi reseptor dan siap memberikan efek. Fase farmakodinamik
sendiri yang dipelajari adalah efek obat dalam tubuh atau mempelajari pengaruh obat
terhadap fisiologis tubuh.
Pada sediaan gastroretentif mukoadhesif fase biofarmasi terjadi mulai dari masuknya
sediaan obat ke dalam mulut sampai pada mucus lambung. Mekanisme pelekatan sediaan
gastroretentif mukoadhesif pada musin diawali dengan adanya kontak antara sediaan dan
mucus, dilanjutkan dengan adanya interpenetrasi polimer ke dalam mucus. Ada dua ikatan
kimia yang terjadi pada bioadhesi, yaitu pertama ikatan kovalen, ikatan ini tidak diinginkan
pada bioadhesi karena sangat kuat kekuatannya, yang kedua adalah ikatan yang disebabkan
karena gaya tarik-menarik antara gugus molekul yang berbeda, seperti gaya elektrostatik, van
der Waals , ikatan hidrogen dan hidrofob Sediaan mukoadhesif dapat dibuat menggunakan
polimer alam dan sintesis.
Pada tahap ke dua, setelah diadakan kontak, penetrasi bioadhesif ke dalam

celah-celah permukaan jaringan atau antar rantai dari bioadhesif dengan mukus terjadi.
Interaksi tersebut terdiri dari daya tarik dan daya tolak. Interaksi daya tarik muncul dari
gaya Van der Waals, daya tarik elektrostatik, ikatan hidrogen, dan interaksi hidrofobik.
Interaksi daya tolak terjadi karena tolakan elektrostatik dan tolakan sterik. Untuk terjadi
mukoadhesif, interaksi daya tarik harus lebih besar daripada tolak-menolak non-
spesifik.

Setelah obat masuk kedalam celah-celah permukukaan membran mucus, obat akan
masuk ke dalam pembuluh darah yang ada di organ lambung. Absorpsi obat didalam saluran
cerna dapat dipengaruhi oleh motilitas lambung da nada atau tidaknya makanan dilambung.
Distribusi adalah proses suatu obat yang secara reversible meninggalkan aliran darah dan
masuk ke interstisium (cairan ekstrasel) dan/atau ke sel-sel jaringan. Pengiriman obat dari
plasma ke interstinum terutama tergantung pada aliran darah, permeabilitas kapiler, derajat
ikatan ion obat tersebut dengan, protein plasma atau jaringan dan hidrofobisitas dari obat
tersebut. Obat yang dialirkan pembuluh darah akan sampai pada reseptor yang berkaitan
dengan penyebab rasa sakit. Dimana jika efek obat telah habis maka protein plasma akan
kembali melepaskan efek obat yang terikat untuk lepas memberikan efek. Obat yang telah
mengalami metabolisme (bentuk tidak aktif) akan keluar melalui ginjal dalam bentuk urin,
keringat dan lain-lain.
BAB IV

PENUTUP

1. Mekanisme pelepasan dan pelekatan sediaan mukoadhesif pada musin diawali dengan
adanya kontak antara sediaan dengan mucus, dilanjutkan dengan adanya interpenetrasi
polimer kedalam mukus.
2. Faktor factor yang mempengaruhi sistem penghantaran mukoadhesif diantaranya faktor
polimer mukoadhesif, faktor fisiologis dan faktor lingkungan.
3. Faktor faktor yang mempengaruhi bioavaibilotas obat mukoadhesif antara lain faktor
formulasi, laju adsorpsi dan sifat fisika dan kimia obat yang meliputi ukuran partikel, luas
permukaan obat, kelarutan obat, bentuk kimia obat, dan stabilitas obat.
4. Perjalanan obat mukoadhesif didalam tunuhyaitu mulai dari obat diberikan melalui mulut
dan masuk melalui mulut dan masuk melalui esophagus ke dalam tubuh. Didalam tubuh
obat mengalami kontak antara polimer dengan permukaan mukosadisebabkan karena
adanya pembasahan yang baik. Setelah berkontak, obat melekat pada sel epitel lambung
atau musin akan mengalami penetrasi dari rantai polimer kedalam permukaan jaringan atau
interpenetrasi rantai polimer atau mukosa. Terbentuklah ikatan kimia antara rantai polimer
dengan molekul musin, yang mempertahankan pelekatan ke mukosa. Setelah terjadinya
kontak dengan mukosa maka obat akan dilepaskan secara perlahan dan akan terabsorpsi
pada pembuluh darah yang ada di sub mukosa dan akan didistribusikan ke seluruh tubuh.
Sebagian larutan obat akan berikatan dengan protein plasma, di metabolism menjadi
metabolit kemudian langsung di ekskresi dan ada juga yang bebas, dimana obat yang bebas
akan berikatan dengan reseptor akan memberikan efek. Obat yang telah mengalami
metabolism menjadi bentuk tidak aktif atau lebih polar akan dieksresikan melalui urin dan
keringat.