Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kehamilan, persalinan dan menyusui merupakan proses fisiologi yang
perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan
aman. Selama masa kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak
terpisahkan. Kesehatan ibu hamil adalah persyaratan penting untuk fungsi
optimal dan perkembangan kedua bagian unit tersebut.
Obat dapat menyebabkan efek yang tidak dikehendaki pada janin
selama masa kehamilan. Selama kehamilan dan menyusui, seorang ibu dapat
mengalami berbagai keluhan atau gangguan kesehatan yang membutuhkan
obat. Banyak ibu hamil menggunakan obat dan suplemen pada periode
organogenesis sedang berlangsung sehingga risiko terjadi cacat janin lebih
besar. Di sisi lain, banyak ibu yang sedang menyusui menggunakan
obat-obatan yang dapat memberikan efek yang tidak dikehendaki pada
bayi yang disusui.
Karena banyak obat yang dapat melintasi plasenta, maka penggunaan
obat pada wanita hamil perlu berhati-hati. Dalam plasenta obat mengalami
proses biotransformasi, mungkin sebagai upaya perlindungan dan dapat
terbentuk senyawa antara yang reaktif, yang bersifat teratogenik/dismorfogenik.
Obat-obat teratogenik atau obat-obat yang dapat menyebabkan terbentuknya
senyawa teratogenik dapat merusak janin dalam pertumbuhan.
Beberapa obat dapat memberi risiko bagi kesehatan ibu, dan
dapat memberi efek pada janin juga. Selama trimester pertama, obat dapat
menyebabkan cacat lahir (teratogenesis), dan risiko terbesar adalah
kehamilan 3-8 minggu. Selama trimester kedua dan ketiga, obat dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan secara fungsional pada janin
atau dapat meracuni plasen

4
Perubahan fisiologi selama kehamilan dan menyusui dapat berpengaruh
terhadap kinetika obat dalam ibu hamil dan menyusui yang kemungkinan
berdampak terhadap perubahan respon ibu hamil terhadap obat yang diminum.
Dengan demikian, perlu pemahaman yang baik mengenai obat apa saja
yang relatif tidak aman hingga harus dihindari selama kehamilan ataupun
menyusui agar tidak merugikan ibu dan janin yang dikandung ataupun
bayinya. Untuk memberikan pengetahuan mengenai penggunaan obat pada
ibu hamil dan menyusui, maka apoteker perlu dibekali pedoman dalam
melaksanakan pelayanan kefarmasian bagi ibu hamil dan
menyusui

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian kehamilan ?
2. Bagaimana tanda-tanda kehamilan ?
3. Bagaimana proses kehamilan ?
4. Bagaimana cara menyusui dengan baik dan benar ?
5. Apa masalah ibu menyusui dan bagaimana penanganannya ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui pengertian dari kehamilan.
2. Mengetahui tanda-tanda kehamilan
3 Mengetahui proses kehamilan
4. Mengetahui cara menyusui dengan baik dan benar
5. Mengetahui masalah dari ibu menyusui dan penanganannya

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian kehamilan


Kehamilan adalah merupakan suatu proses merantai yang
berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi pelepasan sel telur, migrasi
spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi)
pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi
sampai aterm.
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)
dihitung dari haid pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan
pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dimulai
dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai
9 bulan.
Kehamilan adalah proses alamiah yang dialami oleh setiap wanita
dalam siklus reproduksi. Kehamilan dimulai dari konsepsi dan berakhir
dengan permulaan persalinan. Selama kehamilan ini terjadi perubahan-
perubahan, baik perut, fisik maupun fsikologi ibu.

2.2 Tanda-tanda kehamilan


Kehamilan ditetapkan dengan melakukan penilaian terhadap
beberapa tanda dan gejala kehamilan, yaitu sebagai berikut :
A. Tanda – tanda kehamilan
a. Adanya pigmentasi kulit atau garis-garis hipo
b. Adanya pembesaran payudara
c. Ada rasa mual dan munyah yang berlebihan atau hiperemesis
d. Amenore atau tidak datangnya haid
e. Frekuensi buang air kecil meningkat

6
B. Gejala Kehamilan
Tidak haid adalah gejala pertama yang dirasakan oleh seorang
wanita yang menyadari kalau dirinya sedang hamil. Penting untuk dicatat
tanggal hari pertama haid, terakhir guna menentukan usia kehamilan dan
memperkirakan tanggal kelahiran. Rumus sederhana menentukan tanggal
kelahiran yaitu tanggal ditambah 7 sedangkan bulan dikurangi 3, dihitung
dari tanggal pertama haid terakhir. Biasanya gejla yang ti,bul pada
kehamilan seperti:
a. mual dengan di ikuti muntah atau pun tidak sering terjadi bulan
pertama kehamilan.mengidam atau menginginkan sesuatu baik itu
makanan, minuman atau hal-hal yang lain.gangguan buang air besar
karena pengaruh hormonal.
b. kencing terutama bila kehamilan sudah besar.
c. kadang-kadang wanita hamil bias pingsan dikeramaian terutama pada
bulan awal kehamilan.
d. tidak ada nafsu makan, mungkin ada hubungannya dengan mual-mual
diatas.
2.3 Proses Kehamilan
A. Awal proses kehamilan
Kehamilan (alamiah) terjadi akibat adanya pembuahan sel telur di
dalam indung telur wanita oleh sperma. Dalam proses alamiah, ini terjadi
karena sperma masuk ke indung telur melalui saluran rahim pada saat
melakukan berhubungan badan.
Normalnya, wanita hanya memproduksi satu sel telur setiap bulannya.
Dilain tubuh pria bisa memproduksi sperma terus menerus dalam jumlah
besar. Rata-rata setiap semprotan air mani mengandung 100-200 juta
sperma. Namun dari jumlah tersebut hanya satu yang berhasil menembus
indung telur dan membuahi sel telur. Ini merupakan salah satu bentuk
seleksi alam untuk memilih bibit yang terbaik.

7
Apabila pembuahan ini berhasil, dari satu sel telur yang telah dibuahi
dan berukuran 0.2 mm akan terus berkembang biak dan berpindah ke
dalam rahim.
Kurang lebih sekitar 7-10 hari setelah pembuahan, sel telur yang telah
dibuahi akan masuk dan menempel di selaput dalam rahim. Dianalogikan
dengan kasur, selaput dalam rahim ini tebal dan lunak sehingga bisa
melindungi sel telur yang telah dibuahi. Pada tahap ini kehamilan sudah
dimulai.
Selama ini sel telur yang telah dibuahi tersebut terus berbiak dan
membentuk semacam akar/rambut yang halus. Ini menyerap gizi yang
terkandung dalam selaput dalam rahim sehingga bisa terus berkembang.
Rambut-rambut halus ini nantinya memiliki fungsi yang sangat penting
untuk janin.
Pada sekitar hari ke 5, sel telur yang telah dibuahi dan keluar dari
indung telur sudah berbentuk sebagai satu garis. Pertama yang yang
terbentuk adalah syaraf. Perkembangan berikutnya terbagi dua yaitu otak
dan sumsum. Segera setelah ini cikal bakal organ tubuh penting seperti
jantung, pembuluh darah, otot, dll sudah mulai terbentuk.
Dilain pihak plasenta (ari-ari) yang berfungsi menyelimuti janin
selama proses kehamilan juga sudah mulai terbentuk. Sampai usia
kehamilan 3 minggu ini janin masih belum bisa dideteksi. Pada saat ini
kepala bayi kurang lebih setengah dari panjang badan, dimana badan bayi
masih tampak seperti ekor saja.

8
B. Proses Kehamilan dan Perkembangan Janin Dalam Kandungan
Proses kehamilan adalah proses dimana bertemunya sel telur dengan
sel sperma hingga terjadi pembuahan. Proses kehamilan (gestasi)
berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama
menstruasi terakhir. Usia kehamilan sendiri adalah 38 minggu, karena
dihitung mulai dari tanggal konsepsi (tanggal bersatunya sperma dengan
telur), yang terjadi dua minggu setelahnya.
Dalam dunia kedokteran, proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase
sesuai dengan pertumbuhan fisik bayi. Masing-masing fase tersebut
disebut trimester.
a. Trimester Pertama (Minggu 0 – 12)
Dalam fase ini ada tiga periode penting pertumbuhan mulai dari
periode germinal sampai periode terbentuknya fetus.
1. Periode Germinal (Minggu 0 – 3)
Proses pembuahan telur oleh sperma yang terjadi pada minggu
ke-2 dari hari pertama menstruasi terakhir. Telur yang sudah
dibuahi sperma bergerak dari tuba fallopi dan menempel ke
dinding uterus (endometrium).
2. Periode Embrio (Minggu 3 – 8 )
Proses dimana sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan
struktur anatomi mulai terbentuk seperti mata, mulut dan lidah
mulai terbentuk, sedangkan hati mulai memproduksi sel darah.
Janin mulai berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3
cm dengan kepala yang besar
3. Periode Fetus (Minggu 9 – 12)
Periode dimana semua organ penting terus bertumbuh dengan
cepat dan saling berkaitan dan aktivitas otak sangat tinggi.

9
b. Trimester kedua (Minggu 12 – 24)
Pada trimester kedua ini terjadi peningkatan perkembangan janin.
Pada minggu ke-18 kita bisa melakukan pemeriksaan dengan
ultrasongrafi (USG) untuk mengecek kesempurnaan janin, posisi
plasenta dan kemungkinan bayi kembar. Jaringan kuku, kulit dan
rambut berkembang dan mengeras pada minggu ke 20 – 21. Indera
penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak mata
sudah dapat membuka dan menutup. Janin (fetus) mulai tampak
sebagai sosok manusia dengan panjang 30 cm.
c. Trimester ketiga (24 -40)
Dalam trimester ini semua organ tubuh tumbuh dengan sempurna.
Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi seperti
menendang atau menonjok serta dia sudah memiliki periode tidur dan
bangun. Masa tidurnya jauh lebih lama dibandingkan masa bangun.
Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna.
Pada bulan ke-9 ini , janin mengambil posisi kepala di bawah dan
siap untuk dilahirkan. Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan
panjang 50 cm.

2.4 Menyusui
The American Academy of Pediatrics merekomendasikan ASI
eksklusif selama 6 bulan pertama dan selanjutnya minimal selama 1 tahun.
WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan,
menyusui dalam 1 jam pertama setelah melahirkan, menyusui setiap kali bayi
mau, tidak menggunakan botol dan dot. Menyusui sebaiknya dilakukan
sesegera mungkin setelah melahirkan. Bayi dan ibu yang melakukan proses
menyusui dalam 1 jam pertama setelah melahirkan memiliki keberhasilan
yang lebih besar dari mereka yang menundanya. Bayi baru lahir sebaiknya
disusui setiap 2-3 jam sampai bayi merasa puas. Menyusui minimal 5 menit

10
pada masing-masing payudara pada hari pertama setelah melahirkan dan
semakin meningkat frekuensinya setiap hari sehingga dapat meningkatkan
produksi ASI optimal. Waktu menyusui 20 menit pada masing-masing
payudara cukup untuk bayi. Tidak perlu membatasi waktu menyusui.
Frekuensi menyusui yang sering dapat meningkatkan produksi ASI,
mencegah payudara nyeri dan sakit karena penumpukan dan penggumpalan
ASI, dan meminimalkan kemungkinan bayi menjadi kuning.
Jumlah ASI yang normal diproduksi pada akhir minggu pertama
setelah melahirkan adalah 550 ml per hari. Dalam 2-3 minggu, produksi ASI
meningkat sampai 800 ml per hari. Jumlah produksi ASI dapat mencapai 1,5-
2 L per harinya. Jumlah produksi ASI tergantung dari berapa banyak bayi
menyusu. Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak hormon prolaktin
dilepaskan, dan semakin banyak produksi ASI. Menyusui dapat berkaitan
dengan ketidaknyamanan pada payudara. Nyeri pada puting dapat diberikan
krim vaselin. Perubahan posisi menyusui untuk memutar titik stres pada
puting juga sebaiknya dilakukan. Sebaiknya bayi berhenti dahulu menghisap
puting sebelum mengangkatnya dari payudara.
Wanita yang menyusui membutuhkan 500-1000 kalori lebih banyak
dari wanita yang tidak menyusui. Wanita menyusui rentan terhadap
kekurangan magnesium, vitamin B6, folat, kalsium, dan seng. ASI tidak
memiliki suplai zat besi yang cukup untuk bayi prematur atau bayi berusia
lebih dari 6 bulan. Karena itu suplementasi zat besi sebaiknya diberikan pada
ibu menyusui dengan bayi prematur. Nutrisi yang tidak adekuat dan stres
dapat menurunkan jumlah produksi ASI.
Terdapat berbagai posisi untuk menyusui namun posisi yang baik
adalah dimana posisi kepala dan badan bayi berada pada garis yang lurus
sehingga bayi dapat menyusui dengan nyaman. Selain itu posisi ibu pun harus
nyaman. Cara menyusui yang benar adalah :

11
1. Cobalah untuk menyangga punggung, bahu, dan leher bayi. Bayi
sebaiknya dapat menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang
dengan mudah
2. Letakkan bayi dengan posisi hidungnya setara dengan puting sehingga
bayi akan melekat sempurna dengan payudara
3. Tunggu sampai bayi membuka mulut lebar dengan lidah di bawah, ibu
dapat membuat bayi dalam posisi ini dengan merangsang bibir bagian atas
bayi dengan jari ibu
4. Bayi anda akan mendekatkan kepalanya ke payudara dengan dahi terlebih
dahulu
5. Bayi akan membuka mulutnya lebar untuk mencakup putting dan
lingkaran gelap di sekitar puting, puting ibu sebaiknya berada pada langit-
langit mulut bayi
6. Untuk merangsang bayi melepaskan mulutnya dari puting, dengan lembut
letakkan ujung jari ibu pada sudut mulut bayi dan bayi akan secara
otomatis membuka mulutnya. Jangan menarik secara paksa karena akan
menimbulkan luka pada putting

2.5 Keuntungan Menyusui Bagi Bayi


ASI menyediakan nutrisi lengkap bagi bayi. ASI mengandung protein,
mineral, air, lemak, serta laktosa. ASI memberikan seluruh kebutuhan nutrisi
dan energi selama 1 bulan pertama, separuh atau lebih nutrisi selama 6 bulan
kedua dalam tahun pertama, dan 1/3 nutrisi atau lebih selama tahun kedua.
ASI juga menyediakan perlindungan terhadap infeksi dan penyembuhan yang
lebih cepat dari infeksi. Imunoglobulin A terdapat dalam jumlah yang banyak
di dalam kolostrum sehingga memberikan bayi tersebut kekebalan tubuh pasif
terhadap infeksi. Terdapat faktor bifidus di dalam air susu ibu yang
menyebabkan pertumbuhan dari Lactobacillus bifidus yang dapat menurunkan

12
kumpulan bakteri patogen (menyebabkan penyakit pada manusia) penyebab
diare.
Berdasarkan penelitian di negara maju, ASI dapat menurunkan angka
infeksi saluran pernapasan bawah, otitis media (infeksi pada telinga tengah),
meningitis bakteri (radang selaput otak), infeksi saluran kemih, diare, dan
necrotizing enterocolitis. Karena protein yang terdapat pada ASI adalah
protein yang spesifik untuk manusia, maka pengenalan lebih lama terhadap
protein asing atau protein lain yang terdapat di dalam susu formula, dapat
mengurangi dan memperlambat terjadinya alergi.

2.6 keuntungan menyusui bagi ibu


Hormon oksitosin dilepaskan selama menyusui yang menyebabkan
peningkatan kontraksi rahim, mencegah involusi rahim, dan menurunkan
angka kejadian perdarahan setelah melahirkan. Wanita yang menyusui,
menurunkan angka kejadian kanker indung telur dan kanker payudara setelah
menopause sesuai dengan lamanya waktu dia menyusui. Wanita yang
menyusui juga dapat mengurangi angka kejadian osteoporosis dan patah
tulang panggul setelah menopause, serta menurunkan kejadian obesitas karena
kehamilan. Meyusui dapat menciptakan ikatan antara ibu dengan bayi yang
juga dapat mengurangi biaya dibandingkan dengan pemakaian susu formula.
Menyusui memperlambat ovulasi (keluar dan matangnya sel telur) setelah
melahirkan sehingga menjadi suatu bentuk KB alamiah.

13
2.7 Tanda-Tanda Bayi Menyusui Dengan Benar
1. Mulut bayi seluruhnya tertangkup di puting dan payudara
2. Dahi bayi menyentuh payudara
3. Payudara tidak nyeri ketika disusui
4. Apabila ibu dapat melihat daerah gelap di sekitar payudaranya, maka ibu
seharusnya melihat daerah gelap tersebut lebih banyak di atas bibir bayi
bagian atas dibandingkan bibir bagian bawah
5. Pipi bayi tidak tertekan atau tetap pada posisinya
6. Bayi anda secara teratur menghisap dan menelan ASI, normal apabila
sesekali bayi berhenti
7. Apabila bayi sudah selesai menyusu maka dia akan melepaskan puting
dengan sendirinya
Tanda bahwa bayi mendapatkan ASI dalam jumlah cukup adalah :
1. Bayi akan terlihat puas setelah menyusu
2. Bayi terlihat sehat dan berat badannya naik setelah 2 minggu pertama
(100-200 g setiap minggu)
3. Puting dan payudara ibu tidak luka
4. Setelah beberapa hari menyusu, bayi akan buang air kecil minimal 6-8 kali
sehari dan buang air besar berwarna kuning 2 kali sehari
5. Apabila bayi selalu tidur dan tidak mau menyusui maka sebaiknya bayi
dibangunkan dan dirangsang untuk menyusui setiap 2-3 jam sekali setiap
harinya.
Hal yang Harus Diperhatikan ketika Menyusui
1. Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau alkohol dalam jumlah
berlebihan
2. Bayi dengan galaktosemia
3. Ibu dengan penyakit HIV/AIDS

14
4. Ibu dengan penyakit Tuberkulosis (TBC) yang tidak diobati dan masih
aktif. Wanita tersebut dapat memberikan ASI kepada bayinya apabila
pengobatannya sudah menujukkan keberhasilan terapi
5. Ibu dengan penyakit varisela (cacar). Apabila bayi sudah diberikan
Imunoglobulin virus varisela zoster, maka bayi tersebut dapat disusui
apabila tidak terdapat luka di puting. Dalam waktu 5 hari setelah lenting-
lenting muncul, antibodi ibu dibentuk, dan menyusui pada saat ini dapat
memberikan kekebalan pasif bagi bayi
6. Herpes yang aktif pada payudara

Penggunaan obat-obatan antikanker, tirotoksik, dan obat imunosupresan


(penurun kekebalan tubuh) tidak diperbolehkan selama menyusui. Menyusui
dapat dilanjutkan apabila ibu sedang dalam terapi antibiotik. Meskipun obat
antikejang yang diminum oleh ibu terdapat juga di dalam ASI, namun obat ini
tidak perlu dihentikan kecuali bayi mengalami sedasi.
Pada wanita yang tidak menyusui, waktu rata-rata ovulasi berikutnya
adalah 45 hari setelah wanita tersebut melahirkan (jangka waktu 25-72 hari).
Pada wanita menyusui, waktu rata-rata ovulasi berikutnya adalah 190 hari.
a. Metode Amenorea Laktasi. Metode ini dapat menyediakan proteksi
sebesar 95-99% dalam waktu 6 bulan setelah melahirkan apabila
persyaratannya dipenuhi. Menyusui setiap 4 jam di siang hari, dan setiap 6
jam di malam hari. Makanan tambahan untuk bayi hanya 5-10% dari total
b. Metode nonhormonal. Dapat dengan menggunakan kondom, spiral, atau
sterilisasi
c. Kontrasepsi Progestin (minipil, suntik, susuk). Kontrasepsi progestin tidak
mengganggu kualitas dari ASI dan bahkan dapat meningkatkan jumlah
dari ASI. Merupakan metode kontrasepsi pilihan bagi wanita menyusui.
Direkomendasikan oleh ACOG penggunaan pil progestin 2-3 minggu
setelah melahirkan, suntikan dan susuk 6 minggu setelah melahirkan.

15
Harus diingat mengenai penurunan efektivitas dari kontrasepsi progestin
pil apabila tidak diminum di waktu yang sama setiap harinya
d. Kontrasepsi kombinasi estrogen-progesteron. Kontrasepsi kombinasi
dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari ASI. WHO menganjurkan
penggunaan pil ini minimal 6 bulan setelah melahirkan

2.8 Masalah Ibu Menyusui Dan Penanganannya


1. Putting susu datar/tertarik kedalam (Inverted Nipple) Penanganannya:
Dengan pengurutan putting susu, posisi putting susu ini akan menonjol
keluar seperti keadaan normal. Jika dengan pengurutan posisinya tidak
menonjol, usaha selanjutnya adalah dengan memakai Breast Shield atau
dengan pompa payudara (Breast Pump). Jika dengan cara-cara tersebut
diatas tidka berhasil (ini merupakan True Inverted Nipple) maka usaha
koreksi selanjutnya adalah dengan tindakan pembedahan (operatif).
2. Putting susu lecet (Abraded and or cracked nipple) Penyebabnya:
a. Tehnik menyusui yang kurang tepat.
b. Pembengkakan payudara
c. Iritasi dari bahan kimia, misalnya sabun
d. Moniliasis (infeksi jamur)
Penanganan:
a. Posisi bayi sewaktu menyusu harus baik
b. Hindari pembengkakan payudara dengan lebih seringnya bayi disusui,
atau mengeluarkan air susu dengan urutan (massage)
c. Payudara dianginkan di udara terbuka
d. Putting susu diolesi dengan lanolin
e. Jika penyebabnya monilia, diberi pengobatan dengan tablet Nystatin.
f. Untuk mengurangi rasa sakit, diberi pengobatan dengan tablet
analgetika.

16
3. Pembengkakan payudara (Engorgement)
Penyebab: Pengeluaran air susu tidak lancar oleh karena putting susu jarang
diisap.
Penanganan:
a. payudara dikompres dengan air hangat
b. payudara diurut sehingga air susu mengalir keluar, atu dengan pompa
payudara.
c. Bayi disusui lebih sering
d. Untuk menghilangkan rasa sakit, diberi pengobatan dengan tablet
analgetika
4. Saluran air susu tersumbat (Obstructed Duct)
Penyebab:
a. Air susu mengental hingga menyumbat lumen saluran. Hal ini terjadi
sebagai akibat air susu jarang dikeluarkan.
b. Adanya penekanan saluran air susu dari luar.
Penanganan:
a. Payudara dikompres dengan air hangat, setelah itu bayi disusui
b. Payudara siurut (massage), setelah itu bayi disusui
c. Bayi disusui lebih sering
d. Bayi disusui mulai dengan payudara yang salurannya tersumbat.
5. Mastitis (peradangan payudara)
Penyebab: Umumnya didahului dengan: putting susu lecet, saluran air susu
tersumbat atau pembengkakan payudara.
Penanganan:
a. Payudara dikompres dengan air hangat
b. Untuk mengurangi rasa sakit diberi pengobatan dengan tablet analgetika
c. Untuk mengatasi infeksi diberi pengobatan dengan antibiotika.
d. Bayi disusui mulai dengan payudara yang mengalami peradangan, dan
ibu jangan dianjurkan menghentikan menyusui bayinya.

17
e. Istirahat yang cukup.
6. Sekresi dan pengeluaran air susu kurang
Penyebabnya:
a. Isapan pada putting susu jarang, atau diisap terlalu singkat
b. Metode isapan bayi kurang efektif
c. Bayi sudah mendapat makanan tambahan hingga keinginan untuk
menyusu berkurang.
d. Nutrisi (makanan) ibu kurang sempurna
e. Adanya hambatan atas let’s down reflex, misalnya oleh karena stress atu
cemas
f. Obat-obatan yang menghambat sekresi air susu
g. Kelainan hormonal
h. Kelainan parenchym payudara.
7. Abses payudara
Penyebab: Infeksi bakterial, khususnya staphylococcus virulent
Penanganan:
a. Kultur pus atau sekresi dari putting susu, untuk menentukan antibiotika
yang ampuh
b. Pus dikeluarkan dengan pompa payudara.
c. Atau kalau ada indikasi untuk tindakan operatif, dibuat pengeluaran
(drainage) pus
d. Jika penyebabnya bukan bakteri virulent, bayi dapat diberi air susu
ibunya asal saja si ibu sudah diberi antiobiotika 12 jam sebelumnya
e. Ibu dengan keadaan penyakitnya berat dan keadaan umum tidak baik,
bayi diberi ASI donor.
8. Tumor Payudara
Tumor payudara yang dijumpai pada masa laktasi, sebaiknya
dilakukan pemeriksaan biopsi tanpa menghentikan laktasi. Dari pemeriksaan
patologi sediaan biopsi ini, sikap tentang laktasi diputuskan. Laktasi dapat

18
dilanjutkan jika tumor jinak, kemudian tumor dieksterpasi (dibuang).Jika
ibu mendesak untuk segera dilakukan ekstirpasi, maka permintaan ini
dikabulkan tanpa menghentikan laktasi. Jika ternyata jenis tumor ganas
(kanker), maka laktasi segera dihentikan (bayi disapih). Kanker payudara
lebih sering dijumpai pada kelompok ibu yang tidakmenyusui bayinya
dibandingkan dengan kelompok ibu yang menyusui bayi.
9. Ibu menderita hepatitis atau pembawa kuman (carrier)
Ibu yang darahnya mengandung hepatitis B antigen dapat
menularkannya ke bayi semasa hamil (transplacental), pada waktu
persalinan, dan akibat hubungan (kontak) yang berlangsung lama antara ibu-
bayi. Penularan dari ibu kepada bayi ini dikenal dengan istilah “Vertical
Transmission”. Beberapa peneliti melaporkan bahwa air susu penderita
Hepatitis B mengandung hepatitis B antigen, tetapi penularan melalui ASI
belum dapat dipastikan. Bayi yang lahir harus diberi Hepatitis B
immunoglobulin. Ibu yang dalam keadaan infeksi aktif tidak dianjurkan
untuk menyusui bayinya.
10. Herpes
Ibu yang mendapat infeksi CMV dapat menularkannya melalui ASI.
Untuk mencegah penularan, laktai dihentikan.
11. Persalinan operatif (seksio sesarea)
Seksio sesarea tanpa komplikasi berat, ibu dapat menyusui bayinya 12
jam pasca persalinan. Sebaiknya obat-obatan untuk si ibu diberikan setelah
bayi disusui. Bayi yang dilahirkan dengan seksio sasarea dan belum dapat
disusui, ASI harus dipompa dan diberikan kepada bayinya dengan
menggunakan sendok teh.
12. Toksemia
Persalinan pada ibu yang menderita pre eklampsia/eklampsia yang
masih mendapat pengobatan diuretik, antihipertensi ataupun sedativa,
sebaiknya bayi jangan diberi ASI. ASI dipompa dan dibuang, dan bayi

19
diberi air susu ibu dari donor. Setelah kondisi ibu pulih dan obat-obatan
dihentikan, ibu dianjurkan menyusui bayinya.
13. Tuberkulosis
Ibu yang menderita TBC boleh menyusui bayinya. Si Ibu diberi
pengobatan dan bayi diberi INH atau divaksinasi dengan BCG dari jenis
INH resistant straint. Ibu yang menderita TBC payudara TBC payudara
tidka dianjurkan menyusui bayinya.
14. Lepra Ibu penderita lepra dibolehkan menyusui bayinya. Ibu dan bayi
berhubungan hanya waktu menyusui, setelah selesai, dipisah kembali. Ibu
dan bayi diberi pengobatan oral diaminodiphenyl sulfone.
15. Diare oleh sebab infeksi bacterial Ibu yang menderita diare oleh bakteri
boleh menyusui bayinya setelah lebih dahulu si Ibu diberi pengobatan.
16. Diabetes mellitus
Penderita diabetes mellitus dibolehkan menyusui bayinya.
17. Hypertyroidisme
Ibu penderita hypertyroidisme boleh menyusui bayinya, asal saja kadar
T4 dan TSH dalam darah bayi diukur secara berkala.
18. Psikosis
Ibu yang menderita psikosis tidak dianjurkan menyusui bayinya oleh
karena dikhawatirkan bayi mendapat perlakuan buruk.
19. Ibu bekerja
Penyebab utama penyapihan bayi adalah ibu yang aktif bekerja.
Sebaiknya diberi kesempatan pada si Ibu untuk menyusui bayinya ditempat
ia bekerja.

20
DAFTAR PUSTAKA

Brinch, J.1990 :Menyusui bayi dengan baik dan berhasil. Ayah Bunda. Favorit Press:
Jakarta

Dewi, Vivian Nanny Lia & Sunarsih, Tri. 2014. Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan.
Salemba Medika: Jakarta

Estiwidani, Dwana., Meilani, Niken., Widyasih, Hesty., & Widyastuti, Yani. 2008.
Konsep Kebidanan. Fitramaya: Yogyakarta.

Kusmiyati, Yuni. 2009. Perawatan Ibu Hamil (Asuhan Ibu Hamil). Fitramaya.
Yogyakarta.
.
Lawrence, R.A. 1985.: Breast feeding A guide for the medical profession. Second
Edition. The CV Mosby Company: Toronto

21
22