Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

EVALUASI KEGIATAN

4.1 EVALUASI PROMOSI KESEHATAN

Evaluasi pelaksanaan kegiatan PKM ini didasarkan pada beberapa aspek, yaitu dari segi
proses berlangsungnya kegiatan, maupun dari perbandingan antara hasil penilaian pengetahuan
peserta sebelum diskusi dan pemberian materi dengan hasil penilaian setelah pemberian materi.
Proses pelaksanaan PKM ini berjalan dengan baik karena mendapat dukungan dari pihak
Puskesmas dalam bentuk bantuan pelaksanaan penyuluhan yaitu memberi masukkan mengenai
materi yang harus diberikan dan juga membantu memberitahu teknik promosi kesehatan. Promosi
kesehatan berlangsung selama sekitar 1 jam. Sarana yang digunakan untuk promosi kesehatan
adalah poster dan brosur yang penyuluh siapkan. Selama kegiatan promosi kesehatan berlangsung,
para warga aktif bertanya dan mau menjawab soal yang diberikan. Selain itu seluruh peserta
memperhatikan materi yang diberikan oleh pembawa materi. Mereka juga bersemangat untuk
mengajukan pendapat dan tidak malu untuk bertanya. Saat kami mengajukan pertanyaan, para
warga dengan antusias menjawab pertanyaan yang kami berikan sehingga dapat disimpulkan
terdapat komunikasi secara dua arah antara warga yang hadir dan pembicara.
Penilaian keberhasilan penyuluhan dinilai dengan adanya perbaikan persepsi dan
peningkatan pengetahuan mengenai penyakit rabies, hal ini dilihat dari perbandingan nilai pre-test
sebelum dilakukan promosi kesehatan dengan nilai post-test setelah dilakukan promosi kesehatan.
Pre-test dan post-test memuat 10 pertanyaan. Penilaian ini diberikan kepada semua peserta yang
hadir untuk mengetahui tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan tentang
penyakit rabies. Tingkat pemahaman peserta dikategorikan baik apabila mampu memperoleh skor
≥ 70 dari total 10 pertanyaan lisan.
Tabel 4.1.Hasil pre-test Peserta Penyuluhan
Skor Jumlah %
≥ 70 7 25 %
< 70 21 75 %
Total 28 100%

Gambaran awal tingkat pemahaman masyarakat mengenai penyakit rabies adalah 75% orang
memiliki pengetahuan yang tergolong dalam kelompok pengetahuan kurang dan memiliki persepsi
kurang baik tentang penyakit rabies dan 25% orang memiliki pengetahuan yang baik tentang
penyakit rabies. Dari hasil pre-test tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar warga masih
memiliki pemahaman kurang tentang mengenai penyakit rabies.

Tabel 4.2.Hasil post-test Peserta Penyuluhan


Skor Jumlah %
≥ 70 28 100 %

< 70 0 0%

Total 28 100%

Berdasarkan dua tabel diatas, maka dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah warga
yang mendapat skor ≥ 70 yaitu dari 7 orang (25%) menjadi 28 orang (100%) dan terjadi penurunan
jumlah warga yang mendapat skor < 70 yaitu dari 21 orang (75%) menjadi 0 orang (0%). Dari data
tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan mengenai pemahaman
peserta beserta perubahan persepsi terhadap materi promosi kesehatan yang diberikan.
Seluruh warga yang hadir mengatakan bahwa penyuluhan ini bermanfaat untuk menambah
ilmu mereka dan mengapresiasi kegiatan penyuluhan ini dan mengharapkan kegiatan seperti ini
dapat terus dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ataupun dari
Puskesmas I Melaya.
4.2 HAMBATAN PROMOSI KESEHATAN
Terdapat beberapa hambatan yang kami rasakan dalam melakukan penyuluhan, yaitu
Berbedanya tingkat pendidikan masyarakat yang mengikuti promosi kesehatan sehingga
pemberian materi harus lebih mendalam dan personal sehingga peserta paham dan mengerti
mengenai materi promosi kesehatan

4.3 MANFAAT PROMOSI KESEHATAN


Manfaat yang dirasakan sebagai penyuluh dalam pelaksanaan PKM ini adalah sebagai
sarana latihan untuk menjadi penyuluh yang baik di masyarakat mulai dari pengumpulan materi,
penguasaan materi, mengasah kemampuan bicara di depan orang agar dapat menarik perhatian dan
dapat dipahami oleh pendengar serta pembelajaran mengenai pemberian materi personal dan
mendalam terhadap masyarakat yang tingkat pendidikan rendah. Manfaat yang dirasakan bagi
peserta adalah diharapkan dengan adanya promosi kesehatan ini dapat meningkatkan pengetahuan
tentang penyakit rabies, tanda gejala, faktor risiko dan tatalaksana sehingga dapat diterapkan dan
disebarluaskan di lingkungan tempat kerja dan tempat tinggal.