Anda di halaman 1dari 18

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SAFETY

RIDING PADA MAHASISWA

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Bahasa Indonesia
Yang dibina oleh Ibu Dr. Susi Milwati, S.Kp, M.Pd

Oleh
Wildan Regy Andreas
P17210184111

POLITEKNIK KESEHATAN MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
D3 KEPERAWATAN MALANG
Oktober 2018
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ........................................................................................... 4
BAB I ...................................................................................................................... 5
PENDAHULUAAN ............................................................................................... 5
1.1. Latar Belakang..................................................................................................... 5
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................... 6
1.3. Tujuan ................................................................................................................. 6
1.4. Manfaat ............................................................................................................... 6
1.4.1. Bagi Peneliti................................................................................................. 6
1.4.2. Bagi Masyarakat .......................................................................................... 6
1.4.3. Bagi Penelitian Selanjutnya ......................................................................... 6
BAB II .................................................................................................................... 7
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 7
2.1. Definisi Kecelakaan .................................................................................................. 7
2.2. Tipe Dan Karakteristik Kecelakaan ......................................................................... 8
2.3. Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas ..................................................................... 9
2.4. Strategi Peningkatan Keselamatan ........................................................................ 10
BAB III ................................................................................................................. 12
METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................ 12
3.1. Subyek Penelitian................................................................................................... 12
3.2. Metode Penelitian ............................................................................................. 12
3.3. Instrumen Penelitian ......................................................................................... 13
3.4. Prosedur Penelitian ........................................................................................... 13
3.5. Teknik Analisis Data......................................................................................... 13
BAB IV ................................................................................................................. 14
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................. 14
4.1. Hasil penelitian ................................................................................................. 14
4.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................................................. 14
4.1.2 Gambaran Umum pelaksanaan Penelitian ......................................................... 14
4.1.3 Data Khusus ...................................................................................................... 15
4.2. Pembahasan....................................................................................................... 15
4.3. Keterbatasan ...................................................................................................... 16
4.3.1. Kendala Penelitian .................................................................................... 16

2
4.3.2. Kelemahan ................................................................................................ 16
BAB V................................................................................................................... 17
PENUTUP ............................................................................................................ 17
5.1. Kesimpulan ....................................................................................................... 17
5.2 Saran ................................................................................................................. 17
DAFTAR RUJUKAN ......................................................................................... 18
LAMPIRAN

3
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang maha esa penulis ucapkan karena
dengan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal ini. Proposal ini berjudul
“ Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Safety Riding Pada Mahasiswa”
Dalam penulisan proposal ini penulis banyak menemui masalah – masalah
yang sulit terpecahkan, namun berkat bantuan semua pihak yang terkait, masalah
tersebut dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi
kemajuan penulis di masa yang akan datang. Demikianlah, mudah – mudahan
proposal ini dapat dimanfaatkan sebaik – baiknya.

Malang,21 Agustus 2018

Wildan Regy Andreas

4
BAB I
PENDAHULUAAN
Bab ini menjelaskan (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan, dan (4)
manfaat. Berikut ini penjelasan masing – masing subbahasan tersebut.
1.1. Latar Belakang
Kecelakaan memiliki definisi yang beragam menurut para ahli. Menurut
Heinrich (1980) mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak
terencana dan tidak terkontrol yang merupakan aksi atau reaksi dari suatu objek,
substansi, manusia, atau radiasi yang memungkinkan/dapat menyebabkan injury.
Menurut International Labour Office (1989), kecelakaan merupakan kejadian
yang tidak terencana dan terkontrol, yang disebabkan oleh manusia, situasi/ faktor
lingkungan, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut yang mengganggu proses
kerja, yang dapat (ataupun tidak) menimbulkan injury, kesakitan, kematian,
kerusakan properti, atau kejadian yang tidak diinginkan.
Setiap hari rata – rata penduduk Indonesia melakukan aktivitasnya dengan
berkendara baik dengan kendaraan pribadi atau transportasi umum. Pada umumnya
penduduk Indonesia lebih menyukai berkendara dengan sepedah motor hal ini dapat
kita lihat bahwa pengguna sepedah motor setiap tahunnya semakin meningkat.
Beberapa orang berpendapat bahwa sepeda motor dapat mempercepat waktu
perjalanan dan lebih efisien digunakan ketika macet. Terlepas dari manfaatnya,
menggunakaan sepedah motor saat berkendara memiliki resiko paling besar
terhadap kecelakaan lalu lintas dibandingkan dengan mobil, terbukti dari
meningkatnya angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas dengan sepeda motor.
Dampak dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi tak jarang membuat
pengguna kendaraan yang mengalami kecelakaan menjadi trauma untuk
menggunakan kembali kendaraannya, bahkan dia merasa ngeri, takut, gelisah
ketika melihat kendaraan yang dia pakai ketika kecelakaan apalagi untuk
mengendarainya kembali. Trauma akan semakin mengganggu ketika kecelakaan
tersebut membuat tubuhnya menjadi cacat. Penyesalan dan penyesalan akan
membuat stress yang berlarut – larut.

5
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana strategi peningkatan keselamatan lalu lintas?
1.3. Tujuan
Untuk mengetahui tentang penanganan kecelakaan lalu lintas pada kalangan
remaja.
1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Peneliti
Membuka wawasan dan pengetahuan serta memberikan pengalaman dalam
menerapkan ilmu yang diterapkan selama pendidikan.
1.4.2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan
yang bermanfaat bagi instansi maupun masyarakat mengenai penanganan
awal kecelakaan lalu lintas.
1.4.3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Dapat menjadi pedoman dalam penelitian selanjutnya khususnya penanganan
awal kecelakaan lalu lintas.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan 1 definisi kecelakaan 2 tipe dan karakteristik kecelakaan 3
daerah rawan kecelakaan lalu lintas 4 strategi peningkatan keselamatan. Berikut
adalah jabaran dari subbahasan tersebut.
2.1. Definisi Kecelakaan
Frank E. Bird dan George L. Germain mendefinisikan kecelakaan sebagai
suatu kejadian tidak diinginkan yang menimbulkan kerugian pada manusia,
kerusakan properti, ataupun kerugian proses kerja, sebagai akibat dari kontak
dengan substansi atau sumber energi yang melebihi batas kemampuan tubuh, alat,
atau struktur.
Menurut OHSAS 180001 : 2007, incident didefinisikan sebagai kejadian
yang terkait pekerjaan, dimana suatu cidera, sakit (terlepas dari tingkat
keparahannya), atau kematian terjadi, atau mungkin dapat terjadi. Dalam hal ini,
yang dimaksud sakit adalah kondisi kelainan fisik atau mental yang teridentifikasi
berasal dari dan/atau bertambah buruk karena kegiatan kerja dan/atau situasi yang
terkait pekerjaan.
Menurut ADB (Asian Develompment Bank, 1996), pejalan kaki, pengguna
kendaraaan bermotor dan tidak bermotor di negara berkembang lebih sering
menjadi korban kecelakaan lalulintas dari pada di negara maju, karena pada negara
berkembang jumlah fasilitasnya belum memadai. Warpani (2002) menjelaskan
bahwa khususnya di Indonesia penyebab utama besarnya angka kecelakaan adalah
faktor manusia, baik karena kelalaian, keteledoran ataupun kelengahan para
pengemudi kendaraan maupun pengguna jalan lainnya dalam berlalulintas, atau
sengaja maupun tak sengaja tidak menghiraukan sopan santun dan aturan berlalu
lintas di jalan umum.
Tingginya angka kecelakaan lalulintas dan besarnya biaya kerugian yang
diakibatkannya oleh banyaknya permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan
keselamatan lalulintas dan angkutan jalan yang perlu mendapatkan penanganan
serius, maka salah satu cara untuk mengurangi angka kecelakaan tersebut adalah
dengan Audit Keselamatan Jalan (Road Safety Audit) atau disingkat RSA.

7
2.2. Tipe Dan Karakteristik Kecelakaan
Menurut Abubakar (1996), dalam Mayuna (2011) secara garis besar
pengelompokan kecelakaan berdasarkan proses terjadinya adalah :
1. Kecelakaan tunggal (KT), yaitu kecelakaan tunggal yang dialami oleh satu
kendaraan.
2. Kecelakaan pejalan kaki (KPK), yaitu kecelakaan tunggal yang melibatkan
pejalan kaki.
3. Kecelakaan membelok dua kendaraan (KMDK), yaitu kejadian kecelakaan
pada saat melakukan gerakan membelok dan hanya dua kendaraan yang
membelok.
4. Kecelakaan membelok lebih dari dua kendaraan (KMLDK), yaitu kejadian
kecelekaan pada saat melakukan gerakan membelok dan lebih dari dua
kendaraan yang terlibat.
5. Kecelakaan tanpa ada gerakan membelok dua kendaraan (KDK), yaitu
kejadiaan kecelakaan pada saat berjalan lurus atau kejadiaan kecelakaan
tanpa ada gerakan dan hanya dua kendaraan yang terlibat.
6. Kecelakaan tanpa membelok lebih dari dua kendaraan (KLDK) yaitu
kejadiaan kecelakaaan pada saat berjalan lurus atau kecelakaan yang terjadi
tanpa ada gerakan membelok dan lebih dari dua kendaraan yang terlibat.
Secara garis besar karakteristik kecelakaan menurut tabrakan dapat
diklasifikasikan dengan dasar yang seragam (Fachrurozy, 1986, dalam Mayuna,
2011):
1. Rear-angle (Ra), tabrakan antara kendaraan yang bergerak pada arah yang
berbeda, tidak berlawanan arah, kecuali pada sudut kanan.
2. Rear-end (Re), kendaraan menabrak dari belakang kendaraan lain yang
bergerak searah, kecuali pada jalur yang sama. Sideswipe (Ss), kendaraan
yang menabrak kendaraan lain dari samping ketika berjalan pada arah yang
sama, atau pada arah yang berlawanan, kecuali pada jalur yang berbeda.
3. Sideswipe (Ss), kendaraan yang menabrak kendaraan lain dari samping
ketika berjalan pada arah yang sama, atau pada arah yang berlawanan,
kecuali pada jalur yang berbeda.

8
4. Head on (Ho), tabrakan antara kendaraan yang berjalan pada arah yang
berlawan.
5. Backing, tabrakan secara mundur.

2.3. Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas


Menurut (Anonim, 1994 dalam Mayuna, 2011) daerah rawan kecelakaan lalu
lintas dikelompokkan menjadi tiga :
1. Tapak rawan kecelakaan (Hazardous Sites)
Site (tapak) adalah lokasi-lokasi tertentu yang meliputi : pertemuan
jalan, acces point, ruas jalan yang pendek. Berdasarkan panjangnya tapak
rawan kecelakaan ada dua yaitu :
a. Black Spot : 0,03 km – 0,5 km
b. Black Section : 0,5 km – 2,5 km
Kriteria penentuan Hazardous Sites:
a. Jumlah kecelakaan (kecelakaan/km) untuk periode waktu tertentu
melebihi suatu nilai tertentu.
b. Tingkat kecelakaan (per kendaraan) untuk periode tertentu melebihi
suatu nilai tertentu.
c. Tingkat kecelakaan melebihi kritis yang diturunkan dari analisis
statistik.
2. Rute rawan kecelakaan (Hazardous Routes)
Panjang ruas kecelakaan biasanya ditetapkan dari 1 km. Kriteria yang
dipaki dalam menentukan wilayah rawan kecelakaan adalah :
a. Jumlah kecelakaan melebihi suatu nilai tertentu dengan
mengabaikan variabel panjang rute dan variasi volume kendaraan.
b. Jumlah kendaraan per km melebihi suatu nilai tertentu dengan
mengabaikan variasi volume kendaraan.
c. Tingkat kecelakaan (per km kendaraan) melebihi suatu nilai tertentu.
3. Wilayah rawan kecelakaan (Hazardous Areas)
Luas daerah kecelakaan biasanya ditetapkan berkisaran 5 km.
Kriteria yang dipakai dalam menentukan wilayah kecelakaan :

9
a. Jumlah kecelakaan per km pertahun dengan mengabaikan variasi
panjang dan variasi volume lalu lintas.
b. Jumlah kendaraan per penduduk dengan mengabaikan variasi
panjang jalan dan variasi volume lalu lintas.
c. Jumlah kecelakaan per km jalan dengan mengabaikan volume lalu
lintas.
d. Jumlah kecelakaan per kendaraan yang dimiliki oleh penduduk
daerah tersebut.
Bina Marga (2006) menjelaskan lokasi atau titik rawan kecelakaan
(blackspot) didefinisikan secara berbeda-beda di tiap negara. Perubahan
definisidapat dilakukan oleh suatu negara yang secara berkesinambungan
mengevaluasi dan menyesuaikan target pencapaian program-program keselamatan
jalan.

2.4. Strategi Peningkatan Keselamatan


1. Peningkatan Keselamatan
Downing dan Iskandar (1998, dalam Mayuna 2011) memperkenalkan
suatu bentuk pemecahan terpadu yang dikenal dengan 3E yaitu : Rekayasa
(engineering), pendidikan (education), pengawasan (enforcement), serta 2E
tambahan yaitu evalusi (evaluation) dan dukungan (encouragement).
Untuk merealisasikan usaha multi disiplin tersebut, diisyaratkan adanya :
a. Sistem pendataan dan analisis terpadu yang berlaku secara nasional.
b. Rencana induk lalu lintas jalan pada tingkat nasional yang ditetapkan
berdasarkan diagnose terhadap kecenderungan kecelakaan.
c. Lembaga yang mengkoordinasi tingkat nasional dan lokal disertai
dengan kewenangan dan sumber daya.
d. Sumber daya manusia terlatih dalam bidang keselamatan jalan
pemerintah indonesia telah melakukan berbagai upaya positif dalam
mereduksi angka kecelakaan, misalnya dengan adanhya rencana
keselamatan jalan nasional dan sistem informasi kecelakaan lalu
lintas yang dikenal dengan sistem pengelolaan data kecelakaan lalu
lintas.

10
2. Pencegahan kecelakaan melalui perbaikan perencanaan dan desain
Pada prinsipnya perbaikan perencanaan dan desain harus terkosentrasi
pada pemecahan persoalan yang utama, dimana perbaikan prioritas perlu
diberikan kepada sepeda motor, pejalan kaki, bus, khususnya pada jalan-jalan
dilingkungan pemukiman baik didalam kota maupun di luar kota. Tingginya
kecelakaan yang terjadi diluar kota berkaitan dengan pengembangan daerah
terbangun disepanjang jalan. Kondisi ini sangat ideal untuk mempraktekan
perencanaan dan desain berorientasi keselamatan. Untuk itu perlu beberapa
strategi penting yang dapat diterapkan, antara lain:
a. Sesuaikan fungsi, desain dan pengguna jalan dengan klasifikasi
jalan.
b. Lengkapi desain jalan dan lingkungan dengan petunjuk dan penuhi
kebutuhan pemakai jalan.

11
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Subyek Penelitian


Ditinjau dari tujun peneliti yang akan dicapai,peneliti mengguanakan
penelitian deskriptif artinya,peneliti yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan
atau hal lain yang sudah disebutkan,yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan
penelitian. Sampel penelitian ini beberapa mahasiswa kelas 1B, bertempat di
Poltekkes KEMENKES Malang, pada Oktober 2018
Subjek penelitian adalah pihak yang dijadikan sebagai sampel dalam sebuah
penelitian. Subjek penelitian juga membahas karakteristik subjek yang digunakan
dalam penelitian, termasuk penjelasan mengenai populasi, sampel, dan tekhnik
sampling (acak/non acak) yang digunakan (Nanang Martono, 2010:112).
Subjek penelitian terdiri dari 3 level yaitu :
a. Mikro merupakan level terkecil dari subyek penelitian dan hanya berupa
individu.
b. Meso merupakan level subyek penelitian dengan jumlah anggota lebih
banyak misal keluarga dan kelompok.
c. Makro merupakan level subyek penelitian dengan anggota yang sangat
banyak seperti masyarakat atau komunitas luas.
Peran subyek penelitian adalah memberikan taggapan dan informasi terkait
data yang dibutuhkan oleh peneliti, serta memberikan masukan kepada peneliti baik
secara langsung maupun tidak langsung. Subyek penelitian :
a. Individu yang pernah kecelakaan lalu lintas.
b. Individu yang pernah melihat dan menolong korban kecelakaan lalu lintas.
c. Individu yang berdomisili di Malang.

3.2. Metode Penelitian


Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun sedemikian
rupa sehingga dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Desain
penelitian mengacu pada jenis atau macam penelitian yang dipilih untuk mencapai
tujuan penelitian serta berperan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan tersebut.

12
Pada penelitian ini, peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel pada
suatu saat, srtinya subjek hanya diobservasi satu kali saja dan pengukuran variabel
subjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut (Sastroasmoro dan Ismael, 1995)

3.3. Instrumen Penelitian


Instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah berupa angket atau
kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti. Sugiyono (2014:92) menyatakan bahwa
“instrumen penelitian adalah suatu alat pengumpul data yang digunakan untuk
mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati”. Alat yang digunakan
dalam penelitian ini berupa suatu kuesioner dan melakukan wawancara terhadap
individu mengenai pengetahuan tentang komplikasi penyakit diabetes mellitus.

3.4. Prosedur Penelitian


a. Mencari responden
b. Menjelaskan maksud dan tujuan
c. Membuat kesepakatan
d. Melakukan wawancara dan memberikan kuesioner
e. Data tekumpul dan melakukan analisa
f. Membuat kesimpulan

3.5. Teknik Analisis Data


Teknik pengumpulan data kualitatif yaitu dapat diperoleh dari kuisioner dan
wawancara. Proses ini berlangsung secara terus-menerus selama penelitian
berlangsung, bahkan sebelum data benar-benar terkumpul agar peneliti
mendapatkan makna hubungan variabel-variabel sehingga dapat digunakan untuk
menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian.

13
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menguraikan tentang hasil dan pembahasan dari penelitian
yang berjudul “Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Safety Riding Pada
Mahasiswa di Kelas 1B” . hasil penelitian disajikan dalam data umum dan data
khusus. Data umum meliputi gambaran lokasi penelitian, gambaran pelaksanaan
penelitian dan gambaran umum responden disajikan dalm bentuk diagram, tabel, dan
narasi. Sedangkan data khusus meliputi pemberian pengetahuan mengenai
pengetahuan safety riding dan keselamatan berkendara.
4.1. Hasil penelitian
4.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di kelas 1B prodi keperawtan Politeknik
Kesehatn Malang, kampus ini terletak di Jalan Besar Ijen 77C, Oro Oro
Dowo , Klojen, Malang. Kampus ini memiliki 5 jurusan yaitu keperawatan,
kebidannan, kesehatan terapan, gizi, dan bank darah.
4.1.2. Gambaran Umum pelaksanaan Penelitian
Pengumpulan data di kelas 1B dilakukan pada 1 – 5 oktober 2018.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendatangi tempat duduk
responden satu persatu. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner untuk
mendapatkan data subjektif responden tentang pengetahuan safety riding
sehari – hari. Dari penelitian ini didapatkan data sebagai berikut.
No Nama Umur Alamat
1 Sdr. S 18 Jl. I.R. Rais Gg. 14
2 Sdr. K 18 Jl. Untung Suropati Selatan 25
3 Sdr. S 18 Perum Dirgantara Permai C25
4 Sdr. R 18 Griya Tanjung Priok Jaya c3
5 Sdr. N 18 Jl. Untung Suropati Gg. 2 25
Tabel 4.1 Data responden

14
4.1.3. Data Khusus
A. Frekuensi pengetahuan
Distribusi frekuensi pengetahuan mahasiswa 1B Keperawatan
Malang tentang pentingnya keselamatan berkendara di jalan raya.
No Pengetahuan Frekuensi Presentase
1 Baik 3 60%
2 Cukup 2 40%
3 Kurang 0 0%
Tabel 4.2 data frekuensi pengetahuan
Dari tabel diatas menunjukan 3 orang dari responden yang diteliti
didapatkan berpengetahuan baik dan 2 diantaranya yang berpengetahuan cukup.

B. Frekuensi Perilaku
Distribusi perilaku mahasiswa 1B Keperawatan Malang tentang
pentingnya keselamatan berkendara di jalan raya.
No Pengetahuan Frekuensi Presentase
1 Negatif 1 20%
2 Positif 4 80%
Tabel 4.3 data frekuensi perilaku

4.2. Pembahasan
Berdasarkan tabel diatas diketahui sebagian besar responden memiliki
pengetahuan pentingnya berkendara secara aman di jalan raya. Faktor iformasi dan
pendidikan memegang peran penting dalam pemahaman rambu lalu lintas dan tata
tertib yang berlaku di jalan raya, semakin tinggi pendidikan responden maka
semakin mudah responden menerima informasi dan mentaati aturan berlalu lintas,
sebaliknya jika pengetahuan kurang maka akan menghambat pemahaman
responden untuk menerima informasi dan mentaati peraturan berlalu lintas.
Perilaku mahasiswa berdasarkan tabel di atas menunjukkan sikap positif
tentang pentingnya berkendara dengan aman di lalu lintas sebanyak 4 mahasiswa
dari 5 mahasiswa yang diwawancarai, dan 1 mahasiswa yang memiliki sikap
negatif.

15
4.3. Keterbatasan
4.3.1. Kendala Penelitian
Kendala yang dihadapi peneliti saat melakukan penelitian adalah tidak
bisa mengumpulkan responden dalam satu waktu sehingga memerlukan
waktu yang lama dan setiap responden memiliki waktu luang yang berbeda
untuk mengisi kuisioner.
4.3.2. Kelemahan
Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner
tertutup sehingga responden hanya bisa menjawab checklist dan jawaban
tersebut belum bisa untuk mengukur pengetahuan secara mendalam.

16
BAB V

PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Meskipun dari hasil penelitian banyak yang memiliki kebiasaan
positif untuk taat berlalu lintas. Masih terdapat 2 dari 5 responden yang
masih memiliki kebiasaan mengabaikan keselamatannya sendiri dan juga
banyak faktor yang mempengaruhi taat berlalu lintas dan safety riding,
diantaranya yaitu kebiasaan melanggar rambu lalu lintas, yang sebenarnya
responden tidak mengetahui maksud atau arti dari rambu – rambu tersebut.

5.2 Saran
Dengan adanya penelitian ini diharapkan mahasiswa lebih
meningkatkan pengengetahuan tentang berkendara dengan cara mencari
informasi dari berbagai sumber, juga melengkapi surat kendaraan seperti
SIM dan STNK serta mematuhi rambu – rambu lalu lintas.

17
DAFTAR RUJUKAN
Jean-Michel Servais, Valérie Van Goethem. (2011). International Labour
Organization (ILO). New York: Wolters Kluwer.
Kausek, J. (2007). Designing And Implementing An Effective Health And Safety
Management System. Mumbai: Government Institutes.
Srinivasa Madhur, Ganeshan Wignaraja, and Peter Darjes. (2007). Roads for Asian
Integration: Measuring ADB’s. ADB Working Paper Series on, 2-3.
Warpani, S. (2002). Pengelolaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bandung: ITB.
Barry Watson, 2007, Psychological and Social Factors Influencing Motorcycle Rider
Intentions and Behaviour, Brisbane: ATSB.
BSN, 2007, SNI 1811-2007 tentang Helm pengendara kendaraan bermotor roda
dua, Jakarta: SNI.
Eko Budiarto, 2002, Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat,
Jakarta: EGC.

18