Anda di halaman 1dari 52

CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Evaluasi dapat digambarkan sebagai pembuatan penetapan tentang nilai, untuk


tujuan tertentu, baik berupa gagasan, pekerjaan, solusi, metode, material dan lain–lain,
yang melibatkan penggunaan ukuran seperti halnya untuk menilai tingkat suatu tertentu
itu akurat, efektif, hemat, atau memuaskan, ketentuan itu baik yang kwantitatif atau
kwalitatif. Dengan demikian maka evaluasi merupakan kegiatan yang sangat penting
dalam pengajaran. Dan kegiatan ini merupakan salah satu dari empat tugas pokok
seorang guru.

Dalam praktek pengajaran keempat kegiatan pokok ini merupakan sebuah


kesatuan yang padu dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dalam
melaksanakan tugas mengajarnya seorang guru berusaha untuk menciptakan situasi
belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar, memotivasi, mengajukan bahan ajar,
serta menggunbakan metode dan media yang telah disiapkan. Selain itu guna mencapai
tujuan pendidikan yang optimal , guru memberikan bimbingan kepada siswa dengan
berupaya untuk memahami kesulitan belajar yang dialami siswa. Dari berbagai persoalan
yang di hadapi dalam proses belajar mengajar evaluasi memberikan sumbangan yang
cukup berarti. fungsi evaluasi digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki kegiatan-
kegiatan proses pembelajaran serta sebagai alat untuk menyeleksi dan sebagai alat untuk
memberikan motivasi belajar siswa.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan sebagai berikut :


1. Untuk mengkritik kelebihan dan kelemahan buku utama dan buku pembanding
2. Untuk mencari metode apa saja yang digunakan dalam Evaluasi Hasil Belajar
3. Untuk melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan
oleh setiap bab dari kedua buku tersebut
4. Untuk menganalisis kedua buku tersebut.
P a g e 1 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

1.3 Manfaat

Adapun manfaat sebagai berikut :


1. Dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai Evaluasi Hasil Belajar
2. Dapat mengetahui kegunaan metode dalam Evaluasi Pembelajaran
3. Dapat mengambil kesimpulan dari kedua buku yang telah di review
4. Dapat menyarankan ke pada para pembaca buku mana yang baik untuk digunakan
oleh Calon Guru.

1.4 Identitas Buku

 Judul : Bagaimana Menjadi Calon Guru dan Guru Profesional


 Edisi :-
 Pengarang : Prof.Dr.Suyanto, Ph.D dan Drs.Asep Djihad, M.Pd
 Penerbit : Multi Pressindo
 Kota Terbit : Yogyakarta
 Tahun Terbit : 2013
 ISBN : 978-602-18309-0-1

P a g e 2 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

2.1 Ringkasan Buku

BAB I

Guru Yang Profesional dan Efekif

A. Kompetensi Guru

Secara umum, ada tiga tugas guru sebagai profesi, mendidik, mengajar, dan melatih.
Mendidik berarti bertahan dan mengembang- kan hidup-hidup; mengajar berarti
mengajar dan mengembang- kan ilmu pengetahuan; pelatihan berarti mengembangkan
keterampilan- untuk hidup siswa. Untuk dapat mengirimkan tugas dan tanggung jawab
di atas, seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan kompetensi tertentu
sebagai bagian dari profesional- isme guru. Diatas kompetensi diartikan sebagai
kemampuan atau ke- cakapan. Mc Load (1990) mendefinisikan sikap sebagai perilaku
yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang
diharapkan. Kompetensi guru sendiri merupakan kemam puan seorang guru dalam
menjalankannya bertanggung jawab dan layak dimata pemangku kepentingan. Seiring
pengajar, guru dituntut memiliki kewenangan menga jar berdasarkan kualifikasinya
sebagai tenaga pengajar. Sebagai tenaga pengajar, guru harus memiliki kemampuan
profesional dala b setiap kemampuan itu dang pembelajaran.Dengan nakan menyediakan
kemudahan-kemudahan b fasilitator yang mengajar; peserta didik dalam proses belajar
siswa mengatasi kesulitan 2 yang membantu dalam proses belajar mengajar; lingu 3. jadi
penyedia yang sedang m gan belajar yang menantang bagi siswa agar mereka sedang
belajar dengan bersemangat; Model yang mampu memberikan contoh yang baik ke
peserta didik agar berperilaku sesuai dengan norma yang ada dan berlaku di dunia
pendidikan; sebagai motivator yang turut menyebarluaskan usaha-usah pem bahtim
kepada masyarakat khususnya kepada subjek didik yaiti siswa; 6 sebagai agen

P a g e 3 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

perkembangan kognitif, yang menyebarluaskan ilmu dan teknologi kepada peserta didik
dan masyarakat dan; tim manajer, siswa dalam kelas se asa belajar mengajar
mencapai.Hakikat pengajaran adalah proses yang menghantarkan siswa untuk belajar
dengan cara kegiatan, persiapan dan mewujudkan, memberikan fasi litas, memberikan
ceramah dan latihan, memecahkan masalah, membimbing, mengarahkan dan
memberikan dorongan atau motivasi untuk merealisasikan hakikat mengajar yang sejati
diser kolah, guru harus memiliki pengetahuan / bidang ilmu yang terbagi dan besar,
memiliki iktikad yang baik untuk mem memalui ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan
siswa, memiliki komit pria untuk terus belajar sepanjang hayat.Yang dengan belajar
untuk gu ru dalam konteks ini adalah belajar bidang ilmu yang belajar atau cara
pengembangan ilmu / bidang siswanya serta belajar metode pembelajaran mandiri,
dalam arti is the ca madai maka adalah metode pengajarannya tidak mer baca berbagai
buku barumelalui berbagai pelatihan, mem bidang pembelajaran, akses internet untuk
mencari berbagai metode pembelajaran yang bisa diadopsi dalam rangka peningkatan
kemampuan mengajarnya. seorang guru harus memiliki motivasi yang tinggi untuk
terlibat dalam kegiatan belajar sepanjang hayat. memahami para siswa memiliki
keinginan agar mereka lebih mudah tiap sarjana. Ha ini pun terjadi jika setiap guru dalam
proses pem 1. Mampu melibatkan mereka sebagai subjek belajaran, di mana setiap guru
harus berkeyakinan semua siswanya bisa belajar, taruh siswanya secara adil dan mampu
memahami perbedaan siswa yang satu dengan yang lain 2. Menguasai bidang ilmu yang
mengajarkan dan mampu menghubung- kan dengan bidang ilmu lain serta
menerapkannya dalam dunia 3. nyata; dan meng buat, memperkaya, dan metode
penjelajahan ajarnya untuk menarik sekaligus. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi,
guru dapat menggunakan strategi belajar kontekstual dengan beberapa hal, yaitu:
kegiatan yang bervariasi dapat melayani perbedaan individu siswa, lebih aktif siswa dan
guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menciptakan jalinan kegiatan
belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat. Melalui pembelajaran ini, siswa
menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan secara
kontekstual dalam kehidupan nyata karena memiliki motivasi tinggi untuk belajar. Untuk
menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran terse but, tentunya setiap guru
harus meningkatkan kemampuannya, baik melalui keikutsertaaannya dalam pelbagai
pelatihan, seminar lokakarya melakukan studi kependidikan seperti penelitian tindakan
teknik pengembangan, pengajaran kelas, kan disiplin kelas, mene apkan prinsip-prinsip
P a g e 4 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

pengajaran yang mampu menginspirasi perkem bangan kognitif siswa dan sebagainya.
Di samping itu, guru juga harus bisa mendapatkan umpan balik bagaimana cara
mengajarnya dari dan sesama guru untuk mendapatkan masukan cara
memperjuangkannya dengan baik.

B. GURU PROFESIONAL

Pada era otonomi pendidikan, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang amat besar
bagi penentuan kualitas guru yang di perlukan di daerahnya masing-masing. Oleh karena
itu di masa yang akan dating daerah benar-benar harus memiliki pola rekrutmen dan
polasa pembinaan karie guru secara tersistem agar tercipta profesionalisme pendidikan
di daerah.

Lantas, seperti apa suatu pekerjaan disebut professional? C.O Houle (1980), membuat
ciri-ciri suatu pekerjaan disebut professional meliputi :

1.. Harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat

2. Harus berdasarkan atas kompetensi individual

3. Memiliki Sistem Seleksi dan sertifikasi

4. Ada kerjasama dan kompetensi yang sehat antar sejawat

5. Adanya kesadaran professional yang tinggi

6. Memiliki prinsip-prinsip etik

7. Adanya militansi individual

8. Memiliki system Sanksi

9. Memiliki organisasi profesi

C. Guru Efektif

Dalam manajemen SDA, menjadi professional adalah tuntutan jabatan, pekerjaan


ataupun profesi. Hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi, yaiu sikap
professional dan kualitas kerja. Menjadi Seorang guru professional adalah keniscayaan.
Profesi guru juga sangat lekat dengan integritas dan personality bahkan identik dengan

P a g e 5 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

citra kemanusiaan. Menjadi guru mungkin orang bias. Tetapi menjadi guru yang memiliki
keahlian dalam mendidik perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai.
Dalam konteks tersebut, menjadi guru professional setidaknya memiliki standar minimal
yakni :

1. Memiliki kemampuan intelektual yang baik


2. Memiliki kemampuan memahami visi dan misi pendidikan nasional
3. Mempunyai keahlian mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa secara efektif
4. Memahami konsep perkembangan psikologi anak
5. Memiliki kemampuan mengorganisir dan proser belajar
6. Memiliki kreativitas dan seni mendidik.

2. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran yang meliputi :

a. Memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki
perhatiaan, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mapu memberikan transisi
subtansi bahan ajar dalam proses pembelajaran.

b. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang
berbeda unutuk semua siswa.

3. Memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan
yang meliputi :

a. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa.

b. Mampu memberikan respon yang berifat membantu terhadap siswa yang lamban
belajar

c. Mampu meberikan bantuan professional kepada siswa jika diperlukan

d. Mampu memberikan bantuan professional kepada siswa jika di perlukan

4. Memiliki kemampuan yang tekait peningkatan diri, meliputi ;

a. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif

b. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode pengajaran

c. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang mampu.

P a g e 6 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

d. Mampu memberikan bantuan professional kepada siswa jika diperlukan

4. Memiliki kemampuan yang terkait peningktan diri :

a. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovtif

b. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai mteode pengajaran

c. mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan


mengembangkan metode pengajaran yang relevan

D. Implementasi di Ruang Kelas

Beberapa cermin diri yang dapat guru pakai dalam peningkatan kemampuannya antara
lain:

1. Siswa memperhatikan guru atau tidak


2. Siswa semangat mengikuti pelajaran atau tidak
3. Siswa memahami atau tidak ketika di tanya
4. Siswa sudah berakhlak mulia atau tidak
5. Hasil supervise guru dalam mengajar sudah baik atau tidak

P a g e 7 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB II

Kepribadian dan profesioanlisme guru

A. KEPRIBADIAN GURU

Untuk menjadi guru seseorang harus memiliki kepribadian yang kuat dan terpuji,
Kepribadian yang harus ada pada diri guru itu: kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif dan berwibawa, jaditeladan untuk hal menainya, danberakhlakmulia, Kepribadian
yangmantap dan stabilmemi liki indikator esensial bertindak sesuai dengan norma
hukum; bertindak sesuai dengan norma sosial, tumbuhnya sebagai guru, dan memiliki
reputasi-sidalam bertindak dan berperilaku Kepribadian yang dewasa memiliki in-isipan
esensial menampilkan kemandirian dalam bahasa sebagai pena didik dan memiliki etos
kerja sebagai guru Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial menampilkan
tindakanyang dibangun pada kemanfaa- tan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta
menunjukkanketerbukaan dalam pemikiran dan tindakan. Kepribadian yang
berwibawamemiliki indika- tor esensial memiliki perilaku yang berpengaruh positif
terhadap proses dan hasil belajar peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani bera-
khlak mulia, bertindak sesuai dengan norma agama iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka
menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani pes didik 1. Ciri Kepribadian Guru ru
adalah faktor utama dan bagi proses belajar siswa. Dalam pandangan siswa, guru
memiliki otoritas, bukan saja dalam bidang akademis, pelaut juga dalam bidang non
akademis, karena itu pengaruh guru terhadap para siswanya sangat mudah dan sangat
menentukan. Kepribadian guru memiliki pengaruh langsung dan kumulatif terhadap
hidup dan kebiasaan-kebiasaan belajar para siswa. Hasil percobaan dan hasil-hasil
observasi menguatkan. yak apa yang dipelajari oleh siswa dari gurunya Para Siswa
menyerap sikap-sikap merefleksikan perasaan-perasaannya, menyerap keyakinan-
keyakinannya, m tingkah lakunya, dan kutipan pern- yataan-pernyataannya. Pengalaman
menunjukkan masalah-ma salah seperti motivasi, disiplin, tingkah laku sosial, prestasi,
dan hasrat belajar yang terus-terus pada diri siswa yang bersumber dari keprib adian
guru. Kepribadian guru sangat sangat terhadap siswa, maka guru perlu memiliki ciri
sebagai orang yang berpribadi matang dan sehat. Allport (1978) mengemukakan ciri
P a g e 8 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

khas orang yang memiliki kepribadian matang adalah: Ekstensian rasa diri Meningkatkan
kesadaran diri, melihat sisi lebih dan sisi kurang dari diri; b. Keterkaitan yang hangat
dengan orang lain ini bisa menjalin relasi dengan hangat dengan orang lain. Allport suka
menjadi in itinag dan kasih sayang (Keajaiban) Keintiman merupa. kan kemampuan
orang mencintai keluarga atau teman. Sementara kecintaan adalah kemampuan orang
untuk mencintai kelu- arga, teman, maupun orang lain. Guru yang memiliki tipe ini bias.
anya memiliki banyak relasi, tidak hanya sebatas relasi disekolah, juga relasi di
lingkungan penerimaan diri. Memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi dan
mampu. Biasanya, guru yang memiliki sifat ni memiliki toleransi tinggi terhadap frustasi,
dan mau meneri. ma apa yang ada dalam dirinya.

2. Kepribadina Guru yang Konstruktif

Guru yang konstruktif adalah guru yang memiliki tujuan untuk melakukan perubahan
dari diri peserta didiknya.Perubahan terse- but bisa dicapai jika guru mampu
menempatkan diri sebagai sumber kreativitas dan inspirasi. Bagi peserta didik.Sebagai
sumber tenaga energi untuk peserta didik, mata batin guru yang sudah terlatih dengan
baik, dipastikan akan mampu menyentuh dan menggetarkan jiwa dan lainya.Terlebih,
jika itu dilakukan dalam suasana kelas yang kondusif, maka para peserta didik akan lebih
mudah menyerap materi yang diberikan.Dengan kata lain, saat seorang guru berbicara
sesuatu, maka seluruh peserta didik akan menyimaknya bahkan menunggu tiap kata
yang diucapkan sang guru untuk dijadikan pedoman dalam pembelajaran maupun dalam
perilaku keseharian.Jika ingin menjadi guru yang konstruktif yang mudah memotivasi
belajar para peserta didik, maka guru itu harus lebih dahu lu bisa memotivasi diri
sendiri.Dia harus mampu memahami dan mengen- dalikan diri sendiri.Akan, jika dia
sibuk dengan begitu banyak kesalahpahaman dalam dirinya, dalam keluarga, dan dalam
memilih profesinya, maka kemungkinan besar akan sukar ubah hati dan pikiran peserta
didiknya .Selain itu, guru yang konstruktif juga harus dapat memahami kebutuhan dan
masalah-masalah siswa, seperti hal nya tugas guru BK (Bimbingan & Konseling) karena
dengan memahami kondisi psikologi siswa, seorang guru konstruktif mudah mengubah
kesadaran siswanya.

P a g e 9 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

B. Profesionalisme Guru

1. Memaknai Profesionalisme Guru

Memaknai Profesionalisme Guru yang menyandang suatu Makna "profesional" pada


orang mewujudkan profesi atau sebutan tentang penampilan seseorang dalam unjuk
kerja sesuai dengan profesinya. dan juga ini telah mendapat baik segara formal lem-
informal. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau / yang memiliki
kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah informal pengakuan itu diberikan tau pengguna
jasa suatu profesi. Bagi para humberan luas dan para telah mendapat penind sebutan
"guru profesional" adalah guru yang berlaku, balk secara formal dengan ketentuan yang
belakang dengan jabatan jabatan belakang pendidikan formalnya. Pengakuan ini berlaku
dalam bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat, dan sebagainya baik yang
menyangkut kualifikasi maupun kompetensi. Sebutan "guru profesional" juga bisa lolos
ke pengakuan terhadap kompetensi penampilan unjuk kerja seorang guru dalam
pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai tenaga pengajar. Dengan demikian, sebutan
"profesional" terwujud pada pengakuan formal ter hadap kualifikasi dan kompetensi
penampilan unjuk kerja suatu jaba- tan atau pekerjaan tertentu. iDalam UU Guru dan
Dosen (pasal 1 ayat 4) adalah profesi atau pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dan
menjadi sumber penghasilan yang membutuhkan keahlian, kemahiran, atau kecakapan
yang memenuhi standar profesionalisme " adalah sebutan yang diharapkan untuk
mewujudkan senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.
Seorang guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan tercer- min dalam sikap
mental serta komitmen terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas profesional
melalui berbagai cara dan strategi.

2. Profesi Guru

Profesi dan profesional adalah dua kata yang mirip hati mempu- nyai makna yang
berbeda. Profesi berasal dari kata profesi, semen- tara profesional berasal dari kata
profesional, yang memiliki batasan bervariasi tergantung dari konteks yang ingin halal.
Batasan mengenai profesi dan profesional ditandaskan oleh Page & Thomas (1979),
seperti kutipan berikut ini, profesi, istilah evaluatif yang menggambarkan pekerjaan
paling bergengsi yang bisa disebut profesion

P a g e 10 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Dari batasan di atas, bisa dikatakan etika profesi itu berkai- tan dengan baik dan
buruknya tingkah laku individu dalam suatu peker- jaan, yang telah diatur dalam kode
etik. Prasyarat profesi akan terpenuhi jika memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Profesi
menuntut suatu latihan profesional yang dipersyaratkan dan membudaya; b. Profesi
menuntut suatu lembaga yang sistematis dan terspesialisasi; c. Profesi harus
memberikan keterangan tentang keterampilan yang dibutuhkan di mana masyarakat
umum tidak memilikinya; d. Profesi harus sudah mengembangkan hasil dan pengalaman
yang sudah teruji; e. Profesi harus membutuhkan pelatihan dan penampungan tugas;
Profesi harus merupakan tipe pekerjaan yang bermanfaat; g, Profesi harus memiliki
kesadaran kelompok sebagai kekuatan yang mampu mendorong dan membina
anggotanya; h. tidak boleh menjadi batu loncatan mencari pekerjaan lain; Profesi harus
terjerat dalam masyarakat dengan meminta anggotanya penuh kode etik yang diterima
dan membangun nya. Prasyarat profesi akan terpenuhi jika memenuhi kriteria sebagai
berikut: a. Profesi menuntut suatu latihan profesional yang memadai dan membudaya b.
Profesi muhammad tentang apa yang sedang terjadi pada umumnya tidak memilikinya;
c. Profesi harus mampu mengembangkan suatu basil dan pengalaman yang sudah teruji
kemanfaatannya, d. Profesi membutuhkan pelatihan spesifik; e. Profesi adalah tipe
pekerjaan yang bermanfaat f Profesi memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan
membina anggotanya; g. Profesi tidak menjadi batu loncatan mencari pekerjaan lain.

Dalam UU Guru dan Dosen pasal (7) ayat (1) kata guru pro dan fiksi adalah bidang
pekerjaaan khusus yang memer- lukan prinsip-prinsip profesional sebagai berikut: a.
Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme b. Memiliki kualifikasi pendidikan
dan latar belakang pendidikan seskin dengan jurusan tugasnya Memiliki kompetensi
yang diperlukan sesuai bidang tugasnya d. Mematuhi kode etik profesi e. Memiliki hak
dan kewajiban dalam melaksanakan tugas f Memperoleh penghasilan yang sesuai dengan
prestasi kerja g Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara
berkelanjutan h. Memperoleh badan dalam tugas pro- fesionalnya i. Memiliki organisasi
profesi yang berbadan hukum Pada prinsipnya profesionalisme guru dapat diartikan
sebagai guru yang dapat menjalankan tugasnya secara profesional. Untuk melihat apakah
seorang guru sedang profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif Pertamo,
dilihat dari tingkat pendidikan minimal dari latar belakang pendidikan untukjenjang
sekolah tempat bekerja menja. di guru Kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan

P a g e 11 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

ajar, penyusunan proses pembelajaran, penyusunan siswa, melakukan tugas-tugas


bimbin gan, dan lain-lain. Sementara itu, untuk melihatlebih jauh profesionalisme guru,
dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut 1. Ahli di bidang teori dan praktik
keguruan. Guru profesional adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan yang
diajarkan dan ahli

Selanjutnya Suyanto (2001) mengemukakan empat prasyarat agar seorang guru dapat
dikatakan profesional,

1. kemampuan guru mengolah atau menyiasati kurikulum,

2. kemampuan guru mengaitkan materi kurikulum dengan lingkungan.

3 kemampuan guru memotivasi siswa untuk belajar sendiri.

4 kemampuan guru untuk mengintegrasikan berbagai bidang atau mata pelajaran


menjadi kesatuan konsep yang utuh.

a. Keshalehan Pribadi

Makna shaleh sebenarnya bukan hanya baik dalam arti hubungan dengan sesama
manusia, akankah juga mengandung makna baik ter hadap diri alam semesta, dan
hubungan manusia dengan Tuhan Keshalehan pribadi ini bisa diwujudkan dalam bebera
pa bentuk, seperti obyektif dewasa , berakhlak mulia, teladan, beriman (iryakinan
terhadap Tuhan), dan bertakwa (guru dan anak-anak) a guru harus mampu menjaga
dirinya sendiri dengan mengembangkan sikap dewasa (beraplak mulia) berakhlak mulia,
dan bisa menjadi teladan bagi siapa saja, sehingga kewibawaan akan tumbuh pada
dirinya.

P a g e 12 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB III

Kompetensi Guru dalam Berbagai Perspektif

A. KOMPETENSI GURU

Dalam merumuskan kompetensi, Louise Moqvist (2003) berpendirian "kompetensi telah


didefinisikan dalam kenyataan yang sebenarnya berkaitan dengan individu dan
pekerjaan. Sementara itu, dalam Len Holmes (1992) mendefinisikan:" A Kompetensi
adalah deskripsi tentang beberapa hal yang seseorang yang bekerja di area pekerjaan
tertentu harus menjadi Ini adalah deskripsi tindakan, perilaku atau hasil yang seseorang
harus dapat tunjukkan. Jadi seseorang baru di rebut saya-punya kompetensi jika dia bisa
melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan baik. Begitu juga seorang guru, ia bisa
dikatakan memiliki kompetensi mengajar jika guru yang mampu mengajar dengan baik
bagi siswa yang diajarnya. Kompetensi pada hambatan, merupakan deskripsi tentang apa
yang bisa dilakukan seseorang dalam bekerja, dan apa wujucl dari peker- jaan tersebut
yang bisa terlihat. Untuk dapat melakukan suatu peker jaan, seseorang harus memiliki
kemampuan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang relevan dengan
bidang pekerjaannya.

Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, kompetensi guru dapat dimaknai sebagai
gambaran tentang apa yang harus dilakukan ses eorang guru dalam menjalankan
pekerjaannya, baik itu kegiatan, perilaku maupun hasil yang dapat saling membantu
dalam proses belajar mengajar Menurut Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) ada tiga jenis
kompeni tensi guru, yaitu: 1. Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas
dari bi dang studi yang mengajarnya, memilih dan menggunakan berbagai metode dalam
proses belajar-mengajar yang diseleng garaka nnya;

2. Kompetensi kemasyarakatan: aampu berkomunikasi, baik dengan siswa, sesama guru,


maupun masyarakat luas, dalam konteks sosial;

3. Kompetensi pribadi yang memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani.
Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang
menjalankan peran: ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,

B. Kompetensi Guru Dalam Konteks Kebijakan


P a g e 13 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah teilah merumuskan empat


jenis kompetensi guru dalam hal Peraturan Peraturan No 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, yaitu:

1. Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru lingkup


pemaha - man guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pem-
belajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara keseluruhan sekali
subkompetensi dijabarkan menjadi indikator esensial sebagai berikut

a. Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator es ensial: memahami


peserta didik dengan memanfaatkan prinsip- prinsip perkembangan kognitif memahami
peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian; dan WIB bekal ajar
awal peserta didik;

b. Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pena didikan untuk


kepentingan pembelajaran yang memiliki indikator esen- sial memahami landasan
kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi
pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta diduk, menetapkan kompetensi yang
ingin di- capai, dan materi ajar; strategi yang dipilih;

c. Melaksanakan pembelajaran memiliki indikator esensial menata pelajaran; dan


pelaksanaan pembelajaran yang kondusif

d. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran dalam

2. Kompetensi Kepribadian

kepribadian menurut oleh Hall & Lindzey, (1970: 167), fakta-fakta yang tidak diketahui:
tidak serangkaian fakta biografi, "itu umum dan dirusak dari karena bisa memperjelas
konsep kepribadian yang abstrak yang bagaimanapun knya indikatornya berdering tidak
ada sesuaikan dengan apa yang dimaksud dengan karakter, bukan karakter, bukan
karakter, bukan karakter. Itu dan apa adanya, karena itu, tubuh kepribadian untuk guru
mampuan pribadi yang saling kepribadian yang mantap, sta berakhlak mulia dan
berwibawa, dan kemudian dapat menjadi teladan bagi peserta didik. Secara keseluruhan
kepri badian terdiri dari:

P a g e 14 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

a. Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indikator esensial, ber -indak sesuai
dengan norma sosial; yang profesional; dan memi konsistensi dalam bertindak sesuai
dengan norma yang ber la dalam kehidupan; b. Kepribadian yang dewasa memiliki
indikator esensial: menampi. kan kemandirian dalam aksi sebagai pendidik dan memiliki
etos kerja yang tinggi;

c Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial menampilkan tin- dakan yang
didirikan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan laja keilm tur d liki

3. Kompetensi Sosial harus dimiliki Kompetensi sosial merupakan kemampuan yang


dengan peserta guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif peserta didik,
sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua / wali didik dan masyarakat sekitar
Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut:

a Mampu berkomunikasi dan bergaul secara otomatis dengan peserta didik memiliki
indikator esensial: berkomunikasi secara efektif den gan peserta didik; guru bisa
mengerti keinginan dan harapan siswa;

b Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga
kependidikan; Misalnya bisa berdiskusi tenyang anak didik juga solusinya.

c Mampu berkomunikasi dan bergaul dengan orang tua / dinding peserta didik dan
masyarakat sekitar. Contohnya guru mem-informasi tentang bakat, minat dan
kemampuan tertentu untuk orang tua peserta didik.

4. Kompetensi Profesional Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi


pembinaan yang sangat luas dan mendalam yang harus dikuasai guru esensi dan
kurikulum keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struk- tur
dan metodologi keilmuannya. Setiap subkompetensi indikator memi- liki berikut esensial
sebagai berikut:

a. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Hal ini berarti guru
harus memahami materi ajar yang ada dalam kuriku- lum sekolah; pengertian struktur,
konsep dan metode keilmuan yang menaungi dan koheren dengan materi ajar;
memahami konsep evolusi, dan menerapkan konsep - konsep keilmuan dalam proses
belajar implikasi itu

P a g e 15 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

b. Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki langkah - langkah penelitian dan
kajian kritis guru untuk memperdalam pengetahuan / materi bidang studi.

Keseluruhan kompetensi guru dalam praktiknya merupakan satu kesatuan kesatuan


kesatuan. Pemilahan menjadi empat ini, semata-mata untuk kemudahan memahaminya.
Beberapa ahli mengatakan istilah kompetensi profesional sebenarnya adalah "payung
karena telah menuturkan semua hal lainnya, sementara penguasaan materi ajar dan
luasnya lebih tepat disebut dengan penguasaan sumber ajar atau sering disebut bidang
studi keterampilan. Yang disebut sebagai guru yang berkompeten harus memiliki:

a. Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik


b. Penguasaan bidang studi
c. Kemampuaan penyelengaraan pembelajaran yang mendidik
d. Kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan kepribadian
secara berkelanjutan

Meriam (1989) menyarankan bahwa kompetensi profesioanla yang harus dimiliki oleh
guru adalah :

a. Memahami motivasi para siswa


b. Memahami kebutuhan belajar siswa
c. Memiliki kemampuan yang cukup tentang teori dan praktik
d. Mengetahui kebutuhan masyarakat para pengguna pendidikan
e. Mampu menggunakan beragam metode dan teknik pembelajaran
f. Memiliki keterampilan mendengar dan berkomunikasi
g. Mengetahui bagaimana menggunakan materi yang diajarkan dalam praktik
kehidupan nyata
h. Memiliki pandangan yang terbuka untuk memperkenalkan siswa
mengembangkan minatnya masing-masing

C.Perbandingan Kompetensi Dengan Negara Lain

1. Pemahaman guru tentang peserta didik

2. Pengetahuan tentang bahan ajar dan bagaimana cara mengajarkannya


P a g e 16 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

3. Pengelolaan Pembelajaran

D. Kompetensi dalam mengajar

1. Mengajar dan mengembangkan potensi siswa

2. Merancang pembelajaran yang menarik

3. Membangun pembelajaran yang menarik

4. Memahami gaya mengajar guru adalah gaya belajar siswa

5. Membangun kreativitas dalam pembelajaran

6. Memahami beragam kecerdasan siswa

P a g e 17 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB IV

Pengelolan Proses Pembelajaran

A. Pengolalaan kegiatan pembelajaran

Secara garis besar aspek yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dan pelaksanaan
pembelajaran pembelajaran, meliputi pengelolaan ruang belajar (kelas), pengelolaan
slawa dan kegiatan pembelajaran (Puskur Balitbang Depdiknas 2002).

Pengelolaan Ruang Belajar merupakan tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran,


lazimnya bentuk ruang kelas selama berjam-jam siswa berada di tempat tersebut, selama
itu terbilang interakel antara turu dan anak-anak. yang teritunya haris dilala sedemiklan
enggan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. oleh karena itu,
suasana dan penataan ruang belajar yang palingnya tidak ada empat kondisi berikut :

a. Aksesibilitas, apakah siswa atau guru mudah terkena dampak dan sumber belajar
yang sedang dalam proses belajar mengajar.
b. Mobilitas, yakni siswa dan guru mudah bergerak dari suatu bagian ke bagian lain
dalam kelas
c. Interaksi, yakni memudahkan terjadinya interaksi antara guru dan siswa maupun
antar sesama siswa
d. Variasi kerja siswa, yakni memungkinkan siswa bekerja secara perorangan,
berpasangan, ataupun kelompok secara variatif

2. Pengelolaan Siswa memiliki kemampuan dalam kelas biasanya belajar beragam,


terutama dalam hal ini termasuk materi yang harus dikuasainya. karena guru maunya
memahami tentang karakteristik masalah berkenaan dengan kemampuan siswa. Bobbi
DePorter & Mike Hernacki dalam tiga karakter, yaitu: menggu.

1. Pelajar visual, kemampuan belajar cepat dengan nakan penglihatan mata; cepat dengan
penden

2. Pelajar auditorial, kemampuan belajar cepat; dan dengan pendekatan

P a g e 18 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

3. Pelajar kinestik yakni kemampuan belajar dengan cara bergerak, bekerja atau
menyentuh dan Bahasa tubuh lainnya.

Dalam proses belajar, semakin banyak melibatkan panca indera, semakin baik hasil
belajar yang bisa dicapai. Pola pikir yang tidak membutuhnya dalam jangka waktu lama,
akan menyebabkan ker jenuh otak, belajar menjadi lambat, bahkan kemampuan dapat
terhenti, dengan kata lain stan

Dave Meier (2002: 90) fisik mening- katkan proses mental. Bagian otak manusia yang
terlibat dalam gerakan tubuh (korteks motor) terletak tepat di sebelah otak yang nakan
untuk berpikir dan memecahkan rnasala oleh karena mengimbangi tubuh. Rasa,
pengaruh tubuh dalam belajar.

Dalam mengefektifkan kegiatan dalam belajar, Dave Meier (2002: 91) menggunakan
pendekatan "SAVI" yaitu: a. Somalia: Belajar dengan bergerak dan bersama b. Auditori:
Belajar dengan berbicara dan belajar c visual: Belajar dengan dan pilihan d. Intelektual:
Belajar dengan memecahkan masalah dan merenung. Pengelolaan Kegiatan
Pembelajaran

3. Kegiatan belajar siswa perlu disesuaikan dengan ukuran sesuai denagn tingkat
kemampuannya. Seorang guru dituntut untuk menciptakan berbagai bentuk kegiatan
dalam mengelolaan pembelajaran, agar siswa secara optimal dapat mengembangkan
kemampuan diri den gan berbekal pengalaman yang ditempuh selama melakukan
kegiatan belajar. Berkenaan dengan optimalisasi kemampuan belajar seseorang, Sheal,
Peter (1989) menggambarkan enam kualifikasi kemampuan sebagai berikut:

B. STRATEGI KEGIATAN PEMBELAJARAN

Langkah umum strategi kegiatan pembelajaran merupakan hasil dalam kegiatan belajar
dilakukan untuk melingkul empat cara efektif efisien. Paling tidak Strategi yang
dimaksud, yaitu: spesifikasi dan laualifikasi

P a g e 19 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

1. Mengidentifikasi dan menentukan standar bahan tingkah laku yang diharapkan.


Hal ini berlaku pada kompetensi atau kompetensi tinggi, yang selanjutnya
dirumuskan dengan kemampuan dasar siswa untuk mendapatkan suatu
kompetensi yar mesti besar siswa, sesuai dengan rumpun mata pelajaran yan
diberikan
2. cara belajar belajar yang tepat untuk mencapai stand. ar kompetensi, dengan
memperhatikan karakteristik siswa sebagai su-byek belajar dalam kegiatan ini,
kita wajib memahami tentang mo-dalitas dan / atau gaya belajar siswa, sebagai
individu yang menjadi beda baik secara logis, fisiologis, maupun sosiolog
3. Pilihan dan ukuran metode pembelajaran, dan metode yang sedang
dikembangkan. dahkan siswa menguasai dan menjiwai seluruh inti pesan yang ter
kandung dalam setiap sajian pembelajaran.

Dalam pengembangan strategi pembelajaran, Dave Maier (1990: 103) menawarkan pola
“Siklus Empat Tahap” :

1. Persiapan
2. Penyampaian
3. Praktik
4. Penampilan Hasil

C. SARANA DAN SUMBER BELAJAR

Sarana belajar merupakan fasilitas yang sangat antusias dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Sarana yang paling membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran
adalah media atau alat peraga. oleh karena itu, dalam pembelajaran guru perlu
menggunakan berbagai jenis media pembelajaran dan harus dim atasi secara tepat,
sesuai dengan pengalaman dan tujuan yang belajar akan ditempuh siswa. Dengan
demikian, media pembelajaran bisa menjadi anggota informasi dan konsep yang sedang
dipelajari. Beberapa karakteristik sarana yang efektif (Puskur, balitbang Dep- diknas,
2002) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Menarik perhatian dan minat siswa

P a g e 20 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

2. Mampu menguat dasar-dasar untuk memahami sesuatu hal konkrit, sekaligus dapat
mencegah atau mengurangi verbalisme.

3, Merangsang tumbuhnya saling pengertian dan / atau tumbuhnya. pengembangan usa-


ha.

4. Mempunyai banyak kegunaan atau multifungsi

5. Memperkuat bentuk yang sederhana, mudah digunakan dan perawatan, mudah


dihasilkan, bisa dibuat sendiri oleh guru. Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun
2005 tentang Standar Sara-na dan Prasarana, berikut beberapa hal, sebagai berikut:

1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang mencakup per abot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai serta
perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang
teratur dan berkelanjutan

2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi la han, ruang kelas,
ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium.

D. Pengembangan Materi Pembelajaran

Perkembangan teknologi dan informasi cepat tut guru untuk mengubah kebiasaan
belajar-mengajarnya. Guru-guru perlu memperdalam materi pembelajaran lewat
pelbagai usaha, diusahakan akses internet, jurnal, majalah, dan media pembelajaran
lainnya. jika guru kurang meningkatkan kemampuan intelek tualnya, maka proses
belajar-mengajar di kelas menjadi tidak pria oleh karena itu, pengembangan materi
pembelajaran melalui media pembelajaran apapun menjadi sangat penting bagi
kelancaran proses belajar-mengajar. pengembangan materi pembelajaran merupakan
upaya mening katkan kualitas / kompetensi guru maupun siswa melalui media pembe-
lajaran. Materi pelajaran sendiri merupakan bahan yang harus dis ampaikan sesuai
dengan kompetensi yang akan dicapai. Hal yang sama sama bagi para murid adalah
kebutuhan un tuk. Hal ini berarti membutuhkan pengem bangan materi berdasarkan
empat tingkat kurikulum pendidikan ala Dryden dan Vos (2003), yang menekankan
pada:
P a g e 21 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

1. Citra diri dan perkembangan pribadi

2. Pelatihan keterampilan hidup

3. Belajar tentang cara belajar dan berpikir kemampuan akademik, fisik dan artistik yang
spesifik Empat tingkat 256 Dryings dan vos di atas dapat dijelaskan seba- gai berikut.
Pertama, citra diri harus dikembangkan dalam perspektif peran dan fungsi manusia
sebagai makhluk Tuhan, individu mandiri, dan makhluk sosial, serta sebagai unsur
produksi. Seperti makhluk Tuhan, guru (juga siswa) mestinya selalu bertindak dan
mengerjakan sesuatu atas nama ibadah demi mendapat ridho Tuhan. Bagi individu, guru
(juga siswa) harus dapat melepaskan diri, menemukan jati diri, mema- hami kelemahan
dan kekurangannya, dalam kerangka membangun ka rakter dan mengembangkan
potensi diri untuk terus berkarya. Bagi para sosial, guru (juga siswa) harus memahami
nilai sosial, menghargai perbedaan dan menerima pluralitas dalam kehidupan, dan
senantiasa termotivasi untuk berkarya dalam kehidupan sosial. Memiliki unsur
produksi, guru (juga siswa) selalu tergerak untuk berprestasi secara produktif, kreatif,
inovatif dan ekonomis. Jika proses membangun

P a g e 22 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB V

Kompetensi Memecahkan Permasalahan Belajar di Kelas

A. GAMBARAN RUANG KELAS

1. Situasi Kelas Bruce Joyce (1992: 1) menyatakan dengan tegas bahwa "sekolah dan
kelas adalah komunitas siswa, berkumpul untuk menjelajahi dunia dan belajar
menavigasinya secara produktif". Artinya, sekolah dan kelas adalah komunitas
para murid, yang digabung bersama untuk saling belajar dan belajar cara
mengemudikannya dengan kata lain, efektif dan produktif tidaknya proses
pembelajaran tidak berada di sekolah dan kelas. Apa yang terjadi di sekolah dan
di kelas, akan menjadi salah satu faktor penting yang akan mempengaru
keberhasilan pendidikan, Ketika siswa di suatu sekolah kegatangan saat dewan
guru sedang sibuk rapat, atau guru tidak masuk sekolah dengan berbu- agai sebab,
maka sudah dapat dipastikan Apakah letak kekeliruannya ada pada sistem yang
terjadi di dalam sekolah dan ruang kelas. Bukan pada siswanya yang dikatakan
bandel, atau tidak mau belajar sebaliknya, jika para murid yang saat dijemput
orang tuanya masih tidak mau pulang, karena masih mau berada di sekolah, maka
dapat dipastikan bahwa sekolah dan kelas telah menjadi tempat yang
menyenangkan bagi mereka.

2. Meluruskan Makna Bermain

Ada yang menyesatkan tentang makna “bermain” baik yang menyesatkan tentang maha
pemen Ada orang maupun ayo saya-nurut pengertian jangan bermain Gut orang tua
kepada anlah kalimat yang sering diucapkan oleh yang yang sedang sedang asyik
bermain. Bermain tidak berguna seperti waktu, tidak bermain, orang tua lainnya. Agar
anak untuk anak, juga sering menyuruh anak-anaknya tidur, orang tua yang bisa agar
anak-anak bisa bobok bobok siang '(BBS), dan tidak bermain. Jadi, tidurnya lebih baik

P a g e 23 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

dari bermain. Dalam proses sedang dalam proses yang dalam. Di pun sering kita dengar
perintegah bermain. "Ayo masuk kelas Kita belajar lagi. Ayo semua berhenti beya teriak
seorang guru untuk mengajak masuk ruang ke. Las, karena pelajaran akan segera dimulai.
Kalimat itu sama sekali tidak ada bedanya dengan apa yang diucapkan siswa saat kirim
anaknya untuk segera mandi dan belajar. Walhasil, bermain diberi makna negatif. teknik
bermain, belajar model belajar serunya belajar. strategi bermain dan permainan peran.
peran dalam permainan peran.

3. Aktivitas Guru dan Siswa di kelas

Untuk memahami aktivitas guru dan siswa di kelas dapat d dan ruan contoh ajiner
berikut: dilukiskan kinerja guru di suatu SD Antah Jadilah ruang ke. ranta Sang guru
masih sibuk ngobrol sesama kolega entah tentang apa ara guru di ruang guru, sementara
murid menunggu sekitar lima menit di dalam kelas. Memangkelas tidakgaduh, karena
tinggi mu alam hal kelas m ridnya takut kepada gurunya, yang sering menghukum berdiri
di de- pan elas. Bel telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Sang Guru masih juga asyik
mengobrol. Dengan menenteng satu tas hitam bertuliskan diklat sekitar 40 murid berdiri
bla bla bla "dia masuk kelas." Selamat Pagi Pak baik Guru "Guru pun menjawabnya
'selamat pagi ggota" anak-anak, sekarang kita akan belajar Matematika. Coba buka buku
miki kalian, halaman 25. Coba perhatikan. Jangan ada yang gaduh Rumus luas pada
segitiga adalah setengah sayang kali tingi. Jadi kalau ada segitiga, sayang ngat 4 cm, dan
tingginya 6 cm, maka luasnya adalah 12 cm, Mengerti ana una kanak? "Begitulah proses
pembelajaran sedang dengan kondis yang mencekam, dan menegangkan." Mengapa
setengah panjang sayang Pak? "Seorang siswa yang bertu- buh agak besar bertanya
kepada sang Guru dengan rasa ingin tahu. Itu rumus duas segitiga. Hapalkan saja. Itu
bukan ukuran luas persegi empat, rumusnya adalah panjang kali lebar, "jawab sang Guru
tanpa ragu-ragu. Anak anak terdiam, tidak berani bertanya lagi, meski di benaknya timbul
banyak pertanyaan yang ingin diajukan. 'Anak-anak, dalam bukumu sudah ada beberapa
contoh penerapan rumus itu. Lihat itu Kemudian, pada halaman selanjutnya ada banyak
latihan yang harus kalian kerjakan.Tugas kalian sekarang adalah mengerjalan latihan-
latihan itu. Nah, sekarang kerjakan soal-soal itu. Basil pekerjaannya nanti '. Demikian
perintah sang Guru kepada muridnya, setelah itu dia ngeloyor kelas kearah guru dengan
ekspresi wajah yang dingin. el berbunyi tanda pelajaran telah selesai Sang Guru masuk
P a g e 24 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

kem bali ke kelas dan mengumpulkan pekerjaan siswa. Tanpa pesan tanpa permisi, tanpa
menegur sapa. Sang Guru ngeloyor lagi menuju ruang guru dengan membawa setumpuk
kertas hasil pekerjaan siswa-siswa. Para murid tidak tahu nasib besar kertas-kertas itu
nanti.

B. Peraturan Kelas

Ada kalanya seorang guru perlu aturan-aturan yang di nya mengajari siswa bisa belajar
disiplin. Terkadang masalah timbulnya batasan-batasan yang diterapkan pada siswa
yang memiliki kepribadian berbeda dengan teman sebayanya. Berbeda dengan sine
maksudnya memiliki perilaku yang lebih sulit dibina dan dikembangkan dibinding siswa-
siswa lainnya. Berikut beberapa saran untuk para guru yang sudah bisa dan bisa dipakai
pada siswa dengan dikurangi timbulnya masalah. saya.

1. Buatlah Aturan Seminim dan sejelas Mungkin aturan yang mau dibuat jelas dan
langsung pada inti aturannya, tidak bertele-tele. Tujuannya, agar siswa langsung
mengeta- hui mana yang bisa mereka lakukan dan mana yang tidak mereka lakukan.
Jelaskan kepada mereka konsekuensi dari aturan singkat tapi, baik positif maupun
negatif. Berikan hadiah, pujian atau simpati kepada mereka yang mematuhinya. Sedang
untuk yang tidak patuh pada aturan, yang dapat memotivasi tingkat kedisiplinan mereka.

2. Berikan Hadiah atau Hukuman Yang Masuk Akal Terangkan dengan sejelas-jelasnya
apa yang harus siswa kerjakan. Berikan pula pengertian kepada siswa yang sangat efektif
Jelaskan apakah mereka sendiri yang ada memegang kendali atas kemampuan dan
perilakunya masing-masing. Di akhir tugasnya, jelaskan mereka harus mengerjakan
tugas tepat pada waktunya, biarpun ngomong, toh mereka pada saat yang sama juga bisa
melakukan aktivi- tas yang lain. Jadi mengerjakan tugas bukan penghalang un tuk
melakukan kegiatan yang menyenangkan lainnya.

3. Banyaklah Berkomunikasi dengan Siswa Selalu komunikasikan dengan siswa secara


baik-baik segala hal yang ingin diterapkan kepada mereka. Berikan penjelasan dari sudut
panik sebagai seorang guru dan terangkan perkembangan apa saja yang telah diraih oleh
setiap siswa.

4. Bekerja sama dengan Siswa

P a g e 25 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Walaupun aturan sudah dibuat oleh guru t diajak kerja sama. Ber. kan untuk mereka
dalam proses pembelajaran mereka, jadwallisi dan daftar ini. jadikan referensi bagi siswa
untuk melakukan sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati bersama.

5. Bersikap dan Berpikir Positif Sekeras apapun disiplin yang dibuat, tidak berarti disiplin
yang dimaksud pemaksaan atau kekerasan terhadap siswa. Berikan kepada ka pelbagai
pilihan. Jadikan hal ini topik dari segala komun dengan siswa. Pada siswa yang selalu
mengerjakan tugas. alnya, beri pilihan untuk berusaha lebih keras lagi atau akan
kehilangan jatah waktu istirahatnya. Cara ini akan membuat diri kita memiliki motivasi
tersendiri secara internal maupun ekstern.

6. Pendekatan kepada siswa yang Bermasalah Bila ingin memberi pengertian kepada
siswa yang sering lalai atau bermasalah, gunakan pendekatan yang tidak mencolok per.
hatian siswa lainnya. Bila tidak bisa berbicara langsung pada ru. angan suka, alihkan
perhatian siswa lainnya dengan memberikan pekerjaan ringan. Ajaklah berdiskusi,
karena mungkin faktor kelalaian mereka bisa saja stres atau tekanan akademis yang
terlalu berat. Bisa juga karena mereka memiliki energi yang berlebih sehingga sulit untuk
berkonsentrasi cukup lama pada satu mata pelajaran. Bantulah mereka untuk mengatasi
masalah tersebut, dan jangan memalukan siswa di de- pan teman-teman sekelasnya.

c. Interaksi Energik Guru dan Siswa di kelas

Untuk memotivasi belajar siswa, guru harus selalu inovatif dalam metode metode
pembelajaran. la pun harus men empatkan siswanya sebagai pusat pembelajaran,
maksudnyamana terangsang motif buka.

P a g e 26 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB VI

Pengelolaan Kelas dan Media Pembelajaran

A. PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF

1. Memahami Pengertian Pembelajaran Efektif Menurut Popham dan Baker (1992), pada
hakekatnya proses pem- belajaran yang dapat terjadi jika guru dapat mengubah
kemampuan dan persepsi siswa dari yang sulit dapat sesuatu yang mudah
mempelajarinya. Lebih jauh mereka menjelaskan proses belajar dan mengajar yang
efektif sangat tergantung pada pemilihan dan peng gunaan. Untuk bisa memaksimalkan
pembela jaran yang efektif itu, pembelajaran yang efektif juga saya merlukan efesiensi.
Oleh McWhorter (1992: 3), efisiensi sebagai kemampuan untuk menunjukkan sesuatu
dengan sedikit usaha, biaya, dan kapasitas yang tepat untuk tujuan penggunaan. Dari
penjelasan di atas, ada dua hal utama yang diperlukan untuk mencapai proses belajar
mengajar yang efektif. Pertama, harus ada kegi- atan analisis kebutuhan belajar siswa.

2. Pengelolaan Kelas pengelolaan kelas

Keberhasilan pembelajaran membutuhkan tidak per baik terhadap pengelolaan Paling.


Nka guru sebagai yang siswa dan sem dapat meminimalisir. Meski demikian, Guru tidak
bisa bel keheider di tetap sangat diharapkan siswa sendiri dalam pengelolaan kelas
demikian sebaliknya, sekolah stakeholder lainnya tidak bisa bekerja tanpa bantuan
komunitas dari yang lain. pemahaman tentang pengelolaan kelas tergantung masih keliru
sedang mengelola kelas yang berhubungan dengan sarana seperti tempat duduk, le mari
baka, alat-alat mengajar santai dan sarana pembelajaran, yang terutama adala + di
kelasnya sebagian kecil, pengkondisian kelas , kata bagaimana guru proses belajar
mengungsi berbagai kegiatan di kelas sehingga dapat beral dan berhasil dengan baik.
Manajemen kelas menurut penulis adalah upaya yang dilakukan guru untuk
mengkondisikan kelas dengan mengoptimalisasikan berbagai sumber (potensi yang ada
pada diri gura sarana dan lingkungan belajar di kelas) yang suka agar proses belajar
mengajar bisa berjalan sesuai dengan perencanaan dan bajuan yang ingin dicapai.
P a g e 27 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Pengelolaan kelas dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai kelas. manajemen ruang, itu
berarti istilah pengelolaan identik dengan mana- jemen Pengertian pengelolaan atau
manajemen umum pada kegiatan-kegiatan yang lingkup perencanaan. pengorganisasian,
pengarahan, pengkoordinasian pengawasan, dan penilaian. Wilford A. Weber Oames M.
Cooper, 1995: 230) mengemukakan bahwa manajemen kelas adalah seperangkat
perilaku yang digunakan guru untuk menetapkan dan mempertahankan kondisi kelas
yang memungkinkan siswa mencapai tujuan insmotional mereka yang sesuai yang akan
memungkinkan mereka untuk belajar.

Wilford mengemukakan mengenai pandangan- pandangan yang sedang dalam dan


pengelolaan dalam pengelolaan

1. Pendekatan otoriter. Lihat ini pada perlunya pengawasan dan pengaturan siswa;
peluang besar guru

2. Pendekatan ini memberi cara intim untuk mengawasi dan menertibkan siswa dengan

3. Pendekatan Permisif. Pendekatan ini memberikan kebebasan pada siswa untuk


melakukan apa yang ingin dilakukan, guru banya penting apa yang dilakukan siswa
tersebut; ke

4. Pendekatan "Resep Masakan". Pendekatan ini untuk guru dan guru yang tepat untuk
apa dan apa yang tidak bisa dilakukan; guru

5. pendekatan pengajaran Langkah ini memberi kesempatan bisa untuk menyusun


rencana pengajaran dengan tepat sehingga menghindari pertanyaan perilaku siswa yang
tidak diharapkan

6. Pendekatan Modifikasi Perilaku. Dalam pendekatan ini yang mendorong guru


mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa ini

7, pendekatan iklim sosio-emosional dalam konteks guru'menekankan pada terjalinnya


hubungan yang positif antara B. guru siswa kelompok / dinamika kelompok. Dari
pendekatan terse- but yang akan mengoptimalisasikan pengelolaan kelas adalah
penindasan modifikasi perilaku, iklim sosio-emosional, dan sistem proses kelompok
dinamika kelompok.

P a g e 28 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Seperti pengelola kelas, guru merupakan orang yang memiliki peran yang strategis
karena dia adalah orang yang merujuk kegiatan yang akan dilakukan di kelas, orang yang
akan melaksanakan kegiatan yang direncanakan dengan subjek dan objek siswa, orang
yang menentukan dan mengambil keputusan dengan Strategi yang akan digunakan
dengan berbagai kegiatan di kelas.

3.Pengorganisasian Lingkungan Belajar

Pengorganisasian lingkungan belajar yang kondusif yang merupakan sarana bagi


terbangunnya proses belajar yang diharapkan adalah sebagai orang ng ke tepuk d

1. Terciptanya lingkungan sekolah yang kondusif trast

2. Terciptanya disiplin sekolah yang mendorong terbentuknya disiplin inya erap kem
belajar siswa sebagai pusat utama

3. kondisi yang layanan pendidikan dan pengembangan.

4. Terciptanya rasa nyaman. Rasa nyaman ini akan timbul jika seg enap komponen
pendidikan memberikan pelayanan kepada siswa tib melalui kehangatan, keakraban, dan
kekeluargaan. Di amping itu, kebersihan lingkungan belajar juga merupakan unsur
penting bagi terciptanya rasa nyaman ini. segala tugas yang diberikan

5. Adanya responsibilitas siswa terhadap guru, baik itu tugas mandiri maupun tugas
testruktur. 6. Tersedia sarana pembelajaran yang memadai, seperti buku, koran, dll

7. Adanya keteladanan guru sebagai masyarakat terpelajar.

8. Adanya kinerja profesional guru yang terandalkan. Artinya, guru mampu memberi
sugesti pada siswa dalam proses belajar mengajar

9. Program adanya kokurikuler dan ekstra kurikuler yang menyatu dengan program
kurikuler. 10. Terbentuknya konsep penentuan kriteria prestasi dalam pembela jaran
yang dilakukan secara obyektif.

11. Terciptanya kondisi orang tua siswa sebagai masyarakat yang senang belajar.

12. Tersedianya buku dan cumber informasi lain sebagai barang konsumsi harga

13. Adanya jadwal belajar bagi siswa dirumahnya masing-masing

P a g e 29 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

B Penggunaan Media Pembelajaran

1. Komunikasi dalam proses pembelajaran

Proses belajar-mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Proses
komunikasi yang mungkin terjadi selama proses belajar mengajar adalah komunikasi
searah, duua arah dan banyak arah

P a g e 30 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB VII

Metode, Model dan Pendekatan pembelajaran.

A. Macam-macam Metode Pembelajaran

1.Ceramah

Metode ceramah yang digunakan untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan


secara lisan kepada sejumlah siswa dikelas, dimana pada umumnya hanya mengikuti satu
arah.

Dalam penggunaan metode ceramah, seorang guru harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :

1. Menetapkan apakah metode ceramah digunakan dengan mempertimbangkan hal-


hal sebagai berikut
a. Tujuan yang hendak dicapai, jika tujuan penyampaian materi sebatas diketahui
siswa tanpa harus memahami dan menghayati.
b. Bahan yang akan diajarkan, biasanya tidak mengandung unsur yang rumit
c. Alat fasilitas waktu yang tersedia, jumlah siswa fasilitas serta waktu sangat
terbatas
d. Jumlah siswa beserta taraf kemampuanny, jumlah siswa yang banyak dengan tara
kemampuan yang merata
e. Kemampuan guru dalam menguasai materi dan kemampuan berbicara guru
memiliki kemampuan yang merata

2. Metode Diskusi

Adalah suatu proses bertukar informasi, pendapat, dan unsur pengalaman secara teratur
dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih cermat
tentang permasalahan atau topik yang di bahas

P a g e 31 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Tujuan dan di aplikasikan metode diskusi kedalam prose belajar mengajar untuk :

a. Mendorong siswa beripikir kritis


b. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas
c. Memotivasi siswa menyumbangkan buah pikirannya dalam memecahkan
masalah
d. Mengambil satu atau beberapa alternative jawaban dalam memecahkan masalah
berdasarkan pertimbangan seksama

3.Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Merupakan satu proses berpikir ilmiah oleh Goldstein dan Levin (1987) didefenisikan
sebagai berikut “Problem solving has been defined as higher-order cognitive process that
requires the modulation and control of more routine or fundamental skills

Beberapa cara dalam pemecahan masalah :

1. Klarifikasi lebih rinci tentang masalah tersebut, dengan cara menuntaskannya


secara jelas
2. Analisis sebab-sebab terjadinya masalah
3. Identifikasi alternative pemecahan masalah
4. Memilih alternative pemecahan yang paling baik
5. Melaksanakan, alternative yang paling baik dan benar
6. Mengevaluasi apakah masalah tersbut telah benar-benar dapat dipecahkan atau
belum

4. Metode Diskusi Panel

Merupakan salah satubentuk diskusi kelompok kecil yang biasanya terdiri dari 4-6
orang.

Umumnya mendiskusikan tentang suatu topik tertentu dengan cara duduk dalam
susunan semi melingkar dan dipimpin oleh moderator.

P a g e 32 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

5. Metode Buzz Group

Dilakukan dengan cara membagi suatu kelompok kecil, yang terdiri dari 4-6 orang.
Tempat duduk siswa pun diatur sedemikian rupa agar mereka dapat bertuka pikiran
dan berhadapan muka dengan langsung.

6. Metode Syndicate Group

Dilakukan dengan cara membagi suatu kelompok menjadi beberapa kelompok kecil yang
teridiri dari 4-6 orang siswa. Masing-masing kelompok melaksanakan tugas
komplementer.]

7. Metode Simposium

Dilakukan beberapa orang untuk membahas berbagai aspek dari suatu pokok bahasan
dan membacakan di muka peserta symposium secar singkat.

8. Metode Fish Bowl

Dapat digambarkan berikut beberapa peserta yang dipimpin oleh seseorang ketua siding
yang dipilih dari siswa untuk mengambil keputusan. Tempat duduk merka diatur
setengan lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosong menghadap peserta diskusi.

9. Metode Informal Debate

Dengan cara membagi kelas menjadi dua yaitu yang agak sama jumlahnya dan
mendiskusikan pokok bahasan yang cocok untuk diperdebatkan tanpa terlalu
memperhatikan peraturan perdebatan formal.

10. Metode Brainstorming Group

P a g e 33 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Teknik ini baik digunakan kalua jumlah peserta berkisar 8-12 orang Setiap anggota
kelompok diharapkan menyumbangkan ide dalam pemecahan masalah tanpa dinilai
segera benar atau salahnya.

11. Metode Qolloqium

Digunakan guru yang memberikan tugas belajar yang agak mendalam kepada siswa.
Apabila siswa itu telah menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan, ia dianggap telah
menguasai masalahnya.

12. Metode Demonstrasi dan Eksperimen

Kedua metode ini dalam praktik sering digunakan silih berganti atau saling melengkapi.
Eksperimen adlah sutu metode yang biasanya digunakan di suatu pelajaran sains. Di
dalam eksperimen pengujian hipotesis melalui penyelidikan mereka sendiri untuk
menembukan konsep sains spesifik dan prinsip.

13. Metode Sosio Drama

Melalui metode bermain anak-anak deberi memainkan peran seseorang dan


menampilkan peranannya itu didepan kelas. Hal-hal yang berhubungan dengan masalah
social yang dimainkan oleh siswa disebut sosio drama

14. Metode Permainan

Tujuan utama permainan adalah untuk mrniptakan kesenangan dan keterkaitan akan
proses pelajaran. Pemainan tertentu membantu di dalam hal pelajaran tertentu, dengan
demikian mereka mendapat pengalaman manis dan menyenangkan.

15. Metode Drill

Merupakan metode mengajar dengan memberikan latihan-latihan kepada siswa untuk


memperoleh suatu keterampilan.

P a g e 34 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB VIII

Guru dan Perubahan Zaman

A. Pembelajaran Berbasis Teknologi

1. Perubahan Iptek dan guru.

Ilmu pengetahuan kian berkembang cepat seiring dengan perkembagan teknogi dan
informasi. Jika guru tidaks segera menysuaikan dengan laju perkembangan ilmu
pengetahuan tersebut, maka bias dipastikan pengetahuan yang diperoleh dan
dikuasainya selama dua-tiga tahun kulaih akan using di telan zaman.

2. Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran

Ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran seiring dengan perkembangan


penggunaan TIK, yaitu :

1. Dari pelatihan dan keterampilan


2. Dari ruang kelas ke dimana dan kapan saja
3. Dari kertas “online” atau saluran
4. Dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja
5. Dari waktu siklus ke waktu kerja

B. Pergeseran Pandangan Tentang Pembelajaran

1. Pemanfaatan Tik dalam pembelajaran

Untuk dapat memanfaatkan Tik dalam memperbaiki mutu pembelajran, ada tiga hal yang
harus diwujudkan, yaitu :

P a g e 35 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

1. Siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam
kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan
2. Harus tersedia materi yang berkualitas dan dukungan social-budaya bagi siswa
dan guru.
3. Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat dan
sumber digital untuk membantu siswa agar standa pendidikan yang ideal.

3.Pemanfaatan Tik oleh guru

Tik dimanfaatkan lebih jauh dan efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal
ini dapat dilakukan dengan mengintegritaskannya kedalam kurikulum yang ada. Peran
guru menjadi sangat penting sebagai sutradara dalam proses belajar-mengajar.dalam
ruang kelas maupun diluar ruang kelas ketika memanfaatkan Tik.

Peran Tik menurut Cark yaitu

1. Media sebagai teknologi


2. Media sebagai alat atau tutor guru
3. Media sebagai agen sosialisasi
4. Media sebagai motivator untuk belajar
5. Media sebagai alat mental untuk berpikir dan memecahkan masalah

P a g e 36 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB IX

Kemampuan Evaluasi

A. Pemahaman Tentang Penilaian.

1. Evaluasi

Sebagai suatu proses penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja dan hasil karya
siswa. Merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas kinerja
atau produktivitas suatus lembaga dalam melaksanakan programnya.

2. Penilaian

Adalah suatu prose pengumpulan informasi tentang kinerja siswa untuk digunakan
sebagai dasar dalam membuat keputusan

B. Fungsi Penilaian

1. Fungsi Formatif

Evaluasi dilakukan selama pembelajaran berlangusung dapat memberikan informasi


yang berupa umpan balik baik bagi guru maupun bagi siswa.

2. Fungsi Sumatif

Dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar biasanya dilakukan pada akhir program
pengajaran, misalnya pada akhil kwartal, akhir semester dan akhir tahun ajaran.

P a g e 37 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

3. Fungsi Diagnostik

Diapakai untuk mengungkapkan kesulitan siswa. Prosesnya dilakukan pada permulaan


PBM .

Untuk mengungkapkan pengusaan pengetahuna atau keterampilan sebagai prasyaratan


maupun dasar sebagai titik berangkat sutu pengajaran yang akan di mulai dikenal
sebagai pretest

4. Fungsi Seleksi

Diapaki untuk menyeleksi peserta didik yang akan diterima dalam suatu jenjang
pendidikan guan didesuaikan dengan ruangan, tempat duduk atau fasilitas lain yang
tersedia.

5. Fungi Motivasi

Apabila siswa mengetahui bahwa dalam PBM yag dijalaninya tidak dilakukan evalusai,
maka sudah dapat dibayangkan : Siswa tesebut malas untuk belajar. Dengan dilakukan
evaluasi, maka keinginan untuk belajar akan menjadi lebih tinggi, lebih-lebih lagi bagi
siswa yang ingin menunjukan kemampuannya.

C. Aspek Yang Dinilai


1. Proses Pembelajaran
2. Hasil belajar

D. Prinsip penilaian.

Prinsip Penilaian dalam pembelajaran,baik pada penilaian bekelanjutan maupun


penilaian akhir hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai
berikut :

1. Penilaian Menyeluruh
2. Penilaian Bekelanjutan

P a g e 38 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

3. Penilaian Berorientasi
4. Penilaian sesuai dengan pengalaman belajar

E. Jenis instrument penilaian


1. Tes
2. Nontes

F. Langkah-langkah membuat instrument penilaian


1. Langkah penyusunan instrument test
2. Langkah penyusunan Nontes

G. Pengskoran
1. Tes Kognitif
2. Pengukuran aspek afektif
3. Tes Psikomotorik

H. Penerapan Penilaian kelas dalam pembelajaran


1. Manfaat Penilaian kelas
2. Fungsi Penilaian kelas

P a g e 39 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB X

Pentingnya Jaringan Profesi Kerja Guru

A. Pengertian jaringan kerja guru

Adalah sekelompom guru, baik yang se-sekolah atau, se-bidang atau lintas bidang studi
yang menjalin komunikasi satu sama lai.

B. Tujuan utama jarigan kerja guru


1. Membagun kerja sama sesame guru guna menciptakan proses pembelajaran yang
aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
2. Menumbuhkan motivasi guru untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan
mereka dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran di kelas.
3. Mendiskusikan masalh pendidikan dan pembelajaran yang di hadapi guru dalam
menjalankan tugas mereka sehari-hari dan menemukan metode penyelesaian
sesuai dengan sifat-siat mata pelajaran, guru, sekolah dan kondisi lingkungan
sekitar.
4. Memberikan jalan kepada guru untuk berbagi informasi dan pengalaman
menerapkan kurikulum dan dalam menggunakan teknologi pembelajran

C. Urgensi jaringan kerja guru

JKG bias dijadikan model yang paling baik untuk membantu guru melakukan
pengembangan profesioanlitas berkelanjutan.

D. Langkah membangun jarigan


1. Mendata Kebutuhan
2. Menghitung potensi yang dimiliki
3. Menemukan relasi-relai sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing
4. Mengikat kemitraan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing pihak
5. Mengembangkan usaha

P a g e 40 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

6. Memelihara kerja sama melalui usaha interaktif antara angoota jaringan


7. Mengikat kesamaan-kesamaan pandangan dalam wadah kebersamaan
E. Jaringan Kerja Guru Indonesia

Tujuan Umum MGMP dan KKG adalah untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi
dalam meningkatkan profesionalisme guru. Sedangkan tujuan khusu MGMP adalah
memperluas wawasan dan pengetahuan guru mata pelajaran dalam upaya mewujudkan
pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan.

F. Jenis kegiatan jaringan kerja gur


1. Peningkatan Penguasaan materi mata pelajaran
2. Peningkatan pemahaman kurikulum
3. Peningkatan kualitas pembelajaran
4. Penigkatan kemampuan evaluasi
5. Pengembangan penunjang/profesi

G. Startegi kegiatan pemberdayaan MGMP/KKG


1. Merencanakan pembelajaran
2. Melaksanakan KBM
3. Melakukan penilaian
4. Melaksankan inovasi pembelajaran

P a g e 41 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pembahasan isi buku

Buku Utama

Pandangan Evaluasi Hasil Belajar menurut para ahli

Evaluasi belajar menurut Kirkkendall (1980) adalah proses penentuan nilai atau
manfaat dari satu data kolektif. Nitko Brookhart (2007) sebagai suatu proses
penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja dan hasil karya siswa. Kirik Patrick
(1998) menyarankan tiga komponen yang harus di evaluasi dalam pembelajaran
yaitu pengetahuan yang dipelajari, keterampilan apa yang dikembangkan, dan sika
papa yang perlu diubah. Ebel (1986) berpendapat bahwa evaluasi merupakan suatu
kebutuhan dimana evaluasi harus memberikan keputusan tentang informasi apa saja
yang dibutuhkan, bagaimana informasi tersebut dikumpulkan, dan bagaimana
informasi tersebut dikumpulkan, dan bagaimana informasi itu disintesiskan untuk
mendukung hasil yang di harapkan. Astin (1993) menyarankan tiga komponen yang
harus dievaluasi agar hasilnya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Ketiga
komponen itu adalah masukan, lingkungan sekolah dan kelurahan.

Buku Pembanding

Pandangan Evaluasi Hasil Belajar menuru para ahli

Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977): Evaluation refer to the act or process to
determining the value of something. Menurut definisi ini, maka istilah evaluasi itu
menunjuk kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu.

 Kesimpulan yang dapat di ambil dari ke dua buku tersebut adalah bahwa pada
buku utama para ahli mengungkapkan Evaluasi Hasil Belajar harus memiliki
beberapa komponen dalam mengevaluasi. Sendangkan pada buku pembanding
mendefenisikan (Menjelaskan) evaluasi hasil belajar.

P a g e 42 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Buku Utama

Fungsi Penilaian

Penilaian adalah menilai hasil belajar yang selama beberapa bulan yang telah di pelajari
oleh siswa.

Jenis-jenis fungsi penilaian :

1. Fungsi Formatif

Evaluasi dilakukan selama pembelajaran berlangusung dapat memberikan informasi


yang berupa umpan balik baik bagi guru maupun bagi siswa.

2. Fungsi Sumatif

Dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar biasanya dilakukan pada akhir program
pengajaran, misalnya pada akhil kwartal, akhir semester dan akhir tahun ajaran

3. Fungsi Diagnostik

Diapakai untuk mengungkapkan kesulitan siswa. Prosesnya dilakukan pada permulaan


PBM .

Untuk mengungkapkan pengusaan pengetahuna atau keterampilan sebagai prasyaratan


maupun dasar sebagai titik berangkat sutu pengajaran yang akan di mulai dikenal
sebagai pretest

4. Fungsi Seleksi

Diapaki untuk menyeleksi peserta didik yang akan diterima dalam suatu jenjang
pendidikan guan didesuaikan dengan ruangan, tempat duduk atau fasilitas lain yang
tersedia.

5. Fungi Motivasi

Apabila siswa mengetahui bahwa dalam PBM yag dijalaninya tidak dilakukan evalusai,
maka sudah dapat dibayangkan : Siswa tesebut malas untuk belajar. Dengan dilakukan
evaluasi, maka keinginan untuk belajar akan menjadi lebih tinggi, lebih-lebih lagi bagi
siswa yang ingin menunjukan kemampuannya.

P a g e 43 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Buku Pembanding

FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN

Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki
tiga macam fungsi pokok yaitu (1) mengukur kemajuan, (2) menunjang penyusuna
rencana, dan (3) memperbaiki atau melakukan penyempuraan kembali.

 Kesimpulan yang dapat di ambil dari kedua buku tersebut adalah bahwa buku
utama menjelaskan fungsi penilaian dan jenis-jenis penilaian evaluasi hasil
belajar. Sedangkan pada buku kedua memfokuskan evaluasi hasil belajar pada
pendidikan.

Buku Utama

Prinsip Penilaian

Prinsip Penilaian dalam pembelajaran,baik pada penilaian bekelanjutan maupun


penilaian akhir hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip-prinsip sebagai
berikut :

1. Penilaian Menyeluruh
2. Penilaian Bekelanjutan
3. Penilaian Berorientasi
4. Penilaian sesuai dengan pengalaman belajar

Buku Pembanding

PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENYUSUNAIU TES HASIL BELAJAR

Ada beberapa prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam menyusun tes hasil belajar
agar tes tersebut dapat mengukur tujuan instruksional khusus untuk mata pelajaran yang
telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan keterampilan peserta didik yang
diharapkan, setelah mereka menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu.

Pertama, tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning
outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional.
P a g e 44 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Kedua, butir butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang representatif dari
populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan.

Ketiga, bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat bervariasi.

Keempat, tes hasil belajar harus di desain sesuai dengan kegunaannya untuk
memperoleh hasil yang diinginkan.

Kelima, tes hasil belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan.

 Kesimpulan yang dapat di ambil dari kedua buku tersebut adalah bahwa buku
utama memberikan jenis-jenis prinsip penilaian dalam evaluasi hasil belajar.
Sedangkan buku pembanding menjelaskan prinsip dasar dalam penyusunan tes
hasil belajar.

3.2 Kelebihan dan kekurangan buku

1.Dilihat dari aspek face value buku utama dan dan pembanding yang direview diambil
kesimpulan bahwa buku utama lebih bagus dibandingkan buku kedua (Buku kedua
kusam/buku tahun lama)

2.Dilihat dari aspek layout dan tata letak,serta tata tulis termasuk penggunaan font buku
utama dan pembanding sudah bagus dan enak dilihat.

3. Dilihat dari aspek isi buku utama dan pembanding dari Kata Pengantar, Daftar isi, dan
BAB sudah bagus.

4.Dilihat dari aspek Bahasa dan tata letak buku utama dan buku pembanding Bahasa yang
di gunakan bagus.

P a g e 45 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari Kedua buku yang telah kami bahas, kami menyimpulkan bahwa lebih banyak
Kelebihan Buku Utama dari pada Buku Pembanding. Sehingga kami menyarankan buku
ini cocok dimiliki Mahasiswa.

4.2 Saran

Semoga dengan adanya Critical Book Review ini pembaca, khusunya pendidik,
atau calon pendidik dapat memberikan perhatian lebih dalam hal yang berkaitan dengan
evaluasi sehingga seorang pendidik akan mempunyai dasar yang kuat dalam melakukan
penilaian terhadap siswanya. utamanya bagi pendidik ataupun calon pendidik untuk
lebih memperdalam pengetahuannya dalam hal evaluasi pembelajaran dan menerapkan
proses evaluasi tersebut secara benar dan tepat.

P a g e 46 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Daftar Pustaka

Suyanto.2013.Bagaimana Menjadi Calon Guru dan Guru Profesional.Yogyakarta : Multi


Pressindo.

Sudijono, Anas. 1996.Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

P a g e 47 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

Lampiran

1. Cover

2. Halaman Judul

P a g e 48 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

3. Halaman Penerbit

4. Kata Pengantar/Catatan Penulis

P a g e 49 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

5. Daftar Isi

P a g e 50 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

6. Tentang Penulis

P a g e 51 | 52
CRITICAL BOOK REVIEW EVALUASI HASIL BELAJAR

P a g e 52 | 52