Anda di halaman 1dari 1

Plankton merupakan makro dan mikroorganisme yang hidup dalam perairan baik air

tawar, payau atau laut yang tidak mampu melawan arus dan tekanan perairan tersebut.
Plankton terbagi menjadi dua macam, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton
adalah plankton yang mampu memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi untuk
melakukan fotosintesis karena memiliki pigmen klorofil dan mampu mengubah senyawa
inorganik (CO2) menjadi senyawa organik untuk melakukan proses metabolisme (autotrof),
contohnya adalah kelompok mikroalga dan makroalga. Zooplankton adalah plankton yang
bersifat heterotrof yang memanfaatkan organisme lain yang menghasilkan sumber karbon
organik lain, seperti fitoplankton atau memakan zooplankton, sehingga dari dua macam jenis
plankton tersebut akan terbentuk rantai makanan.
Terkait dengan rantai makanan, plankton tertentu memiliki sifat mampu
mengakumulasi polutan yang ada di lingkungan. Polutan yang ada di lingkungan
diakumulasi oleh plankton membentuk senyawa toksin menjadi tidak toksin. Peristiwa
tersebut dinamakan dengan bioremediasi. Jadi, bioremediasi merupakan suatu mekanisme
untuk mengubah suatu polutan berbahaya dari lingkungan menjadi tidak berbahaya dengan
bantuan organisme hidup. Tetapi, kadar polutan yang diserap kadar ppm menjadi lebih tinggi
di dalam tubuh plankton itu sendiri. Hal tersebut yang menjadikan tema paper saya mengenai
fitoplankton yang berfungsi sebagai agen akumulator polutan, tetapi fitoplankton juga
berperan produsen penting dalam rantai makanan.
Fitoplankton tersebut sebagian besar adalah kelompok Cyanobacteria, seperti
Oscillatoria sp., Synechococcus sp., Nodularia sp., Nostoc sp. dan Cyanothece sp. yang
mampu mendegradasi logam tercemar yang terdapat dalam suatu perairan, sehingga dapat
dijadikan pengendalian polusi (Gambar 1). Penggunaan Cyanobacteria telah digunakan
secara besar-besaran oleh berbagai pihak pelaku industri untuk remediasi lingkungan yang
tercemar. Namun, yang menjadi pertimbangan lain adalah posisi fitoplankton tersebut dalam
rantai makanan sebagai produsen yang akan dikonsumsi oleh zooplankton lainnya dan akan
sampai pada konsumen puncak yang mengakumulasi polutan secara keseluruhan.
Kasus yang pernah terjadi adalah adanya pencemaran logam merkuri pada perairan
teluk Minamata, Jepang pada tahun 1950-an. Kasus pertama penyakit Minamata ditemukan
tanggal 21 April 1956. Kasus tersebut terjadi ketika seorang anak perempuan berusia lima
tahun, dibawa ke klinik pediatri dr.Kaneki Noda, dengan keluhan mengalami sejumlah gejala
kerusakan otak dan jaringan saraf tulang belakang. Seminggu kemudian, adiknya yang
berusia tiga tahun, juga dibawa ke klinik karena menunjukan gejala yang sama. Oleh karena
itu, dr.Noda pada tanggal 1 Mei 1956 merujuk kedua pasien tersebut ke pusat kesehatan
Minamata. Para dokter di pusat kesehatan Minamata menduga, kasusnya tidak hanya
menimpa dua anak tersebut. Sebagai konsekuensinya dilakukan penyidikan epidemiolog di
kawasan Teluk Minamata. Hasilnya sangat mengejutkan, karena jumlah penderitanya sangat
besar. Bulan Agustus 1956, dengan di bawah koordinasi Universitas Kumamoto dilakukan
penelitian yang lebih serius. Riset tersebut memeroleh kesimpulan sementara, para penderita
penyakit kerusakan otak dan saraf tersebut, disebabkan oleh pencemaran logam berat dalam
kadar tinggidi teluk Minamata, dengan mengonsumsi ikan dan kerang dari perairan tersebut
sangat beracun dan mematikan.