Anda di halaman 1dari 12

MENGATASI MISKONSEPSI PADA MATA PELAJARAN FISIKA

M. Hidayat

Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jambi

Abstrak

Miskonsepsi pada pelajaran Fisika banyak di alami oleh siswa maupun mahasiswa.
Miskonsepsi ini didapat oleh siswa dari pengalaman sehari-hari di lingkungan rumah maupun
dari sekolah karena metode pengajaran yang kurang baik.
Miskonsepsi yang di alami siswa jarang mendapat perhatian dari guru. Semestinya
guru dapat mengetahui pada materi apa saja siswanya mengalami kesalahan konsep. Guna
mendiagnosa miskonsepsi yang di alami siswa dapat dilakukan dengan interview,tes essai dan
tes diagnostik.
Jika hasil tes menujukkan siswa mengalami miskonsepsi, maka tugas guru selanjutnya
adalah mengatasinya. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh yaitu, dengan mengunakan
Model Pembelajaran Pencapaian Konsep, Analogi, Konflik Kognitif dan Peta Konsep.

1. Pendahuluan kemungkinan kurang lengkap atau kurang


Pengajaran fisika pada umumnya benar. Guru hendaknya mengetahui ini,
diajarkan dengan metode ceramah, sehingga dan memulai pengajaran dari sini.
siswa hanya menghafal dan kurang mampu Beberapa penelitian tentang
menghayati atau berpikir tentang materi miskonsepsi dalam fisika (Berg, 1991)
pelajaran. Disamping itu para guru mengajar mengungkapkan bahwa miskonsepsi itu
konsep-konsep fisika secara tidak utuh dan terjadi secara universal di seluruh dunia
kurang memperhatikan keterkaitan antar dan mengandung fakta-fakta
konsep. Guru kurang memperhatikan berikut,1).Miskonsepsi sulit sekali
prakonsepsi yang telah dimiliki siswa dan diperbaiki 2).Seringkali sisa miskonsepsi
hanya memfokuskan diri pada penuangan mengganggu terus-menerus terutama saat
pengetahuan kepada siswa telah mengerjakan soal-soal yang sulit 3).Sering
menyebabkan siswa tidak memahami konsep terjadi regresi, dimana setelah masalah
fisika dengan benar, sehingga terjadi miskonsepsi diperbaiki, suatu saat akan
miskonsepsi (Sadia, dalam Wilantara 2003). muncul lagi 4).Melalui metode ceramah
Miskonsepsi mestinya dapat ditekan miskonsepsi tidak dapat diperbaiki
frekuensinya bila guru menyadari bahwa 5).Siswa, mahasiswa, guru dan dosen
dalam diri siswa sudah terdapat prakonsepsi maupun peneliti dapat saja kena
yang merupakan hasil dari pengalaman miskonsepsi 6).Guru dan dosen tidak
mereka sehari-hari. Misalnya siswa sudah mengetahui miskonsepsi yang lazim
berpengalaman dengan gerak, perpindahan, dialami murid mereka, sehingga tidak
laju, kecepatan, percepatan. Berdasarkan berusaha menyesuaikan metode mengajar
pengalaman tersebut selanjutnya terbentuklah 7).Baik mahasiswa pandai atau yang
intuisi dan teori pada siswa yang lemah sama-sama mengalami miskonsepsi
8).Kebanyakan cara remediasi yang dicoba tambahan. Berdasarkan ke empat elemen
belum berhasil. tersebutlah seseorang rnengelompokkan
Seperti dijelaskan di atas, sesuatu benda atau kejadian atau
miskonsepsi pada fisika terjadi pada semua membentuk konsep, sehingga suatu
jenjang pendidikan, pada semua subjek dan konsep berbeda dengan yang lainnya
bersifat persisten. Miskonsepsi tersebut tidak Menurut Ausubel (dalam Dahar
pernah diketahui dan disentuh baik melalui (1989) konsep dapat diperoleh melalui dua
ujian, eksperimen maupun dengan tugas cara yaitu formasi konsep (concept
rumah, bahkan pada kebanyakan tes, siswa formation) dan assimilasi konsep (concep
yang mengalami miskonsepsi pun dapat assimilation). Formasi konsep merupakan
menjawab dengan baik karena tesnya kurang bentuk perolehan konsep-konsep sebelum
bagus atau melalui tebakan pada soal-soal anak-anak masuk sekolah. Formasi konsep
pilihan ganda. dapat disamakan dengan belajar konsep
Tertarik dengan permasalahan di atas, kongkrit. Sedang asimilasi konsep
maka melalui tulisan ini penulis ingin merupakan cara utama untuk memperoleh
menguraikan cara untuk mengetahui konsep-konsep selama dan sesudah
miskonsepsi yang dialami siswa, serta sekolah”.
beberapa teknik guna mengatasi miskonsepsi Dengan demikian awal
tersebut. pembentukan konsep terjadi pada anak-
2.Pengertian Miskonsepsi anak sebelum masuk sekolah, dimana anak
akan memperoleh pengalaman secara
Ausubel (dalam Berg 1991) langsung.Dengan kata lain sebelum
menjelaskan konsep adalah “benda-benda, seorang anak mempunyai jalinan
kejadian-kejadian, situasi-situasi, atau ciri- pengalaman yang kompleks, dalam diri
ciri khas yang terwakili dalam setiap budaya anak tersebut sebenarnya telah terbentuk
oleh suatu tanda atau symbol”. Sedang formasi konsep yaitu konsep yang masih
menurut Rosser (dalam Suradi 1987)” konsep murni dan terpisah-pisah. Baru setelah
adalah suatu abstraksi yang mewakili semua terlibat dalam proses belajar-mengajar
kelas objek-objek, kejadian-kejadian, disekolah maka konsep-konsep itu akan
kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan mengalami asimilasi terhadap pengalaman
yang mempunyai atribut-atribut yang sama”. yang diperoleh dan hasil proses belajar.
Dengan demikian jelaslah bahwa konsep Konsep-konsep dalam fisika
merupakan suatu abstraksi mental yang seperti hukum dan teori sudah mempunyai
mewakili stimulus-stimulus. Kita arti yang jelas dan telah disepakati oleh
menyimpulkan bahwa suatu konsep telah para ahli fisika. Tetapi penafsiran
dipelajari, bila yang diajar dapat seseorang atau konsepsi tiap orang dapat
menampilkan perilaku-perilaku tertentu. berbeda-berbeda. Perbedaan atau
Setiap konsep memiliki empat pertentangan konsepsi seseorang dengan
elemen, yaitu : Nama, Contoh, Atribut dan konsepsi ilmuwan inilah yang disebut
Nilai (Winataputra, 1993). Nama ialah istilah sebagai miskonsepsi (Berg,1991).
yang dipakai untuk suatu kategori benda, Novak (1984) mendefinisikan
fenomena, rnakhluk hidup, atau pengalaman. miskonsepsi sebagai suatu interpretasi
Contoh berguna menunjukkan konsep konsep-konsep dalam suatu pernyataan
tersebut dalam dunia nyata. Atribut yang tidak dapat diterima. Suparno (1998)
merupakan cirri-ciri dari konsep tersebut memandang miskonsepsi sebagai
yang terdiri dari cirri-ciri utama dan pengertian yang tidak akurat akan konsep,
penggunaan konsep yang salah, klasifikasi memberi tahu bahwa hal tersebut salah
contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep- dengan jalan hanya memberi tahu untuk
konsep yang berbeda dan hubungan hirarkis mengubah miskonsepsi itu. Jadi cara untuk
konsep-konsep yang tidak benar. Dari mengubah miskonsepsi adalah dengan
pengertian di atas miskonsepsi dapat jalan mengkonstruksi konsep baru yang
diartikan sebagai suatu konsepsi yang tidak lebih cocok untuk menjelaskan
sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengalaman kita (Browner, 1986).
pengertian yang diterima oleh para ilmuwan. Sejumlah miskonsepsi sangatlah
Misalnya, inti konsep massa jenis adalah bersifat resistan, walaupun telah
bahwa untuk jenis bahan tertentu hasil bagi diusahakan untuk menyangkalnya dengan
massa dan volume selalu tetap dan bahwa penalaran yang logis dengan menunjukkan
tetapan itu berbeda untuk setiap unsur perbedaannya dengan pengamatan-
/senyawa/campuran, maka unsur/senyawa pengamatan sebenarnya, yang diperoleh
dapat dikenal dan massa jenisnya. Tetapi dan peragaan dan percobaan yang
banyak siswa mempunyai konsepsi yang dirancang khusus untuk maksud itu.
berbeda, mereka cenderung berfikir bahwa Jumlah siswa yang berpegang terus pada
jika jumlah zat (massanya) ditambah, maka miskonsepsi cenderung menurun dengan
massa jenisnya juga bertambah. bertambahnya umur mereka dan makin
Memang konsepsi siswa selalu tingginya strata pendidikan mereka.
berbeda dengan konsepsi fisikawan. Konsepsi Keterampilan siswa dalam mengubah-
fisikawan pada umumnya akan lebih canggih, ubah bentuk matematis rumus-rumus yang
lebih komplek, lebih rumit, melibatkan lebih menyatakan hukum-hukum fisika dan
banyak hubungan antar konsep daripada kelincahan mereka dalam menggunakan
konsepsi siswa. Kalau konsepsi siswa adalah rumus untuk memecahkan soal-soal
sama dengan konsepsi fisikawan yang kuantitatif dapat menyembunyikan
disederhanakan, konsepsi siswa tidak dapat miskonsepsi mereka tentang hukum-
disebut salah. Tetapi kalau konsepsi siswa hukum itu. Belum tentu mereka dapat
bertentangan dengan konsepsi para fisikawan, menyembunyikan hukum-hukum itu
kita menggunakan istilah miskonsepsi secara kualitatif, seperti misalnya besaran
(misconception). Biasanya miskonsepsi mana yang merupakan sebab dan besaran
menyangkut kesalahan siswa dalam mana yang merupakan akibat pada
pemahaman hubungan antar konsep. penerapan hukum Ohm (Wilarjo, 1998).
Konsepsi pada umumnya dibangun Jadi dapat disimpulkan bahwa
berdasarkan akal sehat (common sense) atau menurut paradigma konstruktivis, dalam
dibangun secara intuitif dalam upaya pikiran setiap orang terdapat skemata.
memberi makna terhadap dunia pengalaman Melalui skemata itu ia mampu
mereka sehari-hari dan hanya merupakan membangun gambaran mental tentang
eksplanasi pragmatis terhadap dunia realita. gejala-gejala yang dialaminya. Dalam
Miskonsepsi siswa mungkin pula diperoleh menangani miskonsepsi yang dipunyai
melalui proses pembelajaran pada jenjang siswa, kiranya pertu diketahui lebih dahulu
pendidikan sebelumnya (Sadia dalam konsep-konsep alternatif apa saja yang
Wilantara 2003). Penyebab resistennya dipunyai siswa dan dari mana mereka
sebuah miskonsepsi karena setiap orang mendapatkannya. Dengan demikian kita
membangun pengetahuan persis dengan dapat rnemikirkan bagaimana
pengalamannya. Sekali kita telah membangun mengatasinya. Diperlukan cara-cara
pengetahuan, maka tidak mudah untuk mengidentifikasi atau rnendeteksi salah
pengertian tersebut yaitu melalui serangkaian 1).Para pelajar mengidentifikasi
tes diagnostik. Tes ini dapat berbentuk peta tambahan contoh yang tidak diberi
konsep, tes essai, interview klinis dan diskusi label dengan menyatakan ya atau
kelas. Tes diagnostik yang sudah baku untuk bukan.
mengetahui miskonsepsi tentang hukum- 2).Guru menegaskan hipotesis, nama
hukum Newton dapat digunakan Force konsep, dan menyatakan kembali
Concept Inventory yang dibuat oleh defenisi konsep sesuai dengan ciri-ciri
Hestenes,Wells, and Swackhamer (1992) dan yang esensial.
dibidang mekanika dapat dipakai Mechanics Fase Ketiga:Menganalisis Strategi
Diagnostic Test buatan Korsunsky (2003. Berpikir
3.Mengatasi Miskonsepsi 1).Para pelajar mengungkapkan
pemikiran-nya
3.1. Model Pencapaian Konsep 2).Para pelajar mendiskusikan hipotesis
dan ciri-ciri konsep.
Menurut Bruner dalam Moedjiono 3).Para pelajar mendis-kusikan tipe dan
(1993) tiap orang memasuki lingkungan jumlah hipotesis.
sekitarnya dengan melakukan kategorisasi. 2 ).Sistem Sosial
Dengan kategorisasi berarti menggolongkan Model ini memiliki struktur yang
objek sesuai dengan golongannya. Orang moderat. Guru melakukan pengendalian
yang menggolongkan sesuatu juga disebut terhadap aktivitas, tetapi dapat
membentuk konsep, yang artinya pengertian. dikembangkan menjadi kegiatan dialog
Orang yang membuat konsep berarti bebas dalam fase itu. Interaksi antar
mengurangi kompleksnya suatu lingkungan. pelajar digalakkan oleh guru. Dengan
Orang yang memasuki lingkungan akan pengorganisasian kegiatan itu
membuat konsep dengan langkah-langkah 1) diharapkan para pelajar akan lebih dapat
memberi nama, 2) memberi contoh, 3) memperlihatkan inisiatifnya untuk
merinci sifat-sifatnya, 4) menilai sifat- melakukan proses induktif bersamaan
sifatnya, dan 5) membuat aturan. Salah satu dengan bertambahnya pengalaman
model pengajaran yang berorientasi kepada dalarn melibatkan diri dalam kegiatan
langkah tersebut adalah model pencapaian belajar mengajar.
konsep (Winataputra, 1993) yang memiliki 3). Prinsip-Prinsip Pengelolaan Atau
komponen-komponen sebagai berikut; Reaksi
1).Berikan dukungan dengan menitik
1)Sintaks beratkan pada sifat hipotesis dan
Fase Pertama: Penyajian Data dan diskusi-diskusi yang berlangsung.
Identilikasi Konsep 2).Berikan bantuan kepada para pelajar
1).Guru menyajikan contoh yang sudah dalam mempertimbangkan hipotesis
diberi label. yang satu dan yang lainnya.
2).Para pelajar membandingkan ciri-ciri 3).Pusatkan perhatian para pelajar
dalam contoh positifdan contoh negatif. terhadap contoh-contoh yang spesifik.
3).Para pelajar membuat dan mengetes 4).Berikan bantuan kepada para pelajar
hipotesis. dalam mendiskusikan dan menilai
4).Para pelajar membuat defenisi tentang strategi berpikir yang mereka pakai.
konsep atas dasar ciri-ciri utama esensial. 4).Sistim Pendukung
Fase Kedua : Mengetes Pencapaian Sarana pendukung yang diperlukan
Konsep: berupa bahan-bahan dan data yang
terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk yang terletak diatasnya (Gaya normal).
unit-unit yang berfungsi memberikan Jika buku terletak pada tangan yang
contoh-contoh. Bila para pelajar sudah terulur, mereka baru yakin jika ada gaya
dapat berfikir semakin kompleks, mereka dari tangan pada buku. Tetapi menurut
akan dapat bertukar pikiran dan siswa buku pada meja tidak merasakan
bekerjasama dalam membuat unit-unit data, gaya dari meja. Maka Minstrell
seperti yang dilakukan dalam fase dua pada membutuhkan suatu jembatan untuk
saat mencari contoh-contoh lainnya. meyakinkan siswa bahwa peristiwa buku
5). Dampak Intstruksional dan Pengiring di atas tangan sama dengan buku di atas
Adapun yang menjadi sasaran dari model ini meja. Buku pada tangan mengalami gaya
atau dampak instruksionalnya adalah: ke atas (jangkar). Lalu siswa dapat
1)Terbentuknya hakekat konsep, diyakinkan jika buku berada pada
2)Strategi pembentukan konsep, selembar papan tipis yang melengkung
3)Konsep-konsep yang spesifik dan akibat berat buku (jembatan) juga
4)Penalaran induktif. mengalami gaya ke atas. Ketika buku
Sementara itu dampak pengiring yang diletakkan di atas meja yang lebih tebal
dtharapkan adalah; (jembatan kedua) gaya ke atas juga
1) Kepekaan terhadap penalaran logis, berlaku. Dengan analogi-analogi diatas,
2) Toleransi terhadap ketidaktentuan logika Minstrell berhasil meyakinkan siswa
dan tentang hakekat gaya Normal.
3) Kesadaran akan pilihan. Strategi analogi dapat meliputi
3.2.Strategi Analogi beberapa set demontrasi analogis untuk
bahan perbandingan seperti dalam kasus
Para guru dapat memperbaiki Hukum II Newton. Ketika sebuah buku
miskonsepsi siswa dengan menggunakan diletakan di atas meja gaya gravitasi
analogi-analogi, karena bridging analogies menariknya ke bawah menuju pusat bumi
dapat menjembatani kesenjangan konseptual yang merupakan gaya aksi. Banyak siswa
(conceptual gap) antara jangkar (mastered yang tidak mampu menjelaskan posisi dan
concept) dengan target (misconceived gaya reaksi dari buku tersebut.Maka guru
concept) Clement (1987). Dalam cara analogi menggunakan analogi sebuah tangan di
suatu keadaan fisika yang sulit dimengerti atas pegas, dimana tangan analogi dari
atau yang penyelesaiannya sulit diterima, buku dan pegas analogi dari pegas, konsep
dianalogikan dengan keadaan lain yang lebih aksi-reaksi ini menjadi jelas. Ide tentang
nyata yang menjadi jangkar dalam otak untuk buku di atas meja (target concept) baru
mengikat konsepsi baru. Lalu melalui sebuah dimengerti siswa setelah dijelaskan dengan
rantai analogi (jembatan) akhirnya siswa tangan di atas pegas (anchor target).
diantarkan kepada keadaan yang mula-mula Pendekatan ini menunjukan untuk
tak masuk akal itu (sasaran). Bahkan untuk mengajarkan suatu konsep dibutuhkan
kesenjangan konsep yang terlalu lebar contoh-contoh yang konkrit dan sejumlah
dibutuhkan beberapa analogi guna demontrasi yang membantu siswa secara
pemindahan konsep tersebut. visual dalam memahami konsep tersebut
Mistrell dalam Berg (1991) (Brown and Clement, 1989).
mengemukakan penggunaan analogi untuk Sesungguhnya analogi sudah
mengatasi kesulitan siswa dengan gaya pada digunakan dalam banyak hal dalam fisika,
benda diam. Mereka tidak percaya bahwa baik oleh ilmuwan fisika, guru fisika dan
meja mengerjakan gaya pada benda-benda siswa dalam belajar fisika. Maxwell dalam
Pidolefsky, (2004) secara eksplisit analogy, instructor attempts to find a
menyatakan bahwa analogi sangat penting “bridging analogy” (or series of
dalam pekerjaannya. Dalam menyusun teori analogies) conceptually iirermediale
kelistrikan Maxwell menyatakan: “Instead of between the base and target.
using the analogy of heat, a fluid, the Penggunaan analogi untuk
properties of which are entirely at our menjelaskan konsep-konsep fisika juga
disposal, is assumed as the vehicle of dapat ditemui pada buku-buku fisika.
mathematical reasoning... The mathematical Pidolefsky (2004) mencatat beberapa topik
ideas obtained from the fluid are then applied yang terdapat dalam buku fisika Halliday
to various parts of electrical science.” Dalam & Resnick yang diterangkan dengan
analogi antara konduksi panas dan listrik analogi yaitu:1).Hukum Coulomb dan
Maxwell menyatakan: “The similarity is a Hukum Gravitasi Newton 2).medan listrik
similarity between relations, not a similarity yang menyerupai medan temperature
between the things related.” 3.penyimpanan energi pada kapasitor yang
Sejumlah analogi terkadang lebih menyerupai gaya pegas 4).arus listrik yang
komunikatif dan sekaligus lebih generatif. menyerupai aliran air 5). Gaya gerak
Bartlet (2004) mencatat analogi antara listrik dengan muatan pompa 6).medan
muatan listrik dan gaya gravitasi atau model magnet dengan medan listrik 7).bumi
atom Rutherford dengan model planet sebagai medan magnet raksasa 8).induktor,
(Taylor & Zaflratos 1991) adalah analogi- kapasitor resistor menyerupai massa,
analogi yang mempunyai nilai sejarah dan pegas dan system kenta zat alir 9).partikel
sekaligus aplikatif. Model analogi bukan menyerupai mengirim surat, sementara
hanya berguna dalam membantu fisikawan gelombang dengan panggilan telepon.
dalam merumuskan teorinya, tetapi juga bagi Demikian juga Kurniasih dkk (2009)
guru untuk menjelaskan materi pelajaran menganalogikan kalor dan listrik dengan
dengan baik dan benar. Hukum Coulomb langkah-langkah berikut:
sering dianalogikan dengan hukum Gravitasi a) Mengenalkan konsep target.
Newton dan arus listrik dianalogikan dengan Dari kurikulum yang digunakan di
aliran air di dalam suatu pipa sekolah menengah atas atau di tahun
(Pidolefsky,2004). pertama universitas, pembelajaran
Brown dan Clement (1989) juga konduksi termal mendahului listrik
menggunakan analogi guna mengatasi dinamis. Tetapi konsep tentang listrik
miskonsepsi yang terjadi pada siswa, dinamis (dalam hal ini hukum Ohm)
menyatakan keberhasilan analogi dalam lebih dikenal daripada konsep
mengubah konsepsi siswa dengan konduksi termal. Karena itu, dalam
menggunakan strategi jembatan (bridging Model ADA-Glynn, konsep-konsep
strategy) berdasarkan prosedur berikut: 1). A konduksi termal menjadi konsep-
misconception is made explicit by means of a konsep target sedangkan konsep-
target question. 2). The instructor suggests konsep listrik dinamis sebagai konsep
an analogous case which will appeal to the analogi.
student’s intuitions. 3). if the student is not b) Mereview atau mengulas lengkap
convinced of a valid ana!og the instructor konsep analogi.
attempts to establish the analogy relation. Pelajaran listrik dinamis dimulai dari
The student is asked to make an explicit pengertian tentang hambatan dan arus,
comparison between the base and target. 4). hambatan pengganti dan sifat arus
If the student still does not accept the pada rangkaian seri dan rangkaian
paralel. serupa dijelaskan lebih lanjut,
c) Mengidentifikasi atau mencari fitur-fitur misalkan melalui makna fisisnya.
atau atribut-atribut relevan antara target f) Mengambil kesimpulan-kesimpulan
dan analogi. tentang konsep-konsep target.
Sebagaimana ketika mempelajari listrik Makalah ini diakhiri dengan
dinamis, maka mempelajari konduksi menuliskan kesimpulan-kesimpulan
termal juga dimulai dengan membahas tentang analogi konsep-konsep gerak
pengertian tentang “hambatan” termal rotasi dari gerak translasi serta
dan aliran kalor, “hambatan” pengganti pengecualiannya.
termal serta sifat aliran kalor untuk
rangkaian seri dan paralel. Selanjutnya Keberhasilan penggunaan analogi
seluruh fitur/atribut baik dari konsep untuk memperbaiki miskonsepsi, dapat
target dan konsep analog dikumpulkan dilihat dari hasil penelitian Fast (2002),
untuk diidentifikasi. dimana ia berhasil mengatasi miskonsepsi
d) Memetakan keserupaan antara konsep- 15 dari 24 mahasiswa setelah partisipan
konsep analogi dan target. tersebut diberi penjelasan-penjelasan yang
Pemetaan seluruh fitur/atribut yang cukup dengan analogi. Stavy (2006) juga
diperoleh dirangkum dalam sebuah table menemukan, pada materi perubahan zat,
yang memperlihatkan cukup banyak siswa yang sudah memahami bahwa
fitur/atribut serupa yang berarti iodine bias menguap, juga akan
analoginya makin baik, sebagai berikut: memahami bahwa aceton juga dapat
menguap dengan menggunakan analogi.

Perbandingan aliran Kalor dan arus 3.3.Konflik Kognitif


listrik Seperti teori ilmuwan dalam fisika,
Aliran kalor “teori
Arus siswa” juga dapat diuji. Misalnya
listrik
Berbanding lurus dengan perbedaan suhu Berbanding lurus dengandengan
siswa dihadapkan perbedaan potensial
suatu masalah,
listrik
disuruh meramalkan, kemudian menguji
Berbanding terbalik dengan “hambatan” termal Berbanding terbalik dengan hambatan listrik
Dari bagian yang bersuhu lebih tinggi ke bagian yang ramalandari bagian
Mengalir dalamyang berpotensial
demonstrasi listrik atau
bersuhu lebih rendah praktikum.
lebih Jika hasil
tinggi ke bagian tidak cocok
yang berpotensial dengan
listrik
ramalan
lebih rendahtadi, siswa menghadapi konflik
kognitif yang dapat menghasilkan
perubahan jaringan konsep dalam otak
Perbandingan hambatan termal dan siswa (perubahan struktur kognitifnya).
hambatan listrik Melalui penggunaan teorinya secara aktif
“Hambatan” termal dalam sejumlah masalah yangHambatan tepat, siswa
listrik
Berbanding lurus dengan ketebalan konduktor termal Berbanding
dilatih dan diarahkan ke teori yang benar lurus dengan panja
listrik
menurut model fisikawan.
Berbanding terbalik dengan luas penampang konduktor termal Berbanding terbalik luas penam
Demonstrasi fisika listrikadalah cara
-1 yang baik untuk menghasilkan konflik
Memiliki tetapan kesebandingan (k ) Memiliki tetapan kesebandinga
T kognitif. Banyak percobaan fisika punya
hasil yang bertentangan dengan intuisi
e) Mengidentifikasi atau mencari keadaan atau dengan pra konsep kita. Misalnya,
pengecualian yang mana analogi tersebut gelas berisi air dengan tutup kain, jika
tidak bekerja. dibalik air tidak akan keluar. Atau dalam
Fitur-fitur atau atribut-atribut yang tidak listrik, banyak siswa punya miskonsepsi
bahwa arus dikonsumsi dalam lampu, maka pengetahuan yang akan masuk dengan
mereka meramalkan bahwa arus yang masuk yang telah ada pada diri mereka. Bila
lampu lebih besar daripada arus yang keluar. terjadi ketidakcocokan antara pengetahuan
Atau pengaruh massa pada gerak jatuh bebas, yang baru dengan yang ada maka
dimana siswa banyak beranggapan massa terjadilah ketidakseimbangan di dalam diri
berpengaruh terhadap kecepatan benda jatuh siswa. Dalam hal ini perlu materi yang
bebas. akan dimasukkan mempunyai ketentuan
Miskonsepsi siswa yang dibangun yang pasti, dan kalau bahannya masih
atas dasar akal sehat (common sense) pada bersifat mentah dibutuhkan modifikasi
umumnya sangat kuat mengendap dan sulit untuk mentransfer sampai mengerti
untuk diubah dalam proses pembelajaran dengan melalui proses perubahan susunan
menjadi konsep ilmiah. Melalui konflik atau urutan jalannya peristiwa/obyek itu.
kognitif siswa diajak melakukan eksperimen Dengan demikian siswa secara
di laboratorium. Dengan melakukan aktif dapat melakukan reorganisasi
eksperimen diharapkan akan ada proses pengetahuan yang telah tersimpan dalam
ketidakseimbangan antara konsep yang baru struktur kognitifnya dengan pengalaman
dihayati dengan miskonsepsi yang dibawa barunya. Gagasan dari Piaget dipilih
dari luar sekolah maupun dari lingkungan menjadi dua domain yakni domain
keluarga. Mereka mengadakan pengulangan operative knowledge dan figurative
pengamatan, membuat pengukuran, knowledge. Operative knowledge meliputi
menganalisis, menafsirkan data yang : mengklasifikasi, memperediksi, mensub-
selanjutnya berakhir dengan menarik stansikan, menghipothesiskan, berfikir
kesimpulan. Penerapan strategi konflik yang operasional dan mengontrol variabel.
kognitif ini akan berdampak positif karena Operative knowledge ini erat hubungannya
sesuai dengan pandangan Piaget yang dengan keterampilan proses, sedangkan
menyatakan bahwa : pada figurative knowledge erat
Knowledge is not a copy of reality. To hubungannya dengan psychologis siswa
know an obyect to know an event, is not yakni bakat dan IQ. Menurut Dreyfus
simply to look at it and make a mental copy (1990) dari keberhasilan pembelajaran
or image of it. To know an obyect is to act on maka diperlukanlah tiga langkah yang
it. To know is to modify to transform the harus ditempuh dalam menerapkan strategi
object and to understand the process of this konflik kognitif seperti : (1)
transformation, and as a consequence to Mengidentifikasikan pra konsepsi siswa
understand the way the obyect is constructed. sebelum memulai pelajaran di kelas
An operation is the essence of knowledge, it (disequilibrasi), (2) Membangkitkan
is an interiorized action which modifies the situasi konflik atau pertentangan dalam
object of knowledge. struktur kognetif siswa (reformulasi) (3)
Telah disadari bahwa pengetahuan Menyiapkan dan memulai latihan,
yang dibentuk itu tidak sebuah kopian yang pertanyaan dan soal untuk memantapkan
nyata, dan untuk mengetahui sebuah obyek konsep baru yang telah dimiliki tersebut.
atau kejadian tidak sesederhana apa yang (kesadaran).
dilihatnya menjadi kopian pada dirinya tetapi Sementara Anonym(-)
diperlukan suatu proses yang pelaksanaannya menjelaskan penggunaan konflik
rumit. Untuk itu proses akomodasi dan kognitif ini dengan 7 langkah berikut:
asimilasi menuntut adanya kesamaan (1) Recognize preconceptions that exist.
persamaan persepsi dan kecocokan antara (2) Probe for student's misconceptions
through demonstrations and menjelaskan bahwa peta konsep adalah
questions. alat metakognitif yang mengizinkan
(3) Ask students to clarify their struktur pengetahuan menyatu dalam
conceptions. tematik keseluruhan pengetahuan siswa
(4) Provide contradictions to students' selama hidupnya. Peta konsep
misconceptions through questions, menstimulasi siswa untuk merangkai ide-
implications, and demonstrations. idenya yang berguna dalam belajar
(5) Encourage discussion, urging students bermakna.
to apply physical concepts in their Suatu alat yang dapat membantu
reasoning. untuk membuat hubungan antar konsep
(6) Foster the replacement of the
lebih nvata adalah peta konsep. Peta
misconception with new concepts
konsep adalah alat peraga untuk
through (i) questions, (ii) thought
memperlihatkan hubungan antara beberapa
experiments, (iii) hypothetical situations
with and without the underlying physical konsep. Hubungan antara konsep dapat
law, (iv) experiments or demonstrations kita rincikan dalam pernyataan-pernyataan
designed to test hypotheses. yang dapat ditulis di sebelah petanya.
(7) Reevaluate students' understanding by Bagian-bagian mana dan peta konsep yang
posing conceptual questions. perlu diajarkan sangat tergantung arus dan
tujuan pendidikan. Tentu pada tingkat
Demonstrasi yang dimakud pada kegiatan SMP guru harus membatasi jumlah konsep
konflik kognitif tersebut bisa berupa dan hubungan di antaranya yang diajarkan,
kuantitatif demonstrasi maupun kualitatif sedang pada perguruan tinggi peta atau
demonstrasi. Kim dan Cho (2002) jaringan konsep harus lebih lengkap.
menemukan bahwa kelompok yang Dengan membuat peta konsep yang
diperbaiki dengan kantitatif demonstrasi lengkap, guru dapat memutuskan bagian
lebih baik daripada kelompok kualitatif mana dari peta yang akan diajarkan dan
demonstrasi pada konsep listrik, tetapi bagian mana yang terpaksa untuk
tidak berbeda ketika digunakan untuk sementara diabaikan. Sesudah mengajar
memperbaiki konsep mekanika. konsep dan hubungannya dengan konsep-
Sementara itu untuk mengukur tingkat konsep lain, pengajar harus mencoba
konflik kognitif digunakan Cognitive menghubungkan konsepnya dengan
Conflict Level Test (CCLT) yang kehidupan sehari-hari agar supaya ilmu
dikembangkan oleh Lee at all (1999). menjadi relevan bagi siswa.
Setiap konsep tidak berdiri sendiri,
3.4.Peta Konsep melainkan setiap konsep berhubungan
Seringkali para pelajar hanya dengan konsep-konsep yang lain.
menghafalkan defenisi konsep tanpa Misalnya, “meja” berhubungan dengan
memperha-tikan hubungan antara konsep semua ciri yang diperlukan untuk
dengan konsep-konsep lainnya. Dengan memberikannya, misalnya bentuk, jenis
demikian konsep baru tidak masuk jaringan bahan, warna, fungsinya (meja tulis, meja
konsep yang telah ada dalam kepala siswa, makan, meja dekorasi), besarnya, dst.
tetapi konsepnya berdiri sendiri tanpa Maka setiap konsep dapat dihubungkan
hubungan dengan konsep lainnya. Maka dengan banyak konsep lain dan hanya
konsep yang baru tersebut tidak dapat di mempunyai arti dalam hubungan dengan
gunakan oleh siswa dan tidak mempunyai konsep-konsep lain. Semua konsep
arti, sebab arti konsep berasal dan hubungan bersama membentuk semacam jaringan
dengan konsep-konsep lain. Valadares (2004)
pengetahuan di dalam kepala manusia. kepala kita.
Semakin lengkap, terpadu, tepat dan kuat Bentuk bangunan peta konsep
hubungan antara konsep-konsep dalam dapat dibuat bermacam-macam, sesuai
kepala seseorang, semakin pandai orang itu. bidang ilmu dan tingkatan kesulitan, dari
Keahlian seseorang dalam suatu bidang studi sederhana ke yang lebih rumit.Mistades
tergantung lengkapnya jaringan konsep di (2009) membaginya sebagai berikut:
dalam kepalanya. Semakin dalam kita masuki linier,circular,hub spoke, tree dan
suatu bidang studi, semakin kompleks dan network.
terpadu (integrated) jaringan konsep dalam

Sementara skema penilaian peta Understanding.


konsep menurut Mistades(2009) adalah http:Phys.udallas.edu/C3P/-
sebagai berikut: Preconceptions.pdf
(a) score the components found in the Bartlert. D. (2004). Analogies between
student’s map, focusing on three electricity and gravity. Metrologia
components: Vol.41
(i) propositions (concepts and content) Berg, Van Den (1991). Miskonsepsi Fisika
(ii) hierarchy levels (relationships, dan Remediasi, Universitas Satya
links, and cross-links) Wacana Salatiga
(iii) examples Browner. George.M. (1986). Constructivism A
(b) compare a student’s map with an Theory of Knowledge. Purdue
expert’s map University. Journal of Chemical
(c) a combination of map components and Education Vol. 63 No. 10.
comparison with an expert’s map Brown D.,and Clement, J. (1989).
Overcoming misconceptions via
analogical reason-ning : Factors
Daftar Pustaka influencing understanding in a
Anonyms ( ) Helping Students Learn reaching experiment. Instructional
Physics Better Preconceptions and Science, 18:237-261.
Misconceptions A Guide to Clement, J. (1988). Observed Methods for
Enhancing Conceptual Generating Analogies in Scientific
Problem 1ving. Cognitive Science. Supamo, S.J. (1998). Miskonsepsi
1 2(4):563-586 (KonsepAlternatf) Siswa SMUdalam
Fast,Gerald R. (1997) Using analogies to Bidang Fisika. Yogyakarta : Kanisius.
overcome student teachers' Suradi (1995). Miskonsepsi suhu dan kalor
probability misconceptions , pada siswa SMA Panca Marga Bakti
University of Wisconsin, Oshkosh, Kuto- ardjo Purworwjo Jawa Tengah,
USA The Journal of Matematical Laporan Penelitian, IKIP Jogjakarta.
Behavior Vol.6 Issue 4 1997 Taylor, J.R. & Zafiratos, C.D. (1991). Modern
Hestenes David, Malcolm Wells, and Physics for Scientists and Engineers.
Gregg Swackhamer (1992) Force Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs,
Concept Inventory . The Physics New Jersey.
Teacher Vol.30 March 1992, 141- Valadares, J.Fonseca, Soar (2004) Using
158 Conceptual Maps in Physics Clasess.
Jina Kim and Hyukjoon Choi,(2002) www.cmc.ihmc.us
Student Cognitive confligth level, by Winataputra, Udin LS (1994). Strategi
provide qualitative and quantutaif BelajarMengajar IPA. Depdiknas.
demonstration.www.per-central.org Wilaryo Liek 1998. Secercah Pandangan
Korsunsky,Boris (2003). Mechanics renrang Sains. Yogyakarta: Kanisius.
Diagnostic Test ,(thesis defended in Wilantara, I Putu Eka (2003) Implementasi
2003) Model Konstruktivis dalam
http://www.weston.org/schools/hs/s Pembeiajaran Fisika untuk Mengubah
ci/apphy/korsunsky/Dissertation- Miskonsepsi Ditinjau dan Penalaran
Kurniasih, Neny. Nvitrian dan Wahyu S Formal Siswa. Thesis PPS IMP
(2009).Pengajaran Konduksi termal Singaraja.
Mengunakan Analogi Konduksi
Listrik. Jurnal Pengajaran Fisika
Sekolah Menengah FMIPA ITB
ISSN 1979-4959 Vol. 1, No.3,
Agustus 2009
Mistades,Voltaire (2009).Concept Mapping
in Introductory Physics Journal of
education an human development
vol.3 issue 1,2009.univ.de lla sale.
filipina
Mudjiono dan Dimyati (1993). Strategi
belajar mengajar, Depdiknas Jakarta
Podolefsky, Noah (2004) .The Use of
Analogy in Physics Learning and
Instruction.
www.colorado.edu/physics
Stavy, Ruth (1991) Using analogy to
overcome misconceptions about
conservation of matter, Journal of
Research in Science Teahing Vol.28
Issuue 4 1991. www.online
library.willey.com