Anda di halaman 1dari 19

PERANAN INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS USIA 18-24

TAHUN DAN INDIVIDU NORMAL DALAM MASYARAKAT

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Sosial Budaya
Yang dimapu oleh

Dr. H. Kama A Hakam, M. Pd


Rika Sartika, M.Pd

Disusun Oleh:
Nuryaman 1305569
Rani Andriani 1307615
Solikhin 1306888
Thenia R. Dewi
Tiwi Damayanti 1304912

PROGRAM STUDI PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI


JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014
Kata Pengantar
Dengan memohon ridho dan rahmat Tuhan yang Maha Esa, Kami selaku
Penulis mengucapkan banyak syukur kepadaNya, karena dengan kesempurnaan
waktu dan tenaga yang diberikan kepada Kami, sehingga Makalah dengan tema Peran
Manusia telah kami tuangkan dalam bentuk karya tulis yang mengambil judul”
Peranan Individu Berkebutuhan Khusus Dalam Masyarakat Sesuai Tahap
Perkembangannya”. Tak lupa juga kepada Guru Besar Kita, di mana atas usaha dan
niatnya yang ikhlaslah, sampai saat ini kita masih bisa menikmati ajarannya.
Begitupun dengan keluarga, sahabat, tabi’at-tabi’atnya, dan kita selaku umatnya.
Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada Dosen Pengampu Mata
Kuliah, yang telah memberikan arahan secara langsung dan tidak langsung, mengenai
perihal karya tulis yang telah kami buat. Selain itu kepada sumber-sumber informasi
yang telah memfasilitasi dan bersedia memberikan informasi yang untuk mendukung
penyelesaian mengenai pembahasan yang kami ambil.
Karya tulis yang tercetak ini, tentunya masih memiliki kesalahan-kesalahan
dalam tata cara penulisan, baik itu penggunaan Bahasa, salah pengetikan, efekifitas
kalimat, dan lain sebagainya. Untuk itu kami selaku penulis berbesar harapan kepada
pembaca agar dapat mengoreksi karya tulis ini, yang kemudian solusinya ialah
menyampaikan kritikan dan saran yang membangun kepada penulis, agar dapat
berkarya lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Terima kasih.

Bandung, 31 Oktober 2014

Penulis
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia merupakan mahluk Tuhan yang sempurna, di mana manusia
memiliki akal yang membedakannya dengam mahluk hidup lain di muka bumi ini.
sebagai mahluk hidup, manusia merupakan satu kesatuan dari beberapa aspek,
garis besarnya ialah fisik dan psikis. Kedua hal ini merupakan unsur yang
membentuk keutuhan bagi seorang individu, atau dalam biologi kesatuan dari
sistem organ membentuk sebuah individu.
Pada dasarnya setiap makhluk hidup itu mengalami pertumbuhan dan
perkembangan. Hal demikian merupakan proses yang secara sadar dapat dilihat
perbedaannya pada setiap kali mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
Individu yang semula berusia lima tahun akan berbeda secara fisik dan psikis
ketika dia menginjak usia ke 18 tahun. Perubahan tersebut baik fisik secara
langsung dari mulai penambahan volume pada bagian-bagian tubuh, atau dari segi
psikis yang lebih menonjol pada aspek kedewasaan dalam pemikiran.
Tidak cukup sampai disana, Individu yang tumbuh dan berkembang
memiliki pengelompokan tertentu, yang disebut dengan tahap perkembangan
individu. Di mana tahap ini mengelompokan usia Individu menjadi beberapa
golongan didasarkan pada ciri-ciri fisik dan psikis individu dan dibarengi dengan
tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh individu tersebut. Dalam hal
ini, tidak semua individu mengalam hal yang ‘homogen’, dalam artian individu
yang berada dalam lingkup ‘normal’ secara fisik atau psikis.
Munculnya istilah ABK, atau singkatan dari Anak Berkebutuhan Khusus,
merupakan hal yang perlu menjadi simpati publik, dalam artian berusaha agar
individu ABK dapat menikmati hidup secara ‘normal’. Layaknya individu, maka
Individu ABK pun, mengalami beberapa tahap perkembangan yang sama dari segi
usia dengan Individu ‘normal’ lainnya. Namun, dalam ini kita perlu
memperhatikan dari segi tugas perkembangan yang harus dilaksanakan oleh
individu ABK tersebut. Tentunya akan ada sebuah dua buah perbedaan dalam
tugas perkembangan individu ABK dengan anak ‘normal’.
Tidak putus sampai disitu, penulis pun ingin menguak beberapa aspek
yang sekiranya perlu diungkap ialah mengenai peranan individu dalam
masyarakat. Hal ini tentunya tidak lepas dari tahap perkembangannya. ABK
sendiri menjadi pusat topik kami dalam karya ini, hal ini akan menjadikan sebuah
pengetahuan bagaimana indivdiu ABK berperan dalam masyarakat dengan tahap
perkembangannya.

B. Rumusan Masalah
1. Kesulitan apa saja yang dirasakan oleh Individu berkebutuhan khusus
ketika bergaul?
2. Bagaimana tanggapan masyarakat sekitar terhadap individu-individu
berkebutuhan khsusus?
3. Bagaimana dengan partisipasi individu-individu berkebutuhan khusus di
masyarakakat?
4. Bagaimana perbedaan antara individu berkebutuhan khusus dengan
individu ‘normal’ dalam melakukan peranannya di masyarakat?

C. Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan aspek-aspek terkait dengan kesulitan yang dialami oleh
individu berkebutuhan khusus ketika bergaul dengan orang-orang di
sekitarnya.
2. Menjelaskan tanggapan masyarakat di sekitar anak berkebutuhan khusus
terhadap anak berkebutuhan khusus tersebut.
3. Mendeskripsikan peranan individu berkebutuhan khusus dalam
masyarakat.
4. Menjelaskan perbedaan antara individu berkebuthan khusus dengan
individu ‘normal’ dalam melakukan peranannnya di masyarakat.

D. Manfaat Penulisan
1. Media Penyalur Argumen
Dalam hal ini, karya tulis merupakan alat yang paling tepat untuk
mengungkapkan beberapa gagasan yang terlahir dari ide kita, dengan
adanya sebuah karya tulis, maka beberapa argumen kita terhadap suatu
fenomena yang ada di sekiling kita, termasuk topik dari makalah ini.
2. Informasi
Sebagaimana pengertian dari informasi sendiri secara singkat ialah
data yang diolah agar dapat berguna bagi pemakai informasi tersebut.
Mengenai hal itu tentunya apa yang telah penulis tuang dalam karya tulis
ini dapat dijadikan sebuah informasi, misalnya informasi pengetahuan,
data, fakta, dan lain sebagainya yang tertuang dalam bentuk cetak dan non-
cetak. Diharapkan nantinya akan digunakan sebagai petunjuk,
3. Penelitian
Ketidakpuasan merupakan sebuah hal yang wajar muncul dalam
diri seorang individu, dengan demikian maka makalah ini dapat dijadikan
sebagai motivasi untuk membuktikan atau mengkaji ulang dengan metode
perbandingan mengenai isi dari karya tulis ini.
4. Referensi
Secara struktural, beberapa memuat dari berbagai studi literature
dan referensi-referensi yang dimuat untuk mendukung isi laporab tersebut.
Dimana referensi-referensi tersebut dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk
referensi baik laporannya atau pun daftar bibliografi yang dijadikan
referensi oleh pembaca.
5. Rujukan untuk melaksanakan sebuah praktek
Dalam hal ini laporan melibatkan beberapa konsep dasar dan
umum yang diolah oleh penulis sehingga semampunya menjadi sebuah
kesatuan yang sistematis. Selanjutnya beberapa konsep dan teori yang
dimuat di dalamya dapat dijadikan sebagai pedoman atau pun acuan untuk
melaksanakan praktek atau aplikasi dalam semua aspekl kehidupan yang
relevan.
E. Metode Penulisan
Untuk metode penulisan yang dilakukan oleh kami dengan merujuk pada
beberapa petunjuk yang disampaikan oleh pembimbing dan beberapa literatur
yang sekiranya mampu mendukung isi dari tulisan kami. Selanjutnya untuk
perolehan data sendiri, kami melakukan teknik wawancara dengan beberapa
mahasiswa jurusan Pendidikan Khusus , di mana dalam wawancara tersebut kami
memberikan sejumlah pertanyaan yang relevan dengan tema dan judul yang telah
disepakati bersama. Selanjutnya pengolahan data, pencarian kajian pustaka, dan
menyusunnya menjadi kesatuan yang sistematis.

F. Profil Sekolah Luar Biasa Purnama Asih


Nama sekolah: Sekolah Luar Biasa-C Purnama Asih
Alamat:
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Peranan Manusia

1. Pengertian peranan manusia

2. Peranan manusia sebagai individu


Individu berasal dari kata latin, “Individum” artinya “yang tak terbagi”.
Jadi, merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu
kesatuan yang paing kecil dan terbatas. Individu bukan berarti manusia
sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan
yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Dapat disimpulkan, bahwa
individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di
dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta
pola tingkah laku spesifik dirinya.

3. Peranan individu dalam masyarakat


Secara pengertian Masyarakat dalam Bahasa Inggris disebut society,
artinya sekelompok manusia yang hidup bersama, saling berhubungan dan
mempengaruhi, saling terikat satu sama lain sehingga melahirkan kebudayaan
yang sama.
Peran individu dalam masyarakat mempunyai peran(role)dan
kedudukan(status) yang berbeda. Peran adalah pola perilaku yang diharapkan
dari seseorang yang mempunyai posisi(status) tertentu. Sedngkan kedudukan
(status)adalah posisi seseorang dalam kelompok. Mengingat setiap individu
mempunyai kepentingan yang beragam,maka setiap individu mempunyai
kepentingan yang beragam,maka setiap individu dapat berstatus dan berperan
di beberapa kelompok sesuai dengan kepentingan itu. Setiap individu harus
berperilaku atau berperan sesuai dengan kedudukannya agar ia dapat diterima
dan diakui keberadaanya. Karena setiap organisasi mempunyai aturan
sendiri,maka sanksi yang diberikan oleh setiap organisasi kepada anggota
yang melanggar pun berbeda pula. Sanksi ini bertujuan menjaga
keutuhan,keseimbangan,kestabilan kelompoknya sehingga tujuan kelompok
dapat tercapai.

B. Individu Berkebutuhan Khusus

1. Pengertian
Setiap anak memiliki latar belakang kehidupan budaya dan
perkembangan yang berbeda-beda, dan oleh karena itu setiap anak
dimungkinkan akan memiliki kebutuhan khusus serta hambatan belajar
yang berbeda-beda pula, sehingga setiap anak sesungguhnya memerlukan
layanan pendidikan yang disesuaikan sejalan dengan hambatan belajar dan
kebutuhan masing-masing anak.
Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai seorang anak
yang memerlukan pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan belajar
dan kebutuhan masing-masing anak secara individual. Istilah anak
berkebutuhan khusus bukan kata lain dari istilah anak penyandang cacat
tetapi istilah yang lebih luas untuk menggambarkan keadaan anak yang
mengalami hambatan perkembangan dan hambatan belajar termasuk anak-
anak penyandang cacat. Menurut Heward dalam sebuah blog, Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus
yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunujukkan
pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.

2. Jenis-jenis anak berkebutuhan khusus


1) Tunanetra
Menurut Sujihati, S. (2006:65) anak tunanetra adalah individu yang
indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran
penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang
awas.
2) Tunarungu, tunawicara
Menurut Somantri (2006, hal. 93) tunarungu diartikan sebagai
suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang
tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera
pendengarannya.
3) Tunagrahita
Tunagrahita adalah anak yang secara signifikan memiliki
kecerdasan dibawah rata-rata anak pada umumnya dengan disertai
hambatan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekitarnya.
Kanak-kanak dan penyesuain sosial merupakan proses yang saling
berkaitan. Kepribadian sosial mencerminkan cara orang tersebut
berinteraksi dengan lingkugan. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman
penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian.
Tunagrahita: ringan (IQ = 50-70), sedang (IQ = 25-50), dan (Down
Syndrome)

3. Ciri-Ciri Fisik Dan Psikis mengenai Individu Berkebutuhan Khusus


Dari aspek sosial perkembangan sosial anak berkebutuhan
khusus sangat tergantung pada bagaimana perlakuan dan penerimaan
lingkungan terutama lingkungan keluarga terhadap anak. Disamping
itu, akibat kondisinya juga sering menjadikan anak berkebutuhan khusus
memiliki keterbatasan dalam belajar sosial melalui identifikasi
maupun imitasi
Manusia sebagai mahluk sosial selalu memerlukan
kebersamaan dengan orang lain. Demikian pula dengan anak
berkebutuhan khusus. Akan tetapi karena hambatan yang dialaminya
dapat menjadikan anak mengalami kesulitan dalam menguasai
seperangkat tingkah laku yang diperlukan untuk menjalin relasi sosial
yang memuaskan dengan lingkungannya. Perkembangan sosial anak
berkebutuhan khusus akan tumbuh dengan baik apabila sejak awal
dalam interaksi bersama di terdekatnya keluarga tumbuh elemen-elemen
saling membantu, saling menghargai, saling mempercayai, dan saling
toleransi. Namun, karena hambatan-hambatan yang dialaminya, sering
menjadikan hal tersebut kadang sulit didapat. Anak sering tidak
memperoleh kepercayaan dari lingkungannya, yang akibatnya tidak
saja dapat menumbuhkan perasaan tidak dihargai, tetapi juga dapat
menjadikan dirinya sulit untuk mempercayai orang lain (Assyari, hal.
15).
Menurut UU Sisdiknas(Sistem Pendidikan Nasional) tahun 2003
pasal 32, ayat 2 (Pendidikan Layanan Khusus), yaitu:
1) Anak-anak yang berada pada daerah- terbelakang/ terpencil/
pedalaman/ pulau-pulau, anak TKI di DN/LN, beberapa SILN
(Sekolah Indonesia di Luar Negeri), transmigrasi.
2) Anak-anak yang berada pada masyarakat etnis minoritas terpencil.
3) Anak-anak yang berada pada area/ wilayah pekerja anak, pelacur
anak/ trafficking, lapas anak/anak di lapas dewasa, anak jalanan,
anak pemulung/pemulung anak.
4) Anak-anak yang berada pada tempat pengungsi karena bencana
(gempa, konflik).
5) Anak-anak yang berada pada kondisi yang miskin absolut.

4. Pernanan individu berkebutuhan khusus

C. Perbedaan Individu Berkebutuhan Khusus dengan Noram dalam


Masyarakat
BAB III
HASIL OBSERVASI

A. Kesulitan Bergaul Individu


Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada individu berkebutuhan
khusus(ABK) dan anak normal pada umumnya, didapatkan hasil beberapa aspek
terkait dengan kesulitan individu ABK dalam bergaul dengan masyarakat sekitarnya
ialah:

1. Individu Berkebutuhan Khusus


a. Kelas
1) Keadaan anak berkebutuhan khusus itu sendiri.
Dalam hal ini yang menjadi faktor utama kesulitan bergaul tiada lain ialah
terletak pada keadaan dari ABK itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui
sebelumnya, bahan yang dinamakan berkebuthan khsus sudah jelas individu
dan sikapnya pun khusus. ‘kekurangan’ yang dialami ABK dari segi fisik dan
psikis sudah tentu akan mempengaru individu ketika bergaul di masyarakat.
Penyesuian yang ekstra akan menimbulkan kesulitan ketika individu akan
bergaul dengan masyarakat sekitarnya, khusunya bagi merek yang tergolong
sebagai masyarakat normal.
2) Tidak ada kesulitan
Karena berada di dalam kelas dengan keadaan yang ‘sama’ untuk Aryo
sendiri tidak terlalu mengalami kesulitan ketika bergaul dengan teman
sekelasnya.
3) Tidak ada hambatan
4) Tidak ada hambatan dalam bergaul, karena individu ini tergolong ke dalam
tunanetra maka kesulitannya sulit menemukan teman bicaranya.
5) Tidak mengalami kesulitan akan tetapi karena imajinasi yang tinggi dalam
perihal komunikasi tidak nyambung dengan lawan bicaranya.

b. Keluarga
1) Kurang akur
Karena berasal dari keluarga yang sibuk. Sehingga kurangnya komunikasi
dengan orang tua. Dan menyebabkan ketidakakuran dalam perihal komunikasi
dan pola pergaulan dalam aspek kekeluargaan. Sekarang pun tinggal di
Bandung bersama suster, tante, om, dan neneknya.
2) Tidak ada hambatan(lancar)
Komunikasi dengan orang tua masih cukup terjalin.
3) Emosi
Dalam hal ini yang perlu diketahui terkadang emosi ABK sulit
dikendalikan sebagai akibat dari tekanan dari luar ABK. Sehingga dalam
komunikasi dalam ruang lingkup keluarga emosi dari individu ABK akan
memperhambat pergaulan mereka dengan orang tua dan saudaranya.
4) Memiliki keluarga penyayang
Memiliki anggota keluarga yang baik, misalnya membimbing kegiatan
keseharian di rumah seperti membantu saat dia makan, dan mengajar hal-hal
keagamaan yaitu solat dan mengaji.
c. Masyarakat
1) Sikap Masyarakat
Ketidakakuran masyarakat terhadapa ABK pun menjadi faktor yang
mengakibatkan kesulitan ABK dalam bergaul. Hal ini muncul sebagai akibat
kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai ABK. Menyambung dari hal itu
berdasarkan hasil wawancara ialah lingkungan sangat berpengaruh terhadap
kesulitan mereka dalam bergaul.
2) Tidak ada hambatan
Dikatakan demikian, dalam ruang lingkup teman bermain di sekitar rumah
ABK, sering terjadinya interaksi dalam permainan tertentu.
3) Tidak ada
Masih melakukan kegiatan bermain bersama dengan teman-teman di
sekitarnya, dalam hal ini merupakan ruang lingkup masyarakat yang lebih
sempit.
2. Individu ‘Normal’
a. Kelas
1) Kurangnya pengertian dari teman sekelas terhadap diri sendiri.
2) Minder, kurang percaya diri. Karena, latar belakang yang berbeda-
beda.
b. Rumah
1) Jenjang usia yang tidak seumuran, menyebabkan sulitnya bergaul
dengan orang-orang di rumah.
2) Anggota keluarga yang memiliki sikap masing-masing
3) Iri, karena perlakukan orang tua berbeda.
c. Masyarakat
1) Kurang percaya diri

B. Sikap Lingkungan Terhadap Individu

1. Anak Berkebutuhan Khusus


1) Baik, terutama tetangga sering menasehati.
2) Biasa saja (normal), Masyarakat tidak mengucilkan.
3) Kurang menerima keadaan anak berkebutuhan khusus.
4) Pemahaman masyarakat yang kurang terhadap keadaan individu
berkebutuhan khusus. Sehingga pada kebanyakan masyarakat kurang
menerima.

2. Individu ‘Normal’
1) Baik dan bersahabat
2) Terbuka
3) Menyenangkan

C. Bakat dan Pengembangannya

1. Individu Berkebutuhan Khusus


a. Bakat dominan muncul
1) Membuat kerajinan ( membuat pot bunga dan sandal)
2) Menjahit
3) Menggambar dan melukis
4) Bernyanyi
5) Memainkan alat music
6) Olah raga
b. Pengembangan yang dilakukan
Dalam hal ini pengembangan yang dilakukan seperti pada umumnya, yaitu
belajarlebih giat lagi dan dengan berlatih secara berkala. Baik secara akademik
ataupun di rumah. Selain itu menurut guru ABK sendiri ialah dengan cara
mengenal, dan mencari kecenderungan bakat yang dimiliki oleh ABK kemudian
diasah untuk dikembangkan.

2. Individu ‘Normal’
a. Jenis bakat
1) Menulis
2) Fotografi
b. Pengembangan yang dilakukan
1) Mengikuti kegiatan-kegiatan di masyarakat
2) Ikut berorganisasi di kampus
3) Berlatih dan menggali jenis kemampuan kita melalui berbagai sumber
informasi.

D. Keseharian dalam Masyarakat

1. Individu Berkebutuhan Khusus


a. Partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan
1) Bermain, merupakan partisipasi di masyarakat yang sifatnya rekreasi dilakukan
di sekolah dan bersama tetangga.
2) Dalam aspek gotong royong, yaitu:
a) Belajar dalam organisasi pramuka untuk bekerjasama. Selain itu menambah
teman, sering ada agenda kumpul, dan untuk kesehatan.
b) Pernah melakukan gotong royong seperti membersihkan jalan, got, bersih-
bersih dan sebagainya.
c) Kurangnya komunikasi menyebabkan kurangnya berinteraksi, sehingga
tidak terlalu terjun dalam kegiatan gotong royong.
d) Menurut narasumber (Guru ABK) untuk individu tunarungu dan
tunagrahita ringan pada umumnya bisa dilibatkan dalam kemasyarakatan.
e) Kegiatan menanam pohon
3) Komunikasi(sehari-hari)
a) Memberikan perintah kepada orang lain.
b) Komunikasi dalam kerja kelompok (dalam ruang lingkup kelas)
c) Lebih banyak berkomunikasi dengan teman, karena mempunyai sikap
pemalu.
d) Komunikasi dengan baik dengan teman maupun guru, caranya dengan
bertanya apa saja yang dilakukan oleh guru dan temannya tersebut.
b. Pelestarian nasionalis-religius
1) Hari-hari besar
a) Ikut-ikut beberapa lomba-lomba tradisional, seperti balap karung.
b) Ikut pentas seni seperti menari jaipong, dan tari merak.
c) Lomba makan kerupuk
d) Lomba balon pada acara dirgahayu Republik Indonesia
e) Tarik tambang.
f) Jalan santai.

Narasumber secara keseluruhan senang mengikuti perlombaan-perlombaan


yang diadakan di hari-hari tersebut.

2) Keagamaan
Secara keseluruhan kegiatan keagamaan belum pernah diikuti. Namun
salah seorang narasumber dalam kegiatan sehari-hari biasa mengaji dan
berdo’a. Juga terdapat narasumber yang mempunyai niat besar untuk belajar
mengaji dan shalat.
2. Individu ‘Normal’
a. Partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan
1) Bermain
2) Gotong royong
3) Berkomunikasi
b. Kegitanan nasionalis-religius
1) Hari-hari besar
a) 17 Agustus mengikuti upacara sebagai peserta
b) Mengikuti Pramuka
c) Mengikuti perlombaan seperti marathon dan yang lainnya.
2) Keagamaan
a) Isra mi’raj
b) Dakwah

E. Keikutsertaan dalam Orgnisasi

1. Individu Berkebutuhan Khsusus


1) Pramuka
2) Tiga responden lainnya menjawab tidak ikut berorganisasi.

2. Individu ‘Normal’
Dari responden yang diberikan angket semua ikut berorganisasi seperti
Keluarga Mahasiswa Daerah, Himpunan di jurusannya, Forum, dan Unit
Kegiatan yang diselenggarakan oleh institusi pendidikannya.

F. Keprofesian
1. Individu Berkebutuhan Khusus
Melihat dari usia anak berkebutuhan khusus yang diwawancarai, dapat
dikatakan bahwa usia mereka sudah bisa melakukan kegiatan lain selain mereka
berstatus sebagai seorang siswa. Misalnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan
dirinya dan orang tua. Adapun hasilnya yaitu:
1) Membantu orang tua mengantar dagangan ke pasar (menurut salah seorang
guru di SLB Purnama Asih)
2) Empat responden pada usia individu berkebutuhan khsusus 17-24 tahun yang
kami wawancara hanya berprofesi sebagai seorang siswa.
3) Namun, responden tersebut juga mempunyai cita-cita. Antara lain yaitu ada
yang bercita-cita ingin menjadi dokter, dan ada juga yang berkeinginan
menjadi satpam.

2. Individu ‘Normal’
1. Sebagai fotografer

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
Bibliografi
Ahmadi, Abu.2003.Ilmu sosial dasar.Jakarta: PT Rineka Cipta
Astati [et.al].2013.Pendidikan anak berkebutuhan khusus.Bandung:Universitas
pendidikan indonesia
Departemen Pendidikan Nasional.2009.Direktorat Pembinaan Sekolah Luar
Biasa( Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus).Jakarta
Selatan: Ditplb
Wikipedia. Anak berkebutuhan khusus. [online]. Tersedia di:
id.m.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus. Dikutip pada
tanggal 06 desember 2014