Anda di halaman 1dari 12

Koordinasi Lintas Sektor Penanggulangan Bencana Kebakaran

di Kota Surabaya

Citra Rachmawati 101611133010, IKM A 2016

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universiatas Airlangga

ABSTRAK

Bencana kebakaran merupakan salah satu ancaman bagi keselamatan manusia,


harta benda maupun lingkungan. Kebakaran yang terjadi pada tahun 2014-2016 di
Kota Surabaya, sebanyak lebih dari 83% kejadian terjadi di kawasan lahan
terbangun yang termasuk dalam tingkat risiko tinggi terjadinya bencana kebakaran
(Arsip Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, 2016). Metode pengambilan
data yang digunakan ialah pengambilan data sekunder berbentuk buku, jurnal, dan
perundang-undangan; disamping itu juga pengambilan informasi data melalui
media internet. Tujuan dari artikel ilmiah ini adalah memberikan pemahaman
mengenai sistem koordinasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana
kebakaran di Surabaya. Hasilnya menunjukkan bahwa Surabaya telah menerapkan
sistem koordinasi lintas sektor yang baik dalam penanggulangan bencana
kebakaran. Koordinasi lintas sektor ini dibentuk dalam sistem pelayanan publik
yang dirancang khusus untuk sesuatu yang darurat, termasuk bencana kebakaran.
Pelayanan Comand Center 112 merupakan bentuk dari koordinasi lintas sektor
penanggulangan bencana, termasuk bencana kebakaran di Surabaya.

Keyword : Penanggulangan, Kebakaran, koordinasi, dan lintas sektor.


I. PENDAHULUAN
Latar Belakang

Surabaya termasuk kota terbesar urutan kedua di Indonesia yang memiliki


jumlah penduduk terbanyak. Surabaya telah banyak mengalami perkembangan dan
kemajuan yaitu dilihat dari perdaganganya, pembangunan yang semakin pesat, dan
Surabaya termasuk dalam pusat kota jasa. Semua perkembangan dan kemajuan itu
memiliki dampak dan pengaruh. Salah satu dampaknya yaitu beresiko terjadinya
kebakaran karena kepadatan penduduk yang meningkat, banyaknya pembangunan
gedung perkantoran, kawasan perumahan, industri yang semakin berkembang
sehingga menimbulkan kerawanan dan apabila terjadi kebakaran membutuhkan
penanganan secara khusus. Bencana kebakaran merupakan salah satu ancaman
bagi keselamatan manusia, harta benda maupun lingkungan. Kebakaran di Kota
Surabaya pada tahun 2016 sebanyak 300 kasus. Kebakaran yang terjadi pada tahun
2014-2016 di Kota Surabaya, sebanyak lebih dari 83% kejadian terjadi di kawasan
lahan terbangun yang termasuk dalam tingkat risiko tinggi terjadinya bencana
kebakaran (Arsip Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, 2016). Maka dari itu
perlu adanya suatu penaggulangan bencana kebakaran. Penanggulangan bencana
penting karena masalah yang ditimbulkan terkait dengan berbagai sektor yang multi
kompleks. Salah satu fungsi Unsur Pelaksana Penanggulangan Bencana yaitu
kegiatan koordinasi yang tertuang dalam UU No. 24 tahun 2007. Maka dari itu
tujuan dari artikel ilmiah ini adalah memberikan pemahaman mengenai sistem
koordinasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana kebakaran di Surabaya.

II. METODE
Jenis metode pengambilan data yang digunakan ialah pengambilan data
sekunder. Data sekunder pada artikel ini diperoleh dari studi kepustakaan berbentuk
buku, jurnal, dan perundang-undangan; disamping itu juga pengambilan informasi
data melalui media internet turut digunakan untuk memperkuat data skunder pada
artikel ini. Proses pengambilan data dengan melalui membaca beberapa buku, teori,
artikel, jurnal, perundang-undangan, melihat internet dan beberapa sumber bahan
bacaan lainnya yang relavan.
III. HASIL PEMBAHASAN

Penyelengaraan penanggulangan bencana menyatakan bahwa tanggap darurat


(emergency response) bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan
segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang
ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta
benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengurusan pengungsi,
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana, PP 21 tahun 2008. Bencana
kebakaran merupakan salah satu ancaman bagi keselamatan manusia, harta benda
maupun lingkungan. Kebakaran yang terjadi pada tahun 2014-2016 di Kota
Surabaya, sebanyak lebih dari 83% kejadian terjadi di kawasan lahan terbangun
yang termasuk dalam tingkat risiko tinggi terjadinya bencana kebakaran (Arsip
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, 2016). Bencana kebakaran di perkotaan
tidak dapat diperkirakan atau diprediksikan kapan terjadinya dan penyebabnya,
yang dapat dilakukan adalah dengan persiapan dan peringatan dini. Banyaknya
korban jiwa akibat kebakaran di perkotaan pada umumnya disebabkan karena
korban tidak mampu keluar, keterbatasan fisik, seperti anak-anak, manula dan
penyandang cacat dan kelompok rentan lainnya (Bagir & Buchori, 2009).
Kebakaran yang terjadi di Surabaya diklasifikasikan menjadi 5 kategori di
antaranya adalah kategori kebakaran perumahan, industri, umum dan dagang,
kendaraan dan lain-lain (tumpukan sampah, gardu listrik dan alang-alang).

Terpadu dan terkoordinasi dalam penanggulangan bencana yang tertuang


dalam Pasal 2 PP No 21 Tahun 2008 merupakan hal yang penting karena masalah
yang ditimbulkan terkait dengan berbagai sektor yang multi kompleks. Koordinasi
merupakan proses perpaduan kegiatan lintas sektoral baik dalam pemerintahan
maupun stake holders dalam upaya penanggulangan bencana agar dapat mencapai
tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Fungsi koordinasi dilakukan secara
terintegrasi dengan sektor terkait pada (1) tahap pra dan (2) pasca bencana pada
tanggap darurat fungsi yang dilaksanakan adalah dominan fungsi komando karena
fungsi koordinasi telah lebih dahulu dilaksanakan pada tahap pra bencana (Depkes
RI, 2002).
Koordinasi yang tepat akan menimbulkan keselarasan dan kerjasama yang
efektif dari beberpa sektor yang terlibat dilapangan. Jadi, perlu diperhatikan
penempatan struktur organisasi yang tepat sesuai dengan tingkat penanggulangan
bencana, serta adanya kejelasan tugas, tanggung jawab dan otoritas dari masing-
masing komponen/ organisasi yang terus menerus dilakukan secara lintas program
dan lintas sektor mulai saat persiapan, saat terjadinya bencana dan pasca bencana.

Komunikasi
Berbagai
Arah

Perencanaan

Efektivitas Sumber
 Kepemimpinan  Pengendalian Daya Pengorganisasian  Kerjasama
 Motivasi Penanggulanga n
Masalah
Kesehatan

 Evaluasi

 Koordinasi

Gambar Kerangka Konsep Koordinasi


Sumber : Argadiredja (2001 )

Kerangka konsep koordinasi diatas menjelaskan bahwa koordinasi itu dihasilkan


dari komunikasi yang didapat dari berbagai arah, yang bisa digunakan untuk suatu
perencanaan dan kerjasama baik untuk pengorganisasian atau ke efektivan sumber
daya penanggulangan. Agar dapat menghasilkan evaluasi dari suatu koordinasi
yang terpimpin, motivasi, dan yang terkendali.

Menurut peraturan Kepala BNPB Nomor 4 tahun 2008 tentang Pedoman


penyusunan dalam melaksanakan penanggulangan becana di daerah akan
memerlukan koordinasi dengan sektor. Secara garis besar dapat diuraikan peran
lintas sektor sebagai berikut :

 Sektor Pemerintahan, pengendali kegiatan pembinaan pembangunan


daerah.
 Sektor Kesehatan, pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat obatan
dan para medis.
 Sektor Sosial, pelayanan sosial yang berhubungan dengan kebutuhan
pangan, sandang, dan kebutuhan lainnya.
 Sektor Pekerjaan Umum, perencanaan dan pengelolaan tata ruang daerah,
penyiapan lokasi dan jalur evakuasi, dan kebutuhan pemulihan sarana dan
prasarana.
 Sektor Perhubungan, terkait dengan komunikasi perhubungan berupa
deteksi dini dan informasi cuaca/meteorologi dan merencanakan kebutuhan
transportasi dan komunikasi
 Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral, perencanaan dan pengendalian
upaya mitigatif di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia
yang terkait dengan bencana geologi sebelumnya,
 Sektor Tenaga Kerja dan Transmigrasi, perencanaan, pengerahan dan
pemindahan korban / penderita ke daerah yang aman.
 Sektor Keuangan, penyiapan dan pengelolaan anggaran biaya kegiatan
penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra bencana
 Sektor Kehutanan, perencanaan dan pengendalian upaya mitigatif
khususnya kebakaran hutan/lahan
 Sektor Lingkungan Hidup, perencanaan dan pengendalian upaya yang
bersifat preventif, advokasi, dan deteksi dini dalam pencegahan bencana.
 Sektor Kelautan perencanaan dan pengendalian upaya mitigatif di bidang
bencana tsunami dan abrasi pantai.
 Sektor Lembaga Penelitian dan Pendidikan Tinggi, kajian dan penelitian
sebagai bahan untuk perencanaan penyelenggaraan penanggulangan
bencana pada masa pra bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan
rekonstruksi.
 TNI/POLRI, pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang
ditinggalkan karena penghuninya mengungsi.
Suatu koordinasi memerlukan suatu prosedur dalam menjalankannya. Standar
Opresai Prosedur untuk koordinasi termuat dalam Pusat Penanggulangan masalah
kesehatan Depkes RI (2002), yaitu :

a. Adanya media untuk berkoordinasi (Ht, Pesawat telepon, dan kontak


lainnya)
b. Adanya tempat dan waktu untuk melaksanakan koordinasi
c. Adanya unit atau pihak yang dikoordinasikan. Unit yang dimaksud adalah
organisasi kesehatan baik instansi maupun tim kesehatan lapangan
d. Pertemuan reguler. Pertemuan reguler secara periodik dalam waktu
perbulan, pertriwulan, persemester atau bersifat insidentil apabila
diperlukan
e. Tugas pokok dan tanggung jawab organisasi sektor kesehatan yang jelas
f. Informasi dan laporan
g. Kerjasama pelayanan dan sarana
h. Aturan (Code of conduct) organisasi kesehatan yang jelas Menurut Rapat
koordinasi Satkorlak PB, Prosedur Operasi Standar dalam melaksanakan
koordinasi adalah sebagai berikut :
1. Tentukan pola koordinasinya (berbagi informasi, kegiatan
bersama, program terpadu),
2. Tunjuk penanggungjawabnya,
3. Jadwalkan titik pertemuan koordinasi dan
4. Tentukan mekanisme pertanggungjawaban.

Surabaya termasuk kota yang telah menjalankan prosedur operasional


berstandar dalam koordinasi lintas sektor penanggulangan bencana kebakaran.
Koordinasi ini telah berjalan dalam suatu sistem pelayanan publik. Sistem
pelayanan publik ini dirancang khusus untuk sesuatu yang darurat, termasuk
bencana kebakaran. Kota Surabaya menempatkan titik koordinasi dalam pusat
pengendali yang berada di ruang pengendali darurat. Ruang pengendali darurat
untuk pelayanan publik yang menggunakan teknologi yang canggih dan mudah
diakses. pelayanan publik tersebut menjadi pelayanan publik terbaik di Indonesia.
Pelayanan publik tersebut dinamakan command center. Command center
merupakan suatu ruang yang berfungsi sebagai pengendali darurat dalam mengatasi
segala permasalahan yang terjadi secara cepat. Command center melayani
masyarakat melalui nomer pengaduan 112. Fasilitas tersebut digunakan untuk
memantau kondisi kota Surabaya selama 24 jam dan menerima laporan darurat dari
masyarakat kota Surabaya. Comand Center Surabaya terhubung dalam beberapa
sektor yaitu Sektor Pemerintahan, Kesehatan, Sosial, Perhubungan, Lingkungan
Hidup, Lembaga Penelitian dan Peendidikan Tinggi, TNI/POLRI dan masih banyak
lainnya. Sektor terkait saling bekerjasama dan koordinasi pusatnya berada di
Comand Center.

Dari beberapa kasus yang ditangani oleh command center, terjadi kasus
kebakaran yang mendominasi penanganan darurat pengaduan 112. Kasus
kebakaran yang tercatat pada rekapitulasi data dari Dinas Pemadam Kebakaran
Kota Surabaya tahun 2016 sebanyak 300 kasus. Kebakaran tersebut dikelompokkan
menjadi 5 kategori di antaranya adalah kategori kebakaran perumahan, industri,
umum dan dagang, kendaraan dan lain-lain (tumpukan sampah, gardu listrik dan
alang-alang). Penyebab kebakaran pada kasus tersebut adalah karena api terbuka
(percikan api, puntung rokok, bensin, kebocoran tabung LPG, pembakaran sampah,
selang bocor, tangki sepeda bocor, obat nyamuk bakar, dan bakar alang-alang),
terjadinya arus pendek (korsleting listrik), serta penyebab lainnya yang masih
dalam penyelidikan (Arsip Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, 2016).
Respon kebakaran memiliki standart untuk waktu tanggap secara nasional
yaitu 15 menit dari waktu diterimanya pemberitahuan adanya kebakaran menurut
Permenker Umum No 20 tahun 2009. Sistem di Surabaya sekarang ini sudah sangat
mendukung dalam respon kebakaran. Karena dengan adanya Comand Center,
masyarakat bisa langsung berkoordinasi dengan pusat dan di pusat akan
mengirimkan informasi secara cepat pada Dinas Pemadam Kebakaran yang siap
setiap saat untuk merespon kebakaran dan dari dinas kesehatan atau PMI akan ikut
andil dalam respon tersebut. Respon dalam kebakaran melibatkan beberapa sektor
turun yaitu sektor kesehata, sosial, perhubungan, dan pihak energi sumber daya.
IV. KESIMPULAN
Penyelengaraan penanggulangan bencana menyatakan bahwa tanggap darurat
(emergency response) bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan
segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang
ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta
benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengurusan pengungsi,
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana, PP 21 tahun 2008. Bencana
kebakaran merupakan salah satu ancaman bagi keselamatan manusia, harta benda
maupun lingkungan.

Koordinasi merupakan proses perpaduan kegiatan lintas sektoral baik dalam


pemerintahan maupun stake holders dalam upaya penanggulangan bencana agar
dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Fungsi koordinasi
dilakukan secara terintegrasi dengan sektor terkait pada (1) tahap pra dan (2) pasca
bencana pada tanggap darurat fungsi yang dilaksanakan adalah dominan fungsi
komando karena fungsi koordinasi telah lebih dahulu dilaksanakan pada tahap pra
bencana (Depkes RI, 2002).

Koordinasi ini telah berjalan dalam suatu sistem pelayanan publik. Sistem
pelayanan publik ini dirancang khusus untuk sesuatu yang darurat, termasuk
bencana kebakaran. Kota Surabaya menempatkan titik koordinasi dalam pusat
pengendali yang berada di ruang pengendali darurat.

Pelayanan publik tersebut dinamakan command center. Command center


merupakan suatu ruang yang berfungsi sebagai pengendali darurat dalam mengatasi
segala permasalahan yang terjadi secara cepat. Command center melayani
masyarakat melalui nomer pengaduan 112. Fasilitas tersebut digunakan untuk
memantau kondisi kota Surabaya selama 24 jam dan menerima laporan darurat dari
masyarakat kota Surabaya. Comand Center Surabaya terhubung dalam beberapa
sektor yaitu Sektor Pemerintahan, Kesehatan, Sosial, Perhubungan, Lingkungan
Hidup, Lembaga Penelitian dan Peendidikan Tinggi, TNI/POLRI dan masih banyak
lainnya. Sektor terkait saling bekerjasama dan koordinasi pusatnya berada di
Comand Center.
V. SARAN

Penanggulangan bencana kebakaran sebaiknya selalu berkoordinasi atau dengan


menjaga perpaduan kegiatan lintas sektoral baik dalam pemerintahan maupun stake
holders dalam upaya penanggulangan bencana baik kebakaran maupun bencana
lain. Jadi, perlu perhatian khusus menegenai penempatan struktur organisasi yang
tepat sesuai dengan tingkat penanggulangan bencana, serta adanya kejelasan tugas,
tanggung jawab dan otoritas dari masing-masing komponen/ organisasi yang terus
menerus dilakukan secara lintas program dan lintas sektor mulai saat persiapan, saat
terjadinya bencana dan pasca bencana

Penerapan Aturan (Code of conduct) organisasi kesehatan yang jelas Menurut


Rapat koordinasi Satkorlak PB, Prosedur Operasi Standar dalam melaksanakan
koordinasi adalah sebagai berikut :

a. Tentukan pola koordinasinya (berbagi informasi, kegiatan bersama,


program terpadu),
b. Tunjuk penanggungjawabnya,
c. Jadwalkan titik pertemuan koordinasi dan
d. Tentukan mekanisme pertanggungjawaban.

Kerugian dan korban jiwa dapat diminimalkan dengan peningkatan kapasitas


masyarakat. Kapasitas memiliki nilai terbalik dengan bahaya dan kerentanan
dimana tingginya tingkat kerentanan akan dapat menurunkan risiko bencana.
Bahaya tidak dapat dihilangkan atau selalu dikontrol (Perrow, 2007 dalam Isa, dkk.,
2014).
DAFTAR PUSATAKA

Ahdi, Didi. 2015. Perencanaan Penanggulangan Bencana Melalui Pendekatan


Manajemen Risiko. Malang : Program Magister Ilmu Administrasi Publik,
Univeristas Brawijaya

Bagir, M., & Buchori, I. 2009. Model Optimasi Lokasi Pos Pemadam Kebakaran
(SK: Kota Semarang). Semarang: Universitas Diponegoro

Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya. 2016. Data Kebakaran 2014-2016.


Surabaya: Dinas Pemadam Kebakaran.

Fitrah, Dinimiar dan Agung. 2017. Analisis Daerah Resiko Bencana Kebakaran di
Kota Surabaya Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Surabaya :
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember

Isa, M., Wajdi, M. F., Syamsudin, S., & Setyawan, A. A. 2014. Strategi Penguatan
Kapasitas Stakeholder dalam Adaptasi Dan Mitigasi Banjir di Kota Surakarta.
Benefit: Jurnal Manajemen dan Bisnis, 17(2), 99-110

Islamiati, Feny. 2017. Fungsi Petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya.
Surabaya : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga

Kementerian Pekerjaan Umum. 2009. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20


Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Manajemen Proteksi Kebakaran di
Perkotaan.

Kusuma, Ikhwan.2016. Koordinasi Lintas Sektoral. Lamongan : Fakultas Ilmu


Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Malang

Ulfa, Mia dkk. 2017. Analisis Risiko Bencana Kebakaran Kawasan Segiempat
Tunjungan Surabaya. Malang : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Malang

Pusat Penaggulangan Masalah Kesehatan Sekretariat Jendral Departement


Kesehatan. 2002. Pedoman Koordinasi Penanggulangan Bencana di
Lapangan. Jakarta
Peraturan Kepala Badan Nasional Penaggulangan Bencana No 4 Tahun 2008

PP nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana


Koordinator tanggap
darurat bencana

Satgas tanggap darurat


bencana

Koordinasi Organisasi/
LSM

Permintaan bantuan dan


donor

Informasi Publik

Logistik

Transportasi