Anda di halaman 1dari 5

FARINGITIS KRONIS

Faringitis kronis adalah radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam waktu yang
lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang mengganjal di
tenggorok.Faringitis kronis umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja atau tinggal
dalam lingkungan berdebu,menggunakan suara berlebihan, menderita batu kronik, dan
kebiasan menkonsumsi alcohol dan tembakau. Faringitis kronik dibagi menjadi 2, yaitu:
Faringitis hipertrofi,ditandai dengan penebalan umum dan kongesti membran mukosa. Faringitis
atrofi merupakan tahap lanjut dari faringitis hipertrofi (membran tipis, keputihan,licin dan pada
waktunya berkerut).

EPIDEMIOLOGI

Faringitis terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi
yang paling tinggi terjadi pada anak-anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia dibawah 1
tahun. Insedensi meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi tetap
berlanjut sepanjang akhir masa anak-anak dan kehidupan dewasa.
Faringitis akut maupun kronis merupakan hal yang umum terjadi di seluruh
dunia. Di iklim dingin, paling umum terjadi pada akhir musim gugur, selama musim dingin dan
awal musim semi. Di Indonesia umumnya terjadi pada saat pancaroba dan selama
musim hujan. Faringitis akut adalah keluhan utama pasien pada kunjungan ke dokter.
Diperkirakan, tiap tahunya di Amerika Serikat lebih dari 15 juta pasien mengunjungi dokter
dengan keluhan sakit tenggorokan.
Faringitis akut paling banyak terjadi pada usia anak-anak yakni antara umur 1 – 10 tahun
sebanyak 50 penderita (60,98%), dan berjenis kelamin laki-laki 51 orang (62,20%). Antibiotika
yang paling banyak digunakan adalah antibiotika amoksisilin dengan frekuensi pemberian 3 kali
sehari sebanyak 67 kasus (81,70%), yang lama pemberian diberikan selama 7 hari sebanyak
42 kasus (51,22%) dan semuanya diberikan secara oral. Data tersebut terletak di atas hasil dari
penelitian WHO yang berkisar antara 22,70% kasus dan di Indonesia 43% kasus yang diberikan
antibiotika amoksisilin pada faringitis akut.
ETIOLOGI & FAKTOR RESIKO
Faringitis kronis bisa disebabkan karena induksi yang berulang-ulang faringitis akut atau
karena iritasi faring akibat merokok berlebihan dan penyalahgunaan alkohol, sering konsumsi
minuman ataupun makanan yang panas, dan batuk kronis karena alergi. Faringitis kronis akibat
gangguan pencernaan pada lambung juga mungkin terjadi namun merupakan penyebab yang
jarang ditemukan. Penyebab lain yang tidak termasuk iritan adalah pemakaian suara berlebihan
misalnya pada orator, sinusitis, rhinitis, inhalasi akibat uap yang merangsang mukosa faring,
debu, serta kebiasaan bernafas melalui mulut karena hidung tersumbat.

PATOGENESIS & PATOFISIOLOGI


Pada faringitis yang disebabkan infeksi, bakteri ataupun virus dapat secara langsung
menginvasi mukosa faring menyebabkan respon inflamasi lokal. Kuman menginfiltrasi lapisan
epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial bereaksi, terjadi
pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal
terdapathiperemi, kemudian edema dan sekresi yang meningkat.
Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan kemudian cendrung menjadi
kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemis, pembuluh darah dinding
faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih atau abu-abu terdapat
dalam folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada
dinding faring posterior, atau terletak lebih ke lateral, menjadi meradang dan membengkak.
Virus-virus seperti Rhinovirus dan Corona virus dapat menyebabkan iritasi sekunder
pada mukosa faring akibat sekresi nasal. Infeksi streptococcal memiliki karakteristik khusus
yaitu invasi lokal dan pelepasan extracellular toxins dan protease yang dapat menyebabkan
kerusakan jaringan yang hebat karena fragmen M protein dari Group A streptococcus memiliki
struktur yang sama dengan sarkolema pada myocard dan dihubungkan dengan demam
rheumatic dan kerusakan katub jantung.
Selain itu juga dapat menyebabkan akut glomerulonefritis karena fungsi glomerulus
terganggu akibat terbentuknya kompleks antigen-antibodi.

Terdapat dua bentuk faringitis kronis yaitu :


1. Faringitis kronis hiperplastik
2. Faringitis kronis atrofi

A. Faringitis kronis hiperplastik


 Faktor predisposisi:
o Rinitis kronis dan sinusitis
o Inflasi kronik yang dialami perokok dan peminum alcohol
o Inhalasi uap yang merangsang
o Infeksi
o Daerah berdebu
o Kebiasaan bernafas melalui mulut
 Manifestasi klinis :
o Rasa gatal, kering dan berlendir yang sukar dikeluarkan dari tenggorokan
o Batuk serta perasaan mengganjal di tenggorokan
 Pemeriksaan fisik :
o Penebalan mukosa di dinding posterior faring
o Hipertrofi kelenjar limfe di bawah mukosa
o Mukosa dinding faring posterior tidak rata (granuler)
o Lateral band menebal
 Penatalaksanaan :
o Dicari dan diobati penyakit kronis di hidung dan sinus paranasal
o Local dapat dilakukan kaustik dengan zat kimia (nitras argenti, albothyl) atau dengan
listrik
o (elektrokauter)
 Sebagai simptomatik diberikan obat kumur atau isap, obat batuk (antitusif
atauekspektoran).

B. Faringitis kronis atrofi


Adalah faringitis yang timbul akibat rangsangan dan infeksi pada laring karena terjadi
rhinitis atrofi, sehingga udara pernafasan tidak diatur suhu dan kelembabannya sehingga
menimbulkan rangsangan infeksi pada faring.

 Manifestasi klinis :
o Tenggorokan terasa kering dan tebal
o Mulut berbau

 Pemeriksaan fisik :
o Pada mukosa faring terdapat lendir yang melekat, dan bila lendir itu diangkat akan
tampak mukosa dibawahnya kering.
 Penatalaksanaan :
o Terapi sama dengan rhinitis atrofi, ditambah obat kumur, obat simtomatik dan
menjaga hygiene mulut.

DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis faringitis dapat dimulai dari anamnesa yang cermat dan
dilakukan pemeriksaan temperature tubuh dan evaluasi tenggorokan, sinus, telinga, hidung
danleher. Pada faringitis dapat dijumpai faring yang hiperemis, eksudat, tonsil yang membesar
dan hiperemis, pembesaran kelenjar getah bening di leher.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu dalam penegakkan diagnosa
antara lain yaitu :
o pemeriksaan darah lengkap
o GABHS rapid antigen detection test bila dicurigai faringitis akibat infeksi bakteri
streptococcusgroup A
o Throat culture
Namun pada umumnya peran diagnostik pada laboratorium dan radiologi terbatas.

PENATALAKSANAAN
Pada viral faringitis pasien dianjurkan untuk istirahat, minum yang cukup dan berkumur
dengan air yang hangat. Analgetika diberikan jika perlu. Antivirus metisoprinol (isoprenosine)
diberikan pada infeksi herpes simpleks dengan dosis 60-100mg/kgBB dibagi dalam 4-6kali
pemberian/hari pada orang dewasa dan pada anak <5tahun diberikan 50mg/kgBb dibagi dalam
4-6 kali pemberian/hari.
Pada faringitis akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya streptococcus group
Adiberikan antibiotik yaitu Penicillin G, Benzatin 50.000 U/kgBB/IM dosis tunggal atau
amoksisilin 50mg/kgBB dosis dibagi 3kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa
3x500mgselama 6-10 hari atau eritromisin 4x500mg/hari. Selain antibiotik juga diberikan
kortikosteroid karena steroid telah menunjukan perbaikan klinis karena dapat menekan reaksi
inflamasi. Steroid yang dapat diberikan berupa deksametason 8-16mg/IM sekali dan pada anak-
anak 0,08-0,3mg/kgBB/IM sekali. dan pada pasien dengan faringitis akibat bakteri dapat
diberikan analgetik, antipiretik dan dianjurkan pasien untuk berkumur-kumur dengan
menggunakan air hangat atau antiseptik.
Pada faringitis kronik hiperplastik dilakukan terapi lokal dengan melakukan kaustik faring
dengan memakai zat kimia larutan nitras argenti atau dengan listrik (electro cauter ).
Pengobatan simptomatis diberikan obat kumur, jika diperlukan dapat diberikann obat batuk
antitusif atau ekspetoran. Penyakit pada hidung dan sinus paranasal harus diobati.
Pada faringitis kronik atrofi pengobatannya ditujukan pada rhinitis atrofi dan untuk
faringitis kronik atrofi hanya ditambahkan dengan obat kumur dan pasien disuruh menjaga
kebersihan mulut.

KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari faringitis yaitu sinusitis, otitis media, epiglotitis, mastoiditis,
pneumonia, abses peritonsilar, abses retrofaringeal. Selain itu juga dapat terjadi komplikasi lain
berupa septikemia, meningitis, glomerulonefritis, demam rematik akut. Hal ini terjadi secara
perkontuinatum, limfogenik maupun hematogenik.
PROGNOSIS
Umumnya prognosis pasien dengan faringitis adalah baik. Pasien dengan faringitis
biasanya sembuh dalam waktu 1-2 minggu.