Anda di halaman 1dari 2

FORMALITAS PENDIDIKAN

Pendidikan adalah kunci sebuah kemajuan peradaban di suatu tempat. Seperti


negara – negara maju di dunia ini memiliki peradaban yang sangat maju berkah dari
tingginya tingkat pendidikan di negaranya. Di negara – negara ini tingkat pendidikan
penduduk yang diatas rata-rata membuat Sumber daya manusia (SDM) di negara ini
sangat tinggi. Dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi, negara – negara yang
miskin sumber daya alam pun dapat bertahan dan bahkan menjadi negara yang
berpengaruh, contohnya negara jepang, negara Korea, negara singapura,dll.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengembangan diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan
masyarakat(UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003). Pendidikan bukan hanya masalah tentang
pengetahuan umum, sekolahan maupun nilai – nilai raport. Pendidikan juga
mencangkup pematangan pola pikir, ahlaq, ketrampilan/skill. Namun, di indonesia
umumnya pendidikan telah direduksi menjadi sebatas sekolahan yang formal maupun
sub formal.

Pola pikir masyarakat indonesia umumnya mereduksi pendidikan hanya sebatas pada
formalisme sekolah. Sekolah adalah tempat terbaik dalam mendidik anak – anak.
Sekolah dipercaya sebagai satu – satunya lembaga yang dapat menilai seorang anak itu
pintar, bodoh, dan sederet peringkat lain. Sekolah juga menjanjikan kesuksesan dan
kecerdasan. Oleh karena itu, bila seseorang ingin mendapat julukan “orang cerdas”
dan ingin meraih kesuksesan, ia harus sekolah. Padahal semua itu belum tentu
sepenuhnya benar.

Dalam kasus ini, ada beberapa hal yang harus dipertanyakan


1. Seberapa besar lulusan sekolah dapat bermanfaat memajukan kesejahteraan
masyarakat daerah?
2. Apakah lulusan sekolah di indonesia dapat benar- benar dipercaya?
3. Apakah pendidikan sekolah di indonesia sudah merata?
4. Bagaimana korelasi lulusan sekolah di indonesia dengan kebutuhan masyarakat
yang punya beragam tradisi?
5. Berapa persen lulusan sekolah yang benar- benar sukses ?

Kenyataannya adalah sekolah sebagai basis pendidikan yang di


interpretasikan masyarakat umum sebagai tempat pendidikan terbaik kurang
berhasil memajukan kesejahteraan masyarakat daerah. Angka kemiskinan masih
tinggi, ketimpangan sosial sangat kentara, sumber daya alam masih banyak dikuasai
asing. Kemudian, betapa mirisnya melihat para pejabat pemerintah dengan gelarnya
S1, S2, S3 maupun S teler banyak yang terlibat kasus korupsi. Mereka Hidup mencari
kesenangan (hedonisme) dan kemewahan, menggerogoti APBN demi membuat
kerajaan nya sendiri dan tentu saja untuk orang- orang terdekatnya. Seperti para
feodal penjajah. Bagaimana bisa mempercayai sekolah ketika saat ujian nasional saja,
kecurangan demi kecurangan terus dibiarkan. Bahkan Perguruan tinggi pun tidak
mempercayai hasil UN dengan menggelar tes- tes tulis.
Pendidikan di indonesia juga tidak merata. Terlihat ada kasta –kasta sekolah
di indonesia, seperti sekolah bertaraf internasional, sekolah dengan kurikulum
cambridge, sekolah kampung, dll. Dari segi fasilitas tentu sekolah – sekolah ini sangat
kentara perbedaannya. Sekolah internasional umumnya adalah sekolah untuk anak-
anak orang kaya,pejabat dan persentase kecil anak genius yang miskin. Sedangkan
sekolah kampung adalah sekolah untuk anak-anak petani, pegawai kantor biasa,
buruh, dan sebagian anak pns, tentu dengan biaya yang lebih murah.
Lalu korelasi dunia pendidikan di sekolah indonesia dengan kebutuhan real
masyarakat juga kurang relevant. Banyak lulusan yang bekerja di sebuah bidang,
namun memiliki latar belakang yang sesuai dengan bidang tersebut. Salah satu
contohnya adalah banyak lulusan sarjana Pertanian yang justru bekerja di
perkantoran, bukan bekerja demi mengamalkan ilmu yang dipelajarinya. Jadi, ijazah
sarjana seseorang seperti fomalitas yang digunakan untuk memasuki bidang yang
umumnya adalah kepegawaian, meskipun berlatar belakang pertanian, perikanan,
ilmu murni dll.
Efek kurangnya relevansi ini juga bisa dilihat dari tingginya angka lulusan
terdidik di indonesia yang menganggur. Jika orang – orang terdidik menyumbang
angka pengangguran yang cukup tinggi, maka apakah lulusan sekolah sekarang ini
dapat dianggap lebih sukses. Bahkan banyak orang yang tidak mengenyam
pendidikan formal sekolah banyak yang sukses.
Pendidikan seharusnya di main set dapat dilakukan dimana saja. Pendidikan
dapat terjadi di Rumah, di masjid, di jalanan, di hutan, dll. Sekolah pun tempat
pendidikan dimana guru dan murid ditempatkan pada suatu daerah dengan sistem
tertentu. Namun, ilmu sekolah umumnya hanya mengajarkan tentang cara membaca,
menghitung, dan menulis. Di sekolah seperti menyiapkan calon-calon tenaga kerja
yang dapat mengerjakan pekerjaan kantor. Padahal banyak ilmu di luar sekolah yang
juga bermanfaat untuk masyarakat. Ilmu perdagangan, seni lokal,