Anda di halaman 1dari 4

BAB II

Review Jurnal Tentang Organofosfat

Judul ANALISIS RESIDU PESTISIDA ORGANOFOSFAT PADA


SIMPLISIA TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
Volume Volume 06
Tahun 2009
Penulis Wiranti Sri Rahayu, Dwi Hartanti, dan Handoyo
Tanggal 05 Juni 2018
Review
Tujuan Untuk mengetahui ada tidaknya residu pestisida organofosfat pada
simplisia temulawak dan melakukan validasi metode analisis residu
organofosfat dengan metode spektrofotometri UV-Vis
Subjek - Kandungan residu pestisida organofosfat pada simplisia
Penelitian temulawak
- Metode Spektrofometri UV-Vis

Metode Metode dekstrusi basah yang berarti proses perombakan senyawa


Penelitian organik dengan menggunakan asam kuat, baik tunggal maupun
campuran, kemudian akan dilanjutkan dengan oksidasi
menggunakan zat oksidator sehingga dihasilkan senyawa
anorganik bebas

Pada penelitian ini penulis menggunakan asam kuat berupa : asam


klorida, asam nitrat, dan asam perklorat. Dan senyawa oksidator :
kalium dihidrogen, ammonium molibdat, dan bismuth subnitrat
Pembahasan Pada bagian pembahasan penulis membaginya dalam empat sub
bahasan : Uji presisi, Uji LOD dan LOQ, uji Akurasi, dan
penetapan kadar.

Dimana uji presisi ukuran yang menunjukkan penyebaran data


yang diperoleh jika pengukuran dilakukan secara berulang.
Semakin menyebar data maka semakin rendah tingkat presisi dari
metode/instrumen tersebut.

Uji LOD digunakan untuk mengetahui nilai konsentrasi zat yang


diukur pada saat metode/instrumen mulai mendeteksi keberadaan
zat tersebut tetapi belum bisa dikuantifikasi secara tepat.
Sedangkan yang dimaksud LOQ adalah nilai konsentrasi terendah
dari zat yang diukur pada saat metode/instrumen dapat mendeteksi
zat tersebut dengan akurasi dan presisi yang baik.
Uji akurasi menunjukkan ukuran yang menunjukkan kedekatan
hasil analisis terhadap nilai yang sebenarnya.

Dalam empat sub pokok bahasan diatas penulis menjelaskan


dengan baik, namun ada beberapa bagian yang belum dijelaskan,
seperti tujuan dari uji LOD dan LOQ dan interpretasinya, namun
terlepas dari hal tersebut, pembahasan yang dituliskan oleh penulis
sudah mudah untuk dipahami

Kesimpulan Pada bagian kesimpulan, penulis memaparkan dan menjelaskan


bahwa kadar rata-rata residu organofosfat sebesar (72,678 ppm).
Kadar yang diperoleh menunjukan kadar yang terkandung dalam
simplisia temulawak tersebut diatas batas maksimum residu
pestisida organofosfat menurut BPOM RI,2004 yaitu < 0.005 ppm,
sehingga temulawak tersebut kurang aman untuk dikonsumsi dan
digunakan sebagai bahan obat.

Pada bagian kesimpulan ini penulis cukup baik dalam menjelaskan


persentase kadar residu organofosfat yang terkandung dalam
simplisia temulawak dan alasan keamanannya. Namun penulis
belum mencantumkan hasil dari validasi yang telah beliau gunakan.
Meskipun, hasil tersebut telah dituliskan dalam abstrak namun,
seharusnya hal tersebut tetap dipaparkan dalam kesimpulan, karena
kesimpulan adalah jawaban dari tujuan.

Kekuatan - Metode yang digunakan sudah tepat, karena dengan


menggunakan metode dekstruksi basah tidak banyak bahan
yang hilang dengan suhu pengabuan yang sangat tinggi.
Sehingga dapat meminimalkan adanya kesalahan pada saat
pengujian selanjutnya

Kelemahan - Penulis kurang lengkap dalam menyimpulkan keseluruhan isi


dari penelitian ini
- penulis kurang detail dalam memberikan hasil yang didapat
dalam penelitian ini dan parameter apa saja yang digunakan.
Review Jurnal Tentang Organoklorin

ANALISIS RESIDU PESTISIDA ORGANOKLORIN PADA


Judul RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica) SECARA M
SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET VISIBEL
Volume Volume: 06
Tahun: 2009
Penulis Wiranti Sri Rahayu, Dwi Hartanti, Agus Mulyono
Tanggal 05 Juni 2018
review
Untuk mengetahui penetapan kadar organoklorin dalam rimpang
Tujuan
kunyit dan validasi metode analisis spektrofotometri UV-Vis.
Subjek kandungan residu pestisida organoklorin pada rimpang kunyit
Penelitian (Curcuma demostica)
 Metode spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk
menetapkan kadar organoklorin dalam rimpang kunyit. Metode
ini dididasarkan pada pembentukan kompleks antara merkuri
ion (II) tiosianat dan besi (III) dan diamati absorbansinya pada
panjang gelombang 455,5 nm.
Metode
 Pada penelitian ini penulis menggunakan asam kuat berupa:
Penelitian
asam nitrat, HCl, dan larutan pereaksi. Dan senyawa oksidator:
merkuri (II) tiosianat (pa, Merck), merkuri (II) klorida (pa;
Merck), besi (III) nitrat (pa;Merck), asam nitrat 70% (pa;
Merck), asetonitril (pa; Merck), aquabidest (Otsuka), asam
klorida (pa; Merck).
 Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh panjang
gelombang maksimum sebesar 455,5 nm. Panjang gelombang
ini digunakan untuk mengukur serapan larutan standar pada
Hasil dan pembuatan kurva baku dan penetapan kadar. Pada penelitian
Pembahasan ini penulis melakukan beberapa pengujian berupa: operating
time, kurva baku, persisi, dan akurasi
 Operating time adalah untuk mengetahui pada menit keberapa
reaksi stabil dan ditandai dengan angka absorbansi yang
konstan, dan reaksi yang stabil diperoleh pada menit ke 5-6,
sehingga ditetapkan operating time pada menit ke 5.

 Kurva baku: Persamaan yang diperoleh y= 0,00345x + 0,127


dan nilai r menunjukkan 0,9855. Presisi: diperoleh serapan
rata-rata 0,3192, dan nilai SD sebesar 2,4835.102, dan nilai
RSD sebesar 0.778%. RSD dikatakan baik apanila nilai < 2%
(Suharman,1995). Akurasi: diperoleh nilai rata recovery
sebesar 107,43%. Hasil tersebut telah memenuhi persyaratan.
 Sistematik untuk masing-masing konsentrasi diperoleh rata-
rata sebesar 7,439% sehingga menunjukkan metode tersebut
memenuhi criteria akurat. LOD dan LOQ Berdasarkan
perhitungan menunjukkan bahwa batas deteksi untuk LOD
adalah 21,565 ppm sedangkan batas kuantitas LOQ adalah
71,884 ppm. Dari tabel 3 diperoleh kadar rata-rata residu
organoklorin sebesar 461,3 ppm. Kadar yang diperoleh
menunjukkan bahwa kadar yang terkandung dalam simplisia
temulawak terdapat diatas batas.
Terdapat kadar rata-rata residu organoklorin pada rimpang kunyit
sebesar 461,3 ppm. Kadar residu pestisida tersebut berada diatas
batas maksimum menurut BPOM RI (2004) yaitu < 0,005 ppm,
Kesimpulan sehingga kunyit tersebut kurang aman untuk dikonsumsi atau
digunakan. Kadar organoklorin dalam rimpang kunyit dapat
ditimbulkan oleh penggunaan pestisida secara langsung dan tak
langsung (akibat pencemaran pestisida di sekitarnya).