Anda di halaman 1dari 13

13.

1 PENGERTIAN SAK ETAP


Pada tanggal 19 Mei 2009, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK)
mengesahkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP). SAK ETAP ini nampak seide dengan International Financial
Reporting Standard for Small and Medium-sized Entities (IFRS for SMEs).
Meskipun memiliki judul yang berbeda, namun baik SAK ETAP maupun IFRS
for SMEs sama-sama diperuntukkan bagi entitas tanpa akuntabilitas publik, hanya
saja istilah yang digunakan sebagai judul pada
IFRS adalah small and medium-sized entities (SMEs). Jadi, apabila kita
membandingkan judul pada IFRS for SMEs dan SAK ETAP, maka istilah entitas
tanpa akuntabilitas publik) sama pengertiannya dengan small and medium-sized
entities. Apabila SAK ETAP telah disahkan pada bulan Mei 2009, IFRS for SMEs
sendiri baru disahkan pada bulan Juli 2009. Standar Akuntansi Keuangan untuk
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) adalah standar akuntansi yang
disusun sebagai acuan dan dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa
akuntabilitas publik.
SAK ETAP menggunakan acuan IFRS for Small Medium Enterprises (SME) yang
lebih sederhana antara lain:
1) Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan.
2) Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode
ekuitas.
3) Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.
4) Laporan keuangan sesuai SAK ETAP menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, kinerja, dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna
luas.
Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil dan menengah
dapat menyusun laporan keuangannya sendiri dan dapat diausit untuk
mendapatkan opini audit. Informasi keuangan yang sederhana tetapi memberikan
informasi yang andal. SAK ETAP disusun dengan mengadopsi IFRS for SME
dengan modifikasi sesuai dengan kondisi Indonesia.

13.2 KONSEP DAN PRINSIP PERVASIF SAK ETAP


1) Laporan keuangan,
2) Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuanga (dapat dipahami,
relevan, materialitas, keandalan, substansi mengungguli bentuk,
pertimbangan sehat, kelengkapan, dapat dibandingkan, tepat waktu, dan
keseimbangan antara biaya dan manfaat).
3) Posisi keuangan: asset, kewajiban, ekuitas,
4) Kinerja keuangan: pendapatan dan beban,
5) Pengakuan dan pengukuan unsur-unsur laporan keuangan,
6) Dasar akrual,
7) Saling hapus tidak diperkenankan.

13.3 RUANG LINGKUP SAK ETAP


Digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik yaitu:
1) Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik,
2) Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose
financial statement) bagi pengguna eksternal, Contoh pengguna eksternal
adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha,
kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
3) Entitas dengan akuntabilitas publilk signifikan boleh menggunakan SAK
ETAP jika diijinkan oleh otoritas berwenang. SE No.11/37/DKBU Bank
Indonesia tanggal 31 Desember 2009 yang menetapkan standar akuntansi
keuangan untuk BPR adalah SAK ETAP dan SE No. 12/14/DKBU Bank
Indonesia tanggal 1 Juni 2010 yang menetapkan penggunaan Pedoman
Akuntansi Bank Perkreditas Rakyat (PA – BPR) yang diberlakukan sejak 1
Januari 2010.
SAK ETAP, dimaksudkan untuk digunakan oleh Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (ETAP), yaitu entitas yang:
1) Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
2) Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna
eksternal
Entitas dengan akuntabilitas publik signifikan adalah:
1) Telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau sedang dalam proses
pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau
regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau
2) Menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi,pialang dan atau pedagang efek,
dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan
SAK ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan
SAK ETAP. Contoh: Bank Perkreditan Rakyat
Entitas berakuntabillitas publik adalah:
1) Perusahaan kecil yang memiliki saham di pasar modal.
2) Perusahaan manufaktur besar (bukan emiten).
3) Bank umum besar (bukan emiten).
4) Entitas yang bisnis satu-satunya adalah pendapatan bunga atas uang yang
dipinjamkan kepada nasabah. Entitas ini memperoleh semua dana dari
seorang pemilik yang milyuner.
5) Laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama
sebagian besar pengguna laporan keuangan, misalnya: pemegang saham,
kreditor, pekerja, dan masyarakat dalam arti luas.

13.4 KARAKTERISTIK SAK ETAP


1) Stand alone accounting standard (tidak mengacu ke SAK Umum)
2) Mayoritas menggunakan historical cost concepts.
3) Hanya mengatur transaksi yang umum dilakukan Usaha Kecil dan
Menengah
4) Pengaturan lebih sederhana dibandingkan SAK Umum.
5) Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang paling sederhana.
6) Penyerdehanaan pengakuan dan pengukuran.
7) Pengurangan pengungkapan.
8) Tidak akan berubah selama beberapa tahun.

13.5 LAPORAN KEUANGAN SAK ETAP


Laporan keuangan yang dipersiapkan sesuai dengan SAK ETAP untuk
menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas
yang berguna untuk pengguna luas yang tidak dalam posisi meminta laporan
untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu, misalnya diberikan kepada: Bank,
Pemilik, dan Penyandang dana.

Penyajian Laporan Keuangan


Entitas harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit
and unreserved statement) atas kepatuhan terhadap SAK ETAP dalam catatan
laporan keuangan. Terdiri dari:
1) Penyajian Wajar
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyarakatkan
penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa, dan kondisi lain yang
sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan asset, kewajiban,
penghasilan, dan beban.Penyajian wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan dan arus kas. Entitas yang menggunakan SAK ETAP harus
secara eksplisit menyatakan secara penuh atas kepatuhan terhadap SAK
ETAP dalam catatan laporan keuangan. Entitas harus menilai
kelangsungan usaha pada saat menyusun laporan keuangan. Entitas
menyajikan laporan keuangan minimal satu kali dalam setahun.
Informasi komparatif dengan periode sebelumnya dengan keunggulan
yang sama. Pos-pos yang material disajikan terpisah.
2) Kepatuhan terhadap SAK ETAP
Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat
suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved
statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan.
Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP
kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP.
3) Kelangsungan Usaha
Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang
menggunakan SAK ETAP membuat penilaian atas kemampuan entitas
melanjutkan kelangsungan usahanya.
4) Frekuensi Pelaporan
Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk
informasi komparatif) minimum satu tahun sekali.
5) Konsistensi Penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar perioda
harus konsiseten kecuali, Terjadi perubahan yang signifikan atas sifat
operasi entitas atau perubahan penyajian atau pengklasifikasian
bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik sesuai kriteria pemilihan
dan penerapan kebijakan akuntansi, atau SAK ETAP mensyaratkan suatu
perubahan penyajian. Penyajian dan klasifikasi pos-pos harus konsisten,
kecuali:
(1) Terjadi perubahan signifikan operasi entitas atau perubahan tersebut
menghasilkan penyajian yang lebih andal dan relevan.
(2) SAK ETAP mensyaratkan perubahan penyajian.
(3) Reklasifikasi harus dilakukan retrospektif, kecuali tidak praktis dapat
secara prospektif.
(4) Jika prospektif: diungkapkan sifat reklasifikasi dan jumlah pos yang
direklasifikasi serta alasannya.
6) Informasi Komparatif
Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan perioda
sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk
informasi dalam laporan keuangn dan catatan atas laporan keuangan).
7) Materialitas dan Agregasi
Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan
sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang
memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Kelalalian dalam
mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap
material jika, baik secara individuan maupun bersama-sama, dapat
memengaruhi pengguna laporan keuangan dalam penggambilan
keputusan ekonomi. Besaran dan sifat unsur tersebut dapat menjadi
factor penentu.
8) Identifikasi Laporan Keuangan Lengkap
Terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan
arus kas, catatan atas laporan keuangan. Perubahan perioda laporan
keuangan sehingga perioda laporan berbeda, maka ETAP
mengungkapkan:
(1) Fakta tersebut.
(2) Alasan penggunaan perioda yang lebih pendek atau lebih panjang.
(3) Fakta bahwa jumlah informasi komparatif dalam laporan keuangan
yang terkait tidak dapat diperbandingkan.
(4) Identifikasi secara jelas setiap komponen laporan keuangan.
Informasi berikut, jika perlu, pada setiap halaman:
(1) Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak
laporan perioda terakhir;
(2) Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana
yang lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan;
(3) Mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dalam Bab 25 Mata Uang
Pelaporan;
(4) Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan
keuangan.
Catatan laporan keuangan:
(1) Domisili , bentuk hukum dan alamat kantor yang terdaftar;
(2) Penjelasan sifat operasi dan aktivitas Utama.

13.6 MANFAAT DAN TUJUAN SAK ETAP


SAK ETAP dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan
keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan
memiliki prinsip going concern yakni menginginkan usahanya terus berkembang.
Untuk mengembangkan usaha perlu banyak upaya yang harus dilakukan. Salah
satu upaya itu adalah perlunya meyakinkan publik bahwa usaha yang dilakukan
dapat dipertanggungjawabkan. Dalam akuntansi wujud pertanggungjawaban
tersebut dilakukan dengan menyusun dan menyajikan laporan keuangan sesuai
dengan standar yang telah ditentukan. Penyajian laporan keuangan yang sesuai
dengan standar, akan membantu manajemen perusahaan untuk memperoleh
berbagai kemudahan, misalnya: untuk menentukan kebijakan perusahaan di masa
yang datang; dapat memperoleh pinjaman dana dari pihak ketiga, dan sebagainya.
Standar ETAP ini disusun cukup sederhana sehingga tidak akan menyulitkan
bagi penggunanya yang merupakan entitas tanpa akuntabilitas public (ETAP)
yang mayoritas adalah perusahaan yang tergolong usaha kecil dan menengah.
ETAP sebagaimana kepanjangan yang telah diuraikan di atas merupakan unit
kegiatan yang melakukan aktifitas tetapi sahamnya tidak dimiliki oleh masyarakat
atau dengan kata lain unit usaha yang dimiliki oleh orang perorang atau
sekelompok orang, dimana kegiatan dan modalnya masih terbatas. Jenis kegiatan
seperti ini di Indonesia menempati angka sekitar 80 %. Oleh sebab itu perlu
adanya perhatian khusus dari semua pihak yang berkepentingan dalam hal
penyajian laporan keuangan.

13.7 IMPLEMENTASI SAK ETAP


PSAK ETAP mulai diberlakukan pada akhir tahun 2011. Penggunaan PSAK
ini harus konsisten untuk tahun-tahun berikutnya. Apalagi yang sudah
memutuskan untuk menggunakan PSAK umum dalam penyajian laporan
keuangan, maka untuk selanjutnya tidak boleh merevisi kebijakannya ke PSAK
ETAP.
Entitas dapat menerapkan SAK ETAP secara retrospektif, namun jika tidak
praktis, maka entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara
prospektif. Entitas yang menerapkan secara prospektif dan sebelumnya telah
menyusun laporan keuangan maka:
1) Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan
dalam SAK ETAP.
2) Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP tidak
mengijinkan pengakuan tersebut.
3) Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset,
kewajiban atau komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan
sebelumnya, tetapi merupakan jenis aset, kewajiban, atau komponen
ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP.
4) Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban
yang diakui.
Penerapan secara retrospektif artinya bahwa kebijakan akuntansi yang baru
diterapkan seolah-olah kebijakan akuntansi tersebut telah digunakan sebelumnya.
Oleh karena itu, kebijakan akuntansi yang baru, diterapkan pada kejadian atau
transaksi sejak tanggal terjadinya kejadian atau transaksi tersebut. Sedangkan
penerapan secara prospektif artinya kebijakan akuntansi yang baru, diterapkan
pada kejadian atau transaksi yang terjadi setelah tanggal perubahan. Tidak ada
penyesuaian yang dilakukan terhadap periode sebelumnya.
Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal neracanya
berdasarkan SAK ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal
yang sama dengan menggunakan kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Hasil
penyesuaian yang muncul dari transaksi, kejadian atau kondisi lainnyasebelum
tanggal efektif SAK ETAP diakui secara langsung pada saldo laba pada tanggal
penerapan SAK ETAP.
Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan
untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak
berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang
diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian
menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak
memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas
tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan
SAK ETAP. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan
PSAK non- ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP.
Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun
laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat
menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETA
ini dalam menyusun laporan keuangan. Entitas tersebut menerapkan persyaratan
dalam paragraf 29.1 – 29.3.

13.8 KEBIJAKAN AKUNTANSI SAK ETAP


Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, yang terdiri dari perubahan
estimasi dan Koreksi kesalahan periode lalu. Kebijakan akuntansi adalah prinsip,
dasar, konvensi, aturan dan praktik tertentu yang diterapkan oleh suatu entitas
dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangannya. Jika SAK ETAP secara
spesifik mengatur transaksi, kejadian atau keadaan lainnya, maka entitas harus
menerapkan SAK ETAP. Namun, jika dampak tidak material maka entitas tidak
perlu mengikuti persyaratan dalamSAK ETAP. Jika transaksi, peristiwa tidak
diatur spesifik dalam SAK ETAP, maka manajemen dengan menggunakan
judgementnya mengembangkan dan menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang
menghasilkan informasi:
1) Relevan bagi pemakai untuk kebutuhan pengambilan keputusan ekonomi;
dan
2) Andal yaitu dalam laporan keuangan yang menyajikan dengan jujur posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas dari suatu entitas.
3) Mencerminkan substansi ekonomi dari transaksi, peristiwa dan kondisi
lainnya, serta tidak hanya mencerminkan bentuk hukumnya.
4) Netral yaitu bebas dari bias.
5) Mencerminkan kehati-hatian.
6) Bersifat lengkap dalam semua hal yang material.
Acuan dalam membuat pertimbangan :
1) Persyaratan dan panduan dalamSAK ETAP yang berhubungan dengan isu
yang serupa dan terkait; dan
2) Definisi, kriteria pengakuan dan konsep pengukuran untuk aset,
kewajiban, pendapatan dan beban dan prinsip-prinsip pervasif di Bab 2
Konsep dan Prinsip Pervasif.
3) PSAK non ETAP dan panduan tambahan dapat dijadikan rujukan, namun
tidak boleh bertentangan dengan Bab 9.5

13.9 PERBEDAAN LAPORAN KEUANGAN SAK ETAP DENGAN


PSAK.
SAK ETAP PSAK
 Neraca  Laporan posisi keuangan (neraca)
 Laporan laba rugi  Laporan laba rugi komprehensif
 Laporan perubahan ekuitas  Laporan perubahan ekuitas
 Laporan arus kas  Laporan arus kas
 Catatan atas laporan keuangan  Catatan atas laporan keuangan
Laporan posisi keuangan pada awal
periode komparatif untuk penyajian
kembali
DAFTAR PUSTAKA

Dewan Standar Akuntansi Keuangan. 2009. Standar Akuntansi Keuangan Entitas


Tanpa Akuntabilitas Publik. Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI.
Majalah Akuntan Indonesia; Edisi No.19/Tahun III/Agustus 2009
(http://www.iaiglobal.or.id/data/referensi/ai_edisi_19.pdf)
http://helloimratnaa.blogspot.com/2013/01/mungkinkah-lpd-mengadopsi-dan.html
http://tsetyaernawati.wordpress.com/2012/04/05/rangkuman-isi-sak-etap/

Nama anggota yang aktif mengerjakan:

Ni Kadek Lisa Irawati (1607531151) (11)

Ni Putu Pradina Mas Jaya Ningrum (1607531153) (12)

Ni Luh Putu Hendrayanti (1607531157) (14)

Ni Luh Putu Trisna Dewi (1607531175) (28)

Giovaninho Ferreira Da Costa (1607531318) (32)


Surat Pernyataan

Om Swastiastu

Ringkasan Materi Perkuliahan (RMK) SAP 13 Mengenai SAK ETAP


untuk Lembaga Keuangan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Akuntansi Perbankan dan LPD. Sehubungan dengan hal tersebut, kami
menyatakan bahwa RMK ini murni dari hasil diskusi dan kerja sama kami
sekelompok dengan referensi dari buku dan sumber lainnya seperti yang telah
dicantumkan dalam daftar pustaka. Kami dari kelompok 6 dengan jumlah anggota
lima orang telah aktif seluruhnya mengerjakan tugas ini sesuai dengan pembagian
materi yang disepakati.

Demikian surat pernyataan ini kami sampaikan atas perhatian Bapak kami
ucapkan Terimakasih.
AKUNTANSI PERBANKAN DAN LPD
SAP 13
SAK ETAP UNTUK LEMBAGA KEUANGAN

Oleh Kelompok 6 :

Ni Kadek Lisa Irawati (1607531151) (11)

Ni Putu Pradina Mas Jaya Ningrum (1607531153) (12)

Ni Luh Putu Hendrayanti (1607531157) (14)

Ni Luh Putu Trisna Dewi (1607531175) (28)

Giovaninho Ferreira Da Costa (1607531318) (32)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA
2018