Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH TEKNOLOGI PANGAN FUNGSIONAL

MATERI
PENGUJIAN KOMPONEN BIOAKTIF POLIFENOL
SEBAGAI ANTIOKSIDAN

Disusun Oleh :
Roy Widhi Dwi Firmansyah / 161710101021
Kelompok 13 / THP-A

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
November, 2018
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indoneisa merupakan negara tropis yang memiliki berbagai macam jenis
tanaman, terutama tanaman pangan. Tanaman pangan banyak mengandung
komponen bioaktif, salah satunya yaitu polifenol yang dapat dimanfaatkan
sebagai bahan dalam pembuatan pangan fungsional. Senyawa polifenol ini banyak
menunjukkan aktivitasnya atau manfaatnya sebagai antioksidan. Senyawa
polifenol biasanya banyak ditemukan dalam rempah-rempah, buah-buahan,
sayuran, dan lain-lain.
Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan yang
memiliki tanda khusus yaitu memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya.
Polifenol ini memiliki sifat fungsional sebagai antioksidan. Antioksidan
merupakan senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih elektron
kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas tersebut dapat diredam. Kandungan
polifenol pada masing-masing bahan pangan pastinya berbeda-beda, tergantung
pada bahan pangan tersebut. Kandungan polifenol dalam bahan pangan ini dapat
diukur dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteu, dimana reagen Folin-
Ciocalteu (campuran campuran fosfomolibdat dan fosfotungstat) memiliki
kemampuan dalam mereduksi gugus hidroksi dan polifenol dan kandungan total
polifenol dalam bahan dinyatakan dalam GAE (Gallic Acid Equivalent). Oleh
karena itu dilakukanlah praktikum ini untuk mengetahui cara pengujian polifenol
dan antioksidan dengan benar.

1.2 Tujuan
Adapun dilakukannya praktikum ini adalah untuk :
1. Mengetahui pengolahan cascara, secang, dan serai sebagai minuman
fungsional.
2. Mengetahui cara pengujian total senyawa komponen bioaktif polifenol
dari sampel.
3. Mengetahui cara pengujian aktivitas antioksidan dari sampel.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Polifenol


Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat
ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya.
Polifenol memiliki spektrum luas dengan sifat kelarutan pada suatu pelarut yang
berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh gugus hidroksil pada senyawa tersebut
yang dimiliki berbeda jumlah dan posisinya. Polifenol mudah larut dalam air
karena berikatan dengan gula sebagai glikosida dan biasanya terdapat dalam
vakuola sel. Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan
seperti warna daun saat musim gugur. Polifenol banyak ditemukan dalam buah-
buahan, sayuran, dan biji-bijian (Arnelia, 2002). Beberapa polifenol juga berperan
sebagai antioksidan, turunan polifenol sebagai antioksidan dapat menstabilkan
radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal
bebas, dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal
bebas. Polifenol merupakan komponen yang bertanggung jawab terhadap aktivitas
antioksidan dalam buah dan sayuran (Hattenschwiler dan Vitousek, 2000).

Gambar 1. Struktur Dasar Polifenol

2.2 Pengujian Polifenol Metode Follin


Prinsip pengujian polifenol metode Folin-Ciocalteu yaitu dengan reaksi
oksidasi dan reduksi kolorimetrik untuk mengukur semua senyawa fenolik dalam
sampel uji. Pereaksi Folin-Ciocalteu merupakan larutan kompleks ion polimerik
yang dibentuk dari asam fosfomolibdat dan asam heteropolifosfotungstat. Pereaksi
ini terbuat dari air, natrium tungstat, natrium molibdat, asam fosfat, asam klorida,
litium sulfat, dan bromin (Pourmorad et al, 2006). Selama reaksi belangsung,
gugus fenolik-hidroksil bereaksi dengan pereaksi Folin-Ciocalteu, membentuk
kompleks fosfotungstat-fosfomolibdat berwarna biru dengan struktur yang belum
diketahui dan dapat dideteksi dengan spektrofotometer. Warna biru yang
terbentuk akan semakin pekat setara dengan konsentrasi ion fenolat yang
terbentuk, artinya semakin besar konsentrasi senyawa fenolik maka semakin
banyak ion fenolat yang akan mereduksi asam heteropoli sehingga warna biru
yang dihasilkan semakin pekat (Singleton dan Rossi, 1965).

Gambar 2. Reaksi Senyawa Fenol dengan Pereaksi Folin-Ciocalteu

2.3 Pengertian Antioksidan


Antioksidan merupakan suatu senyawa atau komponen kimia yang dalam
kadar atau jumlah tertentu mampu menghambat atau memperlambat kerusakan
akibat proses oksidasi. Tubuh manusia tidak mempunyai cadangan antioksidan
dalam jumlah berlebih, sehingga apabila terbentuk banyak radikal maka tubuh
membutuhkan antioksidan eksogen. Adanya kekhawatiran kemungkinan efek
samping yang belum diketahui dari antioksidan sintetik menyebabkan antioksidan
alami menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan (Winarti, 2010). Antioksidan di
luar tubuh dapat diperoleh dalam bentuk sintesik dan alami. Sumber antioksidan
sintesik antara lain seperti buthylatedhydroxytoluene (BHT), buthylated
hidroksianisol (BHA) dan ters-butylhydroquinone (TBHQ). Sedangkan sumber
antioksidan alami adalah tumbuh-tumbuhan yang mengandung senyawa
flavonoid, klorofil, dan tanin (Lie, 2012).
2.4 Pengujian Ativitas Antioksidan Metode DPPH
Metode DPPH dilakukan dengan cara mengukur penangkapan radikal
sintetik ( DPPH dan ABTS) dalam pelarut organik polar seperti etanol pada suhu
kamar (Desmarchelier, et al., 1998). DPPH merupakan radikal bebas yang dapat
bereaksi dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, dapat berguna
untuk pengujian aktivitas antioksidan komponen tertentu dalam suatu ekstrak. Hal
ini dikarenakan adanya elektron yang tidak berpasangan, DPPH memberikan
serapan kuat pada 517 nm. Ketika elektronnya menjadi berpasangan oleh
keberadaan penangkap radikal bebas, maka absorbansinya menurun secara
stokiometri sesuai jumlah elektron yang diambil. Keberadaan senyawa
antioksidan dapat mengubah warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning
(Dehpour et al., 2009).

2.5 Bahan Yang Digunakan


2.5.1 Cascara
Cascara adalah kulit dari buah kopi yang dikumpulkan setelah biji kopi
dikeluarkan dari ceri atau buah kopinya dan dikeringkan (Putri, 2017). Cascara
yang berasal dari buah kopi arabika dan dihasilkan dari proses basah memiliki
karakteristik yang lebih lembut namun citarasa lemon tea dan brown sugar tidak
terlalu mencolok. Cascara yang berasal dari pengolahan buah kopi dari natural
process memiliki citarasa lemon tea, brown sugar, asam jawa, dan citrus yang
dominan. Cascara mengandung antioksidan yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari
kandungan antioksidan blueberry (Hamdan dan Santani, 2018).
2.5.2 Secang
Secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan jenis tumbuhan herbal yang
digunakan oleh masyarakat sebagai campuran air minum sehari-hari. Batang
secang biasa digunakan sebagai pewarna alami karena menghasilkan warna merah
cerah dan ungu muda serta akar secang biasa digunakan sebagai pewarna alami
yaitu menghasilkan warna kuning muda. Klasifikasi secang menurut
Tjitrosoepomo (1994) dalam Fadliah (2014) adalah sebagai berikut:
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Family : Caesalpiniaceae
Genus : Caesalpinia
Species : Caesalpinia sappan L.
Kandungan kimia yang terdapat pada kayu secang, yaitu asam galat, tanin,
resin, resorsin, brazilin, brazilein, d-α-phellandrene, oscimene, dan minyak atsiri
(Heyne, 1987 dalam Sufiana dan Harlia, 2012). Uji fitokimia menunjukkan bahwa
kayu secang mengandung senyawa kimia dari kelompok alkaloid, flavonoid, dan
saponin. Senyawa fitokimia yang berperan sebagai antioksidan pada kayu secang
adalah brazilin dan flavonoid (Shafwatunida, 2009 dalam Sufiana dan Harlia,
2012). Ekstrak kayu secang juga mengandung terpenoid yang tinggi. Aktivitas
antioksidan yang tinggi dari ekstrak kayu secang juga diduga karena kandungan
terpenoid, seperti monoterpen dan diterpen (Widowati, 2011)
2.5.3 Serai
Serai merupakan tumbuhan yang masuk ke dalam family rumputrumputan.
Dikenal juga dengan nama serai (Indonesia), dan sereh (Sunda). Tanaman ini
dikenal dengan istilah Lemongrass karena memiliki bau yang kuat seperti lemon,
sering ditemukan tumbuh alami di negara-negara tropis (Wijayakusumah, 2005).
Berikut merupakan klasifikasi tanaman serai menurut Saragih (2016) :
Divisi : Plantae
Sub divisi : Angiospermae
Class : Monocotyledonae
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Cymbopogon
Spesies : Cymbopogon citratus
Komposisi minyak serai ada yang terdiri dari beberapa komponen, yang
isinya antara lain alkohol, hidrokarbon, ester, aldehid, keton, oxida, lactone,
terpene dan sebagainya. Komponen utama penyusun minyak serai yaitu sitronelal
(antioksidan), geraniol (antioksidan), sitronellol, geraniol asetat, sitronellil asetat,
L- Limonene, elemol dan seskwiterpene lain, elemene dan Cadinene (Guenther,
2006).
BAB 3. BAHAN DAN METODE

3.1 Bahan
3.1.1 Bahan pangan
a. Gula kristal putih
b. Secang
c. Cascara
d. Serai
e. Aquades
3.1.2 Bahan kimia
a. Etanol
b. Follin-ciocalteu
c. Na2CO3
d. Asam galat standar
e. DPPH

3.2 Persiapan Bahan


3.2.1 Pembuatan ekstrak cascara
Pada praktikumm ini, sebelum dimulainya pengujian dilakukan terlebih
dahulu pembuatan ekstrak. Pada pembuatan ekstrak cascara hal pertama yang
dilakukan adalah cascara ditimbang sebanyak 30 gram, setelah itu dilakukan
pengecilan ukuran. Pengecilan ukuran ini bertujuan untuk memperbesar luas
permukaan cascara sehingga proses ekstraksi nantinya dapat berjalan dengan
maksimal. Kemudian, cascara yang telah dikecilkan ukurannya ini ditambahkan
dengan air panas sebanyak 20ml lalu diekstraksi dengan didiamkan selama 20
menit. Setelah didiamkan selama 20 menit, lalu disaring untuk memisahkan
ampas cascara dan dihasilkan ekstrak cascara dengan tanpa ampas.
Cascara

Penimbangan 30
gram

Pengecilan ukuran

Penambahan air Ekstraksi 20 menit


panas 20 ml

Penyaringan Ampas

Ekstrak
cascara
Gambar 3. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Cascara

3.2.2 Pembuatan ekstrak secang


Pada praktikumm ini, sebelum dimulainya pengujian dilakukan terlebih
dahulu pembuatan ekstrak. Pada pembuatan ekstrak secang hal pertama yang
dilakukan adalah cascara ditimbang sebanyak 4 gram, setelah itu dilakukan
pengecilan ukuran. Pengecilan ukuran ini bertujuan untuk memperbesar luas
permukaan secang sehingga proses ekstraksi nantinya dapat berjalan dengan
maksimal. Kemudian, secang yang telah dikecilkan ukurannya ini ditambahkan
dengan air panas sebanyak 400ml lalu diekstraksi dengan didiamkan selama 7
menit. Setelah didiamkan selama 7 menit, lalu disaring untuk memisahkan ampas
secang dan dihasilkan ekstrak secang dengan tanpa ampas.
Secang

Penimbangan 4 gram

Pengecilan ukuran

Penambahan air Ekstraksi 7 menit


panas 400 ml

Penyaringan Ampas

Ekstrak secang

Gambar 4. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Secang

3.2.3 Pembuatan ekstrak serai


Pada praktikumm ini, sebelum dimulainya pengujian dilakukan terlebih
dahulu pembuatan ekstrak. Pada pembuatan ekstrak secang hal pertama yang
dilakukan adalah cascara ditimbang sebanyak 30 gram, kemudian dilakukan
pencucian dengan menggunakan air mengalir, pemcucian ini dilakukan bertujuan
untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang masih menempel pada serai. Serai
yang telah dicuci bersih, lalu dilakukan pengecilan ukuran. Pengecilan ukuran ini
bertujuan untuk memperbesar luas permukaan serai sehingga proses ekstraksi
nantinya dapat berjalan dengan maksimal. Lalu, serai yang telah dikecilkan
ukurannya ditambahkan dengan air panas sebanyak 240 ml kemudian diekstraksi
dengan cara diblender hingga serai halus. Campuran serai dan air panas yang telah
diblender ini kemudian disaring untuk memisahan ampas serai dan ekstrak serai
sehingga diperoleh ekstrak serai dengan tanpa ampas.
Serai

Penimbangan 30
gram

Pencucian

Pengecilan ukuran

Penambahan air Ekstraksi


panas 240 ml

Penyaringan Ampas

Ekstrak serai

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Serai

3.2.4 Pembuatan larutan gula


Pada pembuatan larutan gula, larutan gula dibuat dengan menggunakan
gua kristal putih. Gula kristal putih yang akan digunakan ditimbang terlebih
dahulu sebanyak 200 gram. Kemudian gula kristal putih sebanyak 200 gram
ditambahkan air sebanyak 200 ml, lalu dipanaskan dan diaduk untuk melarutkan
gula kristal putih yang digunakan sehingga diperoleh larutan gula.

Gula kristal putih

Penimbangan 20 gram

Penambahan air Pemanasan dan pengadukan


panas 200 ml

Larutan gula

Gambar 6. Diagram Alir Pembuatan Larutan Gula


3.3 Pembuatan Minuman
Pada praktikum pembuatan minuman fugsional hal pertama yang
dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, yaitu ekstrak
cascara, ekstrak secang, ekstrak serai, larutan gula, dan air. Ekstrak cascara,
ekstrak secang, ekstrak serai, lautan gula, dan air dicampurkan sesuai dengan
formulasi yang telah ditentukan. Kemudian campuran tersebut dimasukkan ke
dalam botol kaca lalu dilakukan pasteurisasi. Pasteurisasi ini dilakukan untuk
menghilangkan mikrorganisme dan kotoran yang ada pada minuman tersebut.
Kemudian setelah dipasteurisasi, minuman didinginkan hingga suhu ruang dan
disimpan pada suhu rendah untuk menjaga senyawa antioksidan yang terkandung
dalam minuman fungsional tersebut.

Ekstrak cascara, secang, dan serai

Penambahan larutan gula

Penambahan air

Pemasukan ke dalam botol

Pasteurisasi 30 menit

Penurunan hingga suhu ruang

Penyimpanan suhu rendah

Gambar 7. Diagram Alir Pembuatan Minuman Fugsional


Tabel 1. Formulasi Minuman Fungsional
Formula Cascara Secang (ml) Serai (ml) Gula (ml) Air (ml)
(ml)
F1 30 0 0 5 65
F2 40 0 0 5 55
F3 30 4 4 5 57
F4 40 4 4 5 47
F5 30 8 8 5 49
F6 40 8 8 5 39
F7 40 8 8 5 43

3.4 Prosedur Analisa


3.4.1 Uji Sensori
Pada praktikum ini dilakukan uji sensoris terhadap sampel yang ada.
Terdapat 7 sampel dengan perlakuan yang berbeda-beda. Pada uji sensoris ini
dilakukan dengan menggunakan panelis sebanyak 41 orang. Hal pertama yang
dilakukan pada uji sensoris ini adalah sampel minuman fungsional dengan ketujuh
perbedaan ini masing-masing dimasukkan ke dalam gelas kecil. Masing-masing
sampel minuman fungsional diberi kode dengan tiga digit angka acak. Pemberian
kode dengan tiga digit acak ini bertujuan agar tidak menimbulkan bias terhadap
masing-masing sampel. Setelah itu, ketujuh sampel minuman fungsional diberikan
kepada panelis, kemudian panelis melakukan uji sensoris sesuai dengan
keterangan yang ada pada kuisioner.

Gelas

Pemberian kode

Penambahan minuman fungsional

Pengujian
sensoris

Gambar 8. Diagram Alir Pengujian Sensoris


3.4.2 Uji Polifenol
Pada praktikum ini dilakukan pengujian kandungan polifenol terhadap
ketujuh sampel minuman fungsional. Sampel yang digunakan pada pengujian ini
adalah sebanyak 0,5 ml dari masing-masing sampel. Langkah pertama yang
dilakukan pada uji polifenol adalah sebanyak 0,5 ml dari masing-masing sampel
dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditera menggunakan aquades
hingga 5 ml. Penambahan aquades ini berfungsi sebagai pengenceran. Sampel
yang telah ditera hingga 5 ml kemudian ditambahkan dengan follin ciocalteu
sebanyak 0,5 ml. Penambahan follin ciocalteu ini berfungsi untuk megetahui
adanya polifenol pada sampel, follin ciocalteu akan mereduksi gugus hidroksil
polifenol sehingga molibdenum menjadi warna biru. Sampel yang telah
ditambahkan dengan follin ciocalteu lalu divorteks, Dilakukan vorteks ini
bertujuan agar larutan homogeny. Kemudian didiamkan selama 5 menit. Sampel
yang telah didiamkan selama 5 menit lalu ditambahkan dengan Na2CO3 sebanyak
1ml. Penambahan Na2CO3 ini berfungsi untuk menciptakan suasana basa pada
sampel. Sampel yang telah ditambahkan Na2CO3 lalu divorteks kembali agar
homogeny, kemudian ditutup dengan allumunium foil dan didiamkan selama 60
menit. Sampel yang telah didiamkan selama 60 menit diukur absorbansinya pada
panjang gelombang 765 nm.
Sampel 0,5 ml

Penuangan ke dalam tabung reaksi

Peneraan dengan aquades


hingga 5 ml

Penambahan follin ciocalteu 0,5


ml
Vorteks dan pendiaman 5 menit

Penambahan Na2CO3 7%
sebanyak 1 ml

Penutupan dengan allumunium foil

Vorteks dan pendiaman 60 menit

Pengukuran absorbansi 765 nm

Gambar 9. Diagram Alir Uji Polifenol


3.4.3 Aktivitas antioksidan
Pada praktikum in juga dilakukan pengujian aktivitas antioksidan terhadap
ketujuh sampel yang ada. Langkah pertama yang dilakukan pada pengujian ini
adalah masing-masing dari sampel diambil sebanyak 0,05ml lalu dimasukkan ke
dalam tabung reaksi. Tabung reaksi yang digunakan dipastikan telah dicuci
dengan menggunakan etanol. Pencucian tabung reaksi dengan etanol ini bertujuan
agar bekas larutan pada pengujian polifenol sebelumnya benar-benar tidak tersisa.
Kemudian, ditambahkan DPPH sebanyak 2,95ml. DPPHD ini berfungsi sebagai
parameter untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada sampel melalui proses
penangkapan radikal bebas oleh polifenol pada sampel. Lalu dilakukan
pengocokan, pengocokan ini dilakukan agar larutan homogen. Setelah itu bagian
atas dari tabung reaksi ditutup dengan aluminium foil, penutupan dengan
aluminium foil ini bertujuan agar sampel tidak terkontaminasi. Setelah itu
dilakukan pendiaman selama 30 menit untuk mereaksikan sampel dengan DPPH.
Kemudian dilakukan pembacaan nilai absorbansi sampel dengan menggunakan
spektofotometer dengan panjang gelombang 517nm.

Sampel 0,05 ml

Pemasukan dalam tabung reaksi

+DPPH 2,95 ml

Pengocokan

Penutupan bagian atas tabung reaksi


dengan aluminium foil

Pendiaman 30 menit

Pembacaan nilai absorbansi pada λ = 517 nm

Gambar 10. Diagram Alir Uji Aktivitas Antioksidan


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Minuman fungsional

Gambar 11. Minuman Fungsional Dengan Tujuh Formulasi Berbeda


4.1.2 Sensoris
8

6.8
7
6.4 6.3
6
5.8
6

4.7
Rata-Rata Nilai

5
4.3
4

0
F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7

Gambar 12. Diagram Hasil Pengujian Sensoris Minuman Fungsional Atribut Warna
7
6.4
6.2
6
6 5.8
5.2 5.3
5.1
5
Rata-Rata Nilai

0
F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7

Gambar 13. Diagram Hasil Pengujian Sensoris Minuman Fungsional Atribut Aroma

5.9
5.8
5.8

5.7

5.6
5.5
Rata-Rata Nilai

5.5
5.4 5.4
5.4
5.3
5.3
5.2 5.2
5.2

5.1

4.9
F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7

Gambar 14. Diagram Hasil Pengujian Sensoris Minuman Fungsional Atribut Rasa
6.2 6.1
6
6 5.9

5.8
Rata-Rata Nilai

5.6 5.5 5.5


5.4
5.4
5.2
5.2

4.8

4.6
F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7

Gambar 15. Diagram Hasil Pengujian Sensoris Minuman Fungsional Atribut


Keseluruhan
4.1.3 Kandungan polifenol
Tabel 2. Tabel Hasil Perhitungan Kandungan Total Polifenol Minuman Fungsional
Kandungan Total Polifenol (mg GAE/ml)
Sampel
Kel. Ulangan 1 Ulangan 2 Rata-Rata SD RSD
1 0,0822 0,0743 0,0783 0,0056 7,1440
F1
8 0,0424 0,0442 0,0433 0,0013 2,9251
2 0,0955 0,0977 0,0966 0,0016 1,6379
F2
9 0,1667 0,1640 0,1653 0,0019 1,1486
3 0,0894 0,0800 0,0847 0,0066 7,8486
F3
10 0,1327 0,1506 0,1416 0,0127 8,9405
4 0,0961 0,0954 0,0957 0,0005 0,5511
F4
11 0,0962 0,0991 0,0977 0,0020 2,0524
5 0,0798 0,0798 0,0798 0 0
F5
12 0,1173 0,1053 0,1113 0,0084 7,5820
6 0,1059 0,1201 0,1130 0,0100 8,8670
F6
13 0,1231 0,1180 0,1206 0,0036 2,9751
7 0,1045 0,0424 0,0734 0,0439 59,7775
F7
14 0,1012 0,1180 0,1096 0,0119 10,8773
0.18
Rata-Rata Kandungan Total Polifenol 0.1653
0.16
0.1416
0.14
0.1206
0.12 0.1113 0.113 0.1096
0.0966 0.09570.0977
0.1
0.0847
0.0783 0.0798
0.08 0.0734

0.06
0.0433
0.04

0.02

0
F1 F1 F2 F2 F3 F3 F4 F4 F5 F5 F6 F6 F7 F7
(Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel.
1) 8) 2) 9) 3) 10) 4) 11) 5) 12) 6) 13) 7) 14)

Gambar 16. Tabel Hasil Perhitungan Kandungan Total Polifenol Minuman Fungsional

Kurva Standard
0.120 y = 0.0746x + 0.0012
konsentrasi (mg)

0.100 R² = 0.9988
0.080
0.060
Series1
0.040
0.020 Linear (Series1)
0.000
0.000 0.500 1.000 1.500
Absorban

Gambar 17. Kurva Standar


Perhitungan kandungan total polifenol minuman fungsional F6 (kel.13)
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,847 – 0,038
= 0,809
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,809)- 0,0012
= 0,0616 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0616 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1231 mg GAE/mL

Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,813 – 0,038
= 0,775
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,775)- 0,0012
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1180 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1231 +0,1180
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,1206
2

∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,1231 −0,1206 )2 +(0,1180−0,1206 )2


Standardeviasi = √ =√ =0,0036
𝑛−1 2−1

RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100


= (0,0036/0,01206) x 100
= 2,9751
4.1.4 Aktivitas antioksidan
Tabel 3. Tabel Hasil Perhitungan Aktivitas Antioksidan Minuman Fungsional
Persen Penghambatan (%)
Sampel
Kel. Ulangan 1 Ulangan 2 Rata-Rata SD RSD
Blanko 0 0 0 0 0
1 10,131 6,317 8,224 2,697 32,793
F1
8 12,634 5,483 9,058 5,057 55,824
2 26,698 24,672 25,685 1,433 5,578
F2
9 74,255 61,740 67,998 8,849 13,014
3 12,157 19,070 15,614 4,888 31,307
F3
10 41,597 39,333 40,465 1,601 3,957
4 38,975 45,173 42,074 4,383 10,418
F4
11 62,694 64,005 63,349 0,927 1,463
5 41,716 44,696 43,206 2,107 4,877
F5
12 39,333 38,141 38,737 0,843 2,176
6 63,647 64,482 64,064 0,590 0,921
F6
13 56,973 63,409 60,191 4,551 7,561
7 62,098 51,251 56,675 7,669 13,532
F7
14 33,850 27,056 30,453 4,804 15,775

80
67.998
70 64.064
63.349
Rata-Rata Aktivitas Antioksidan

60.191
60 56.675

50
43.206
40.46542.074 38.737
40
30.453
30 25.685

20 15.614
8.224 9.058
10

0
F1 F1 F2 F2 F3 F3 F4 F4 F5 F5 F6 F6 F7 F7
(Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel. (Kel.
1) 8) 2) 9) 3) 10) 4) 11) 5) 12) 6) 13) 7) 14)

Gambar 18. Tabel Hasil Perhitungan Aktivitas Antioksidan Minuman Fungsional

Perhitungan Persen Penghambatan (Aktivitas Antioksidan) F6/Kelompok 13


Kelompok 13.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,361)/ 0,839 x 100%
= 56,973%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,307)/ 0,839x 100%
= 63,409%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 56,973%+63,409%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 60,191%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(56,973%−60,191%)2 +(63,409%−60,191%)2
=√ = 4,551
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (4,551/60,191) x 100
= 7,561

4.2 Pembahasan
4.2.1 Minuman Fungsional
Minuman fungsional merupakan minuman yang apabila dikonsumsi dapat
memberikan efek sehat bagi tubuh. Minuman fungsional merupakan jenis
minuman yang memiliki ciri fungsional, maka dari itu minuman fungsional
berperan dalam perlindungan tubuh terhadap penyakit, peningkatan fungsi tubuh
menjadi optimal, dan dapat memperlambat penuaan. Minuman fungsional ini
harus memenuhi tiga macam fungsi dari pangan fungsional, yaitu berfungsi
sebagai asupan zat gizi untuk kehidupan konsumen, berfungsi sebahai pemuasan
sensori (rasa, aroma, warna, tekstur baik), berfungsi sebagai meningkatkan
pertahanan tubuh dan memperbaiki sistem imun dan saraf tubuh (Sampoerno dan
Ferdiaz, 2001). Dalam praktikum ini, minuman fungsional dibuat dari campuran
cascara, secang, dan serai.
4.2.2 Sensori
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian sensoris terhadap tujuh
sampel minuman fungsional dengan formulasi yang berbeda-beda. Atribut yang
digunakan pada uji ini adalah atribut warna, aroma, rasa dan keseluruhan
Berdasarkan Gambar 12. dapat diketahui bahwa nilai rata-rata atribut warna F1
sampai dengan F7 berturut-turut 6; 5,8; 4,3; 4,7; 6,8; 6,4; 6,3. Dari data tersebut
dapat kita ketahui bahwa nilai rata-rata atribut warna tertinggi yaitu pada sampel
F5, sedangkan terendah pada sampel F3. Sampel F5 yaitu dengan perlakuan
ekstrak cascara sebanyak 30 ml, esktrak secang sebanyak 8 ml, ekstrak serai
sebanyak 8 ml, larutan gula sebanyak 5 ml, dan air sebanyak 49 ml. Sedangkan
Sampel F3 yaitu dengan perlakuan ekstrak cascara sebanyak 30 ml, esktrak
secang sebanyak 4 ml, ekstrak serai sebanyak 4 ml, larutan gula sebanyak 5 ml,
dan air sebanyak 57 ml. Dari data tersebut dapat diketahui panelis lebih menyukai
sampel minuman fungsional dengan warna yang lebih pekat kemerahan. Warna
pekat kemerahan ini dihasilkan dari penambahan ekstrak secang yang lebih
banyak. Kandungan kimia yang terdapat pada kayu secang, yaitu asam galat,
tanin, resin, resorsin, brazilin, brazilein, d-α-phellandrene, oscimene, dan minyak
atsiri (Heyne, 1987 dalam Sufiana dan Harlia, 2012) dan warna merah ini
dikarenakan oleh adanya senyawa brazilin pada kayu secang. Senyawa brazilin ini
merupakan pigmen merah pada kayu secang (Nirma dkk, 2015: Pawar dkk, 2008).
Berdasarkan Gambar 13. dapat diketahui bahwa nilai rata-rata atribut
aroma F1 sampai dengan F7 berturut-turut 5,8; 5,2; 5,1; 5,3; 6,4; 6,2; 6. Dari data
tersebut dapat kita ketahui bahwa nilai rata-rata atribut aroma tertinggi yaitu pada
sampel F5, sedangkan nilai rata-rata atribut aroma terendah yaitu pada sampel F3.
Sampel F5 yaitu dengan perlakuan ekstrak cascara sebanyak 30 ml, esktrak
secang sebanyak 8 ml, ekstrak serai sebanyak 8 ml, larutan gula sebanyak 5 ml,
dan air sebanyak 49 ml. Sedangkan Sampel F3 yaitu dengan perlakuan ekstrak
cascara sebanyak 30 ml, esktrak secang sebanyak 4 ml, ekstrak serai sebanyak 4
ml, larutan gula sebanyak 5 ml, dan air sebanyak 57 ml. Aroma sampel F5 lebih
disukai oleh para panelis, hal ini dikarenakan pada sampel F5 ditambahkan
sampel ekstrak serai lebih banyak. Karena serai juga dikenal dengan istilah
Lemongrass karena memiliki bau yang kuat seperti lemon (Wijayakusumah,
2005).
Berdasarkan Gambar 14. dapat diketahui bahwa nilai rata-rata atribut rasa
F1 sampai dengan F7 berturut-turut 5,5; 5,2; 5,4; 5,2; 5,4; 5,3; 5,8. Dari data
tersebut dapat kita ketahui bahwa nilai rata-rata atribut rasa tertinggi yaitu pada
sampel F7, sedangkan nilai rata-rata atribut rasa terendah yaitu pada sampel F2
dan F4. Sampel F7 yaitu dengan perlakuan ekstrak cascara sebanyak 40 ml,
esktrak secang sebanyak 8 ml, ekstrak serai sebanyak 4 ml, larutan gula sebanyak
5 ml, dan air sebanyak 43 ml. Sampel F2 yaitu dengan perlakuan ekstrak cascara
sebanyak 40 ml, esktrak secang sebanyak 0 ml, ekstrak serai sebanyak 0 ml,
larutan gula sebanyak 5 ml, dan air sebanyak 55 ml. Sampel F4 yaitu dengan
perlakuan ekstrak cascara sebanyak 40 ml, esktrak secang sebanyak 4 ml, ekstrak
serai sebanyak 4 ml, larutan gula sebanyak 5 ml, dan air sebanyak 47 ml. Panelis
lebih menyukai sampel F7 dengan penambahan ekstrak bahan yang paling banyak
yaitu cascara, diikuti secang lalu serai. Penambahan ekstrak bahan seperti ini
dimungkinkan bagi panelis merupakan penambahan yang pas, karena tidak hanya
dominan pada satu rasa suata bahan saja.
Berdasarkan Gambar 15. dapat diketahui bahwa nilai rata-rata atribut
keseluruhan F1 sampai dengan F7 berturut-turut 5,5; 5,5; 5,2; 5,4; 6; 5,9; 6,1. Dari
data tersebut dapat kita ketahui bahwa nilai rata-rata atribut keseluruhan tertinggi
yaitu pada sampel F7, sedangkan nilai rata-rata keseluruhan terendah yaitu pada
sampel F3. Sampel F7 yaitu dengan perlakuan ekstrak cascara sebanyak 40 ml,
esktrak secang sebanyak 8 ml, ekstrak serai sebanyak 4 ml, larutan gula sebanyak
5 ml, dan air sebanyak 43 ml. Sampel F3 yaitu dengan perlakuan ekstrak cascara
sebanyak 30 ml, esktrak secang sebanyak 4 ml, ekstrak serai sebanyak 4 ml,
larutan gula sebanyak 5 ml, dan air sebanyak 57 ml. Dari data tersebut dapat
diketahui bahwa panelis secara keseluruhan cenderung lebih menyukai sampel F7.
Hal ini dikarenakan rasa dari F7 merupakan rasa yang paling dapat diterima oleh
panelis, warna dan aroma dari F7 juga cenderung memiliki nilai sensori yang
tinggi, nilai sensori yang tinggi tersebut menandakan dapat diterima oleh panelis.
4.2.3 Uji Polifenol
Pada praktikum ini dilakukan uji polifenol dari ketujuh sampel minuman
fungsional dengan komposisi bahan yang ditambahkan berbeda-beda. Pada uji
polifenol ini dilakukan dua kali pengulangan uji pada setiap sampel. Berikut
merupakan komposisi dari minuman fungsional pada setiap sampel : F1 (cascara
30 ml, gula 5 ml, dan air 65 ml), F2 (cascara 40 ml, gula 5 ml, dan air 55 ml), F3
(cascara 30 ml, secang 4 ml, serai 4 ml, gula 5 ml, dan air 57 ml), F4 (cascara 40
ml, secang 4 ml, serai 4 ml, gula 5 ml, dan air 47 ml), F5 (cascara 30 ml, secang 8
ml, serai 8 ml, gula 5ml, dan air 49 ml), F6 (cascara 40 ml, secang 8 ml, serai 8
ml, gula 5ml, dan air 37 ml), dan F7 (cascara 40 ml, secang 8 ml, serai 4 ml, gula
5ml, dan air 43 ml).
Berdasarkan Gambar 16. diperoleh hasil pengujian kandungan polifenol
total terhadap tujuh sampel minuman fungsional dengan dua kali pengulangan.
Berikut merupakan hasil pengujian polifenol dari setiap sampel berturut-turut
pengulangan satu dan dua : sampel F1 (0,0783 mg GAE/ml dan 0,0433 mg
GAE/ml), sampel F2 (0,0966 mg GAE/ml dan 0,1653 mg GAE/ml), sampel F3
(0,0847 mg GAE/ml dan 0,1416 mg GAE/ml), sampel F4 (0,0957 mg GAE/ml
dan 0,0977 mg GAE/ml), sampel F5 (0,0798 mg GAE/ml dan 0,1113 mg
GAE/ml), sampel F6 (0,113 mg GAE/ml dan 0,1206 mg GAE/ml), sampel F7
(0,0734 mg GAE/ml dan 0,1096 mg GAE/ml). Berdasarkan data tersebut, maka
dapat diketahui bahwa kandungan polifenol total tertinggi terdapat pada sampel
F2 ulangan dua, sedangkan kandungan polifenol total terendah terdapat pada
sampel F1 ulangan dua. Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa data pengujian
terjadi penyimpangan karena jumlah kandungan polifenol tertinggi terdapat pada
sampel F2, sedangkan sampel F2 hanya berisikan bahan cascara, gula, dan air.
Karena secang juga mengandung falvonoid larut air seperti brazilin,
protosappanin, dan haematoxylin. Senyawa brazilian merupakan senyawa
flavonoid utama yang terdapat pada kulit kayu secang dan merupakan pigmen
warna merah alami yang terkandung dalam kulit kayu secang (Nirma dkk, 2015:
Pawar dkk, 2008). Sedangkan serai juga mengandung senyawa geraniol,
sitronelal, sitronelol, dan limonene serta senyawa polifenol (Godwin dkk, 2014).
Berdasarkan literatur tersebut mengindikasikan bahwa tidak hanya cascara saja
yang mengandung senyawa polifenol. Penyimpangan ini dapat terjadi
dimungkinkan karena proses ekstraksi yang berjalan tidak sempurna. Waktu
ektraksi yang semakin lama dapat memicu pemaparan oksigen lebih banyak
sehingga mengakibatkan terjadinya oksidasi senyawa fenolik (Shahidi dan Naczk,
2004).
4.2.4 Aktivitas Antioksidan
Pada praktikum ini juga dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada
tujuh sampel minuman fungsional dengan formulasi yang berbeda-beda. Pada uji
ini dilakukan dua kali pengulangan uji pada setiap sampel. Pengujian aktivitas
antioksidan ini dilakukan dengan menggunakan metode DPPH. Metode DPPH
dilakukan dengan cara mengukur penangkapan radikal sintetik (DPPH dan ABTS)
dalam pelarut organik polar seperti etanol pada suhu kamar (Desmarchelier, et al.,
1998).
Berdasarkan Gambar 18. diperoleh hasil pengujian aktivitas antioksidan
berupa persen penghambatan terhadap tujuh sampel minuman fungsional dengan
dua kali pengulangan. Berikut merupakan hasil pengujian aktivitas antioksidan
berupa persen penghambatan dari setiap sampel berturut-turut pengulangan satu
dan dua : Sampel F1 (8,224% dan 9,058%), sampel F2 (25,685% dan 67,998%),
sampel F3 (15,614% dan 40,465%), sampel F4 (42,074% dan 63,349%), sampel
F5 (43,206% dan 38,737%), sampel F6 (64,064% dan 60,191), dan sampel F7
(56,675% dan 30,453%). Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa sampel
F6 memiliki persen penghambatan tertinggi, yang berarti sampel F6 memiliki
aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan dengan sampel lainnya. Hal ini
telah sesuai dengan literatur yang ada, karena cascara mengandung antioksidan
yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari kandungan antioksidan blueberry (Hamdan
dan Santani, 2018). Secang juga mengandung antioksidan, aktivitas antioksidan
yang tinggi dari ekstrak kayu secang juga diduga karena kandungan terpenoid,
seperti monoterpen dan diterpen (Widowati, 2011). Sedangkan serai karena
komponen utama penyusun serai yaitu sitronelal (antioksidan), geraniol
(antioksidan), sitronellol, geraniol asetat, sitronellil asetat, L- Limonene, elemol
dan seskwiterpene lain, elemene dan Cadinene (Guenther, 2006).
BAB 5. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa :
1. Bahan-bahan yang digunakan seperti cascara, secang dan serai harus
diekstraksi terlebih dahulu sebelum dijadikan minuman fungsional. Ekstraksi
cascara dan secang dengan dikecilkan ukurannya lalu dimasukkan ke dalam air
panas, sedangkan ekstraksi serai dengan blending menggunakan air panas.
2. Pengujian total polifenol menggunakan metode Folin-Ciocalteu yaitu
reaksi oksidasi dan reduksi kolorimetrik untuk mengukur semua senyawa fenolik
dalam sampel uji.
3. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dilakukan
dengan cara mengukur penangkapan radikal sintetik dalam pelarut organik polar
seperti etanol pada suhu kamar.
DAFTAR PUSTAKA

Arnelia. 2002. Fito-Kimia Komponen Ajaib Cegah PJK, DM, dan Kanker. Bogor:
Puslit Bogor.

Dehpour, A.A., Ebrahimzadeh, M.A., Fazel, N.S., danMohammad, N.S. 2009.


Antioxidant Activity of Methanol Extract of Ferula Assafoetida and Its
Essential Oil Composition. Grasas Aceites Volume 60, No.4.

Fadliah, M. 2014. Kualitas organoleptik dan pertumbuhan bakteri pada susu


pasteurisasi dengan penambahan kayu secang (Caesalpinia sappan L.)
selama penyimpanan. Skripsi. Jurusan Produksi Ternak. Fakultas
Peternakan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Godwin, A., Daniel, G. A., Shadrack, D., Elom, S. A., Nana Afua, K. A-B.,
Godsway, B., Joseph, K. G., Sackitey, N. O., Isaak, K. B., Dan Wisdom, A.
2014. Determination Of Elemental, Phenolic, Antioxidant And Flavonoid
Properties Of Lemon Grass (Cymbopogon Citratus Stapf). International
Food Research Journal, 21 (5): 1971-1979.

Guenther E. 2006. Minyak Atsiri Jilid IV. Terjemahan: Ketaren S. Jakarta: UI


Press.

Hamdan, D., Dan Santani, A. 2018. Coffee: Karena Selera Tidak Dapat
Diperdebatkan. Jagakarsa:Agromedia Pustaka

Hattenschwiller, S dan Vitousek, P. M. 2000. The role of polyphenols interrestrial


ecosystem nutrient cycling. Review PII: S0169-5347(00)01861-9 TREE vol.
15, no. 6 June 2000.

Lie, J. 2012. Phenolic Compound and Antioxidan Activity of Bulb Extract of Six
Lilium Species Native to China. China.
Nirma, N. P., Rajput, M. S., Prasad, R. G. S. V., Ahmad, M. 2015. Brazilin From
Caesalpinia Sappan Heartwood And Its Pharmacological Activities: A
Review. Asian Pacific Journal Of Tropical Medicine, 8(6): 421-430.

Pourmorad, F., Hossenimehr, S.J., Shahabimajd, N. 2006. Antioxidant activity,


phenol and flavonoid contents of some selected Iranian medicial plants.
African Journal of Biotechnology. 5(11):1142-1145.

Putri, R.A., 2017. Pengembangan Pasar Minuman Cascara Ready To Drink


Dengan Pendekatan Riset Aksi. Skripsi. Bogor: IPB Press.

Saragih, F.M. 2016. Ekstraksi Minyak Atsiri Serai Sebagai Antibakteri dalam
Handsanitizer. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya.

Singleton, V.L. and Rossi, J.A. 1965. Colorimetry of Total Phenolic with
Phosphomolybdic-Phosphotungstic Acid Reagent, Am. J. Enol. Vitic. 16.
147.

Sufiana Dan Harlia. 2012. Uji Aktivitas Antioksidan Dan Sitotoksisitas Campuran
Ekstrak Metanol Kayu Sepang (Caesalpinia Sappan L.) Dan Kulit Kayu
Manis (Cinnamomum Burmanii B.). JKK, 3 (2) : 50 - 55.

Widowati, W. 2011. Uji Fitokimia dan Potensi Antioksidan Ekstrak Etanol Kayu
Secang. JKM 11: 23-31.

Wijayakusuma, Hembing. 2005. Atasi Kanker dengan Tanaman Obat. Jakarta :


Puspa Swara.

Winarti, Sri. 2010. Makanan Fungsional. Yogyakarta


LAMPIRAN DOKUMENTASI

No. Gambar Keterangan


1. Pengecilan ukuran
cascara

2. Ekstraksi dengan 200


mL air panas

3. Pengadukan ekstrak
cascara

4. Hasil minuman
fungsional cascara

5. Sampel minuman
fungsional dengan
berbagai formulasi
untuk uji sensoris
6. Penyaringan residu
minuman cascara

7. Persiapan pengujian
kandungan total
polifenol metode follin-
ciocalteu

8. Pengujian kandungan
total polifenol

9. Pengujian aktivitas
antioksidan
LAMPIRAN PERHITUNGAN

Perhitungan Kurva Standard


1. Blanko
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Blanko – Nilai Absorbansi Blanko
= 0,038-0,038
=0
Konsentrasi A. Galat = Konsentrasi A. Galat Induk x Volume cuplikan
= 0,5 mg/ml x 0 ml
=0
2. Volume Cuplikan 0,05 ml
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi V Cuplikan 0,05 ml– Nilai Absorbansi
Blanko
=0,328 – 0,038
= 0,290
Konsentrasi A. Galat= Konsentrasi A. Galat Induk x Volume cuplikan
= 0,5 mg/ml x 0,05 ml
= 0,025 mg
3. Volume Cuplikan 0,1 ml
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi V Cuplikan 0,05 ml– Nilai Absorbansi
Blanko
=0,703 – 0,038
= 0,665
Konsentrasi A. Galat= Konsentrasi A. Galat Induk x Volume cuplikan
= 0,5 mg/ml x 0,1 ml
= 0,05 mg
4. Volume Cuplikan 0,5 ml
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi V Cuplikan 0,05 ml– Nilai Absorbansi
Blanko
=1,363 – 0,038
= 1,325
Konsentrasi A. Galat= Konsentrasi A. Galat Induk x Volume cuplikan
= 0,5 mg/ml x 0,2 ml
= 0,1 mg
Total Polifenol
Formulasi 1. (Caskara 30 ml, secang 0 ml, serai 0 ml, LarutanGula ml 5, Air 65
ml)
Kelompok 1.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,573– 0,038
= 0,535
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746(Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,535)- 0,0012
= 0,0411 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5ml) : volume cuplikan
= 0,0411 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0822 mg GAE/mL

Ulangan 2.
Nilai Absorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0, 520 – 0,038
= 0,482
Konsentrasi/0,5ml(y) = 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,482)- 0,0012
= 0,0372 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0372 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0743 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,0822+0,0743
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0783
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,0822−0,0783)2 +(0,0743−0,0783)2
Standardeviasi =√ =√ =0,0056
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0056/0,0783) x 100
= 7,1440
Kelompok 8.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,306– 0,038
= 0,268
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,268)- 0,0012
= 0,0212mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0212mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0424 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,318– 0,038
= 0,280
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,280)- 0,0012
= 0,0221 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0221 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0442 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,0424 +0,0442
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0433
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(0,0424−0,0433)2 +(0,0442−0,0433)2
=√ =0,0013
2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata) *100
= (0,0013 /0,0433) x 100
= 2,9251
Formulasi 2. (Caskara 40 ml, secang 0 ml, Serai 0 ml, LarutanGula 5 ml, Air 55
ml)
Kelompok 2.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,662– 0,038
= 0,624
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,624)- 0,0012
= 0,0478 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0478 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0955 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi
Blanko
= 0, 677– 0,038
= 0,639
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,639)- 0,0012
= 0,0489 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0489 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0977 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,0955 +0,0977
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0966
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,0955−0,0966)2 +(0,0977−0,0966)2
Standardeviasi =√ =√ =0,0016
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0016/0,0966) x 100
= 1,6379
Kelompok 9.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi
Blanko
= 1,139– 0,038
= 1,101
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (1,101)- 0,0012
= 0,0833 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0833 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1667 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi
Blanko
= 1,121– 0,038
= 1,083
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (1,083)- 0,0012
= 0,0820 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0820 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1640 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1667 +0,1640
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,1653
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(0,1667−0,1653)2 +(0,1640−0,1653)2
=√ =0,0019
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (0,0019/0,1653) x 100
= 1,1486

Formulasi 3. (Caskara 30 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, LarutanGula 5 ml, Air 57
ml)
Kelompok 3.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi
Blanko
= 0,621– 0,038
= 0,583
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,583)- 0,0012
= 0,0447 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5ml) : volume cuplikan
= 0,0447 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0894 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi
Blanko
= 0,558– 0,038
= 0,520
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,520)- 0,0012
= 0,0400 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5ml) : volume cuplikan
= 0,0400 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0800 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,0894 +0,0800
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0847
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(0,0894+0,0256)2 +(0,0800 −0,0256)2
=√ =0,0066
2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0066/0,0847) x 100
= 7,8486
Kelompok 10.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,911– 0,038
= 0,873
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,873)- 0,0012
= 0,0663 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0663 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1327 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 1,031 – 0,038
= 0,993
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,993)- 0,0012
= 0,0753 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0753 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1506 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1327 +0,1506
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,1416
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,1327+0,1416)2 +(0,1506 −0,1416)2
Standardeviasi = √ =√ =0,0127
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0127/0,1416) x 100
= 8,9405

Formulasi 4. (caskara 40 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, LarutanGula5 ml, Air 47
ml)
Kelompok 4.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,666– 0,038
= 0,628
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,628)- 0,0012
= 0,0480 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0480mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0961 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,661– 0,038
= 0,623
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,623)- 0,0012
= 0,0477 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0477 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0954 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,0961 +0,0954
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0957
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,0961 −0,0353)2 +(0,0954−0,0353)2
Standardeviasi = √ =√ =0,005
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,005/0,0957) x 100
= 0,5511
Kelompok 11.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,667– 0,038
= 0,629
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,00120
= 0,0746 (0,629)- 0,0012
= 0,0481 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0481 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0962 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
=0,686– 0,038
= 0,648
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,648)- 0,0012
= 0,0495 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0495 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0991 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,0962 +0,038664
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0977
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,0962 −0,0977)2 +(0,0991−0,0977)2
Standardeviasi = √ =√ =0,0020
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0020/0,0977) x 100
= 2,0524

Formulasi 5.(caskara 30 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, LarutanGula5 ml, Air 49
ml)
Kelompok 5.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,557– 0,038
= 0,519
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,519)- 0,0012
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0798 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,557– 0,038
= 0,519
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,519)- 0,0012
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0798 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,0798+0,0798
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0798
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,0798−0,0798)2 +(0,0798−0,0798)2
Standardeviasi = √ =√ =0
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0798/0,0798) x 100
=0
Kelompok 12.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,808 – 0,038
= 0,770
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,770)- 0,0012
= 0,0586 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0586 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1173 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,728 – 0,038
= 0,690
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,690)- 0,0012
= 0,0527 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0527 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1053 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1173 +0,1053
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,1113
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,1173−0,1113)2 +(0,1053 −0,1113)2
Standardeviasi = √ =√ =0,0084
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0084/0,1113) x 100
= 7,520

Formulasi 6. (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, LarutanGula5 ml, Air 37
ml)
Kelompok 3.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,732 – 0,038
= 0,694
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,694) - 0,0012
= 0,0530 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0530 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1059 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,827– 0,038
= 0,789
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,789)- 0,0012
= 0,0601 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0601 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1201 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1059 +0,1201
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,1130
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,1059 −0,1130)2 +(0,1201−0,1130)2
Standardeviasi = √ =√ =0,0100
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0100/0,1130) x 100
= 8,8670
Kelompok 13.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,847 – 0,038
= 0,809
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,809)- 0,0012
= 0,0616 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0616 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1231 mg GAE/mL

Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,813 – 0,038
= 0,775
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,775)- 0,0012
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1180 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1231 +0,1180
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,1206
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,1231 −0,1206 )2 +(0,1180−0,1206 )2
Standardeviasi = √ =√ =0,0036
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0036/0,01206) x 100
= 2,9751

Formulasi 7. (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 4 ml, LarutanGula5 ml, Air 43
ml)
Kelompok 7.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,722– 0,038
= 0,684
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,684)- 0,0012
= 0,0522 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0522 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1045 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,306– 0,038
= 0,268
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,268)- 0,0012
= 0,0212 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0212 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0424 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1045+0,0424
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,0734
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,1045−0,0734)2 +(0,0424−0,0734)2
Standardeviasi = √ =√ =0,0439
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0439 /0,0734) x 100
= 59,7775
Kelompok 14.
Ulangan 1.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,700– 0,038
= 0,662
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,662)- 0,0012
= 0,0506 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0506 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1012 mg GAE/mL
Ulangan 2.
NilaiAbsorban = NilaiAbsorbansiSampel– NilaiAbsorbansiBlanko
= 0,813– 0,038
= 0,775
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilaiabsorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,775)- 0,0012
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1180 mg GAE/mL
∑ 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1012 +0,1180
Rata-Rata = 𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,1096
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (0,1012−0,1096)2 +(0,1180−0,1096)2
Standardeviasi = √ =√ =0,0119
𝑛−1 2−1
RSD = (Standardeviasi/ rata-rata)*100
= (0,0119 /0,1096) x 100
= 10,8773
Aktivitas Antioksidan
Persen Penghambatan = [A0-As/A0]x100%
A0= Absorban tanpa penambahan sampel estrak (Kontrol)
As= Absorban dengan penambahan sampel ekstrak

Formulasi 1. (Caskara 30 ml, secang 0 ml, serai 0 ml, LarutanGulaml 5, Air 65


ml)
Kelompok 1.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,754)/ 0,839x 100%
= 10,131%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,786)/ 0,839x 100%
= 6,317%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 10.131 %+6.317%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 8,224%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (10,131%−8,224)2 +(6,317%−8,224%)2
Standar deviasi =√ =√ = 2,697
𝑛−1 2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (2,697/8,224) x 100
= 32,793
Kelompok 8.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,733)/ 0,839x 100%
= 12,634%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,793)/ 0,839x 100%
= 5,483%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 12,634 %+5,483%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 9,058%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (12,634%−9,058)2 +(5,483%−9,058%)2
Standar deviasi =√ =√ = 5,057
𝑛−1 2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (5,057/9,058) x 100
= 55,824

Formulasi 2(Caskara 40 ml, secang 0 ml, Serai 0 ml, LarutanGula 5 ml, Air 55
ml)
Kelompok 2
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,786)/ 0,839x 100%
= 26,698%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,632)/ 0,839x 100%
= 24,672%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 26.698%+24.672%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 25,685%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (26,698%−25,685%)2 +(24,672%−25,685%)2
Standar deviasi =√ =√ =
𝑛−1 2−1
1,433
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (1,433/25,685) x100
= 5,578

Kelompok 9.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,216)/ 0,839x 100%
= 74,255%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,321)/ 0,839x 100%
= 61,740%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 74,255 %+61,740%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 67,998%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(74,255 %−67,998%)2 +(61,740%−67,998%)2
=√ = 8,849
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (8,849/11,2512) x 100
= 13,014

Formulasi 3 (Caskara 30 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, LarutanGula 5 ml, Air 57
ml)
Kelompok 3.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,737)/ 0,839x 100%
= 12,157%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,679)/ 0,839x 100%
= 19,070%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 12,157%+19,070%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 15,614%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (12,157%−15,614)2 +(19,070%−15,614%)2
Standar deviasi =√ =√ =
𝑛−1 2−1
4,888
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (4,888/15,614) x 100
= 31,307

Kelompok 10.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,490)/ 0,839x 100%
= 41,597%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,509)/ 0,839x 100%
= 39,333%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 41,597%+39,333%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 49,465%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(41,597%−49,465%)2 +(39,333%−49,465%)2
=√ = 1,601
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (1,601/49,465) x 100
= 3,957
Formulasi 4 (caskara 40 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, LarutanGula5 ml, Air 47
ml)
Kelompok 4.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,512)/ 0,839x 100%
= 38,975%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,460)/ 0,839x 100%
= 45,173%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 38.975%+45.173%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 42,074%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(38,975%−42,074)2 +(45,173%−42,074%)2
=√ = 4,383
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (4,383/42,074) x 100
= 10,416
Kelompok 11.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,313)/ 0,839x 100%
= 62.694%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,302)/ 0,839x 100%
= 64.005%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 62.694%+64.005%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 63,439%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2 (62.694%−63,439%)2 +(64.005%−63,439%)2
Standar devias i =√ =√ =
𝑛−1 2−1
0,927
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (0,927/63,439) x 100
= 1,463

Formulasi 5(caskara 30 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, LarutanGula5 ml, Air 49
ml)
Kelompok 5.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,489)/ 0,839x 100%
= 41,716%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,464)/ 0,839x 100%
= 44,696%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 41,716%+44,696%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 43,206%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(41,716%−43,206%)2 +(44,696%−43,206%)2
=√ = 2,107
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (2,107/43,206) x 100
=4,877
Kelompok 12.
Ulangan 1
PersenP enghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,509)/ 0,839x 100%
= 39,333%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,519)/ 0,839x 100%
= 38,141%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 39,333%+38,141%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 38,737%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(39,333%−38,737%)2 +(38,141%−38,737%)2
=√ = 0,843
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (0,843/38,737) x 100
= 2,176
Formulasi 6 (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, LarutanGula5 ml, Air 37
ml)
Kelompok 6.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,305)/ 0,839x 100%
= 63,647%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,298)/ 0,839 x 100%
= 64,482%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 63,647%+64,482%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 64,064%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √
𝑛−1
(63,647%−64,064%)2 +(64,482%−64,064%)2
=√ = 0,590
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (0,590/64,064) x 100
=0,921
Kelompok 13.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,361)/ 0,839 x 100%
= 56,973%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,307)/ 0,839x 100%
= 63,409%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 56,973%+63,409%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 60,191%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(56,973%−60,191%)2 +(63,409%−60,191%)2
=√ = 4,551
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (4,551/60,191) x 100
= 7,561

Formulasi 7 (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 4 ml, LarutanGula5 ml, Air 43
ml)
Kelompok 7.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,318)/ 0,839x 100%
= 62,098%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,409)/ 0,839x 100%
= 51,251%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 62,098%+51,251%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 56,675%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(62,098%−56,675%)2 +(51,251%−56,675%)2
=√ = 7,669
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (7,669/56,675) x 100
= 13,532
Kelompok 14.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,555)/ 0,839x 100%
= 33,850%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839-0,612)/ 0,839x 100%
= 27,056%
∑ %𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 33,850%+27,056%
Rata-Rata = 𝑛 % 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛 = = 30,453%
2
∑(𝑋1−𝑟𝑎𝑡𝑎)2
Standar deviasi = √ 𝑛−1
(33,850%−30,453%)2 +(27,056%−30,453%)2
=√ = 4,804
2−1
RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100
= (4,804/30,453 x 100)
= 15,775