Anda di halaman 1dari 14

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

ASUHAN KEPERAWATAN ACNE VULGARIS

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 2

Aldina 201601055
Anggi Maimunna 201601056
Ni Kadek Rika Yanti 201601076
Seril 201601037
Magvira Hamadi 201601069
Fitriani 201601065
I Wayan Sumado 201601020
Ady Saputra 201601051

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES WIDYA NUSANTARA PALU

2018
A. KONSEP MEDIS
1. DEFINISI
Acne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang
umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri (Wasitaatmadja, 2007).
Defenisi lain akne vulgaris atau disebut juga common acne adalah penyakit radang menahun
dari apparatus pilosebasea, lesi paling sering di jumpai pada wajah, dada dan punggung.
Kelenjar yang meradang dapat membentuk papul kecil berwarna merah muda, yang kadang
kala mengelilingi komedo sehingga tampak hitam pada bagian tengahnya, atau membentuk
pustul atau kista; penyebab tak diketahui, tetapi telah dikemukakan banyak faktor, termasuk
stress, faktor herediter, hormon, obat dan bakteri, khususnya Propionibacterium acnes,
Staphylococcus albus, dan Malassezia furfur, berperan dalam etiologi (Dorland, 2002).

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Kelenjar sebaseus (glandula sebaceous) terdapat pada kulit seluruh tubuh kecuali
telapak tangan, telapak kaki, glans penis dan korona penis. Pada umumnya jumlah paling
banyak dan dengan ukuran yang besar terdapat pada daerah garis tengah punggung, dahi,
kulit kepala, muka, meatus akustikus eksternus dan daerah anogenital. Pada daerah kulit
kepala, dahi, pipi dan dagu jumlah kelenjar per cm2 ialah 400 - 900 buah, sedangkan pada
daerah lain lebih kecil dari 100 buah kelenjar per cm2. Pada beberapa tempat kelenjar
sebaseus bermuara langsung di permukaan kulit atau tidak melalui saluran folikel rambut,
yaitu seperti kelenjar Meibom yang terdapat pada kelopak mata, kelenjar Tyson pada
prepusium, labia minor dan areola mamma (Indang, 2006).
Infundibulum adalah bagian folikel rambut (pilary canal) yang menghubungkan muara
folikel dengan duktus kelenjar sebaseus.
a. 1/5 bagian atas disebut akroinfundibulum atau bagian epidermal
b. 4/5 bagian bawah disebut infrainfundibulum atau bagian dermal (Hasan, 2004).
Folikel sebaseus berisi sel keratin yang lepas dan jenis folikel ini merupakan sumber
terbentuknya akne. Sekresi kelenjar sebaseus adalah jenis holokrin, dengan kata lain
sekresinya atau sebum yang dihasilkan ialah dengan jalan desintegrasi sel-sel kelenjar.
Sebum mencapai permukaan kulit melalui duktus pilosebaseus. Pada permukaan kulit 10
sebelum bercampur dengan lemak-lemak lain berasal terutama dari epidermis dan bersama-
sama membentuk lemak-lemak permukaan kulit. Lemak-lemak permukaan kulit ini adalah
senyawa yang kompleks terdiri atas skualen, malam, ester, sterol, trigliserida, asam lemak
bebas, monodigliserida dan kolesterol. Skualen, ester-ester malam, trigliserida terutama
berasal dari kelenjar sebaseus, sedangkan ester sterol, kolesterol, lemak-lemak polar (polar
lipide) berasal dari epidermis (Hasan, 2004)

3. ASPEK EPIDEMIOLOGI
Karena hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini, maka sering dianggap
sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis. Baru pada masa remajalah akne vulgaris
menjadi salah satu problem. Umumnya insiden terjadi pasa umur 14-17 tahun pada wanita,
16-19 tahun pada pria dan masa itu lesi yang pradominan adalah komedo dan papul dan
jarang terlihat lesi beradang. Diketahui pula bahwa ras Oriental (Jepang, Cina, Korea) lebih
jarang menderita akne vulgaris dibanding dengan ras Kaukasia (Eropa dan Amerika), dan
lebih sering terjadi nodulo-kistik pada kulit putih daripada Negro (Wasiaatmadja, 2007).

4. PENYEBAB
Penyebab pasti timbulnya akne belum diketahui dengan jelas. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya akne vulgaris antara lain :
1. Bakteria
Mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne adalah Corynebakterium acnes,
Staphylococcus epidermidis dan Pityrosporum ovale.
2. Genetik
Akne vulgaris mungkin merupakan penyakit genetik akibat adanya peningkatan kepekaan
unit pilosebasea terhadap kadar androgen yang normal.
3. Ras
Kemungkinan ras berperan dalam timbulnya akne vulgaris diajukan karena adanya ras-ras
tertentu seperti oriental (Jepang, Cina, Korea) yang lebih jarang dibandingkan dengan ras
caucasian (Eropa, Amerika) dan orang kulit hitam pun lebih jarang terkena daripada
orang kulit putih.
4. Hormon
Peningkatan kadar hormon androgen, anabolik, kortikosteroid, gonadotropin serta ACTH
mungkin menjadi faktor penting pada kegiatan kelenjar sebasea.4,5 Kelenjar sebasea
sangat sensitif terhadap hormon androgen yang menyebabkan kelenjar sebasea bertambah
besar dan produksi sebum meningkat.14Hormon estrogen dapat mencegah terjadinya
akne karena bekerja berlawanan dengan hormon androgen.16Hormon progesteron dalam
jumlah fisiologik tidak mempunyai efektivitas terhadap aktivitas kelenjar sebasea, akan
tetapi terkadang progesteron dapat menyebabkan akne sebelum menstruasi.1 Pada wanita,
60-70% menjadi lebih parah beberapa hari sebelum menstruasi dan menetap sampai
seminggu menstruasi.
5. Diet
Jenis makanan yang sering dihubungkan dengan timbulnya akne adalah makanan yang
tinggi lemak (kacang, daging berlemak, susu, es krim), makanan tinggi karbohidrat (sirup
manis), makanan yang beryodida tinggi (makanan asal laut) dan pedas. 13 Pola makanan
yang tinggi lemak jenuh dan tinggi glukosa susu dapat meningkatkan konsentrasi insulin-
like growth factor (IGF-I) yang dapat merangsang produksi hormon androgen yang
meningkatkan produksi jerawat.
6. Psikis
Stres psikis dapat menyebabkan sekresi ACTH yang akan meningkatkan produksi
androgen. Naiknya hormon androgen inilah yang menyebabkan kelenjar sebasea
bertambah
7. Iklim
Pada daerah yang mempunyai empat musim biasanya akne akan bertambah hebat pada
musim dingin dan sebaliknya membaik pada musim panas. Hal ini disebabkan karena
sinar ultraviolet (UV) yang mempunyai efek membunuh bakteri dapat menembus
epidermis bagian bawah dan dermis bagian atas yang berpengaruh pada bakteri yang
berada dibagian dalam kelenjar sebasea.1
8. Kosmetika
Pemakaian bahan-bahan kosmetika tertentu, secara terus menerus dalam waktu yang lama
dapat menyebabkan suatu bentuk akne ringan yang terutama terdiri dari komedo tertutup
dan beberapa lesi papulopustula pada pipi dan dagu. Bahan yang sering menyebabkan
akne bisa terdapat pada berbagai krem wajah seperti bedak dasar (foundation), pelembab
(moisturiser), tabir surya (suncreen) dan krem malam.
9. Trauma kulit berulang
Menggosok dengan cairan pembersih wajah, scrub atau penggunaan pakaian ketat
misalnya tali bra, helm, kerah ketat dapat memperburuk jerawat.
10. Merokok
Rokok dapat mempengaruhi kondisi kulit seseorang sehingga menimbulkan acne yang
dikenal dengan “smoking acne”. Berdasarkan penelitian sekitar 42% perokok menderita
akne vulgaris. Partisipasi non-perokok yang memiliki akne vulgaris tidak meradang
sebagian besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti sering terkena uap atau terus
menerus terpapar asap rokok.
5. PATOFISIOLOGI
Akne terjadi ketika lubang kecil dipermukaan kulit yang disebut pori-pori
tersumbat.Secara normal, kelenjar minyak membantu melumasi kulit dan menyingkirkan sel
kulit mati. Namun, ketika kelenjar tersebut menghasilkan minyak yang berlebihan, pori-pori
menjadi tersumbat oleh penumpukan kotoran dan bakteri. Penyumbatan ini disebut sebagai
komedo.
Pembentukan komedo dimulai dari bagian tengah folikel akibat masuknya bahan keratin
sehingga dinding folikel menjadi tipis dan menggelembung, secara bertahap akan terjadi
penumpukan keratin sehingga dinding folikel menjadi bertambah tipis dan dilatasi. Pada
waktu yang bersamaan kelenjar sebasea menjadi atropi dan diganti dengan sel epitel yang
tidak berdiferensiasi. Komedo yang telah terbentuk sempurna mempunyai dinding yang tipis.
Komedo terbuka (blackheads) mempunyai keratin yang tersusun dalam bentuk lamelar yang
konsentris dengan rambut pusatnya dan jarang mengalami inflamasi kecuali bila terkena
trauma. Komedo tertutup (whiteheads) mempunyai keratin yang tidak padat, lubang
folikelnya sempit dan sumber timbulnya lesi yang inflamasi.
Pada awalnya lemak keluar melalui dinding komedo yang udem dan kemudian timbul
reaksi seluler pada dermis, ketika pecah seluruh isi komedo masuk ke dalam dermis yang
menimbulkan reaksi lebih hebat da terdapat sel raksasa sebagai akibat keluarnya bahan
keratin. Pada infiltrat ditemukan bakteri difteroid garm positif dengan bentukan khas
Proprionibacterium acnes diluar dan didalam lekosit. Lesi yang nampak sebagai pustul,
nodul, dengan nodul diatasnya, tergantung letak dan luasnya inflamasi. Selanjutnya kontraksi
jaringan fibrus yang terbentuk dapat menimbulkan jaringan parut.
6. PATHWAY
7. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinis akne dapat berupa lesi non inflamasi (komedo terbuka dan komedo
tertutup), lesi inflamasi (papul dan pustul) dan lesi inflamasi dalam (nodul).
1. Komedo
Komedo adalah tanda awal dari akne. Sering muncul 1-2 tahun sebelum pubertas.9
Komedogenic adalah proses deskuamasi korneosit folikel dalam duktus folikel sebasea
mengakibatkan terbentuknya mikrokomedo (mikroskopik komedo) yang merupakan inti
dari patogenesis akne. Mikrokomedo berkembang menjadi lesi non inflamasi yaitu
komedo terbuka dan komedo tertutup atau dapat juga berkembang menjadi lesi inflamasi2
a. Komedo terbuka
Disebut juga blackhead secara klinis dijumpai lesi berwarna hitam berdiameter 0,1-3mm,
biasanya berkembang waktu beberapa minggu. Puncak komedo berwarna hitam
disebabkan permukaan lemaknya mengalami oksidasi dan akibat pengaruh melamin
b. Komedo tertutup
Disebut juga whitehead secara klinis dijumpai lesinya kecil dan jelas berdiameter 0,1-3mm,
komedo jenis inidisebabkan oleh sel-sel kulit mati dan kelenjar minyak yang berlebihan pada
kulit. Secara berkala pada kulit terjadi penumpukan sel-sel kulit mati, minyak dipermukaan
kulit kemudian menutup sel-sel kulit dan terjadilah sumbatan.
2. Jerawat biasa
Jerawat jenis ini mudah dikenal, tonjolan kecil berwarna pink atau kemerahan. Terjadi karena
terinfeksi dengan bakteri. Bakteri ini terdapat dipermukaan kulit, dapat juga dari waslap, kuas
make up, jari tangan juga telepon. Stres, hormon dan udara lembab dapat memperbesar
kemungkinan infeksi jerawat karena kulit memproduksi minyak yang merupakan
perkembangbiakannya bakteri berkumpul pada salah satu bagian muka.
a. Papula
Penonjolan padat diatas permukaan kulit akibat reaksi radang, berbatas tegas dan berukuran
diameter <5mm.9,14Papul superfisial sembuh dalam 5-10 hari dengan sedikit jaringan parut
tetapi dapat terjadi hiperpigmentasi pasca inflamasi terutama remaja dengan kulit yang
berwarna gelap. Papul yang lebih dalam penyembuhannya memerlukan waktu yang lebih
lama dan dapat meninggalkan jaringan parut.
b. Pustula
Pustul akne vulgaris merupakan papul dengan puncak berupa pus.9 Letak pustula bisa dalam
ataupun superfisial. Pustula lebih jarang dijumpai dibandingkan papula dan pustula yang
dalam sering dijumpai pada akne vulgaris yang parah.
c. Nodul
Nodul pada akne vulgaris merupakan lesi radang dengan diameter 1 cm atau lebih, disertai
dengan nyeri.
3. Cystic Acne/jerawat Kista (jerawat batu)
Acne yang besar dengan tonjolan-tonjolan yang meradang hebat, berkumpul diseluruh
muka.Penonjolan diatas permukaan kulit berupa kantong yang berisi cairan serosa atau
setengah padat atau padat.Kista jarang terjadi, bila terbentuk berdiameter bisa mencapai
beberapa sentimeter. Jika diaspirasi dengan jarum besar akan didapati material kental berupa
krem berwarna kuning. Lesi dapa menyatu menyebabkan terbentuknya sinus, terjadi nekrosis
dan peradangan granulomatous. Keadaan ini sering disebut akne konglobata.Penderita ini
biasanya juga memiliki keluarga dekat yang juga menderita akne yang serupa
4. Parut
Jaringan ikat yang menggantikan epidermis dan dermis yang sudah hilang. 12 Sering
disebabkan lesi nodulokistik yang mengalami peradangan yang besar.2 Ada beberapa bentuk
jaringan parut, antara lain:
a. Ice-pick scar merupakan jaringan parut depresi dengan bentuk ireguler terutama pada
wajah
b. Fibrosis peri-folikuler ditandai dengan cincin kuning disekitar folikel
c. Jaringan parut hipertrofik atau keloid, sering terdapat didada, punggung, garis rahang
(jaw line) dan telinga, lebih sering ditemukan pada orang berkulit gelap

8. KLASIFIKASI
Klasifikasi akne sampai saat ini belum ada yang memuaskan, karena belum ada dasar
pengukuran yang obyektif. Tujuan penentuan klasifikasi akne antara lain adalah untuk
penilaian hasil pengobatan. Klasifikasi yang sering digunakan, yaitu :
1. Menurut Kligman dan Plewig (2005) yang berdasarkan bentuk lesi (Tranggono, 2009).
a. Akne komedonal
Lesi terutama terdiri dari komedo, baik yang terbuka, maupun yang tertutup. Dibagi
menjadi 4 tingkat berdasarkan derajat beratnya akne yaitu :
Tingkat I : kurang dari 10 komedo pada satu sisi wajah.
Tingkat II : 10 – 25 komedo pada satu sisi wajah.
Tingkat III : 25 – 50 komedo pada satu sisi wajah. Tingkat IV : lebih dari 50 komedo
pada satu sisi wajah.
b. Akne papulopustuler
Lesi terdiri dari komedo dan campuran lesi yang meradang yang dapat berbentuk papel
dan pustul.
Dibagi menjadi 4 tingkat sebagai berikut:
Tingkat I : Kurang dari 10 lesi meradang pada satu sisi wajah.
Tingkat II : 10 - 20 lesi meradang pada satu sisi wajah.
Tingkat III : 20 – 30 lesi meradang pada satu sisi wajah.
Tingkat IV : Lebih dari 30 lesi meradang pada satu sisi wajah.
c. Akne konglobata
Merupakan bentuk akne yang berat, sehingga tidak ada pembagian tingkat beratnya
penyakit. Biasanya lebih banyak diderita oleh laki-laki. Lesi yang khas terdiri dari
nodulus yang bersambung, yaitu suatu masa besar berbentuk kubah berwarna merah dan
nyeri. Nodul ini mula-mula padat, tetapi kemudian dapat melunak mengalami fluktuasi
dan regresi, dan sering meninggalkan jaringan parut (Tranggono, 2009).
2. Menurut Wasitaatmadja (1982) dalam Djuanda (2007) di Bagian Imu Penyakit Kulit dan
Kelamin FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangun Kusumo membuat gradasi sebagai berikut:
a. Ringan, bila beberapa lesi tak beradang pada satu predileksi sedikit lesi tak beradang
pada beberapa tempat predileksi, sedikit lesi beradang pada satu predileksi.
b. Sedang, bila banyak lesi tak beradang pada satu predileksi beberapa lesi tak beradang
lebih dari satu predileksi, beberapa lesi beradang pada satu predileksi, sedikit lesi
beradang pada lebih dari satu predileksi.
c. Berat, bila banyak lesi tak beradang pada lebih dari satu predileksi, banyak lebih
beradang pada satu atau lebih predileksi.

9. PENCEGAHAN
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari jerawat adalah sebagai berikut:
a. Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipis sebum dengan cara diet rendah lemak
dan karbohidrat serta melakukan perawatan kulit untuk membersihkan permukaan kulit
dari kotoran.
b. Menghindari terjadinya faktor pemicu, misalnya : hidup teratur dan sehat, cukup
berolahraga sesuai kondisi tubuh, hindari stres; penggunaan kosmetika secukupnya;
menjauhi terpacunya kelenjar minyak, misalnya minuman keras, pedas, rokok, dan
sebagainya.
c. Memberikan informasi yang cukup pada penderita mengenai penyebab penyakit,
pencegahan dan cara maupun lama pengobatannya serta prognosisnya. Hal ini penting
terhadap usaha penatalaksanaan yang dilakukan yang membuatnya putus asa atau kecewa
(Wasitaatmadja, 2007).

10. PENATALAKSANAAN
Pengobatan akne vulgaris dapat dilakukan dengan cara memberikan obat topical
sistemik, dan pembedahan.
1. Pengobatan topical
Untuk mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan dan mempercepat
penyembuhan lesi yang terdiri atas :
a. Bahan iritan yang dapat mengelupas, misalnya sulfur, peroksida bensoil, asam salisilat,
asam vitamin A, asam aseleat , asam alfa hidroksi (AHA), misalnya asam glikolat.
b. Antibiotika topical yang dapat mengurangi mikroba dalam folikel yang berperan dalam
etiopatogenesis akne vulgaris misalnya, tetrasiklin , eritromisin dan lain-lain.
c. Anti peradangan topical, salap atau krim kortokosteroid kekuatan ringan atau sedang atau
suntikan intra lasi kortikosteroid kuat pada lesi nodulokistik.
2. Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktifitas jasad renik disamping
juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebun dan keseimbangan hormonal, yang
terdiri dari :
a. Anti bakteri sistemik, tetrasiklin , eritromisi, doksiklin dan trimetropin.
b. Estrogen antiandrogen sipriteron asetat.
c. Vitamin A dan retinoid oral
3. Bedah kulit
Tindakan bedah kulit kadang diperlukan terutama untuk memperbaiki jaringan parut
akibat akne vulgaris yang berat.Tindakan ini dilakukan setelah akne vulgarisnya sembuh.
a. Bedah skapel dilakukan untuk meratakan sisi jaringan parut yang menonjol
b. Bedah listrik dilakukan pada komedo tertutup untuk mempermudah pengeluaran sebum.
c. Bedah kimia dengan asan triklor asetat untuk meratakan jaringan parut yang berbenjol.
d. Dermabrasi untuk meratakan jaringan parut yang hipo dan hipertrofi pasca akne yang
luas.
4. Pembersihan muka sedikitnya 3 kali sehari
5. Pilih kosmetika yang bersifat non komedogenikatau oil free
6. Diet seimbang
7. Pengobatan Akne vulgaris untuk jaringan parut :
 Dermabrasi, eksisi jaringan parut
 Hipertropik atau atropik, laser CO2,
 Chemical peeling dengan asam triklor
 Asetat
8. pengobatan topikal untuk akne komedonal :
 Sulfur, asam salisilat, resorsinol (akne krim/lotion)
 Asam retinoat/ tretinoin 0,025% - 0,1% (hanya untukmalam hari)
 Asam azeleat 15-20%
 AHA : glycolic acid 3-8%

11. KOMPLIKASI
Jerawat (acne vulgaris) dapat menyebabkan beberapa komplikasi, komplikasi dapat
terjadi pada jerawat dengan atau tanpa pengobatan, atau sebagi efek samping dari
pengobatan. Komplikasi yang mungkin timbul berupa :
a. Selulitis lokal : acne kistik menjadi sangat terinflamasi sehingga menyebabkan infeksi
pada jaringan sekitar
b. Acne keloidalis : umumnya muncul pada area janggut, garis rahang dan kulit kepala
bagian posterior pada individual yang memiliki predisposisi genetik untuk reaksi keloid
terhadap inflamasi
c. Folikulitis gram negatif : erupsi pustular dapat muncul pada pasien dengan terapi
antibiotik oral yang diperpanjang
d. Acne conglobata : bentuk acne nodularkistik yang berat yang menyebabkan saluran sinus
berepitel
e. Hiperpigmentasi : Lesi akut acne yang telah memudar akan meninggalkan bintik atau
bekas gelap, hal ini dikarenakan inflamasi yang akan meningkatkan produksi melanin
B. PROSES KEPERWATAN
1. PENGKAJIAN
Merupakan tahap awal dari pendekatan proses keperawatan dan dilakukan secara
sistematika mencakup askep bio, psiko, sosio dan spiritual. Langkah awal dari pengkajian ini
adalah pengumpulan data yang diperoleh dari hasil wawancara ddengan klien dan keluarga,
observasi pemeriksaan fisik, konsultasi dengan anggota tim kesehatan lainnya dan meninjau
kembali catatan medis atau catatan keperawatan. Pengkajian dilakukan dengan cara inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskultasi.
Pengkajian secara umum pada klien dengan acne vugaris dapat menanyakan :
a. Apakah klien menggunakan obat-obatan kimia atau herbal?
b. Apakah klien rutin mengkonsumsi makanan yang berlemak?
c. Apakah klien sering berkeringat ?atau sering memakai baju yang teksturnya kasar saat
bergesekan dengan kulit?
d. Apakah klien pernah memencet komedo dengan kuku?
e. Apakah klien menggunakan produk kosmestik tertentu?
f. Apakah klien rajin olahraga?
g. Apakah klien alergi terhadap sesuatu ?
Sedangkan pengkajian lebih dalam dapat menggunakan format sebagai berikut :
a. Identitas klien : Nama, umur, jenis kelamin, alamat, diagnose dan lain-lain
b. Status kesehatan
1. Status kesehatan saat ni :
Dilihat apakah acne yang terjadi pada pasien menyebar di seluruh permukaan wajah atau
di daerah yang lain juga. Selain itu kaji tekstur, kelembaban lesi, perubahan warna,
mobilitas, suhu, turgor, edema, serta lihat kebersihannya.
2. Status kesehatan masa lalu
 Apakah klien pernah berjerawat sebelumnya, dan tanyakan pula jerawat apa yang dulu
perna dialami.
 Kebiasaan
c. Penyakit keluarga
d. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. Pemeriksaan fisik
 Tanda-tanda vital
 inspeksi : Lihat kondisi kulit,
a. Kaji ukuran dan karakteristik benjolan,
b. Kaji adanya tanda-tanda infeksi bakteri ( seperti pembentukan pus),
c. Kaji adanya komedo, papula, pustula, dan nodul.
d. Kaji adanya lesi
Palpasi : meregangkan kulit dengan hati-hati dan kemudian mengkaji lesi yang ada.
4. Pemeriksaan labolatorium

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya faktor mekanik.
2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit ( Acne Vulgaris) ditandai dengan
mengungkapkan malu terhadap keadaannya.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tubuh tidak adekuat.
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan perilaku klien saat menjelaskan pengalaman
masalah sebelumnya (Acne vulgaris).