Anda di halaman 1dari 9

REFLEKS SPINAL PADA KATAK

Oleh :
Nama : Laely Cahya Wulandari Permata Putri
NIM : B1A016142
Rombongan : III
Kelompok : 1
Asisten : Dasilva Primarindu Nuswantari

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sistem-sistem organisme bekerja secara selaras dan teratur dalam


menyelenggarakan aktivitas metabolisme tubuh secara keseluruhan. Mengontrol dan
mengatur kerja sistem organ tubuh kita memiliki suatu sistem yang dikenal sebagai
sistem koordinasi atau sistem saraf. Organisasi sistem saraf akan menimbulkan
tanggapan terhadap rangsangan yang diterima. Salah satu tanggapan yang akan
dipelajari dalam percobaan ini yaitu gerak refleks (Campbell, 2004).
Refleks yang divariasi telah ada sejak lahir, sedangkan refleks bersyarat
diperoleh kemudian sebagai hasil dari pengalaman. Refleks merupakan sebagian
kecil dari perilaku hewan tingkat tinggi, tetapi memegang peranan penting dalam
perilaku hewan tingkat tinggi. Refleks biasanya menghasilkan respon jika bagian
distal sumsum tulang belakang memiliki bagian yang lengkap dan mengisolasi ke
bagianpusat yang lebih tinggi. Tetapi kekuatan dan jangka waktu menunjukan
keadaan sifat involuntari yang meningkat bersama dengan waktu (Madhusoodanan,
2007).
Praktikum reflek spinal pada katak ini menggunakan katak sawah
(Fejervarya cancrivora) dengan serangkaian perlakuan untuk mengetahui reflek
spinalnya, katak sawah digunakan karena katak sawah mudah didapat, selain itu
juga katak sawah dapat mewakili hewan vertebrata dalam uji reflek spinal ini.
Menurut Franson (1993) refleks sebenarnya merupakan gerakan respon dalam usaha
mengelak dari suatu rangsangan yang dapat membahayakan atau mencelakakan.
Gerak refleks dapat dibedakan menjadi refleks kompleks dan refleks tunggal.
Refleks kompleks adalah refleks yang diikuti oleh respon yang lain, misalnya
memegang bagian yang kena rangsang dan berteriak yang dilakukan pada waktu
yang sama. Refleks tunggal adalah refleks yang hanya melibatkan efektor tunggal.
Berdasarkan tempat konektornya refleks dibedakan menjadi dua yaitu refleks tulang
belakang (refleks spinalis) dan refleks otak.

B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui terjadinya refleks spinal
pada katak.
II. MATERI DAN CARA KERJA
A. Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah katak sawah
(Fejervarya cancrivora) dan larutan asam sulfat (H2SO4) 1 %
Alat yang digunakan adalah jarum, beaker glass, baki preparat, dan gloves.

B. Cara Kerja
1. Otak katak dirusak dengan jarum preparat.
2. Posisi katak dibalikan, diamati apakah katak masih bisa membalikan badan
atau tidak.
3. Kaki katak ditarik, diamati apakah katak bisa menarik kakinya kembali atau
tidak.
4. Kaki katak dimasukkan kedalam larutan asam sulfat, diamati kecepatan gerak
refleks kaki katak.
5. Dilakukan perusakan medulla spinalis ¼ bagian.
6. Hal yang sama dilakukan seperti langkah 2 sampai 4 begitu pula pada
perusakan medulla spinalis ½, ¾, dan perusakan total. Diamati setiap
perubahannya, dicatat dan dimasukkan ke dalam tabel.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Tabel 3.1. Hasil Pengamatan Gerak Reflek Spinal Katak


Penarikan Pencelupan
Perusakan/rangsang
Pembalikan kaki terhadap
stimulus Kaki depan Kaki belakang
1 % H2SO4
Otak +++ +++ +++ +++
¼ medulla spinalis - + + +++
½ medulla spinalis - - - ++
¾ medulla spinalis - - - -
Total medulla spinalis - - - -
Keterangan :
+++ : Sangat cepat
++ : Cepat
+ : Lambat
 : Tidak ada respon

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, pada perlakuan perusakan
otak didapat hasil positif (respon cepat) pada refleks pembalikkan tubuh, penarikan
kaki depan, penarikan kaki belakang dan pencelupan H2SO4 1%. Perlakuan perusakan
¼ medula spinalis didapat respon sangat cepat pada refleks pembalikkan tubuh,
penarikan kaki depan, serta sangat cepat pada kaki belakang dan respon sangat cepat
terhadap pencelupan H2SO4 1%. Menurut Frandson (1993), perusakan ¼ medula
spinalis menyebabkan organisme dapat menggerakkan seluruh tubuhnya, tetapi
masih dapat menggerakkan bagian-bagian tubuh tertentu bila ada rangsangan.
Perusakkan ½ medula spinalis menghasilkan hasil yang negatif untuk parameter
pembalikan tubuh, cepat pada penarikan kaki depan dan kaki belakang, untuk respon
pencelupan H2SO4 cepat. Menurut Hoar (1984), menyatakan bahwa perusakan ¼ dari
sumsum tulang belakang tidak merusak semua sistem saraf yang menyebabkan reflek
spinal. Semakin lebar kerusakan sumsum tulang belakang, responnya akan semakin
melemah. Perusakan ¾ medulla spinalis didapatkan respon negatif pada pembalikan
tubuh, penarikan kaki depan dan kaki belakang, dan pencelupan H2SO4 1%.
Perusakan total pada sumsum tulang belakang tidak didapatkan respon terhadap
semua stimulus. Hasil untuk perusakan ¾ dan total sumsum tulang belakang sesuai
dengan pustaka yaitu menurut Hainsworth (1981), perusakan pada sumsum tulang
belakang ternyata juga merusak tali-tali spinal sebagai jalur-jalur saraf. Tali-tali
spinal terdiri dari saraf sensori dan motori, oleh karena itu bila saraf tersebut rusak
maka respon terhadap stimulus tidak akan terjadi.
Sistem syaraf merupakan sistem koordinasi yang berfungsi sebagai penerima
dan penghantar rangsangan ke semua bagian tubuh dan selanjutnya memberikan
tanggapan terhadap rangsangan tersebut. Jaringan saraf merupakan jaringan
komunikasi dalam tubuh. Sistem saraf merupakan jaringan khusus yang
berhubungan dengan seluruh bagian tubuh (Campbell, 2004). Berdasarkan susunan
dan fungsinya, neuron dibagi dalam tiga kelompok dasar yaitu, neuron sensorik
yang tanggap terhadap stimulans-stimulans dari dalam atau luar organisme dan
mengirimkan impuls ke sistem saraf pusat, neuron asosiasi yang berfungsi sebagai
mata rantai antara neuron sensorik dengan neuron motorik, neuron motorik yang
membawa impuls ke otot atau kelenjar dan merangsang mereka menjadi aktif.
(Hidayati et al., 2015). Astrosit adalah sel glial yang bertanggung jawab untuk
berbagai fungsi di seluruh sistem saraf pasca kelahiran, termasuk pengambilan dan
daur ulang neuro transmiter, membentuk brain barrier darah, memberikan
dukungan metabolik, dan memberikan struktur yang mendukung otak. Salah satu
peran pertama astrosit di otak adalah dalam panduan akson di garis tengah untuk
membentuk korpus callosum (Collette et al., 2017).
Menurut Tenzer (1998) sistem saraf dibedakan menjadi sistem saraf pusat dan
sistem saraf tepi, dengan penjelasan sebagai berikut :
● Sistem saraf pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang
(medulla spinalis). Otak dan medulla spinalis pada amphibi, selain dilindungi oleh
tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, juga dilindungi oleh 2 lapisan selaput
meninges. Dua lapisan meninges pada amphibi dari luar ke dalam adalah duramatar
(yang berupa jaringan ikat) dan pia-arakniod yang vascular. Antara dua lapisan
tersebut terdapat spatium subdurale.
● Sistem saraf tepi
Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar
(sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur
oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak
antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.
Gerak refleks adalah gerak yang terjadi akibat impuls melalui jalan pendek
atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian
diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh sel saraf penghubung
(asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor
untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Gerak refleks dapat dibedakan
atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya,
gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang
belakang bila sel saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang
misalnya refleks pada lutut (Corey & Simon, 2010).
Menurut Tenzer (1998), pusat gerak refleks amphibi terdapat bagian-bagian
otak tengah. Otak tengah terletak di depan otak kecil. Bagian depan otak tengah
terdapat talamus dan kelenjar hipofisis. Pada bagian atas (dorsal) otak tengah juga
terdapat lobus optikus dan sepasang nervus optikus yang saling bersilangan.
Pertemuan atau persilangan antara dua nervus optikus disebut sebagai chiasma.
Lobus ini merupakan pusat penglihat, karena semua nervus optikus bermuara pada
lobus ini. Stimulus yang berupa cahaya dan diterima oleh mata sebagai reseptor
diubah menjadi impuls dan disalurkan ke nervus optikus yang akhirnya
diterjemahkan pada lobus optikus, sehingga timbul sensasi penglihatan. Lobus ini
juga berfungsi mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga
merupakan pusat pendengaran. Lobus optikus pada amphibi lebih berkembang
daripada lobus olfaktorius. Hal ini karena amphibi, contohnya katak merupakan
hewan lokturnal. Hewan-hewan lokturnal lebih banyak melakukan aktivitas pada
malam hari, sehingga lobus optikus lebih dibutuhkan oleh amphibi. Selain itu, pada
bagian dorsal otak tengah juga terdapat kelenjar epifisis. Kelenjar ini disebut juga
Badan pineal yang berfungsi ketika terjadi pembentukan pigmen pada permukaan
tubuh. Bagian ventral, selain terdapat kelenjar hipofisis juga terdapat kelenjar
hipotalamus dan infundibulum. Kelenjar hipotalamus terdapat sel-sel neurosekretori
(sel saraf yang menghasilkan sekret).
Menurut Gordon et al., (1982), refleks spinal pada katak dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :
a) Kondisi sumsum tulang belakang dimana perusakan sumsum tulang belakang
dalam tingkat yang parah dapat menghilangkan reflek spinal.
b) Larutan kimia seperti H2SO4 yang dapat menimbulkan refleks spinal tertentu.
c) Obat-obatan keras yang dapat menurunkan kontrol otak terhadap pergerakan
sehingga gerakan dikendalikan oleh sumsum tulang belakang sebagai refleks
spinal.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa
refleks spinal pada katak perusakan ¼ medulla spinalis didapat respon sangat cepat
pada refleks pembalikkan tubuh, penarikan kaki depan, serta sangat cepat pada kaki
belakang dan respon sangat cepat terhadap pencelupan H2SO4 1%. Perusakan ½
medula spinalis menghasilkan hasil yang negatif untuk parameter pembalikan tubuh,
cepat pada penarikan kaki depan dan kaki belakang, untuk respon pencelupan H 2SO4
1% cepat. Perusakan ¾ medulla spinalis didapatkan respon negatif pada pembalikan
tubuh, penarikan kaki depan dan kaki belakang, dan pencelupan H 2SO4 1%.
Perusakan total pada medulla spinalis tidak didapatkan respon terhadap semua
stimulus.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell., 2004. Biologi jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Collette, J. C., Choubey, L., & Smith, K. M., 2017. Glial and Stem Cell Expression
of Murine Fibroblast Growth Factor Receptor 1 in the Embryonic and
Perinatal Nervous System. PeerJ, 10, pp. 1-25.

Corey, B. H & Simon, F. G., 2010. A Neural Basis for Motor Primitives in the Spinal
Cord.. Neurobiology and Anatomy, College of Medicine and School of
Bioengineering and Health Sciences. The Journal of Neuroscience, pp.
19104.

Frandson, R. D., 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Gordon, M. S., Bortholomew, G. A., Grinell, A. D., Jorgenscy, D. C., & White, F. N.,
1982. Animal Physiology : Principle and Adaptation, 4th Edition. New York:
Mac Millan Publishing Co Inc.

Hainsworth, F. R. 1981. Animal of Physiology Adaptation in Function.


Massachussetts: Addison Wesley Publishing Company Inc.

Hidayati, I., Abdullah., & Sabri, M. 2015. Identifikasi Miskonsepsi Sistem Saraf
pada Buku Teks Biologi Kelas XI. Jurnal Biotik, 3(1), pp. 39-44.

Hoar, W. S.1984. General and Comparative Physiology Third Edition. New Delhi:
Prentice Hall of India Private Limited.

Madhusoodanan, M. G. P. 2007. Continence Issues in the Patient with


Neurotrauma.Senior Consultant Surgery, Armed Forces Medical Services ‘M’
Block, Ministry of Defence, DHQ, New Delhi. Indian Journal of
Neurotrauma (IJNT), 4(2), pp. 75-78.

Tenzer, A., 1998. Struktur Hewan II. Malang: Universitas Negeri Malang Press.