Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

2.1 Konsep Dasar Halusinasi


2.1.1 Definisi
Halusinasi adalah Persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada
panca indra seseorang, yang terjadi pada keadaan sadar atau bangun
dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik. (Maramis,
2011).
Halusinasi adalah persepsi sensorik (penglihatan, sentuhan,
pendengaran, penghidu, atau pengecap) tanpa rangsangan luar. (Kamus
Saku Kedokteran Dorland, 489)
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam
membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia
luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada
objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan
mendengar suara padahal tidak ada orang yang banyak berbicara.
(Kusumawati F, Yudi Hartono. 2010)
Halusinasi merupakan salah satu gangguan persepsi, dimana terjadi
pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan sensorik (persepsi indra
yang salah). Menurut Cook dan Fotaine (2012), halusinasi adalah persepsi
sensorik tentang suatu objek, gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system
penginderaan (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan atau
pengecapan), sedangkan menurut Wilson (1983), halusinasi adalah
gangguan penyerapan/persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari
luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat
kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut
terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari
individu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak
nyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan.
Menurut Cook and Fotaine (2012) Halusinasi adalah persepsi
sensorik tentang suatu objek, gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa

1
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system pengindraan
( pengindraan, penglihatan, penciuman, perabaan atau pengecap.
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang
dialami oleh pasien gangguan jiwa, klien merasakan sensasi berupa suara,
penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus nyata. (
Dr. Budi Anna Keliat 2012)
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa adanya
stimulus yang nyata, artinya klien mengidentifikasi sesuatu yang nyata
tanpa stimulus dari luar. ( Stuart and Laraia, 2012 ).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan halusinasi adalah
suatu keadaan dimana seseorang mengalami satu gangguan sensori persepsi
terhadap lingkungan sekitar tanpa ada stimulus luar baik secara penglihatan,
pendengaran, pengecapaan, perabaan dan penciuman.

2.1.2 Klasifikasi Halusinasi


Menurut Stuart dan sundeen, 2012 halusinasi dapat di klasifikasikan
menjadi 5 (lima) jenis antara lain :
1. Halusinasi pendengaran (akustik)
Yaitu klien mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hubungannya
dengan stimulus yang nyata/lingkungan. Dengan kata lain orang berada
di sekitar klien tidak mendengar suara atau bunyi yang di dengar klien.
Perilaku yang diamati :
a. Melirik mata kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau apa yang
sedang berbicara.
b. Mendengar dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang
tidak berbicara atau kepada benda mati.
c. Terlibat dalam percakapan dengan benda mati atau dengan
rangsangan yang tidak nampak.

2
2. Halusinasi penglihatan (visual)
Yaitu klien melihat gambaran yang jelas atau samaran tanpa adanya
stimulus yang nyata dari lingkungan, dengan kata lain orang yang
berada di sekitar klien tidak melihat gambaran seperti apa yang di
katakana klien.
3. Halusinasi penciuman (olfaktori)
Yaitu klien mencium sesuatu bau yang muncul dari sumber tertentu.
Tanpa stimulus yang nyata artinya oaring berada disekitar klien tidak
mencium sesuatu seperti apa yang di rasakan klien.
4. Halusinasi pengecapan ( gustatori)
Yaitu klien merasa makan sesuatu yang tidak nyata biasanya rasa
makanan yang tidak enak.
5. Halusinasi perabaan atau taktil
Klien merasakan sesuatu pada kulit, perilakunya menampar diri sendiri
sedang memadamkan api, melompat-lompat di lantai seperti sedang
menghindari nyeri atau stimulus lain pada kaki.

2.1.3 Rentang Respon Neurobiologi


Respon perilaku klien dapat di identifikasi sepanjang rentang respon
neurobiologik dari yang adaftif ke maldaptif.
Pikiran logis distorsi pikiran waham
Persepsi akurat ilusi halusinasi
Emosi konsisten menarik diri sulit
berespons
Perilaku sesuai reaksi emosi prilaku
disorganisasi
Hubungan sosial perilaku tidak biasa isolasi
sosial.
(Stuart and Laraia, 2012) Respon adaptif adalah respon yang dapat
diterima oleh norma-norma social dan budaya secara umum yang berlaku
didalam masyarakat, dimana individu menyelesaikan masalah dalam batas
normal yang meliputi :

3
1. Pikiran logis adalah segala sesuatu yang diucapkan dan dilaksanakan
oleh individu sesuai dengan kenyataan.
2. Persepsi akurat adalah penerimaan pesan yang disadari oleh indra
perasaan, dimana dapat membedakan objek yang satu dengan yang lain
dan mengenai kualitasnya menurut berbagai sensasi yang dihasilkan.
3. Emosi konsisten dengan pengalaman adalah respon yang diberikan
individual sesuai dengan stimulus yang datang.
4. Prilaku sesuai dengan cara berskap individu yang sesuai dengan
perannya.
5. Hubungan social harmonis dimana individu dapat berinteraksi dan
berkomunkasi dengan orang lain tanpa adanya rasa curiga, bersalah dan
tidak senang.
Sedangkan mal adaptif adalah suatu respon yang tidak dapat diterima
oleh norma-norma sosial dan budaya secara umum yang berlaku
dimasyarakat, dimana individu dalam menyelesaikan masalah tidak
berdasarkan norma yang sesuai diantaranya :
1. Gangguan proses pikir / waham adalah ketidakmampuan otak untuk
memproses data secara akurat yang dapat menyebabkan gangguan
proses pikir, seperti ketakutan, merasa hebat, beriman, pikiran
terkontrol, pikiran yang terisi dan lain-lain.
2. Halusinasi adalah gangguan identifikasi stimulus berdasarkan informasi
yang diterima otak dari lima indra seperti suara, raba, bau, dan
pengelihatan.
3. Kerusakan proses emosi adalah respon yang diberikan Individu tidak
sesuai dengan stimulus yang datang.
4. Prilaku yang tidak terorganisir adalah cara bersikap individu yang tidak
sesuai dengan peran.
5. Isolasi social adalah dimana individu yang mengisolasi dirinya dari
lingkungan atau tidak mau berinteraksi dengan lingkungan.

4
2.1.4 Etiologi
Menurut Farida (2011,108): beberapa faktor penyebab yaitu :
1. Factor predisposisi
a. Genetika
b. Neurobiologi
c. Neurotransmiter
d. Abnormal perkembangan saraf
e. Psikologis
2. Factor presipitasi
a. Proses pengolahan informasi yang berlebihan
b. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
c. Adanya gejala pemicu
Menurut Townsend ( 2013 ), etiologi pada klien dengan halusinasi
adalah :
1. Panik
2. Menarik diri
3. Stres berat yang mengancam ego yang lemah
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada
klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan
delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan
alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan
epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi
juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang
meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik,
sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi
sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat
keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi,
perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya
permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara
spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya
seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya

5
adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping
dan mekanisme koping.
Faktor pencetus :
1. Biologis
Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurobiologi yang
maladptif yang baru mulai dipahami, yang termasuk dalam hal ini adalah
sebagai berikut :
a. Penelitian pencitraan otak sudah mulai menunjukkan keterlibatan otak
yang lebih luas dalam perkembangan Skizoprenia. Lesi pada area
kontrol, temporal dan limbik paling berhubugan dengan prilaku
psikotik.
b. Beberapa kimia otak dikaitkan dengan Skizoprenia, hasil penelitian
menunjukkan bahwa :
- Dopamin neurotransmitter yang berlebihan
- Ketidakseimbangan antara dopamin dan neurotransmitter lain
- Masalah – masalah pada reseptor dopamin.
Para ahli biokimia mengemukakan bahwa halusinasi merupakan hasil
dari respon metabolik terhadap stres yang menyebabkan lepasnya
neurokimia halusinogenik (Stuart dan Sundeen, 2012).
2. Psikologis
Teori psikodinamik untuk terjadinya respon neurobiologik yang
maladaptif belum didukung oleh penelitian (Stuart dan Sundeen, 2012).
3. Sosio Budaya
Stres yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan Skizoprenia dan
gangguan psikotik lain tapi tidak diyakini sebagai penyebab utama
gangguan ( Stuart dan Sundeen, 2012).
Menurut Yosep (2009) ada beberapa faktor yang menyebabkan
halusinasi yaitu :
1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi penyebab halusinasi adalah :
a. Faktor Perkembangan

6
Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya kontrol
dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri
sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan
terhadap stress.
b. Faktor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi
akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada
lingkungannya.
c. Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya
stress yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan
dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia.
Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya
neurotransmitter otak.
d. Faktor Psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah
terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh
pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat
demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan
lari dari alam nyata menuju alam hayal.
e. Faktor Genetik dan Pola Asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang
tua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi
menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang
sangat berpengaruh pada penyakit ini.
2. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2007) yang dikutip oleh Jallo (2008), faktor presipitasi
terjadinya gangguan halusinasi adalah :
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk
dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara

7
selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk
diinterpretasikan.
b. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor. Pada halusinasi terdapat 3 mekanisme koping yaitu :
a. With Drawal : Menarik diri dan klien sudah asyik dengan
pengalaman internalnya.
b. Proyeksi : Menggambarkan dan menjelaskan persepsi yang
membingungkan ( alam mengalihkan respon kepada sesuatu
atau seseorang ).
c. Regresi : Terjadi dalam hubungan sehari-hari untuk
memproses masalah dan mengeluarkan sejumlah energi
dalam mengatasi cemas.
Pada klien dengan halusinasi, biasanya menggunakan pertahanan diri
dengan menggunakan pertahanan diri dengan cara proyeksi yaitu untuk
mengurangi perasaan emasnya klien menyalahkan orang lain dengan
tujuan menutupi kekurangan yang ada pada dirinya.

2.1.5 Patofisiologi
Halusinasi pendengaran paling sering terdapat pada klien
Skizoprenia. Halusinasi terjadi pada klien skizoprenia dan gangguan manik.
Halusinasi dapat timbul pada skizofrenia dan pada psikosa fungsional yang
lain, pada sindroma otak organik, epilepsi (sebagai aura), nerosa histerik,
intoksikasi atropin atau kecubung, zat halusinogenik dan pada deprivasi
sensorik (Maramis 1998).
Menurut Barbara ( 1997 ) klien yang mendengar suara – suara
misalnya suara Tuhan, iblis atau yang lain. Halusinasi yang dialami berupa
dua suara atau lebih yang mengomentari tingkah laku atau pikiran klien.

8
Suara– suara yang terdengar dapat berupa perintah untuk bunuh diri atau
membunuh orang lain.
Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart dan
Laraia (2001) dan setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:
1. Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian,
rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang
menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau
tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan
mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.
2. Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai
lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya
dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-
tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-
tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik
dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk
membedakan halusinasi dengan realita.
3. Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi
dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan
dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah
dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan
terutama jika akan berhubungan dengan orang lain.
4. Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti
perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik
diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak
mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat
membahayakan.

2.1.6 Tanda dan gejala


Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan
duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum
atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain,
gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga

9
keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa
yang di lihat, di dengar atau di rasakan).
Tahap I
a. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai
b. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara
c. Gerakan mata yang cepat
d. Respon verbal yang lambat
e. Diam dan dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan
Tahap II
a. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas
misalnya
b. Peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah
c. Penyempitan kemampuan konsenstrasi
d. Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan
kemampuan
e. untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas.
Tahap III
a. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh
halusinasinya dari
b. Pada menolaknya
c. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain
d. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik
e. Gejala fisik dari ansietas berat seperti berkeringat, tremor,
ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk
Tahap IV
a. Prilaku menyerang teror seperti panik
b. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain
c. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk,
agitasi,
d. Menarik diri atau katatonik
e. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks

10
Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang
Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah
sebagai berikut:
1. Bicara sendiri.
2. Senyum sendiri.
3. Ketawa sendiri.
4. Menggerakkan bibir tanpa suara.
5. Pergerakan mata yang cepat
6. Respon verbal yang lambat
7. Menarik diri dari orang lain.
8. Berusaha untuk menghindari orang lain.
9. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
10. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.
11. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.
12. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.
13. Sulit berhubungan dengan orang lain.
14. Ekspresi muka tegang.
15. Mudah tersinggung, jengkel dan marah.
16. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.
17. Tampak tremor dan berkeringat.
18. Perilaku panik.
19. Agitasi dan kataton.
20. Curiga dan bermusuhan.
21. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan.
22. Ketakutan.
23. Tidak dapat mengurus diri.
24. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.
Menurut Stuart dan Sundeen (2012) seseorang yang mengalami
halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala yang khas yaitu:
1. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.
2. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.
3. Gerakan mata abnormal.

11
4. Respon verbal yang lambat.
5. Diam.
6. Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan.
7. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya
peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah.
8. Penyempitan kemampuan konsenstrasi.
9. Dipenuhi dengan pengalaman sensori.
10. Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi
dengan realitas.
11. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya
daripada menolaknya.
12. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
13. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.
14. Berkeringat banyak.
15. Tremor.
16. Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk.
17. Perilaku menyerang teror seperti panik.
18. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain.
19. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan
agitasi.
20. Menarik diri atau katatonik.
21. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks.
22. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.

2.1.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien halusinasi dengan cara :
1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik.
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan
secara individual dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa
pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara
fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati

12
pasien, berbicara dengan pasien. Begitu juga bila akan
meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu dan Pasien di beritahu
tindakan yang akan di lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan
sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk
berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan
dinding, majalah dan permainan.
2. Melaksanakan program terapi dokter.
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di
berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang
ada.
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya
halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan
data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain
yang dekat dengan pasien.
4. Memberi aktivitas pada pasien.
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini
dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan
memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun
jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan.
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data
pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses
keperawatan, misalnya dari percakapan dengan pasien diketahui bila
sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi
bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas.
Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan
diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya

13
di beritahukan pada keluarga pasien dan petugas lain agar tidak
membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak
bertentangan.
6. Hospitalisasi perawatan rumah sakit
7. Terapi ECT, merupakan kejang listrik dan pengobatan fisik dengan
mengunakan arus listrik antara 70-150 volt
8. Psikotrapi (menurut Dadang Hawari,2001)
Tujuan psikoterapi
a. Menurukan rasa takut klien
b. Mengembalikan proses pikiran yang luhur
1. Psikoterapi Re-edukatif memberikan pendidikan ulang yang
maksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu dan
juga mengubah pola pendidikan yang lama dengan yang baru
sehingga penderita lebih adaftif dengan dunia luar.
2. Psikoterapi rekonstruktif memperbaiki kembali (re-konstruksi)
kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi
kepribadian yang utuh seperti semula sebelum sakit.
3. Psikoterapi Kognetif : memulihkan kembali fungsi kognitif (
daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu
membedakan nilai-nilai moral etika, mana yang baik dan yang
buruk, yang boleh dan tidak.
4. Psikoterapi Psiko-dinamik : menganalisa dan menguraikan
proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan seseorang
jatuh sakit dan upaya untuk mencari jalan keluarnya.
5. Psikoterapi Perilaku : memulihkan ganguan perilaku yang
terganggu (maladaptife) menjadi perilaku yang adaptif (mampu
menyesuaikan diri).
6. Psikoterapi keluarga ; memulihkan hubungan penderita dengan
keluarganya.
7. Terapi psikososial : dimaksudkan penderita agar mampu kembali
beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu

14
merawat diri, mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain
sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat.
8. Terapi Psikoreligius : dimaksudkan agar keyakinan atau
keimanan penderita dapat di pulihkan kembali.

2.1.8 Komplikasi
Dampak dari gangguan sensori persepsi : Halusinasi ( Stuart and
Laraia, 2005 ) :
a. Risiko perilaku kekerasan
Hal ini terjadi bahwa klien dengan halusinasinya cenderung untuk
marah-marah dan mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
b. Isolasi sosial
Hal ini terjadi karena prilaku klien yang sering marah-marah dan risiko
prilaku kekerasan maka lingkungan akan menjauh dan mengisolasi.
c. Harga diri rendah
Hal ini terjadi karena klien menjauhi dan mengisolasi dari lingkungan
klien beranggapan dirinya merasa tidak berguna dan tidak mampu.
d. Defisit perawatan diri : kebersihan diri
Hal ini terjadi karena klien merasa tidak berguna dan tidak mampu
sehingga klien mengalami penurunan motivasi dalam hal kebersihan
dirinya.

15
2.2 Manajemen Asuhan Keperawatan Pada Klien Halusinasi
Proses keperawatan merupakan metode pemberian asuhan
keperawatan yang logis, sistemati dinamis dan terorgenisasi yang digunakan
perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai atau
mempertahankan keadaan biologis, fisiologi, sosial, dan spiritual.
Langkah-langkah proses keperawatan dilakukan secara berurutan
yang terdiri dari:

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data diperoleh data sebagai berikut.
1. Fisik
a) Bicara, senyum, dan tertawa sendiri
b) Mengerakan bibirnya tanpa menimbulkan suara
c) Gerakan mata cepat
d) Respon verbal yang lambat
e) Peningkatan system syaraf otonom yang menujukan ansietas.
f) Misalnya ; nadi, pernapasan nadi, tekanan darah.
g) Gejala fisik dan ansietas berat seperti berkeringat, tremor, ketidak
mampuan mengikuti petunjuk.
h) Perilaku panik, agitasi menarik diri atau katotonik.
2. Emosi
a) Diam dan di penuhi sesuatu yang mengasikkan
b) Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan untuk
membedakan antara halusinasinya dan realitas.
c) Ekspresi muka tegang mudah tersinggung, jengkel, marah.
d) Curiga bermusuhan, menarik diri, orang lain, dan lingkungan.
e) Lebih cenderung mengikuti petujuk yang diberikan oleh halusinasinya
dari pada menolaknya.
3. Sosial
a) Menarik diri, dan menghindar dengan orang lain.
b) Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.

16
c) Perhatian dan lingkungan kurang atau hanya beberapa detik.
d) Tidak mampu mengikuti perinta dari perawat.
4. Intelektual
a) Biasanya terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.
b) Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks
5. Aktivitas sehari-hari
Tidak dapat mengurus diri
Dalam pengkajian juga di kaji tentang :
1. Faktor predisposisi. Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis
dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk
mengatasi stress. Diperoleh baik dari pasien maupun keluarganya,
mengenai factor perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis dan
genetik yaitu factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah
sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.
a. Faktor Perkembangan. Jika tugas perkembangan mengalami
hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan
mengalami stress dan kecemasan.
b. Faktor Sosiokultural. Berbagai faktor dimasyarakat dapat
menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap
lingkungan tempat klien di besarkan.
c. Faktor Biokimia. Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
gangguan jiwa. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami
seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat
bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan
Dimetytranferase (DMP).
d. Faktor Psikologis. Hubungan interpersonal yang tidak harmonis
serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh
anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan
berakhir dengan gangguan orientasi realitas.
e. Faktor genetik. Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia
belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor

17
keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada
penyakit ini.
2. Faktor Presipitasi. Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu
sebagai tantangan, ancaman / tuntutan yang memerlukan energi ekstra
untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti
partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek
yang ada dilingkungan juga suasana sepi / isolasi adalah sering sebagai
pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan
stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat
halusinogenik.
3. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,
perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang
perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat
membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan
Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan
atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang
dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga
halusinasi dapat dilihat dari dimensi yaitu :
a. Dimensi Fisik. Manusia dibangun oleh sistem indera untuk
menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya.
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti
kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga
delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu
yang lama.
b. Dimensi Emosional. Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar
problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu
terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut
hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap
ketakutan tersebut.

18
c. Dimensi Intelektual. Dalam dimensi intelektual ini menerangkan
bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya
penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha
dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat
mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol
semua prilaku klien.
d. Dimensi Sosial. Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi
menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu
asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk
memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga
diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi
dijadikan sistem control oleh individu tersebut, sehingga jika
perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu
cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam
melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan
suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal
yang memuaskan, serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga
klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak
berlangsung.
e. Dimensi Spiritual. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk
sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan
kebutuhan yang mendasar. Pada individu tersebut cenderung
menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar
dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam
individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya individu
kehilangan kontrol kehidupan dirinya.
4. Sumber Koping. Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi
seseorang. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan
menggunakan sumber koping dilingkungan. Sumber koping tersebut
sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan
keyakinan budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan

19
pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping
yang berhasil.
5. Mekanisme Koping. Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan
stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme
pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
2. Perubahan sensori persepsi : halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
3. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan
dengan halusinasi.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Perencanaan
Tujuan Intervensi
1 Isolasi sosial : TUM : 1. Dorong pasien untuk
menarik diri Klien dapat menyebutkan aspek positif
berhubungan berhubungan dengan yang ada pada dirinya dari segi
dengan harga orang lain secara fisik.
diri rendah optimal / bertahap 2. Diskusikan dengan pasien
TUK: tentang harapan-harapannya.
Klien dapat 3. Diskusikan dengan pasien
1. Mengidentifikasi keterampilannya yang
kemampuan yang menonjol selama di rumah dan
dimiliki di rumah sakit.
2. Menilai 4. Berikan pujian.
kemampuan diri 5. Identifikasi masalah-masalah
yang dapat yang sedang dihadapi oleh
dipergunakan pasien
3. Klien mampu 6. Diskusikan koping yang biasa
mengevaluasi diri digunakan oleh pasien.

20
4. Klien mampu 7. Diskusikan strategi koping
membuat yang efektif bagi pasien.
perencanaan yang 8. Bersama pasien identifikasi
realistik untuk stressor dan bagaimana
dirinya penialian pasien terhadap
5. Klien mampu stressor.
bertanggung jawab 9. Jelaskan bahwa keyakinan
dalam tindakan pasien terhadap stressor
mempengaruhi pikiran dan
perilakunya.
KH :
10. Bersama pasien identifikasi

1. Pasien dapat keyakinan ilustrasikan tujuan

menyebutkan yang tidak realistic.

koping yang 11. Bersama pasien identifikasi

dapat digunakan kekuatan dan sumber koping


yang dimiliki
2. Pasien dapat 12. Tunjukkan konsep sukses dan
menyebutkan gagal dengan persepsi yang
efektifitas koping cocok.
yang 13. Diskusikan koping adaptif dan
dipergunakan maladaptif.
3. Pasien mampu 14. Diskusikan kerugian dan
memulai akibat respon koping yang
mengevaluasi diri maladaptive.
4. pasien mampu 15. Bantu pasien untuk mengerti
membuat bahwa hanya pasien yang
perencanaan yang dapat merubah dirinya bukan
realistik sesuai orang lain
dengan 16. Dorong pasien untuk
kemampuan yang merumuskan
ada pada dirinya perencanaan/tujuannya sendiri
5. Pasien (bukan perawat).

21
bertanggung 17. Diskusikan konsekuensi dan
jawab dalam realitas dari perencanaan /
setiap tindakan tujuannya.
yang dilakukan 18. Bantu pasien untuk menetpkan
sesuai dengan secara jelas perubahan yang
rencanan diharapkan.
19. Dorong pasien untuk memulai
pengalaman baru untuk
berkembang sesuai potensi
yang ada pada dirinya.

2 Perubahan TUM : 1. Bina hubungan saling percaya.


sensori Klien dapa 2. Buat kontrak dengan klien.
persepsi : berinteraksi dengan 3. Lakukan perkenalan.
halusinasi orang lain sehingga 4. Panggil nama kesukaan.
berhubungan tidak terjadi 5. Ajak pasien bercakap-cakap
dengan halusinasi dan Klien dengan ramah.
menarik diri. mampu mengontrol 6. Kaji pengetahuan klien tentang
halusinasinya perilaku menarik diri dan
TUK : tanda-tandanya
1.Klien mampu serta beri kesempatan pada
membina klien mengungkapkan
hubungan saling perasaan penyebab pasien
percaya tidak mau bergaul/menarik
2.Klien mampu diri.
mengenal prilaku 7. Jelaskan pada klien tentang
menarik dirinya, perilaku menarik diri, tanda-
misalnya tanda serta yang mungkin jadi
menyebutkan penyebab.
perilaku menarik 8. Beri pujian terhadap

22
diri kemampuan klien
3.Klien mampu mengungkapkan perasaan.
mengadakan 9. Diskusikan tentang
hubungan/sosialisa keuntungan dari berhubungan.
si dengan orang 10. Perlahan-lahan serta pasien
lain : perawat atau dalam kegiatan ruangan
klien lain secara dengan melalui tahap-tahap
bertahap yang ditentukan.
4.Klien dapat 11. Beri pujian atas keberhasilan
menggunakan yang telah dicapai.
keluarga dalam 12. Anjurkan pasien mengevaluasi
mengembangkan secara mandiri manfaat dari
kemampuan berhubungan.
berhubungan 13. Diskusikan jadwal harian yang
dengan orang lain dapat dilakukan pasien
mengisi waktunya.
KH : 14. Motivasi pasien dalam
mengikuti aktivitas ruangan.
1. Pasien dapat dan
15. Beri pujian atas keikutsertaan
mau berjabat
dalam kegiatan ruangan.
tangan.
16. Lakukan kungjungan rumah,
2. Pasien mau
bina hubungan saling percaya
menyebutkan
dengan keluarga.
nama, mau
17. Diskusikan dengan keluarga
memanggil nama
tentang perilaku menarik diri,
perawat dan mau
penyebab dan car a keluarga
duduk bersama.
menghadapi.
3. Pasien dapat
18. Dorong anggota keluarga
menyebutkan
untuk berkomunikasi.
penyebab klien
19. Anjurkan anggota keluarga
menarik diri.
pasien secara rutin menengok
4. Pasien mau
pasien minimal sekali

23
berhubungan seminggu.
dengan orang lain.
5. Setelah dilakukan
kunjungan rumah
klien dapat
berhubungan
secara bertahap
dengan keluarga

3 Resiko TUM : 1. Bina Hubungan saling percaya


mencederai Klien tidak 2. Beri kesempatan klien untuk
diri sendiri, mencederai diri mengungkapkan perasaannya.
orang lain, dan sendiri, orang lain 3. Dengarkan ungkapan klien
lingkungan dan lingkungan. dengan empati
berhubungan 4. Adakan kontak secara singkat
dengan TUK : tetapi sering secara bertahap
halusinasi 1. Klien dapat (waktu disesuaikan dengan
membina kondisi klien).
hubungan saling 5. Observasi tingkah laku : verbal
percaya dan non verbal yang
2. Klien dapat berhubungan dengan
mengenal halusinasi.
halusinasinya 6. Jelaskan pada klien tanda-
3. Klien dapat tanda halusinasi dengan
mengontrol menggambarkan tingkah laku
halusinasinya halusinasi.
4. Klien mendapat 7. Identifikasi bersama klien
dukungan keluarga situasi yang menimbulkan dan
dalam mengontrol tidak menimbulkan halusinasi,
halusinasinya isi, waktu, frekuensi.
5. Klien dapat 8. Beri kesempatan klien untuk

24
menggunakan obat mengungkapkan perasaannya
untuk mengontrol saat alami halusinasi.
halusinasinya 9. Identifikasi bersama klien
KH : tindakan yang dilakukan bila
sedang mengalami halusinasi.
1. Pasien dapat
10. Diskusikan cara-cara
mengungkapkan
memutuskan halusinasi
perasaannya dalam
11. Beri kesempatan pada klien
keadaan saat ini
untuk mengungkapkan cara
secara verbal.
memutuskan halusinasi yang
2. Pasien dapat
sesuai dengan klien.
menyebutkan
12. Anjurkan klien untuk
tindakan yang
mengikuti terapi aktivitas
biasa dilakukan
kelompok
saat halusinasi,
13. Anjurkan klien untuk
cara memutuskan
memberitahu keluarga ketika
halusinasi dan
mengalami halusinasi.
melaksanakan cara
14. Diskusikan dengan klien
yang efektif bagi
tentang manfaat obat untuk
pasien untuk
mengontrol halusinasi.
digunakan
15. Bantu klien menggunakan obat
3. Pasien dapat
secara benar.
menggunakan
keluarga pasien
untuk mengontrol
halusinasi dengan
cara sering
berinteraksi
dengan keluarga.

25
DAFTAR PUSTAKA

Cook,J.S & Fontaine K.L. 2012. Essentials of Mental Nursing. California:


Addition Wesley Publishing Company
Kusumawati F, Yudi Hartono. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Salemba Medika
Maramis, W. F. 2011. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa.Surabaya : Airlangga
University Press
Novack, D Patricia. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC
Stuart, Sunden.2012. Pocket Guide to Psychiatric Nursing.Jakarta: EGC
Perry dan Potter.2013. Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik
Edisi 4. Jakarta : EGC
Yosep, Iyus. 2009. Keperwatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung: Refika Aditama.
Towsend, Mary C.2013. Diagnosa keperawatan pada keperawatan
psikiatri.Jakarta:EGC
http://alisarjunipadang.blogspot.com/2013/03/farmakologi-sistem-respirasi.html
(di akses tanggal 15 Maret 2018)
http://sumbberilmu.blogspot.com/2013/04/askep-halusinasi_22.html (diakses
tanggal 15 Maret 2018)
http://suciayudwicahyanti.blogspot.com/ (di akses tanggal 05 Agustus 2017)
http://nersrezasyahbandi.blogspot.com/2013/02/asuhan-keperawatan-pada-pasien-
dengan_2057.html (di akses tanggal 05 Agustus 2017)
http://adityaariningmukti.blogspot.com/2012/12/askep-halusinasi.html (diakses
tanggal 15 Maret 2018)
http://donisyamnet.blogspot.com/2012/07/askep-halusinasi.html (diakses tanggal
15 Maret 2018)

26