Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINAJUAN PUSTAKA

1. Pengertian Malaria

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh 4 spesies plasmodium,


yaitu p. falciparum, p. ovale, p. malariae dan p. vivax yang di tularkan oleh
nyamuk-nyamuk yang terinfeksi (vector-borne disease). Pada tubuh manusia
parasit membelah diri dan bertamabah banyak di dalam hati dan kemudian
menyerang semua bentuk eritrosit sehingga perkembang-biakan di dalam darah
cepat sekali (Arjatmo dan Hendra, 1991).

2. Jenis Plasmodium

Dalam berbagai refrensi di jelaskan bahwa ada 4 jenis plasmodium yang


menyebabkan penyakit malaria pada manusia yaitu : (a) Plasmodium ovale,
menyebabkan malaria dengan demam menggigil selang sehari. Jenis ini jarang di
jumpai di Indonesia ini di jumpai di Afrika dan Pasifik Barat, (b) Plasmodium
falciparum, menyebabkan malaria tropika atau tertiana maligna, jenis ini
menimbulkan demam menggigil setiap hari, (c) Plasmodium vivax, menyebabkan
malaria tertiana, jenis ini menimbulkan demam menggigil selang sehari, (d)
Plasmodium malariae, menyebabkan malaria quartana, jenis ini menimbulkan
demam selang dua hari. Pada penderita penyakit malaria, penderita dapat
dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium. Infeksi demikian disebut infeksi
campuaran (mixed infection). Dari kejadian infeksi campuran ini biasanya paling
banyak dua jenis parasit, yakni campuran plasmodium palsifarum dan
plasmodium vivax atau plasmodium malariae (Soedarto, 1990).

3. Siklus Hidup Nyamuk

Selama siklus hidupnya, plasmodium mempunyai dua hospes yaitu pada


manusia dan nyamuk. Siklus aseksual yang berlangsung pada manusia disebut
skizogoni dan siklus seksual yang membentuk sporozoit di dalam nyamuk disebut
sporogoni. Siklus tersebut dapat di jelaskan bahwa di bawah ini.

Siklus Aseksual, siklus ini merupakan Sporozoit infeksius dari kelenjar


ludah nyamuk Anopheles betina dimasukkan dalam darah manusia melalui
tusukan nyamuk tersebut. Dalam waktu tiga puluh menit jasat tersebut memasuki
sel-sel parenkim hati dan dimulai stadium eksoeeritositik di dalam sel hati parasit
tumbuh menjadi skizon dan berkembang menjadi merozoit. Sel hati yang
mengandung parasit pecah dan merozoit keluar dengan bebas, sebagian di fagosit
karena prosesnya terjadi sebelum memasuki eritrosit maka disebut stadium
preeritrositik. Siklus eritrositik dimulai saat merozoit memasuki sel – sel darah
merah. Parasit tampak sebagai kromatin kecil dan membentuk tropozoit kemudian
menjadi skizon muda dan berkembang menjadi skizon matang dan membelah
banyak menjadi merozoit. Selasai pembelahan tersebut sel darah merah pecah dan
merozoit, pigmen dan sisa sel keluar dan memasuki plasma darah. Parasit
memasuki sel darah lainya untuk mengulangi silkus skizogoni. Beberapa merozoit
memasuki eritrosit dan membentuk skizon dan lainnya membentuk gametosit
yaitu bentuk seksual.

Siklus Seksual, Siklus ini adalah terjadi dalam tubuh nyamuk. Gametosit
yang ada dalam darah tidak dicerna oleh sel-sel lain. Pada makrogamet ( jantan )
kromatin dibagi menjadi 6-8 inti yang bergerak kepinggir parasit. Di pinggir ini
beberapa filament dibentuk seperi cambuk dan bergerak aktif disebut mikrogamet.
Pembuahan terjadi karena masuknya mikrogamet ke dalam makrogamet untuk
membentuk zigot.

Zigot berubah bentuk seperti cacing pendek disebut ookinet yang dapat
menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung dan di tempat ini
ookinet membesar dan disebut ookista di dalam ookista dibentuk ribuan sporozoit
dan beberapa sporozoit menembus kelenjar nyamuk dan bila nyamuk
menggigit/menusuk manusia maka sporozoit masuk ke dalam darah dan mulailah
siklus pre eritrosit (Zein, 2003).

4. Masa Inkubasi

Menurut Rampengan (1993), masa inkubasi pada penularan secara alamiah bagi
masing- masing spesies parasit sebagai berikut: (a)

Plasmodium falciparum 12 hari, (b) Plasmodium vivax dan ovale 13-17 hari (c)
Plasmodium malariae 28-30 hari.

5. Gejala Klinis Malaria

Berdasarkan gejala yang di alami oleh penderita yang terjangkit penyakit


malaria ialah tergantung pada imunitas penderita, tingginya transmisi infeksi
malaria. Berat/ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis plasmodium (Plasmodium
falciparum sering me mberikan komplikasi), umur (usia lanjut dan bayi sering
lebih berat).
Malaria sebagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium
mempunyai gejala utama ialah demam. Demam ini berhubungan dengan proses
skizogoni (pecahnya merozoit/skizon) atau terbentuknya sitokin atau toksin
menyebabkan infeksi. Plasmodium yang dikenal ada 4 jenis tersebut yaitu gejala
klinis yang pertama adalah, P. vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan
menyebabkan malaria tertiana/vivax (demamnya tiap hari ke-3). P. falciparum,
memberikan banyak komplikasi dan mempunyai akibat yang cukup ganas, mudah
resisten dengan pengobatan dan menyebabkan malaria tropika/ falciparum
(demamnya tiap 24-48 jam). P. malariae, jarang dan dapat menimbulkan
sindroma nefrotik dan menyebabkan malaria quartana/malariae (demamnya tiap
hari ke-4). P. ovale, memberikan infeksi yang paling ringan dan sering sembuh
spontan tanpa pengobatan menyebabkan malaria ovale. (Harijanto, 2007).

Menurut Rampengan (2007), gejala – gejala umum yaitu terjadinya “Trias


Malaria” secara berurutan yaitu: (a) Periode Dingin, dimana terjadi gejala
menggigil, kulit dingin dan kering, penderita sering membungkus diri dengan
selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan
gigi- gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode

ini berlangsung 15 sampai 1 jam dengan meningkatnya temperatur. (b) Periode


Panas, disini penderita mengalami muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat
dan panas badan tetap tinggi sampai 400 C atau lebih, penderita membuka
selimutnya, muntah- muntah, dapat terjadi syok (tekanan darah turun), periode ini
dapat sampai 2 jam atau lebih diikuti dengan keadaan berkeringat. (c) Periode
Berkeringat, penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh,
sampai basah, temperatur turun, penderita terasa capek, dan sering tidur.

Trias malaria ini secara keseluruhan dapat berlangsung 6-10 jam, lebih
sering terjadi pada infeksi P. Vivax, pada P. falciparum menggigil dapat
berlangsung berat ataupun tidak ada. Periode tidak panas berlangsung 12 jam
pada P. falciparum, 36 jam pada P. vivax dan P. ovale, 60 jam pada P. malariae
(Achmadi, 2008).

6. Cara Penularan

Penyakit malaria dikenal ada dua cara penularan malaria: Penularan


pertama secara alamiah (natural infection) penularan ini terjadi melalui gigitan
nyamuk anopheles. Sedangkan ya ng kedua penularan yang tidak alamiah terdiri
dari, (a) Malaria bawaan (congenital). Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan
karena ibunya menderita malaria, penularan terjadi melalui tali pusat atau
placenta. (b) Secara mekanik. Penularan terjadi melalui transfusi darah atau
melalui jarum suntik. Penularan melalui jarum suntik yang tidak steril lagi. Cara
penularan ini pernah dilaporkan terjadi disalah satu rumah sakit di Bandung pada
Tahun 1981, pada penderita yang dirawat dan mendapatkan suntikan intra vena
dengan menggunakan alat suntik yang dipergunakan untuk menyuntik beberapa
pasien, dimana alat suntik itu seharusnya dibuang sekali pakai (disposable). (c)
Secara oral (melalui mulut). Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung,
ayam (P.gallinasium) burung dara (P. relection) dan monyet (P. knowlesi)
(Soedarto, 1990).

Pada umumnya sumber infeksi bagi malaria pada manusia adalah manusia
lain yang sakit malaria baik dengan gejala maupun tanpa gejala klinis. Beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya penularan alamiah seperti adanya gametosit
pada penderita, umur nyamuk kontak antara manusia dengan nyamuk dan lain-
lain (Hiswani, 2004).

7. Pengobatan

Pengobatan radikal malaria dengan membunuh semua stadium parasit


yang ada dalam tubuh manusia. Pengobatan radikal bertujuan untuk mendapat
kesembuhan klinis dan parasitologik serta memutuskan rantai penularan. Semua
obat malaria tidak boleh diberikan dalam perut kosong karena bersifat iritasi
lambung oleh sebab itu semua penderita harus makan terlebih dahulu setiap akan
minum obat anti malaria.

- Malaria fasifarum

Lini pertama: artesunat+amodiakuin+primakuin, lini ke 2:


kina+doksiisklin+tetrasiklin+primakuin. Lini Pertama Malaria vival dan ovale :
(ACT) Artemisinin Combination. Therapy yaitu artesunate + amodiaquin atau
Dihydroartemisinin Piperaquin (DHP), sedangkan untuk lini kedua malaria vivax :
Kina + Primakuin.

- Malaria malariae

Pengobatan malaria malariae cukup diberikan ACT 1 kali perhari selama


3 hari.

- Malaria mix (P. falciparum + P. vival)

Artemisinin Combination Therapy (ACT), selama 3 hari serta pemberian


primakuin pada hari 1 dengan dosis 0,75mg/kg BB dilanjutkan pada hari 2-14
primakuin dengan dosis 0,25 mg/kg BB (Harijanto, 2010).

7. Prognosis

Ad Functionam : Bonam

Ad Sanationam : Dubia at Bonam

Ad Vitam : Bonam
BAB III

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Mirlina Fitria Santi

Umur : 28 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Padang Kiau Jorong Sago, Manggopoh, Lubuk Basung, Kab.


Agam

MR : 192326

Suku : Minang

Tanggal pemeriksaan : 29 Juli 2018

II. ANAMNESIS

Keluhan utama:

Demam sejak 7 hari sebelum masuk RS

Riwayat penyakit sekarang :

- Demam sejak 7 hari sebelum masuk RS, demam tinggi, terus-menerus,


menggigil, berkeringat banyak
- Nyeri ulu hati (+)
- Mual (+), muntah (+) 1 kali, muntah berwarna hitam (-)
- Lemah (+), lesu (+) sejak 7 hari yang lalu
- pusing (+), kadang berputar
- nyeri pada sendi (-)
- batuk (-), sesak (-)
- Bintik merah pada kulit (-)
- Penurunan napsu makan (+) sejak 1 minggu yang lalu,
- penurunan BB (+) sejak 1 minggu yang lalu, penurunan sebesar 4 kg
- Riwayat pergi ke daerah endemis (-)
- BAK normal
- BAB kehitaman (+), konsistensi keras sejak 2 hari yang lalu, BAB berlendir (-)
Riwayat penyakit dahulu:

- Riwayat DM (-)
- Riwayat hipertensi (-)
- Riwayat maag (+)
- Riwayat keganasan (-)

Riwayat pengobatan sebelumnya:

- Hari Sabtu 28 Juli 2018 pasien didagnosis oleh dokter di RSUD Lubuk Basung
dengan maag dan mendapatian obat suntik, namun pasien tidak tahu apa obatnya.
- Pasien mengaku riwayat Hb rendah 6 bulan yang lalu, kemudian pasien rawat
jalan poli interne RSUD Lubuk Basung dan dikatakan sembuh oleh dokter.

Riwayat penyakit keluarga:

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama

Pekerjaan:

Pasien seorang pegawai pertanahan yang bekerja di kantor

III. PEMERIKSAAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

Keadaan :sedang

Kesadaran :CMC

Tekanan darah :90/60 mmhg

Frekuensi nadi :108 x/menit

Frekuensi napas :20 x/menit

Suhu :37,60C

BB :43 kg

TB :156 cm

BMI :17,7 (underweight)

Edema :tidak ada

Anemis : pada konjungtiva mata


Ikterus :tidak ada

Kulit :turgor normal

KGB :tidak ada pembesaran KGB

Kepala :normocephal

Leher :JVP 5-2 CmH2O

Rambut :tidak mudah dicabut

Mata :konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-

Telinga :tidak ditemukan kelainan

Hidung :tidak ditemukan kelainan

Tenggorok :tonsil T1-T1, faring tidak hiperemis

Thorak

Paru

Inspeksi :simetris kiri dan kanan (statis), pergerakan dada kiri sama dengan
kanan (dinamis)

Palpasi :fremitus kiri sama dengan kanan

Perkusi :sonor kiri dan kanan

Auskultasi : vesikular, rhonki (-), wheezing (-) (kiri dan kanan)

Jantung

Inspeksi :iktus kordis tidak terlihat

Palpasi :iktus kirdis teraba 1 jari medial linea mid klavikula sinistra RIC V

Perkusi :dalam batas normal, atas RIC II, kiri 1 jari medial LMCS RIC V,
kanan LSD

Auskultasi : S1 S2 reguler, gallop (-), bising (-)

Abdomen

Inspeksi :perut tampak kembung

Palpasi :nyeri tekan epigastrium (+), hepar tidak teraba dan lien teraba S5

Perkusi :timpani pada bagian kanan, redup pada bagian kiri

Auskultasi :BU (+) normal


Alat kelamin :tidak dilaikukan pemeriksaan

Anus : tidak dilakukan pemeriksaan

Anggota gerak :udem (-), akral dingin

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Tanggal 29/07/2018

Hb : 8,0 gr/dl

Leukosit : 20.600/mm3

Trombosit : 303.000/mm3

Ht :51 %

Eritrosit :2.9 juta

Tes widal : S. Typ. O: negatif, S. Typ. H: negatif

Kesan: anemia sedang, eritropeni, leukositosis, penurunan hematokrit

V. DIAGNOSIS

Sindroma dispepsia + observasi febris susp malaria

VI. DIAGNOSIS BANDING

Leukemia granulositik kronik

VI. TATALAKSANA

- IVFD RL 20 tpm
- Ceftriazon 2 gr/24 jam
- Prosolgan 1 amp/12 jam
- PCT 4x500 mg
- Sukralfat 4x2 cth

VII. FOLLOW UP

30/7/18

S/ Demam +, 1 kali, badan lemas, muntah +, 1x, mengeluh nyeri ulu hati
O/ suhu 390C, TC 100/70, napas 20x/i, nadi 92x/i

Lab: Hb 7,8, LED: 138/2 jam, Luekosit: 18.500, eritrosit: 2.930.000, trombosit:
325.000, Ht: 23, diff count 0/0/0/82/14/4

Urinalisa: warna kuning, Ph 5,5, protein, reduksi, bilirubin, urobilin normal, erit: 5-
10/lpb leukosut: 20-25/lpb, silinder, kristal tidak ditemukan, sel epitel + gepeng

Kesan labor: anemia sedang

31/7/18

S/ Pasien mengeluh demam 1 kali, mual +

O/ suhu 37,30C, TC 100/80, napas 20x/i, nadi 93x/i

1/8/18

S/ Demam -, mual +, muntah +, 1x, mengeluh nyeri ulu hati

O/ suhu 36,90C, TC 110/70, napas 18x/i, nadi 95x/i

2/8/18

S/ Demam + disertai menggigil pada siang hari, badan lemas, muntah -, 1x, sakit
kepala, pandangan kabur

O/ suhu 38,80C, TC 110/70, napas 25x/i, nadi 98x/i

Lab:

GDS: 98

SGOT/SGPT: 17/14, ur/cr: 88/3,8, Hb: 6,9, leu: 6.400, trom: 329.000, ht: 20

Kesan: anemia sedang, peningkatan ureum dan kreatinin, penurunan Ht

Rencana: transfusi PRC 2 kantong

BAB IV

DISKUSI

1. Diagnosis Malaria
Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.3
A. Anamnesis
Keluhan utama pada malaria adalah demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai
sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal - pegal.
Pada anamnesis juga perlu ditanyakan:
1. riwayat berkunjung ke daerah endemik malaria;
2. riwayat tinggal di daerah endemik malaria;
3. riwayat sakit malaria/riwayat demam;
4. riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir;
5. riwayat mendapat transfusi darah.

B. Pemeriksaan Fisik
1. Demam (>37,5 ºC aksila)
2. Konjungtiva atau telapak tangan pucat
3. Pembesaran limpa (splenomegali)
4. Pembesaran hati (hepatomegali)
5. Manifestasi malaria berat dapat berupa penurunan kesadaran, demam tinggi,
konjungtiva pucat, telapak tangan pucat, dan ikterik, oliguria, urin berwarna coklat
kehitaman (Black Water Fever ), kejang dan sangat lemah (prostration).

C. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk mendapatkan kepastian diagnosis malaria harus dilakukan pemeriksaan sediaan
darah. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan melalui cara berikut.
1. Pemeriksaan dengan mikroskop
Pemeriksaan dengan mikroskop merupakan gold standard (standar baku) untuk
diagnosis pasti malaria. Pemeriksaan mikroskop dilakukan dengan membuat sediaan darah
tebal dan tipis. Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di rumah
sakit/Puskesmas/lapangan untuk menentukan:
a) Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif)
b) Spesies dan stadium Plasmodium
c) Kepadatan parasit
1) Semi Kuantitatif
(-) = negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB/lapangan pandang besar)
(+) = positif 1 (ditemukan 1 –10 parasit dalam 100 LPB)
(++) = positif 2 (ditemukan 11 –100 parasit dalam 100 LPB)
(+++) = positif 3 (ditemukan 1 –10 parasit dalam 1 LPB)
(++++) = positif 4 (ditemukan >10 parasit dalam 1 LPB)
Adanya korelasi antara kepadatan parasit dengan mortalitas yaitu:3
- Kepadatan parasit < 100.000 /ul, maka mortalitas < 1 %
- Kepadatan parasit > 100.000/ul, maka mortalitas > 1 %
- Kepadatan parasit > 500.000/ul, maka mortalitas > 50 %
2) Kuantitatif
Jumlah parasit dihitung per mikro liter darah pada sediaan darah tebal (leukosit) atau
sediaan darah tipis (eritrosit).
Contoh :
Jika dijumpai 1500 parasit per 200 lekosit, sedangkan jumlah lekosit 8.000/uL maka
hitung parasit = 8.000/200 X 1500 parasit = 60.000 parasit/uL.
Jika dijumpai 50 parasit per 1000 eritrosit = 5%. Jika jumlah eritrosit 4.500.000/uL
maka hitung parasit = 4.500.000/1000 X 50 = 225.000 parasit/uL.

Hasil negatif palsu pada pemeriksaan mikroskop cahaya dapat terjadi pada pasien
yang telah diobati sebelumnya. Pemeriksaan mikroskopik memiliki keuntungan dapat
membedakan spesies Plasmodium. Perhitungan jumlah parasit dan peniaian respons terhadap
pengobatan. Namun pemeriksaan mikroskopik memerlukan tenaga terlatih.

2. Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT)


Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan
menggunakan metoda imunokromatografi. Tes ini digunakan pada unit gawat darurat, pada
saat terjadi KLB, dan di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas laboratorium
mikroskopis. Hal yang penting yang perlu diperhatikan adalah sebelum RDT dipakai agar
terlebih dahulu membaca cara penggunaannya pada etiket yang tersedia dalam kemasan RDT
untuk menjamin akurasi hasil pemeriksaan. Saat ini yang digunakan oleh Program
Pengendalian Malaria adalah yang dapat mengidentifikasi P. falcifarum dan non P.
Falcifarum.
Rapid test relatif sederhana untuk dilakukan dan untuk menginterpretasikan. WHO
merekomendasikan bahwa test tersebut memiliki sensitivitas > 95% dalam mendeteksi
plasmodium dengan kepadatan lebih dari 100 parasit per µl darah.
Tes ini mengandung : HRP-2 (histidine rich protein-2) yang spesifik untuk P.
falcifarum. Enzim parasite lactate dehydrogenase (pLDH) dan aldolase yang diproduksi oleh
parasite bentuk aseksual dan seksual Plasmodium falcifarum, P. vivax, P. ovale dan P.
malariae.
Sensitifitas dan spesifitas tiap RDT bervariasi. Pada daerah endemis mono infeksi P.
vivax yang tidak tersedia pemeriksaan mikroskopik, direkomendasikan pemeriksaan RDT
yang mendeteksi antigen pan-malaria. Sedangkan pada daerah yang banyak koinfeksi P.
vivax, P. malariae, atau P.ovale dengan P. falcifarum, disarankan menggunakan RDT yang
mendeteksi P. falcifarum saja.
3. Pemeriksaan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Sequensing DNA
Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada fasilitas yang tersedia. Pemeriksaan ini penting
untuk membedakan antara re-infeksi dan rekrudensi pada P. falcifarum. Selain itu dapat
digunakan untuk identifikasi spesies Plasmodium yang jumlah parasitnya rendah atau di
bawah batas ambang mikroskopis. Pemeriksaan dengan menggunakan PCR juga sangat
penting dalam eliminasi malaria karena dapat membedakan antara parasit impor atau
indigenous.
Deteksi antibodi terhadap parasit, yang mungkin digunakan untuk studi epidemiologi,
tidak sensitive atau spesifik digunakan dalam pengelolaan pasien yang diduga menderita
malaria. Teknik DNA parasit terdeteksi berdasarkan polymerase chain reaction, sangat
sensitif dan sangat berguna untuk mendeteksi infeksi campuran, khususnya pada kadar parasit
rendah. Hal ini berguna untuk studi tentang resistensi obat dan penelitian epidemiologi
khusus, tetapi umumnya tidak tersedia untuk skala besar penggunaan lapangan di daerah
endemik malaria.
4. Selain pemeriksaan di atas, pada malaria berat pemeriksaan penunjang yang perlu
dilakukan adalah:
a. pengukuran hemoglobin dan hematokrit;
b. penghitungan jumlah leukosit dan trombosit;
c. kimia darah lain (gula darah, serum bilirubin, SGOT dan SGPT, alkali fosfatase,
albumin/globulin, ureum, kreatinin, natrium dan kalium, analisis gas darah); dan
d. urinalisis.

Berdasarkan rekomendasi WHO untuk diagnosis malaria tanpa komplikasi klinis


berbeda untuk tiap daerah :
 Pada daerah dengan risiko rendah, diagnosis harus berdasarkan adanya pajanan malaria
dan riwayat demam dalam 3 hari terakhir tanpa gambaran penyakit berat lainnya.
 Pada daerah dengan risiko tinggi, diagnosis harus berdasarkan adanya riwayat demam
dalam 24 jam terakhir dan/atau adanya anemia (pucat pada telapak tangan dapat dipakai
sebagai patokan anemia pada anak-anak).

Gambar 1. Alur penemuan penderita malaria

2. Regimen Terapi Malaria

Sejak tahun 2004 obat pilihan utama untuk malaria falsifarum digunakan obat
kombinasi derivat Artemisinin yang dikenal dengan Artemisinin Combination Theraphy
(ACT) Regimen yang dipakai saat ini adalah Artesunat dan Amodiakuin serta injeksi
Artemeter untuk malaria berat disamping injeksi Kina. Terapi antimalaria menggunakan
kombinasi 2 atau lebih obat skizontosida darah yang memiliki cara kerja berbeda.
Penggunaan obat kombinasi terbukti lebih efektif dan menurunkan risiko resistensi.
Terapi dengan ACTs terdiri dari artemisinin dan derivatnya (artesunat, artemeter,
dihidroartemisinin). Artemisinin dapat membunuh parasit dan memperbaiki gejala dengan
cepat dengan menurunkan jumlah parasit 100 – 1000 kali lipat per siklus aseksual.
Artemisinin dan derivatnya dieliminasi secara cepat, bila diberikan dalam kombinasi dengan
obat lain yang juga memiliki eliminasi secara cepat (seperti tetrasiklin, klindamisin),
diperlukan 7 hari pengobatan. Namun bila diberikan dalam kombinasi dengan antimalaria
yang dieliminasi lambat, maka dapat diberikan dalam waktu yang lebih singkat, selama 3
hari. Artemisinin juga membunuh gametosit sehingga menurunkan risiko transmisi penyakit.
Saat ini yang digunakan program nasional adalah derivat artemisinin dengan golongan
aminokuinolin, yaitu:
1. Kombinasi tetap (Fixed Dose Combination = FDC) yang terdiri atas Dihydroartemisinin
dan Piperakuin (DHP). 1 (satu) tablet FDC mengandung 40 mg dihydroartemisinin dan
320 mg piperakuin. Obat ini diberikan per – oral selama tiga hari dengan range dosis
tunggal harian sebagai berikut: Dihydroartemisinin dosis 2-4 mg/kgBB; Piperakuin dosis
16-32mg/kgBB
2. Artesunat – Amodiakuin (ACT)
Kemasan artesunat – amodiakuin yang ada pada program pengendalian malaria dengan 3
blister, setiap blister terdiri dari 4 tablet artesunat @50 mg dan 4 tablet amodiakuin 150
mg.

Pemeriksaan anjuran: periksa anti malaria