Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

GLOMERULONEFRITIS KRONIS

OLEH :

I GUSTI AYU SELVIA YASMINI (183222911)


MADE SURYA MAHARDIKA (183222920)
NI LUH PUTU EKA RASNUARI (183222931)
NI KADEK SINTHA YULIANA SARI (183222923)
NI WAYAN NIA ARDITYA SARI (183222948)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2018
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami mampu
menyelesaikan makalah laporan pendahuluan asuhan keperawatan ini tepat pada
waktunya. Adapun makalah ini merupakan salah satu tugas dari keperawatan anak II.
Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami mendapat banyak bantuan dari
berbagai pihak dan sumber. Karena itu kami sangat menghargai bantuan dari semua
pihak yang telah memberi kami bantuan dukungan juga semangat, buku-buku dan
beberapa sumber lainnya sehingga tugas ini bias terwujud. Oleh karena itu, melalui
media ini kami sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya dan jauh
dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang kami
miliki. Maka itu kami dari pihak penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik
yang dapat memotivasi saya agar dapat lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, 10 Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah ........................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2
1.3.1 Tujuan Umum ......................................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................................................ 2
BAB II ........................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 3
2.1 Konsep Dasar Penyakit .................................................................................. 3
2.1.1 Definisi .................................................................................................... 3
2.1.2 Epidemiologi ........................................................................................... 4
2.1.3 Etiologi .................................................................................................... 4
2.1.4 Pathway ................................................................................................... 6
2.1.5 Manifestasi Klinik ................................................................................... 7
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang .......................................................................... 7
2.1.7 Komplikasi .............................................................................................. 8
2.1.8 Penatalaksanaan ...................................................................................... 9
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ............................................................ 11
2.2.1 Pengkajian ............................................................................................. 11
2.2.2 Diagnosa................................................................................................ 16
2.2.3 Perencanaan........................................................................................... 16
BAB III ....................................................................................................................... 25
PENUTUP ................................................................................................................... 25
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 25
3.2 Saran ............................................................................................................. 25
BAB IV ....................................................................................................................... 26
KASUS........................................................................................................................ 26
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 43

ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Glomerulonefritis merupakan penyebab utama terjadinya gagal ginjal tahap
akhir dan tingginya angka morbiditas baik pada anak maupun pada dewasa.
Terminologi glomerulonefritis yang dipakai disini adalah untuk menunjukkan
bahwa kelainan yang pertama dan utama terjadi pada glomerulus, bukan pada
struktur ginjal yang lain. Glomerulonefritis merupakan penyakit peradangan
ginjal bilateral. Peradangan dimulai dalam gromleurus dan bermanifestasi sebagai
proteinuria dan atau hematuria. Meskipun lesi utama pada gromelurus, tetapi
seluruh nefron pada akhirnya akan mengalami kerusakan, sehingga terjadi gagal
ginjal. Penyakit yang mula-mula digambarkan oleh Richard Bright pada tahun
1827 sekarang diketahui merupakan kumpulan banyak penyakit dengan berbagai
etiologi, meskipun respon imun agaknya menimbulkan beberapa bentuk
glomerulonefritis. Glomerulonefritis kronis (GNK) adalah suatu kondisi
peradangan yang lama dari sel-sel glomerulus dengan diagnosis klinis
berdasarkan ditemukannya hematuria dan proteinuria yang menetap.
Glomerulonefritis kronis sering timbul beberapa tahun setelah cedera dan
peradangan glomerulus subklinis yang disertai oleh hematuria (darah dalam urine)
dan proteinuria (protein dalam urine) ringan.
Indonesia pada tahun 1995, melaporkan adanya 170 pasien yang dirawat di
rumah sakit pendidikan dalam 12 bulan. Pasien terbanyak dirawat di Surabaya
(26,5%), kemudian disusul berturut-turut di Jakarta (24,7%), Bandung (17,6%),
dan Palembang (8,2%). Pasien laki-laki dan perempuan berbanding 2 : 1 dan
terbanyak pada anak usia antara 6-8 tahun (40,6%).

1.2 Rumusan masalah


Adapun rumusan masalah pada makalah ini yaitu sebagai berikut :
a. Apa pengertian dari penyakit glomerulonefritis kronis?

1
b. Bagaimana insiden dari penyakit glomerulonefritis kronis?
c. Apa etiologi dari penyakit glomerulonefritis kronis?
d. Bagaimana pathway penyakit glomerulonefritis kronis?
e. Apa maifestasi klinik dari penyakit glomerulonefritis kronis?
f. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk penyakit
glomerulonefritis kronis?
g. Apa saja komplikasi dari penyakit glomerulonefritis kronis?
h. Bagaimana penatalaksanaan untuk penyakit glomerulonefritis kronis?
i. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit
glomerulonefritis kronis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini yaitu agar
mahasiswa dapat mengetahui tentang asuhan keperawatan
glomerulonefritis akut.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui Anatomi Fisiologi Ginjal.
b. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi, etiologi, patofisiologi, gejala
klinis dari glomerulonefritis kronis pada anak
c. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksaan, komplikasi, masalah
keperawatan yang mungkin muncul pada glomerulonefritis kronis pada
klien
d. Mahasiswa mampu melaksanaan perencanaan asuhan keperawatan dan
implementasi serta evaluasi dari masalah keperawatan
glomerulonephritis kronis pada klien

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Penyakit


2.1.1 Definisi
Glomerulonefritis ialah reaksi imunologis pada ginjal terhadap
bakteri atau virus tertentu. Terjadi akibat infeksi kuman streptococcus.
Sering ditemukan pada usia 3-7 tahun (pada awal usia sekolah). Lebih
sering mengenai anak laki-laki dari pada wanita dengan perbandingan
2 : 1 (Mansjoer, Arif, dkk. 2000 : 487). Glomerulonefritis kronik
adalah peradangan lama di sel-sel glomerolus. Kelainan ini dapat
terjadi akibat glomerolus akut yang tidak membaik atau timbul secara
spontan (Arif muttaqin & kumala Sari, 2011). Glomerulonefritis
kronik ditandai oleh kerusakan glomerulus secara progresif lambat
akibat glomerulonefritis yang sudah berlangsung lama. Penyakit
cenderung timbul tanpa diketahui asal usulnya, dan biasanya baru
ditemukan pada stadium yang sudah lanjut, ketika gejala-gejala
insufisiensi ginjal timbul. Pada pengkajian ditemukannya klien yang
mengalami glomerulonefritis kronik bersifat incidental pada saat
pemeriksaan dijumpai hipertensi atau peningkatan kadar BUN dan
kreatinin serum (Mutaqqin dan Sari, 2012).
Glomerulonefritis kronis (GNK) adalah suatu kondisi
peradangan yang lama dari sel-sel glomerulus dengan diagnosis klinis
berdasarkan ditemukannya hematuria dan proteinuria yang menetap.
Glomerulonefritis kronis sering timbul beberapa tahun setelah cedera
dan peradangan glomerulus subklinis yang disertai oleh hematuria
(darah dalam urine) dan proteinuria (protein dalam urine) ringan
(Mutaqqin dan Sari, 2012; Mansjoer, et al., 2000). Jalan penyakit
GNK dapat berubah-ubah. Ada pasien yang mengalami gangguan
fungsi minimal dan merasa sehat. Perkembangan penyakitnya juga
perlahan. Walaupun perkembangan penyakit GNK perlahan atau

3
cepat, keduanya akan berakhir pada penyakit ginjal tahap akhir
(Baradero, 2008).
2.1.2 Epidemiologi
Glomerulusnefritis sering ditemukan pada anak berumur antara
3-7 tahun dan lebih sering mengani anak laki-laki dibandingkan anak
perempuan. Perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan adalah
2 : 1 dan jarang menyerang anak dibawah usia 3 tahun. Hasil
penelitian multisenter di Indonesia pada tahun 1988, melaporkan
adanya 170 pasien yang dirawat di rumah sakit pendidikan dalam 12
bulan. Pasien terbanyak dirawat di Surabaya (26,5%), kemudian
disusul berturut-turut di Jakarta (24,7%), Bandung (17,65%), dan
Palembang (8,2%).
Pasien laki-laki dan perempuan berbanding 2 : 1 dan terbanyak
pada anak usia antara 6-8 tahun (40,6%). Gejala glomerulusnefritis
bisa berlangsung secara mendadak (akut) atau secara menahun
(kronis) seringkali tidak diketahui karena tidak menimbulkan gejala.
Gejalanya dapat berupa mual-mual, kurang darah (anemia), atau
hipertensi. Gejala umum berupa sembab kelopak mata, kencing
sedikit, dan berwarna merah, biasanya disertai hipertensi. Penyakit ini
umumnya (sekitar 80%) sembuh spontan, 10% menjadi kronis dan
10% berakibat fatal.
2.1.3 Etiologi
Penyebab dari penyakit glomerulunefritis kronik yaitu :
a. Lanjutan GNA (Glomerulusnefritis Akut), seringkali tanpa riwayat
infeksi (Streptococcus beta hemoliticus group A)
b. Keracunan (timah hitam, tridion)
c. Penyakit sipilis
d. Diabetes mellitus
e. Trombosis vena renalis
f. Hipertensi kronik

4
g. Penyakit kolagen
h. Penyebab lain yang tidak diketahui yang ditemui pada stadium
lanjut. Penyakit ini ditemukan pada semua usia, tetapi sering
terjadi pada usia awal sekolah dan jarang pada anak yang lebih
muda dari 2 tahun. Lebih banyak pria daripada wanita (2:1).
Timbulnya GNC (Glomerulusnefritis Cronic) didahului oleh akut
(infeksi ekstra renal, terutama di traktus respiratorius atau saluran
napas bagian atas dan kulit oleh kuman streptococus beta
hemolitikus gol A). Faktor lain yang dapat menyebabkan adalah
faktor iklim, keadaaan gizi, keadaan umum dan alergi.

5
2.1.4 Pathway

Infeksi/Penyakit

(Streptococcus beta hemoliticus grup A)

Migrasi sel-sel radang kedalam glomerular

Pembentukan kompleks antigen-antibodi dalam dinding kapiler

Deposit, complement dan ant trass netrofit, netrofil dan monosit

Fibrinogen dan plasma protein lain Enzim lisosomal merusak membrane


bermigrasi melalui dinding sel dasar glomerular
manifestasi klinis Proteinuria

Ketidakseim Eritrosit bermigrasi melalui dinding


hipoalbuminemia
bangan sel yang rusak. Manifestasi
nutrisi Hematuria Perubahan eliminasi
Tekanan onkotik plasma
kurang dari urine
kebutuhan Hipovolemia
tubuh
Poliferasi sel A fibrin yg Gangguan Eliminasi
terakumulasi dalam kapula urine urine
Aktif renin bowmans
angiotensin

Menurunnya perfusi kapiler glomerular.


Vasokonstriksi
Manifestasi klinis meningkatnya BUN dan
Creatinin, Retensi urine

Hipertensi

Edema pada daerah wajah (kelopak mata)


Meningkat sekret
ADH dan Aldosteron
Kelebihan volume
cairan cairan

6
2.1.5 Manifestasi Klinik
Glomerulusnefritis kronis ditandai dengan kerusakan glomerulus
secara progresif lambat akibat glomerulusnefritis yang berlangsung
lama. Gejala utama yang ditemukan adalah :
a. Kadang-kadang tidak memberikan keluhan sama sekali sampai
terjadi gagal ginjal
b. Hematuria (kencing bercampur darah)
c. Edema pada bagian wajah biasanya sekitar mata (kelopak),
d. Penurunan kadar albumin (hipoalbuminemia)
e. Hipertensi
f. Peningkatan suhu badan
g. Sakit kepala, lemah, gelisah
h. Mual, tidak ada nafsu makan, berat badan menurun
i. Ureum dan kreatinin meningkat
j. Proteinurea
k. Suhu subfebril
l. Kolesterol darah naik
m. Fungsi ginjal menurun
n. Ureum meningkat + kreatinin serum
o. Anemia
p. Gagal jantung kematian
Selalu merasa haus dan miksi pada malam hari (nokturia)
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang untuk GNC menurut Beta Gelly &
Sowden Linda (2002) adalah
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. LED (Laju Endap Darah) meningkat.
b. Kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi garam
dan air).

7
c. Pemeriksaan urin menunjukkan jumlah urin menurun, Berat
jenis urine meningkat.
d. Hematuri makroskopis ditemukan pada 50% pasien, ditemukan
:Albumin (+), eritrosit (++), leukosit (+), silinder leukosit,
eritrosit, dan hialin.
e. Albumin serum sedikit menurun, komplemen serum (Globulin
beta- IC) sedikit menurun.
f. Ureum dan kreatinin meningkat.
g. Titer antistreptolisin umumnya meningkat, kecuali kalau
infeksi streptococcus yang mendahului hanya mengenai kulit
saja.
h. Uji fungsi ginjal normal pada 50% pasien.
2. Test gangguan kompleks imun
3. Biopsi ginjal
2.1.7 Komplikasi
a. Oliguri sampai anuria
Oliguri dan anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi
sebagai akibat berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti
insufisiensi ginjal akut dengan uremia, hiperfosfatemia,
hyperkalemia dan hidremia. Walaupun oliguria atau anuria yang
lama jarang terdapat pada anak, jika hal ini terjadi diperlukan
peritoneum dialysis (bila perlu).
b. Ensefalopati hipertensi
Merupakan gejala serebrum karena hipertensi. Terdapat gejala
berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah dan kejang-kejang.
Hal ini disebabkan karena spasme pembuluh darah lokal dengan
anoksia dan edema otak.
c. Gangguan sirkulasi
Gangguan sirkulasi berupa dyspnea, ortopneu, terdapat ronki
basah, pembesaran jantung dan meningginya tekanan darah yang

8
bukan saja disebabkan oleh bertambahnya volume plasma. Jantung
dapat membesar dan kelainan di miokardiu. Anemia yang timbul
karena adanya hypervolemia disamping sintesis eritropoietik yang
menurun.
2.1.8 Penatalaksanaan
1. Medik
Tidak ada pengobatan yang khusus yang mempengaruhi
penyembuhan kelainan di glomerulus.
a. Istirahat mutlak selama 3-4 minggu dahulu dianjurkan
selama 6-8 minggu
b. Pemberian penisilin pada fase akut.
Pemberian antibiotic ini tidak mempengaruhi beratnya
glomerulonefritis, melainkan mengurangi penyebaran infeksi
streptococcus yang mungkin masih ada. Pemberian penisilin
dianjurkan hanya untuk 10 hari. Pemeberian profilaksis yang
lama sesudah nefritisnya sembuh terhadap kuman penyebab
tidak dianjurkan, karena terdapat imunitas yang menetap.
c. Pengaturan dalam pemberian cairan (perlu diperhatikan
keseimbangan cairan dan elektrolit). Pemberian diet rendah
protein (1 gr/kg BB/hari) dan rendah garam (1 gr/hari).
Makanan lunak diberikan pada pasien dengan suhu tinggi
dan makanan biasa bila suhu normal kembali. Bila ada
anuria/muntah diberikan harus dibatasi.
d. Pengobatan terhadap hipertensi
e. Bila anuria berlangsung lama (5-7) hari, maka ureum harus
dikeluarkan dari dalam darah. Dapat dengan cara peritoneum
dialisis, hemodialisis, transfuse tukar dan sebagainya.
f. Diuretikum dulu tidak diberikan pada glomerulusnefritis
akut, tetapi akhir-akhir ini pemberian furosemide (lasix)
secara intravena (1 mg/kg BB/kali) dalam 5-10 menit tidak

9
berakibat buruk pada hemodinamika ginjal dan filtrasi
glomerulus.
g. Bila tidak timbul gagal gagal jantung, diberikan digitalis,
sedativum dan oksigen.
2. Keperawatan
a. Istirahat mutlak selama 2 minggu.
b. Pengawasan tanda-tanda vital secara 3x sehari
Jika terdapat gejala dyspnea/ortopnea dan pasien terlihat
lemah adala kemungkinan adanya gejala payah jantung,
segera berikan posisi yang nyaman (semi fowler), berikan O2
dan hubungi dokter
c. Diet protein 1 gr/kg BB/hari dan garam 1 gr/hari (rendah
garam).

10
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk
mengetahui masalah pasien dengan tepat, sebab pengkajian
merupakan awal dari proses keperawatan. Dan keberhasilan proses
keperawatan tergantung dari pengkajian.
1. Pengkajian Umum
a. Keluhan Utama
Keluhan orang tua atau anak pada waktu ke rumah sakit Pasien
mengeluh mual, anoreksia, muntah, mengeluh
demam, mengeluh sakit kepala/pusing , mengeluh sesak
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
Anak tampak odema, muntah, pada saat disentuh teraba
hangat, mengalami, anak tampak lemah, adanya
peningkatan tekanan darah
1. Riwayat kehamilan dan persalinan
a) Prenatal History
Diperkirakan adanya keabnormalan pada kehamilan ibu
(infeksi virus Streptococus), mungkin ada riwayat
pengguanaan alkohol dan obat-obatan serta penyakit DM
pada ibu.
b) Intra natal
Riwayat kehamilan biasanya normal dan diinduksi.
c. Riwayat Neonatus
kaji riwayat neunatus saat bayi pertamakali lahir apa ada tanda
atau gejala yang mucul dari neunatus. Pada pasien GNC biasanya
tidak ditemukan tanda gejal pada usia nenatus.

11
2. Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Adanya keluarga apakah itu satu atau dua orang yang
mengalami Gluronefritis Cronic (GNC)
b) Penyakit keturunan atau diwariskan
c) Penyakit congenital atau bawaan
d. Riwayat pertumbuhan dan Perkembangan
Berat badan = umur (tahun) X 2 + 8 Tinggi badan = 2 kali tinggi
badan lahir.
a) Perkembangan psikoseksual : anak berada pada fase
oedipal/falik dengan ciri
meraba-raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa
daerah erogennya, senang bermain dengan anak berjenis
kelamin beda, oedipus kompleks untuk anak laki-laki lebih
dekat dengan ibu, elektra kompleks untuk anak perempuan
lebih dekat dengan ayah.
b) Perkembangan psikososial : anak berada pada fase pre
school (inisiative vs rasa bersalah) yaitu memiliki inisiatif
untuk belajar mencari pengalaman baru. Jika usahanya
diomeli atau dicela anak akan merasa bersalah dan menjadi
anak peragu.
c) Perkembangan kognitif : masuk tahap pre operasional yaitu
mulai mempresentasekan dunia dengan bahasa, bermain
dan meniru, menggunakan alat-alat sederhana.
d) Perkembangan fisik dan mental : melompat, menari,
menggambar orang dengan kepala, lengan dan badan,
segiempat, segitiga, menghitung jari-jarinya, menyebut hari
dalam seminggu, protes bila dilarang, mengenal empat
warna, membedakan besar dan kecil, meniru aktivitas
orang dewasa.

12
Konsep teori yang difunakan penulis adalah model konseptual
keperawatan dari Gordon. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan
menjadi 11 konsep yang meliputi:
a. Persepsi Kesehatan – Pola Manajemen Kesehatan
Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan
di rumah.
b. Pola nutrisi – Metabolik
Pada pasien dengan GNC akan mengalami gangguan nutrisi
metabolic seperti anoreksia, mual muntah, pembengkakan
ekstremitas bawah/edema, terjadi penambahan berat badan karena
adanya pembengkakan. Suhu badan normal hanya panas hari
pertama sakit. Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena
adanya retensi natrium dan air, edema pada sekitar mata dan
seluruh tubuh. Perlukaan pada kulit dapat terjadi karena uremia.
c. Pola Eliminasi
Pada pasien. GNC biasanya ditemukan Oliguri dan anuria yang
dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi sebagai akibat berkurangnya
filtrasi glomerulus, Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Kelemahan otot dan kehilangan tonus karena adanya
hiperkalemia. Dalam perawatan klien perlu istirahat karena adanya
kelainan jantung dan dan tekanan darah mutlak selama 2 minggu
dan mobilisasi duduk dimulai bila tekanan ddarah sudah normaal
selama 1 minggu.
e. Pola Persepsi Kognitif
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman,
daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab
pertanyaan. Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik
kasar dan rasa gatal. Gangguan penglihatan dapat terjadi apabila

13
terjadi ensefalopati hipertensi.
f. Pola Tidur dan Istirahat
Klien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena
adanya uremia. keletihan, kelemahan malaise, kelemahan otot dan
kehilangan tonus.
g. Konsep Diri dan Persepsi Diri
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image,
body comfort. Terjadi perilaku distraksi, gelisah, dan penolakan.
Klien cemas dan takut karena urinenya berwarna merah dan
edema dan perawatan yang lama.
h. Peran dan Pola Hubungan
Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan
sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau
perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran. Anak tidak
dibesuk oleh teman – temannya karena jauh serta anak mengalami
kondisi kritis menyebabkan anak banyak diam.
i. Pola Reproduktif dan Sexual
Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagai alat
reproduksi.
j. Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi
Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan,
rumah.
k. Pola Keyakinan dan Nilai
Untuk menerangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan
agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian.
Dengan ini diharapkan perawat dalam memberikan motivasi dan
pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah.

14
2. Pengkajian fisik
Keadaan umum klien lemah dan terlihat saki berat dengan tingkat
kesadaran biasanya composmentis. Pada TTV sering tidak didapatkan adanya
perubahan.
a. B1 (Breatihing). Biasanya tidak didapatkan adanya gangguan pola nafas
dan jalan nafas walau secara frekuensi mengalami peningkatan terutama
pada fase akut. Pada fase lanjut di dapatkan adanya gangguan pola nafas
dan jalan nafas yang merupakan respons edema pilmonerdan efusi fleura.
b. B2 (Blood ). Sering ditemukan penurunan cura jantung respons sekunder
dari peningkatan beban volume.
c. B3 (Brain). Didapatkan adanya edema wajah terutama periorbital, seklera
tidak ikteri status neurologi mengalami perubahan sesuai dengan tingkat
paranya azotemia pada sistem saraf pusat.
d. B4 (Bladder). Perubahan warna urine output seperti warna urine warnanya
kola.
e. B5 (Bowel). Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia sehingga
sering didapatkan penurunan intake nutrisi kurang dari kebutuhan.
Didapatkan asites pada abdomen.
f. B6 (Bone). Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum, efek
sekunder dari edema tungkai dari keletihan fisik secara umum.

15
2.2.2 Diagnosa
1. Gangguan eliminasi urine
2. Kelebihan volume cairan
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

2.2.3 Perencanaan

DIAGNOSIS NOC NIC


KEPERAWATA
N
Gangguan  Urinanry Urinary
Eliminasi Urine elimination Retention Care
Definisi: disfungsi  Urinary  Lakukan
pada eliminasi conntinuence penilaian
urine Kriteria hasil: kemih yang
Batasan  Kandung kemih kosong komprehdnsif
Karakteristik: secara penuh berfokus pada
- Disuria  Tidak ada residu urine inkontinensia
- Sering berkemih ≥100-200cc (misalnya,
- Anyang-anyangan  Intake cairan dalam output urine,
- Inkontinensia rentang normal pola berkemih,
- Nokturia  Bebas dari ISK fungsi
- Retensi kognitif, dan
 Tidak ada spasme
- Dorongan masalah
bladder
Factor yang kencing
 Balance cairan
berhubungan praeksisten)
seimbang
- Obstruksi  Memantau
anatomic penggunaan
- Penyebab multiple obat dengan
- Gangguan sensori sifat
motorik antikolinergik
- Infeksi saluran atau property
kemih alpha agonis
 Memonitor
efek dari obat-
obatan yang
diresepkan,
seperti calcium
channe
blockers dan
antikolinergik
 Menyediakan

16
penghapusan
privasi
 Gunakan
kekuatan
sugesti dengan
menjalankan
air atau
disiram toilet
 Merangsang
refleks
kandung
kemih dengan
menerapkan
dingin untuk
perut
membelai
tinggi batin,
atau air
 Sediakan
waktu yang
cukup untuk
pengosongan
kandung
kemih (10
menit)
 Gunakan spirit
wintergreen di
pispot atau
urinal
 Menyediakan
maneuver
crede, yang
diperlukan
 Gunakan
double-void
teknik
 Masukkan
kateter kemih
 Anjurkan
pasien/keluarg
a untuk
merekam
output urine
 Intruksikan

17
cara-cara
untuk
menghindari
konstipasi atau
impaksi tinja
 Memantau
asupan dan
keluaran
 Memantau
tingkat distensi
kandung
kemih dengan
palpasi dan
perkusi
 Membantu
dengan toilet
secara berkala
 Memasukkan
pipa ke dlaam
lubang tubuh
untuk sisa
 Menerapkan
katerissi
intermiten
 Merujuk ke
spesialis
kontinensia
kemih.
Kelebihan NOC NIC
Volume Cairan  Electrolit and acid base Fluid
Definisi : balance management
peningkatan  Fluid balance  Timbang
retensi cairan  Hydration popok atau
isotonic Kriteria Hasil : pembalut jika
Batasan  Terbebas dari edema, diperlukan
Karakteristik efusi, anaskara  Pertahankan
 Bunyi nafas  Bunyi nafas bersih, catatan intake
adventisius tidak ada dan output
 Gangguan dyspnea/ortopneu yang akurat
elektrolit  Terbebas dari distensi  Pasang urin
 Anasarka vena jugularis, reflek kateter jika
 Ansietas hepatojugular (+) diperlukan
 Azotemia  Memelihara tekanan  Monitor hasil
 Perubahan tekanan vena sentral, tekanan Hb yang

18
darah kapiler paru, output sesuai dengan
 Perubahan status jantung dan vital sign retensi cairan
mental dalam batas normal (BUN, Hmt,
 Perubahan pola  Terbebas dari kelelahan, osmolalitas
pernafasan kecemasan atau urin)
 Penurunan kebingungan  Monitor status
hematocrit  Menjelaskan indikator hemodinamik
 Penurunan kelebihan cairan termasuk
hemoglobin CVP, MAP,
 Dyspnea PAP, dan
 Edema PCWP
 Peningkatan  Monitor vital
tekanan vena sign
sentral  Monitor
 Asupan melebihi indikasi
haluaran retensi/kelebih
 Distensi vena an cairan
jugularis (cracles, CVP,
edema,
 Oliguria
distensi vena
 Ortopnea
leher, asites)
 Efusi pleura
 Kaji lokasi dan
 Refleksi luas edema
hepatojugular
 Monitor
positif
masukan
 Perubahan tekanan makanan/caira
arteri pulmonal
n dan hitung
 Kengesti pulmunal intake kalori
 Gelisah  Monitor status
 Perubahan berat nutrisi
jenis urin  Kaloborasi
 Bunyi jantung S3 pemberian
 Penambahan berat diuretic sesuai
badan dalam intruksi
waktu sangat  Batasi
singkat masukan
Factor – factor cairan pada
yang keadaan
berhubungan : hiponatrermi
 Gangguan dilusi dengan
mekanisme serum Na
regulasi <130 mEq/l
 Kelebihan asupan  Kolaborasi
cairan dokter jika

19
 Kelebihan asupan tanda cairan
natrium berlebih
muncul
memburuk
Fluid
Monitoring
 Tentukan
riwayat
jumlah dan
tipe intake
cairan dan
eliminasi
 Tentukan
kemungkinan
factor resiko
dari
ketidakseimba
ngan cairan
(hipertermia,
terapi diuretic,
kelainan renal,
gagal jantung,
diaphoresis,
disfungsi hati
dll)
 Monitor berat
badan, BP,
HR, dan RR
 Monitor serum
dan
osmilalitas
urin
 Monitor
tekanan darah
orthostatic dan
perubahan
irama jantung
 Monitor
parameter
hemodinamik
infasif
 Catat secara
akurat intake
dan output

20
 Monitor
adanya
distensi leher,
ronchi, oedem
perifer dan
penambahan
BB
 Monitor tanda
dan gejala
daro oedema
Ketidakseimbang NOC NIC
an nutrisi kurang  Nutritional Status : Nutrition
dari kebutuhan  Nutritional Status : food Management
tubuh and fluid intake  Kaji adanya
Definisi : Asupan  Nutritional Status : alergi
nutrisi tidak cukup nutrient intake makanan
untuk memenuhi  Weight control  Kolaborasi
kebutuhan Kriteria Hasil : dengan ahli
metabolic  Adanya peningkatan gizi untuk
Batasan berat badan sesuai menentukan
Karakteristik dengan tujuan jumlah kalori
 Kram abdomen  Berat badan ideal sesuai dan nutrisi
 Nyeri abdomen dengan tinggi badan yang
 Menghindari  Mampu dibutuhkan
makanan mengidentifikasi pasien
 Berat badan 20% kebutuhan nutrisi  Anjurkan
atau lebih dibawah  Tidak ada tanda-tanda pasien untuk
berat badan ideal malnutrisi meningkatkan
 Kerapuhan kapiler  Menunjukkan intake Fe
 Diare peningkatan fungsi  Anjurkan
 Kehilangan pengecapan dari pasien untuk
rambut berlebihan menelan meningkatkan
 Bising usus  Tidak terjadi penurunan protein dan
hiperaktif berat badan yang berarti vitamin C
 Kurang makanan  Berikan
 Kurang informasi substansi gula
 Kurang minat  Yakinkan diet
pada makanan yang dimakan
 Penurunan berat mengandung
badan dengan tinggi serat
asupan makanan untuk
adekuat mencegah
konstipasi
 Kesalahan
konsepsi  Berikan

21
 Kesalahan makanan yang
informasi terpilih (sudah
 Membrane dikonsultasika
mukosa pucat n dengan ahli
 Ketidakmampuan gizi)
memakan  Ajarkan pasien
makanan bagaimana
 Tonus otot membuat
menurun catatan
 Mengeluh makanan
gangguan harian
makanan kurang  Monitor
dari RDA jumlah nutrisi
(recommended dan kandungan
daily allowance) kalori
 Cepat kenyang  Berikan
setelah makan informasi
 Sariawan rongga tentang
mulut kebutuhan
 Steatorea nutrisi
 Kelemahan otot  Kaji
pengunyah kemampuan
 Kelemahan otot pasien untuk
untuk menelan mendapatkan
Factor yang nutrisi yang
berhubungan : dibutuhkan
 Factor biologis Nutrition
Monitoring
 Factor ekonomi
 BB pasien
 Ketidakmampuan
dalam batas
untuk
normal
mengabsorbsi
nutrient  Monitor
adanya
 Ketidakmampuan
penurunan
untuk mencerna
berat badan
makanan
 Monitor tipe
 Ketidakmampuan
dan jumlah
menelan makanan
aktivitas yang
 Factor psikologis biasa
dilakukan
 Monitor
interaksi anak
atau orang
tua selama

22
makan
 Monitor
lingkungan
selama
makan
 Jadwalkan
pengobatan
dan tindakan
tidak selama
jam makan
 Monitor kulit
kering dan
perubahan
pigmentasi
 Monitor
turgor kulit
 Monitor
kekeringan,
rambut
kusam, dan
mudah patah
 Monitor mual
muntah
 Monitor
kadar
albumin, total
protein, Hb,
dan kadar Ht
 Monitor
pertumbuhan
dan
perkembanga
n
 Monitor
pucat,
kemerahan,
dan
kekeringan
jaringan
konjungtiva
 Monitor
kalori dan
intake nutrisi
 Catat adanya

23
edema,
hiperemik,
hipertonik
papilla lidah
dan cavitas
oral
 Catat jika
lidah
berwarna
magenta
scarlet

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Glomerulonefritis kronik adalah peradangan lama di sel-sel
glomerolus. Kelainan ini dapat terjadi akibat glomerolus akut yang tidak
membaik atau timbul secara spontan Glomerulonefritis merupakan
peradangan dan kerusakan pada alat penyaring darah.
Glomerulonefritis kronik ditandai oleh kerusakan glomerulus secara
progresif lambat akibat glomerulonefritis yang sudah berlangsung lama.
Penyakit cenderung timbul tanpa diketahui asal usulnya, dan biasanya baru
ditemukan pada stadium yang sudah lanjut, ketika gejala-gejala insufisiensi
ginjal timbul. Pada pengkajian ditemukannya klien yang mengalami
glomerulonefritis kronik bersifat incidental pada saat pemeriksaan dijumpai
hipertensi atau peningkatan kadar BUN dan kreatinin serum

3.2 Saran
Dengan penulisan makalah ini, penulis berharap agar dapat menambah
ilmu pengetahuan kepada pembaca. Oleh karena itu, harapan penulis kepada
pembaca semua agar sudi kiranya memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun.

25
BAB IV
KASUS

1. Pengkajian
Identitas Penderita
Nama : An. Df
Jenis kelamin : Laki - laki
Umur/Tgl lahir : 7 tahun 11 bulan (1 Oktober 2005)
Alamat : Simpang Kandis, Pelabuhan Pulau Baii
Masuk RS : 30 Agustus 2013
No CM : 615030
Identitas Orang Tua
Nama Ayah : Tn.A
Umur : 38 Tahun
Pendidikan :S1
Pekerjaan : Pegawai Negeri
Nama Ibu : Ny. C
Umur : 33 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

(Autoanamnesis dan Alloanamnesis dengan ibu penderita tanggal 30 Agustus


2013 pukul 15.00)
Keluhan utama : Pusing sejak ± 6 jam sebelum masuk rumah sakit
1. Riwayat penyakit sekarang :
 + Sejak 6 jam SMRS, pasien mengeluh pusing. Pusing terasa seperti berputar,
muncul tiba – tiba setelah BAB. Pusing dirasakan terus menerus, sedikit
berkurang dengan istirahat. Pusing disertai dengan muntah, muntah 2x,
sebanyak ± 1 gelas, berisi cairan dan makanan. Mata bengkak, ketika buang

26
air kecil berwarna merah seperti cucian daging, tidak disertai sesak nafas,
nyeri dada (-). Badan terasa lemas.
 Sejak 3 hari SMRS pasien demam. Demam naik turun, demam terutama
malam hari, menggigil (+), tidak ada bintik – bintik merah muncul, gusi
berdarah (-), nafsu makan pasien tidak berkurang, buang air besar tidak ada
keluhan. ketika buang air kecil berwarna merah seperti cucian daging, nyeri
BAK (-), penurunan frekuensi BAK (+)
Pasien sudah berobat ke dokter, diberi antibiotik, parasetamol dan dianjurkan
kontrol ke dokter anak. Demam sudah mereda.
± 2 hari SMRS, pasien mengeluh muka sembab, sembab terutama di kedua
pipi dan kelopak mata. Sembab terutama tampak saat bangun tidur pagi hari
dan berangsur menghilang saat siang. Pasien juga mengeluh perutnya
menegang, terasa lebih kencang. BAB tidak ada keluhan. BAK berwarna
keruh.
Pasien berobat ke poli anak, dan dilakukan pemeriksaan darah dan urin.
Pasien kemudian dirawat.

2. Riwayat penyakit dahulu :


Menurut keluarga pasien sebelumnya tidak pernah mengalami penyakit seperti
sekarang ini. Biasanya pasien hanya sakit seperti demam dan batuk dan di beri
obat penurun panas yang di beli di warung atau toko obat.
3. Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.
Tidak ada anggota keluarga yang menderita kelainan ginjal
Kakek pasien menderita Hipertensi dan stroke, meninggal 6 bulan yang lalu.

4. Riwayat sosial ekonomi :


Ayah bekerja sebagai pegawai negeri, ibu pasien tidak bekerja (ibu rumah
tangga). Penghasilan keluarga rata-rata per bulan Rp.2.500.000,- menanggung 3
orang anak, biaya pengobatan ditanggung asuransi kesehatan (ASKES).

27
Kesan sosial ekonomi : menengah

5. Riwayat pemeliharaan antenatal :


Periksa kehamilan An Daffa rutin setiap bulan, penyakit selama kehamilan
disangkal, obat-obatan yang diminum berupa vitamin, tablet tambah darah, dan
mendapat imunisasi TT 2 kali.
6. Riwayat persalinan.
Anak pertama, ♀ BBL 2900 gram, cukup bulan, ditolong dokter, Sectio caesar,
umur 10 tahun, sehat.
Anak kedua (pasien) ♂ BBL 2600 gram, cukup bulan, ditolong dokter, Sectio
caesar, umur 7 tahun 11 bulan, lahir langsung menangis dan tidak biru.
Anak ketiga, ♀ BBL 2600 gram, cukup bulan, ditolong dokter, Sectio caesar,
umur 5 tahun, sehat
7. Riwayat pemeliharaan post natal :
Periksa di dokter anak untuk dilakukan imunisasi dan kontrol kesehatan.
8. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan :
STATUS PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Tengkurap : 4 bulan
Merangkak : 6 bulan
Bicara : 6 bulan
Duduk : 8 bulan
Berdiri : 9 bulan
Berjalan : 10 bulan
Status tumbuh sesuai usia
Berat badan umur 1 tahun 8 kg
Berat badan umur 7th (masuk SD) 20 kg
Jumlah Gigi susu

VI V IV III II I I II III IV V VI

28
VI V IV III II I I II III IV V VI

Pasien kelas 2 SD, bersekolah di SDN 79 Pagar Dewa Kota Bengkulu. Prestasi
sekolah mendapat ranking 7 di kelas. Punya banyak teman di sekolah.
8. Riwayat makan dan minum :
ASI diberikan sejak lahir hingga umur 4 hari , semau anak, lama menyusui 5 – 10
menit, setelah selesai menyusu anak tertidur. Setelah umur 4 hari, dilanjutkan
minum susu formula, per 1-2 jam. Sejak umur 6 bulan, selain minum susu
formula, anak juga sudah makan nasi tim saring. Umur 1 tahun anak sudah makan
– makanan keluarga
Anak biasa makan 3x/hari, setiap kali makan 1 piring, diantara waktu makan anak
minum susu.
9. Riwayat imunisasi :
BCG : 1 kali, umur 0 bulan, skar positif.
Polio : 1 kali, umur 0 bulan.
Vaksinasi dasar sudah diberikan sesuai umur
10. Riwayat keluarga berencana :
Ibu menggunakan kontrasepsi pil KB.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisis pada tanggal 30 Agustus 2013, pukul 15.00 WIB di ruang
Edelweis.
Seorang anak laki - laki, umur 7 tahun 11 bulan, berat badan 24 kg, tinggi badan
124 cm.
Keadan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Status Gizi : BB terukur x 100% = 24 x 100 % = 94,1 % (kesan :
gizi baik)
BB ideal 25,5
B1(Breathing):

29
Tanda vital : Tekanan darah 180 / 100 mmHg
Nadi : 78 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
Pernapasan : 24 x/menit
Suhu : 37,1 C (aksila)
Thorax
Pulmo : I : Gerakan dinding dada statis dinamis, simetris kiri
kanan.
Retraksi dinding dada (-)
Pa : Stem fremitus kanan = kiri
Pe : Sonor seluruh lapangan paru
A : Suara dasar vesikuler normal, wheezing (-), ronki (-)
B2 (Blood)
Jantung : I : Iktus kordis tidak terlihat
Pa : Iktus Cordis teraba di SIC V linea midklavikula
sinistra,
Pe : Batas kiri : sesuai iktus kordis.
Batas atas : SIC II linea parasternal sinistra
Batas kanan : Linea parasternal dekstra.
A : Bunyi Jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-),
irama reguler, frekuensi jantung 78x / menit
B3(Brain)
Kepala : Normocephali, rambut hitam tidak mudah dicabut.
Mata : Konjungtiva palpebra tidak anemis, sklera tidak ikterik,
edema palpebra + / +, reflek cahaya langsung dan reflek
cahaya tidak langsung (+) / (+) .
Hidung : Nafas cuping hidung tidak ada, tidak ada sekret.
Telinga : Tidak ada sekret, nyeri tekan tragus - / -, nyeri tekan mastoid
-/-
Mulut : Bibir tidak sianosis, selaput lendir tidak kering, lidah tidak
kotor, gusi berdarah (-), Caries gigi (+)

30
T2- T2, faring tidak hiperemis, nyeri saat menelan (-)
Leher : Tidak ada pembesaran KGB, kelenjar tiroid tidak teraba
membesar
B4(Bladder)
buang air kecil berwarna merah seperti cucian daging
keluarga mengatakan pasien jarang buang air kecil, frekuensi buang air kecil 1-
2kali/perhari. Jumlah urine tidak diketahui
B5(Bowel)
Keluarga mengatakan pasien tidak nafsu makan, muntah 2x, sebanyak ± 1 gelas,
berisi cairan dan makanan. BB : 24kg
Abdomen : I : Datar,
Pa : Sedikit tegang, nyeri tekan (-)
Hepar : Tidak teraba
Lien : Tidak teraba
Pe : Timpani, pekak hepar (+) normal, Shifting Dulness(+),
Undulasi (-)
A : Bising usus (+) melemah
B6 (Bone)
Anggota gerak Superior Inferior
Sianosis (-)/(-) (-)/(-)
Oedema (+)/(+) (+)/(+)
Akral hangat (+)/(+) (+)/(+)
Cap. refill <2’ <2’

D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan darah ( tanggal 1 Oktober 2005 )
LED : 60 mm/jam
Hemoglobin : 7,8 gram /dl
Hematokrit : 28 % (37 – 43%)
Leukosit : 5.100 sel/mm3 (4000 – 10.000 sel / mm3)

31
Diff.Count : 0/0/0/46/53/1
Trombosit : 409.000 sel/mm3 (150.000 – 450.000)
GDS : 92 mg/dl (150 – 250 mg/dL)
Kolesterol total : 137 mg/dL (150 – 250 mg/ dL )
Protein total : 7,0 gr/dL (6,5 – 7,8 gr/dL)
Albumin : 3,1 gr/dL (3,5 – 6,0 gr/dL)
Globulin : 3,9 gr/dL (1,5 – 2, 5 gr/dL)

2. Pemeriksaan urin : (tanggal 1 Oktober 2005)


Makroskopis
Warna : Merah
Kejernihan : Keruh
Kimiawi
Protein : ++
Reduksi :-
Urobilin :-
Bilirubin :-
Benda Keton : -
Mikroskopis
Epitel :+
Leukosit : banyak / LPB
Eritrosit : 6 – 8 / LPB
Bakteri / jamur :+B
Kesan : Proteinuria, leukosituria, hematuria, bakteriuria

3. Analisa data
Data subjektif, data Etiologi Diagnosa keperawatan
obyektif
DS : Infeksi/Penyakit Kelebihan Volume Cairan
(Streptococcus beta
keluarga mengatakan

32
pasien jarang buang air hemoliticus grup A)
kecil, frekuensi buang air
Migrasi sel-sel radang
kecil 1-2kali/perhari.
kedalam glomerular
Jumlah urine tidak
diketahui Pembentukan kompleks
antigen-antibodi dalam
DO :
dinding kapiler
Edema pada kelopak
mata, Deposit, complement dan
ant trass netrofit, netrofil
Edema pada ekstremitas
dan monosit
superior dan inferior
Enzim lisosomal merusak
membrane dasar
glomerular

Eritrosit bermigrasi
melalui dinding sel yang
rusak. Manifestasi
Hematuria Perubahan
eliminasi urine

Poliferasi sel A fibrin yg


terakumulasi dalam
kapula bowmans

Menurunnya perfusi
kapiler glomerular.
Manifestasi klinis
meningkatnya BUN dan
Creatinin, Retensi urine

Edema pada daerah


wajah (kelopak mata)

Kelebihan volume cairan


DS: Infeksi/Penyakit Ketidakseimbangan
(Streptococcus beta
Keluarga mengatakan nutrisi kurang dari
hemoliticus grup A)

33
pasien tidak nafsu kebutuhan tubuh
makan, muntah 2x, Migrasi sel-sel radang
kedalam glomerular
sebanyak ± 1 gelas,
berisi cairan dan
Pembentukan kompleks
makanan. antigen-antibodi dalam
dinding kapiler
D0:
BB : 24kg
Deposit, complement dan
Pasien tampak lemas ant trass netrofit, netrofil
dan monosit

Fibrinogen dan plasma


protein lain bermigrasi
melalui dinding sel
manifestasi klinis
Proteinuria

hipoalbuminemia

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

2. Diagnosa keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
ditandai dengan keluarga mengatakan pasien jarang buang air kecil, frekuensi
buang air kecil 1-2kali/perhari. Jumlah urine tidak diketahui, Edema pada
kelopak mata, Edema pada ekstremitas superior dan inferior
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan meabsorpsi nutrient ditandai dengan Keluarga mengatakan
pasien tidak nafsu makan, muntah 2x, sebanyak ± 1 gelas, berisi cairan dan
makanan, BB : 24kg, Pasien tampak lemas

34
3. Intervensi
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil intervensi
Keperawatan
1 Kelebihan Volume Setelah diberi asuhan keperawatan 3 x 24 1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Cairan jam diharapkan kelebihan volume cairan 2. Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan
dapat diatasi. Dengan kriteria hasil : (BUN, Hmt, osmolalitas urin)
 Terbebas dari edema, efusi, anaskara 3. Monitor vital sign
 Bunyi nafas bersih, tidak ada 4. Monitor indikasi retensi/kelebihan cairan (cracles,
dyspnea/ortopneu CVP, edema, distensi vena leher, asites)
 Terbebas dari kelelahan, kecemasan 5. Kaji lokasi dan luas edema
atau kebingungan 6. Monitor adanya distensi leher, ronchi, oedem
perifer dan penambahan BB
7. Monitor tanda dan gejala dari oedema
2 Ketidakseimb Setelah diberi asuhan keperawatan 3 x 24 1. Kaji adanya alergi makanan
angan nutrisi jam diharapkan ketidakseimbangan nutrisi 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
kurang dari kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi. jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
kebutuhan Dengan kriteria hasil : 3. Berikan makanan yang terpilih (sudah
tubuh dikonsultasikan dengan ahli gizi)
 Tidak ada tanda-tanda malnutrisi 4. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
 Menunjukkan peningkatan fungsi makanan harian
pengecapan dari menelan 5. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
 Tidak terjadi penurunan berat badan 6. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
yang berarti 7. Monitor adanya penurunan berat badan
8. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
9. Monitor turgor kulit
10. Monitor mual muntah
11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan
kadar Ht
12. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papilla
lidah dan cavitas oral

35
4. Implementaasi
Hari/tanggal No Implementasi Evaluasi formatif paraf
diagnosa
Jumat, 1 1,2  Mengobservasi KU pasien dan Keadaan Umum : sadar, tampak sakit sedang
Pasien mengeluh lemas, Pusing (+),Urine kemerahan
oktober tanda-tanda vital pasien (+)
2005 Muntah (+),
Tanda Vital :
- Nadi : 95 x / menit, isi dan tegangan cukup.
- Pernafasan : 24 x / menit
- Suhu : 37,1 0 C (aksila)

Pemeriksaan fisis
Mata : Edema palpebra (+/+)
T2-T2, faring Hiperemis (-)
Abdomen : Datar, sedikit tegang, nyeri tekan (-),
Shifting dullness (+) minimal

 Mengukur status antopomerti pasien Tinggi badan : 124cm, Berat badan : 24kg,
2 ( tinggi badan, berat badan, LILA,
lingkar kepala)
 Menanyakan adanya alergi pada Keluarga pasien mengatakan pasien tidak memiliki
makanan, minuman, obat, alergi terhadap makanan, minuman, obat-obatan,
maupun binatang kepada maupun binatang
keluarga pasien

36
 Kolaborasi dengan analis Pengambilan specime darah (+) urine (+), hasil (+)
1,2 kesehatan untuk pengambilan Darah Lengkap :
specimen darah (DL, urine) LED : 60 mm/jam
Hemoglobin : 7,8 gram /dl
Hematokrit : 28 % (37 – 43%)
Leukosit : 5.100 sel/mm3 (4000 – 10.000 sel /
mm3)
Diff.Count : 0/0/0/46/53/1
Trombosit : 409.000 sel/mm3 (150.000 –
450.000)
GDS : 92 mg/dl (150 – 250 mg/dL)
Kolesterol total: 137 mg/dL (150 – 250 mg/ dL )
Protein total : 7,0 gr/dL (6,5 – 7,8 gr/dL)
Albumin : 3,1 gr/dL (3,5 – 6,0 gr/dL)
Globulin : 3,9 gr/dL (1,5 – 2, 5 gr/dL)
Hasil Urine :
Makroskopis
Warna : Merah
Kejernihan : Keruh
Kimiawi

37
Protein : ++
Reduksi :-
Urobilin :-
Bilirubin :-
Benda Keton : -
 Kolaborasi dengan ahli gizi Mikroskopis
dalam pemberian diit Epitel :+
Leukosit : banyak / LPB
 Monitor intake makanan pasien Eritrosit : 6 – 8 / LPB
Bakteri / jamur :+B
Kesan : Proteinuria, leukosituria, hematuria,
bakteriuria
 Delegatif dalam pemberian
therapy
- Klonidin drip 0,3 cc dalam infus Makanan yang diberikan adalah makanan dengan
dextrose 5% 100 cc 12 tetes / komposisi diit protein 24gr/ hari, tanpa garam
menit mikrodrip
- Inj Ampisilin 4 x 500 mg Keluarga mengatakan pasien hanya mampu
- Inj Furosemide 1 x 20 mg mengahabiskan ¼ porsi makanan, 5 potog kecil buah
pepaya, kurang lebih 100ml air

38
Obat masuk (+), alergi (-),

Sabtu, 2 1,2  Mengobservasi KU pasien dan Keadaan Umum : sadar, tampak sakit sedang
Pusing berkurang,Muntah (+),Perut tegang (-)
oktober tanda-tanda vital pasien Tanda Vital :
2005 - Nadi : 92 x / menit, isi dan tegangan cukup.
- Pernafasan : 24 x / menit
- Suhu : 37,3 0 C (aksila)

Pemeriksaan fisik
Mata : Edema palpebra (+/+)
T2-T2, faring Hiperemis (-)
Abdomen : Datar, sedikit tegang, nyeri tekan (-),
Shifting dullness (+) minimal

Makanan yang diberikan adalah makanan dengan


komposisi diit protein 24gr/ hari, tanpa garam
2  Kolaborasi dengan ahli gizi
dalam pemberian diit
Obat masuk (+), Alergi (-)
1,2  Delegatif dalam pemberian

39
therapy
- Klonidin drip 0,3 cc dalam infus
dextrose 5% 100 cc 12 gtt / menit
Keluarga mengatakan pasien hanya mampu
mikrodrip
mengahibska 1⁄4 porsi makanan, 3 potog kecil buah
- Inj Ampisilin 4 x 500 mg semangka, kurang lebih 100ml air, pasien juga
- Inj Furosemide 1 x 20 mg menghabiskan 2 keping biskuit regal

 Monitor intake makanan pasien


2

Minggu, 3 1,2  Memeriksa status pernafasan, vital Keadaan Umum : tampak sakit ringan
Pusing (-), Muntah (-), Perut tegang (-), Urine
oktober sign secara berkala kemerahan (+)
2005 Keluarga mengatakan kelopak mata masih bengkak
Tanda Vital :
- Nadi : 88 x / menit reguler, isi dan tegangan
cukup.
- Pernafasan : 24 x / menit
- Suhu : 36,8 0 C (aksila)

Pemeriksaan fisis :
Mata : Edema palpebra (+/+)
Mulut : T2-2, faring Hiperemis (-)
Perut : Datar, Shifting dullness (-)

Makanan yang diberikan adalah makanan dengan

40
2  Kolaborasi dengan ahli gizi komposisi diit protein 24gr/ hari, tanpa garam
dalam pemberian diit
Obat masuk (+), Alergi (-)
1,2  Delegatif dalam pemberian
therapy

- Klonidin drip 0,3 cc dalam infus


dextrose 5% 100 cc 12 tetes /
menit mikrodrip
- Inj Ampisilin 4 x 500 mg
- Inj Furosemide 1 x 20 mg

Keluarga mengatakan pasien hanya mampu


 Monitor intake makanan pasien
mengahibiskan 1⁄4 porsi makanan, 3 potog kecil
2 buah melon, kurang lebih 100ml air, pasien juga
menghabiskan ½ roti tawar
 Kolaborasi dengan analis kesehatan
untuk pengambilan spesimen darah
Bahan (+), Hasil (-)
1,2 dan urine

41
5. Evaluasi
Tgl Nomor Evaluasi sumatif paraf
diagnosa
25 / 1 S = Keluarga mengatakan kelopak mata masih bengkak
10/ O = Nadi : 88 x / menit reguler, isi dan tegangan cukup, Pernafasan : 24 x /
2017 menit, Suhu : 36,8 0 C (aksila), Mata : Edema palpebra (+/+)
A = Masalah belum teratasi
P = Lanjutkan Intervensi 2, 3,4,5,7

25 / 3 S = Keluarga mengatakan pasien hanya mampu mengahabiskan ¼ porsi makanan, 3


10/ potog kecil buah melon, kurang lebih 100ml air, susu kurang lebih 100ml, dan
2017 roti tawar 1⁄2 porsi
O = Berat badan : 24kg, pasien tidak dapat menghabiskan 1 porsi makanan yang
diberikan
A = Masalah belum teratasi
P = Lanjutkan Intervensi2,3,5,7,10,11,12

42
DAFTAR PUSTAKA

L. Beta Gelly, A. Sowden Linda (2002), Buku Keperawatan Pediatri, Edisi 3,


Jakarta, EGC.
Mansjoer, Arif, dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran Jilid 3 Edisi 2, Jakarta, EGC.
Muttaqin, Arif. Sari, Kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2006. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid : 1. Edisi : IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Dapartemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI

43