Anda di halaman 1dari 7

Klasifikasi black

Metode ini dikenal sebagai klasifikasi kavitas black dan giunakan dibidang kg pd saat ini. Black mengklasifikasikan
karies gigi menjadi 5 kelas,tetapi kelas ke-6 ditambahkan selanjutnya. Klasifikasi kavitas ini digunakan pd saat
ditemukannya karies pd gigi pasien.

Kelas I : ditemukan pd pit dan fissure dr permukaan oklusal premolar dan molar, pit bukal atau lingual dr molar, pit
lingual dekat cingulum dr insisiv maksila.

Kelas II : ditemukan di permukaan proksimal (mesial dan distal) premolar dan molar.

Kelas III : ditemukan di permukaan proksimal (mesial dan distal) insisiv dan kaninus.

Kelas IV : ditemukan di permukaan proksimal insisiv dan kaninus sampai permukaan insisal.

Kelas V : ditemukan di 1/3 gingiva pd permukaan fasial atau lingual di setiap gigi.

Kelas VI : ditemukan di permukaan insisal atau oklusal yg sudah aus karena abrasi.

(Diadaptasi dr metivier , antoinette p., and bland, kimberly d. " general chairside assisting: A review for a national
general chairside exam ". American dental assistants association, 2006. Countesy coldwell systems, champaign, IL.

2.4 Klasifikasi Semen Ionomer Kaca

2.4.1 Klasifikasi Semen Ionomer KacaBerdasarkan Bahan Pengisi

a. Semen Ionomer Kaca Konvensional

Semen ionomer kaca secara luas digunakan untuk kavitas Klas V, hasil klinis dari prosedur ini baik meskipun
penelitian in vitro berpendapat bahwa semen ionomer kaca modifikasi resin dengan ketahanan fraktur yang lebih
tinggi dan peningkatan kekuatan perlekatan memberikan hasil yang jauh lebih baik. Beberapa penelitian
berpendapat bahwa versi capsulated lebih menguntungkan karena pencampuran oleh mesin sehingga memberikan
sifat merekatkan yanglebih baik. Penggunaan semen ionomer kaca telah meluas antara lain sebagai bahan perekat,
pelapik dan bahan restoratif untuk restorasi konservatif Klas I danKlas II karena sifatnya yang berikatan secara kimia
pada struktur gigi danmelepaskan fluorida. Selain itu respon pasien juga baik karena teknik penempatan bahan
yang konservatif dimana hanya memerlukan sedikit pengeboran sehingga pasien tidak merasakan sakit dan tidak
memerlukan anastesi lokal. Meskipun demikian SIK tidak dianjurkan untuk restorasi Klas II dan klas IV karena
sampaisaat ini formulanya masih kurang kuat dan lebih peka terhadap keausan penggunaan jika dibandingkan
dengan komposit (McCabe, 2008).

GIC konvensional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh Wilson dan Kent. Berasal dari asam
polyalkenoat cair seperti asam polyacrilic dan komponen kaca yang biasanya adalah fluoroaluminosilikat. Saat
bubuk dan cairandi campur terjadi reaksi asam basa kemudian asam polyalkenoat mengalami percepatan hingga
terjadi pengentalan sampai semen mengeras. Ini dapat dijadikan sebagai bubuk kaca yang melepaskan ion dan
larut dengan campuranyang mengandung asam polyacrilic cair dengan dikeringkan melalui pembekuan untuk
dicampur dengan air murni. Pabrik juga dapat menanbahkan sedikit asam tartaric pada air yang dapat
memperkirakan reaksi pengerasan yang lebih tepat (Gladwin, 2009).

b. Semen Ionomer Hybrid

Komponen bubuk terdiri dari partikel kaca ion-leachable fluoroaluminosilicatedan inisiator untuk light curing
atau chemical curing. Komponen cairan biasanyaterdiri dari air dan asam polyacrylic atau asam polyacrilyc yang
dimodifikasidengan monomer methacrylate hydroxyethyl methacrylate. Komponen yang duaterakhir bertanggung
jawab untuk polimerisasi. Reaksi pengerasan awal dari bahan ini terjadi melalui polimerisasi dari gugus
methacrylate. Reaksi asam basayang lambat pada akhirnya akan bertanggung jawab pada proses pematangan
yangunik dan kekuatan akhir. Kandungan air secara keseluruhan lebih sedikit untuk tipe ini untuk menampung
bahan yang berpolimerisasi (Gladwin, 2009).

Perbedaan yang paling nyata adalah berkurangnya translusensi dari bahan ini karena adanya perbedaan yang
besar pada indeks pembiasan antara bubuk dengan matrix resin yang mengeras. Tes in vitro dari semen ionomer
hibrid melepaskanflorida dalam jumlah yang sebanding dengan yang di lepaskan semen ionomer kaca
konvensional. Kekuatan tarik dari ionomer kaca hibrid lebih tinggi dariionomer kaca konvensional. Peningkatan ini
di akibatkan oleh moduluselastisitasnya yang lebih rendah dan deformasi plastis yang lebih banyak yangdapat di
tahan sebelum terjadinya fraktur. Sifat-sifat yang lain sulit untuk dibandingkan karena formulasi bahan dan cara
pengetesan (Lippincot, 2007).

Mekanisme pengikatan terhadap struktur gigi dari semen ini sama denganionomer kaca konvensional.
Aktifitas ionik yang lebih sedikit diharapkan karenaadanya pengurangan dari asam karboksilat dari cairan ionomer
kaca denganmodifikasi resin; namun bagaimanapun kekuatan ikat pada struktur gigi bisa lebihtinggi dari semen
ionomer kaca konvensional. Bila dibandingkan dengan ionomer kaca konvensional maka ionomer kaca dengan
modifikasi resin memperlihatkankekuatan ikat yang lebih tinggi kepada komposit berbasis resin. Ini sepertinya
dikontrol oleh gugus fungsi non polimerisasi residu didalam semen ionomer kacakonvensional. Akibat polimerisasi,
bahan ini seharusnya memilki derajat penyusutan yang lebih besar ketika mengeras. Lebih sedikitnya kandungan air
danasam karboksilat juga mengurangi kemampuan semen untuk membasahi substratgigi, yang dimana akan
meningkatkan kebocoran micro dibandingkan semenionomer kaca konvensional (Anusavice, 2004.)

Biokompatibilitas dari ionomer kaca hibrid dapat dibandingkan dengan ionomer kaca konvensional. Tindakan
pencegahan yang sama harus dilakukan,seperti penggunaan kalsium hoidroksida untuk preparasi yang dalam.
Peningkatan suhu sementara yang berhubungan dengan proses polimerisasi juga menjadi pertimbangan (Gladwin,
2009).

Karakteristik dari penanganan ionomer kaca hibrid telah diatur sehingga dapat digunakan sebagai liners atau
bases. Kekuatan tekan dan tarik dari liners lebih rendah dari pada semen restorasi yang lain. Kegunaan yang paling
utama dari liners ionomer kaca adalah untuk bertindak sebagai bahan pengikat lanjut antara gigi dan restorasi
komposit. Karena adanya adhesi pada dentin, maka kemungkinan dari formasi celah pada tepi ginggival yang
terletak pada dentin,sementum atau keduanya disebabkan oleh penyusutan polimerisasi dari resin (Lippincot,
2007).

Keuntungan dari ionomer kaca di atas resin bonding agent yang menjamin ikatan adhesive, mengurangi
sensitivitas tekhnik dan membentuk mekanisme anti kariogenik melalui pelepasan florida. Ketika digunakan pada
keadaan ini, prosedur yang lebih di anjurkan adalah tekhik sandwich. Tekhnik ini memberikan keuntungan berupa
kualitas yang diinginkan dari ionomer kaca yang memberikanestetika dari restorasi komposit. Tekhnik sandwich di
rekomendasikan untuk restorasi komposit kelas 2 dan 5 ketika pasien individual memiliki resiko karies yang tinggi.
Hal tersebut berlaku untuk formulasi semen ionomer kaca konvensional dan semen ionomer kaca hibrid like-
curable (Lippincot, 2007).

c. Semen Ionomer Tri-cure

Terdiri dari partikel kaca silicate, sodium florida dan monomer yang dimodifikasi polyacid tanpa air. Bahan
ini sangat sensitif terhadap cairan, sehingga biasanya disimpan didalam kantong anti air. Pengerasan di awali oleh
foto polimerisasi dari monomer asam yang menghasil bahan yang kaku. Selama restorasi digunakan bahan yang
telah di pasang menyerap air di dalam saliva dan menambah reaksi asam basa antara gugus fungsi asam dengan
matrix dan partikel kaca silicate. Reaksi asam basa yang di induce memungkinkan pelepasan floridakarena tidak
adanya air dalam formulasi, pengadukan semen tidak self-adhesiveseperti semen ionomer kaca konvensional dan
hibrid. Sehingga dentin-bondingagent yang terpisah di perlukan untuk kompomer yang digunakan sebagai bahan
restorasi (Gladwin, 2009).

Akhir-akhir ini, beberapa bahan dengan 2 komponen, yang terdiri dari bubuk dan cairan atu yang terdiri
dari 2 pasta telah dipasarkan sebagai kompomer untuk penerapan luting(luting application). Bubuknya memiliki
komposisi srontium aluminum fluorosilicate, metalik oksida, inisitor dengan aktivasi kimia atau cahaya. Cairanya
terdiri dari monomer asam karboksilat atau methacrylate yang bisa berpolimerisasi, monomer multifungsional
acrylate, dan air. Sedangkan yang berbentuk pasta memilki bahan yang sama disesuaikan dengan bubuk dan
cairan.Karena adanya air di dalam cairan , maka bahan ini bersifat self-adhesive danreaksi asam basa dimulai pada
saat pengadukan (Lippincot, 2007).

Kekuatan ikat dari kompomer terhadap struktur gigi memiliki rentang yangsama dengan semen ionomer
kaca karena penggunaan dentin-bonding agent. Meskipun kompomer satu pasta terutama di terapkan untuk
restorasi pada area dengan tegangan rendah, data klinis saat ini dibatasi mengingat penggunaan kompomer untuk
restorasi kavitas kelas 3 dan 5 sebagai alternative ionomer kaca atau komposit resin (Lippincot, 2007).

d. Semen Ionomer Kaca yang diperkuat dengan Metal

Semen glass ionomer kurang kuat, dikarenakan tidak dapat menahan gayamastikasi yang besar. Semen ini
juga tidak tahan terhadap keausan penggunaan dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti komposit dan
keramik. Ada 2 metode modifikasi yang telah dilakukan, metode I adalah mencampur bubuk logam campur
amalgam yang berpartikel sferis dengan bubuk glass ionomer tipe II. Semen ini disebut gabungan logam campur
perak. Metode II adalah mencampur bubuk kaca dengan partikel perak dengan menggunakan pemenasanyang
tinggi.Semen ini disebut sebagai cermet. Mikrograf skening electron dari bubuk cermet menunjukan partikel-
partikel bubuk perak melekat ke permukaan dari partikel-partikel bubuk semen. Jumlah dari fluoride yang
dilepaskan dari kedua sistem modifikasi logam ini cukup besar. Namun, fluoride yang dilepaskan dari semen cermet
lebih sedikit daripada yang dilepaskan dari semen ionomer kaca tipe II. Hal ini dikarenakan sebagian partikel kaca,
yang mengandung fluoride telah dilapisi logam. Pada awalnya semen gabungan melepas lebih banyak fluoride
daripada semen tipe II. Tetapi besarnya pelepasan ini menurun dengan berjalannya waktu. Karena partikel-partikel
logam pengisi tidak terikat pada matriks semen, sehingga permukaan antar semen menjadi berjalan untuk
pertukaran cairan. Ini sangatmeningkatkan daerah permukaan yang tersedia untuk pelepasan fluoride (Anusavice,
2004).

Dengan meningkatnya daya tahan terhadap keausan dan potensi anti-kariesnya, semen-semen dengan
modifikasi logam ini telah dianjurkan untuk penggunaan yang terbatas sebagai alternative dari amalgam atau
komposit untuk restorasi gigi posterior. Meskipun demikian, bahan-bahan ini masihdiklasifikasikan sebagai bahan
yang rapuh. Karena alas an inilah penggunaan bahan tersebut umumnya terbatas pada restorasi konservatif dan
umumnya kelas I(Lippincot, 2007).

Semen-semen ini mengeras dengan cepat sehingga dapat menerima tindakan penyelesaian dalam waktu
yang relative singkat. Bersamaan dengan potensi adhesi dan daya tahannya terhadap karies, sifat-sifat menjadikan
semen tersebut digunakan untuk membangun badan inti untuk gigi yang akan diperbaiki dengan mahkota cor
penuh. Namun, karena rendahnya kekuatan terhadap fraktur dan sifatnya yang rapuh, sebaiknya dilakukan
pendekatan yang konservatif. Bahan ini sebaiknya tidak digunakan jika bagian yang akan menggunakan semen
adalah lebih besar 40% dari keseluruhan. Untuk kasus seperti ini sebaiknya digunakan pasak atau retensi bentuk
lainnya (Gladwin, 2009).

2.4.2 Klasifikasi Semen Ionomer Kaca Berdasarkan Kegunaannya

a. Type I – Luting cements

SIK tipe luting semen sangat baik untuk sementasi permanen mahkota, jembatan,veneer dan lainnya. Dapat
digunakan sebagai liner komposit. Secara kimiawi berikatan dengan dentin enamel, logam mulia dan porselen.
Memiliki translusensiyang baik dan warna yang baik, dengan kekuatan tekan tinggi. SIK yang diberikanpada dasar
kavitas akan menghasilkan ion fluorida serta berkurangnya sensitifitasgigi, perlindungan pulpa dan isolasi. Hal ini
mengurangi timbulnya kebocoranmikro ( micro-leakage) ketika digunakan sebagai semen inlay komposit atau onlay
(Craig, 2004).

b. Type II – Restorasi
Karena sifat perekatnya, kerapuhan dan estetika yang cukup memuaskan, SIK juga digunakan untuk
mengembalikan struktur gigi yang hilang seperti abrasi servikal. Abrasi awalnya diakibatkan dari iritasi kronis
seperti kebiasaan menyikat gigi yang terlalu keras (Craig, 2004).

c. Type III – Liners and Bases

Pada teknik sandwich, SIK dilibatkan sebagai pengganti dentine, dan komposit sebagai pengganti enamel.
Bahan-bahan lining dipersiapkan dengan cepat untuk kemudianmenjadi reseptor bonding pada resin komposit
(kelebihan air pada matriks SIK dibersihkan agar dapat memberikan kekasaran mikroskopis yang nantinya akan
ditempatkan oleh resin sebagi pengganti enamel (Anusavice, 2004).

d. Type IV – Fissure Sealants

Tipe IV SIK dapat digunakan juga sebagai fissure sealant. Pencampuran bahan dengan konsistensi cair,
memungkinkan bahan mengalir ke lubang dan celah gigi posterior yang sempit (Powers, 2008).

e. Type V - Orthodontic Cements

Pada saat ini, braket ortodonti paling banyak menggunakan bahan resin komposit. Namun SIK juga memiliki
kelebihan tertentu. SIK memiliki ikatan langsung ke jaringan gigi oleh interaksi ion Polyacrylate dan kristal
hidroksiapatit, dengan demikian dapat menghindari etsa asam. Selain itu, SIK memiliki efek antikariogenik karena
kemampuannya melepas fluor. Bukti dari tinjauan sistematis uji klinis menunjukkan tidak adanya perbedaan dalam
tingkat kegagalan braket Ortodonti antara resin modifikasi SIK dan resin adhesif (Powers, 2008).

f. Type VI – Core build up

Beberapa dokter gigi menggunakan SIK sebagai inti (core), mengingat kemudahanSIK dalam jelas
penempatan, adhesi, fluor yang dihasilkan, dan baik dalam koefisienekspansi termal. Logam yang mengandung SIK
(misalnya cermet, Ketac perak, EspeGMbH, Germanyn) atau campuran SIK dan amalgam telah populer. Saat ini,
banyak SIK konvensional yang radiopaque lebih mudah untuk menangani daripada logamyang mengandung bahan-
bahan lain. Namun demikian, banyak yang menganggapSIK tidak cukup kuat untuk menopang inti (core). Maka
direkomendasikan bahwagigi harus memiliki minimal dua dinding utuh jika menggunakan SIK(Powers, 2008).

g. Type VII - Fluoride releasing

Banyak laboratorium percobaan telah mempelajari fluorida yang dihasilkan SIK dibandingkan dengan bahan
lainnya. Namun, tidak ada review sistematis dengan atau tanpa meta-analisis yang telah dilakukan. Hasil dari satu
percobaan, dengan salah satu tindak lanjut periode terpanjang, menemukan bahwa SIK konvensional menghasilkan
fluorida lima kali lebih banyak daripada kompomer dan 21 kali lebih banyak dari resin komposit dalam waktu 12
bulan. Jumlah fluorida yang dihasilkan, selama 24 jam periode satu tahun setelah pengobatan, adalah lima sampai
enam kali lebih tinggidari kompomer atau komposit yang mengandung fluor (Craig, 2004).

h. Type VIII - ART (atraumatic restorative technique)

ART adalah metode manajemen karies yang dikembangkan untuk digunakan dinegara-negara dimana
tenaga terampil gigi dan fasilitas terbatas namun kebutuhan penduduk tinggi. Hal ini diakui oleh organisasi
kesehatan dunia. Teknik menggunakan alat-alat tangan sederhana (seperti pahat dan excavator) untuk menerobos
enamel dan menghapus karies sebanyak mungkin. Ketika karies dibersihkan,rongga yang tersisa direstorasi dengan
menggunakan SIK viskositas tinggi. SIK memberikan kekuatan beban fungsional (Craig, 2004).

i. Type IX - Deciduous teeth restoration

Restorasi gigi susu berbeda dari restorasi di gigi permanen karena kekuatan kunyahdan usia gigi. Pada awal
tahun 1977, disarankan bahwa semen ionomer kaca dapat memberikan keuntungan restoratif bahan dalam gigi
susu karena kemampuan SIK untuk melepaskan fluor dan untuk menggantikan jaringan keras gigi, serta
memerlukan waktu yang cepat dalam mengisi kavitas. Hal ini dapat dijadikan keuntungan dalam merawat gigi pada
anak-anak. Namun, masih diperlukan tinjauanklinis lebih lanjut (Craig, 2004)

2.7 Prinsip preparasi gigi pada GIC

Adapun prinsip dari preparasi gigi pada GIC meliputi 7 prinsip yaitu :

• Outline Form

• Resistance Form

• Retention Form

• Removal of caries

• Finishing of the enamel wall

• Convinience Form

• Cavity toilet

Pada kasus tertentu pada karies, yang mengakibatakn kerusakan hingga mengenai pulpa, sebaiknya langkah
pertama hingga ke lima di letakkan pada langkah ke dua. Apabila terjadi keadaan seperti ini, sangat penting untuk
meletakan base yang sesuai takaran ke dalam kavitas yang sudah di preparasi preparasi.

1. Outline form

Yaitu garis terluar dari hasil preparasi kavitas yang terdapat di permukaan gigi. Untuk kelas III mengambil jaringan
karies yang disertai pembuatan dovetail dengan cara mengambil sedikit jaringan sehat sekitarnya. Untuk kelas V
sendiri mengambil jaringan karies disertai pengambilan sedikit jaringan sehat biasanya berbentuk seperti ginjal.

2. Resistance form adalah bentuk dan penempatan dinding kavitas pada kedudukan yang tepat sehingga rstorasi
dan jaringan gigi yang masih sehat dan berfungsi sebagai tempat penahan dapat bekerja sama dalam menahan
tekanan tanpa menimbulkan fraktur.

3. Retention form adalah bentuk dari preparasi kavitas yang tahan terhadap pergeseran atau hilangnya restorasi
dari gaya dorong dan daya angkat. Kebutuhan retensi berhubungan dengan jenis material restorasi yang digunakan,
prinsip dari retention form bermacam-macam tergantung dari bahan material yang digunakan. RestorasiGlass
Ionomer Cement (GIC) melekat di dalam gigi oleh ikatan kimiawi yang timbul antara material dan gigi yang
dikondisikan.

4. Removal of caries merupakan Pembuangan jaringan karies dentin dan debris-debris pada dinding kavitas . Karies
tidak boleh ditinggalkan didalam kavitas. Sebeb jika terjadi kebocoran bakteri yang tinggal didalam kavitas akan
terjadi aktif dan dapat menimbulkan gejala sakit dan masalah endodontik

5. Finishing of the enamel wall merupakan Suatu tindakan yang dilakukan untuk membentuk dinding enamel
margin yang halus dan rata agar mendapatkan kontak marginal serta adaptasi tumpatan yang baik. Penghalusan
dinding dan dasar kavitas menggunakan fine finishing bur sampai halus dan rata. Pada kunjungan berikutnya
penghalusan akhir bisa dilakukan dengan menggunakan bur batu putih (white stone), bur tungsten carbide dan
karet abrasif dengan kecepatan rendah.

6. Convenience form dilakukan dengan cara membentuk kavitas sedemikian rupa untuk mempermudah pengerjaan
kavitas dan memasukkan bahan tumpatan ke \dalam kavitas. Convenience form dapat diperoleh dengan cara :

– Memperluas preparasi kavitas


– Pemilihan alat yg dapat memudahkan pekerjaan

– Pemasangan separator mekanis untuk retraksi gingiva.

Kondisioner

Kondisioner dapat didefinisikan sebagai suatu bahan (biasanya berupa bahan asam) yang digunakan
untuk pengondisian permukaan email/ dentin yang bertujuan mengangkat smear layer dan pada
konsentrasi tertentu dapat menstimulasi demineralisasi permukaan email atau dentin. Smear layer
sendiri didefinisikan sebagai debri, kalsifikasi alami yang dihasilkan dari instrumentasi dentin, email atau
sementum, atau merupakan kotoran (bahan kontaminasi) yang menghalangi interaksi bahan restorasi
dengan struktur gigi (Schwartz dkk, 1996). Tujuan penggunaan kondisioner pada restorasi SIK adalah
untuk mengangkat smear layer dan bahan-bahan yang mengontaminasi (seperti pelikel organik saliva,
plak, darah) yang dapat mengurangi kekuatan ikatan antara SIK dengan struktur gigi (Mount, 2002;
Thean dkk, 2000).

Kekuatan ikatan antara SIK dengan struktur gigi bergantung kepada bahan yang digunakan sebagai
kondisioner, konsentrasi kondisioner, durasi aplikasi kondisioner, dan metode aplikasi kondisioner
(Mount, 2002; Wilson and McLean, 1988). Ada dua tipe kondisoner yang beredar dan dapat digunakan,
yaitu yang pertama asam kuat (asam fosfat dan asam sitrat). Asam ini memecahkan lapisan debris
(smear layer) pada dentin dan membuka tubulus dentin. Asam lainnya adalah asam maleat 10% yang
digunakan untuk melarutkan jaringan organik dan anorganik, tetapi kurang kuat dibandingkan asam
fosfat dan asam sitrat. Tipe kondisioner yang kedua adalah asam lemah (seperti asam poliakrilat) yang
digunakan hanya untuk melarutkan smear layer tanpa mendemineralisasi dentin (O’Brien, 1997). Asam
kuat bukan merupakan kondisioner yang baik untuk SIK karena menyebabkan pelepasan kalsium yang
diperlukan dalam adhesi SIK dengan struktur gigi (Albers, 2002). Efek demineralisasi pada dentin yang
dihasilkan oleh asam kuat yang diaplikasikan pada dentin juga dapat menyebabkan melebarnya tubulus
dentin sehingga bakteri dapat masuk dan menyebabkan inflamasi (Wilson and McLean, 1988).

Ditemukan bahwa kekuatan ikatan SIK terhadap struktur gigi yang terbaik adalah pada penggunaan asam
poliakrilat sebagai kondisioner (Wilson and McLean, 1988). Ada dua keuntungan tambahan bila
digunakan asam poliakrilat ini sebagai kondisioner dentin. Pertama karena asamnya sama dengan yang
digunakan untuk SIK sendiri maka bila terdapat sedikit sisa cairan asam poliakrilat tidak akan
mempengaruhi reaksi pengerasan. Kedua, asam poliakrilat ini akan meningkatkan energi permukaan
struktur gigi sehingga meningkatkan kelembapan permukaan gigi terhadap semen dan mengaktifkan ion-
ion kalsium dan fosfat dalam struktur gigi sehingga struktur gigi lebih memungkinkan mengalami
pertukaran ion dengan SIK (Mount, 2002; Davidson and Mjor, 1999).

Sumber :

1. Diadaptasi dr metivier , antoinette p., and bland, kimberly d. " general chairside assisting: A review for a national
general chairside exam ". American dental assistants association, 2006. Countesy coldwell systems, champaign, IL.
2. Mount GJ. An Atlas of Glass-Ionomer Cements: A Clinician’s Guide. 3th Ed. United Kingdom: Martin Dunitz.
2002:28–33,109.

3. Davidson CL, Mjor IA. Advance in Glass-Ionomer Cement. Chicago: Quintessence Publ Co. 1999: 1–5,13,18–
29,31,33,46–48,121–126,201–222.

4. Wilson AD, McLean JW. Glass-Ionomer Cement. West German: Quintessence Publ.1988; 83–91.

5. Albers HF. Tooth-Colored Restoratives: Principles and Techniques. 9th Ed. London: BC Decker Inc. 2002; 46–47.

6. O’Brien WJ. Dental Material and Their Selection. 2nd Ed. Chicago: Quintessence Publ Co. 1997: 39–40,43,45.

7. Thean HPY, Mok BYY, Chew CL. Bond Strength of Glass Ionomer Restoratives to Primary vs Permanent Dentin. J
Dent Child 2000;112–116.

8. Schwartz RS, Summitt JB, Robbins JW. Fundamentals of Operative Dentistry: A Contemporary Approach. Chicago:
Quintessence Publ. 1996: 142–143,145–146,149.

9. Craig, RG dan Powers, JM., 2004, Restorative Dental Materials. 11th ed., St. Louis: Mosby Co.

10. Powers, JM., dan Sakaguchi, RL., 2008, Restorative Dental Materials, 12thed., St. Louis:Mosby co.

11. Anusavice, 2004, Phillips’ Science of Dental Materials, 11thed., St. Louise:Elsevier.

12. McCabe, JF.,dan Walls, A W G., 2008, Applied Dental Materials, 9th ed., Cambridge:Blackwell Scientific
Publication.

13. Gladwin, Marcia dan Bagby, Michael, 2009, Clinical Aspects of Dental Materials: Theory, Practice, and Cases,
Lippincot Williams and Wilkins, Philadhelpia, pp.