Anda di halaman 1dari 2

SURAH JIN 21-28

21. (Katakanlah, "Sesungguhnya aku tidak kuasa untuk mendatangkan sesuatu


kemudharatan pun kepada kalian) atau keburukan (dan tidak pula sesuatu
kemanfaatan.") Atau kebaikan.
22. (Katakanlah, "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada yang dapat melindungiku dari Allah)
dari azab-Nya jika aku mendurhakai-Nya (seseorang pun, dan sekali-kali aku tiada akan
memperoleh selain dari-Nya) atau selain-Nya (tempat untuk berlindung) maksudnya,
tempat aku berlindung.
23. (Akan tetapi, aku hanya, menyampaikan peringatan) makna yang dikandung dalam
lafal ini merupakan pengecualian atau istitsna dari maf'ul atau objek yang terdapat di
dalam lafal amliku. Yakni aku tiada memiliki bagi kalian selain hanya menyampaikan
peringatan (dari Allah) yang aku terima dari-Nya (dan risalah-Nya) lafal ini diathafkan
kepada lafal balaaghan dan lafal-lafal yang terdapat di antara mustatsna minhu dan
istitsna merupakan jumlah mu`taridhah atau kalimat sisipan yang berfungsi untuk
mengukuhkan makna tiada memiliki. (Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya) dalam hal ketauhidan, lalu ia tidak beriman (maka sesungguhnya baginya
neraka Jahanam, mereka kekal) lafal khaalidiina adalah hal atau kata keterangan keadaan
dari dhamir man. Sehubungan dengan lafal lahuu dhamir yang ada padanya adalah untuk
menyesuaikan maknanya dengan lafal man. Lafal khaalidiina ini merupakan hal dari lafal
yang tidak disebutkan, lengkapnya mereka memasukinya dalam keadaan pasti kekal (di
dalamnya untuk selama-lamanya.)
24. (Sehingga apabila mereka melihat) lafaz hattaa di sini mengandung makna ibtidaiyah
atau permulaan, dan sekaligus mengandung makna ghayah atau tujuan terakhir dari lafal
yang diperkirakan sebelumnya; lengkapnya, mereka masih tetap berada di dalam
kekafirannya sehingga mereka melihat (apa yang diancamkan kepada mereka) yaitu azab
(maka mereka akan mengetahui) manakala azab itu datang menimpa mereka, yaitu
dalam perang Badar atau pada hari kiamat nanti (siapakah yang lebih lemah penolongnya
dan lebih sedikit bilangannya.") maksudnya pembantu-pembantunya, apakah mereka
ataukah orang-orang mukmin; penafsiran ini menurut pendapat yang pertama, yaitu
dalam perang Badar. Aku ataukah mereka; penafsiran ini berdasarkan pendapat yang
kedua, yaitu pada hari kiamat nanti. Sebagian di antara mereka, atau di antara orang-
orang kafir itu ada yang bertanya, kapankah datangnya ancaman yang dijanjikan itu?
Kemudian turunlah firman selanjutnya, yaitu:
25. (Katakanlah, "Tiadalah) tidaklah (aku mengetahui apa yang diancamkan kepada kalian
itu dekat) ertinya, apakah azab itu dekat (ataukah Rabbku menjadikan bagi
kedatangannya masa yang panjang?) Yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali hanya
Dia.
26. (Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib) mengetahui semua hal yang ghaib di
mata hamba-hamba-Nya (maka Dia tidak memperlihatkan) tidak menampakkan (kepada
seorang pun tentang yang ghaib itu) di antara manusia ini.
27. (Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia) di samping Dia
memperhatikan hal yang ghaib kepada Rasul-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-
Nya sebagai mukjizat bagi rasul itu (mengadakan) menjadikan dan memberlakukan (di
muka) rasul itu (dan di belakangnya penjaga-penjaga) yang terdiri dari malaikat-malaikat
untuk menjaganya, hingga rasul itu dapat menyampaikan hal tersebut, di antara
sejumlah wahyu-wahyu-Nya kepada manusia.
28. (Supaya Dia mengetahui) yakni supaya Allah menampakkan (bahwa) adalah bentuk
takhfif dari anna. (sesungguhnya mereka itu telah menyampaikan) yakni rasul-rasul itu
(risalah-risalah Rabbnya) di sini dipakai dhamir hum karena memandang segi makna yang
terkandung di dalam lafal man (sedangkan, sebenarnya, ilmu-Nya meliputi apa yang ada
pada mereka) diathafkan kepada lafal yang tidak disebutkan, lengkapnya ilmu mengenai hal
tersebut telah diliputi oleh ilmu-Nya (dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.")
lafal `adadan adalah tamyiz yang mengganti kedudukan maf`ulnya, asalnya ialah "ahshaa
`adada kulli syai'in," yakni Dia telah menghitung bilangan segala sesuatu.