Anda di halaman 1dari 10

Fase I atau fase pertama pada DVI adalah fase “Tempat Kejadian Perkara” atau TKP.

Prinsip
secara umum, pada fase ini dianggap seperti TKP pada kasus kriminal, dengan mengambil
seluruh sisa anggota tubuh korban, bukti dan harta benda yang tertinggal di tempat
tersebut dan dikerjakan oleh petugas TKP atau tim DVI sesuai dengan kebijakan dan
prosedur hukum. Dikarenakan bencana alam dapat bervariasi, sehingga cara pengolahan
TKP dan susunan kegiatan yang dikerjakan dapat bervariasi. Ketika rencana pengolahan TKP
telah dibentuk dan disetujui, maka tugas tim DVI dapat dimulai. Tugas tersebut adalah
pengambilan gambar, perekaman dan pelabelan yang dapat dikerjakan sekaligus dengan
pengambilan informasi postmortem yang dicatat didalam formulir The Interpol Recovery.
Aktivitas pengolahan ini membutuhkan koordinasi yang baik dalam prosesnya. (Interpol,
2014)

Pada fase ini, tim pertama yang datang ke TKP melakukan penilaian antara korban hidup
dan mati, selain itu juga mengamankan barang bukti yang dapat mengarahkan kepada
pelaku, apabila bencana yang terjadi merupakan ulah manusia. Pada korban mati akan
diberikan label sebagai penanda. Label ini harus memuat informasi tim pemeriksa, lokasi
penemuan dan nomor tubuh/mayat. Label ini akan sangat membantu dalam proses
penyidikan selanjutnya. (Pusponegoro, 2006; Mulyono, 2006; Interpol, 2014)

Pencarian korban meninggal pada bencana tidak dapat dimulai hingga seluruh korban hidup
diselamatkan. Unit Tanggap Darurat yang tiba pada daerah bencana, sebelum
tim Recovery tiba, sebaiknya memberikan informasi tersebut. Pada sebagian besar kasus,
tindakan ini pada awalnya masih kacau dan tidak terorganisir dengan baik, namun harus
diingat bahwa penemuan sisa tubuh dan mengamankan bukti menunjukan tahapan awal
yang bersifat krusial dalam proses identifikasi korban. Rencana yang harus dimasukkan
adalah pencarian, pengumpulan sisa tubuh, properti korban dan bukti dipersiapkan
segera. (Interpol, 2014)

Sebelum dimulainya kegiatan, semua personil operasi seharusnya diberikan arahan


mengenai situasi secara keseluruhan. Proses pengarahan juga mencakup pembagian
tanggung jawab dan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Lokasi bencana seharusnya
diperiksa dan diproses dari satu kawasan ke kawasan lainnya. Setiap individu dalam tim
harus ditugaskan pada kawasan spesifik area bencana yang telah ditetapkan oleh pemimpin
kawasan operasi. Sebelum memasuki area bencana, personil operasional dilengkapi dengan
peralatan dan pakaian keselamatan, alat dokumentasi serta perlengkapan recovery yang
sesuai dan mencukupi untuk setiap sisa tubuh dan barang bukti di TKP. Terakhir, peralatan
dan dokumentasi akan diberikan kepada Recovery Command Center. (Interpol, 2014)

Pemetaan TKP dilakukan terutama pada kasus dengan area bencana yang luas, melakukan
pengambilan gambar wilayah dengan menggunakan peta atau suatu rancangan. Seseorang
yang bertanggung jawab terhadap pemetaan TKP adalah The DVI Scene Controller.
Selanjutnya, untuk memastikan secara seksama pencarian dan dokumentasi fotografi,
tim recovery dan tim identifikasi korban akan membutuhkan peta area bencana yang akurat.
Tim recovery dan pengambilan barang bukti mempunyai beberapa tugas, yaitu : (Interpol,
2014)

1. Mengidentifikasi dan mencatat lokasi ditemukannya semua sisa tubuh.


2. Memaparkan, mengungkapkan dan mengambil sisa tubuh.

3. Menandai sisa tubuh dengan suatu barang bukti atau memasang nomor dimana hal
tersebut dapat dibaca dengan jelas dan tidak mudah dihapus.

4. Menempatkan secara terpisah dan nomor khusus untuk setiap sisa tubuh.

5. Mendokumentasikan lokasi penemuan.

6. Membuat dokumentasi fotografi sisa tubuh manusia untuk data tim recovery dan
pemeriksaan kedokteran forensik.

7. Memasangkan nomor recovery pada sisa tubuh.

8. Menempatkan sisa tubuh dalam kantong, memasangkan nomor recovery pada bagian luar
kantong dan menyegel kantong tersebut.

9. Memindahkan sisa tubuh dan membawa ke Recovery Command Center.

10. Menyiapkan dan mengumpulkan dokumen recovery dan dokumen pengiriman ke Recovery
Command Center.

Pencocokan sisa tubuh yang terpisah harus dilakukan hanya oleh ahli kedokteran forensik
yang telah diberikan kuasa dan bukan oleh seorang personil recovery. Setiap bagian tubuh
harus diberikan label. Tenaga kedokteran dan kedokteran gigi akan dibutuhkan di TKP untuk
membantu polisi dalam pengumpulan sisa tubuh, termasuk tulang dan gigi. Selama
operasi recovery dilakukan, personil tidak mencari bukti identitas, melepaskan pakaian
korban atau meletakkan suatu objek dalam pakaian korban atau sampel. (Interpol, 2014)

Fase 2 postmortem

Fase kedua dari DVI adalah fase pengumpulan data postmortem atau data yang diperoleh
dari mayat korban/paska kematian. Pencarian dan pengumpulan data dilakukan
oleh postmortem unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang memimpin komando DVI.
Pada fase ini, dilakukan berbagai pemeriksaan yang keseluruhannya dilakukan untuk
memperoleh dan mencatat data selengkap-lengkapnya mengenai mayat korban. (Interpol,
2014; ICPO, 2011)
Skema
Pemeriksaan Postmortem

Kegiatan pada fase ini adalah sebagai berikut : (Interpol, 2014)

1. Menerima jenazah/potongan jenazah dan barang bukti dari unit TKP.

2. Mengelompokkan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh, tidak utuh, potongan jenazah
dan barang-barang.

3. Membuat foto jenazah.

4. Mengambil sidik jari jenazah/korban dan golongan darah.

5. Melakukan pemeriksaan korban sesuai formulir interpol DVI postmortem (PM) yang telah
tersedia.

6. Melakukan pemeriksaan terhadap properti yang melekat pada jenazah.


7. Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan, dari bentuk tubuh,
tinggi badan, berat badan, tatoo, hingga cacat tubuh dan bekas luka yang terdapat di tubuh
korban/jenazah.

8. Pemeriksaan odontologi forensik : pemeriksaan bentuk gigi dan rahang yang merupakan ciri
khusus pada setiap manusia (tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda).

9. Membuat rontgen foto jika diperlukan.

10. Mengambil sampel DNA.

11. Menyimpan jenazah yang sudah diperiksa.

12. Melakukan pemeriksaan barang-barang kepemilikan yang tidak melekat di jenazah yang
ditemukan di TKP.

13. Mengirimkan data-data yang telah diperoleh kepada unit pembanding data.

Data hasil pemeriksaan tersebut akan digolongkan menjadi dua tipe, yaitu : (Interpol, 2014)

 Data Primer (sidik jari, profil gigi dan DNA).

 Data Sekunder (visual, fotografi, properti jenazah, antropologi dan medis).

Dalam menentukan identifikasi seseorang secara positif, Badan Identifikasi DVI Indonesia
(Identification Board DVI Indonesia) memiliki aturan atau syarat identifikasi yang harus
dipenuhi, yaitu didukung minimal salah satu dari data primer atau didukung minimal dua
data sekunder. Selain mengumpulkan data paska kematian, pada fase ini juga dilakukan
tindakan untuk mencegah perubahan-perubahan paska kematian pada jenazah. Misalnya
dengan meletakan jenazah pada lingkungan dingin untuk memperlambat pembusukan.
(Interpol, 2014)

Prinsip Identifikasi ini adalah membandingkan antara data antemortem dengan


data postmortem. Semakin banyak data yang cocok, maka akan semakin baik
identifikasinya. Data primer memiliki nilai yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan data
sekunder.

Data-data postmortem diperoleh dari tubuh jenazah berdasarkan pemeriksaan dari berbagai
keahlian, antara lain ahli forensik, dokter umum, dokter gigi forensik, ahli sidik jari, fotografi,
ahli DNA dan ahli antropologi forensik. (Interpol, 2014; DVI Workshop, 2007)

Meskipun pemeriksaan DNA merupakan salah satu bagian dari pemeriksaan data primer,
namun diletakkan dalam pilihan terakhir, mengingat bagaimanapun pemeriksaan DNA yang
dilakukan (baik nukleus atau mitokondria) merupakan pemeriksaan identifikasi yang
pelaksanaanya memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Namun, pemeriksaan DNA
lebih bersifat sensitif, akurat dan terpercaya untuk proses identifikasi. Sebaliknya,
pemeriksaan data sekunder tetap harus dilakukan sebagai tugas rutin, sesuai dengan
prosedur yang berlaku, meskipun hasil pemeriksaan data primer sudah dapat dilakukan
identifikasi.
Fase ketiga dari DVI adalah fase antemortem atau fase pencarian data korban saat
hidup. Dalam rangka mengumpulkan data orang yang hilang untuk dicocokkan dengan data
korban, proses pengumpulan data antemortem perlu dilakukan. Proses ini dapat melibatkan
banyak dimensi kompleks dimana yang termasuk dalam tugas ini seperti mewawancarai
keluarga atau teman untuk mendapatkan fakta-fakta yang cukup dari orang-orang tercinta
korban. Disamping tugas yang sulit dan menantang ini, representatif dalam fase ini perlu
mengkoordinasikan aktivitas mereka dengan badan-badan lainnya, yurisdiksi atau negara,
untuk mengamankan data ante-mortem dari lokasi terpencil. (Interpol, 2014)

Awalnya fase antemortem akan memfokuskan aktivitasnya pada pengembangan daftar


orang hilang yang akan dibuat dari laporan-laporan dari keluarga yang atau melalui
mekanisme lain seperti manifes penumpang. Mengikuti laporan orang hilang tersebut, tim
wawancara dan/atau investigasi akan dibentuk. Fungsi mereka termasuk mengumpulkan
deskripsi detil dari setiap orang hilang/korban potensial, termasuk detil spesifik seperti
perhiasan, baju, atau benda-benda lain seperti rekam medis dan rekam gigi, radiografi,
foto, DNA, sidik jari dan hal-hal identifikasi khusus lainnya. Informasi ini dicatat pada
formulir antemortem Interpol DVI. (Interpol, 2014)

Setelah terkumpul data antemortem yang cukup dan terpercaya pada orang hilang tertentu,
data terkait akan diperiksa dengan cermat dan jika batas yang diperlukan dalam
mencocokkan data postmortem, data kemudian ditransfer ke Pusat Rekonsiliasi untuk
ditinjau proses identifikasinya. (Interpol, 2014)

Agar proses identifikasi mencakup seluruh cakupan bencana, sangat krusial untuk sesegera
mungkin mengumpulkan, merekam, dan memproses informasi mengenai korban yang
terluka, hilang atau meninggal, begitu pula dengan individu yang terpengaruh oleh bencana
ini. Hal ini menjadi lebih penting lagi jika bencana tersebut dapat meluas. Dengan
melakukan ini, proses pengumpulan data antemortem (AM) dapat dimulai dengan cepat
dan cukup diperlengkapi. (Interpol, 2014)

Tim AM bersama dengan rantai komando pada awalnya ditugaskan untuk mengumpulkan
dan mencatat semua informasi yang berkaitan dengan individu yang mungkin dianggap
sebagai korban bencana potensial. Pengalaman yang diperoleh dari operasi responsi
bencana sebelumnya telah menunjukkan bahwa laporan jumlah terduga korban bervariasi
dan seringkali melampaui jumlah korban yang sesungguhnya. Hal ini penting dikarenakan
langkah selanjutnya mungkin dilakukan berdasarkan data terduga korban untuk tujuan
verifikasi atau menyangkal jumlah total orang hilang yang sebenarnya. Perbandingan yang
berlanjut dengan daftar orang selamat yang terluka maupun tidak, dapat mengurangi
jumlah terduga korban. Capaian dari pendekatan ini ada dua, yaitu untuk memastikan kasus
sebenarnya dari orang hilang tidak terabaikan dan untuk mendata orang hilang yang
sebenarnya untuk memfasilitasi pengumpulan data AM dari keluarga berdasarkan daftar
korban. (Interpol, 2014)

A. Sistem Manajemen Dokumentasi

Semua data yang diperoleh oleh tim AM harus didokumentasikan. Dengan cara ini,
memungkinkan untuk menentukan data apa yang telah diperoleh oleh tim mana, dari
keluarga atau teman yang mana, dan lain-lain. Data personal yang sesuai, harus
dipersiapkan untuk setiap potensi orang hilang untuk digunakan dalam mendokumentasikan
semua informasi yang masuk dan keluar terkait dengan individu yang dipertanyakan. Data
personal ini harus memiliki lembar pembungkus dengan checklist semua penilaian yang
dibutuhkan untuk memperoleh data AM. Pada checklist ini, tim AM yang ditunjuk tetap
menjaga data progresif dari langkah yang telah dilakukan, langkah yang akan diambil, dan
informasi yang tidak bisa diperoleh disamping usaha investigatif intensif. (Interpol, 2014)

B. Pengumpulan Data Antemortem

Tim AM harus memastikan bahwa semua data identifikasi korban yang dikumpulkan sesuai
dengan kebutuhan yang terkandung dalam Formulir Antemortem INTERPOL DVI (kuning).
Hal ini juga penting untuk memastikan bahwa data AM dikumpulkan oleh ahli yang telah
ditunjuk selengkap mungkin. Data AM spesifik yang tidak tersedia harus dicatat juga. Untuk
tujuan pengumpulan data identifikasi primer, tempat tinggal dan tempat kerja dari setiap
orang hilang, juga area lainnya dimana orang terduga hilang berada, harus diperlakukan
sebagai tempat kejadian perkara dan dilakukan pencarian bukti yang komprehensif dan
lengkap. Jaminan kualitas langkah harus dipastikan untuk mempertahankan standar dari
data AM yang dibutuhkan untuk perbandingan. (Interpol, 2014)

C. Wawancara Pengumpulan Data Antemortem

Personel pengumpul data AM harus sudah berpengalaman dalam mendapatkan laporan


detil dan harus mempunyai wawasan yang seksama dari rancangan dan tujuan formulir
terkait. Anggota polisi yang tidak akrab dengan Formulir kuning Antemortem INTERPOL DVI
dibutuhkan pengarahan yang menyeluruh. Dimanapun jika memungkinkan, wawancara
personal (tatap muka) harus dilakukan. Walaupun demikian, terdapat keadaan-keadaan
pengecualian yang mungkin butuh wawancara via telepon. Lokasi dan waktu wawancara
tergantung pada lokasi keluarga orang hilang berada, begitu pula dengan fasilitas yang
tersedia. (Interpol, 2014)

D. Pertimbangan Dalam Wawancara Antemortem

Hal-hal dibawah ini harus dipertimbangkan oleh tim wawancara AM DVI ketika melakukan
wawancara :

 Wawancara harus dimulai sesegera mungkin setelah sanak saudara korban telah resmi
diberitahu mengenai insiden yang terjadi.

 Sebelum wawancara, petugas kepolisian mengarahkan tim wawancara AM DVI harus


berusaha keras untuk menghubungi sanak saudara atau teman-teman orang hilang untuk
menjelaskan kepada mereka tentang wawancara yang perlu dilakukan, dan kenapa ia
dibutuhkan serta mengatur waktu dan lokasi.

 Tempat wawancara harus dipisahkan dan jauh dari tempat mayat.

 Jika wawancara tidak dapat dilakukan di rumah sanak saudara atau teman, lokasi lain yang
dipilih adalah area yang dekat dengan publik dan/atau media, dan tempat yang memastikan
individu yang diwawancara merasa privat dan nyaman.
 Jika waktu sudah ditetapkan untuk wawancara, tim wawancara AM DVI harus pasti sampai
pada waktu yang ditetapkan, menunjukkan baik profesionalisme dan kesopanan.

 Setelah tiba di tempat wawancara, petugas polisi yang mengarahkan tim wawancara AM
DVI harus memperkenalkan setiap anggota tim kepada keluarga dan teman yang hadir. Jika
pengeras suara yang digunakan untuk wawancara telepon, setiap anggota tim wawancara
harus diperkenalkan kepada orang yang diwawancara.

 Tim wawancara AM DVI harus memastikan keluarga dan/atau teman mau mengambil peran
dalam wawancara dan bahwa mereka menyadari mereka boleh meminta waktu istirahat
kapanpun dingingkan selama wawancara.

 Pewawancara harus memastkan bahwa mereka selalu merujuk pada orang hilang dalam
bentuk sekarang, bukannya lampau.

 Saat meminta informasi spesifik terkait orang hilang, pewawancara harus menahan diri
untuk bertanya mengenai hal-hal personal dan intim.

 Anggota tim wawancara harus melakukan usaha yang konsisten untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan spesifik yang ditanyakan oleh orang yang diwawancarai dan
memberikan yang terbaik selama wawancara. Saat pertanyaan tidak dapat dijawab, orang
yang diwawancarai harus diberitahukan bahwa informasi tersebut dapat diperoleh jika
mungkin dan diberikan kepada mereka di lain waktu. Tidak ada pertanyaan yang diabaikan.

 Petugas harus memastikan untuk mengumpulkan informasi dan material yang dibutuhkan
dalam satu kunjungan jika mungkin untuk menhindari gangguan lebih lanjut. Jumlah
kunjungan harus diusahakan minimal.

 Jika lebih dari satu kunjungan dibutuhkan, tim yang sama harus melakukan kunjungan
selanjutnya tersebut.

 Informasi berikut dan/atau material harus dikumpulkan sebelum menyimpulkan


wawancara. Jika wawancara dilakukan dengan telepon, petugas polisi yang mengarahkan
tim wawancara AM DVI harus mengatur material yang harus dikumpulkan oleh kepolisian
terdekat dan diteruskan ke Pusat Koordinasi Ante-Mortem DVI.

 Setiap dan semua rekam medis dan gigi asli, tabel, catatan terapi, radiografi dan pelindung
mulut, dan lain-lain dari keluarga atau teman.

 Nama dan alamat dokter gigi tempat orang hilang/korban potensial

 Deskripsi perhiasan dan benda yang dikenakan orang hilang/korban potensial.

 Foto terakhir yang menunjukkan seluruh wajah, senyum dan/atau gigi, tato, dan lain-lain.

 Sampel seka dinding mulut dan darah diambil dari orang tua biologis atau anak dari orang
hilang

 Deskripsi dan/atau foto setiap tato atau karakteristik fisik signifikan lainnya.
 Setiap benda yang mengandung friction ridge impression dan/atau DNA dari orang hilang.

 Izin untuk tes DNA harus diperoleh sebelum mengambil sampel seka dinding mulut atau
darah, sesuai hukum yang berlaku.

 Formulir kuning AM INTERPOL DVI atau formulir AM lainnya seperti yang dibutuhkan oleh
koordinator AM DVI harus dilengkapi dan diserahkan kepada Pusat Koordinasi Ante-Mortem
DVI segera setelah wawancara dilakukan.

 Tim wawancara AM DVI harus memasukkan nama setiap anggota dan tanda tangan pada
formulir kuning AM DVI. Tim harus mengirim atau mengatur pengiriman materi DNA, rekam
medis atau rekam gigi asli, dan radiografi, juga foto yang diperoleh selama atau setelah
wawancara, kepada Seksi Pendataan AM DVI.

E. Komposisi Dan Manajemen Data Antemortem

Prinsip-prinsip berikut harus diamati saat menyusun data orang hilang :

 Data harus disimpan dalam amplop atau map untuk mencegah hilangnya material.

 Data harus memiliki lembar penutup dimana nama dan jenis kelamin orang hilang
dituliskan. Lembar penutup juga harus mengandung bagian untuk mencatat kemajuan data.

 Data harus mengandung sebanyak mungkin informasi untuk membantu mengidentifikasi


orang yang meninggal.

 Data harus diawasi secara teratur untuk digandakan.

 Catatan ante-mortem harus diteruskan ke Pusat AM DVI untuk translasi, transkripsi, dan
input data, disertai dokumenatsi yang pantas (Formulir AM INTERPOL DVI dan identifier).

 Catatan AM harus diserahkan kepada petugas dari Pusat AM DVI dan ditanda-tangani oleh
petugas tersebut.

 Setiap catatan antemortem yang tidak diproses ke Pusat AM DVI harus dikembalikan ke
sumbernya dimana mereka didapatkan dalam periode waktu yang telah ditetapkan.
(Interpol, 2014)
Fase ke empat adalah fase reconciliation atau fase analisa, yaitu fase dimana dilakukan
perbandingan data postmortem dengan data antemortem. Ahli forensik dan profesional lain
yang terkait dalam proses identifikasi menentukan apakah temuan postmortem pada
jenazah sesuai dengan data antemortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah.
Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah
tegak. Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap
negatif dan data postmortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan
data antemortem yang sesuai dengan temuan postmortem jenazah. Kegiatan yang dilakukan
adalah : (National Policing Improvement Agency, 2011)

1. mengkoordinasikan rapat‐rapat penentuan identitas korban mati antara Unit TKP,


Unit Postmortem dan Unit Antemortem;

2. mengumpulkan data‐data korban yang dikenal untuk dikirim ke rapat rekonsiliasi;

3. mengumpulkan data‐data tambahan dari Unit TKP, Unit Postmortem dan


Unit Antemortem untuk korban yang belum dikenal;

4. membandingkan data Antemortem dan Postmortem;

5. check and re-check hasil Unit Pembanding Data;

6. mengumpulkan hasil identifikasi korban;

7. membuat sertifikat identifikasi, surat keterangan kematian untuk korban yang dikenal dan
surat‐surat lainnya yang diperlukan;

8. publikasi yang benar dan terarah oleh Unit Rekonsiliasi sangat membantu masyarakat untuk
mendapatkan informasi yang terbaru dan akurat.

Korban yang telah di identifikasi akan di rekonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik
terbaik dan kemudian dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan. Apabila korban
tidak teridentifikasi maka data postmortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan
data antemortem yang sesuai dengan temuan postmortem jenazah, dan pemakaman
jenazah menjadi tanggung jawab organisasi yang memimpin komando DVI. Sertifikasi
jenazah dan kepentingan medikolegal serta administratif untuk penguburan menjadi
tanggung jawab pihak yang menguburkan jenazah. (National Policing Improvement
Agency, 201; ICPO, 2011)

Perawatan jenazah yang dapat dilakukan meliputi antara lain:

 Perbaikan atau rekonstruksi tubuh jenazah.

 Pengawetan jenazah (bila memungkinkan).

 Perawatan sesuai agama korban.

 Memasukkan dalam peti jenazah.

Kemudian jenazah diserahkan kepada keluarganya oleh petugas khusus dari Komisi
Identifikasi berikut surat-surat yang diperlukan pencatatan yang penting pada proses serah
terima jenazah yakni, tanggal dan jam, nomor registrasi jenazah, diserahkan kepada siapa,
alamat lengkap penerima, hubungan keluarga dengan korban, serta dibawa kemana atau
dimakamkan dimana. Perawatan jenazah setelah teridentifikasi dilaksanakan oleh unsur
Pemerintah Daerah, dalam hal ini Dinas Sosial dan Dinas Pemakaman yang dibantu oleh
keluarga korban. (National Policing Improvement Agency,201; ICPO, 2011)

Selain terdapat empat fase di dalam proses identifikasi, terdapat satu proses yang juga tidak
kalah penting untuk dilaksanakan. Fase ini dilakukan 3-6 bulan setelah proses identifikasi
selesai. Pada fase debriefing, semua orang yang terlibat dalam proses identifikasi
berkumpul untuk melakukan evaluasi terhadap semua hal yang berkaitan dengan
pelaksanaan proses identifikasi korban bencana, baik sarana, prasarana, kinerja, prosedur,
serta hasil dentifikasi. Sangat penting untuk tetap memperhatikan file record dan segala
informasi yang telah dibuat untuk dikelompokkan dan disimpan dengan baik. Dokumentasi
berkas yang baik juga berkepentingan agar pihak lain (Interpol misalnya) dapat melihat,
mereview kasusnya, sehingga menunjukkan bahwa proses identifikasi ini dikerjakan dengan
baik dan penuh perhatian