Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1. Persespsi
2.1.1. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah sebuah proses individu mengorganisasikan dan
menginterpretasikan kesan sensoris untuk memberikan pengertian
pada lingkungannya (Robbins, 2015).

Persepsi adalah kemampuan membeda-bedakan,


mengelompokkan, memfokuskan perhatian terhadap suatu objek
rangsang yang melibatkan proses interpretasi berdasarkan
pengalaman terhadap satu peristiwa atau objek (Robbins, 2002).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah suatu


kemampuan individu dalam membedakan, mengelompokkan,
memfokuskan, menafsirkan, kesan sensoris dalam memberikan
pengertian kepada lingkungan.

2.1.2. Proses Terjadinya Persepsi


Menurut Walgito (2004) proses terjadinya persepsi yaitu apabila
objek menimbulka n stimulus dan stimulus mengenai alat indera
atau reseptor. Perlu dikemukakan bahwa antara objek dan
stimulus itu berbeda, tetapi ada kalanya bahwa objek dan stimulus
itu menjadi satu, misalnya dalam hal tekanan. Benda sebagai
objek langsung mengenai kulit, sehingga akan terasa tekanan
tersebut.

Proses stimuli mengenai alat indera merupakan proses kealaman


atau proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indera
diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini yang disebut

4
5

sebagai proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak


sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang
dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba. Proses yang
terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran inilah yang disebut
sebagai proses psikologis.

Hal demikian dapat dikemukakan bahwa taraf terakhir dari proses


persepsi ialah individu menyadari tentang misalnya apa yang
dilihat, apa yang didengar, atau apa yang diraba, yaitu stimulus
yang diterima melalui alat indera. Proses ini merupakan proses
terakhir dari persepsi dan merupakan persepsi sebenarnya.
Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu
dalam berbagai macam bentuk.

2.1.3. Macam-Macam Persepsi


Menurut Sunaryo (2004) ada 2 macam persepsi, yaitu:
a. Eksternal perception, yaitu persepsi yang terjadi karena
adanya rangsangan yang datang dari luar diri individu.
b. Self-perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya
rangsang yang berasal dari dalam individu. Dalam hal ini
yang menjadi objek adalah dirinya sendiri.

2.1.4. Hakekat Persepsi


Menurut Shaleh (2004) hakekat persepsi yaitu:
a. Persepsi merupakan kemampuan kognitif
Persepsi banyak melibatkan kegiatan kognitif. Pada awal
pembentukan persepsi, orang telah menentukan apa yang
telah diperlihatkan dan setiap kali kita memusatkan perhatian
lebih besar kemungkinan kita akan memperolah makna dari
apa yang kita tangkap, lalu mehubungkannya dengan
pengalaman yang lalu, dan kemudian hari diingat kembali.
6

Bagian kognitif yang berperan membentuk persepsi:

1) Kesadaran
Bila seseorang dalam keadaan bahagia, maka biasanya ia
akan memandang sekelilingnya seperti suatu
pemandangan yang sangat indah. Tetapi sebaliknya, jika
ia sedang murung atau sedih pemandangan yang indah
sekalipun tak enak untuk dipandang baginya semua
seperti kabut dan membosankan.
2) Ingatan
Indera kita secara teratur akan menyimpan data yang kita
terima dalam rangka memberi arti. Orang cenderung
terus menerus membanding-bandingkan penglihatan,
suara dan penginderaan lainnya dengan ingatan
pengalaman lalu yang mirip.
3) Proses Informasi
Informasi yang diterima melalui penginderaan disimpan
untuk kemudian diproses, diungkapkan dengan
bahasa/kata-kata dan interpretasikan melalui tingkah laku
seseorang.
b. Peran Atensi dalam Persepsi
Atensi adalah keterbukaan kita untuk memilih rangsangan
mana yang paling menarik dan mengesankan bagi kita.
Banyak psikolog yang tertarik untuk mengetahui tempat atau
titik di dalam proses persepsi, dimana atensi memegang
peranannya.
Atensi memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:
1) Intensitasnya
2) Keterbatasan pada kepastian.
7

2.1.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi


Adapun faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Faisal
(2011) ialah pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu faktor internal
dan faktor eksternal.
a. Faktor internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-
faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup
beberapa hal antara lain:
1) Fisiologis
Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya
informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan
melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap
lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk
mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga
interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
2) Perhatian
Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan
untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk
fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek.
Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian
seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan
mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
3) Minat
Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada
seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang
digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance
merupakan kecenderungan seseorang untuk
memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat
dikatakan sebagai minat.
4) Kebutuhan yang searah
8

Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya


seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan
yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
5) Pengalaman dan ingatan
Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan
dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat
kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu
rangsang dalam pengertian luas.
6) Suasana hati
Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood
ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada
waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang
dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
b. Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan
karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat
didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut
pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan
mempengaruhi bagaimana seseorang merasakannya atau
menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi persepsi adalah :
1) Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus
Faktor ini menyatakan bahwa semakin besarnya
hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk
dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi
individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek
individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya
membentuk persepsi.
2) Warna dari obyek-obyek
Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak,
akan lebih mudah dipahami (to be perceived)
dibandingkan dengan yang sedikit.
9

3) Keunikan dan kekontrasan stimulus


Stimulus luar yang penampilannya dengan latar belakang
dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan
individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
4) Intensitas dan kekuatan dari stimulus
Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih
sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya
sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya
dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
5) Motion atau gerakan
Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap
obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan
pandangan dibandingkan obyek yang diam.

2.1.6. Jenis-Jenis Persepsi


Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang
diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi
beberapa jenis, yaitu :
a. Persepsi visual
Persepsi visual didapatkan dari penglihatan. Penglihatan
adalah kemampuan untuk mengenali cahaya dan
menafsirkannya, salah satu dari indera.
b. Persepsi Auditori
Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu
telinga. Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali
suara. Dalam manusia dan binatang bertulang belakang, hal
ini dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri
dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak.
c. Persepsi Perabaan
Persepsi perabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
Kulit dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian epidermis,
10

dermis, dan subkutis. Kulit berfungsi sebagai alat pelindung


bagian dalam, misalnya otot dan tulang, sebagai alat peraba
dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap
berbagai rangsangan, sebagai alat ekskresi serta pengatur
suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat
peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor reseptor khusus.

d. Persepsi Penciuman
Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera
penciuman yaitu hidung. Penciuman, penghiduan, atau
olfaksi, adalah penangkapan atau perasaan bau. Perasaan ini
dimediasi oleh sel sensor tespesialisasi pada rongga hidung
vertebrata, dan dengan analogi, sel sensor pada antena
invertebrata.
e. Persepsi Pengecapan
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera
pengecapan yaitu lidah. Pengecapan atau gustasi adalah suatu
bentuk kemoreseptor langsung dan merupakan satu dari lima
indra tradisional. Indra ini merujuk pada kemampuan
mendeteksi rasa suatu zat seperti makanan atau racun.
2.1.7. Kesalahan Pada Persepsi
Menurut Azzahy (2008) kesalahan pada persepsi ada 3, yaitu:
a. Stereotyping
Adalah mengkategorikan atau menilai seseorang hanya atas
dasar satu atau beberapa sifat dari kelompoknya. Stereotip
seringkali didasarkan atas jenis kelamin, keturunan, umur,
agama, kebangsaan, kedudukan atau jabatan.
b. Hallo Effect
Adalah kecenderungan menilai seseorang hanya atas dasar
salah satu sifatnya. Misalnya anak yang lincah/banyak
11

bermain dianggap lebih mudah terkena penyakit daripada


anak yang lebih banyak diam atau santai. Padahal tidak ada
hubungannya antara kelincahan dengan suatu penyakit.
c. Projection
Merupakan kecenderungan seseorang untuk menilai orang
lain atas dasar perasaan atau sifatnya. Oleh karenanya
projection berfungsi sebagai suatu mekanisme pertahanan
dari konsep diri seseorang sehingga lebih mampu
menghadapi yang dilihatnya tidak wajar.

2.1.8. Cara Pengukuran Persepsi


Menurut Azwar (2010) mengemukakan bahwa: Komponen
kognitif sikap berisi persepsi, kepercayaan dan seterotip yang
dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen kognitif
ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama apabila
menyangkut masalah isu atau problem kontroversial. Maka dapat
disimpulkan bahwa persepsi merupakan bagian dari sikap,
sehingga untuk mengukur persepsi dapat digunakan skala sikap.
“Dalam pengukuran sikap sering digunakan skala Thurstone,
Likert, Bogardus, dan perbedaan semantik (The Semantic
Different Scale)”.
a. Skala Thurstone
Meminta responden untuk memilih dua atau tiga pernyataan
pendirianya terhadap butir-butir pernyataan persepsi yang
telah disusun menurut intensitas dari yang paling kuat hingga
paling rendah.
b. Skala Likert
Menggunakan sejumlah pernyataan untuk mengukur sikap
yang mendasarkan pada rata-rata jawaban, dalam skala ini
responden diminta untuk menunjukkan tingkatan dimana
mereka setuju atau tidak setuju pada setiap pernyataan
12

dengan lima pilihan skala yaitu setuju, ragu-ragu, tidak


setuju.
c. Skala Borgadus
Responden diminta untuk mengisi atau menjawab pernyataan
satu atau semua dari tujuh pernyataan untuk melihat jarak
sosial terhadap kelompok etnik grup lainnya.
d. Skala perbedaan semantik (The Semantic Different Scale)
Responden diminta untuk menentukan suatu ukuran skala
yang bersifat berlawanan yaitu positif-negatif, baik-buruk,
aktif-pasif, bijaksana-bodoh, dan sebagainya.

2.2 Pelayanan Gawat Darurat


2.2.1 Pengertian
Pelayanan gawat darurat (emergency care) adalah bagian dari
pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu
segera (immediately) untuk menyelamatkan kehidupannya (life
saving). Unit kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan gawat
darurat disebut dengan nama Unit Gawat Darurat (Emergency
Unit). Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, keberadaan Unit
Gawat Darurat (UGD) tersebut dapat beraneka macam. Namun
yang lazim ditemukan adalah yang tergabung dalam Rumah Sakit
(hospital based emergency unit) (Azwar, 2010).

2.2.2 Kegiatan
Kegiatan yang menjadi tanggung jawab UGD banyak macamnya.
Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam (Flynn, 1962)
dalam menyelenggarakan pelayanan gawat darurat sebagai berikut.
a. Kegiatan pertama yang menjadi tanggung jawab UGD adalah
menyelenggarakan pelayanan gawat darurat. Pelayanan gawat
darurat yang sebenarnya bertujuan untuk menyelamatkan
kehidupan penderita (live saving), sering dimanfaatkan hanya
13

untuk memperoleh pertolongan pertama (first aid) dan bahkan


pelayanan rawat jalan (ambulatory care).
b. Unit Perawatan Intensif (Intensif Care Unit) untuk kasus – kasus
penyakit umum, serta Unit Perawatan Jantung Intensif (Intensif
Cardiac Care Unit) untuk kasus – kasus penyakit jantung.
c. Kegiatan ketiga yang menjadi tanggung jawab UGD adalah
menyelenggarakan gerakan informasi medis darurat dalam
bentuk menampung serta menjawab semua pertanyaan anggota
masyarakat yang ada hubungannya dengan keadaan medis
darurat (emergency medical questions).(Robbins, 2015)
2.2.3 Faktor yang berperan sebagai penyebab makin meningkatnya
angka kunjungan penderita ke UGD.
Faktor – faktor yang dimaksud karena terdapatnya perbedaan
pengertian keadaan gawat darurat sebagaimana dikemukakan
diatas, juga karena faktor - faktor sebagai berikut : (Somers dan
Somers, 1961)
1. Tidak tersedianya berbagai sarana kesehatan lain yang setiap
saat dapat dimanfaatkan untuk memperoleh pelayanan rawat
jalan, terutama pada hari – hari libur.
2. Makin banyak dokter yang lebih senang merujuk penderita ke
Rumah Sakit dari pada melakukan tindakan medis di tempar
praktek pribadi.
3. Makin banyak penderita yang untuk penghematan, tidak
berkunjung dulu ke dokter praktek atau ke klinik, karena
menurut penilaian mereka, dokter atau klinik tersebut juga
nantinya akan merujuk mereka ke Rumah Sakit.
4. Pengaruh kebijakan asuransi kesehatan, yang hanya
menanggung biaya pelayanan rawat jalan apabila
diselenggarakan oleh UGD.
5. Upaya penyelesaian masalah.
14

6. Untuk mengatasi berbagai masalah pelayanan gawat darurat


sebagaimana dikemukakan diatas, ada beberapa upaya
penyelesaian yang dapat dilaksanakan.
2.3 Rumah Sakit
2.3.1 Pengertian
Rumah Sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis
professional yang teroganisir serta sarana kedokteran yang
permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan
keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan
penyakit yang diderita oleh pasien. (Aditama, 2003)

Rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan


menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan
klinik untuk mahasiswa kedokteran serta tempat dimana
pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan
berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan.
(Azwar, 2010)

Menurut Association of Hospital Care (1947), Rumah Sakit adalah


pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan serta
penelitian kedokteran diselenggarakan. (Azwar, 2010)

Dari berbagai pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa rumah


sakit adalah pusat dimana orang sakit mencari pertolongan
terhadap berbagai tenaga profesi kesehatan salah satunya adalah
perawat.

2.4 Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit


Keperawatan adalah salah satu profesi di rumah sakit yang berperan
penting dalam penyelenggaraan upaya mejaga mutu pelayanan kesehatan
di rumah sakit. Pada standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu
15

dijelaskan bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan


keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus menerus melibatkan diri
dalam program pengendalian mutu di rumah sakit. Dalam hal ini dapat
ditambahkan bahwa sejak lebih dari 100 tgahun yang lalu perawat
legendarys Florence Nightingale telah menyatakan bahwa “hospital should
not harm the patients” dan di tahun 1859 ia menyatakan bahwa pelayanan
keperawatan bertujuan untuk “ put patient in the best condition for nature
to act upon him.” Hal ini menunjukkan kepedulian yang mendalam dari
seorang perawat terhadap pasien yang ditanganinya di rumah sakit.
James Willan dalam buku Hospital Management (1990) menyebutkan
bahwa Nursing Department di rumah sakit mempunyai beberapa tugas,
seperti:
2.4.1 Memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien, baik untuk
kesembuhan ataupun pemulihan status fisik dan mentalnya
2.4.2 Memberikan pelayanan lain bagi kenyamanan dan keamanan
pasien, seperti penataan tempat tidur dll
2.4.3 Melakukan tugas-tugas administratif
2.4.4 Menyelenggarakan pendidikan keperawatan berkelanjutan
2.4.5 Melakukan berbagai penelitian/riset untuk senantiasa
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
2.4.6 Berpartisipasi aktif dalam program pendidikan bagi para calon
perawat.