Anda di halaman 1dari 12

JURNAL RISET PENDIDIKAN MATEMATIKA

Volume 3 - Nomor 1, Mei 2016, (76 - 87)


Available online at http://journal.uny.ac.id/index.php/jrpm

ANALISIS KESULITAN DAN SELF-EFFICACY SISWA SMP DALAM PEMECAHAN


MASALAH MATEMATIKA BERBENTUK SOAL CERITA

N. Novferma
Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Jambi, Jalan Lintas Jambi - Muara Bulian Km. 15, Kota
Jambi, 36122, Indonesia
Korespondensi Penulis. Email: novfermaa@gmail.com, Telp: +6285266077090
Received: 15th August 2016; Revised: 20th August 2016; Accepted: 7th September 2016

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan letak, jenis, faktor-faktor kesulitan, dan self-efficacy
siswa SMP swasta di Kabupaten Sleman, DIY dalam memecahkan masalah matematika berbentuk soal
cerita. Penelitian ini termasuk penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Subjek
penelitian adalah 124 siswa SMP swasta di Kabupaten Sleman, DIY yang berasal dari empat sekolah
dengan kategori tinggi, sedang, dan rendah. Sampel penelitian ditentukan dengan stratified proportional
random sampling technique. Instrumen yang digunakan berupa tes diagnostik terdiri atas 5 butir soal,
angket self-efficacy, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan siswa dalam
pemecahan masalah matematika berbentuk soal cerita terletak pada pengetahuan faktual, pengetahuan
konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Jenis kesulitan yang dialami siswa
yaitu pada mengingat fakta, mengingat konsep, memahami fakta, memahami konsep, menerapkan konsep,
menerapkan prosedur, menganalisis prosedur, mengevaluasi faktual, mengevaluasi konsep, mengevaluasi
prosedur, dan mengomunikasikan metakognitif. Faktor-faktor kesulitan yang dialami siswa SMP dalam
memecahkan masalah matematika berbentuk soal cerita kelas VIII yaitu siswa merasa waktu yang
diberikan tidak cukup, mudah menyerah, kurang teliti, sering lupa, merasa cemas, dan siswa tergesa-gesa
untuk mengerjakan soal. Self-efficacy dari 124 siswa berada dalam kategori tinggi dengan rata-rata sebesar
90,4.
Kata Kunci: analisis kesulitan siswa, self-efficacy, pemecahan masalah matematika, soal cerita

AN ANALYSIS OF DIFFICULTIES AND SELF-EFFICACY OF JUNIOR HIGH SCHOOL


STUDENTS IN SOLVING STORY FORM MATHEMATICAL PROBLEMS

Abstract
This research aimed to describe the positions, types, difficulty factors, and self-efficacy of junior
high school students in Sleman, DIY in solving story form mathematical problems. This study was survey
research using the quantitative and kualitative approach. The subjects of this research were 124 students of
private junior high schools in Sleman, DIY, which were from four different school groups in the high,
middle, and low categories. The sample was established using the stratified proportional random sampling
technique. The instruments which were used namely diagnostic test that consisted of 5 items, self-efficacy
questionnaire, and interview guides. The results indicate that students’ difficulties in solving story form
mathematical problems lie on factual knowledge, conceptual knowledge, procedural knowledge, and
metacognitive knowledge. The types of difficulties experienced by students include remembering fact,
remembering concept, understanding facts, understanding concept, applying concept, applying procedure,
analyzing procedure, evaluating fact, evaluating concept, evaluating procedure, and communicating
metacognitive. Difficulty factors that grade VIII students experience in solving story form mathematical
problems include: students feel that the time given is not enough, easily give up, are not meticulous enough,
oftenly forget, and are anxious and impatient while solving the problems. The self-efficacy of 124 students
can be categorized as high with an average score of 90.4.
Keywords: analysis of students’ difficulties, self-efficacy, mathematics problem solving, story problem.

How to Cite: Novferma, N. (2016). Analisis kesulitan dan self-efficacy siswa SMP dalam pemecahan masalah
matematika berbentuk soal cerita. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3(1), 76-87.
doi:http://dx.doi.org/10.21831/jrpm.v3i1.10403

Permalink/ DOI: http://dx.doi.org/10.21831/jrpm.v3i1.10403

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 77
N. Novferma

may not have the same conceptions of under-


PENDAHULUAN
standing in mathematics learning when they are
Pendidikan merupakan proses perubahan studying primary, secondary, or tertiary mathe-
pola pikir manusia dalam mendapatkan ilmu matics”. Menurut Abdurrahman (2012, p. 202)
pengetahuan yang akan bermanfaat bagi kehi- banyak yang memandang matematika sebagai
dupan. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh bidang studi yang paling sulit.
pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber Matematika manekankan pada pemecahan
daya manusia Indonesia secara berkelanjutan suatu masalah, dimana masalah dalam matema-
(continous quality improvement), salah satunya tika biasanya disajikan dalam bentuk soal mate-
dengan memperbaiki kualitas pendidikan. Sam- matika. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah
pai saat ini, belum ada suatu bukti yang menya- jika seseorang tersebut tidak mempunyai aturan
takan bahwa kualitas pendidikan matematika di tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk
Indonesia tergolong baik, walaupun prestasi bel- menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.
ajar matematika di Indonesia cukup menonjol Oleh karena itu, seorang guru diharapkan dapat
dalam perseorangan, misalnya dalam Internatio- mengoptimalkan siswa dalam menguasai konsep
nal Mathematics Olimpiad (IMO), namun tidak dan memecahkan masalah matematika dengan
secara kolektif. Hasil penilaian kolektif tersebut kebiasaan berpikir kritis, logis, sistematis, dan
dapat dilihat dari hasil studi yang dilakukan oleh struktur.
Trends in International mathematics and Menurut NCTM (2000, p. 52) pentingnya
Science Study (TIMSS) dan Program for Inter- pemecahan masalah dalam mengembangkan
national Student Assessment (PISA). Program pengetahuan matematika. Bell (1978, p. 311)
PISA yang diukur setiap tiga tahun, pada tahun menyatakan bahwa pemecahan masalah mate-
2003 menempatkan Indonesia pada peringkat 2 matika dapat membantu siswa dalam mengem-
terendah dari 40 negara peserta. Pada PISA ta- bangkan kemampuan mereka dan dapat
hun 2009 Indonesia hanya menduduki rangking membantu mereka dalam mengaplikasikan
61 dari 65 peserta dengan rata-rata skor 371, kemampuan pada berbagai situasi. Namun pada
sementara rata-rata skor internasional adalah kenyataannya bahwa masih banyak siswa meng-
496. Peringkat Indonesia dalam PISA tahun alami kesulitan dalam pemecahan masalah
2012 adalah peringkat 64 dari 65 dan rata-rata matematika. Belum maksimalnya kemampuan
nilai PISA Indonesia adalah 375 masih di bawah pemecahan masalah matematika tidak hanya
rata-rata internasional yaitu 494 (OECD, 2014, disebabkan oleh sifat matematika yang abstrak
p. 19). tersebut tetapi juga tidak terlepas dari proses
Pendidikan matematika mepunyai peran pembelajaran matematika yang ada dalam setiap
yang sangat penting karena matematika meru- kelasnya selama ini yaitu guru hanya mene-
pakan ilmu dasar yang digunakan secara luas rangkan materi, memberi contoh soal dan
dalam berbagai bidang kehidupan. Chambers memberikan latihan soal (Amri & Abadi, 2013,
(2008, p. 8) mengemukakan bahwa matematika p.58). Hal ini dapat dilihat dari hasil daya serap
merupakan suatu ilmu mengenai pola-pola ujian nasional (UN) SMP Kabupaten Sleman,
abstrak yang memiliki karakteristik sebagai alat DIY tahun 2012/2013 pada penguasaan materi
untuk memecahkan masalah, sebagai pondasi soal matematika.
kajian ilmiah dan teknologi, serta dapat mem- Berdasarkan daya serap UN tersebut, ter-
berikan cara-cara untuk memodelkan situasi lihat bahwa penguasaan materi soal matematika
dalam kehidupan nyata. Dalam pembelajaran siswa masih rendah. Kemampuan yang diuji
matematika diharapkan siswa dapat menumbuh- masih belum memenuhi nilai kriteria ketuntasan
kan kemampuan berpikir efektif, kritis, logis, minimum (KKM) sekolah. Terdapat 24 indika-
sistematis, kreatif, cermat, dan efisien terhadap tor yang masih di bawah KKM dari 40 indikator
memecahkan masalah. penguasaan materi matematika yang diujikan.
Menurut Tall & Razali (Ciltas & Tatar, Hal ini menunjukkan bahwa siswa SMP masih
2011, p. 462), tujuan dari pendidikan matema- kesulitan dalam menyelesaikan soal ujian nasio-
tika adalah mengaktualisasikan belajar siswa nal pada kompetensi matematika tertentu, misal
pada tingkat yang tertinggi. Namun kenyataan- dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan
nya mayoritas siswa mengalami kesulitan. Da- dengan pemfaktoran bentuk aljabar hanya
lam mempelajari matematika tiap siswa memi- 64,57% siswa yang mampu mengerjakan butir
liki pandangan yang berbeda, hal ini sejalan de- soal dengan benar, menyelesaikan masalah yang
ngan pendapat Khiat (2010, p. 1459), “students berkaitan dengan fungsi hanya 53.18% siswa

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 78
N. Novferma

yang mampu mengerjakan butir soal dengan huan, yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan
benar, dan menyelesaikan masalah mengguna- konseptual, pengetahuan prosedural, dan
kan teorema Pythagoras hanya 58,95% siswa pengetahuan metakognitif.
yang mampu mengerjakan butir soal dengan Menurut Anderson & Krathwohl (2010, p.
benar. Keberhasilan siswa yang kurang optimal 67) bahwa pengetahuan faktual meliputi elemen-
terhadap pencapai hasil belajar dimungkinkan elemen dasar yang digunakan oleh para pakar
karena terdapat kesulitan belajar dalam diri dalam menjelaskan, memahami, dan secara
siswa. Siswa yang mengalami kesulitan belajar sistematis menata disiplin ilmu mereka. Menurut
cenderung mengalami kesulitan dalam meme- Jong & Hessler (1996, p. 107) pengetahuan kon-
cahkan masalah, baik di dalam kelas maupun septual merupakan pengetahuan yang statis
masalah dalam kehidupannya. mengenai fakta, konsep dan prinsip yang berla-
Menurut Westwood (2008, p. 1) bahwa ku pada suatu domain tertentu. Menurut Larkin
kesulitan belajar mengacu pada hambatan yang (2010, p. 10), dan Anderson & Krathwohl
membatasi akses partisipasi dan hasil dalam (2010, p. 77), bahwa pengetahuan prosedural
sebuah rencana pembelajaran. Yoong (2000) adalah pengetahuan tentang cara bagaimana
menyatakan ada lima masalah dalam belajar melakukan sesuatu. Menurut Jong & Hessler
matematika. Dalam kenyataannya lima masalah (1996, p. 107) bahwa pengetahuan prosedural
yang berbeda ini dapat ditunjukkan melalui berisi tindakan atau manipulasi yang berlaku
kesalahan yang sama oleh siswa. Masalah ter- dalam sebuah domain. Pengetahuan prosedural
sebut adalah attach own meanings, incomplate membantu memecahkan suatu permasalahan
or fuzzyy thinking, mix up the rules, salient dalam membuat transisi dari suatu masalah
features, dan a conformist attitude. kemasalah yang lainnya. Hal tersebut sejalan
Menurut Bell (1978, p. 399), jika seorang dengan pendapat Larkin (2010, p. 25) bahwa
siswa tidak mampu menjawab sebagian besar pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan
pertanyaan yang diajukan oleh pendidiknya, mengenai bagaimana membuat keputusan yang
maka ia menganggap pertanyaan pendidik seba- baik atau menyelesaikan masalah. Menurut
gai ancaman pribadi daripada sebagai alat bantu Anderson & Krathwohl (2010, pp. 83-90) bahwa
pembelajaran yang berharga. Hal tersebut seja- pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan
lan dengan pendapat Smith, Elkins, & Gunn tentang kognisi secara umum dan kesadaran
(2011, p. 19) bahwa kesulitan digunakan untuk akan, serta pengetahuan tentang kognisi diri
menggambarkan siswa yang terlihat tidak me- sendiri atau kemampuan yang dimilikinya.
nanggapi program kelas mereka. OECD (2009, Selain dimensi pengetahuan, dalam tak-
p. 169) menyatakan bahwa siswa mengalami sonomi Bloom yang telah direvisi juga terdapat
kesulitan sehingga menimbulkan kesulitan da- dimensi proses kognitif. Anderson & Krathwohl
lam pemahaman, penggunaan lisan dan tulisan, (2010, p. 6) menjelaskan mengenai kategori dari
menyebabkan mereka kesulitan dalam berpikir, proses kognitif itu adalah mengingat (remem-
berbicara, membaca, menulis, dan operasi ber), memahami/mengerti (understand), mene-
matematika. rapkan (apply), menganalisis (analyze), meng-
Cooney, Davis, & Henderson (1975, evaluasi (evaluate), dan mencipta (create).
p.203) mengelompokkan kesulitan belajar mate- Anderson & Krathwohl (2010, p. 99)
matika berdasarkan dua jenis pengetahuan mendefinisikan kategori mengingat adalah
matematika, yaitu pengetahuan pada konsep dan mengambil pengetahuan yang relevan dari
pengetahuan pada prinsip. Selanjutnya jenis ke- memori jangka pendekyang dibutuhkan dari
sulitan ini diperluas pada kesulitan yang mereka memori jangka panjang seorang siswa.
alami ketika menyelesaikan masalah secara Anderson & Krathwohl (2010, pp.106-115)
verbal. Oleh karena itu, dapat juga dikatakan menghubungkan kategori memahami dengan
bahwa ada tiga jenis kesulitan belajar matema- proses menginterpretasikan (interpreting). Pro-
tika siswa yaitu kesulitan pada konsep, kesulitan ses menginterpretasikan terjadi pada siswa jika
pada prinsip, dan kesulitan pada penyelesaian siswa mampu mengubah informasi dari satu
masalah verbal. bentuk penyajian ke bentuk penyajian lainnya.
Taksonomi Bloom yang telah direvisi Kategori menerapkan didefinisikan oleh
menurut Anderson & Krathwohl (2010, p. 6) Anderson & Krathwohl (2010, p. 116) sebagai
melibatkan dua dimensi, yaitu dimensi proses kategori dari proses kognitif yang meliputi
kognitif dan dimensi jenis pengetahuan. Di- penggunaan prosedur atau cara kerja tertentu
mensi pengetahuan terdiri atas 4 jenis pengeta- untuk mengerjakan suatu latihan atau menyele-

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 79
N. Novferma

saikan suatu masalah. Kategori menganalisa mengingat, memahami, menerapkan, mengana-


didefinisikan oleh Anderson & Krathwohl lisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan.
(2010, p. 120) sebagai bentuk usaha mengurai Karakteristik materi dari daya serap
materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan rendah pada UN tahun 2012/2013 digunakan
menentukan hubungan antara bagian-bagian untuk menyusun soal tes kesulitan siswa dalam
tersebut dengan materi tersebut secara keselu- pemecahan masalah matematika. Diperoleh bah-
ruhan. Kategori mengevaluasi diartikan oleh wa jenis kesulitan siswa yang mungkin ditemui
Anderson & Krathwohl (2010, p. 125) sebagai ada 11 jenis. Untuk lebih lanjut dapat dilihat
tindakan membuat suatu penilaian yang didasar- pada Tabel 1.
kan pada kriteria atau standar tertentu. Anderson Kesulitan yang dialami siswa tidak
& Krathwohl (2010, pp. 125-128) menghubung- terlepas dari berbagai faktor yang menyebabkan
kan kategori mengevaluasi dengan proses me- siswa mengalami kesulitan matematika tersebut.
meriksa (checking). Memeriksa merupakan Banyak faktor yang mempengaruhi kesulitan
proses menguji suatu konsistensi internal atau siswa dalam menyelesaikan masalah matema-
kesalahan internal yang terjadi pada suatu ope- tika, antara lain faktor intern (siswa) dan ekstern
rasi atau produksi. Menurut Anderson & (guru, orang tua, sekolah, masyarakat, sebagai-
Krathwohl (2010, p. 128), bahwa kategori nya). Namun dalam hal ini akan dikaji faktor
mencipta dapat diartikan sebagai proses intern (siswa) terutama dalam pengetahuan dan
mengumpulkan sejumlah elemen tertentu pemahaman siswa mengenai matematika.
menjadi satu kesatuan yang koheren dan Suryabrata (2014, p. 233) mengungkapkan yang
fungsional. termasuk faktor internal adalah fisiologis dan
Peneliti memandang bahwa pemecahan psikologis (misalnya: kecerdasan, motivasi,
masalah tersebut dapat dilihat dari keterampilan prestasi, dan kemampuan kognitif). Faktor eks-
matematika siswa, yaitu salah satunya terdapat ternal adalah faktor lingkungan dan instrumental
dalam taksonomi Bloom yang telah direvisi. Hal (misal: sekolah, guru, kurikulum, dan model
tersebut dikarenakan pada dimensi pengetahuan pembelajaran).
yang dipaparkan dalam taksonomi Bloom yang Menurut Bell (1978, p.402) kesulitan
telah direvisi memuat pengetahuan yang sesuai siswa dalam memecahkan masalah matematika
dengan pola pikir siswa yang akan menjadi salah satunya disebabkan oleh kesulitan mem-
subjek penelitian yaitu dimensi proses kognitif baca permasalahan matematika yang dihadapi.
dan dimensi pengetahuan siswa. Oleh karena itu, Siswa cenderung bisa membaca langsung materi
dalam penelitian ini letak kesulitan siswa yang matematika dari buku, namun tidak mampu
dimaksudkan yaitu kesulitan pada pengetahuan memahami apa yang sedang dibacanya. Bell
faktual, kesulitan pada pengetahuan konseptual, (1978, p. 408) menunjukkan cara terbaik untuk
kesulitan pada pengetahuan prosedural, dan ke- mengidentifikasi penyebab kesulitan siswa ada-
sulitan pada pengetahuan metakognitif. Sedang- lah meminta siswa membaca permasalahan
kan jenis kesulitan siswa diperoleh dari hubung- matematika dengan keras kemudian meminta
an letak kesulitan dengan proses kognitif. siswa menginterprestasikannya per kalimat.
Kategori proses kognitif yang dimaksud, yaitu
Tabel 1. Jenis Kesulitan dalam Pemecahan Masalah Matematika.
Dimensi Pengetahuan (DP)
Proses Kognitif (DPK)
Faktual (DP1) Konseptual (DP2) Prosedural (DP3) Metakognitif (DP4)
Mengingat (DPK1) Mengingat fakta Mengingat konsep - -
Memahami (DPK2) Memahami fakta Memahami konsep - -
Menerapkan Menerapkan
Menerapkan (DPK3) - -
konsep prosedur
Menganalisis
Menganalisis (DPK4) - - -
prosedur
Mengevaluasi Mengevaluasi Mengevaluasi
Mengevaluasi (DPK5) -
fakta konsep prosedur
Mengomunikasikan Mengomunikasikan
- - -
(DPK6) metakognitif

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 80
N. Novferma

Keyakinan dan persepsi siswa mengenai Pada penelitian ini, yang dimaksud
mata pelajaran yang sedang dipelajari penting dengan self-efficacy siswa terhadap matematika
dan diduga berpengaruh terhadap pencapaian adalah keyakinan diri siswa akan kemampuan-
siswa dalam pembelajaran. Siswa satu dengan nya dalam menyelesaikan masalah, menyelesai-
yang lain memiliki perbedaan. Perbedaan indi- kan tugas tanpa membandingkan dengan
vidu siswa dapat berupa perbedaan kognitif, kemampuan orang lain sehingga dapat mencapai
afektif, psikologis, dan sebagainya. Bandura keberhasilan dalam prestasi belajar matematika
(Schunk, 2012, p. 146) menyebutkan bahwa disertai dengan rasa yakin terhadap usaha yang
“self-efficacy (efficacy expectation) refers to dilakukan, pilihan yang telah ditentukan, dan
personal beliefs about one’s capabilities to memiliki ketekunan. Adapun indikator self-
learn or perform action at designated levels”. efficacy yang diamati meliputi keyakinan de-
Self-efficacy merupakan keyakinan seseorang ngan kemampuan diri yang dimiliki, perasaan
akan kemampuan melakukan sesuatu, dan mampu untuk memecahkan masalah matema-
Schunk (2012, p. 146) menyatakan bahwa itu tika, perasaan mampu untuk melaksanakan
tidak sama dengan mengetahui apa yang harus tugas, perasaan mampu untuk mencapai target
dilakukan. Self-efficacy merujuk kepada pan- prestasi belajar, yakin dengan usaha yang
dangan seseorang mengenai kemampuan diri dilakukan.
dalam melakukan suatu aksi tertentu, sedangkan Berdasarkan uraian-uraian tersebut, maka
outcome expectation lebih merujuk kepada yang menjadi tujuan penelitian ini adalah
keyakinan mengenai hasil yang akan diperoleh mendeskripsikan letak, jenis dan faktor kesulitan
dari aksi tersebut. yang dialami siswa, serta mendeskripsikan self-
Rendahnya self-efficacy siswa pada mata efficacy siswa SMP Swasta dalam pemecahan
pelajaran matematika diindikasikan dengan masalah matematika di kelas VII. Harapan dari
banyaknya siswa yang tidak ingin mencoba le- penelitian ini adalah memberikan sumbangan
bih banyak untuk mengerjakan soal matematika, dalam pembelajaran matematika dan memberi-
dan cenderung cepat menyerah ketika menda- kan variasi tes yang telah ada sebelumnya,
patkan tugas yang sulit. Padahal, menurut terutama yang berkaitan dengan tes pemecahan
Schunk (2012, p. 147) dan didukung hasil masalah matematika berbentuk soal cerita dan
penelitian Hamdi & Abadi (2014),self-efficacy memberikan gambaran kepada para guru untuk
berpengaruh erat terhadap prestasi belajar. Ke- lebih melihat tiap kesulitan yang dialami oleh
yakinan (efficacy) adalah dasar utama dari suatu siswa serta tingkatan self-efficacy siswa tersebut.
tindakan. Seseorang yang memiliki keyakinan
METODE
dalam dirinya untuk melakukan suatu tindakan
dinamakan memiliki self-efficacy. Keyakinan Penelitian ini adalah penelitian survei
akan kemampuan dalam menyelesaikan tugas dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
tertentu dikenal sebagai self-efficacy. Penelitian dilaksanakan di DIY, Kabupeten
Menurut Bandura (2009, p. 2) self- Sleman. Pengambilan data dilakukan pada 4
efficacy merupakan keyakinan yang dirasakan SMP swasta kelas VIII yaitu SMP Muhamad-
seseorang mengenai suatu kemampuan untuk iyah 3 Depok, SMP Piri Ngaklik, SMP Angkasa
menyusun dan menyelesaikan tindakan yang Adisutjipto, dan SMP Muhamadiyah 2 Mlati.
dibutuhkan untuk mengatur situasi yang akan Adapun waktu pengumpulan data pada 2-20
datang. Selain itu, dijelaskan pula bahwa self- Desember 2014.
efficacy berpengaruh terhadap bagaimana sese- Populasi penelitian ini adalah siswa kelas
orang berpikir, merasa dan memotivasi diri sen- VIII SMP swasta di Kabupaten Sleman, Yogya-
diri serta bagaimana mereka bertindak. Menurut karta. Sekolah swasta di Kabupaten Sleman ini
Woolfolk (2009, p. 284) bahwa efikasi diri ini ada 54 sekolah, karena jumlah populasi sangat
muncul bila siswa menangani tugas-tugas yang besar maka dilakukan suatu cara pemilihan
menantang dan bermakna dengan dukungan sampel agar benar-benar bisa mewakili populasi,
yang dibutuhkannya agar dapat meraih sukses. kemudian dapat dilakukan pengambilan sampel
Selain itu, efikasi diri muncul dengan meng- dengan memperhatikan strata-strata dalam popu-
amati keberhasilan siswa-siswa yang sedang lasi. Teknik pengambilan sampel yang diguna-
mengerjakan tugas yang sama. Umpan balik kan adalah stratified proportional random
yang diberikan oleh guru secara akurat dan sampling. Dari 54 sekolah di Kabupaten Sleman
memberikan semangat dapat membantu tumbuh- terdapat 9 sekolah yang berada pada kategori
nya efikasi diri (self-efficacy). tinggi, 33 sekolah pada kategori sedang, dan 12

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 81
N. Novferma

sekolah yang berada pada kategori rendah. trapesium, Tentukan harga tanah Bu Milah
Dalam penelitian ini ada 4 sekolah yang dipilih setiap meter persegi.
berdasarkan strata yaitu 1 sekolah pada kategori
Soal 5:
tinggi, 2 sekolah pada kategori sedang, dan 1
Pekerjaan orang tua dari 200 siswa SMP
sekolah pada kategori rendah. Dari keempat
Muhamadiyah 2 Yogyakarta adalah PNS,
sekolah tersebut terdapat 124 siswa yang secara
Pegawai BUMN, Petani, Nelayan, Pedagang,
keseluruhan akan diberikan tes angket self-effi-
dan Pegawai Swasta. Adapun persentase untuk
cacy dan tes diagnostik kesulitan siswa dalam
masing-masing pekerjaan yaitu sebanyak 30%
pemecahan masalah matematika.
PNS, 10% pegawai BUMN, 15% petani, 12%
Tahap pertama dalam penelitian, yakni
nelayan, 17% pedagang, dan sisanya adalah pe-
memberikan angket self-efficacy siswa dalam
gawai swasta. Sajikan informasi tersebut dalam
memecahkan masalah matematika. Tahap kedua
bentuk diagram batang.
penelitian, yakni memberikan tes yang berupa
Selanjutnya dilakukan tahap ketiga pene-
soal cerita dilihat dari kemampuan yang diujikan
litian, yakni wawancara mendalam terhadap unit
(indikator-indikator) pada Ujian Nasional Mate-
sampel penelitian yang telah ditentukan setelah
matika tahun 2012/2013 yang memiliki daya
tahap pertama dan tahap kedua selesai dan hasil
serap rendah. Soal yang diberikan dikemas
pekerjaan siswa dikoreksi.
dalam bentuk esai (soal cerita) agar mudah
Data yang diperoleh merupakan letak,
merekam hasil kerja siswa dalam memecahkan
jenis, faktor kesulitan dan self-efficacy siswa
masalah matematika. Adapun soal yang digu-
dalam pemecahan masalah matematika. Adapun
nakan dalam tes diagnostik sebagai berikut.
instrumen yang digunakan untuk menganalisis
Soal 1: letak, jenis, dan faktor kesulitan siswa adalah tes
Taman bunga Bu Opi berbentuk persegi dan ta- diagnostik kesulitan. Instrumen yang digunakan
man bunga Bu Sulis berbentuk persegi panjang. untuk mengkonfirmasi letak, jenis dan faktor
Ukuran panjang taman Bu Sulis 5 m lebihnya kesulitan siswa adalah pedoman wawancara.
dari panjang sisi taman Bu Opi. Sedangkan Instrumen yang digunakan untuk menentukan
lebarnya, 2 m lebihnya dari panjang sisi taman self-efficacy siswa adalah angket self-efficacy
Bu Opi. Jika diketahui luas taman Bu Sulis siswa. Teknik pengumpulan data pada penelitian
adalah 40 , Tentukan luas taman Bu Opi. ini adalah melakukan validasi dan mengestimasi
realibilitas instrumen tes. Berdasarkan tes
Soal 2:
diagnostik,siswa yang memperoleh skor kurang
Sebuah rumah mempunyai bak penampungan
dari 66 dikelompokkan sebagai siswa yang
air. Melalui sebuah pipa, air dialirkan dari bak
mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah
penampungan ke dalam bak mandi. Volume air
matematika.
dalam bak mandi setelah tiga menit adalah 23
Analisis data dilakukan selama dan sete-
liter dan setelah 7 menit adalah 47 liter. Volume
lah pengumpulan data agar data yang diperoleh
air dalam bak mandi setelah dialiri air selama t
tersusun secara sistematis dan lebih mudah
menit dinyatakan sebagai V(t) = (V0 + at) liter,
ditafsirkan sesuai dengan rumusan masalah.
dengan V0 adalah volume air dalam bak mandi
Langkah-langkah analisis dan penafsiran data
sebelum air dialirkan dan a adalah debit air yang
dilakukan dengan tahapan, yaitu pertama, me-
dialirkan setiap menit. (a) Tentukan volume air
ngumpulkan dan memformulasikan semua data
dalam bak mandi sebelum air dialirkan. (b)
yang diperoleh dari lapangan. Kegiatan ini
Berapa volume air dalam bak mandi setelah 15
dilakukan dengan: (1) memeriksa hasil angket
menit.
self-efficacy siswa dalam keyakinan menyelesai-
Soal 3: kan soal dan keyakinan terhadap matematika;
Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan tetap (2) memeriksa hasil tes kesulitan siswa dalam
50km/jam. setelah 3 jam, tentukanlah: (a) grafik menyelesaikan soal (benar, benar tapi kurang
perpindahan mobil dari posisi awal ke posisi lengkap, ada kesalahan, tidak selesai, atau tidak
akhir. (b) gradien dan persamaan garis pada mengerjakan); (3) menganalisis hasil tes dan
grafik di atas. angket berdasarkan indikator-indikator yang
ditetapkan; (4) mengidentifikasi siswa yang
Soal 4:
mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah
Bu Milah menjual sebidang tanah dengan harga
matematika; (5) mengkategorikan self-efficacy
Rp360.000.000,00. Tanah tersebut berbentuk
siswa berdasarkan kriteria sangat tinggi, tinggi,

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 82
N. Novferma

sedang, rendah, dan sangat rendah; (6) menduga atas 27 butir dengan setiap butir memiliki
letak kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal rentang skor 0 sampai 5, sehingga total skor self-
berdasarkan tes; (7) menduga jenis kesulitan efficacy memiliki rentang 0 sampai 135. Data
siswa dalam menyelesaikan soal berdasarkan pengukuran self-efficacy siswa setiap sekolah
tes; (8) menduga jenis kesulitan siswa dalam disajikan pada Tabel 2.
menyelesaikan soal berdasarkan tes. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 2,
Kedua, dengan menganalisis lebih menda- bahwa rata-rata skor self-efficacy siswa pada 4
lam lagi tentang letak dan jenis kesulitan siswa sekolah yaitu SMP A, SMP B, SMP C dan SMP
pada setiap item soal untuk menentukan faktor D tidak terlalu jauh berbeda. Selisih yang paling
yang mempengaruhi kesulitan siswa. Kegiatan besar terdapat pada SMP C dan SMP D yaitu
yang dilakukan pada tahap ini adalah dengan hanya terpaut selisih 4,68. Selisih yang paling
menentukan faktor yang mempengaruhi kesulit- kecil terdapat pada SMP A dan SMP B yaitu
an siswa berdasarkan jenis dan letak kesulitan hanya terpaut selisih 0,08.
yang ditemukan dari hasil tes secara Frekuensi dan persentase banyak siswa
keseluruhan. pada setiap kriteria self-efficacy matematika
Ketiga, menarik kesimpulan. Pada tahap siswa dihitung berdasarkan rentang skor yang
ini dilakukan penarikan kesimpulan berdasarkan telah ditentukan. Distribusi frekuensi dan
analisis terhadap data yang telah dikumpulkan, persentase self-efficacy matematika siswa pada 4
baik melalui tes, angket maupun wawancara. SMP swasta disajikan pada Tabel 3.
Penarikan kesimpulan ini meliputi: (1) menyim- Tabel 3 tersebut menunjukkan, skor self-
pulkan letak kesulitan siswa dalam memecahkan efficacy siswa pada 4 SMP di DIY Kabupaten
masalah matematika berbentuk soal cerita; (2) Sleman yaitu SMP A, SMP B, SMP C dan SMP
menyimpulkan jenis kesulitan siswa dalam me- D sebagian besar tersebar pada kriteria tinggi.
mecahkan masalah matematika berbentuk soal Banyaknya siswa di SMP A yang memiliki self-
cerita; (3) menyimpulkan faktor-faktor kesulitan efficacy pada kriteria tinggi yaitu 10 (27,8%)
siswa dalam memecahkan masalah matematika dari 36 siswa, 26 (72,2%) siswa berada pada
berbentuk soal cerita. (4) mengkategorisasikan kriteria tinggi. Banyaknya siswa di SMP B yang
self-efficacy siswa dalam memecahkan masalah memiliki self-efficacy pada kriteria tinggi yaitu 3
matematika berbentuk soal cerita. (13,0%) dari 23 siswa, 20 (87,0%) siswa berada
pada kriteria tinggi. Banyaknya siswa di SMP C
HASIL DAN PEMBAHASAN
yang memiliki self-efficacy pada kriteria tinggi
Dalam penelitian ini peneliti mengumpul- yaitu 4 (12,9%) dari 31 siswa, 26 (83,9%) siswa
kan informasi melalui angket self-efficacy siswa, berada pada kriteria tinggi, dan 1 (3,2%) siswa
tes diagnostik, dan hasil wawancara tentang berada pada kriteria sedang. Banyaknya siswa di
pemecahan masalah matematika yang diberikan. SMP D yang memiliki self-efficacy pada kriteria
Sebelum diberikan tes diagnostik self-efficacy tinggi yaitu 13 (38,2%) dari 34 siswa, dan 21
matematika siswa terlebih dahulu diukur, yaitu (61,8%) siswa berada pada kriteria tinggi.
dengan menggunakan angket. Angket terdiri
Tabel 2. Deskripsi Data Self-EfficacyMatematika Siswa pada 4 SMP Swasta
Deskripsi SMP A SMP B SMP C SMP D
Rata-rata 90,08 90 88,32 93
Standar Deviasi 8,80 6,49 8,76 10,15
Skor tertinggi yang mungkin 135 135 135 135
Skor terendah yang mungkin 27 27 27 27
Skor tertinggi yang dicapai siswa 120 104 108 117
Skor terendah yang dicapai siswa 78 79 75 75
Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Self-Efficacy Matematika Siswa pada 4 SMP Swasta
SMP A SMP B SMP C SMP D
Skor (X) Kriteria
F % f % f % F %
95 < X 127 Sangat Tinggi 10 27,8 3 13,0 4 12,9 13 38,2
74 < X 95 Tinggi 26 72,2 20 87,0 26 83,9 21 61,8
53 < X 74 Sedang 0 0 0 0 1 3,2 0 0
32 < X 53 Rendah 0 0 0 0 0 0 0 0
0<X 32 Sangat Rendah 0 0 0 0 0 0 0 0

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 83
N. Novferma

Hasil tes diagnostik yang diberikan kepa- pada pengetahuan faktual, 75,4% terletak pada
da 4 sekolah SMP swasta di Kabupaten Sleman, pengetahuan konseptual, 98,8% terletak pada
DIY yang melibatkan 124 siswa digunakan pengetahuan prosedural dan 100% terletak pada
untuk memperoleh data siswa yang mengalami pengetahuan metakognitif.
kesulitan dalam pemecahan masalah matema-
Tabel 5. Persentase Letak Kesulitan Siswa
tika. Siswa yang mengalami kesulitan yaitu
Berdasarkan Tes Diagnostik (n = 114 siswa)
siswa yang memperoleh skor dibawah 66 dalam
untuk Seluruh Butir Soal.
tes diagnostik.
Setelah terkumpul semua lembar jawaban Letak Kesulitan
Jumlah Persentase
siswa, selanjutnya peneliti mengkoreksi untuk Kesulitan Kesulitan
melihat banyaknya siswa yang menjawab benar Pengetahuan Faktual 219 38,4
(MB), menjawab benar tapi kurang lengkap Pengetahuan Konseptual 430 75,4
(BK), tidak selesai menjawab (TSM), ada Pengetahuan Prosedural 563 98,8
Pengetahuan Metakognitif 570 100
kesalahan (AK), dan tidak menjawab (TM) soal
Jumlah 1782 78,1
sama sekali untuk tiap-tiap butir soal. Secara
keseluruhan dapat dilihat hasil jawaban siswa Berikut disajikan Tabel 6 tentang persen-
dari semua subjek penelitian pada Tabel 4. tase letak kesulitan siswa dalam memecahkan
masalah matematika yang ditinjau dari segi
Tabel 4. Hasil Jawaban Tes Diagnostik
dimensi pengetahuan untuk setiap soal (n = 114
(n = 124 Siswa) dalam Memecahkan Masalah
siswa).
Matematika pada 5 Butir Soal.
Tabel 6.Persentase Letak Kesulitan Siswa dalam
Jawaban Persentase
Jenis Jawaban Memecahkan Masalah Matematika pada tiap
Siswa (%)
Benar (MB) 18 2,9 Soal ( n = 114 Siswa)
Benar tapi kurang 71 11,5 Soal (Seluruh Sekolah)
lengkap (BK) Letak
1 2 3 4 5
Tidak Selesai (TSM) 95 15,3 Kesulitan
(%) (%) (%) (%) (%)
Ada Kesalahan (AK) 397 64,0 Pengetahuan 54 45 41 42 37
Tidak Menjawab 39 6,3 Faktual 47,4 39,5 36,0 36,8 32,5
(TM) Pengetahuan 81 82 96 92 97
Jumlah 620 100 Konseptual 71,1 71,9 84,2 80,7 85,1
Pengetahuan 113 111 114 111 114
Berdasarkan Tabel 4, diperoleh informasi Prosedural 99,1 97,4 100 97,4 100
bahwa siswa mengalami kendala dalam meme- Pengetahuan 114 114 114 114 114
cahkan masalah matematika. Kendala tersebut Metakognitif 100 100 100 100 100
terlihat dari adanya kesalahan pada jawaban 362 252 365 359 362
yang diberikan siswa, siswa yang mengerjakan Jumlah
79,4 55,3 80,0 78,7 79,4
namun tidak selesai, bahkan ada siswa yang
tidak mengerjakan sama sekali. Setiap soal yang Berdasarkan Tabel 6, terlihat bahwa pada
dikerjakan oleh 124 siswa terdiri atas 124 peker- soal nomor 1 sampai nomor 5 tersebut kesulitan-
jaan, sehingga dari 5 soal yang dikerjakan oleh nya terletak pada pengetahuan faktual, penge-
124 siwa diperoleh total 620 pekerjaan. Berda- tahuan konseptual, pengetahuan prosedural dan
sarkan 620 pekerjaan siswa tersebut diperoleh pengetahuan metakognitif. Pada pengerjaan soal
informasi bahwa ada 18 (2,9%) jawaban yang nomor 1 ada 362 (79,4%) kesulitan, pada soal
benar, 71 (11,3%) jawaban benar tapi kurang nomor 2 ada 252 (55,3%) kesulitan, pada soal
lengkap, 95 (15,3%) jawaban yang tidak selesai, nomor 3 ada 365 (80,0%) kesulitan, pada soal
397 (64,0%) jawaban yang salah, dan 39 (6,3%) nomor 4 ada 359 (78,7%) kesulitan, dan pada
yang tidak dikerjakan. soal nomor 5 ada 362 (79,4%) kesulitan. Berda-
Letak kesulitan berdasarkan tes diagnostik sarkan soal nomor 1 sampai 5, letak kesulitan
dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan tes diag- siswa yang paling dominan adalah terletak pada
nostik kesulitan siswa diperoleh informasi bah- pengetahuan prosedural dan metakognitif.
wa ada total 1782 (78,2%) kesulitan dari 2280 Persentase letak kesulitan pada tiap soal
kesulitan yang terletak pada pengetahuan fak- dihitung berdasarkan total kesulitan yang ada
tual, pengetahuan konseptual, pengetahuan pro- pada masing-masing soal.
sedural, dan pengetahuan metakognitif. 38,4% Untuk mengkonfirmasikan jenis kesulitan
dari 570 kesulitan yang dialami siswa terletak yang dialami siswa, maka peneliti melakukan

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 84
N. Novferma

wawancara pada siswa yang mengalami kesulit- Tabel 8. Persentase Jenis Kesulitan Siswa dalam
an tersebut. Oleh karena itu, akan diambil 5 Memecahkan Masalah Matematika pada Soal
siswa dari setiap sekolah untuk diwawancarai. Nomor 1.
Siswa tersebut yang mendapatkan nilai dibawah
Dimensi Pengetahuan
66 dalam tes diagnostik kesulitan siswa dalam Proses
DP1 DP2 DP3 DP4
memecahkan masalah matematika, sehingga Kognitif
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
terdapat 20 siswa yang akan dianaisis lebih DPK1 48 42,1 45 39,5 - - - -
lanjut mengenai jenis kesulitan dan faktor DPK2 11 9,6 70 61,4 - - - -
kesulitan yang dialaminya. DPK3 - - 79 69,3 75 65,8 -
Jika dihubungkan antara letak kesulitan DPK4 - - - - 111 97,4 - -
siswa dan proses kognitif, maka diperoleh jenis DPK5 29 25,4 71 62,3 112 98,2 - -
kesulitan siswa dalam memecahkan masalah DPK6 - - - - - - 114 100
matematika. Ada 11 jenis kesulitan siswa dalam Berdasarkan Tabel 8 diperoleh informasi
memecahkan masalah matematika yang ditemu- bahwa jenis kesulitan siswa dalam memecahkan
kan. Jenis kesulitan tersebut yaitu 31,9% dari masalah matematika yang dialami siswa pada
570 kesulitan merupakan kesulitan mengingat soal nomor 1 yaitu, 42,1% dari 114 kesulitan
fakta, 47,9% merupakan kesulitan mengingat merupakan kesulitan mengingat fakta, 39,5%
konsep, 18,9% merupakan kesulitan memahami merupakan kesulitan mengingat konsep, 9,6%
fakta, 66,5% merupakan kesulitan memahami merupakan kesulitan memahami fakta, 61,4%
konsep, 72,6% merupakan kesulitan menerap- merupakan kesulitan memahami konsep, 69,3%
kan konsep, 72,6% merupakan kesulitan mene- merupakan kesulitan menerapkan konsep,
rapkan prosedur, 96,7% merupakan kesulitan 65,8% merupakan kesulitan menerapkan prose-
menganalisis prosedur, 30,7% merupakan kesu- dur, 97,4% merupakan kesulitan menganalisis
litan mengevaluasi fakta, 70,7% merupakan prosedur, 25,4% merupakan kesulitan mengeva-
kesulitan mengevaluasi konsep, 98,8% merupa- luasi fakta, 62,3% merupakan kesulitan meng-
kan kesulitan mengevaluasi prosedur, dan 100% evaluasi konsep, 98,2% merupakan kesulitan
merupakan kesulitan mengomunikasikan meta- mengevaluasi prosedur, dan 100% merupakan
kognitif. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada kesulitan mengomunikasikan metakognitif.
Tabel 7.
Tabel 9. Persentase Jenis Kesulitan Siswa dalam
Tabel 7. Persentase Jenis Kesulitan Siswa dalam Memecahkan Masalah Matematika pada Soal
Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan Nomor 2
Tes Diagnostik (n = 114 Siswa)
Dimensi Pengetahuan
Dimensi Pengetahuan Proses
Proses DP1 DP2 DP3 DP4
DP1 DP2 DP3 DP4 Jumlah Kognitif
Kognitif Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(%) (%) (%) (%) DPK1 41 36,0 53 46,5 - - - -
182 273 - - 455 DPK2 16 14,0 74 64,9 - - - -
DPK1 31,9 47,9 - - 39,9
108 379 - - 487
DPK3 - - 79 69,3 77 67,5 -
DPK2 18,9 66,5 - - 42,7 DPK4 - - - - 110 96,5 - -
- 414 414 - 828 DPK5 38 33,3 78 68,4 112 98,2 - -
DPK3 - 72,6 72,6 - 72,6 DPK6 - - - - - - 114 100
- - 551 - 551
DPK4 - - 96,7 - 96,7 Berdasarkan Tabel 9 diperoleh informasi
175 403 563 - 1141 bahwa jenis kesulitan siswa dalam memecahkan
DPK5 30,7 70,7 98,8 - 66,7 masalah matematika yang dialami siswa pada
- - - 570 570 soal nomor 2 yaitu, 36,0% dari 114 kesulitan
DPK6 - - - 100 100
465 1469 1528 570 4032 merupakan kesulitan mengingat fakta, 46,5%
Jumlah 27,2 64,4 89,4 100 64,3 merupakan kesulitan mengingat konsep, 14,0%
merupakan kesulitan memahami fakta, 64,9%
merupakan kesulitan memahami konsep, 69,3%
merupakan kesulitan menerapkan konsep,
67,5% merupakan kesulitan menerapkan prose-
dur, 96,5% merupakan kesulitan menganalisis
prosedur, 33,3% merupakan kesulitan mengeva-
luasi fakta, 68,4% merupakan kesulitan meng-
evaluasi konsep, 98,2% merupakan kesulitan

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 85
N. Novferma

mengevaluasi prosedur, dan 100% merupakan luasi fakta, 76,3% merupakan kesulitan meng-
kesulitan mengomunikasikan metakognitif. evaluasi konsep, 98,2% merupakan kesulitan
Berdasarkan Tabel 10, diperoleh infor- mengevaluasi prosedur, dan 100% merupakan
masi bahwa jenis kesulitan siswa dalam meme- kesulitan mengomunikasikan metakognitif.
cahkan masalah matematika yang dialami siswa Berdasarkan Tabel 12, diperoleh infor-
pada soal nomor 3 yaitu, 27,2% dari 114 masi bahwa jenis kesulitan siswa dalam meme-
kesulitan merupakan kesulitan mengingat fakta, cahkan masalah matematika yang dialami siswa
62,3% merupakan kesulitan mengingat konsep, pada soal nomor 5 yaitu, 26,3 % dari 114
21,1% merupakan kesulitan memahami fakta, kesulitan merupakan kesulitan mengingat fakta,
78,9% merupakan kesulitan memahami konsep, 36,0% merupakan kesulitan mengingat konsep,
79,8% merupakan kesulitan menerapkan kon- 21,9% merupakan kesulitan memahami fakta,
sep, 78,9% merupakan kesulitan menerapkan 52,6% merupakan kesulitan memahami konsep,
prosedur, 97,4% merupakan kesulitan mengana- 65,8% merupakan kesulitan menerapkan kon-
lisis prosedur, 30,7% merupakan kesulitan sep, 72,8% merupakan kesulitan menerapkan
mengevaluasi fakta, 80,7% merupakan kesulitan prosedur, 99,1% merupakan kesulitan mengana-
mengevaluasi konsep, 100% merupakan kesulit- lisis prosedur, 29,8% merupakan kesulitan
an mengevaluasi prosedur, dan 100% merupa- mengevaluasi fakta, 65,8% merupakan kesulitan
kan kesulitan mengomunikasikan metakognitif. mengevaluasi konsep, 99,1% merupakan kesu-
litan mengevaluasi prosedur, dan 100% merupa-
Tabel 10. Persentase Jenis Kesulitan Siswa
kan kesulitan mengomunikasikan metakognitif.
dalam Memecahkan Masalah Matematika pada
Soal Nomor 3. Tabel 12. Persentase Jenis Kesulitan Siswa
dalam Memecahkan Masalah Matematika pada
Dimensi Pengetahuan
Proses Soal Nomor 5.
DP1 DP2 DP3 DP4
Kognitif
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Dimensi Pengetahuan
DPK1 31 27,2 71 62,3 - - - - Proses
DP1 DP2 DP3 DP4
DPK2 24 21,1 90 78,9 - - - - Kognitif
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
DPK3 - - 91 79,8 90 78,9 - DPK1 30 26,3 41 36,0 - - - -
DPK4 - - - - 111 97,4 - - DPK2 25 21,9 60 52,6 - - - -
DPK5 35 30,7 92 80,7 114 100 - - DPK3 - - 75 65,8 83 72,8 -
DPK6 - - - - - - 114 100 DPK4 - - - - 113 99,1 - -
DPK5 34 29,8 75 65,8 113 99,1 - -
Tabel 11. Persentase Jenis Kesulitan Siswa
DPK6 - - - - - - 114 100
dalam Memecahkan Masalah Matematika pada
Soal Nomor 4. Setelah dilakukan langkah penelitian
tahap II yakni pemberian tes diagnostik peme-
Dimensi Pengetahuan
Proses cahan masalah matematika, penelitian dilanjut-
DP1 DP2 DP3 DP4
Kognitif kan dengan melakukan tahap III, yakni wawan-
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
DPK1 29 25,4 63 55,3 - - - - cara mendalam. Wawancara mendalam dilaku-
DPK2 32 28,1 85 74,6 - - - - kan dengan terlebih dahulu menentukan subjek
DPK3 - - 90 78,9 89 78,1 - penelitian dari masing-masing kelompok subjek
DPK4 - - - - 106 93,0 - - penelitian. Subjek penelitian ditentukan dari
DPK5 36 31,6 87 76,3 112 98,2 - - siswa-siswa yang memiliki skor jawaban di
DPK6 - - - - - - 114 100 bawah 66 atau yang dilihat peneliti mengalami
Berdasarkan Tabel 11 diperoleh informasi kesulitan dalam memecahkan masalah
bahwa jenis kesulitan siswa dalam memecahkan matematika.
masalah matematika yang dialami siswa pada Dalam tahap III ini terpilih lima unit
soal nomor 4 yaitu, 25,4% dari 114 kesulitan subjek penelitian yang mewakili masing-masing
merupakan kesulitan mengingat fakta, 52,3% subjek penelitian. Kelima unit subjek penelitian
merupakan kesulitan mengingat konsep, 28,1% tersebut diwawancarai secara mendalam untuk
merupakan kesulitan memahami fakta, 74,6% mendapatkan informasi secara rinci mengenai
merupakan kesulitan memahami konsep, 78,9% letak kesulitan, jenis kesulitan dan faktor kesu-
merupakan kesulitan menerapkan konsep, litan yang dihadapi siswa pada saat menyelesai-
78,1% merupakan kesulitan menerapkan prose- kan masalah matematika yang diberikan.
dur, 93,0% merupakan kesulitan menganalisis Wawancara mendalam tersebut dilakukan
prosedur, 31,6% merupakan kesulitan mengeva- sesuai dengan pedoman wawancara namun tidak

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 86
N. Novferma

mengikat atau bersifat semi struktur, sehingga kesulitan yang dialami siswa SMP dalam peme-
pertanyaan dapat dikembangkan secara tidak cahan masalah matematika berbentuk soal cerita
terstruktur sesuai dengan jawaban lisan dan peri- yaitu pada pengetahuan faktual (38,4%); penge-
laku siswa yang diwawancara. Secara umum, tahuan konseptual (75,4%); pengetahuan prose-
dalam wawancara diungkap mengenai pengeta- dural (98,8%); dan pengetahuan metakognitif
huan siswa dalam pengetahuan faktual, penge- (100%). Jenis kesulitan yang dialami siswa yaitu
tahuan konseptual siswa dalam memecahkan pada mengingat fakta (31,9%); mengingat
masalah, pengetahuan prosedural siswa dalam konsep (47,9%); memahami fakta (18,9%);
menentukan langkah-langkah atau strategi yang memahami konsep (66,5%); menerapkan konsep
tepat digunakan untuk memecahkan masalah, (72,6%); menerapkan prosedur (72,6%); meng-
serta pengetahuan metakognitif siswa dimana analisis prosedur (96,7%); mengevaluasi fakta
siswa mampu mengkomunikasikan dengan baik. (30,7%); mengevaluasi konsep (70,7%); meng-
Faktor-faktor kesulitan siswa yang dimak- evaluasi prosedur (98,8%); dan mengomunikasi-
sud adalah hal-hal yang dapat menyebabkan kan metakognitif (100%). Faktor-faktor yang
siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan dapat menyebabkan kesulitan dalam memecah-
masalah matematika. Faktor kesulitan siswa ini kan masalah matematika di luar faktor kognitif
dapat diketahui dari tes diagnostik siswa dalam dan pengetahuan siswa, diantaranya yaitu: siswa
memecahkan masalah matematika dan dari hasil kurang teliti dan tergesa-gesa dalam mengerja-
wawancara mendalam dengan beberapa unit kan soal yang diberikan, siswa merasa waktu
yang menjadi subjek penelitian. yang diberikan kurang dalam mengerjakan soal,
Secara keseluruhan dapat diperoleh bah- sehingga tidak semua soal bisa dikerjakan, siswa
wa faktor-faktor yang menyebabkan siswa sering lupa bagaimana cara menyelesaikan soal
mengalami kesulitan dalam memecahkan masa- yang telah diberikan. Sedangkan, rata-rata self-
lah matematika yaitu siswa cenderung tidak efficacy siswa SMP swasta di Kabupaten
mampu membaca soal dengan baik, siswa tidak Sleman, DIY secara keseluruhan dari 124 siswa
mampu mengingat konsep atau prinsip yang berada dalam kategori tinggi yaitu sebesar 90,4.
harus digunakan dalam pemecahan masalah
Saran
matematika dengan baik, siswa tidak mampu
memahami permasalahan yang ada sehingga Bagi guru, diharapkan memahami kesulit-
siswa tidak mampu menggunakan prosedur atau an apa saja yang siswa hadapi ketika belajar
langkah yang digunakan untuk memecahkan matematika. Guru juga diharapkan memahami
masalah matematika, siswa tidak mampu perkembangan kognitif tiap siswanya, agar
menguasai konsep dan memilih strategi yang dapat memberikan bimbingan dan arahan yang
tepat dalam memecahkan masalah matematika, sesuai dengan kesulitan yang dialami siswa.
serta siswa tidak mampu menganalisis jawaban Bagi peneliti lain diharapkan dapat mengana-
apakah ada kekeliruan yang dilakukan siswa lisis, hal-hal yang benar-benar menjadi faktor
dalam menjawab soal tersebut. kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal mate-
Selain faktor-faktor tersebut, terdapat matika. Selain itu, hasil penelitian ini hendaknya
faktor-faktor lain yang mempengaruhi kesulitan dijadikan acuan bagi para guru dalam meran-
siswa dalam menyelesaikan masalah matematika cang pembelajaran matematika di kelas yang
berbentuk soal cerita. Faktor-faktor kesulitan memberdayakan kemampuan pemecahan
yang lainnya yang dapat menyebabkan siswa masalah siswa.
mengalami kesulitan, misalnya: siswa kurang DAFTAR PUSTAKA
teliti dalam mengerjakan soal tersebut, faktor
waktu yang dirasakan kurang untuk mengerja- Abdurrahman, M. (2012). Anak berkesulitan
kan soal tersebut, siswa sering merasakan cemas belajar: Teori, diagnosis, dan
saat mengerjakan soal tersebut, faktor siswa remedialnya. Jakarta: Rineka Cipta.
mudah menyerah, dan faktor tergesa-gesa dalam Amri, M., & Abadi, A. (2013). Pengaruh PMR
mengerjakan soal. dengan TGT terhadap motivasi, sikap,
SIMPULAN DAN SARAN dan kemampuan pemecahan masalah
geometri kelas VII SMP. PYTHAGORAS:
Simpulan Jurnal Pendidikan Matematika, 8(1), 55-
Berdasarkan informasi yang diperoleh 68.
dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa letak

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (1), Mei 2016 - 87
N. Novferma

doi:http://dx.doi.org/10.21831/pg.v8i1.84 Khiat, H. (2010). A grounded theory approach:


94 conceptions of understanding in
engineering mathematics learning. The
Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2010).
Quantum Report, 15, 1459-1488.
Kerangka landasan untuk pembelajaran,
pengajaran, dan asesmen: revisi Larkin, S. (2010). Metacognition in young
taksonomi Bloom. (Terjemahan Agung children. Oxon-Hill, MD: Routledge.
Prihantoro). New York, NY: Pearson
NCTM. (2000). Principles and standards for
Addison-Wesley. (Buku asli diterbitkan
school mathematics. Reston, VA: The
tahun 2001)
National Council of TeacPhers of
Bandura, A. (2009). Self-efficacy in changing Mathematics, Inc.
societies. Cambridge, UK: Cambridge
OECD. (2009). Students with disabilities,
University Press.
learning difficulties and disadvantages in
Bell, F. H. (1978). Teaching and learning the balitic states, south eastern europe
mathematics (in secondary school). and malta. London, UK: European
Dubuque, IO: Wm. C. Brown Company commission-joint research centre (JRC).
Publisher.
OECD. (2014). PISA 2012 Results: what
Chambers, P. (2008). Teaching mathematics: students know and can do - student
developing as a reflektive secondary performance in mathematics, reading and
teacher. London, UK: Sage Publication. science (Volume 1, Revised Edition,
February 2014). PISA: OECD Publishing.
Ciltas, A., & Tatar, E. (2011). Diagnosing
learning difficulties related to the Schunk, D.H., (2012). Learning theories (6thed).
equation and inequality that contain terms Boston, MA: Pearson Education, Inc.
with absolute value. International Online
Smith, C. W., Elkins, J., & Gunn, S. (2011).
Journal of Educational Sciences, 3(2),
Multiple perspectives on difficulties in
461-473.
learning literacy and numeracy. London,
Cooney, T. J., Davis, J. E., & Henderson, B. K. UK: Springs.
(1975). Dynamics of teaching secondary
Suryabrata, S. (2014). Psikologi pendidikan.
school mathematics. Boston, MA:
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Houghton Mifflin Company.
Westwood, P. (2008). What teacher need to
Hamdi, S., & Abadi, A. (2014). Pengaruh
know about learning difficulties.
motivasi, self-efficacy dan latar belakang
Melbourne: The Australian Council For
pendidikan terhadap prestasi matematika
Education Risearch.
mahasiswa PGSD STKIP-H dan PGMI
IAIH. Jurnal Riset Pendidikan Woolfolk, A. (2009). Education psychology.
Matematika, 1(1), 77-87. Boston, MA: Pearson Educational Inc.
doi:http://dx.doi.org/10.21831/jrpm.v1i1. Yoong, W. K. (2000). Enhancing students’
2666 learning through error analysis. Universiti
Jong, T. D., & Hessler, M. G. M. F. (1996). Brunei Darussalam. Diambil pada
Types and qualities of knowledge. tanggal 12 september 2014, dari:
Educational Psychologist, 31(2), 105-113. http://math.nie.edu.sg%2Fkywong%2FER
RORS%2520Wong%2520Brunei.DOC.

Copyright © 2016, Jurnal Riset Pendidikan Matematika


Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-1503