Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian bayi, salah satunya

berupa infeksi pada tali pusat (omphalitis).1 World Health Organization (WHO) mencatat

angka kematian pada bayi di dunia adalah 33 per 1000 kelahiran hidup, 60% terjadi pada

periode nenonatal (28 hari pertama).2 angka kematian neonatal masih tinggi pada negara

miskin dan berkembang terutama di Afrika dan Asia Tenggara, yaitu 30,5 dari 25,9 per

1000 kelahiran hidup.2

Kontaminasi tali pusat dapat meningkatkan angka kejadian omfalitis. Tanda

terjadinya omfalitis adalah timbulnya pus, kemerahan pada abdomen atau bengkak.

Patogen menyebar melalui pembuluh darah pada tali pusat yang baru dipotong dan

meningkatkan angka kematian. Promosi kebersihan selama perawatan bayi baru lahir dan

perawatan post natal sangat penting dalam pencengahan omfalitis. Paparan patogen dapat

juga melalui alat pemotong tali pusat, tangan pengasuh, atau lingkungan lokal yang dapat

menyebabkan infeksi tali pusat.1

Kejadian omphalitis pada bayi baru lahir antara 0,2-0,7 %, faktor resiko terjadinya

omphalitis antara lain adalah BBLR, penggunaan kateter umbilikal, ketuban pecah dini, dan

infeksi maternal. Sekitar 75% kasus omphalitis etiologinya polimikroba, bakteri aerob

menjadi penyebab terbanyak , 85% didominasi oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus

grup A, Escherichia coli, dan Proteus mirabilis.3

1
Kejadian omphalitis dapat dicegah dengan perawatan tali pusat yang baik.

perawatan tali pusat dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pemberian antiseptik

berupa larutan 0,5% hibitane, atau alcohol 70% dan kemudian di tutup dengan kasa steril

yang kemudian di fiksasi dengan plaster.4 Di beberapa Negara di dapatkan pula perawatan

tali pusat secara tradisional seperti ASI, minyak zaitun dan minyak mustard.3

2
BAB II

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama / no. MR : By. Alvin Zaydan / 987107

Umur : 20 hari

Jenis kelamin : Laki-laki

Ayah / Ibu : Wanda / Elsa Sawitri

Suku : Minang

Alamat : Jl. Tuanku Tambusai Gg. Nangka II No. 1, Sukajadi, Pekanbaru

Tanggal masuk : 22 Mei 2018

Tanggal periksa : 23 Mei 2018

Tanggal pulang : 30 Mei 2018

ANAMNESIS (Alloanamnesis)

Diberikan oleh : Ibu pasien

Keluhan utama : Bengkak kemerahan pada daerah sekitar pusat

Riwayat penyakit sekarang :

Dua puluh hari yang lalu, bayi lahir di bidan. Bayi langsung menangis, gerakan aktif,

cukup bulan, tanda gawat napas tidak ada. Tali pusat dipotong oleh bidan. Dua hari setelah

lahir, bayi dibawa pulang. Di rumah, tali pusat dibersihkan menggunakan alkohol setelah

3
mandi. Ibu bayi mengatakan tali pusatnya sempat basah ketika bayi dimandikan. Popok

bayi sering dipakaikan menutupi tali pusat. Tali pusat lepas 8 hari setelah bayi lahir.

Satu minggu SMRS, ibu mengeluhkan pusat bayi membengkak dan merah, nanah (-),

kekemrahan (+), perut kembung (-), demam (-).Nenek bayi menyarankan bayi diberi

pengobatan tradisional dengan mengoleskan minyak dan daun sirih ke pusat.. Bayi masih

mau meyusu.

Dua hari SMRS, ibu mengeluhkan bayi demam. Demam dirasakan terus-menerus dan

menurun dengan obat penurun panas. Batuk (-), sesak napas(-), muntah(-), mencret(-).

Daerah di sekitar pusat tampak semakin bengkak dan kemerahan disertai nanah disertai bau

busuk. Bayi rewel dan sering menangis, BAB dan BAK tidak ada keluhan. Bayi kemudian

dibawa ke RSIA Eria Bunda untuk berobat dan dirawat di HCU. Bayi mendapat tatalaksana

berupa IVFD N5 K1 Ca2 4 cc/jam, injeksi amikasin 2 x 30 mg, dan injeksi metronidazol 2

x 30 mg. Bayi lalu dirujuk ke RSUD Arifin Achmad untuk mendapat tatalaksana lebih

lanjut.

Riwayat penyakit dahulu :

o Riwayat hipertensi disangkal

o Riwayat DM disangkal

o Riwayat alergi disangkal

o Riwayat penyakit jantung disangkal

Riwayat penyakit keluarga :

o Riwayat hipertensi disangkal

o Riwayat DM disangkal

4
o Riwayat alergi disangkal

o Riwayat penyakit jantung disangkal

Riwayat sosial ekonomi orang tua :

o Ayah : swasta

o Ibu : swasta

Riwayat persalinan :

Neonatus lahir pada tanggal 2 Mei 2018 pukul 07.11 WIB di RS Eria Bunda secara

spontan. Bayi lahir segera menangis, APGAR score 8/9. Keadaan setelah lahir tidak

ditemukan merintih, sianosis, letargi dan retraksi. Dilakukan perawatan rutin bayi baru

lahir, pemberian injeksi Neo K dan salep mata. Sisa ketuban jernih, telah dilakukan IMD,

bayi mendapat ASI dan susu formula. BAB (+), BAK (+), tidak ada kejang, muntah dan

kembung.

Riwayat ibu :

Ibu kontrol ANC ke dokter spesialis obsgyn sebanyak 4 kali secara teratur pada usia

kehamilan 3 minggu, 3 bulan, 4 bulan dan 8 bulan. Dilakukan USG pada bulan ke 4 dan ke

8, dikatakan janin dalam keadaan sehat. Konsumsi tablet Fe (+), imunisasi TT (+),

pemeriksaan TD (-), konsumsi jamu (-). Ibu dengan riwayat obstetrik G1P0A0H0 HPHT 8

Agustus 2017 dengan taksiran maturitas 38-39 minggu. Selama hamil, ibu tidak mengalami

demam, hipertensi dan diabetes mellitus. Ibu pernah mengalami keputihan, namun tidak

berbau.

Riwayat perumahan dan tempat tinggal :

o Rumah permanen

5
o Ventilasi cukup

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : tampak kulit kemerahan, postur normal, tonus baik, gerakan

aktif, tangis kuat, akral hangat, napas sesak (-)

Kesadaran : alert

Tanda-Tanda Vital

Suhu : 38,9°C

Frekuensi jantung : 142 denyut per menit

Frekuensi napas : 56 x/menit

Ukuran pertumbuhan

BBL : 3000 gr

BBM : 3650 gr

PB : 53 cm

LK : 36 cm

LD : 35 cm

LP : 36 cm

LiLA : 11 cm

Kepala : normocephal (>2SD), fontanella datar, sutura normal

Rambut : hitam, tidak mudah dicabut

Mata

6
Kelopak mata : edema palpebra (-/-)

Konjungtiva : pucat (-/-)

Sklera : kuning (-/-)

Pupil : isokhor, diameter 2mm/2mm

Refleks cahaya : (+/+)

Eksoftalmus/enoftalmus (-)

Mata cekung : (-)

Gerakan bola mata : dalam batas normal

Kornea : normal, jernih

Telinga : low set ear (-), cairan (-), darah (-)

Hidung : deviasi septum (-), cairan (-), pernapasan cuping hidung (-)

Mulut

Bibir : tidak pucat, sianosis (-)

Selaput lendir : basah

Palatum : utuh

Lidah : tidak kotor

KGB : tidak ada pembesaran

Kaku kuduk : tidak ada kaku kuduk

Dada

Inspeksi :

o Statis : bentuk dada normal, simetris kiri dan kanan

o Dinamis : gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan, retraksi (-)

7
Palpasi :

o Massa (-), krepitasi (-)

o Ictus cordis teraba di SIK ke-4 linea midclavicula sinistra

Perkusi :

o Sonor di semua lapangan paru

Auskultasi :

o Suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-), Downe score 0

o Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi : warna dinding abdomen kemerahan, tampak bintik merah di sekitar

abdomen, hiperemis (+), cairan pus berwarna putih dari umbilikal

Auskultasi : bising usus (+) 10x/menit

Palpasi : massa (-), nyeri tekan (+) periumbilikal

Anus (+)

Perkusi : timpani (+)

Tali pusat : tali pusat sudah puput, tampak tali pusat hiperemis, edema di

sekitar pangkal tali pusat, pus (+) berwarna putih, berbau busuk.

Alat kelamin : laki-laki, hipospadia (-), fimosis (-)

Ekstremitas : bentuk simetris, CTEV (-), gerakan sendi panggul dan

tangan normal, polidaktili (-)

8
Status neurologis : kejang (-), aktivitas bayi bangun, refleks rooting (+), refleks

isap (+), grasp reflex (+), reflex moro

(+), refleks tonic neck (+), reflex patologis (-)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Darah rutin (23/05/2018) Elektrolit (23/05/2018)


Hb : 11,8 g/dl Na+ : 133 mmol/L
Hematokrit : 35,1 % K+ : 5,6 mmol/L
Leukosit : 18050/uL Ca++ : 0,81 mmol/L
Trombosit : 359.000/uL

Eosinoil : 6,5% CRP : reaktif (192 mg/L)


Basofil : 0,2 % IT ratio : 0,03
Netrofil : 52,5 %

Monosit : 16,1%

Limfosit : 24,7%

HAL PENTING DARI ANAMNESIS

 Bengkak kemerahan dan nanah (+) pada tali pusat

 Demam terus – menerus

 Tali pusat basah ketika mandi.

9
 Popok bayi sering menutupi tali pusat

 Bayi rewel.

 Tali pusat diolesi minyak dan sirih

HAL-HAL PENTING DARI PEMERIKSAAN FISIK

 Suhu 38,9°C

 Warna dinding abdomen kemerahan, tampak bintik merah di sekitar abdomen,

hiperemis (+), cairan pus berwarna putih dari umbilikal

 Nyeri tekan pada daerah periumbilikal

HAL-HAL PENTING DARI PEMERIKSAAN LABORATORIUM

 Leukosit : 18050/uL

 Monosit : 16,1%

 CRP : reaktif (192 mg/L)

DIAGNOSIS KERJA : Omphalitis

Neonatus Cukup Bulan + Sesuai Masa Kehamilan (38-40 minggu)

BBL 3000 gr

DIAGNOSIS BANDING : Omfalokel

PEMERIKSAAN ANJURAN :

Kultur pus

Rontgen abdomen

TERAPI

10
Medikamentosa :

o IVFD D10 1/5 NS 7,5 cc/jam

o Inj. Mikasin 50 mg/12 jam

o Inj. Metronidazole 30 mg/12 jam

o Inj. Meropenem 150 mg/12 jam

o Paracetamol drop 50 mg (0,5 ml)

o ASI 60 cc/3 jam

Gizi : BBI x RDA

: 4000 gr x

PROGNOSIS :

Quo ad vitam : dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : bonam

FOLLOW UP:

24 Mei 2018

S : demam (-), rewel (+)

O : KU : tampak sakit sedang

Kes : alert

T : 37,2°C

HR : 158x/menit

11
RR : 54x/menit

BB : 3665 gr

Abdomen : bengkak (+), hiperemis (+), keluar pus dari umbilikus

A : Omphalitis

P : IVFD D10 ½ NS 7,5 cc/jam

Inj. Mikasin 50 mg/12 jam

Inj. Metronidazole 30 mg/12 jam

Inj. Meropenem 150 mg/12 jam

ASI 60 cc/3 jam

25 Mei 2018

S : demam (-), rewel (+)

O : KU : tampak sakit sedang

Kes : alert

T : 376,8°C

HR : 144x/menit

RR : 42x/menit

BB : 3705 gr

Abdomen : bengkak berkurang, hiperemis (+), cairan pus berwarna putih dari

umbilikal

A : Omphalitis

P : Inj. Mikasin 50 mg/12 jam

12
Inj. Metronidazole 30 mg/12 jam

Inj. Meropenem 150 mg/12 jam

ASI 70 cc/3 jam

26 Mei 2018

S : demam (-), rewel (-)

O : KU : tampak sakit sedang

Kes : alert

T : 37,0°C

HR : 126x/menit

RR : 52x/menit

BB : 3680 gr

Abdomen : bengkak berkurang,

hiperemis (+), cairan pus berwarna putih dari umbilikal

Hasil kultur pus : staphylococcus aureus

A : Omphalitis

P : Inj. Vancomycin 60 mg/8 jam

ASI 90 cc/3 jam

27 Mei 2018

S : demam (-), rewel (-)

O : KU : tampak sakit sedang

13
Kes : alert

T : 36,7°C

HR : 140x/menit

RR : 46x/menit

BB : 3720 gr

Abdomen : bengkak berkurang, hiperemis (+), umbilicus mulai mengering, cairan

pus berwarna putih dari umbilical (+)

A : Omphalitis

P : Inj. Vancomycin 60 mg/8 jam

ASI 120 cc/3 jam

28 Mei 2018

S : demam (-), rewel (-)

O : KU : tampak sakit ringan

Kes : alert

T : 36,8°C

HR : 136x/menit

RR : 42x/menit

BB : 3730 gr

Abdomen : bengkak (-), hiperemis (-), cairan pus berwarna putih dari umbilical (+)

A : Omphalitis

P : Inj. Vancomycin 60 mg/8 jam

14
ASI 120 cc/3 jam

29 Mei 2018

S : demam (-), rewel (-)

O : KU : tampak sakit ringan

Kes : alert

T : 37,2°C

HR : 144x/menit

RR : 42x/menit

BB : 3800 gr

Abdomen : bengkak (-), hiperemis (-), pus dari umbilical (-)

A : Omphalitis

P : Inj. Vancomycin 60 mg/8 jam

ASI 120 cc/3 jam

30 Mei 2018 (pasien pulang)

S : demam (-), rewel (-)

O : KU : tampak sakit ringan

Kes : alert

T : 36,8°C

HR : 146x/menit

RR : 36x/menit

15
BB : 3855 gr

Abdomen : bengkak (-), hiperemis (-), pus dari umbilical (-), umbilical tampak

kering

A : Omphalitis

P : ASI 120 cc/3 jam

16
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Omfalitis didefinisikan sebagai infeksi umbilikus, khususnya tali pusat, pada bayi baru lahir.
Hal ini terutama mempengaruhi neonatus, di antaranya kombinasi dari tunggul tali pusat dan
penurunan kekebalan yang ditemukan saat infeksi. Hal ini jarang dilaporkan di luar masa neonatus.
Variasi pada keadaan kongenital merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi pada tali pusat.5

Omfalitis dapat menyebar ke vena porta dan menyebabkan berbagai macam komplikasi
akut yang memerlukan intervensi medis serta bedah. Meskipun kondisi ini jarang terjadi di negara
maju, maka tetap menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan di Afrika dan bagian
lain di dunia, dimana perawatan kesehatan kurang tersedia. Infeksi tali pusat memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap infeksi bayi baru lahir dan kematian neonatus di Afrika,
terutama bagi bayi yang dilahirkan di rumah tanpa bidan yang terampil dan berada pada kondisi
yang tidak higienis.6

3.2 Epidemiologi

Omfalitis jarang terjadi di negara maju, dengan angka kejadian 0.2-0.7%. Untuk kejadian di
negara berkembang, terjadi antara 2-7 dalam setiap 100 kelahiran hidup. Namun, kejadian ini
bahkan lebih tinggi di masyarakat dengan aplikasi praktek di rumah yang tidak steril. Rumah sakit
berbasis penelitian memperkirakan bahwa 2-54 bayi per 1000 kelahiran akan mengembangkan
kejadian omfalitis.7

3.3 Faktor Risiko

Faktor risiko yang dapat menyebabkan omfalitis yakni: 11

a) Penanganan tali pusat yang tidak pantas (misalnya aplikasi budaya seperti
pemberian oli mesin, kotoran sapi, bedak bubuk, atau minyak sawit serta kopi pada tali
pusat).
b) Infeksi sekunder:

17
a) Ketuban pecah dini
b) Ibu dengan infeksi
c) Proses kelahiran yang tidak steril
d) Prematuritas: umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi
cukup bulan. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada
paruh terakhir trimester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi imunoglobulin serum
terus menurun, menyebabkan hipogamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit
juga melemahkan pertahanan kulit. Kerentanan neonatus terhadap infeksi
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kulit dan selaput lendir yang tipis
dan mudah rusak, kemampuan fagositosis dan leukosit immunitas masih
rendah.
e) Bayi berat lahir rendah: merupakan faktor resiko terjadinya infeksi.
f) Ibu tidak mandi (mencuci perineum dengan air dan sabun) atau mencukur
sebelum proses kelahiran
c) Faktor risiko lain:
a) Neonatus dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau imunodefisiensi atau
yang dirawat di rumah sakit dan mengalami prosedur invasif. Neonatus bisa
mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya terhadap Streptokokus atau
Haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak melewati plasenta dan hampir tidak
terdeteksi dalam darah tali pusat. Dengan adanya hal tersebut, aktifitas lintasan
komplemen terlambat, dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon
terhadap lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan
antibodi total dan spesifik, bersama dengan penurunan fibronektin,
menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.
b) Sindrom kekurangan leukocyte adhesion (LAD) dan mobilitas neutrofil.

3.4 Etiologi

Organisme yang dapat menyebabkan omfalitis yaitu: 6

18
1. Bakteri aerob:
a) Staphylococcus aureus (penyebab tersering): ada dimana mana dan didapat
pada masa awal kehidupan hampir semua bayi, saat lahir, atau selama masa
perawatan. Biasanya Staphylococcus aereus sering dijumpai pada kulit, saluran
pernafasan, dan saluran cerna terkolonisasi. Untuk pencegahan
terjadinya infeksi tali pusat sebaiknya tali pusat tetap dijaga
kebersihannya, upayakan tali pusat agar tetap kering dan bersih, pada saat
memandikan di minggu pertama sebaiknya jangan merendam bayi langsung ke
dalam air mandinya karena akan menyebabkan basahnya tali pusat dan
memperlambat proses pengeringan tali pusat.
i. Streptokokus grup A
ii. Escherichia coli
iii. Klebsiella
iv. Proteus

2. Bakteri anaerob (penyebab sepertiga kasus omfalitis):


i. Bacteroides fragilis
ii. Peptostreptococcus
iii. Clostridium perfringens

3.5 Patomekanisme

Sumber bakteri termasuk jalan lahir ibu dan lingkungan setelah bayi lahir merupakan hal
yang berkontribusi untuk terjadinya infeksi tali pusat, termasuk perawatan tali pusat bayi baru
lahir dapat langsung berkontribusi terhadap infeksi. Tali pusat menjadi daerah potensial infeksi
bakteri intrapartum atau postnatal. Bakteri tersebut memiliki potensi untuk menginvasi tali

19
pusat yang mengakibatkan omphalitis. Patofisiologi komplikasi dari omphalitis berkaitan erat
dengan anatomi umbilikus. Infeksi dapat menyebar melalui arteri umbilikalis, vena umbilikalis,
sistem limfatik dan pembuluh darah pada dinding abdomen, serta penyebaran langsung pada
daerah disekitar umbilikus.7
Tali pusat menyajikan substrat yang unik untuk kolonisasi bakteri, tanpa penghalang
normal pertahanan kulit, dan mengalami iskemia dan degradasi sehingga tali pusat mengering dan
lepas. Biasanya, daerah tali pusat menjadi tempat kolonisasi bakteri patogen intrapartum atau
segera setelah kelahiran. Bakteri memiliki potensi untuk menyerang tali pusat, yang menyebabkan
terjadinya omfalitis. 9
Kolonisasi bakteri dipengaruhi oleh berbagai hal. Spektrum bakteriologis dalam omfalitis
sedang mengalami perubahan, dimana terjadi perubahan dalam perawatan tali pusat, penggunaan
antibiotik, resistensi bakteri, dan praktek-praktek lokal lainnya.9

3.6 Gajala klinik


Omfalitis menimbulknan gejala klini lokal dan sistemik. Gejala klinik lokal yang ditimbulkan
adalah discharge yang purulen dan berbau busuk dari umbilicus atau tali pusat, eritema, edema
dan nyeri tekan di daerah periumbilikal. Gejala sistemik omfalitis berupa takikardi, hipotensi dan
capillary refill menurun takipneu, tanda-tanda gagal napas atau apneu, distensi abdomen dengan
penurunan bising usus. gejala sistemik omfalitis dapat menimbulkan gejala-gejala sistem saraf
pusat yaitu iritabilitas, letargi, penurunan refleks menghisap dan hipotonus atau hipertonus.7

3.7 Diagnosis
Usap mikrobiologi dari umbilikus harus dikirim untuk kultur aerob dan anaerob.
Kultur darah harus disertakan pada saat yang tepat. Pada pemeriksaan laboratorium darah,
dapat ditemukan neutrofilia (kadang-kadang neutropenia).9
Diagnostik dapat ditegakkan melalui pemeriksaan penunjang berupa:9

20
a. Rontgen abdomen sangat diperlukan jika dicurigai terjadi necrotizing enterokolitis.
Dapat dijumpai gas di intraperitoneal dimana terjadi peritonitis (disebabkan oleh
bakteri penghasil gas). Multiple fluid levels dapat mengarah ke obstruksi adhesi
tapi dapat pula dijumpai pada ileus.
b. USG abdomen berguna untuk memberikan gambaran mengenai dinding abdomen
jika dicurigai terjadi kista. Sangat berguna untuk mendiagnosis abses
intraperitoneal, abses retroperitoneal, dan abses hepar.
c. USG Doppler dilakukan jika dicurigai terjadi thrombosis vena portal.
d. Fistulogram diindikasikan jika terjadi fistula ke umbilikus.
e. MRI atau CT-scan dapat digunakan untuk menilai fistula kongenital.

3.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan omfalitis dibagi menjadi penatalaksanaan farmakologi dan
nonfarmakologi. Penatalaksanaan farmakologi diberikan antibiotik ampiclox, cloxacilin, fluxacilin,
methicilin yang dikombinasikan dengan gentamycin. Pilihan antibiotik untuk bakteri aerob yaitu
metronidazole. Terapi diberikan selama 10-14 hari. Untuk omfalitis sederhana yang tidak terjasdi
komplikasi dapat diberi antibiotik jangka pendek selama 7 hari. Selain penatalaksanaan
farmakologi, perlu diberikan penatalaksanaan nonfarmakologi. Penatalaksanaan nonfarmakologi
dapat dibersihkan dengan menggunakan air hangat, sabun Dettol/savlon, gentian violet dan
dikeringkan dengan kain dan pemakainan popok tidak boleh menutup tali pusat.10

3.9 Perawatan Tali Pusat

21
Perawatan adalah proses perbuatan, cara merawat, pemeliharaan, penyelenggaraan.
Tali pusat atau umbilical cord adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam
kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran ini yang selama 9 bulan 10 hari
menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke janin. Saluran ini tidak diperlukan lagi ketika bayi
lahir, sehingga harus dipotong dan diikat atau dijepit. 11
Tali pusat dan area sekelilingnya selalu bersih dan kering. Cuci tangan dengan
menggunakan air bersih dan sabun sebelum membersihkan tali pusat. Selama ini, standar
perawatan tali pusat yang diajarkan oleh tenaga medis kepada orangtua baru adalah
membersihkan atau membasuh pangkal tali pusat dengan alkohol. 11
Tali pusat yang belum puput sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara
dicelupkan ke dalam air. Cukup dilap saja dengan air hangat. Alasannya, untuk menjaga tali
pusat tetap kering. Bagian yang harus selalu dibersihkan adalah pangkal tali pusat, bukan
atasnya. Untuk membersihkan pangkal ini angkat sedikit tali pusat. Sisa air atau alkohol
yang menempel pada tali pusat dapat dikeringkan dengan menggunakan kain kasa steril
atau kapas. Setelah itu kering anginkan tali pusat. Anda dapat mengipas dengan tangan atau
meniup-niupnya untuk mempercepat pengeringan.11

22
Tali pusat harus dibersihkan sedikitnya dua kali dalam sehari. Tali pusat juga tidak
boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain
memperlambat lepasnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi. Pastikan bagian
pangkal tali pusat dapat terkena udara dengan leluasa. Bila bayi menggunakan popok sekali
pakai, pilihlah yang memang khusus untuk bayi baru lahir (yang ada lekukan di bagian
depan). Hindari mengenakan celana atau jump-suit pada bayi sampai tali pusatnya lepas.
Bila bayi Anda menggunakan popok kain, jangan masukkan baju atasannya ke dalam
popok. Intinya adalah membiarkan tali pusat terkena udara agar cepat mengering dan lepas.
11

2.9.1 Perawatan Tali Pusat Kering


Perawatan tali pusat kering adalah Tali pusat dibersihkan dan dirawat serta dibalut kassa
steril, tali pusat dijaga agar bersih dan kering tidak terjadi infeksi sampai tali pusat kering
dan lepas. 11
Cara perawatan tali pusat kering adalah :
1. Siapkan alat-alat

2. Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat

3. Tali pusat dibersihkan dengan kain kasa.

4. Setelah bersih, tali pusat dibungkus dengan kain kasa steril kering.

23
5. Setelah tali pusat terlepas / puput, pusat tetap diberi kasa steril.
Cara perawatan tali pusat kering adalah dengan membungkus tali pusat dengan kasa dan
mengkondisikan tali pusat tetap kering. Jika tali pusat berbau diberi gentian violet.
2.9.2 Perawatan Tali Pusat Basah
Tujuan dari perawatan tali pusat adalah untuk mencegah infeksi dan meningkatkan
pemisahan tali pusat dari perut. Dalam upaya untuk mencegah infeksi dan mempercepat
pemisahan, banyak zat yang berbeda dan kebiasaan-kebiuasaan yang telah digunakan untuk
perawatan tali pusat ini. Hanya dari beberapa penggunaannya yang telah dipelajari dengan
baik. 11
Zat-zat seperti triple dye, alkohol dan larutan chlorhexidine sepintas lalu dianggap
mencegah infeksi namun ditemukan belum bekerja dengan baik. Selain itu, ketika para ibu
merawat bayi mereka di dalam kamar mereka daripada di dalam ruang perawatan, tingkat
infeksi tali pusat terendah terjadi.11
Cara perawatan tali pusat basah adalah:
1. Siapkan alat-alat

2. Cuci tangan sampai bersih sebelum mulai melakukan perawatan tali pusat.

3. Bersihkan tali pusat dengan alkohol dari pangkal melingkar keatas.

4. Tutupi dengan kasa steril yang diberi alkohol dan menggantinya setiap kali usai mandi,
berkeringat, terkena kotor, dan basah.

5. Edukasi kepada ibu bila mencium bau tidak sedap dari tali pusat bayi yang belum lepas
segera bawa ke dokter.

2.10 Diagnosis Banding


Omfalokel adalah suatu defek dinding abdomen pada umbilikus yang disebabkan oleh
kegagalan usus kembali ke Abdomen selama masa fetus. Usus tetap berada dalam tali pusat dan

24
diliputi oleh peritoneum dan membran amnion. Defek ini berkaitan dengan kongenital lainnya,
khususnya kelainan jantung, sindrom Becktih-Wiedermann (pertumbuhan somatik berlebih,
hipoglikemia, hiperinsulin, risiko tumor wilms) dan komplikasi usus. Terapinya adalah penutupan
defek secara bedah, yang terkadang harus dilakukan secara bertahap untuk memasukkan usus
kedalam rongga abdomen.9
Hernia Umbilikalis adalah Diagnosis Protrusi usus halus pada umbilikus. Tatalaksana
sebagian besar akan menutup dengan sendirinya, namun bila terdapat
tanda obstruksi/strangulasi usus, maka harus segera dioperasi. Bila tidak tertutup dengan
sendirinya, operasi dapat dilakukan pada umur 6 tahun.10
Diagnosis banding dari omphalitis antara lain juga meliputi:10
1. Pusar granuloma (granuloma terlihat pada umbilikus)
2. Paten vitello-intestinal sisa-sisa duktus (pembengkakan kistik atau fistulous
membuka dengan pemakaian peduli keruh)
3. Urachus paten (pembukaan fistulous dengan pemakaian air seni) atau kista urachal
4. Necrotising enterocolitis (distensi abdomen, empedu muntah,tinja berdarah)
5. Sepsis umum

3.11 Komplikasi
Infeksi tali pusat setelah masuk ke dalam aliran darah dapat menjadi sistemik misalnya
sepsis neonatal. 7
a. Necrotising Fasciitis
Fasciitis necrotising adalah salah satu komplikasi serius yang paling banyak
dilaporkan Dari omphalitis, terjadi pada 26% pasien dengan mayor Komplikasi, menurut
satu laporan telah tercatat terjadi pada 13,5% Neonatus dengan omphalitis Kondisi
awalnya dimulai dengan periumbilikal Selulitis, yang tanpa pengobatan berkembang
dengan cepat menjadi nekrosis pada Kulit dan jaringan subkutan. Periumbilikal Selulitis
dapat di obati dengan menggunakan spektrum luas parenteral antibiotik. Rezim
antibiotik harus selalu menyertakan antianaerobe Misalnya Metronidazol. Necrotising
Fasciitis (NF) harus segera di debridement, menghilangkan semua sel mati dan jaringan

25
sekarat. Jika bayi terlalu sakit untuk anestesi umum, debridemen bisa dilakukan
dilakukan dengan menggunakan paracetamol analgesia. 7

Necrotising
Fasciitis

Periumbilikalis
selulitis

26
b. Peritonitis
Peritonitis dapat terjadi dengan atau tanpa pengumpulan abses intraperitoneal. Jika tidak
adanya abses, infeksi bisa sembuh dengan penggunaan Antibiotik broadspektrum. Antibiotik
dapat diberikan melalui intravena saja, dan tindakan pembedahan biasanya tidak diperlukan.
Jika abses intraperitoneal dikonfirmasi dengan ultrasound, atau tidak ada fasilitas untuk
ultrasonografi, diperlukan laparotomi.
c. Abses
Abses bisa berkembang di berbagai tempat, tapi sering terjadi pada intraabdominal
Komplikasi terlambat terjadi beberapa minggu, bulan, atau tahun setelah omphalitis.
Pada periode neonatal.
a. Portal Vein Thrombosis
Trombosis vena portal (PVT) merupakan komplikasi dengan konsekuensi serius.
b. Hernia posisional
Hernia umbilikal adalah masalah umum pada anak-anak di Afrika karena
melemahnya cicatrix umbilikal oleh karena terjadi Omphalitis neonatal.

3.12 Prognosis
Jika segera diobati dengan gejala omphalitis tanpa komplikasi biasanya dapat cepat
sembuh. Namun, saat perawatan tertunda, angka kematian bisa tinggi, mencapai 7-15%
morbiditas dan mortalitas serius dapat terjadi akibat komplikasi Seperti NF, peritonitis,
dan evisceration. Faktor risiko tertentu seperti prematuritas, berat badan lahir rendah,
jenis kelamin laki-laki, dan persalinan septik dikaitkan dengan prognosis buruk.7

27
BAB IV

PEMBAHASAN

Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang didapatkan

bahwa pasien mengalami infeksi tali pusat (omfalitis). Omfalitis merupakan infeksi tali

pusat yang terjadi pada bayi baru lahir. Kejadian omfalitis paling banyak ditemukan

pada neonatus. Faktor penyebab terjadinya omfalitis terdiri dari faktor perawatan tali

pusat yang tidak benar, infeksi sekunder, dan faktor risiko lain.6

Pada kasus diatas tali pusat bayi sempat basah ketika mandi sebelum tali pusat

lepas. Ibu bayi merupakan gravida satu dan memiliki pengetahuan kurang terhadap

merawat tali pusat. Perawatan tali pusat yang tidak benar memiliki peran penting untuk

terjadinya omfalitis. Tali pusat harus dipastikan selalu bersih dan kering. Pemakaian

popok pada bayi dengan menutupi bagian tali pusat dapat menyebabkan tali pusat

menjadi lebih lama lepas dan membuat tali pusat menjadi lembab. Suasana yang

lembab akan mempermudah timbulnya bakteri atau jamur.6

Ibu atau keluarga yang merawat bayi harus selalu mencuci tangan sebelum dan

sesudah membersihkan tali pusat.11 Tali pusat yang belum lepas tidak boleh terkena air

secara langsung. Cukup dilap saja dengan air hangat alasannya agar menjaga tali pusat

tetap kering. Pemakaian minyak dan daun sirih menyebabkan tali pusat menjadi basah

sehingga pemutusan tali pusat menjadi terganggu. Keadaan tali pusat yang basah

mengakibatkan suasana disekitar tali pusat menjadi lembab sehingga menjadi suasana

28
yang efektif untuk timbulnya kolonisasi kuman. Kuman yang paling banyak disekitar

kulit adalah Staphylococcus aereus.7

Pada kultur pus ditemukan bakteri Staphylococcus aereus. Bakteri Staphylococcus

aereus merupakan bakteri tersering penyebab omfalitis. Bakteri ini banyak ditemukan

pada kulit dan saluran pernapasan. Infeksi ini dapat terjadi dari kontaminasi tangan ibu

atau pengambilan spesimen yang tidak baik.11

Pada pemeriksaan fisik didapatkan bayi demam dan pada status lokalis tali pusat

kemerahan, edema, dan berisi pus berwarna putih. Pada pemeriksaan penunjang

didapatkan leokosit 18.050 /uL dan CRP reaktif. Hal ini menunjukkan adanya suatu

proses peradangan. Tatalaksana yang diberikan pada bayi adalah tetap memberikan

ASI dan pemberian antibiotik spektrum luas.

Demam pada bayi diberikan paracetamol drop 50 mg bila demam. Dosis

paracetamol yaitu 10-15 mg. Tatalaksana ini diberikan sebagai tatalaksana simtomatis.

Pemberian paracetamol hanya diberikan bila perlu saat demam dan dapat diulang tiap 8

jam. Pemberian ASI tetap dilanjutkan.14

ASI memiliki komponen makronutrien dan mikronutrien. Banyaknya pemberian

ASI Makronutrien terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien

adalah vitamin dan mineral. Kebutuhan ASI pada bayi diberikan berdasarkan umur.

pada neonatus dua puluh hari adalah 150 ml/kgBB. Pada bayi diberikan ASI adalah

67,5 cc per 3 jam.8 Antibiotik yang diberikan pada kasus ini sebelum dilakukan kultur

pus adalah meropenem dan amikasin. 13

29
Meropenem antibiotik beta-laktam berspektrum paling luas. Antibiotik ini memiliki

efek sinergis bila dikombinasi dengan amikasin. Antibiotik jenis ini diberikan sebagai

terapi empirik karena obat ini aktif terhadap organisme gram positif penghasil

penisilinase dan organisme gram negatif, anaerob dan pseudomonas aeroginosa

sedangkan amikasin merupakan antibiotik golongan aminoglikosida spektrum luas

terhadap infeksi kuman aerob gram negatif. Dosis meropenem untuk infeksi standar

adalah 20 mg/kg BB/ dosis sedangkan pada infeksi berat dosisnya adalah 40 mg/kgBB.

Pada kasus ini meropenem diberikan sebagai tatalaksana infeksi standar yaitu 150

mg/12 jam. Dosis amikasin adalah 15-,5 mg dalam 3 dosis. Tatalaksana pemberian

amikasin pada bayi adalah 50 mg/12 jam.13,14

Metronidazol merupakan obat golongan antimikroba. Obat ini untuk mengatasi

peradangan akibat protozoa. Obat ini juga efektif untuk melawan bakteri anaerob yang

bekerja dengan mengganggu DNA bakteri. Kombinasi metronidazol dengan dengan

antibiotik betalaktam dapat memberi efek sinergis.14

Pada hari ke ketiga perawatan setelah hasil kultur keluar, antibiotik diganti dengan

vankomisin. Indikasi pemberian antibiotik ini adalah infeksi S. Aureus resisten

methicilin atau stafilokokus resisten beta-laktam koagulase negatif, infeksi serius atau

mengancam jiwa yang disebabkan stafiokokus atau streptokokus pada pasien yang

alergi penicilin atau safalosporin. Dosis pemberian vankomisin adalah 10-15 mg per kg

BB setiap dosis 6-8 jam. Pada Kasus ini diberikan dosis 60 mg tiap 8 jam. Tatalaksana

pada neonatus sudah sesuai dengan dosis yang seharusnya.

30
Omfalitis pada kasus ini didiagnosis banding dengan omfalokel. Omfalokel

merupakan suatu defek pada rongga abdomen pada saat janin berumur 10 minggu.

Kelainan ini dapat segera terlihat berupa kantong yang berisi usus pada daerah

umbilikal namun tidak ada tanda nyeri periumbilikal. 8

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Mullany LC, Arifeen SE, Winch PJ, et al. Impact of 4.0% klorheksidin cleansing of

the umbilical cord on mortality and omphalitis among newborns of stylhet.

Bangladesh. BMC Pediatric 2009:9:67.

2. World Health Organization Global health observatory data repository [internet].

Available from: http//apps.who.int/gho/data/view.main.CM1300R?lang=en.

3. Purnamasari L. Perawatan topikal tali pusat untuk mencegah infeksi pada bayi baru

lahir. Jakarta. CDK 240 2016;43:5.

4. Hassan R, Alatas H, Latief A. et al. Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran

Indonesia. Edisi ke-4. Jakarta. Infomedika. 1985. 1130-54.

5. Ameh EA, Nmadu PT.Major Complications of Omphalitis in Neonates and

Infant..2007.

6. Brook I.. Pediatric Anaerobic Infections. Diagnosis and Management.. 3th edition.

Washington DC: Georgetown University. 2009.

7. Farrer H.. Perawatan Maternitas.: EGC. Jakarta 2007.

8. Gerdes JS.. Diagnosis and Management of Bacterial Infections in The Neonate.

Pediatri Clin North Am; 2004 (51): 939-959.

9. Mochtar R.. Sinopsis Obsetri. EGC. Jakarta 2005

10. Sawardekar KP. Changing Spectrum of Neonatal Omphalitis. Pediatric Infectious

Disease. 2004.

11. Sodikin.. Buku saku perawatan tali pusat. Buku kedokteran EGC. Jakarta. 2008.

32
12. Hendarto A. Nilai nutrisi air susu ibu. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2013.

13. Hendarto A, Pringgadini K. Nutrisi air susu ibu. Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Jakarta. 2013

14. Tambunan T. Formularium spesialistik ilmu kesehatan anak.Ikatan Dokter

Indonesia. Jakarta. 2013.

33
Presentasi kasus

OMPALITIS

Oleh:
FUKUNDA IZZA TAMARA
M UKRIO ZEFRIZON
SRI ADEYANA

PEMBIMBING:

dr. Nazardi Oyong, Sp. A

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU

34
35