Anda di halaman 1dari 30

KONSEP MIDDLE RANGE THEORY DAN

PRACTICE TEORY DALAM KEPERAWATAN

OLEH
KELAS B11-A Kelompok 5

FEBI PRAMITA LESTARI (183222906)


I PUTU ADITYA WARDANA (183222915)
KADEK AYU DWI CESIARINI (183222916)
NI KD RAI WIDIASTUTI (183222922)
NI KOMANG AYU NOPI SAVITRI (183222928)
NI MD HENI WAHYUNI (183222935)
NI MADE WIDIADNYANI (183222937)
NI PUTU NICK TRI DANYATI (183222942)

STIKES WIRA MEDIKA BALI


2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala


rahmatNYA sehingga makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan
waktu yang ditentukan dengan mengambil judul “Konsep Middle Range
Theory dan Practice Teory dalam Keperawatan”.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca dan khususnya profesi perawat,supaya ke
depannya dapat diterapkan di dunia keperawatan. Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.
.
Denpasar, 19 September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................ii


DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................2
1.3 Tujuan ................................................................................................................2
1.4 Manfaat..............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Middle Range Theory ..........................................................................3
2.2 Perbandingan dengan Level Teori yang lain......................................................3
2.3 Pengelompokan Teori........................................................................................4
2.4 Ciri Middle Range Theory ................................................................................5
2.5 Perkembangan Middle Range Theory...............................................................6
2.6 Penggunaan Middle Range Theory...................................................................6
2.7 Kontroversi Tentang Middle Range Teori .........................................................7
2.8 Tokoh-tokoh Middle Range Theory ..................................................................8
2.9 Definisi Practice theory....................................................................................17
2.10 Konsep Practice Theory.................................................................................18
2.11 Perkembangan Practice Theory .....................................................................20

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan .....................................................................................................23
3.2 Saran ................................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................26

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pelayanan keperawatan merupakan bagian penting dalam


pelayanan kesehatan yang bersifat komprehensif meliputi
biopsikososiokultural dan spiritual yang ditujukan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat, baik dalam keadaan sehat maupun
sakit dengan pendekatan proses keperawatan. Pelayanan keperawatan yang
berkualitas didukung oleh pengembangan teori dan model konseptual
keperawatan. Perlu diyakini bahwa penerapan suatu teori keperawatan
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan akan berdampak pada peningkatan
kualitas asuhan keperawatan. Pelayanan keperawatan sebagai pelayanan
profesional akan berkembang bila didukung oleh teori dan model
keperawatan serta pengembangan riset keperawatan dan
diimplementasikan di dalam praktek keperawatan.

Asuhan keperawatan merupakan pendekatan ilmiah dan rasional


dalam menyelesaikan masalah keperawatan yang ada, dengan pendekatan
yang dilakukan tersebut bentuk penyelesaian masalah keperawatan dapat
terarah dan terencana dengan baik, dimana dalam asuhan keperawatan
terdapat beberapa tahap yaitu pengkajian, penegakkan diagnosa,
perencanaan, implimentasi tindakan, dan evaluasi.

Profesi keperawatan mengenal empat tingkatan teori, yang terdiri


dari meta theory, grand theory, middle range theory, dan practice theory.
Teori-teori tersebut diklasifikasikan berdasarkan tingkat keabstrakannya,
dimulai dari meta theory sebagai yang paling abstrak, hingga practice
theory sebagai yang lebih konkrit. Level ke empat dari teori tersebut
(metatheory) adalah teori dengan level tertinggi dan dijelaskan dengan
prefix “meta”, yang berarti “perubahan pada posisi”, “diluar”, pada level
tertinggi, atau “melebihi” dan merujuk pada body of knowledge tentang

1
body of knowledge atau tentang suatu bidang pembelajaran seperti
metamatematika (Krippendorf 1986 dalam Sell dan Kalofissudis, 2004).
Model konseptual keperawatan dikembangkan oleh para ahli keperawatan
dengan harapan dapat menjadi kerangka berpikir perawat, sehingga
perawat perlu memahami konsep ini sebagai kerangka konsep dalam
memberikan askep dalam praktek keperawatan. Teori Middle Range yang
merupakan level kedua dari teori keperawatan dan Konsep Practice Theory
akan dibahas lebih jauh dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah definisi Middle Range Theory ?
1.2.2 Bagaimanakah perbandingan dengan Level Teori yang lain ?
1.2.3 Bagaimanakah pengelompokan middle range theory ?
1.2.4 Bagaimanakah ciri Middle Range Theory ?
1.2.5 Bagaimanakah perkembangan middle range theory ?
1.2.6 Bagaimanakah penggunaan middle range theory ?
1.2.7 Bagaimanakah Kontroversi tentang Middle Range Teori ?
1.2.8 Bagaimanakah tokoh-tokoh middle range theory ?
1.2.9 Apakah definisi Practice Theory ?
1.2.10 Bagaimanakah konsep Practice Theory ?
1.2.11 Bagaimanakah perkembangan Practice Theory ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi Middle Range Theory
1.3.2 Untuk mengetahui perbandingan dengan Level Teori yang lain
1.3.3 Untuk mengetahui pengelompokan middle range theory
1.3.4 Untuk mengetahui ciri Middle Range Theory
1.3.5 Untuk mengetahui perkembangan middle range theory
1.3.6 Untuk mengetahui penggunaan middle range theory
1.3.7 Untuk mengetahui Kontroversi tentang Middle Range Teori
1.3.8 Untuk mengetahui tokoh-tokoh middle range theory
1.3.9 Untuk mengetahui definisi Practice Theory
1.3.10 Untuk mengetahui konsep Practice Theory
1.3.11 Untuk mengetahui perkembangan Practice Theory

1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat


menambah wawasan mengenai konsep Middle Range Theory dalam
keperawatan dan teori yang termasuk dalam Middle Range Theory, serta

2
menambah wawasan mengenai konsep Practice Theory dalam keperawatan
dan teori yang termasuk dalam Practice Theory.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Middle Range Theory

Middle range theory dapat didefinisikan sebagai serangkaian ide/


gagasan yang saling berhubungan dan berfokus pada suatu dimensi
terbatas yaitu pada realitas keperawatan (Smith dan Liehr, 2008).

Teori-teori ini terdiri dari beberapa konsep yang saling berhubungan


dan dapat digambarkan dalam suatu model. Middle range theories dapat
dikembangakan pada tatanan praktek dan riset untuk menyediakan
pedoman dalam praktik dan riset/penelitian yang berbasis pada disiplin
ilmu keperawatan.

2.2. Perbandingan dengan Level Teori yang lain


Dalam lingkup dan tingkatan abstrak, middle range theory cukup
spesifik untuk memberikan petunjuk riset dan praktik, cukup umum pada
populasi klinik dan mencakup fenomena yang sama. Sebagai petunjuk
riset dan praktek, middle range theory lebih banyak digunakan dari pada
grand theory, dan dapat diuji dalam pemikiran empiris.

Teori Middle-Range memiliki hubungan yang lebih kuat dengan


penelitian dan praktik. Hubungan antara penelitian dan praktik menurut
Merton (1968), menunjukkan bahwa Teori Mid-Range amat penting dalam
disiplin praktik, selain itu Walker and Avant (1995) mempertahankan
bahwa mid-range theory menyeimbangkan kespesifikannya dengan konsep
secara normal yang nampak dalam grand teori.

Mid-range teori memberikan manfaat bagi perawat, mudah


diaplikasikan dalam praktik dan cukup abstrak secara ilmiah. Teori Middle
Range, tingkat keabstrakannya pada level pertengahan, inklusif,
diorganisasi dalam lingkup terbatas, memiliki sejumlah variabel terbatas,
dapat diuji secara langsung.

4
Kramer (1995) mengatakan bahwa mid-range theory sesuai dengan
lingkup fenomena yang relatif luas tetapi tidak mencakup keseluruhan
fenomena yang ada dan merupakan masalah pada disiplin ilmu.

Bila dibandingkan dengan grand teori, middle range theory ini lebih
konkrit. Merton (1968) yang berberperan dalam pengembangan middle
range theory, mendefinisikan teori ini sebagai sesuatu yang minor tetapi
penting dalam penelitian dan pengembangan suatu teori.

Sependapat dengan Merton, beberapa penulis keperawatan


mengemukakan middle range theory jika dibandingkan dengan grand
theory:

1 Ruang lingkupnya lebih sempit


2 Lebih konkrit, fenomena yang disajikan lebih spesifik
3 Terdiri dari konsep dan proposisi yang lebih sedikit
4 Merepresentasikan bidang keperawatan yang lebih spesifik/ terbatas
5 Lebih dapat diuji secara empiris
6 Lebih dapat diaplikasikan secara langsung dalam tatanan praktik

2.3. Pengelompokan Teori


Berdasarkan pengelompokkannya Middle Range Theory
dikelompokkan oleh beberapa penyusun buku menurut:

1 Peterson & Bredow (2004) Mengklasifikasikan middle range theories ke


dalam tipe-tipe : tipe fisiologis, tipe kognitif, tipe emosional, tipe sosial,
tipe integrative
2 Tomey & Alligood (2006) Berdasar tema masing-masing teori: Illness
trajectory (Wiener & Dodd, 1993), Tidal Model (Phil Barker, 2001),
Comfort (Kolcaba, 1992)
3 Peacefull end of life (Ruland & More, 1998) dan sebagainya

2.4. Ciri Middle Range Theory


2.4.1. Menurut Mc. Kenna h.p. (1997) :

5
1. Bisa digunakan secara umum pada berbagai situasi

2. Sulit mengaplikasikan konsep ke dalam teori

3. Tanpa indikator pengukuran

4. Masih cukup abstrak

5. Konsep dan proposisi yang terukur

6. Inklusif

7. Memiliki sedikit konsep dan variabel

8. Dalam bentuk yang lebih mudah diuji

9. Memiliki hubungan yang kuat dengan riset dan praktik

10. Dapat dikembangkan secara deduktif, retroduktif. Lebih sering


secara induktif menggunakan studi kualitatif
11. Mudah diaplikasikan ke dalam praktik, dan bagian yang abstrak
merupakan hal ilmiah yang menarik
12. Berfokus pada hal-hal yang menjadi perhatian perawat.

13. Beberapa di antaranya memiliki dasar dari grand teori

14. Mid-range theory tumbuh langsung dari praktik.

2.4.2. Menurut Meleis, A. I. (1997) :

1. Ruang lingkup terbatas


2. Memiliki sedikit abstrak
3. Membahas fenomena atau konsep yang lebih spesifik
4. Merupakan cerminan praktik (administrasi klinik pengajaran)

2.4.3. Menurut Whall (1996) :

1. Konsep dan proposisi spesifik tentang keperawatan


2. Mudah diterapkan
3. Bisa diterapkan pada berbagai situasi
4. Proposisi bisa berada dalam suatu rentang hubungan sebab akibat
2.5. Perkembangan Middle Range Theory

Liehr & Smith (1999) menjelaskan bahwa perkembangan middle range


theory bersumber pada proses intelektual yang meliputi:

6
1 Teori induktif yang membangun teori melalui riset
2 Teori deduktif yang berasal dari grand theory
3 Kombinasi dari teori keperawatan dan non keperawatan
4 Sintesa teori yang berasal dari penelitian yang telah terpublikasi
5 Mengembangkan teori dari pedoman praktik klinik

Beberapa teori keperawatan yang sudah berkembang, telah


dikombinasikan dengan teori dari disiplin ilmu lain untuk membentuk
middle range theory. Sebagian besar middle range theory bersumber pada
penemuan dari penelitian yang telah terpublikasi.

2.6. Penggunaan Middle Range Theory

Middle range theory telah digunakan dalam bidang praktik dan


penelitian. Teori ini mampu menstimulasi dan mengembangkan pemikiran
rasional dari penelitian.serta membimbing dalam pemilihan variable dan
pertanyaan penelitian.(Lenz,1998.p.26) Middle range Teori dapat
membantu praktik dengan memfasilitasi pemahaman terhadap perilaku
klien dan memungkinkan untuk menjelaskan beberapa efektifitas dari
intervensi.

Review terhadap beberapa penelitian yang dipublikasikan


mengungkapkan penggunaan Middle Range Teori dalam penelitian
keperawatan masih cukup luas. Dan sebagian besar Middle Range Teori
berasal dari disiplin ilmu lain.Hal ini sangat jelas ketika kita
membandingkan seberapa sering Middle Range Teori dan Grand Teori
dikutip dalam literatur penelitian keperawatan. Dari 173 penelitian,
yangdiidentifikasi menggunakan teori adalah 79 (45%). Dan dari 79
penelitian tersebut diidentifikasi hanya 25 penelitian yang benar-benar
menggunakan teori keperawatan dan 54 lainnya menggunakan mengadopsi
dari disiplin ilmu lainnya dan kebanyakan dari ilmu psikologi.

2.7. Kontroversi Tentang Middle Range Teori

Identifikasi middle Range Teori telah cukup jelas. Disisi lain ,Chenitz,
seorang penulis utama dari Entry into a Nursing Home as Status
Passage,memasukan teori ini ke dalam praktikal teori ini., sedangkan yang

7
lainnya memasukkan kedalam middle range teori. Dalam analisis dasar
Middle Range Teori “ Pertanyaan tentang Middle Range teori bukanlah
merupakan sesuatu pernyataan hitam dan putih namun memiliki definisi
yang jelas. Middle Range Teori mengandung nilai abstrak, tidak terlalu
luas namun juga tidak terlalu sempit, tetapi berada pada kondisi
dipertengahan.Untuk mencegah salah penafsiran dalam pemahaman
terhadap teori, para penemu teori harus memberikan Identitas Teori
terhadap komponen konsep dalam teori tersebut.
Ketidakakuratan dari middle range teori hanya salah satu dari sekian
banyak kritik terhadap teori ini. Selain hal tersebut, ketidakjelasan definisi
middle range teori telah dikritisi untuk membedakannya dengan Grand
Teori,karena mampu untuk diuji meggunakan ide postif –logis.

2.8. Tokoh-tokoh Middle Range Theory


2.8.1. Ramona T. Mercer
Ramona T. Mercer mengembangkan salah satu model
konseptual keperawatan yang mendasari keperawatan meternitas
yaitu Maternal Role Attainment-Becoming a Mother. Fokus utama
dari teori ini adalah gambaran proses pencapaian peran ibu dan
proses menjadi seorang ibu dengan berbagai asumsi yang
mendasarinya. Model ini juga menjadi pedoman bagi perawat
dalam melakukan pengkajian pada bayi dan lingkungannya,
digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan bayi, memberikan
bantuan terhadap bayi dengan pendidikan dan dukungan,
memberikan pelayanan pada bayi yang tidak mampu untuk
melakukan perawatan secara mandiri dan mampu berinteraksi
dengan lingkungannya.
Konsep teori Mercer ini dapat diaplikasikan dalam
perawatan bayi baru lahir terutama pada kondisi psikososial dan
emosional bayi baru lahir masih sering terabaikan. Model
konseptual Mercer memandang bahwa sifat bayi berdampak pada
identitas peran ibu. Respon perkembangan bayi baru lahir yang

8
berinteraksi dengan perkembangan identitas peran ibu dapat
diamati dari pola perilaku bayi.
Model pencapaian peran maternal yang dikemukakan oleh
Mercer dengan menggunakan konsep Bronfenbrenner’s (1979)
memperlihatkan bagaimana lingkungan berpengaruh terhadap
pencapaian peran ibu.

2.8.2. Katharine Kolcaba


Kolcaba mengembangkan Teori Kenyamanan melalui tiga jenis
pemikiran logis antara lain:
Induksi Induksi terjadi ketika penyamarataan dibangun dari suatu
kejadian yang diamati secara spesifik. Di mana perawat dengan
sungguh-sungguh melakukan praktek dan dengan sungguh-
sungguh menerapkan keperawatan sebagai disiplin, sehingga
mereka menjadi terbiasa dengan konsep Implisit atau eksplisit,
terminologi, dalil, dan asumsi pendukung praktek mereka.
Deduksi Deduksi adalah suatu format dari pemikiran logis di mana
kesimpulan spesifik berasal dari prinsip atau pendapat yang
lebih umum; prosesnya dari yang umum ke yang spesifik.
Retroduksi Retroduksi adalah suatu format pemikiran untuk memulai ide.
Bermanfaat untuk memilih suatu fenomena yang dapat
dikembangkan lebih lanjut dan diuji. Pemikiran jenis ini
diterapkan di (dalam) bidang di mana tersedia sedikit teori.
Teori ini melibatkan semua aspek (holistik) yang meliputi fisik,
psikospiritual, lingkungan dan sosial kultural. Namun untuk
menilai semua aspek tersebut dibutuhkan komitmen tinggi dan
kemampuan perawat yang trampil dalam hal melakukan asuhan
keperawatan berfokus kenyamanan (pengkajian hingga
evaluasi), yang di dalamnya dibutuhkan teknik problem
solving yang tepat.

2.8.3. Pamela G.Reed (Teori Self Transendensi)


Vulnerability Kesadaran seseorang akan adanya kematian,
Konsep vulnerable meningkatkan kesadaran akan situasi
mendekati kematian termasuk di dalamnya adalah keadaan
gawat seperti disabilitas, penyakit kronik, kelahiran, dan
pengasuhan.

9
Self- Transendensi diri berarti suatu gerak melampaui apa yang
Transcendence telah dicapai, suatu gerak dari yang kurang baik menjadi baik
dan dari yang baik menjadi lebih baik.

Well-Being Didefiniskan sebagai perasaan sehat secara menyeluruh baik


fisik, psikologis, sosial, budaya dan spiritual yang
menunjukkan suatu kesejahteraan dan keadan yang baik.

Moderating- Faktor-faktor yang mempengaruhi proses transendensi diri


Mediating yang berkontribusi terhadap kondisi yang baik, misalnya :
Factors usia, jenis kelamin, kemamapuan kognitif, pengalaman hidup,
persepsi spiritual, lingkungan sosial, dan riwayat masa lalu.
Point of Berdasarkan teori transendensi diri, terdapat dua poin
Intervention intervensi.

Tindakan keperawatan secara langsung berfokus pada


sumber-sumber yang berasal dari dalam diri seseorang
terhadap transendensi diri.

Tindakan yang berfokus pada beberapa faktor personal dan


kontekstual yang mempengaruhi hubungan antara
transendensi diri dan vulnerabel hubungan antar transendensi
diri dan keadaan baik/sehat.

2.8.4. Carolyn L Wiener


Hidup disituasikan dalam konteks biografi,konsepsi diri
berakar pada kondisi fisik dan diformulasikan berdasarkan
kemampuan menerima untuk membentuk kebiasaan atau aktifitas
yang diharapkan dalam mencapai tujuan dari aturan yang
berbeda.Interaksi dengan orang lain adalah pengaruh utama (major
influence) untuk membentuk suatu konsep diri. Sebagai ragam
peran perilaku,seseorang memonotor reaksi orang lain dan
merasakan dirinya merupakan bagian yang terintegrasi dari proses
yang dibentuk/dihasilkan.

Pengalaman tentang sakit selalu ditempatkan alam konteks


biografi oleh karena itu kondisi sakit adalah pengalaman yang
masih berlanjut.Domain dari kondisi sakit adalah berhubungan

10
dengan ketidakpastian bervariasi dalam dominasi di lintasan
penyakit (table 30.1) melalui aliran dinamis dari persepsi tentang
diri dan interaksi dengan orang lain. Aktifitas dari hidup dan
kehidupan seseorang dalam kondisi sakit merupakan bentuk
kerja .Lingkungan dari kerja termasuk individu dan yang lainnya
dengan semua interaksi,termasuk keluarga dan pelayanan
kesehatan. Semua komponen yang berperan tersebut disebut total
organisasi. Seorang yang sakit (pasien) merupakan pekerja utama
namun semua pekerjaan yang diambil didalamnya dipengaruhi
oleh total organisasi.

2.8.5. Cheryl Tatano Beck, DNSc, CNM, FAAN


Teori Depresi Postpartum/ Postpartum Depression Theory.
Depresi Postpartum adalah gangguan mood yang secara historis
sering diabaikan dalam perawatan kesehatan, membiarkan ibu
menderita dalam ketakutan, kebingungan, dan keheningan. Jika hal
ini tidak terdiagnosa, dapat mempengaruhi hubungan ibu-bayi dan
menyebabkan masalah emosional jangka panjang bagi anak. Teori
ini membedakan depresi postpartum dari gangguan mood dan
kecemasan postpartum lainnya dan aspek-aspek depresi
postpartum: gejala, prevalensi, faktor risiko, intervensi, dan efek
pada hubungan dan perkembangan anak. Juga dibahas tentang
Instrumen yang tersedia yang digunakan untuk skrining depresi
postpartum. Cheryl menegaskan bahwa depresi merupakan hasil
dari kombinasi stres fisiologis, psikologis, dan lingkungan dan
bahwa gejala bervariasi dan kemungkinan akan muncul beberapa
gejala.

Cheryl memperkenalkan NURSE program untuk


menangani depresi postpartum. NURSE program ini meliputi 5
aspek perawatan yang diperlukan untuk menyembuhkan depresi
postpartum, yaitu: Nourishment and needs (nutrisi dan kebutuhan
lain), Understanding (pemahaman), Rest and relaxation (istirahat

11
dan relaksasi), Spirituality (spiritualitas), Exercise (latihan).
Masing-masing aspek didiskusikan secara terpisah dan
dikolaborasikan dengan ibu yg bersangkutan. Mereka seringkali
hanya bisa berfokus pada satu atau dua aspek dalam satu waktu,
namun program ini harus diselesaikan dalam setiap tahap
penyembuhan mereka.

2.8.6. Merle Helaine Mishel.


Teori Keraguan terhadap penyakit/ Uncertainty in Illness
Theory. Teori ini menjelaskan bahwa keraguan dapat
mempengaruhi kemampuan pasien untuk beradaptasi pada suatu
penyakit. Keraguan terhadap penyakit berhubungan dengan
penyesuaian yang buruk, dan sering perlu dinilai sebagai ancaman
yang memiliki efek merusak. Dalam populasi sakit, keraguan
terhadap penyakit terkait dengan kepekaan yang meningkat
terhadap nyeri dan toleransi yang menurun terhadap rangsangan
nyeri. Keraguan terhadap penyakit juga terkait dengan koping
maladaptif, distress psikologis yang lebih tinggi, dan penurunan
kualitas hidup.

2.8.7. Phil Barker


Tidal model adalah sebuah model pemulihan untuk promosi
kesehatan mental yang dikembangkan oleh Profesor Phil Barker,
Poppy Buchanan-Barker dan rekan-rekan mereka. Tidal model
berfokus pada proses perubahan yang ada pada semua orang.
Model ini berusaha untuk mengungkapkan arti dari pengalaman
seseorang, menekankan pentingnya suara mereka sendiri dan
kebijaksanaan melalui kekuatan metafora. Ini bertujuan untuk
memberdayakan seseorang untuk memimpin pemulihannya sendiri
bukannya diarahkan oleh para profesional. Nilai Tidal model dapat
diringkas menjadi sepuluh komitmen yang perlu diperhatikan:

Value the voice (menghargai suara). Mendengarkan cerita seseorang


1
adalah yang hal yang terpenting.

12
Respect the language (hormati bahasa). Memungkinkan orang untuk
2 mengekspresikan, menggambarkan, dan mendeskripsikan pengalaman
hidup mereka menggunakan cara dan bahasa mereka sendiri.
Develop genuine curiosity (mengembangkan rasa ingin tahu).
3 Menunjukkan ketertarikan dan rasa ingin tahu tentang cerita orang
tersebut.
Become the apprentice (menjadi apprentice). Menempatkan diri dalam
4 cerita tersebut dan belajar serta mengambil hikmah dari cerita orang
yang anda bantu (klien).
Reveal personal wisdom (mengungkapkan kebijaksanaan). Pada
dasarnya setiap orang memiliki sikap bijaksana dalam menghadapi
5 setiap pengalaman hidupnya. Praktisi atau tenaga penolong mempunyai
tugas untuk membantunya mengungkapkan kebijaksanaan tersebut yang
akan membantu dalam proses pemulihannya.
Be transparent (jadilah transparan atau terbuka). Baik klien maupun
praktisi atau tenaga penolong profesional berada dalam posisi istimewa
6 dan harus menjadi model yang percaya diri, dengan cara setiap saat
menjadi transparan atau terbuka dan membantu untuk memastikan klien
tersebut memahami apa yang sebenarnya sedang dilakukannya.
Use the available toolkit (gunakan sumberdaya yang ada). Cerita
seseorang berisi informasi yang berharga untuk mengetahui sumberdaya
7
mana yang dapat digunakan untuk membantu proses pemulihan dan
mana yang tidak dapat digunakan.
Craft the step beyond (menentukan langkah). Praktisi atau tenaga
penolong bersama-sama dengan klien membangun sebuah apresiasi dan
8
menentukan langkah apa yang harus dilakukan "sekarang" karena
langkah awal merupakan langkah yang penting.
Give the gift of time (berikan waktu). Tidak ada yang lebih berharga
daripada waktu yang dihabiskan praktisi dan klien bersama-sama.
9 Pertanyaan yang harus ditanyakan bukan “Berapa banyak waktu yang
masih kita punya?” melainkan "Bagaimana kita menggunakan waktu
yang ada saat ini?".
Know that change is constant (ketahuilah bahwa perubahan adalah
10
konstan). Hal ini merupakan pengalaman umum bagi semua orang.

Tidal model berawal dari empat poin penting, yaitu:


1 Fokus terapeutik yang utama dalam kesehatan jiwa ialah dalam komunitas.
Manusia hidup di “lautan pengalaman” dan krisis kejiwaan hanyalah satu

13
dari sekian banyak hal yang dapat “menenggalamkan” mereka. Tujuan
keperawatan atau asuhan kesehatan jiwa ialah untuk mengembalikan mereka
ke “lautan pengalaman” tersebut sehingga mereka dapat melanjutkan
perjalanan hidup mereka.

2 Perubahan merupakan proses yang terus berjalan dan konstan. Manusia akan
terus berubah, namun kadang mereka tidak menyadarinya. Salah satu tujuan
utama intervensi yang dilakukan ialah untuk membantu klien membangun
kesadaran bahwa sekecil apapun perubahan itu akan membawa dampak yang
besar bagi hidupnya.

3 Kekuatan terletak pada proses asuhan. Perawat membantu klien untuk


mengidentifikasi bagaimana ia dapat lebih berperan ddalam hidupnya dan
mengontrol hidupnya serta pengalaman yang didapatnya.

4 Perawat dan klien adalah satu, tidak dapat dipisahkan seperti penari dalam
sebuah tarian.

2.8.8. Kristen Swanson


Theory of Caring Oleh Kristen Swanson. Asal teori
Swanson dapat ditemukan dalam wawancara yang dilakukannya
pada wanita yang mengalami keguguran, orangtua yang memiliki
anak di unit perawatan intensif, dan ibu yang secara sosial berisiko
dan telah melalui system untuk menerima berbagai macam bentuk
perawatan kesehatan (Potter et al. 2005).

Melalui wawancara ini, Swanson mampu memahami ruang


lingkup caring secara keseluruhan dan pada saat yang sama
menguraikan dimensi spesifik dari apa yang diperlukan seorang
perawat untuk merawat pasien. Salah satu hal paling penting yang
memberikan kontribusi pada teori keperawatan dalam hal ini, yaitu
argumen bahwa pasien seharusnya tidak hanya dilihat sebagai
individu yang terpisah, melainkan sebagai manusia seutuhnya,
yang saat ia menulis "berada di tengah-tengah dan yang menjadi
keutuhan dibuat nyata dalam pikiran, perasaan dan perilaku
"(Swanson, 1993). Hal yang menarik tentang pengertian pasien ini
adalah bahwa Swanson selalu menempatkan peran perawat dalam
proses becoming tersebut. Jadi dalam aspek kesehatan

14
becoming tersebut, perawat tidak hanya menjadi dispenser
pengobatan medis, tetapi juga merupakan mitra dalam membantu
pasien lebih dekat dengan tujuannya (well-being).

Konsep Mayor dan Definisi

1 Caring adalah cara mengasihi orang lain dengan adanya komitmen dan
tanggungjawab terhadap orang tersebut (Swanson1991).

2 Knowing dalam hal ini dimaksudkan memahami arti sebuah peristiwa yang
terjadi dalam hidup orang lain menghindari asumsi-asumsi berfokus pada orang
yang dirawat / pasien mengkaji serta melibatkan orang yang memberi asuhan
dan orang yang diberi asuhan dalam proses “knowing” atau pengenalan
(Swanson1991).

3 Being with dalam hal ini dimaksudkan mendukung orang lain secara emosional
termasuk keberadaannya untuk orang lain dan berbagi kesedihan dengan orang
tersebut (Swanson1991).

4 Doing for yang dimaksud adalah melakukan sesuatu demi kepentingan orang
lain termasuk memenuhi kebutuhan kenyamanan dan melindungi orang tersebut
(Swanson1991).

5 Enabling yaitu memfasilitasi orang lain untuk melalui masa-masa transisi dalam
hidupnya dan melewati setiap peristiwa hidupnya dengan berfokus pada
peristiwa tersebut mendukungnya memberi penjelasan memvalidasi apa yang
dirasakan menemukan alternatif penyelesaian dan memberikan feedback /
umpan balik (Swanson1991).

6 Maintaining belief yaitu menumbuhkan keyakinan seseorang dalam melalui


setiap peristiwa hidup dan masa-masa transisi kehidupnya serta menghadapi
masa depan dengan penuh keyakinan meyakini kemampuan orang lain
menumbuhkan sikap optimis menemukan arti atau mengambil hikmah dari
setiap peristiwa dan selalu ada untuk orang lain pada situasi apa pun.

2.8.9. Shirly M. Moore

Teori Hidup damai di akhir. Akhir Hidup Damai (EOL). Teori


ini adalah informasi oleh sejumlah kerangka teoritis. Hal ini
didasarkan terutama pada model klasik Donabedians struktur, proses
dan hasil (Ruland & Moore, 1998) yang sebagian, dikembangkan dari
teori besar pengaruh systems. Dalam teori EOL, pengaturan struktur
adalah sistem keluarga (pasien sakit parah dan semua orang lain yang

15
signifikan) yang menerima perawatan dari profesional pada unit
rumah sakit perawatan akut.

Proses didefinisikan sebagai tindakan-tindakan (intervensi


keperawatan) yang dirancang untuk mempromosikan positif hasil
dari: bebas dari rasa sakit, mendapatkan penghiburan, mendapatkan
martabat dan rasa hormat, berada dalam kedamaian, mengalami
kedekatan kepada orang lain yang signifikan dan mereka yang peduli

Teori EOL damai didasarkan pada bukti empiris yang


berasal dari kedua pengalaman langsung dari perawat ahli dan
mengkaji secara menyeluruh literatur menangani beberapa komponen
teori. Para standart perawatan terdiri dari praktek terbaik berdasarkan
bukti penelitian yang diturunkan di bidang nyeri, kenyamanan gizi
manajemen, dan teori preskriptif relaxation.

2.8.10. Georgene Gaskill Eakes

Para NCRCS (The Nursing Consurtium For Research on


Chronic Sorrow ) berdasarkan berbagai Middle Range Theory
kesedihan Cronic pada dua sumber utama. Karya Olshansky pada
tahun 1962 dikutip sebagai dasar dari konsep asli kesedihan kronis
(Eakes, Burke & Hainsworth, 1998). Lazarus dan Folksmans (1984)
model stres dan adaptasi membentuk dasar bagi konseptualisasi
tentang bagaimana orang mengatasi kesedihan kronis.

Konsep kesedihan kronis berasal karya Olshansky Tahun


1962 (Lindgren, Burke, Hainsworth, & Eakes, 1992). Para ahli teori
NCRCS mengutip pengamatan Olshanskys, orang tua mengalami
kesedihan berulang dan kesedihan kronis panjang. Konsep aslinya
digambarkan secara luas sebagai deskripsi sederhana reaksi
psikologis untuk situasi tragis "(Lindgren et al, 1992).

Selama 1980 peneliti lain mulai meneliti pengalaman orang


tua dari anak-anak baik secara fisik atau cacat mental. Karya ini
divalidasi kesedihan yang berulang dan sifat tidak pernah berakhir

16
duka yang dialami oleh orang tua. Sebelumnya untuk pekerjaan ini,
duka dikonseptualisasikan sebagai proses yang menyelesaikan dari
waktu ke waktu dan jika belum terselesaikan, kesedihan yang
abnormal menurut Bowlby dan Lindemans (Lindgren et al, 1992).
Berbeda dengan konseptualisasi terikat waktu, yang melekat dalam
konsep kesedihan kronis adalah bahwa kesedihan berulang
merupakan pengalaman normal, menurut Wikler, Wasow, dan
Hatfiled (Lindgren et al, 1992). Burke dalam studinya anak-anak
dengan spina bifida, kesedihan kronis didefinisikan sebagai
kesedihan luas yang bersifat permanen, periodik dan progresif di
alam '(hainsworth, Eakes, Burke 1994).

NCRCS tidak membatasi teori mereka adanya kesedihan


kronis tetapi berusaha untuk memeriksa respon terhadap duka.
Mereka memasukkan Lazarus dan Folksmans 1984 bekerja pada
stres dan adaptasi sebagai dasar untuk metode manajemen yang
efektif yang dijelaskan dalam model mereka (Eakes et al, 1998)
Kesenjangan ditemui dan respon untuk kembali kesedihan
merangsang mekanisme koping individu. Ada kategori mengatasi
gaya atau manajemen. Strategi koping internal meliputi tindakan
berorientasi kognitif penilaian kembali dan perilaku interpersonal.
Dengan demikian berbagai Middle Range Theory kesedihan kronis
diperpanjang dasar teoritis kesedihan kronis dalam situasi tertentu
tetapi juga tanggapan berupaya untuk fenomena tersebut.

2.9. Definisi Practice Theory

Practice theory adalah teori yang sudah dapat diaplikasikan


langsung atau dipraktekkan dengan pasien atau dapat diuji secara empiris.
Mikro range theory sedikit lebih formal dan lebih bersifat sementara
dalam tingkat teori. Ini juga lebih bersifat membatasi dalam waktu dan
lingkup atau penerapannya. Bagaimanapun, pendekatan micro range
theory tidak dapat dinilai untuk peneliti dan praktisioner sebagaiman
mereka bekerja menggambarkan, mengorganisasi, dan menguji ide – ide

17
mereka. Dickkhoff & James ( 1968 ) menyatakan praktis teori diperlukan
dalam keperawatan karena keperawatan adalah suatu profesi dimana
selalu beorientasi kepada tindakan untuk mencapai tujuan. Menurut
mereka teori ini berorientasi pada tujuan dan mempunyai elemen penting :

2.1.1 Isi tujuan dispesifikkan sebagai arahan untuk aktivitas

2.1.2 Menjelaskan bahwa aktivitas dilakukan untuk merealisasikan isi


tujuan

Practice theory lebih spesifik dan jelas cakupannya


dibanding middle range theory, teori pada level ini juga didefinisikan juga
sebagai prescriptive theory, situations-spesific theory, dan micro
theory. Practice theory menetukan tindakan atau intervensi keperawatan
yang cocok untuk mencapai tujuan tertentu, fokus pada fenomena
keperawatan yang spesifik dengan memberikan arahan langsung pada
praktek keperawatan dan mempunyai pernyataan teoritis yang jelas,
hipotesis dengan menguraikan kejelasan fenomone. Practice theory
menyediakan kerangka kerja untuk intervensi keperawatan dan
memprediksi hasil dan efek dari praktek keperawatan itu sendiri (Peterson
& Bredow, 2004).

2.10. Konsep Practice Theory

Practice theory berkembang dari middle range


theory, pengalaman praktik keperawatan dan uji empiris. Pengalaman
praktik klinis perawat dapat menjadi sumber utama untuk
pengembangan practice theory keperawatan. Kedalaman dan
kompleksitas teori keperawatan digambarkan dan dijelaskan melalui
apresiasi secara mendalam terhadap fenomena keperawatan dan hubungan
antara aspek pada situasi keperawatan (McKenna, 1997). Contoh Practice
theory yaitu bonding attachment theory, therapeutic touch, exercise as
selfcare, caring for patient with chronic skin disease, quality of care, dll
(Peterson & Bredow, 2004).

18
Mikro teori/ teori praktek merupakan teori yang dikembangkan
berdasarkan perkembangan dari middle range theory, karenanya teori ini
lingkupnya lebih sempit dan lebih konkrit keabstrakannya dibandingkan
dengan ketiga teori dalam tingkatan teori. (Jacox, 1974 dalam McKenna,
1997). Lebih lanjut dikatakan, teori praktek/ micro theory adalah teori
yang memberikan arahan langsung pada perawat untuk mencapai tujuan,
artinya teori ini memberikan suatu produk intervensi spesifik yang harus
dilakukan perawat agar dapat memberi efek pada kondisi pasien. Parker
dan Smith (2010) menyatakan bahwa teori praktik adalah deskripsi dan
perkembangan dari tindakan keperawatan yang telah ada dan
dikembangkan untuk digunakan pada situasi keperawatan yang spesifik.
Berdasarkan Ellis dalam Reed et al, 2004, mengatakan bahwa semua
pengetahuan keperawatan dikembangkan untuk praktek, sehingga semua
teori keperawatan tanpa menghiraukan tingkatannya maka merupakan
teori praktek.

Idealnya teori praktik berhubungan erat dengan konsep dari


middle range theory dan dibawah kerangka kerja dari grand theory.
Contohnya tindakan keperawatan yang dapat dikembangkan menjadi teori
praktik yaitu perawat mengetahui bahwa mereka dapat mengurangi nyeri
pada pasien dengan melakukan intervensi yang spesifik dan mengurangi
kerusakan kulit karena tekanan dengan perubahan posisi yang teratur
(Parker & Smith, 2010). Wooldridge (1992) dalam Mckenna (1997)
menjelaskan beberapa ciri dari teori praktek/ micro theory, yaitu:

2.2.1 Teori praktek dinyatakan dalam sebuah hubungan sebab akibat


antara makna dan tujuan yang dapat di uji secara empiris.

2.2.2 Focus pada penyebab yang dapat dimanipulasi oleh perawat; efek
yang dianggap relevan untuk mengevaluasi hasil yang telah
dicapai; dan ketidaktentuan kondisi yang dapat diaplikasikan
dalam situasi praktik.

19
2.2.3 Fokus pada makna yang dapat diasumsikan secara mandiri oleh
profesi perawat baik praktik manipulasi langsung maupun struktur
panduan praktik.

2.11. Perkembangan Practice Theory

Teori praktik merupakan hasil dari sebuah proses refleksi dari


dunia nyata keperawatan klinis, dimana didalamnya dibutuhkan
“engaging”, intuiting, dan envisioning. Engaging berarti keterlibatan
langsung perawat pada suatu situasi. Intuiting berarti perspektif
subyektif yang dibawa perawat pada situasi tertentu berdasarkan
pengalaman yang telah didapatkannya. Envisioning berarti intuisi
kreatif perawat dalam memberikan arti unik dalam situasi tersebut dan
mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan baru (Chin & Kramer,
1995 dalam McKenna, 1997). Refleksi bukan sebagai akhir dari
pencarian pendekatan baru namun sebagi suatu proses yang berlanjut.
Ada beberapa langkah dalam proses refleksi yaitu mengumpulkan
pengalaman, konsentrasi pada perasaan sendiri, mengevaluasi kembali
melalui asosiasi, integrasi, validasi dan ketepatan.

Untuk melakukan proses tersebut dilakukan dengan


mengumpulkan data-data pengalaman dalam bentuk jurnal tertulis,
melakukan studi studi dari jurnal ilmiah, diskusi dengan kolega. Parker
dan Smith, 2010 menambahkan sumber sumber dari pengembangan
mikroteori ini adalah pengalaman sehari-hari dari perawat, diskusi
dengan perawat mahir berdasar kasus yang ditemuinya. Langkah kedua
menurut mereka yaitu konsentrasi pada perasaan berarti tidak hanya
mendeskripsikan perasaannya saja tentang pengalaman itu tetapi mencari
bukti ilmiah/pertanggungjawaban dari perasaan itu. Kepercayaan kuno
tentang situasi itu tidak boleh mempengaruhi persepsi. Bahkan
kepercayaan kuno tersebut sebaiknya diganti dengan hal hal yang baru
dan terbuka. Hal ini dapat dicapai dengan menulis sebuah catatan ilmiah.

Langkah ketiga yaitu terdiri dari empat bagian. Yang pertama


adalah asosiasi atau hubungan memungkinkan praktisi refleksi untuk

20
menghubungkan situasi yang ada dengan pengetahuan yang telah ada
dan tindakan yang dilakukan. Hasil akhirnya adalah praktisi tersebut
mengganti perilaku atau ilmu yang lama dengan yang baru. Hal ini dapat
dicapai dengan brainstorming dari kelompok, diskusi terbuka untuk
mengklarifikasi pikiran dan perasaan agar muncul pendekatan baru.

Langkah berikutnya yaitu integrasi. Dalam langkah ini praktisi


mulai mengelompokkan beberapa ide, perasaan, dan isu yang muncul
dalam langkah asosiasi. Hasil dari pengelompokkan ini didapatkan suatu
hubungan lagi dan suatu kesimpulan. Disini konsep baru, proposisi awal
dan asumsi dapat terlihat. Dapat juga hal tersebut berhubungan dengan
teori yang sudah ada.Validasi berarti membandingkan hasil pendekatan
baru dengan pengalaman, pengetahuan dan pendekatan dari praktisi lain
untuk mengetahui keaslian dari ide praktisi. Validasi juga berarti
mencoba hasil pendekatan praktisi di situasi lain. Cara terbaik untuk
mevalidasi hasil pendekatan baru adalah mengembalikan pendekatan
tersebut ke praktik klinik dan diuji disana.

Ketepatan adalah langkah terakhir dalam proses refleksi yaitu


menggabungkan perilaku dan pendekatan baru dengan dasar
pengatahuan kita. Sebagai hasilnya pengetahuan baru tersebut dapat
digunakan di masa depan pada situasi yang sama saat pertama kali
refleksi dilakukan.

21
Secara ringkas, tingkatan pengembangan teori dapat dijelaskan
sebagai berikut:

Philosophical theory  Falsafah keperawatan merupakan karya


awal yang mendahului era teori.
 Falsafah berkontribusi untuk pengetahauan
keperawatan dengan memberikan arahan
untuk disiplin dan membentuk dasar untuk
keilmuan professional, yang mengarah
kepada pemahaman teotitis baru
Grand theory  Cakupannya luas dan kompleks.
 Membutuhkan penelitian yang spesifik
sebelum dapat sepenuhnya diuji cobakan.
 Tidak memberikan panduan terhadap
intervensi keperawatan yang spesifik, namun
memberikan kerangka kerja struktural dan
ide yang abstrak
Middle range theory  Cakupannya lebih terbatas dan kurang
abstrak
 Menjelaskan fenomena spesifik atau konsep
dan mencerminkan praktik keperawatan
Practice Theory  Lebih tidak abstrak, lebih spesifik dan
cakupannya lebih sempit dibandingkan
dengan middle range theory.
 Berorientasi pada suatu tindakan nyata untuk
tujuan yang spesifik.
 Fokus kepada fenomena keperawatan
spesifik yang mencerminkan praktik klinis
dan hanya terbatas kepada populasi atau
bagian dari situasi pada teori

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

22
Berdasarkan uraian yang telah dibahas pada tinjauan teori, Middle
Range teori adalah suatu pengembangan teori pada tingkat yang lebih
kongkret daripada Grand Teori,karena pada Grand teori lebih berfokus
pada fenomena pusat dari disiplin ilmu seperti individu sebagai sistem
adaptif, defisit perawatan diri,kesatuan manusia, atau menjadi manusia.
Grand Teori yang kerangkanya terdiri dari konsep-konsep dan pernyataan
relasional yang menjelaskan fenomena abstrak.Sedangkan Midle Range
Theory diorganisasi dalam lingkup terbatas, memiliki sejumlah varibel
terbatas, dapat diuji secara langsung. Teori Middle-Range memiliki
hubungan yang lebih kuat dengan penelitian dan praktik. Hubungan antara
penelitian dan praktik menurut Merton (1968), menunjukkan bahwa Teori
Mid-Range amat penting dalam disiplin praktik.

Pengembangan Middle Range Theory bisa bersumber dari Grand


Teori,atau dapat pula bersumber dari hasil penelitian klinis langsung, hal
ini dapat kita lihat dari pernyataan beberapa ahli. Mungkin ada hubungan
yang eksplisit antara beberapa grand teori dan middle range teori. Sebagai
contoh, (middle range teori) Reed (1991) transendensi-diri dan (1988) teori
Barrett kekuasaan secara langsung terkait dengan Ilmu Rogers dari
Kesatuan Manusia. Teori Midle range lainnya mungkin tidak memiliki
hubungan langsung dengan grand teori. Dalam hal ini, asumsi-asumsi
filosofis yang mendasari middle range teori dapat berada pada tingkat
paradigma, bukan dari Grand Teori. Namun demikian, hubungan ini
penting untuk menetapkan validitas sebagai teori.

Jika kita bandingkan dengan filosofi teori dan Grand teori, middle
range teori dapat digunakan langsung dalam tatanan praktik, karena
memiliki variable yang spesifik misalnya kita ambil contoh dari Teori
Trajectory Illness dari Wiener dan Dodd, teori ini lahir dari bentuk studi
kualitatif yang dilakukan pada khusus penderita kanker, kemudian juga
teori Cheryl T.Beck yang mengkhususkan teori pada tatanan praktik yang
diaplikasikan pada Post Partum Depresion.

23
Midle range teori adalah bagian dari struktur disiplin ilmu
keperawatan.Teori ini menjelaskan fenomena spesifik yang terkait dengan
praktek keperawatan. Kajian analisis teori transendensi-diri menjelaskan
bagaimana penuaan atau mendorong kerentanan manusia melampaui
batas-batas untuk diri intrapribadi fokus pada makna kehidupan,
interpersonal pada koneksi dengan orang lain dan lingkungan, temporal
untuk mengintegrasikan masa lalu, sekarang, dan masa depan, dan
transpersonally untuk terhubung dengan dimensi di luar fisik realitas.
Transendensi-diri ini terkait dengan kesejahteraan atau penyembuhan,
salah satu dari diidentifi kasi fokus dari disiplin keperawatan. Teori ini
telah diuji dalam penelitian dan digunakan untuk memandu praktik
keperawatan. Dengan ekspansi Middle Range Teori memperkaya disiplin
ilmu keperawatan.

Dari beberapa ciri yang dimiliki Middle Range Teori ada beberapa
aspek yang menjadi catatan penting yaitu posisi Middle Range Teori
berada pada lingkaran tengah, semi konsep semi praktis. Dapat dilakukan
ditarik keatas mendekati tatanan konsep dapat pula ditarik kebawah lebih
mendekati praktik klinik, tergantungan penggunaan konsep-konsep dan
aplikasinya. Hal ini dapat kita lihat pada beberapa cirri yang diungkapkan
oleh beberapa ahli yang menyatakan Middle Range Teori dipengaruhi oleh
penggunaannya yang mampu diaplikasikan dalam berbagai situasi, masih
memiliki suatu unsur abstrak ,namun lebih mudah diaplikasikan ke dalam
praktik dibandingkan dengan Grand Teori.

Berdasarkan uraian yang telah dibahas pada tinjauan teori, Practice


theory adalah teori yang sudah dapat diaplikasikan langsung atau
dipraktekkan dengan pasien atau dapat diuji secara empiris. Mikro teori/
teori praktek merupakan teori yang dikembangkan berdasarkan
perkembangan dari middle range theory, karenanya teori ini
lingkupnya lebih sempit dan lebih konkrit keabstrakannya dibandingkan
dengan ketiga teori dalam tingkatan teori. Teori praktik merupakan hasil
dari sebuah proses refleksi dari dunia nyata keperawatan klinis, dimana
didalamnya dibutuhkan “engaging”, intuiting, dan envisioning.

24
3.2 Saran
Demikian atas ulasan dari makalah ini dari penulis untuk
memperjelas dalam pembahasan “Konsep Middle Range Theory dan
Practice Teory dalam Keperawatan” . Apabila ada kekeliruan atau tidak
jelasnya dalam makalah ini dapat menghubungi penulis, dan apabila ada
kekurangan dari materi ini diharapkan pembaca dapat membantu dalam
memperbaiki makalah ini. Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

25
Agustinus, hardiyanto.2016. Practice Theory/Micro Theory. http://rumah-perawat /
2016/09/practice-theorymicro-theory.html. Diunduh tanggal 19 September 2018,
jam 21.00

Anonim. 2015. Teori Keperawatan. http://rsudpurihusada.inhilkab.go.id/teori-


keperawatan/. Diunduh tanggal 19 September 2018, jam 21.10

Beck, Cheryl Tatano.2006. Postpartum mood and anxiety disorders : a clinician’s guide.
Sudbury: Jones and Bartlett Publishers

Chinn & Kramer. (1995). Fundamental Of Nursing. Loussiana :Delmar a division of


Thomson Larning. Inc,USA

Kim, Hesook Suzie & Kollak, Ingrid. 2006. Nursing Theories, Conceptual &
Philosophical Foundations. Second edition. New York: Springer Publishing
Company.

Kolcaba. 1997. Comfort Theory and Practice. www.thecomfortline.com. Diunduh


tanggal 30 September 2011, jam 21.10

McKenna, Hugh.1997. Nursing Theories and Models. New York: Routledge.

Meleis, Afaf Ibrahim. 2010.Transitionstheory: middle-range and situation specific


theories in nursing research and practice. New York:
SpringerPublishingCompany.

Parker,Marilyn E. & Smith, Marlaine Cappelli. 2010. Nursing theories and nursing
practice. 3rd ed. Philadelphia: F. A. Davis Company.

Peterson, Sandra J and Bredow, Timothy S. (2004). Middle Range Theory application to
Nursing Research. Philadelphia : Lippincott Williams& Wilkins, USA.

Peterson,Sandra J. & Bredow, Timothy S.2009. Middle Range Theories, Application to


Nursing Research. Second edition. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins.

Sieloff, Christina Leibold and Frey, Maureen A. 2007. Middle Range Theory
Development Using King’s Conceptual System. New York: Springer Publishing
Company .

Smith,Mary Jane & Liehr, Patricia R. 2008. Middle range theory for nursing. 2nd ed.
New York: Springer Publishing Company.

26
Tomey, Alligood. 2006. Nursing Theorist and Their Work. Sixth edition. Toronto: The
CV Mosby Company St. Louis

27